Penulis: Sorban Santri

  • NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA

    NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA

    InfokomBanserNU-

    1. Ketuhanan yang maha esa
    katakanlah : Dialah Allah yang maha Esa. (QS. Al-Ikhlas, [112] : 1)

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil.
    (QS. An-Nisa’, [4] :135)

    3. Persatuan Indonesia.
    dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa” dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal.
    (QS. Al-Hujarat, [49] :13)

    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebaijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
    Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dg musyawarah diantara mereka.
    (QS. As-Syuro, [42] : 38)

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
    (QS. An-Nahl, [16] : 90)

    (red.abi)

  • Doa minta keteguhan hati

    Doa minta keteguhan hati

    InfokomBanserNU- Setiap hamba pasti sangat butuh meminta keteguhan diatas islam kepada Allah.

    Kekokohan atau Keteguhan iman ini sangat dibutuhkan setiap Muslim dalam urusan dunianya, dibutuhkan pula di kubur dan Akhiratnya.
    Maka sering-seringlah kita senantiasa Berdzikir kepada Allah 

    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

    _Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik_

    Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

    (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad 6: 315 hasan)

    Yuuuk Rekan-rekanita perbanyak dzikir kita,
    Agar senantiasa iman kita terjaga dengan baik..

    Salam berjuta
    Belajar Berjuang Bertaqwa

    Team Media Pelajar
    PAC IPNU-IPPNU Kedungbanteng Kab. Banyumas.
    Alamat : Gedung MWC NU Kedungbanteng lantai 2 Jln raya Karangnangka kec Kedungbanteng

    #pelajarkedungbanteng
    #pacipnuippnukedungbanteng
    #dkaccbkkppkedungbanteng
    #pcipnuippnubanyumas

  • TURBA PC; ANSOR masa depan NU

    TURBA PC; ANSOR masa depan NU

    Infokom NU Mojokerto; Perjalanan TURBA PC GP ANSOR Kab.Mojokerto terus digalakkan di semua PAC,pada malam,hari Selasa tanggal 18 feb 2020 pukul 20.00 wib-selesai bertempat di kantor mwcNU Kec.Puri adalah TURBA PC yang ke-8 di PAC GP ANSOR Kec.Puri.

    SORBANSANTRI.COM
    Sambutan ketua PC GP ANSOR

    Seperti pada TURBA di PAC sebelumnya,di PAC Puri dihadiri oleh Ketua dan Sekertaris PC GP ANSOR Kab.Mojokerto,Kasatkorcab BANSER Kab.Mojokerto beserta jajaran dan lembaga PC lainya.

    SORBANSANTRI.COM
    Jajaran pengurus PC Kab.Mojokerto

    Dalam TURBA tersebut ketua PC GP ANSOR Kab.Mojokerto memberi sambutan mengenai; 1.Khullu Ansorrulloh=Ansor adalah agamanya ALLOH SWT. 2.Generasi ANSOR adalah Masa depan/penerus NU. 3.Barang siapa yang ikut dan memperjuangkan NU….Maka dia,istri-anaknya,keluarga dan sudara2 nya diakui jadi muridnya KH.Hasim Asy’ari.

    SORBANSANTRI.COM
    Jajaran ANSOR-BANSER PAC PURI

    Suatu kebanggaan kita semuanya dan keluarga kita apabila kita semuanya bisa dan siap ikut serta memperjuangkan amalan2 NU.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto Bersama

    Infokom PAC PURI

    By. Irul Infokom,19/02/2020

  • Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh Abdul Moqsith Ghazali

    wp.sorbansantri.com – Belakangan warga NU luar Jawa Timur sudah mulai tahu nama pencipta Shalawat Nahdhiyah, yang tak lain dan tak bukan adalah KH Hasan Abdul Wafi. Siapa KH Hasan Abdul Wafi? Mari saya jelaskan secara singkat. Ia lahir di Pamkesasan Madura tahun 1923 dan wafat di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur pada Rabu, 31 Juli 2000. Lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin ibn Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah ibn Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham.

    Berbagai sumber mengisahkan bahwa Kiai Hadu dan Kiai Ruham adalah saudara kandung. Dan kita tahu bahwa Kiai Ruham adalah kakek dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin ibn KH.R Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham (1841-1951). Dengan demikian, jika dirunut dari jalur ayah, maka KH. Hasan Abdul Wafi adalah sepupu KH. R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990).

    Namun, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah keponakan Kiai As’ad, karena ibunda Kiai Hasan (Nyai Lathifah) adalah anak dari Kiai Jamaluddin Ruham yang notabene kakak kandung KH.R Syamsul Arifin. Namun, Kiai Hasan Abdul Wafi dan enam kakaknya seperti KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo (1912-2012 M.) dan Kiai Masduqi Miftahul Arifin (ayahanda KH. Badri Masduqi Probolinggo [1942-2002]) lebih memilih memanggil paman pada Kiai As’ad dan bukan kakak.

    Singkatnya, jika melalui jalur ayahandanya, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah Bani Hadu, maka melalui jalur ibundanya, beliau adalah Bani Ruham.

