Tag: Sufi

  • Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah

    Habib Luthfi: Pimpinan Sadati ‘Alawiyyin yang Diakui dalam Mimpi Rasulullah

    wp.sorbansantri.com – Sebuah peristiwa menarik terjadi ketika seorang Habib Sepuh dari Kota Pasuruan, Fam Assegaf, bertanya kepada Habib Luthfi tentang Alawiyyin. Dalam pertemuan itu, Habib Luthfi menceritakan mimpi yang menjadi saksi atas peran pentingnya dalam dunia spiritual.

    Dalam mimpi tersebut, beliau disuruh bertabaruk kepadanya oleh Baginda Rasulullah, sebagai pimpinan Sadati ‘Alawiyyin di zaman ini. Habib Luthfi menjelaskan bahwa setahun yang lalu, ia mendapat amanat langsung dari beberapa guru Thoriqoh terkemuka, termasuk Syekh Ahmad At-Tijani yang memegang posisi paling depan di antara mereka. Amanat tersebut menguatkan perannya sebagai pemimpin dalam dunia Thoriqoh.

    Habib Luthfi menyampaikan pesan ini dengan keyakinan, bahwa apa yang disaksikan dalam mimpi dan amanat yang diterimanya merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang penting bagi umat Islam, terutama yang terkait dengan Thoriqoh dan Alawiyyan.

    Habib Sepuh dan Syekh Ahmad At-Tijani: Habib Sepuh adalah sebutan untuk seorang Habib yang telah lama berada dalam lingkaran keilmuan Islam, sering kali disebut sebagai sesepuh atau senior di kalangan Habaib. Sementara itu, Syekh Ahmad At-Tijani adalah seorang sufi terkemuka yang mendirikan Thoriqoh Tijaniyyah, sebuah aliran sufi yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam.

    Thoriqoh dan Alawiyyin: Thoriqoh adalah salah satu aliran dalam tasawuf yang mengajarkan metode dan praktik-praktik spiritual untuk mencapai kesadaran diri dan dekat dengan Allah. Alawiyyin merujuk kepada keluarga atau keturunan Nabi Muhammad SAW, yang dalam konteks spiritual, memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam.

    (AI Sorban)

  • KISAH AS-SYIBLI DICIUM KENINGNYA OLEH RASULULLAH

    KISAH AS-SYIBLI DICIUM KENINGNYA OLEH RASULULLAH

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Di dalam dunia tasawuf kita mengenal banyak tokoh sufi yang memiliki perjalanan hidup dan pengalaman rohani yang luar biasa⁣. Salah satu di antara tokoh-tokoh sufi itu adalah Syekh Abu Bakr As-Syibli⁣

    Wali yang memiliki nama asli Dulaf bin Jahdar ini lahir dan hidup di Kota Baghdad selama 87 tahun. Meninggal dan dikuburkan di kota yang sama pada tahun 334 H. ⁣

    Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd menuturkan sebuah cerita menarik tentang wali yang akrab dipanggil As-Syibli ini.⁣

    Satu ketika As-Syibli datang menemui Ibnu Mujahid. Melihat ada seorang ulama besar yang datang, Ibnu Mujahid segera bangun dan menyambut hangat kedatangan As-Syibli.⁣ Ia rangkul dan peluk sang tamu sembari mencium kening di antara kedua matanya.⁣

    Melihat perlakuan yang dilakukan Ibnu Mujahid kepada As-Syibli ini seseorang bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini pada As-Syibli wahai Ibnu Mujahid?”

    Atas pertanyaan ini Ibnu Mujahid menjawab, “Kulakukan itu karena aku melihat di dalam mimpi Rasulullah melakukan hal serupa kepada As-Syibli.”⁣

    Kemudian Ibnu Mujahid bercerita, bahwa ia pernah bermimpi melihat As-Syibli datang menemui Rasulullah. Melihat kedatangan As-Syibli Rasulullah segera menyambut dengan memeluknya seraya mencium kening di antara kedua matanya.⁣

    Melihat pemandangan itu Ibnu Mujahid, di dalam mimpinya, bertanya kepada Rasul, “Mengapa engkau lakukan ini kepada As-Syibli wahai Rasulullah?”

    Rasulullah menjawab, “Ya, aku lakukan itu kepada As-Syibli karena ia tidak melakukan shalat fardhu kecuali setelahnya ia selalu membaca ayat laqod jâ’akum Rasûlun min anfusikum (dua ayat terakhir dari Surat At-Taubah). Kemudian setelahnya As-Syibli bershalawat dengan mengatakan shallallâhu ‘alaika yâ Muhammad.”

    Setelah mimpi itu, Ibnu Mujahid bertemu dengan As-Syibli dan menanyakan bacaan apa yang selalu dibaca ketika selesai melakukan shalat fardhu.⁣

    Dan ternyata As-Syibli menjawab bahwa ia selalu membaca ayat dan shalawat tersebut di atas setiap kali selesai shalat fardhu. (abi sorban)

    ⁣Sumber: Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd.

  • Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Merendahlah, karena sebagaimana air, ilmu tak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi…. Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M).

    Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi. Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

    Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

    Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq.

    Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

    Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

    Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

    Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

    Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

    Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

    Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

    “Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

    Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati.
    Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan.
    Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua.
    Maukah kita meneladaninya?
    Insya Allah.

    Sumber:
    Dalam kitab al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283).

  • KEADILAN DAN KELALIMAN

    KEADILAN DAN KELALIMAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

    “Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

    Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

    “Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

    Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :

    “Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”

    Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

    TIMUR LENK DI AKHIRAT

    Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

    “Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?”

    Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan ‘semudah’ ini.

    “Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah.”

    Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. “Betulkah itu, Nasrudin ?”

    “Tentu,” kata Nasrudin dengan mantap. “Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.”

    Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.(abi-sorban)