Tag: surabaya

  • TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Scudeto ke-19 akhirnya direngkuh oleh AC. Milan. Tim yang lahir pada 1899 M –sama dengan kelahiran pondok pesantren Tebuireng, Jombang– memastikan juara liga italia pada pekan terakhir Serie A (22 Mei 2022) dengan mengalahkan Sossuolo 3 – 0. Status Juara yang di dapat secara dramatis setelah 11 tahun Rossoneri puasa gelar. Terakhir, tim ini juara pada 2011 saat masih dilatih oleh Maximiliano Allegri, pelatih Juventus saat ini.

    Kesuksesan tim berjuluk il Diavolo Rosso ini tidaklah datang dengan tiba-tiba. Momentum kebangkitan justru  terjadi saat tim ini berada pada titik nadir dalam sejarah klub. Pada awal musim 2018-2019 Tim ini mengalami krisis Finansial  akut, Li Yonghong, investor Cina pemilik klub kala itu, tak bisa menebus cicilan pertamanya sebesar 32 juta euro kepada Elliot Management (EM).Total utangnya mencapai 303 juta euro untuk tambahan modal membeli klub dari tangan Silvio Berlusconi. Total duit yang dikeluarkan oleh Li untuk menebus AC Milan adalah 740 juta euro, termasuk buat menghapus utang sebesar 220 juta euro. Pada Juli 2018, AC. Milan berpindah tangan secara resmi dari Li Yonghong pada Elliot Management.

  • Tujuan Pendirian NU

    Tujuan Pendirian NU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Ormas ini didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926. Pembentukan NU tak bisa lepas dari peran sejumlah ulama yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
    Pendirian organisasi ini bermula dari dibentuknya kelompok-kelompok diskusi oleh sejumlah ulama. Pada tahun 1914 KH Wahab Chasbullah mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran. Ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran.
    Organisasi yang bertujuan memberikan pendidikan sosial-politik kaum santri itu lantas berkembang ke sejumlah kota di Indonesia. Dua tahun setelahnya atau pada 1916, para kiai pesantren mendirikan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air. Ini merupakan organisasi pergerakan untuk melawan penjajahan Belanda.
    Kemudian, pada tahun 1918 didirikan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar, organisasi untuk pedagang di era kolonial. Setelah muncul beberapa organisasi ini, muncul insiatif untuk menggabungkannya. Tujuannya supaya organisasi lebih kuat dan cakupannya lebih luas.
    Penggabungan ini juga merespons banyaknya masalah agama, mazhab, sosial, dan kebangsaan yang berkembang di masyarakat. Akhirnya, disepakati berdirinya “Nahdlatul Ulama” atau “Kebangkitan Ulama”. Kala itu KH Hasyim Asy’ari dipercaya sebagai Rais Akbar.
    Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.(SorBan Wanasari)
    Waallahu Alam.
  • The Moments : Muktamar NU di Surabaya 1971

    The Moments : Muktamar NU di Surabaya 1971

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Ditulis sejumlah literatur bahwa di tahun 1971 KH Abdul Wahab Hasbullah mengalami masa kritis di usia 83 tahun. Saat itu kondisi Mbah Wahab sudah sangat lemah. Seakan sudah tinggal menunggu waktu segera menghadap keharibaan Illahi Rabbi, dan hal ini juga disampaikan oleh para ulama sepuh kepada pihak keluarga.
    Walau demikian, beliau yang kala itu masih tercatat sebagai Rais Aam PBNU mampu melampui masa kritisnya dan malaikat Izrailpun urung menunaikan tugas. Seakan telah meminta ajalnya ditunda sampai menyelesaikan Laporan Pertanggungan Jawab (LPJ) sebagai Rais Aam PBNU pada muktamar yang akan dilaksanakan 3 bulan kemudian.
    KH Bisri Syansuri kala itu datang menjenguk.
    “Kiai, engkau jangan wafat dulu,” kurang lebih begitu ungkapan Kiai Bisri kepada Mbah Wahab.
    “Kiai masih punya utang,”
    Mendengar perkataan Kiai Bisri, sontak Mbah Wahab tersadar dari kondisi kritisnya dan menjawab: “Utang apa?” sergahnya.
    “Engkau masih belum LPJ,” jawab Kiai Bisri.
    Tanggal 20-25 Desember 1971, Muktamar NU diselenggarakan di Surabaya. LPJ pun telah dipertanggungjawabkan. Utang Mbah Wahab lunas dibayar kontan. Meski pada muktamar tersebut, Mbah Wahab kembali dipercaya menjabat Rais Aam, hakikatnya beliau telah menuntaskan perjuangannya di NU.
    Selang 4 hari pasca muktamar selesai, tanggal 29 Desember 1971 KH Abdul Wahab Chasbullah wafat. Kepergiannya merupakan duka mendalam tidak hanya bagi Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama, juga bangsa Indonesia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. (abi sorban)
  • JAS HIJAU YANG HILANG DI ORDE BARU

