SORBAN SANTRI- Operasi tersebut dilakukan karena melaksanakan PSBB dan mencegah penyebaran covid-19 khususnya Kecamatan Pacet, yang dinilai merupakan magnet wisata bagi wisatawan Jawa Timur. dan diharapkan sebagai percontohan wilayah lain. Mengingat Jawa Timur dapat nilai tertinggi di Indonesia dalam penyebaran virus covid-19 tersebut.
Kegiatan ini melibatkan beberapa element pemerintahan yaitu Polsek Pacet, Koramil Pacet, dan organisasi Relawan Banser, Banser Lalu Lintas (balantas), LPBI NU, Welirank Komuniti dan Pramuka, apel dimulai di depan Polsek Pacet sekitar pukul 19.00 wib, Sabtu, 30 Mei 2020.
Pelaksanaan Apel Operasi Protokol Kesehatan covid-19
Skenario dimulainya operasi
Mengingat area pacet adalah kawasan perbukitan dan luas, maka operasi tersebut dibagi 2 kelompok yaitu barat dan timur dengan zona tengah berada di jl. Raya Pacet (polsek pacet). Operasi tersebut bertujuan untuk mencegah menularnya covid-19 dengan cara Menghimbau pada warga dan titik rawan penyebaran virus corona serta memberi semangat pada warga yang melakukan penjagaan posko di tiap-tiap kampung.
Memberi Semangat Pada Penjaga Kampung
Sosialisasi kepada warga
Posko Sumber bendo
Memberikan Himbauan Kepada Pemilik Cafe
Suasana Operasi Kesehatan
Melakukan Pengamanan dan Pengatiran LaluLintas
ramah tamah di rumah kepala desa candi watu
banser satkoryon pacet
Dan bersyukur desa-desa dan zona titik penyebaran covid-19 ( warung tempat nongkrong, dll) sebagaian besar sudah memenuhi standart protokol kesehatan seperti penjagaan wilayah, Pemakaian masker, dan adanya tempat cuci tangan dititik berkumpulnya orang. Ironisnya malah pusat centralnya Pacet, masih banyak pelanggaran mulai dari datangnya pengunjung luar wilayah yang bergerombol dan tidak memakai masker, tidak adanya tempat cuci tangan, bahkan acuh setelah kedatangan tim operasi protokol kesehatan covid-19. Sehingga sempat adanya pengusiran dan bersitegang untuk meninggalkan zona tersebut. Dan rata-rata kendaraan yang mereka pakai itu bodong (tanpa stnk dan sim), kata salah satu petugas operasi yang kebetulan dari Polsek Pacet.
[su_youtube url=”https://youtu.be/-dXEjUnQLzU”]
Titik tersebut antara lain waduk (tempat nongkrongnya anak bermain game online dan semuanya tidak memakai masker), Pasar Pacet dan pasar wisata pacet ( banyaknya pengunjung dari luar pacet yang sangat penuh dan sesak, rawan penyebaran wabah).
asik main game diwaduk Pacet
operasi di pasar wisata pacet
setelah operasi, petugas melakukan penyuluhan
Padahal sebelumnya sudah ada himbauan dari aparat setempat agar setiap pukul 21.00 wib tutup dan selalu pakai masker, tapi masih saja banyak masyarakat yang mengabaikan.(abi sorban)
SORBAN SANTRI – Dari Kh sholeh bandar kidul beliau Dari KH Mahrus Ali lirboyo kediri
1.Seorang suami Seyogyanya didahului dengan berpuasa hari kamis, dan berbuka hanya dg air putih (tidak boleh makan apapun) sempai tengah malam. Kemudian dilanjutkan sholat hajat.
Membaca sholawat 313 x, kemudian ditiupkan pada pusarnya istri yang hamil, dan di usap (di elus elus) sambil membaca
ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
3 x dalam satu nafas
SORBAN SANTRI- Selama ini kita mungkin hanya tahu kalau gelar keturunan nabi atau dzuriah nabi adalah habib .
Tapi ternyata ada lagi marga yang jarang diketahui khalayak .
Tapi kalau mendengar syech pasti orang sudah tahu kalau itu adalah gelar untuk ulama besar yang sangat dihormati.Tapi yang perlu dicatat bahwa habib itu bukan marga , tapi gelar kehormatan . Para habib belum tentu azmatkhan , tapi para azmatkhan pasti habib . Karena arti habib sendiri adalah yang dicintai atau dikasihi , sebagaimana nabi Muhammad diberi gelar kekasih Allah .
Mari kita pelajari bersama di artikel kali ini . kita akan kupas siapa marga keturunan nabi yang dimaksud dan siapa saja orang Indonesia yang punya gelar itu.
Adalah Azmatkhan marga yang dimaksud .