    Wafat dan dikebumikan di Pesantren Nurul Jadid Paiton karena Kiai Hasan Abdul Wafi adalah menantu KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau menikah dengan Nyai Aisyah binti Zaini Mun’im. Bukan hanya menantu, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Kiai Zaini. Ini karena istri Kiai Ruham yang bernama Nyai Nur Sari adalah saudara kandung Kiai Mudarik/Kiai Mudrikah.

    Jika dibentangkan, maka silsilahnya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi ibn Nyai Lathifah binti Nyai Nur Sari binti Kiai Ismail. Sementara silsilah Kiai Zaini adalah Kiai Zaini ibn Kiai Abdul Mun’im ibn Kiai Mudarik ibn Kiai Ismail. Dengan demikian, nasab Kiai Hasan dan Kiai Zaini bertemu di Kiai Isma’il (keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pesantren Kembang Kuning Pamekasan tahun 1619 M.)

    Demikian nasab biologis Kiai Hasan Abdul Wafi yang terhubung dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Zaini Mun’im. Bagaimana nasab ilmunya?

    Sebagaimana Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im yang santri kelana, maka Kiai Hasan Abdul Wafi juga. Ia malang melintang dari satu pesantren ke pesantren lain. Pertama-tama tentu Kiai Hasan belajar pada orang tuanya. Setelah ayah dan ibunya wafat ketika beliau masih kecil, maka Kiai Hasan melanjutkan studi ke Pesantren Banyuanyar yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Madjid ibn Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat.

    Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi yang belajar di Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Satu tahun sebelum Kiai Hasan Abdul Wafi lahir (1923), tahun 1922 KH Zaini Mun’im mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan asuhan KH Abdul Hamid yang dibantu putranya, KH Abdul Madjid (wafat tahun 1958 M.). Hal yang sama juga dilakukan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Beliau juga berguru pada Kiai Abdul Hamid. B

    Bahkan, menurut penuturan KH Muhyiddin Abdushomad (Rais Syuriah PCNU Jember), Kiai As’ad sempat menjadi menantu Kiai Abdul Madjid saat beliau menikahi Nyai Tuhfah binti Kiai Abdul Madjid. Setelah menikah selama dua tahun, karena satu dan lain hal, mereka berpisah, pernikahan tak bisa dilanjutkan.

    Dengan demikian jelas, sekiranya Kiai Hasan Abdul Wafi belajar pada Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, maka Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im belajar pada ayahanda Kiai Abdul Madjid, yaitu Kiai Abdul Hamid.

    Beberapa naskah menyebutkan bahwa Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat wafat tahun 1931 di Mekah dan dikuburkan di Pekuburan Ma’la bersama kuburan para ulama, para Sahabat Nabi, dan Siti Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi Muhammad SAW). Dan sepeninggal Kiai Abdul Hamid, persisnya tahun 1943 Kiai Abdul Madjid mendirikan pesantren sendiri yang diberi nama “Pondok Pesantren Mambaul Ulum” Bata-Bata Pamekasan.

    Usai belajar di Banyuanyar Pamekasan Madura, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan studi ke sebuah pesantren di Sidoarjo asuhan KH Sahlan selama dua tahun dan selanjutnya ke PP Darul Ulum Paterongan Rejoso Jombang yang saat itu sedang diasuh KH Ramli Tamim (1888-1958 M.), ayahanda KH Mustain Ramli (1931-1985). Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi, putra KH Zaini Mun’im seperti KH Moh. Hasyim Zaini (1939-1984) dan KH Abdul Wahid Zaini (1942-2002) juga pernah belajar di Pesantren Paterongan Rejoso Jombang ini.

    Beda dengan dengan enam saudaranya yang lain yang hanya studi di pesantren-pesantren di Jawa Timur, mka Kiai Hasan Abdul Wafi menempuh pendidikan dengan lokasi paling jauh, yaitu Pondok Pesantren Krapyak Jogyakarta. Di pesantren yang kuat tradisi al-Qur’annya ini, Kiai Hasan mendapatkan suasana akademis baru yang beda dengan pesantren-pesantren sebelumnya yang bertitik tekan pada fikih dan tasawuf.

    Di Krapyak, Kiai Hasan melengkapi diri dengan ilmu-ilmu qiraat langsung dari induknya, Ahlul Qur’an. Namun, apakah ketika mondok di Krapyak, beliau sempat berjumpa Kiai Munawwir yang wafat tahun 1942? Walahhu’alam.

    Yang jelas, dari pengembaraan panjangnya mulai dari Banyuanyar hingga Krapyak, Kiai Hasan Abdul Wafi tak pulang ke Pamekasan lagi. Tahun 1956, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan belajarnya pada Kiai Zaini Mun’im yang saat itu merintis pendirian Pesantren Nurul Jadid. Bersama sang kakak, KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, Kiai Hasan Abdul Wafi ikut membantu pembangunan pesantren tersebut.

    Di Nurul Jadid, Kiai Hasan rupanya tak hanya mendapat ilmu melainkan juga istri. Tahun 1957, Kiai Hasan menikahi Nyai Aisyah Zaini Mun’im dengan dikaruniai 12 anak, salah satunya KH Kholilurrahman (mantan Bupati Pamekasan).

    Dalam berorganisasi, Kiai Hasan Abdul Wafi juga mengikuti langkah Kiai Zaini Mun’im; aktif di NU bukan di organisasi lain. Sebagaimana dikisahkan sebagian sumber, awalnya ketika NU keluar dari Masyumi tahun 1952, Kiai Zaini sempat bimbang antara bertahan di Masyumi dan hijrah ke Partai NU.

