Penulis: Sorban Santri

  • Amalan Sunnah Harian untuk Santri: Panduan Sederhana Menjalani Kehidupan Islami

    Amalan Sunnah Harian untuk Santri: Panduan Sederhana Menjalani Kehidupan Islami

    Sorbansantri.com – Sebagai seorang santri, menjalani kehidupan sehari-hari tidak hanya tentang belajar kitab kuning atau hafalan Al-Qur’an, tetapi juga bagaimana menerapkan nilai-nilai Islam dalam aktivitas harian. Salah satu cara untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW adalah dengan melaksanakan amalan sunnah yang sederhana namun penuh keberkahan. Berikut ini adalah beberapa amalan sunnah harian yang bisa dipraktikkan oleh santri:

    1. Shalat Dhuha

    Shalat Dhuha adalah salah satu amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar, seperti membuka pintu rezeki dan dianggap sebagai sedekah untuk seluruh persendian tubuh.

    • Waktu: Dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit hingga menjelang waktu Dzuhur.
    • Jumlah Rakaat: Minimal 2 rakaat, maksimal 12 rakaat.
    • Keutamaan: “Dalam setiap pagi ada kewajiban bersedekah atas tiap-tiap ruas tulang manusia… Semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat Dhuha.” (HR. Muslim).

    2. Membaca Al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam. Membacanya setiap hari dapat menjadi sumber ketenangan hati dan keberkahan hidup.

    • Waktu: Pagi setelah Subuh atau malam menjelang tidur.
    • Target: Minimal membaca satu halaman setiap hari.
    • Keutamaan: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

    3. Dzikir Pagi dan Petang

    Mengawali dan mengakhiri hari dengan dzikir dapat menjadi perisai diri dari godaan syaitan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    • Dzikir Utama: Membaca Ayat Kursi, Al-Ma’tsurat, dan doa pagi-petang lainnya.
    • Manfaat: Mendapatkan perlindungan Allah sepanjang hari.

    4. Mengucapkan Salam

    Menghidupkan sunnah dengan menyebarkan salam dapat mempererat ukhuwah Islamiyah.

    • Keutamaan: “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
    • Cara: Mengucapkan “Assalamu’alaikum” dengan penuh keikhlasan kepada siapa pun yang ditemui.

    5. Menggunakan Siwak

    Siwak adalah sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan, terutama sebelum shalat.

    • Waktu: Sebelum wudhu, shalat, atau membaca Al-Qur’an.
    • Manfaat: Membersihkan gigi dan mulut, sekaligus mendapatkan pahala sunnah.

    6. Qiyamul Lail (Shalat Tahajud)

    Bangun di sepertiga malam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat dan doa adalah salah satu sunnah yang sangat istimewa.

    • Waktu: Sepertiga malam terakhir.
    • Jumlah Rakaat: Minimal 2 rakaat.
    • Keutamaan: “Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).

    7. Menjaga Wudhu

    Berusaha selalu dalam keadaan suci dengan berwudhu adalah amalan sederhana tetapi besar pahalanya.

    • Keutamaan: “Barang siapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya keluar dari tubuhnya bahkan keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim).
    • Tips: Berwudhu setiap kali batal, terutama sebelum tidur.

    8. Bersedekah Harian

    Meski sedikit, sedekah yang dilakukan setiap hari akan menjadi pemberat timbangan amal di akhirat.

    • Cara: Bisa berupa uang, makanan, atau bantuan tenaga.
    • Keutamaan: “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).

    9. Berdoa Sebelum dan Sesudah Aktivitas

    Memulai dan mengakhiri setiap aktivitas dengan doa adalah salah satu bentuk penghambaan kepada Allah.

    • Contoh Doa: Doa keluar rumah, doa makan, doa belajar, dan lainnya.
    • Manfaat: Aktivitas menjadi lebih bermakna dan berpahala.

    Penutup

    Amalan sunnah harian ini dapat membantu santri menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan Allah SWT. Meski tampak sederhana, konsistensi dalam melakukannya akan membawa keberkahan dan keistimewaan. Jadikan setiap hari sebagai ladang ibadah, karena dalam setiap amalan sunnah terdapat cinta kepada Rasulullah SAW dan jalan menuju ridha Allah. Mari mulai dari yang kecil, tapi lakukan secara terus-menerus!

    @beritasorban โœจ Ingin harimu penuh keberkahan? โœจ Yuk, mulai hidupkan sunnah Rasulullah SAW dengan amalan sederhana seperti: โ˜€๏ธ Shalat Dhuha ๐Ÿ“– Membaca Al-Qurโ€™an ๐Ÿ•Š๏ธ Dzikir pagi dan petang ๐Ÿ’ง Menjaga wudhu ๐Ÿคฒ Bersedekah setiap hari Sunnah itu sederhana, tapi pahalanya luar biasa! โค๏ธ Semangat terus menjadi pribadi yang lebih baik! ๐Ÿ‘‰ Jangan lupa share ke teman-temanmu dan follow untuk inspirasi Islami lainnya! ๐Ÿ’ฌ Tag temenmu yang mau bareng-bareng mulai amalan sunnah ini! #SantriKreatif #AmalanSunnah #InspirasiSantri #SunnahHarian #MuslimInspiration #SantriTikTok #SorbanSantri #fypdong โ™ฌ suara asli – Sorban Santri
  • Tradisi Ziarah Wali di Bulan Rajab: Menguatkan Spiritualitas dan Mengenang Perjuangan Dakwah

    Tradisi Ziarah Wali di Bulan Rajab: Menguatkan Spiritualitas dan Mengenang Perjuangan Dakwah

    Pacet, Mojokerto โ€“ Bulan Rajab menjadi salah satu momen istimewa bagi umat Islam. Selain sebagai bulan mulia dalam kalender Hijriah, banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk melakukan tradisi ziarah wali, terutama di makam para penyebar agama Islam di Nusantara.

    Ziarah wali bukan hanya sebuah ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT melalui teladan kehidupan para wali. Misalnya, makam Wali Songo seperti Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Bonang di Tuban, hingga Sunan Gunung Jati di Cirebon, sering dipenuhi peziarah pada bulan ini.

    Makna Tradisi Ziarah

    Menurut para ulama, ziarah makam wali memiliki beberapa makna mendalam, di antaranya:

    1. Menghormati Perjuangan Dakwah Islam
      Para wali adalah tokoh yang berjasa dalam menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara damai, penuh hikmah, dan kebijaksanaan. Dengan ziarah, masyarakat diajak mengenang perjuangan tersebut.
    2. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan
      Melalui doa dan refleksi di makam para wali, peziarah diingatkan pada kehidupan akhirat dan pentingnya meneladani sifat-sifat baik para wali.
    3. Menguatkan Tradisi Keagamaan
      Ziarah wali telah menjadi bagian dari warisan budaya Islam di Indonesia yang memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas Muslim.

    Pusat Keramaian Peziarah

    Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi adalah Makam Sunan Ampel di Surabaya. Peziarah dari berbagai daerah datang untuk membaca tahlil, mendoakan para wali, dan memohon berkah. “Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu ingat pada perjuangan dakwah Islam dan tetap rendah hati,” ujar Siti Aisyah, salah satu peziarah asal Mojokerto.

    Pesan Ulama tentang Ziarah

    Gus Mahbub, seorang putra pengasuh pesantren Al Falah di Pacet, Mojokerto, mengingatkan bahwa tujuan utama ziarah adalah mendoakan para wali, bukan meminta sesuatu kepada mereka. “Jadikan ziarah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meneladani akhlak mulia para wali,” pesannya.

    Kesimpulan

    Tradisi ziarah wali di bulan Rajab adalah wujud penghormatan terhadap sejarah dakwah Islam sekaligus momen untuk memperkuat spiritualitas. Dengan niat yang tulus, tradisi ini tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga cara menjaga warisan keislaman di Indonesia. (AI)

    @beritasorban Tradisi ziarah wali di bulan Rajab mengingatkan kita pada perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam. Yuk, teruskan tradisi ini dengan niat yang baik! #ZiarahWali #TradisiNU #FaktaSorban #fyp โ™ฌ suara asli – Sorban Santri
  • Ta’lim Muta’allim – Akhlak Santri

    Ta’lim Muta’allim – Akhlak Santri

    1. Mukaddimah
    2. Fasal 1 Pengertian Ilmu Dan Fiqih Serta Keutamaannya
    3. Fasal 2 Niat Di Waktu Belajar
      • Niat Belajar
      • Niat Baik dan Buruk
      • Kelezatan dan Hikmah Ilmu
      • Pantangan Ahli ilmu
      • Nasihat Khusus Buat pelajar (Santri)
    4. Fasal 3 Memilih Ilmu, Guru,Teman Dan Ketabahan Berilmu
      • Syarat Ilmu Yang Dipilih
      • Syarat Guru Yang dipilih
      • Bermusyawarah
      • Sabar dan Tabah Dalam Belajar
      • Memilih Teman
    5. Fasal 4 Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu
      • Mengagungkan ilmu
      • Mengagungkan Guru
      • Memuliakan Kitab
      • Menghormati Teman
      • Sikap Selalu Hormat Dan Khidmah
      • Jangan Memilih Ilmu Sendiri
      • Jangan Duduk Terlalu Dekat Dengan Guru
      • Menjauhi Akhlak Tercela
    6. Fasal 5 Sungguh-Sungguh, Kontinuitas Dan Cita-Cita Luhur
      • Kesungguhan Hati
      • Menyantuni Diri
      • Cita-cita Luhur
      • Usaha sekuat Tenaga
      • Sebab Kemalasan
      • Cara Mengurangi Makan
    7. Fasal 6 Permulaan Belajar Ukuran Belajar Dan Tata Tertibnya
      • Hari Mulai Belajar
      • Panjang Pendeknya Pelajaran
      • Membuat Catatan
      • Usaha Memahami Pelajaran
      • Berdoโ€™a
      • Mudzakarah Munadzarah Dan Mutarahah
      • Menggali Ilmu
      • Pembiayaan Untuk Ilmu
      • Bersyukur
      • Pengorbanan Harta Demi Ilmu
      • Loba Dan Tamak
      • Pelaksanaan Pelajaran Keterampilan
      • Karena Allah
      • Mengukur Kemampuan Diri Sendiri
      • Metode Menghafal
      • Panik Dan Bingung
      • Sebuah Metode Belajar
    8. Fasal 7 Tawakal
      • Pengaruh Rizki
      • Pengaruh Urusan Duniawi
      • Hidup Dengan Prihatin
      • Menggunakan Seluruh Waktu Buat Ilmu
    9. Fasal 6: Masa Belajar
      • Saat-saat Belajar
    10. Fasal 9 Kasih Sayang Dan Nasehat
      • Kasih Sayang
      • Menghadapi Kedengkian
    11. Fasal 10 Mengambil Pelajaran
      • Saat-saat Mengambil pelajaran
      • Mengambil Pelajaran Dari Para Sesepuh
      • Prihatin Dan Rendah Di Mata Manusia
    12. Fasal 11 Waraโ€™ Pada Masa Belajar
      • Waroโ€™
      • Menghadap Kiblat
      • Perbuatan Adab Dan Sunnah
    13. Fasal 12 Hal-Hal Yang Membuat Hafal Dan Mudah Lupa
      • Beberapa Sebab Kuat Hafalan
      • Penyebab Lupa
    14. Fasal 13 Penyebab Lancar Rizki Dan Memperpanjang Usia
      • Saran Untuk Belajar
      • Pendatang Rizki
      • Kesehatan Badan

    Mukaddimah

    ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู…ู

    ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุงู„ุฐู‰ ูุถู„ ุนู„ู‰ ุจู†ู‰ ุขุฏู… ุจุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุนู…ู„ ุนู„ู‰ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุนุงู„ู…ุŒ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ุณูŠุฏ ุงู„ุนุฑุจ ูˆุงู„ุนุฌู…ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ูŠู†ุงุจูŠุน ุงู„ุนู„ูˆู… ูˆุงู„ุญูƒู….

    ูˆุจุนุฏโ€ฆูู„ู…ุง ุฑุฃูŠุช ูƒุซูŠุฑุง ู…ู† ุทู„ุงุจ ุงู„ุนู„ู… ูู‰ ุฒู…ุงู†ู†ุง ูŠุฌุฏูˆู† ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู„ู… ูˆู„ุงูŠุตู„ูˆู† [ูˆู…ู† ู…ู†ุงูุนู‡ ูˆุซู…ุฑุงุชู‡ ู€ ูˆู‡ู‰ ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ ูˆุงู„ู†ุดุฑ ู€ ูŠุญุฑู…ูˆู†] ู„ู…ุง ุฃู†ู‡ู… ุฃุฎุทุฃูˆุง ุทุฑูŠู‚ู‡ ูˆุชุฑูƒูˆุง ุดุฑุงุฆุทู‡ุŒ ูˆูƒู„ ู…ู† ุฃุฎุทุฃ ุงู„ุทุฑูŠู‚ ุถู„ุŒ ูˆู„ุงูŠู†ุงู„ ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู‚ู„ ุฃูˆ ุฌู„ุŒ ูุฃุฑุฏุช ูˆุฃุญุจุจุช ุฃู† ุฃุจูŠู† ู„ู‡ู… ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุชุนู„ู… ุนู„ู‰ ู…ุง ุฑุฃูŠุช ูู‰ ุงู„ูƒุชุจ ูˆุณู…ุนุช ู…ู† ุฃุณุงุชูŠุฐู‰ ุฃูˆู„ู‰ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุญูƒู…ุŒ ุฑุฌุงุก ุงู„ุฏุนุงุก ู„ู‰ ู…ู† ุงู„ุฑุงุบุจูŠู† ููŠู‡ุŒ ุงู„ู…ุฎู„ุตูŠู†ุŒ ุจุงู„ููˆุฒ ูˆุงู„ุฎู„ุงุต ูู‰ ูŠูˆู… ุงู„ุฏูŠู†ุŒ ุจุนุฏ ู…ุง ุงุณุชุฎุฑุช ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠู‡ุŒ

    ูˆุณู…ูŠุชู‡: ุชุนู„ูŠู… ุงู„ู…ุชุนู„ู… ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุชุนู„ู…

    ูˆุฌุนู„ุชู‡ ูุตูˆู„ุง:

    ูุตู„ : ูู‰ ู…ุงู‡ูŠุฉ ุงู„ุนู„ู…ุŒ ูˆุงู„ูู‚ู‡ุŒ ูˆูุถู„ู‡.
    ูุตู„ : ูู‰ ุงู„ู†ูŠุฉ ูู‰ ุญุงู„ ุงู„ุชุนู„ู….
    ูุตู„ : ูู‰ ุงุฎุชูŠุงุฑ ุงู„ุนู„ู…ุŒ ูˆุงู„ุฃุณุงุชุฐุŒ ูˆุงู„ุดุฑูŠูƒุŒ ูˆุงู„ุซุจุงุช.
    ูุตู„ : ูู‰ ุชุนุธูŠู… ุงู„ุนู„ู… ูˆุฃู‡ู„ู‡.
    ูุตู„ : ูู‰ ุงู„ุฌุฏ ูˆุงู„ู…ูˆุงุธุจุฉ ูˆุงู„ู‡ู…ุฉ.
    ูุตู„ : ูู‰ ุจุฏุงูŠุฉ ุงู„ุณุจู‚ ูˆู‚ุฏุฑู‡ ูˆุชุฑุชูŠุจู‡.
    ูุตู„ : ูู‰ ุงู„ุชูˆูƒู„.
    ูุตู„ : ูู‰ ูˆู‚ุช ุงู„ุชุญุตูŠู„.
    ูุตู„ : ูู‰ ุงู„ุดูู‚ุฉ ูˆุงู„ู†ุตูŠุญุฉ.
    ูุตู„ : ูู‰ ุงู„ุฅุณุชูุงุฏุฉ ูˆุงู‚ุชุจุงุณ ุงู„ุฃุฏุจ.
    ูุตู„ : ูู‰ ุงู„ูˆุฑุน.
    ูุตู„ : ููŠู…ุง ูŠูˆุฑุซ ุงู„ุญูุธุŒ ูˆููŠู…ุง ูŠูˆุฑุซ ุงู„ู†ุณูŠุงู†.
    ูุตู„ : ูู€ูŠู…ู€ุง ูŠุฌู€ู„ุจ ุงู„ู€ุฑุฒู‚ุŒ ูˆููŠู€ู…ุง ูŠู…ู€ู†ุนุŒ ูˆู…ุง ูŠุฒูŠู€ุฏ ูู‰ ุงู„ุนู€ู…ู€ุฑุŒ ูˆู…ุง ูŠู†ู‚ุต.

    ูˆู…ุง ุชูˆููŠู‚ู‰ ุฅู„ุง ุจุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ุชูˆูƒู„ุช ูˆุฅู„ูŠู‡ ุฃู†ูŠุจ.

    Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal, atas seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
    Kalau saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendoโ€™akan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akherat. Begitu doโ€™a saya dalam istikharah ketika akan menulis kitab ini.

    Kitab ini saya beri nama Taโ€™limul Mutaโ€™alim Thariqattaโ€™allum.Yang terdiri dari tiga belas pasal.

    1. Menerangkan hakekat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya.
    2. Niat dalam mencari ilmu.
    3. Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan.
    4. Cara menghormati ilmu dan guru
    5. Kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur.
    6. Ukuran dan urutannya
    7. Tawakal
    8. Waktu belajar ilmu
    9. Saling mengasihi dan saling menasehati
    10. Mencari tambahan ilmu pengetahuan
    11. Bersikap waraโ€™ ketika menuntut ilmu
    12. Hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya.
    13. Hal-hal yang mempermudah datangnya rijki, hal-hal yang dapat memperpanjang, dan mengurangi umur.

    Tidak ada penolong kecuali Allah, hanya kepada-Nya saya berserah diri, dan kehadirat-Nya aku kembali.


    ูุตู„

    ูู‰ ู…ุงู‡ูŠุฉ ุงู„ุนู„ู…ุŒ ูˆุงู„ูู‚ู‡ุŒ ูˆูุถู„ู‡

    ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุทู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ูุฑูŠุถุฉ ุนู„ู‰ ูƒู„ ู…ุณู„ู… ูˆู…ุณู„ู…ุฉ

    ุงุนู„ู…, ุจุฃู†ู‡ ู„ุงูŠูุชุฑุถ ุนู„ู‰ ูƒู„ ู…ุณู„ู…ุŒ ุทู„ุจ ูƒู„ ุนู„ู… ูˆุฅู†ู…ุง ูŠูุชุฑุถ ุนู„ูŠู‡ ุทู„ุจ ุนู„ู… ุงู„ุญุงู„ ูƒู…ุง ู‚ุงู„: ูˆุฃูุถู„ ุงู„ุนู„ู… ุนู„ู… ุงู„ุญุงู„ุŒ ูˆุฃูุถู„ ุงู„ุนู…ู„ ุญูุธ ุงู„ุญุงู„

    ูˆูŠูุชุฑุถ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณู„ู… ุทู„ุจ ู…ุง ูŠู‚ุน ู„ู‡ ูู‰ ุญุงู„ู‡ุŒ ูู‰ ุฃู‰ ุญุงู„ ูƒุงู†ุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุงุจุฏ ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠูุชุฑุถ ุนู„ูŠู‡ ุนู„ู… ู…ุง ูŠู‚ุน ู„ู‡ ูู‰ ุตู„ุงุชู‡ ุจู‚ุฏุฑ ู…ุง ูŠุคุฏู‰ ุจู‡ ูุฑุถ ุงู„ุตู„ุงุฉ

    ูˆูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุจู‚ุฏุฑ ู…ุง ูŠุคุฏู‰ ุจู‡ ุงู„ูˆุงุฌุจุŒ ู„ุฃู† ู…ุง ูŠุชูˆุณู„ ุจู‡ ุฅู„ู‰ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ูุฑุถ ูŠูƒูˆู† ูุฑุถุงุŒ ูˆู…ุง ูŠุชูˆุณู„ ุจู‡ ุฅู„ู‰ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ูˆุงุฌุจ ูŠูƒูˆู† ูˆุงุฌุจุง ูˆูƒุฐุง ูู‰ ุงู„ุตูˆู…ุŒ ูˆุงู„ุฒูƒุงุฉุŒ ุฅู† ูƒุงู† ู„ู‡ ู…ุงู„ุŒ ูˆุงู„ุญุฌ ุฅู† ูˆุฌุจ ุนู„ูŠู‡. ูˆูƒุฐุง ูู‰ ุงู„ุจูŠูˆุน ุฅู† ูƒุงู† ูŠุชุฌุฑ.ุŒ

    ู‚ูŠู„ ู„ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงู„ุญุณู†ุŒ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡: ู„ู…ุง ู„ุงุชุตู†ู ูƒุชุงุจุง ูู‰ ุงู„ุฒู‡ุฏุŸ ู‚ุงู„: ู‚ุฏ ุตู†ูุช ูƒุชุงุจุง ูู‰ ุงู„ุจูŠูˆุนุŒ ูŠุนู†ู‰: ุงู„ุฒุงู‡ุฏ ู…ู† ูŠุญุชุฑุฒ ุนู† ุงู„ุดุจู‡ุงุช ูˆุงู„ู…ูƒุฑูˆู‡ุงุช ูู‰ ุงู„ุชุฌุงุฑุงุช

    ูˆูƒุฐู„ูƒ ูู‰ ุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ุนุงู…ู„ุงุช ูˆุงู„ุญุฑูุŒ ูˆูƒู„ ู…ู† ุงุดุชุบู„ ุจุดูŠุฆ ู…ู†ู‡ุง ูŠูุชุฑุถ ุนู„ูŠู‡ ุนู„ู… ุงู„ุชุญุฑุฒ ุนู† ุงู„ุญุฑุงู… ููŠู‡. ูˆูƒุฐู„ูƒ ูŠูุชุฑุถ ุนู„ูŠู‡ ุนู„ู… ุฃุญูˆุงู„ ุงู„ู‚ู„ุจ ู…ู† ุงู„ุชูˆูƒู„ ูˆุงู„ุฅู†ุงุจุฉ ูˆุงู„ุฎุดูŠุฉ ูˆุงู„ุฑุถู‰ุŒ ูุฅู†ู‡ ูˆุงู‚ุน ูู‰ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุฃุญูˆุงู„.

    FASAL 1 PENGERTIAN ILMU DAN FIQIH SERTA KEUTAMAANNYA

    A. Kewajiban Belajar.

    Rasulullah saw bersabda : โ€œMenuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuanโ€.

    Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata,โ€œIlmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.โ€ Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, shalat misalnya.

    Oleh karena setiap orang islam wajib mengerjakan shalat, maka mereka wajib mengetahui rukun-rukun dan sarat-sarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan shalat dengan sempurna.

    Setiap orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun maupun shalat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.

    Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, โ€œaku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.โ€ Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang subhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.

    Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.

  • Terjemah Sullamut Taufiq (Sullam Al Taufiq)

    Terjemah Sullamut Taufiq (Sullam Al Taufiq)

    Daftar Isi

    Judul asal: Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
    Nama asal kitab dalam tulisan Arab: ุณูู„ูŽู‘ู…ู ุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ูููŠู‚ ุฅู„ู‰ ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ู‰ ุงู„ุชูŽู‘ุญู’ู‚ููŠู‚ ู…ูุฎู’ุชูŽุตูŽุฑูŒ ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃู†ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ูˆููุฑููˆุนูู‡ู
    Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafiโ€™i (1191-1272 H/-1777 M)
    Penerjemah:
    Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih

    Pengantar Penulis

    ู…ูู‚ูŽุฏูู‘ู…ูŽุฉู ุงู„ู…ูุคูŽู„ูู‘ู

    ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ู„ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ุนุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽุŒ ูˆุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅู„ูฐู‡ูŽ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุง ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽู‡ู’ุŒ ูˆุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆุฑูŽุณููˆู„ูู‡ูุŒ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆุงู„ุชู‘ุงุจูุนููŠู†.

    ุฃู…ู‘ุง ุจูŽุนู’ุฏูุŒ ููŽู‡ูฐุฐุง ุฌูุฒู’ุกูŒ ู„ูŽุทููŠููŒ ูŠูŽุณูŽู‘ุฑูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุชูŽุนูŽู„ูู‘ู…ูู‡ูุŒ ูˆุชูŽุนู’ู„ููŠู…ูู‡ูุŒ ูˆุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู ุจูู‡ู ู„ูู„ุฎุงุตูู‘ ูˆุงู„ุนุงู…ูู‘ุŒ ูˆุงู„ูˆุงุฌูุจู ู…ุง ูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูุงุนูู„ูŽู‡ู ุจูุงู„ุซูŽู‘ูˆุงุจูุŒ ูˆุชูŽูˆูŽุนูŽู‘ุฏูŽ ุชุงุฑููƒูŽู‡ู ุจูุงู„ุนูู‚ุงุจูุŒ ูˆุณูŽู…ูŽู‘ูŠู’ุชูู‡ู ุณูู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูˆู’ูููŠู‚ ุฅู„ู‰ ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ู‰ ุงู„ุชูŽู‘ุญู’ู‚ููŠู‚ุŒ ุฃุณุฃูŽู„ู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุงู„ูƒูŽุฑููŠู…ูŽ ุฃู†ู’ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽ ุฐูฐู„ูƒ ู…ูู†ู’ู‡ููˆู„ูŽู‡ู ูˆูููŠู‡ู ูˆุฅู„ูŽูŠู’ู‡ุŒ ูˆู…ููˆุฌูุจู‹ุง ู„ูู„ู‚ูุฑู’ุจู ูˆุงู„ุฒูู‘ู„ู’ููŽู‰ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠููˆูŽููู‘ู‚ูŽ ู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ูŽููŽ ุนู„ูŠู‡ ู„ูู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุจูู…ูู‚ู’ุชูŽุถุงู‡ุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุงู„ุชูŽู‘ุฑูŽู‚ูู‘ูŠ ุจูุงู„ุชูŽู‘ูˆูŽุฏูู‘ุฏู ุจูุงู„ู†ูŽู‘ูˆุงููู„ู ู„ููŠูŽุญููˆุฒูŽ ุญูุจูŽู‘ู‡ู ูˆูˆูŽู„ุงู‡.

    Pendahuluan

    Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

    Segala puji hanyalah milik Allah yang menjadi tuhan semesta alam.

    Dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah yang maha tunggal yang tiada sekutu baginya.

    Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Semoga sholawat dan salam Allah senantiasa tercurahkan atas beliau, seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikut mereka.

    Selanjutnya, ini adalah sebuah kitab kecil (semoga Allah menjadikannya mudah untuk difaham dan diamalkan) yang menjelaskan tentang hal-hal yang wajib untuk dipelajari dan diajarkan serta diamalkan oleh orang yang berilmu maupun orang awam.

    Wajib adalah sesuatu yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang yang mengerjakannya dengan mendapatkan pahala dan telah diancam oleh Allah bagi orang yang meninggalkannya dengan mendapatkan siksa.

    Dan aku namai kitab ini dengan nama โ€œTangga pertolongan untuk menggapai cinta Allah dengan sebenar-benarnya.โ€

    Aku memohon kepada Allah yang maha dermawan agar nenjadikan kitab ini semata-mata anugrah dariNya, murni karenaNya, cinta padaNya dan menyampaikan kepadaNya.

    Dan sebagai pendekat di sisiNya

    Dan semoga Allah memberikan pertolongan pada orang yang mempelajari kitab ini untuk bisa mengamalkan isinya (mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram).

    Kemudian terus meningkat dengan senang mengamalkan kesunahan-kesunahan supaya ia bisa mempeoleh cinta dan pertolongan Allah.

    Bab Pokok-pokok Agama

    ุจุงุจู ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู

    ููŽุตู’ู„ูŒ: ููŠ ุงู„ูˆุงุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒุงููŽู‘ุฉู ุงู„ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูููŠู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ุฎููˆู„ู ููŠ ุฏููŠู†ู ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ุŒ ูˆุงู„ุซูู‘ุจููˆุชู ููŠู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏูŽู‘ูˆุงู…ุŒ ูˆุงู„ู’ุชูุฒุงู…ู ู…ุง ู„ูŽุฒูู…ูŽ ุนู„ูŠู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃุญู’ูƒุงู….

    ููŽุตู’ู„ูŒ: ููŠ ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู

    ููŽู…ูู…ู‘ุง ูŠูŽุฌูุจู ุนูู„ู’ู…ูู‡ู ูˆุงุนู’ุชูู‚ุงุฏูู‡ู ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุงุŒ ูˆุงู„ู†ูู‘ุทู’ู‚ู ุจู‡ ููŠ ุงู„ุญุงู„ู ุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ูƒุงููุฑู‹ุงุŒ ูˆุฅู„ู‘ุง ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุชุงู†ู ูˆู‡ูู…ุง: โ€œุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅู„ูฐู‡ูŽ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ูโ€ุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู….

    ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุฉู ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰: ูˆู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ู’ ู„ุง ุฅู„ูฐู‡ูŽ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ู: ุฃู†ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ูˆุชูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏูŽ ูˆุชูุคู’ู…ูู†ูŽ ูˆุชูุตูŽุฏูู‘ู‚ูŽ ุฃู†ู’ ู„ุง ู…ูŽุนู’ุจููˆุฏูŽ ุจูุญูŽู‚ูู‘ ููŠ ุงู„ูˆูุฌููˆุฏู ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุงู„ูˆุงุญูุฏูุŒ ุงู„ุฃุญูŽุฏูุŒ ุงู„ุฃูˆูŽู‘ู„ูุŒ ุงู„ู‚ูŽุฏููŠู…ูุŒ ุงู„ุญูŽูŠูู‘ุŒ ุงู„ู‚ูŽูŠูู‘ูˆู…ูุŒ ุงู„ุจุงู‚ููŠุŒ ุงู„ุฏุงุฆูู…ูุŒ ุงู„ุฎุงู„ูู‚ูุŒ ุงู„ุฑู‘ุงุฒูู‚ูุŒ ุงู„ุนุงู„ูู…ูุŒ ุงู„ู‚ูŽุฏููŠุฑูุŒ ุงู„ููŽุนู‘ุงู„ู ู„ู…ุง ูŠูุฑููŠุฏูุŒ ู…ุง ุดุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูƒุงู†ูŽ ูˆู…ุง ู„ู… ูŠูŽุดูŽุฃู’ ู„ู… ูŠูŽูƒูู†ู’ุŒ ูˆู„ุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆู„ุง ู‚ููˆูŽู‘ุฉูŽ ุฅู„ู‘ุง ุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุนูŽู„ููŠูู‘ ุงู„ุนูŽุธููŠู…ูุŒ ู…ูŽูˆู’ุตููˆููŒ ุจููƒูู„ูู‘ ูƒูŽู…ุงู„ูุŒ ู…ูู†ูŽุฒูŽู‘ู‡ูŒ ุนู† ูƒูู„ูู‘ ู†ูŽู‚ู’ุตูุŒ ๏ดฟ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ุซู’ู„ูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูˆู‡ููˆูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ููŠุนู ุงู„ุจูŽุตููŠุฑู ๏ดพุŒ ูู‡ูˆ ุงู„ู‚ูŽุฏููŠู…ู ูˆู…ุง ุณููˆุงู‡ู ุญุงุฏูุซูŒุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฎุงู„ูู‚ู ูˆู…ุง ุณููˆุงู‡ู ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ูŒุŒ ูˆูƒูŽู„ุงู…ูู‡ู ู‚ูŽุฏููŠู…ูŒ [ุฃูŠ ุจูู„ุง ุงุจู’ุชูุฏุงุกู] ูƒูŽุณุงุฆูุฑู ุตููุงุชูู‡ูุŒ ู„ูุฃู†ูŽู‘ู‡ู ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู ู…ูุจุงูŠูู†ูŒ ู„ูุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ุงุชู ููŠ ุงู„ุฐู‘ุงุชู ูˆุงู„ุตูู‘ูุงุชู ูˆุงู„ุฃูู’ุนุงู„ุŒ [ูˆู…ูŽู‡ู’ู…ุง ุชูŽุตูŽูˆูŽู‘ุฑู’ุชูŽ ุจูุจุงู„ููƒุŒ ููŽุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู„ุง ูŠูุดู’ุจูู‡ู ุฐู„ููƒ]ุŒ ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู ูˆุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุนูŽู…ู‘ุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ุธู‘ุงู„ูู…ููˆู†ูŽ ุนูู„ููˆู‹ู‘ุง ูƒูŽุจููŠุฑู‹ุง.

    ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุฉู ุงู„ุซู‘ุงู†ููŠูŽุฉู: ูˆู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุฃุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู: ุฃู†ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ูˆุชูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏูŽ ูˆุชูุตูŽุฏูู‘ู‚ูŽ ูˆุชูุคู’ู…ูู†ูŽ ุฃู†ูŽู‘ ุณูŽูŠูู‘ุฏูŽู†ุง ูˆู†ูŽุจููŠูŽู‘ู†ุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู…ูุทูŽู‘ู„ูุจู ุจู’ู†ู ู‡ุงุดูู…ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูŽู†ุงูู ุงู„ู‚ูุฑูŽุดููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ูˆุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฅู„ู‰ ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ุฎูŽู„ู’ู‚ูุ› ูˆูู„ูุฏูŽ ุจูู…ูŽูƒูŽู‘ุฉูŽุŒ ูˆุจูุนูุซูŽ ุจูู‡ุงุŒ ูˆู‡ุงุฌูŽุฑูŽ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูุŒ ูˆุฏูููู†ูŽ ููŠู‡ุงุŒ ูˆุฃู†ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุตุงุฏูู‚ูŒ ููŠ ุฌูŽู…ููŠุนู ู…ุง ุฃุฎู’ุจูŽุฑูŽ ุจูู‡ู .

    Pasal Yang Wajib bagi Setiap Muslim Mukallaf

    Setiap orang yang mukallaf (baligh dan berakal) wajib masuk kedalam agama islam dan menetap selama-lamanya serta menjalankan semua hukum-hukumnya.

    Pasal Makna Dua Kalimat Syahadat

    Diantara perkara yang wajib untuk diketahui dan diyakininya adalah dua kalimat syahadat yang wajib ia ucapkan disaat itu juga apabila ia kafir dan didalam sholat apabila ia muslim.

    Dua kalimat syahadat itu adalah โ€œAku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah dan bahwasanya nabi Muhammad SAW adalah utusanNya.โ€

    Adapun maโ€™na ุฃุดู‡ุฏ ุงู† ู„ุง ุงู„ู‡ ุงู„ุง ุงู„ู„ู‡ adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya didalam wujud kecuali hanya Allah.

    Yang maha esa, yang maha tunggal, yang maha pertama, yang maha terdahulu, yang maha hidup, yang maha kekal, yang maha abadi, yang maha pencipta, yang maha memberi rizqi, yang maha mengetahui, yang maha kuasa, yang maha memperbuat pada sesuatu yang dikehendaki.

    Apapun yang diinginkanNya wujud, maka akan terwujud. Dan apapun yang tidak diinginkanNya wujud, maka tidak akan terwujud. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganNya yang maha tinggi lagi maha agung.

    Dia bersifat dengan semua sifat kesempurnaan dan disucikan dari semua kekurangan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamaiNya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.

    Dia adalah terdahulu dan selainNya adalah baharu. Dan Dia adalah yang menciptakan dan selainNya adalah yang diciptakan.

    KalamNya adalah terdahulu sebagaimana sifat-sifatNya karena sesungguhnya Dia (maha suci Dia) berbeda dengan seluruh makhluk didalam dzat, sifat dan perbuatan.

    Maha suci dan maha tinggi Dia dari apa-apa yang diucapkan oleh orang-orang yang zholim dengan ketinggian yang besar.

    Dan adapun maโ€™na ุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan bahwasanya junjungan dan nabi kita Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul muththolib bin Hasyim bin Abdu manaf yang bersuku quraisy adalah hamba dan utusan Allah kepada seluruh makhluk.

    Beliau dilahirkan dan diutus di mekah dan beliau hijrah ke madinah dan dikuburkan disana.

