Penulis: Sorban Santri

  • PENTINGNYA PENGAKUAN DARI GURU

    PENTINGNYA PENGAKUAN DARI GURU

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Aziz Manshur (Alm) adalah pengasuh pondok pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Pacul Gowang Diwek, Jombang, yang juga masih keturunan Lirboyo.

    wp.sorbansantri.com- Pada saat tiga atau empat hari sebelum wafat, KH. Abdul Karim terbaring sakit di tempat tidur ditunggui oleh putri-putrinya.

    Sambil menangis beliau mengeluarkan kata-kata.

    “Dongakno yo! Mugo-mugo aku mbesuk neng kono diakoni dadi santrine Mbah Kholil.” (Doakan ya! Semoga saya kelak di sana diakui menjadi santrinya Mbah Kholil).

    Permintaan doa ini sangat mengherankan. Biasanya permintaan seseorang sebelum meninggal adalah minta didoakan agar husnul khotimah, diampuni dosanya atau masuk surga. Tapi ini tidak. Kiai Abdul Karim justru meminta didoakan supaya diakui sebagai santri dari guru beliau, Kiai Kholil Bangkalan. Itupun disampaikan sambil menangis. Bukti bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak main-main dan sangat penting untuk diungkapkan. Apa sebenarnya maksud dari permintaan doa itu? Jawabanya adalah dawuh beliau setelahnya.

    “Tanpo aku diakoni santrine Mbah Kholil, aku gak iso mlebu swargo.” (Tanpa saya diakui santrinya Mbah Kholil, saya tidak bisa masuk surga).

    Ini adalah sikap tawadlu yang luar biasa. Kiai Abdul Karim tidak merasa dirinya mempunyai amal yang bisa mengantarkan beliau masuk syurga. Beliau tidak percaya diri dengan amal ibadah yang dilakukan semasa hidup. Harapan masuk surga hanya dengan mendapatkan pengakuan santri dari gurunya yang masyhur sebagai wali Allah. Sehingga diharapkan Kiai Kholil memberikan syafaat kepada beliau agar bisa masuk surga.()

    *Disarikan dari ceramah KH. Abdul Aziz Manshur saat khataman kitab Jauharul Maknun tahun 2014. (abi sorban)

    #LIRBOYO

  • KEISTIMEWAAN ROSULLULLOH DALAM QOSIDAH

    KEISTIMEWAAN ROSULLULLOH DALAM QOSIDAH

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM – Pada setiap hari Ahad sekitar jam 11 sampai jam setengah satu, Syaikhona Maimoen Zubair mengajarkan kitab tafsir Al-Jalalain di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar.