    Kebimbangan ini bisa dimaklumi. Di satu sisi, Kiai Abdul Madjid putra Kiai Abdul Hamid yang sekaligus guru Kiai Hasan Abdul Wafi tersebut mengajak Kiai Zaini untuk aktif di AKUI, organisasi yang berada di bawah payung Masyumi. Sementara di sini lain, Kiai Zaini masih memiliki keterikatan batin dan kontak perjuangan dengan para kiai alumni Pesantren Demangan Bangkalan asuhan Saikhuna Kholil Bangkalan dan Pesantren Tebuireng asuhan KH Hasyim Asy’ari yang sebagian besar memilih membesarkan Partai NU daripada yang lain.

    Berhari-hari dalam kebimbangan, Kiai Zaini Mu’im melakukan permenungan mendalam dan menjalani shalat istikhorah. Akhirnya, ditemukan jawaban langit bahwa dirinya mantap memilih NU sebagai media perjuangan dengan konsekuensi keluar dari Masyumi.

    Sejak itu, Kiai Zaini dan seluruh keluarga besar PP Nurul Jadid termasuk Kiai Hasan Abdul Wafi aktif ber-NU. Tak hanya menjadi warga NU biasa, Kiai Zaini pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Kraksaan Probolinggo. Dan mengikuti jalan hidup Kiai Zaini, Kiai Hasan Abdul Wafi juga pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Kraksaan.

    Putusan Munas NU tahun 1983 agar NU kembali ke khittah 1926 melegakan Kiai Hasan Abdul Wafi. Sejak itu, beliau tak melibatkan diri dalam carut-marut politik praktis. Kiai Hasan berkonsentrasi pada upaya menjadikan NU sebagai media dakwah untuk mengedukasi masyarakat.

    Beliau berkeliling dari desa ke desa untuk menyampaikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Semboyannya yang paling terkenal, masyarakat harus memiliki pengetahuan setara S2, yaitu Sullam Safinah.

    Tak hanya berdakwah ke kampung-kampung. Kiai Hasan Abdul Wafi juga rajin mengikuti aktivitas bahtsul masail NU, mulai dari tingkat PCNU hingga PWNU bahkan Munas dan Muktamar NU.

    Di beberapa diskusi dan bahtsul masail, Kiai Hasan Abdul Wafi berada dalam lingkaran diskusi panas dengan para kiai NU lain. Natijah-natijah hukum Islam yang disampaikan para nara sumber seminar dan perumus bahtsul masail kerap mendapatkan tantangan akademik cukup kuat dari KH Hasan Abdul Wafi.

    Dalam sebuah acara halaqah tentang hukum bunga bank yang diselenggarakan Ma’had Aly Situbondo Jawa Timur, Kiai Hasan Abdul Wafi misalnya terlibat dalam diskusi tajam dengan Prof. Dr. KH Sjechul Hadi Permono (1941-2010). Tarik tambang tambang pemikiran tak terhindarkan.

    Namun, alhamdulillah, diskusi yang sempat panas itu berhasilkan didinginkan oleh sang moderator piawai, KH Yusuf Muhammad Jember (1952-2004). Ya Allah, tiga kiai itu sekarang sudah tidak ada, dipanggil Allah. Allah rahimahum wa nawwara quburahum wa a’ada ‘alaina min barakatihim.

    Akhirnya, saya mengenang Kiai Hasan Abdul Wafi sebagai orang alim terutama di bidang fikih, teguh pendirian, dan memiliki komitmen ke-NU-an cukup kuat. Soal komitmen ke-NU-annya salah satunya tercermin melalui Shalawat Nahdhiyah-nya yang kini berkumandang di mana-mana.. (abi sorban)

  • Makam Kiai Asy’ari Keras Diwek Jombang

    Makam Kiai Asy’ari Keras Diwek Jombang

    SORBANSANTRI.COM

    Makam Ayahanda KH Hasyim Asy’ari di Keras di Diwek Jombang.

    Kiai Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras, yang terletak di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1876. Ayahanda KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pesantren Tebuireng, ini dikenal pula sebagai perintis tradisi keilmuan pesantren di daerah Jombang.
    Lahir di Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1830. Menurut informasi dari keluarga Pesantren Tebuireng, seperti ditulis KH. M. Ishom Hadziq, ayah beliau bernama Abdul Wahid bin Abdul Halim.

    Abdul Wahid adalah salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. Sejak muda Kiai Asy’ari nyantri di Pesantren Gedang, dekat Tambakberas, Jombang, sekitar dua kilometer dari pusat kota, dan berguru pada Kiai Usman. Pesantren Gedang didirikan oleh Kiai Abdus Salam atau dikenal dengan nama Kiai Shihah. Kiai asal Lasem, Rembang, ini bersama istrinya, Muslimah, membuka hutan di Gedang untuk mendirikan permukiman dan pesantren pada tahun 1825. Di antara santri beliau adalah Kiai Usman. Sufi dan ahli tarekat ini dinikahkan dengan putri sulung guru beliau bernama Nyai Layyinah. Keduanya kemudian dikarunia seorang putri sulung bernama Halimah (lahir 1851, disapa Winih).

