Penulis: Sorban Santri

  • PEMBERONTAK TETAPLAH PEMBERONTAK WALAU BERTOPENG AGAMA

    PEMBERONTAK TETAPLAH PEMBERONTAK WALAU BERTOPENG AGAMA

    SORBANSANTRI.COM

    Sorbansantri.com – Siapa di antara kamu yang berani mendebat dan menyalahkan Sayyidina Ali dengan ayat:

    ومن يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم

    “Barangsiapa membunuh orang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka Jahanam”

    Apakah kamu berani berkata “Ali telah membunuh orang mukmin, Ali pasti masuk neraka Jahanam!” ?
    Kalau kamu berani, maka kamu memiliki pola pikir khawarij.

    Kenapa Sayyidina Ali dan pasukannya tetap menggempur pasukan Khawarij meskipun mereka muslim, bersyahadat, rajin sholat, rajin puasa, bahkan hafal Al Qur’an?

    Jawabannya:
    Karena mereka adalah para pemberontak yang mengancam keamanan negara, mengancam keselamatan nyawa pasukan Sayyidina Ali, bahkan jauh dari itu, mereka adalah ancaman serius yang jika tidak dihentikan akan mengancam keamanan rakyat dan Negara

    Bagaimana pun…

    Kejahatan tetaplah kejahatan meskipun benderanya bertuliskan nama Tuhan.

    Pemberontakan tetaplah pemberontakan meskipun bertopengkan agama. (kang Mas Yus)

  • Sowan dan Mencium Tangan Kiai

    Sowan dan Mencium Tangan Kiai

    Sowan adalah tradisi santri berkunjung kepada kyai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan yang diajukannya, atau mengharapkan doa dari kyai atau sekedar bertatap muka silaturrhim saja. Seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah saw bahwa bersilaturrahim dapat menjadikan umur dan rezeki bertambah panjang. Sowan dapat dilakukan oleh santri secara individu atau bersama-sama. Bisanya seorang kiai akan menerima para tamu dengan lapang dada. Bagi wali santri yang hendak menitipkan anaknya di pesantren, sowan kepada kiai sangat penting. Karena dalam kesempatan ini ia akan memasrahkan anaknya untuk dididik di pesantren oleh sang kiai . Begitu pula dengan calon santri, inilah kali pertama ia melihat wajah kiainya yang akan menjadi panutan sepanjang hidupnya. Sowan tidak hanya dilakukan oleh santri yang masih belajar di pesantren. Banyak santri yang telah hidup bermasyarakat dan berkeluarga mengunjungi kiainya hanya sekedar ingin bersalaman semata. Atau sengaja datang membawa permasalahan yang hendak ditanyakan kepada kiai tentang berbagai masalah yang dihadapinya.
    Hal ini menjadikan bahwa hubungan kiai santri tidak pernah mengenal kata putus. Kiai tetap menjadi guru dan santri tetap menjadi murid. Dalam dunia pesantren istilah alumni hanya menunjuk pada batasan waktu formal belaka, dimana seorang santri pernah belajar di sebuah pesantren tertentu. Tidak termasuk di dalamnya hubungan guru-murid. Meskipun telah manjadi alumni pesantren A, seseorang akan tetap menjadi santri atau murid kiai A. Di beberapa daerah tradisi sowan memiliki momentumnya ketika Idul Fitri tiba. Biasanya, seorang kiai sengaja mempersiapkan diri menerima banyak tamu yang sowan kepadanya. Mereka yang sowan tidaklah sebatas para santri yang pernah berguru kepadanya, namun juga masyarakat, tetangga dan bahkan para pejabat tidak pernah berguru langsung kepadanya. Mereka datang dengan harapan mendapatkan berkah dari kealiman seorang kiai . Karena barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi, pasti akan tertular semerbaknya bau wangi. Pada bulan Syawal seperti ini, sowan kepada kiai merupakan sesuatu yang utama bagi kalangan santri. Hampir sama pentingnya dengan mudik untuk berjumpa keluarga dan kedua orang tua. Pantas saja, karena kiai bagi santri adalah guru sekaligus berlaku sebagai orang tua. Oleh karena itu sering kali mereka yang kembali pulang dari perantauan menjadikan sowan kepada kiai sebagai alasan penting mudik di hari lebaran. Bagi santri yang telah jauh berkelana mengarungi kehidupan, kembali ke pesantren dan mencium tangan kiai merupakan ‘isi ulang energi’ recharger untuk menghadapi perjalanan hidup ke depan. Seolah setelah mencium tangan kiai dan bermuwajjahah dengannya semua permasalahan di depan pasti akan teratasi. Semua itu berlaku berkat doa orang tua dan kiai . Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Imam Nawawi sebagai mana dinukil oleh Ibn Hajar al-Asqolani dalam Fathul Bari قالَ الاِمَامْ النَّوَاوِيْ : تقبِيْلُ يَدِ الرَّجُلِ ِلزُهْدِهِ وَصَلاَحِهِ وَعِلْمِهِ اَوْ شرَفِهِ اَوْ نَحْوِ ذالِكَ مِنَ اْلاُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ لاَ يُكْرَهُ بَل يُسْتَحَبُّ.

