wp.sorbansantri.com – Poster nobar Timnas Indonesia di beberapa daerah di Indonesia menjadi sorotan netizen setelah foto pejabat tampak menghiasi poster tersebut. Meskipun ajang nobar (nonton bareng) ini dimaksudkan sebagai bentuk dukungan untuk Timnas Indonesia U-23 yang melaju ke semifinal Piala Asia U-23 2024, banyak netizen mencibir sikap sejumlah kepala daerah yang memanfaatkan momentum ini dengan memasang foto mereka di poster nobar.
Seorang netizen dengan akun @adriansyahyasin menyindir, “Mari nontonin pejabat nobar semifinal,” sambil menyoroti foto sejumlah pejabat yang mengepalkan tangan di dalam poster nobar dan memberikan dukungan untuk Timnas Indonesia. Netizen lain juga menambahkan, “Pejabat kita sepertinya masih beranggapan kalau pasang wajah mereka di poster seperti itu akan membuat rakyat lebih mengenal mereka.”
Tentu saja, perdebatan mengenai penggunaan foto pejabat dalam poster nobar ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bagaimana pun, dukungan untuk Timnas tetap menjadi fokus utama, meskipun beberapa netizen merasa bahwa pejabat seharusnya tidak memanfaatkan momen ini untuk kepentingan pribadi.
Poster nobar yang diisi oleh foto pejabat merupakan fenomena yang kontroversial dan sering kali memicu debat di masyarakat. Pertama-tama, penggunaan foto pejabat dalam poster nobar dapat memberikan kesan bahwa acara tersebut didukung atau disponsori oleh pemerintah atau lembaga terkait, meskipun sebenarnya tidak demikian. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat dan menimbulkan pertanyaan tentang integritas dan kredibilitas acara tersebut.
Selain itu, penggunaan foto pejabat dalam poster nobar juga dapat dianggap sebagai penyalahgunaan wewenang atau penyalahgunaan citra publik. Pejabat publik memiliki tanggung jawab untuk menjaga martabat dan integritas lembaga yang mereka wakili. Dengan menggunakan foto mereka untuk kepentingan pribadi atau komersial seperti acara nobar, hal itu dapat dianggap sebagai pelanggaran etika dan dapat merusak reputasi mereka sebagai pemimpin yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa penggunaan foto pejabat dalam poster nobar adalah bagian dari kegiatan promosi yang umum dilakukan dalam dunia hiburan dan acara sosial. Dalam pandangan ini, tidak ada yang salah dengan memanfaatkan citra pejabat untuk menarik perhatian dan menarik penonton untuk menghadiri acara tersebut. Namun, penting untuk memperhatikan batasan etika dan hukum yang berlaku dalam penggunaan citra publik, termasuk izin dan persetujuan dari individu yang terkait.
Namun demikian, penting untuk mempertimbangkan dampak dari penggunaan foto pejabat dalam poster nobar terhadap hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Jika penggunaannya disetujui dan didukung oleh pejabat terkait, hal itu dapat memperkuat keterlibatan dan keterhubungan antara pemerintah dan warganya. Namun, jika penggunaannya dianggap sebagai penyalahgunaan atau pelanggaran etika, hal itu dapat merusak kepercayaan dan memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat.
Dalam kesimpulan, penggunaan foto pejabat dalam poster nobar adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan pertimbangan yang cermat dari berbagai sudut pandang. Penting untuk mempertimbangkan etika, hukum, dan dampaknya terhadap hubungan antara pemerintah dan masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait penggunaan citra publik dalam konteks tersebut. (AI Sorban)
wp.sorbansantri.com – Perjalanan timnas sepakbola Indonesia sepertinya sekarang mulai menjanjikan ya gansist, mungkin yang paling menghebohkan saat bisa menang 2 kali lawan timnas Vietnam di kualifikasi piala dunia 2026 zona Asia. Pun beberapa pertandingan dengan performa menjanjikan setelah itu dilalui oleh timnas, baik tim senior maupun timnas Indonesia U-23 walau sempat tercoreng saat timnas Garuda harus menelan kekalahan dari timnas Qatar.
Timnas Indonesia U-23 berhasil meraih kemenangan yang meyakinkan dalam pertandingan terakhir fase grup A Piala Asia U-23 2024 melawan Timnas Yordania U-23. Pertandingan ini berlangsung di Abdullah bin Khalifah Stadium pada tanggal 21 April 2024.
Garuda Muda menunjukkan performa yang sangat impresif sejak awal pertandingan. Pada babak pertama, mereka mampu mencetak dua gol tanpa balas. Marselino Ferdinan menjadi algojo tendangan penalti pada menit ke-23 dan berhasil mengonversikannya menjadi gol. Kemudian, Witan Sulaeman berhasil menambah keunggulan Timnas Indonesia U-23 dengan gol kedua pada pertandingan ini.
