Penulis: Sorban Santri

  • Allah Ada Dimana? Mengenai Ayat Tasybih

    Allah Ada Dimana? Mengenai Ayat Tasybih

    SORBAN Infokom – Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sekarang sangat digandrungi dan makin banyak muncul masa kini. Jika salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada di langit, mempunyai tangan, wajah dll, yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Illahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat – ayat dan hadits tersebut.

    Dimanakah Allah?
    Sebagaimana makna Istiwa, ada yang mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”. Darimana menemukan makna kalimat Istiwa adalah semayam?, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat – ayat dan nash hadits lain.
    Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk.

    Berkata Hujjatul Islam Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab :
    ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tidak diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini
    adalah Bid’ah Munkarah)
    , dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”. Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang
    jahat”, lalu mengusirnya.

    Masalah ayat atau hadist tasybih (tangan atau wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
    1. Pendapat Tafwidh Ma’a tanzih
    2. Pendapat Ta’wil

    II.1.1. Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih
    Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala, dengan I’tiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
    Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga dipegang oleh Imam Abu Hanifah.
    Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para Imam yang memegang madzhab tafwidh.

    II.1.2. Madzhab Takwil
    Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah Ta’ala, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat
    penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll. (Syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
    Pendapat ini juga terdapat dalam Alqur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam – imam ahlussunnah waljamaah.
    Diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah Ta’ala berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)

    Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?
    Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. ”Wa ma’na ajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya
    (Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125)
    Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh
    Imam Ibn Jauziy).

    Maka jelas bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya : ”Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa – apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas Tuhan sekalian alam” . (QS. Asshaffat : 180-182).
    Walillahittaufiq. (Sumber – Kenali Aqidahmu karangan habib munzir )

  • Update Corona 2 April: 1.790 Kasus, 170 Meninggal, 112 Sembuh

    Update Corona 2 April: 1.790 Kasus, 170 Meninggal, 112 Sembuh

    SORBAN Infokom – Jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) di Indonesia, per Kamis (2/4), mencapai 1.790 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 170 jiwa, dan angka yang sembuh 112 orang.

    “Ada penambahan kasus konfirmasi positif 113, sehingga jumlah total menjadi 1.790 kasus positif akumulatif,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, dalam keterangan persnya, di gedung BNPB, Jakarta, Kamis (2/4).

    Lihat juga: Update Corona DKI 1 April: 794 Kasus, 87 Meninggal, 51 Sembuh
    Dia memaparkan dari angka itu korban meninggal mencapai 170 jiwa.

    “Ada laporan kematian dari pasien konfirmasi positif sebanyak 13 orang. Sehingga jumlah kematian menjadi 170 orang,” ujar dia.

    Selain itu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh setelah menjalani dua kali tes sebanyak 112 orang.

    “Ada 9 pasien yang sudah sembuh sehingga total menjadi 112 pasien,” tandasnya.

    Sehari sebelumnya, Rabu (1/4), jumlah pasien positif Virus Corona mencapai 1.677 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 157 orang, dengan jumlah yang sembuh 103 orang.

    Untuk menekan sebaran infeksi Covid-19 ini, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pun telah meneken Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang mengatur tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

    (yoa/arh)

    (sumber)

  • KISAH BUKTI HEBAT DAN AGUNGNYA AKHLAK RASULULLAH SAW

    KISAH BUKTI HEBAT DAN AGUNGNYA AKHLAK RASULULLAH SAW

    Pernah seorang Arab Badwi menarik dengan begitu kasar jubah buatan Najran yang kasar kainnya, yang dipakai oleh Rasulullah SAW hingga berbekas leher baginda. Tetapi Rasulullah SAW tidak marah, malah menghadiahkan jubah itu kepada Arab Badwi tersebut.