    Artinya : Imam Nawawi berkata : mencium tangan seseorang karena zuhudnya, kebaikannya, ilmunya, atau karena kedudukannya dalam agama adalah perbuatan yang tidak dimakruhkan, bahkan hal yang demikian itu disunahkan. Demikianlah tradisi sowan ini berlangsung hingga sekarang. Para santri meyakini benar bahwa seorang kiai yang alim dan zuhud jauh lebih dekat kepada Allah swt dibandingkan manusia pada umumnya. Karena itulah para santri sangat mengharapkan do’a dari para kyai. Karena doa itu niilainya lebih dari segudang harta. Inilah yang oleh orang awam banyak diistilahkan dengan tabarrukan, mengharapkan berkah dari do’a kyai yang mustajab karena kezuhudannya, kewiraiannya dan kealimannya. Dengan demikian optimisme dalam menghadapi kehidupan dengan berbagai macam permasalahannya merupakan nilai positif yang tersimpan di balik tradisi sowan. Sowan model inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim). عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ مَا لَهُ مَا لَهُ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَبٌ مَا لَهُ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ ” .رواه البخاري .

    Dari Abu Ayyub Al-Anshori r.a bahwa ada seorang berkata kepada Nabi saw., “Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, “Ada apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah saw. Berkata, “Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan bersilaturahimlah.” (Bukhari). Artinya hanya silaturrahim yang bernilai positiflah yang akan diganjar oleh Allah sebagaimana dijanjikan Rasulullah dalam kedua haditsnya. Bukan silaturrahim yang bernilai negatif yaitu silaturrahim yang melanggar aturan syariat Islam.
    Sumber: islam NU

  • JADI BANSER ITU TIDAK MUDAH KARENA AKAN BANYAK TANTANGAN DIDALAMNYA

    JADI BANSER ITU TIDAK MUDAH KARENA AKAN BANYAK TANTANGAN DIDALAMNYA

    Infokom Banser NU – ” Memahami dan mengamalkan makna sabar, ikhlas dan tulus itu mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan karena butuh kesungguhan niat yg tinggi untuk itu

    Habib Luthfi bin Yahya merasa cinta kepada Banser sekalipun jika surga diberikan untuk beliau namun beliau tdk akan ambil bagian itu sebelum Banser dulu yang akan memasukinya

    Banser merasa tulus apa yg dia perbuat untuk ulamanya karena petuah para ulama NU kian tertanam dalam hatinya

    Habib Umar bin hafidz melihat ada banyak ulama NU yang berkelas wali namun tantangan itu sangat besar pada NU

    Habib Ali Al-Jufri melihat sosok Banser adalah manusia yg sudah mampu berjihad dijalan Allah sampai didalam rasa lelah dan harus kurang tidur demi menjaga ulama dan negara, bahkan habib Ali Al-jufri mengungkapkan bahwa tauhid itu penting tapi adalah jauh lebih penting bahwa menjaga keamanan adalah diatas tauhid itu sendiri

