Tag: Timur Tengah

  • Mengapa Israel Menyerang Suriah? Analisis Pasca-Jatuhnya Bashar al-Assad

    Mengapa Israel Menyerang Suriah? Analisis Pasca-Jatuhnya Bashar al-Assad

    Sorbansantri.com – Setelah jatuhnya Bashar al-Assad dari tampuk kekuasaan di Suriah, Timur Tengah kembali diguncang oleh dinamika politik dan militer baru. Israel, yang dikenal kerap memanfaatkan situasi regional untuk memperkuat posisinya, dilaporkan telah melancarkan lebih dari 400 serangan terhadap Suriah sejak perginya al-Assad ke Rusia. Langkah ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang motif dan tujuan Israel.

    Dinamika Baru di Suriah Pasca al-Assad

    Kepergian Bashar al-Assad menandai akhir dari 53 tahun kekuasaan dinasti keluarganya di Suriah. Perubahan ini membawa ketidakstabilan di kawasan, termasuk kekosongan kekuasaan yang rawan dimanfaatkan oleh berbagai aktor, baik internal maupun eksternal. Israel, yang berbatasan langsung dengan Suriah, segera mengambil langkah ofensif untuk mengamankan kepentingannya.

    Israel mengklaim bahwa serangan-serangan tersebut bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Suriah dan mencegah senjata jatuh ke tangan kelompok-kelompok yang dianggap sebagai “ekstremis.” Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kelompok oposisi utama yang berperan dalam menggulingkan al-Assad, menjadi salah satu target yang sering disebut. Namun, skeptisisme muncul terkait apakah serangan ini murni demi keamanan atau memiliki motif geopolitik lainnya.

    Zona Penyangga yang Kembali Memanas

    Serangan Israel ke zona penyangga, yang telah menjadi garis batas sejak Perjanjian 1974, menandai eskalasi besar dalam konflik. PBB telah mengeluarkan protes atas pelanggaran ini, tetapi serangan terus berlanjut. Situasi ini mencerminkan upaya Israel untuk memperluas pengaruhnya sekaligus melemahkan potensi ancaman dari tetangganya yang kini tengah berusaha menata ulang pemerintahan.

    Motif Geopolitik Israel

    Meskipun Israel mengklaim fokus pada keamanan, beberapa analis menilai bahwa langkah-langkah tersebut juga bertujuan untuk:

    1. Menghancurkan Pengaruh Iran: Israel telah lama mengkhawatirkan kehadiran Iran di Suriah. Meski Iran membantah keberadaan pasukannya di sana, Israel tetap menganggap Suriah sebagai jalur penting bagi pengiriman senjata ke kelompok-kelompok yang menentangnya, seperti Hizbullah.
    2. Menciptakan Zona Pengaruh Baru: Dengan lemahnya pemerintahan Suriah, Israel dapat mencoba menciptakan zona penyangga di perbatasan untuk melindungi wilayahnya sekaligus menghalangi kebangkitan kekuatan militer Suriah di masa depan.
    3. Mengeksploitasi Kekacauan Politik: Ketidakstabilan di Suriah memberi Israel peluang untuk memperkuat kontrol di kawasan, terutama dalam hal pengawasan terhadap Lebanon dan Gaza.

    Reaksi Dunia Internasional

    Serangan bertubi-tubi Israel terhadap Suriah, ditambah dengan eskalasi di Lebanon dan Gaza, menuai kecaman internasional. Banyak pihak menuduh Israel memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Suriah untuk melanjutkan kebijakan agresif yang dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.

    Namun, sejauh ini, tidak ada tindakan tegas dari komunitas internasional. Hal ini memperlihatkan lemahnya konsensus global dalam menghadapi konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti Israel.

    Kesimpulan: Strategi Bertahan atau Ekspansi?

    Serangan Israel terhadap Suriah tampaknya bukan sekadar langkah defensif. Dengan perubahan politik besar-besaran di Suriah, Israel tampaknya berusaha mengambil keuntungan strategis dari situasi tersebut. Apakah ini akan membawa stabilitas atau justru memicu konflik lebih luas di kawasan, masih menjadi pertanyaan besar.

    Satu hal yang jelas, dinamika pasca-al-Assad akan terus menjadi medan pertarungan bagi aktor-aktor besar di Timur Tengah, dengan Israel berada di garis depan untuk memperjuangkan kepentingannya. (AI Sorban)

