Tag: wali

  • Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian kitab Qurrotul ‘Uyun

    Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian kitab Qurrotul ‘Uyun

    SORBANSANTRI.COM

    FASYA-Sabtu, 16/04/2022. Di pertengahan bulan Ramadhan 1443 H ini, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan acara Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun yang mengangkat tema “Pilar-pilar Hukum Keluarga Islam dalam kajian Kitab Qurrotul ‘Uyun”. Acara ini merupakan kegiatan kesekian kalinya yang termasuk salah satu program kerja keilmuan dari kepengurusan HMPS HKI tahun 2022 ini. Acara Ngaji Kitab ini bisa dikatakan perdana, dikarenakan dari tahun-tahun sebelumnya memang belum pernah mengadakan kegiatan Ngaji Kitab seperti ini. Maka dari itu, antusias dari jamaah yaitu yang terdiri dari para mahasiswa HKI ini sangat luar biasa, dalam mengikuti Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini.

    Sebenarnya, kitab Qurrotul ‘Uyun ini biasanya sering di konsumsi oleh kalangan pondok pesantren, yang mana pembahasannya mengenai ruang lingkup keluarga yang sesuai tuntunan agama Islam, mulai dari rukun dan syarat nikah sampai dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi didalam hubungan pernikahan. Hal ini tentu menjadi penting sekali untuk dikuasai oleh para mahasiswa fakultas Syariah terutama mahasiswa Hukum Keluarga Islam yang notabene nya menggeluti dibidang Hukum Keluarga. Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini diisi oleh Direktur Pusat Konstitusi & Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta yaitu Gus A.M. Mustain Nasoha S.H., M.H. 

    Acara diawali dengan sambutan dari Koordinator Program Studi HKI dan ketua umum HMPS HKI 2022 yang di wakili oleh ketua panitia pelaksana yaitu Dilva Nahida. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat oleh tim hadroh Jamuna Al Mubarok dari Fakultas Syariah. Selanjutnya pembacaan tahlil yang dipimpin oleh saudara Ahmad Makruf. Tepat pada pukul 09.00 WIB, penyampaian kajian kitab Qurrotul ‘Uyun oleh Gus A.M. Mustain Nasoha mulai berlangsung.

    SORBANSANTRI.COM

    Di dalam Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.: “Barang siapa mempunyai istri dua dan dia berlaku tidak adil di antara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan pecah tubuhnya dan jatuh. Riwayat lain mengatakan: pecah dan bungkuk/miring tubuhnya”. Ujar Gus A.M. Mustain Nasoha dalam penyampaian kajian kitab Qurrotul ‘Uyun. Kemudian ketika ada pertanyaan, “Lebih penting ibadah atau nikah terlebih dahulu? Nah, di dalam kitab Qurrotul ‘Uyun ini dijelaskan bahwasanya keduanya harus seimbang, tetap melaksanakan ibadah dan juga melaksanakan pernikahan”. Gus A.M Mustain Nasoha juga menyampaikan kiat-kiat dalam menjalin hubungan suami istri, mulai dari status hukumnya sampai dengan tata cara melaksanakannya. Semuanya di kupas tuntas oleh beliau.

    Di pengujung acara, Gus A.M Mustain Nasoha menyampaikan kepada seluruh jamaah yang hadir, agar selalu menundukan pandangan terhadap lawan jenis dan selalu berusaha untuk senantiasa menutup aurat. Kemudian, acara diakhiri dengan pembacaan do’a oleh saudara Ahmad Makruf. Harapan dari panitia kepada acara ini adalah semoga dengan dilaksanakannya Ngaji Kitab Qurrotul ‘Uyun ini dapat membawakan ilmu yang bermanfaat dan barokah bagi seluruh jamaah maupun panitia, untuk menjadi bekal dalam menjalani kehidupan berkeluarga kelak.

