SORBAN SANTRI-Tuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur, Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur, dan orang yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur, bahkan, ia sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan.
Bagaimana ia menguji kewalian Gus Dur? Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal dunia. Berita meninggalnya Gus Dur sekitar pukul 7 malam 30 Desember 2011 itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan seluruh masyarakat pun terkejut akan kejadian tersebut.
/>
Ia bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan esok hari ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang. Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan dari NTB hampir berbarengan.
Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.
Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.
Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.
“Mari kita baca surat Alfatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan,” katanya ketika berbincang dengan NU Online disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks pesantren Krapyak Yogyakarta.
Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan (forider), yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren dengan gampang dan setelah itu, motor pengawal tersebut pun menghilang. (abi sorban)
SORBAN SANTRI-Nama lengkap beliau adalah KH. Chamim Jazuli lahir dari seorang ulama besar di daerah Ploso, Mojo, Kediri Jawa Timur. Beliau adalah pendiri sema’an alquran dan jamaah Dzikrul Ghofilin.
Sejak kecil Gus Miek, panggilan akrab beliau, sudah memiliki keanehan-keanehan. Beliau sering pergi dari rumah sampai Kyai Jazuli, ayah beliau, menganggap putranya hilang. Pada waktu di pesantren ayahnya, Gus Miek jarang sekali mengikuti pengajian di madrasah tetapi anehnya itu semua tidak membuat Gus Miek ketinggalan pemahaman tentang agama (kitab kuning) dengan santri-santri ayah beliau. Ketika diuji kemampuan Gus Miek dalam memahami agama malahan jauh melebihi santri-santri ayahnya yang setiap hari masuk dan mengaji di madrasah. Beliau kemudian berguru pada Kyai Dalhar Watucongol, Kyai Hamid Pasuruan, dll. Semua guru dari gus miek tersebut telah dikenal oleh masyarakat sebagai tokoh agama yang paling berpengaruh di daerahnya.
Pada zaman beliau terdapat suatu ketetapan di organisasi Nahdhatul Ulama (NU) tentang thoriqoh. Organisasi NU menetapkan bahwa thoriqoh yang resmi dan diakui keberadaannya hanyalah thoriqoh yang mu’tabaroh artinya silsilah dari thoriqoh itu jelas sampai ke Nabi Muhammad SAW sedangkan thoriqoh yang tidak mu’tabaroh seperti thoriqohnya Sunan Kalijogo, Syaikh Siti Jenar itu tidak diakui keberadaannya. Sungguh tindakan yang sangat bijaksana menurut saya karena pada saat itu Gus Miek tidak memihak salah satu thoriqoh seperti yang dilakukan oleh kebanyakan kyai, tetapi gus miek malahan membuat suatu jama’ah dimana jama’ah tersebut berkumpul melakukan dzikir bersama tanpa harus diembel-embeli thoriqoh mu’tabaroh atau ghoiru mu’tabaroh yang diberi nama jama’ah Dzikrul Ghofilin. Ini merupakan suatu solusi yang bijaksana di mana beliau mampu mengakomodir segala kepentingan. Setiap orang bisa masuk ke jama’ah yang beliau dirikan baik dari kelompok mu’tabaroh atau ghiru mu’tabaroh bahkan orang bukan thoriqohpun bisa masuk pokoknya syarat utama untuk masuk jama’ah Dzikrul Ghofilin adalah islam.
Gus Miek selain dikenal sebagai seorang ulama besar juga dikenal sebagai orang yang nyeleneh. Beliau lebih menyukai da’wah di kerumunan orang yang melakukan maksiat dibandingkan dengan menjadi seorang kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya kitab kuning. Hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di Jawa Timur, keluar masuk club malam, bahkan nimbrung dengan tukang becak, penjual kopi di pinggiran jalan hanya untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya pemikiran jalan pintas.
Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun, Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau interaksi sosial (hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid Pasuruan dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada ritual ”Dzikrul Ghafilin” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa. Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.
Gus Miek seorang hafizh (penghafal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan, beliaupun membentuk sema’an alquran dan jama’ah Dzikrul Ghofilin.
Pernah diceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq dan di sana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya ke mulut Gus Miek. Salah satu dari mereka mengenali Gus Miek dan bertanya kepada Gus Miek, ”Gus, kenapa sampeyan ikut Minum bersama kami? sampeyan kan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh Agama?” Lalu Gus Miek Menjawab, “Aku tidak meminumnya..! Aku hanya membuang minuman itu kelaut…”
Hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut. Diliputi rasa keanehan, Gus miek angkat bicara, “Sampeyan semua gak percaya kalau aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut..?” Lalu Gus Miek Membuka lebar mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget. Di dalam mulut Gus Miek terlihat laut yang bergelombang dan ternyata benar minuman keras tersebut dibuang ke laut. Dan saat itu juga mereka diberi Hidayah Oleh Alloh SWT untuk bertaubat dan meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh agama.
Itulah salah salah satu Karomah kewaliyan yang diberikan Alloh kepada Gus Miek.
Jika sedang jalan-jalan atau keluar, Gus Miek sering kali mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa, beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak.