    Setelah selesai ngaji “Ahadan”, beliau bersama dengan para santri membaca qoshidah yang berisi tentang sifat-sifat Rosululloh (Syama’il).
    Qoshidah itu juga terdapat dalam kitab Maroqil Ubudiyyah karya Syaikh Nawawi Banten.
    Berikut kami tulis dengan terjemahan.
    لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰـهَ مُطْـلَقًا أَبَدًا # وَمَا تَثـَائَبَ أَصْـلاً فِىْ مَدَى الزَّمَنِ
    Rosululloh tidak pernah mimpi bersetubuh baik sebelum jadi nabi atau setelahnya. Beliau juga sama sekali tidak pernah menguap sepanjang masa.
    مِنْهُ الدَّوَابُ فَـلَمْ تَهْرَبْ وَمَـا وَقَعَتْ # ذُبَابَةٌ أَبَـدًا فِى جِسْمِـهِ الْحَسَنِ
    Tidak ada satu pun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau. Dan tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia.
    بِخَلْـفِهِ كَأَمَـامٍ رُؤْيَةٌ ثَـــبَتَتْ # وَلَا يُرٰى أَثْـرُ بَوْلٍ مِـنْهُ فِيْ عَلَنِ
    Beliau bisa mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya, seperti beliau melihat sesuatu itu yang ada di hadapannya. Bekas air kencing beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi.
    وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَـمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ # وَلَا يرٰى ظِـلَّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْ فَـطِنِ
    Hati beliau tidak pernah tidur, walaupun mata beliau mengantuk. Bayangan beliau tidak bisa dilihat ketika beliau kena sinar matahari. Beliau juga memiliki kecerdasan.
    كَـتْفَاهُ قَدْ عَلَـتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا # عِنْـدَ الْوِلَادَةِ صِـفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ
    Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang duduk bersama beliau. Ceritakanlah sifat beliau bahwa beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan
    هَذِه الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أٰمِنًا # مِنْ شَرِّ نَـارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِـنْ مِحَنِ
    Ini semua merupakan keistimewaan beliau, hendaknya engkau hapalkan bait tersebut, niscaya engkau mendapat perlindungan dari bahaya kebakaran, pencurian dan musibah.
    Dari Qoshidah tersebut dapat kita ketahui beberapa keistimewaan Rosululloh sebagai berikut:
    1. Tidak pernah bermimpi basah.
    2. Tidak pernah pula menguap.
    3. Tidak ada binatang yang lari karena takut dari beliau.
    4. Tidak pernah dihinggapi lalat.
    5. Nabi melihat belakang sama seperti melihat depan.
    6. Tidak berbekas tatkala buang hajat.
    7. Hatinya tidak pernah tertidur, walau mata terpejam.
    8. Tak ada bayangan meskipun berjalan di bawah terik matahari.
    9. Dua pundak beliau selalu lebih tinggi dari para sahabat (walaupun dengan sahabat yang dikenal tinggi).
    10. Sudah terkhitan tatkala dilahirkan ke dunia.
    والله أعلم بالصواب
  • EMPIRISME SOSIAL KURIPANSARI: KAJIAN “STUDENT NAHDLIYYIN”

    EMPIRISME SOSIAL KURIPANSARI: KAJIAN “STUDENT NAHDLIYYIN”

     

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM- Kearifan lokal dan kebeneran kontekstual dalam tataran kehidupan manusia mulai merambah dewasa, tak ada yang menolak keabsahan momentum itu sekalipun antar individu banyak yang bersinggungan rasa, contoh saja pada ranting yang selama ini dipandang kebaikannya dimata konsumen ghibah, disitu banyak mengandung unsur anion dan kation molekul arif dan naïf, hal ini dibuktikan pada saat ranting baru terbentuk dua tahun lalu, tepatnya 18 Maret 2018 banyak yang men-support kehadiran para Pelajar Ranting dan bahkan masyarakat setempat menampakkan tangannya saat berteplok-teplok (tidak ada yang bersinggungan secara Nampak).

    Namun kian kedua mulailah Nampak perubahan hasil tangan bersama ini, banyak masyarakat yang meras risih jika mendengar kata pelajar NU saja, mulai dari yang beralasan pelajar NU didikannya kurang matang, dan hanya membahas perkumpulan antara lelaki dan wanita di usia pelajar. Banyak para pelajar yang kerjaannya membuang-buang waktu sampai lupa tugas pokok di rumah masing-masing, proposal yang bertebaran dimana-mana saat menjelang PHBI, dan bahkan tak segan-segan bersikap sentimen kepada kawan-kawan sejawatnya dikampung yang tidak ikut organisasi hanya karena sungkan, seolah para pelajar itu memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada yang lainnya. Sementara itu etika yang tumbuh dari gerak dan lisan, baik secara implisit maupun eksplisit para pelajar menggiring kawan sejawat yang ikut andil didalamnya semakin terperosok dalam gelamor fanatis.

    Sifat fanatis disini tidak saya imbuhi –tif sebab tak semuanya ternodai sifat, boleh jadi prosentasenya dibawah saparuh dari jumlah total. Maka dari itu terkadang sebutan rekan rekanita pula yang menjatuhkan pamor mereka dalam tataran usia pelajar, namun perlu kita garisbawahi bahwa ini hanya wacana masyhur yang tumbuh di tembok sosial Kuripansari.

    ENIGMA WACANA
    Cobalah merenung sejenak, seorang pelajar yang notabenenya masih meminta-minta uang saku pada orang tuanya masih angkuh berbagi kebaikan dalam berorganisasi, padahal dalam Islam sudah jelas dalih sosial seperti;
    Tafsir Al-Muyassar
    اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ،  لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة.
    Artinya; “Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya).”