    Syekh Fadhil mengungkapkan bahwa hanya di Indonesia ulama itu dijaga oleh Banser, karena dinegaranya banyak bom terjadi karena tidak ada keamanan

    Banyak para habaib di Indonesia bahkan dinegara luar merasa kagum terhadap banser, terlebih terhadap NU !! “

  • Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : Gus Nadirsyah Hosen
    wp.sorbansantri.com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.
    Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.
    Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:
    ‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق
    Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”
    Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.
    Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:
    Versi pertama;
    Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”
    Versi kedua:
    Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.
    Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”
    Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.
    Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.
    Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.
    Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.
    Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.
    Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.
    Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.
    Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.
    Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i. (kang jay)
    Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 
  • PENYUSUP ASWAJA NU BERHARAP DULANG SIMPATI WARGA NU

    PENYUSUP ASWAJA NU BERHARAP DULANG SIMPATI WARGA NU

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Logika 6 orang disebut syuhada itu hanya bisa masuk kedalam pikiran orang yang selama 6 tahun (2014-2020) menganggap ada presiden keturunan PKI, dzalim, anti Islam, anti ulama, mengkriminalisasi ulama.

    Logika yang mereka bangun (sebenarnya tidak pakai nalar sih) melawan Firaunnya Indonesia (Jokowi) itu adalah jihad. Karena dalam benak mereka Jokowi lebih lalim dari Firaun (tulisan Felix kan begitu).

     

    Dan orang-orang yang wafat ini jadi modal sosial untuk meningkatkan soliditas kelompok mereka. Mereka berhasil mengumpulkan sumbangan miliaran rupiah untuk 6 keluarga yang wafat.

     

    Masjid-masjid basis mereka juga memasang baliho, dengan narasi 6 syuhada. Wahabi Jawa yang melakukan wahabisasi melalui budaya Jawa (seperti di masjid Jogja itu) dengan peristiwa tol km 50 itu tidak bisa menyembunyikan lagi identitasnya.

     

    Kalau masjid secara kolektif menyebut 6 orang yang membantu kabur dari panggilan polisi disebut jihad, maka secara jelas dan terang mereka radikal dan secara diam-diam mendukung bentuk terorisme ekstrim. Coba cek pengurus masjidnya pernah gak mengecam aksi terorisme di tanah air? Saya pastikan tidak pernah.

     

    Melalui kontestasi perebutan jamaah dengan cara wahabisasi ala budaya Jawa (wayang, Walisongo, sejarah Indonesia) dan dakwah Habib muda dikalangan warga NU lalu setelah masanya banyak berteriak lantang mendukung perjuangan HR, yang jadi korban warga NU.

     

    Kultur Nahdliyin secara halus dihabisi Wahabi baik Wahabi konvensional ataupun Wahabi Jawa dan dihabisi perlahan oleh Habib-Habib muda, yang terakhir ini karena kesamaan akidah, madzhab fikih lebih mudah diterima, dan tanpa sadar tiba-tiba warga NU ini jadi pendukung model Islam seperti HR; anti pemerintah dengan modal slogan ” NKRI Bersyariah”, padahal agenda sebenarnya penguasaan politik negara.

     

    Wahabisasi ala Jawa itu misalnya ngotot ada keterlibatan janisari Turki Usmani dalam perang Jawa yang dikobarkan Pangeran diPonegoro.

     

    Dari dulu saya lebih muak pada Wahabi seperti ini daripada Wahabi konvensional, sebab Wahabi seperti ini banyak mendulang simpati warga NU. Dan perlahan warga ini masuk kedalam kolam mereka tanpa mereka sadari.