    JAS HIJAU YANG HILANG DI ORDE BARU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – TKR pertama, Yang nanti menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih Kyai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen Kyai juga yang memimpin.
    Fakta, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan Kyai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah NU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada Sekretariat Negara dan TNI.
    Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran Kyai. KH. Hasyim Asy’ari yang ditetapkan pahlawan oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para Kyai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.
    Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada duit untuk bayar tentara. Hanya para Kyai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya para Kyai, dengan tentara-tentara Hizbulloh yang mau korban nyawa tanpa dibayar. Sampai sekarang pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, ya gak dibayar. Wkwkwk
    Tentara itu baru menerima bayaran pada tahun 1950. Selama perjuangan 45 sampai di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar negara.
    Kalau mau mikir, 10 November Surabaya adalah peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Kok bisa ada pertempuran besar yang terjadi setelah perang dunia selesai 15 Agustus.
    Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4 hari di Surabaya. Tanggal 26, 27, 28, 29 oktober 1945. Kok ‘ujug-ujug’ muncul perang 4 hari ceritanya gimana? Jawabnya: Karena sebelum tanggal 26 Oktober, Surabaya bergolak, setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sbg Hari Santri.
    Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berfikir akan perang dan bertempur dg penduduk Surabaya. Perang sdh selesai kok, Begitu pikirnya. Tapi karena masarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, mereka nyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Sejarah inilah yang selama ini ditutupi.
    Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’. Ngapain Ngebomi kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian dari resolusi jihad, baru masuk akal; “Oya, mereka marah karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”.
    Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU: apa yg harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai. Bung Karno juga menyatakan bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia. Sejak diproklamasikan 17 Agustus, tidak ada satupun negara di dunia yang mau mengakui.
    Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai Negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu dimunculkan oleh PBNU. Gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap perang.
    Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan. “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk & diisi senapan mesin.
    “Lho, ini apa maunya Inggris. Kan sudah tersiar kabar luas kalau Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris”, begitu kata arek-arek. Pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar ‘nawur’ pasukan inggris. “Ayo ‘tawur..tawuran..’!”.
    Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tp tawuran. Kenapa? Gak ada komandanya, gak ada yg memimpin. “Pokoke wong krungu jihad.. jihad… Mbah hasyim.. Mbah hasyim…”. Berduyun-duyun, arek2 Suroboyo sudah keluar rumah semua dan langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’ dan itu berlangsung 27 Oktober. Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim itu disiarkan lewat langgar-langgar, masjid-masjid, dan spiker-spiker. Pada 28 Oktober, tentara ikut arus arek2, ikut gelut dengan Inggris. Massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini, 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh.
    Tapi tentara tidak mau mengakui, karena Indonesia meski sudah merdeka, belum ada yang mengakui. Itu jadi urusan besar tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia yg bunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut campur. Negara belum ada yang mengakui kok sudah klaim bunuh tentara Inggris. Itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo kabeh.
    Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris akhirnya mendatangkan presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta utk mendamaikan. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai tidak saling tembak-menembak. Yang tanda tangan Gubernur Jatim juga. Sudah damai, tapi massa kampung tidak mau damai.
    Pada 30 Oktober, akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak, mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, jenderal mati tp disembunyikan sebabnya karena malu.
    Inggris marah betul. Masa negara kolonial kalah. Mereka malu & bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok diserang, jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya? “Kalau sampai tanggal 9 Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang surabaya masih yang memegang bedil, meriam dst. tidak menyerahkan senjata kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara,” begitu amuk jenderal tertinggi Inggris.
    Datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.
    Pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. “Fardhu a’in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilo dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya”. 94 kilo itu- jarak dibolehkannya solat qoshor.
    Wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek,Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilo. Dari Kediri, Lirboyo ini datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilo datang- ke Surabaya ikut seruan jihad PBNU.
    Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut perang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut jihad. Selain Mallaby, pertempuran di Surabaya menewaskan Brigadir jendral Loder Saimen. Luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya, para Kyai, dan santri. Tapi lihat, apa yg dilakukan pemerintah di kemudian hari kepada para Kyai ini? Dimanipulasi.
    (bedah buku “Fatwa dan Resolusi Jihad” di Pondok Lirboyo 3 November 2017.)
    (abi sorban)
  • Dituduh Kafir 2 Sisi, Moderasi Islam Melalui Literasi Kitab Kuning