    Dari hadis tersebut menjelaskan bahwa orang Islam antara satu dengan yang lain itu dipandang sebagai saudara. Sehingga satu sama lain tidak boleh saling menganiaya. Dan jika kita mendapati seseorang dalam penderitaan ataupun mendapat musibah, hendaknya kita membantunya untuk meringankan penderitaan yang sedang ia alami. Sebagai mu’min sejati, hendaklah merasa bahwa dirinya tidak hidup sendiri,karena teman-teman sesama muslim akan membantu dan mendukungnya baik sedang dalam keadaan senang maupun susah.

    Afirmasi otentik dari Q.S Al-Hujurat ayat 10
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون
    Artinya; “(Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

    Sudah jelas bahwa dalam suatu ekosistem maupun populasi makhluk memiliki etika dalam memanusiakan manusia. Sepertihalnya studi kasus empiris yang pernah dialami oleh rekan-rekanita kuripansari (sebut saja Rizkillah, Yusril, Nanang, Alpindang, Hendra, Hasan, Lelly, Dian, Jihan, Intan, Nopret, dsb). Mereka merupakan salah satu kader yang pernah merasakan dinamika naik turunnya tangga, mulai dari cibiran konyol, motifatif, menjatuhkan, dan lebihparahnya khianat dari teman sejawat. Hal tersebut bukan malah menurunkan muru’ah mereka, melainkan sebaliknya derajat mereka mulai dapat sorotan. Saya yakin itu masih permulaan.

    PERADABAN SINGKAT
    Sentiment pun disikapi dalam memandang orang yang takpunya bakat lebih atas dirinya, padahal segala bentuk bakat organisingnya timbul dari belajar bersama kawan sejawat organisasi. Kemudian pertentangan keluarga, hal fatal ini timbul boleh jadi setelah ataupun sebelum dua hal sebelumnya muncul, sejatinya organisasi memang sangat penting untuk belajar bersosial dan beradaptasi hablu minan nash, namun realitanya keluarga sendiri mangkrak tak terpedulikan kemakmurannya, tidak mungkinah suatu pelajar akan belajar secara intens dan absolute, pada akhirnya nanti akan jelas bahwa segalanya akan kembali kepada keluarga.

    Sudah kian 31 bulan telah mereka lalui sebagai pelajar Nahdliyyin, terhitung semenjak dideklarasikannya IPNU-IPPNU tahun 2018, kini sudah waktunya melahirkan generasi neo. Neo disini dimaksud bahwa pembaharu zaman-zaman adalah kader baru, yang dimana kader terbentuk ini nantinya akan membina rumah tangga baru di dalam masyarakat majemuk. Kita tahu pula bahwa masyarakat majemuk Kuripansari yang notabenenya terdiri dari 6 dusun yang tiap dusunnya punya karakteristik istimewa.

    Katakanlah dusun Sumbergayam yang sebenarnya semangat mengadakan kegiatan, hanya saja terkendala dengan gesekan wacana tetanggan. Keduanya ialah Kandangan, amat semangat kader putrinya jika dibandingkan dengan pelajar puteranya, kita tahu juga bahwa di Kandangan pula hari inilah yang memiliki top global kader terbanyak se Kuripansari, wajar saja secara kuantitas jumlah KK di sana memang paling banyak di Kelurahan. Hanya saja terkendala transport dan geografi yang kurang mendukung di pelbagai kegiatan. Kedungpeluk adalah ketiganya, yang merupakan dusun tersering mendapatkan sorotan struktural, sebut saja IYA. Memang kebiasaan santri selalu melakat di dusun ini, sehingga sejarah mencatat kampung ini sebagai kampong yang nyantrik dan fanatic agama, (dulu).