    (Ahmad Makruf/Divisi Keilmuan/Ed:afz)

  • Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Warga Kesemen Ngoro Rayakan Haul Mbah Junggo Jogoreso Dan Mbah Wiro Djoyo Santiko

    Mojokerto.Sorbansantri.com – Seseorang yang dianggab berjasa atau orang yang di pandang sebagai sesepuh di suatu daerah pastinya jasanya akan selalu di kenang oleh masyarakat bahkan mendapatkan tempat yang mulia walau beliau sudah wafat.

    Pada hari selasa (22-03-22) malam warga kesemen mengadakan haul mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ke XVII yang bertempat area pesarean di dusun Kesemen desa Kesemen kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto.
    Peringatan haul ini diadakan warga rutin setiap setahun sekali yang di pelopori oleh KH.Ahmadun Bashori selaku tokoh agama di desa tersebut beserta tokoh pemuda Solehuddin dan juga dari pihak pemerintahan desa kususnya Anton Kurniawan selaku kepala desa setempat dan di dukung oleh tokoh agama yang lainnya.

    Tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya para tokoh agama, pejabat pemerintahan dan perangkat desa Kesemen, pengurus ranting dan anak ranting NU desa Kesemen, beserta banom banom nya dan elemen masyarakat sekitar.

    Menurut ustad Khoiron selaku ketua panitia mengatakan “acara ini bertujuan untuk kirim doa kepada leluhur dan pelaksanaanya pun selalu di bulan ruwah atau bulan sya’ban tanggal 20 kalender jawa, atau di 10 hari sebelum datangnya bulan suci romadhon tiba”,sebelum pra acara pengajian umum dari panitia melaksanakan kegiatan pembacaan khotmil qur’an semalam suntuk di mulai ba’da sholat isya’ sampai setelah subuh dan hingga hatam, di teruskan malam ini acara puncaknya yakni peringatan pengajian umum yang menghadirkan muballigh dari Mojokerto kyai Mohammad Assa’dullah, yang sebelumnya di awali dengan pembacaan istighosah yang dimpin oleh KH.Ahmadun Bashori, tuturnya

    Menurut pak Wagi dan pak Wiyanto selaku juru kunci pesarean mengatakan bahwasanya pesarean mbah Junggo Jogoreso dan mbah Wiro Djoyo Santiko ini sangat keramat sekali dan tak ayal banyak peziarah yang datang baik warga lokal maupun warga yang dari luar daerah dengan tujuan ngalab barokahnya dengan mengirimkan doa doa ada juga yang sembari membaca al qur’an ketika berada di dalam area pesarean tersebut.

    Di sekitaran pesarean ada bangunan musholla yang selalu istiqomah di buat sholad berjama’ah yang di pandegani oleh abah Sholeh Muhammad beserta kawula muda di desa kesemen.

    Harapannya semoga dengan acara haul mbah Junggo masyarakat desa kesemen dan sekitarnya semakin guyub, rukun dan mudah mudahan selalu di beri kesehatan, umur panjang serta keberkahan rizki untuk bekal hidup sehari harinya.

    (Hasan-Ngoro)

  • Mengenal Asal Mula Istilah ASWAJA

    Mengenal Asal Mula Istilah ASWAJA

    SORBANSANTRI.COM

    1.Masa Rasulullah

    Pada masa itu umat Islam adalah umat yang satu dan tidak ada perselisihan dalam aqidah dan amalan. Hal ini karena masih adanya wahyu (Al-quran) dan nabi masih ada sebagai sumber hukum langsung dapat ditanyakan kepada beliau.

    2.Masa khulafaur rosyidin

    Ketika Rasulullah wafat, terjadi perselisihan diantara umat Islam untuk menentukan pemimpin baru. Calon dari golongan Anshor Sa’ad bin Ubadah, dari golongan muhajirin adalah abu bakar Ash Siddiq,dan dari golongan bani hasyim adalah Ali bin Abi Thalib. Melalui perdebatan yang panjang akhirnya Abu Bakar Ash Siddiq terpilih menjadi khalifah pertama. Inilah awal perselisihan diantara umat Islam.

