Tag: sorbansantri

  • ASYIK NGE-BULLY, LUPA AIB DIRI

    ASYIK NGE-BULLY, LUPA AIB DIRI

    SORBANSANTRI.COM

    Masa depan adalah perkara ghaib, rahasia Allah SWT yang tersembunyi dari pengetahuan kita. Kapan pandemi Covid-19 berakhir? Siapa yang akan menjadi Presiden setelah Pak Jokowi? Kapan negara Amerika dan Israel hancur? Dari harakah mana nanti yang akan menaklukkan kota Roma? Ini di antara perkara ghaib yang menyibukkan sebagian orang.

    Sebagian dari mereka menghabiskan waktu, tenaga dan harta untuk menyingkap rahasia ghaib masa depan dengan menggunakan berbagai macam pisau analisa. Sebagian lagi sibuk membuat dan menyebarkan narasi. Berdebat melampaui batas-batas adab dan akhlak. Memaki pihak lain. Membuat fitnah. Dan membuka aib kelompok yang berseberangan sambil melupakan masalah penting yang ada dalam dirinya.

    Masalah penting yang ada dalam diri semua orang, soal nasibnya setelah mati. Bagaimana keadaannya di alam kubur. Tentang dosa dan aibnya. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengingatkan: “Manusia paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinan terhadap apa yang dimilikinya, demi dugaan terhadap apa yang ada di sisi manusia”.

    Kata Syaikh Zarruq, keyakinan terhadap apa yang dimiliki adalah keyakinan terhadap dosa dam segala cacat atau aibnya. Ia bodoh karena mengabaikan keyakinannya atas kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan keburukan dirinya. Kemudian ia menyangka pada diri orang lain ada kebaikan yang sesungguhnya yang bukan hakikat dirinya dan bukan pula hakikat orang lain.

    Syaikh Zarruq melanjutkan, aib adalah segala sesuatu yang meniscayakan kekurangan dan kerusakan. Aib disebabkan kemaksiatan dan keburukan pada perbuatan, adab dan akhlak, baik yang berhubungan dengan Allah maupun makhluk.

    Lalu Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengatakan: “Perhatianmu terhadap aib yang tersembunyi dalam diri lebih baik daripada perhatianmu terhadap keghaiban yang terhalang darimu.”

    Menurut Syaikh Zarruq, ada tiga alasan mengapa memperhatikan aib diri sendiri lebih utama daripada memperhatikan perkara ghaib: Pertama, menyibukkan diri dengan aib sendiri adalah kewajiban menurut adab. Kedua, orang yang menyibukkan diri dengan aib sendiri berupaya meraih kesempurnaan. Ketiga, orang yang menyibukkan diri dengan aib sendiri berarti menunaikan hak-hak rububiyah.

    Karakter nafsu adalah mengabaikan aib dan mengutamakan mencari hal ghaib. Padahal yang sepatutnya dilakukan seorang hamba adalah kebalikannya. Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy berujar: “Jika Allah hendak menghinakan seorang hamba dalam diam dan geraknya, Dia akan menempatkan hasrat dan nafsu di hadapannya.”

    Masa depan adalah perkara ghaib. Sepenuhnya di tangan Allah swt. Kewajiban kita merencanakan kebaikan-kebaikan. Nge-bully orang yang berbeda harapan tentang masa depan, apalagi sampai jatuh kepada perbuatan haram, itu perbuatan bodoh yang tidak layak bagi semua insan.

    Sumber : Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

  • Pentingnya Mendokumentasikan Peninggalan Kitab-kitab Ulama Indonesia

    Pentingnya Mendokumentasikan Peninggalan Kitab-kitab Ulama Indonesia

    cyberaswaja.online- Belum genap 1 bulan dari sekarang Gus Nanal Ainal Fauz meminta ustad KH.Ma’ruf Khozin untuk sekedar menulis kata-kata atas terbitnya kitab beliau, Tsabat Al-Indonisiyi. Sebuah karya berbahasa Arab yang mendokumentasikan karya-karya Kitab Ulama Indonesia yang mencapai 1000 kitab dan ditulis oleh lebih dari 90 Ulama Indonesia. Biasanya kitab yang berbasis Sanad atau Biografi menggunakan urutan Abjad, disini Gus Nanal menggunakan tahun wafat yang paling dulu.