    (lebih…)

  • Team GUGUS COVID-19 PCNU MOJOKERTO amankan MOJOKERTO DARI CORONA

    Team GUGUS COVID-19 PCNU MOJOKERTO amankan MOJOKERTO DARI CORONA

    Infokom jetis- MOJOKERTO MELAWAN COVID-19 selalu di gaungkan oleh warga mojokerto dengan tujuan memberikan semangat untuk menjaga diri sendiri dan orang orang di sekitarnya terhindar dari COVID-19, oleh karena itu semua saling menjaga kebersihan diri dan lingkungan di sekitarnya serta melakukan penyemprotan disinfektan di tempat tempat umum dan tempat tempat ibadah seperti yang di lakukan oleh PCNU KAB MOJOKERTO

    PCNU KAB MOJOKERTO membentuk team GUGUS COVID-19 yang terdiri dari LPBI-NU, Lazisnu, LTMNU, ANSOR BANSER, LKNU, KPP dan ada juga LDNU untuk melakukan penyemprotan masjid masjid sekabupaten mojokerto secara bergilir, seperti yang di sampaikan koordinator team GUGUS COVID-19 GUS YANI LPBI pada team infokom di saat mengondisikan teamnya untuk melakukan penyemprotan di masjid masjid seMWCNU JETIS (senin/30/03/2020) “kami sudah melakukan penyemprotan di masjid masjid seMWCNU MOJOSARI seMWCNU NGORO MWNU SOOKO, MWCNU GONDANG, MWCNU KEMLAGI dan saat ini giliran masjid masjid seMWCNU JETIS” kata GUS YANI

    SORBANSANTRI.COM

    GUS YANI koordinator team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO

    Team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO akan teros melakukan penyemprotan ke masjid masjid sekabupaten mojokerto sampai kondisi benar benar aman dan apabila ada yang membutuhkan bantuan team GUGUS COVID-19 KAB MOJOKERTO silahkan menghubungi MWCNU setempat dan akan di sambungkan PCNU KAB MOJOKERTO dan dari team GUGUS COVID-19 akan siap melakukan penyemprotan dan akan selalu menggunakan alat pelindung diri (APD)

    SORBANSANTRI.COM

    Penyemprotan dengan mengunakan APD

    Mengenai pembiayaan menurut GUS YANI selain dari PCNU KAB MOJOKERTO juga di dapat dari beberapa donator warga NU mojokerto, pernyataan GUS YANI tentang pembiayaan penyemprotan disinfektan ini sama dengan yang di sampaikan oleh ketua MWCNU JETIS (H. KHOIRUL AMIN) saat di temui team infokom “masjid masjid yang di semprot disinfektan tidak di pungut biaya alias GRATIS dan dari MWCNU JETIS hanya membantu menyediakan konsumsi sederhana untuk team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO”

    SORBANSANTRI.COM

    H.KHOIRUL AMIN (MWCNU JETIS) BERSAMA M.ISA (KASATKORYON JETIS) H.USAIL (LDNU)

    H. KHOIRUL AMIN juga menginformasikan kegiatan kegiatan keNUan yang besifat pengumpulan massa di MWNU JETIS sementara di tunda dulu sampai ada pemberitahuan kondisi benar benar aman dan beliau juga menghimbau pada para warga NU JETIS untuk pencegahan penularan virus COVID-19 dengan membagikan brosur ke warga serta mengharapkan berdoa di rumah masing masing supaya kondisi segera pulih kembali

    Team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO saat penyemprotan kali ini sangat bersemangat karena dari SATKORYON JETIS membantu mengondisikan dengan menugaskan puluhan BANSER JETIS ada dari BIRO BALANTAS, BIRO BAGANA, BIRO HUSADA

    SORBANSANTRI.COM

    BANSER SATKORYON JETIS

    By : alim infokom

  • Team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO amankan MOJOKERTO dari CORONA

    Team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO amankan MOJOKERTO dari CORONA

    Infokom jetis- MOJOKERTO MELAWAN COVID-19 selalu di gaungkan oleh warga mojokerto dengan tujuan memberikan semangat untuk menjaga diri sendiri dan orang orang di sekitarnya terhindar dari COVID-19, oleh karena itu semua saling menjaga kebersihan diri dan lingkungan di sekitarnya serta melakukan penyemprotan disinfektan di tempat tempat umum dan tempat tempat ibadah seperti yang di lakukan oleh PCNU KAB MOJOKERTO

