Tag: pesantren

  • 10 Rahasia Santri, Anak Pondok Pesantren

    10 Rahasia Santri, Anak Pondok Pesantren

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dunia Pesantren memang dunia yang cukup asing karena aktifitas anak pondok pesantren dilakukan dibalik dinding yang kokoh, namun banyak rahasia atau kisah yang mungkin bisa bikin kita salut dan ngakak lihat tingkah lakunya, karena kebetulan saya anak pondok pesantren sahabat, langsung aja sahabat:

    1.Nggak Pernah/ Jarang make CD
    mayoritas orang tuh risih atau nggak nyaman kalo nggak make cd berbanding kebalik sama anak pondok yang kalo udah pulang dari sekolah udah banyak yang gk make cd terus cman make sarung doang sahabat udah kaya abis sunat deh pokoknya ditambah lagi kadang-kadang bercandanya manggil orang terus ditunjukin deh otong nya.

    2.Malu-malu kucing kalo ketemu lawan jenis yang satu pondokan
    kalo diSMA2 umum biasanya santai aja bergaul densahabat lawan jenis udah kaya nggak ada batasan eiiitss…. tapi beda sahabat kalo anak pondok dia paling nggak berani sama yang namanya lawan jenisnya apalagi kalo diblakang lagi banyak cewe nah tuh cowo harus lewat jalan itutuh nah sih cowo bakalan lari kebirit-birit kaya lagi dikejar

    3.Selalu punya motto kebersihan sebagian dari iman
    bagus sih sahabat mottonya kebersihan sebagian dari iman tapi tuh anak pondok bukan cuman busana dan perilakunya doang sahabat anak pondok paling jago sama yang namanya ngabisin makanan pernah suatu saat saya diundang buat tahlil dirumah orang yang lumayan kaya rumahnya gede banget sahabat naah kan disuruh makan tuh sahabat makanya prasmanan saya udah ada firasat2 gk enak nih tiba2 ustadz dari luar yang suruh baca tahlil mau makan sahabat dibukalah tutup piringnya dan woow semuanya bersih tanpa sisa sahabat dibilang malu ya malu tapi mau diapain lagi sahabat namanya anak pondok

    4.Punya sayap sahabat alias jago parkur
    maksudnya jago parkur anak pondok tuh selalu punya cara buat kabur sahabat entah itu lewat lantai 3 atau jendela pokoknya ada aja deh sahabat idenya sampe tuh ventilasi ditralis semua sahabat saking keselnya tuh ustad kali ya sahabat ? ya walaupun cuman beberapa anak doang sahabat ya tapi kaburnya anak pondok paling cuman kewarnet menghilangkan kejenuhan semata aja sahabat tapi jujur dulu saya sering banget yang namanya kabur dan nggak ada kapoknya sahabat pernah saya pas lagi kabur sama temen saya ketemu sama satpam terus diikutin smpe mana tau akhirnya saya punya ide untuk lewat portal karena tuh sisatpam naik motor akhirnya saya lewat hutan bambu yang serem abiis sahabat dan nggak ada lampu akhirnya temen saya nyari jalan dan saya cuman bisa berdoa sama ngikutin temen saya sahabat disitu saya kapok kabur lagi sahabat

    5.Anak pondok gak mau di bilang steril
    sahabat ini nih sahabat anak pondok emang bener2 supeer deh sahabat super joroknya contohnya: kalo makan langsung dilantai tanpa cuci tansahabat terlebih dahulu,minuman khasnya anak pondok air keran sahabat langsung nsahabatga dari sumbernya dan biasa dibilang air surga(sumur galian)

    6.cekatan dan bisa mengatur waktu
    waktu anak pondok bener2 sempit sahabat dalam 1 hari bisa kali dia cuman istirahat 4 jam yang bener2 istirahat nah disitu anak pondok dituntut untuk bisa mengatur waktu dalam hal siap2 dan lain sebagainya misalkan nyetrika kalo yang nyetrika rame dia harus mandi dulu pokoknya mau nggak mau dia harus mengatur waktu dan menggunakan sebaik-baiknya waktu yang sempit itu

    7.Bener2 menghargai yang namanya temen sahabat
    Dipondok saya dapet temen yang bener2 temen yang bisa saling menghargai bisa saling ngerti tidur sebelahan makan sepiring berdua kalo ada makanan selalu dibagi bareng2 walaupun cuman sedikit disinilah saya ngerti apa itu seorang temen

    8.Sangat menghargai orang tua
    Anak pondok bener2 menghargai yang namanya orang tua karena mereka selalu diajarkan untuk sopan dan selalu dicekokin ilmu agama setiap harinya terlebih lagi sama orang tua sendiri sahabat karena anak pondok tuh tau gimana sih susah hidup tanpa orang tua ternyata orang tua tuh bener2 kita butuhin dan pastinya anak pondok juga ngerasain pisah sama orang tua makanya dia lebih menghargai orang tuanya sahabat

    9.Kreatif
    anak pondok bener2 punya 1000 akal sahabat karena banyak2 ide2nya untuk buat kehidupanya yang mandiri itu lebih praktis contohnya kalo nyuci besoknya dipake kan pasti gk kering nah akhirnya mereka punya inisiatif buat meresnya make handuk terus dijemu didepan kipas