    1000 kitab bukan angka sedikit untuk dihimpun. Gus Nanal termasuk yang sigap untuk segera menulisnya dalam sebuah kitab, melakukan Rihlah (perjalanan) ke beberapa kota yang beliau dengar ada seorang ulama yang menjadi Muallif / Author. Termasuk beliau menggali dari Maha Guru Kyai Maimun Zubair, Allahu Yarhamhu.

    Mengapa ulama Indonesia yang masuk kategori Ajami (non Arab, memang ada sebagian dari Saadah Alawiyyin) berhasil melahirkan para ulama yang mampu menulis kitab seperti para ulama di tempat asal Islam diwahyukan? Saya kira bukan sebuah kebetulan. Melainkan sebuah “grand design” dari Allah yang Maha segalanya.

    Ulama dari Nusantara, diantaranya adalah Indonesia, sejak sekitar 200 tahun dari saat ini telah banyak menimba ilmu kepada para Ulama di Hijaz, ilmu dan Amaliah Ahlussunah telah diajarkan keseluruhan. Begitu di Arab berpindah haluan madzhab, ternyata ulama Indonesia juga memperoleh bagian dari ‘warisan’ keilmuan dan Amaliah tersebut. Misalnya, catatan dalam kitab-kitab Thabaqat dulu di Makam para Sahabat ditemukan jenis ziarah Tabarruk dan saat ini sudah dilarang di Saudi, maka kita temukan di Indonesia. Kalau Mesir dan negeri lain yang pernah didatangi generasi Sahabat dan Tabi’in tidak perlu dibahas. Sudah maklum.

    Sayangnya buku-buku saya tidak dimasukkan dalam daftar ini, mungkin karena tidak berbahasa Arab. Boleh jadi tahun depan saat direvisi akan tercantum nama saya setelah buku-buku saya berhasil saya alihkan ke Bahasa Arab melalui Google Translate. (abi sorban)

  • IBLIS ITU SANGAT ALIM..(AZAZIL)

    IBLIS ITU SANGAT ALIM..(AZAZIL)

    SORBANSANTRI.COM
    ilustrasi

    cyberaswaja.online- Jika engkau bertanya tentang Al-Qur’an kpd iblis, maka iblis akan menerangkan dengan sangat jelas, kerana iblis tau dengan jelas sekali bila ayat itu turun dari langit…

    jika engkau bertanya tentang ilmu hadis kepada iblis, maka iblis akan sangat pandai menjelaskannya, kerana iblis tau asbabul wurud dari hadis…

    jika engkau bertanya tentang cerita para nabi, iblis akan dengan tepat menceritakannya kerana iblis sudah ada sejak nabi adam masih berada dalam syurga…

    iblis ahli alqur’an…
    iblis ahli hadis….
    iblis ahli riwayat..
    iblis alim/pandai dalam segala ilmu…
    tapi iblis tidak pernah menjadi kekasih Allah, kerana dalam diri iblis ada kalimat…

    “AKU LEBIH BAIK DARI SIAPAPUN”

    Semoga sedikit ilmu yg dititipkan Allah Subhana Wa Ta’alla dihati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan…

    YANG AKU TAKUT

    Yang aku takut…
    hatiku kian mengeras dan sukar menerima nasihat, namun sangat pandai menasihati.

    Yang aku takut…
    aku merasa paling benar, sehingga merendahkan yang lain.

    Yang aku takut…
    egoku terlalu tinggi, hingga
    merasa paling baik di antara yang lain.

    Yang aku takut…
    aku lupa bercermin, namun
    sibuk berprasangka buruk kepada yang lain.

    Yang aku takut…
    ilmuku akan membuatku
    menjadi sombong, memandang yang lain berbeza denganku.

    Yang aku takut…
    lidahku makin lincah membicarakan aib orang lain, namun lupa dengan aibku yang menggunung dan tak sanggup kubenahi.