    PCNU KAB MOJOKERTO membentuk team GUGUS COVID-19 yang terdiri dari LPBI-NU, Lazisnu, LTMNU, ANSOR BANSER, LKNU, KPP dan ada juga LDNU untuk melakukan penyemprotan masjid masjid sekabupaten mojokerto secara bergilir, seperti yang di sampaikan koordinator team GUGUS COVID-19 GUS YANI LPBI pada team infokom di saat mengondisikan teamnya untuk melakukan penyemprotan di masjid masjid seMWCNU JETIS (senin/30/03/2020) “kami sudah melakukan penyemprotan di masjid masjid seMWCNU MOJOSARI seMWCNU NGORO MWNU SOOKO, MWCNU GONDANG, MWCNU KEMLAGI dan saat ini giliran masjid masjid seMWCNU JETIS” kata GUS YANI

    SORBANSANTRI.COM

    GUS YANI koordinator GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO

    Team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO akan teros melakukan penyemprotan ke masjid masjid sekabupaten mojokerto sampai kondisi benar benar aman dan apabila ada yang membutuhkan bantuan team GUGUS COVID-19 KAB MOJOKERTO silahkan menghubungi MWCNU setempat dan akan di sambungkan PCNU KAB MOJOKERTO dan dari team GUGUS COVID-19 akan siap melakukan penyemprotan dan akan selalu mengunakan alat pelindung diri (APD)

    SORBANSANTRI.COM

    Penyemprotan dengan mengunakan APD

    Mengenai pembiayaan menurut GUS YANI selain dari PCNU KAB MOJOKERTO juga di dapat dari beberapa donator warga NU mojokerto, pernyataan GUS YANI tentang pembiayaan penyemprotan disinfektan ini sama dengan yang di sampaikan oleh ketua MWCNU JETIS (H. KHOIRUL AMIN) saat di temui team infokom “masjid masjid yang di semprot disinfektan tidak di pungut biaya alias GRATIS dan dari MWCNU JETIS hanya membantu menyediakan konsumsi sederhana untuk team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO”

    SORBANSANTRI.COM

    H. KHOIRUL AMIN (MWCNU JETIS) M. ISA (KASARKORYON JETIS) H. USAIL (LDNU)

    H. KHOIRUL AMIN juga menginformasikan kegiatan kegiatan keNUan yang besifat pengumpulan massa di MWNU JETIS sementara di tunda dulu sampai ada pemberitahuan kondisi benar benar aman dan beliau juga menghimbau pada para warga NU JETIS untuk pencegahan penularan virus COVID-19 dengan membagikan brosur ke warga serta mengharapkan berdoa di rumah masing masing supaya kondisi segera pulih kembali

    Team GUGUS COVID-19 PCNU KAB MOJOKERTO saat penyemprotan kali ini sangat bersemangat karena dari SATKORYON JETIS membantu mengondisikan dengan menugaskan puluhan BANSER JETIS ada dari BIRO BALANTAS, BIRO BAGANA, BIRO HUSADA

    SORBANSANTRI.COM

    BANSER SATKORYON JETIS

    BY: Alim infokom

  • MENYERANG PEMERINTAH DALAM KESEMPITAN

    MENYERANG PEMERINTAH DALAM KESEMPITAN

    SORBAN Infokom – Kita sdg merasakan getirnya serangan corona, konsentrasi pemerintah harus fokus, selain mengatasi penyakit yg memggerus kekuatan dunia, di waktu yg sama pemerintah harus mengendalikan berjalannya roda ekonomi agar tidak stug.
    Bukan pekerjaan mudah, saya tidak bisa membayangkan bgmn cara Pak Jokowi memutar pikiran pada setiap detiknya, bgmn koordinasi dgn para menteri,dan jajaranya .