    Beliau SAW adalah benar di dalam seluruh kabar yang telah disampaikannya.[alkhoirot.COM]

    Fasal Hal yang Wajib Diimani

    ููŽุตู’ู„ูŒ ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุจู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ู’ุนููŠู‘ุงุชู

    ููŽู…ูู†ู’ ุฐูฐู„ูƒ ุนูŽุฐุงุจู ุงู„ู‚ูŽุจู’ุฑูุŒ ูˆู†ูŽุนููŠู…ูู‡ูุŒ ูˆุณูุคุงู„ู ุงู„ู…ูŽู„ูŽูƒูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆู†ูŽูƒููŠุฑูุŒ ูˆุงู„ุจูŽุนู’ุซูุŒ ูˆุงู„ุญูŽุดู’ุฑูุŒ ูˆุงู„ู‚ููŠุงู…ูŽุฉูุŒ ูˆุงู„ุญูุณุงุจูุŒ ูˆุงู„ุซูŽู‘ูˆุงุจูุŒ ูˆุงู„ุนูŽุฐุงุจูุŒ ูˆุงู„ู…ููŠุฒุงู†ูุŒ ูˆุงู„ู†ู‘ุงุฑูุŒ ูˆุงู„ุตูู‘ุฑุงุทูุŒ ูˆุงู„ุญูŽูˆู’ุถูุŒ ูˆุงู„ุดูŽู‘ูุงุนูŽุฉูุŒ ูˆุงู„ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูุŒ ูˆุงู„ุฎูู„ููˆุฏูุŒ ูˆุงู„ุฑูู‘ุคู’ูŠูŽุฉู ู„ู„ู‡ู ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู ูˆุชูŽุนุงู„ูŽู‰ [ู„ุง ูƒูŽู…ุง ูŠูุฑูŽู‰ ุงู„ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ูุŒ ููŽูŠูŽุฑุงู‡ู ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ููŠ ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆู‡ูู…ู’] ููŠ ุงู„ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู [ูˆู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฏูุฎููˆู„ูู‡ุง] ุŒ ูˆุฃู†ู’ ุชูุคู…ูู†ูŽ ุจูู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆุฑูุณูู„ูู‡ูุŒ ูˆูƒูุชูุจูู‡ูุŒ ูˆุจูุงู„ู‚ูŽุฏูŽุฑู ุฎูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆุดูŽุฑูู‘ู‡ูุŒ ูˆุฃู†ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฎุงุชูŽู…ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ูŠู†ูŽ ูˆุณูŽูŠูู‘ุฏู ูˆู„ูŽุฏู ุขุฏูŽู…ูŽ ุฃุฌู’ู…ูŽุนููŠู†ูŽ.

    Pasal Berita yang Wajib Diimani

    Diantara kabar tersebut adalah adanya siksa dan nikmat kubur, pertanyaan malaikat munkar dan nakir, kebangkitan, penggiringan, hari kiamat dan perhitungan.

    Dan adanya pahala, siksa, timbangan amal, neraka, siroth, telaga, syafaโ€™at, surga, kekal dan melihat Allah Taโ€™ala didalam surga.

    Dan engkau beriman dengan para malaikat Allah, para rasulNya, kitab-kitabNya, qodar baik dan buruk, dan bahwasanya Nabi SAW itu adalah penutup para nabi dan penghulu seluruh anak adam.

    Fasal Ringkasan Memahami Allah Taala

    ููŽุตู’ู„ูŒ ููŠ ุฎูู„ุงุตูŽุฉู ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰

    ู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰: ุฎูู„ุงุตูŽุฉู ู…ุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ููŠ ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุฉู ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰ ุฅุซู’ุจุงุชู ุซูŽู„ุงุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุตูููŽุฉู‹ ู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ุฃูŠ ุงุนู’ุชูู‚ุงุฏู ุฃู†ูŽู‘ู‡ุง ู…ูู†ู’ ุตููุงุชูู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู„ุง ุญูŽุฏูŽู‘ ู„ูŽู‡ุง ููŠ ุงู„ุนูŽุฏูู‘ุŒ ูˆู„ุง ูŠูุญู’ุตููŠู‡ุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฎูŽู„ู’ู‚ูุŒ ูˆุชูŽุฏูู„ูู‘ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูŽู…ุงู„ู ุงู„ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ูุ› ูˆู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ุตูู‘ูุงุชู ุงู„ุซู‘ู„ุงุซูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุฏูŽู„ูŽู‘ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ู ุนู„ู‰ ูˆูุฌููˆุจูู‡ุง ู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ุจูู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ูŽ ู„ุง ูŠูŽู‚ู’ุจูŽู„ู ูˆู„ุง ูŠูุตูŽุฏูู‘ู‚ู ู†ูŽูู’ูŠูŽ ุฃูŠูู‘ ู…ู†ู‡ุง ุนูŽู†ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูˆู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุนูู„ูŽู…ุงุกู ุฅู†ูŽู‘ู‡ ูŠูŽุฌูุจู ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุชูู‡ุง ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู ูˆูุฌููˆุจู‹ุง ุนูŽูŠู’ู†ููŠู‹ู‘ุงุŒ ู„ูุฃู†ูŽู‘ู‡ุง ุชูŽูƒูŽุฑูŽู‘ุฑูŽ ุฐููƒู’ุฑูู‡ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ู„ูŽู ุฃูŠ ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ู ูˆุงู„ุญูŽุฏููŠุซูุŒ ุฅู…ู‘ุง ู„ูŽูู’ุธู‹ุง ูˆุฅู…ู‘ุง ู…ูŽุนู’ู†ู‹ู‰ุ› ูˆู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุชูู‡ุง ุงู„ูˆุงุฌูุจูŽุฉู ู…ูŽุนุฑูููŽุฉูŽ ุฅุญุงุทูŽุฉู ุจูุญูŽู‚ุงุฆูู‚ูู‡ุงุŒ ููŽุงู„ุฎูŽู„ู‚ู ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุนุงุฌูุฒููˆู†ูŽ ุนู† ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ูˆุตููุงุชูู‡ูุŒ ููŽู„ุง ูŠูŽุนู’ุฑููู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุนู„ู‰ ุงู„ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆู‡ูŠ: ุตูููŽุฉู ุงู„ูˆูุฌููˆุฏู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ูˆูŽุญู’ุฏุงู†ููŠูŽู‘ุฉู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุฃุฒูŽู„ููŠูŽู‘ุฉู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุจูŽู‚ุงุกู ูˆุตูููŽุฉู ุนูŽุฏูŽู…ู ู…ูุดุงุจูŽู‡ูŽุฉู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุงุณู’ุชูุบู’ู†ุงุกู ุงู„ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู ุนูŽู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ู‚ูุฏู’ุฑูŽุฉู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุฅุฑุงุฏูŽุฉู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุณูŽู‘ู…ู’ุนู (ุจูู„ุง ุฃูุฐูู†ู) ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุจูŽุตูŽุฑู (ุจูู„ุง ุนูŽูŠู’ู†ู) ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ุญูŽูŠุงุฉู (ุจูู„ุง ุฑููˆุญู) ูˆุตูููŽุฉู ุงู„ูƒูŽู„ุงู…ู (ุจูู„ุง ุญูŽุฑู’ูู ูˆู„ุง ุตูŽูˆู’ุชู ูˆู„ุง ู„ูุบูŽุฉู)

    ูˆุตููุงุชู ุงู„ุฃูู„ููˆู‡ููŠูŽู‘ุฉู ู‡ูฐุฐู‡ ู„ุง ุชูŽุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ุทุงุฑูุฆูŽุฉู‹ ุจูŽู„ู’ ู‡ูŠ ุตููุงุชูŒ ู„ู„ู‡ู ุจูู„ุง ุงุจู’ุชูุฏุงุกูุŒ ู„ุฃู†ูŽู‘ ุตููุงุชู ุงู„ุฃูŽุฒูŽู„ููŠูู‘ ู„ุง ุชูŽูƒููˆู†ู ุฅู„ู‘ุง ุฃูŽุฒูŽู„ููŠูŽู‘ุฉู‹ุŒ ูˆู„ุง ุดูŽุจูŽู‡ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตููุงุชู ุงู„ู„ู‡ู ูˆุจูŽูŠู’ู†ูŽ ู…ุง ูŠูุณูŽู…ูŽู‘ู‰ ุจูุฃูŽุณู’ู…ุงุฆูู‡ุง ู…ูู†ู’ ุตููุงุชู ุงู„ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ุงุชูุŒ ูˆุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽุชู ุงู„ู…ูŽุนุงู†ููŠ ุงู„ู„ูู‘ุบูŽูˆููŠูŽู‘ุฉู ู„ูู…ุง ูŠูุณูŽู…ูŽู‘ู‰ ุจูุงุณู’ู…ูู‡ุง ู…ูู†ู’ ุตููุงุชู ุงู„ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ุงุชู ุชูู‚ูŽุฑูู‘ุจู ู„ูุนูู‚ููˆู„ูู†ุง ููŽู‡ู’ู…ูŽ ู…ุง ูŠูู…ู’ูƒูู†ูู†ุง ููŽู‡ู’ู…ูู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ุงุŒ ู…ูŽุนูŽ ุงุณู’ุชูุญู’ุถุงุฑู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตููุงุชู ุงู„ุฎูŽู„ู’ู‚ู ูˆุตููุงุชู ุงู„ุญูŽู‚ูู‘ ุงุดู’ุชูุฑุงูƒูŒ ุฃูŽุตู’ู„ู‹ุง ูˆู„ุง ู…ูุดุงุจูŽู‡ูŽุฉูŒ ุจูŽุชุงุชู‹ุง.

    ู…ุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุญููŠู„ู ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰: ูˆุญููƒู’ู…ู ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ู ุจููˆูุฌููˆุจู ู‡ูฐุฐูู‡ู ุงู„ุตูู‘ูุงุชู ุงู„ู…ูŽุฐู’ูƒููˆุฑูŽุฉู ู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ูŽ ู„ุง ูŠูŽู‚ู’ุจูŽู„ู ูˆู„ุง ูŠูุตูŽุฏูู‘ู‚ู ุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูุชูŽู‘ุตููู‹ุง ุจุฃูŽุถู’ุฏุงุฏูู‡ุงุŒ ุฃูŠ ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ูŽ ูŠูŽุญู’ูƒูู…ู ุฃูŠู’ุถู‹ุง ุจูุงุณู’ุชูุญุงู„ูŽุฉู ุตููุงุชู ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุตู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุชูู‚ุงุจูู„ูู‡ุง ูˆุชูู†ุงูููŠู‡ุง ุนู„ูŠู‡ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูˆูŠูŽู†ู’ูููŠู‡ุง ู‚ูŽุทู’ุนู‹ุง ุนู†ู‡ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูˆูƒุฐูฐู„ูƒ ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ู„ู ูŠูŽุฏูู„ูู‘ ุนู„ู‰ ุงู†ู’ุชููุงุฆูู‡ุง ุนู†ู‡ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูˆู‡ูŠ: ุงู„ุนูŽุฏูŽู…ู ูˆุงู„ุชูŽู‘ุนูŽุฏูู‘ุฏู ูˆุงู„ุงุจู’ุชูุฏุงุกู ูˆุงู„ุงู†ู’ุชูู‡ุงุกู
    ูˆู…ูุดุงุจูŽู‡ูŽุฉู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆุงู„ุงุญู’ุชููŠุงุฌู ุฅู„ู‰ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆุงู„ุนูŽุฌู’ุฒู ุนู† ุดูŽูŠู’ุกู ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ููƒู’ุฑูŽู‡ุง ุนู„ู‰ ุฃู…ู’ุฑูุŒ ุฃูˆ ุจูู„ุง ุงุฎู’ุชููŠุงุฑู ููŠ ููุนู’ู„ู ูˆุงู„ุฌูŽู‡ู’ู„ู ุจูุดูŽูŠู’ุกู ูˆุงู„ุตูŽู‘ู…ูŽู…ู ูˆุงู„ุนูŽู…ูŽู‰ ูˆุงู„ู…ูŽูˆู’ุชู ูˆุงู„ุจูŽูƒูŽู…ู (ุจูู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู†ู’ุชููุงุกู ุตูููŽุฉู ุงู„ูƒูŽู„ุงู…ู ุงู„ุฃุฒูŽู„ููŠูู‘ ุงู„ุฐูŠ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูู„ูุบูŽุฉู ูˆุตูŽูˆู’ุชู ุนู†ู‡ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰)

    ู…ุง ูŠูŽุฌููˆุฒู ููŠ ุญูŽู‚ูู‘ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰: ูˆุฏูŽู„ูŽู‘ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ู ูˆุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ู„ู ุฃูŠู’ุถู‹ุง ุนู„ู‰ ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุฌููˆุฒู ุฃู†ู’ ูŠููˆุฌูุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŠูŽู‘ ู…ูู…ูƒูู†ู ุฃูˆ ูŠูŽุชู’ุฑููƒูŽ ุฅูŠุฌุงุฏูŽู‡ูุŒ ูˆู„ูฐูƒูู†ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ูฐ ู„ุง ูŠููˆุฌูุฏู ุฅู„ู‘ุง ู…ุง ุณูŽุจูŽู‚ูŽ ููŠ ุนูู„ู’ู…ูู‡ู ุงู„ุฃุฒูŽู„ูŠูู‘ ูˆู…ูŽุดููŠุฆูŽุชูู‡ู ุงู„ุฃุฒูŽู„ููŠูŽู‘ุฉู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ููŠ ุงู„ูˆูุฌููˆุฏูุŒ ููŽูŠููˆุฌูุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุงู„ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ูŽ ููŠ ูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ู ุนู„ู‰ ุญูŽุณูŽุจู ู…ุง ุนูŽู„ูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆุดุงุกูŽู‡ู ุจูู„ุง ุงุจู’ุชูุฏุงุกู.

    Fasal Ringkasan Memahami Allah Taala

    Yang wajib bagi Allah: Ringkasan makna kalimat Syahadat yang pertama adalah menetapkan 10 sifat Allah yakni meyakini bahwa ke-13 sifat tersebut bagian dari sifat-sifat Allah yang tidak terbatas dan tidak ada makhluk yang dapat menghitungnya. Itu menunjukkan atas kesempurnaan mutlak. Sifat yang 13 ini menurut akal wajib atas Allah dalam arti bahwa akal tidak menerima dan tidak membenarkan tidak adanya ke-13 sifat itu dari Allah. Ulama berkata: wajib mengetahuinya bagi setiap muslim mukalaf secara fardhu ain karena ia disebut secara berulang-ulang dalam Al-Quran dan hadits baik secara lafazh atau makna. Wajibnya mengetahui ke-13 sifat ini bukanlah wajib mengetahui hakikatnya secara mendalam. Karena semua makhluk tidak mampu mengetahui hakikat Allah dan sifat-sifatNya sehingga tidak akan ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Dia sendiri.

    13 Sifat Wajib Bagi Allah

    Ketigabelas sifat itu adalah: sifat wujud, wahdaniyat (satu), azali (tidak berawal), baqa (abadi), tidak menyerupai yang lain, tidak butuh yang lain secara mutlak, qudrah, iradat, ilm, mendengar (tanpa telinga), melihat (tanpa mata), hidup (tanpa ruh), berbicara (tanpa huruf, suara dan bahasa).

    Sifat uluhiyah (ketuhanan) tidak akan berubah dan bukanlah hal baru. Ia adalah sifat-sifat Allah yang tanpa permulaan, karena sifat azali tidak terjadi kecuali azali (tanpa awal). Tidak ada keserupaan antara sifat-sifat Allah dengan nama serupa dari sifat makhluk. Walaupun makna bahasanya antara nama sifat Allah dengan sifat makhluk memiliki kedekatan arti menurut akal dan pemahaman kita. Walaupun kita tahu bahwa sifat makhluk dan sifat Allah tidak ada kesamaan atau keserupaan sama sekali.

    13 Sifat yang mustahil bagi Allah

    Hukum akal atas wajibnya sifat-sifat tersebut bagi Allah bermakna bahwa akal tidak menerima dan tidak membenarkan apabila Allah memiliki sifat sebaliknya. Yakni bahwa akal menghukumi mustahilnya sifat kekurangan yang berbanding dengan sifat wajibNya dan meniadakan sama sekali dari Allah. Begitu juga Al-Quran dan hadits menunjukkan tidak adanya sifat-sifat mustahil itu dari Allah. Sifat mustahil itu adalah: tidak ada, lebih dari satu (taโ€™addud), ada permulaan (ibtida), ada akhir (intiha), serupa dengan yang lain, butuh pada yang lain, lemah dari sesuatu, terpaksa dalam melakukan sesuatu, tidak tahu (jahl), tuli (shomam), buta (ama), mati (maut), bisu (bakam).

    Sifat yang jaiz (mungkin) bagi Allah

    Akal dan dalil naqli menunjukkan bahwa Allah bisa mewujudkan perkara yang mungkin atau tidak mewujudkannya. Akan tetapi Allah tidak mengadakan sesuatu kecuali karena ilmunya yang azali dan kehendakNya yang azali bahwa hal itu masuk dalam wujud. Maka, Allah akan mewujudkan makhluk pada saatnya berdasarkan pada ilmu dan kehendakNya tanpa permulaan.[ALKHOIROT.COM]

    Dalil Adanya Allah dan Sifat-sifat-Nya

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุงู„ุฏูŽู‘ู„ููŠู„ู ุงู„ุฅุฌู’ู…ุงู„ููŠูู‘ ุนู„ู‰ ูˆูุฌููˆุฏู ุงู„ู„ู‡ู ูˆุตููุงุชูู‡ู

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู ุฃู†ู’ ูŠูŽุนู’ุฑูููŽ ุงู„ุฏูŽู‘ู„ููŠู„ูŽ ุงู„ุฅุฌู’ู…ุงู„ููŠูŽู‘ ุนู„ู‰ ูˆูุฌููˆุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ูˆุตููุงุชูู‡ู ู„ููŠูุญูŽุตูู‘ู†ูŽ ุฅูŠู…ุงู†ูŽู‡ุŒ ูˆู…ูุซุงู„ูู‡ู ุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ููŠ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู: ุฃู†ุง ูˆูุฌูุฏู’ุชู ููŠ ุจูŽุทู’ู†ู ุฃูู…ูู‘ูŠุŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฃู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุฃูƒูู†ู’ ู…ูŽูˆู’ุฌููˆุฏู‹ุงุŒ ูˆู…ูŽู†ู’ ูˆูุฌูุฏูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฃู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ููŽู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ู…ููˆุฌูุฏู ุฃูŠ ุฎุงู„ูู‚ู ุฃูˆู’ุฌูŽุฏูŽู‡ู ูˆูƒูŽูˆูŽู‘ู†ูŽู‡ูุŒ ููŽู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู„ููŠ ู…ูู†ู’ ุฎุงู„ูู‚ู ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ููŠ ุฃุนู’ุถุงุฆููŠูŽ ูˆุฃุฌู’ุฒุงุฆููŠูŽ ูˆุชูŽูุงุตููŠู„ููŠูŽ ุงู„ุฏูŽู‘ุงุฎูู„ููŠูŽู‘ุฉูŽ ูˆุงู„ุฎุงุฑูุฌููŠูŽู‘ุฉูŽุŒ ูˆุฐูฐู„ููƒูŽ ุงู„ู…ููƒูŽูˆูู‘ู†ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูŽูˆูŽู‘ู†ูŽู†ููŠ ูˆุฃูˆู’ุฌูŽุฏูŽู†ููŠ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฃุจููŠ ูˆู„ุง ุฃูู…ูู‘ูŠ ูˆู„ุง ุฃูŠูŽู‘ ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ู ุขุฎูŽุฑูŽุŒ ุจูŽู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุฎุงู„ูู‚ูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒุŒ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ูƒูู„ูŽู‘ ู…ูŽุง ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูƒูŽูˆู’ู†ูุŒ ูˆูŠูุณูŽูŠุทูุฑ ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ุฐุฑูŽู‘ุฉู ู…ูู†ู’ ุฐุฑู‘ุงุชูู‡ู ุณูŽูŠู’ุทูŽุฑูŽุฉู‹ ุชุงู…ูŽู‘ุฉุŒ ูู‡ูˆ ุฅู„ูฐู‡ ูˆุงุญูุฏูŒุŒ ู„ุง ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ูˆู„ุง ู…ูŽุซููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆู‡ููˆูŽ ู…ูู†ูŽุฒูŽู‘ู‡ูŒ ุนูŽู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ู†ูŽู‚ู’ุตูุŒ ููŽู„ูŽู‡ู ุงู„ูƒูŽู…ุงู„ู ุงู„ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู…ูŽุญู’ุฏููˆุฏูุŒ ููŽู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูุชูŽู‘ุตููู‹ุง ุจูุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูˆุงู„ู‚ูุฏู’ุฑูŽุฉู ูˆุงู„ุฅุฑุงุฏูŽุฉู ูˆุงู„ุญูŽูŠุงุฉู ูˆุณุงุฆูุฑู ุตููุงุชู ุงู„ูƒูŽู…ุงู„ู ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠูŽู„ููŠู‚ู ุจูุงู„ุฃูู„ููˆู‡ููŠูŽู‘ุฉูุŒ ูˆุนูู‚ููˆู„ู ุงู„ุฎูŽู„ู’ู‚ู ู„ุง ุชูุญููŠุทู ุจูู‡ู ุนูู„ู’ู…ู‹ุงุŒ ูˆูŠูุณูŽู…ูŽู‘ู‰ ุจูุงู„ุนูŽุฑูŽุจููŠูŽู‘ุฉู โ€œุงู„ู„ู‡ูŽโ€.

    ูุตู„ ููŠ ุฌูŽูˆุงุจู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ู: โ€œู…ุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŸ

    ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูู‡ูู…ูู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุฑูููŽ ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูุฌููŠุจู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ู: โ€œู…ุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŸโ€ุŒ ููŽู‡ูŽุฐุง ุณูุคุงู„ูŒ ูŠูŽุทู’ุฑูŽุญูู‡ู ูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตูู‘ุบุงุฑูุŒ ูˆู„ุง ูŠูุญู’ุณูู†ู ุงู„ุฅูุฌุงุจูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ูƒูุจุงุฑูุ› ูˆูŠูู…ู’ูƒูู†ู ุฅุฌุงุจูŽุชูู‡ู ุฅุฌุงุจูŽุฉู‹ ุตูŽุญููŠุญูŽุฉู‹ ุจูุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ุงู„ูŽ: ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู…ูŽูˆู’ุฌููˆุฏูŒ ู„ุง ูŠูุดู’ุจูู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽูˆู’ุฌููˆุฏุงุชูุŒ ููŽู…ูŽู‡ู’ู…ุง ุชูŽุตูŽูˆูŽู‘ุฑู’ุชูŽ ุจูุจุงู„ููƒูŽ ููŽุงู„ู„ู‡ู ู„ุง ูŠูุดู’ุจูู‡ู ุฐูฐู„ูƒุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุชูŽู‡ูุŒ ูˆู„ูฐูƒูู†ูŽู‘ู†ุง ุจูู†ุงุกู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูŽุฏูู„ูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ู‚ูŽุทู’ุนููŠูŽู‘ุฉูŽ ู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูŠูŽู‚ููŠู†ู‹ุง ุนูŽู†ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุฃูู…ููˆุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ุง:
    ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ูƒูŽุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ุฃูŽุญูŽุฏู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูู’ุฑุงุฏู ุงู„ูƒูŽูˆู’ู†ู ุฃูŠ ุงู„ุนุงู„ูŽู…ูุ›
    ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ููŠ ุฃูŠูู‘ ู…ูŽูƒุงู†ู ุฃูˆ ุฌูู‡ูŽุฉูุ› ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฐุง ุฌูุณู’ู…ู ูˆุญูŽุฌู’ู…ู ูˆุดูŽูƒู’ู„ูุ›
    ู„ุง ูŠูŽุญู’ุชุงุฌู ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅูู„ู‰ ุดูŽูŠู’ุกูุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽุชูŽุถูŽุฑูŽู‘ุฑู ุจุดูŠุกูุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽู†ู’ุชูŽููุนู ุจูุดูŽูŠู’ุกูุ› ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ู„ูŽู‡ู ุงู„ูƒูŽู…ุงู„ูŽ ุงู„ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ูŽุ›
    ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู„ุง ุจูุฏุงูŠูŽุฉูŽ ู„ููˆูุฌููˆุฏูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ุฎุงู„ูู‚ูŒ ูƒูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูุ›
    ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุฎุงู„ูู‚ู ูƒูู„ูู‘ ู…ุง ุณููˆุงู‡ูุŒ ุฃูŠู ูƒูู„ูู‘ ู…ุง ููŠ ุงู„ุนุงู„ูŽู…ูุ›
    ู…ุง ุฃูŽูˆู’ู‡ูŽู…ูŽุชู’ ุธูŽูˆุงู‡ูุฑูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุขูŠุงุชู ุงู„ูƒูŽุฑููŠู…ูŽุฉู ูˆุงู„ุฃูŽุญุงุฏููŠุซู ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠููŽุฉู ุงุชูู‘ุตุงููŽ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุจูุตูููŽุฉู ู…ูู†ู’ ุตููุงุชู ุงู„ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ุงุชูุŒ ูƒูŽุงู„ุฌูุณู’ู…ู ูˆุงู„ู…ูŽูƒุงู†ู ูˆุงู„ุญูŽุฑูŽูƒูŽุฉู ูˆุงู„ุณูู‘ูƒููˆู†ูุŒ ููŽุชูŽูู’ุณููŠุฑูู‡ู ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญู ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูฐู„ูƒ ู‚ูŽุทู’ุนู‹ุง.

    ุฎูู„ุงุตูŽุฉูŒ ููŠ ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ุงู„ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุกู ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ูˆุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู

    ุงู„ู…ูุนู’ุฌูุฒุงุชู ุฏูŽู„ููŠู„ูŒ ู‚ุงุทูุนูŒ ุนู„ู‰ ุตูุฏู’ู‚ู ุงู„ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุกู: ูˆูŠูŽุฌูุจู ุงุนู’ุชู‚ุงุฏู ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ู…ูุนู’ุฌูุฒุงุชู ุฏูŽู„ููŠู„ูŒ ูŠูŽู‚ููŠู†ููŠูŒู‘ ุนู„ู‰ ุตูุฏู’ู‚ู ุงู„ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุกูุŒ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู‡ูู…ู’ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูˆุณูููŽุฑุงุคูู‡ู ุฅู„ู‰ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ูุŒ ูˆู‡ูŠ ุฎูŽูˆุงุฑูู‚ู ู„ูู„ุนุงุฏุงุชู ุงู„ูƒูŽูˆู’ู†ููŠูŽู‘ุฉู ููŠ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠุง ุฃูŠูŽู‘ุฏูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ุง ูˆุฎุตูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุจูู‡ุง ุฅุธู’ู‡ุงุฑู‹ุง ู„ูุชูŽุตู’ุฏููŠู‚ูู‡ู ู„ูŽู‡ูู…ู’ุŒ ูˆุฌูŽุนูŽู„ูŽู‡ุง ู…ููˆุงููู‚ูŽุฉู‹ ู„ูุฏูŽุนู’ูˆุงู‡ูู…ู ุงู„ู†ูู‘ุจูˆูŽู‘ุฉูŽุŒ ูˆุฃุนู’ุฌูŽุฒูŽ ุนู† ุงู„ุฅุชู’ูŠุงู†ู ุจูู…ูุซู’ู„ูู‡ุง ูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุชูŽู†ูŽุจูู‘ุฆู ุฒููˆุฑู‹ุง ูˆูƒู„ูŽู‘ ู…ููƒูŽุฐูู‘ุจู ู„ุฃุญูŽุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃู†ู’ุจููŠุงุกู.

    ู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ู„ูู„ู’ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุกู: ูˆูŠูŽุฌูุจู ุงุนู’ุชู‚ุงุฏู ุฃู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ ู†ูŽุจููŠูู‘ ู…ูู†ู’ ุฃู†ู’ุจููŠุงุกู ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ูˆุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ูŠูŽุฌูุจู ู„ูŽู‡ู โ€“ ุจุงู„ุฏูŽู‘ู„ููŠู„ู ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ููŠูู‘ ุฃูˆ ุจูุงู„ุฏูŽู‘ู„ููŠู„ู ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนููŠูู‘ ุฃูˆ ุจูู‡ูู…ุง ู…ูŽุนู‹ุง โ€“ ุตููุงุชูŒ ุญูŽู…ููŠุฏูŽุฉูŒุŒ ู…ู†ู‡ุง: ุงู„ุตูู‘ุฏู’ู‚ู ูˆุงู„ุฃู…ุงู†ูŽุฉู ูˆุงู„ุชูŽู‘ุจู’ู„ููŠุบู ูˆุงู„ููŽุทุงู†ูŽุฉู ูˆุงู„ุตูู‘ูŠุงู†ูŽุฉู (ูˆู‡ูŠ ุงู„ุจูุนู’ุฏู ุนูŽู…ู‘ุง ูŠูŽุนููŠุจู) ูˆุงู„ุนูุตู’ู…ูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ูƒููู’ุฑู ูˆุณุงุฆูุฑู ุงู„ุฐูู‘ู†ููˆุจู ูƒูŽุจููŠุฑูู‡ุง ูˆุตูŽุบููŠุฑูู‡ุงุŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุจููˆูŽู‘ุฉู ูˆุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ุง

    ู…ุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุญููŠู„ู ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุกู: ูŠูŽุณู’ุชูŽุญููŠู„ู ุนู„ู‰ ุฃูŠูู‘ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃู†ู’ุจููŠุงุกู ุฃุถู’ุฏุงุฏู ุงู„ุตูู‘ูุงุชู ุงู„ูˆุงุฌูุจูŽุฉู ู„ูŽู‡ูู…ู’ุŒ ููŽู…ูู…ู‘ุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุญููŠู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู: ุงู„ูƒูŽุฐูุจู ูˆุงู„ุฎููŠุงู†ูŽุฉู ูˆูƒูุชู’ู…ุงู†ู ุดูŽูŠู’ุกู ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุจูุชูŽุจู’ู„ููŠุบูู‡ู ูˆุงู„ุฑูŽู‘ุฐุงู„ูŽุฉู ูˆุงู„ุณูŽู‘ูุงู‡ูŽุฉู ูˆุงู„ู‡ูŽุฒููŠู…ูŽุฉู ูˆุงู„ุฎูุณูŽู‘ุฉู ูˆุงู„ุบูŽุจุงูˆูŽุฉู ูˆุงู„ูƒููู’ุฑู ูˆู…ุง ูŠููƒู’ุชูŽุจู ุนู„ูŠู‡ู… ุจูู‡ู ุฐูŽู†ู’ุจูŒุŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุจููˆูŽู‘ุฉู ูˆุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ุงุ› ูˆูƒูู„ูู‘ ุนูุจุงุฑูŽุฉูุŒ ู…ูู…ู‘ุง ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนู† ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุฃูˆ ุนู† ุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ุฅุฐุง ุฃูˆู’ู‡ูŽู…ูŽ ุธุงู‡ูุฑูู‡ุง ุฎูู„ุงููŽ ู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ู„ู’ู„ุฃู†ู’ุจููŠุงุกูุŒ ููŽุชูŽูู’ุณููŠุฑูู‡ุง ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญู ุบูŽูŠู’ุฑู ุธุงู‡ูุฑูู‡ุง.

    ู…ุง ูŠูŽุฌููˆุฒู ููŠ ุญูŽู‚ูู‘ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุกู: ูˆูŠูŽุฌูุจู ุงุนู’ุชูู‚ุงุฏู ุฃู†ูŽู‘ ุฌูŽู…ููŠุนูŽ ุงู„ุฃู†ู’ุจููŠุงุกู ุจูŽุดูŽุฑูŒ ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุฃุนู’ุฑุงุถู ุงู„ุจูŽุดุฑููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ูŽู‘ุชูŠ ู„ุง ุชูู†ุงูููŠ ู…ูŽู‚ุงู…ูŽู‡ูู…ู’ ูˆู…ูู‡ูู…ูŽู‘ุชูŽู‡ูู…ู’ ูˆู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ู„ูŽู‡ูู…ุ› ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุฃูŽูƒู’ู„ูุŒ ูˆุงู„ุดูู‘ุฑู’ุจูุŒ ูˆุงู„ุฒูŽู‘ูˆุงุฌูุŒ ูˆุงู„ู…ูŽุฑูŽุถู ุบูŠุฑู ุงู„ู…ูู†ูŽููู‘ุฑู ู…ู†ู‡ู… ูˆุบูŠุฑู ุงู„ู…ูุฎูู„ูู‘ ุจูุฏูŽุนู’ูˆูŽุชูู‡ูู…ู’ุŒ ูˆู†ูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุนูŽูŠู’ู†ู ู„ุง ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจูุŒ ูˆุงู„ู…ูŽูˆู’ุชู.

    Dalil Ringkas Adanya Allah dan Sifat-sifat-Nya

    Wajib bagi muslim mukalaf mengetahui dalil ringkas atas adanya Allah dan sifat-sifatNya agar dapat memelihara imannya. Contohnya seseorang berkata pada dirinya: Aku ada di perut ibuku setelah aku tidak ada. Barangsiapa ada setelah tidak ada maka pasti ada yang mengadakan yakni pencipta yang mewujudkan dan membentuknya. Maka pasti ada Pencipta yang telah menjadikan anggota tubuhku, bagianku, unsur-unsur jasadku di dalam dan di luar. Pencipta yang menciptakanku pasti bukan ayah atau ibuku atau makhluk lain. Ia pasti Pencipta Yang Agung. Yang menciptakan segala sesuatu di alam ini dan menguasai setiap molekul alam secara sempurna. Ia adalah Tuhan Yang Satu. Tidak ada yang menyekutukannya dan menyamaiNya. Ia suci dari segala kekurangan. Ia pemilik kesempurnaan mutlak tanpa batas. Ia pasti memiliki sifat ilmu, kuasa (qudrat), kehendak (iradat), hidup (hayat), dan sifat-sifat sempurna yang lain yang sesuai dengan ketuhananNya. Akal makhlukNya tidak dapat mencapai-Nya. Dalam bahasa Arab Ia disebut โ€œAllahโ€.

    Fasal Menjawab Orang yang Bertanya: Apa itu Allah?

    Penting bagi muslim untuk tahu bagaimana cara menjawab orang yang bertanya: โ€œApa itu Allah?โ€ Ini pertanyaan yang sering ditanyakan oleh banyak anak kecil dan tidak sedikit orang dewasa yang tidak dapat menjawabnya. Jawaban yang benar adalah: Allah itu ada dan tidak menyerupai apapun di dunia. Ketika hatimu menggambarkan sesuatu di hatimu, maka Allah tidak seperti itu. Tidak ada seorang pun selain Allah yang tahu hakikatNya. Akan tetapi berdasarkan pada dalil-dalil yang pasti kita mengetahui secara yakin tentang Allah beberapa hal antara lain:
    โ€“ Hakikat Allah tidaklah seperti hakikat siapapun selain-Nya. Allah tidak menjadi bagian dari alam.
    โ€“ Allah tidak berada di suatu tempat atau arah, karena Ia tidak berupa jasad atau bentuk.
    โ€“ Allah tidak membutuhkan sesuatu dan tidak cedera karena sesuatu, tidak mendapat manfaat oleh sesuatu karena Ia memiliki kesempurnaan mutlak
    โ€“ Allah tidak ada permulaan atas wujudNya, Dia tidak mempunyai pencipta seperti yang lain.
    โ€“ Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang terdapat di alam semesta.
    โ€“ Apabila ada ayat-ayat Al Quran dan hadits Nabi yang menyifati Allah dengan sifat makhluk-Nya seperti tubuh, bergerak, diam, maka tafsir yang sahih adalah tidak dimaknai demikian.

