Tag: sooko

  • HARLAH 50 TAHUN PENGAJIAN AHADAN: Merayakan Cinta pada Ilmu dan Ulama’ bersama Habib Umar Al-Mutohhar!

    HARLAH 50 TAHUN PENGAJIAN AHADAN: Merayakan Cinta pada Ilmu dan Ulama’ bersama Habib Umar Al-Mutohhar!

    wp.sorbansantri.com – Dalam suasana penuh semangat dan kecintaan pada ilmu dan ulama’, PC LDNU Kabupaten Mojokerto akan menggelar acara spesial dalam rangka HARLAH 50 TAHUN PENGAJIAN AHADAN. Acara ini akan diadakan pada AHAD PAHING, 5 Mei 2024 / 26 Syawal 1445 di Masjid Agung “DARUSSALAM” Gemekan Sooko Mojokerto mulai pukul 08.00 hingga selesai.

    Acara NGAJI AHADAN (JIHAD LDNU) EDISI KHUSUS ini akan dihadiri oleh sosok yang sangat dihormati, yaitu HABIB UMAR AL-MUTOHHAR dari Semarang. Keberadaan beliau di acara ini menjadi simbol kebersamaan dan komitmen dalam mengeksplorasi serta menghormati ilmu dan ulama’.

    Dalam sebuah kutipan yang menyentuh hati, “إِنَّ الْحِكْمَةَ تَزِيْدُ الشَّرِيْفَ شَرَفًا وَتَرْفَعُ الْمَمْلُوْكَ حَتَّى يُدْرِكَ مَدَارِكَ الْمُلُوْكِ”, kita disadarkan akan kebesaran ilmu yang mampu mengangkat derajat seseorang bahkan dari posisi yang rendah menjadi mulia.

    Seluruh jajaran PC LDNU mengajak para santri, muassis Nahdlatul Ulama’, dan masyarakat umum untuk turut hadir dalam acara istimewa ini. Rawuh Pajenengan bukan hanya sekadar menghadiri acara, tetapi juga menjadikan momen ini sebagai wujud cinta dan penghargaan pada ilmu dan ulama’.

    Mari kita bersama-sama merayakan keberkahan ilmu dan kedermawanan ulama’ dalam HARLAH 50 TAHUN PENGAJIAN AHADAN dengan penuh kebahagiaan dan kebersamaan. Semoga acara ini menjadi berkah bagi seluruh umat dan menginspirasi kita untuk terus mencintai dan memuliakan ilmu serta para ulama’. Wahai Allah, limpahkanlah kemudahan kepada kami dalam menjalani setiap langkah menuju kebenaran. Aamiin. (AI Sorban)

    Panitia HARLAH 50 TAHUN PENGAJIAN AHADAN PC LDNU Kab. Mojokerto

  • Dr. Fahrudin Faiz M,Ag : “ORANG JAWA NENEK MOYANG KITA !!” Saat mengisi Materi Ngaji Filsafat Mojokerto

    Dr. Fahrudin Faiz M,Ag : “ORANG JAWA NENEK MOYANG KITA !!” Saat mengisi Materi Ngaji Filsafat Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – Gerakan Pemuda ansor (GP Ansor) Kota Mojokerto menggelar kegiatan ngaji filsafat pada tanggal 6 Mei 2002 Kabupaten Mojokerto Yang menghadirkan Pemateri Dr. Fahrudin Faiz M.Ag, yang merupakan Intelektual Muslim dan Dosen UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta Menjadi Motivator di Sosial Media.

    Dalam kegiatan ini melibatkan kurang lebih 200 partisipan yang terdiri dari organisasi Gerakan Pemuda ansor pengurus cabang Kota Mojokerto, pelajar se-kabupaten Mojokerto, kaum muslimin di Kabupaten Mojokerto, dan para penggemar Ustadz Fachrudin di sosial media, Selain itu kegiatan ngaji filsafat ini juga mendapatkan pengawalan khusus dari barisan serbaguna Banser dari Kota Mojokerto yang mengamankan jalannya kegiatan ini.