Ketika beliau dakwah di semarang tepatnya di NIAC di pelabuhan tanjung mas. Niac adalah surga perjudian bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan, Gus Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang semula menjadi surga perjudian menjadi neraka yang sangat menakutkan.
Satu contoh lagi ketika Gus Miek berjalan-jalan ke Surabaya, ketika tiba di sebuah club malam Gus Miek masuk kedalam club yang dipenuhi dengan perempuan-perempuan nakal, lalu Gus Miek langsung menuju waitress (pelayan minuman). Beliau menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus dikejar oleh Gus miek sambil tetap meniupkan asap rokok di wajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan, setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam itu.
Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH. Ahamad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita. “Aku setiap kali bertemu wanita walau secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja.., jadi jalan untuk syahwat tidak ada.” jawab Gus Miek.
Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu di jalan maupun saat bertemu dengan tamu. ”Apabila aku bertemu orang di jalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis.” jawab Gus Miek.
Adanya sistem Dakwah yang dilakukan Gus Miek tidak bisa di contoh begitu saja karena resikonya sangat berat. Bagi mereka yang Alim pun sekaliber KH. Abdul Hamid (pasuruan) mengaku tidak sanggup melakukan dakwah seperti yang dilakukan oleh Gus Miek padahal Kh. Abdul Hamid juga seorang waliyalloh.
Tepat tanggal 5 juni 1993 Gus Miek menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi mulya Surabaya (sekarang Siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya meninggalkan dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan. (abi sorban)
Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH…
Sorban Santri-Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik-bilik kecil pondok pesantren.
Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan para saudagar.
Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat kewajiban Zakat untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan Islam mengajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.
Kyai tersohor kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru Beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang mengarang ratusan kitab, dari fiqh, tashawwuf, maupun tafsir al Qur’an, Syeikh Nawai juga melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air tercinta ini.
Sebagai satu contoh, saat Kyai Hasyim Asy’ari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, Beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yaaa meskipun berbeda pandangan atau pendapat tetapi, kerukunan dan kearifan yang Beliau contohkan kepada para santri sungguh luar biasa dan menakjubkan.
Menurut Beliau, perbedaan ialah hal yang bersifat fitrah dan memang manusiawi, di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam perjuangan melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut. tak pernag kendur semangat.
Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang sangat menderita saat itu.
Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai bilik Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang sudah semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.
Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif saat mengisi kemerdekaan seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera.
Petuah KH Hasyim Asy’ari :
“Agama Dan Nasionalisme Adalah Dua Kutub Yang Tidak Berseberangan. Nasionalisme Adalah Bagian Dari Agama Dan Keduanya Saling Menguatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari)
Sorban Santri – KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tua di Dusun Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7 Penerus Pesantren ini. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan.
Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.
Kyai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan piaraan dirumahnya, spt sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang.
Meski di kenal sebagai Waliyullah, kegiatan KH Zainuddin sehari-hari tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, tapi ia terkenal sangat disiplin dan istiqamah. Jam 22.00 setelah selesai mengajar dimalam hari, sang kiai istirahat hingga jam 02.00 lalu shalat tahajjud, membaca Al Qur’an atau melakukan ibadah-ibadah lain yang bertujuan Taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah hingga menjelang datang waktu subuh.
Namun adakalanya, sembil menanti subuh, Beliu berputar-putar mengelilingi pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan, dikumpulkannya buah sawo, jambu dan buah-buahan lainnya yang berjatuhan untuk makanan ternak. Setelah itu barulah Beliu membangunkan para santri di pondok dengan menyebut nama mereka satu per satu. Begitu banyak nama santri yang beliau hafal.
Apabila musim penghujan tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi, untuk mengatasinya KH. Zainuddin tidak pernah kehabisan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet (kain lap). Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkan atau diteteskan airnya ketubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli santri atau tamu yang kebetulan sowan ke pondok.
Santri yang terkejut merasakan tetesan air itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kyai Zainuddin malah dengan sigapnya bersembunyi dibalik pintu tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Hal ini terus dilakukan sampai santri benar-benar bangun.
Untuk santri yang masih juga membandel, padahal sudah berulang kali tetesan air mengenai tubuhnya maka Kyai Zainuddin meneteskan minyak tanah dari sumbu lampu kaleng. Si santripun bisa jengkel dan bangun sampil berteriak : “wo bocah nakal !!! mbeling tenan, nganggo lengo gas” (wah nakal, keterlaluan banget, pakai minyak tanah). Dan santri itupun hanya bisa tersipu malu ketika mengetahui pelakunya adalah kiainya sendiri. Kyai Zainuddin yang terkenal nyentrik ini memang memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan Beliau.
Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap Beliau membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam. Kalau perlu, Beliau juga turut memberi makan binatang-binatang ternak piaraannya, kiai Zainuddin termasuk penyayang binatang dan rajin menjaga kebersihan lingkungan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Kiai Zainuddin bekerja keras, mengayun cangkul, menanam singkong, jagung atau pisang. Dan untuk keperluan kesehatan, juga membuat apotek hidup dihalaman ndalemnya.
