Tag: peran

  • Ansor Tegal Gelar Workshop Media di Enam Korwil

    SORBANSANTRI.COM

    sorban santri.com – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Tegal bakal menggelar Workshop Media dan Jurnalistik. Pelatihan akan digelar 19 Februari – 13 Maret 2022 di enam Koordinator Wilayah (Korwil) se Kabupaten Tegal.

    Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tegal Nurfanani melalui Wakil Ketua Bidang Media Abdul Muhni mengatakan, Workshop yang akan diikuti perwakilan dari Anak cabang dan Ranting GP Ansor yang ada di kabupaten Tegal itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader dalam membuat konten di media digital maupun media sosial.

    “Workshop juga dimaksudkan sebagai sarana konsolidasi Media Ansor dari level Cabang, Anak Cabang hingga ranting,” katanya.

    Selain itu, kata Muhni, Workshop bertujuan untuk menggugah semangat kader Ansor disemua tingkatan dalam meningkatkan kemampuan media dan literasi.

    “Peran media ini sangat penting bagi organisasi. Apalagi peran Gerakan Pemuda Ansor di era teknologi informasi, era medsos,” tandasnya.

    Kepala Lembaga Media dan Jurnalistik PC GP Ansor Kabupaten Tegal Nurkhasan, menambahkan, Workshop akan digelar di enam Korwil se Kabupaten Tegal. Dimana setiap Korwil akan diikuti 3 PAC dan PR diwilayah Korwil tersebut.

    “Pelatihan ini menjadi ajang evaluasi dan monitoring oleh Ansor Media Tegal terhadap masing-masing Anak cabang dan ranting dalam mengelola dan memproduksi konten di media sosial maupun platform media lainnya,” kata Hasan.

    Dalam Workshop ini juga akan diberikan sejumlah materi penting diantaranya Jurnalistik Dasar, Tehnik Fotografi, Desain Grafis, Pengenalan Website dan Pengelolaan Media Sosial.

    “Diharapkan peserta dari lembaga media anak cabang dan ranting GP Ansor bisa memanfaatkan dengan baik pelatihan ini,” harapnya. (Team Ansor Media).

  • KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    SORBANSANTRI.COM

    sorbansatri.com – Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Rasulullah , Sayyidah Aisyah, banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

    Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

    Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya. Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.

  • Satkoryon banser  ngoro gelar apel upacara di pantai gemah tulungagung dalam rangka harlah NU KE 96

    Satkoryon banser ngoro gelar apel upacara di pantai gemah tulungagung dalam rangka harlah NU KE 96

    Organisasi atau jam’iyah nahdlatul ulama’ (NU) di dirikan pada tanggal 31 januari 1926, saat ini usianya sudah memasuki ke 96 tahun, Banser  merupakan pasukan yang bertugas mengawal dan menjaga para kyai dan ulama’ serta berperan penting menjaga kesatuan NKRI kususnya kepada warga Nahdiyin, Harlah NU yang ke 96 kali mengambil tema “ KEMANDIRIAN DALAM BERKHIDMAT UNTUK PERADABAN DUNIA”

     

    Satkoryon BANSER kecamatan ngoro kabupaten Mojokerto pada hari minggu (30/01/2022) mengadakan apel upacara dalam rangka memperingati harlah NU ke 96 tahun di pantai gemah tulungagung, pada upacara kali ini yang menjadi inspektur upacara adalah ketua PAC GP ANSOR kecamatan ngoro.

     

    Sahabat Saufi selaku ketua PAC GP ANSOR  kecamatan ngoro selaku inspektur upacara mengatakan di hadapan para kader Ansor Banser yang ikut apel ‘ kita sebagai pasukan yang bertugas menjaga dan boleh di bilang sebagai benteng ulama’, kita harus rela berkorban apa saja demi menjaga warwah NU, kekompakan dan kesolitan kita adalah kuncinya, kita sebagai anggota Ansor Banser harus siap bila mendapatkan tugas dari para kyai dan ulama’ lebih lebih kepada jam’iyah Nahdlatul ulama’

     

    Di akhir sambutannya beliau menegaskan Satkoryon Banser  kecamatan ngoro adalah pusat basisnya banser se kabupaten mojokerto dan sudah banyak yang menjadi perwira maka sudah selayaknya bisa menjadi contoh tauladan kepada anggota banser yang dari daerah lain,

     

    ” jiwa loyalitas dan militansi mari kita tanamkan dan kita tunjukkan kepada masyarakat kalau Banser itu ada dan siap di butuhkan kapanpun dan di manapun” ucapnya dengan tegas sambil mengepalkan tangan kanannya.

     

    Acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, mars ansor, maes banser dan yang terakhir di tutup doa oleh H, edi selaku pengurus Rijalul Ansor kecamatan ngoro, semoga kita semua di akui santrinya hadrotussyeh Hasyim Asyari selaku pendiri jam’iyah nahdlatul ulama’, dan semua bisa khusnul khotimah.