    Yang aku takut…
    aku hanya hebat dalam berkata namun buruk dalam berbuat.

    Yang aku takut…
    aku hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam mengkoreksi diri sendiri.

    Yang aku takut…
    aku membenci dosa orang lain, namun saat aku sendiri buat dosa aku enggan membencinya.

    Kiranya Allah Subhana Wa Ta’alla senantiasa menyedarkanku sehingga lebih rajin dan sibuk mengurus diri daripada mengurusi orang lain yang belum tentu perilaku dan tutur katanya lebih baik dari diriku…

    (sorban – abi)

  • Tidak Jumatan Di Zona Merah, Mengurangi Syariat Islam?

    Tidak Jumatan Di Zona Merah, Mengurangi Syariat Islam?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Komunitas ngaji yang saya jalani beragam, ada bu-ibu, pak-bapak, jid-masjid, gar-langgar, tor-kantor dan sebagainya. Kalau jamaah ngajinya banyak yang berumur sepuh porsi ngajinya saya perpanjang, tanya jawab sedikit. Sebab biasanya akan banyak pertanyaan mengulang dan tak jauh dari tema atau bulan-bulan dalam Islam.Kalau jamaahnya masih muda-muda maka porsi tanya jawab saya perpanjang. Seperti dengan para santri atau mahasiswa. Termasuk ngaji online tadi sore bersama para calon-calon dokter masa depan dari Kampus A Fakultas Kedokteran Unair Surabaya.Entah pada pertanyaan ke berapa, mahasiswa FK semester 4 ini menanyakan perihal tidak melakukan shalat Jum’at di masa pandemi dan zona merah. Katanya ia mendengar bahwa jika tidak jumatan maka mengurangi ajaran syariat Islam, padahal syariat ini sudah sempurna.Sekitar tahun 2010-2012 Bahtsul Masail PCNU Kota Surabaya membahas beberapa pabrik dan perkantoran di Surabaya, karena ada tugas seperti menjaga mesin yang sedang berproduksi, menjadi scurity dan beberapa hal lain yang tidak bisa ditinggalkan, maka ada pendapat dari para ulama yang menjadikan hal tersebut sebagai uzur atau alasan yang dibenarkan untuk tidak shalat Jum’at tetapi harus melakukan shalat Dzuhur bagi orang tersebut.Beberapa kitab pun digali sebagai sumber rujukan ilmu. Termasuk dari kitab Mathalib Uli An-Nuha:(ﻓَﺼْﻞٌ ﻓِﻲ اﻷَْﻋْﺬَاﺭِ اﻟْﻤُﺒِﻴﺤَﺔِ ﻟِﺘَﺮْﻙِ اﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَاﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ)”Fasal tentang beberapa uzur yang membolehkan meninggalkan Jum’at dan berjamaah.”(ﻭَ) ﻳُﻌْﺬَﺭُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ (ﺧَﺎﺋِﻒُ ﺣﺪﻭﺙ ﻣَﺮَﺽٍ) . ﻟِﻤَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﺃَﺑُﻮ ﺩَاﻭُﺩ ﻋَﻦْ اﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ «ﺃَﻥَّ اﻟﻨَّﺒِﻲَّ – ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﻓَﺴَّﺮَ اﻟْﻌُﺬْﺭَ ﺑِﺎﻟْﺨَﻮْﻑِ ﻭاﻟﻤﺮﺽ»”Diantara uzur tersebut adalah kekhawatiran datangnya penyakit. Berdasarkan riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menafsirkan uzur dengan kekhawatiran dan sakit”(ﺃَﻭْ) ﺧَﺎﺋِﻒُ (ﺯِﻳَﺎﺩَﺗِﻪِ) ، ﺃَﻱْ: اﻟﻤﺮﺽ (ﺃَﻭْ ﺑُﻂْءِ ﺑُﺮْءٍ) ﻣِﻦْ ﻣَﺮَﺽٍ ﺑِﻪِ”Atau khawatir bertambah sakit atau tertundanya masa sembuh yang makin lama” (Mathalib Uli An-Nuha 1/701)Karena yang saya hadapi ini para calon dokter maka saya katakan: “Virus itu tidak mengenal tempat. Virus juga tidak melihat-lihat siapa calon korbannya. Lha saat ada pasien berbohong karena covid-19 ternyata ada sekian dokter yang tertular. Kok gak ngerti sih virus ini? Kalau politikus meninggal masih banyak penggantinya. Jika Ustadz wafat masih gampang carinya, apalagi di YouTube. Kalau dokter yang gugur perlu berapa tahun bisa menemukan penggantinya? Masih perlu kuliah, praktek, sekolah lagi PPDS”. Terlebih beberapa hari terakhir ini di Jatim angka penularan cukup tinggi dibanding Jakarta. Coba jika kita yang jadi dokter, sudah kelelahan menghadapi puluhan pasien Corona tiba-tiba ada korban puluhah lagi yang datang.Lalu saya sampaikan dari hadis Bukhari perihal karena uzur tidak dapat melakukan ibadah maka tatkala melakukan sendirian tetap sempurna pahalanya. Hal ini bisa ditemukan dalam kitab-kitab Syafi’iyah:(ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺇﻥ ﻗﺼﺪﻫﺎ ﻟﻮﻻ اﻟﻌﺬﺭ) ﻗﻴﺪ ﻓﻲ ﺣﺼﻮﻝ اﻟﻔﻀﻴﻠﺔ ﻟﻪ، ﺃﻱ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻟﻮﻻ اﻟﻌﺬﺭ ﻣﻮﺟﻮﺩ.”Fadlilah berjamaah (termasuk Jumatan) tetap akan didapat jika orang tersebut berniat akan melakukannya andaikan tidak ada uzur” (I’anah Thalibin, 2/61)Penulis : KH. Ma’ruf Khozin (Direktur Aswaja Center PWNU Jatim)#HubbulWathonMinalIman