    Barangkali sekarang beda, walaupun beberapa sumber suara burung menerangkan bahwa muharrik NU mayoritas lahir di dusun tersebut. Lanjut ke Kahuripan atau biasa dipanggil Kuripan, dusun yang menjadi pusat kajian dan kegiatan ini ternyata masih belum masuk kategori kader tanak, jika dibandingkan dengan dusun yang lain, dusun ini hanya memiliki 3 kader militan dan receh. Hebatnya di dusun Kuripanlah yang mengalami gerakan besar dalam pengelolaan event ranting.

    Untuk panjunan dan binatur, sengaja tak memberikan kesan, karna bagian ini kami rasa kurang dari pelbagai macam aspek. Untuk memangkas fenomena antropologi ini perlu berjilid-jilid memerhatikan esensinya. Esensi ialah suatu hakikat hal yang pokok dalam disiplin ilmu filsafat. Esensi yang dimaksud yakni segala bentuk kejadian manusia ataupun kausa manusia dalam menjalani hidup selalu memiliki motif, disitulah motif akan terbentuk dengan komoditas masing-masing individu pelajar Nahdliyyin, baik horizontal maupun vertikal.

    EFEKTIFITAS TEORI
    Banyak masyarakat yang tahu bahwa 2020 ini merupakan catatan besar revolusi sejarah dari modern menuju post modern. Sehingga mengusung pula perubahan pola gerakan organisasi di pelbagai klaster masyarakat. Sebagai contoh IPNU IPPNU di massa berdirinya tahun 1954 dan 1955, kala itu organisasi yang pro kontra dengan kader lanjutan masyumi dan beberapa ormas lainnya mengalami dilematis akut. Antara memposisikan sebagai santri pengabdi ataupun santri pembela, lambat laun mengalami perubahan mulai nama dan ditambah lagi sisi administrasinya (lihat sejarah perkembangan IPNU-IPPNU), pun diperkukuh demi kesatuan ideologi “nderek kiyahi”. Sehingga sampai detik ini saya yakin bahwa kelemahan organisasi santri kolektif dan kompetitif ini dapat ditutupi dengan teori Clifford Greetz.

    Dalam bukunya Daniel L. Pals, Greetz menceritakan bahwa kebutuhan organisasi religi abad 20 kemarin terlalu fokus pada peletakkan posisi organisasi diantara teoritikus yang dibahas dalam karangan budaya spiritual, sehingga menurut pandangan masyarakat majemuk, organisasi ini terlalu kolot dan tak bermartabat dihadapan bangsa pemeluk Pancasila. Sebagai solusinya pemuka ataupun pegiat ormas ini harus menawarkan konsepsi sebagai tokoh antropologi interpretative di abad 21.

    Sedang menurut Emil Durkheim, jika berbicara soal religi basis masa lebih tepat mensubordinasikan religi hanya sebatas “implikasi logis” dari terciptanya struktur masyarakat. Senada dengan hal itu Karl Marx menjastifikasi madzab atau kepercayaan hari ini menjadi kaca mata kuda bagi para pecandu pengikutnya.
    Titik tolak aksipoma (pernyataan yang diterima tanpa bukti) seseorang yang memposisikan teori organisasi adalah dengan menempatkan karya-karyanya dibarengi dengan aktualisasi logis. Karena adanya pemikiran primitif menimbulkan rangsangan ekstase pada kebutuhannya akan candu organisasi. Sedang kebutuhan teori haruslah tetap konsisten dengan instruksi hierarkis masing-masing organisasi, sepertihalnya efektifitas PR Kuripansari menahan problematika atasnya (PAC dst). Lain daripada hal itu, dilihat dari argumentasi alumni tak selalu dapat dianggap sebagai kegagalan, hanya saja dari sudut pandang ini akan menimbulkan paradigma pembanding untuk kekayaan dinamika organisasi.

