Tag: sara

  • MADRID SANG JUARA CHAMPIONS

    MADRID SANG JUARA CHAMPIONS

    SORBANSANTRI.COM
    ZAMRONI A. UMAR (Wk. Sekretaris PCNU Kab. Mojokerto)

    wp.sorbansantri.com – Di luar dugaan banyak orang, pada akhirnya Real Madrid membenamkan kedigdayaan Liverpol untuk merengkuh titel juara liga nya para jawara eropa pada minggu dini hari (29/5). Madrid yang berjuluk “los galacticos”, pada edisi tahun 2022 ini memang berbeda. Skuadnya beranggotakan pemain yang biasa-biasa saja. Modric, Kroos dan Benzema adalah nama-nama hebat dalam sepak bola pada masanya. Tetapi jika dibandingkan dengan Mo Salah, Thiago Alcantara dan Trent Arnold, mereka tidaklah sebanding saat ini. Begitu juga Pelatih Madrid, Carlo Anceloti. Di awal 2000-an mungkin dia adalah pelatih yang sangat menjanjikan, tapi saat ini banyak pengamat yang mengatakan bahwa Don Carlo adalah pelatih yang miskin ide. Sangat berbeda dengan pelatih The Reds, Jurgern Klop. Dengan filosofi taktik “gegen pressing” nya yang menjadi kiblat taktik sepakbola mutaakhir. (30 Mei 2022)

    Bukti Shahih tersaji dalam pertandingan final liga champion, Liverpol menguasai jalannya pertandingan sejak peluit kick off di bunyikan. Serangan bertubi-tubi yang di lancarkan Liverpol dari segala penjuru membuat Madrid tidak bisa mengembangkan permainan. Statistik menunjukkan total 24 kali usaha tendangan ke arah gawang di lakukan oleh Liverpol berbanding 4 kali dari pemain Madrid. Penampilan hebat  kiper Cortuis-lah yang menghindarkan Madrid dari kebobolan. Tetapi Fakta pertandingan tidaklah berbanding lurus dengan apa yang terlihat, pertandingan berakhir dengan kemenangan Madrid dengan gol yang di lesakkan oleh Vinicius Junior pada menit ke-59. Yup, Ternyata Taktik terbaik dalam sebuah game plan adalah taktik yang efektif, itu adalah clue yang bisa didapat dari pertandingan final ini.

    —000—

    Di teras sebuah langgar, Kang Brodin njagong bersama para sahabatnya. Kang Brodin berbicara tentang kebesaran Jamiyah Nahdlatul Ulama sebagai sebuah perkumpulan hebat yang dikawal oleh para ulama. Disaat sedang khusyuk-khusyuknya memberikan penjelasan, tiba-tiba Pak Tarno menyela : “Ngapunten Kang … Dengan peran yang besar dalam percaturan Nasional, Lalu kita yang di bawah ini mendapat manfaat apa dari NU ?”. Sambil menghisap rokok lintingannya –identitas khas Nahdliyin kampung- Pak Tarno dengan gaya bak pengamat hebat yang biasa di lihat di telivisi-  sejurus kemudian menambahkan : “Wong prasa (perasaan) ku lho kang, NU kuwi yo Lailatul Ijtima’. Shalat-Shalat Sunnah, Dzikiran lan selawatan. Aku ra tau ngerti NU ngekei utang-utangan nang aku, hareeee”.  Semua tertawa mendengar ini, karena semua tahu bahwa Pak Tarno adalah seorang yang punya hobi gali lobang tutup lobang, sebagaimana semua yang hadir di teras langgar tersebut. Selaan Pak Tarno itu membuat Kang Brodin bingung sejenak, lalu dengan sekenanya kang Brodin menjawab : “Yo Kuwi manfaate NU, Coba kalau tidak dibarengi sambil berdoa gitu apa berkah hidup nya wong-wong kuwi. Ya… itu manfaat real-nya ber-NU, Barokah tur Mbarokahi”.

    —ooo—

    Sebagai sebuah perkumpulan yang sudah berdiri hampir satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) adalah perkumpulan hebat yang mempunyai banyak jasa pada NKRI ini. Tinta sejarah mencatat bahwa perkumpulan ini secara konsisten hadir sebagai garda terdepan dalam perjalanan historis bangsa ini. Tetapi pada masa yang akan datang –masa menyongsong abad ke duanya- Jamiyah ini menemukan tantangan sesungguhnya. Sebagaimana amanat para muassis (Pendiri Perkumpulan) bahwa perjuangan NU tidak hanya dalam bidang agama saja tapi dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam sekup nasional ataupun internasional, NU hendaknya hadir disana.