    Pada zaman khalifah kedua, Umar bin Khattab,tidak nampak perselisihan dan perpecahan kecuali perselisihan dari orang-orang yang tidak diakui kebenarannya karena tidak berstandar dalil-dalil yang shohih.

    Pada zaman khalifah Usman bin Affan mulai bermunculan perbedaan pendapat karena sistem pemerintahan mengunakan sistem famili,walaupun masih tetap mempertimbangkan skill dan profesionalisme baik dalam bidang agama maupun pemerintahan. Setelah Usman meninggal terjadilah kekacauan di Madinah sehingga Abdullah bin Saba’ (pemimpin Mesir) menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah keempat.

    Pada masa Ali bin Abi Thalib, umat Islam pecah menjadi beberapa golongan. Hal ini disebabkan karena faktor semakin banyaknya umat Islam dan semakin banyaknya pemahaman di dalam mengartikan dan menafsirkan Al-quran dan Hadist Nabi.

    3.Masa Tabi’in

    Pada masa ini muncul reaksi terhadap ajaran Mu’tazilah dan Jabariyah. Pemikiran baru yang dikemukakan oleh Imam Asy’ari yang disempurnakan oleh Al Maturidi inilah yang menjadi pijakan umat islam yang disebut dengan ASWAJA. Pendapat – pendapat inilah yang menjadi rumusan kalau dalam bidang :

    a.Fiqih mengikuti salah satu madzab 4 (empat)

    b.Tauhid mengikuti salah satu Imam AL- Asy’ari dan AL Maturidi.

    c.Tasawwuf mengikuti rumusan imam Al – Junaidi.

    4. Akhir Abad ke 7 H

    Pada tahun 671 lahir seorang tokoh bernama Ibnu Taimiyyah yang mengajarkan pendapat – pendapat yang menyimpang diantaranya :

    a. Ziarah ke Makam Nabi adalah Ma’siyat.

    b. Menyatakan talak / cerai sekaligus tiga kali tidak jadi talak tiga.

    Ibnu Taimiyyah akhirnya dipenjara dan meninggal dipenjara tahun 728 M, namun ajarannya secara diamdiam diajarkan oleh para pengikutnya.

    5. Pertengahan Abad 12 H

    Pada tahun 111 M lahir seorang tokoh Wahabby yaitu Muhammad bin Abdul Wahab. Dia menganut ajaran Ibnu Taimiyah bahkan ditambah dengan pendapat-pendapatnya sendiri antara lain :

    a. Menetapkan anggota tubuh bagi Allah.

    b. Allah berada pada ruang dan gerak.

    c. Tidak boleh taqid kepada madzab 4.

    d. Mengharamkan tawasul dan mengharamkan ziarah kubur.

    6. Masa Wali Songo (Abad 14 – 16) Pada Tahun 1404 M datang seorang Ulama bernama Syekh Maulana Malik Ibrohim / Syekh Maghribi yang berasal dari Turki (riwayat lain dari Gujarat) menyebarkan Islam ditanah Jawa tepatnya di Gresik. Setelah mempunyai pengikut cukup banyak beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid.
    Konon kabarnya beliau mendapat bantuan dari raja cermain dalam membangun dan mendirikan Pon.Pes di Gresik. S. Maulana Malik Ibrohim (S. Gresik) itu tidak hanya ahli dalam bidang agama saja, beliau juga ahli dalam bidang perekonomian. Ini terbukti peningkatan ekonomi pertanian sangat maju di Gresik.
    Pada tahun 1401 M lahir seorang putra bernama R. Rahmatullah (Sunan Ampel) dinegeri Cempa.

    (Iqlilahdini sorban)

  • KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    KEALIMAN SAYYIDATUNA AISYAH

    SORBANSANTRI.COM

    sorbansatri.com – Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Rasulullah , Sayyidah Aisyah, banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

    Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

    Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya. Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.