Pada suatu hari, Hadlrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari banyak mendapatkan laporan dari masyarakat, tentang pertunjukan di pondok Mojosari yang dianggap tabu di kalangan “NU” saat itu, Setelah melakukan rapat dengan sejumlah Kyai, akhirnya KH. Hasyim Asy’ari memutuskan akan mengirim surat pribadi yang berisi peringatan kepada KH. Zainuddin, Mojosari, supaya melarang santri-santrinya menyelenggarakan acara-acara yang berbau munkarot.
Ketika surat itu akan dikirim, malam harinya kiai Hasyim bermimpi berjama’ah dengan banyak alim ulama di sebuah masjid. Dan yang mengherankan adalah dengan jelas dia melihat bahwa yang menjadi imamnya adalah KH Zainuddin Mojosari, sedangkan KH. Hasyim sendiri berada di shof agak belakang. maka dia mengurungkan niatnya mengirimkan surat tersebut karena segan dan sangat menghargai kiai Zainuddin.
Keluarbiasaan yang lain, demikian tingginya mata batin kiai Zainuddin, sehingga dia dapat mengetahui muridnya bakal menjadi ulama besar, itu terjadi pada diri Jazuli, anak Muhammad Utsman, seorang naib dari Desa Ploso, Kediri.
Konon, Jazuli sudah berada di Batavia untuk masuk Stovia, sekolah kedokteran tempo dulu. Ketika Kiai Zainuddin mengetahui hal itu, ia segera menemui ayah Jazuli dan minta agar Jazuli ditarik pulang. “Dia tidak cocok sekolah disana,” ujarnya mengingatkan.
Karena yang menyuruh adalah seorang kiai besar, Naib Utsman tidak berani menolak, dikirimnya surat ke Batavia dengan pesan agar Jazuli segera pulang atas saran Kiai Zainuddin. Jazuli sendiri ketika menerima surat itu dapat memahami keputusan tersebut dengan legawa (besar hati), meski ia telah bermukim disana selama beberapa bulan.
Kenyataannya memang demikian, Jazuli Utsman akhirnya dikenal sebagai ulama, pemimpin Pondok Pesantren Ploso,Kediri.
Suatu waktu Kyai Zainuddin mengatakan kepada Jazuli “Cepat kamu datang ke Mojosari”, sebab kala itu Jazuli tinggal di luar pondok karena kemampuan finansialnya tidak mengizinkan untuk tinggal di pondok. “Saya tidak punya uang, kyai” jawab Jazuli polos. “Ah Weslah, nanti kamu akan menjadi blawong” kata Kyai Zainuddin.
Jazuli tidak mengerti apa arti blawong, makanya dia diam saja. Yang terpikir di benaknya adalah posisinya yang serba sulit. Kalau masuk ke pondok, kiriman uang dari rumah tidak cukup, tapi kalau tetap di luar pondok, berarti tidak taat pada gurunya. Oleh karena itu, predikat blawong hanya melintas sekilas di benaknya. Ia tahu bahwa kiai sering memanggil para santri dengan nama julukan daripada nama sebenarnya. Dan julukan itu dibuat sang Kyai sesukanya sendiri. Namun hal itu bukan di anggap kelakar, karena di yakini dapat menembus hal-hal yang bersifat batiniyyah, termasuk masa depan bagi santrinya.
Rupanya permintaan Kyai Zainuddin agar Jazuli pindah ke pondok, bukan basa-basi. Sampai tiga kali hal itu di kemukakan, sehingga akhirnya Jazuli tinggal di pondok menanti perintah gurunya. Ia di tempatkan disebuah kamar bersama tiga santri lainnya yang merupakan murid-murid kesayangannya. Kelak, mereka ini menjadi kiai yang sukses di desanya masing-masing.
Nama Kyai Jazuli Utsman sangat terkenal, dan jauh-jauh hari telah di ketahui oleh Kiai Zainuddin bahwa ia bakal menjadi seorang ulama besar, dengan menjulukinya blawong, ternyata blawong adalah nama panggilan seekor burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu di kerajaan Majapahit, sehingga semua orang menyimak kicaunya. Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan.
Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat Id berjalan kaki. Pulang juga berjalan. Nabi memperbanyak takbir di sela-sela Khutbah. Dan Nabi juga memperbanyak Takbir dalam Khutbah. Ketika Khutbah Nabi memegang tongkat (HR Al-Hakim, Thabrani dan Baihaqi)
Di Bab Jum’at atau hari raya Imam Syafi’i menganjurkan pakai tongkat. Bagaimana bila tidak ada tongkat?
“Asy-Syaafi’i berkata: Aku senang bagi setiap Khatib, Khutbah apapun, untuk memegang sesuatu” (Al-Umm 1/272)
“Sesuatu” boleh tombak, boleh pancing, boleh senapan tembak (gun), boleh kayu, stick billiar pun boleh.
•] Shalat Id di rumah dan khutbah Saudara Muslim di Negeri Jiran tetap memegang tongkat, yang penting benda panjang, apapun itu.
•] Khotib Indonesia pakai bedil
* TEMPO.CO: “Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan tak pernah mengeluarkan seruan yang meminta ulama, kiai, dan ustaz di Indonesia untuk menolak rapid test.
Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Informasi dan Komunikasi, Amirsyah Tambunan mengatakan seruan itu adalah hoaks. “Itu berita hoaks yang sangat tidak masuk akal,” kata Amirsyah kepada Tempo, Ahad malam, 24 Mei 2020.”