    Arah pembangunan Negara saat ini adalah menempatkan desa tidak lagi sebagai Obyek Pembangunan bangsa tapi juga memberikan peran sebagai Subyek. UU No. 6 Tahun 2014 menempatkan desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Total desa di Indonesia yaitu 73.670 desa. Tak heran jika Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyatakan jika desa merupakan pembentuk Indonesia. Mengutip dari laman kementrian terkait bahwa  desa memiliki permasalahan yang lebih besar. Mulai dari kemiskinan yang lebih tinggi, kesehatan yang rendah, konsumsi masyarakat rendah, SDM rendah, sarana dan prasarana yang lebih sulit dibandingkan kota, dan tingkat pendidikan rendah.

    Sebagai sebuah perkumpulan yang hampir menyamai struktur sebuah Negara (Shadow off The State), NU mempunyai kemampuan untuk ikut serta –bersama negara- melakukan penyelesaian problematika sosial tersebut. Untuk mengambil peran ini, tentu NU –sebagai jamiyah- harus berbenah diri. Bagaimana menjadikan perkumpulan ini sebagaimana yang dinyatakan al-Qur’an  “Ashluha fil Ardli wa Far’uha Fi al-samaa’ “ (Pondasinya kuat tertanam di bumi dan Cabangnya tersebar di langit). Maka problem internal NU sesungguhnya secara organisasi adalah melakukan penguatan pada ranting-rantingnya di masa yang akan datang. Siapakah yang harus berinisiatif secara aktif mengambil peran ini??? Adalah Pengurus Cabang di semua Kabupaten/Kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

    Penguatan Struktur menjadi agenda utama dalam tahap ini. Hirarki Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang, Pengurus Ranting dan Pengurus Anak Ranting hendaknya tertata dengan sungguh-sungguh. Para pengurus benar-benar harus memahami penting nya berjamiyah dalam satu kesatuan yang utuh. Kesatuan Amaliyah, Fikrah dan Harakah adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan. Hubungan yang terjalin antar hirarki tidak hanya sebatas formalitas belaka, tapi hubungan yang terjalin layaknya Nabi dengan Sahabatnya, Imam Syafii dan para Ashhab nya dan Wali songo dengan para muridnya. Kuat layaknya Tali Dadung yang melingkari bumi dalam lambang perkumpulan ini. KH. Wahab Hasbullah –Rais Am pertama- memberikan tuntunan dan uswah nya, beliau menyatakan : ”Watazaawuru ba’dlihim ba’dlan”, yakni saling mengunjungi dan bersilaturahim adalah kunci penguatan structural ini. Tentu tidak dalam suasana formil saja ini dilakukan, karena ini akan terasa hambar. Sebagaimana yang di teladankan KH. Achyat Chalimi (Mbah Yat) yaitu melakukan kunjungan langsung ke rumah para pengurus terutama para kyai yang ada di desa-desa, ini akan memberikan sentuhan berbeda pada para tokoh grass root perkumpulan.

    Sebagai jamiyah besar dengan pekerjaan rumah yang banyak dan pendanaan yang terbatas, maka efektivitas adalah kunci kesuksesan (al-Futuh). Seperti Real Madrid -yang Inferior dibandingkan Liverpol- menjadi juara liganya para jawara eropa dengan taktik yang efektif, Begitupun Nahdlatul Ulama dengan kebesaran jamiyah dan segala inferioritasnya, dapat menggapai kesuksesan dengan kesederhanaan dan efektifitas programnya. (Langgar Ledok)

  • Kenapa Negara Maju, Tidak Religius?

    Kenapa Negara Maju, Tidak Religius?

    wp.sorbansantri.com –Negara maju dalam dunia modern saat ini terkesan tidak religius, namun sebaliknya negara yang religius masih banyak yang statusnya masih negara berkembang atau tidak maju.

    Tentu menimbulkan banyak pertanyaan kenapa Amerika, Jepang, Korea, Swiss, Norwegia dan negara-negara maju yang lainnya itu seperti tidak peduli dengan religi?