    @beritasorban Setelah jatuhnya Bashar al-Assad di Suriah, kawasan Timur Tengah kembali memanas. Israel melancarkan lebih dari 400 serangan terhadap Suriah dan menyerang zona penyangga yang memisahkan kedua negara sejak 1974. Langkah ini, menurut Israel, bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Suriah dan mencegah senjata jatuh ke tangan ekstremis. Namun, banyak pihak melihatnya sebagai strategi geopolitik untuk mengurangi pengaruh Iran dan memperluas pengaruh Israel di kawasan. Ketegangan ini semakin diperburuk oleh serangan Israel di Lebanon dan Gaza, yang terus menuai kecaman internasional. Apakah langkah Israel ini bertujuan menciptakan stabilitas atau memperburuk konflik di Timur Tengah? Tetap ikuti perkembangan berita terkini hanya di sini! #IsraelSerangSuriah #KonflikTimurTengah #PascaAssad #ZonaPenyangga #GeopolitikIsrael #SuriahBerubah #KeteganganRegional #foryoupage ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Israel Klaim Hancurkan 80 Persen Kemampuan Militer Suriah dalam Operasi Panah Bashan/Golan

    Israel Klaim Hancurkan 80 Persen Kemampuan Militer Suriah dalam Operasi Panah Bashan/Golan

    BERITA VIDEO

    SorbanSantri.com – Radio Angkatan Darat Israel mengumumkan bahwa angkatan udara mereka telah menyelesaikan sebagian besar operasi militer besar-besaran yang dimulai di Suriah, yang disebut Operasi Panah Bashan/Golan. Dalam pernyataannya, Israel mengklaim telah menghancurkan sekitar 80 persen kemampuan militer tentara Suriah.

    Sejak dimulainya operasi pada Minggu malam, sejumlah target strategis Suriah telah dihancurkan, termasuk pesawat tempur, helikopter, baterai rudal permukaan-ke-udara, Scud, rudal jelajah, drone, depot senjata, dan lokasi pembuatan amunisi. Selain itu, situs militer yang terkait dengan Iran juga menjadi sasaran, bersama dengan tenggelamnya 15 kapal rudal milik Suriah.

    Operasi darat juga terus berlangsung di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, di wilayah timur garis gencatan senjata. Israel menyebut serangan ini sebagai bagian dari upaya untuk menghilangkan ancaman dari Suriah dan pihak-pihak yang berafiliasi dengannya.

    Belum ada tanggapan resmi dari pihak Suriah terkait klaim ini. Namun, eskalasi ini menambah ketegangan di kawasan yang telah lama menjadi pusat konflik geopolitik. Situasi ini menunjukkan potensi meningkatnya konflik lebih lanjut antara kedua negara di wilayah yang sensitif secara strategis ini.

    Ikuti perkembangan berita ini hanya di SorbanSantri.com.

    @beritasorban Israel mengklaim telah menghancurkan 80 persen kemampuan militer Suriah dalam operasi besar-besaran bernama Operasi Panah Bashan/Golan. Target yang dihancurkan meliputi pesawat tempur, helikopter, rudal, depot senjata, hingga situs militer yang terkait Iran. Tak hanya itu, 15 kapal rudal Suriah juga ditenggelamkan. Operasi ini berlanjut di Dataran Tinggi Golan, wilayah yang strategis namun diperebutkan. Eskalasi ini menambah ketegangan lama antara Israel dan Suriah, memperburuk situasi di kawasan yang sensitif. #IsraelSuriah #OperasiPanahBashan #Golan #KeteganganTimurTengah #SorbanSantriUpdate #foryoupageofficiall ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Peta Baru Israel Muncul di Emblem Seragam IDF, Mencakup Wilayah yang Lebih Luas

    Peta Baru Israel Muncul di Emblem Seragam IDF, Mencakup Wilayah yang Lebih Luas

    Berita Video

    Sorbansantri.com – Pada hari Kamis (20/6/2024), media Turki TRT melaporkan bahwa gambar seragam tentara Israel dengan tempelan peta “Israel Raya” telah beredar online. Lencana tersebut menggambarkan wilayah yang sangat luas, melampaui wilayah Palestina yang diduduki saat ini. Peta ini mencakup beberapa negara lain, seperti Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, Mesir, dan sebagian Arab Saudi.

    Kelompok sayap kanan Israel selama ini juga secara terbuka mengungkapkan keinginan teritorial mereka. Mereka memiliki ambisi jangka panjang untuk membentuk negara “Israel Raya”. Seorang politisi Israel, Avi Lipkin, dalam sebuah wawancara di laman yang sama, menyatakan, “Nantinya perbatasan kita akan bertambah dari Lebanon ke gurun besar yakni Saudi Arabia dan kemudian ke Mediterania dan Sungai Eufrat.” Ia juga menambahkan, “Saya percaya kita akan mengambil Mekkah dan Madinah, dan Gunung Sinai, serta memurnikannya.”

    Mengutip laporan dari Middle East Monitor (MEMO), konsep “Israel Raya” berakar pada interpretasi tertentu terhadap ideologi Zionis. Menurut konsep ini, “tanah perjanjian” dalam Alkitab terbentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak, dan dari Sungai Litani di Lebanon hingga Madinah di Arab Saudi. Penafsiran ini telah menjadi subyek kontroversi sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948. Para pendukung Zionis melihatnya sebagai penggenapan ramalan agama, sementara para kritikus mengutuknya sebagai pembenaran untuk perluasan wilayah dengan mengorbankan negara-negara tetangga.