    Ringkasan dalam Memahami Para Nabi

    Mukjizat adalah dalil yang pasti atas kebenaran para Nabi

    Wajib meyakini bahwa mukjizat adalah dalil yang meyakinkan atas kebenaran para Nabi yang merupakan makhluk Allah paling utama. Utusan Allah pada makhluk Allah yang lain. Mujizat adalah perkara yang luar biasa yang keluar dari kebiasaan alam dunia. Para Nabi diberi kemampuan dan kekhususan itu oleh Allah untuk menampakkan kebenaran mereka. Muโ€™jizat dijadikan sebagai pendukung pada klaim kenabian mereka. Mujizat para Nabi tidak mampu ditiru oleh Nabi palsu dan siapapun yang tidak percaya pada para Nabi.

    Sifat yang Wajib bagi para Nabi

    Wajib meyakini bahwa setiap Nabi Allah โ€“ dengan dalil akal dan syarโ€™i atau keduanya โ€“ untuk memiliki sifat terpuji. Antara lain: sidiq (jujur), amanah, tabligh (menyampaikan kebenaran), fatonah (cerdas), shiyanah (terpelihara dari dosa), terpelihara dari kufur dan dosa-dosa lain baik besar atau kecil. Sebelum kenabian atau setelahnya.

    Sifat yang Mustahil bagi Nabi

    Mustahil bagi setiap Nabi kebalikan dari sifat yang wajib di atas. Di antaranya: bohong, khianat, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan, hina, bodoh, kalah, tidak adil, bodoh, kufur, perbuatan dosa sebelum dan setelah kenabian. Setiap kata yang tetap dari Allah atau dari Rasul-Nya apabila secara lahiriah berlawanan dengan perkara yang wajib bagi para Nabi, maka pemahaman yang sahih adalah dengan memaknainya yang berlawanan dengan zhahirnya.

    Sifat yang Boleh bagi Para Nabi

    Wajib meyakini bahwa seluruh Nabi adalah manusia. Oleh karena itu, boleh adanya tampilan manusiawi yang tidak menafikan derajat dan tugas serta sifat yang wajib bagi mereka. Maka boleh bagi mereka untuk makan, minum, kawin, sakit yang tidak mengganggu dakwah mereka, tidurnya mata bukan hati, dan mati.[alkhoirot.com]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูุฎุฑูุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุญููู’ุธู ุฅุณู’ู„ุงู…ูู‡ู ูˆุตูŽูˆู’ู†ูู‡ู ุนูŽู…ู‘ุง ูŠููู’ุณูุฏูู‡ู ูˆูŠูุจู’ุทูู„ูู‡ู ูˆูŠูŽู‚ู’ุทูŽุนูู‡ูุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู [ุฃูŠู ุงู„ูƒููู’ุฑู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู] ูˆุงู„ุนููŠุงุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ูˆู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุซูุฑูŽ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุฒูŽู‘ู…ุงู†ู ุงู„ุชูŽู‘ุณุงู‡ูู„ู ููŠ ุงู„ูƒูŽู„ุงู…ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฅู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฃู„ู’ูุงุธูŒ ุชูุฎู’ุฑูุฌูู‡ูู…ู’ ุนู† ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽุฑูŽูˆู’ู†ูŽ ุฐูฐู„ูƒ ุฐูŽู†ู’ุจู‹ุง ููŽุถู’ู„ู‹ุง ุนู† ูƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู ูƒููู’ุฑู‹ุงุŒ ูˆุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู ุซูŽู„ุงุซูŽุฉู ุฃู‚ู’ุณุงู…ู: ุงุนู’ุชูู‚ุงุฏุงุชูŒ ูˆุฃูู’ุนุงู„ูŒ ูˆุฃู‚ู’ูˆุงู„ูŒุŒ ูˆูƒูู„ูู‘ ู‚ูุณู’ู…ู ูŠูŽุชูŽุดูŽุนูŽู‘ุจู ุดูุนูŽุจู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู‹.

    ุฃู…ู’ุซูู„ูŽุฉู ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู ุจูุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจู (ุฃูŠู ุงู„ุงุนู’ุชูู‚ุงุฏุงุชู ุงู„ูƒููู’ุฑููŠูŽู‘ุฉู): ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูˆูŽู‘ู„ู:

    ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘ ููŠ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฃูˆ ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ูู‡ูุŒ ุฃูˆ ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ูุŒ ุฃูˆ ุงู„ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑูุŒ ุฃูˆ ุงู„ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูุŒ ุฃูˆ ุงู„ู†ู‘ุงุฑูุŒ ุฃูˆ ุงู„ุซูŽู‘ูˆุงุจูุŒ ุฃูˆ ุงู„ุนูู‚ุงุจูุŒ ูˆู†ูŽุญู’ูˆู ุฐูฐู„ูƒ ู…ูู…ู‘ุง ู‡ูˆ ู…ูุฌู…ูŽุนูŒ ุนู„ูŠู‡ [ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ู…ูู…ู‘ุง ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡]ุ›

    ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู] ุงุนุชูŽู‚ูŽุฏูŽ ููŽู‚ู’ุฏูŽ [ุฃูŠ ู†ูŽูู’ูŠูŽ] ุตูููŽุฉู ู…ูู†ู’ ุตููุงุชู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ูˆุงุฌูุจูŽุฉู ุฅุฌู’ู…ุงุนู‹ุง [ู…ู…ู‘ุง ุฏู„ูŽู‘ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ู] ูƒูŽุงู„ุนูู„ู’ู…ูุŒ ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ู†ูŽุณูŽุจูŽ ู„ู‡ [ุชูŽุนุงู„ูŽู‰] ุตูููŽุฉู‹ ูŠูŽุฌูุจู ุชูŽู†ู’ุฒููŠู‡ูู‡ู ุนู†ู‡ุง ุฅุฌู’ู…ุงุนู‹ุง [ู…ูู…ู‘ุง ูŠูŽุฏูู„ูู‘ ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ู ุนู„ู‰ ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ู†ูŽู‚ู’ุตูŒ ููŠ ุญูŽู‚ูู‘ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰]ุŒ ูƒูŽุงู„ุฌูุณู’ู…ูุŒ ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุญูŽู„ูŽู‘ู„ูŽ ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ู‹ุง ุจูุงู„ุฅุฌู’ู…ุงุนู ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ู…ูู…ู‘ุง ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูƒุงู„ุฒูู‘ู†ุง ูˆุงู„ู„ูู‘ูˆุงุทู ูˆุงู„ู‚ูŽุชู’ู„ู ูˆุงู„ุณูŽู‘ุฑูู‚ูŽุฉู ูˆุงู„ุบูŽุตู’ุจู [ุฃูŠ ุฃูŽุฎู’ุฐู ุฃูŽู…ู’ูˆุงู„ู ุงู„ู†ู‘ุงุณู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูŽู‚ูู‘ ู‚ูŽู‡ู’ุฑู‹ุง]ุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุญูŽู„ุงู„ู‹ุง ูƒุฐูฐู„ูƒ [ุฃูŠ ู…ูู…ู‘ุง ู‡ูˆ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ู…ูู…ู‘ุง ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡]ุŒ ูƒุงู„ุจูŽูŠู’ุนู ูˆุงู„ู†ูู‘ูƒุงุญูุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ู†ูŽููŽู‰ ูˆูุฌููˆุจูŽ ู…ูุฌู’ู…ูŽุนู ุนู„ูŠู‡ ูƒุฐูฐู„ูƒ [ุฃูŠ ู…ูู…ู‘ุง ู‡ูˆ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ู…ูู…ู‘ุง ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡]ุŒ ูƒูŽุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽูˆุงุชู ุงู„ุฎูŽู…ู’ุณูุŒ ุฃูˆ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุฉู ู…ู†ู‡ุงุŒ ูˆุงู„ุฒูŽู‘ูƒุงุฉูุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูุŒ ูˆุงู„ุญูŽุฌูู‘ุŒ ูˆุงู„ูˆูุถููˆุกูุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุฃูˆู’ุฌูŽุจูŽ ู…ุง ู„ู… ูŠูŽุฌูุจู’ ุฅุฌู’ู…ุงุนู‹ุง ูƒุฐูฐู„ูƒ [ุฃูŠ ู…ูู…ู‘ุง ู‡ูˆ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ู…ูู…ู‘ุง ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡]ุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ู†ูŽููŽู‰ ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนููŠูŽู‘ุฉูŽ ู…ูุฌู’ู…ูŽุนู ุนู„ูŠู‡ ูƒุฐูฐู„ูƒ [ุฃูŠ ู…ูู…ู‘ุง ู‡ูˆ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ู…ูู…ู‘ุง ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡]ุŒ ูƒูŽุงู„ุฑูŽู‘ูˆุงุชูุจูุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุนูŽุฒูŽู…ูŽ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒููู’ุฑู [ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุง] ููŠ ุงู„ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูŽู„ูุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุฒูŽู…ูŽ] ุนู„ู‰ ููุนู’ู„ู ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู…ู‘ุง ุฐููƒูุฑูŽ [ู…ูู†ูŽ ุงู„ูƒููู’ุฑููŠู‘ุงุชู ุฃูˆ ู†ูŽุญู’ูˆูู‡ุง ููŠ ุงู„ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูŽู„ู]ุŒ ุฃูˆ ุชูŽุฑูŽุฏูŽู‘ุฏูŽ ููŠู‡ุŒ ู„ุง ูˆูŽุณู’ูˆูŽุณูŽุฉูŒุ›

    ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุฃู†ู’ูƒูŽุฑูŽ ุตูุญู’ุจูŽุฉูŽ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ุง ุฃุจููŠ ุจูŽูƒู’ุฑู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนู†ู‡ุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’ ุฃู†ู’ูƒูŽุฑูŽ] ุฑูุณุงู„ูŽุฉูŽ ูˆุงุญูุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑูู‘ุณูู„ู ุงู„ู…ูุฌู’ู…ูŽุนู ุนู„ู‰ ุฑูุณุงู„ูŽุชูู‡ู [ุฃูŠ ู…ูู…ูŽู‘ู†ู’ ุฑูุณุงู„ูŽุชูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุจูุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑูŽุฉู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูƒูŽุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ุง ุนููŠุณูŽู‰ ูˆุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ุง ู…ููˆุณูŽู‰ ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ูˆุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู]ุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุฌูŽุญูŽุฏูŽ ุญูŽุฑู’ูู‹ุง ู…ูุฌู’ู…ูŽุนู‹ุง ุนู„ูŠู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ู [ูˆู‡ูˆ ูŠูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ู…ู†ู‡]ุŒ ุฃูˆ ุฒุงุฏูŽ ุญูŽุฑู’ูู‹ุง ููŠู‡ ู…ูุฌู’ู…ูŽุนู‹ุง ุนู„ู‰ ู†ูŽูู’ูŠูู‡ู [ู…ูŽุนูŽ ูƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู] ู…ูุนู’ุชูŽู‚ูุฏู‹ุง ุฃู†ูŽู‘ู‡ู [ู„ูŽูŠู’ุณูŽ] ู…ู†ู‡ุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ูƒูŽุฐูŽู‘ุจูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู‹ุงุŒ ุฃูˆ ู†ูŽู‚ูŽู‘ุตูŽู‡ูุŒ ุฃูˆ ุตูŽุบูŽู‘ุฑูŽ ุงุณู’ู…ูŽู‡ู ุจูู‚ูŽุตู’ุฏู ุชูŽุญู’ู‚ููŠุฑูู‡ูุ› ุฃูˆ [ู…ูŽู†ู’] ุฌูŽูˆูŽู‘ุฒูŽ ู†ูุจููˆูŽู‘ุฉูŽ ุฃุญูŽุฏู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู†ูŽุจููŠูู‘ู†ุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ.

    ุฃู…ู’ุซูู„ูŽุฉู ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู ุจูุงู„ุฌูŽูˆุงุฑูุญู (ุฃูŠ ุงู„ุฃูู’ุนุงู„ู ุงู„ูƒููู’ุฑููŠูŽู‘ุฉู):

    ูˆุงู„ู‚ูุณู’ู…ู ุงู„ุซู‘ุงู†ูŠ ุฃูู’ุนุงู„ูŒุŒ ูƒูŽุณูุฌููˆุฏู ู„ูุตูŽู†ูŽู…ู ุฃูˆ ุดูŽู…ู’ุณู ุฃูˆ ู‚ูŽู…ูŽุฑู [ุฃูˆ ุดูŽูŠู’ุทุงู†ู] [ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุง]ุŒ ุฃูˆ ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ู ุขุฎูŽุฑูŽ [ุนู„ู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุนูุจุงุฏูŽุชูู‡ู].

    Penyebab Murtad

    Setiap orang islam wajib memelihara dan menjaga keislamannya agar jangan sampai ada sesuatu yg merusak,membatalkan dan memutus islamnya,sebab semua itu adalah murtad, semoga kita dilindungi oleh Alloh dari perbuatan murtad.

    Pada zaman ini banyak orang yg sembrono dalama berkata2. Segingga yg diucapkan sungguh sungguh mengeluarkan dirinya dari agama islam,sementara dia sama sekali tidak pernah menganggap bahwa yg diucapkan itu dosa, apalagi dianggap kufur malah tak mungkin

    Perbutan murtad terbagi menjadi tiga hal.

    1. Murtad iโ€™tiqod (keyakinan dalam hati)
    2. Murtad fiโ€™liyah (perbuatan)
    3. Murtad qouliyah (ucapan)

    Masing2 bagian bercabang amat banyak

    Pertama, Murtad Iโ€™tiqadi

    Murtad karena Kenyakinan
    Setiap pembagian Sifat murtad bercabang cabang dgn cabang yg banyak. Sebagian dari murtad Iโ€™tiqod yaitu:

    โ€“ Meragukan adanya Allah,
    โ€“ Meragukan utusan Allah,
    โ€“ Meragukan kebenaran Alqurโ€™an,
    โ€“ Meragukan hari kiyamat, Meragukan
    โ€“ Meragukan adanya surga dan neraka, Meragukan
    โ€“ Meragukan adanya pahala,
    โ€“ Meragukan siksaan Allah
    โ€“ Meragukan hukum yg disepakati para ulama mujtahid.

    โ€“ Berkeyakinan tidak ada sifat wajib bagi Alloh yg telah disepakati ulama mujtahid, Serperti โ€˜ilmu, Menisbatkan Alloh dgn sifat yang seharusnya wajib mensucikanya secara ijmaโ€™ ulama seperti mengatakan Allah berjasad

    โ€“ Menghalalkan perkara haram yg di sepakati Ulama Mujtahid sdh di ketauhui secara agama. Seperti : zina, liwath (homosex), Pembantaian, Pencuarian, Merampok.

    โ€“ Mengharamkan yang halal seperti jual beli dan nikah

    โ€“ Meniadakan kewajiban yg telah disepakati ulama, seperti sholat lima waktu, atau menghilangkan satu sujud dari Sholat, Meniadakan kewajiban Zakat, Puasa, Haji, Wudlu.
    โ€“ Mewajibkan apa yg tidak wajib secara ijmaโ€™ ulama
    โ€“ Meniadakan ibadah yg di syareatkan agama,โ€™ seperti sholat sunah rowatib (qobliyah-baโ€™diyah)
    โ€“ Berencana kufur (Murtad ) akan masa datang.
    โ€“ Berencana mengerjakan sesuatu pada keadaan dari apa yg telah disebutkan
    โ€“ Bimbang dalam agama, Bukan karena waswas.
    โ€“ Mengingkari sahabat-sahabat nabi kita seperti abu Bakar, Umar ,Utsman, Ali.
    โ€“ Mengingkari kerasulan salah satu rosul Allah menurut Ijmaโ€™ ulama.
    โ€“ Mengingkari satu huruf dari Alqurโ€™an yang telah disepakati ulama
    โ€“ Menambahkan satu huruf yg tidak dalam Alquran menurut Ijmaโ€™ ulama sedangkan dia meyakini itu salah satu huruf Alquran.
    โ€“ Mendustakan dan meremehkan serta men-tashgir nama rasul dgn tujuan menghina,
    โ€“ Menyangka ada nabi sesudah nabi muhammad SAW.

    Kedua, Murtad Karena Perbuatan (Murtad Fiโ€™liyah) yaitu seperti :

    โ€“ Menyembah berhala,
    โ€“ Menyembah matahari,
    โ€“ Menyembah mahluk lainnya [alkhoirot.com]

    ุฃู…ู’ุซูู„ูŽุฉู ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู ุจูุงู„ู„ูู‘ุณุงู†ู (ุฃูŠ ุงู„ุฃู‚ู’ูˆุงู„ู ุงู„ูƒููู’ุฑููŠูŽู‘ุฉู)

    ูˆุงู„ู‚ูุณู’ู…ู ุงู„ุซู‘ุงู„ูุซู ุงู„ุฃู‚ู’ูˆุงู„ูุŒ ูˆู‡ูŠ ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉูŒ ุฌูุฏู‹ู‘ุง ู„ุง ุชูŽู†ู’ุญูŽุตูุฑูุŒ ู…ู†ู‡ุง:
    ุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู] ู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู: โ€œูŠุง ูƒุงููุฑูโ€ุŒ ุฃูˆ โ€œูŠุง ูŠูŽู‡ููˆุฏููŠูู‘โ€ุŒ ุฃูˆ โ€œูŠุง ู†ูŽุตู’ุฑุงู†ูŠูู‘โ€ุŒ ุฃูˆ โ€œูŠุง ุนูŽุฏููŠู…ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูโ€ุŒ ู…ูุฑููŠุฏู‹ุง ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ูุฎุงุทูŽุจู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ูƒููู’ุฑูŒ ุฃูˆ ูŠูŽู‡ููˆุฏููŠูŽู‘ุฉูŒ ุฃูˆ ู†ูŽุตู’ุฑุงู†ููŠูŽู‘ุฉูŒ ุฃูˆ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุฏููŠู†ูุ› ูˆูƒูŽุงู„ุณูู‘ุฎู’ุฑููŠูŽุฉู ุจูุงุณู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฃุณู’ู…ุงุฆูู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุฃูˆ ูˆูŽุนู’ุฏูู‡ู ุฃูˆ ูˆูŽุนููŠุฏูู‡ูุŒ ู…ูู…ูŽู‘ู† ู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ุนู„ูŠู‡ ู†ูุณู’ุจูŽุฉู ุฐูฐู„ูƒ ุฅู„ูŠู‡ ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ูุ›

    ูˆูƒูŽุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽูˆู’ ุฃู…ูŽุฑูŽู†ููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุจููƒูŽุฐุง ู„ู… ุฃูู’ุนูŽู„ู’ู‡ูโ€ุŒ ุฃูˆ [ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽูˆู’ ุตุงุฑูŽุชู ุงู„ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ููŠ ุฌูู‡ูŽุฉู ูƒูŽุฐุง ู…ุง ุตูŽู„ูŽู‘ูŠู’ุชู ุฅู„ูŠู‡ุงโ€ุŒ ุฃูˆ [ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽูˆู’ ุฃุนู’ุทุงู†ููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ู…ุง ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู‡ุงโ€ุŒ ู…ูุณู’ุชูŽุฎููู‹ู‘ุงุŒ ุฃูˆ ู…ูุธู‡ูุฑู‹ุง ู„ูู„ู’ุนูู†ุงุฏูุŒ ููŠ ุงู„ูƒูู„ูู‘ุ›
    ูˆูƒูŽุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽูˆู’ ุขุฎูŽุฐูŽู†ููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุจูุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ู…ูŽุนูŽ ู…ุง ุฃู†ุง ููŠู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุฑูŽุถู ุธูŽู„ูŽู…ูŽู†ููŠโ€ุ›
    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู] ู„ูููุนู’ู„ู: โ€œุญูŽุฏูŽุซูŽ ู‡ุฐุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุชูŽู‚ู’ุฏููŠุฑู ุงู„ู„ู‡ูโ€ุ›
    ุฃูˆ [ู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽูˆู’ ุดูŽู‡ูุฏูŽ ุนูู†ู’ุฏููŠ ุงู„ุฃู†ู’ุจููŠุงุกู ุฃูˆ ุงู„ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุฃูˆ ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ุจููƒูŽุฐุง ู…ุง ู‚ูŽุจูู„ู’ุชูู‡ูู…ู’โ€ุ›
    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ุง ุฃูุนูŽู„ู ูƒูŽุฐุง ูˆุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ุณูู†ูŽู‘ุฉู‹โ€ ุจูู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ุงุณู’ุชูู‡ู’ุฒุงุกูุ›
    ุฃูˆ [ู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽูˆู’ ูƒุงู†ูŽ ููู„ุงู†ูŒ ู†ูŽุจููŠู‹ู‘ุง ู…ุง ุขู…ูŽู†ู’ุชู ุจู‡โ€ุ›

    ุฃูˆ ุฃุนู’ุทุงู‡ู ุนุงู„ูู…ูŒ ููŽุชู’ูˆูŽู‰ ููŽู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œุฃูŽูŠู’ุดู ู‡ุฐุง ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนูโ€ ู…ูุฑููŠุฏู‹ุง ุงู„ุงุณู’ุชูุฎู’ูุงููŽ [ุจูุญููƒู’ู…ู ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนู]ุ›
    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œู„ูŽุนู’ู†ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ุนุงู„ูู…ูโ€ ู…ูุฑููŠุฏู‹ุง ุงู„ุงุณู’ุชูุบู’ุฑุงู‚ูŽ ุงู„ุดู‘ุงู…ูู„ูŽ [ู„ูุนูู„ูŽู…ุงุกู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ููŠูู‘ ุฃูˆ] ู„ูุฃุญูŽุฏู ุงู„ุฃู†ู’ุจููŠุงุกูุŒ
    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œุฃู†ุง ุจูŽุฑููŠุกูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูโ€ ุฃูˆ โ€œู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉูโ€ ุฃูˆ โ€œู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘โ€ ุฃูˆ โ€œู…ูู†ูŽ ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ูโ€ ุฃูˆ โ€œู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉูโ€ ุฃูˆ โ€œู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูโ€ุ›
    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู] ู„ูุญููƒู’ู…ู ุญููƒูู…ูŽ ุจูู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃุญู’ูƒุงู…ู ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉู: โ€œู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู‡ุฐุง ุงู„ุญููƒู’ู…ูโ€ ุฃูˆ โ€œู„ุง ุฃุนู’ุฑููู ุงู„ุญููƒู’ู…ูŽโ€ ู…ูุณู’ุชูŽู‡ู’ุฒูุฆู‹ุง ุจูุญููƒู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ูุ›
    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู] ูˆู‚ูŽุฏู’ ู…ูŽู„ูŽุฃูŽ ูˆูุนุงุกู‹: โ€œ๏ดฟูˆูŽูƒูŽุฃู’ุณู‹ุง ุฏูู‡ูŽุงู‚ู‹ุง๏ดพโ€ุŒ ุฃูˆ ุฃูู’ุฑูŽุบูŽ ุดูŽุฑุงุจู‹ุง: โ€œ๏ดฟููŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุณูŽุฑูŽุงุจู‹ุง๏ดพโ€ุŒ ุฃูˆ ุนูู†ู’ุฏูŽ ูˆูŽุฒู’ู†ู ุฃูˆ ูƒูŽูŠู’ู„ู: โ€œ๏ดฟูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู„ููˆู‡ูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽุฒูŽู†ููˆู‡ูู…ู’ ูŠูุฎู’ุณูุฑููˆู†ูŽ๏ดพโ€ุŒ ุฃูˆ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูุคู’ูŠูŽุฉู ุฌูŽู…ู’ุนู: โ€œ๏ดฟูˆูŽุญูŽุดูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽู…ู’ ู†ูุบูŽุงุฏูุฑู’ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง๏ดพโ€ุŒ ุจูู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ุงุณู’ุชูุฎู’ูุงูู ุฃูˆ ุงู„ุงุณู’ุชูู‡ู’ุฒุงุกู [ุจูู‡ูฐุฐูู‡ู ุงู„ุขูŠุงุชู] ููŠ ุงู„ูƒูู„ูู‘ุ› ูุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูฐู„ูƒ ุงู„ู‚ูŽุตู’ุฏู [ูˆู†ูŽุญู’ูˆูู‡ู] ููŽู„ุง ูŠูŽูƒู’ููุฑู ู„ูฐูƒูู†ู’ ู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุฎู ุฃุญู’ู…ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุญูŽุฌูŽุฑู ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู: โ€œู„ุง ุชูŽุจู’ุนูุฏู ุญูุฑู…ูŽุชูู‡ูโ€ุ›

    ูˆูƒูŽุฐุง ูŠูŽูƒู’ููุฑู ู…ูŽู†ู’ ุดูŽุชูŽู…ูŽ ู†ูŽุจููŠู‹ู‘ุง ุฃูˆ ู…ูŽู„ูŽูƒู‹ุง [ุจูููŽุชู’ุญู ุงู„ู„ู‘ุงู…ูุŒ ุฃูŠ ูˆุงุญูุฏู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู]ุ›

    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู]: โ€œุฃูƒููˆู†ู ู‚ูŽูˆู‘ุงุฏู‹ุง ุฅู†ู’ ุตูŽู„ูŽู‘ูŠู’ุชูโ€ุŒ ุฃูˆ [ู‚ุงู„ูŽ]: โ€œู…ุง ุฃุตูŽุจู’ุชู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ุฐู ุตูŽู„ูŽู‘ูŠู’ุชูโ€ุŒ ุฃูˆ [ู‚ุงู„ูŽ]: โ€œุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ู„ุง ุชูŽุตู’ู„ูุญู ู„ููŠโ€ุŒ ุจูู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ุงุณู’ุชูุฎู’ูุงูู ุจูู‡ุงุŒ ุฃูˆ ุงู„ุงุณู’ุชูู‡ู’ุฒุงุกูุŒ ุฃูˆ ุงุณู’ุชูุญู’ู„ุงู„ู ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ุงุŒ ุฃูˆ ุงู„ุชูŽู‘ุดุงุคูู…ู ุจูู‡ุงุ›

    ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู] ู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู: โ€œุฃู†ุง ุนูŽุฏูŽูˆูู‘ูƒูŽ ูˆุนูŽุฏููˆูู‘ ู†ูŽุจููŠูู‘ูƒูŽโ€ุŒ ุฃูˆ [ู‚ุงู„ูŽ] ู„ูุดูŽุฑููŠูู: โ€œุฃู†ุง ุนูŽุฏููˆูู‘ูƒูŽ ูˆุนูŽุฏููˆูู‘ ุฌูŽุฏูู‘ูƒูŽโ€ ู…ูุฑููŠุฏู‹ุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุ›
    ุฃูˆ [ุฃู†ู’] ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ [ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู] ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูู†ู’ ู†ูŽุญู’ูˆู ู‡ูฐุฐูู‡ู ุงู„ุฃู„ู’ูุงุธู ุงู„ุจูŽุดูุนูŽุฉู ุงู„ุดูŽู‘ู†ููŠุนูŽุฉูุ›

    ูˆู‚ูŽุฏู’ ุนูŽุฏูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุฎู ุฃุญู’ู…ูŽุฏู ุงุจู’ู†ู ุญูŽุฌูŽุฑู ูˆุงู„ู‚ุงุถููŠ ุนููŠุงุถูŒ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ูู…ุง ุงู„ู„ู‡ู ููŠ ูƒูุชุงุจูŽูŠู’ู‡ูู…ุง โ€œุงู„ุฅุนู’ู„ุงู…ูโ€ ูˆโ€ุงู„ุดูู‘ูุงโ€ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง [ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ููƒูŽููู‘ุฑุงุชู] ุŒ ููŽูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ุงู„ุงุทูู‘ู„ุงุนู ุนู„ูŠู‡ุŒ ููŽุฅู†ูŽู‘ ู…ูŽู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุนู’ุฑููู ุงู„ุดูŽู‘ุฑูŽู‘ ูŠูŽู‚ูŽุนู’ ููŠู‡.

    ู‚ุงุนูุฏูŽุฉูŒ ู„ูู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ูƒูŽุซููŠุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ูƒููู’ุฑู:

    ูˆุญุงุตูู„ู [ุฃูŠู’ ุญููƒู’ู…ู] ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุชู„ู’ูƒูŽ ุงู„ุนูุจุงุฑุงุชู ูŠูŽุฑู’ุฌูุนู ุฅู„ู‰ [ู‚ุงุนูุฏูŽุฉู] ุฃู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ ุนูŽู‚ู’ุฏู ุฃูˆ ููุนู’ู„ู ุฃูˆ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ูŠูŽุฏูู„ูู‘ ุนู„ู‰ ุงุณู’ุชูู‡ุงู†ูŽุฉู ุฃูˆ ุงุณู’ุชูุฎู’ูุงูู ุจูุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฃูˆ ูƒูุชูุจูู‡ูุŒ ุฃูˆ ุฑูุณูู„ูู‡ูุŒ ุฃูˆ ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุชูู‡ูุŒ ุฃูˆ ุดูŽุนุงุฆูุฑู ุฃูˆ ู…ูŽุนุงู„ูู…ู ุฏููŠู†ูู‡ูุŒ ุฃูˆ ุฃุญู’ูƒุงู…ูู‡ูุŒ ุฃูˆ ูˆูŽุนู’ุฏูู‡ูุŒ ุฃูˆ ูˆูŽุนููŠุฏูู‡ูุŒ ูƒููู’ุฑูŒ ูˆู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูŒุŒ ููŽู„ู’ูŠูŽุญู’ุฐูŽุฑู ุงู„ุฅู†ู’ุณุงู†ู ู…ูู†ู’ ุฐูฐู„ูƒ ุฌูŽู‡ู’ุฏูŽู‡ู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุจูŽุนู’ุถู ุฃุญู’ูƒุงู…ู ุงู„ู…ูุฑู’ุชูŽุฏูู‘

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽุชู’ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฑูุฏูŽู‘ุฉูŒ [ุฃูŠ ูƒูŽููŽุฑูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฃู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง]: ุงู„ุนูŽูˆู’ุฏู ููŽูˆู’ุฑู‹ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู: ุจูุงู„ู†ูู‘ุทู’ู‚ู ุจูุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆุงู„ุฅู‚ู’ู„ุงุนู ุนูŽู…ู‘ุง ูˆูŽู‚ูŽุนูŽุชู’ ุจู‡ ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉูุ› ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ [ุฃูŠู’ุถู‹ุง]: ุงู„ู†ูŽู‘ุฏูŽู…ู ุนู„ู‰ ู…ุง ุตูŽุฏูŽุฑูŽ ู…ู†ู‡ุŒ ูˆุงู„ุนูŽุฒู’ู…ู ุนู„ู‰ ุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุนููˆุฏูŽ ู„ูู…ูุซู’ู„ูู‡ูุŒ ูˆู‚ูŽุถุงุกู ู…ุง ูุงุชูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ูˆุงุฌูุจุงุชู ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนู ููŠ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู…ูุฏูŽู‘ุฉู [ูƒุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽูˆุงุชู ุงู„ู…ูŽูู’ุฑููˆุถูŽุฉู]ุ› ูุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุชูุจู’ [ุฃูŠ ูุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุฑู’ุฌูุนู’ ุนู† ูƒููู’ุฑูู‡ู ุจูุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู] ูˆูŽุฌูŽุจูŽุชู ุงุณู’ุชูุชุงุจูŽุชูู‡ู [ุฃูŠ ุฃู…ู’ุฑูู‡ู ุจูุงู„ุฑูู‘ุฌููˆุนู ุฅู„ู‰ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู ุจูุงู„ุดูŽู‘ู‡ุงุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู]ุŒ ูˆู„ุง ูŠูู‚ุจูŽู„ู ู…ู†ู‡ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู ุฃูˆ ุงู„ู‚ูŽุชู’ู„ู [ูŠูู†ูŽููู‘ุฐูู‡ู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฎูŽู„ููŠููŽุฉู ุจูุดูุฑููˆุทู ู…ูŽุฐู’ูƒููˆุฑูŽุฉู ููŠ ุงู„ู…ูุทูŽูˆูŽู‘ู„ุงุชู].

    ูˆ[ู…ูู…ู‘ุง ูŠูŽุชูŽุฑูŽุชูŽู‘ุจู ุนู„ู‰ ุฑูุฏูŽู‘ุฉู ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู:] [ุชูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุจูู‡ุง ุญูŽุณูŽู†ุงุชูู‡ู] ุŒ ูŠูŽุจู’ุทูู„ู ุจูู‡ุง ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู [ู„ู„ู†ูŽู‘ู‡ุงุฑู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุงุฑู’ุชูŽุฏูŽู‘ ููŠู‡]ุŒ ูˆ [ูŠูŽุจู’ุทูู„ู ุจูู‡ุง] ุชูŽูŠูŽู…ูู‘ู…ูู‡ูุŒ ูˆ[ูŠูŽุจู’ุทูู„ู ุจูู‡ุง] ู†ููƒุงุญูู‡ู [ุฃูŠ ุฒูŽูˆุงุฌูู‡ู] ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุฏูู‘ุฎููˆู„ูุŒ ูˆูƒูŽุฐุง ุจุนุฏูŽู‡ู ุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุนูุฏู’ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู ููŠ ุงู„ุนูุฏูŽู‘ุฉูุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽุตูุญูู‘ ุนูŽู‚ู’ุฏู ู†ููƒุงุญูู‡ู [ูˆู„ูŽูˆู’ ุนู„ู‰ ู…ูุฑู’ุชูŽุฏูŽู‘ุฉู ู…ูุซู’ู„ูู‡ู]ุŒ

    ูˆุชูŽุญู’ุฑูู…ู ุฐูŽุจููŠุญูŽุชูู‡ู [ูˆุชูŽูƒููˆู†ู ู†ูŽุฌูุณูŽุฉู‹]ุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽุฑูุซูุŒ ูˆู„ุง ูŠููˆุฑูŽุซูุŒ ูˆู„ุง ูŠูุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนู„ูŠู‡ [ูˆูŠูŽูƒู’ููุฑู ู…ูŽู†ู’ ูŠูุตูŽู„ูู‘ูŠ ุนู„ูŠู‡ ูˆู‡ูˆ ุนุงู„ูู…ูŒ ุจูุญุงู„ูู‡ู]ุŒ ูˆู„ุง ูŠูุบูŽุณูŽู‘ู„ู [ุฃูŠ ู„ุง ูŠูŽุฌูุจู]ุŒ ูˆู„ุง ูŠููƒูŽููŽู‘ู†ู [ุฃูŠ ู„ุง ูŠูŽุฌูุจู]ุŒ ูˆู„ุง ูŠูุฏู’ููŽู†ู [ุฃูŠ ู„ุง ูŠูŽุฌูุจู]ุŒ [ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุฏูŽูู’ู†ูู‡ู ููŠ ู…ูŽุฏุงููู†ู ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ]ุŒ ูˆู…ุงู„ูู‡ู [ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ู] ููŽูŠู’ุกูŒ [ุฃูŠ ู„ูู…ูŽุตุงู„ูุญู ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ]ุŒ [ูˆูŠูุฎูŽู„ูŽู‘ุฏู ุจูู„ุง ู†ูู‡ุงูŠูŽุฉู ููŠ ุงู„ุนูŽุฐุงุจู ุฅู†ู’ ู…ุงุชูŽ ุนู„ู‰ ุฑูุฏูŽู‘ุชูู‡ูุŒ ูƒูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ู…ูู…ูŽู‘ู†ู’ ูŠูŽู…ููˆุชู ุนู„ู‰ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู].