  • Kisah Safinah Ra. Ketika Ditolong Hewan Buas

    Kisah Safinah Ra. Ketika Ditolong Hewan Buas

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Safinah Ra. adalah seorang pembantu dirumah Rasulullah Saw. Suatu hari ia mengadakan perjalanan yang lumayan cukup jauh, sebab untuk sampai ketempat itu selain menggunakan kendaraan unta, Safinah juga harus menggunakan kapal laut. Setelah ia tiba dipelabuhan kapal, Safinah langsung naik kapal yang akan membawanya ketempat yang ia tuju. Tak lama kemudian kapalpun berangkat meninggalkan pelabuhan.

    Setelah berada dikapal cukup lama, waktu cuaca sangat bersahabat, dengan dihiasi pemandangan yang indah dan tiupan angin sepoi-sepoi. Sebuah perjalanan yang sungguh mengasyikkan Safinah waktu itu. Tak lama kemudian secara tiba-tiba Safinah terbangun dari tidurnya karena mendengas suara gaduh yang mengusik tidurnya. Ternyata orang-orang yang berada dalam kapal sedang panik, karena kapal telah diterjang ombak yang tingginya setinggi bukit, langit menjadi gelap dan angin bertiup dengan sangat kencang yang disertai hujan yang lebat dengan diiringi suara petir yang menggelegar. Tidak disangka cuaca yang tadinya bersahabat berubah menjadi garang dan mengerikan. Keadaan itulah orang-orang yang berada didalam kapal berteriak ketakutan karena panik.

    Pembantu Rasulullah inipun tak tahu harus bagaimana dan tidak pula tahu apa yang harus ia lakukan karena kapal terombang-ambing diterjang badai ombak yang besar. Kapal pun mulai mengalami kebocoran disana-sini. Safinah kemudian pasrah atas kehendak Allah Swt. apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berdoa memohon pertolongan Allah Swt. atas bencana itu.