    Kegiatan digelar di PENDOPO KALAM AKSARA LAMPAHAN (depan GOR Dinas Pendidikan , Kecamatan Sooko , Kabupaten Mojokerto) , Rangkaian kegiatan ini dimulai dari pukul 7 malam sampai pukul 21 malam kegiatan pun dipimpin pembukaan oleh moderator,kemudian di lanjut dengan sambutan-sambutan , disusul dengan puncak acara inti yakni Pengisian materi oleh Dr. Fahrudin Faiz, dan trakhir ditutup dengan dialog tanya jawab dengan penonton setempat.

    Dalam penyampaian materi nya pada waktu dialog dengan penananya, Dr. Fahrudin Faiz memberi pernyataan bahwa “Orang Jawa Itu nenek moyang kita maka dari itu jangan sampai jadi orang Jawa yang hilang Jawa nya” , pernyataan dilontarkan ke jamaah yang mendengarkan karena ketika di zaman ini banyak orang Jawa yang yang hilang akan asal-usul nya sebagai orang Jawa.

    Dr Fahrudin Faiz menceritakan panjang yang mengandung hikmah yang mengenai orang Jawa , juga mengupas problematika sehari-hari di zaman yang saait ini sedang marak banyaknya Orang Jawa yang kehilangan asal-usulnya sebagai orang Jawa. Hal ini diutarakan dokter Fahrudin untuk menyadarkan Para Jamaah yang ikut serta mengaji filsafat, mengingat karena forum dialog ini lebih menekankan saling belajar dan sharing satu sama lain.

    Selain bercerita Hikma , Dr. Fahrudin juga memberi motivasi – motivasi kepada jamaah yang turut hadir dalam kegiatan ngaji filsafat kali ini, dan di penghujung acara moderator menyampaikan kesimpulan dari Pemateri kemudian acara selesai berjalan dangen lancar. (Feri D.S)

  • PENUTUPAN DIKLATSAR II BANSER PAC SOOKO BERLANGSUNG KHIDMAT DAN HARU

    SORBANSANTRI.COM

    Sorbansantri.com–Sooko – Siang (28/3) pukul 11.00 WIB sebanyak 115 peserta Diklatsar II Banser PAC Sooko melaksanakan upacara apel penutupan sekaligus dibaiat langsung oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto. Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh khidmat di lapangan Desa Karangkedawang kecamatan Sooko. Seluruh personil petugas upacara adalah dari peserta diklat itu sendiri.


    Upacara dipimpin langsung oleh Kasatkorcab Banser Kabupaten Mojokerto H.Moh. Yunus. Nampak hadir pula para tamu kehormatan, diantaranya dari jajaran pemerintah (wakil camat, koramil dan kepolisian), Kepala desa Karangkedawang beserta perangkatnya, para kiai dari MWCNU Sooko, perwakilan dari banom2 NU (Muslimat, Fatayat, IPNU,IPPNU, Pagar Nusa, Ishari).


    Ada momen berbeda dalam prosesi penutupan Diklatsar kali ini, yaitu didatangkannya orangtua/wali para peserta diklat. Memang panitia diklat sengaja membuat gebrakan baru dengan momen acara sungkeman peserta diklat kepada orangtuanya. Sebagaimana perintah dalam agama islam, anak wajib hormat dan berbakti kepada kedua orangtuanya, dalam situasi dan kondisi apapun dan bagaimanapun.


    Dalam sambutannya, Kasatkorcab Banser Kabupaten Mojokerto menekankan agar peserta diklat nanti di ranting masing2 bisa berperan aktif dan harus selalu siap dalam menjaga dan mengamalkan ajaran islam ahlussunnah waljamaah an nahdliyah, selalu berkomitmen dalam menjaga keutuhan NKRI yang bhineka tunggal ika, dan selalu siap satu komando, mentaati perintah2 pimpinan sebagaimana ilmu yang telah dipelajarinya selama diklat.