    Ketiga, Murtad karena ucapan (Murtad Qouliyah)

    Ini sangat banyak sehingga tdk terhitung jumlahnya, Diantaranya:

    โ€“ Memanggil Seorang Muslim dengan kata-kata : โ€œHai orang kafir !!, โ€œHai orang yahudi !! , โ€œHai orang nasrani !! Hai orang tak beragama !! dengan tujuan tersebut.
    โ€“ Menghina salah satu nama dari nama2 Alloh.
    โ€“ Menghina janji dan ancaman Alloh atau Apa yang di-hubungkan kepada-Nya.
    โ€“ Berkata : โ€œAndaikan Alloh memerintahkan-ku, maka aku tidak akan mengerjakan-Nya.
    โ€“ Berkata : โ€œJika arah kiblat dipindah kearah yg lain, maka Aku tidak mau shalat.
    โ€“ Berkata : โ€œSeandainya aku diberi syurga oleh Alloh, maka saya tak mau memasukinya,Semua diucapkan dengan tujuan merendahkan (ู…ุณุชุฎูุง)

    โ€“ Menampakan kedurhakaan secara keseluruhan. Seperti :

    Berkata : โ€œJika Alloh menyiksa-ku karena meninggalkan sholat , padahal aku sedang sakit berarti Alloh menzholimi -ku.
    Berkata ketika ada sesuatu peristiwa : โ€œIni bukan takdir Allohโ€.
    Berkata : โ€œAndai yg menjadi saksi itu para nabi, para malaikat, atau seluruh muslimin maka aku tak kan mau menerima mereka menjadi saksi.
    Berkata : โ€œAku tidak mau melakukan ini, sekalipun itu sunah, (kata-kata menghina)
    Berkata : โ€ Seandainya si Fulan menjadi nabi, saya tak mau percaya kepada-nya,
    Berkata : โ€ Syareat yg mana ini?โ€ .(Dia berkata : ketika ada seorang ulama memberikan Fatwa-Hukum dgn tujuan meremehkan.)

    Berkata : โ€œLaknat Alloh atas semua orang โ€˜Alim. dgn ucapan ini berarti mengkaitkan keseluruhan salah satu nabi.
    Berkata : โ€ Saya melepaskan diri dari Allah ! โ€œSaya bebas dari malaikat !, bebas dari nabi !, atau bebas dari syariat ! dan dari islam.
    Berkata : โ€œIni bukan hukum syareatโ€ . (Berkata ketika ada satu hukum syaraโ€™)
    Berkata : โ€œSaya tidak kenali hukum syara iniโ€™, dgn maksud menghina hukum Allah SWT.

    โ€“ Berkata Sambil mengejek saat mengisi benjana dengan Ayat โ€œ(ูˆูƒุฃุณุง ุฏู‡ุงู‚ุง)โ€ atau โ€œ(ููƒุงู†ุช ุดุฑุงุจุง) โ€ sambil menuang minuman, dgn tujuan menghina. Atau membaca Ayat (ูˆุงุฐุง ูƒู„ูˆู‡ู… ุงูˆ ูˆุฒู†ูˆู‡ู… ูŠุฎุณุฑูˆู†) ketika berada disisi timbangan atau takaran, (tujuan menghina). Atau Membaca Ayat (ูˆุญุดุฑู†ุงู‡ู… ูู„ู… ู†ุบุงุฏุฑ ู…ู†ู‡ู… ุงุญุฏุง) Ketika ada rombongan lewat dgn tujuan menghina atau meremehkan Alqurโ€™an.

    โ€“ Membaca Ayat Alqurโ€™an disebuah tempat dgn maksud menghina. Jika tidak, maka tidaklah kufur.

    Namun menurut Syeikh Ahmad bin Hajar hal itu mendekati keharaman, demikian pula memaki para nabi dan malaikat,

    โ€“ Dan berkata ,jika saya sholat maka saya akan menjadi penjual pelacur,
    โ€“ Dan berkata sejak saya sholat tidak mendapat kebaikan.
    โ€“ Dan berkata sholat itu sama sekali tidak pantas bagiku, dgn tujuan menghina sholat,meremehkan atau menganggap halalnya meninggalkan sholat atau merasa mendapat situasi buruk sebab sholat.
    โ€“ Dan berkata kepada syarif (keturunan Nabi muhammad SAW), aku ini musuhmu,dan musuh kakekmu, dia bermaksud menghina nabi SAW.

    โ€“ atau berkata selain dgn kata2 tersebut(mulai awal )tapi sama buruknya dgn kata2 diatas juga menjadikannya murtad,

    Imam Syeikh Ahmad bin Hajar dalam kitab Al-Iโ€™lamu Biqowatihil islam, menghitung dan menerangkan banyak masalah murtad dan imam Qodi iyad juga demikian dalam kitab Assyifa, seyogyanya kita melihat dua kitab itu, siapa yang tak mengerti keburukan, tentu jatuh kedalamnya.

    Kaidah untuk Memahami Kekufuran

    Kesimpulannya bahwa setiap keyakinan, perbuatan atau perkataan yang menunjukkan penghinaan, meremehkan pada Allah, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, malaikatNya, syiar atau tanda agamaNya, hukum-hukumNya, janji Allah, ancaman Allah, maka itu kufur dan dosa. Maka hendaknya manusia berhati-hati akan hal itu.

    Pasal: Akibat Hukum bagi Orang Murtad

    Wajib bagi yang murtad yakni kufur setelah muslim untuk kembali segera pada Islam: dengan ucapan dan dua kalimat syahadat dan melepaskan diri dari penyebab murtad. Wajib baginya menyesali atas timbulnya hal itu dan berniat untuk tidak mengulangi hal serupa dan mengqadha kewajiban syariat pada masa itu seperti shalat lima waktu. Apabila tidak bertaubat yakni apabila tidak berbalik dari kufurnya dengan dua kalimat syahadat maka wajib disuruh bertaubat yakni disuruh kembali ke Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Dia tidak diterima kecuali Islam atau dibunuh yang dilakukan oleh Khalifah dengan syarat-syarat yang disebut dalam kitab besar.

    Akibat dari murtadnya seseorang adalah hilang semua kebaikannya, batal puasanya pada siang hari dia murtad dan batal tayammumnya. Batal nikahnya sebelum dukhul (hubungan intim) begitu juga setelah dukhul apabila tidak kembali ke Islam dalam masa iddah. Tidak sah akad nikahnya walaupun pada perempuan murtad yang lain.

    Haram sembelihannya dan hewannya najis. Tidak mewarisi, tidak menerima warisan, tidak disholati. Kufur orang yang menyolatinya kalau dia tahu keadaannya. Tidak dimandikan yakni diwajib dimandikan. Tidak wajib dikafani. Tidak wajib dikubur jenazahnya. Haram menguburnya di pemakanan muslim. Hartanya setelah matinya menjadi harta faiโ€™ untuk kemaslahatan umat Islam. Di akhirat dia disiksa selamanya apabila mati dalam keadaan murtad seperti yang lain yang mati dalam keadaan kafir.[alkhoirot.com]

    Bab Fiqih

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู ุฃุฏุงุกู ุฌูŽู…ููŠุนู ู…ุง ุฃูˆู’ุฌูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุฃู†ู’ ูŠูุคูŽุฏูู‘ูŠูŽู‡ู ุนู„ู‰ ู…ุง ุฃู…ูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ูุŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุชู’ูŠุงู†ู ุจูุฃุฑู’ูƒุงู†ูู‡ู ูˆุดูุฑููˆุทูู‡ูุŒ ูˆุชูŽุฌูŽู†ูู‘ุจู ู…ูุจู’ุทูู„ุงุชูู‡ูุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุฃู…ู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุขู‡ู ุชุงุฑููƒู‹ุง ู„ูุดูŽูŠู’ุกู ู…ู†ู‡ุง ุฃูˆ ูŠูŽุฃุชููŠ ุจูู‡ุง ุนู„ู‰ ุบูŠุฑู ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ุง [ุจุฃุฏุงุฆูู‡ุง ุนู„ู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ุง]ุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ู‚ูŽู‡ู’ุฑูู‡ู ุนู„ู‰ ุฐูฐู„ูƒ ุฅู†ู’ ู‚ูŽุฏูุฑูŽุŒ ูˆุฅู„ู‘ุง ููŽูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฅู†ู’ูƒุงุฑู ุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ุฅู†ู’ ุนูŽุฌูŽุฒูŽ ุนู† ุงู„ู‚ูŽู‡ู’ุฑู ูˆุงู„ุฃู…ู’ุฑูุŒ ูˆุฐูฐู„ูƒ ุฃุถู’ุนูŽูู ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ูุŒ ุฃูŠ ุฃู‚ูŽู„ูู‘ ู…ุง ูŠูŽู„ู’ุฒูŽู…ู ุงู„ุฅู†ู’ุณุงู†ูŽ ุนู†ุฏ ุงู„ุนูŽุฌู’ุฒูุ› ูˆูŠูŽุฌูุจู ุชูŽุฑู’ูƒู ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ุงุชูุŒ ูˆู†ูŽู‡ู’ูŠู ู…ูุฑู’ุชูŽูƒูุจูู‡ุง ูˆู…ูŽู†ู’ุนูู‡ู ู‚ูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ู…ู†ู‡ุง ุฅู†ู’ ู‚ูŽุฏูุฑูŽ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆุฅู„ู‘ุง ูˆูŽุฌูŽุจูŽ ุนู„ูŠู‡ ุฃู†ู’ ูŠูู†ู’ูƒูุฑูŽ ุฐูฐู„ูƒ ุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ูˆู…ููุงุฑูŽู‚ูŽุฉู ู…ูŽูˆู’ุถูุนู ุงู„ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูุ› ูˆุงู„ุญูŽุฑุงู…ู ู…ุง ุชูŽูˆูŽุนูŽู‘ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูุฑู’ุชูŽูƒูุจูŽู‡ู ุจูุงู„ุนูู‚ุงุจู ูˆูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุชุงุฑููƒูŽู‡ู ุจูุงู„ุซูŽู‘ูˆุงุจู [ูˆุนูŽูƒู’ุณูู‡ู ุงู„ูˆุงุฌูุจู].

    ุจุงุจู ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู ูˆุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุฃูˆู’ู‚ุงุชู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽูˆุงุชู ุงู„ู…ูŽูู’ุฑููˆุถูŽุฉู

    ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ูˆุงุฌูุจู ุฎูŽู…ู’ุณู ุตูŽู„ูŽูˆุงุชู ููŠ ุงู„ูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูŽุฉู: ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู: ูˆูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ุฅุฐุง ุฒุงู„ูŽุชู ุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณู [ุฃูŠ ู…ุงู„ูŽุชู’ ุนูŽู†ู’ ูˆูŽุณูŽุทู ุงู„ุณูŽู‘ู…ุงุกู ุฅู„ู‰ ุฌูู‡ูŽุฉู ุงู„ุบูŽุฑู’ุจู]ุŒ ุฅู„ู‰ ู…ูŽุตููŠุฑู ุธูู„ูู‘ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุธูู„ูู‘ ุงู„ุงุณู’ุชููˆุงุกูุ› ูˆุงู„ุนูŽุตู’ุฑู: ูˆูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู [ุงู†ู’ุชูู‡ุงุกู] ูˆูŽู‚ู’ุชู ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ุฅู„ู‰ ู…ูŽุบููŠุจู ุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณูุ› ูˆุงู„ู…ูŽุบู’ุฑูุจู: ูˆูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ู…ูŽุบููŠุจู ุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณูุŒ ุฅู„ู‰ ู…ูŽุบููŠุจู ุงู„ุดูŽู‘ููŽู‚ู ุงู„ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฑูุ›

    ูˆุงู„ุนูุดุงุกู: ูˆูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู [ุงู†ู’ุชูู‡ุงุกู] ูˆูŽู‚ู’ุชู ุงู„ู…ูŽุบู’ุฑูุจูุŒ ุฅู„ู‰ ุทูู„ููˆุนู ุงู„ููŽุฌู’ุฑู ุงู„ุตู‘ุงุฏูู‚ูุ›

    ูˆุงู„ุตูู‘ุจู’ุญู: ูˆูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู [ุงู†ู’ุชูู‡ุงุกู] ูˆูŽู‚ู’ุชู ุงู„ุนูุดุงุกู ุฅู„ู‰ ุทูู„ููˆุนู ุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณู.

    ููŽุชูŽุฌูุจู ู‡ูฐุฐูู‡ู ุงู„ููุฑููˆุถู ููŠ ุฃูŽูˆู’ู‚ุงุชูู‡ุง ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ูุŒ ุจุงู„ูุบูุŒ ุนุงู‚ูู„ูุŒ ุทุงู‡ูุฑูุ› ููŽูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุชูŽู‚ู’ุฏููŠู…ูู‡ุง ุนู„ู‰ ูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ูˆุชูŽุฃู’ุฎููŠุฑูู‡ุง ุนู†ู‡ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูุฐู’ุฑูุ› ููŽุฅู†ู’ ุทูŽุฑูŽุฃูŽ ู…ุงู†ูุนูŒ (ูƒูŽุญูŽูŠู’ุถู) ุจูŽุนู’ุฏูŽู…ุง ู…ูŽุถูŽู‰ ู…ูู†ู’ [ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู] ูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ุง ู…ุง ูŠูŽุณูŽุนูู‡ุง [ุจูุฏููˆู†ู ุทูู‡ู’ุฑูู‡ุง ู„ูู…ูŽู†ู’ ู‡ูˆ ุณูŽู„ููŠู…ูŒ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุญู’ูˆู ุณูŽู„ูŽุณู]ุŒ ูˆ[ู…ุง ูŠูŽุณูŽุนูู‡ุง ู…ูŽุนูŽ] ุทูู‡ู’ุฑูู‡ุง ู„ูู†ูŽุญู’ูˆู [ู…ูŽุฑููŠุถู] ุณูŽู„ูŽุณูุŒ ู„ูŽุฒูู…ูŽู‡ู ู‚ูŽุถุงุคูู‡ุงุ› ุฃูˆ ุฒุงู„ูŽ ุงู„ู…ุงู†ูุนู ูˆู‚ูŽุฏู’ ุจูŽู‚ููŠูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ูˆูŽู‚ู’ุชู ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุชูŽูƒู’ุจููŠุฑูŽุฉู ู„ูŽุฒูู…ูŽุชู’ู‡ูุŒ ูˆูƒูŽุฐุง [ูŠูŽู„ู’ุฒูŽู…ูู‡ู] ู…ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ุง ุฅู†ู’ ุฌูู…ู’ุนูุชู’ ู…ูŽุนูŽู‡ุงุŒ [ุฅุฐุง ุงู…ู’ุชูŽุฏูŽู‘ุชู ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ุงู†ูุนู ู‚ูŽุฏู’ุฑู‹ุง ูŠูŽุณูŽุนู ุฐูฐู„ูƒ].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูˆูู„ุงุฉู ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู

    ูŠูŽุฌูุจู [ูˆูุฌููˆุจู‹ุง ูƒููุงุฆููŠู‹ู‘ุง] ุนู„ู‰ ูˆูŽู„ููŠูู‘ ุงู„ุตูŽู‘ุจููŠูู‘ ูˆุงู„ุตูŽู‘ุจููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ู…ูู…ูŽูŠูู‘ุฒูŽูŠู’ู†ู ุฃู†ู’ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑูŽู‡ู…ุง ุจูุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ูˆูŠูุนูŽู„ูู‘ู…ูŽู‡ูู…ุง ุฃูŽุญู’ูƒุงู…ูŽู‡ุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุณูŽุจู’ุนู ุณูู†ููŠู†ูŽ [ู‚ูŽู…ูŽุฑููŠูŽู‘ุฉู] ุŒ ูˆูŠูŽุถู’ุฑูุจูŽู‡ูู…ุง ุนู„ู‰ ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุนูŽุดู’ุฑู ุณูู†ููŠู†ูŽุŒ ูƒูŽุตูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽุทุงู‚ุงู‡ูุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุชูŽุนู’ู„ููŠู…ูู‡ูู…ุง [ู…ูู†ูŽ ุงู„ุนูŽู‚ุงุฆูุฏู ูˆุงู„ุฃูŽุญู’ูƒุงู…ู] ู…ุง [ูŠูู…ู’ูƒูู†ูู‡ูู…ุง ููŽู‡ู’ู…ูู‡ูุŒ ูˆุชูŽุนู’ู„ููŠู…ูู‡ูู…ุง ู…ุง] ูŠูŽุฌูุจู [ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุจูู„ููˆุบู] ุนู„ูŠู‡ู…ุง ูˆู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู [ูƒูŽุฐูฐู„ูƒูŽุŒ ูˆูƒูŽุฐุง ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนููŠูŽู‘ุฉู ู†ูŽุญู’ูˆู ุงู„ุณูู‘ูˆุงูƒู].

    ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูˆูู„ุงุฉู ุงู„ุฃู…ู’ุฑู [ุฃูŠู ุงู„ุฎูŽู„ููŠููŽุฉู ูˆู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู†ููˆุจู ุนู†ู‡] ู‚ูŽุชู’ู„ู ุชุงุฑููƒู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู [ูˆู„ูŽูˆู’ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ูˆุงุญูุฏู‹ุง] ูƒูŽุณูŽู„ู‹ุง [ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅู†ู’ุฐุงุฑูู‡ู ุจูุดูุฑููˆุทูู‡ู] ุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุชูุจู’ [ุฃูŠ ุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูุตูŽู„ูู‘] ุŒ ูˆุญููƒู’ู…ูู‡ู [ุฃู†ูŽู‘ู‡ู] ู…ูุณู’ู„ูู…ูŒ.

    ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽู…ู’ุฑู ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู [ุฃูŠ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽุชูู‡ู ูˆุฃูŽู‡ู’ู„ู ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ูˆู…ูŽุญุงุฑูู…ูู‡ู] ุจูู‡ุง [ุฃูŠ ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู]ุŒ ูˆู‚ู‡ุฑูู‡ูู…ู’ [ุนู„ู‰ ููุนู’ู„ูู‡ุง ุฅู†ู’ ู‚ูŽุตูŽู‘ุฑููˆุง]ุŒ ูˆุชูŽุนู’ู„ููŠู…ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ูŽู‡ุง ูˆุดูุฑููˆุทูŽู‡ุง ูˆู…ูุจู’ุทูู„ุงุชูู‡ุงุŒ ูˆ[ูƒุฐูฐู„ูƒูŽ] ูƒูู„ูู‘ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฏูุฑูŽ ุนู„ูŠู‡ ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’.

    Yang Wajib bagi Muslim Mukalaf

    Wajib bagi muslim mukalaf (baligh dan berakal) untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan harus melaksanakannya sesuai perintahNya seperti melakukan sesuai rukun dan syaratnya dan menjauhi perkara yang membatalkan. Dan wajib memerintahkan orang tidak melaksanakan kewajiban atau mengamalkan tapi tidak sesuai caranya. Wajib memaksakan apabila mampu kalau tidak maka wajib mengingkari dengan hati apabila tidak mampu memaksa. Ini selemah-lemahnya iman yakni paling sedikitnya kewajiban manusia apabila lemah. Wajib meninggalkan keharaman dan melarang pelaku haram secara paksa apabila mampu. Apabila tidak mampu maka wajib ingkar dengan hati dan menjauh dari tempat maksiat. Perkara haram adalah perkara yang pelakunya diancam oleh Allah dengan siksa dan menjanjikan pahala bagi yang meninggalkannya (kebalikan dari wajib).

    Bab Bersuci dan Shalat

    Fasal Waktu Shalat Wajib

    Termasuk kewajiban adalah lima shalat sehari semalam.

    Zhuhur: waktunya apabila matahari condong yakni condong dari tengah langit ke arah barat sampai bayangan benda sama dengan bendanya selain bayangan istiwa (tengah).
    Ashar: waktunya setelah habisnya zhuhur sampai terbenamnya matahari.

    Maghrib: waktunya dari setelah terbenamnya matahari sampai tenggelamnya syafaq marah.Isyaโ€™: waktunya dari setelah habisnya waktu maghrib sampai terbitnya fajar shodiq. Subuh: waktunya dari setelah habisnya waktu isyaโ€™ sampai terbitnya matahari.

    Kelima shalat fardhu ini wajib dilakukan pada waktunya oleh setiap muslim yang baligh, berakal sehat, dan suci. Haram mendahulukan shalat dari waktunya atau mengakhirkan dari waktunya tanpa udzur. Apabila muncul perkara baru yang mencegah seperti haid setelah lewat dari awal waktu yang cukup tanpa bersuci bagi yang selamat dari seumpama beser dan perkara yang cukup bagi seumpama sakit beser, maka wajib mengqadhanya. Atau hilang pencegahnya sementara waktunya masih tersisa untuk takbirotul ihram maka shalat wajib dilakukan. Begitu juga wajib shalat yang sebelumnya apabila dijamak bersamanya apabila selamat dari pencega itu memanjang sampai waktu yang cukup untuk itu.

    Fasal: Yang Wajib bagi Orang Tua dan Penguasa

    Wajib kifayah bagi wali (orang tua atau yang lain) anak kecil yang tamyiz untuk memerintahkan mereka shalat dan mengajarkan hukum-hukumnya setelah tujuh tahun (qomariyah / hijriyah). Dan memukul mereka apabila meninggalkan shalat setelah usia 10 tahun sebagaimana puasa apabila mampu. Wajib bagi wali untuk mengajarkan anak-anak tentang akidah dan hukum menurut kemampuan si anak dan mengajarkan mereka apa yang wajib setelah baligh dan perkara yang haram dan sunnahnya perkara seperti siwak.

    Wajib bagi penguasa yakni Khalifah dan orang yang di bawahnya membunuh orang yang tidak shalat walaupun satu shalat fardhu karena malas setelah diperingati dengan syarat-syaratnya apabila tidak bertaubat (tetap tidak shalat). Hukumnya, dia muslim.

    Wajib bagi muslim menyuruh keluarganya yakni istri, anak dan mahramnya untuk shalat dan memaksa mereka melakukannya apabila mereka melanggar. Wajib mengajarkan rukun-rukun shalat, syarat-syarat dan yang membatalkan shalat. Begitu juga setiap orang yang mampu dari yang lain. [alkhoirot.com]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ููุฑููˆุถู ุงู„ูˆูุถููˆุกู

    ูˆู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุงู„ูˆูุถููˆุกูุŒ ูˆููุฑููˆุถูู‡ู ุณูุชูŽู‘ุฉูŒ: ุงู„ุฃูˆูŽู‘ู„ู: ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู ู„ูู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุจูุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจูุŒ ุฃูˆ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ูŠู‘ุงุชู ุงู„ู…ูุฌู’ุฒูุฆูŽุฉูุŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ูˆูŽุฌู’ู‡ูุ› ุงู„ุซู‘ุงู†ูŠ: ุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนูู‡ูุŒ ู…ูู†ู’ ู…ูŽู†ุงุจูุชู ุดูŽุนู’ุฑู ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ุฅู„ู‰ ุงู„ุฐูŽู‘ู‚ูŽู†ูุŒ ูˆู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูุฐูู†ู ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃูุฐูู†ูุŒ ุดูŽุนูŽุฑู‹ุง ูˆุจูŽุดูŽุฑู‹ุงุŒ ุฅู„ู‘ุง ุจุงุทูู†ูŽ ู„ูุญู’ูŠูŽุฉู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ูˆุนุงุฑูุถูŽูŠู’ู‡ู ุฅุฐุง ูƒูŽุซููู’ู†ูŽุ› ุงู„ุซู‘ุงู„ูุซู: ุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู…ูุฑู’ููŽู‚ูŽูŠู’ู†ู ูˆู…ุง ุนู„ูŠู‡ู…ุง [ูƒูŽุดูŽุนู’ุฑู ุงู„ุฐูู‘ุฑุงุนู]ุ› ุงู„ุฑุงุจูุนู: ู…ูŽุณู’ุญู ุงู„ุฑู‘ุฃู’ุณู ุฃูˆ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูุŒ ูˆู„ูŽูˆู’ ุดูŽุนู’ุฑูŽุฉู‹ ููŠ ุญูŽุฏูู‘ู‡ูุ› ุงู„ุฎุงู…ูุณู: ุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ุฑูู‘ุฌู’ู„ูŽูŠู’ู†ู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ูƒูŽุนู’ุจูŽูŠู’ู†ูุŒ ุฃูˆ ู…ูŽุณู’ุญู ุงู„ุฎูููู‘ ุฅุฐุง ูƒูŽู…ูŽู„ูŽุชู’ ุดูุฑููˆุทูู‡ูุ›
    ุงู„ุณู‘ุงุฏูุณู: ุงู„ุชูŽู‘ุฑู’ุชููŠุจู ู‡ูฐูƒุฐุง.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ู†ูŽูˆุงู‚ูุถู ุงู„ูˆูุถููˆุกู

    ูˆูŠูŽู†ู’ู‚ูุถู ุงู„ูˆูุถููˆุกูŽ: ู…ุง ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจููŠู„ูŽูŠู’ู†ู ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู…ูŽู†ููŠูŽู‘ุ› ูˆู…ูŽุณูู‘ ู‚ูุจูู„ู ุงู„ุขุฏูŽู…ููŠูู‘ ุฃูˆ ุญูŽู„ู’ู‚ูŽุฉู ุฏูุจูุฑูู‡ู ุจูุจูŽุทู’ู†ู ุงู„ูƒูŽููู‘ ุจูู„ุง ุญุงุฆูู„ูุ› ูˆู„ูŽู…ุณู [ุงู„ุฐูŽู‘ูƒูŽุฑู] ุจูŽุดูŽุฑูŽุฉูŽ [ุงู„ุฃูู†ู’ุซูŽู‰] ุงู„ุฃุฌู’ู†ูŽุจููŠูŽู‘ุฉู [ูˆู„ูˆ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽุฉู‹] ู…ูŽุนูŽ ูƒูุจูŽุฑู [ุฃูˆ ุงู„ุนูŽูƒู’ุณูุŒ ููŽูŠูŽู†ู’ุชูŽู‚ูุถู ูˆูุถููˆุกู ุงู„ู„ู‘ุงู…ูุณู ูˆุงู„ู…ูŽู„ู’ู…ููˆุณู ุฅุฐุง ุงุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุฌูู†ู’ุณูู‡ูู…ุง ูˆูƒุงู†ูŽ ูƒูู„ูŒู‘ ู…ู†ู‡ู…ุง ูŠูุดุชูŽู‡ูŽู‰ ูˆู„ู… ูŠูŽูƒููˆู†ุง ู…ูŽุญู’ุฑูŽู…ูŽูŠู’ู†ู]ุ› ูˆุฒูŽูˆุงู„ู ุงู„ุนูŽู‚ู’ู„ู ุฅู„ู‘ุง ู†ูŽูˆู’ู…ูŽ ู‚ุงุนูุฏู ู…ูู…ูŽูƒูู‘ู†ู ู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูŽุชูŽู‡ู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุนูŽู‚ูุจูŽ ู…ุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจููŠู„ูŽูŠู’ู†ู

    ูŠูŽุฌูุจู ุงู„ุงุณู’ุชูู†ู’ุฌุงุกู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุฑูŽุทู’ุจู ุฎุงุฑูุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจููŠู„ูŽูŠู’ู†ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู…ูŽู†ููŠูู‘: [ุจูุงู„ุบูŽุณู’ู„ู] ุจูุงู„ู…ุงุกู ุฅู„ู‰ ุฃู†ู’ ูŠูŽุทู’ู‡ูุฑูŽ ุงู„ู…ูŽุญูŽู„ูู‘ุ› ุฃูˆ [ุจุฃู†ู’] ูŠูŽู…ู’ุณูŽุญูŽู‡ู ุซูŽู„ุงุซูŽ ู…ูŽุณูŽุญุงุชู ุฃูˆ ุฃูƒู’ุซูŽุฑูŽุŒ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูŽู‰ ุงู„ู…ูŽุญูŽู„ูู‘ุŒ ูˆุฅู†ู’ ุจูŽู‚ููŠูŽ ุงู„ุฃุซูŽุฑูุŒ ุจูู‚ุงู„ูุนูุŒ ุทุงู‡ูุฑูุŒ ุฌุงู…ูุฏู [ุฃูŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ุงุฆุนู ูˆู„ุง ุฑูŽุทู’ุจู ูˆู„ุง ู…ูŽุทู’ุญููˆู†ู]ุŒ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูุญู’ุชูŽุฑูŽู…ู [ูƒูŽุงู„ุฎูุจู’ุฒู] ุŒ ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู†ู’ุชูู‚ุงู„ูุŒ ูˆู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฌูŽูุงูู [ูˆุฅู„ู‘ุง ูˆูŽุฌูŽุจูŽ ุงู„ู…ุงุกู].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠ ู…ุง ูŠููˆุฌูุจู ุงู„ุบูุณู„ูŽ ูˆูุฑูˆุถูู‡ู

    ูˆู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู: ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู ุนูŽู†ู ุงู„ุญูŽุฏูŽุซู ุงู„ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑูุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุบูุณู’ู„ู [ูˆูŠูŽุชูŽูŠูŽู…ูŽู‘ู…ู ุฅู†ู’ ุนูŽุฌูŽุฒูŽ ุนู†ู‡]ุŒ ูˆุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠููˆุฌูุจูู‡ู ุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉู ุฃูŽุดู’ูŠุงุกูŽ: ุฎูุฑููˆุฌู ุงู„ู…ูŽู†ููŠูู‘ ูˆุงู„ุฌูู…ุงุนู ูˆุงู„ุญูŽูŠู’ุถู ูˆุงู„ู†ูู‘ูุงุณู ูˆุงู„ูˆูู„ุงุฏูŽุฉู

    ูˆููุฑููˆุถู ุงู„ุบูุณู’ู„ู ุงุซู’ู†ุงู†ู: ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุฑูŽูู’ุนู ุงู„ุญูŽุฏูŽุซู ุงู„ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุฃูˆ ู†ูŽุญู’ูˆูู‡ุงุŒ ูˆุชูŽุนู’ู…ููŠู…ู ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ุจูŽุฏูŽู†ู ุจูŽุดูŽุฑู‹ุง ูˆุดูŽุนูŽุฑู‹ุง ูˆุฅู†ู’ ูƒูŽุซูููŽ [ุจูุงู„ู…ุงุกู].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู ูˆุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุชูŽู‘ูŠูŽู…ูู‘ู…ู

    ุดูŽุฑู’ุทู ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู: ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ูˆุงู„ุชูŽู‘ู…ู’ูŠููŠุฒูุŒ ูˆุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ู…ุงู†ูุนู ู…ูู†ู’ ูˆูุตููˆู„ู ุงู„ู…ุงุกู ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ูŽุบู’ุณููˆู„ูุŒ ูˆุงู„ุณูŽู‘ูŠูŽู„ุงู†ูุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุงู„ู…ุงุกู ู…ูุทูŽู‡ูู‘ุฑู‹ุงุŒ ุจุฃู†ู’: ู„ุง ูŠูุณู’ู„ูŽุจูŽ ุงุณู’ู…ูŽู‡ู ุจูู…ูุฎุงู„ูŽุทูŽุฉู ุทุงู‡ูุฑู ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ู†ููŠ ุงู„ู…ุงุกู ุนู†ู‡ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑูŽ ุจูู†ูŽุฌูุณู ูˆู„ูˆ ุชูŽุบูŽูŠูู‘ุฑู‹ุง ูŠูŽุณููŠุฑู‹ุงุŒ ูˆุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ุงู„ู…ุงุกู ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู‚ูู„ูŽู‘ุชูŽูŠู’ู†ู ุฒููŠุฏูŽ [ุดูŽุฑู’ุทุงู†ู ุขุฎูŽุฑุงู†ู ู„ููŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูุทูŽู‡ูู‘ุฑู‹ุง]: ุจูุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูู„ุงู‚ููŠูŽู‡ู ู†ูŽุฌูุณูŒ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุนู’ูููˆูู‘ ุนู†ู‡ุŒ ูˆ[ุฃู†ู’] ู„ุง [ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ] ุงุณู’ุชูุนู’ู…ูู„ูŽ ููŠ ุฑูŽูู’ุนู ุญูŽุฏูŽุซู ุฃูˆ ุฅุฒุงู„ูŽุฉู ู†ูŽุฌูŽุณู. ูˆู…ูŽู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุฌูุฏู ุงู„ู…ุงุกูŽ ุฃูˆ ูƒุงู†ูŽ ูŠูŽุถุฑูู‘ู‡ู ุงู„ู…ุงุกู ุชูŽูŠูŽู…ูŽู‘ู…ูŽุŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ: ุฏูุฎููˆู„ู ุงู„ูˆูŽู‚ู’ุชูุŒ ูˆุฒูŽูˆุงู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู [ุงู„ูŽู‘ุชูŠ ู„ุง ูŠูุนููŽู‰ ุนู†ู‡ุง]ุŒ ูˆู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ุงู„ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูุŒ [ูˆูŠูŽูƒููˆู†ู] ุจูุชูุฑุงุจู [ุฃูˆ ุฑูŽู…ู’ู„ู] ุฎุงู„ูุตู ุทูŽู‡ููˆุฑู ู„ู‡ ุบูุจุงุฑูŒุŒ ููŠ ุงู„ูˆูŽุฌู’ู‡ู ูˆุงู„ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ูุŒ ูŠูุฑูŽุชูู‘ุจูู‡ูู…ุง ุจูุถูŽุฑู’ุจูŽุชูŽูŠู’ู†ู [ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูŽู‚ูŽู„ูู‘]ุŒ ุจูู†ููŠูŽู‘ุฉู ุงุณู’ุชูุจุงุญูŽุฉู ููŽุฑู’ุถู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ [ูˆุชูŽูƒููˆู†ู ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู] ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ู„ู ูˆู…ูŽุณู’ุญู ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ุงู„ูˆูŽุฌู’ู‡ู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูุงู„ุญูŽุฏูŽุซู ุงู„ุฃูŽุตู’ุบูŽุฑู ูˆุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู

    ูˆู…ูŽู†ู ุงู†ู’ุชูŽู‚ูŽุถูŽ ูˆูุถููˆุคูู‡ู ุญูŽุฑูู…ูŽ ุนู„ูŠู‡: ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ ูˆุงู„ุทูŽู‘ูˆุงููุŒ ูˆุญูŽู…ู’ู„ู ุงู„ู…ูุตู’ุญูŽููุŒ
    ูˆู…ูŽุณูู‘ู‡ู [ุฃูŠ ุงู„ู…ูุตู’ุญูŽููุŒ ูˆู„ูˆ ุจูุญุงุฆูู„ู]ุŒ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ุตูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ู„ูู„ุฏูู‘ุฑุงุณูŽุฉู [ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุชูŽู…ู’ูƒููŠู†ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุญูŽู…ู’ู„ู ูˆุงู„ู…ูŽุณูู‘ ู…ูŽุนูŽ ุญูŽุฏูŽุซูู‡ู]ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ูุจู [ุชูŽุญู’ุฑูู…ู]: ู‡ูฐุฐู‡ [ุงู„ุฃูŽุฑู’ุจุนู ุงู„ุณู‘ุงุจูู‚ูŽุฉู]ุŒ
    ูˆู‚ูุฑุงุกูŽุฉู ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ู [ุจูุตูŽูˆุชู]ุŒ ูˆู…ููƒู’ุซู ุงู„ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู [ู„ุง ุนูุจููˆุฑูู‡ู]ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุญุงุฆูุถู ูˆุงู„ู†ูู‘ููŽุณุงุกู [ุชูŽุญู’ุฑูู…ู]: ู‡ูฐุฐู‡ [ุงู„ุณูู‘ุชูู‘ ุงู„ุณู‘ุงุจูู‚ูŽุฉู]ุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุงู†ู’ู‚ูุทุงุนูุŒ ูˆุชูŽู…ู’ูƒููŠู†ู ุงู„ุฒูŽู‘ูˆู’ุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุงุณู’ุชูู…ู’ุชุงุนู ุจูู…ุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุณูุฑูŽู‘ุชูู‡ุง ูˆุฑููƒู’ุจูŽุชูู‡ุง [ุจูุงู„ุฌูู…ุงุนู ูˆู„ูˆ ุจูุญุงุฆูู„ูุŒ ูˆุงู„ู„ูŽู‘ู…ู’ุณู ุจูู„ุง ุญุงุฆูู„ู ูˆู„ูˆ ุจูู„ุง ุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู] ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุบูุณู’ู„ู [ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนููŠูู‘].

