wp.sorbansantri.com – Dua kakak beradik dari Jember, Erna (17) dan Syahrul (15), mengalami nasib tragis setelah terjerat dalam lingkaran kecanduan game online yang menghantui. Kedua remaja tersebut, yang dulunya penuh semangat dan keceriaan, kini terjerat dalam kondisi yang memprihatinkan, terkena gangguan jiwa yang mengubah hidup mereka secara drastis.
Kecanduan game online telah menyebabkan Erna dan Syahrul terperangkap dalam pola perilaku yang merugikan, di mana mereka menghabiskan waktu berjam-jam tanpa henti di depan layar hape, mengabaikan segala hal yang seharusnya lebih penting dalam kehidupan mereka. Bahkan, kecanduan ini telah mengakibatkan mereka kehilangan identitas diri, tidak lagi mengenali keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Kondisi kesehatan mental keduanya semakin memburuk, dengan gejala depresi berat yang menghantui setiap langkah mereka. Sang ibu, Komariah, merasakan kepedihan yang mendalam melihat anak-anaknya mengalami penderitaan ini. “Sudah gak kenal saya. Dia bilang siapa kamu? Saya Ibu mu, dia bilang gak punya Ibu. Ke bapaknya juga gitu, dia udah tidak kenal,” ujarnya dengan kesedihan yang mendalam.
Selamat datang di Website-Anda.com. Sebagai platform yang berkomitmen untuk menyajikan konten yang bermanfaat dan berintegritas kepada pengguna kami, kami memiliki Kode Etik yang kami pegang teguh. Kode Etik ini membimbing perilaku dan praktik kami dalam menyediakan layanan kepada pengguna kami. Berikut adalah prinsip-prinsip utama dari Kode Etik kami:
1. Kualitas Konten:
Kami berkomitmen untuk menyajikan konten yang akurat, informatif, dan bermanfaat kepada pengguna kami.
Setiap konten yang kami publikasikan melalui website kami akan melalui proses editorial yang cermat dan teliti.
2. Keberagaman dan Inklusivitas:
Kami menghargai keberagaman pendapat dan perspektif. Kami akan menciptakan lingkungan yang inklusif di mana semua orang merasa didengar dan dihormati.
Kami akan berupaya untuk merefleksikan keragaman masyarakat dalam konten kami dan mempromosikan pengertian yang lebih baik antara berbagai kelompok.
3. Keterbukaan dan Transparansi:
Kami akan beroperasi dengan keterbukaan dan transparansi yang tinggi. Informasi tentang proses editorial, sumber informasi, dan kepentingan apa pun yang mempengaruhi konten kami akan diberikan dengan jelas kepada pengguna kami.
Kami akan merespons dengan cepat atas masukan, saran, dan keluhan dari pengguna kami.
4. Keamanan Data:
Kami akan melindungi informasi pribadi pengguna kami dengan menggunakan praktik keamanan data terbaik.
Kami akan menghormati privasi pengguna kami dan tidak akan menyebarkan informasi pribadi tanpa izin mereka.
5. Ketertanggungjawaban:
Kami akan bertanggung jawab atas setiap konten yang kami publikasikan dan akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki setiap kesalahan yang kami buat.
Kami akan mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku serta menjunjung tinggi etika jurnalisme dalam setiap kegiatan kami.
6. Netralitas dan Keterlepasan:
Kami akan tetap netral dan independen dalam melaporkan berita dan menyajikan opini. Kami tidak akan memihak kepada pihak manapun dan akan berusaha untuk menghindari konflik kepentingan.
7. Komunitas dan Partisipasi:
Kami akan membangun dan memelihara komunitas yang sehat di sekitar website kami, mendorong diskusi yang beradab dan konstruktif.
Kami akan memberikan kesempatan bagi pengguna kami untuk berpartisipasi aktif dalam konten kami melalui fitur komentar, forum, atau platform interaktif lainnya.
Dengan mematuhi Kode Etik ini, kami berharap dapat menjaga kepercayaan pengguna kami dan terus menyediakan layanan yang bernilai bagi komunitas kami. Terima kasih atas dukungan Anda dan kesediaan untuk menjadi bagian dari website-anda.com.
SORBAN SANTRI – Hidup Bukan untuk Berdebat, Tapi Memperbaiki Diri Bahwasanya di dalam diri ada 4 jiwa (nafs); jiwa amarah, jiwa lawwamah, jiwa sufiah, dan jiwa muthmainah yang didalamnya lagi bersembunyi hati nurani. Di dalam diri juga ada pikiran, kalimat, hati, jiwa, dan perilaku, yang harus ditata.
