Tag: wapres

  • PDIP Heran Jokowi Diutus ke Vatikan, Bukan Wapres

    PDIP Heran Jokowi Diutus ke Vatikan, Bukan Wapres

    Sorbansantri.com – Jakarta

    Keputusan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bertemu Paus Fransiskus di Vatikan menimbulkan tanda tanya besar, terutama dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka mempertanyakan, mengapa bukan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang dikirim dalam kunjungan tersebut.

    Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menyampaikan keheranannya atas langkah Prabowo. Menurutnya, dalam tradisi ketatanegaraan, tugas kenegaraan seperti ini mestinya diberikan kepada Wakil Presiden, apalagi mengingat masa jabatan Jokowi yang sebentar lagi akan berakhir.

    “Ini soal etika dan pembagian tugas. Kalau presiden berhalangan, biasanya wakil presiden yang mewakili. Kenapa malah presiden yang diutus?” kata Djarot.

    Sebelumnya, hubungan PDIP dan Presiden Jokowi memang diketahui sedang tidak harmonis. PDIP bahkan tidak mengundang Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) kelima partai yang akan digelar Mei 2024 mendatang. Djarot menjelaskan, keputusan itu diambil karena PDIP menilai Jokowi telah melanggar konstitusi dan etika politik, sehingga tidak lagi dianggap bagian dari “keluarga besar” partai.

    Sikap PDIP ini juga diamini oleh Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI, yang menyebut bahwa ketidakhadiran Jokowi dalam Rakernas adalah hal wajar karena beliau bukan lagi bagian dari internal PDIP.

    Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa arah kepemimpinan bangsa ke depan seharusnya diteruskan oleh Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, bukan oleh Prabowo-Gibran. “Yang melanjutkan visi-misi Pak Jokowi itu Ganjar-Mahfud, bukan pasangan lain,” tegas Hasto.

    Langkah Prabowo mengutus Jokowi ini, menurut PDIP, semakin menambah deret panjang keputusan-keputusan politik yang dianggap keluar dari norma ketatanegaraan yang sehat. Sampai berita ini diturunkan, pihak Prabowo belum memberikan tanggapan resmi atas kritik dari PDIP tersebut.

  • Dosa Jariyah Yang Dapat Menghapus Semua Amal Shalih

    Dosa Jariyah Yang Dapat Menghapus Semua Amal Shalih

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Kyai menyampaikan bahwa jika budaya lokal Korea (K-Pop) saja bisa meng-internasional bahkan digemari hingga Amerika. Maka anak muda Indonesia mestinya mampu menjadikan budaya lokal Indonesia menjadi menginternasional pula. Termasuk “Budaya Santri”, agar diupayakan menjadi budaya nasional dan bahkan menginternasional.
    Nasihat beliau sangat simpel dan sekaligus sangat visioner. Namun para “pembuat” berita dan para tukang “fitnah” telah dengan sengaja menggoreng informasi ini untuk tujuan membuat narasi fitnah dan menyebar kebencian.
    Akibatnya para Netizen yang sebagian bersumbu pendek dan kurang cermat membaca terburu-buru menghujat beliau. Narasi negatif berbentuk gambar dibagikan ribuan kali di berbagai akun media sosial. Hingga terwujudlah Dosa Jariyah yang dapat menghapus semua amal shalih.
    Ketahuilah, Bahwa menghina Kyai Ma’ruf Amin telah mengakibatkan tiga dosa besar, yakni Menghina Sulthan, Menghina Ulama dan Menghina Orangtua.
    1. MENGHINA UMARO’ (SULTHON):
    Menghina Pemerintah adalah dosa besar
    dan sama saja telah menghina Allah. Nabi Saw bersabda:
    مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي
    “Barangsiapa yang menghina
    seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi, no. 2224).
    2. MENGHINA ULAMA.
    Darah dagingnya ulama adalah racun, maka menghinanya sama saja makan racun. Kyai Ma’ruf bukan ulama biasa, tetapi beliau adalah “Al-Kubarâ’” (الكبراء), yakni ulama besar, sesepuh dan sangat dituakan oleh kaum muslimin di Indonesia. Para ustadz-ustadz muda saja kita hormati, apalagi beliau selaku Ulama Kubara’. Al-Hafidz Ibnu Asakir
    dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” berkata:
    ” واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ “.
    Artinya: “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama.
    Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”.
    3. MENGHINA ORANGTUA.
    Beliau adalah Syaikh al-Kabir dan telah berjasa banyak buat bangsa dan negara ini. Maka menghina beliau sungguh sama saja telah menghina Orangtua sendiri. Nabi Saw bersabda:
    لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
    Artinya: “Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang
    lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan memuliakan hak-hak orang alim (Ulama).”
    WARNING (PERINGATAN) Kepada segenap netizen mari bijak bermedia sosial dan bijak menelaah informasi. Telitilah setiap informasi yang datang dan jangan cepat percaya. Apalagi hanya berupa judul berita dan gambar-gambar editan. Kita harus menyadari bahwa hari ini ada gerombolan politik yang menghalalkan fitnah untuk menjatuhkan pihak lain.
    Mungkin bagi mereka ada istilah “Fitnah Syariah”. Bahkan sekali waktu mereka teriak “Bela Ulama”, namun disisi lain mereka “mencaci ulama yang lain”. Bagi mereka Para Ulama yang sejalan dengan gerbong politik mereka itulah yang dipuja-puja seperti “Malaikat”. Sebaliknya ulama yang tidak berada di gerbong yang sama akan terus dituduh
    Ulama Sû’ dan mereka sebarkan fitnah atasnya.
    Kelompok ini sewaktu-waktu tampak seperti bertuhan dan bahkan menjual nama “Tuhan” agar umat mau berpihak kepada mereka. Tapi kadang-kadang mereka seperti tidak bertuhan, karena menggunakan FITNAH demi tujuan politik. Kader-kader mereka getol menyebarkan fitnah itu dan mereka merasa bahwa itulah JIHAD.
    Seolah mereka lupa bahwa ada ALLAH yang selalu mengawasi kelakuan mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman: “FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN”.
    Percayalah bahwa kebenaran tidak akan pernah diperjuangkan dengan cara BATHIL.
    Kepada segenap “Santri”, Mari kita berjihad di media sosial untuk meluruskan semua fitnah atas ulama kita.
    Sesuai dengan pesan Mbah Yai (K.H. Ma’ruf Amin), Mari kita menginternasionalkan “BUDAYA SANTRI”. Kalau K-Pop saja bisa, SANTRI mengapa tidak. (abi sorban)