(bahasa Arab: عظمات خان; Transliterasi: Aẓamāt Khān) al-Husaini, juga dieja Azmat Khan, al-Azhamatkhan atau al-Azhamat Chan (bahasa Urdu: عظمت خان) adalah salah satu marga komunitas Hadramaut yang banyak tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Azmatkhan al Husaini
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu, Azmat yang berarti mulia atau terhormat; dan Khan yang memiliki arti komandan, pemimpin, atau penguasa.
Mereka merupakan keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alawi Ammul Faqih, keturunan Husain bin Ali. Sayyid Abdul Malik berimigrasi dari Hadhramaut ke India pada abad ke-14 Masehi, lebih awal dari para imigran lain dari Hadhramaut (baca :habib ).
Sayyid Abdul Malik kemudian menikahi putri bangsawan Nasirabad dan mendapatkan gelar “Azmat Khan”. Gelar “Khan” diberikan oleh bangsawan Nasirabad agar ia dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain.
Selain itu, mereka menyematkan gelar “Azmat” yang berarti “mulia” karena Abdul Malik berasal dari garis keturunan sayyid. Keturunannya tetap mempertahankan nama ini sebagai patronimik sampai hari ini.
Sayyid Abdul Malik lahir di kota Qasam, Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena dia hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berdakwah sebagaimana kakeknya, Sayyid Ahmad al-Muhajir yang hijrah dari Irak ke Hadhramaut untuk berdakwah.
Menurut Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini, guru besar dari Tarim, Yaman, keluarga Azmatkhan (yang merupakan leluhur Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal Hadramaut dari gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.
Karena sejarah panjang perkawinan silang yang ekstensif, terutama dengan bangsawan lokal, kebanyakan dari keturunan Azmatkhan secara fisik dan budaya tidak dapat dibedakan dari penduduk setempat. Tentu ini agak berbeda dengan marga habib yang umumnya menikah dengan keturunan nabi juga ( baca : syarifah ).
Di Indonesia, tidak jarang anggota keluarga Azmatkhan memiliki gelar kerajaan turun temurun seperti Raden, Tubagus, Masagus, Masayu, Kemas, atau Nyimas. Mereka mempertahankan identitas Indonesia dan keturunan Azmatkhan pada saat bersamaan, bahkan beberapa dari mereka tidak dapat melacak nenek moyang mereka lagi.
Dalam sejarah Asia Tenggara, keluarga Azmatkhan tercatat telah mendirikan beberapa kerajaan di Indonesia, serta menjadi raja di beberapa kerajaan di Asia Tenggara.
Di antara kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh keluarga besar Azmatkhan adalah Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang, Kesultanan Pajang, dan Kerajaan Sumedang Larang. Sedangkan di Kerajaan ada Champa, Kerajaan Pattani, Kesultanan Kelantan , Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Demak, para keturunan Azmatkhan berhasil menduduki kursi pemerintahan sebagai raja atau sultan.
Untuk mencatat dan mempertahankan silsilah keluarga Azmatkhan, para habaib Azmatkhan sedunia mendirikan Lembaga Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional, sebuah organisasi nasab internasional yang bertujuan untuk mencatat silsilah setiap keturunan Muhammad datuk dari seluruh sayyid.
Berikut adalah para habib dari marga azmatkhan yang ada di Indonesia.
Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini – tokoh agama, leluhur Walisongo.
Syekh Datuk Kahfi – tokoh agama
Syekh Qurotul Ain (Syekh Quro) – tokoh agama
Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan – Sunan Gresik, tokoh agama
Raden Rahmat Azmatkhan – Sunan Ampel, tokoh agama
Raden Maulana Makdum Ibrahim Azmatkhan – Sunan Bonang, tokoh agama
Raden Qasim Azmatkhan – Sunan Drajat, tokoh agama
Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan – Sunan Kudus, tokoh agama
Raden Said Azmatkhan – Sunan Kalijaga, tokoh agama
Raden Umar Said Azmatkhan – Sunan Muria, tokoh agama
Syarif Hidayatullah Azmatkhan – Sunan Gunung Jati, tokoh agama
Syekh Nawawi al-Bantani – ulama, imam Masjidil Haram
Syekh Raden Asnawi, Kudus – ulama
Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri (Mama Sempur) – ulama
K.H. Hasan Asy’ari – ulama
K.H. Hasan Asy’ari – ulama
K.H. Hasan Genggong – ulama, pimpinan Pesantren Zainul Hasan Genggong
K.H. Tubagus Muhammad Falak Abbas (Mama Falak) – ulama
Abuya Dimyathi al-Bantani – ulama
Abuya Muhtadi Dimyathi – ulama
K.H. Ma’ruf Amin – ulama, Ketua MUI, Rais Aam Syuriah PBNU – wakil presiden
K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur ) – ulama , presiden RI ke 4
K.H. Said Aqil Siradj[16][17] – ulama, Ketua Umum PBNU
Shohibul Faroji – ulama, mursyid,syekh, mufti.