    Tidak lama setelah Kiai Usman wafat, sekitar tahun 1855 Halimah – ketika itu baru menginjak usia empat tahun – dinikahkan dengan Kiai Asy’ari, santri senior Kiai Usman, yang berusia 25 tahun. Alasan pernikahan ini adalah untuk menyelamatkan garis keturunan pendiri pesantren yang akan menjadi pelanjut kepengasuhan pesantren usai wafatnya sang guru. Pasangan baru ini kemudian dikaruniai putra-putri: Nafiah, Ahmad Sholeh, Muhammad Hasyim (lahir 1871), Rodliah, Hasan, Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum, Nahrowi dan Adnan. Putra ketiga beliau ini yang kemudian terkenal sebagai pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama. Nyai Halimah dikenal suka melakoni tirakat dan praktik sufi lainnya – mengikuti jejak ayahnya.

    Beliau pernah berpuasa selama tiga tahun berturut-turut dengan niat tertentu. Puasa tahun pertama ditujukan untuk kebaikan keluarga, tahun kedua diniatkan untuk kebaikan santrinya. Dan puasa tahun ketiga dimaksudkan untuk kemaslahatan masyarakat. Konon, saking khusyuknya dalam bertirakat, suatu hari saat mencuci beras, beras tersebut berubah menjadi butir-butir emas!
    Kiai Asy’ari kemudian pindah bersama keluarganya ke Desa Keras dan mendirikan pesantren di sana sekitar tahun 1876. Sementara Pesantren Gedang berkembang menjadi Pesantren Tambakberas, Jombang, di bawah kepengasuhan saudara misan Kiai Asy’ari yaitu Kiai Said, yang kemudian menurunkan Kiai Chasbullah, ayahahanda KH. Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU.

    Waktu itu Kiai Hasyim masih kecil, dan baru diboyong dari tempat kelahirannya di Gedang. Di bawah asuhan Kiai Asy’ari Pesantren Keras mengandalkan ngaji kitab-kitab sorogan dan baru belakangan di abad 20 mulai dibuka madrasah. Kebanyakan yang mondok berasal dari Jawa Tengah, terutama dari Ambarawa dan Salatiga. Sementara yang berasal dari Jombang lebih banyak menjadi santri kalong. Untuk sampai di pesantren ini, dari Surabaya kita naik bis jurusan Kediri, lalu turun di Desa Kwaron. Setelah itu naik becak ke arah barat, sekitar satu kilometer, maka sampailah ke alamat yang dituju.

    Para santri tidak tinggal di pondok, tapi ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Ini dimaksudkan agar dakwah Islam bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Memang tidak terlihat pemondokan besar, di pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari digembleng pertama kali oleh ayahnya sebelum mengembara berguru menuntut ilmu di beberapa pesantren.

    Kiai Asy’ari wafat sekitar tahun 1890 dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Keras. Ketika putra ketiga beliau, KH. Hasyim Asy’ari, menikah di tahun 1892 dengan Nyai Nafisah, putri KH. Ya’qub bin Hamdani, pengasuh Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Kiai Asy’ari sudah tiada. Pesantren Keras kemudian dikelola masing-masing oleh putra beliau, KH. Saleh, dan menantu beliau, KH. Alwi, yang dikenal ahli bela diri dan kanuragan.

    Di tahun 1930-an, pesantren kemudian diasuh oleh KH. Basuni, lalu KH. Salahuddin (di masa itu tidak ada lagi yang mondok di tahun 1970-an), kemudian KH. Ahmad Labib di tahun 1990-an. Meski tidak sebesar Pesantren Tebuireng, Pesantren Keras mulai membuka madrasah dan berganti nama menjadi Pesantren Al-Asy’ari keras

    Sumber : Khusnul Irfan Fauzi

  • ALHAMDULILLAH KIAI NAHDHATUL ULAMA’ BIKIN ULAH LAGI

    ALHAMDULILLAH KIAI NAHDHATUL ULAMA’ BIKIN ULAH LAGI

    SORBANSANTRI.COM

    Alhamdulillah! Kiai NU Meluruskan Khalid Basalamah yang Tidak Paham Dalil Tabarruk

    Beredarnya video bikinan tim “da’wah” Ustadz Khalid Basalamah benar-benar sangat berhasil membuat saya -wong ndeso ini- merangkai tulisan-tulisan yang saya dedikasikan buat tim beliau agar dibaca.

    Bukan karena saya lebih bisa, karena ternyata Ustadz Khalid lebih terkenal daripada saya.

    Bukan karena saya banyak tahu, tapi karena saya ingin meluruskan orang-orang yang sok tahu.

    Terlebih dalam video itu ada sosok Kiai yang kami -para santri- sangat kagumi dan sangat hormati. KH. Maimun Zubair. Juga sosok santri dan situasi pesantren.

    Baik Tim Ustadz Khalid,

    Ketika santri berebut mencium tangan Kiai, mereka berharap berkah dari beliau. Apakah itu salah? Sama sekali tidak. At-Tabarruk atau berharap berkah artinya : berharap tambah dan berlipatnya nilai ibadah. Bertabarruk bukan menyembah. Tolong Pahami itu.

    Dalam Al Qur’an, konsep tabarruk telah ada, seperti tertuang dalam Surat Al Baqoroh ayat 125 :

    وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

    “Kenapa sholat di Maqam Ibrahim?” Ini ada unsur tabarruk.