    Negara maju yang dimaksud bukan hanya maju ipteknya dan finansial, tapi juga maju secara moral. Tapi, negara yang religius malah mendapati kemunduran moral, contoh India sebagai negara religius tapi kasus pemerkosaannya cukup tinggi, KDRT, bunuh diri, intimidasi, bullying dan sebagainya sering terjadi.

    Atau contoh lain adalah Amerika Latin, dimana negaranya cukup religius tapi kasus pembunuhannya paling tinggi. Bahkan negara timur tengah, negara yang cukup religius sering kali membuka sarana untuk perang. Kita tahu perang itu seperti apa, siapa yang mati dan menjadi korban? Wanita dan anak-anak sering menjadi korban perang.

    Nah, kenapa bisa seperti itu?

  • Dr. Fahrudin Faiz M,Ag : “ORANG JAWA NENEK MOYANG KITA !!” Saat mengisi Materi Ngaji Filsafat Mojokerto

    Dr. Fahrudin Faiz M,Ag : “ORANG JAWA NENEK MOYANG KITA !!” Saat mengisi Materi Ngaji Filsafat Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – Gerakan Pemuda ansor (GP Ansor) Kota Mojokerto menggelar kegiatan ngaji filsafat pada tanggal 6 Mei 2002 Kabupaten Mojokerto Yang menghadirkan Pemateri Dr. Fahrudin Faiz M.Ag, yang merupakan Intelektual Muslim dan Dosen UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta Menjadi Motivator di Sosial Media.

    Dalam kegiatan ini melibatkan kurang lebih 200 partisipan yang terdiri dari organisasi Gerakan Pemuda ansor pengurus cabang Kota Mojokerto, pelajar se-kabupaten Mojokerto, kaum muslimin di Kabupaten Mojokerto, dan para penggemar Ustadz Fachrudin di sosial media, Selain itu kegiatan ngaji filsafat ini juga mendapatkan pengawalan khusus dari barisan serbaguna Banser dari Kota Mojokerto yang mengamankan jalannya kegiatan ini.

    Kegiatan digelar di PENDOPO KALAM AKSARA LAMPAHAN (depan GOR Dinas Pendidikan , Kecamatan Sooko , Kabupaten Mojokerto) , Rangkaian kegiatan ini dimulai dari pukul 7 malam sampai pukul 21 malam kegiatan pun dipimpin pembukaan oleh moderator,kemudian di lanjut dengan sambutan-sambutan , disusul dengan puncak acara inti yakni Pengisian materi oleh Dr. Fahrudin Faiz, dan trakhir ditutup dengan dialog tanya jawab dengan penonton setempat.

    Dalam penyampaian materi nya pada waktu dialog dengan penananya, Dr. Fahrudin Faiz memberi pernyataan bahwa “Orang Jawa Itu nenek moyang kita maka dari itu jangan sampai jadi orang Jawa yang hilang Jawa nya” , pernyataan dilontarkan ke jamaah yang mendengarkan karena ketika di zaman ini banyak orang Jawa yang yang hilang akan asal-usul nya sebagai orang Jawa.

    Dr Fahrudin Faiz menceritakan panjang yang mengandung hikmah yang mengenai orang Jawa , juga mengupas problematika sehari-hari di zaman yang saait ini sedang marak banyaknya Orang Jawa yang kehilangan asal-usulnya sebagai orang Jawa. Hal ini diutarakan dokter Fahrudin untuk menyadarkan Para Jamaah yang ikut serta mengaji filsafat, mengingat karena forum dialog ini lebih menekankan saling belajar dan sharing satu sama lain.

    Selain bercerita Hikma , Dr. Fahrudin juga memberi motivasi – motivasi kepada jamaah yang turut hadir dalam kegiatan ngaji filsafat kali ini, dan di penghujung acara moderator menyampaikan kesimpulan dari Pemateri kemudian acara selesai berjalan dangen lancar. (Feri D.S)

  • Ansor Tegal Gelar Workshop Media di Enam Korwil

    SORBANSANTRI.COM

    sorban santri.com – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Tegal bakal menggelar Workshop Media dan Jurnalistik. Pelatihan akan digelar 19 Februari – 13 Maret 2022 di enam Koordinator Wilayah (Korwil) se Kabupaten Tegal.

    Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tegal Nurfanani melalui Wakil Ketua Bidang Media Abdul Muhni mengatakan, Workshop yang akan diikuti perwakilan dari Anak cabang dan Ranting GP Ansor yang ada di kabupaten Tegal itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader dalam membuat konten di media digital maupun media sosial.