* Merdeka.com: “Tim cek fakta merdeka.com menelusuri sekaligus mengkonfirmasi kepada MUI.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid menegaskan seruan tersebut ialah hoaks atau berita bohong. Dia menjelaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan pengumuman tersebut.
“Itu pasti hoaks, karena MUI tdk pernah mengeluarkan pemberitahuan seperti itu,” kata Zainut saat dihubungi merdekacom, Minggu (24/5).
Dia juga menjelaskan surat tersebut tidak sesuai dengan kop standar MUI. Serta tutur bahasanya pun tidak sesuai standar MUI.
“Dari kop surat dan isi pemberitahuannya tidak sesuai standar MUI,” tegas Zainut.”
* REPUBLIKA.CO.ID: “Wakil Sekretaris Jenderal bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI Amirsyah Tambunan mengatakan, menyebarkan berita bohong haram hukumnya bagi umat Islam. Dia kemudian mengingatkan tentang fatwa MUI No. 24 Tahun 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalat dalam media sosial.”
* detikNews: “Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru saja mengeluarkan fatwa terkait hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Fatwa ini mengatur banyak hal, mulai dari cara membuat postingan media sosial sampai cara memverifikasi.
Berikut isi lengkap fatwa tersebut yang dibacakan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam, Senin (5/6/2017):”
* mui.or.id: “HUKUM DAN PEDOMAN
BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحيْمِ
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, setelah :
Menimbang : a. bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi di tengah masyarakat;”
SORBAN SANTRI – Masih pada suasana lebaran, ketika hati yang seharusnya kembali bersih, ucapan yang seharusnya semakin santun, masih ada saja orang-orang yang tampilannya islami tapi justru ucapannya jauh dari sikap umat islam itu sendiri, Naudzubillah…
Di media sosial semua berhak menyampaikan apa saja, akan tetapi seharusnya itu di sampaikan dengan lisan yang baik, jauh dari rasisme yang tentunya akan melukai perasaan orang lain,
beberapa jam setelah menunaikan ibadah sholat ied, kami menemukan sebuah komentar yang sungguh menyakitkan hati, dimana guru bangsa, wali Allah, presiden RI ke-4 Alm.Gusdur (Allah yarham) yang semasa hidupnya di hibahkan kepada kemanusiaan dengan bakti dan bukti sejarah yang nyata, di rendahkan sebegitu rendahnya oleh salah satu akun bernama Inah Nada, setelah kami cek profil akun tersebut sudah bisa di pastikan pemilik akun tersebut dari kalangan pendukung politik yang kecewa/ sakit hati, tampilannya yang tertutup bercadar menambah daftar hitam dimana banyak oknum-oknum bercadar namun lisannya begitu hina, seperti tidak berpendidikan, tidak mencerminkan wajah islam yang sejuk, santun dan menghargai sesama manusia,
Akun tersebut masih aktif, jika ada yang berkenan dari teman-teman kami baik dari Ansor, banser, Gusdurian, maupun lembaga pemuda NU lainnya bersedia untuk tabayyun sebaiknya melalui proses hukum agar tidak terjadi main hakim sendiri
SORBAN SANTRI- Syawal tahun ini terasa beda dari Syawal sebelumnya. Ada sebagian rumah di Surabaya yang tertulis di depan pagar rumah: “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Maaf tidak menerima tamu”. Ada lagi di status WA: “Untuk mengurangi penularan virus Corona maka pemberian uang unjung-unjung ditiadakan”, dan sebagainya.
Dari pada sekedar di rumah online terus lebih baik dilanjutkan puasa Sunah 6 hari bulan Syawal. Sebulan saja mampu, in syaa Allah 6 hari juga mampu.
Dari Abu Ayyub Al Ansori bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa bulan Ramadhan kemudian melanjutkan 6 hari puasa bulan Syawal maka seperti (pahala) puasa 1 tahun” (HR Muslim)
Ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut seperti puasa 1 tahun sebab 1 kebaikan dilipatgandakan 10 kebaikan. Maka Ramadhan seperti 10 bulan dan 6 hari seperti 2 bulan” (Syarah Muslim 8/58)
Penjelasan ini menurut Imam Nawawi berdasarkan hadis:
Dari Tsauban bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Puasa Ramadhan seperti 10 bulan. Dan puasa 6 hari bulan Syawal seperti 2 bulan. Itulah puasa 1 tahun” (HR Nasa’i)
Ulama Syafi’iyah berkata: “Yang utama adalah berpuasa 6 hari bulan Syawal secara terus menerus setelah Idul Fitri. Jika 6 hari tersebut dipisah-pisah atau diakhirkan dari hari awal-awal bulan Syawal maka tetap memperoleh pahala tersebut karena masih kategori meneruskan 6 hari bulan Syawal” (Syarah Muslim 8/58)
Qadha’ Puasa Ramadhan bersama Puasa 6 Hari Bulan Syawal
Ar-Ramli ditanya tentang seseorang yang punya tanggungan puasa Ramadhan dan diqadla’ (ditunaikan) di bulan Syawal apakah dia mendapatkan pahala qadha’ dan pahala 6 hari bulan Syawal, apakah ada dalilnya?
