Tag: sabilillah

  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    SORBAN SANTRI – Berita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.

    NU PINDAHKAN KANTOR PUSAT DI MADIUN

    Sejak dikeluarkannya peringatan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1947 kala Muhtamar NU-17 di Madiun, kalangan NU sendiri selalu siaga terhadap serbuan PKI, tetapi mengingat besarnya kekuatan PKI maka sulit dibendung. Selama masa revolusi itu kantor pusat PBNU pun sengaja dipindahkan dari Surabaya ke Madiun sehingga kesibukan para tokoh NU terpusat di Madiun. Selepas Muhtamar NU-17 Madiun, KH Wahab Hasbullah seorang Pemimpin Besar NU ditugaskan untuk mengkonsolidasi NU dan Barisan Sabilillah se Jawa. Pertemuan ini sebenarnya untuk menghadapi agresi Belanda tetapi juga sekaligus membentengi Indonesia dari komunis, yang sudah merajalela di mana-mana.
    SORBANSANTRI.COM
    dari kiri : KH. Bisri Sansyuri – Hadratus Saikh Hasyim Asy’ari- KH. Ahmad Dahlan
    Pertemuan yang dihadiri petinggi NU dan pimpinan Sabilillah se Jawa tersebut diselenggarakan di kota Ngawi yang jaraknya sangat dekat dengan Madiun, Pertemuan itu digagas guna mengumpulkan kekuatan NU untuk menghadapiagresi Belanda ke-2 hingga menghadapi propaganda PKI yang semakin masif melakukan aksinya. Para kiai mendapatkan tugas beragam, seperti KH Yusuf Hasyim (putra KH. Hasyim Asyari) mendapatkan tugas mengkonsolidasikan para ulama Pesantren yang ada di sekitar kota Madiun. Bersamaan dengan dilaksanakannya pertemuan antara pemipin NU dan Pimpinan Hisbullah Sabilillah itu terjadilah peristiwa Kudeta berdarah di Madiun. Pertemuan itu langsung ditutup seluruh peserta disuruh segera kembali ke daerah, masing-masing untuk jihad menghadapi PKI. Untuk bisa keluar dari Ngawi juga sangat susah, tetapi karena semuanya telah belajar strategi dan taktik bertempur di Cibarusa selama masa penjajahan Jepang, maka merka bisa keluar dari ngawi dengan selamat. Termasuk Kiai Wahab sendiri sebagai tokoh terkemuka NU yang wajahnya sangat mudah dikenali, ketika kembali ke Surabaya harus melewati Madiun. Gara bisa menembus blokde PKI dengan selamat, maka Kiai itu berhasil keluar dari Ngawi bahkan melewati Madiun dengan selamat sampai ke Surabaya dengan menyamar sebagai orang biasa, sehingga bisa menyelamatkan diri dari sergapan PKI.
    PKI UNJUK KEBOLEHAN JUMLAH MASSA
    Dalam beberapa kesempatan untuk menyongsong tahun 1955 (Event Pemilu pertama Indonesia) PKI mulai melakukan konsolidasi dan rapat umum terbuka di berbagai pelosok negeri terutama di daerah-daerah yang dekat Basis mereka di Madiun Jawa Timur. Bebererapa kali PKI menggelar kegiatan Rapat Umum dengan menghadirkan Puluhan Ribu Massa, hal ini nampaknya sengaja dilakukan PKI untuk memperlihatkan jumlah mereka di Indonesia kala itu. Padahal tidak semua yang hadir di acara PKI adalah orang PKI, banyak juga masyarakat umum yang di mobilisasi dan dipaksa untuk ikut menghadiri acara PKI. Karena jika tidak mau keselamatannya terancam para warga pun terpaksa mengikuti saja ajakan itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar: Pinterest.com

    Sebagai puncak dari semua manuver dan provokasi tadi adalah diselengarakannya rapat umum yang dihadiri langsung oleh Muso maupun Amir Syarifuddin pada bulan Agustus tahun 1948 di beberapa tempat seperti Madiun, Trenggalek dan juga di kota kota lain di sekitar Jawa Timur –Jawa Tengah, sebagai strategi PKI untuk show of forceterhadap kekuatan mereka untuk menguasai Republik Indonesia. Semua tokoh PKI setempat dan daerah serta dari CC-PKI hadir dalam rapat umum yang dihadiri puluhan ribu orang. Tetapi bukan semuanya PKI, sebagian masyarakat desa yang tidak tahu-menahu urusan politik tetapi dimobilisasi secara paksa oleh PKI. Mereka ikuti saja kehendak PKI, kalau mereka menolak jiwa mereka akan terancam. Dengan demikian kekuatan PKI kelihatan sangat besar sehingga bisa menggetarkan lawan.