  • Satkoryon banser  ngoro gelar apel upacara di pantai gemah tulungagung dalam rangka harlah NU KE 96

    Satkoryon banser ngoro gelar apel upacara di pantai gemah tulungagung dalam rangka harlah NU KE 96

    Organisasi atau jam’iyah nahdlatul ulama’ (NU) di dirikan pada tanggal 31 januari 1926, saat ini usianya sudah memasuki ke 96 tahun, Banser  merupakan pasukan yang bertugas mengawal dan menjaga para kyai dan ulama’ serta berperan penting menjaga kesatuan NKRI kususnya kepada warga Nahdiyin, Harlah NU yang ke 96 kali mengambil tema “ KEMANDIRIAN DALAM BERKHIDMAT UNTUK PERADABAN DUNIA”

     

    Satkoryon BANSER kecamatan ngoro kabupaten Mojokerto pada hari minggu (30/01/2022) mengadakan apel upacara dalam rangka memperingati harlah NU ke 96 tahun di pantai gemah tulungagung, pada upacara kali ini yang menjadi inspektur upacara adalah ketua PAC GP ANSOR kecamatan ngoro.

     

    Sahabat Saufi selaku ketua PAC GP ANSOR  kecamatan ngoro selaku inspektur upacara mengatakan di hadapan para kader Ansor Banser yang ikut apel ‘ kita sebagai pasukan yang bertugas menjaga dan boleh di bilang sebagai benteng ulama’, kita harus rela berkorban apa saja demi menjaga warwah NU, kekompakan dan kesolitan kita adalah kuncinya, kita sebagai anggota Ansor Banser harus siap bila mendapatkan tugas dari para kyai dan ulama’ lebih lebih kepada jam’iyah Nahdlatul ulama’

     

    Di akhir sambutannya beliau menegaskan Satkoryon Banser  kecamatan ngoro adalah pusat basisnya banser se kabupaten mojokerto dan sudah banyak yang menjadi perwira maka sudah selayaknya bisa menjadi contoh tauladan kepada anggota banser yang dari daerah lain,

     

    ” jiwa loyalitas dan militansi mari kita tanamkan dan kita tunjukkan kepada masyarakat kalau Banser itu ada dan siap di butuhkan kapanpun dan di manapun” ucapnya dengan tegas sambil mengepalkan tangan kanannya.

     

    Acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, mars ansor, maes banser dan yang terakhir di tutup doa oleh H, edi selaku pengurus Rijalul Ansor kecamatan ngoro, semoga kita semua di akui santrinya hadrotussyeh Hasyim Asyari selaku pendiri jam’iyah nahdlatul ulama’, dan semua bisa khusnul khotimah.

     

     

    hasan sorban

  • Kisah BANSER BATANG DI TOLIKARA

    Kisah BANSER BATANG DI TOLIKARA

    SORBANSANTRI.COM
    Photo sebagian Sahabat Banser Gringsing Batang yang dulu pernah diberangkatkan ke Tolikara Papua. #BanserNU

    SORBAN SANTRI- Kisah ini kami angkat kembali, meskipun pernah kami post beberapa tahun yang lalu tentang pemberangkatan anggota Banser ke Tolikara Papua, agar Banser muda tahu bahwa saat konflik dengan isue agama di Tolikara Papua, Banser lah yang datang ke sana dan ikut memulihkan kondisi sehingga Umat Muslim Tolikara bisa dengan aman melaksanakan Ibadah seperti sebelumnya. Kali ini, akan kami angkat kisah lain di balik keberhasilan tersebut.

    Cerita ini saya dengar langsung dari Kyai Faizin GZ Plelen Gringsing yang meminpin missi perdamaian ke Tolikara Papua.

    Berawal dari tawaran Satkornas Banser kepada beberapa Satkorcab yang siap diberangkatkan ke Tolikara untuk misi perdamaian terhadap konflik Sara yang berujung pembakaran masjid.

    Dari sekian satkorcab, ternyata Satkorcab Batang yang bersedia diberangkatkan. Meskipun dengan syarat yang berat, di antranya semua personel harus kebal senjata apapun dan ahli bela diri.