    Perwakilan pimpinan dari Pengurus Cabang Sahabat Ahnu Afandi ikut menambahkan, pentingnya bergabung dengan organisasi Gerakan Pemuda Ansor adalah pilihan yang sangat tepat untuk membentengi islam dari pengaruh ajaran2 radikalisme dan intoleran yang saat ini sudah marak di Indonesia, beliau juga berpesan agar sepenuhnya anggota berkhidmah kepada NU dengan niat ikhlas setulus hati agar mendapat keberkahan dari para muassis NU, juga pentingnya menjaga sholat 5 waktu.


    Upacara ditutup dengan do’a yang dipimpin langsung oleh Kiai dari MWCNU Sooko yaitu Kiai Nashiruddin, S.Ag. dan setelah itu pembaiatan peserta dipimpin langsung oleh Gus Sa’dulloh Syarofie bin KH.Khusaini Ilyas dari Mojokerto berlangsung penuh tangis bahagia penuh haru, peserta satu persatu bersalaman dengan Gus dulloh dan para masyayikh, kemudian disiram dengan kembang setaman sebagai tanda telah lulus dari diklat oleh perwakilan dari Pengurus Cabang GP Ansor, kemudian satu persatu peserta berjabatan tangan/berpelukan dengan Tim Instruktur Diklat PC dan Pengurus PAC.


    Momen paling mengharukan adalah saat para peserta selesai dibaiat, lalu para peserta diberi aba-aba oleh protokol agar sungkem kepada orangtuanya masing2, peserta harus datang menuju orangtuanya masing2 secara merangkak untuk mendapatkan restu dan do’a orangtua agar saat menjadi Banser NU diridloi oleh Alloh SWT. Karna ridlonya Alloh SWT berada pada keridloan kedua orangtua. Deraian air mata tertumpah ruah, isak tangis membahana memenuhi seluruh arena. Doa doa pun mengalir tiada henti dari bibir orangtua yang penuh haru dan bangga anak2 mereka dapat lulus dan bergabung dengan Banser NU.

    SORBANSANTRI.COM


    Di akhir sesi, sahabat Najib Tantowi salah satu pimpinan GP Ansor PC Kabupaten Mojokerto menginstruksikan agar para peserta jangan terlalu larut dalam kesedihan dan meyuruh merayakan kesuksesan acara Diklatsar II PAC Sooko dengan menyanyikan lagu Mars Banser. Sontak seluruh peserta kembali ke lapangan dan nyanyian pun bergemuruh sambil mengangkat Kasatkoryon Sooko sahabat Kholik dan Ketua PAC GP Ansor Sooko sahabat Tatlutfiari, tak lupa juga sahabat ketua panitia Diklatsar II Sahabat Irawan. Setelah itu acara ditutup dengan foto bersama di depan Banner. (red.slamet)

  • Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

    Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

    SORBANSANTRI.COM

    Ada satu desa yang namanya sangat unik di daerah Brangkal Kab. Mojokerto. Namanya Kedungmaling. Dari cerita mulut ke mulut, nama itu diperoleh dari suatu cerita dimana daerah Brangkal dulu terdapat Kedung. Kedung itu adalah bagian dari sungai yang sangat dalam. Ia biasanya tenang, tetapi menghanyutkan. Pada suatu ketika, ada maling yang sedang lari dikejar-kejar oleh penduduk. Pada saat ia mengalami kebingungan, ia mencebur ke dalam sungai yang ada kedungnya itu tadi. Dan ia pun tenggelam ke dasar sungai itu. Peristiwa tenggelamnya maling di kedung sungai itulah yang kemudian menjadi penanda nama desa itu yang kelak kemudian diberi nama Desa Kedungmaling.