Ar-Ramli menjawab: “Dia mendapatkan pahala qadha’ Ramadhan bersama puasa 6 Syawal, meskipun niat dengan lainnya. Dia juga tetap mendapatkan pahala 6 hari bulan Syawal. Masalah ini telah disampaikan oleh para ulama generasi akhir” (Fatawa Ar-Ramli 2/66) (abi sorban)
SORBAN SANTRI – Kabupaten Mojokerto mendapat “parsel mengejutkan” di malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, Sabtu malam (23/5).
Lima warga sekaligus resmi ditetapkan sebagai pasien terkonfirmasi positif terpapar Covid-19. Kelimanya tersebar di empat kecamatan zona merah. Mulai dari Sooko 2 orang, Pungging (1 orang), Jetis (1 orang), dan Puri (1 orang).
Catatan ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Bumi Majapahit. Sehingga total persebaran pasien positif menanjak menjadi 24 orang. “Jumlah pasien positif Covid-19 hari ini (23/5) bertambah lima orang. Jadi jumlah totalnya adalah 24 pasien,” ujar Jubir Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Mojokerto, Ardi Sepdianto, Sabtu malam (23/5).
Kelima pasien tersebut di antaranya adalah perempuan asal Kecamatan Sooko, yang baru saja melahirkan secara caesar pada 15 Mei lalu. Namun, sebelum operasi, pasien lebih dulu di rapid test dan hasilnya reaktif. Beruntung, proses persalinan berjalan lancar dan anaknya dinyatakan selamat dan sehat. (SUMBER :Nadzir/radar mojokerto)
SORBAN SANTRI-
Ikhwan Salafi lagi di Private Santri NU
RANGKUMAN ALUR DISKUSI ANTARA
Nurul Lailatirrahmah DENGAN Putra Mandala Wangi
TEMA DISKUSI : “TAHLILAN”
Nurul Lailatirrahmah
THREAD KHUSUS AKU SEDIAKAN
UNTUK AKHY Putra Mandala Wangi
Dalam salah satu postingannya akhy Putra Mandala Wangi menuliskan sebagaimana yg aku copy paste berikut ini :
Putra Mandala Wangi
Kemarin ada yg memberitau ana, katanya admin di group ini suka menantang debat ikhwan Salafi.
Bila info tsb mmg bnr, ana mau mencoba melayaninya.
Merespon postingan tersebut melalui thread ini aku bermaksud mengajak akhy Putra Mandala Wangi untuk berdiskusi di sini
INGAT…..!!!
Ajakan aku adalah untuk BERDISKUSI, bukan untuk BERDEBAT.
SELANJUTNYA Kepada Akhy Putra Mandala Wangi aku persilahkan utk memilih dan menentukan terlebih dahulu , apa kira kira TEMA yg mau didiskusikan.
CATATAN :
Khusus utk akhy Putra Mandala Wangi. Selama berdiskusi dilarang keras menuliskan komentar di sub kolom .
Untuk selain dari Akhy Putra Mandala Wangi, dimohon dengan sangat agar cukup untuk menyimak saja .
Putra Mandala Wangi
Kenapa ukhty arena dikusinya kok tidak di lapak yg tadi ana buat, kenapa kok harus dipindahkan di sini?
Suka Balas · 8 jam
Nurul Lailatirrahmah
Alhamdulillah , akhy Putra Mandala Wangi sudah hadir.
Soal kenapa kok thread diskusinya dipindahkan di sini dan tidak di threat yg akhy buat ???
ALASANNYA :
Berdasarkan pengalaman yg sudah sudah , WAHABI kalau kalah adu orgumentasi dalam suatu diskusi, biasanya postingan diskusi yg dibuatnya langsung dihapus.
Nah utk menghindari agar lapak diskusinya tidak dihapus, maka aku pindahkan di sini
Demikian klarifikasi .
Ngomong ngomong apakah akhy Putra Mandala Wangi sudah siap utk memulai diskusinya???
Suka Balas · 8 jam
Putra Mandala Wangi
Afwan ukhty, ana skrg masih sibu
Suka Balas · 8 jam
Nurul Lailatirrahmah
Lantas siapnya kapan ya akhy Putra Mandala Wangi?
Suka Balas · 8 jam
Putra Mandala Wangi
Nanti biar ana kabari
Suka Balas · 8 jam
Putra Mandala Wangi
Ukhty Nurul Lailatirrahmah, skrg ana sudah siap utk berdiskusi.
Apakah ukhty masih punya nyali berdiskusi dg ana?
Suka· Balas · 7 jam
Nurul Lailatirrahmah
Alhamdulillah kalau akhy Putra Mandala Wangi sudah siap utk berdiskusi.
Sekarang silahkan tentukan tema yg mau didiskusikan akhy …
Suka Balas · 7 jam
Putra Mandala Wangi
Ketahuilah ukhty Nurul Lailatirrahmah, Bahwa Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata :
Apakah ukhty mengingkari perkataan Jarir bin Abdullah Al Bajaliy tersebut??
Suka Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Aku sama sekali tidak mengingkari Qoulnya Jarir bin Abdullah Al Bajaliy tersebut.
Lantas apa masalahnya ya akhy Putra Mandala Wangi???