    Kecaman terhadap peta “Israel Raya” ini juga bermunculan di media sosial Arab. Beberapa pengguna membandingkannya dengan konsep “Lebensraum” yang diusung Nazi Jerman, yang merujuk pada ideologi ekspansi untuk menguasai sumber daya demi perkembangan rakyat Jerman kala itu. Seorang pengguna dengan akun unitythroughtsports menulis, “Datang ke Mekah dan Madinah dan saksikan 2,2 miliar umat Muslim menyerangmu.” Sementara akun ayoob_jb menambahkan, “Dan negara Arab masih tidur.”

    Berita ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang selama ini sudah dipenuhi konflik dan perselisihan. Peta “Israel Raya” ini dianggap oleh banyak pihak sebagai ancaman nyata terhadap kedaulatan dan stabilitas negara-negara di sekitarnya. (AI Sorban)

    @beritasorban Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan gambar seragam tentara Israel yang menampilkan peta 'Israel Raya.' Peta ini menggambarkan wilayah yang jauh lebih luas, mencakup Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, Mesir, dan sebagian Arab Saudi. Kelompok sayap kanan Israel telah lama mengungkapkan ambisi mereka untuk memperluas wilayah hingga ke Sungai Nil dan Eufrat, serta menguasai Mekkah dan Madinah. #IsraelRaya #KontroversiPetaIsrael #TimurTengah #Zionis #Palestina #Lebanon #Suriah #Mesir #ArabSaudi #IDF #AmbisiTeritorial #PerbatasanIsrael #MiddleEastConflict #fypシ゚ #fypdong ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Arab Saudi Menghapus Nama Palestina dari Peta dalam Buku Teks Sekolah

    Arab Saudi Menghapus Nama Palestina dari Peta dalam Buku Teks Sekolah

    Berita Video

    Arab Saudi dilaporkan telah menghapus nama Palestina dari peta dalam buku teks sekolah, berdasarkan kurikulum pendidikan baru negara tersebut. Klaim ini dilaporkan oleh lembaga pemikir yang berbasis di Israel dan Inggris, IMPACT-se. Menurut laporan yang dilansir oleh New Arab pada Selasa (4/6/2024), kurikulum Saudi terbaru menunjukkan perubahan signifikan pada buku teks dari tahun ajaran sebelumnya, termasuk dalam terminologi yang digunakan.

    Salah satu perubahan mencolok adalah dalam buku teks Studi Sosial dan Nasional 2023-2024, yang menggambarkan peta Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya. Namun, wilayah Palestina dibiarkan tanpa nama, berbeda dengan peta dalam buku teks tahun 2022. Selain itu, kata-kata yang dianggap “bermusuhan” dengan Israel telah dihapus dari beberapa teks dalam kurikulum. Istilah seperti “musuh” dan “musuh Zionis,” serta teks yang memperingatkan tentang ambisi Israel di wilayah tersebut dan upaya untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka, juga telah dihapus.

    Menurut IMPACT-se, buku teks tersebut masih merujuk Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan dan sebagai ibu kota Palestina, bukan seluruh Yerusalem. Zionisme juga tidak lagi disebut sebagai “gerakan Eropa rasis,” dan bahasa lain yang sangat kritis terhadap Israel telah diubah. Secara keseluruhan, 21 kasus sentimen anti-Israel dalam buku teks lama telah dihapus dalam kurikulum baru ini.

    Perubahan ini diduga terkait dengan pembicaraan yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) yang berupaya menormalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv. AS awal bulan ini mengatakan bahwa mereka hampir mencapai pakta pertahanan dengan Arab Saudi, yang dapat membuka jalan bagi normalisasi hubungan dengan Israel. Meskipun demikian, Riyadh telah menyatakan bahwa mereka tidak akan menjadi perantara hubungan dengan Israel sebelum negara Palestina diberikan, sesuatu yang ditolak oleh pemerintah sayap kanan Israel.

    Perkembangan ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam pendekatan Arab Saudi terhadap isu-isu regional dan hubungannya dengan Israel, yang dapat memiliki dampak signifikan pada dinamika politik di Timur Tengah. (AI Sorban)

    @beritasorban Perubahan ini diduga terkait dengan pembicaraan yang dimediasi AS untuk menormalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv. Meskipun AS hampir mencapai pakta pertahanan dengan Arab Saudi, Riyadh menegaskan tidak akan memediasi hubungan dengan Israel sebelum negara Palestina diberikan. Perubahan ini mencerminkan langkah besar dalam kebijakan Arab Saudi terhadap isu-isu regional. #SaudiPalestina #PetaPalestina #KurikulumBaru #IMPACTse #NormalisasiIsrael #TimurTengah #ArabSaudi #Edukasi #BeritaPendidikan #fyp #breakup #fypシ゚ ♬ suara asli Sorban Santri