    Dulu, Desa Kedungmaling lebih banyak orang awamnya daripada orang yang mengerti agama. Tetapi seketika itu berubah seiring kedatangan seorang santri dari Kediri, namanya Ismail Ibrahim. Ismail Ibrahim pernah nyantri di Pondok Mojosari-Nganjuk. Kemudian melanjutkan mondoknya dengan durasi lama, yakni di Pondok Semelo, yang sekarang lebih dikenal dengan PP. Umar Zahid yang terletak di dusun Semelo, desa Kayen, kecamatan Bandarkedungmulyo-Jombang. Di Pondok ini, Ismail Ibrahim belajar berbagai fan ilmu ke-Islaman. Dan juga melatih jiwannya dengan riyadoh dibawah asuhan KH. Umar Zahid.

    Seperti pada umumnya Kyai-Kyai zaman dahulu, selain memikirkan tentang keilmuan santrinya, KH. Umar Zahid juga memikirkan masa depan santri-santrinya. Selain menikahkan, KH. Umar Zahid melalui KH. Munawir Sholeh mencarikan tempat berdakwah pada Ismail Ibrahim. Dan Ismail Ibrahim diberi alternative pilihan untuk mengabdikan ilmunya. Dan melalui sebuah istikhoroh dengan lambang surat an-Nasr, maka desa Kedungmaling-lah yang menjadi tempat pilihannya.

    Di Desa Kedungmaling, Ismail Ibrahim menempati sebuah Masjid kecil hasil wakaf dari Ibu Masriah. Ibu Masriah sendiri itu adalah istri dari Kyai Anwar (Ayah dari Pendiri STIE Al Anwar). Namun pernikahannya itu unik. Masing masing suami istri itu bekerja sendiri sendiri. Kyai Anwar berdagang, Ibu Masriah juga berdagang. Dagangannya Ibu Masriah itu diambil dari Surabaya. Tiap ke Surabaya, ia selalu mampir ke Pondok Nderesmo untuk ikut ngaji mendengarkan ceramahnya Mbah Kyai Mansur. Karena seringnya ngaji ke Ndresmo inilah, menjadikan ibu Masriah memiliki kedekatan dengan Mbah Mansur. Ibu Masriah dibimbing untuk menjadi wanita sholehah. Termasuk juga mengarahkan agar tabungan kekayaannya dipergunakan untuk diwakafkan membangun Masjid.

    Taqdir kemudian berkata, antara Kyai Anwar dan Ibu Masriah berpisah. Namun bukan berarti terjadi peristiwa pertengkaran yang berlarut larut. Harta gono gininya dibagi secara adil. Dan pembangunan Masjid atas suplay dari Kyai Anwar dan seorang pengusaha asal Jatirejo, Bapak Nur Kholis tetap berjalan hingga berdiri megah.

    Dan kemudian Ibu Masriah ini dinikahi oleh Kyai Munawir Sholeh. Dan atas perantara Kyai Munawir Sholeh itulah Ismail Ibrahim menempati Masjid hasil wakaf Ibu Masriah ini.
    Siti Sofiah, cucu dari Ibu Masriah bercerita, kalau Ismail Ibrahim dulu menempati rumah Ibu Masriah, yang sekarang menjadi PP. Riyadlul Quran. Setelah usai pembangunan, maka Ismail Ibrahim menempati Masjid yang telah dibangun.
    Di Masjid itu, Ismail Ibrahim merawat dan memakmurkan Masjid. Dan satu persatu para santri ikut mengaji kepada Ismail Ibrahim. Tetapi kata Masrurah, putrinya, bercerita kalau KH. Ismail Ibrahim waktu itu pernah merasa putus asa menghadapi masyarakat Kedungmaling yang banyak tidak bisa mengaji. Beruntung ada satu dua santrinya yang bisa mengaji sehingga menambah semangat untuk terus mengabdi di tempat yang baru itu.

    Dalam segi ekonomi, Ismail Ibrahim bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun demikian, ia tidak pernah berjodoh dengan pekerjaan itu. Hingga ia pun memutuskan untuk lebih mengkonsentrasikan “ngopeni” santri-santrinya.