Melaju ke babak perempatfinal Piala Asia U-23 2024 merupakan pencapaian yang membanggakan bagi Timnas Indonesia U-23. Ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk membuktikan kemampuan terbaik mereka dan berjuang untuk meraih prestasi lebih tinggi.
Kita semua berharap agar Timnas Indonesia U-23 dapat terus tampil dengan performa yang baik dan mempersembahkan hasil yang membanggakan bagi bangsa dan negara. Semoga mereka dapat melangkah lebih jauh dalam turnamen ini dan memberikan kebahagiaan bagi masyarakat Indonesia.
Semoga pertandingan-pertandingan selanjutnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh timnas Indonesia dari berbagai kalangan umur ini, untuk menunjukkan kualitas persepakbolaan tanah air sudah membaik. Tunjukkan dulu lah hasil cemerlang lawan tim-tim dari negara lain baru kita menatap rencana masuk Piala Dunia, minimal bisa masuk peringkat 100 besar FIFA dulu. Soalnya dari banyak tim dari negara peserta piala dunia atau yang pernah merasakan manisnya ikutan kejuaraan sepakbola sejagat ini, hanya tim sepakbola Korea Utara yang keluar dari peringkat 100 FIFA.
Prestasi dari hasil maksimal sekarang ini juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan bakat sepak bola mereka dan bermimpi menjadi bagian dari Timnas Indonesia di masa depan.(AI Sorban)
wp.sorbansantri.com – Pertandingan sengit antara Timnas U-23 Indonesia dan Qatar di Stadion Jassim bin Hamad, Doha, pada Senin (15/4/2024), telah berakhir dengan skor 0-2 untuk Qatar. Namun, keputusan wasit Nasrullo Kabirov menjadi sorotan utama setelah banyak yang menganggapnya bermain tidak adil, memengaruhi hasil akhir pertandingan.
ZAMRONI A. UMAR (Wk. Sekretaris PCNU Kab. Mojokerto)
wp.sorbansantri.com– Di luar dugaan banyak orang, pada akhirnya Real Madrid membenamkan kedigdayaan Liverpol untuk merengkuh titel juara liga nya para jawara eropa pada minggu dini hari (29/5). Madrid yang berjuluk “los galacticos”, pada edisi tahun 2022 ini memang berbeda. Skuadnya beranggotakan pemain yang biasa-biasa saja. Modric, Kroos dan Benzema adalah nama-nama hebat dalam sepak bola pada masanya. Tetapi jika dibandingkan dengan Mo Salah, Thiago Alcantara dan Trent Arnold, mereka tidaklah sebanding saat ini. Begitu juga Pelatih Madrid, Carlo Anceloti. Di awal 2000-an mungkin dia adalah pelatih yang sangat menjanjikan, tapi saat ini banyak pengamat yang mengatakan bahwa Don Carlo adalah pelatih yang miskin ide. Sangat berbeda dengan pelatih The Reds, Jurgern Klop. Dengan filosofi taktik “gegen pressing” nya yang menjadi kiblat taktik sepakbola mutaakhir. (30 Mei 2022)
Bukti Shahih tersaji dalam pertandingan final liga champion, Liverpol menguasai jalannya pertandingan sejak peluit kick off di bunyikan. Serangan bertubi-tubi yang di lancarkan Liverpol dari segala penjuru membuat Madrid tidak bisa mengembangkan permainan. Statistik menunjukkan total 24 kali usaha tendangan ke arah gawang di lakukan oleh Liverpol berbanding 4 kali dari pemain Madrid. Penampilan hebat kiper Cortuis-lah yang menghindarkan Madrid dari kebobolan. Tetapi Fakta pertandingan tidaklah berbanding lurus dengan apa yang terlihat, pertandingan berakhir dengan kemenangan Madrid dengan gol yang di lesakkan oleh Vinicius Junior pada menit ke-59. Yup, Ternyata Taktik terbaik dalam sebuah game plan adalah taktik yang efektif, itu adalah clue yang bisa didapat dari pertandingan final ini.
—000—
Di teras sebuah langgar, Kang Brodin njagong bersama para sahabatnya. Kang Brodin berbicara tentang kebesaran Jamiyah Nahdlatul Ulama sebagai sebuah perkumpulan hebat yang dikawal oleh para ulama. Disaat sedang khusyuk-khusyuknya memberikan penjelasan, tiba-tiba Pak Tarno menyela : “Ngapunten Kang … Dengan peran yang besar dalam percaturan Nasional, Lalu kita yang di bawah ini mendapat manfaat apa dari NU ?”. Sambil menghisap rokok lintingannya –identitas khas Nahdliyin kampung- Pak Tarno dengan gaya bak pengamat hebat yang biasa di lihat di telivisi- sejurus kemudian menambahkan : “Wong prasa (perasaan) ku lho kang, NU kuwi yo Lailatul Ijtima’. Shalat-Shalat Sunnah, Dzikiran lan selawatan. Aku ra tau ngerti NU ngekei utang-utangan nang aku, hareeee”. Semua tertawa mendengar ini, karena semua tahu bahwa Pak Tarno adalah seorang yang punya hobi gali lobang tutup lobang, sebagaimana semua yang hadir di teras langgar tersebut. Selaan Pak Tarno itu membuat Kang Brodin bingung sejenak, lalu dengan sekenanya kang Brodin menjawab : “Yo Kuwi manfaate NU, Coba kalau tidak dibarengi sambil berdoa gitu apa berkah hidup nya wong-wong kuwi. Ya… itu manfaat real-nya ber-NU, Barokah tur Mbarokahi”.