    Perjalanan diawali dari Batang menuju Jakarta untuk mendapat pembekalan dan breffing. Selanjutnya setelah dua kali penerbangan, perjalanan dilanjutkan dengan jalur darat yang sangat panjang.

    Begitu mendekati lokasi konflik, tiba-tiba pasukan Banser Batang yang berjumlah 15 orang itu dikepung oleh pasukan penduduk asli yang dibekingi pemberontak Papua. Dengan bersenjatakan panah, tombak dan golok, mereka siap menyerang rombongan banser yang berpakaian lengkap yang didampingi juru bicara atau pemandu dri orang asli Papua. Negosiasi panjang dilakukan dalam suasana sangat tegang dan mencekam.

    Tiba² naluri Banser muncul dari Kyai Faizin, dengan lantang beliau berteriak,
    “Kami pasukan Gus Dur.
    Datang kesini utk berdamai dengan saudara² Papua.”

    Begitu mendengar teriakan
    “Pasukan Gus Dur maka sang pimpinan pasukan suku asli itu bangkit dan berteriak,
    “Stop. Kita kedatangan saudara,
    Gus Dur saudara, Gus Dur saudara.”

    Maka, seketika semua pasukan pengepung itu meletakkan senjata dan maju merangkul dengan sangat akrab.”

    Banser begitu diterima oleh semua komponen di Tolikara. Hingga missi perdamaian berhasil dengan kesepakatan² kedua belah pihak untuk mengakhiri konflik.

    Ketika pasukan Banser Batang hendak pulang, pakaian seragamnya dilucuti dan diminta oleh penduduk asli. Mereka ingin memakainya dan berminat menjadi anggota Banser.

    Demikianlah. Menurut Kyai Faizin, kita benar² meyakini kewalian *Gus Dur*. Sebab, meskipun telah tiada, nama besarnya masih bgitu berpengaruh dan ditakuti banyak pihak. Sehingga, wirid dan hizib yg telah diamalkan, kanuragan dan kesaktian yang telah disiapkan, tak jadi digunakan. Cukup dengan menyebut nama “Gus Dur”, semua bisa teratasi dan misi berjalan kancar.

    (Kisah saya dengar dari Kyai Faizin dan saya kembangkan dengan redaksi saya. Kurang lebihnya bisa dikonfirmasi langsung kepada Beliau)

    Sumber tulisan: Sodikin Rusydi, M. Ag. (Sahabat Ansor Reban Batang) tulisan asli dengan edit tanda baca seperlunya. (M. Wicaksono)

  • AL HABIB ABU BAKAR BIN SEGAF ASSEGAF…CUCU DARI AL QUTHUB AL HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF GRESIK

    AL HABIB ABU BAKAR BIN SEGAF ASSEGAF…CUCU DARI AL QUTHUB AL HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF GRESIK

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Beliau adalah wali yang majdub…wali yang sejak usia 7 tahun sudah hafal Al Qur’an dan ribuan hadist beliau hafal…

    Sampai-sampai suatu pondok pesantren di jawa tidak berani menerima beliau menjadi murid di Pondok itu karena saking mulianya Al Habib Abu Bakar bin Segaf bin Abubakar Assegaf.

    Beliau sangat taat dan cinta kepada ALLOH SWT kemudian ALLOH SWT membalas cinta beliau dengan menjadikan majdub yaitu wali yang ALLOH SWT tinggikan derajatnya dan tidak ada lagi keinginan beliau terhadap kenikmatan dunia, beliau tidak bicara lagi sejak itu.

    ALLOH SWT angkat akal Basyariah beliau sangat-sangat suci…suci seperti bayi baru lahir.