    Negara dgn mayoritas agama yg selalu dekat dgn Tuhan, mengaku beradab dan teriakannya menyambangi langit ke tujuh ini ternyata banyak manusianya yg meletakkan mulutnya di jepit pantatnya, dan membiarkan otaknya pindah ke lututnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Adalah orang-orang terpelajar seperti, FZ, Haikal Hasan, RR, SBY, AHY, dan sejenisnya, mereka tidak hentinya menyerang pemerintah seolah semua salah pemerintah ,
    Bak pepatah lama, Cermin di pajang, berkaca di celah lubang, pantulannya tak terlihat mukanya.

    Apakah mereka beradab, di tengah negara dilanda bencana yg meresahkan dunia, mereka mencari kesempatan menyerang, tak ada jeda sejak semula,
    apakah oposisi itu harus menghabisi,
    apakah mereka mengenal bangsanya, bagaimana pikirannya di tengah kesusahan mereka berdendang menyerang.
    * Lock down kata AHY yg nyukur kumisnya saja belum bs rata,
    *RR blg rakyat tdk butuh Ibu Kota Baru, rakyat butuh presiden baru, *SBY bilang rakyat tdk akan resah karena corona kalau pemerintah kredibel,
    *FZ gak usah di komen, biarkan saja sampah busuk itu menggunung dan longsor dgn sendirinya.
    *HH bukan kelas kita mengomentarinya.

    Anak bau kencur yg kelimis krn buapaknya presiden yg setengah sinden ini jadi setali tiga uang, like father jd herder.
    Dia mbacot lock down, apa dia ngerti alurnya, apa dia mikir resikonya, dia pikir terus kl bs blg lock down dia dianggap bisa, preet..mayor bekas mau ngegas, lepaslah pedalnya. Nanti saja kalau sdh pakai matic enak nyetirnya.

    SBY, apa kurang kaca sekaligus monumen Hambalang yg sengaja di sisakan Pak Jokowi agar dia selalu bisa kesana saat rindu mencari judul lagu, atau kangen saat-saat nyinden yg lalu.
    Pak Jokowi itu khabarnya tidur hanya 3 jam sehari, makan seadanya, pikirannya hanya kerja buat rakyatnya. Eh kita punya sejarah ada presiden bekas yg sempat nyinden dan 6 kali rekaman. Pertanyaannya, kapan dia kerja, kapan dia mikirin bangsanya. Tapi patut saja, kita tau apa hasilnya, ninggalin hutang yg hanya buat subsidi, dan dilunasi Jokowi.

    RR, manusia putus asa ini dari zaman Gusdur diangkat menteri lalu tergusur, zaman Jokowi di kasi kesempatan di gusur lagi, jadi kesimpulannya memang kapasitasnya gak ada, bisanya mencela tanpa analisa, ibarat anak kera di kasi pisang, ngupasnya saja dia tak bisa.

    Banyak dan ribuan alinea kl kita mau menulis cerita orang yg cuma bs mbacot gak bisa kerja, mereka hanya gaya saja, angkuh, sok kaya, pdhl asal usul hartanya gak jelas juntrungannya. Kalau yg belum kaya, teriak sampai serak ujungnya buka lapak juga.

    Marilah coba jeda mencela, bangsa ini sdg menghadapi bahaya, jangan biasakan menari diatas ring, padahal lawannya masih ngurus yg lebih penting. Pertandingan ada waktunya, jangan mengaku juara kalau bertanding tanpa lawan tanding.

    BERHENTILAH BERTERIAK YG TANPA AKHLAK, KARENA BANGSA INI SEDANG TERSEDAK.

    SIAPAPUN ANDA, KALAU MASIH DI INDONESIA, ANDA MASIH MENGHIRUP UDARANYA. JANGAN TANYA CORONA DARI MANA KARENA KITA WAJIB MENYELAMATKANNYA.

    INDONESIA DALAM BAHAYA BUKAN WAKTUNYA ANDA CARI MUKA.

    by. Iyyas Subiakto✍️

  • TEKS ARAB QUNUT NAZILAH

    TEKS ARAB QUNUT NAZILAH

    SORBAN Infokom – PBNU menghimbau membaca qunut nazilah yang merupakan salah satu daripada tiga jenis qunut yang sunat dibaca mengikut Mazhab Syafii selain qunut dalam Solat Subuh dan qunut pada separuh malam kedua terakhir Ramadan dalam Solat Sunat Witir.