     

     

    hasan sorban

  • Penusukan Pemuka Agama dan Pentingnya Posisi Banser

    Penusukan Pemuka Agama dan Pentingnya Posisi Banser

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Kejadian penusukan terhadap Ustadz Ali Jabir mengingatkan kita pada rentannya penceramah (di atas panggung) atas serangan bersenjata. Dulu, ketika sedang berceramah, KH. Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, pernah didatangi seseorang yang membabat beliau dengan linggis. Tentu saja beliau langsung ambruk dan kemudian dirawat di rumah sakit. Namun, beliau memaafkan orang tersebut yang, lagi-lagi, sakit jiwa.
    KH. Maimoen Zubair, ketika berceramah di atas panggung, juga didatangi seseorang yang menusuk beliau. Mbah Moen selamat, tapi salah seorang yang melindunginya terluka, lantas sakit, hingga wafat.
    Ketika berkunjung ke Filipina, Syekh Aidh al-Qarni juga pernah diberondong AK-47. Beliau selamat. Di Mesir, Syekh Ali Jum’ah mengalami kejadian yang sama. Dibedil teroris. Beliau dilindungi Allah. Selamat. Di Suriah, Syekh Said Ramadhan al-Buthy gugur dibom tatkala sedang mengajar di masjid.
    Resiko berceramah di hadapan massa memang rentan pada aksi kekerasan bersenjata. Yang terjadi bukan saja menimpa orator muslim. Mahatma Gandhi, pejuang antikekerasan, ditembak ekstremis Hindu, Nathuram Godse, 30 Januari 1948. Di AS, pendeta pejuang kesetaraan ras, Martin Luther King Jr, juga dibunuh pengikut ultra-konservatif AS tatkala menghadiri aksi massa, 20 tahun setelah Gandhi gugur.
    Pembunuhan yang paling mengerikan, di hadapan massa dialami Rajiv Gandhi, PM India, ketika seseorang mengalungkan bunga berisi bom, 1991, yang membuat nyawanya melayang (film Bollywood berjudul “Madras Cafe” mengisahkannya).
    16 tahun berselang, giliran mantan PM Pakistan, Benazir Bhutto, dihabisi dari jarak dekat oleh Bilal, pemuda 15 tahun, yang segera meledakkan dirinya menggunakan bom. Rajiv dibunuh oleh pemberontak Macan Tamil. Sedangkan Benazir dieksekusi utusan Taliban.
    Apapun motifnya, juga kondisi kejiwaan penusuk, kita pantas bersimpati pada apa yang menimpa Ustadz Ali Jabir. Semoga tidak ada lagi kejadian sama yang menimpa mubaligh lain.
    Dalam tradisi NU, sudah menjadi kewajiban Banser mengawal dan menjaga ulama saat berada di panggung. Beberapa kejadian yang menimpa ulama NU di atas, sebatas pengetahuan saya, pada saat “tidak dikawal resmi” oleh mas-mas Banser.
    Almaghfurlah KH. Ma’shum Jauhari, Lirboyo, yang kondang sebagai pendekar pilih tanding juga pernah diserang oleh pemuda pada saat berceramah di Ponorogo. Setelah pidato usai, beliau turun panggung, tiba-tiba beliau menendang seorang pemuda hingga terpelanting, nyemplung dalam got. Ternyata pemuda ini berusaha menusuk beliau menggunakan keris. Sayang tidak mempan. Hanya baju yang terkoyak, sedangkan tusukan keris hanya menyisakan goresan kecil saja.
    Karena itu, wajar jika mas-mas Banser ikut serta mengamankan para kiai. Keselamatan kiai menjadi tanggungjawabnya. Jangan heran jika seringkali kita disuguhkan pemandangan, seorang kiai berceramah yang di samping kanan kirinya berdiri tegap mas-mas Banser. (Kuat berdiri, sanggup menahan haus, juga tahan ngempet pipis berjam-jam).
    Sebelum maupun sesudah naik panggung-pun, mas-mas Banser ini juga membentuk pagar mengelilingi kiainya. Sungguhpun kadang malah tampak menghalangi masyarakat yang mau cium tangan kepada teladannya. Soal ini, ada anekdot.
    Di Probolinggo, seorang Banser senior yang bertubuh tegap gagah mengawal kedatangan Gus Dur dalam pengajian. Dia memegang erat lengan Gus Dur sembari tangannya menghalau siapapun yang mau mencucup tangan Gus Dur.
    “Minggir, ayo minggir. Kasih jalan, kasih jalan…Kiai mau lewat! Minggir”. katanya tegas menggelegar.
    Hadirin beringsut. Nggak mau berurusan sama Banser galak ini. Sebagian menggerutu.
    Setelah Gus Dur duduk di kursi paling depan, siapa yang pertama kali mencium tangan Gus Dur?
    Ya si Banser galak ini.
    “Minta barokahnya, kiai.” katanya takzim sambil mencium tangan Gus Dur bolak balik.
    Cup…cup.. Cerdik juga!
    Foto: Satkoryon BANSER Srumbung mengawal Gus Miftah, ketika akan mengisi ceramah dalam pengajian akbar di Dusun Tulungrejo, Desa Tegalrandu, Srumbung, Magelang beberapa bulan lalau sebelum pandemi Covid melanda Neger. (Oleh: Rijal Mumazziq Z)  (MWC NU Srumbung)