    “Workshop juga dimaksudkan sebagai sarana konsolidasi Media Ansor dari level Cabang, Anak Cabang hingga ranting,” katanya.

    Selain itu, kata Muhni, Workshop bertujuan untuk menggugah semangat kader Ansor disemua tingkatan dalam meningkatkan kemampuan media dan literasi.

    “Peran media ini sangat penting bagi organisasi. Apalagi peran Gerakan Pemuda Ansor di era teknologi informasi, era medsos,” tandasnya.

    Kepala Lembaga Media dan Jurnalistik PC GP Ansor Kabupaten Tegal Nurkhasan, menambahkan, Workshop akan digelar di enam Korwil se Kabupaten Tegal. Dimana setiap Korwil akan diikuti 3 PAC dan PR diwilayah Korwil tersebut.

    “Pelatihan ini menjadi ajang evaluasi dan monitoring oleh Ansor Media Tegal terhadap masing-masing Anak cabang dan ranting dalam mengelola dan memproduksi konten di media sosial maupun platform media lainnya,” kata Hasan.

    Dalam Workshop ini juga akan diberikan sejumlah materi penting diantaranya Jurnalistik Dasar, Tehnik Fotografi, Desain Grafis, Pengenalan Website dan Pengelolaan Media Sosial.

    “Diharapkan peserta dari lembaga media anak cabang dan ranting GP Ansor bisa memanfaatkan dengan baik pelatihan ini,” harapnya. (Team Ansor Media).

  • GP Ansor Karangawen Gelar Kelas Media dan Jurnalistik

    GP Ansor Karangawen Gelar Kelas Media dan Jurnalistik

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak menggelar Kelas Media dan Pelatihan Jurnalistik Dasar pada Rabu (26/1/2022) malam.
    Kegiatan yang digelar di lantai dua Gedung MWC NU Kecamatan Karangawen ini diikuti sejumlah 40 orang yang merupakan utusan dari tiap ranting atau kelurahan di kecamatan tersebut.
    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Karangawen, Fahri Lathif mengatakan, kelas ini bertujuan memperlebar sayap perjuangan sampai ke dunia maya.
    Kegiatan ini juga merupakan program kerja yang telah direncanakan oleh Bidang Informasi, Komunikasi dan Kajian Strategis dari PAC GP Ansor Kecamatan Karangawen Demak.
    “Peserta kita bekali tentang pengetahuan jurnalistik dasar dan pengelolaan media sosial yang baik dan benar,” kata Fahri.
  • TAHUN BARU TANPA FPI KEMENANGAN UMAT BERAGAMA

