Tag: syair

  • Kumpulan Syair Bijak Rabiah Al-Adawiyah: Cinta, Ibadah, dan Pengabdian yang Mendalam

    Kumpulan Syair Bijak Rabiah Al-Adawiyah: Cinta, Ibadah, dan Pengabdian yang Mendalam

    wp.sorbansantri.com – Rabiah Al-Adawiyah, seorang tokoh spiritual dan penyair Muslimah dari abad ke-8, dikenal karena syair-syairnya yang penuh makna dan mendalam. Dalam kumpulan syairnya yang diwariskan dari generasi ke generasi, Rabiah menyampaikan pesan-pesan tentang cinta kepada Tuhan, makna ibadah, dan pengabdian yang tulus.

    Dalam syair pertamanya, Rabiah mengajak untuk menyembah Tuhan bukan karena takut neraka atau mengharap surga, melainkan karena cinta yang tulus kepada-Nya. Ini mencerminkan pandangan spiritual yang mendalam bahwa hubungan dengan Tuhan bukanlah sekadar mencari imbalan atau menghindari hukuman, tetapi lebih pada ikatan batin yang mendalam.

    Syair-syair berikutnya juga menggambarkan nuansa yang sama. Rabiah mengekspresikan keinginannya untuk tenggelam dalam cinta Tuhan, melepaskan diri dari segala gangguan dunia, dan mengabdikan diri dengan penuh ketulusan.

    Namun, syair-syairnya juga mengkritik pandangan-pandangan yang sempit tentang ibadah. Rabiah menyoroti bahwa menyembah Tuhan semata karena takut neraka atau menginginkan surga bukanlah esensi dari ibadah yang sejati. Ia menekankan bahwa pengabdian seharusnya dilandaskan pada cinta yang tulus kepada-Nya, bukan semata-mata demi imbalan atau keselamatan diri.

    Dalam kesederhanaan kata-kata, Rabiah Al-Adawiyah mengajarkan makna yang dalam tentang cinta sejati kepada Tuhan, kesucian ibadah, dan pengabdian yang tulus tanpa pamrih. Syair-syairnya menjadi pengingat bagi kita untuk selalu mengabdi dengan cinta dan ketulusan, bukan karena takut atau mengharapkan imbalan. (AI Sorban)

  • KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    SORBANSANTRI.COM

    sorbansatri.com – Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Rasulullah , Sayyidah Aisyah, banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

    Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

    Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya. Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.

  • Sunan Bonang Raden Makdum Ibrahim

    Sunan Bonang Raden Makdum Ibrahim

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putra Sunan Ampel. Beliau diperkirakan lahir tahun 1465 M diampel dari seorang perempuan bernama Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid. Beliau dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar di Pasai, Aceh, Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur, untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah.

    Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan napas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukannya.

    Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua kalimat syahadat); gamelan yang mengirinya kini dikenal dengan istilah sekaten, yang berasal dari syahadatain. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang Durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah. Sunan Bonang wafat di pulau Bawean pada tahun 1525 M. (abi sorban)