    Meskipun dengan tertatih-tatih, Ismail Ibrahim tetap istiqomah dalam melayani santri dan masyarakatnya. Lambat laun, orang-orang Kedungmaling dan sekitarnya mengenal Ismail Ibrahim sebagai orang yang linuweh. Orang orang pun berbondong-bondong bertamu dan mengaji kepadanya. Dan kemudian memanggilnya dengan KH. Ismail Ibrahim.
    Masruroh bercerita, santri-santri KH. Ismail Ibrahim tidak banyak yang bermukim, paling sekitar 25 santri. Tetapi pada saat ramadhan tiba, Masjid berjubel jubel dengan santri yang mengaji. Para santri itu juga berinisiatif membuat gubuk-gubukan di sekitar Masjid untuk tempat mukim mereka. Bahkan masyarakat, baik masyarakat sekitar atau yang jauh, ikut pula bergabung mendengarkan ngaji dari KH. Ismail Ibrahim. Yang unik, para pedagang-pedagang, ikut ngaji sambil membawa daganganya, sebelum pergi ke pasar.
    Biasanya, kata Masruroh, KH. Ismail Ibrahim mengaji kitab Hikam karya Ibnu Athoillah yang terkenal itu. Selebihnya, KH. Ismail Ibrahim lebih menekankan pada penguasaan pembacaan al Quran pada santri-santrinya. Penguasaan pada al-Quran itu bisa dirunut ke PP. Semelo atau KH. Umar Zahid yang ahli dibidang al-Quran. Bahkan pondok ini pulalah yang melahirkan tokoh sebesar KH. Ahmad Munawir Krapyak dan KH. Ahmad Masduki (Pengasuh Roudlotul Tahfidzil Quran Perak-Jombang).

    KH. Ismail Ibrahim semakin diperhitungkan oleh masyarakat saat meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965. KH. Ismail Ibrahim-lah yang membedeng Ansor-Ansor pada masa itu untuk menghadapi PKI. Dan terbukti pemberontakan PKI di Mojokerto mampu dipadamkan oleh bahu membahunya antara tentara dan Ansor.

    Tetapi dari pengakuan Masruroh, jauh sebelumnya, KH. Ismail Ibrahim, juga pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung menjadi Hizbullah. Dan ia sempat menjadi pelindung KH. Wahid Hasyim saat beliau menjadi buron tentara Belanda yang hendak menghabisinya. Dan pada tahun 1955, KH. Ismail Ibrahim juga adalah penggerak partai NU. Hingga sebelum NU berfusi menjadi PPP, KH. Ismail Ibrahim-lah yang menjadi jurkam handal dari partai NU.

    Pada tahun 1968, saat putra kinasihnya KH. Basyaruddin menikah itulah, kata Ahmad Zaini, penanda mulai berkibarnya pesantren yang kemudian diberi nama Darul Hikmah. Pesantren Darul hikmah dikenal selain memperdalam ilmu agama, juga diajarkan kepada santri-santrinya untuk memperbanyak riyadoh-riyadoh. KH. Ismail Ibrahim sendiri, kenang Ahmad Zaini, adalah Kyai yang ahli riyadoh. Tiap malam KH. Ismail Ibrahim tidak pernah tidur. Bada subuh, KH. Ismail Ibrahim mengajak para santri-santrinya untuk berdzikir dan mengaji al-Quran sampai waktu dhuha. Baru setelah itu beliau istirahat.

    Tetapi bukan tanpa tantangan, orang orang yang tidak suka kepada KH. Ismail Ibrahim sering mengganggunya. Saat berceramah, kadang orang orang usil sering mengganggunya. Tetapi bukan KH. Ismail Ibrahim kalau tidak berani menantang para pengganggunya.