    Fardhu Wudhu

    Salah satu syarat shalat adalah wudhu. Fardhu wudhu ada enam. Pertama, niat bersuci untuk shalat dalam hati, atau niat lain yang sah, ketika membasuh wajah. Kedua, membasuh seluruh wajah termasuk tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu, dari kuping sampai kuping, rambut dan kulit kecuali bagian dalam jenggot dan jambang laki-laki apabila tebal. Ketiga, membasuh kedua tangan termasuk siku dan yang di atasnya. Keempat, Mengusap kepala atau sebagiannya, walaupun satu rambut dalam batas kepala. Kelima, membasuh kedua kaki beserta mata kaki, atau mengusap khuf apabila memenuhi syarat. Keenam, tertib.

    Pasal: Yang Membatalkan Wudhu

    Yang membatalkan wudhu adalah perkara yang keluar dari dua jalan (depan belakang) kecuali mani. Menyentuh kemaluan depan manusia atau bundaran anus tanpa penghalang. Laki-laki menyentuh kulit wanita dewasa bukan mahram walaupun istri begitu juga sebaliknya. Maka, wudhu orang yang menyentuh dan yang disentuh sama-sama batal apabila beda jenisnya dan masing-masing saling tertarik dan bukan mahram. Hilang akal kecuali tidurnya orang yang duduk yang menetap pada tempat duduknya.

    Pasal: Yang Wajib setelah Keluarnya Sesuatu dari Dua Jalan

    Wajib istinjak (bersuci) dari segala benda basah yang keluar dari dua jalan kecuali mani dengan cara membasuh dengan air sampai suci tempatnya. Atau dengan mengusap tiga kali atau lebih sampai bersih tempatnya dengan benda kasar, padat dan suci dan tidak dimuliakan yakni bukan benda cair, basah, dan tidak dimuliakan seperti roti, tanpa berpindah dan sebelum kering. Apabila tidak, maka harus memakai air.

    Pasal: Yang Wajib Mandi Besar dan Fardhunya

    Termasuk syarat shalat adalah suci dari hadas besar yaitu mandi besar dan tayammum apabila tidak mampu melakukannya. Yang mewajibkan mandi ada lima yaitu: keluar mani, jimak (hubungan intim), haid, nifas, melahirkan.

    Fardhu Mandi ada dua yaitu niat menghilangkan hadas besar atau semisalnya. Meratakan air pada seluruh badan, kulit dan bulu walaupun tebal.

    Pasal: Syarat Bersuci dan Rukun Tayammum

    Syarat bersuci adalah Islam, tamyiz (berakal sehat), tidak ada perkara yang mencegah sampainya air pada yang dibasuh, mengalir, air harus suci dan menyucikan dalam arti tidak merusak nama air karena bercampur dengan benda suci yang tidak diperlukan air. Air tidak boleh berubah karena bercampur najis walaupun berubah sedikit. Apabila air kurang dua kulah maka airnya ditambah. Dua syarat lain supaya air dapat menyucikan adalah tidak bertemu najis yang tidak dimakfu (dimaafkan) dan belum dipakai untuk menghilangkan hadas atau najis. Siapa yang tidak menemukan air atau ada air tapi membahayakan tubuhnya maka boleh tayamum setelah masuknya waktu. Hilangnya najis yang tidak dimaafkan. Mengetahui arah kiblat. Tayamum dengan debu atau pasir bersih dan suci yang mengandung debu, pada wajah dan kedua tangan dengan dua kali pukulan paling sedikit dengan niat bolehnya fardhu shalat. Niat dilakukan bersamaan dengan pindah dan mengusap awal wajah.

    Pasal: Yang Haram karena Hadas Kecil dan Hadas Besar

    Orang yang batal wudhunya maka haram baginya hal-hal berikut: shalat, thawaf, membahwa mushaf al Quran, menyentuh mushaf walaupun dengan penghalang kecuali anak kecil dengan tujuan belajar maka boleh ia membawa dan menyentuh mushaf walaupun hadas. Haram bagi orang junub empat perkara di atas ditambah membaca Al Quran dengan bersuara, diam di masjid kecuali hanya lewat. Bagi wanita haid haram enam perkarta di atas ditambah puasa sebelum putus haidnya, membolehkan suami mencumbunya antara pusat dan lutut dengan jimak (hubungan intim) walaupun dengan penghalang, menyentuh tanpa penghalang walaupun tanpa syahwat sebelum mandi besar yang syarโ€™i. [alkhoirot.com]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู ูˆุฅุฒุงู„ูŽุชูู‡ุง

    ูˆู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู: ููŠ ุงู„ุจูŽุฏูŽู†ูุŒ ูˆุงู„ุซูŽู‘ูˆู’ุจูุŒ ูˆุงู„ู…ูŽูƒุงู†ูุŒ ูˆุงู„ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ู ู„ู‡ุŒ [ูƒูŽู‚ูู†ูู‘ูŠู†ูŽุฉู ุฃูˆ ู…ูู†ู’ุฏููŠู„ูุŒ ููŠ ูŠูŽุฏูู‡ู ุฃูˆ ุฌูŽูŠู’ุจูู‡ู]ุŒ ููŽุฅู†ู’ ู„ุงู‚ุงู‡ู ู†ูŽุฌูุณูŒ ุฃูˆ ู„ุงู‚ูŽู‰ ุซููŠุงุจูŽู‡ู ุฃูˆ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŽู‡ู ุจูŽุทูŽู„ูŽุชู’ ุตูŽู„ุงุชูู‡ู ุฅู„ู‘ุง ุฃู†ู’ ูŠูู„ู’ู‚ููŠูŽู‡ู ุญุงู„ู‹ุงุŒ ุฃูˆ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูŽุนู’ูููˆู‹ู‘ุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูŽุฏูŽู…ู ุฌูุฑู’ุญูู‡ู.

    ูˆูŠูŽุฌูุจู ุฅุฒุงู„ูŽุฉู ู†ูŽุฌูุณู ู„ู… ูŠูุนู’ููŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ [ูˆุฐูฐู„ูƒ]: [ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู ุงู„ุนูŽูŠู’ู†ููŠูŽู‘ุฉู]: ุจูุฅุฒุงู„ูŽุฉู ุงู„ุนูŽูŠู’ู†ูุŒ ู…ูู†ู’ ุทูŽุนู’ู…ู ูˆู„ูŽูˆู’ู†ู ูˆุฑููŠุญู [ูˆุญูŽุฌู’ู…ู]ุŒ ุจูุงู„ู…ุงุกู ุงู„ู…ูุทูŽู‡ูู‘ุฑูุŒ ูˆ[ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู] ุงู„ุญููƒู’ู…ููŠูŽู‘ุฉู [ุฃูŠ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู„ุง ูŠูุฏู’ุฑูŽูƒู ู„ูŽู‡ุง ุญูŽุฌู’ู…ูŒ ูˆู„ุง ู„ูŽูˆู’ู†ูŒ ูˆู„ุง ุทูŽุนู’ู…ูŒ ูˆู„ุง ุฑููŠุญูŒ]: ุจูุฌูŽุฑู’ูŠู ุงู„ู…ุงุกู [ุงู„ู…ูุทูŽู‡ูู‘ุฑู ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉู‹] ุนู„ูŠู‡ุงุŒ ูˆ[ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู] ุงู„ูƒูŽู„ู’ุจููŠูŽู‘ุฉู: ุจูุบูŽุณู’ู„ูู‡ุง ุณูŽุจู’ุนู‹ุง [ุจูุงู„ู…ุงุกู ุงู„ู…ูุทูŽู‡ูู‘ุฑู]ุŒ ุฅุญู’ุฏุงู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูŽู…ู’ุฒููˆุฌูŽุฉูŒ [ุฃูŠ ู…ููƒูŽุฏูŽู‘ุฑูŽุฉูŒ] ุจูุงู„ุชูู‘ุฑุงุจูุ› ูˆุงู„ู…ูุฒููŠู„ูŽุฉู ู„ูู„ู’ุนูŽูŠู’ู†ู ูˆุฅู†ู’ ุชูŽุนูŽุฏูŽู‘ุฏูŽุชู’ ูˆุงุญูุฏูŽุฉูŒุŒ ูˆูŠูุดู’ุชูŽุฑูŽุทู [ููŠ ุงู„ุชูŽู‘ุทู’ู‡ููŠุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู] ูˆูุฑููˆุฏู ุงู„ู…ุงุกู [ุนู„ูŠู‡ุง] ุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ู‚ูŽู„ููŠู„ู‹ุง [ุฃูŠ ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู‚ูู„ูŽู‘ุชูŽูŠู’ู†ู].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุดูุฑููˆุทู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ู„ูู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู

    ูˆู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู: ุงุณู’ุชูู‚ู’ุจุงู„ู ุงู„ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูุŒ ูˆุฏูุฎููˆู„ู ุงู„ูˆูŽู‚ู’ุชูุŒ ูˆุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ูˆุงู„ุชูŽู‘ู…ู’ูŠููŠุฒูุŒ ูˆุงู„ุนูู„ู’ู…ู ุจูููŽุฑู’ุถููŠูŽู‘ุชูู‡ุง [ุฅุฐุง ูƒุงู†ูŽุชู’ ุตูŽู„ุงุฉู‹ ู…ูŽูู’ุฑููˆุถูŽุฉู‹]ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏูŽ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู…ูู†ู’ ููุฑููˆุถูู‡ุง ุณูู†ูŽู‘ุฉู‹ุŒ ูˆุงู„ุณูŽู‘ุชู’ุฑู ุจูู…ุง ูŠูŽุณู’ุชูุฑู ู„ูŽูˆู’ู†ูŽ ุงู„ุจูŽุดูŽุฑูŽุฉู ู„ูุฌูŽู…ููŠุนู ุจูŽุฏูŽู†ู ุงู„ุญูุฑูŽู‘ุฉู ุฅู„ู‘ุง ุงู„ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽ ูˆุงู„ูƒูŽููŽู‘ูŠู’ู†ูุŒ ูˆุณูŽุชู’ุฑู ู…ุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ุฑูŽู‘ุฉู ูˆุงู„ุฑูู‘ูƒู’ุจูŽุฉู ู„ูู„ุฐูŽู‘ูƒูŽุฑู ูˆุงู„ุฃูŽู…ูŽุฉูุŒ ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุงู„ุฌูŽูˆุงู†ูุจู ู„ุง ุงู„ุฃูŽุณู’ููŽู„ู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ู…ูุจู’ุทูู„ุงุชู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู

    ูˆุชูŽุจู’ุทูู„ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู: ุจูุงู„ูƒูŽู„ุงู…ู ูˆู„ูˆ ุจูุญูŽุฑู’ููŽูŠู’ู†ู [ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ููู’ู‡ูู…ูŽูŠู’ู†ู] ุฃูˆ ุจูุญูŽุฑู’ูู ู…ููู’ู‡ูู…ูุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฅู†ู’ ู†ูŽุณููŠูŽ ูˆู‚ูŽู„ูŽู‘ุŒ ูˆุจูุงู„ุฃูŽูู’ุนุงู„ู ุงู„ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู ุงู„ู…ูุชูŽูˆุงู„ููŠูŽุฉู [ุฃูˆ ู…ูŽุนู‹ุง]ุŒ ูƒูŽุซูŽู„ุงุซู ุญูŽุฑูŽูƒุงุชูุŒ [ูˆู„ูˆ ู†ุงุณููŠู‹ุง]ุŒ ูˆุจูุงู„ุญูŽุฑูŽูƒูŽุฉู ุงู„ู…ููู’ุฑูุทูŽุฉู [ูƒูŽูˆูŽุซู’ุจูŽุฉูุŒ ูˆู„ูˆ ู†ุงุณููŠู‹ุง]ุŒ ูˆุจูุฒููŠุงุฏูŽุฉู ุฑููƒู’ู†ู ููุนู’ู„ูŠูู‘ [ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง]ุŒ ูˆุจูุงู„ุญูŽุฑูŽูƒูŽุฉู ุงู„ูˆุงุญูุฏูŽุฉู ู„ูู„ูŽู‘ุนูุจู [ูˆู„ูˆ ุฎูŽูููŠููŽุฉู‹]ุŒ ูˆุจูุงู„ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆุงู„ุดูู‘ุฑู’ุจูุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฅู†ู’ ู†ูŽุณููŠูŽ ูˆู‚ูŽู„ูŽู‘ุŒ ูˆุจูู†ููŠูŽู‘ุฉู ู‚ูŽุทู’ุนู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ ูˆุจูุชูŽุนู’ู„ููŠู‚ู
    ู‚ูŽุทู’ุนูู‡ุง [ุนู„ู‰ ุฃูŽู…ู’ุฑู ู…ุง]ุŒ ูˆุจูุงู„ุชูŽู‘ุฑูŽุฏูู‘ุฏู ููŠู‡ [ุฃูŠ ููŠ ู‚ูŽุทู’ุนูู‡ุง] ุŒ ูˆุจุฃู†ู’ ูŠูŽู…ู’ุถููŠูŽ ุฑููƒู’ู†ูŒ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘ ููŠ ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ุชูŽู‘ุญูŽุฑูู‘ู…ูุŒ ุฃูˆ ูŠูŽุทููˆู„ูŽ ุฒูŽู…ูŽู†ู ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘ุŒ [ูˆุจูุชูŽุบู’ูŠููŠุฑู ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉูุŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู’ ู‚ูŽู„ูŽุจูŽ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู†ูŽูู’ู„ู‹ุง ูˆุนูŽูƒู’ุณูู‡ูุŒ ุฅู„ู‘ุง ู„ูุนูุฐู’ุฑู ุดูŽุฑู’ุนููŠูู‘].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุดูุฑููˆุทู ู‚ูŽุจููˆู„ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู

    ูˆุดูุฑูุทูŽุŒ ู…ูŽุนูŽ ู…ุง ู…ูŽุฑูŽู‘ [ู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุทู ุตูุญูŽู‘ุฉู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู]ุŒ ู„ูู‚ูŽุจููˆู„ูู‡ุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู ูˆุชูŽุนุงู„ู‰ [ุฃูŠ ู†ูŽูŠู’ู„ู ุซูŽูˆุงุจูู‡ุง ูˆุฏูŽุฑูŽุฌุงุชูู‡ุง]: ุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุตูุฏูŽ ุจูู‡ุง ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู [ุฃูŠ ูˆูุฌู’ู‡ูŽุฉูŽ ุทุงุนูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู] ุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูŽุฃู’ูƒูŽู„ูู‡ู ูˆู…ูŽู„ู’ุจููˆุณูู‡ู ูˆู…ูุตูŽู„ู‘ุงู‡ู ุญูŽู„ุงู„ู‹ุงุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูุญุถูุฑูŽ ู‚ูŽู„ู’ุจูŽู‡ู ููŠู‡ุง [ุจูุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฎู’ุดูŽุนูŽ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ู„ู„ู‡ู ูˆู„ูŽูˆู’ ู„ูŽุญู’ุธูŽุฉู‹]ุŒ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ุงุชูู‡ู ุฅู„ู‘ุง ู…ุง ุนูŽู‚ูŽู„ูŽ [ุฃูŠ ูˆูŽุนูŽู‰]ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูุนู’ุฌูŽุจูŽ ุจูู‡ุง. [ูˆู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุตูุญูŽู‘ุฉู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุฏููˆู†ูŽ ู‚ูŽุจููˆู„ูู‡ุงุŒ ุฃู†ู’ ุชูŽุณู’ู‚ูุทูŽ ุนู†ู‡ ุงู„ู…ูุทุงู„ูŽุจูŽุฉู ุจูู‡ุง ุฏููˆู†ูŽ ุฃู†ู’ ูŠูŽู†ุงู„ูŽ ุซูŽูˆุงุจูŽู‡ุง ุงู„ุฎุงุตูŽู‘.]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู

    ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุณูŽุจู’ุนูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุฑููƒู’ู†ู‹ุง: ุงู„ุฃูˆูŽู‘ู„ู: ู†ููŠูŽู‘ุฉูŒ ุจูุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจู [ู„ูููุนู’ู„ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู]ุŒ ูˆูŠูุนูŽูŠูู‘ู†ู ุฐุงุชูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจูŽุจู ูˆุงู„ูˆูŽู‚ู’ุชูุŒ ูˆูŠูŽู†ู’ูˆููŠ ุงู„ููŽุฑู’ุถููŠูŽู‘ุฉูŽ ููŠ ุงู„ููŽุฑู’ุถูุŒ [ูˆู…ูุซุงู„ู ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู ุงู„ูƒุงูููŠูŽุฉู ุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠูŽ ู‚ุงุฆูู„ู‹ุง ููŠ ุฐูู‡ู’ู†ูู‡ู: โ€œุฃูุตูŽู„ูู‘ูŠ ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑูโ€] ุŒ [ุงู„ุซู‘ุงู†ููŠ]: ูˆูŠูŽู‚ููˆู„ู [ุจูู„ูุณุงู†ูู‡ู]ุŒ ุจูุญูŽูŠู’ุซู ูŠูุณู’ู…ูุนู ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ูƒูŽูƒูู„ูู‘ ุฑููƒู’ู†ู ู‚ูŽูˆู’ู„ูŠูู‘: โ€œุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑโ€ุŒ [ู…ูŽุนูŽ ุงุณู’ุชูุญู’ุถุงุฑู ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู ุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู]ุŒ ูˆู‡ูˆ ุซุงู†ููŠ ุฃุฑู’ูƒุงู†ูู‡ุงุŒ ุงู„ุซู‘ุงู„ูุซู: ุงู„ู‚ููŠุงู…ู ููŠ ุงู„ููŽุฑู’ุถู ู„ูู„ู’ู‚ุงุฏูุฑูุŒ ุงู„ุฑู‘ุงุจูุนู: ู‚ูุฑุงุกูŽุฉู ุงู„ูุงุชูุญูŽุฉูุŒ ุจูุงู„ุจูŽุณู’ู…ูŽู„ูŽุฉูุŒ ูˆุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฏููŠุฏุงุชูุŒ ูˆู…ููˆุงู„ุงุชูู‡ุงุŒ ูˆุชูŽุฑู’ุชููŠุจูู‡ุงุŒ ูˆุฅุฎู’ุฑุงุฌู ุงู„ุญูุฑููˆูู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุฎุงุฑูุฌูู‡ุงุŒ ูˆุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุญู’ู†ู [ุฃูŠู’ ุงู„ุฎูŽุทูŽุฃู ููŠ ุงู„ุญูŽุฑูŽูƒุงุชู] ุงู„ู…ูุฎูู„ูู‘ ุจูุงู„ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ุŒ ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุญู’ู†ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู„ุง ูŠูุฎูู„ูู‘ [ุฅุฐุง ุชูŽุนูŽู…ูŽู‘ุฏูŽู‡ู]ุŒ ูˆู„ุง ูŠูุจู’ุทูู„ูุŒ ุงู„ุฎุงู…ูุณู: ุงู„ุฑูู‘ูƒููˆุนู ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุญูŽู†ููŠูŽ ุจูุญูŽูŠู’ุซู ุชูŽู†ุงู„ู ุฑุงุญูŽุชุงู‡ู ุฑููƒู’ุจูŽุชูŽูŠู’ู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ุงุฏูุณู: ุงู„ุทูู‘ู…ูŽุฃู’ู†ููŠู†ูŽุฉู ููŠู‡ ุจูู‚ูŽุฏู’ุฑู ุณูุจู’ุญุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุงู„ุณู‘ุงุจูุนู: ุงู„ุงุนู’ุชูุฏุงู„ู ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุชูŽุตูุจูŽ ู‚ุงุฆูู…ู‹ุงุŒ ุงู„ุซู‘ุงู…ูู†ู: ุงู„ุทูู‘ู…ูŽุฃู’ู†ููŠู†ูŽุฉู ููŠู‡ุŒ ุงู„ุชู‘ุงุณูุนู: ุงู„ุณูู‘ุฌููˆุฏู ู…ูŽุฑูŽู‘ุชูŽูŠู’ู†ู ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽุถูŽุนูŽ ุฌูŽุจู’ู‡ูŽุชูŽู‡ู [ูˆู„ูŽูˆู’ ุจูŽุนู’ุถูŽู‡ุง] ุนู„ู‰ ู…ูุตูŽู„ู‘ุงู‡ู ู…ูŽูƒู’ุดููˆููŽุฉู‹ ูˆู…ูุชูŽุซุงู‚ูู„ู‹ุง ุจูู‡ุง ูˆู…ูู†ูŽูƒูู‘ุณู‹ุง [ุฃูŠู’ ุฌุงุนูู„ู‹ุง ุฃูŽุณู’ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุนู’ู„ุงู‡ู]ุŒ ูˆูŠูŽุถูŽุนูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฑููƒู’ุจูŽุชูŽูŠู’ู‡ูุŒ ูˆู…ูู†ู’ ุจูุทููˆู†ู ูƒูŽููŽู‘ูŠู’ู‡ูุŒ ูˆู…ูู†ู’ ุจูุทููˆู†ู ุฃูŽุตุงุจูุนู ุฑูุฌู’ู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ

    ุงู„ุนุงุดูุฑู: ุงู„ุทูู‘ู…ูŽุฃู’ู†ููŠู†ูŽุฉู ููŠู‡ุŒ ุงู„ุญุงุฏููŠ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุฌูู„ููˆุณู ุจูŠู† ุงู„ุณูŽู‘ุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ูุŒ ุงู„ุซุงู†ููŠ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุทูู‘ู…ูŽุฃู’ู†ููŠู†ูŽุฉู ููŠู‡ุŒ ุงู„ุซู‘ุงู„ูุซูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุฌูู„ููˆุณูุŒ ู„ูู„ุชูŽู‘ุดูŽู‡ูู‘ุฏู ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑู ูˆู…ุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูุŒ ุงู„ุฑู‘ุงุจูุนูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุชูŽู‘ุดูŽู‡ูู‘ุฏู ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑูุŒ ููŽู€[ู€ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ูู‡ู ุฃูŽู†ู’] ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ: โ€œุงู„ุชูŽู‘ุญููŠู‘ุงุชู ุงู„ู…ูุจุงุฑูŽูƒุงุชู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽูˆุงุชู ุงู„ุทูŽู‘ูŠูู‘ุจุงุชู ู„ู„ู‡ูุŒ ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠูู‘ู‡ุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ูˆุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆุจูŽุฑูŽูƒุงุชูู‡ูุŒ ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุตู‘ุงู„ูุญูŠู†ูŽุŒ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุง ุฅู„ูฐู‡ูŽ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ูโ€ุŒ ุงู„ุฎุงู…ูุณูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ [ูˆ]ุฃูŽู‚ูŽู„ูู‘ู‡ุง: โ€œุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนู„ู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูโ€ุŒ ุงู„ุณู‘ุงุฏูุณูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ูุŒ [ูˆ]ุฃูŽู‚ูŽู„ูู‘ู‡ู: โ€œุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’โ€ุŒ ุงู„ุณู‘ุงุจูุนูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ: ุงู„ุชูŽู‘ุฑู’ุชููŠุจูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽุนูŽู…ูŽู‘ุฏูŽ ุชูŽุฑู’ูƒูŽู‡ูุŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู’ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฑููƒููˆุนูู‡ู ุจูŽุทูŽู„ูŽุชู’ุŒ ูˆุฅูู†ู’ ุณูŽู‡ุง [ูƒุฃู†ู’ ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุงู„ุฑูู‘ูƒููˆุนูŽ] ููŽู„ู’ูŠูŽุนูุฏู’ ุฅู„ูŠู‡ ุฅู„ู‘ุง ุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ููŠ ู…ูุซู’ู„ูู‡ู ุฃูˆ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูุŒ ููŽุชูŽุชูู…ูู‘ ุจูู‡ู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูู‡ูุŒ ูˆู„ูŽุบุง ู…ุง ุณูŽู‡ุง ุจูู‡ู.

    Pasal: Najis dan Cara Menghilangkan

    Sebagian syarat shalat adalah suci dari najis di badan, baju dan tempat dan barang yang dibawa seperti saputangan di tangan atau saku. Apabila bertemu najis atau menyentuh bajunya atau barang yang dibawanya maka batal shalatnya kecuali kalau langsung dilempar atau najisnya dimaafkan (makfu) seperti darah lukanya.

    Wajib menghilangkan najis yang tidak dimaafkan yakni najis ainiyah dengan menghilangkan bendanya dari rasa warna dan bau dengan menyiramkan air yang menyucikan. Sedangkan dalam najis hukmiyah yakni najis yang tidak terlihat benda, warna, rasa dan baunya dengan cara mengalirkan air yang menyucikan satu kali. Dalam najis anjing dibasuh dengan air tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah (debu) yang suci yang menghilangkan bendanya najis sekalipun terhitung satu kali. Dan disyaratkan sampainya air apabila air sedikit yakni kurang dua kulah.

    Pasal: Syarat Lain Shalat

    Termasuk syarat shalat adalah menghadap kiblat, masuknya waktu, Islam, tamyiz, tahu atas wajibnya shalat (apabila shalat fardhu), tidak boleh meyakini yang fardhu sebagai sunnah, menutupi seluruh badan dengan kain yang menutupi warna kulit kecuali wajah dan telapak tangan, menutupi tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan budak amat dari segala arah kecuali bawah.

    Pasal: Pembatal Shalat

    Shalat batal karena berbicara walaupun dengan dua huruf (kata) yang tidak bisa dimengerti atau dengan satu huruf (kata) yang dimengerti, kecuali apabila lupa dan sedikit dan dengan gerakan yang banyak yang berturut-turut atau bersamaan seperti tiga gerakan walaupun lupa. Dan dengan gerakan yang melebihi batas walaupun lupa. Dan karena tambahan rukun fiโ€™li yang disengaja, dan karena gerakan satu untuk main-main walaupun ringan, makan dan minum kecuali apabila lupa dan sediit, karena niat memutus shalat, menghubungkan memutuskan shalat atas perkara apapun, karena ragu-ragu dalam memutuskan shalat, berlalunya satu rukun disertai ragu dalam nikat taharum, atau panjangnya masa ragu, juga karena perubahan niat seperti merubah fardhu menjadi sunnah atau sebaliknya kecuali karena udzur syarโ€™i.

    Pasal: Syarat Diterimanya Shalat

    Disyaratkan selain yang sudah disebut dari syarat sahnya shalat untuk diterimanya shalat di sisi Allah yakni untuk memperoleh pahala dan derajat shalat yaitu harus bermaksud karena Allah semata yakni semata taat pada Allah. Makanan, baju dan tempat shalat harus halal. Hatinya hadir dalam shalat yakni hatinya khusyuk pada Allah walaupun sebentar. Maka shalatnya itu tergantung dari yang dia fikirkan. Dan hendaknya tidak ujub (sombong) pada shalatnya. Makna sahnya shalat, bukan diterimanya shalat, adalah gugurnya tuntutan shalat dari orang tersebut bukan mendapatkan pahala shalat yang khusus.

    Pasal: Rukun Shalat

    Rukun shalat ada 17: Pertama, niat dengan hati untuk melakukan shalat menentukan sebab dan waktu dan berniat fardhu untuk shalat fardhu. Contoh niat yang sah adalah niat dalam hatinya โ€œAku shalat fardhu Zhuhurโ€. Kedua, berkata secara lisan sekiranya dapat didengar sendiri sebagaimana setiap rukun qauli (ucapan) yang lain ucapan โ€œAllahu Akbarโ€ disertai menghadirkan niat dalam hati. Ini rukun kedua. Ketiga, Berdiri dalam shalat fardhu bagi yang kuasa. Keempat, membaca Al Fatihah dengan basmalah dan tasydid dengan segera dan urut dan mengeluarkan bunyi huruf sesuai makhrajnya dan tidak lahan yakni salah harkat yang merubah makna. Haram lahan yang tidak merusak maka apabila sengaja tapi tidak membatalkan shalat. Kelima, rukuk dengan cara membungkuk sekiranya kedua telapak tangan menyentuh lutut. Keenam, tumakninah dalam rukuk dengan sekadar membaca โ€œsubnahallahโ€. Ketujuh, iโ€™tidal yaitu bangun setelah rukuk. Kedelapan, tumaโ€™ninah dalam iโ€™tidal. Kesembilan, sujud dua kali dengan menaruh jidat atau dahi walaupun sebagian pada tempat shalat secara terbuka. Kesepuluh, tumakninah dalam sujud.

    Kesebelas, duduk di antara dua sujud. Keduabelas, tumakninah dalam sujud. Ketigabelas, duduk untuk tasyahud atau tahiyat akhir dan yang setelahnya. Keempatbelas, tahiyat akhir. Ucapan tahiyat akhir paling sempurna adalah: โ€œุงู„ุชูŽู‘ุญููŠู‘ุงุชู ุงู„ู…ูุจุงุฑูŽูƒุงุชู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽูˆุงุชู ุงู„ุทูŽู‘ูŠูู‘ุจุงุชู ู„ู„ู‡ูุŒ ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŠูู‘ู‡ุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ูˆุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆุจูŽุฑูŽูƒุงุชูู‡ูุŒ ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ุง ูˆุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุตู‘ุงู„ูุญูŠู†ูŽุŒ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุง ุฅู„ูฐู‡ูŽ ุฅู„ู‘ุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ูโ€ Kelimabelas, membaca shalawat pada Nabi. Paling sedikit bacaan shalawat adalah: โ€œุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนู„ู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูโ€ Keenambelas, salam. Paling sedikit ucapan salam adalah โ€œุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’โ€ Ketujuhbelas, tertib atau urut. Apabila sengaja meninggalkan tertib, seperti sujud sebelum rukuk maka batal shalatnya. Apabila lupa seperti tidak rukuk, maka hendaknya ia mengulanginya kecuali apabila ia dalam perbuatan yang sama atau setelahnya maka hendaknya ia menyempurnakan rakaatnya dan sia-sia rakaat yang dia ada yang terlupa sebelumnya.[]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุงู„ุฌูŽู…ุงุนูŽุฉู ูˆุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู

    ุงู„ุฌูŽู…ุงุนูŽุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูู‘ูƒููˆุฑูุŒ ุงู„ุฃูŽุญู’ุฑุงุฑูุŒ ุงู„ู…ูู‚ููŠู…ููŠู†ูŽุŒ ุงู„ุจุงู„ูุบููŠู†ูŽุŒ [ุงู„ุนูู‚ูŽู„ุงุกู]ุŒ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู…ูŽุนู’ุฐููˆุฑููŠู†ูŽุŒ ููŽุฑู’ุถู ูƒููุงูŠูŽุฉูุ› ูˆ[ุงู„ุฌูŽู…ุงุนูŽุฉู] ููŠ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู ููŽุฑู’ุถู ุนูŽูŠู’ู†ู ุนู„ูŠู‡ู… [ุฃูŠ ุงู„ู…ูŽุฐู’ูƒููˆุฑููŠู†ูŽ]ุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู†ููˆุง ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽุŒ ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูููŠู†ูŽุŒ [ู…ูุณู’ุชูŽูˆู’ุทูู†ููŠู†ูŽ]ุŒ ููŠ ุฃูŽุจู’ู†ููŠูŽุฉู [ููŽู„ุง ุชูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุฎููŠุงู…ู]ุŒ ูˆ[ุชูŽุฌูุจู] ุนู„ู‰ ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽูˆูŽู‰ ุงู„ุฅู‚ุงู…ูŽุฉูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŽ ุฃูŠู‘ุงู…ู ุตูุญุงุญู [ุฃูŠ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽูŠู ุงู„ุฏูู‘ุฎููˆู„ู ูˆุงู„ุฎูุฑููˆุฌู]ุŒ ูˆุนู„ู‰ ู…ูŽู†ู’ ุจูŽู„ูŽุบูŽู‡ู [ุจูุงู„ู‚ููˆูŽู‘ุฉู ู„ุง ุจูุงู„ููุนู’ู„ู] ู†ูุฏุงุกู ุตูŽูŠูู‘ุชู ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑูŽูู ูŠูŽู„ููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽู„ูŽุฏูู‡ุงุ› ูˆุดูŽุฑู’ุทูู‡ุง [ุฃูŠ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู]: ูˆูŽู‚ู’ุชู ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑูุŒ ูˆุฎูุทู’ุจูŽุชุงู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ุง ููŠู‡ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนูู‡ูู…ุง ุงู„ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููˆู†ูŽ [ุจูุงู„ููุนู’ู„ู ู„ูˆ ุฃูŽุตู’ุบูŽูˆู’ุง ูˆู„ู… ูŠูŽูƒูู†ู’ ุถูŽุฌูŽู‘ุฉูŒ ุŒ ูˆุฃู†ู’ ุชูุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุฌูŽู…ุงุนูŽุฉู‹ ุจูู‡ูู…ู’ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ุชูู‚ุงุฑูู†ูŽู‡ุง [ููŠ ุชูŽูƒู’ุจููŠุฑูŽุฉู ุงู„ุฅุญู’ุฑุงู…ู] ูˆู„ุง ุชูŽุณู’ุจูู‚ูŽู‡ุง ุฌูู…ูุนูŽุฉูŒ ุจูุจูŽู„ูŽุฏูู‡ุง [ุฅู„ู‘ุง ุฅุฐุง ุดูŽู‚ูŽู‘ ุงู„ุงู‚ู’ุชูุตุงุฑู ุนู„ู‰ ูˆุงุญูุฏูŽุฉู] ุŒ

    ูˆุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุฎูุทู’ุจูŽุชูŽูŠู’ู†ู: ุญูŽู…ู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ
    ูˆุงู„ูˆูŽุตููŠูŽู‘ุฉู ุจูŽุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ุŒ ููŠู‡ู…ุง [ุฃูŠ ุฃู†ูŽู‘ ู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ุซู‘ู„ุงุซูŽุฉูŽ ุงู„ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏูู‘ู…ูŽุฉูŽ ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ูŒ ููŠ ูƒูู„ูู‘ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฎูุทู’ุจุชูŽูŠู’ู†ู]ุ› ูˆุขูŠูŽุฉูŒ ู…ููู’ู‡ูู…ูŽุฉูŒุŒ ููŠ ุฅุญู’ุฏุงู‡ูู…ุงุ› ูˆุงู„ุฏูู‘ุนุงุกู ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽุŒ ููŠ ุงู„ุซู‘ุงู†ููŠูŽุฉูุŒ

    ูˆุดูุฑููˆุทูู‡ูู…ุง: ุงู„ุทูŽู‘ู‡ุงุฑูŽุฉู ุนูŽู†ู ุงู„ุญูŽุฏูŽุซูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆุนูŽู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉู ููŠ ุงู„ุจูŽุฏูŽู†ู ูˆุงู„ู…ูŽูƒุงู†ู ูˆุงู„ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูุŒ ูˆุณูŽุชู’ุฑู ุงู„ุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉูุŒ ูˆุงู„ู‚ููŠุงู…ูุŒ ูˆุงู„ุฌูู„ููˆุณู [ู‚ูŽุฏู’ุฑูŽ ุงู„ุทูู‘ู…ูŽุฃู’ู†ููŠู†ูŽุฉู] ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ุงุŒ
    ูˆุงู„ูˆูู„ุงุกู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ุงุŒ [ูˆุงู„ูˆูู„ุงุกู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ูู‡ูู…ุง]ุŒ ูˆ[ุงู„ูˆูู„ุงุกู] ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ุง ูˆุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ
    ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ุง [ุฃุฑู’ูƒุงู†ูู‡ู…ุง] ุจูุงู„ุนูŽุฑูŽุจููŠูŽู‘ุฉู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุงู‚ู’ุชูุฏุงุกู