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI Musso (historia.id)
    SORBANSANTRI.COM
    Tentara FDR PKI (historia.id)
    Suatu ketika KH Yusuf Hasyim (anak KH. Hasyim Asyari) melakukan konsolidasi barisan kiai NU di Kota Madiun, kota itu terlihat sangat lengang, warga menghindarkan diri supaya tidak bertemu dengan tentara FDR-PKI terutama dari unsur Pesindo yang sangat agresif. Mereka berkeliaran ke seluruh sudut kota dan desa dengan seragam serba hitam dengan selendang merah bersenjata api atau pedang, siap membunuh dan merampas siapa saja yang ditemui. Pasukan keamanan baik Tentara maupun Polisi sendiri kelihatan sudah kewalahan mengatasi keadaan, sehingga kelompok PKI leluasa melakukan teror dan penindasan. Saat itulah para Kiai yang dikunjungi menyarankan agar K Yusuf Hasyim segera meninggalkan Madiun karena takut bertemu dengan tentara FDR-PKI . Kiai Yusuf Hasyim berhasil keluar dari Madiun dengan selamat, kemudian mendengar kabar para kiai yang kemarin di kunjungi sudah menjadi syuhada dibantai oleh PKI.
     PROKLAMIRKAN NEGARA SOVIET MADIUN, PKI BANTAI BIROKRAT
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI 1948-1965

    Untuk memperluas pengaruh Front Demokrasi Rakyat (FDR) PKI serta untuk mempersiapkan kader-kader militan PKI, PKI Menyusun siasat untuk mengambil alih karesidenan Madiun dan beberapa daerah disekitarnya untuk di jadikan Negara Komunis. Setelah situasi sudah dianggap matang maka FDR yang berada di Kota Madiun yang dipimpin oleh Soemarsono pada tengah malam sekitar jam 24.00 WIB pada 18 September 1948, memproklamasikan pemerintahan baru yang disebut sebagai Pemerintah Front Nasional, sebagai lawan dari Pemerintah Republik Indonesia, hal itu merupakan cikal bakal berdirinya negara komunis yang dinamakan Negara Soviet Madiun.
    Gerakan ini dimulai dengan menyerbu ke markas Tentara, ke kantor Polisi, setelah pasukan keamanan itu dilumpuhkan baru menyerang perkantoran pemerintah. PKI menjebol berbagai penjara yang ada daerah basisnya untuk membebaskan para aktivis PKI dan penjahat kriminal lainnya yang ditahan aparat kepolisian. Kelompok itulah yang kemudian direkrut sebagai kekuatan PKI dalam melakukan serangan terhadap lawannya. Dengan disemangati balas dendam pada polisi dan aparat negara lainnya, mereka terus melakukan penangkapan dan pembantaian kepada siap saja yang dianggap menghalangi gerakan mereka.

    SORBANSANTRI.COM
    (sumber gambar: Merdeka.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Monumen Surjo di Ngawi (musabab.com)

    Setelah posisi mereka kuat di karasidenan Madiun lalu PKI menuju sasaran utama yakni merebut Kantor Residen Madiun serta instansi pemerintah lainnya. Saat itu Residen Madiun Mr. Samadikun kebetulan tidak ada di Madiun, karena sedang bertemu dengan pemerintah RI di Yogyakarta, maka selamatlah ia dari pembunuhan. Sementara wakilnya yaitu Patih berha sil ditangkap dan dibunuh pemberontak. Demikian juga nasib yang dialami pimpinan daerah seluruh Karesidenan Madiun seperti Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dilakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah, para bupati, patih, wedono dan para asistennya ditangkap dan dibunuh. Pejabat tinggi yang menjadi korban peristiwa ini adalah R. Soerjo Gubernur pertama Jawa Timur yang ditelanjangi dan dibunuh oleh PKI dengan tangan dan kaki terikat, PKI juga membunuh 2 personel Polisi yang saat itu menemani R. Soerjo mereka adalah Kombes M. Doerjat (Kapolda Jatim saat itu) dan Kompol Soeroso, rombongan para Birokrat / pejabat pemerintah daerah yang sedang melewati Ngawi juga dijegat dan dibantai oleh PKI yang jenazahnya dilempar ke tepi Bengawan Solo.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar; agustusl.blogspot.com