    Kajadian yang tidak diharapkan pun terjadi, kapal yang tumpangi Safinah inipun pecah diterjang ombak yang besar dan kuat. Kapal pun terbelah. Safinah kemudian tenggelam, kemudian berenang kepermukanan air laut dan mendapati sebauh papan kapal yang pecah itu digunakannya untuk berpegangan. Safinah pun hanyut mengikuti derasnya arus air yang bergelombang. Tentunya hal itu tidak mudah ia lakukan, karena tangannya yang terluka yang sudah pasti perih dan sakit lantaran sesekali dihempas oleh ombak, tetapi ia terus berusaha berpegang dengan papan itu dengan harapan agar selamat dan sampat ketepi pantai.

    Sampai akhirnya Safinah terdampar disebuah pulau yang berhutan sangat lebat. Ia pun bersyukur diberi keselamatan oleh Allah Swt. dan mendapat keberuntungan saat kapal pecah akibat terjangan ombak yang besar. Setelah berhasil menemukan air tawar di sebuah sungai, ia menyelusuri air sungai untuk mencari perkampungan. Namun ditengah perjalanan ada ada seekor Harimau menghadang, ia terlihat sedang lapar yang seolah-olah siap menerkam Safinah. Safinah mencoba tetap tenang, sebab ketakutan akan menyebabkan hewan yang buas itu akan lebih ganas dan beringas.

    Lalu Safinah berkata kepada Harimau itu:

    “Wahai harimau, aku adalah pelayan Rasulullah Saw.,”

    Perkataan itu meluncur dari mulutnya tanpa disadarinya. Safinah seperti mendapat ilham dari Allah Swt. Tanpa disangka harimau itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan harimau itu mengerti dengan apa yang telah diucapkan Safinah kepadanya. Harimau itu mendekat dan ketika berada didepan Safinah, harimau itu kemudian menunduk menurunkan punggungnya agar Safinah menaikinya.

    Safinah yakin bahwa binatang ini tidak akan membahayakannya, lantas ia memberanikan diri untuk menaiki punggung harimau itu. Ternyata keyakinannya benar bahwa binatang itu bersahabat. harimau itu kemudian berjalan pelan membawa kesebuat tempat yang biasa dilalui orang. Setelah sampai harimau itu kemudian pergi meninggalkan Safinah dengan disertai suara auman harimau itu seperti mengucapkan selamat jalan kepada Safinah dan dijawab olehnya dengan ucapan terimah kasih dan doa keselamatan dari Allah Swt.

    HIKMAH DIBALIK KISAH

    Kisah safinah adalah sebuah kisah dari sebagian hamba Allah yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Menyerahkan semua hidupnya atas kehendak Allah Swt. Sabar dalam menghadapi cobaan, senantiasa bertawakal diiringi dengan usaha dan doa, maka sesulit apapun keadaan yang kita hadapi akan terasa mudah kita selesaikan, karena yakin Allah Swt adalah Tuhan kita dan yakin sepenuh hati Bahwa Dia akan menolong kita. Benar nggak sahabat Muslim. Subhanallah

    Semoga kisah ini dapat menjadikan sebuah pelajaran yang baik untuk kita semua. Alhamdulillahi Robbil ‘alamin. Amin. (abi sorban)

  • Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan

    Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan

    SORBANSANTRI.COM
    Tiga-Pendiri-Nahdlatul-Ulama


    cyberaswaja.online –
    Film berdurasi 54 menit 45 detik ini merupakan Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan. Film ini mengungkap sejarah-sejarah yang terhapus dan perjalanan Nahdlatul Ulama sejak sebelum berdirinya hingga masa kini.

    Narasumber dalam film dokumenter yang dipersembahkan oleh Yayasan Ircos Jakarta dan Yayasan 135 ini, antara lain :
    1. KH. A. Musthofa Bisri
    2. Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, MA.
    3. KH. Muchitz Muzadi
    4. Yenni Wahid, MA
    5. KH. Hasyim Muzadi
    6. Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, MH, MU
    7. Ir. KH. Salahuddin Wahid
    8. Dr. Andree Feillard

    [su_youtube url=”https://youtu.be/bOgkegxuUcM”]

    Film dokumenter ini sangat penting untuk ditonton oleh seluruh warga NU khususnya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebab pentingnya sejarah Indonesia sertai kaitannya dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul Ulama.