    Mereka itu parasit-parasit yang memperuncing perseteruan FP* versus NU. Dengan ngompori, dan memainkan media sedemikian rupa. Dan mereka juga yang menganggap mati dalam pembangkangan terhadap negara adalah mati syahid. Kan bahaya. (ahmad sauri)

     

     

  • Ngaji Gus Baha’ : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW

    Ngaji Gus Baha’ : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW

    Infokom Banser NU- Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang agung nan luhur budi pekertinya. Tak ada sesiapa yang menyangkalnya. Namun, tak sedikit yang kerap lupa bahwa Nabi Muhammad juga memiliki sifat jaiz sebagaimana layaknya manusia pada umumnya.
    .
    Gus Baha dalam suatu pengajiannya pernah menceritakan Nabi Muhammad SAW pernah lupa. Hal itu terjadi saat shalat zuhur. Ketika itu, Nabi hanya melaksanakan shalat zuhur dua rakaat dan langsung menyelesaikan ibadahnya.
    .
    Para pun sahabat bertanya-tanya. Mereka segan ingin bertanya kepada sosok panutan penuh kharisma itu. “Tidak ada yang berani bilang ke Nabi,” kata Gus Baha.
    .
    Namun, tetiba Dzul Yadain mendekati Nabi dan menanyakan peristiwa langka itu. Ia bertanya apakah hal tersebut baru atau bagaimana. Nabi pun terkejut ketika hal itu disampaikan dan langsung kembali ke pengimaman.
    .
    Nabi mengonfirmasi kepada para jamaah apa hal yang disampaikan Dzul Yadain benar. Para sahabat pun mengiyakannya. “Naam ya Rasulullah. Tadi engkau shalat zuhur hanya dua rakaat,” kata para sahabat.
    .
    Lalu, Nabi pun, jelas Gus Baha, langsung bertakbir lagi dan menuntaskan shalat zuhurnya dua rakaat lagi hingga salam tahiyat akhir.
    .
    Menurut Gus Baha, lupa bagi Nabi adalah hal lumrah mengingat ia memiliki sifat jaiz sebagaimana manusia biasa pernah lupa. “Nabi tuh gak apa-apa lupa. Wong bukan Tuhan. Yang gak boleh lupa tuh Tuhan,” tegas Rais Syuriyah PBNU itu.
    .
    Gus Baha’ juga menceritakan bahwa Nabi pernah suatu pagi menanyakan makanan kepada Sayidah Aisyah. Istri Nabi itu menjawab tidak ada.
    .
    “Ya udah saya puasa saja,” kata Gus Baha menirukan respon Nabi ketika mendengar jawaban istrinya.
    .
    Saat waktu mulai beranjak siang, Nabi kembali bertanya makanan kepada Sayidah Aisyah. Kali itu, putri Sayidina Abu Bakar al-Shiddiq itu menjawab ada. “Ya sudah saya makan saja,” ujar Gus Baha menyampaikan respons Nabi kepada Aisyah.
    .
    Gus Baha juga menyampaikan bahwa kelupaan Nabi itu agar menjadi sunnah. “Saya ini tidak pernah lupa. Tapi saya diberi lupa supaya menjadi sunnah,” pungkas Gus Baha menerjemahkan pernyataan Nabi tentang kelupaannya.

    #GusBahauddin #UlamaNUsantara #NU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #GP_AnsorNU #BanserNU #PagarNusaNU
    #AswajaNU #RijalulNU #KyaiDanHabaib #HWMI_NU GusMuwafiq #GusSayyidSeif #KyaiNUsantara #HabaibNUsantara #SantriNUsantara #NUsantaraSatuJiwa
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI

    (Rijalul Ansor NU )

  • Dilema Dalam Membela Agama

    Dilema Dalam Membela Agama

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com– Tampil sebagai bak seorang “Pembela Agama” itulah yang saya pikir ketika saya masih berada di Ormas dulu Menegakkan Haq Dan Memberantas Kebatilan Adalah cita-cita saya dulu.

    Sejak 2015 – 2018 saya mengaku sebagai “Pembela Agama Allah”

    Ya, saya “memberangus” beberapa tempat maksiat di Aceh kala itu.