    Dituduh Kafir 2 Sisi, Moderasi Islam Melalui Literasi Kitab Kuning

    Oleh : KH. Ma’ruf Khozin

    wp.sorbansantri.com – Agak grogi juga berbicara di depan para pengasuh dan pengajar Madrasah Diniyah Formal (bertempat di STAI Al Fitrah, Kedinding Surabaya). Sebab intensitas memegang kitab lebih banyak beliau-beliau. Tapi karena saya sudah terbiasa baca perdebatan soal amalan-amalan yang dituduh syirik dan kafir jadinya malah bisa share pengalaman saja.

    Sesuai tema yang diamanatkan kepada saya ternyata cara memahami Islam dengan metode bermazhab dalam literasi kitab kuning sangat moderat. Sebab dari kitab-kitab bermazhab inilah kita mampu menjawab tuduhan kafir dan syirik kepada kita.

    Dua tema yang selalu menghunus tuduhan kafir. Pertama soal Amaliah seperti Tabarruk, Tawassul dan berdoa di kuburan.

    Padahal andaikan ini sebuah dosa menuduh kafir saja tidak boleh berdasarkan hadis berikut yang diperkuat banyak riwayat dari Sahabat:

    ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” «ﻛﻔﻮا ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻻ ﺗﻜﻔﺮﻭﻫﻢ ﺑﺬﻧﺐ، ﻓﻤﻦ ﻛﻔﺮ ﺃﻫﻞ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺇﻟﻰ اﻟﻜﻔﺮ ﺃﻗﺮﺏ» “. ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ
    Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Jagalah dirimu terhadap orang yang membaca kalimat Tauhid, jangan kafirkan mereka karena sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan orang yang membaca kalimat Tauhid maka dia sendiri yang lebih dekat dengan kekufuran” (HR Thabrani)

    Kedua soal sistem negara yang dianggap Thaghut, sistem kafir dan sebagainya. Kita sampaikan riwayat hadis berikut:

    قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم « يَأْتِى فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ

    Rasulullah Saw bersabda: “Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang usianya masih muda-muda, bodoh-bodoh, mereka berkata dengan sebaik-baik firman Allah, mereka lepas dari Islam seperti panah lepas dari busurnya, dan iman mereka tidak melewati tenggorokannya” (HR al-Bukhari)

    Dari hadis ini dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar:

    قَوْله ( يَقُولُونَ مِنْ قَوْل خَيْر الْبَرِيَّة ) أَيْ مِنْ الْقُرْآن … وَكَانَ أَوَّل كَلِمَة خَرَجُوا بِهَا قَوْلهمْ : لَا حَكَم إِلَّا اللَّه ، وَانْتَزَعُوهَا مِنْ الْقُرْآن وَحَمَلُوهَا عَلَى غَيْر مَحْمَلهَا .

    “Maksud Sabda Nabi Saw: ‘mereka berkata dengan sebaik-baik firman Allah’, yakni al-Quran. Dan kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah ‘Tidak ada pembuat hukum kecuali Allah’. Mereka mengambilnya dari al-Quran dan meletakkannya tidak pada tempatnya” (Fath al-Bari 10/412)

    Sayangnya (masukan saja) para guru Diniyah hanya membuka kitab yang menjadi tugas mengajarnya saja. Andaikan ditambah dengan tema kitab lain akan semakin dahsyat.( abi sorban )

  • MASIH BEREDAR BUKU SD YANG SEBUT NU RADIKAL

    MASIH BEREDAR BUKU SD YANG SEBUT NU RADIKAL

    Surabaya – PCNU Kota Surabaya meminta Dindik setempat untuk menyelesaikan masalah buku SD yang menyebutkan NU sebagai organisasi radikal. Ketua PCNU Kota Surabaya Muhhibin Zuhri bersyukur Dindik bertindak cepat.