    Sayangnya, dalam video itu keliru mencantumkan logo NU. Didalam video ini terdapat logo “NU Salah” pada menit ke 02:12 yang memang banyak beredar di internet, bahkan tak jarang digunakan oleh sebagian warga NU yang kurang teliti menggunakan logo NU. (abi-sorban)

  • FPI MINTA MAAF SOAL OBRAK-ABRIK WARUNG KECIL DI MEDAN SUMUT

    FPI MINTA MAAF SOAL OBRAK-ABRIK WARUNG KECIL DI MEDAN SUMUT

    SORBANSANTRI.COM
    oknum FPI di kantor Polisi

    cyberaswaja.online- Setelah videonya sempat viral, FPI sumatera utara saat dilakukan pemeriksaan oleh pihak Kepolisian Akhirnya Meminta Maaf, Sebelumnya beredar video viral FPI mengobrak-abrik warung kelontong atau kedai kopi kasyarakat kecil di salah satu daerah medan videonya viral di grup-grup daerah medan.

    Motif peristiwa tersebut kemungkinan karna FPI marah melihat warung kelontong tersebut tetap buka di saat bulan puasa, menurut pemilik warung dan warga sekitar, lebih banyak warga di wilayah tersebut yang beragama non muslim, jadi buka nya warung tersebut tidak lebih untuk mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa, menurut pengakuan pemilik warung, dagang sudah sepi malah di obrak-abrik,

    Kecaman demi kecaman datang dari netizen yang gerah atas kesewenang-wenangan tingkah FPI, banyak warganet yang menilai bahwa ijin FPI yang masih bermasalah justru karena ulah kelompoknya sendiri.

    Oleh admin: Haddi VJB

  • MENYERU KEPADA KHILAFAH, MENYERU KEPADA MAKHLUK

    MENYERU KEPADA KHILAFAH, MENYERU KEPADA MAKHLUK

    SORBANSANTRI.COM

    Bagi seorang aktivis kawakan gerakan Islam, mengindentifikasi seseorang bergabung dengan harakah apa, cukup merasakan auranya, sudah bisa ditebak, apa harakah yang diikuti. Ada juga dengan melihat cara berpakaian dan cara berbicara. Tanpa perlu dialog panjang lebar, bisa disimpulkan harakah yang diikutinya.

    Entah kebetulan atau memang ada hukum alam, orang awam melihat wajah-wajah pejuang Khilafah umumnya tampak menyeramkan dan kusam. Wajah-wajah orang yang sedang marah dan ingin menerkam. Ketika mendengar kata “khilafah”, yang terlintas adalah wajah-wajah bengis pejuang ISIS, dan wajah-wajah sinis yang tidak simpatik dari aktivis HTI.

    Persis apa yang dikatakan Syaikh Ibnu ‘Atha’illah:

    مَا اسْتُوْدِعَ فِيْ غَيْبِ السَّرَائِرِ ظَهَرَ فِيْ شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ

    Apa yang tersimpan di kedalaman batin akan tampak pada penampilan lahir.
    Syaikh Zarruq menerangkan: Sebab, lahiriah segala urusan menunjukkan hakikat apa yang ada di dalam dada. Wajah menunjukkan hati. Jika hati mabuk, tandanya terlihat pada wajah yang memerah. Apa yang ada dalam diri, menampak di luar diri.

    Jika yang tersimpan dalam hati adalah kebencian, kedengkian, kedustaan, kelicikan dan kemunafikan. Ada dua hal yang tidak akan terhimpun pada seorang munafik: wajah ramah cerah dan pemahaman agama yang baik.

    Realitasnya para pejuang khilafah “berdakwah” mengajak orang kepada makhluk bukan kepada al-Khaliq. Khilafah ala ISIS dan khilafah ala HTI, keduanya merupakan produk pemikiran manusia yang bernama Abu Bakar al-Baghdadi dan Taqiyuddin an-Nabhani. Mereka berdua adalah makhluk, dan hasil pemikirannya pun adalah makhluk. Mengajak membai’at khalifah ISIS dan memperjuangkan Amir Hizbut Tahrir menjadi khalifah, berarti mengajak kepada makhluk.