    Qunut Nazilah sunat dibacakan ketika umat Islam didatangi bala bencana atau ditimpa musibah seperti peperangan, wabak, kemarau dan sebagainya. Bacaan Qunut Nazilah ini pernah dibacakan oleh Rasulullah allallahu`alaihi wasallam ketika kejadian pembunuhan beramai-ramai 60 orang penghafaz al-Quran selama sebulan berdasarkan hadis berikut yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Nabi sallallahu`alaihiwasallam telah membaca doa qunut pada waktu selain dari Subuh ketika turunnya sewaktu pembunuhan sahabat-sahabatnya penghafaz-penghafaz al-Quran.”

    SORBANSANTRI.COM

    Adapun bacaan Teks Arab Qunut Nazilah sebagai berikut:

    اَللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لَناَ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
    وَقِناَ شَرَّمَا قَضَيْتَ, فَإِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, فَإِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Artinya : Ya Alloh tunjukkanlah kepadaku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berik kesehatan. Dan peliharalah diriku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan.

    Dan berilah keberkahan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum.

    Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi.

    Hanya untuk-Mu segala pujian diatas yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada Engkau (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُ كَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ
    اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

    Artinya: “Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu.

    Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari.

    Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.”

    اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْشَّدَائِدَ وَالْفِتَنِ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

  • LAZISNU MWC NU PACET BAGIKAN HAND SANITIZER

    LAZISNU MWC NU PACET BAGIKAN HAND SANITIZER

    SORBAN Infokom – Ditengah maraknya pemberitaan dan kabar tentang virus Corona ( covid-19) Sahabat Anas Atas nama perwakilan Lazisnu MWC pacet dan Sahabat Yusril sebagai perwakilan IPNU/IPPNU Pacet, ikut berpartisipasi dalam pembagian hand sanitiser.Acara pembagian sanitizer ke masjid-masjid dimulai pukul 13.00 wib ( selesai sholat jum’at) sampai pukul 17.00 wib. (Jum’at, 27 Maret 2020)
    kegiatan tersebut dimulai dari berkumpulnnya tim di graha NU pacet ke timur sampai Desa Cembor, ke utara Desa Pandan, terakhir ke selatan Desa Pacet.

    Sasaran tujuan utama adalah masjid tiap-tiap jalur yang disebutkan tadi dan yang diutamakan masjid jalur raya yang sering didatangi jama’ah dari luar kota.
    Adapun agenda yang dilakukan adalah untuk mendukung progam NU PEDULI dalam hal tanggap covid-19 agar dapat meminimalisir penyebaran virus corona khususnya di Kawasan Pacet. Sahabat Anas berharap LAZIZNU MWC Pacet bisa berperan aktif dalam mencegah penyebaran virus covid-19 dan tentunya wabah corona segera berakhir. ( red. abi SorBan Infokom )

  • RAHASIA NABI KHIDIR BERUMUR PANJANG

    RAHASIA NABI KHIDIR BERUMUR PANJANG

    SORBAN Infokom –  Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra.

    Semoga dengan kisah ini akan lebih memantapkan keimanan kita kepada Allah SWT, bahwa jika Allah SWT berkehendak maka akan TERJADILAH. Tak seorang pun yang mampu menghalanginya.

    Berikut Kisahnya.

    Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada dirinya dengan menjadi seorang raja. Dialah Raja Iskandar Zulkarnaen, yang namanya telah tersebut dalam Al Qur’an.

    Pada tahun 322 SM, Raja Iskandar Zulkarnaen berniat mengadakan perjalanan untuk mengelilingi bumi dan Allah SWT mewakilkan salah satu malaikatnya yang bernama Rofa’il untuk menyertainya dalam perjalanan panjang itu.

    Dialog Malaikat dan Raja Iskandar Zulkarnaen.

