Tag: sarungan

  • Ayo Sarungan ! Mengenal Sarung Budaya Warga NU di Indonesia Khususnya Santri

    Ayo Sarungan ! Mengenal Sarung Budaya Warga NU di Indonesia Khususnya Santri

     

     

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Asal muasal penyebutan kata sarung sebenarnya merupakan serapan dari bahasa arab yaitu syar’i, yang memiliki arti sesuatu yang harus diikuti umat Islam, termasuk dalam hal berpakaian. Kata syar’i kemudian memiliki masdar syar’un. Karena masyarakat Indonesia saat itu sulit untuk menyebut serapan ‘n’ maka disebutlah sarung.

    Sarung pada awal kemunculannya diperkenalkan oleh orang-orang Islam yang berdagang di Indonesia, yakni para saudagar Arab dan Gujarat India. Selain melakukan perdagangan, mereka juga menyebarkan agama Islam di Nusantara, ini terjadi sekitar abad ke-14 Masehi. Sehingga dalam perkembangannya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.

    Di beberapa catatan tertulis, asal mula sarung berasal dari Yaman. Sebuah kain yang awalnya dipakai oleh suku Badui yang tinggal di sana.

    Masyarakat Yaman menyebutnya sebagai futah. Pada saat itu futah merupakan kain putih yang dicelupkan ke pewarna yang berwarna hitam. Adanya perdagangan yang membuat eksistensi sarung semakin meluas. Karena pada saat itu industri tekstil adalah komoditas raksasa dalam perdagangan era Islam.

    Standar kualitas tekstil dalam perdagangan masyarakat muslim di semenanjung Arab sangat tinggi. Sehingga industri tekstil di era Islam sangat berpengaruh besar terhadap bangsa barat. Sarung telah menjadi pakaian tradisional masyarakat Yaman saat itu. Bahkan sekarang sarung masih menjadi salah satu oleh-oleh tradisional khas Yaman.

    Sarung juga menunjukkan eksistensinya saat zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan simbol perlawanan terhadap budaya barat yang dibawa oleh para penjajah. Kaum santri adalah orang-orang yang paling konsisten dalam mengenakan sarung. Sedangkan kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan sarung dan beralih ke budaya barat dengan mengenakan celana panjang.

    Itulah sejarah singkat mengenai awal mula kemunculan sarung di Indonesia bahkan eksistensinya saat zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terlepas dari itu semua, sarung adalah salah satu item yang telah melekat pada masyarakat Indonesia dan menjadi identitas diri seorang santri. (W S R sorban)

  • BENARKAH CELANA CINGKRANG ITU SUNNAH?

    BENARKAH CELANA CINGKRANG ITU SUNNAH?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Belakangan ada sebagian kelompok mengklaim bahwa “celana cingkrang” (menggantung) adalah celana “WAJIB”. Bahkan mereka menghukumi pakaian yang lainnya sebagai pakaian kaum “KUFFAR” (kafir) (serem banget yak…😡). Bahkan mereka berani menuding yang tidak cingkrang adalah 👉 AHLI NERAKA.😆

    Ternyata mereka telah gagal paham. Karena Nabi SAW sebenarnya tidak pernah menganjurkan memakai celana cingkrang (sirwal). Lalu kaitannya dengan Isbal: apakah Isbal itu benar-benar dilarang?. Nah, inilah jawaban perwakilan KAUM SARUNGAN:

    Sebenarnya yang dimaksudkan Nabi Saw tidak boleh menutupi mata kaki (Isbal) adalah pakain yang umumnya dikenakan oleh para pesohor Arab Jahiliyah (kuno). Jadi bukan terkait dengan berpakaian masyarakat modern ini. Sudah jadi tradisi para pesohor Arab zaman dahulu menonjolkan kekayaan, kebangsawanan dan kedududukan dengan pakaian. Mereka berpakaian panjang hingga menyentuh lantai untuk menunjukkan kekayaaan dan kebangsawanan. Sebaliknya para budak sahaya dipaksa berpakaian dengan sarung (izar) yang menggantung setengah betis.

    Maka Nabi Saw membenci kesombongan dengan cara berpakaian Orang-orang Arab Jahiliyah. Dan beliau menganjurkan agar kaum muslimin berpakaian sederhana sebagaimana budak sahaya saja. Namun, beliau masih membolehkan memakai qamis atau sarung yang menutupi mata kaki (isbal) selama bukan karena kesombongan. Ini dalilnya:

    Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena SOMBONG, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat”. Abu Bakar lalu berkata: “Sarungku sering menutupi mata kakiku, kecuali aku sangat berhati-hati”. Rasulullah SAW bersabda: “Engkau tidak melakukan itu karena SOMBONG”. (HR. Bukhari, no. 3665, Muslim, no. 2085).

    GAGAL PAHAM CELANA CINGKRANG

    Belakangan ini muncul Islam kagetan dan kaum hijrah dadakan. Mereka mewajibkan Celana (sirwal) cingkrang. Padahal ini bukanlah pakaian sunnah. Nabi Saw tidak pernah memakai celana seperti itu dan beliau tidak pernah menganjurkannya. Bahkan Nabi Saw menyebutkan bahwa memakai sirwal saja (cingkrang) menyerupai pakaian Ahlul Kitab (Yahudi).

    Sebanarnya pakaian yang disukai Nabi Saw adalah gamis (kemeja panjang) dan izar (sarung) yang dilengkapi dalaman sirwal (celana). Jadi bukan hanya memakai SIRWAL. Saya sempat membayangkan mungkinkah dulu Para Shahabat pake celana kolor pendek (cingkrang) ketika keluar Rumah?, tentunya TIDAK kan?.😆

    Ketahuilah buat “antum” semua, celana cingkrang (sirwal) saja yang dipakai ketika keluar Rumah, lebih menyerupai pakaian Ahlul Kitab (Yahudi).

    Kendatipun demikian saya menganut paham mayoritas ulama Aswaja yang menekankan pakaian itu yang terpenting adalah menutup aurat. Boleh memakai pakaian apapun. Boleh celana juga sarung. Boleh juga ISBAL yang penting tidak sombong. Namun pakaian yang paling disukai Nabi Saw adalah Gamis dan Izar (Sarung).

    DALIL SIRWAL (CELANA CINGKRANG) SAJA ADALAH PAKAIAN YAHUDI:

    ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠﻪِ، ﺇِﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ اﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻳَﺘَﺴَﺮْﻭَﻟَﻮﻥَ ﻭَﻻْ ﻳَﺄْﺗَﺰِﺭُﻭﻥَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ” ﺗﺴﺮﻭﻟﻮا ﻭَاﺋْﺘَﺰِﺭُﻭا ﻭَﺧَﺎﻟِﻔُﻮا ﺃَﻫْﻞَ اﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ “.
    Abu Umamah berkata: “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Ahli Kitab memakai celana (sirwal) dan tidak memakai izar (atau sarung, yakni kain penutup bagian bawah)”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Pakailah celana dan pakailah izar (sarung). Jangan sampai sama dengan Ahlul Kitab” (HR Ahmad).

    Jadi jelaskan bahwa memakai sarung dan memakai Gamis adalah pakaian yang disukai Nabi Saw. Sedangkan memakai celana cingkrang adalah pakaian Ahli Kitab

    Belajar Islam itu perlu kematangan, jangan hijrah kagetan atau tiba-tiba jadi ustadz dadakan (emang tahu bulat).

    Perwakilan Kaum Sarungan
    H Suparman Abdul Karim
    (LDNU PWNU Lampung)