Suka· Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Klu memang tidak menginkari mengapa ukhty kok masih melanggarnya dengan melakukan TAHLILAN???
Suka Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Akhy Putra Mandala Wangi, dalam Qoul yg akhy kutip tersebut tidak ada satu katapun yg menyebut tentang TAHLILAN .
Lantas atas dasar apa akhy kok membelokkan qoul tsb ke masalah TAHLILAN?
Suka Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Sbnrnya ukhty Nurul Lailatirrahmah paham atau tidak terhadap maksud dari Qoul Jarir bin Abdullah Al Bajaliy tersebut??
Suka Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Aku sangat paham akhy .
Jarir bin Abdullah Al Bajaliy mengatakan bahwa para shahabat Beliau memandang/menganggap bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap”
PERTANYAANKU:
Dari Qoul tsb klu mnrt akhy Putra Mandala Wangi di bagian mana yg membahas soal TAHLILAN???
Suka Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Bukankah TAHLILAN itu tempat kumpul kumpul dan makan makan yaa ukhty Nurul Lailatirrahmah???
Jadi kalau berdasarkan Qoul tsb jelas TAHLILAN itu dilarang , karena bagian dari NIYAAHAH.
Suka Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Nah ….. di situlah letak kesalahan fatal akhy Putra Mandala Wangi dalam memahami dan memaknai Qoul tsb
Selain itu kelihatannya akhy belum bisa membedakan antara TAHLILAN dengan MA’TAM.
TAHLILAN bukanlah tempat kumpul kumpul dan makan makan sebagaimana yg akhy sangkakan. Tahlilan adalah tempat orang untuk mengamalkan perintah Rosululloh Saw yg isinya :
1. Utk Bershodaqoh atas nama diri sendiri dan atas nama org yg telah meninggal dunia.
2. Membacakan beberapa ayat AlQur’an .
3. Membacakan beberapa kalimatut thoyyibah, seperti Sholawat Nabi , Tasbih, Tahmid. Istighfar , Tahlil
4. Mendoakan dengan memohonkan rohmat dan ampunan Alloh terhadap orang yg telah meninggal dunia
Adapun MA’TAM adalah tempat berkumpulnya beberapa orang utk melakukan NIYAAHAH.
Jadi antara TAHLILAN dengan MA’TAM dan NIYAAHAH itu beda jauh makna dan pengertiannya akhy …
Suka Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
‘Afwan Ukhty Nurul Lailatirrahmah, dalam komentar ukhty di atas mengatakan bahwa TAHLILAN adalah tempat orang untuk mengamalkan perintah Rosululloh Saw.
Mana ada Rosulullah Saw memerintahkan tahglilan???
Jangan mengada ada lah ukhty …
Suka· Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Ada akhy ….
Berikut ini aku kutipkan hadits Nabi yg memerintahkan TAHLILAN:
PERTANYAANKU :
Akhy Putra Mandala Wangi kira kira mengimani hadits tersebut ataukah ju8stru akan mengingkarinya????
Suka Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
‘Afwan ukhty Nurul Lailatirrahmah, bisakah ukhty tuliskan terjemah dari hadits yg ukhty kuti itu??
Suka Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Lhooo…… sebenarnya akhy Putra Mandala Wangi ini mau kembali kepada Al-Qur’an Hadits atau kembali ke TERJEMAH sih ?
Suka· Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
‘Afwan Ukhty, berhubung ana ada keperluan, ana ijin of dulu .
Nanti disambung lagi .
Suka Balas · 7 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Nurul Lailatirrahmah Yg akhy maksudkan sbg “NANTI” tersebut kira kira kapan yaa akhy Putra Mandala Wangi???
Satu jam lagikah ?
Satu hari lagi kah?
Satu minggu lagi kah ?
Satu bulan lagi kah?
Satu tahun lagi kah??
Atau kapn????
Coba lebih dipertegas lagi akhy ….
Suka Balas · 7 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Baiklah Ukhty Nurul Lailatirrahmah. Ana sdh berhasil menterjemahkan hadits yg ukhty kutip di atas.
“Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
“Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, ﺗﻌﺎﻟﻰ الله telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”
Dari hadits tersebut bukankah juga tidak ada perintah dari Nabi utk mengadakan tahlilan ya ukhty???
Suka Balas · 6 jam ·
==========
Nurul Lailatirrahmah
Nurul Lailatirrahmah Bener banget akhy Putra Mandala Wangi, dalam hadits tersebut memang tidak ada yg tertulis secara tekstual perintah mengadakan TAHLILAN .
Tetapi perlu akhy pahami bahwa dalam TAHLILAN isinya adalah semua yg diperintahkan dalam hadits tsb .
PERTANYAANKU:
Akhy Putra Mandala Wangi kira kira mengimani hadits tersebut ataukah ju8stru akan mengingkarinya????
Suka Balas · 6 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Tetapi Ukhty Nurul Lailatirrahmah , bukankah yg namanya ibadah itu bersifat TAUQIF, yaitu terikat oleh Syarat, Rukun, Jumlah, Tempat, Waktu dan Tata caranya???
Sementara yg namanya tahlilan itu lain daerah kan beda cara pelaksanaannya, lantas di mana letak sifat Tauqifnya?