    Pernah suatu peristiwa, santri-santri Darul Hikmah disihir oleh seorang pentolan ormas di dekat desa Kedungmaling. Banyak santri santri mengalami kesurupan. KH. Ismail Ibrahim mengumpulkan para santri dan kemudian diterapi serta mengajak kepada seluruh santri untuk mengamalkan dzikir dzikir yang pernah diijazahkan oleh guru-gurunya. Dan pada akhirnya kembali pulalah sihir sihir yang ditiupkan oleh pemimpin ormas yang sekarang berkibar dalam balutan kesesatan itu.

    #

    Ahmad Zaini, santri KH. Ismail Ibrahim, mengenang pertemuan awalnya dengan KH. Ismail Ibrahim tatkala mendengar ceramahnya yang mempesona. Konon pula, setiap kali KH. Ismail Ibrahim berceramah, sesuatu yang ia ceramahkan itu akan terjadi ditempat itu. Ahmad Zaini akhirnya memutuskan nyantri ke KH. Ismail Ibrahim. Di hadapan KH. Ismail Ibrahim, Ahmad Zaini diajar bagaimana melayani masyarakat dengan mengisi kamar mandi dan tempat wudhu.

    Pelajaran melayani itu kelak dirasakan saat ia pada tahun 1975 dinikahkan dan ditempatkan untuk berdakwah di Desa Jalinan. Dengan masyarakat yang masih awam, ia melayani dengan sabar. Dan konon Masjid yang ia tempati untuk berdakwah itu, adalah jejak pohon keramat. Ketika pohon itu ditebang dan menjadi Masjid, maka orang pun tidak menggunakan sesajian ke tempat tempat angker, tetapi berubah ke Masjid.

    Menjelang usianya yang semakin sepuh, KH. Ismail Ibrahim seperti menjadi sentral bagi para Kyai-Kyai yang konon banyak orang menyebutnya sebagai wali. Mbah Ilyas dengan keanehan-keanehan yang dilakukan di pasar Brangkal, setiap kali ber-”operasi”, selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Pun dengan Mbah Ud Pagerwojo-Sidoarjo, seringsekali berkunjung ke KH. Ismail Ibrahim. Bahkan KH. Khusein Ilyas sendiri, setiap kali habis lelaku, senantiasa berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim.

    Tidak hanya sekadar para Kyai, para pengusaha-pengusaha pun mendekat kepada KH. Ismail Ibrahim. Pak Jakfaril, Ayah Mustofa Kamal Pasha, Mantan Bupati Mojokerto, sering bertandang ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Ia sering memberi uang yang banyak kepada KH. Ismail Ibrahim. Katanya, ia suka dengan Kyai yang bekerja.

    #

    Ada satu hal dari karya KH. Ismail Ibrahim yang hingga sekarang tetap lestari. Apabila pesantren pesantren menggunakan haul sebagai sarana untuk mengirim doa kepada Kyai pendiri pesantrennya, tetapi jamiul jawami’ yang diselenggarakan oleh KH. Ismail Ibrahim diperuntukkan untuk seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Biasanya diadakan acara yang meriah selayaknya haul.

    Untuk mendanai jamiul jawami tidaklah mudah. Tetapi perlu biaya besar. Disinilah ada cerita unik. KH. Ismail Ibrahim menyurati Nabi Khidir. Siti Sofiah menuturkan kalau Ayahnya pernah diajak untuk mengirim surat oleh KH. Ismail Ibrahim ke Brondong Lamongan. Ia diajak ke tengah laut. Sampai ditengah laut, surat yang ditulis panjang dengan menggunakan bahasa Arab itu, dilepaskan ditengah laut.Ayah Siti Sofiah pernah bertanya, “Apa bisa sampai surat itu ke Nabi Khidir, Yi?” Dijawab oleh KH. Ismail Ibrahim, “Bisa sampai.” “Buktinya?”tanya Ayah Siti Sofiah. “Nanti kalau pas jamiul jawami, akan banyak yang memberi bandeng. Sebab saya minta bandeng kepada Nabi Khidir” jawab KH. Ismail Ibrahim tenang. Dan memang terbukti, orang orang yang tidak kenal dari berbagai penjuru, setiap jamiul jawami selalu saja ada yang memberi. Dan pengusaha pengusaha asal Gresik, banyak yang memberi bandeng.