—ooo—
Sebagai sebuah perkumpulan yang sudah berdiri hampir satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) adalah perkumpulan hebat yang mempunyai banyak jasa pada NKRI ini. Tinta sejarah mencatat bahwa perkumpulan ini secara konsisten hadir sebagai garda terdepan dalam perjalanan historis bangsa ini. Tetapi pada masa yang akan datang –masa menyongsong abad ke duanya- Jamiyah ini menemukan tantangan sesungguhnya. Sebagaimana amanat para muassis (Pendiri Perkumpulan) bahwa perjuangan NU tidak hanya dalam bidang agama saja tapi dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam sekup nasional ataupun internasional, NU hendaknya hadir disana.
Arah pembangunan Negara saat ini adalah menempatkan desa tidak lagi sebagai Obyek Pembangunan bangsa tapi juga memberikan peran sebagai Subyek. UU No. 6 Tahun 2014 menempatkan desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Total desa di Indonesia yaitu 73.670 desa. Tak heran jika Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyatakan jika desa merupakan pembentuk Indonesia. Mengutip dari laman kementrian terkait bahwa desa memiliki permasalahan yang lebih besar. Mulai dari kemiskinan yang lebih tinggi, kesehatan yang rendah, konsumsi masyarakat rendah, SDM rendah, sarana dan prasarana yang lebih sulit dibandingkan kota, dan tingkat pendidikan rendah.
Sebagai sebuah perkumpulan yang hampir menyamai struktur sebuah Negara (Shadow off The State), NU mempunyai kemampuan untuk ikut serta –bersama negara- melakukan penyelesaian problematika sosial tersebut. Untuk mengambil peran ini, tentu NU –sebagai jamiyah- harus berbenah diri. Bagaimana menjadikan perkumpulan ini sebagaimana yang dinyatakan al-Qur’an “Ashluha fil Ardli wa Far’uha Fi al-samaa’ “ (Pondasinya kuat tertanam di bumi dan Cabangnya tersebar di langit). Maka problem internal NU sesungguhnya secara organisasi adalah melakukan penguatan pada ranting-rantingnya di masa yang akan datang. Siapakah yang harus berinisiatif secara aktif mengambil peran ini??? Adalah Pengurus Cabang di semua Kabupaten/Kota yang tersebar di seluruh Indonesia.
Penguatan Struktur menjadi agenda utama dalam tahap ini. Hirarki Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang, Pengurus Ranting dan Pengurus Anak Ranting hendaknya tertata dengan sungguh-sungguh. Para pengurus benar-benar harus memahami penting nya berjamiyah dalam satu kesatuan yang utuh. Kesatuan Amaliyah, Fikrah dan Harakah adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan. Hubungan yang terjalin antar hirarki tidak hanya sebatas formalitas belaka, tapi hubungan yang terjalin layaknya Nabi dengan Sahabatnya, Imam Syafii dan para Ashhab nya dan Wali songo dengan para muridnya. Kuat layaknya Tali Dadung yang melingkari bumi dalam lambang perkumpulan ini. KH. Wahab Hasbullah –Rais Am pertama- memberikan tuntunan dan uswah nya, beliau menyatakan : ”Watazaawuru ba’dlihim ba’dlan”, yakni saling mengunjungi dan bersilaturahim adalah kunci penguatan structural ini. Tentu tidak dalam suasana formil saja ini dilakukan, karena ini akan terasa hambar. Sebagaimana yang di teladankan KH. Achyat Chalimi (Mbah Yat) yaitu melakukan kunjungan langsung ke rumah para pengurus terutama para kyai yang ada di desa-desa, ini akan memberikan sentuhan berbeda pada para tokoh grass root perkumpulan.
Sebagai jamiyah besar dengan pekerjaan rumah yang banyak dan pendanaan yang terbatas, maka efektivitas adalah kunci kesuksesan (al-Futuh). Seperti Real Madrid -yang Inferior dibandingkan Liverpol- menjadi juara liganya para jawara eropa dengan taktik yang efektif, Begitupun Nahdlatul Ulama dengan kebesaran jamiyah dan segala inferioritasnya, dapat menggapai kesuksesan dengan kesederhanaan dan efektifitas programnya. (Langgar Ledok)