    Karena ditemani oleh seorang malaikat, Raja Zulkarnaen banyak mengajukan pertanyaan seputar dunia dan akhirat serta isinya. Salah satu pertanyaan yang paling terkenal adalah tentang ibadah para malaikat di langit.

    “Wahai Malaikat Rofa’il, ceritakanlah kepadaku tentang ibadahnya para malaikat yang ada di langit,” tanya Raja Zulkarnaen.

    “Para malaikat yang ada di langit ibadahnya ada yang berdiri tidak mengangkat kepala selama-lamanya, ada juga yang bersujud tidak mengangkat kepala selama-lamanya, ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya,” jawab Malaikat Rofa’il.

    “Duh, alangkah senangnya hati ini seandainya aku bisa hidup bertahun-tahun lamanya untuk beribadah kepada Allah SWT,” kata Raja Zulkarnaen.

    “Wahai raja, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sumber air di bumi. Namanya Ainul Hayat, artinya sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminum airnya seteguk, maka ia tidak akan mati sampai hari kiamat atau jika ia memohon kepada Allah SWT untuk dimatikan,” kata Malaikat Rofa’il.

    “Apakah engkau tahu tempat Ainul Hayat itu wahai Malaikat Rofa’il?” tanya raja.

    “Sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di bumi yang gelap,” jawab Malaikat Rofail.

    Setelah Raja Zulkarnaen mendengar penuturan malaikat Rofa’il tentang Ainul Hayat itu, maka raja segera mengumpulkan para alim ulama pada saat itu. Sebelumnya, raja bertanya kepada mereka tentang letak Ainul Hayat, tapi mereka semua menjawab tidak tahu.

    “Wahai para alim ulama, tahukah kalian dimanakah letak Ainul Hayat itu?” tanya raja.

    “Kami tidak mengetahuinya wahai baginda, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui,” jawab salah seorang ulama.

    Di luar dugaan, dari pertanyaan Raja Zulkarnaen tersebut, ada salah seorang ulama yang mampu menjawab meski tidak sedetail letaknya.

    “Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat Nabi Adam as bahwa beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah SWT meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang gelap,” kata ulama itu.

    “Dimanakah bumi yang gelap itu?” tanya raja.

    “Yaitu di tempat terbitnya matahari,” jawab orang alim ulama itu.

    Kemudian Raja Zulkarnaen menyuruh para pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan untuk mencari dan mendatangi tempat Ainul Hayat itu.

    “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?” tanya raja.

    “Kuda betina yang masih perawan,” jawab para sahabatnya.

    Akhirnya raja mengumpulkan seribu kuda betina yang masih perawan dan ia memilih diantara 6 ribu tentaranya yang pandai serta ahli dalam mencambuk. Di antara para tentara itu, ada yang bernama Nabi Khidir as, bahkan beliau menjabat sebagai perdana menteri kala itu.

    Perjalanan Mencari Ainul Hayat.

    Setelah dirasa semua cukup dan siap, maka berangkatlah Raja Zulkarnaen dan Nabi Khidir as yang berjalan di depan pasukan. Setelah sekian lama mencari, akhirnya mereka mengetahui tempat terbitnya matahari.

    Mereka pun menuju arah terbitnya matahari tersebut.

    Perjalanan ke tempat tujuan tersebut memakan waktu 12 tahun lamanya untuk sampai di bumi yang gelap itu. Gelapnya bukanlah seperti di waktu malam hari, melainkan gelap karena ada pancaran seperti asap.

    Raja Zulkarnaen sudah tak sabar lagi hendak masuk ke tempat gelap itu, namun salah seorang cendikiawan mencegahnya. Para tentara berkata kepada raja,

    “Wahai Baginda, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke tempat gelap ini, karena tempat yang gelap ini berbahaya.”

    “Wahai prajurit, kita harus memasukinya, tidak boleh tidak,” sanggah sang raja.

    Karena raja bersikeras hendak masuk, maka tak ada seorang pun yang berani melarangnya.

