Tag: rukun

  • Takdir Barokah: Mengungkap Pentingnya Salat dalam Perspektif Gus Baha

    Takdir Barokah: Mengungkap Pentingnya Salat dalam Perspektif Gus Baha

    sorbansantri.com – Salat, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki makna mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan tentang arti salat jika kita masih melakukan kemungkaran. Gus Baha, seorang ulama yang dikenal dengan pemahamannya yang mendalam tentang ajaran Islam, memberikan pandangan yang menggugah pemikiran terkait hal ini.

    Gus Baha menegaskan bahwa pernyataan yang menyatakan bahwa salat tidak bermakna jika masih melakukan kemungkaran adalah salah besar. Menurutnya, salat adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim. Dengan melaksanakan salat, kita sebenarnya telah mengurangi kemungkaran, karena dalam salat kita meneguhkan status kita sebagai hamba Allah SWT. Gus Baha menggunakan istilah “teken kon” untuk menyatakan bahwa dengan salat, kita mengakui diri sebagai hamba Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa.

    Dalam pandangan Gus Baha, jika ada kesalahan yang terjadi, hal itu memang merupakan suatu kesalahan, namun yang penting adalah kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah yang mengakui keesaan-Nya. Pengakuan ini memiliki barokah tersendiri, yaitu dapat mendapatkan syafa’at (pertolongan) dari Rasulullah SAW di akhirat nanti. Hal ini karena kita tidak pernah mengingkari status kehambaan kita kepada Allah.

    Dengan demikian, Gus Baha mengajarkan bahwa salat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan manifestasi dari pengakuan diri sebagai hamba Allah yang patuh dan taat kepada-Nya. Melalui salat, kita tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga meneguhkan ikatan spiritual dan kepatuhan kita sebagai umat Muslim. Dengan kesadaran ini, diharapkan kita dapat terus memperbaiki diri dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. (AI Sorban)

  • Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian kitab Qurrotul ‘Uyun

    Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian kitab Qurrotul ‘Uyun

    SORBANSANTRI.COM

    FASYA-Sabtu, 16/04/2022. Di pertengahan bulan Ramadhan 1443 H ini, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan acara Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun yang mengangkat tema “Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian Kitab Qurrotul ‘Uyun”. Acara ini merupakan kegiatan kesekian kalinya yang termasuk salah satu program kerja keilmuan dari kepengurusan HMPS HKI tahun 2022 ini. Acara Ngaji Kitab ini bisa dikatakan perdana, dikarenakan dari tahun-tahun sebelumnya memang belum pernah mengadakan kegiatan Ngaji Kitab seperti ini. Maka dari itu, antusias dari jamaah yaitu yang terdiri dari para mahasiswa HKI ini sangat luar biasa, dalam mengikuti Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini.

    Sebenarnya, kitab Qurrotul ‘Uyun ini biasanya sering di konsumsi oleh kalangan pondok pesantren, yang mana pembahasannya mengenai ruang lingkup keluarga yang sesuai tuntunan agama Islam, mulai dari rukun dan syarat nikah sampai dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi didalam hubungan pernikahan. Hal ini tentu menjadi penting sekali untuk dikuasai oleh para mahasiswa fakultas Syariah terutama mahasiswa Hukum Keluarga Islam yang notabene nya menggeluti dibidang Hukum Keluarga. Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini diisi oleh Direktur Pusat Konstitusi & Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta yaitu Gus A.M. Mustain Nasoha S.H., M.H. 

    Acara diawali dengan sambutan dari Koordinator Program Studi HKI dan ketua umum HMPS HKI 2022 yang di wakili oleh ketua panitia pelaksana yaitu Dilva Nahida. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat oleh tim hadroh Jamuna Al Mubarok dari Fakultas Syariah. Selanjutnya pembacaan tahlil yang dipimpin oleh saudara Ahmad Makruf. Tepat pada pukul 09.00 WIB, penyampaian kajian kitab Qurrotul ‘Uyun oleh Gus A.M. Mustain Nasoha mulai berlangsung.