    Sebagai langkah lanjutan dari kudeta berdarah itu PKI yang bukan pemerintah resmi melakukan penggantian kepala pemerintahan, sebagai Residen untuk menggantikan Mr. Samadikun ditunjuklah Abdul Muthalib sebagai Residen, dia seorang tokoh Pesindo bekas Wakil Residen Surabaya. Kemudian Soemarsono pemimpin pemberontak ditetapkan sebagai Gubernur Militer, sementara wakilnya adalah Soepardi bekas Walikota Madiun, Komandan Militer dipimpin oleh Kolonel Joko Sujono yang sejak awal mendampingi pimpinan pemberontak Soemarsono. Demikian juga seluruh kepala jawatan di seluruh jajaran diganti dengan orang-orang PKI, sehingga daerah Madiun dan sekitarnya sepenuhnya betul telah dikuasai PKI dan di situlah mereka melakukan pembantaian terhadap orang-orang non PKI. Secara serentak beberapa pimpinan derah yang dikuasasi PKI diganti dengan orang-orang PKI seperti di Ngawi, Blora, Pati dan sebagainya. Ketika kelompok FDR pimpinan Soemarsono telah menguasasi Madiun dan sekitarnya barulah pada 19 September 1948 pimpinan tertingi FDR Muso dan Amir Syarifuddin masuk ke Madiun dengan disambut meriah oleh para pemberontak seraya meneriakkan “Menang Perang!”. Di tengah gerombolan pemberontak itulah Muso segera memberikan pernyataan terbuka yang disiarkan oleh Radio Front Nasional yang ditujukan pada seluruh rakyat Indonesia:

    “Pada tanggal 18 September 1948 Rakyat Daerah Madiun telah memegang kekuasaan negara dalam tangannya sendiri. Dengan begitu rakyat Madiun telah melaksanakan kewajiban Revolusi Nasional ini, bahwa ia seharusnya dipimpin oleh rakyat sensdiri dan bukan oleh kelas lain. ….Mereka sewaktu pemerintahan pendudukan Jepang menjadi quisling-quisling budak Jepang, tukang jual Romusa. Sekarang mereka akan menjual Indonesia dan rakyatnya sekali lagi pada imperialis Amerika.
    Lupakan Soekarno cs bahwa ia telah membantu dan mengesahkan kejahatan Siliwangi dan kaum teroris itu???. Apa maksud Soekarno Cs ex pedagang Romusa telah melepaskan penjahat-penjahat Trotskis Tan Malaka Cs yang telah mencoba merobohkan kepresidenannya. Dalam tiga tahun ini teranglah pula bahwa Soekarno Hatta ex Romusa Verkopers, quisling telah menjalankan politik kapitula si terhadap Belanda…….Bolehkan orang semacam itu bilang bahwa mereka mempunyai hak yang sah untuk memerintah Republik Indonesia Kita ??? . Bukan Soekarno bukan Hatta yang melawan Belanda , Inggris dan Amerika, tetapi rakyat Indonesia sendiri” Ujar Musso

    Dengan seruan Muso yang tegas itu maka kalau selama ini PKI telah melakukan berbagai teror dan ancaman, tetapi sejak dicetuskannya Negara Soviet Madiun itu betul-betul melaksanakan apa yang diancamkan selama ini, yaitu melakukan pembunuhan. Sebenarnya kalangan pesantren dan aparat keamanan baik kepolisian maupun TNI telah mengetahui gelagat PKI itu untuk memberontak, tetapi karena semuanya dilakukan dalam waktu cepat dan mendadak, maka serangan tidak sempat ditangkis akhirnya memakan banyak korban.