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ู…ูŽู†ู’ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ู…ูู‚ู’ุชูŽุฏููŠู‹ุง ููŠ ุฌูู…ูุนูŽุฉู ุฃูˆ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ุง: ุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ุนู„ู‰ ุฅู…ุงู…ูู‡ู ููŠ ุงู„ู…ูŽูˆู’ู‚ููู ูˆุงู„ุฅุญู’ุฑุงู…ูุŒ ุจูŽู„ู’ ุชูุจู’ุทูู„ู ุงู„ู…ูู‚ุงุฑูŽู†ูŽุฉู ููŠ ุงู„ุฅุญู’ุฑุงู…ูุŒ ูˆุชููƒู’ุฑูŽู‡ู ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฅู„ู‘ุง ุงู„ุชูŽู‘ุฃู’ู…ููŠู†ูŽุŒ ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุชูŽู‚ูŽุฏูู‘ู…ูู‡ู ุจูุฑููƒู’ู†ู ููุนู’ู„ููŠูู‘ุŒ ูˆุชูŽุจู’ุทูู„ู ุจูุฑููƒู’ู†ูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆูƒูŽุฐุง ุงู„ุชูŽู‘ุฃูŽุฎูู‘ุฑู ุจูู‡ู…ุง ู„ูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูุฐู’ุฑูุŒ ูˆุจูุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ุงุซูŽุฉู ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุทูŽูˆููŠู„ูŽุฉู ู„ู‡ [ุฃูŠ ู„ูุนูุฐู’ุฑู]ุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ุจูุงู†ู’ุชูู‚ุงู„ุงุชู ุฅู…ุงู…ูู‡ู [ุจูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ุฃูˆ ุณูŽู…ุงุนู ุตูŽูˆู’ุชูู‡ู ุฃูˆ ุฑูุคู’ูŠูŽุฉู ุจูŽุนู’ุถู ุตูŽููู‘ ูŠูŽุฑุงู‡ู ุฃูˆ ู†ูŽุญู’ูˆู ุฐูฐู„ูƒ]ุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽุฌู’ุชูŽู…ูุนุง ููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุฃูˆ ุซูŽู„ุงุซูู…ูุงุฆูŽุฉู ุฐูุฑุงุนูุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุญููˆู„ูŽ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุญุงุฆู„ูŒ ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู ุงู„ุงุณู’ุชูุทู’ุฑุงู‚ูŽ [ุฃูŠ ุงู„ู…ูุฑููˆุฑูŽ ุงู„ุนุงุฏููŠูŽู‘ุŒ ุงู„ู…ูุจุงุดูุฑูŽ ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูุŒ ูˆุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู…ูุจุงุดูุฑู ููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู] ุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽุชูŽูˆุงููŽู‚ูŽ ู†ูŽุธู’ู…ู ุตูŽู„ุงุชูŽูŠู’ู‡ูู…ุง [ููŽู„ุง ุชูŽุตูุญูู‘ ุตูุจู’ุญูŒ ุฎูŽู„ู’ููŽ ุฌูู†ุงุฒูŽุฉู ู…ูŽุซูŽู„ู‹ุง] ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุชูŽุฎุงู„ูŽูุง ููŠ ุณูู†ูŽู‘ุฉู ุชูŽูู’ุญูุดู ุงู„ู…ูุฎุงู„ูŽููŽุฉู ููŠู‡ุง [ูƒูŽููุนู’ู„ู ุงู„ุชูŽู‘ุดูŽู‡ูู‘ุฏู ุงู„ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ุฅุฐุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู ุงู„ุฅู…ุงู…ู]ุŒ ูˆุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠูŽ ุงู„ุงู‚ู’ุชูุฏุงุกูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุญูŽุฑูู‘ู…ู ููŠ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู [ูˆุงู„ู…ูุนุงุฏูŽุฉู]ุŒ ูˆ[ุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠูŽ ุงู„ุงู‚ู’ุชูุฏุงุกูŽ] ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู…ูุชุงุจูŽุนูŽุฉู [ููŠ ููุนู’ู„ู ุฃูˆ ุณูŽู„ุงู…ู] ูˆุทููˆู„ู ุงู„ุงู†ู’ุชูุธุงุฑู [ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ูุชุงุจูŽุนูŽุฉู]ุŒ ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ุง [ุฃูŠ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู ูˆุงู„ู…ูุนุงุฏูŽุฉู] ุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ุฅู…ุงู…ู ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ุฅู…ุงู…ูŽุฉู ููŠ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู ูˆุงู„ู…ูุนุงุฏูŽุฉูุŒ ูˆุชูุณูŽู†ูู‘ ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ุง.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุงู„ุฌูู†ุงุฒูŽุฉู

    ุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ู…ูŽูŠูู‘ุชูุŒ ูˆุชูŽูƒู’ูููŠู†ูู‡ูุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆุฏูŽูู’ู†ูู‡ูุŒ ููŽุฑู’ุถู ูƒููุงูŠูŽุฉูุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู†ูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ูˆูู„ูุฏูŽ ุญูŽูŠู‹ู‘ุงุ› ูˆูˆูŽุฌูŽุจูŽ ู„ูุฐูู…ูู‘ูŠูู‘ ุชูŽูƒู’ูููŠู†ูŒุŒ ูˆุฏูŽูู’ู†ูŒุ› ูˆู„ูุณูู‚ู’ุทู ู…ูŽูŠูู‘ุชู [ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ู] ุบูŽุณู’ู„ูŒุŒ ูˆูƒูŽูู’ู†ูŒุŒ ูˆุฏูŽูู’ู†ูŒุ› ูˆู„ุง ูŠูุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนู„ูŠู‡ู…ุง [ุฃูŠ ุงู„ุฐูู‘ู…ูู‘ูŠูู‘ ูˆุงู„ุณูู‘ู‚ู’ุทูุŒ ููŽุตูŽู„ุงุฉู ุงู„ุฌูู†ุงุฒูŽุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุงููุฑู ูƒููู’ุฑูŒุŒ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุณูู‘ู‚ู’ุทู ุญูŽุฑุงู…ูŒ]ุ› ูˆู…ูŽู†ู’ ู…ุงุชูŽ ููŠ ู‚ูุชุงู„ู ุงู„ูƒููู‘ุงุฑู ุจูุณูŽุจูŽุจูู‡ู ูƒูููู‘ู†ูŽ ููŠ ุซููŠุงุจูู‡ู ููŽุฅู†ู’ ู„ู… ุชูŽูƒู’ููู‡ู ุฒููŠุฏูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ุง ูˆุฏูููู†ูŽุŒ ูˆู„ุง ูŠูุบูŽุณูŽู‘ู„ู ูˆู„ุง ูŠูุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนู„ูŠู‡ [ุฃูŠ ุบูŽุณู’ู„ูู‡ู ูˆุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุนู„ูŠู‡ ูŠูŽุญู’ุฑูู…ุงู†ู]. ูˆุฃู‚ูŽู„ูู‘ ุงู„ุบูŽุณู’ู„ู: ุฅุฒุงู„ูŽุฉู ุงู„ู†ูŽู‘ุฌุงุณูŽุฉูุŒ ูˆุชูŽุนู’ู…ููŠู…ู ุฌูŽู…ููŠุนู ุจูŽุดูŽุฑูู‡ู ูˆุดูŽุนูŽุฑูู‡ู ูˆุฅู†ู’ ูƒูŽุซูููŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉู‹ ุจูุงู„ู…ุงุกู ุงู„ู…ูุทูŽู‡ูู‘ุฑู. ูˆุฃู‚ูŽู„ูู‘ ุงู„ูƒูŽููŽู†ู: ุณุงุชูุฑู ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ุจูŽุฏูŽู†ูุŒ ูˆุซูŽู„ุงุซู ู„ูŽูุงุฆูููŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุชูŽุฑููƒูŽุฉู‹ [ุฃูŠ ู…ููŠุฑุงุซู‹ุง] ุฒุงุฆูุฏูŽุฉู‹ ุนูŽู†ู’ ุฏูŽูŠู’ู†ูู‡ู ูˆู„ู… ูŠููˆุตู ุจูุชูŽุฑู’ูƒูู‡ุง [ุฃูŠ ุจูุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ุฒูู‘ูŠุงุฏูŽุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุงุญูุฏูŽุฉู].

    ูˆุฃู‚ูŽู„ูู‘ ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุนู„ูŠู‡: ุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠูŽ [ุฐูŽูƒูŽุฑูŒ ูˆู„ูˆ ุตูŽุจููŠู‹ู‘ุง ู…ูู…ูŽูŠูู‘ุฒู‹ุง] ููุนู’ู„ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉู ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆุงู„ููŽุฑู’ุถูŽุŒ ูˆูŠูุนูŽูŠูู‘ู†ูŽ [ุงู„ู…ูŽูŠูู‘ุชูŽ ูˆู„ูˆ ุจูุงู„ุฅุดุงุฑูŽุฉู ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจููŠูŽู‘ุฉู]ุŒ ูˆูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ: โ€œุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑโ€ุŒ ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู…ูŒ ุฅู†ู’ ู‚ูŽุฏูุฑูŽุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃูŽ ุงู„ูุงุชูุญูŽุฉูŽุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ: โ€œุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑุŒ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนู„ู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏโ€ุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ: โ€œุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑุŒ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ูŽู‘ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูˆุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ูโ€ุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ: โ€œุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑุŒ ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’โ€ุŒ ูˆู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ููŠู‡ุง ู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ ูˆุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ู…ูุจู’ุทูู„ุงุชูุŒ [ูˆุชูŽู‚ูŽุฏูู‘ู…ู ุบูุณู’ู„ู ุงู„ู…ูŽูŠูู‘ุชู]. ูˆุฃู‚ูŽู„ูู‘ ุงู„ุฏูŽู‘ูู’ู†ู: ุญููู’ุฑูŽุฉูŒ ุชูŽูƒู’ุชูู…ู ุฑุงุฆุญูŽุชูŽู‡ู ูˆุชูŽุญู’ุฑูุณูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ุจุงุนูุŒ ูˆูŠูุณูŽู†ูู‘ ุฃู†ู’ ูŠูุนูŽู…ูŽู‘ู‚ูŽ [ุงู„ู‚ูŽุจู’ุฑู] ู‚ูŽุฏู’ุฑูŽ ู‚ุงู…ูŽุฉู ูˆุจูŽุณู’ุทูŽุฉูุŒ ูˆูŠููˆูŽุณูŽู‘ุนูŽุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุชูŽูˆู’ุฌููŠู‡ูู‡ู [ุฃูŠ ุงู„ู…ูŽูŠูู‘ุชู] ุฅู„ู‰ ุงู„ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู.

    Pasal: Shalat Jamaah dan Shalat Jumat

    Shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah bagi laki-laki yang merdeka, mukim (bukan musafir), baligh, berakal sehat, tidak udzur. Shalat berjamaah pada waktu shalat Jumat hukumnya fardhu ain bagi orang yang (a) memenuhi kriteria di atas; (b) berjumlah 40 orang mukalaf; (c) penduduk tetap. Maka tidak wajib Jumat bagi pemukim kemah (yang berpindah-pindah). Wajib Jumat bagi yang berniat mukim selama empat hari penuh yakni selain dua hari masuk dan keluar. Dan wajib bagi orang yang mendengar suara panggilan adzan dengan kekuatan bukan perbuatan dari satu sisi lokasinya. Syarat Jumat adalah: waktu zhuhur, dua khutbah sebelum shalat yang didengar oleh 40 orang dan dilakukan secara berjamaah. Takbirotul ihram-nya tidak boleh bersamaan dengan atau didahului oleh Jumat di lokasi lain kecuali apabila sulit dilaksanakan dalam satu tempat.

    Rukun dua khutbah Jumat adalah memuji pada Allah, shalawat pada Nabi, wasiat takwa dalam kedua khutbah yakni bahwa tiga rukun ini merupakan rukun yang wajib ada pada masing-masing dari kedua khutbah, dan satu ayat Al-Quran di salah satu khutbah, doa untuk umat Islam pada khutbah kedua.

    Syarat dua khutbah Jumat adalah: suci dari hadas besar dan kecil, suci dari najis di badan, tempat dan barang yang dibawa, menutup aurat, berdiri, duduk secara tumakninah antara kedua khutbah, bersegera antara dua khutbah, bersegera antara rukun kedua khutbah, bersegera antara dua khutbah dan shalat, dan rukun-rukun khutbah harus dalam bahasa Arab.

    Pasal: Syarat Makmum

    Wajib bagi makmum yang shalat Jumat atau lainnya untuk tidak mendahului imam dalam tempat berdiri dan takbirotul ihrom bahkan batal shalatnya apabila takbirotul ihromnya bersamaan dan makruh bersamaan di lainnya kecuali bacaan amin. Haram makmum mendahului imam dengan satu rukun fiโ€™li (perbuatan) dan batal dengan mendahului dua rukun begitu juga batal mengakhiri dua rukun tanpa rukun dan lebih dari tiga rukun yang panjang karena udzur. Makmum harus tahu pergerakan imam dengan melihatnya atau mendengar suaranya atau melihat sebagian barisan yang dilihatnya, dll. Makmum dan imam harus berkumpul dalam satu masjid atau tigaratus dziraโ€™. Tidak ada penghalang antara makmum dan imam yang mencegah bisa lewat secara langsung di selain masjid dan tidak langsung di satu masjid. Harus sama jenis shalat keduanya, maka tidak sah makmum shalat subuh pada imam yang shalat jenazah. Tidak boleh berbeda dalam sunnah yang berbeda sangat seperti makmum tahiyat awal sedangkan imam tidak melakukannya. Harus niat jadi makum bersamaan takbirotul ihram pada shalat Jumat dan muadat. Harus niat jadi makmum dalam perbuatan atau salam dan selama menunggu untuk mengikuti pada yang selain Jumat dan muadat. Wajib bagi imam niat menjadi imam pada shalat Jumat dan muadat. Sunnah niat jadi imam di selain Jumat.

    Pasal: Jenazah

    Memandikan mayit, mengkafani, menyolati dan menguburnya adalah fardhu kifayah apabila ia muslim yang lahir dalam keadaan hidup. Wajib bagi kafir dzimmi dikafani dan dikuburkan. Bagi bayi yang mati keguguran dan sudah tampak bentuknya wajib dimandikan, dikafani, dikubur tapi tidak perlu dishalati untuk keduanya yakni kafir dzimmi dan bayi keguguran. Shalat jenazah bagi orang kafir adalah kufur dan bagi bayi keguguran haram. Barangsiapa yang mati dalam memerangi orang kafir maka dikafani dengan bajunya apabila tidak cukup maka ditambah dan dimakamkan tapi tidak perlu dimandikan dan dishalati yakni memandikan dan menyolati hukumnya haram. Memandikan mayit paling sedikit adalah menghilangkan najis, meratakan seluruh kulit, rambut/bulu walaupun tebal satu kali dengan air yang menyucikan. Kafan paling sedikit adalah menutupi seluruh badan. Tiga lapis bagi yang meninggalkan warisan sebagai tambahan dari hutangnya dan tidak berwasiat meninggalkan tiga lapis.

    Shalat paling sedikit adalah niat, walaupun laki-laki masih kecil yang tamyiz, untuk melakukan shalat, menyebut fardhu, menentukan pada mayit walaupun dengan isyarat hati lalu berkata: โ€œAllahu Akbarโ€. Harus berdiri apabila mampu, lalu membaca Al Fatihah lalu berkata: โ€œAllahu akbar Allahumma shalli ala Muhammadโ€ lalu berkata โ€œAllahu akbar, allahumma ighfir lahu warhamhuโ€ lalu berkata โ€œAllahu akbar, assalamu alaikumโ€. Wajib bagi yang shalat jenazah memenuhi syarat-syarat shalat dan meninggalkan yang membatalkan shalat dan mendahulukan memandikan mayit. Memendam mayit paling sedikit: satu galian yang dapat menutup baunya dan menjaganya dari binatang buas. Sunnah diperdalam kuburnya seukurang orang berdiri dan diperluas. Wajib menghadapkan mayit ke arah kiblat. [alkhoirot.com]

    BAB ZAKAT

    ูุตู„) ูˆุชุฌุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ูู‰ ุงู„ุงุจู„ ูˆุงู„ุจู‚ุฑ ูˆุงู„ุบู†ู… ูˆุงู„ุชู…ุฑ ูˆุงู„ุฒุจูŠุจ ูˆุงู„ุฒุฑูˆุน ุงู„ู…ู‚ุชุงุชุฉ ุญุงู„ุฉ ุงู„ุงุฎุชูŠุงุฑ ูˆุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ ูˆุงู„ู…ุนุฏู† ูˆุงู„ุฑูƒุงุฒ ู…ู†ู‡ู…ุง ูˆุงู…ูˆุงู„ ุงู„ุชุฌุงุฑุฉ ูˆุงู„ูุทุฑุฉ *

    ูˆุงูˆู„ ู†ุตุงุจ ุงู„ุงุจู„ ุฎู…ุณ ูˆู…ู† ุงู„ุจู‚ุฑ ุซู„ุงุซูˆู† ูˆู…ู† ุงู„ุบู†ู… ุงุฑุจุนูˆู† ูู„ุง ุฒูƒุงุฉ ู‚ุจู„ ุฐู„ูƒ ูˆู„ุง ุจุฏ ู…ู† ุงู„ุญูˆู„ ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ูˆู„ุงุจุฏ ู…ู† ุงู„ุณูˆู… ูู‰ ูƒู„ุฃ ู…ุจุงุญ ูˆุงู† ู„ุง ุชูƒูˆู† ุนุงู…ู„ุฉ ููŠุฌุจ ูู‰ ูƒู„ ุฎู…ุณ ู…ู† ุงู„ุงุจู„ ุดุงุฉ ุฌุฐุน ุถุฃู†ุฃูˆ ุซู†ู‰ ู…ุนุฒ ูˆูู‰ ูƒู„ ุซู„ุงุซูŠู† ู…ู† ุงู„ุจู‚ุฑ ุชุจูŠุน ุซู… ุฅู† ุฒุงุฏุช ู…ุงุดูŠุชู‡ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ููู‰ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฒุงุฆุฏุฉ ูˆูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุฃู† ูŠุชุนู„ู… ู…ุง ุฃูˆุฌุจู‡ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ููŠู‡ุง

    Wajib mengeluarkan zakat didalam onta, sapi, kambing, kurma, anggur, tanaman yang dapat memberi kekuatan (makanan pokok) pada saat ikhtiyar (bukan saat terpaksa), emas, perak, barang tambang (dari emas dan perak), harta simpanan orang jahiliyah (rikaz) dari emas dan perak, harta dagangan dan zakat badan (fitrah).

    ZAKAT UNTA, SAPI DAN KAMBING

    Awal nisabnya onta adalah lima ekor, nisabnya sapi adalah tiga puluh ekor, nisabnya kambing adalah empat puluh ekor.

    Oleh karena itu sebelum mencapai nisab tersebut maka tidak wajib dizakati. Dan harus mencapai satu tahun, harus mencari makan sendiri dipenggembalaan yang dibolehkan dan harus tidak dipekerjakan. Didalam setiap onta lima ekor maka wajib mengeluarkan zakat berupa satu ekor kambing. Didalam setiap empat puluh ekor kambing wajib mengeluarkan zakat berupa kambing kibas yang berusia satu tahun atau kambing kacang yang berusia dua tahun. Didalam setiap tiga puluh ekor sapi wajib mengeluarkan zakat berupa anak sapi (tabiโ€™) yang berusia satu tahun penuh.

    Kemudian setiap ternak yang melebihi nisab tersebut maka jika lebih tersebut mencapai satu nisab maka wajib menzakatinya, jika tidak mencapai satu nisab maka tidak wajib menzakatinya. Wajib bagi setiap mukallaf untuk mengetahui setiap sesuatu yang diwajibkan oleh Alloh didalam masalah zakat.

    ZAKAT KURMA, ANGGUR DAN TANAMAN

    ๏ปญ๏บƒ๏ปฃ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บ˜๏ปค๏บฎ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บฐ๏บ‘๏ปด๏บ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บฐ๏บญ๏ปญ๏ป‰ ๏ป“๏บ„๏ปญ๏ป ๏ปง๏บผ๏บŽ๏บ‘๏ปฌ๏บŽ ๏บง๏ปค๏บด๏บ” ุงูˆุณู‚ ๏ปญ๏ปซ๏ปฐ ๏บ›๏ปผ๏บ›๏ปค๏บŽ๏บ‹๏บ” ๏บป๏บŽ๏ป‰ ๏บ‘๏บผ๏บŽุนู‡ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏บ๏ปŸ๏บผ๏ปผ๏บ“ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก ๏ปญ๏ปณ๏ป€๏ปข ๏บฏ๏บญ๏ป‰ ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏บŽ๏ปก ๏บ‘๏ปŒ๏ป€๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ปฐ ๏บ‘๏ปŒ๏บพ ๏ปป ๏ปณ๏ปœ๏ปค๏ปž ๏บŸ๏ปจ๏บฒ ๏บ‘๏บ ๏ปจ๏บฒ ๏ปญ ๏บ—๏บ ๏บ ๏บ๏ปŸ๏บฐ๏ป›๏บŽ๏บ“ ๏บ‘๏บ’๏บชูˆ ๏บ๏ปŸ๏บผ๏ปผ๏บก ๏ปญ๏บ๏บท๏บ˜๏บช๏บ๏บฉ ๏บ๏ปŸ๏บค๏บ ๏ปญ๏ปณ๏บ ๏บ ๏ป“๏ปด๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏บธ๏บฎ๏บู† ๏ปŸ๏ปข ๏บ—๏บด๏ป– ๏บ‘๏ปค๏บ†๏ปง๏บ” ๏ปญ๏ปง๏บผ๏ป”๏ปช ๏บ๏ปฅ ุณู‚ูŠุช ๏บ‘๏ปฌ๏บŽ ๏ปญ๏ปฃ๏บŽ ๏บฏ๏บ๏บฉ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บผ๏บŽ๏บ ุงุฎุฑุฌ ู…ู†ู‡ ุจู‚ุณุทู‡ ูˆู„ุง ุฒูƒุงุฉ ููŠู‡ู…ุง ุฏูˆู† ุงู„ู†ุตุงุจ ๏บ๏ปป ๏บ๏ปฅ ๏ปณ๏บ˜๏ป„๏ปฎ๏ป‰ ๏ปญ๏บƒ๏ปฃ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บฌ๏ปซ๏บ ๏ป“๏ปจ๏บผ๏บŽ๏บ‘๏ปช ๏ป‹๏บธ๏บฎ๏ปญ๏ปฅ ๏ปฃ๏บœ๏ป˜๏บŽ๏ปป ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ป”๏ป€๏บ” ๏ปฃ๏บŽ๏บ‹๏บ˜๏บŽ ๏บฉ๏บญ๏ปซ๏ปข ๏ปญ๏ปณ๏บ ๏บ ๏ป“๏ปด๏ปฌ๏ปค๏บŽ ุฑ๏บ‘๏ปŠ ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏บธ๏บฎ ๏ปญ๏ปฃ๏บŽ ๏บฏ๏บ๏บฉ ูุจุญุณุงุจู‡ ๏ปญ๏ปป ๏บ‘๏บช ููŠู‡ู…ุง ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บค๏ปฎ๏ป ๏บ๏ปป ๏ปฃ๏บŽ ๏บฃ๏บผ๏ปž ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปฃ๏ปŒ๏บช๏ปฅ ๏บƒ๏ปญ ๏บญ๏ป›๏บŽ๏บฏ ๏ป“๏ปด๏บจ๏บฎ๏บŸ๏ปฌ๏บŽ ๏บฃ๏บŽ๏ปป ๏ปญ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏ป›๏บŽ๏บฏ ๏บ๏ปŸ๏บจ๏ปค๏บฒ

    Adapun awal nisabnya kurma, anggur, tanaman (yang dapat menjadi kekuatan) adalah lima wasaq.

    Lima wasaq adalah tiga ratus shaโ€™ dengan shaโ€™nya rasululloh. Hasil panen dalam masa satu tahun apabila satu jenis maka dikumpulkan dalam menjumlah nishab dan menentukan kadar zakatnya. Satu jenis tanaman tidak dapat menyempurnakan pada jenis tanaman lain didalam menjumlah nisab. Tanaman wajib dizakati apabila sudah tampak baik dan bijinya sudah mengeras. Di dalam tanaman (kurma, anggur, tanaman yang dapat menguatkan) wajib mengeluarkan zakat sepersepuluhnya jika tanaman tersebut disiram dengan tanpa biaya. Dan wajib mengeluarkan zakat separuhnya sepersepuluh (seperdua puluh) jika tanaman tersebut disiram dengan adanya biaya.

    Dan apabila tanaman tersebut melebihi nisab maka lebihnya wajib dizakati sesuai kelebihannya. Namun apabila tanaman tersebut belum mencapai nisab maka tidak wajib dizakati kecuali untuk berbuat sunah (shodaqoh sunah). Adapun nisabnya emas adalah dua puluh mitsqol, sedangkan nisabnya perak adalah dua ratus dirham, dan didalam keduanya (emas dan perak) wajib mengeluarkan zakat sebesar seperempat sepersepuluh. Jika keduanya (emas dan perak) melebihi nisab maka lebihnya dizakati sesuai hitungan lebihnya. Dan didalam keduanya (emas dan perak) diharuskan mencapai satu tahun kecuali emas dan perak yang dihasilkan dari pertambangan (maโ€™dan) dan dari peninggalan jahiliyah (rikaz), oleh karena itu maka zakat keduanya (maโ€™dan dan rikaz) harus dikeluarkan seketika, sedangkan zakatnya adalah seperlima.

    ZAKAT PERDAGANGAN DAN ZAKAT FITRAH

    ๏ปญ๏บƒ๏ปฃ๏บŽ ๏บฏ๏ป›๏บŽ๏บ“ ๏บ๏ปŸ๏บ˜๏บ ๏บŽ๏บญ๏บ“ ๏ป“๏ปจ๏บผ๏บŽ๏บ‘๏ปฌ๏บŽ ๏ปง๏บผ๏บŽ๏บ ๏ปฃ๏บŽ ๏บ๏บท๏บ˜๏บฎ๏ปณ๏บ– ๏บ‘๏ปช ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏ป˜๏บช๏ปณ๏ปฆ ๏ปญ๏ปป ๏ปณ๏ปŒ๏บ˜๏บ’๏บฎ ๏บ๏ปป ๏บƒ๏บง๏บฎ ๏บ๏ปŸ๏บค๏ปฎ๏ป ๏ปญ๏ปณ๏บ ๏บ ููŠู‡ุง ๏บญ๏บ‘๏ปŠ ๏ป‹๏บธ๏บฎ ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ปด๏ปค๏บ” ๏ปญ๏ปฃ๏บŽ๏ป ๏บ๏ปŸ๏บจ๏ป ๏ปด๏ป„๏ปด๏ปฆ ๏บƒ๏ปญ ๏บ๏ปŸ๏บจ๏ป ๏ป„๏บŽ๏บ€ ๏ป›๏ปค๏บŽ๏ป ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปจ๏ป”๏บฎ๏บฉ ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บผ๏บŽ๏บ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บจ๏บฎ๏บ ๏บ๏บซ๏บ ๏ป›๏ปค๏ป ๏บ– ๏บท๏บฎ๏ปญ๏ป ๏บ๏ปŸ๏บจ๏ป ๏ป„๏บ” ๏ปญ๏บฏ๏ป›๏บŽ๏บ“ ๏บ๏ปŸ๏ป”๏ป„๏บฎ ๏บ—๏บ ๏บ ๏บ‘๏บŽ๏บฉ๏บญ๏บ๏ป™ ๏บŸ๏บฐ๏บ€ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บญ๏ปฃ๏ป€๏บŽ๏ปฅ ๏ปญ๏บŸ๏บฐ๏บ€ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บท๏ปฎ๏บ๏ป ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ป›๏ปž ๏ปฃ๏บด๏ป ๏ปข ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปง๏ป”๏ป˜๏บ˜๏ปฌ๏ปข ๏บ๏บซ๏บ ๏ป›๏บŽ๏ปง๏ปฎ๏บ ๏ปฃ๏บด๏ป ๏ปค๏ปด๏ปฆ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ป›๏ปž ๏ปญ๏บ๏บฃ๏บช ๏บป๏บŽ๏ป‰ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป๏บŽ๏ปŸ๏บ ๏ป—๏ปฎ๏บ• ๏บ๏ปŸ๏บ’๏ป ๏บช ๏บ๏บซ๏บ ๏ป“๏ป€๏ป ๏บ– ๏ป‹๏ปฆ ๏บฉ๏ปณ๏ปจ๏ปช ๏ปญ ๏ป›๏บด๏ปฎ๏บ—๏ปช ๏ปญ ๏ปฃ๏บด๏ปœ๏ปจ๏ปช ๏ปญ ๏ป—๏ปฎ๏บ• ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปง๏ป”๏ป˜๏บ˜๏ปฌ๏ปข ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏ปด๏บช ๏ปญ ๏ปŸ๏ปด๏ป ๏บ˜๏ปช ๏บ—๏บ ๏บ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏ปด๏บ” ๏ป“๏ปฐ ๏บŸ๏ปค๏ปด๏ปŠ ๏บƒ๏ปง๏ปฎ๏บ๏ป‰ ๏บ๏ปŸ๏บฐ๏ป›๏บŽ๏บ“ ๏บ‘๏ปŒ๏บช ๏บ๏ปป๏ป“๏บฎ๏บ๏บฏ ๏ปญ๏ปณ๏บ ๏บ ๏บป๏บฎ๏ป“๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏ปฐ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปญ๏บŸ๏บช ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏ป”๏ป˜๏บฎ๏บ๏บ€ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บด๏บŽ๏ป›๏ปด๏ปฆ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏บŽ๏ปฃ๏ป ๏ปด๏ปฆ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปฌ๏บŽ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บ†๏ปŸ๏ป”๏บ” ๏ป“๏ป ๏ปฎ๏บ‘๏ปฌ๏ปข ๏ปญูู‰ ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏ป—๏บŽ๏บ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ป๏บŽ๏บญ๏ปฃ๏ปด๏ปฆ ๏ปญ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บด๏บ’๏ปด๏ปž ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปญ๏บ๏บ‘๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บด๏บ’๏ปด๏ปž ๏ปญ๏ปป ๏ปณ๏บ ๏ปฎ๏บฏ ๏ปญ๏ปป ๏ปณ๏บ ๏บฐ๏ปฏ๏บ€ ๏บป๏บฎ๏ป“๏ปฌ๏บŽ ๏ปŸ๏ป๏ปด๏บฎ๏ปซ๏ปข

    Adapun nisabnya zakat dagangan adalah sesuai dengan sesuatu yang digunakan untuk membeli dagangan yakni dari emas dan perak (artinya nisabnya sesuai dengan nisabnya emas dan perak). Dan nisab tidak diperhitungkan kecuali di akhir tahun. Harta dagangan yang wajib dizakati adalah seperempatnya sepersepuluhnya harga dagangan. Harta yang bercampur yang dimiliki dua orang atau lebih, itu sama dengan milik satu orang dalam menentukan nisab dan kadar zakat yang dikeluarkan apabila sudah memenuhi syarat-syaratnya khiltah (pencampuran harta).

    Zakat badan (fitrah) wajib disebabkan menjumpai sebagian dari bulan ramadhan dan sebagian dari bulan sawal, atas setiap orang islam dan orang-orang yan menjadi kewajibanya memberi nafkah jika mereka islam. Dan setiap satu orang zakatnya adalah satu shaโ€™ dari makanan yang biasa dijadikan kekuatan dinegaranya (makanan pokok), apabila sudah melebihi dari bayar hutangnya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan dari makanan pokoknya orang-orang yang wajib dinafkahi disaat siang dan malamnya hari raya. Dan wajib berniat disemua macamnya zakat setelah dipisah.

    Wajib mengalokasikan zakat kepada orang yang ia jumpai dari orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat (amil zakat), orang yang lembutkan hatinya (muallaf), budak yang mukatab, pejuang dalam agama Alloh dan anak perjalanan (musafir). Tidak boleh dan tidak mencukupi mengalokasikan zakat kepada selain orang-orang tersebut.[alkhoirot.com]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูˆู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฌููˆุฒู ู„ู‡ ุงู„ููุทู’ุฑู

    ูŠูŽุฌูุจู ุตูŽูˆู’ู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ููุ› ูˆู„ุง ูŠูŽุตูุญูู‘ [ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูˆู„ุง ูŠูŽุฌููˆุฒู] ู…ูู†ู’ ุญุงุฆูุถู ูˆู†ูููŽุณุงุกูŽุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุงู„ู‚ูŽุถุงุกูุ› ูˆูŠูŽุฌููˆุฒู ุงู„ููุทู’ุฑู ู„ูู…ูุณุงููุฑู ุณูŽููŽุฑูŽ ู‚ูŽุตู’ุฑูุŒ ูˆุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุดูู‚ูŽู‘ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูุŒ [ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ูŽุถุงุกู]ุ› ูˆู„ู…ุฑููŠุถูุŒ ูˆุญุงู…ูู„ูุŒ ูˆู…ูุฑู’ุถูุนูุŒ [ู„ูƒูู†ูŽู‘ ุงู„ุซูŽู‘ู„ุงุซูŽุฉูŽ ุงู„ุฃูุฎูŽุฑูŽ ุฅุฐุง] ุดูŽู‚ูŽู‘ [ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู] ุนู„ูŠู‡ู… ู…ูŽุดูŽู‚ูŽู‘ุฉู‹ ู„ุง ุชูุญุชูŽู…ูŽู„ูุŒ [ุฃูˆ ุฎุงููŽุชู ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑูŽุชุงู†ู ุนู„ู‰ ู†ูŽูู’ุณูŽูŠู’ู‡ูู…ุง ุฃูˆ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูู…ุงุŒ ูŠูŽุฌููˆุฒู ู„ูŽู‡ูู…ู] ุงู„ููุทู’ุฑูุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ู‚ูŽุถุงุกูุŒ [ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุฅู†ู’ ุฃูŽูู’ุทูŽุฑูŽุชุง ุฎูŽูˆู’ูู‹ุง ุนู„ู‰ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูู…ุง ููŽู‚ูŽุทู’].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ููŽุฑุงุฆูุถู ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูˆุดูุฑููˆุทูู‡

    ูˆูŠูŽุฌูุจู ุงู„ุชูŽู‘ุจู’ูŠููŠุชู [ููŠ ุตููŠุงู…ู ุงู„ููŽุฑู’ุถูุŒ ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุบูุฑููˆุจู ูˆุงู„ููŽุฌู’ุฑู ุตููŠุงู…ูŽ ุบูŽุฏู]ุŒ ูˆุงู„ุชูŽู‘ุนู’ูŠูŠู†ู [ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุญู’ุถูุฑูŽ ููŠ ุฐูู‡ู’ู†ูู‡ู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุตููˆู…ู ุนูŽู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ุฃูˆ ู†ูŽุฐู’ุฑู ุฃูˆ ูƒูŽูู‘ุงุฑูŽุฉู ุฃูˆ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ุง] ููŠ ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู ู„ููƒูู„ูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ูุŒ ูˆุงู„ุฅู…ู’ุณุงูƒู ุนู†: ุงู„ุฌูู…ุงุนูุŒ ูˆุงู„ุงุณู’ุชูู…ู’ู†ุงุกู [ุฃูŠ ุงู„ุชูŽู‘ุณูŽุจูู‘ุจู ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง ุจูุฎูุฑููˆุฌู ู…ูŽู†ููŠูู‘ู‡ู ุจูู†ูŽุญู’ูˆู ู„ูŽู…ุณู]ุŒ ูˆุงู„ุงุณู’ุชูู‚ุงุกูŽุฉู [ุฃูŠ ุงู„ุชูŽู‘ุณูŽุจูู‘ุจู ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง ููŠ ุฎูŽุฑููˆุฌู ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุนูุฏูŽุชูู‡ู ุฅู„ู‰ ููŽู…ูู‡ู ุจูู†ูŽุญู’ูˆู ุฃูุตู’ุจูุนูู‡ู]ุŒ ูˆุนู† ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู [ุฃูŠ ุงู„ุฎูุฑููˆุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ุจูู‚ูŽูˆู’ู„ู ูƒููู’ุฑู ุฃูˆ ููุนู’ู„ู ูƒููู’ุฑู ุฃูˆ ุงุนู’ุชูู‚ุงุฏู ูƒููู’ุฑู]ุŒ ูˆุนูŽู†ู’ ุฏูุฎููˆู„ู ุนูŽูŠู’ู†ู ุฌูŽูˆู’ูู‹ุงุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฑููŠู‚ูŽู‡ู ุงู„ุฎุงู„ูุตูŽ ุงู„ุทู‘ุงู‡ูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุนู’ุฏูู†ูู‡ู [ุฃูŠ ู…ูŽูƒุงู†ู ูˆูุฌููˆุฏูู‡ู ุงู„ุฃูŽุตู’ู„ููŠูู‘ ูˆู‡ูˆ ููŽู…ูู‡ู].