    Dulu dengan “Ghirah Tanpa Arah” secara “Membabi Buta” saya berantas aneka maksiat, seperti pacaran, cafe karaoke, lapak billiard, bar dan beberapa tempat berkumpulnya “Pelaku Maksiat”

     

    Setelah berjalan beberapa tahun

    Hati dan otak terus bergejolak, lantaran cara “Memberantas” Kebatilan justru dengan membawa bathil juga, bahkan cenderung membawa mudharat bagi korban kami

    Cara yang “Kasar” sering kami buat kepada “Pelaku Maksiat” yang notabenenya juga seagama dengan saya Hingga pada suatu saat, Allah “Buka Mata” saya, lantaran seringnya bentrok antara hati dan akal sehat.

     

    Disatu sisi saya menganggap bahwa saya “Pejuang Agama Allah”

    Disatu sisi hati saya berucap : “Membela Agama Allah Bukan Begini Caranya”

    Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut.

     

    Lantaran menurut saya sudah tidak sejalan dengan Islam yang saya pelajari yang dimana Islam Seharusnya Membawa Cinta & Kasih Sayang

    Kini, beberapa tahun setelah keluar, saya menemukan Kedamaian di NU, dakwah yang santun, dan penuh bahasa hikmah membuat saya semakin yakin bahwa inilah Islam sebenarnya.

     

    Dan Alhamdulillah, sejak di Medan dan memakai metode dakwah ala NU, saya berhasil mengislamkan seorang non muslim, Insya Allah, akan menyusul 3 lagi saya syahadat kan.

     

    Saya yakin dengan kalimat : “Semua Akan NU Pada Waktunya”

    Ya benar, akhirnya saya memilih menjadi anggota NU, Islam yang ramah bukan marah, islam yang damai dan santun.

    Sedikit pesan untuk teman-teman yang masih mengaku sebagai “Pembela Agama”, saya mengutip quotes dari Ade Armando :

    “Gunakan Akal Sehat Dalam Beragama dan Bernegara, Karena Dengan Akal Sehat, Agama dan Negara Bakal Selamat. (nu isme)

  • Mengaku Saya Emosi! dan meminta maaf itu yang dikatakan pria kafir-kafirkan anggota banser

    Mengaku Saya Emosi! dan meminta maaf itu yang dikatakan pria kafir-kafirkan anggota banser

    Infokom Banser NU-Pria yang mengkafir-kafirkan dua anggota Banser berinisial H menyesal atas perbuatannya. Ia mengaku tak bisa menahan emosinya saat itu. Kini ia hanya bisa menyesali usai ditangkap polisi.ADVERTISEMENT“Saya menyesali atas perbuatan tersebut karena faktor keadaan emosi,” ucap pelaku di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Kamis (12/12).Dalam kesempatan itu, pelaku juga menuturkan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya dua anggota Banser yang ia persekusi dengan sebutan kafir. “Permintaan maaf saya terutama kepada masyarakat dan juga NU para ulama mohon maaf, dan saudara-saudara Banser dan GP Ansor,” kata dia.

    Sementara itu di lokasi yang sama, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Bastoni Purnama, mengatakan pelaku ditangkap di sebuah padepokan di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat sekitar pukul 15.00 WIB pada Kamis (12/12).Bastoni menyebut, di tempat itu pelaku menyesali perbuatannya dan bertaubat serta menenangkan diri.“Dia di sana taubat dan menengankan diri,” kata Bastoni.

    Kasus persekusi anggota Banser
    Jumpa pers kasus persekusi anggota Banser di Mapolres Metro Jakarta Selatan. Foto: Raga Imam/kumparan

    Dalam penangkapan itu polisi turut mengamankan sebuah ponsel seluler milik pelaku yang dijadikan untuk merekam aksi persekusi itu.ADVERTISEMENTKasus persekusi itu terjadi pada Selasa (10/12) di wilayah Pondok Pinang, Jakarta Selatan. H mengkafir-kafirkan dua anggota Banser bernama Wildan dan Eko. Keduanya merupakan anggota provost Banser Kota Depok. Saat itu, Wildan dan Eko dalam perjalanan menuju Ciledug. Di sana ada pengajian yang dihadiri salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU), Gus Muwafiq.