Silsilah Gus Dur
Tokoh kerajaan dari marga azmatkhan :
Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan – raja Champa
Maulana Hasanuddin dari Banten – raja Banten pertama
Sri Susuhunan Abdurrahman – raja Palembang pertama
Prabu Geusan Ulun (Pangeran Angkawijaya) – raja Sumedang Larang Islam pertama
Pati Unus – raja Demak kedua
Fatahillah – Pangeran Jayakarta, pendiri Jakarta
Pangeran Tubagus Angke – Pangeran Jayakarta II
Syarif Muhammad ash-Shafiuddin dari Banten – Sultan Banten sekarang
Pejuang dan pahlawan nasional dari marga azmatkhan :
Ageng Tirtayasa dari Banten – sultan Banten, Pahlawan Nasional Indonesia
Sultan Mahmud Badaruddin II – sultan Palembang, pahlawan nasional
Radin Inten II – pahlawan nasional
Hasyim Asy’ari- pahlawan nasional, tokoh agama, pendiri Nahdlatul Ulama
Ahmad Dahlan – pahlawan nasional, tokoh agama, pendiri Muhammadiyah
As’ad Samsul Arifin – pahlawan nasional, tokoh Nahdlatul ‘Ulama
Wahid Hasyim – pahlawan nasional, Menteri Agama Indonesia pertama
Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani – pejuang, residen Banten
Kini , gelar azmatkhan sudah tidak banyak diketahui orang karena para tokohnya memang tidak menyematkan marga di namanya dan karena mereka sudah menikah dengan pribumi dan mendapat gelar seperti kyai haji , raden atau tubagus . Sangat susah kita mendapatkan orang yang masih menggunakan gelar terhormat syech ini .
Tapi meskipun begitu , tetap ada wadah atau organisasi yang mencatat atau mendata para dzuriah nabi ini seperti halnya Rabithah Alawiah yang mewadahi para habib dinegri ini .
SORBAN SANTRI – Membicarakan masalah mandi kembang tentu pikiran kita akan menuju ke suatu ritual mistis yang dilakukan seseorang untuk tujuan tertentu.
Tapi apakah semua orang yang mandi kembang pasti melakukan suatu ritual tertentu , bagaimana jika itu hanya untuk terapi .
Bunga tidak hanya dikenal karena kecantikannya. Bunga juga mengandung berbagai macam manfaat lain yang belum diketahui oleh khalayak ramai. Namun tak sedikit juga yang tahu bahwa mandi kembang dapat membersihkan aura tubuh, serta memperkuat energi yang terpancar dari tubuh manusia.
Ritual mandi kembang sudah ada dari jaman dulu kala. Hanya saja, beberapa orang masih salah mengartikan makna dari ritual tersebut.
Alangkah baiknya bila seseorang menyelami makna filosofis dari ritual mandi kembang lebih dalam supaya tidak muncul kesalahpahaman.
Bagaimana Sebenarnya Makna Filosofis dari Ritual Mandi Kembang?
Mandi kembang lebih dikenal sebagai ritual kejawen (adat jawa). Setelah diteliti berkali-kali, ditemukan fakta bahwa ritual mandi kembang mampu membersihkan aura manusia. Aura yang kuat dan bersih yang berasal dari kesehatan fisik dan juga mental dapat diperoleh dengan melakukan ritual tersebut. Ditambah lagi, wewangian yang berasal dari bunga-bunga terpilih itu juga dapat mempengaruhi sistem kerja saraf tubuh manusia, sehingga membuat seseorang dapat melakukan hal-hal yang lebih positif. Karena pkiran dan hatinya bersih, maka apa yang dilakukannya juga akan menjadi baik.
Pada sastra kitab klasik, telah dijabarkan oleh Jalaludin As Suyuthi mengenai makna filosofis dari ritual mandi kembang. Selain menimbulkan energi, bunga memiliki ciri aromanya masing-masing. Aroma sedap yang tercium dari bunga, serta bentuk dan warnanya yang indah akan memberikan perasaan nyaman bagi siapapun yang melihatnya.
Ritual mandi kembang menurut Islam bukanlah hal musrik. Mereka yang menganggap ritual mandi kembang adalah musrik, berarti mereka adalah tipe orang yang kurang bisa berpikir jernih. Ritual mandi kembang merupakan tradisi jaman dulu sebelum mengenal sabun. Jadi, supaya tubuhnya bersih dan wangi maka orang jaman dulu menggunakan bunga untuk menyeka tubuhnya. Selagi tidak ada bentuk penyembahan yang melatarbelakangi ritual tersebut, maka mandi kembang bukanlah hal musrik.
Nah , jika disitu tidak ada unsur syirik , apa bedanya dengan mandi susu atau luluran ?
Jadi bisa dipahami bukan ?