    KONKLUSI
    Sebagai seorang pengamat organisasi Nahdliyyin yang baik, seharusnya seorang kader lebih mendahulukan toleransi, dan meninggalkan obyektifitas lingkup keluarga. Seperti ujar Abdur Rahman Wahid dalam skripsi Wahyu Setiawan (mhs. UIN Lampung/pengamat pemikiran Gus Dur), yakni segi-segi toleransi meliputi; 1) mengakui hak setiap orang, 2) saling menghormati keyakinan setiap orang, 3) agree in disagreement “setuju dalam perbedaan”, 4) saling mengerti dalam pelbagai kondisi sosial. Hal ini dapat diterapkan di ormas basis religi “IPNU-IPPNU”, sebab nilai tasammuh (toleransi) yang dibawa dapat mendorong potensi basis massa dan mensublim cibiran akut sosial.(rizkillah ipnu pacet)

  • THARIQAH

    THARIQAH

    SORBANSANTRI.COM
    Keterangan foto: KH. Sholeh Bahruddin Ngalah Pasuruan, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, dan KH. Sholeh Qasim Sidoarjo).

    wp.sorbansantri.com- “Tiyang lek sampun thariqah, teng pundi-pundi panggonan, bah teng masjid, teng tegal, pasar, dalan, sekolah lan teng pundi mawon kedah dzikir. Ngelampai pendamelan nopo kemawon nggeh kedah dzikir (mlaku, ngadek, lungguh, meneng, ngomong, kedah dibarengi dzikir teng manah). Niku asmane Wuquf Qalbi: dzikir Allah, Allah, Allah, mboten leren-leren, terus-menerus teng njero ati.”

    (Orang kalau sudah berthariqah, di mana saja ia berada, entah di masjid, kebun, pasar, sekolah dan dimanapun harus dzikir. Melakukan kegiatan apa saja juga harus dzikir (berjalan, berdiri, duduk, diam, berbicara, harus dibarengi dzikir di hati). Itu disebut dengan Wuquf Qalbi: dzikir Allah, Allah, Allah, tiada henti, terus-menerus di dalam hati.

    “Lek sampun saget ngoten, lha niku lho jenenge wes iso topo (bertapa) dek njero pasar. Lha nek enggal saget dzikir ne’ wancine sepi-sepi tok, tapi nek kondisi rame ical dzikire, niku jenengan namung saget topo teng alas thok, tapi mboten saget topo teng tengah pasar. Nggeh topo wonten tengah pasar niki sing paling abbbooodt.”

    (Kalau sudah demikian, itulah yang dimaksud orang yang mampu bertapa di dalam pasar. Jika hanya bisa berdzikir di dalam kesunyian saja, sedangkan jika dalam kondisi ramai dzikirnya hilang, itu disebut hanya bisa bertapa di dalam hutan. Nah bertapa di tengah-tengah pasar inilah yang sangat berat).

    “Dene menawi wonten tiyang ingkang sampun tumut thariqah lan sampun gadah maqom, tapi klakuane awon. Niku mpun disalahaken thariqahe, balek sing salah tiyange.”

    (Adapun jika ada orang yang sudah berthariqah dan sudah memiliki maqam (derajat tertentu) tapi perilakunya buruk, yang disalahkan jangan thariqahnya melainkan orangnya).

    “Sami kados agama Islam, nggeh ngoten. Menawi wonten tiyang Islam kok ngelampai maksiat utawi keawonan, empun Islame sing disalahaken, kranten Islam ngoten sampun sae, balek umate sing salah.”

    (Sama halnya dengan Islam. Jika ada orang Islam namun suka berbuat maksiat dan keburukan, jangan salahkan Islamnya. Karena Islam itu sudah baik, hanya saja terkadang umat/penganutnya yang masih salah).

    Dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin saat pengajian Selosoan, sekitar 2006 silam. Dialihbahasakan Jawa ke Indonesia dari Fp: Ngalah Community. (red)

  • HUKUMAN YANG TIDAK TERASA  MEMBUAT CELAKA DUNIA DAN AKHIRAT

    HUKUMAN YANG TIDAK TERASA MEMBUAT CELAKA DUNIA DAN AKHIRAT

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Seorang murid mengadu kepada gurunya:

    “Ustaz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan haknya sebagai mana mestinya, tapi kita kok tidak melihat Alloh tidak menghukum kita”.