    Sumber : Kumparan

  • Ngaji Rutin Jum’at Pon MWCNU Pacet dengan Tema  ZIARAH KUBUR TRADISI ATAUKAH SUNNAH.

    Ngaji Rutin Jum’at Pon MWCNU Pacet dengan Tema ZIARAH KUBUR TRADISI ATAUKAH SUNNAH.

    ZIARAH KUBUR TRADISI ATAUKAH SUNNAH

    Oleh ASNUTER MWC NU PACET.

    Ziarah kubur merupkan salah satu amalan yang sering dilakukan oleh warga nahdhiyyin, lebih lebih pada hari hari tertentu ataupun juga moment moment tertentu. Ditinjau dari sudut pandang agama, apakah ziarah kubur hanya sebatas tradisi ataukah ada tuntunan dari Agama. Dibawah ini akan disampaikan dalil yang berkaitan dengan ziarah kubur.

    Ziyarah Kubur perintah Rasulullah SAW : (594
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها (رواه ومسلم، رقم ٥٩٤)

    “Rasulullah SAW bersabda: aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah” (HR. Muslim [594])

    Hadist diatas merupakan dalil umum yang memberikan penjelasan bahwa sunnahnya melaksankan ziarah kubur sebagaimana yang sudah sering kita lakukan.

    Pada awal awal Islam memang Rasulullah SAW melarang para Sahabat untuk berziarah kubur, dikarenakan keimanan mereka masih labil ( kurang kuat ), sehingga dikhawatirkan akan terjerumus kepada kemusyrikan. Dan setelah Islam semakin berkembang dan kaum muslimin semakin kokoh imannya, maka Nabi Muhammad memerintah mereka untuk berziarah kubur.

    Rasulullah ziyarah ke makam ibu Nya.

    عن ابي هريرة قال زار النبي صلى الله عليه وسلم قبر امه فبكى و ابكى من حوله (رواه مسلم رقم ٢٣٠٤)

    “Dari Abi Hurairah, berkata bahwa Rasulullah SAW berziarah ke pesarean ibundanya dan beliau menangis serta membuat orang di sekitarnya menangis” (HR. Muslim [2304])

    Dalam berziyarah kubur Rasulullah bukan hanya memerintahkannya, tetapi juga melaksanakan, sebagaimana penjelasan hadist diatas, bahwa beliau pernah ziarah ke makam Ibu Nya Rosululloh sudah melegalkan berziarah sekaligus memberi contoh berziarah ke makam, maka sudah barang tentu andaikan kita kaum muslimin ikut melaksanakannya juga sebagai bentuk itba’ kepada beliau Nabi Muhammad SAW.

    SORBANSANTRI.COM

  • 3 wasiat yang disampaikan oleh Alhabib Umar Bin Al Habib Al allamah Al Faqih Zain bin Smit Madinah

    3 wasiat yang disampaikan oleh Alhabib Umar Bin Al Habib Al allamah Al Faqih Zain bin Smit Madinah

    SORBANSANTRI.COM
    1. Yang mempunyai kesempitan di hatinya,was was ( ragu ragu ) dan kurang semangat dalam melakukan amal soleh, hendaknya setiap selesai solat fardlu meletakkan telapak tangan kanan tepat di dada kiri (jantung) sambil membaca :
    Surat Al insyirah 3x, dilanjutkan dg
    ( رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي)
    (وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي)
    (وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي)
    (يَفْقَهُوا قَوْلِي) ٧ ×
    2. Hendaknya setelah solat subuh dan mahrib
    membaca :
    ( ۚوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا )
    (وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا) ٧ ×
    Maka Alloh akan menambahkan ketaqwaan, dilapangkankan dadanya, dimudahkan segala urusanya, hutang hutang nya akan cepat lunas, rizkinya akan bertambah.
    3. Jika ingin terjaga atau terhindar dari gangguan semua mahluk (gangguan dhohir dan batin), hendaknya membaca 4 surat setiap pagi dan sore:
    Al-a’laq, Al-Qodr, Az-Zalzalah dan Al-Quraisy.