    Begitu juga dalam Surat Yusuf ayat 93 dan 96:

    اذْهَبُواْ بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا
    فَلَمَّا أَن جَاء الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا

    “Kenapa baju Nabi Yusuf yang dijadikan sebagai pelantara kesembuhan Mata Nabi Ya’qub?” Ini juga Tabarruk.

    Dalam Hadits Rasulullah Riwayat Muslim (1305) konsep tabarruk tertuang ketika Rasulullah membiarkan rambut mulianya dimiliki oleh para sahabat.

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَى مِنًى فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى وَنَحَرَ ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ « خُذْ ». وَأَشَارَ إِلَى جَانِبِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ.

    “Kenapa Rasulullah membiarkan rambut beliau dibagi-bagikan kepada para sahabat?” Karena Beliau meridloi tabarruk.

    Kenapa ketika perang Yarmuk, Kholid bingung mencari pecinya padahal bisa saja ia memakai peci yang lain atau peci apa saja? Karena dalam pecinya ada rambut Rasulullah yang beliau cukur saat berumroh, dan tidak ada satupun peperangan yang ia hadiri dengan memakai peci itu kecuali Allah memberikan kemenangan kepada umat islam. Inilah tabarruk.

    Ada sebuah sumur di Madinah yang bernama sumur Bidla’ah. Nabi pernah meludahi air dalam sumur ini, sehingga setiap melewati sumur ini, Muslimin hampir pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meminum airnya. Tabarruk juga ini namanya.

    (Majma’ Az Zawa’id Wa Manba’ Al Fawa’id, Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Haitsamy)

    Belum lagi riwayat Imam Bukhari tentang bagaimana para sahabat ketika tangannya berhasil menangkap dahak Rasulullah, ia mengusapkan keseluruh tubuhnya. Ketika Rasulullah berwudlu, para sahabat hampir seperti akan berperang hanya karena berebut sisa air wudlu Beliau. Semua itu dalam konsep Tabarruk bukan?

    Mungkin kalian akan berkata : “Ah, itukan kepada Rasulullah. Kalau selain Rasulullah beda dong? gak boleh dong?

    Oke, coba perhatikan yang berikut :

    Seorang Abdurrahman bin Razin (Tabi’in) bergegas mencium tangan Sahabat Salamah bin Akwa’ berharap keberkahan dari tangan yang pernah bersentuhan dengan Rasulullah.

    Begitu pula alasan Tsabit Al-Bunani (Tabi’in), ketika ia mencium tangan Sahabat Anas bin Malik setelah bertanya : “Apakah engkau menyentuh Rasulullah dengan tangan ini?” dan Sahabat Anas menjawab : “Ya”.

    Abu Aliyah, seorang ulama Salaf, mencium dan mengusap-usapkan apel pemberian sahabat Anas karena menganggap apel itu telah dipegang oleh tangan yang pernah menyentuh Rasulullah. Semua dengan alasan tabarruk lho.

    Kalian akan membantah lagi : “Loh, itu kan masih ada hubungannya dengan Rasulullah. Pasti beda dong kalau tanpa ada hubungannya dengan beliau”

    Eits, jangan ambil kesimpulan terburu-buru dong, emang terbiasa begitu kalian ya…. Perhatikan yang berikut ini dulu : Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah pernah mencium tangan dan kedua kaki pamannya Sahabat Abbas. Ketika bertemu, Imam Muslim mencium wajah gurunya -Imam Bukhari- diantara kedua mata beliau, lalu meminta restu agar beliau dapat mencium kedua kaki gurunya itu.

    Apa alasannya? tabarruk.

    Bahkan, Rasulullah pernah bertabarruk kepada kaum muslimin. Dalam sebuah kitab yang bernama Al Jami’ As Shoghir Wa Ziyadatih (Al Fath Al Kabir) yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani (pasti kalian kenal dong beliau itu siapa) tertulis sebagai berikut :

    “كان يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه , يرجو بركة أيدي المسلمين”

    Bahwa Rasulullah meminum air dari tempat bersucinya para muslimin seraya berharap keberkahan mereka.

    Disebuah kesempatan Rasulullah jelas tidak suka para sahabat mengambil air dari sumur Kaum Tsamud lalu memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang pernah diminum airnya oleh unta Nabi Sholeh. Hal ini tertuang dalam Hadits berikut :

    عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْحِجْرِ أَرْضِ ثَمُودَ فَاسْتَقَوْا مِنْ آبَارِهَا وَعَجَنُوا بِهِ الْعَجِينَ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا وَيَعْلِفُوا الإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنَ الْبِئْرِ الَّتِى كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ.

    Jadi, saudaraku sesama muslim, khusus teruntuk “tim da’wah Ustadz Khalid yang terhormat”.

    Bertabarruk itu boleh kok, bertabarruk itu dianjurkan kok. Jadi kalau kalian tidak menemukan referensi tentang itu, please deh, jangan terus kalian anggap amaliah kami salah, syirik dan lain sebagainya. Kami lo memaklumi kalau kalian begitu dibatasi dengan literasi dan pemahaman yang mudah dan instan tanpa penggalian lebih dalam ala santri, karena kalian tidak akan mampu seperti santri yang mau mengenyam pendidikan lebih lama guna bertafaqquh fid diin.