    Pada tahun 1983, Masruroh menceritakan bagaimana meninggalnya KH. Ismail Ibrahim. Waktu itu ia masih kuliah dan kebetulan izin untuk menunggui sang Ayah yang sedang sakit. Semalaman suntuk KH. Ismail Ibrahim tidak tidur. Dan saat dicabut malaikat pun, kata Masruroh, beliau dalam kondisi sadar.

    KH. Ismail Ibrahim disemayamkan di dalam Pondok Pesantren. Para alumnus banyak yang menziarahi makamnya. Pun dengan masyarakat sekitar. Setiap tahun, santri dan masyarakat cancut tali wondo meng-hauli Mbah KH. Ismail Ibrahim.

    Isno el kayyis
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

    Sumber wawancara dengan:

    1. Ning Masruroh Ismail Ibrahim pada tanggal 19 Januari 2019 (Beliau Putri dari KH. Ismail Ibrahim)
    2. Bu Nyai Siti Sofiah, Pengasuh PP. Riyadlul Quran, cucu dari Bu Masriah pada tanggal 20 Januari 2019
    3. Ahmad Zaini, Santri KH. Ismail Ibrahim, di Desa Jalinan, pada tanggal 20 Januari 2019
  • GEBRAKAN AWAL SORBAN PEDULI DI HARLAH NU KE-95

    GEBRAKAN AWAL SORBAN PEDULI DI HARLAH NU KE-95

    wp.sorbansantri.com – Minggu, 31 Januari 2021. Santunan yang dikemas dalam Sorban Peduli adalah bentuk sosial kemanusiaan yang dirasa sudah waktunya dilakukan, apalagi setelah mengkaji beberapa kasus kemanusiaan (khususnya Janda), mereka hampir tidak tersentuh dalam giat sosial yang apalagi janda-janda yang akan memperoleh santunan adalah mereka yang terdampak bencana banjir di Mojokerto.

    Mengingat gerakan sosial kemanusiaan tersebut masih dalam wacana tapi harus dilakukan maka, sorban santri membuat Komunitas Sorban Peduli yang kedepannya akan secara rutin dilakukan di wilayah kecamatan di kabupaten Mojokerto. Dan pertama kali difokuskan di daerah sooko mojokerto dan sekitarnya dan dipilih untuk janda yang memperjuangkan dalam organisasi NU sekaligus memeriahkan HARLAH NU ke 95.

    salah satu contoh Bu Sumiati yang mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Sorban Peduli atas bantuan yang sudah diperoleh. Bu Sumiati adalah istri dari pak darno yang merupakan salah satu penggerak ISHARI yang ada di mengelo sooko-Mojokerto.

    Data janda pejuang NU yang terkumpul dihasilkan dari PAC GP Ansor Sooko yang diserahkan pada Sorban Peduli Kamis (28/1). Dan nilai tambah dalam pelaksanaan penyalurannya yaitu diadakan Do’a bersama yang dipimpin oleh Ustad H M Rofiudin sebelum diserahkan. Dengan harapan agar para Donatur, Relawan dan Janda Pejuang NU, diberi kelancaran rejeki yang dipenuhi keberkahan.