    10.Solidaritasnya luar biasa sahabat
    dibalik semua itu diem2 anak pondok punya solidaritas yang emang bener2 solidaritas sahabat pernah waktu itu ada satu anak yang gk bisa ikut ujian gara2 belom bayaran/nunggak akhirnya 1 angkatan sama2 prihatin dan mereka bareng2 nyari biaya lewat nyuci,jualan,dll walaupun cuman dipondok itu doang sahabat hebat y sahabat

    Sekian thread dari saya moga2 anak pondok pesantren jadi anak yang bisa ngubah negeri ini dimasa yang akan mendatang karena dinegeri ini kejujuran udah hampir musnah sahabat smoga bermanfaat untuk sahabat2 semua. (abi sorban)

  • Setelah Pesantren Berubah Wajah Dari NU ke Wahabi

    Setelah Pesantren Berubah Wajah Dari NU ke Wahabi

    SORBANSANTRI.COM
    ilustrasi

    cyberaswaja.online– Berbagai studi tentang pesantren menunjukkan, meski pelan pesantren senantiasa mengalami perubahan. Namun karena sangat pelan, perubahan-perubahan itu baru bisa dikenali melalui waktu yang panjang. Dalam ilmu sejarah hal demikian dikenal sebagai longe-durée, yaitu sejarah jangka panjang terkait dengan perubahan struktural yang lambat sekali. Di sini diperlukan ketelitian dan ketelatenan dalam mengikuti denyut-denyut kecil perubahan itu.

    Perubahan di pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya, Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987). Ia menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial.

    Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).

    Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.

    Namun, dalam waktu yang panjang, perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam desertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Desertasi ini diujikan pada akhir Agustus tahun 2008.

    Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Desertasi yang diujikan pada 20/9/08 itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.

    Dua pesantren yang distudi desertasi ini termasuk pesantren tua, yakni Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya, dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah (aswaja).

    Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.

    Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi kedua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.

    Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama’ah tabligh dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.

    Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PCNU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PCNU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu.

    Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangkan majlis tabligh. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tabligh dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.

    Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain.

    Penulis yakin, metamorfosis dan perubahan orientasi pesantren demikian tidak hanya dialami Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Masih banyak sejumlah pesantren NU yang ikut tergerus gelombang wahabisme. Kalau Ketua Umum PB NU, Hasyim Muzadi, menyatakan Islam Indonesia diserang ideologi trans-nasional, kasus Maskumambang dan al-Fatah bisa menjadi contoh riil.

    Bahkan, kini medan pertarungan itu tidak hanya melalui pesantren. Masjid-masjid sebagai basis kehidupan sosial keagamaan masyarakat juga menjadi ajang kontestasi. Dari berbagai informasi yang penulis peroleh, masjid-masjid yang dikelola warga NU banyak sekali yang “diserobot” kelompok wahabi dan aliran puritan lainnya.

    Dari kenyataan tersebut, ada beberapa hal yang layak dicatat. Pertama, jika selama ini NU mengklaim mempunyai soko guru yang kokoh, yaitu pesantren, ternyata kini pesantren telah mengalami metamorfosis yang melahirkan wajah baru pesantren yang jauh dari karakter ke-NU-an. Meski saya tidak percaya semua pesantren NU akan terbawa arus ini, namun jika tidak diwaspadai bukan tidak mungkin paham keagamaan NU akan semakin dipandang asing di negerinya sendiri. NU juga akan semakin kehilangan legitimasi pesantren.

    Kedua, pelajaran berharga dari Pesantren Maskumambang dan al-Fatah adalah ternyata jaringan tokoh-tokoh pesantren yang dibangun melalui belajar di luar negeri, terutama Mekkah dan Madinah mempunyai pengaruh besar dalam mengubah wajah pesantren. Memang tidak sumua alumni Mekkah dan Madinah menjadi wahabi, namun mengabaikan hal ini juga bukan sikap yang baik.

    Ketiga, NU memang punya lembaga yang secara khusus membidangi soal pesantren, yaitu Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI). Lembaga ini perlu diorientasikan untuk melihat perkembangan pesantren-pesantren NU dari sisi orientasi ideologisnya. Hal ini memang bukan perkara mudah. Meski NU mengklaim mempunyai basis pesantren, tapi pesantren di lingkungan NU mempunyai otonomi penuh yang tidak bisa dicampuri dan diintervensi pengurus struktural NU. Pesantren NU lebih bisa digerakkan melalui hubungan guru-murid, daripada hubungan struktur NU.

    Memang, perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Arus perubahan terkadang juga tidak terduga. Dan kini, pesantren di hadapkan pada berbagai pilihan perubahan. Harus diakui, di sini umat Islam, termasuk warga NU dan pesantren, sering tergagap dalam menghadapi berbagai arus perubahan. Saya yakin, pesantren memang tidak akan bisa hilang dari bumi Indonesia. Masalahnya adalah pesantren jenis apa yang akan hidup. Inilah tantangan yang harus dihadapi. (abi sorban)