Suka Balas · 6 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Aku sepakat dengan akhy Putra Mandala Wangi, bahwa yg namanya ibadah itu bersifat TAUQIF, yaitu sdh terikat segala sesuatunya .
Yang jadi persolan sekarang :
Sifat TAUQIF tersebut berlaku dalam ranah ibadah yg bagaimana dulu.
Ini yg perlu kita paham
Suk Balas · 6 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Yang namanya ibadah itu ya ibadah ukhty…….
Jadi tidak perlu ditanyakan lagi tentang ranah ibadah yg mananya…..
Suka Balas · 6 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
He he he …….. Kelihatannya akhy Putra Mandala Wangi masih belum memahami bahwa yg namanya ibadah itu sangat banyak sekali jenisnya.
Suka Balas · 6 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Tdk usah sok pinter lah ukhty ……..
Yg namanya ibadah itu adalah segala bentuk penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jadi gk usah dibagi bagi
Suka Balas · 6 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Bagini lho akhy Putra Mandala Wangi.
Ibadah dalam Islam itu terbagi menjadi beberapa bagian , di antaranya:
1. Ibadah MAHDHOH
2. Ibadah GHOIRU MAHDHOH
Ibadah MAHDHOH dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
a. Ibadah Mahdhoh Muqoyyat
b. Ibadah Mahdhoh Muthlaqoh .
Ibadah Mahdhoh Muqoyyat adalah jenis ibadah yg murni hubungannya antara seorang hamba dg Alloh Swt. yang
dalam pelaksanaannya terikat oleh :
= Adanya dalil qoth’i yg memerintahkannya
= Adanya contoh dari Rosululloh Saw
= Terikat oleh syarat, rukun , jumlah , tempat, waktu dan tata caranya .
CONTOHNYA :
Sholat, Puasa Romadlo, Zakat , Haji DLL…….
Kemudian Ibadah Mahdhoh Muthlaqoh adalah jenis ibadah yg murni hubungannya antara seorang hamba dg Alloh Swt. Yang dalam pelaksanaannya :
= Terikat oleh Adanya dalil ‘Am yg memerintahkannya
= Tidak terikat oleh Adanya contoh dari Rosululloh Saw
= Tidak Terikat oleh syarat, rukun , jumlah , tempat, waktu dan tata caranya .
CONTOHNYA :
Berdzikir, Berdo’a, Bersholawat, Membaca Al-Qur’an, Membaca Kalimatut Thoyyibah , DLL…….
Adapun TAHLILAN masuk ke dalam ranah Ibadah Mahdhoh Muthlaqoh. Jadi Sifat Tauqifnya ibadah tersebut tdk berlaku dalam ibadah Mahdhoh Muthlaqoh…
Suka Balas · 6 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Ana kok tambah bingung ya ukhty Nurul Lailatirrahmah.
Untuk sementara waktu tolong beri ana ruang utk berfikir dulu .
Suka Balas · 6 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Silahkan akhy ….
Tapi ngomong ngomong jeda waktu ruang utk berfikirnya berapa lama satau sampai kapan yaaa????
Mohon kejelasannya akhy
Suka Balas · 6 jam ·
==========
Putra Mandala Wangi
Ukhty Nurul Lailatirrahmah, masih bolehkah ana mengajukan beberapa pertanyaan yg msh mengganjal di pikiran ana?
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Silahkan akhy Putra Mandala Wangi.
Mengajukan pertanyaan yg tidak mengganjalpun juga boleh kok
Suka Balas · 5 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.Berdasarkan hadits tersebut , apakah tdk sia sia doa dari org lain ???
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Begini akhy Putra Mandala Wangi , dalam hadits yg akhy kutip tsb kalimat وَلَدٍ صَالِحٍsangat begitu jelas menggunakan kalimat ISIM NAKIROH, yaitu suatu kalimat yg menunjukkan pada sesuatu secara kesatuan yang tidak ditentukan atau sesuatu yg bersifat umum.
Dengan penggunaan kalimat Isim Nakiroh pada kalimat WALADIN SHOOLIHIN tsb maka dapat ditarik satu kesimpulan bahwa ANAK SHOLIH yg dimaksud dalam hadits di atas tidak terbatas hanya ANAK KANDUNG SAJA tapi bi ma’na bisa anak didik, anak buah atau anak bani Adam yg muslim dan muslimah.
Sesuai dengan Firman Alloh swt berikut ini:
“Ya Tuhan kami! Berilah keampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).”
Q.S: IBRAHIM, 14:41.
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu akan berkata: Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami”. AL-HASYR, 59:10
Dengan demikian penolakan terhadap amaliah TAHLILAN dengan dalih bahwa doa yg sampai hanya doa dari anak kandungnya yg sholih sj telah gugur dengan sendirinya.
Demikian sekelumit penjelasan tentang WALADIN SHOOLIHIN YAD’ULAHU .dari hadits yg akhy ajukan
Suka Balas · 5 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Tetapi dalam Surat An-Najm ayat 38-39 Alloh berfirman sebagai berikut:.
Apakah tidak sia sia belaka walaupun dikirimin pahala sebesar gunung dari orang lain , ???