    Sang guru menjawab dengan tenang: “Betapa sering Alloh menghukummu tapi engkau tidak terasa”. Sesungguhnya salah satu hukuman Alloh yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku iyalah:

    “SEDIKIT TAUFIK (KEMUDAHAN) UNTUK MENGAMALKAN KETAATAN DAN AMAL AMAL KEBAIKAN”

    Tidaklah seorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari” kekerasan hatinya dan kematian hatinya”

    SEBAGAI CONTOH:

    Sadarkah engkau, bahwa Alloh telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadanya.

    Sadarkah engkau, tidak diberi rasa khusuk dalam solat… ?

    Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari harimu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al Qur’an…?

    Padahal engkau mengetahui kalau itu adalah firman perkataan penciptamu,

    Tapi engkau tidak tersentuh dengan ayat ayat Al Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya.

    Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…

    Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti:

    Romadhon, enam hari di bulan Syawal, sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah, tapi kamu belum diberi Taufik untuk memanfaatkannya sebagai mana mestinya…?

    Hukuman apalagi yang lebih berat dari itu.

     

    Ketika engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan amal ibadah… . .

    Alloh menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar, membaca Al Qur’an dan berdo’a kepadanya… . .

    Terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah dihadapkan hawa nafsu…

    Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini.. .. .?(abi sorban)

    Sesungguhnya hukuman terberat ialah:

    “Hukuman yang tidak terasa” pada kematian hati, lalu kita tidak merasakan nikmatnya ketaatan dan tidak merasakan sakitnya dosa.

  • PAC IPNU IPPNU WANAREJA PEDULI BANJIR TARISI WANAREJA CILACAP

    PAC IPNU IPPNU WANAREJA PEDULI BANJIR TARISI WANAREJA CILACAP

    SORBAN SANTRI – PAC IPNU IPPNU Wanareja kabupaten Cilacap Jawa Tengah mengadakan BANSOS pada hari minggu (22/11/2020) di dusun rangkasan rt01/08 desa Tarisi kec Wanareja kab Cilacap jawa tengah yang di landa banjir dengan memberikan kebutuhan pokok sehari-hari berupa makan siap olah dalam bentuk praktis

    Acara bansos di mulai pukul 08:30wib di pimpim langsung oleh ketua IBNU ROHMAN dan DEWI PARIAH dengan membagikan langsung kepada warga di rumahnya masing masing, meskipun untuk mencapai rumah warga agak kesuliatan karena kedalaman air masih kisaran 30cm sampai 70cm tapi rekan rekan dan rekanita tetap semangat untuk membantu warga

    SORBANSANTRI.COM

    Mas IBNU ROHMAN selaku ketua menginformasikan pada redaksi SORBAN bahwa tujuan BANSOS kali ini untuk meringankan beban penderitaan warga korban musibah banjir yang tidak bisa memasak dan menghilangkan mata pencariannya meskipun bantuan yang kami berikan tidak sebegitu banyak dan ini bentuk kepedulian kami selaku BANOM NU

    SORBANSANTRI.COM

    Ketua IBNU ROHMAN dan DEWI PARIAH saat memberikan bantuan

    SORBANSANTRI.COM

    Menurut salah satu angota BANSER TANGGAP BENCANA sahabat EKO selama musibah banjir ini terjadi juga datang untuk membantu warga dari BANOM NU antara lain GP ANSOR, MUSLIMAT, FATAYAT, PAGARNUSA yang juga turun langsung, semua menginginkan musibah segera pulih kembali

    by : alim sorban

  • Tingkatkan Kualitas Jurnalis, Infokom Banser Undang Memorandum Timur

    Tingkatkan Kualitas Jurnalis, Infokom Banser Undang Memorandum Timur

    SORBANSANTRI.COM
    Biro Infokom Banser dan Media Memorandum Timur dalam pentajaman jurnalistik

    SORBAN SANTRI- Sabtu, 21 Nov 2020, jajaran biro infokom banser Satkorcab Banser kab. Mojokerto bersama perwakilan media memorandum timur mengadakan pelatihan penajaman wartawan khususnya dibidang jurnalistik.