Seperti yang disabdakan Allah SWT bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, seperti saat sebelum memulai sholat hendaknya seseorang membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Mandi kembang 7 rupa dalam Islam adalah mandi dengan mencampurkan 7 jenis bunga ke dalam air bersih agar supaya aura dan energi luar dan dalam tubuhnya tetap terjaga. Atau dengan kata lain, supaya kebersihan tubuh tetap terawat.
Mandi Kembang di Malam Jumat? Ini Manfaatnya !
Apa yang terlentas di benak kita ketika mendengar kata “malam jumat”? Pastilah hal-hal yang menakutkan dan mengerikan dan beraura mistis.
Namun tidak demikian adanya, dalam adat kejawen, mandi kembang pada malam jumat dapat mendatangkan banyak manfaat.
Berikut manfaat mandi kembang malam jumat menurut ritual adat Jawa.
•Membuka dan membersihkan aura.
Mandi kembang pada malam jumat dipercaya dapat memperkuat aura seseorang. Diistilahkan sebagai mandi aura karena ritual itu bertujuan untuk mempertajam aura seseorang.
•Menetralisir berbagai penyakit.
Dalam adat Jawa, mandi kembang juga dapat menjauhkan seseorang dari penyakit yang ditimbulkan dari aura negatifnya, seperti santet atau pelet.
Ternyata bunga memiliki daya vibrasi. Vibrasi energi yang terkandung dalam bunga mampu membuat medan energi tubuh menjadi stabil, sehingga sistem pencernaan tubuh berfungsi dengan benar. Manfaat mandi bunga akan sangat dirasakan apabila seseorang sedang mengalami perasaan gelisah atau tertekan. Sebenarnya, tidak peduli pagi, siang, sore, atau malam, seseorang tetap bisa menyerap energi positif yang diberikan oleh bunga-bunga tersebut.
Maka dari itu, orang-orang pada jaman dahulu sering melakukan ritual mandi kembang untuk membebaskan jiwa-jiwa yang sedang terganggu ketentramannya. Karena apabila jiwa seseorang sedang terganggu, fisiknya pasti akan terganggu juga. Berdasarkan penjelasan diatas, hendaknya makna filosofis dari ritual mandi kembang disikapi dengan bijaksana agar tidak menimbulkan prasangka buruk.
Jadi disini bisa disimpulkan bahwa mandi kembang memang tidak dilarang dalam islam selagi tidak ada unsur kemusrikan .
Bagaimana dengan kasus memandikan keris atau mobil baru ?
Pertanyaan seperti ini seharusnya tidak usah dijawab , atau bisa ditanya balik kalau ada yang menanyakan pada kita ?
Apakah keris , mobil perlu mandi kembang , apakah mereka perlu terapi seperti kita , bukankah mereka benda mati .
Jadi bisa dipastikan itu ada unsur lain yang melatarbelakanginya , dan anda pasti tahu jawabannya.
SORBAN SANTRI – Mbah Moen tutup usia ditanah suci Mekah al Mukaromah dalam perjalanan haji tahun ini di usia ke 91 .
Tahukah anda mbah Moen adalah legenda dari pesantren di Indonesia .
KH Maimun Zubair adalah Ulama besar yang lahir di Indonesia. Pemikiran dan karyanya tidak hanya dikaji di Indonesia, tapi juga dunia.
Beliau meskipun tidak belajar di Perguruan Tinggi, tapi wawasannya yang luas dan pergaulannya yang mendunia, pemikirannya menjadi rujukan umat Islam dan dunia.
Beliau produk asli Pesantren. Setelah dididik dengan keras dan disiplin oleh ayahnya, seorang ulama besar, KH Zubair Dahlan, yang juga guru spesial Syaikhina KH MA Sahal Mahfudh dan KH Ahmad Fayumi Munji, beliau meneruskan di Pondok Lirboyo Kediri dibawah bimbingan langsung KH Abdul Karim, santri Hadlratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
Setelah itu, KH Maimun Zubair meneruskan petualangan ilmunya di Timur Tengah, khususnya di Haramain, belajar dengan ulama-ulama besar di Sana. Antara lain Syaikh Yasin bin Isa Al Fadani, dan lain-lain. KH Maimun Zubair juga berguru kepada ulama-ulama besar Indonesia yang lain, seperti Syaikh Fadhol Senori Dan KH Bisri Mustafa. (abi SORBAN)
اللهم اغفر له وارحمه وعافيه واعف عنه واجعل الجنة مثواه، امين يا رب العالمين
SORBAN SANTRI – Pertama, KH Maimun Zubair sebagaimana lulusan PP Lirboyo adalah sosok yang dikenal ahli dalam Bidang nahwu-sharaf. Pengajian kitab Syarah Ibnu Aqil ala Alfiyyah Ibnu Malik menyedot para santri untuk berbondong-boondong mereguk kedalaman ilmu beliau.
Kedua, KH Maimun Zubair adalah sosok Ulama ahli Tafsir. Setia Kali pengajian tafsirnya, khususnya pada Hari ahad di PP Al Anwar Sarang dibanjiri santri Dan Kiai dari berbagai pelosok di Indonesia.