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Menanggapi Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 38-39 yg akhy Putra Mandala Wangi ajukan, berikut ini aku kutipkan penafsiran Dr. Muhammad Bakar Ismail, seorang ahli fiqh kontemporer dari Mesir. Beliau menjelaskan sebagai berikut :
Suka· Balas · 5 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Putra Mandala Wangi Bisakah diberikan artinya ya Ukhty Nurul Lailatirrahmah?
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Jelas bisa doooong …….
Ini arti dari tafsiran r. Muhammad Bakar Ismail yg aku kutipkan di atas:
“Menghadiah pahala kepada orang yang telah mati itu tidak bertentangan dengan ayat وان ليس للإنسا الإماسعىkarena pada hakikatnya pahala yang dikirimkan kepada ahli kubur dimaksud merupakan bagian dari usahanya sendiri.
Seandainya ia tidak berbuat baik ketika masih hidup, tentu tidak akan ada orang yang mengasihi dan menghadiahkan pahala untuknya. Karena itu sejatinya, apa yang dilakukan orang lain untuk orang yang telah meninggal dunia tersebut merupakan buah dari perbuatan baik yang dilakukan si mayit semasa hidupnya.”
Demikian akhy Putra Mandala Wangi.
Apa masih ada pertanyaan lagi akhy ?
Suka Balas · 5 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Tafsiran yg ukhty tulis itu hanya sekedar akal akalan ukhty saja ataukah memang ada Kitab yg menuliskannya ya Ukhty?
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Tafsir dari Dr. Muhammad Bakar Ismail tersebut termaktub dalam Kitab Al-Fiqh Al-Wadlih akhy ……
Silahkan dibuka saja kalau punya Kitabnya dan bisa membacanya.
Suka Balas · 5 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Di Juz berapa dan halaman berapa ya Ukhty ???
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Di juz I, halaman 449 Akhy …….
(Gayanya nanya Juz dan halaman segala )
Apa masih ada yg mau ditanyakan lagi akhy Putra Mandala Wangi?
Suka Balas · 5 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Ada Ukhty , dan ini pertanyaan terakhir.:
Kalau memang tahlilan itu disebut sbg sunnah Nabi , apakah ada satu saja riwayat kalau Nabi Saw mengadakan tahlilan ketika para istri , anak anaknya dan para sahabatnya meninggal dunia ?
Suka Balas · 5 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Akhy Putra Mandala Wangi, akhy harus paham bahwa yang namanya SUNNAH Rosululloh Saw tidak hanya sebatas yg pernah dikerjakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw saja .
Menurut ahli hadis, sunnah adalah:
“Segala yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, maupun perjalanan hidupnya, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul Saw maupun sesudahnya.”
Menurut ahli usul fikih, sunnah adalah:
“Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw. selain al-Qur’an baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi penetapan hukum syara’ (hukum agama).”
Berikut ini beberapa macam Sunnah :
1. Sunnah Qauliyah.
Sunnah Qauliyah adalah bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Dengan kata lain Sunnah Qauliyah yaitu sunnah Nabi Saw. yang hanya berupa ucapannya saja baik dalam bentuk pernyataan, anjuran, perintah cegahan maupun larangan.
Contoh sunnah qauliyah:
Hadits tentang TAHLILAN sebagaimana yg sudah aku kutipkan jauh di atas.
2. Kemudian Sunnah Fi’liyah.
Sunnah fi’liyah adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kualitas sunnah fi’liyah menduduki tingkat kedua setelah sunnah qauliyah. Sunnah fi’liyah juga dapat maknakan sunnah Nabi Saw. yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para sahabat.
3. Kemudian Sunnah Taqririyah.
Taqrir, yaitu keadaan Rosululloh Saw mendiamkan, tidak memberikan sanggahan terhadap suatu perkara yang dilakukan oleh sahabat berupa perkataan atau perbuatan, baik hal itu dilakukan di hadapan beliau atau tidak, namun beritanya sampai kepada beliau.
PERTANYAANNYA:
Jikalau yg disebut sbg SUNNAH NABI itu hanya sebatas yg dilakukan oleh Nabi Saw saja , lantas akan akhy buang ke mana SUNNAH QOULIYAHNYA dan SUNNAH TAQRIRIYAHNYA Kanjeng Nabi Muhammad Saw???
Silahkan dijawab akhy .
Suka Balas · 4 jam
==========
Putra Mandala Wangi
Maaf Ukhty Nurul Lailatirrahmah, berhubung waktu sdh larut malam ana mohon ijin utk istirahat dulu.
Wassalaam .
Suka Balas · 4 jam
==========
Nurul Lailatirrahmah
Akhy Mandala ini gimana sih …….
Bukannya ngasih jawaban lha kok malah WASSALAAM .
Wa’alaikumus salaam wr wb
Suka Balas · 4 jam
===========
Nurul Lailatirrahmah
Dari alur diskusi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Amaliyah TAHLILAN murni perintah Al-Qur’an maupun Al-Hadits.
2. Barang siapa yg membid’ah dlolalahkan amaliyah TAHLILAN , sesungguhnya merekalah pelaku BID’AH DLOLALAH yg sebenar benarnya , karena telah mengingkari perintah Alloh dan Rosululloh Saw.
DISKUSI AKU NYATAKAN SELESAI
Suka Balas · 4 jam
==========
SELESAI