Tag: tebuireng

  • Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Berita Video

    Oleh: Aros

    wp.sorbansantri.com – KH. Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, tumbuh dan berkembang di masa kecilnya dengan berpindah-pindah antara Jombang dan Jakarta. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai Menteri Agama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng. Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, yang berarti “Sang Penakluk.” Nama ini kemudian diganti menjadi “Wahid,” dan dia lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.

    Gus Dur lahir pada tanggal 4 Sya’ban tahun 1359 Hijriyah atau bertepatan dengan 7 September 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Orang tuanya adalah KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah Bisri. Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai anak yang aktif, bahkan hiperaktif, tidak bisa diam, dan sering kali bandel. Baik di Denanyar maupun Tebuireng, Gus Dur sering berbuat ulah, jail, dan merepotkan orang sekitarnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Pada tahun 1944, keluarga Gus Dur pindah ke Jakarta karena sang ayah diminta menjadi ketua pertama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, keluarga mereka kembali ke Jombang. Namun, pada tahun 1949, mereka kembali ke Jakarta karena KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama RI.

    Laman: 1 2 3 4

  • TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE MILAN

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Scudeto ke-19 akhirnya direngkuh oleh AC. Milan. Tim yang lahir pada 1899 M –sama dengan kelahiran pondok pesantren Tebuireng, Jombang– memastikan juara liga italia pada pekan terakhir Serie A (22 Mei 2022) dengan mengalahkan Sossuolo 3 – 0. Status Juara yang di dapat secara dramatis setelah 11 tahun Rossoneri puasa gelar. Terakhir, tim ini juara pada 2011 saat masih dilatih oleh Maximiliano Allegri, pelatih Juventus saat ini.

    Kesuksesan tim berjuluk il Diavolo Rosso ini tidaklah datang dengan tiba-tiba. Momentum kebangkitan justru  terjadi saat tim ini berada pada titik nadir dalam sejarah klub. Pada awal musim 2018-2019 Tim ini mengalami krisis Finansial  akut, Li Yonghong, investor Cina pemilik klub kala itu, tak bisa menebus cicilan pertamanya sebesar 32 juta euro kepada Elliot Management (EM).Total utangnya mencapai 303 juta euro untuk tambahan modal membeli klub dari tangan Silvio Berlusconi. Total duit yang dikeluarkan oleh Li untuk menebus AC Milan adalah 740 juta euro, termasuk buat menghapus utang sebesar 220 juta euro. Pada Juli 2018, AC. Milan berpindah tangan secara resmi dari Li Yonghong pada Elliot Management.

  • MENGENAL SOSOK KH. SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

    MENGENAL SOSOK KH. SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

    InfokomBanserNU- Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Sholahudin Wahid wafat, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

    Gus Sholah merupakan putra ketiga dari 6 bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Sholichah. Beliau merupakan adik kandung mantan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seperti abahnya (ayahnya), Gus Sholah semasa hidup merupakan ulama’, aktivis, politikus dan tokoh Hak Asasi Manusia.

    Dihimpun dari berbagai sumber, masa sekolah dasar Gus Sholah ditempuh di Sulawesi. Selanjutnya jenjang sekolah menengah pertama ditempuh di SMP I Cikini. Jenjang berikutnya ditempuh di SMA Budi Utomo. Selepas pendidikan tingkat atas, ia melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur.

    Gus Sholah semasa hidup juga dikenal sebagai pengusaha. Terutama terlibat bidang konstruksi sebagaimana jurusan semasa kuliah. Aktivitas itu mengantarnya aktif di berbagai asosiasi seputar dunia konstruksi.

    Beberapa jabatan pernah diembannya seperti Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), dsb.

    Sebagai intelektual tulisan Gus Sholah banyak ditemui di berbagai media massa nasional. Tulisannya kerap menyorotasi berbagai persoalan umat dan bangsa.

    Adapun di Nahdlatul Ulama, Gus Sholah sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Perjalanan KH Sholahudin Wahid, sosok yang lahir Jum’at 11 September 1942 di Jombang, berakhir setelah berpulang ke Pencipta, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

    Kabar duka tersebut disampaikan puteranya yakni Ipang Wahid. Seperti yang dikutip dari akun twiternya. “Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu…”

    (red.abi)