    Pelatihan sekaligus pemantapan jurnalistik yang diadakan di Pondok al istiqomah Dlanggu kab. Mojokerto itu berlangsung selama 7 jam yang dimulai dari pukul 20.00 – 02.00 wib dini hari  Melihat dari banyaknya sahabat” Ansor dan Banser yang hadir, menunjukkan bahwa keinginan untuk menguasai dunia dari media digital sangatlah tinggi. Terlihat masing-masing PAC mengeluarkan anggotanya sebagai perwakilan di daerahnya masing-masing. (21/11)

    Peningkatan jurnalistik ini dirasakan sangat penting dikarenakan semakin banyaknya kegiatan yang ada tiap-tiap PAC di Kab. Mojokerto yang setiap harinya selalu ada acara dan kegiatan baik itu sosial ataupun rutinan.

    Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto Gus Ali M Nasih telah melakukan koordinasi dan kerjasama yang bagus dengan media Memorandum Timur sehingga pelaksanaan pelatihan dan penajaman bidang jusnalis bisa berjalan sesuai rencana dan tentu saja banyak ilmu serta menambah silaturrahmi dengan media yang sudah mempunyai nama besar seperti Memorandum. (abi sorban)

  • BANSER WANAREJA GERAK AKTIF DALAM BANJIR TARISI

    BANSER WANAREJA GERAK AKTIF DALAM BANJIR TARISI

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri- Hujan deras yang mengguyur Desa Tarisi Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap yang terjadi pada Hari Sabtu, 14 Nopember 2020. Dan mulai tanggal 16-17 air datang dengan jumlah besar yang mengakibatkan banjir dibeberapa Desa di Kecamatan Wanareja Cilacap. Ketinggian air sekitar 30-70 cm yang menggenang di Dusun Cikaronjo, Rangkasan dan Sidadadi (14/11/2020).

    Banjir yang terjadi kali ini dikarenakan saluran irigasi tidak lancar dan tersumbat di wilayah BBWSC BANJAR dan MENGANTI, yang berakibat terjadinya bencana banjir di 3 Dusun tersebut dengan jumlah warga yang terdampak sekitar 1000 jiwa yang rata-rata mata pencahariannya ternak ikan di kolam.

    Untuk mengahadapi musibah yang terjadi di Dusun Cikaronjo, Rangkasan dan Sidadadi, maka komandan Balantas dan komandan Bagana satkaryon x 26 Desa Tarisi kecamatan wanareja kabupaten Cilacap, menurunkan sedikitnya 100 personil anggota Banser untuk bersinergi dengan ibu ibu muslimat, IPPNU IPNU, FATAYAT untuk berbaur dengan UPT BPBD MAJENANG BABINSA serta KEPOLISIAN membantu serta mengamankan korban bencana banjir tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    komandan Eko dan komandan BALANTAS Muhammad SUBAWEH

    Dalam proses evakuasi warga, Banser Satkoryo x 26 Wanareja membuat 3 posko untuk warga yang terdampak. Banyak sekali yang diperlukan untuk tiap-tiap posko tersebut untuk keperluan korban seperti selimut, bahan makananan, serta obat-obatan.

    Harapan sebagian besar warga Tarisi untuk kedepannya agar saluran irigasi di wilayah BBWSC BANJAR dan MENGANTI benar-benar diperhatikan dalam pengelolaannya dengan harapan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.” kata salah seorang warga yang kolam ikannya ikut habis karena banjir, yang sampai sekarang belum selesai evakuai musibah banjir.

    Mudah-mudahan sahabat sahabat Banser dan siapa saja yang ikut membantu musibah banjir di Desa Tarisi Kecamatan Wanareja – Cilacap ini, diberikan kesehatan dan kekuatan dalam giat tersebut.. Aamin Ya Robbal’alamiin. (abi sorban)

  • Habib Hasan Mulachela Prihatin Ada Kalangan Habaib yang Omong Kasar dan Jorok saat Maulid Nabi

    Habib Hasan Mulachela Prihatin Ada Kalangan Habaib yang Omong Kasar dan Jorok saat Maulid Nabi