    BUNG KARNO MEMBALAS SERUAN MUSSO
    SORBANSANTRI.COM
    Pasukan Divisi Siliwangi (historia.id)

    Pemberontakan yang terjadi di Madiun itu segera direspon oleh pemerintah pusat. Melihat langkah inkonstitusional pengambilan kekuasaan yang dilakuakn PKI yang disertai dengan kekejaman itu pemerintah pusat yang berada di Yogayakarta di bawah pimpinan Soekarno Hatta segera bersikap. Kemudian saat itu juga mengeluarkan kecaman dan sekaligus siaran kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak terkecoh oleh ajakan pemberontak dan setia menjaga pemerintahan dan bersatu padu merebut kembali Madiun:

    “Kemarin pagi PKI Muso mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan di sana pemerintah Soviet di bawah kepemimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintah Republik Indonesia. ……. Atas nama perjuangan untuk Indonesia merdeka aku berseru kepadamu. Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami cobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri dan adalah memilih di antara dua; Ikut Muso dengan PKI nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesai merdeka atau ikut Soekarno/Hatta yang Insya’allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia yang Merdeka tidak dijajah negara apapun juga. Rebut kembali Madiun, mari jangan ragu, Insyaallah kita pasti Menang.” Seruan Bung Karno saat itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Laskar Hisbullah dan Sabilillah Yang didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah. Sumber: republika.co.id & historia.id

    Sebagai pemerintah yang sah dan sebagai presiden yang dicintai dan ditaati maka rakyat dan kalangan TNI memilih Soekarno dan melawan Muso. Karena itu Seruan Presiden Soekarno itu langsung dijalankan dengan melakukan orasi penumpasan PKI dengan mengerahkan Divisi Siliwangi yang saat itu sedang hijrah berada di Yogyakarta, serta didukung oleh pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang berada di Yogya pula. Seruan presiden itu kemudian dicetak dijadikan pamflet yang disebar melalui udara ke berbagai daerah yang diduduki oleh PKI. Seruan presiden itu menyadarkan banyak kelompok yang tertipu oleh Muso. Akhirnya mereka sadar, ternyata mereka bukan diajak melawan Belanda tetapi melawan pemerintah yang sah melawan Bung Karno pemimpin Besar yang mereka cintai. Akhirnya mereka enggan ikut FDR PKI, mereka mulai berbalik melawan PKI untuk membela Bung Karno. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 43-48). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya

    Di tengah situasi di mana birokrat dan pejabat pemerintah menjadi sasaran penangkapan dan pembunuhan, kebutuhan akan administrasi dan dokumentasi yang efisien kini banyak mengandalkan perangkat lunak resmi dengan prosedur aktivasi seperti yang disediakan oleh www.kmspico.lc untuk memastikan kelangsungan operasional.

  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Beberapa hari ini media sosial Facebook dibuat heboh dengan sebuah video viral yang menyebutkan jika ada sebuah toko retail di Palembang yang menjual sebuah stiker berlambang Palu Arit (kumparan.com), dan siapa sangka jika pada 23/5/2020 kemarin merupakan 100 tahun PKI berdiri di negeri ini (republika.co.id). Hal ini pun mengundang keprihatinan kami, dimana cerita-cerita soal PKI dulu sering saya dengar dari orang-orang tua di kampung saya yang menyebut bahwa PKI ini Partai yang menghalalkan segala cara dan kerap membuat resah masyarakat pada jamannya. Dan karena nya PKI kemudian diburu oleh masyarakat banyak hingga akhirnya partai ini pun dibubarkan pemerintah, dan faham komunisme dilarang di negeri kita tercinta ini.

    Namun sayang, adanya toko yang menjual stiker bergambar logo PKI baru-baru ini cukup membuat banyak orang miris, dan disini kami ingin menyampaikan cerita soal PKI versi NU (Nahdhatul Ulama). Karena saat kita bicara PKI, dewasa ini saya banyak melihat beragam versi yang muncul di blog-blog pribadi hingga di media sosial, yang konteksnya saya rasa sudah berbumbu politik, dimana pembahasan PKI acapkali menyerempet tokoh Soekarno (Orde Lama) dan Soeharto (Orde Baru). Maka dari itu, saya ingin menyajikan cerita PKI ini dari Versi NU. Dan Bostingan ini akan saya buat beberapa bagian, tulisan ini semata-mata kami sajikan untuk memperbanyak tulisan mengenai sejarah PKI di dunia digital, selamat membaca.