    TAHUN BARU TANPA FPI KEMENANGAN UMAT BERAGAMA

    Oleh : Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – Keputusan pemerintah melarang organisasi, kegiatan dan simbol-simbol Front Pembela Islam (FPI) hadiah tahun baru bagi umat beragama di Indonesia. Sudah lama FPI dirasakan mengganggu keamanan, ketertiban dan kenyaman masyarakat. Masyarakat risih, namun sungkan dan masih menghormati simbol-simbol agama yang digunakan FPI.
    FPI organisasi yang tidak jelas apa maunya. Mau Khilafah, tapi model khilafahnya tidak jelas. Ketemu ISIS, menyatakan mendukung ISIS, ketemu PKS menyatakan mendukung PKS, ketemu HTI menyatakan mendukung HTI. Sedangkan kesemuanya itu mempunyai model khilafah yang berbeda-beda.
    Ketika ditanya soal NKRI Bersyariah, konsepnya pun tidak jelas. Hanya jargon, karena kadung menolak ke-syar’i-an pemerintah NKRI, di sisi lain mau menyebut khilafah lebih tidak jelas lagi konsepnya. FPI sebenarnya terjebak dalam kejahilan mereka sendiri.
    Pelarangan FPI merupakan kemenangan bagi umat beragama di Indonesia, bukan hanya Islam. Narasi dan opini politik identitas yang mereka mainkan sangat berbahaya bagi kohesi sosial dan integrasi bangsa. Misalnya Habib versus non habib. Islam versus kafir. Pembela Islam versus komunis. Khilafah versus NKRI.
    Disengaja atau tidak, propaganda FPI telah membentuk habitus, membangun persepsi di alam bawah sadar dan menciptakan suasan batin anti pemerintah yang sah. FPI melakukan radikalisasi massa yang berujung pada aksi teror. Dibuktikan oleh tiga puluhan pelaku teror berlatar belakang FPI.
    Pelarangan FPI dalam rangka menghentikan radikalisasi masyarakat. Mengutip materi Direktur Pencegahan BNPT Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM pada Sarasehan dan Muhasabah Gugus Tugas Pemuka Agama BNPT, 28-30 Desember 2020 di Hotel Millenium Jakarta, bahwa, semua negara di dunia menghadapi ancaman terorisme yang lahir dari radikalisme berbasis suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
    Sejatinya, radikalisme dan terorisme tidak ada hubungannya dengan ajaran agama dan tidak ada kaitannya dengan kedalaman iman, ketaqwaan dan kedekatannya umat beragama kepada Tuhan. Karena kedalaman iman, ketaqwaan dan kedekatan dengan Tuhan adalah masalah hati. Bukan masalah politik, pemerintahan dan negara. Iman dan taqwa bersifat imanen (ada di dalam diri).
    Oleh karena itu, radikalisme dan terorisme atas nama agama menjadi “fitnah” bagi agama dan umatnya. Sedangkan hal tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan substansi dan tujuan agama itu sendiri. Tentu saja merugikan dan akan memecah belah umat beragama, serta merusak citra agama-agama. Radikalisme dan terorisme menjadi masalah bagi semua agama.
    Pembubaran FPI tidak melanggar prinsip kebebasan berkumpul/berserikat di era demokrasi. Pelarangan FPI, bukan pelarangan Islam. Apalagi kebencian kepada Islam. Saya islam sejak lahir. Saya bukan FPI. Saya bebas menjalankan agama saya.
    Bukan saja bebas menjalankan ibadah mahdlah (ritual), saya juga bebas menjalankan ibadah muamalah dan siyasah. Saya beribadah siyasah sebagai warga negara dengan mentaati pemerintah sepanjang bukan maksiat. Saya berbeda pendapat fiqih dengan FPI, saya mengikuti pendapat jumhur ulama bahwa NKRI dan pemerintahannya absah secara syar’i, ulil amri yang wajib ditaati.
    Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal FPI.
    Selamat datang tahun 2021. Selamat datang kemenangan umat beragama.
    #sorbansantri
  • AKAN TIMBUL RASIS SARA JIKA AGAMA DICATUT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

    AKAN TIMBUL RASIS SARA JIKA AGAMA DICATUT UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Hal yg bukan masalah, jadi dipermasalahkan. Sesuatu yg sederhana dibikin rumit luar biasa. Materi universal seperti bahasa, hendak dikuasai oleh kalangan tertentu saja.

    Jika paham tentang Indonesia, pastinya tahu bahwa sebelum Islam datang ke Nusantara, masyarakat memeluk agama yg lainnya. Ada Hindu, Budha, Kepercayaan nenek moyang, dan sebagainya. Bahasanya pun tetap sama sejak dahulu sampai sekarang, sejak sebelum Islam datang hingga ada yg menjadi mayoritas di berbagai daerah. Ada minang, melayu, jawa, sunda, bugis, makassar, batak dan sebagainya.

    Tahukah kita jika masyarakat Islam Indonesia sejak dulu terbiasa menggunakan istilah sembahyang dibandingkan sholat? Sembahyang bukan berasal dari Bahasa Arab seperti sholat. Sembahyang adalah Sembah Sang Hyang. Agama apapun bisa menggunakannya, dan kebetulan mayoritas Islam yg terbiasa menggunakannya.🙂

    Tidak ada agama yg punya hak eksklusif terhadap suatu bahasa. Bahasa arab yg digunakan dalam kitab agama Islam pun digunakan oleh berbagai agama lainnya seperti Kristen, Katolik, Koptik, Yahudi, dan sebagainya.

    Ah, betapa indah teladan toleransi yg ditunjukkan 2 ULAMA BESAR Indonesia asal Sumatra Barat yaitu KH. BUYA HAMKA dan KH. AGUS SALIM. Saudara sedarah pun bebas beda agama, karena hal itu bergantung pada diri masing2, dan tentunya sudah takdir dari Allah SWT.

    ALLAH SWT menciptakan semua bahasa untuk Alam Semesta. Siapa Anda yg begitu congkak dan takabur sehingga melarang yg berbeda menggunakannya? (katakita)