    “yang saya sudah pernah mengalami melihat beliau secara langsung dan saya sendiri melihat qaromah beliau…saya berani bersaksi demi Alloh..SWT”beliau adalah orang yang sangat tinggi derajatnya dan sangat mulia jika kalian tidak bertemu cukup memandang photo beliau mudahan kalian semua mendapat keberkahan aamiin …”

    Tetapi hati-hati kepada yang menghina beliau….karena salah satu orang yang pernah menghina beliau…kemudian bermimpi melihat Nabi MUHAMMAD SAW yang dimana didalam mimpinya Nabi mengatakan HABIB ABU BAKAR BIN SEGAF ASSEGAF itu anak cucuku ,,, kemudian Nabi tak memandangnya dan pergi. Naudzubillah…jika tidak syafa’at nabi mau kemana kita mencari jalan keselamatan.”

    اللهم صل وسلم علی سيدنا محمد وعلی آل سيدنا محمد

    (abi tsani)

  • MENGUJI KEWALIAN GUS DUR

    MENGUJI KEWALIAN GUS DUR

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Tuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur, Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur, dan orang yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur, bahkan, ia sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan.

    Bagaimana ia menguji kewalian Gus Dur? Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal dunia. Berita meninggalnya Gus Dur sekitar pukul 7 malam 30 Desember 2011 itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan seluruh masyarakat pun terkejut akan kejadian tersebut.
    />
    Ia bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan esok hari ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang. Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan dari NTB hampir berbarengan.

    Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.

    Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.

    Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.

    “Mari kita baca surat Alfatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan,” katanya ketika berbincang dengan NU Online disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks pesantren Krapyak Yogyakarta.

    Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan (forider), yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren dengan gampang dan setelah itu, motor pengawal tersebut pun menghilang. (abi sorban)

  • KOPI PERTAMA KALI DITEMUKAN OLEH SEORANG WALIYULLAH

    KOPI PERTAMA KALI DITEMUKAN OLEH SEORANG WALIYULLAH

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Tahukah anda, bahwa penemu Kopi atau Qahwah pertama kali adalah seorang waliyullah dari negeri Yaman bernama Syeikhul Kabir Ali bin Umar Asy-Syadzili. Kemudian, penemuan itu disebarkan ke berbagai tempat oleh Kemudian disebarkan ke berbagai tempat oleh Quthubul Ma’la Imam Abu Bakar Alaydrus.

    Riwayat penemuan Qahwah atau Kopi itu tertulis dalam Kitab Fakhrul Mawalim Fi Manaqib Syeikh Abi Bakar bin Salim halaman 119-121 karya Sayyid Mustafa Al-Khirid.

    Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menyatakan bahwa menggunakan sesuatu yang mubah untuk kebaikan akan bernilai pahala. Para Sufi dan ulama sangat menggemari kopi karena dapat memberikan semangat mereka dalam menimba ilmu dan beribadah malam.

    Sayyidil A’dzam Imam Abu Bakar bin Abdullah Al-Attas (Guru Futuh Imam Ali Shohibul Maulid) biasa meminum Kopi seusai melaksanakan Qiyamul Lail, sebelumnya beliau akan membaca Fatihah sebanyak tiga kali.

    Pertama khusus dihadiahkan untuk Sayyidina Faqih Muqaddam, kedua untuk Syeikh Ali bin Umar Asy-Syadzili selaku penemu kopi dan maha gurunya, Quthub Akbar Imam Abu Hasan Asy-Syadzili Al-Hasani, ketiga untuk semua kaum Muslimin.

    Demikian pula Sayyidina Syeikh Abu Bakar bin Salim, beliau amat menyenangi kopi dan terbiasa duduk dari fajar hingga menjelang Dzuhur dengan suguhan Kopi di depannya.

    Beliau juga banyak menyarankan orang untuk meminum Kopi dengan niat menyegarkan stamina tubuh kala beribadah kepada Allah. Minuman yang paling populer di rumah dan majelis-majelis Syeikh Abu Bakar bin Salim adalah kopi.

    Sumber : Kitab Fakhrul Mawalim Fi Manaqib Syeikh Abi Bakar bin Salim hal 119-121 karya Sayyid Mustafa Al-Khirid