    Ia menjelaskan, pada Februari 2019, protesnya sudah sampai ke PBNU dan Menteri Pendidikan. Kemudian sudah ditindaklanjuti oleh Menteri Pendidikan kala itu. Namun di lapangan, ternyata buku tersebut masih beredar dengan muatan yang dianggap tidak tepat.

    “Sampai hari ini pun masih beredar dan digunakan di sekolah-sekolah. Oleh karena itu, saya sampaikan ke Pak Pomo (Kadindik Kota Surabaya) bahwa buku itu masih beredar. Kemudian Pak Pomo, kemarin sudah mulai lusa menginstruksikan kepada semua jajaran untuk menyobek halaman itu. Menarik lha dari peredaran,” kata Muhhibin Zuhri, Selasa (11/2/2020).

    Buku pelajaran yang dimaksud ditulis pada 2013. Muhhibin menjelaskan, pada salah satu halaman buku itu disebutkan bahwa NU sebagai salah satu organisasi radikal.

    “Ini (kemarin) melakukan pertemuan dengan kepala-kepala sekolah SD di kantor dinas (pendidikan) menindaklanjuti. Mulai pagi melakukan penyobekan terhadap buku yang sudah setahun yang lalu disampaikan oleh Menteri Pendidikan Pak Muhajir (Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 2016-2019) untuk dicabut. Tapi di lapangan kan tidak dicabut bukunya,” imbuhnya.

    Muhhibin juga mengapresiasi langkah Dindik Kota Surabaya yang dinilai responsif. Dindik memerintahkan kepada seluruh kepala sekolah untuk melakukan pencabutan buku ajaran yang menyebutkan NU sebagai organisasi radikal.

    “Responsif Pak Pomo untuk langsung memerintahkan kepada seluruh sekolah untuk menyobek halaman buku itu. Kemarin ada penyobekan massal di sekolah-sekolah,” lanjutnya.

    Pada Februari 2019, Mendikbud Muhadjir Effendy akan menarik buku SD tersebut. Ia mengatakan, pihaknya akan merevisi buku tersebut.

    “Jadi begini, buku ini ditulis pada 2013. Kemudian karena ada berbagai masukan, akhirnya pada 2016 ditulis kembali. Dan dalam penulisan itu kemudian kita ada masalah ini. Terkait dengan itu, kita tadi sudah bertemu dengan pimpinan PBNU dan LP Ma’arif. Kami dari Kesekjenan dan Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan), termasuk Humas dan Pustekkom (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan), menyimpulkan bahwa buku ini akan ditarik, dihentikan, ditarik, kemudian kita revisi. Kemudian dalam proses revisi itu akan dimitigasi, supaya secara sistematika benar. Secara substansi juga benar,” kata Muhadjir di kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

    (sumber)

  • Rutinan Akhir Tahun Dzikir Al Khidmah diadakan di Pacet Mojokerto

    Rutinan Akhir Tahun Dzikir Al Khidmah diadakan di Pacet Mojokerto

    Pacet, Infokom Banser NU- Acara rutinan setiap akhir tahun oleh Jamaah Dzikir Al Khidmah Kedinding Surabaya KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi (alm) sudah 3 kali ini diadakan di Pacet. Acara tersebut dimulai dari pukul 17.00 wib sore tadi.

    “Banser dan Ansor harus membantu pengamanan dan kegiatan Jama’ah yang mengamalkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah, meskipun bukan dari acara NU” kata Ketua PAC GP Ansor Ke. Pacet, Sahabat Mujibur Rohman.

    SORBANSANTRI.COM
    Mujibur Rohman, Ketua PAC GP ANSOR KEC. PACET

    Jama’ah yang berasal dari berbagai Daerah se Jawa Timur hadir dan penuh hikmad dengan pakaian serba putih. Sampai berita ini di unggah, selalu saja jama’ah ada yang hadir berdatangan. Ribuan orang menangis harus, tersedu-sedu, meraung tangis dalam muhasabah dirinya masing-masing. Bahkan, ada yang sampai kehilangan kesadaran dalam dzikirnya (ekstase).