    ูˆ[ูŠูุดู’ุชูŽุฑูŽุทู ู„ูุตูุญูŽู‘ุฉู ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู]: ุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูุฌูŽู†ูŽู‘ ูˆู„ูˆ ู„ูŽุญู’ุธูŽุฉู‹ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูุบู’ู…ูŽู‰ ุนู„ูŠู‡ ูƒูู„ูŽู‘ ุงู„ูŠูŽูˆู’ู…ู [ู…ูู†ูŽ ุงู„ููŽุฌู’ุฑู ุฅู„ู‰ ุงู„ุบูุฑููˆุจู]ุŒ

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู

    ูˆู„ุง ูŠูŽุตูุญูู‘ [ูˆู„ุง ูŠูŽุฌููˆุฒู] ุตูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุนููŠุฏูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆุฃูŠู‘ุงู…ู ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฑููŠู‚ูุŒ ูˆูƒูŽุฐุง ุงู„ู†ูู‘ุตู’ูู ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจุงู†ูŽ ูˆูŠูŽูˆู…ู ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘ุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฃู†ู’ ูŠูŽุตูู„ูŽู‡ู [ุฃูŠ ุงู„ู†ูู‘ุตู’ููŽ ุงู„ุฃุฎููŠุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุนุจุงู†ูŽุŒ ูˆูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘] ุจูู…ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ูุŒ ุฃูˆ [ูŠูŽุตููˆู…ูŽู‡ู] ู„ูู‚ูŽุถุงุกู ุฃูˆ ู†ูŽุฐู’ุฑู ุฃูˆ ูˆูุฑู’ุฏู [ูƒุงุนู’ุชููŠุงุฏู ุณูู†ูŽู‘ุฉู ุตูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆุงู„ุฎูŽู…ููŠุณู].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูู’ุณูŽุฏูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ุจูุฌูู…ุงุนู

    ูˆู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูู’ุณูŽุฏูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ูˆู„ุง ุฑูุฎู’ุตูŽุฉูŽ ู„ู‡ ููŠ ููุทู’ุฑูู‡ู ุจูุฌูู…ุงุนูุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุฅุซู’ู…ูุŒ ูˆุงู„ู‚ูŽุถุงุกู ููŽูˆู’ุฑู‹ุง [ุฃูŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนููŠุฏู ุงู„ููุทู’ุฑู]ุŒ ูˆูƒูŽูู‘ุงุฑุฉู ุธูู‡ุงุฑู [ูˆู‡ูŠ ุนูุชู’ู‚ู ุฑูŽู‚ูŽุจูŽุฉูุŒ ููŽุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุตููŠุงู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑูŽูŠู’ู†ู ู…ูุชูŽุชุงุจูุนูŽูŠู’ู†ูุŒ ููŽุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุชูŽู…ู’ู„ููŠูƒู ุณูุชูู‘ูŠู†ูŽ ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุง ู„ููƒูู„ูู‘ ูˆุงุญูุฏู ู…ูู„ู’ุกู ุงู„ูƒูŽููŽู‘ูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ุบุงู„ูุจู ู‚ููˆุชู ุงู„ุจูŽู„ูŽุฏู].

    Pasal: Orang yang Wajib Puasa dan yang Boleh Tidak Puasa

    Wajib puasa bulan Ramadan bagi setiap muslim mukalaf. Tidak sah dan tidak boleh puasa bagi wanita haid dan perempuan nifas. Wajib bagi keduanya mengqadha puasa yang ditinggalkan. Boleh tidak puasa bagi musafir dalam jarak qashar walaupun dia mampu berpuasa. Wajib baginya mengqadha. Juga bagi orang sakit, hamil dan menyusui akan tetapi ketiga orang ini boleh tidak puasa apabila tidak mampu untk puasa atau yang kedua terakhir takut pada dirinya atau pada anaknya. Boleh bagi mereka tidak puasa tapi wajib mengqadha. Wajib bagi dua orang terakhir membayar fidyah apabila tidak puasa karena mengkuatirkan anaknya saja.

    Pasal: Fardu dan Syarat Puasa

    Wajib niat puasa pada malam hari antara maghrib dan subuh untuk puasa besoknya. Dan menentukan yakni menghadirkan dalam hati untuk puasa Ramadan atau nadzar atau kafarat atau lainnya dalam niat setiap harinya. Menahan diri dari: jimak, bercumbu yaitu perbuatan yang menyebabkan keluarnya mani seperti menyentuh. Muntah yang disengaja yakni perbuatan yang sengaja dilakukan supaya muntah seperti dengan jari. Murtad yaitu keluar dari Islam dengan ucapan kufur, perbuatan kufur atau iโ€™tikad kufur. Dari masuknya benda ke rongga kecuali ludah yang bersih dan suci dari perut yaitu tempat asalnya yang asli yakni mulutnya.

    Disyaratkan untuk sahnya puasa: tidak gila walaupun sebentar, tidak epilepsi setiap hari dari subuh sampai maghrib.

    Pasal: Waktu Haram Puasa

    Tidak sah dan tidak boleh puasa pada dua hari raya, hari tasyriq, paruh akhir bulan Syaโ€™ban dan hari syak kecuali kalau bersambung yakni paruh akhir bulan Syaโ€™ban dan hari syak (hari ragu) dengan hari sebelumnya atau puasa untuk qadha, nadzar atau rutin seperti kebiasaan puasa sunnah senin dan kamis.

    Pasal: Orang yang Batal Puasa Ramadan karena Jimak

    Orang yang batal puasa Ramadan karena jimak sedangkan dia tidak ada keringanan untuk tidak puasa maka dia menanggung dosa dan harus segera mengqadha yakni setelah Idul Fitri dan membayar kafarat (tebusan) berupa memerdekakan budak, apabila tidak bisa maka puasa dua bulan berturut-turut, apabila tidak bisa maka memberi makan 60 orang miskin setiap orang sebanyak dua telapak tangan dari makanan pokok suatu tempat. [alkhoirot.com]

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูˆู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฌููˆุฒู ู„ู‡ ุงู„ููุทู’ุฑู

    ูŠูŽุฌูุจู ุตูŽูˆู’ู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ููุ› ูˆู„ุง ูŠูŽุตูุญูู‘ [ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูˆู„ุง ูŠูŽุฌููˆุฒู] ู…ูู†ู’ ุญุงุฆูุถู ูˆู†ูููŽุณุงุกูŽุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุงู„ู‚ูŽุถุงุกูุ› ูˆูŠูŽุฌููˆุฒู ุงู„ููุทู’ุฑู ู„ูู…ูุณุงููุฑู ุณูŽููŽุฑูŽ ู‚ูŽุตู’ุฑูุŒ ูˆุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุดูู‚ูŽู‘ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูุŒ [ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ูŽุถุงุกู]ุ› ูˆู„ู…ุฑููŠุถูุŒ ูˆุญุงู…ูู„ูุŒ ูˆู…ูุฑู’ุถูุนูุŒ [ู„ูƒูู†ูŽู‘ ุงู„ุซูŽู‘ู„ุงุซูŽุฉูŽ ุงู„ุฃูุฎูŽุฑูŽ ุฅุฐุง] ุดูŽู‚ูŽู‘ [ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู] ุนู„ูŠู‡ู… ู…ูŽุดูŽู‚ูŽู‘ุฉู‹ ู„ุง ุชูุญุชูŽู…ูŽู„ูุŒ [ุฃูˆ ุฎุงููŽุชู ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑูŽุชุงู†ู ุนู„ู‰ ู†ูŽูู’ุณูŽูŠู’ู‡ูู…ุง ุฃูˆ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูู…ุงุŒ ูŠูŽุฌููˆุฒู ู„ูŽู‡ูู…ู] ุงู„ููุทู’ุฑูุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ู‚ูŽุถุงุกูุŒ [ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุฅู†ู’ ุฃูŽูู’ุทูŽุฑูŽุชุง ุฎูŽูˆู’ูู‹ุง ุนู„ู‰ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูู…ุง ููŽู‚ูŽุทู’].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ููŽุฑุงุฆูุถู ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูˆุดูุฑููˆุทูู‡

    ูˆูŠูŽุฌูุจู ุงู„ุชูŽู‘ุจู’ูŠููŠุชู [ููŠ ุตููŠุงู…ู ุงู„ููŽุฑู’ุถูุŒ ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุบูุฑููˆุจู ูˆุงู„ููŽุฌู’ุฑู ุตููŠุงู…ูŽ ุบูŽุฏู]ุŒ ูˆุงู„ุชูŽู‘ุนู’ูŠูŠู†ู [ุจูุฃู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุญู’ุถูุฑูŽ ููŠ ุฐูู‡ู’ู†ูู‡ู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุตููˆู…ู ุนูŽู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ุฃูˆ ู†ูŽุฐู’ุฑู ุฃูˆ ูƒูŽูู‘ุงุฑูŽุฉู ุฃูˆ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ุง] ููŠ ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู ู„ููƒูู„ูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ูุŒ ูˆุงู„ุฅู…ู’ุณุงูƒู ุนู†: ุงู„ุฌูู…ุงุนูุŒ ูˆุงู„ุงุณู’ุชูู…ู’ู†ุงุกู [ุฃูŠ ุงู„ุชูŽู‘ุณูŽุจูู‘ุจู ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง ุจูุฎูุฑููˆุฌู ู…ูŽู†ููŠูู‘ู‡ู ุจูู†ูŽุญู’ูˆู ู„ูŽู…ุณู]ุŒ ูˆุงู„ุงุณู’ุชูู‚ุงุกูŽุฉู [ุฃูŠ ุงู„ุชูŽู‘ุณูŽุจูู‘ุจู ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง ููŠ ุฎูŽุฑููˆุฌู ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุนูุฏูŽุชูู‡ู ุฅู„ู‰ ููŽู…ูู‡ู ุจูู†ูŽุญู’ูˆู ุฃูุตู’ุจูุนูู‡ู]ุŒ ูˆุนู† ุงู„ุฑูู‘ุฏูŽู‘ุฉู [ุฃูŠ ุงู„ุฎูุฑููˆุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ุจูู‚ูŽูˆู’ู„ู ูƒููู’ุฑู ุฃูˆ ููุนู’ู„ู ูƒููู’ุฑู ุฃูˆ ุงุนู’ุชูู‚ุงุฏู ูƒููู’ุฑู]ุŒ ูˆุนูŽู†ู’ ุฏูุฎููˆู„ู ุนูŽูŠู’ู†ู ุฌูŽูˆู’ูู‹ุงุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฑููŠู‚ูŽู‡ู ุงู„ุฎุงู„ูุตูŽ ุงู„ุทู‘ุงู‡ูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุนู’ุฏูู†ูู‡ู [ุฃูŠ ู…ูŽูƒุงู†ู ูˆูุฌููˆุฏูู‡ู ุงู„ุฃูŽุตู’ู„ููŠูู‘ ูˆู‡ูˆ ููŽู…ูู‡ู].

    ูˆ[ูŠูุดู’ุชูŽุฑูŽุทู ู„ูุตูุญูŽู‘ุฉู ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู]: ุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูุฌูŽู†ูŽู‘ ูˆู„ูˆ ู„ูŽุญู’ุธูŽุฉู‹ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูุบู’ู…ูŽู‰ ุนู„ูŠู‡ ูƒูู„ูŽู‘ ุงู„ูŠูŽูˆู’ู…ู [ู…ูู†ูŽ ุงู„ููŽุฌู’ุฑู ุฅู„ู‰ ุงู„ุบูุฑููˆุจู]ุŒ

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุตูŽูˆู’ู…ูู‡ู

    ูˆู„ุง ูŠูŽุตูุญูู‘ [ูˆู„ุง ูŠูŽุฌููˆุฒู] ุตูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุนููŠุฏูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆุฃูŠู‘ุงู…ู ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฑููŠู‚ูุŒ ูˆูƒูŽุฐุง ุงู„ู†ูู‘ุตู’ูู ุงู„ุฃูŽุฎููŠุฑู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจุงู†ูŽ ูˆูŠูŽูˆู…ู ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘ุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฃู†ู’ ูŠูŽุตูู„ูŽู‡ู [ุฃูŠ ุงู„ู†ูู‘ุตู’ููŽ ุงู„ุฃุฎููŠุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุนุจุงู†ูŽุŒ ูˆูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘] ุจูู…ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ูุŒ ุฃูˆ [ูŠูŽุตููˆู…ูŽู‡ู] ู„ูู‚ูŽุถุงุกู ุฃูˆ ู†ูŽุฐู’ุฑู ุฃูˆ ูˆูุฑู’ุฏู [ูƒุงุนู’ุชููŠุงุฏู ุณูู†ูŽู‘ุฉู ุตูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆุงู„ุฎูŽู…ููŠุณู].

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูู’ุณูŽุฏูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ุจูุฌูู…ุงุนู

    ูˆู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูู’ุณูŽุฏูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถุงู†ูŽ ูˆู„ุง ุฑูุฎู’ุตูŽุฉูŽ ู„ู‡ ููŠ ููุทู’ุฑูู‡ู ุจูุฌูู…ุงุนูุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุฅุซู’ู…ูุŒ ูˆุงู„ู‚ูŽุถุงุกู ููŽูˆู’ุฑู‹ุง [ุฃูŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนููŠุฏู ุงู„ููุทู’ุฑู]ุŒ ูˆูƒูŽูู‘ุงุฑุฉู ุธูู‡ุงุฑู [ูˆู‡ูŠ ุนูุชู’ู‚ู ุฑูŽู‚ูŽุจูŽุฉูุŒ ููŽุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุตููŠุงู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑูŽูŠู’ู†ู ู…ูุชูŽุชุงุจูุนูŽูŠู’ู†ูุŒ ููŽุฅู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุชูŽู…ู’ู„ููŠูƒู ุณูุชูู‘ูŠู†ูŽ ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุง ู„ููƒูู„ูู‘ ูˆุงุญูุฏู ู…ูู„ู’ุกู ุงู„ูƒูŽููŽู‘ูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ุบุงู„ูุจู ู‚ููˆุชู ุงู„ุจูŽู„ูŽุฏู].

    Pasal: Orang yang Wajib Puasa dan yang Boleh Tidak Puasa

    Wajib puasa bulan Ramadan bagi setiap muslim mukalaf. Tidak sah dan tidak boleh puasa bagi wanita haid dan perempuan nifas. Wajib bagi keduanya mengqadha puasa yang ditinggalkan. Boleh tidak puasa bagi musafir dalam jarak qashar walaupun dia mampu berpuasa. Wajib baginya mengqadha. Juga bagi orang sakit, hamil dan menyusui akan tetapi ketiga orang ini boleh tidak puasa apabila tidak mampu untk puasa atau yang kedua terakhir takut pada dirinya atau pada anaknya. Boleh bagi mereka tidak puasa tapi wajib mengqadha. Wajib bagi dua orang terakhir membayar fidyah apabila tidak puasa karena mengkuatirkan anaknya saja.

    Pasal: Fardu dan Syarat Puasa

    Wajib niat puasa pada malam hari antara maghrib dan subuh untuk puasa besoknya. Dan menentukan yakni menghadirkan dalam hati untuk puasa Ramadan atau nadzar atau kafarat atau lainnya dalam niat setiap harinya. Menahan diri dari: jimak, bercumbu yaitu perbuatan yang menyebabkan keluarnya mani seperti menyentuh. Muntah yang disengaja yakni perbuatan yang sengaja dilakukan supaya muntah seperti dengan jari. Murtad yaitu keluar dari Islam dengan ucapan kufur, perbuatan kufur atau iโ€™tikad kufur. Dari masuknya benda ke rongga kecuali ludah yang bersih dan suci dari perut yaitu tempat asalnya yang asli yakni mulutnya.

    Disyaratkan untuk sahnya puasa: tidak gila walaupun sebentar, tidak epilepsi setiap hari dari subuh sampai maghrib.

    Pasal: Waktu Haram Puasa

    Tidak sah dan tidak boleh puasa pada dua hari raya, hari tasyriq, paruh akhir bulan Syaโ€™ban dan hari syak kecuali kalau bersambung yakni paruh akhir bulan Syaโ€™ban dan hari syak (hari ragu) dengan hari sebelumnya atau puasa untuk qadha, nadzar atau rutin seperti kebiasaan puasa sunnah senin dan kamis.

    Pasal: Orang yang Batal Puasa Ramadan karena Jimak

    Orang yang batal puasa Ramadan karena jimak sedangkan dia tidak ada keringanan untuk tidak puasa maka dia menanggung dosa dan harus segera mengqadha yakni setelah Idul Fitri dan membayar kafarat (tebusan) berupa memerdekakan budak, apabila tidak bisa maka puasa dua bulan berturut-turut, apabila tidak bisa maka memberi makan 60 orang miskin setiap orang sebanyak dua telapak tangan dari makanan pokok suatu tempat. [alkhoirot.com]

    BAB HAJI DAN UMRAH

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ูŽู† ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุญูŽุฌูู‘ ูˆุงู„ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู

    ูŠูŽุฌูุจู ุงู„ุญูŽุฌูู‘ ูˆุงู„ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู ููŠ ุงู„ุนูู…ู’ุฑู ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ูุŒ ุงู„ุญูุฑูู‘ุŒ ุงู„ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ููุŒ ุงู„ู…ูุณู’ุชูŽุทููŠุนู ุจูู…ุง ูŠููˆุตูู„ูู‡ู ูˆูŠูŽุฑูุฏูู‘ู‡ู ุฅู„ู‰ ูˆูŽุทูŽู†ูู‡ูุŒ ูุงุถูู„ู‹ุง ุนู† ุฏูŽูŠู’ู†ูู‡ูุŒ ูˆู…ูŽุณู’ูƒูŽู†ูู‡ู ูˆูƒูุณู’ูˆูŽุชูู‡ู ุงู„ู„ู‘ุงุฆูู‚ูŽูŠู’ู†ู ุจูู‡ูุŒ ูˆู…ูุคู’ู†ูŽุฉู ู…ูŽู†ู’ ุนู„ูŠู‡ ู…ูุคู’ู†ูŽุชูู‡ู ู…ูุฏูŽู‘ุฉูŽ ุฐูŽู‡ุงุจูู‡ู ูˆุฅูŠุงุจูู‡ู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุญูŽุฌูู‘ ูˆุงู„ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู

    ูˆุฃุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุญูŽุฌูู‘: ุงู„ุฅุญู’ุฑุงู…ู [ุจูุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู: โ€œุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ููŠ ุนูŽู…ูŽู„ู ุงู„ุญูŽุฌูู‘โ€]ุŒ ูˆุงู„ูˆูู‚ููˆูู ุจูุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽุŒ ูˆุงู„ุทูŽู‘ูˆุงูู ุจูุงู„ุจูŽูŠู’ุชูุŒ ูˆุงู„ุณูŽู‘ุนู’ูŠู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ูุง ูˆุงู„ู…ูŽุฑู’ูˆูŽุฉูุŒ ูˆุงู„ุญูŽู„ู’ู‚ู ุฃูˆ ุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ุตููŠุฑู [ูˆุฃูŽู‚ูŽู„ูู‘ู‡ู ู„ูุซูŽู„ุงุซู ุดูŽุนูŽุฑุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุฃู’ุณู]ุŒ ูˆู‡ูŠ [ุฃูŠ ุงู„ุฃูŽุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ู…ูŽุฐู’ูƒููˆุฑูŽุฉู] ุฅู„ู‘ุง ุงู„ูˆูู‚ููˆููŽ ุฃุฑู’ูƒุงู†ู ุงู„ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู. ูˆู„ู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ุฃุฑู’ูƒุงู†ู ููุฑููˆุถูŒ ูˆุดูุฑููˆุทูŒ ู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู…ูู†ู’ ู…ูุฑุงุนุงุชูู‡ุง.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูุญู’ุฑูู…ู ูˆุงู„ู…ูุญู’ุฑูู…ูŽุฉู

    ูˆุญูŽุฑูู…ูŽ ุนู„ู‰ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุฑูŽู…ูŽ: ุทููŠุจูŒ [ูƒูŽุนูุทู’ุฑู]ุŒ ูˆุฏูŽู‡ู’ู†ู ุฑูŽุฃู’ุณู ูˆู„ูุญู’ูŠูŽุฉู [ุจูุฒูŽูŠู’ุชู ูˆู†ูŽุญู’ูˆูู‡ู]ุŒ
    ูˆุฅุฒุงู„ูŽุฉู ุธููู’ุฑู ูˆุดูŽุนู’ุฑูุŒ ูˆุฌูู…ุงุนูŒ ูˆู…ูู‚ูŽุฏูู‘ู…ุงุชูู‡ู [ูƒูŽุชูŽู‚ู’ุจููŠู„ู ุจูุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู]ุŒ ูˆุนูŽู‚ู’ุฏู ู†ููƒุงุญู [ู„ูŽู‡ู ูˆู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽู†ู’ุนูŽู‚ูุฏู]ุŒ ูˆุงุตู’ุทููŠุงุฏู ุตูŽูŠู’ุฏู ู…ูŽุฃู’ูƒููˆู„ู ุจูŽุฑูู‘ูŠูู‘ [ูˆูŽุญู’ุดููŠูู‘]ุŒ ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ูŽ] ุนู„ู‰ [ุงู„ู€]ู€ุฑูŽุฌูู„ู ุณูŽุชู’ุฑู ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ูุŒ ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุนู„ู‰ ุงู„ุฑูŽุฌูู„ู] ู„ูุจู’ุณู ู…ูุญููŠุทู ุจูู‡ูุŒ ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุนู„ูŠู‡ุง [ุฃูŠ ุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู] ุณูŽุชู’ุฑู ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ุงุŒ ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ู„ูุจู’ุณู] ู‚ููู‘ุงุฒู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุจูููุนู’ู„ู ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ุงุชู ุงู„ุฅุญู’ุฑุงู…ู

    ููŽู…ูŽู†ู’ ููŽุนูŽู„ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูู†ู’ ู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ุงุชู ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุฅุซู’ู…ูุŒ ูˆุงู„ูƒูŽูู‘ุงุฑูŽุฉูุŒ [ุฃูŠ ุงู„ููุฏู’ูŠูŽุฉูุŒ ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ุนูŽู‚ู’ุฏู ุงู„ุฒูŽู‘ูˆุงุฌู]ุ› ูˆูŠูŽุฒููŠุฏู ุงู„ุฌูู…ุงุนู ุจูุงู„ุฅูู’ุณุงุฏูุŒ ูˆูˆูุฌููˆุจู ุงู„ู‚ูŽุถุงุกู ููŽูˆู’ุฑู‹ุง [ุฃูŠ ุจูู„ุง ุชูŽุฃู’ุฎููŠุฑู] ุŒ ูˆุฅุชู’ู…ุงู…ู ุงู„ูุงุณูุฏู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ูˆุงุฌูุจุงุชู ุงู„ุญูŽุฌูู‘ ูˆุงู„ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู

    ูˆูŠูŽุฌูุจู [ููŠ ุงู„ุญูŽุฌูู‘ ูˆุงู„ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู]: ุฃู†ู’ ูŠูุญุฑูู…ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ููŠู‚ุงุชูุ› ูˆ[ูŠูŽุฌูุจู] ููŠ ุงู„ุญูŽุฌูู‘:
    ู…ูŽุจููŠุชู ู…ูุฒู’ุฏูŽู„ูููŽุฉูŽ [ู„ูŽุญู’ุธูŽุฉู‹ ููŠ ุงู„ู†ูู‘ุตู’ูู ุงู„ุซู‘ุงู†ูŠ ู…ูู†ู’ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ุนููŠุฏู]ุŒ ูˆ[ู…ูŽุจููŠุชู] ู…ูู†ู‹ู‰ [ุฃูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ู†ูุตู’ูู ูƒูู„ูู‘ ู…ูู†ู’ ู„ูŽูŠุงู„ูŠ ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฑููŠู‚ู] ุŒ ูˆุฑูŽู…ู’ูŠู ุฌูŽู…ู’ุฑูŽุฉู ุงู„ุนูŽู‚ูŽุจูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุญู’ุฑู [ุฃูŠ ุงู„ุนููŠุฏู] ุŒ
    ูˆุฑูŽู…ู’ูŠู ุงู„ุฌูู…ุงุฑู ุงู„ุซูŽู‘ู„ุงุซู ุฃูŠู‘ุงู…ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฑููŠู‚ูุŒ ูˆุทูŽูˆุงูู ุงู„ูˆูŽุฏุงุนู.

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุญููƒู’ู…ู ุตูŽูŠู’ุฏู ุงู„ุญูŽุฑูŽู…ูŽูŠู’ู†ู ูˆู†ูŽุจุงุชูู‡ูู…ุง

    ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุตูŽูŠู’ุฏู ุงู„ุญูŽุฑูŽู…ูŽูŠู’ู†ู [ุงู„ู…ูŽูƒูู‘ูŠูู‘ ูˆุงู„ู…ูŽุฏูŽู†ููŠูู‘]ุŒ ูˆ[ู‚ูŽุทู’ุนู] ู†ูŽุจุงุชูู‡ูู…ุงุŒ ุนู„ู‰ ู…ูุญู’ุฑูู…ู ูˆุญูŽู„ุงู„ู [ุฃูŠ ุบูŠุฑู ู…ูุญู’ุฑูู…ู]ุŒ ูˆุชูŽุฒููŠุฏู ู…ูŽูƒูŽู‘ุฉู [ุงู„ู…ููƒูŽุฑูŽู‘ู…ูŽุฉู] ุจููˆูุฌููˆุจู ุงู„ููุฏู’ูŠูŽุฉู.

    Haji dan umrah seumur hidup sekali diwajibkan bagi orang muslim merdeka lagi mukallaf dengan sesuatu yang menyampaikan dan mengembalikannya menuju daerah asalnya setelah adanya kelebihan dari hutang, tempat dan pakaiannya yang layak juga menghidupi seseorang yang masih dalam tanggungannya semasa ia pergi dan sekembalinya.

    Rukun Haji ada Lima dan Rukun Umrah

    Sedangkan yang menjadikan rukun haji ialah sebagai berikut :

    1. Ihram
    2. Wukuf di Arafah.
    3. Thawaf di Baitullah.
    4. Saโ€™i antara Shafa dan Marwah.
    5. Mencukur dan menggunting rambut.

    Lima rukun selain wukuf adalah beberapa rukunnya umrah, dan rukun ini adalah kewajiban dan syarat yang wajib dijaga.

    Yang Haram bagi Pelaku Ihram Haji dan Umrah

    Yang diharamkan bagi orang yang berihram :

    1 . Memakai minyak wangi, minyak rambut, jenggot.
    2. Menghilangkan kuku serta rambut.
    3. Bersetubuh, dan hal-hal yang memulai persetuhuhan, melaksanakan akad nikah.
    4. Membunuh hewan darat yang dapai dimakan.
    5. Bagi lelaki diharamkan menutup kepala dan memakai pakaian berjahit, juga bagi perempuan menutup wajahnya dan memakai kaos tangan.

    Hukum Pelaku Pelanggaran Haji dan Umroh

    Siapa yang melakukan sesuatu yang telah diharamkan, maka ia berdosa baginya dan harus membayar kafarah.

    Sedangkan jimaโ€™ (bersetubuh) adalah lebih merusak dan segera wajih mengqadhaโ€™ serta menyempurnakan yang lelah rusak.

    Wajib Haji dan Umroh

    1. Kewajiban ihram ialah dari miqat.
    2. dan kewajiban haji ialah menginap di Muzdalifah dan Mina,
    3. juga melempar jumrah aqabah pada hari raya kurban,
    4. melempar jumrah tiga kali pada hari tasyriq,
    5. dan thawaf wadaโ€™.

    Hukum Berburu Binatang di Makkah dan Madinah

    Diharamkan bagi orang yang ihram dan orang yang bukan ihram membunuh binatang dan merusak tumbuhan di dua tempal tanah haram (Mekkah dan Madinah), lebih-lebih di tanah Mekkah dengan kewajiban membayar fidyah (tebusan).[alkhoirot.org]

    ***

    DALIL HAJI DAN UMROH

    DALIL HAJI

    โ€“ QS Ali Imron 3:97

    ูˆู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุญุฌ ุงู„ุจูŠุช ู…ู† ุงุณุชุทุงุน ุฅู„ูŠู‡ ุณุจูŠู„ุง

    Artinya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

    โ€“ Hadits sahih riwayat Bukhori dan Muslim (muttafaq alaih)

    ุจู†ูŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฎู…ุณ : ุดู‡ุงุฏุฉ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃู† ู…ุญู…ุฏุงู‹ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฅู‚ุงู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฅูŠุชุงุก ุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆุตูˆู… ุฑู…ุถุงู† ูˆุญุฌ ุงู„ุจูŠุช ู…ู† ุงุณุชุทุงุน ุฅู„ูŠู‡ ุณุจูŠู„ุง

    Artinya: Islam dibangun atas lima hal: Dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, haji ke Baitullah bagi yang mampu.

    DALIL UMROH

    Surat Al-Baqarah Ayat 158

    ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุตูŽู‘ููŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ูˆูŽุฉูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุนูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฌูŽู‘ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชูŽ ุฃูŽูˆู ุงุนู’ุชูŽู…ูŽุฑูŽ ููŽู„ุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุทูŽู‘ูˆูŽู‘ููŽ ุจูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆูŽู‘ุนูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุดูŽุงูƒูุฑูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ

    Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiโ€™ar Allah[102]. Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-โ€˜umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan saโ€™i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri[104] kebaikan lagi Maha mengetahui.

    Ayat Quran Tentang Umrah Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 196 :

    ูˆูŽุฃูŽุชูู…ูู‘ูˆุง ุงู„ู’ุญูŽุฌูŽู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู…ู’ุฑูŽุฉูŽ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุฃูุญู’ุตูุฑู’ุชูู…ู’ ููŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽูŠู’ุณูŽุฑูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ูŠู ูˆูŽู„ุง ุชูŽุญู’ู„ูู‚ููˆุง ุฑูุกููˆุณูŽูƒูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุจู’ู„ูุบูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู…ูŽุญูู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุฑููŠุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุจูู‡ู ุฃูŽุฐู‹ู‰ ู…ูู†ู’ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ููŽููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุตููŠูŽุงู…ู ุฃูŽูˆู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ู†ูุณููƒู ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู…ูู†ู’ุชูู…ู’ ููŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽู…ูŽุชูŽู‘ุนูŽ ุจูุงู„ู’ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุฌูู‘ ููŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽูŠู’ุณูŽุฑูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ูŠู ููŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฏู’ ููŽุตููŠูŽุงู…ู ุซูŽู„ุงุซูŽุฉู ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฌูู‘ ูˆูŽุณูŽุจู’ุนูŽุฉู ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฌูŽุนู’ุชูู…ู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉูŒ ูƒูŽุงู…ูู„ูŽุฉูŒ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ุญูŽุงุถูุฑููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุงุจู

    dan sempurnakanlah ibadah haji dan โ€˜umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban[120] yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu[121], sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan โ€˜umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.

    Hadits tersebut adalah:

    ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: ุงู„ุนู…ุฑุฉู ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู…ุฑุฉู ูƒููŽู‘ุงุฑูŽุฉูŒ ู„ู…ูŽุง ุจูŠู†ูŽู‡ู…ูŽุง ุŒ ูˆุงู„ุญุฌูู‘ ุงู„ู…ุจุฑูˆุฑู ู„ูŠุณูŽ ู„ู‡ู ุฌุฒุงุกูŒ ุฅู„ุง ุงู„ุฌู†ูŽู‘ุฉู

    Dari Abu Hurairah radhiallahuโ€™anhu, Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda, โ€œIbadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surgaโ€ (HR al-Bukhari dan Muslim).[alkhoirot.com]

    Fikih Muamalah

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ููŠ ุงู„ู…ูุนุงู…ูŽู„ุงุชู ูˆุงู„ุฃูŽู†ู’ูƒูุญูŽุฉู

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู ุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ูŽ ููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ู…ุง ุฃูŽุญูŽู„ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆู…ุง ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽุ› ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุจูŽู‘ุฏูŽู†ุง [ุฃูŠ ูƒูŽู„ูŽู‘ููŽู†ุง] ุจูุฃูŽุดู’ูŠุงุกูŽ ููŽู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู…ูู†ู’ ู…ูุฑุงุนุงุฉู ู…ุง ุชูŽุนูŽุจูŽู‘ุฏูŽู†ุง ุจูู‡ู.

    ูˆู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุญูŽู„ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุจูŽูŠู’ุนูŽ ูˆุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ุฑูู‘ุจุงุŒ ูˆู‚ูŽุฏู’ ู‚ูŽูŠูŽู‘ุฏูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนู ู‡ุฐุง ุงู„ุจูŽูŠู’ุนูŽุŒ ุงู„ู…ูุนูŽุฑูŽู‘ููŽ ุจูุขู„ูŽุฉู ุงู„ุชูŽู‘ุนู’ุฑูŠููุŒ ุจูู‚ููŠููˆุฏู ูˆุดูุฑููˆุทู ูˆุฃุฑู’ูƒุงู†ู ู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู…ูู†ู’ ู…ูุฑุงุนุงุชูู‡ุงุŒ ููŽุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฑุงุฏูŽ ุงู„ุจูŽูŠู’ุนูŽ ูˆุงู„ุดูู‘ุฑุงุกูŽ ุฃู†ู’ ูŠูŽุชูŽุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฐูฐู„ูƒุŒ ูˆุฅู„ู‘ุง ุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ุงู„ุฑูู‘ุจุงุŒ ุดุงุกูŽ ุฃู…ู’ ุฃูŽุจูŽู‰ุŒ

    ูˆู‚ูŽุฏู’ ู‚ุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ยซุงู„ุชู‘ุงุฌูุฑู ุงู„ุตูŽู‘ุฏููˆู‚ู ูŠูุญู’ุดูŽุฑู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู‚ููŠุงู…ูŽุฉู ู…ูŽุนูŽ [ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ูŠู†ูŽ ูˆ]ุงู„ุตูู‘ุฏูู‘ูŠู‚ููŠู†ูŽ ูˆุงู„ุดูู‘ู‡ูŽุฏุงุกูยป [ุฑูŽูˆุงู‡ู ุงู„ุชูู‘ุฑู’ู…ูุฐููŠูู‘ ูˆุตูŽุญูŽู‘ุญูŽู‡ู]ุŒ ูˆู…ุง ุฐุงูƒูŽ ุฅู„ู‘ุง ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ู…ุง ูŠูŽู„ู’ู‚ุงู‡ู ู…ูู†ู’ ู…ูุฌุงู‡ูŽุฏูŽุฉู ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ูˆู‡ูŽูˆุงู‡ู ูˆู‚ูŽู‡ู’ุฑูู‡ูู…ุง ุนู„ู‰ ุฅุฌู’ุฑุงุกู ุงู„ุนูู‚ููˆุฏู ุนู„ู‰ ู…ุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‡ู [ุฃูŠ ุงู„ุทูŽู‘ุฑููŠู‚ู ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนููŠูู‘]ุŒ ูˆุฅู„ู‘ุง ููŽู„ุง ูŠูŽุฎู’ููŽู‰ ู…ุง ุชูŽูˆูŽุนูŽู‘ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู [ุจูู‡ู] ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุนูŽุฏูŽู‘ู‰ ุงู„ุญูุฏููˆุฏูŽุ› ุซูู…ูŽู‘ ุฅู†ูŽู‘ ุจูŽู‚ููŠูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ุนูู‚ููˆุฏูุŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุฌุงุฑูŽุฉู ูˆุงู„ู‚ูุฑุงุถู ูˆุงู„ุฑูŽู‘ู‡ู’ู†ู ูˆุงู„ูˆูŽูƒุงู„ูŽุฉู ูˆุงู„ูˆูŽุฏููŠุนูŽุฉู ูˆุงู„ุนุงุฑููŠูŽู‘ุฉู ูˆุงู„ุดูŽู‘ุฑููƒูŽุฉู ูˆุงู„ู…ูุณุงู‚ุงุฉู ูˆุบูŽูŠู’ุฑูู‡ุงุŒ ูƒูŽุฐูฐู„ูƒ ู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู…ูู†ู’ ู…ูุฑุงุนุงุฉู ุดูุฑููˆุทูู‡ุง ูˆุฃุฑู’ูƒุงู†ูู‡ุง.
    ูˆุนูŽู‚ู’ุฏู ุงู„ู†ูู‘ูƒุงุญู ูŠูŽุญู’ุชุงุฌู ุฅู„ู‰ ู…ูŽุฒููŠุฏู ุงุญู’ุชููŠุงุทู ูˆุชูŽุซูŽุจูู‘ุชู ุญูŽุฐูŽุฑู‹ุง ู…ูู…ู‘ุง ูŠูŽุชูŽุฑูŽุชูŽู‘ุจู ุนู„ู‰ ููŽู‚ู’ุฏู ุฐูฐู„ูƒ

    Bagi orang muslim mukallaf berkewajiban mendalami sesuatu sampai mengetahui perkara yang telah dihalalkan Allah swt. dan yang diharamkan oleh-Nya, karena sesungguhnya Allah swt. membebankan perkara-perkara yang kita wajib menjaganya. Dan sesungguhnya Allah swt. telah meng halalkan jual beli dan mengharamkan rihaโ€™. Syaraโ€™ telah memberikan ketentuan perundang-undangan, persyaratan serta beberapa rukun yang wajib memeliharanya, maka seseorang yang menghendaki akad jual beli seharusnya mengetahui ketentuan itu, jika ia tidak mengetahuinya niscaya ia akan memakan harta ribaโ€™ dengan semaunya.