Manusia Jawa kerap menyebutnya “Sedulur Papat Limo Pancer”. Dengan mengenal jiwa jiwa dalam diri, di situlah manusia mengenal siapa sejatinya diri, yang mana automaticly pasti bakal mengenal Tuhannya. Karena, sesungguhnya setelah mengenal diri, bergeraklah hati nurani sebagai pancer diri dalam laku hidup manusia. Hati nurani menjadi pengendali pikiran, kalimat, jiwa dan perilaku, termasuk empat jiwa (amarah, lawwamah, sufiah, dan mutmainah). Karenanya, memperbaiki diri menjadi fokus utama manusia menjalani hidup di alam ‘semu’ ini, tentu saja menggunakan ilmu.
Ilmu yang disaranani dengan laku (Ngelmu sarana ing laku, Laku sarananing ngelmu). Ingat, kanjeng rasul udah memberikan petunjukNya secara jelas cetha melo melo, bahwa “Musuh (perang) terbesar manusia (umatnya) adalah diri sendiri”. Lha klo ndak tau alias tak mengenal dirinya, ya ndak bakal tau musuh mana yg diperangi. Lha, sama diri sendiri aja ndak kenal, eh mau ndandani orang lain.
Logis, simpel aja…tapi paten! So, jalani hidup untuk memperbaiki diri, bukan memperbaiki orang lain. Ndak perlu ndakik-ndakik, sederhana saja tapi paten, fokus pada perbaikan diri dan keluarga dengan menata kalimat, pikiran, hati, jiwa, dan perilaku.
Ilmu Gusti Allah itu keren kok kalau mau dipelajari secara kaffah, lahiriah dan batiniah.
Gunakan hati sebagai pengendali diri, bukan akal (logika) yang mengaturnya. (abd Hamid)
Bagi seorang aktivis kawakan gerakan Islam, mengindentifikasi seseorang bergabung dengan harakah apa, cukup merasakan auranya, sudah bisa ditebak, apa harakah yang diikuti. Ada juga dengan melihat cara berpakaian dan cara berbicara. Tanpa perlu dialog panjang lebar, bisa disimpulkan harakah yang diikutinya.
Entah kebetulan atau memang ada hukum alam, orang awam melihat wajah-wajah pejuang Khilafah umumnya tampak menyeramkan dan kusam. Wajah-wajah orang yang sedang marah dan ingin menerkam. Ketika mendengar kata “khilafah”, yang terlintas adalah wajah-wajah bengis pejuang ISIS, dan wajah-wajah sinis yang tidak simpatik dari aktivis HTI.
Persis apa yang dikatakan Syaikh Ibnu ‘Atha’illah:
Apa yang tersimpan di kedalaman batin akan tampak pada penampilan lahir. Syaikh Zarruq menerangkan: Sebab, lahiriah segala urusan menunjukkan hakikat apa yang ada di dalam dada. Wajah menunjukkan hati. Jika hati mabuk, tandanya terlihat pada wajah yang memerah. Apa yang ada dalam diri, menampak di luar diri.
Jika yang tersimpan dalam hati adalah kebencian, kedengkian, kedustaan, kelicikan dan kemunafikan. Ada dua hal yang tidak akan terhimpun pada seorang munafik: wajah ramah cerah dan pemahaman agama yang baik.
Realitasnya para pejuang khilafah “berdakwah” mengajak orang kepada makhluk bukan kepada al-Khaliq. Khilafah ala ISIS dan khilafah ala HTI, keduanya merupakan produk pemikiran manusia yang bernama Abu Bakar al-Baghdadi dan Taqiyuddin an-Nabhani. Mereka berdua adalah makhluk, dan hasil pemikirannya pun adalah makhluk. Mengajak membai’at khalifah ISIS dan memperjuangkan Amir Hizbut Tahrir menjadi khalifah, berarti mengajak kepada makhluk.
Mereka bukan mengajak dekatnya dan sampainya hati seseorang kepada Allah SWT. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berpesan:
Jangan kau temani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah.
Kata Syaikh Zarruq, orang yang ahwal-nya (keadaan/suasana hati) tidak membuatmu bangkit dan yang maqal-nya (perkataan) tidak menunjukkanmu kepada Allah berarti ia tidak pernah mencapai hakikat sedikitpun. Begitu pula dengan orang yang cita-citanya tidak berpaling dari makhluk.
Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy menasehati kita: “Jangan temani orang yang nafsunya mempengaruhimu, karena orang itu curang. Juga jangan temani orang yang nafsunya bisa kau pengaruhi, karena persahabatan seperti itu tidak langgeng. Temanilah orang yang ketika diingatkan, maka ia ingat kepada Allah. Sebab jika dia hadir, Allah membuatmu kaya”. Jika dia tidak ada, Allah menggantikannya. Zikirnya merupakan cahaya hati dan kesaksiannya merupakan kunci-kunci kegOleh Ayik Heriansyah Pengurus LD PWNU Jabaraiban.”
Semoga Allah SWT menunjukkan kita kepada teman-teman yang ahwal dan maqal-nya bisa membangkitkan ghirah dan himmah untuk mendekat kepada Allah SWT Sang Khaliq.