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=CNfHHVkWh5E[/embedyt]

     

    Hal seperti itulah sesungguhnya potret makna kemusliman dan kemukminan kita. Muslim satu dengan lainnya adalah saudara. Mukmin satu dengan yang lain adalah saudara. Ya, Innamal mu’minuna ikhwah. Sesama muslim tidak boleh saling membenci, tidak boleh saling menggunjing, tidak boleh saling menjatuhkan, tidak boleh saling memfitnah dan sebagainya. Demikian pula antar muslim sudah seharusnya saling mencinta, saling berprasangka baik, saling mendoakan, saling membantu kala sulit dan senang, salaing berbagi, dan sebagainya. Namun sayang, kerap ditemui contoh kurang baik di lapangan kehidupan, bila seorang yang mengaku muslim berprilaku negatif pada muslim lainnya. Naudzubillah.

    Puluhan BANSER dan PAC GP ANSOR Pacet mengawal acara tersebut dengan rapi, dari pengamanan jalan sampai jalannya acara tersebut. Dimulai turunnya hujan sore sampai selesai acara Banser dan PAC GP Ansor Pacet tetap semangat dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
    (red. Infokom Banser NU)

  • MENGENAL KH. MIFTAHUL AKHYAR ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 ) DAN KH. AFIFUDDIN MUHAJIR (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat periode 2020 – 2025 )

    MENGENAL KH. MIFTAHUL AKHYAR ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 ) DAN KH. AFIFUDDIN MUHAJIR (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat periode 2020 – 2025 )

    SORBANSANTRI.COM

    KH Miftachul Akhyar

    ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 )

    wp.sorbansantri.com- KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran kemudian hari ini mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.  

    Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

      Di NU ia pernah menjabat sebagai :

    – Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005,

    – Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan

    – Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai

    – Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).

    Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di :

    – Pondok Pesantren Tambak Beras,

    –  Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur),

    –   Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan

    – mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

    Masih menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

    Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab? “Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi.

    Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

    “Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” lanjut Karomi.

      Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah KH Miftachul Akhyar  merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

      Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. “Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

      KH Abd Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, “lelaku sae” inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” tulis Karomi. (Abdullah Alawi)

    Biografi KH. Afifuddin Muhajir

    ( Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, Periode 2020 – 2025 )

    KELAHIRAN

    1. Afifuddin Muhajir lahir pada tanggal 20 Mei 1955, di Jerengoan Sampang Madura Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Muhajir dan Nyai Zuhriyah. Beliau dikenal juga sebagai keturunan Bani Ahmad, tokoh Jerengoan Sampang .

    PENDIDIKAN

    1. Afifuddin Muhajir memulai pendidikannya dengan belajar di Sukorejo, dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai Strata I, Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII), di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Menempuh magister di Universitas Islam Malang (Unisma).

    Selain itu, KH. Afifuddin Muhajir belajar ke beberapa kiai Jawa Timur. Guru-guru beliau diantaranya:

    1. R. As’ad Syamsul Arifin
    2. Ghazali Ahmadi
    3. Qasdussabil Syukur

    MENGASUH PESANTREN

    1. Afifuddin Muhajir adalah wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

    KIPRAH DI NU

    1. Afifuddin Muhajir sering diundang menjadi nasumber diskusi ilmiah berskala regional, nasional dan internasional. Dalam forum Bahtsul Masail tingkat PBNU beliau dikenal sebagai muṣhaḥiḥ. Selian itu beliau pernah menjabat sebagai :

    – Katib Syuriah PBNU 2010-2015, dan menjadi

    – Rais syuriyah PBNU antar waktu 2019 – 2020.

    TELADAN

    1. Afifuddin Muhajir adalah sosok kiai yang berpenampilan sederhana. Suaranya lembut dan terkesan hemat bicara. Intonasinya datar. Pembawaan dirinya tak mengecoh orang untuk segera memperhatikannya. Namun, ketika ia tampil sebagai pembicara di forum-forum seminar, audiens tak bisa mengabaikannya. Ia tampak powerfull.

    KARYA-KARYA

    – Fungsionalisasi Uṣūl Fiqh dalam Bahtsul Masail NU, Judul buku: Kritik Nalar Fikih NU, Penerbit: Lakpesdam.

    – Fikih Anti Korupsi, Judul Buku: Korupsi kaum Beragama, Penerbit: P3M.

    – Fikih Menggugat Pemilihan Langsung, Penerbit: Pena Salsabila.

    – Kitab Fatḥul Mujīb Al-Qarīb Syaraḥ at-Taqrīb li Abī Syuja’, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

    – Al-Luqmah As-Sā’igah, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

    – Metodologi Kajian Fikih, Penerbit: Ibrahimy Press.