    SORBANSANTRI.COM

    Di dalam Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.: “Barang siapa mempunyai istri dua dan dia berlaku tidak adil di antara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan pecah tubuhnya dan jatuh. Riwayat lain mengatakan: pecah dan bungkuk/miring tubuhnya”. Ujar Gus A.M. Mustain Nasoha dalam penyampaian kajian kitab Qurrotul ‘Uyun. Kemudian ketika ada pertanyaan, “Lebih penting ibadah atau nikah terlebih dahulu? Nah, di dalam kitab Qurrotul ‘Uyun ini dijelaskan bahwasanya keduanya harus seimbang, tetap melaksanakan ibadah dan juga melaksanakan pernikahan”. Gus A.M Mustain Nasoha juga menyampaikan kiat-kiat dalam menjalin hubungan suami istri, mulai dari status hukumnya sampai dengan tata cara melaksanakannya. Semuanya di kupas tuntas oleh beliau.

    Di pengujung acara, Gus A.M Mustain Nasoha menyampaikan kepada seluruh jamaah yang hadir, agar selalu menundukan pandangan terhadap lawan jenis dan selalu berusaha untuk senantiasa menutup aurat. Kemudian, acara diakhiri dengan pembacaan do’a oleh saudara Ahmad Makruf. Harapan dari panitia kepada acara ini adalah semoga dengan dilaksanakannya Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini dapat membawakan ilmu yang bermanfaat dan barokah bagi seluruh jamaah maupun panitia, untuk menjadi bekal dalam menjalani kehidupan berkeluarga kelak.

    (Ahmad Makruf/Divisi Keilmuan/Ed:afz)

  • Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Mojokerto.Sorbansantri.com – Seseorang yang dianggab berjasa atau orang yang di pandang sebagai sesepuh di suatu daerah pastinya jasanya akan selalu di kenang oleh masyarakat bahkan mendapatkan tempat yang mulia walau beliau sudah wafat.

    Pada hari selasa (22-03-22) malam warga kesemen mengadakan haul mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ke XVII yang bertempat area pesarean di dusun Kesemen desa Kesemen kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto.
    Peringatan haul ini diadakan warga rutin setiap setahun sekali yang di pelopori oleh KH.Ahmadun Bashori selaku tokoh agama di desa tersebut beserta tokoh pemuda Solehuddin dan juga dari pihak pemerintahan desa kususnya Anton Kurniawan selaku kepala desa setempat dan di dukung oleh tokoh agama yang lainnya.

    Tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya para tokoh agama, pejabat pemerintahan dan perangkat desa Kesemen, pengurus ranting dan anak ranting NU desa Kesemen, beserta banom banom nya dan elemen masyarakat sekitar.

    Menurut ustad Khoiron selaku ketua panitia mengatakan “acara ini bertujuan untuk kirim doa kepada leluhur dan pelaksanaanya pun selalu di bulan ruwah atau bulan sya’ban tanggal 20 kalender jawa, atau di 10 hari sebelum datangnya bulan suci romadhon tiba”,sebelum pra acara pengajian umum dari panitia melaksanakan kegiatan pembacaan khotmil qur’an semalam suntuk di mulai ba’da sholat isya’ sampai setelah subuh dan hingga hatam, di teruskan malam ini acara puncaknya yakni peringatan pengajian umum yang menghadirkan muballigh dari Mojokerto kyai Mohammad Assa’dullah, yang sebelumnya di awali dengan pembacaan istighosah yang dimpin oleh KH.Ahmadun Bashori, tuturnya

    Menurut pak Wagi dan pak Wiyanto selaku juru kunci pesarean mengatakan bahwasanya pesarean mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ini sangat keramat sekali dan tak ayal banyak peziarah yang datang baik warga lokal maupun warga yang dari luar daerah dengan tujuan ngalab barokahnya dengan mengirimkan doa doa ada juga yang sembari membaca al qur’an ketika berada di dalam area pesarean tersebut.

    Di sekitaran pesarean ada bangunan musholla yang selalu istiqomah di buat sholad berjama’ah yang di pandegani oleh abah Sholeh Muhammad beserta kawula muda di desa kesemen.

    Harapannya semoga dengan acara haul mbah Junggo masyarakat desa kesemen dan sekitarnya semakin guyub, rukun dan mudah mudahan selalu di beri kesehatan, umur panjang serta keberkahan rizki untuk bekal hidup sehari harinya.