    PROPAGANDA PKI DI PEKALONGAN YANG GAGAL
    Dalam melakukan kegiatannya, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibantu oleh beberapa Ormas Undergrow mereka untuk bisa memuluskan beragam agenda yang mereka buat. dan ormas-ormas undergrow dari beberapa partai yang ada di Indonesia kala itu (tahun: 1940-1960an) bisa sahabat lihat dibawah ini.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Berjudul Benturan NU – PKI

    Pada tahun 1945 diawal kemerdekaan, Walaupun posisinya masih lemah dan masih ilegal tetapi PKI mulai beringas berani menyerang pejabat pemerintah dan tempat ibadah, sebagaimana dilaporkan oleh KH Muhammad Ilyas selaku Konsul NU Kawasan Utara Jawa kepada PBNU:

    “Revolusi Pekalongan gara-gara (orang) dari negeri Porworejo bernama Sarjoyo, Ia datang ke Pekalongan memproklamasikan dirinya sebagai residen Pekalongan. Lalu memproklamasikan Pekalongan menjadi Soviet, komunis. Dikobarkan di tiga kabupaten yaitu Tegal, Pemalang dan Pekalonmgan. Bukan main perilaku orang komunis yang di luar batas itu, baik ucapannya maupun perbuatannya, serambi masjid dikencingi, haji-haji diteriaki agen Arab, kiai-kiai dikatakan penipu. Pekik Merdeka diganti dengan pekik .. Soviet.
    Untung Alhamadulillah Pekalongan yang terkenal fanatik Islam, kalau martabat agamanya dinodai, rakyat berbondong-bodong menjadi barisan manusia yang menyerbu rumah bupati dan pejabat komunis sambil mengarahkan bambu runcing mereka ke sasaran dan menyerukan yel yel Merdeka…Merdeka.. ya Merdeka.” Tulis laporan KH. Muhammad Ilyas kepada PBNU saat itu.

    PKI selalu memanfaatkan peluang apapun untuk merebut kekuasaan, dan sarana agama baik masjid, pesantren atau langgar (Musholla) selalu menjadi sasaran serangan mereka. Karena mereka menganggap tempat ibadah itu sebagai pusat simpul gerakan Islam. Meskipun provokasi mereka di daerah Pekalongan gagal tetapi mereka masih terus melakukan konsolidasi dan propaganda di bawah tanah di seluruh tanah air.

    SORBANSANTRI.COM
    Kampanye PKI Saat itu. (sumber: tirto.id)

    Saat itu partai yang berdiri berkelompok menurut aliran ideologi masing-masing, kelompok yang berideologi nasionalis berkelompok di Partai Nasional Indonesia (PNI), partai berideologi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam, Washliyah, dan lain sebagainya bergabung di Partai Masyumi. Semantara kelompok yang berhaluan Marxis seperti kelompok komunis, kelompok sosialis dan Murba serta kelompok buruh, berdiri sendiri-sendiri dan ada tiga partai Marxis saat itu yaitu Partai Komunis Indoneisa (PKI) ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) ada Partai Buruh Indonesia (PBI) dan ada Partai Murba.
    Melihat hal itu tokoh PKI terutama Muso prihatin lalu berusaha menyatukan kelomopk Marxis yang ada. Maka pada 24 Agustus 1948 Polit Biro Central Comite PKI mengeluarkan kebijakan satu partai kelas buruh (Marxis). Dari situ kemudian PKI, Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia digabung menjadi satu barisan kedalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang diketuai Muso dan Amir Syarifuddin, sekretarisnya adalah DN Aidit yang kesemuanya adalah tokoh PKI. Sementara Partai Murba pimpinan Tan Malaka tidak masuk dalam aliansi Marxis tersebut. Dengan terbentuknya Fron itu maka PKI semakin agresif. Karena front itu dipimpin PKI maka masyarakat tidak ikut menyebut sebagai FDR, Pesindo atau PBI, melainkan secara gampang menyebutnya sebagai PKI.