    – Maslaḥah sebagai Cita Pembentukan Hukum Islam, Penerbit: Ibrahimy Press.

    Sumber : laduni.id

    #HubbulWathonMinalIman

  • Sunan Ampel Surabaya Raden Rahmat

    Sunan Ampel Surabaya Raden Rahmat

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Raden Rahmat adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Beliau memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat dengan Surabaya. Di antara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan pertama Kesultanan Islam Bintoro, Demak), Raden Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri dan dikenal sebagai Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), dan Maulana Ishak.

    Menurut Babad Diponegoro, sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan istana Manjapahit, bahkan istrinya pun berasal dari kalangan istana Raden Fatah, putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, menjadi murid Ampel. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam di pulau Jawa. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak. Disamping itu, Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali lain.

    Pada awal islamisasi pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni. Ia tidak setuju bahwa kebiasaan masyarakat seperti kenduri, selamatan, sesaji dan sebagainya tetap hidup dalam sistem sosio-kultural masyarakat yang telah memeluk agama Islam. Namun wali-wali yang lain berpendapat bahwa untuk sementara semua kebiasaan tersebut harus dibiarkan karena masyarakat sulit meninggalkannya secara serentak.

    Akhirnya, Sunan Ampel menghargainya. Hal tersebut terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga dalam usahanya menarik penganut Hindu dan Budha, mengusulkan agar adat istiadat Jawa itulah yang diberi warna Islam. Sunan Ampel salah seorang wali yang berjuang menegakkan Islam. Jasanya sangat besar dalam menggelorakan dakwah dan jihad ditanah Jawa. Dan beliau wafat pada tahun 1478 dimakamkan disebelah masjid Ampel. (abi sorban)

  • Dapatkah Sikat Gigi Menggeser Kedudukan Siwak?

    Dapatkah Sikat Gigi Menggeser Kedudukan Siwak?

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Jemaah Masjid Wal Ashri Pertamina (Surabaya) menanyakan kitab Fikih dengan Sistematika Mazhab yang memiliki dalil Al-Qur’an dan Hadis maka saya jawab Kitab At-Tadzhib karya Syekh Mustofa Deeb Albougha dari Damaskus. Sekaligus dikaji secara runtut, tidak loncat-loncat atau tematik. Saya senang dengan inisiatif ini. Dan saya sajikan dalam bentuk powerpoint.
    Pada pertemuan ketiga ini di antaranya membahas Bab Siwak. Bicara soal Siwak mungkin anak-anak sekarang akan bertanya seperti apa sosok Siwak itu? Maklum, keberadaan Siwak makin menjauh dari lingkungan kita.
    Dulu, zaman orang melakukan ibadah haji di antara buah tangan yang diberikan kepada para tamu adalah Siwak. Dan saya menjumpai Abah saya memiliki banyak kayu Siwak, di kantong baju, di dekat sajadah biasa melakukan salat Rawatib dan di tempat pengimaman Salat yang diikat dengan tasbihnya. Cara membuatnya pun saya masih tahu.
    SORBANSANTRI.COM
    Hari ini orang-orang lebih memilih sikat gigi dan pasta gigi, lebih praktis memang. Tetapi apakah sikat gigi sudah memenuhi tujuan dari Siwak? Berikut penjelasan Syekh Mustofa Deeb Albougha:
    ﻭاﻟﺴﻮاﻙ: اﻵﻟﺔ اﻟﺘﻲ ﺗﺪﻟﻚ ﺑﻬﺎ اﻷﺳﻨﺎﻥ، ﻭﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻌﻞ، ﻭﺗﺤﺼﻞ اﻟﺴﻨﺔ ﺑﺎﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻛﻞ ﺧﺸﻦ ﻳﺰﻳﻞ اﻟﻮﺳﺦ، ﻭﻋﻮﺩ اﻷﺭاﻙ اﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺑﺎﻟﺴﻮاﻙ ﺃﻓﻀﻞ.
    “Siwak adalah alat untuk menggosok gigi, Siwak juga bermakna perbuatan. Siwak sudah diperoleh dengan setiap benda kasar yang dapat menghilangkan kotoran gigi. Dan menggunakan kayu Arok yang sudah dikenal dengan Siwak lebih utama”
    Intinya, sikat dan pasta gigi sudah memenuhi fungsi dan tujuan bersiwak. (abi sorban)