    “Diamlah dan tunggulah kalian di sini selama 12 tahun. Jika aku bisa datang kepada kalian dalam masa itu, maka kedatanganku terhadap kalian termasuk baik. Dan jika aku tidak datang dalam 12 tahun, maka pulanglah kalian kembali ke negeri kalian,” ujar sang raja.

    Setelah itu raja mendekat dan bertanya kepada malaikat Rofa’il,

    “Apabila kita melewati tempat gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?”

    “Tidak bisa kelihatan<” jawab Malaikat Rofa’il.

    “Akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara. Jika mutiara itu ke atas bumi, maka mutiara itu dapat emnjerit dengan suara yang keras, dengan demikian kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian,” jelas Malaikat Rofa’il lebih lanjut.

    Masuk ke Ainul Hayat.

    Demikianlah, akhirnya Raja Iskandar Zulkarnaen masuk ke tempat yang gelap itu. Selama 18 hari lamanya tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam maupun siang. Tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi Nabi Khidir as.

    Pada saat mereka berjalan, maka ALlah SWT memberi wahyu kepada Nabi Khidir as.

    “Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu.”

    Setelah Nabi Khidir as menerima wahyu itu, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya,

    “Berhentilah kalian di tempat masing-masing dan jangan kalian emninggalkan tempat kalian sebelum aku datang kepada kalian.”

    Kemudian Nabi Khidir as menuju kanan jurang hingga beliau menemukan Ainul Hayat itu. Beliau turun dari kudanya, melepaskan pakaiannya dan turun ke Ainul Ahaya tersebut. Beliau mandi dan minum air sumber hidup tersebut dan beliau merasakan bahwa airnya lebih manis daripaada madu.

    Sesudah mandi dan minum air tersebut, beliau keluar dari tempat itu kemudian menemui Raja Iskandar Zulkarnaen. Raja tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas diri Nabi Khidir as.

    Wallahu A’lam. (kalam Ulama’)

  • Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah  menghadapi wabah penyakit

    Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah menghadapi wabah penyakit

    Hadist-hadist shahih yang bisa dijadikan sebagai hujjah dalam membimbing ummat untuk menghadapi wabah penyakit antara lain sebagai berikut:

    Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim.

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

    Hadist Shahih 2

    Riwayat Bukhari dan Muslim

    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    Hadist Shahih 3

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn ‘Abbas)

    Hadist Shahih 4

    Hadist Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Anjuran Sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jum’at.

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ
    قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ

    dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jum’at), jika engkau telah mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, ” maka janganlah kamu mengucapkan “Hayya alash shalaah, ” namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian).” Abdullah bin Abbas berkata; “Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; “Apakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jum’at memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan comberan.” (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas).

    Hadist Shahih 5

    Hadist panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya sbb.

    Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu “Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada ‘Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish.

    Lalu ‘Umar menyerukan kepada rombongannya; ‘Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! ‘ Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; ‘Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? ‘ Jawab ‘Umar; ‘Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah? Agaknya ‘Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? ‘

    Tiba-tiba datang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata; ‘Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.’ Ibnu ‘Abbas berkata; ‘Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.’ (HR Bukhari dan Muslim).

    Adapun di antara hadis hadis dha’if yang sering digunakan adalah:

    Hadist Dha’if 1

    Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

    Sesungguhnya apabila Allah ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

    Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

    Hadis ini dinyatakan sebagai hadis dhaif oleh Nashir al-Din al-Albani dalam kitab Silsilat al-ahadits al-Dho’ifat wa al-Maudhu’at, juz IV, hal. 222, hadis no. 1851.

    Hadist Dha’if 2

    Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

    Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

    Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

    Hadis ini adalah hadis dha’if. (lihat Nashiruddin al-Albani, Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shoghir, juz IV, hal. 380, hadis no. 1358).

    Hadist Dha’if 3

    Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

    يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ ”

    Allah عز وجل berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.

    Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

    Hadis ini dho’if Jiddan. (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674).

    Hadist Dha’if 4

    Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

    “إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ”

    Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.

    Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.

    Hadist ini Dha’if. (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Dha’ifah, juz IV, hal. 350, hadis no. 1851).