Ketiga, KH Maimun Zubair adalah sosok Ulama yang menguasai sejarah, khususnya sejarah Islam. Beliau mampu menguraikan sejarah secara detail. Dalam pengajian kitab Tafsir, penjelasan beliau tentang sejarah sangat detail Dan mendalam. Hal ini Tidak lepas dari bacaan beliau yang luas terhadap khazanah keilmuan Islam yang Kaya.
Keempat, KH Maimun Zubair adalah sosok mushannif (author) yang karyanya bernas dan ilmiah. Salah satunya adalah Al Ulama Wal Mujaddidun, Catatan Kitab tauhid Jauharatut Tauhid, Tsunami, Biografi Ulama Sarang dalam bahasa Arab, Dan lain-lain.
Kelima, beliau adalah sosok guru yang berhasil melahirkan ulama-ulama besar. KH Abdul Wahid Bandungsari, KH Zuhrul Anam, KH Bahauddin Nursalim, KH Sya’roni, dan ulama-ulama lain adalah produk didikan KH Maimun Zubair. Alumni Al Anwar Sarang tampil sebagai Ulama Dan tokoh masyarakat yang diakui kedalaman ilmu Dan keikhlasannya dalam Berjuang.
Selamat jalan Kiaiku, semoga khusnul Khatimah dan semoga Inspirasi keilmuan dan perjuanganmu tertancap kuat di dada umat, bangsa, dan para santri baik di Indonesia maupun dunia.(abi SORBAN)
SORBAN SANTRI – Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”
Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”
Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :
“Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”
Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.
TIMUR LENK DI AKHIRAT
Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.
“Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?”
Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan ‘semudah’ ini.
“Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah.”
Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. “Betulkah itu, Nasrudin ?”
“Tentu,” kata Nasrudin dengan mantap. “Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.”
Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.(abi-sorban)
SORBAN SANTRI – Apa yang menjadi daya tarik NU hingga bisa bertahan puluhan tahun dan jumlahnya jamaahnya terus membesar? Survei terakhir Alvara tahun 2019 menunjukkan jumlah orang indonesia yang mengaku menjadi anggota NU sebesar 39.4%, jumlah ini setara dengan lebih dari 88 juta penduduk Indonesia
Bila dilihat dari sisi spiritual, kita akan dengan mudah menemukan jawabannya. NU adalah organisasi ulama yang didirikan oleh kyai-kyai yang sudah teruji, siapa bisa meragukan kealiman Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, dan para muassis NU lainnya. Kebesaran NU hingga hari ini adalah bukti karomah beliau-beliau yang secara ikhlas mendedikasikan seluruh hidupnya di NU dan umat.
Namun demikian kita juga membutuhkan penjelasan yang lebih rasional. Penjelasan yang mudah dimengeri oleh semua orang terutama buat khalayak yang tidak terlalu paham mengenai NU.
Dulu saya pernah mengutip Susan Fournier, Profesor Marketing dari Boston University, soal tiga jenis kemunitas. Pertama, Pools, komunitas ini disatukan oleh shared values atau nilai-nilai yang sama, atau bahasa gampangnya komunitas yang memiliki ideologi yang sama.
Kedua, Web, komunitas ini disatukan oleh jejaring yang kuat, hubungan antar anggota komumitas ini cukup erat. Ketiga, Hub, komunitas ini disatukan oleh tokoh idola/panutan, karisma dari sang tokoh membuat orang tertarik ikut dalam sebuah komunitas.
Maka kalau dilihat dari teori ini, kita akan menemukan jawaban kenapa NU sampai saat ini tetap memiliki magnet yang sangat kuat. Kenapa? Karena ketiga tipe komunitas itu ada dan menyatu dalam tubuh NU sejak awal berdiri hingga kini. Mari kita bedah satu-satu.
Pertama, Tidak mudah untuk menjawab apa itu shared values NU, para pemikir NU kontemporer biasanya menjelaskan karakter atau prinsip keagamaan NU ada tiga, yaitu tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus). Tapi apakah ini yang menyatukan NU dalam satu komunitas? Saya rasa tidak. Lalu apa? Jawabannya kita harus menengok kembali ke masa saat NU berdiri tahun 1926.
Harus diakui salah satu latar belakang berdirinya NU tahun 1926 adalah respon atas menguatnya ajaran Wahabi yang di sokong oleh Bani Saud di Arab Saudi kala itu. Ajaran Wahabi yang cenderung puritan adalah ancaman serius terhadap ajaran ahlusunnah wal jamaah (Aswaja) yang dipercaya dan dipraktekkan oleh mayoritas umat islam dunia termasuk Indonesia. Jadi suka tidak suka Aswaja, sebagai antitesis Wahabi, lah yang membuat orang-orang berbondong menjadi NU.