    (Hasan-Ngoro)

  • Ngalap barokah para alim ulama’ satkoryon banser kecamatan ngoro adakan ziarah ke makam  para muassis

    Ngalap barokah para alim ulama’ satkoryon banser kecamatan ngoro adakan ziarah ke makam para muassis

     

     

    SATKORYON BANSER kecamatan ngoro Kabupaten mojokerto jawa timur melaksanakan wisata religi ke makam para aulia’ yang berada di jombang, Kediri dan tulungagung yang di laksanakan pada hari sabtu (29/01/2022) malam pemberangkatan dari gedung terpadu MWCNU kecamatan ngoro yang di ikuti oleh para anggota PAC GP ANSOR, BANSER , dan juga RIJALUL ANSOR.

     

    Kegiatan wisata religi ini adalah ziarah ke makam Mbah hasym (KH. HASYM ASYARI) pendiri Nahdlatul Ulama, makam Gus Dur (KH. ABDUL RAHMAN WAHID) Jombang, Gus Mik Kediri, dan mantan komandan SATKORNAS BANSER, H. Alfa Isnaini, Tujuan diadakannya kegiatan ini selain untuk menjalin silaturrahmi juga untuk mengenang dan menteladani jasa para ulama’ dan auliya’, yang telah menginspirasi juga memotifasi kepada para anggota banser kususnya, contohnya Gus Dur semasa hidupnya beliau yang telah memompa dan juga membangkitkan ghirroh semangat Banser untuk menjadi pasukan yang bertugas untuk menjaga para kyai dan ulama’.

     

    Menurut komandan  JAZIL selaku panglima atau kasatkoryon banser kecamatan ngoro mengatakan

    “mari kita niatkan ziaroh ini selain untuk ibadah juga mari kita meniru perjuangan para muassis ini dan menerapkan ke hati kita masing masing, baik dari segi semangatnya maupun pengorbanan beliau, jiwa loyalitas dan totalitas kita terapkan kepada masyarakat lebih lebih kepada jamiyyah nahdlatul ulama’

     

    Beliau juga menginformasikan bahwa harapan diadakannya kegiatan ini supaya tercipta rasa kekeluarggan, kekompakan, kerukunan dan juga rasa persaudaraan antar anggota yang akhirnya bisa melaksanakan tugas organisasi secara maksimal, mudah mudahan berkah dari para muassis semua bisa terkabul dan di ridhoi ALLOH swt. (hasan-ngoro)

  • 5 RUKUN QOULI UCAPAN DALAM SHOLAT

    5 RUKUN QOULI UCAPAN DALAM SHOLAT

    Rukun sholat ada 3 kategori, yaitu rukun qolbi, qouli & fi’li. Yang mana jika ditinggalkan (baik sengaja maupun tidak sengaja) maka sholatnya menjadi tidak sah. Salah satu rukun yang sering kali ditinggalkan adalah Rukun Qouli (Ucapan).

    Yang mana bacaanya tidak boleh dibaca didalam hati, harus diucapkan minimal didengar oleh telinga sendiri. Jangan terlalu keras apalagi ketika sholat berjama’ah, karena dapat mengganggu jama’ah disebelahnya.
    .
    RUKUN QOULI ADA 5, yaitu :

    ⒈ TAKBIRATUL IHRAM
    ⒉ SURAH AL FATIHAH
    ⒊ TAHIYAT AKHIR
    ⒋ SHOLAWAT PADA TAHIYAT AKHIR
    ⒌ SALAM (SALAM PERTAMA)


    Adapun syarat-syaratnya masing -masing, diantaranya :

    ☞⒈ Takbiratul Ihram (mengucapkan “Allahu Akbar”)