    Banyak yang mendukung dan mensupport dari gerakan ini, ada yang dari kalangan media Online dan Cetak seperti sekilasmedia.com dan RepublikNews. Ada juga komunitas, Organisasi serta masyarakat umum. Pembina Sorban Peduli Gus Ali M Nasih berharap, apa yang telah dilakukan dalam Sorban Peduli ini bisa meluas gerakannya dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat bisa amanah dan  bermanfaat bagi yang berhak untuk kita perjuangkan ” Pungkasnya. (abi sorban)

    Data Donasi masuk dan zona amal Sorban Peduli bisa di lihat di SINI

  • KTP WARGA SOOKO MOJOKERTO ADA DI MARKAS ISIS

    KTP WARGA SOOKO MOJOKERTO ADA DI MARKAS ISIS

    SORBANSANTRI.COM
    IM.com – Seorang warga Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, ditengarai menjadi anggota kelompok separatis, Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang beroperasi di Yaman. Identitas Syamsul Hadi Anwar, terungkap dalam pergerakan kelompok militan Syiah, Houthi, ke markas tersembunyi jaringan ISIS-Al Qaeda and Arabian Peninsula (AQAP) di Al Bayda, Yaman.

    Penggerebekan markas Syamsul Hadi dan anggota jaringan ISIS lainnya itu direkam melalui video amatir oleh milisi Houthi. Video tersebut disebarkan di media sosial oleh akun @natsecjeff, Sabtu (29/8/2020). Akun ini spesialis menyebarkan foto dan video peristiwa yang berkaitan dengan konflik di negara-negara Timur Tengah.

    Dalam video tersebut, anggota kelompok Houthi yang bergerak ke markas persembunyian jaringan ISIS-AQAP di Al Bayda, mengobok-obok setiap ruangan dan benda yang ada di dalamnya. Hingga pada suatu tayangan, perekam video menyorotkan kameranya ke sebuah kartu identitas warga negara Indonesia yang mereka temukan di sebuah ruangan.

    Pada kartu identitas yang masih berupa KTP (belum e-KTP) tersebut tercantum nama Syamsul Hadi Anwar dengan alamat Japan Raya RT 1, RW 12 Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Sedangkan pada kolom kelahiran tidak terlihat dengan jelas. Namun KTP itu sudah habis masa berlakunya sejak 24-12-2013 silam.

    Dalam dompet tempat penyimpanan KTP Syamsul Hadi, ada juga beberapa lembar pecahan Rp 2.000, Rp 5.000 dan Rp 10.000. Lembaran rupiah itu dikeluarkan semua oleh milis Houthi.

    Dompet berisi KTP dan uang rupiah itu ditemukan dalam sebuah ruangan yang juga terdapat bendera ISIS dan beberapa barang elektronik seperti laptop dan proyektor.

    Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Indonesia maupun Pemkab Mojokerto terkait dugaan keterlibatan warga Kecamatan Sooko dalam kelompok teroris ISIS-AQAP seperti yang beredar dalam video tersebut.

    Video amatir milisi Houthi saat menggerebek markas ISIS-Al Qaeda di Al Bayda, Yaman yang beredar di media sosial, Sabtu (29/8/2020):

    Houthi merupakan kelompok militan Islam yang menganut paham Syiah. Kelompok ini resmi dideklarasikan oleh pencetusnya, Hussein al Houthi pada awal 2000.

    Namun akar organisasi Houthi memiliki sejarah panjang dan bagian dari kelompok Syiah cabang Zaydi yang mengendalikan sebuah kawasan di Yaman Utara sejak abad ke 9 masehi.

    Kelompok ini kemudian melakukan perlawanan militer terhadap pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pemberontakan ini menyusul masuknya ajaran Salafi dan Wahabi, yang dibawa seorang tokoh ulama ke Yaman bagian utara

    Konflik dan kekacauan di Yaman semakin memenas sejak Houthi menguasai sebagian wilayah negara tersebut pada 2014, termasuk Ibukota Sanaa. Pada 2015 koalisi militer pimpinan Saudi melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk mengalahkan Houthi.

    Sejak itu, puluhan ribu orang Yaman, termasuk warga sipil, tewas dalam konflik tersebut. PBB mengungkapkan 14 juta warga Yaman terancam mati kelaparan. (im)

    (SUMBER INILAH MOJOKERTO)