Kedua, kekuatan sentral NU terletak pada kyai dan pesantrennya yang jumlahnya hingga ratusan ribu dan tersebar hingga ke penjuru Indonesia. Pesantren tersebut tidak berdiri sendiri tapi terkait satu sama lain. Jejaring pesantren ini terbentuk setidaknya karena dua hal, keilmuwan dan kekerabatan.
Maka tidak salah juga kalau ada orang yang mengatakan NU adalah sebenarnya adalah asosiasi pondok pesantren. Namun demikian harus diakui juga jaringan pondok pesantren dan hubungan pribadi antar kyai inilah yang menjadi perekat NU hingga kini.
Ketiga, NU dilahirkan oleh ulama-ulama besar dan hingga kinipun juga masih melahirkan ulama-ulama yang memiliki kealiman yang tinggi. Gus Dur misalnya, ketokohanya tidak hanya terjadi dikalangan NU, tapi juga mampu menembus sekat-sekat primordial masyarakat kita. Karisma tokoh kyai yang mumpuni akan selalu menjadi daya tarik yang kuat untuk membuat orang-orang masuk ke sebuah komunitas keagamaan.
Walhasil berbekal kekuatan tersebut bagaimana NU menatap kedepan?(abi SORBAN)
Cerita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.
PKI BURU KYAI DAN SANTRI (KEJADIAN TAHUN 1948)
Kekejaman PKI sebelum Pemilu pertama 1955 terjadi begitu masif dibanyak tempat. Selain untuk menyikat para lawan yang dianggap batu sandungan, hal ini juga dilakukan PKI untuk membuat masyarakat Non PKI segan terhadap mereka. Aksi Perampokan, Penculikan, Pengerusakan hingga Pembunuhan begitu masif dilakukan PKI dibeberapa daerah yang menjadi basis mereka. PKI tidak suka dengan kalangan Pesantren kala itu, bagi mereka kalangan Pesantren dianggap bisa menjadi alat perlawanan untuk PKI, makanya Pesantren harus dibabat untuk mengurangi kekuatan mereka. Perburuan terhadap para ulama pimpinan pesantren terus dilakukan, seorang kiai yang pesantrennya berada jauh di luar Magetan juga menjadi sasaran. Magetan merupakan Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Madiun Pusat Kegiatan PKI saat itu. PKI menyiapkan sumur-sumur dengan kedalaman 10-20 meter sebagai tempat kuburan massal tawanan mereka.
KH Imam Shafwan Pemimpin Pesantren Kebonsari Magetan bersama kedua orang anaknya yaitu K Zubair dan K. Abu Bawani yang sedang memimpin pengajian juga dibantai oleh FDR-PKI. Pada umumnya para kiai telah mempersiapkan diri dengan ilmu kanuragan untuk membentengi diri dari serangan penjahat terutama gerombolan PKI, hal itu dialami oleh Kiai Imam Shofwan, saat dianiaya PKI, walaupun kedua anaknya telah tewas, tetapi sang kiai masih bertahan walaupun menghadapi berbagai siksaan. Karena PKI sudah jengkel dan tidak sabar lagi kemudian dimasukkan hidup-hidup dalam sumur, didalam sumur KH Imam Shofwan masih sempat mengumandangkan adzan yang disaksikan oleh beberapa santtrinya, tetapi kemudian dikubur dalam keadaan masih hidup oleh pasukan Pesindo-PKI. PKI melakukan pembunuhan dan pembantaian dengan beragam cara, mulai dari menyembelih, Menembak, mencincang (Mutilasi), membakar hidup-hidup, hingga mengubur hidup-hidup para tawanan mereka.
Dengan ancaman Senapan, PKI membawa para Santri ke tempat tahanan. (republika.co.id)
Peristiwa serupa dialami oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi ketika sedang i’tikaf di masjid ditangkap oleh gerombolan PKI, setelah diseret keluar dari masjid lalu dimasukkan tahanan di Pabrik Gula Gorang-Gareng. Setelah itu dipindahkan ke tempat tahanan lain di Magetan dengan dinaikkan kereta api berjejal dengan tahanan lain. Setibanya di Desa Soco, para tahanan termasuk K Soilaeman disiksa. Karena Kiai ini juga seorang yang digdaya, maka tidak mudah dibunuh. Karena kejenghkelannya lalu pleh PKI dimasukkan ke dalam sumur tua dalam keadaan hidup-hidup. Lain lagi dengan cerita yang dialami KH Hamzah, saat mendengar pemberontakan PKI di Madiun Kiai ini hendak pergi ke Magetan. Tetapi ketika baru sampai di Desa Bathokan telah disergap PKI, kemudian di tahan beberapa hari tanpa diberi makan baru setelah itu dikubur hidup-hidup. Para tawanan yang mati akan dimasukan kedalam sumur, tak jarang tawanan yang masih hidup juga dimasukan kedalam sumur bercampur dengan mayat-mayat tawan yang telah mati, Para tawanan hidup ini tak jarang dilempari batu dari atas sumur sebelum akhirnya ditimbun hidup-hidup. Dalam sumur-sumur pembantaian PKI yang tersebar dibeberapa titik di Magetan dan Madiun ditemukan mayat-mayat Kyai, Santri, Polisi, Lurah, hingga Camat, ada yang ditembak hingga disembelih oleh PKI.