    Oh iya, ada ya kopi sampai bernilai jual tinggi karena ada unsur tabarruk? Kalau ada, emang kalian gak setuju ya?

    Lalu, Kenapa ya, di Negeri Wahabi ada sebuah gedung mewah dan megah yang didedikasikan untuk Syekh Utsaimin dan bahkan menganggap “keramat” pena yang terakhir beliau pakai sebelum beliau meninggal lalu menyimpannya dengan sistem keamanan tinggi bak menyimpan berlian bernilai triliunan rupiah?

    Hm, sudahlah, emang kalian begitu sih.

    Ada satu lagi, pesan Ustadz Khalid Basalamah agar tidak meminum air sisa minumannya dan tidak mencium tangannya ketika bertemu, dengan senang hati akan kami jalankan. Karena, kriteria orang-orang yang pantas dicium tangannya dan diminum air sisa minumannya -sangat kebetulan- tidak terdapat pada diri beliau. Jadi jangan khawatir, tanpa dimintapun, kami tak akan melakukannya.

    Wallahu A’lamu Bis Showab.

    H. Abdul Aziz. AR, Anggota Team Kiswah Aswaja NU Center PCNU Bangil

    Sumber: https://bangkitmedia.com/kiai-nu-meluruskan-khalid-basalamah-yang-tidak-paham-dalil-tabarruk/

    (InfokomBanserNu)

  • Saya NU,Tapi NU nya Mbah Hasyim.,

    COPAS

    Hu – Ada warga NU yang suka membanggakan sebelah dengan terus menghujat kiai NU dan segala kebijakan para kiai besar di pengurus. Ia kemudian mengaku tidak bangga lagi dengan NU karena NU kini tidak sama lagi dengan NU zaman Mbah Hasyim Asyari. Beikut ini penjelasan strategi dakwah NU yang ditulis dalam bentuk dialog.

    “Aku malu jadi warga NU sekarang”.

    “Kenapa memangnya?”

    “NU sekarang tidak kayak NU zaman Mbah Hasyim dulu, sekarang NU disusupi Syiah, liberal, komunis bahkan sangat dekat dengan non muslim. Kalau Zamannya Mbah Hasyim kan masih murni, lurus, tidak disusupi macam-macam”.

    “Emang kamu pernah hidup dan merasakan NU di masa Mbah Hasyim?”

    “Nggak juga sih”.

    “Makanya jangan sok tahu dan termakan fitnah dan isu tidak benar”.

    “Kamu tahu kan Jepang itu penjajah yang menyembah matahari?”

    “Kalau itu tahu lah, kan banyak di tulis di buku sejarah”.

    “Kamu tahu nggak, NU nya Mbah Hasyim itu malah menginstruksikan santri-santri untuk latihan militer dengan Jepang. Bahkan Mbah Hasyim jadi Ketua Shumubu atau menteri agamanya Jepang. Padahal kan Jepang kafir, penjajah lagi. Dan ternyata NU nya Mbah Hasyim bisa kok bersikap kooperatif dengan Jepang”.

    “Masa Sih?”

    “Iya, Dan kamu tahu nggak kalau Mbah Wahab Hasbullah itu pernah dicap Kiai Komunis loh karena bersikap kooperatif dengan Bung Karno dalam Nasakom nya (berbeda dengan Masyumi yang memilih keluar)”.

    “Masa sih?”

    “Iya, itulah siyasah, strategi dakwah, lihatlah dampaknya, dengan kooperatif kepada Jepang akhirnya bangsa Indonesia dapat bertempur dengan baik dan akhirnya merdeka. Dengan kooperatif kepada Bung Karno yang dekat komunis akhirnya umat Islam terselamatkan dari bahaya komunis bahkan atas saran NU, akhirnya Bung Karno tidak jadi Membubarkan HMI”.

    “Gitu ya?”

    “Jadi NU Mbah Hasyim dan NU sekarang itu tetap sama, membela Islam dan Indonesia, bukan salah satunya, Islam saja atau Indonesia saja, Karena kalau membela salah satunya akan bisa memunculkan perang antar anak bangsa yang akhirnya ibadah jadi tidak nyaman dan selalui dihantui ketakutan”.

    “Oo gitu ya? Kalau begitu aku tidak malu lagi jadi NU, aku akan Bangga jadi NU”.

    “Makanya jangan percaya isu, fitnah atau hoax yang menjelekkan NU, belum apa-apa sudah nuduh macem-macem pada NU sekarang, kita nggak tahu yang sebenarnya, kita hanya tahu dari berita, medsos yang belum tentu benarnya, sebaiknya kita Husnudzon saja kepada penggede NU”.