    • Dilakukan pada waktu berdiri pada sholat (bagi orang yang sholat berdiri)
    • Menghadap kiblat
    • Harus memakai bahasa Arab
    • Harus menggunakan lafadz “Allah” (الله) dan kalimat “Akbar” ( أكْبَر)
    • Harus tertib antara lafadz “Allah” lalu lafadz “Akbar”
    • Memakai lafadz “Allah” (tidak boleh diganti dengan nama-nama dari Asmaul Husna), contoh ar-rohman, dll.
    • Harus benar dalam pengucapan lafadznya
      diantaranya :
      • Tidak memanjangkan suara “A” pada kalimat Allah (contoh : Aaallahu …)
      • Tidak memanjangkan suara “BA” pada kalimat Akbar (contoh : … Akbaaar)
      • Tidak mentasydidkan lafadz “akbar” (contoh : … akabbar)
      • Tidak menambah suara panjang pada kalimat “HU” (allahuuu ….)
      • Tidak menambah suara “WA” diantara kalimat Allahu dengan Akbar (Allahu wakbar)
      • Tidak menambah suara “WA” sebelum kalimat Allah (wallahu Akbar)
      • Tidak boleh berhenti antara dua kalimat (allahu akbar)
    • Tidak menyembunyikan satu huruf pun dari huruf-hurufnya
    • Harus terdengar bacaan takbirnya (minimal oleh telinga sendiri)
    • Waktu membaca takbiratul ihram setelah masuknya waktu sholat (jika belum, maka tidak sah)
    • Bagi yang berjama’ah, maka takbirnya makmum setelah takbirnya imam.
    • Berusaha menyamakan tatkala mengucapkan takbir dengan bersama mengucapkan niat dalam hati

    ☞ 2. Bacaan surat Al-Fatihah

    • Tertib
      yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya
    • Muwalat
      yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus
    • Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
    • Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
    • Membaca semua ayat al-Fatihah.
    • Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
    • Tidak menggunakan lagu yang dapat merubah makna.
    • Membaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri (jika sholatnya dalam keadaan berdiri)
    • Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
    • Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.

    Apakah Makmum masih harus membaca Al Fatihah di belakang Imam pada saat Sholat Jahriyah (dikeraskan) ???
    • Dalam mazhab Syafi’i, Makmum masih berkewajiban membaca Alfatihah.
    Ada 2 cara melakukannya :
    1. cara pertama, mengikuti setiap imam selesai membaca 1 ayat
    2. Cara yang kedua, membaca Al fatihah setelah bacaan Al fatihah nya Imam selesai seluruhnya. Sehingga sebelum melanjutkan ke surah lainnya, Imam dianjurkan memberikan waktu sebentar bagi makmum untuk menyelesaikan al fatihahnya, dimaksudkan agar makmum bisa fokus dalam pembacaan surah berikutnya yang dibaca oleh imam.
    • Sedangkan Mazhab lainnya berpendapat Al fatihahnya makmum sudah ditanggung oleh Imam.

    ☞ 3. Tahiyat Akhir

    • Dalam duduk yang betul
    • mendengar bacaan yang dibaca
    • tertib
    • memlihara hurufnya
    • memelihara lafadznya
    • memelihara tasydidnya

    4. Sholawat pada tahiyat akhir

    • Memlihara hurufnya
    • memelihara tasydidnya
    • memlihara kalimatnya
    • mendengarkan bacaan yang dibaca
    • Tertib
    • Dalam duduk tahiyyat akhir
    • Minimal sholawat yang dibaca adalah “Allahumma sholli ala Muhammad”, dianjurkan dilengkapi dengan membaca sholawat Ibrahimiyah

    ☞ 5. Salam (Assalamu’alaikum wa rahmatullah)

    • Memlihara hurufnya
    • memelihara tasydidnya
    • memelihara kalimatnya
    • mendengarkan bacaan salam yang dibaca
    • Tertib
    • Dalam duduk tahiyyat akhir

    Disunnahkan menoleh ke kanan ketika salam pertama, dan ke kiri ketika salam kedua.

    Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat yang menjadi rukun hanya salam pertama, sedangkan salam kedua hukumnya sunnah. Maka jika terjadi hal yang membatalkan sholat pada saat salam kedua (misalnya : kentut dll), maka Ulama berbeda pendapat
    • pendapat pertama, sholatnya tetap sah, tetapi kehilangan sunnah mengucapkan salam yang kedua
    • pendapat kedua, sholatnya batal. Karena tetap melakukan salam yang kedua, yang berarti menjadi satu kesatuan dengan salam yang pertama.

    Maka dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian, jika dirasa tidak kuat menahan hal-hal yang membatalkan sholat (contoh : kentut dll) pada saat salam yang kedua, maka seyogyanya sholatnya ditutup hanya dengan salam yang pertama.

    Semoga bermanfaat
    والله أعلمُ بالـصـواب