  • PESANTREN ITU URUNG DIBAKAR DI PAPUA

    PESANTREN ITU URUNG DIBAKAR DI PAPUA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Cerita berawal dari profesi saya sebagai penjual ayam, yang alhamdulillah lumayan sukses. Banyak masyarakat Papua, baik pendatang maupun asli sana yang jadi pelanggan ayam saya. Namun, dalam menyembelih ayam-ayam itu, mereka masih belum dikatakan sempurna secara syar’i.
    Dari situlah awal saya memberikan sedikit demi sedikit arahan soal menyembelih hewan. Alhamdulillah banyak yang meniru. Di Papua sini komunitas muslim sangat minoritas. Sebetulnya banyak kelompok Islam baru yang bermunculan, namun berhaluan keras. Sehingga masyarakat asli merasa terusik dan tentu tidak begitu tertarik atas kehadiran mereka.
    Karena itulah ketika kami membangun Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (PPMQ) di Papua Barat, mereka mengira bahwa kami sama dengan komunitas muslim garis keras yang tidak simpatik kepada orang Papua dan juga adat Papua. Berkat pertolongan Allah, alhamdulillah lama-kelamaan mereka mengetahui siapa kami dan bahkan mau belajar Al-Quran kepada kami, yang hanya penjual ayam ini.
    Saya tidak punya ilmu Al-Quran sebaik dan sepandai sahabat-sahabat santri lain. Saya hanya bisa alif ba’, ta’. Namun semua aktivitas mengajar Qur’an kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasihat Romo Kiai Yusuf Masyhar.
    Awal berdiri, semua menolak kehadiran PPMQ Al-Qalam. Bahkan dari pihak lintas gereja pun menolak keras (maaf, saya ngetik ini sambil menangis karena ingat waktu itu). Majelis Rakyat Papua juga menolak.
    Kami dikepung. Tempat kami dikelilingi berbagai macam sajam, tombak, panah, parang dan lainnya, hendak mengusir kami dari bumi Papua. Mereka pun merangsek masuk ke dalam pondok, ke ruang utama. Di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, Kalender Tebuireng dan MQ, serta foto Mbah Hasyim dan lainnya.
    Melihat semua itu, kepala suku besar berteriak ke orang-orang sudah siap dengan senjatanya di luar pondok, “Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?”. Saya hanya diam tidak menjawab. Kondisi saat itu benar-benar mencekam.
    Setelah itu, mereka meletakkan senjata semua. Duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya. Mereka berteriak, “Gus Dur… Gus Dur,.. kita punya orang tua… NU kita punya saudara…”. Ya Allah ya Rabb.
    Lalu mereka berkata langsung ke saya, “Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yang jaga”. Lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung.
    Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri, dengan dukungan mereka, sahabat kami semua, yang mengakui dan tunduk menghormati Gus Dur sebagai orang tua. Masyaallah. Terimakasih kepada kepala suku, Gus Dur dan NU.
    Sahabatku semua, ini kisah nyata yang kami alami di Papua Barat. Banyak yang belum saya ceritakan. Insyaallah lain waktu saja. Doa, berkah, serta ridho guru-guru kita di pondok pesantren sangatlah penting. Sekali lagi, berpeganglah pada Al-Quran dan berdakwalah dengan akhlak yang sejuk. Semua akan membantu.
    Darto Syaifuddin, pengasuh PP Tahfidz Madrasatul Qur’an Al-Qolam, Papua Barat, alumni Madrasatul Qur’an Tebuireng tahun 2000. (PRANOTO)
  • KH. ZAINI MUN’IM; SAAT HARUS MEMILIH ANTARA ILMU DAN EMAS

    KH. ZAINI MUN’IM; SAAT HARUS MEMILIH ANTARA ILMU DAN EMAS

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Setelah mondok di pesantren Tebuireng, Jombang kepada Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari, beliau berangkat ke Mekkah bersama keluarganya. Beliau mendalami lagi ilmu fiqih, ushul fiqh, hadis, tafsir, lughah, balaghah dan tasawuf, mengaji kepada beberapa syekh, diantaranya Syekh Umar Hamdani al-Maghribi, Syekh Alwi Al Maliki, Syekh Said al-Yamani, Syekh Umar Bayunid, Syekh Syarif bin Ghulam Makkah dan masyayikh lainnya.

    Suatu saat, ketika mondok dan mengaji kepada Syekh Syarif Ghulam, guru tasawuf beliau, beliau tidak hanya sekedar menyerap ilmunya saja, tapi beliau juga menjadi khadam (abdi dalem) nya. Sebagaimana biasanya, suatu saat ketika beliau sedang mengisi air di kamar mandi sang guru dengan menimba air dari sumur ternyata embernya tidak berisi air, namun berisi segumpal emas. Oleh beliau emas itu tidak lantas diambilnya namun justru dikembalikan lagi ke dalam sumur.

    Jawab beliau, “karena yg saya inginkan adalah ilmunya, bukan emas itu”.

    Subhanallah, mungkin ini termasuk ujian dari guru beliau dan KH. Zaini bisa melewatinya dgn ketajaman hati dan pikiran yg Allah berikan pada beliau.

    Dalam kisah di atas, KH. Zaini tidak hanya mengaji kepada gurunya tapi juga berkhidmah dan shuhbah kepada guru beliau, sebagaimana dalam suatu maqalah:

    العلم بالتعلم والبركة بالخدمة

    “Al-‘ilmu bitta’allum, wal barakah bil khidmah”
    Ilmu diperoleh dgn belajar, sedangkan keberkahan diperoleh dgn ber-khidmah (mengabdi).”

    Berkhidmah atau shuhbah dapat memperkuat hubungan murid dengan sang guru, ikhwan dgn Mursyidnya, dan mendapat keridhaan sang guru. Nah ketika sang murid mendapat keridhaan sang guru, maka itulah salah satu alamat dari tanda kesuksesan sang murid di masa depan.

    Bahkan dalam dunia sufi posisi “khidmah” dan “shuhbah” ini sangat penting, karena di sinilah para murid akan mendapatkan asrar (rahasia), ilmu dan hikmah dgn cepat jika sang murid memang bersungguh2 dan senantiasa membersihkan hatinya.

    Dikutip dari buku KH. Zaini Mun’im; Pengabdian dan Karya tulisnya, oleh: Maghfur Ramdhani (Ketua PK MATAN Universitas Nurul Jadid).