    “Karena strategi NU ini mirip dengan strategi Nabi dalam berdakwah, kapan-kapan saja saya kasih tahu, sekarang ayo kerja, wes wayahe tandur”. Salam. Sorbansantri

  • KHILAFAH PROYEK GAGAL BUZZERS HTI

    KHILAFAH PROYEK GAGAL BUZZERS HTI

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – 10 tahun lalu terjadi demonstrasi besar-besaran di Kairo Mesir berhasil menurunkan Husni Mubarak dari kursi kepresidenan setelah ia menjadi presiden selama 30 tahun. Demo besar-besaran di Arab kala itu menjadi fenomena yang disebut dengan Arab Spring.
    Saya menonton di televisi berita-berita demonstrasi tresebut dari pesantren At-Taqwa Tanjung Pandan Belitung. Rumor yang berkembang, demonstrasi diorganisir dan diikuti oleh kelompok kiri dan Ikhwanul Muslimin. Hizbut Tahrir tidak tampak. Hanya ada foto orang sejumlah hitungan jari tangan yang membawa bendera Hizbut Tahrir di tengah lautan manusia.
    Awal 2011 saya masih tercatat sebagai anggota Hizbut Tahrir. Dalam benak saya, seharusnya, demo-demo besar tersebut diorganisir oleh Hizbut Tahrir Mesir dan lautan manusia di sana adalah para pendukung dan anggota Hizbut Tahrir. Karena Hizbut Tahrir masuk Mesir dibawa langsung oleh pendirinya Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1950-an, sehingga massanya sudah banyak dan cukup untuk menggoyang kursi Presiden Mesir.
    Selama ini, kami diopinikan bahwa Hizbut Tahrir di Arab itu besar. Pendukung dan anggotanya banyak. Para pengurusnya sangat solid. Akan tetapi Hizbut Tahrir tidak dapat menunjukkan kebesarannya karena tekanan penguasa. Hizbut Tahrir tidak eksis di Arab bukan karena ajaran, doktrin, ide dan metode Hizbut Tahrir yang salah. Jadi, di Arab Hizbut Tahrir tidak ada masalah dengan pemikiran, tetapi politik penguasalah yang membuat mereka terlihat kecil.
    Fakta Arab Spiring membuka mata saya, bahwa sebenarnya Hizbut Tahrir di Arab memang ditolak karena pemikirannya, bukan karena tekanan penguasa. Di Arab berdiri kokoh kampus-kampus tua (yang telah melahirkan ratusan ribu ulama tersohor kelas dunia yang diakui kealiman, kejujuran dan ke-zuhud-annya. Tapi, mereka tidak menjadi pendukung dan anggota Hizbut Tahrir. Bahkan menjadi penentangnya. Sangat sulit jika mau dikatakan mereka menentang kebenaran dan penolak syariat Allah swt.
    Fakta yang sama juga terjadi di Indonesia. Di Indonesia, selama 23 tahun (1998 – 2021), Hizbut Tahrir leluasa menyebarkan paham di dunia maya dengan menggunakan berbagai macam nama website, blog dan akun media sosial. Aktivis HTI semuanya menjadi buzzers khilafah. Mereka aktif membagikan konten di media sosial yang merupakan ruang publik utama di era sekarang.
    Perilaku buzzers khilafah umumnya hanya mem-posting. Enggan menanggapi komentar, bantahan, kritik dan sanggahan netizen. Apalagi diajak adu argumen. Mereka menanggapinya dengan menyerang balik netizen, mengalihkan topik atau mem-posting konten baru, yang pada intinya mereka menghindar. Mengapa demikian? Karena konten yang disebarkan oleh buzzers khilafah bermuatan dis- dan mis-informasi.
    Ada tujuh dis- dan mis-informasi:
    1. Satire, yaitu, tidak ada niat untuk mengelabui tapi berpotensi merugikan.
    2. Konten yang menyesatkan, yaitu, penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu.
    3. Konten tiruan, yaitu, ketika sebuah sumber ditiru.
    4. Konten palsu, yaitu, ketika informasi 100% salah didesain untuk menipu.
    5. Koneksi yang salah, yaitu, ketika judul atau gambar tidak sesuai dengan konten.
    6. Konten yang salah, yaitu, ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah.
    7. Konten yang dimanipulasi, yaitu, ketika gambar atau konten yang salah dimanipulasi untuk menipu. (MY. Alimi, 2018: 82).
    Mudah sekali bagi netizen mendeteksi dis- dan mis-informasi dari konten yang disebarkan oleh buzzers khilafah. Media sosial adalah ruang publik paling demokratis, independen dan netral saat ini. One man one voice. Setiap orang boleh menyatakan dan menyampaikan tentang dirinya ke orang lain tanpa batas selain batas moral dan hukum. Tidak ada batasan bagi nalar netizen, selain nalar netizen lain yang lebih akurat. Di media sosial nalar publik menjadi “hakim” yang imparsial.
    Ide khilafah yang diviralkan oleh buzzers HTI ditolak publik karena ide tersebut tidak akurat. Hujjah-nya lemah. Nalar publik sulit menerima khilafah sebagai solusi semua problematika umat manusia. Penolakan publik atas ide khilafah, bukan karena dibayar dan atas tekanan penguasa. Penolakan itu murni dari akal sehat netizen. Tidak saja di Indonesia, tetapi juga di Arab dan seluruh dunia. (abi sorban)
  • Karomah Habib Umar bin Hafidz Lolos Dari Kepungan Lawan

    Karomah Habib Umar bin Hafidz Lolos Dari Kepungan Lawan

     

    InfokomBanserNU- بسم الله الرحمن الرحيم Beliau Alhabib Quraisy Baharun adalah saudara dan teman sepondok Al Habib Husin Abu Bakar Ba’abud (Ro-Sho), dan menantu Al habib Musthofa bin Muhammad bin Thohir Ba’abud, Kediri. Selain aktif dalam berdakwah, mengasuh santri, memimpin Majelis, ternyata beliau juga ahli dalam harkah atau ilmu bela diri. Ada kisah menarik tentang beliau, ketika masih belajar di “Daarul Musthofa” asuhan Al Habib Umar bin Hafidz.