    PROPAGANDA PKI SETELAH MENJADI PARPOL LEGAL

    Setelah menjadi partai yang legal, maka PKI mulai melakukan propaganda dan konsolidasi partai secara terbuka berkompetisi dengan patai-partai besar yang lain, terutama PNI, NU/ Masyumi. Sebagai partai yang berideologi proletariat yang peduli pada rakyat tertindas maka propaganda PKI banyak diarahkan daerah yang kondisi ekonominya sangat minus. Ternyata strategi PKI ini berhasil sangat baik, terbukti PKI mendapat dukungan kuat di berbagai daerah yang secaraa ekonomi dan geografis dan secara teologis atau keagamaan saat itu masih terbelakang. Sesuai dengan kriteria itu dan pertimbangan strategis lainnya Madiun dijadikan sebagai pusat gerakan PKI. Daerah Madiun dan sekitarnya seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungangung, Ngawi, Boyolali, Porwodadi, Bojonegoro hingga Pati, terus melingkar sampai Magelang, Klaten, Solo, dan Wonogiri merupakan tempat basis pengembangan PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    Madiun menjadi titik pusat dari daerah itu, karena itulah aktivitas PKI dipusatkan di Madiun dan disangga oleh daerah sekitarnya yang telah kuat kader PKI nya. Ibukota RI yang saat itu di Yogyakarta pun sebenarnya menjadi daerah yang telah terkepung oleh PKI karena begitu dekatnya basis PKI dengan ibukota negara saat itu. Dengan kerja keras dan sistematis, maka memasuki tahun 1947 konsolidasi PKI sudah nyaris merata, kepengurusan partai sudah menjangkau daerah pedalaman, sehingga berbagai manuver sudah mulai mereka lakukan.
    Dengan semangat progresif & revolusioner, PKI berhasil merekrut banyak kalangan, baik buruh, petani yang dijanjikan tanah garapan, para birokrat, termasuk kalangan aparat. Para guru juga sudah mulai banyak dipengaruhi termasuk PGRI di kawasan itu mulai didominasi PKI. Kalangan jagoan, baik kalangan warok, para pendekar, termasuk kelompok bajingan segera menjadi bagian penting dari PKI. Bahkan kelompok terakhir itulah yang dijadikan kelompok pemukul lawan.
    Untuk membuat kecemasan dan disintegrasi sosial, PKI melakukan teror seperti dengan perampokan & pembunuhan. Jika kriminalitas sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Perampokan yang dilakukan saat ini dilakukan pada siang hari secara terangterangan. Mereka berani melakukan aksi di siang bolong karena merasa ada yang melindungi bahkan ada yang memerintahkan yaitu PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Perampokan ilustrasi (detik.com)

    Sasaran utama perampokan ini adalah para kiai, ulama atau ustadz, termasuk aparat desa yang belum mau ikut PKI. Di luar hal itu terlihat seperti kriminalitas biasa, tetapi setelah diselidiki oleh para pimpinan GP-Ansor jelas terlihat jika para bajingan yang melakukan perampokan tersebut adalah anggota PKI yang mendapatkan restu dari pimpinan partai setempat untuk melakukan teror. Umumya masyarakat sekitar mengenal siapa warga desanya yang PKI dan bukan, sehingga sangat mudah mengidentifikasi.

    Situasi makin kacau & menakutkan. Tiap malam terjadi perampokan & pencurian, disertai penganiayaan & pembunuhan. Sasarannya tokoh agama, tokoh Masjumi atau tokoh NU dan orang kaya yang sudah naik haji. Dan kalau kebetulan punya anak gadis atau perawan, tidak segan-segan diperkosa. Orang-rang sudah tahu bahwa pelakunya adalah orang-orang komunis PKI..
    Bagi orang yang ingin selamat dari perampokan, pencurian dan penganiayaan, maka jauhilah tokoh agama, Masyumi dan NU dan bergabunglah pada PKI… PKI dan orang-orang komunis telah menjadi monster yang menakutkan. Orang awam atau rakyat jelata atau yang rumahnya terpencil di pelosok pedesaan merasa tidak aman dan tak terlindungi oleh pemerintah. Mereka (dipaksa) bergabung dengan orang-orang PKI untuk mendapatkan perlindungan. Sementara bagi Warga NU mulai meninggalkan tempat ke daerah yang diangap aman.” Ujar salah satu saksi sejarah di Madiun kala itu.