Seorang Korban PKI digantung dan siksa di depan umum. (historia.id) Monumen di Desa Kresek, Kec. Wungu – Madiun, Patung Musso Yang Sedang Memegang Pedang yang Hendak Memenggal Kyai Husen, Seorang Pimpinan Pesantren yang Juga Anggota DPRD Madiun pada 1948. (sumber: detik.com)
Pesantren Tegalrejo yang didirikan oleh para Prajurit Pangeran Diponegoro di Magetan yang dipimpin oleh Kiai Imam Mulyo itu tidak lepas dari serbuan PKI. Pada 18 September Pesantren ini dikepung oleh ratusan orang PKI, tetapi Kiai Imam Mulyo terus bertahan dengan para santrinya. Kepada para santri Kiai Imam Mulyo menasehati agar tidak menyakiti PKI, Padahal saat itu PKI sudah mulai melempar dan menembaki pesantren. Dengan ilmu kanuragan yang dimiliki kyai Imam Mulyo para santri dilarang keluar dari pagar pesantren, disertai pekikan Allahu Akbar para Santri melakukan perlawanan dari dalam Pondok sehingga PKI pun gagal menghancurkan pesantren. Pada hari berikutnya PKI melakukan serangan lagi bahkan dengan senjata lebih lengkap. Pesantren ditembaki bahkan dilempari puluhan granat, anehnya tidak ada tembakan yang mengena sasaran, bahkan tidak satupun granat yang sudah dilepas picunya bisa meletus. Hanya saja ada seorang santri yang melangggar aturan Kiai Imam yakni ia keluar pagar menyerang PKI. Ketika melakukan serangan itulah santri Tegalrejo bisa ditembak hingga mati. Gagalnya serangan itu PKI membuat taktik lain, yaitu mengajak berunding, di dalam perundingan itu mereka ditangkap dan dibunuh.
PKI melakukan Pembakaran Kampung, Masjid dan Pesantren di Madiun pada 1948. (republika.co.id)
Kisah lainnya pada Senin 20/9/1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisi orang-orang PKI baik laki-laki maupun perempuan mendatangi kampung Kauman – Madiun. Seorang perempuan PKI tiba-tiba berteriak kepada seluruh penduduk Kauman. Dia mengatakan bahwa salah seorang anggota PKI telah mati terbunuh di Kampung Kauman dan mereka akan membalas dendam, Padahal warga Kauman tidak merasa telah membunuh seseorang di kampungnya. Dan benar saja ancaman PKI itu benar-benar dilakukan, 4 hari berselang yakni pada jumat 24/9/2020 orang-orang PKI seperti kumpulan tawon yang tiba-tiba menyerbu Kampung Kauman bersenjata klewang, senapan, clurit, dll. Rumah-rumah dibakar sehingga seluruh penghuni keluar dari persembunyiannya. Dalam aksi pembumihangusan Kampung Kauman itu, tak kurang dari 72 rumah terbakar, dan sekitar 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok untuk disembelih. Namun pembantaian terhadap warga Kauman ini gagal karena Pasukan PKI Pro Pemerintah menyelamatkan mereka.
Saat pemberontakan PKI di sekitar Madiun saat itu keadaan begitu mencekam, orang-orang PKI memutuskan saluran telepon, mereka juga gencar melakukan sweping bersekala besar untuk melakukan penculikan, Jalan-jalan juga penuh dengan orang-orang PKI yang melakukan pencegatan terhadap kendaraan yang lewat dengan target para Pejabat dan tokoh Agama. Banyak Pejabat dan tokoh Agama menjadi korban keganasan PKI karena tidak sempat menyelamatkan diri, PKI melakukan pemburuan di banyak tempat dan pembantaian dilakukan secara serentak di kota-kota sekitar Madiun, mulai dari Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Ngawi dan Tulungagung. Terutama daearah-daerah yang selama ini menjadi basis PKI.
Peta Jawa timur (kompas.com)
PKI juga terus memburu para kiai pimpinan pesantren hingga jauh di luar Madiun. Di Pacitan salah satunya, disana terdapat pesantren kuno yang sangat terkenal yang biasa dikenal dengan Pesantren Tremas. Dari sana lahir ulama besar yang berkaliber internasional yang sangat disegani yaitu Kiai Mahfudz Attarmasi yang kemudian menjadi syeikh di tanah suci.Pada tahun 1948 pesantren ini dipimpin oleh KH Hamid Dimyati, selain seorang pengajar dia ini juga aktivis pergerakan yang menjadi anggota Parlemen di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika terjadi pemberontakan Madiun situasi menjadi kacau, karena saluran komunikasi terputus maka KH Hamid Dimyati berinisiatif melakukan komunikasi langsung dengan bertemu para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta.