    Mereka bukan mengajak dekatnya dan sampainya hati seseorang kepada Allah SWT. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berpesan:

    لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَ لَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ

    Jangan kau temani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah.

    Kata Syaikh Zarruq, orang yang ahwal-nya (keadaan/suasana hati) tidak membuatmu bangkit dan yang maqal-nya (perkataan) tidak menunjukkanmu kepada Allah berarti ia tidak pernah mencapai hakikat sedikitpun. Begitu pula dengan orang yang cita-citanya tidak berpaling dari makhluk.

    Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy menasehati kita: “Jangan temani orang yang nafsunya mempengaruhimu, karena orang itu curang. Juga jangan temani orang yang nafsunya bisa kau pengaruhi, karena persahabatan seperti itu tidak langgeng. Temanilah orang yang ketika diingatkan, maka ia ingat kepada Allah. Sebab jika dia hadir, Allah membuatmu kaya”. Jika dia tidak ada, Allah menggantikannya. Zikirnya merupakan cahaya hati dan kesaksiannya merupakan kunci-kunci kegOleh Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabaraiban.”

    Semoga Allah SWT menunjukkan kita kepada teman-teman yang ahwal dan maqal-nya bisa membangkitkan ghirah dan himmah untuk mendekat kepada Allah SWT Sang Khaliq.

    Sumber : Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

  • Ikhtiar NU Dalam Pencegahaan Peyebaran Covid-19

    Ikhtiar NU Dalam Pencegahaan Peyebaran Covid-19

    SORBAN InfokomNU Peduli Covid-19 MWCNU Pacet melakukan kegiatan ke-empat kalinya berbagi masker untuk warga, disinfectan ke tempat ibadah se-Kecamatan Pacet secara gratis juga pengecekan suhu tubuh dengan alat Infrared thermometer dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19). Kegiatan ini merupakan inisiatif Tim Posko NU Peduli Covid-19 Kecamatan Pacet berkerjasama dengan Lembaga dan Banom NU.

    SORBANSANTRI.COM

    Pantauan cyberaswaja.online di lapangan, pembagian masker itu disambut antusias oleh warga, pedagang pasar dan pengendara roda dua yang umumnya tak mengenakan masker saat berjualan maupun berkendara.

    “Kegiatan ini mempertegas bahwa kepedulian adalah watak dasar NU, oleh karenanya kami sebagai pengurus yang diberi amanat ini untuk berupaya semaksimal mungkin memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar penanggung jawab posko.

    SORBANSANTRI.COM

    Ia menjelaskan dalam kegiatan ini dilakukan secara maksimal dan dipusatkan di lokasi yang menjadi objek keramaian seperti Pasar dan tiap perempatan pertigaan jalan raya.
    “Alhamdulillah kita sudah membagikan ratusan masker di beberapa titik yang memang menjadi tujuan kita bersama untuk mencegah penyebaran penularan virus corona ini, seperti masyarakat yang belum menggunakan masker, pedagang di pasar, pengguna motor dan pedagang keliling yang memang pada umumnya mereka masih kurang perhatikan”. (Red.M.Ha)

  • MASIH BERTANYA TAWASSUL?

    MASIH BERTANYA TAWASSUL?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Sahabat-sahabat masih banyak yang memohon penjelasan mengenai tawassul, wahai saudaraku, Allah SWT sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yg mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

    Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

    Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yg mendengar adzan lalu menjawab dg doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yg sempurna ini, dan shalat yg dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yg terpuji sebagaimana yg telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
    Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pd beliau saw, bahkan orang yg mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

    Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yg saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yg panjang menceritakan tiga orang yg terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.

    Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

    Riwayat diatas menunjukkan bahwa :

    • Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
    • Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
    • Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
    • Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yg melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yg melihatnya” (dengan paman nabi saw yg melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yg ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

    Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yg dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dg izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dg izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.

    Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
    Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

    Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
    Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.
    Walillahi taufiq (sorban abi)