    NU SENGAJA GELAR MUHTAMAR DI MADIUN

    Namun ada hal cukup menarik saat itu, saat di Madiun PKI sedang melakukan Propaganda dengan beragam aksi kriminalitas yang terjadi, NU justru menggelar Muhtamar Ke-17 nya pada 24 Mei 1947 di Madiun. Hal itu dilakukan Untuk memberikan ketenangan pada umat dan mencegah perluasan manuver PKI, NU menggelar Muhtamar ke-17 di Madiun juga Untuk melindungi warga dan ulama dari tekanan PKI saat itu.

    SORBANSANTRI.COM
    logo NU (cyberaswaja.online)

    Madiun menjadi pusat Kegiatan Nasional PKI kala itu, maka NU pun bersiasat mengadakan acara tandingan berskala Nasional juga di Madiun dengan tajuk Muhtamar NU ke-17. Madiun pun kemudian didatangi oleh gelombang jamaah NU yang memasuki Madiun, dan datangnya ribuan Pendekar NU dari berbagai daerah untuk menjaga jalannya Muhtamar. Dalam Muhtamar itu hadir Ulama dan juga para pengurus NU se-Indonesia, Muhtamar itu juga di hadiri KH. Hasyim Asyari sebagai Rais Akbar NU saat itu, dalam ceramahnya Hadrotus syech KH. Hasyim Asyari menyampaikan:

    “Ada beberapa hal lagi yang sangat berbahaya dan tercela melebihi hal yang sudah saya sampaikan, yaitu tersebarnya berbagai ajaran yang mengarah pada kekufuran dan penyimpangan, baik di kalangan anak-anak, pemuda Islam baik di desa maupun di berbagai kota. Saat ini telah tersebar ajaran historis materialisme yaitu suatu prinsip yang berpandangan bahwa tiada realitas di dunia ini kecuali benda, tidak ada roh dan tidak ada alam ghaib. Tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati.
    Bahaya besar ini tidak akan terelakkan bila sudah tertanam dalam hati serta jiwa pemuda kita dan yang demikian itu akan mengubah keyakinan dasar mereka terhadap agama Islam yang kita anut. Bergerak dan bangkitlah wahai saudaraku para ulama, kuatkan barisanmu, satukan sluruh kekuatanmu, tetaplah tegar & percayalah bahwa tidak sedikit golongan yang kecil mampu mengalahkan golongan besar hanya karena kehendak Allah, krena Allah selalu bersama orang yang sabar.” Kutipan ceramah KH. Hasyim Asyari

    Acara Muhtamar NU di Madiun itu pun seperti memberikan angin segar untuk menguatkan masyarakat non PKI disana, menguatkan aparat, para pemuda dan peajar, hingga para birokrasi. Dalam acara itu, KH. Hasyim Asyari menginstruksikan seluruh Potensi yang ada di Pesantren NU di daerah Madiun dan sekitarnya termasuk pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang baru saja turun dari medan tempur melawan penjajah di Ambarawa dan Surabaya untuk ikut menjaga keamanan daerahnya.

    Kalangan aparat keamanan yang selama ini tercekam, terutama dari Kepolisian mulai berani menindak kelompok yang melakukan pencurian dan perampokan. Kawanan perampok di Desa Bendungan Kabupaten Trenggalek yang dianggap sebagai pusatnya PKI di Kabupeten itu digerebek oleh Polisi. Tapi tak lama kemudian segerombolan Warok dari Ponorogo dan para pendekar PKI setempat yang berjumalh 150 orang mengepung Kantor Dinas Kepolisian dan kantor Kejaksaan Trenggelek menuntut dibebaskannya teman mereka yang ditahan. Tetapi Komandan Polisi Letnan R. Rustamadji menolak tuntutan mererka dan berujung perdebatan yang sengit.
    Sebenarnya para warok itu telah dikepung oleh aparat TNI dan pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Seandainya PKI menyerbu kantor Polisi, mereka akan dipukul oleh Hizbullah dan TNI dari belakang. Mengetahui hal itu akhirnya mereka pergi dengan melontarkan ancaman akan menyerbu dengan bala pasukan lebih banyak lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 35-42). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya