Tag: pengajian

  • Haul Ke-9 Nyai Mahmudah di Mojokerto: Pentingnya Menyambung Ilmu dan Rasa kepada Wali Allah

    Haul Ke-9 Nyai Mahmudah di Mojokerto: Pentingnya Menyambung Ilmu dan Rasa kepada Wali Allah

    MOJOKERTO – Ratusan jamaah dari berbagai wilayah memadati lokasi haul tahunan Nyai Hj. Mahmudah binti Syarif Hidayatullah (almh) atau yang akrab disapa Nyai Arum Pandansari. Acara yang digelar di dekat kompleks makam almarhumah, tepatnya di Dusun Jogodayoh, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, berlangsung khidmat pada Kamis malam (14/5).

    Acara pengajian dan haul ini diselenggarakan oleh panitia setempat dengan harapan dapat terus berlangsung setiap tahun secara istiqomah. Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tokoh penting, di antaranya Kepala Desa Jabon, Khoirul Rozikin, Dandim Mojokerto beserta jajaran, serta perwakilan dari forum musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Mojoanyar.

    Selain itu, acara juga dihadiri oleh para ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mojoanyar dan NU Desa Jabon, tokoh masyarakat, serta kaum muslimin dan muslimat dari berbagai daerah sekitar.

    Sorotan Utama: Menyambung Ilmu dan Rasa kepada Wali Allah

    Acara inti pengajian disampaikan oleh KH. Muslikhuddin Abbas, yang merupakan anggota Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Mojokerto. Dikenal dengan sapaan akrab Abah Lik, penceramah ini dinilai oleh panitia sebagai sosok yang ahli dalam hal “pernasaban” (penelusuran garis keturunan) para ulama dan kiai.

    Sebelum memulai ceramah, MC Ali Isti’adi menyampaikan bahwa pihak panitia sengaja menghadirkan Abah Lik untuk menjelaskan secara rinci nasab Nyai Mahmudah, baik dari sisi keilmuan maupun garis keturunan.

    Dalam ceramahnya, Abah Lik lebih menyoroti pentingnya menyambung ilmu kepada para ulama, terutama kepada wali Allah. Menurutnya, cara yang utama untuk bisa “nyambung” dengan para wali Allah adalah dengan menghormati fatikhah melalui ruh mutafarriqoh.

    Lebih lanjut, Abah Lik menegaskan bahwa menyambung jiwa (nyowo) dengan ruh roso (rasa batin) jauh lebih penting daripada hal-hal lainnya. Maksudnya, para jamaah diharapkan dapat menerima rasa yang sama dengan apa yang dirasakan almarhumah Nyai Mahmudah semasa hidupnya. Sepanjang ceramah, para jamaah (sami’in) terlihat antusias dan khusyuk mengikuti setiap pesan yang disampaikan.

    Apresiasi Pemerintah Desa: Wujud Hormat kepada Ulama

    Kepala Desa Jabon, Khoirul Rozikin, yang hadir sejak awal hingga akhir acara, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat keagamaan yang tinggi di wilayah yang dipimpinnya. Beliau juga menyoroti pentingnya menjaga dan menjalin kerukunan antarwarga di Dusun Jogodayoh dan sekitarnya.

    “Kehadiran saya di sini adalah sebagai bentuk hormat dan takzim kepada para ulama NU, khususnya dalam rangka mengenang almarhumah Nyai Mahmudah,” ujar Khoirul Rozikin.

    Sementara itu, perwakilan panitia, Hendro, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar acara haul tahunan ini senantiasa dapat digelar dengan baik dan lancar setiap tahunnya.

    Doa Bersama dan Penutup

    Rangkaian acara haul ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Tanfidz Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mojoanyar. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti para jamaah yang hadir, menandakan selesainya rangkaian peringatan haul ke-9 Nyai Mahmudah dengan penuh makna.

  • Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Mojokerto.Sorbansantri.com – Seseorang yang dianggab berjasa atau orang yang di pandang sebagai sesepuh di suatu daerah pastinya jasanya akan selalu di kenang oleh masyarakat bahkan mendapatkan tempat yang mulia walau beliau sudah wafat.

    Pada hari selasa (22-03-22) malam warga kesemen mengadakan haul mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ke XVII yang bertempat area pesarean di dusun Kesemen desa Kesemen kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto.
    Peringatan haul ini diadakan warga rutin setiap setahun sekali yang di pelopori oleh KH.Ahmadun Bashori selaku tokoh agama di desa tersebut beserta tokoh pemuda Solehuddin dan juga dari pihak pemerintahan desa kususnya Anton Kurniawan selaku kepala desa setempat dan di dukung oleh tokoh agama yang lainnya.

    Tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya para tokoh agama, pejabat pemerintahan dan perangkat desa Kesemen, pengurus ranting dan anak ranting NU desa Kesemen, beserta banom banom nya dan elemen masyarakat sekitar.

    Menurut ustad Khoiron selaku ketua panitia mengatakan “acara ini bertujuan untuk kirim doa kepada leluhur dan pelaksanaanya pun selalu di bulan ruwah atau bulan sya’ban tanggal 20 kalender jawa, atau di 10 hari sebelum datangnya bulan suci romadhon tiba”,sebelum pra acara pengajian umum dari panitia melaksanakan kegiatan pembacaan khotmil qur’an semalam suntuk di mulai ba’da sholat isya’ sampai setelah subuh dan hingga hatam, di teruskan malam ini acara puncaknya yakni peringatan pengajian umum yang menghadirkan muballigh dari Mojokerto kyai Mohammad Assa’dullah, yang sebelumnya di awali dengan pembacaan istighosah yang dimpin oleh KH.Ahmadun Bashori, tuturnya

    Menurut pak Wagi dan pak Wiyanto selaku juru kunci pesarean mengatakan bahwasanya pesarean mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ini sangat keramat sekali dan tak ayal banyak peziarah yang datang baik warga lokal maupun warga yang dari luar daerah dengan tujuan ngalab barokahnya dengan mengirimkan doa doa ada juga yang sembari membaca al qur’an ketika berada di dalam area pesarean tersebut.

    Di sekitaran pesarean ada bangunan musholla yang selalu istiqomah di buat sholad berjama’ah yang di pandegani oleh abah Sholeh Muhammad beserta kawula muda di desa kesemen.

    Harapannya semoga dengan acara haul mbah Junggo masyarakat desa kesemen dan sekitarnya semakin guyub, rukun dan mudah mudahan selalu di beri kesehatan, umur panjang serta keberkahan rizki untuk bekal hidup sehari harinya.

    (Hasan-Ngoro)

  • Ruwah desa dan rutinan majelis dzikir sholawat rijalul ansor ranting Ngoro kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto

    Ruwah desa dan rutinan majelis dzikir sholawat rijalul ansor ranting Ngoro kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Pengajian umum dalam rangka ruwah desa yang dilaksanakan pada hari Sabtu malam (20/3) di halaman mushola al-ikhlas depan rumah kepala desa Ngoro, acara berjalan penuh hikmat pasalnya acara tersebut berkolaborasi dengan para gerakan pemuda Ansor dan majelis dzikir rijalul ansor ranting Ngoro yang dipimpin oleh ustad muslik.

    sebelum acara dimulai atau pra acara di isi dengan lantunan lantunan sholawat oleh Grup Al-Banjari dan santunan anak yatim piatu yang ada di desa tersebut, rasa haru pun menyelimuti suasana tatkala waktu pemberian santunan karena rata-rata mereka masih kecil-kecil sudah ditinggal pergi oleh orang tuanya menghadap sang khalik, tampak suasana begitu meriah ketika pembukaan diisi dengan lagu-lagu mars syubbanul Wathon, mars Ansor, dan mars Banser, yang di iringi oleh musik, dari panitia turut mengundang para alim ulama sesepuh desa dan kepala desa beserta jajaran perangkatnya, juga tampak hadir ketua PAC GP Ansor kecamatan Ngoro sahabat saufi s.Kom ketua PAC rijalul ansor kecamatan Ngoro gus Sujono dan ustaz Yasin Basuni selaku penceramah agama serta seluruh elemen masyarakat desa Ngoro umumnya.

    dalam sambutan dari kepala desa Ngoro bapak Suryo Hartono mengatakan acara ruwah desa Ngoro sengaja dibarengkan dengan acara majelis dzikir dan sholawat dengan harapan ingin mengalap barokah dari para alim ulama agar desa Ngoro lebih makmur aman dari segala balak dan musibah khususnya dalam bencana pandemik seperti saat ini, masih kata kepala desa acara ini bertujuan untuk mempersatukan masyarakat dari tingkat bawah sampai atas agar selalu guyub rukun bersatu membaur dalam segala hal utamanya dalam kegiatan kegiatan desa.
    sambutan yang kedua dari ketua PAC GP ANSOR kecamatan Ngoro sahabat Saufi mengatakan bahwasanya beliau dan para pengurus merasa bahagia dan istimewa bisa diundang untuk menghadiri acara ruwah desa tersebut dan rasa bahagia itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata selain mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para jajaran pemerintahan desa Ngoro khususnya bapak kepala desa.

    memasuki acara inti pengajian umum yang disampaikan oleh Al Mukarom ustaz Yasin Basuni dari Mojokerto beliau menerangkan tentang Fadhilah dan keutamaan sholawat apalagi di bulan sya’ban saat ini kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat nabi karena sholawat juga bisa menjauhkan dari balak dan musibah, acara berakhir dengan pembacaan doa oleh beliau.

    acara berakhir tepat pukul 22.00, ruwah desa dan majelis dzikir berjalan dengan lancar dan sukses berkat kerjasama panitia juga pengamanan dari anggota BANSER satkoryon kecamatan Ngoro yang dipimpin oleh sahabat apiin.  (Hasan sorban)

  • Pengajian GUS MIFTAH di Pungging Mojosari

    Pengajian GUS MIFTAH di Pungging Mojosari

    Infokom Banser NU – Minggu, 29 Desember 2019. Diujung tahun 2019 ini Gus miftah hadir di acara maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan di Pungging Mojosari Mojokerto. Ribuan jama’ah dari berbagai penjuru Kabupaten Mojokerto hadir dalam pengajian tersebut.

    Gus miftah hadir pukul 21.00 wib dengan dikawal deretan ratusan Banser Kabupaten Mojokerto sampai menuju panggung. Selain dari BANSER juga ada TNI-POLRI dalam pengamanan.

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=Ppz-vdBx90A[/embedyt]

    Pengunjung sangat riuh dengan hadirnya Gus Miftah. Dimulai dengan yel yel banser beliau memulai acara tersebut. Menambah riuh acara tersebut.

    Sebebenarnya pada saat pengajian, Gus Miftah tidak suka adanya pedagang asongan yang berkeliaran di area jama’ah pengajian. Tetapi masih saja ada kejadian tersebut.

    Saat ini acara tersebut masih berlangsung… Bersambung..

    (infokom banser NU)

  • Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
    Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
    Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
    Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
    Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
    Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
    Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
    Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
    Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
    Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
    Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. (abi sorban)
    Penjelasan Gus Baha; ( KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam pengajian beliau
  • Pengajian Bersama Ketua-ketua Ormas di Kantor PCNU Tasikmalaya

    Pengajian Bersama Ketua-ketua Ormas di Kantor PCNU Tasikmalaya

    Infokom Banser NU- Ketua-Ketua Ormas Islam di Kabupaten Tasikmalaya berkumpul di Kantor PCNU Kab. Tasikmalaya. Ada dari Muhammadiyah, Persis, PUI dan dari FPI. Pada kesempatan itu para sesepuh dan Ketua Ketua Ormas ini sepakat untuk melaksanakan pengajian bersama dengan tausyiah langsung oleh Ketua MUI Kab. Tasikmalaya, Mustasyat PCNU Kab. Tasikmalaya sekaligus Pengasuh Ponpes Sukahideng, KH. Ii Abduk Basith.

    Dan hari ini buah dari pertemuan itu sedang dilaksanakan di Masjid Agung Kab. Tasikmalaya di Bojongkoneng. Sesuai dengan hasil rapat dan atas perintah para sesepuh dan para Ketua, Banser ditunjuk sebagai Koordinator pengamanan.

    Dan hari ini juga, untuk pertama kalinya di Kab. Tasikmalaya Ansor, Banser, Pemuda Muhammadiyah, Kokam, Pemuda PUI, Brigade PUI, Pemuda Persis, Brigade Persis dan Laskar FPI berkumpul dalam satu acara. Bahu membahu mengatur dan mengamankan acara.

    (post. salman al arobi)

  • ABAH YAI DASUKI MENGHADIRI RUTINAN DESA MEKAR SARI

    ABAH YAI DASUKI MENGHADIRI RUTINAN DESA MEKAR SARI

    Bogor Mekarsari – Menghadiri rutinan desa mekar sari, pengajian Minggu manisan.

    Mauidohasanah oleh Abah yai Dasuki

    “Pahala berkunjung/silaturrahim pada saudara muslim adalah 100 kali seperti ibadah umroh”

    *berkawan karena Allah dalam kebaikan sekalipun dengan kawan yang belum taat kepada Allah, bisa membawa kawan dalam ketaatan kepada Allah…*

    Waallahualam 🙏

    Alhamdulillah diiringi hujan yang berkah ( Red- Infokom Ansor Banser NU )