KH. Hamid Dimyathi. (pondoktremas.com)
Rute Pacitan-Yogyajarta yang harus melewati Wonogiri. (sumber peta: kompas.com)
Sambil melakukan penyamaran dan perjalan secara sembunyi-sembunyi KH. Hamid Dimyati akhirnya menuju Yogyakarta, Tetap ketika rombongan KH. Dimyati masuk Kabupaten Wonogiri PKI ternyata telah membuat penjagaan dijalan-jalan yang sangatlah ketat mengingat Wonogiri merupakan daerah perbatasan memasuki Yogyakarta Ibukota Negara saat itu, akhirnya penyamaran Kiai Dimyathi terbongkar oleh PKI, rombongannya pun yang berjumlah 15 orang ditangkap gerombolan PKI. Mereka dimasukkan ke dalam tahanan Baturetno dalam tahanan itu disiksa dengan kejam. Ketika tahanan itu penuh rombongan Kyai Dimyathi itu dipindah ke rumah tahanan Tirtomoyo. Di dalam tahanan itu siksaan terus dilakukan, kemudian akhirnya semuanya dibunuh oleh PKI dan dimasukkan kedalam sumur sebagai kuburan massal.
Hanya satu orang yang dibiarkan hidup yaitu Shoimun, yang sengaja dilepas oleh PKI sebagai teror dan peringatan agar terbunuhnya Kiai besar dan anggota KNIP itu diketahui oleh masyarakat luas dan didengar oleh pemerintah. Shoimun itu pulalah yang menunjukkan tempat pembantaian, dan setelah sumur pembantaian tersebut diketahui kemudian hari lalu digali, jenazah Kiai beserta para aktivis pergerakan serta para santrinya yang tinggal tulang berserakan itu kemudian dipindahkan ke taman Makam Pahlawan sebagai tanda jasa bagi para pahlawan pembela Kemerdekaan Indonesia yang dibantai oleh PKI-Pesindo yang anti agama. Bersambung,,
[irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]
[irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]
[irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]
[irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]
Referensi: Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 56-62). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya
Semalam saya berkesempatan ikut ngaji Aqidah Asy’ariyah bersama para pakar Aqidah. Selama ini memang saya masih lebih banyak berkutat dengan Fikih dan seputaran Amaliah Aswaja. Beruntungnya dahulu saat mondok di Ploso saya sempat khatam ngaji Ramadhan kitab Tuhfah Al Murid Syarah Jauharah At-Tauhid, karya Syaikhul Islam wal Azhar, Ibrahim Al Bajuri. Pengajian tersebut diasuh oleh Gus Firjaun Jhon Barlam (Putra KH Ahmad Siddiq, Rais Am PBNU semasa Gus Dur).
Perdebatan di ranah Aqidah memang tidak seramai masalah tuduhan Bid’ah, Khurafat dan Syirik. Karena memang belum terlalu banyak dari mereka. Namun bukan berarti tidak penting. Justru sangat penting. Sebab yang menyebarkan Aqidah yang berlawanan dengan Asy’ariyah saat ini adalah mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, seperti Allah berada di arah tertentu, firman Allah sama seperti perkataan makhluk dan sebagainya. Allah Maha Suci dari ungkapan mereka semuanya.
Metode yang digunakan adalah mudzakarah, bergantian dari para pakar Aqidah yang menyampaikan. Sesekali para pakar inilah yang menyampaikan bahan pertanyaan, sehingga menguji adrenalin, bagaimana mungkin dalam waktu bersamaan tanpa persiapan jawaban, namun tiba-tiba banyak yang bisa terjawab. Subhanallah. Inilah ilmu-ilmu Allah yang diberikan kepada para ulama muda kita.
Dari beberapa pakar tersebut saya melihat memang ada yang betul-betul menguasai dalil Naqli (Qur’an dan Sunnah) di bidang Aqidah. Juga dalil-dalil Aqli yang dahulu pernah meramaikan jagad perdebatan di masa-masa Imam Al-Ghazali, Ar-Razi, Al-Baidhawi dan sebagainya. Dan diantara yang menguasai keduanya adalah Host-nya, yang memandu kami dengan bahasa yang mudah dipahami, yaitu Sayidi Al-Habib Geys Bin Abdurrahman Assegaf.
Nikmat ngaji Aqidah Asy’ariyah dengan para ahlinya ini membuat saya ingin menghentikan detak perjalanan jam yang terasa cepat, dimulai jam 20.00 dan selesai jam 22.30. Dan semua berakhir ketika para istri kyai tersebut memberi isyarat kepada para suami bahwa ini adalah malam Jum’at.
•] Kiriman gambar dari Habib Geys, serasi antara HP dan laptopnya.