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- “Memuliakan Nabi Muhammad itu dengan kebaikan dan keteladanan. Kalau dengan provokasi dan kata-kata kotor itu justru malah mengotori kebesaran Nabi. Keturunan Rasulullah itu menyejukkan, bukan memanaskan umat,”
    Adalah Habib Hasan Mulachela, tokoh Habaib nasional dan ulama nusantara asal Solo, menegaskan, merasa prihatin adanya provokasi serta kata kasar dan jorok dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal itu menurutnya sangat bertentangan dengan akhlak Rasulullah.
    “Rasulullah itu lembut dan santun akhlaknya. Beliau tidak pernah berkata kasar. Apalagi berkata provokatif,” ucap Hasan Mulachela, yang juga keturunan Nabi Muhammad SAW ini.
    Karenanya, ia sangat menyesalkan jika ada ulama, bahkan habib sesama keturunan Nabi Muhammad yang tidak sesuai dengan akhlah kakek buyutnya itu.
    “Memuliakan Nabi Muhammad itu dengan kebaikan dan keteladanan. Kalau dengan provokasi dan kata-kata kotor itu juatru malah mengotori kebesaran Nabi. Keturunan Rasulullah itu menyejukkan, bukan memanaskan umat,” tutur Habib Hasan.
    Habib Hasan juga merasa sedih saat ada habib yang justru menjadikan peringatan Maulid Nabi dengan cara begitu. Bagi dia, memperingati Maulid Nabi itu dengan kebaikan. Misalnya berbagi kepada fakir miskin dan dhuafa.
    “Kalau Hasan Mulachela menghormati dan memperingati Maulid Nabi dengan berbagi beras ratusan ton dan uang pada fakir miskin. Itu untuk memuliakan dan memperingati Maulid Rasul. Ini artinya memuliakan. Tapi ada orang lain memuliakan Maulid Nabi dengan kata-kata kotor, piye ngunu iku,” katanya.
    Ia pun menyitir hadits yang diriwayatkan Tirmidzi bahwa kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lalu, sambung dia, hadits lain riwayat Al Baihaqi menyebut bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
    “Sudah jelas kan. Yang utama adalah akhlak. Dan akhlak itu yang paling sederhana dilihat dan rasakan adalah kata-kata dan ucapannya,” tutur Habib Hasan.
    Karenanya, sekali lagi Habib Hasan Mulachela minta pada para habaib untuk menjaga lisannya sesuai ajaran kakek buyutnya, Nabi Muhammad SAW. “Itu juga salah satu cara memuliakan ajaran beliau, yakni Islam Rahmatan lil ‘Alamin,” pesan Habib Hasan. (han)
  • RAJIN SHALAT TAPI DIKUMPULKAN BERSAMA ORANG YANG TIDAK SHALAT

    RAJIN SHALAT TAPI DIKUMPULKAN BERSAMA ORANG YANG TIDAK SHALAT

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Al-Habib Ahmad bin Umar bin Smith mengatakan yang maknanya adalah seperti ini:

    Apakah hukum orang yang gemar menyambung silaturahim dengan memberikan bantuan, hubungan baik, dan penghiburan akan tetapi ia tidak pernah menanyakan kepada mereka bagaimana keadaan agama, mereka tidak pula mengajarkan agama kepada mereka?

    Apakah ia akan dikumpulkan di hari Kiamat bersama dengan orang yang menyambung silaturahim atau bersama orang yang memutus silaturahim?

    Tanyalah kepada ulama mengenai ini sehingga kalian tidak tertipu dalam masalah ini.

    Syeikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitabnya at-Tanwir mengatakan bahwa, “Orang yang shalat dan menjaga shalat, akan tetapi ia memiliki keluarga yang tidak shalat, tidak memerintahkan mereka untuk shalat, tidak pula menegur atau mengucilkan mereka maka ia tidak akan dikumpulkan bersama orang-orang yang shalat, kelak ia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang meninggalkan shalat. Walaupun ia selalu shalat di awal waktu, berjamaah dan di shaf pertama.

    Maka tegakkanlah perintah Allah di kalangan keluarga kalian, seretlah mereka ke surga. Jika tidak, mereka yang akan menyeretmu ke neraka.
    .
    [ Kitab Majmu’ Kalam Habib Ahmad bin Umar bin Smith hal. 258 ]