    Alkisah Suatu ketika guru beliau, yaitu Al Habib Umar bin hafidz diundang dalam sebuah acara “seminar” atau yang semisal sebagai nara sumber, untuk menyampaikan hujjah atau penjelasan terkait dengan amaliyah amaliyah Ahlussunnah wal jamaah, yang sering disebut oleh kelompok tertentu sebagai sebuah ajaran yang tidak ada tuntunan sunnah.

    Acara seminar dilaksanakan di dalam gedung tertutup dan jauh dari pantauan umum. Sebuah insiden (“sabotase” mungkin) terjadi di tengah tengah acara. Tiba tiba listrik padam, dan dalam suasana gelap gulita ini Al habib Umarpun tiba tiba diserang oleh para peserta seminar, yang mayoritas adalah kaum yang kurang sefaham dengan beliau. Beliau dipukul, di tendang, entahlah apa yang sedang bisa anda bayangkan, “na’uudzubillah…., na’uudzubillah”.

    Dan kabar inipun langsung terdengar oleh santri santri Darul Musthofa. Maka tanpa pikir panjang berangkatlah dua jawara pondok menuju lokasi, yaitu Alhabib Quraisy Baharun, Cirebon dan Al Habib Sholeh Al Jufri, Solo. Begitu sampai lokasi, beliau berdua nampak marah besar dan tidak sabar untuk masuk kedalam gedung, dimana guru mulia Al Habib Umar bin Hafifz sedang dalam bahaya. Alhabib Quraisy tidak berfikir untuk lapor Polisi, atau mengajak pasukan dari teman teman pondok, beliau justru berangkat sendiri dengan Al Habib Sholeh Al Jufri saja.

    Sebelum bisa menembus masuk kedalam gedung yang tertutup itu, beliau bertanya kepada seseorang (mungkin kepada supir dari Al Habib Umar) : “Apa benar, ada insiden, bahwa guru kita sekarang sedang dalam bahaya begini…., begitu….. di dalam sana…?” Dia menjawab : “Ya, benar, tadi guru kita menyampaikan materi ini itu, lalu tiba tiba ada suara seperti perdebatan hebat, lalu listrik padam, lalu para hadirin ramai ramai menghajar guru kita, dan insiden itupun masih berlangsung sampai sekarang”.

    Alhabib Quraisy : “Lalu, bagaimana keadaan guru kita…?”

    Dijawab : “Itu…., guru kita baik baik saja, tidak merasa disentuh oleh siapapun, beliau sedang istirahat, nyantai dalam mobil, dan entahlah…. siapa yang saat ini sedang dihajar, dipukuli didalam sana….”.

    Aku teringat ayat 157 surat An-nissa :

    ﻭَﻣَﺎ ﻗَﺘَﻠُﻮﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﺻَﻠَﺒُﻮﻩُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺷُﺒِّﻪَ ﻟَﻬُﻢْ .

    Subhaanallah…..

    (Kalam Ulama)

  • Menjadi NU itu Berat

    Menjadi NU itu Berat

    SORBANSANTRI.COM

    Berat karena harus bisa meredam fitnah, hujatan dan caci maki.

    Dari zaman Mbah Hasyim Asy’ari sampai Zaman Mbah Yai Said Aqil, terpaan anginnya setap semakin sencang dan pohonnyapun tetap semakin tinggi.

    Apa yang aneh di NU ?
    Ya..Banyak, termasuk para Kiyainya yang stylenya suka guyon dan aneh bin nyeleneh.
    Dan bagi warga Nahdliyyin tulen itu hal yang biasa saja. Tapi tidak untuk warga yang bukan NU apalagi mengaku-ngaku NU.

    Jadi, jangan heran kalau ada orang mengaku NU tetapi membenci para Kiyai NU, apalagi tidak mengakui institusi NU. Bisa dipastikan orang ini tak memahami NU. Kalaupun ada segolongan yang menggariskan NU dengan mistarnya, bisa dipastikan mereka adalah kelompok barisan sakit hati.

    Bagi warga Nahdliyyin ikut apa kata Kiyai adalah prinsip dan melanggar prinsip adalah kuwalat.

    Orang yang tak faham bisa bicara fanatik buta. Tapi kebutaan adalah fakta dan senjata ditengah gempuran faham-faham baru yang datang bermunculan merongrong kedamaian Negara. Diantaranya adalah faham radikal dan intoleran.

    Disini penulis bicara ngawur.
    Tetapi mencoba bicara jujur atas apa yang diucapkan Mbah Gus Dur, tahun 2005.

    Dawuh Mbah Gus Dur : Anak muda NU akan bangkit 10 tahun lagi. Kita akan panen. Mereka akan kalah dengan anak muda kita”

    Maka kejujuran adalah milik Mbah Gus Dur.
    Dan hati yang jujur adalah yang mau menerima keberadaan Mbah Gus Dur

    Salam Pecinta Mbah Gus Dur, Sakinah