    Rasulullah saw. telah bersabda : โ€œPedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang jujur, para syuhada pada hari kiamatโ€.(HR Tirmidzi, sahih). Tidaklah dikumpulkan melainkan karena jihad melawan hawa nafsunya dan memaksanya atas terlaksananya ketentuan yang diterapkan oleh Allah swt. jika tidak memenuhi ketentuan-Nya maka jelaslah janji Allah swt. terhadap orang yang melanggarnya. Sesungguhnya akad ijarah, qirad, gadai, wakalah, wadiโ€™ah, ariyah, syirkah (serikat, kongsi). musaqat serta lainnya tetap menjaga syarat dan rukunnya, begitu pula akad nikah yang butuh lebih berhati-hati dan lebih terfokus karena khawatir akan tak terpenuhinya syarat dan rukun itu. [alkhoirot.org]

    Larangan dalam Jual Beli

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ู…ูŽู†ู’ู‡ููŠู‘ุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุจููŠููˆุนู

    ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุงู„ุฑูู‘ุจุง ููุนู’ู„ูู‡ู ูˆุฃูŽูƒู’ู„ูู‡ู ูˆุฃูŽุฎู’ุฐูู‡ู ูˆูƒูุชุงุจูŽุชูู‡ู ูˆุดูŽู‡ุงุฏูŽุชูู‡ู ูˆุญููŠู’ู„ูŽุชูู‡ูุŒ ูˆู‡ูˆ [ุฃูŽู†ู’ูˆุงุนูŒ ู…ูู†ู‡ุง]: ุจูŽูŠู’ุนู ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุฏูŽูŠู’ู†ู ุจูุงู„ุขุฎูŽุฑู ู†ูŽุณููŠุฆูŽุฉู‹ [ุฃูŠ ู„ูุฃูŽุฌูŽู„ู]ุŒ ุฃูˆ [ุจูŽูŠู’ุนู ุฃุญูŽุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุฏูŽูŠู’ู†ู ุจูุงู„ุขุฎูŽุฑู] ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุชูŽู‚ุงุจูุถู [ููŠ ู…ูŽุฌู’ู„ูุณู ุงู„ุนูŽู‚ู’ุฏู ูˆู„ูŽูˆู’ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุงุดู’ุชูุฑุงุทู ุฃูŽุฌูŽู„ู]ุŒ ุฃูˆ [ุจูŽูŠู’ุนู ุฃุญูŽุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุฏูŽูŠู’ู†ู] ุจูุฌูู†ู’ุณูู‡ู ูƒูŽุฐูฐู„ูƒ [ุฃูŠ ู†ูŽุณููŠุฆูŽุฉู‹ ุฃูˆ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุชูŽู‚ุงุจูุถู] ุŒ ุฃูˆ [ุจูŽูŠู’ุนู ุฃุญูŽุฏู ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุฏูŽูŠู’ู†ู ุจูุฌูู†ู’ุณูู‡ู] ู…ูุชูŽูุงุถูู„ู‹ุง [ุจูุงู„ูˆูŽุฒู’ู†ู]ุŒ

    ูˆ[ุจูŽูŠู’ุนู] ุงู„ู…ูŽุทู’ุนููˆู…ุงุชู ุจูŽุนู’ุถูู‡ุง ุจูุจูŽุนู’ุถู ูƒูŽุฐูฐู„ูƒ [ุฃูŠ ู†ูŽุณููŠุฆูŽุฉู‹ ุฃูˆ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุชูŽู‚ุงุจูุถู ูˆู„ูŽูˆู’ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุฌูู†ู’ุณูู‡ูุŒ ูˆู…ูุชูŽูุงุถูู„ู‹ุง ุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ุจูุฌูู†ู’ุณูู‡ู] ุ› ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู ู…ุง ู„ู… ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู’ู‡ูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ุงู„ู„ูŽู‘ุญู’ู…ู ุจูุงู„ุญูŽูŠูŽูˆุงู†ูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ู ุจูุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ููุถููˆู„ูŠูู‘ [ูˆู‡ูˆ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠุนู ู…ุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ุนู„ูŠู‡ ู…ูู„ู’ูƒูŒ ูˆู„ุง ูˆูู„ุงูŠูŽุฉูŒ]ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ู…ุง ู„ู… ูŠูŽุฑูŽู‡ู [ุฅู„ู‘ุง ููŠ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู…ูŽูˆู’ุตููˆูู ููŠ ุงู„ุฐูู‘ู…ูŽู‘ุฉู ูˆููŠ ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽู…ู]ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุจูŽูŠู’ุนู ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู ูˆุนู„ูŠู‡ [ุฃูŠ ุงู„ุดูู‘ุฑุงุกู ู…ู†ู‡ ูˆุงู„ุจูŽูŠู’ุนู ู„ู‡]ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ู…ุง ู„ุง ู…ูŽู†ู’ููŽุนูŽุฉูŽ ููŠู‡ุ› ุฃูˆ [ู…ุง] ู„ุง ู‚ูุฏู’ุฑูŽุฉูŽ ุนู„ู‰ ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ูู‡ู [ุฃูŠ ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนูู‡ู]ุ› ุฃูˆ [ุจูŽูŠู’ุนูŒ] ุจูู„ุง ุตููŠุบูŽุฉู [ููŽูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุจูŽูŠู’ุนู ู…ุง ู„ุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุงู„ู…ูู„ู’ูƒู ูƒูŽุงู„ุญูุฑูู‘ ูˆุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ุงู„ู…ูŽูˆุงุชูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู…ูŽุฌู’ู‡ููˆู„ูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ุงู„ู†ูŽู‘ุฌูุณูุŒ ูƒูŽุงู„ูƒูŽู„ู’ุจู [ูˆุงู„ุฏูŽู‘ู…ู] ูˆูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ูƒูุฑู [ู…ุงุฆูุนู]ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ู [ุฃูŠ ู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุงุณู’ุชูุนู’ู…ุงู„ูู‡ู ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุง] ูƒุงู„ุทูู‘ู†ู’ุจููˆุฑู [ูˆุงู„ุชูู‘ู…ู’ุซุงู„ู ุงู„ู…ูุฌูŽุณูŽู‘ู…ู ู„ูุญูŽูŠูŽูˆุงู†ูุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ู„ููŠุจู ูˆู„ูˆ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจู ูˆู„ูˆ ู„ูู„ุฒูู‘ูŠู†ูŽุฉู (ูˆูŠูŽูƒู’ููุฑู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠุนูู‡ู ู„ูู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูุฑููŠุฏูู‡ู ู„ูู„ู’ูƒููู’ุฑู)] ุ› ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุกู ุงู„ุญูŽู„ุงู„ู ุงู„ุทู‘ุงู‡ูุฑู ุนู„ู‰ ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูุฑููŠุฏู ุฃู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตููŠูŽ ุจูู‡ู [ูƒูŽุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ุนูู†ูŽุจู ู„ูู…ูŽู†ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูุฑููŠุฏูู‡ู ู„ููŠูŽุตู’ู†ูŽุนูŽ ู…ู†ู‡ ุฎูŽู…ู’ุฑู‹ุง ู„ูู„ุดูู‘ุฑู’ุจู ุงู„ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ู] ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ุงู„ุฃูŽุดู’ูŠุงุกู ุงู„ู…ูุณู’ูƒูุฑูŽุฉู [ูˆู„ูŽูˆู’ ุทุงู‡ูุฑูŽุฉู‹ ูƒูŽุงู„ุญูŽุดููŠุดูŽุฉู] ุ› ูˆู„ุง ูŠูŽุตูุญู ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู…ููƒู’ุฑูŽู‡ูุ› ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู…ูŽุนููŠุจู ุจูู„ุง ุฅุธู’ู‡ุงุฑู ู„ูุนูŽูŠู’ุจูู‡ูุ›

    ูˆู„ุง ุชูŽุตูุญูู‘ ู‚ูุณู’ู…ูŽุฉู ุชูŽุฑููƒูŽุฉู ู…ูŽูŠูู‘ุชูุŒ ูˆู„ุง ุจูŽูŠู’ุนู ุดูŽูŠู’ุกู ู…ู†ู‡ุงุŒ ู…ุง ู„ู… ุชููˆูŽููŽู‘ ุฏููŠููˆู†ูู‡ู ูˆูˆูŽุตุงูŠุงู‡ูุŒ ูˆุชูุฎุฑูŽุฌู’ ุฃูุฌู’ุฑูŽุฉู ุญูŽุฌูŽู‘ุฉู ูˆุนูู…ู’ุฑูŽุฉู ุฅู†ู’ ูƒุงู†ุง ุนู„ูŠู‡ุŒ ุฅู„ู‘ุง ุฃู†ู’ ูŠูุจุงุนูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ [ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุฑููƒูŽุฉู] ู„ูู‚ูŽุถุงุกู ู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ุฃูŽุดู’ูŠุงุกูุŒ ููŽุงู„ุชูŽู‘ุฑููƒูŽุฉู ูƒูŽู…ูŽุฑู’ู‡ููˆู†ู ุจูุฐูฐู„ูƒุ›

    ูƒู€[ู€ุฐูฐู„ูƒ ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุจูŽูŠู’ุนู] ุฑูŽู‚ููŠู‚ู ุฌูŽู†ูŽู‰ุŒ ูˆู„ูŽูˆู’ ุจูุฃูŽุฎู’ุฐู ุฏุงู†ูู‚ูุŒ [ูˆ]ู„ุง ูŠูŽุตูุญูู‘ ุจูŽูŠู’ุนูู‡ูุŒ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุคูŽุฏูŽู‘ู‰ ู…ุง ุจูุฑูŽู‚ูŽุจูŽุชูู‡ูุŒ ุฃูˆู’ ูŠูŽุฃู’ุฐูŽู†ูŽ ุงู„ุบูŽุฑููŠู…ู ููŠ ุจูŽูŠู’ุนูู‡ูุ› ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุฃู†ู’ ูŠูููŽุชูู‘ุฑูŽ ุฑูŽุบู’ุจูŽุฉูŽ ุงู„ู…ูุดู’ุชูŽุฑููŠ ุฃูˆ ุงู„ุจุงุฆุนู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงุณู’ุชูู‚ู’ุฑุงุฑู ุงู„ุซูŽู‘ู…ูŽู†ู ู„ููŠูŽุจููŠุนูŽ ุนู„ูŠู‡ ุฃูˆ ู„ููŠูŽุดู’ุชูŽุฑููŠูŽ ู…ู†ู‡ุŒ ูˆุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุนูŽู‚ู’ุฏู ููŠ ู…ูุฏูŽู‘ุฉู ุงู„ุฎููŠุงุฑู ุฃูŽุดูŽุฏูู‘ุ›

    ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุฃู†ู’ ูŠูŽุดู’ุชูŽุฑููŠูŽ ุงู„ุทูŽู‘ุนุงู…ูŽ [ุฃูŠ ุงู„ู‚ููˆุชูŽ ูƒุงู„ู‚ูŽู…ู’ุญู] ูˆูŽู‚ู’ุชูŽ ุงู„ุบูŽู„ุงุกู ูˆุงู„ุญุงุฌูŽุฉู ู„ููŠูŽุญู’ุจูุณูŽู‡ู ูˆูŠูŽุจููŠุนูŽู‡ู ุจูุฃูŽุบู’ู„ูŽู‰ุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุฃู†ู’ ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ููŠ [ุซูŽู…ูŽู†ู] ุณูู„ู’ุนูŽุฉู ู„ููŠูŽุบูุฑูŽู‘ ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุฃู†ู’ ูŠูููŽุฑูู‘ู‚ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฌุงุฑููŠูŽุฉู ูˆูˆูŽู„ูŽุฏูู‡ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ู…ู’ูŠููŠุฒู [ุจูู†ูŽุญู’ูˆู ุจูŽูŠู’ุนู ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ู…ุง ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ุขุฎูŽุฑู]ุ›

    ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุฃู†ู’ ูŠูŽุบูุดูŽู‘ [ููŠ ุงู„ุจูŽูŠู’ุนู]ุ› ุฃูˆ ูŠูŽุฎููˆู†ูŽ ููŠ ุงู„ูƒูŽูŠู’ู„ู ูˆุงู„ูˆูŽุฒู’ู†ู ูˆุงู„ุฐูŽู‘ุฑู’ุนู ูˆุงู„ุนูŽุฏูู‘ุ› ุฃูˆ ูŠูŽูƒู’ุฐูุจูŽ [ููŠ ุงู„ุจูŽูŠู’ุนู]ุ› ูˆูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุฃู†ู’ ูŠูŽุจููŠุนูŽ ุงู„ู‚ูุทู’ู†ูŽ ุฃูˆ ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุจูŽุถุงุฆูุนู ูˆูŠูู‚ู’ุฑูุถูŽ ุงู„ู…ูุดู’ุชูŽุฑููŠูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฏูŽุฑุงู‡ูู…ูŽ ูˆ[ูŠูŽุดุชูŽุฑูุทูŽ ุนู„ูŠู‡ ุฃู†ู’] ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ููŠ ุซูŽู…ูŽู†ู ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ุจูุถุงุนูŽุฉู ู„ูุฃุฌู’ู„ู ุงู„ู‚ูŽุฑู’ุถูุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุฃู†ู’ ูŠูู‚ู’ุฑูุถูŽ ุงู„ุญุงุฆูƒูŽ ุฃูˆ ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูุฌูŽุฑุงุกู ูˆ[ูŠูŽุดู’ุชูŽุฑูุทูŽ ุนู„ูŠู‡ ุฃู†ู’] ูŠูŽุณู’ุชูŽุฎู’ุฏูู…ูŽู‡ู ุจูุฃูŽู‚ูŽู„ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูุฌู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู…ูุซู’ู„ู ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ุฐูฐู„ูƒ ุงู„ู‚ูŽุฑู’ุถูุŒ ูˆูŠูุณูŽู…ูู‘ูˆู†ูŽ ุฐูฐู„ูƒ [ุงู„ู‚ูŽุฑู’ุถูŽ ููŠ ู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ู…ูุนุงู…ูŽู„ูŽุฉู ูˆุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ุง] ุงู„ุฑูŽู‘ุจู’ุทูŽุฉูŽุ› ูˆ[ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู] ุฃู†ู’ ูŠูู‚ู’ุฑูุถูŽ ุงู„ุญูŽุฑู‘ุงุซููŠู†ูŽ ุฅู„ู‰ ูˆูŽู‚ู’ุชู ุงู„ุญูŽุตุงุฏู [ูˆูŠูŽุดู’ุชูŽุฑูุทูŽ ุฃู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ูŠูŽู†ู’ุชูŽุธูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ุญูŽุตุงุฏูŽ] ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽุจููŠุนููˆู†ูŽ ุนู„ูŠู‡ ุทูŽุนุงู…ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุฃูŽูˆู’ุถูŽุนูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ุนู’ุฑู ู‚ูŽู„ููŠู„ู‹ุงุŒ ูˆูŠูุณูŽู…ูู‘ูˆู†ูŽ ุฐูฐู„ูƒ ุงู„ู…ูŽู‚ู’ุถููŠูŽู‘. ูˆูƒูŽุฐุง ุฌูู…ู’ู„ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูุนุงู…ูŽู„ุงุชู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ู‡ูฐุฐุง ุงู„ุฒูŽู‘ู…ุงู†ู โ€“ ุฃูˆ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ุง โ€“ ุฎุงุฑูุฌูŽุฉูŒ ุนูŽู†ู’ ู‚ุงู†ููˆู†ู ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนู.

    ููŽุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุฑููŠุฏู ุฑูุถุง ุฑูŽุจูู‘ู‡ู [ุฃูŠู’ ู†ูŽูŠู’ู„ู ุซูŽูˆุงุจูู‡ู ูˆุงู„ููŽูˆู’ุฒู ุจูุฅููƒู’ุฑุงู…ูู‡ู]ุŒ ูˆุณูŽู„ุงู…ูŽุฉู ุฏููŠู†ูู‡ู ูˆุฏูู†ู’ูŠุงู‡ูุŒ ุฃู†ู’ ูŠูŽุชูŽุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู…ุง ูŠูŽุญูู„ูู‘ ูˆู…ุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ูุŒ ู…ูู†ู’ ุนุงู„ูู…ู ุŒูˆูŽุฑูุนูุŒ ู†ุงุตูุญูุŒ ุดูŽูููŠู‚ู ุนู„ู‰ ุฏููŠู†ูู‡ูุ› ููŽุฅู†ูŽู‘ ุทูŽู„ูŽุจูŽ ุงู„ุญูŽู„ุงู„ู ููŽุฑููŠุถูŽุฉูŒ ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู.

    Haram mengerjakan riba, memakan, mengambil kemanfaatan, menulis, menyaksikan dan merekayasanya.

    Riba adalah : Menjual salah satu dari emas dan perak (barang) dengan sesuatu yang lain dengan tempo, tidak saling menyerahkan atau menjual dengan jenis yang sama, begitu juga menjual adanya kelebihan, dan menjual sebagian makanan dengan makanan lain.

    Hukumnya haram menjual barang yang belum diterimakan, menjual daging dengan hewan, menjual hutang dengan hutang, menjual barang yang bukan miliknya, sesuatu yang tidak kelihatan, menjualnya seseorang yang bukan mukallaf, sesuatu yang tidak bermanfaat, dan sesuatu yang tidak mampu diserahkan, menjual tanpa shighat (ucapan serah terima
    barang), menjual sesuatu yang tidak dibawah kepemilikan, seperti menjual orang merdeka dan menjual tanah mati (tak berfungsi), juga menjual barang yang belum diketahui, menjual barang najis seperti anjing dan setiap sesuatu yang memabukkan.

    Serta menjual barang yang diharamkan, seperti halnya biola, dan haram pula menjual barang halal dan suci kepada orang yang kamu mengetahuinya bahwa dia akan bctbuat maksiat, menjual barang-barang yang memabukkan (narkoba), menjual barang cacat yang tidak diperlihatkan sebenarnya. Juga tidak sah membagi harta tinggalannya mayit dan
    menjualnya sebelum hutangnya dilunasi, wasiatnya terpenuhi serta ongkos haji dan umrah telah dikeluarkan jika itu ada. Tidak haram menjual barang (tinggalannya mayit) kecuali untuk melunasi semuanya, karena harta tinggalannya mayit sebagaimana barang yang digadaikan untuk itu.

    Seperti halnya budak yang melukai meskipun dengan 1/6 dirham maka tidaklah sah menjualnya, sampai ongkos kebudakannya diserahkan atau orang yang menghutangi telah mengijinkan dalam menjualnya. Haram pula mengendorkan rangsangan penjual dan pembeli setelah ditetapkannya harga yang akan dijual dan dibeli, dan sangat diharamkan
    sesudah akad jadi dalam masa khiyar.

    Juga haram membeli makanan di saat sedang mahal dan sangat membutuhkan yang tujuannya adalah menimbun dan menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal, menambah harga barang guna menarik konsumen lain dengan menipu. Haram juga memisahkan perempuan dan anaknya sebelum masa tamyiz (pintar), menipu menggelapkan takaran, timbangan, sehasta dan hilangan serta membohongi. Dan haram menjual kapas dan lain-lainnya dari barang dagangan serta menghutangkan kepada
    pembeli diatas satu dirham dan melebihi harga barang itu untuk dihutangkan, menghutangi tukang tenun alau lainnya dan memperkerjakannya dengan gaji yang lebih rendah di banding harga umum (UMR).

    Ulama memberi nama jual beli itu dengan sebutan jual beli yang masih basah, atau haram menghutangi petani sampai waktu panen, kemudian mereka menjualnya dengan harga rendah, dan para ulama menamainya sebagai jual beli yang disetorkan. Begitu juga beberapa muamalah jaman sekarang yang keluar dari balasan syaraโ€™ maka wajib bagi orang yang mencari ridha Allah yang Maha Suci, mencari keselamatan agama serta dunianya, agar mengetahui yang halal dan yang haram dari orang alim lagi waraโ€™, pemberi nasehat dan belas kasihan terhadap agamanya. Karena sesungguhnya mencari kehidupan yang halal adalah merupakan kewajiban bagi orang muslim. [alkhoirot.org]

    Kewajiban Menafkahi Kerabat

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ููŽู‚ุงุชู ุงู„ูˆุงุฌูุจูŽุฉู ูˆู…ุง ูŠูุฐู’ูƒูŽุฑู ู…ูŽุนูŽู‡ุง

    ูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ููˆุณูุฑู ู†ูŽููŽู‚ูŽุฉู ุฃูุตููˆู„ูู‡ู ุงู„ู…ูุนู’ุณูุฑููŠู†ูŽ [ุฃูŠ ุงู„ุขุจุงุกู ูˆุงู„ุฃูู…ูŽู‘ู‡ุงุชู ุงู„ููู‚ูŽุฑุงุกู] ูˆุฅู†ู’ ู‚ูŽุฏูุฑููˆุง ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูŽุณู’ุจูุŒ ูˆู†ูŽููŽู‚ูŽุฉู ููุฑููˆุนูู‡ู [ุฃูŠ ุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏูู‡ู ูˆุฃูŽุญู’ูุงุฏูู‡ู] ุฅุฐุง ุฃูŽุนู’ุณูŽุฑููˆุง ูˆุนูŽุฌูŽุฒููˆุง ุนูŽู†ู ุงู„ูƒูŽุณู’ุจู ู„ูุตูุบูŽุฑู ุฃูˆ ุฒูŽู…ุงู†ูŽุฉูุŒ ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ุฒูŽู‘ูˆู’ุฌู ู†ูŽููŽู‚ูŽุฉู ุงู„ุฒูŽู‘ูˆู’ุฌูŽุฉู ูˆู…ูŽู‡ู’ุฑูู‡ุงุŒ ูˆุนู„ูŠู‡ ู„ูŽู‡ุง ู…ูุชู’ุนูŽุฉูŒ [ูˆู‡ูŠ ู…ุงู„ูŒ ูŠูŽุชูŽุฑุงุถูŽูŠุงู†ู ุนู„ูŠู‡ ุฃูˆ ูŠูู‚ูŽุฏูู‘ุฑูู‡ู ุงู„ู‚ุงุถููŠ ุฅู†ู’ ุชูŽู†ุงุฒูŽุนุง] ุฅู†ู’ ุทูŽู„ูŽู‘ู‚ูŽู‡ุง [ุจูู„ุง ุณูŽุจูŽุจู ู…ู†ู‡ุง]ุŒ ูˆุนู„ู‰ ู…ุงู„ููƒู ุงู„ุนูŽุจููŠุฏู ูˆุงู„ุจูŽู‡ุงุฆูู…ู ู†ูŽููŽู‚ูŽุชูู‡ูู…ู’ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ูŠููƒูŽู„ูู‘ููŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู ู…ุง ู„ุง ูŠูุทููŠู‚ููˆู†ูŽุŒ ูˆู„ุง ูŠูŽุถู’ุฑูุจูŽู‡ูู…ู’ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูŽู‚ูู‘ุ› ูˆูŠูŽุฌูุจู ุนู„ู‰ ุงู„ุฒูŽู‘ูˆู’ุฌูŽุฉู ุทุงุนูŽุฉู ุงู„ุฒูŽู‘ูˆู’ุฌู ููŠ ู†ูŽูู’ุณูู‡ุง ุฅู„ู‘ุง ู…ุง ู„ุง ูŠุญูู„ูู‘ุŒ ูˆุฃู†ู’ ู„ุง ุชูŽุตููˆู…ูŽ [ู†ูŽูู’ู„ู‹ุง] ูˆู„ุง ุชูŽุฎู’ุฑูุฌูŽ ู…ูู†ู’ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ุฅู„ู‘ุง ุจูุฅุฐู’ู†ูู‡ู.

    Kewajiban orang tua yang kaya adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya yang miskin, meski mereka mampu bekeija, juga memberi nafkah kepada cabang-cabangnya yang lemah dan miskin dari pekeijaan, dikarenakan masih terlalu kecil atau lumpuh.

    Sedang kewajibannya suami adalah memberi nafkah istri dan memberinya mas kawin, serta memberi kesenangan jika ia menceraikannya. Bagi pemilik hamba sahaya dan hewan ternak juga berkewajiban memberikan nafkah mereka dan tidak berhak memukul mereka. Juga sang istri, dirinya wajib taat terhadap suaminya kecuali hal yang tidakdihalalkan, dan tidaklah ia berpuasa dan keluar rumah melainkan telah mendapat ijin suaminya.[alkhoirot.com]

    KEWAJIBAN HATI

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ูˆุงุฌูุจุงุชู ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจู

    ู…ูู†ูŽ ุงู„ูˆุงุฌูุจุงุชู ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจููŠูŽู‘ุฉู: ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู [ูƒู…ุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ุจูŽูŠุงู†ูู‡ู ููŠ ุจุงุจู ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู]ุŒ ูˆ[ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู] ุจูู…ุง ุฌุงุกูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู„ู‡ู [ูƒู…ุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ุจูŽูŠุงู†ูู‡ู ููŠ ุจุงุจู ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู]ุŒ ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุจูุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู [ูƒู…ุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ุจูŽูŠุงู†ูู‡ู ููŠ ุจุงุจู ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู]ุŒ ูˆ[ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู] ุจูู…ุง ุฌุงุกูŽ ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู [ูƒู…ุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ุจูŽูŠุงู†ูู‡ู ููŠ ุจุงุจู ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู]ุŒ ูˆุงู„ุชูŽู‘ุตู’ุฏููŠู‚ู [ูˆู‡ูˆ ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู] ุŒ ูˆุงู„ูŠูŽู‚ููŠู†ู [ูˆู‡ูˆ ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุดูŽู‘ูƒูู‘ ูููŠู…ุง ูŠูŽุฌูุจู ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุจูู‡ู] ุŒ ูˆุงู„ุฅุฎู’ู„ุงุตู ูˆู‡ูˆ ุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู [ุจูุงู„ุทู‘ุงุนูŽุฉู] ู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ูุŒ ูˆุงู„ู†ูŽู‘ุฏูŽู…ู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ [ู„ูŽูƒููˆู’ู†ูู‡ุง ู…ูุฎุงู„ูŽููŽุฉู‹ ู„ูุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ุฎุงู„ูู‚ู]ุŒ

    ูˆุงู„ุชูŽู‘ูˆูŽูƒูู‘ู„ู [ูˆู‡ูˆ ุงู„ุงุนู’ุชูู…ุงุฏู] ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู [ููŠ ุฃูู…ููˆุฑู ุงู„ุฑูู‘ุฒู’ู‚ู ูˆุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุถูŽู‘ุฑูŽุฑู ูˆุบูŠุฑู ุฐูฐู„ูƒุŒ ูˆุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุฑูู‘ูƒููˆู†ู ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃูŽุณู’ุจุงุจู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฃูŽุฎู’ุฐู ุจูู‡ุง]ุŒ ูˆุงู„ู…ูุฑุงู‚ูŽุจูŽุฉู ู„ู„ู‡ู [ูˆู‡ูŠ ุฃู†ู’ ูŠูุฏููŠู…ูŽ ุงุณู’ุชูุญู’ุถุงุฑูŽ ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู…ูุทูŽู‘ู„ูุนูŒ ุนู„ูŠู‡ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู‡ู ูˆูŠูŽุฑุงู‡ู ูˆูŠูŽุณู’ู…ูŽุนูู‡ูุŒ ู„ููŠูŽุฏููˆู…ูŽ ุฎูŽูˆู’ููู‡ู ู…ูู†ู’ ู…ูุฎุงู„ูŽููŽุฉู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู] ุŒ ูˆุงู„ุฑูู‘ุถุง ุนูŽู†ู ุงู„ู„ู‡ู [ูˆู‡ูˆ ุงู„ุชูŽู‘ุณู’ู„ููŠู…ู ู„ู‡ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ูˆุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ุงุนู’ุชูุฑุงุถู ุนู„ูŠู‡ ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู]ุŒ ูˆุญูุณู’ู†ู ุงู„ุธูŽู‘ู†ูู‘ ุจูุงู„ู„ู‡ู [ุจูุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุฐูŽูƒูŽู‘ุฑูŽ ู…ุง ุนูŽูˆูŽู‘ุฏูŽู‡ู ุนู„ูŠู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุญู’ุณุงู†ู ููŽูŠูŽุฑู’ุฌููˆูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ู ููŠ ุงู„ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูŽู„ู]ุŒ ูˆ[ุญูุณู’ู†ู ุงู„ุธูŽู‘ู†ูู‘] ุจูุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ู„ู‡ู [ุจูุฃู„ู‘ุง ูŠูŽุธูู†ูŽู‘ ุจูู‡ูู…ู’ ุณููˆุกู‹ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุฑููŠู†ูŽุฉู ูƒุงูููŠูŽุฉู ุดูŽุฑู’ุนู‹ุง]ุŒ ูˆุชูŽุนู’ุธููŠู…ู ุดูŽุนุงุฆุฑู ุงู„ู„ู‡ู [ุฃูŠ ูƒูู„ูู‘ ู…ุง ุฌูุนูู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู…ู‹ุง ุนู„ู‰ ุทุงุนูŽุฉู ูƒูŽุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูุŒ ูˆุงู„ู…ูุฑุงุฏู ุชูŽุนู’ุธููŠู…ู ูƒูู„ูู‘ ู…ุง ุนูŽุธูŽู‘ู…ูŽู‡ู ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนู]ุŒ ูˆุงู„ุดูู‘ูƒู’ุฑู ุนู„ู‰ ู†ูุนูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู [ุฃูŠ ุนูŽุฏูŽู…ู ุงุณู’ุชูุนู’ู…ุงู„ูู‡ุง ููŠ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู]ุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู ุนู„ู‰ ุฃุฏุงุกู ู…ุง ุฃูŽูˆู’ุฌูŽุจูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู ุนูŽู…ู‘ุง ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ู„ู‡ู [ุฃูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุจูุนู’ุฏู ุนูŽู†ู ุงู„ุญูŽุฑุงู…ู]ุŒ ูˆ[ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู] ุนู„ู‰ ู…ุง ุงุจู’ุชูŽู„ุงูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจู‡ [ุจูุฃู„ู‘ุง ูŠูŽุฏู’ููŽุนูŽูƒูŽ ุจูŽู„ุงุกูŒ ุฅู„ู‰ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู]ุŒ ูˆุงู„ุซูู‘ู‚ูŽุฉู ุจูุงู„ุฑูู‘ุฒู’ู‚ู [ุฃูŠ ุจูุฃู†ูŽู‘ ู…ุง ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุฃู†ู’ ุชูŽู†ู’ุชูŽููุนูŽ ุจูู‡ู ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽูููˆุชูŽูƒูŽ]ุŒ ูˆุงุชูู‘ู‡ุงู…ู ุงู„ู†ูŽู‘ูู’ุณู [ูููŠู…ุง ุชูŽุฃู…ูุฑูู‡ู ุจูู‡ู ุฎูŽุดู’ูŠูŽุฉูŽ ุฃู†ู’ ุชูŽูƒููˆู†ูŽ ุชูุฎุงุฏูุนู ู„ูู„ุชูŽู‘ูˆูŽุตูู‘ู„ู ุฅู„ู‰ ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ู]ุŒ ูˆุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุฑูู‘ุถุง ุนู†ู‡ุง [ุฃูŠ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ูู’ุณูุŒ ุจูุชูŽุฐูŽูƒูู‘ุฑู ุชูŽู‚ู’ุตููŠุฑูู‡ุง]ุŒ ูˆุจูุบู’ุถู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทุงู†ู [ุจูุงู„ู…ูŽูŠู’ู„ู ุฅู„ู‰ ู…ูุฎุงู„ูŽููŽุชูู‡ู]ุŒ ูˆุจูุบู’ุถู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠุง [ุจูุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุงู„ู’ุชููุงุชู ุฅู„ู‰ ู…ุง ูŠูู„ู‡ููŠ ู…ู†ู‡ุง ุนูŽู†ู’ ุทุงุนูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู]ุŒ
    ูˆุจูุบู’ุถู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ [ุจูุงู„ู…ูŽูŠู’ู„ู ุนู†ู‡ู…ุŒ ูˆุงู„ู†ูู‘ูููˆุฑู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุนุงุตููŠู‡ูู…ู’ุŒ ูˆุฑูŽูู’ุถู ุงู„ุงู‚ู’ุชูุฏุงุกู ุจูู‡ูู…ู’ ููŠู‡ุง]ุŒ

    ูˆู…ูŽุญุจูŽู‘ุฉู ุงู„ู„ู‡ู [ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุจูุชูŽูˆู’ุทููŠู†ู ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจู ุนู„ู‰ ุนูุจุงุฏูŽุชูู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ูˆุงุชูู‘ุจุงุนู ุฃูŽูˆุงู…ูุฑูู‡ู ูˆุงุฌู’ุชูู†ุงุจู ู†ูŽูˆุงู‡ููŠู‡ู]ุŒ ูˆ[ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู] ูƒูŽู„ุงู…ูู‡ู [ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ุจูู…ูุฑุงุนุงุฉู ุชูŽุนู’ุธููŠู…ู ุขูŠุงุชูู‡ู ูˆุงู„ุชูŽู‘ุณู’ู„ููŠู…ู ู„ู‡ ูˆุงู„ุนูŽู…ูŽู„ู ุจูู‡ู]ุŒ
    ูˆ[ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู] ุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู [ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ุตูŽู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ุจูุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุจู‡ ูˆุชูŽูˆู’ู‚ููŠุฑูู‡ู ูˆุงู„ู…ูŽูŠู’ู„ู ุฅู„ู‰ ูƒูŽู…ุงู„ู ุงุชูู‘ุจุงุนูู‡ูุŒ [ูˆู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู ุณุงุฆูุฑู ุฃูŽู†ู’ุจููŠุงุฆูู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ุจุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุจูู‡ูู… ูˆุชูŽุนู’ุธููŠู…ูู‡ูู…ู’]ุŒ ูˆ[ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู] ุงู„ุตูŽู‘ุญุงุจูŽุฉู [ุจูุงุณู’ุชูุญู’ุถุงุฑู ููŽุถู’ู„ูู‡ูู…ู’ุŒ ุจูู…ุง ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุณุงุจูู‚ูŽุฉู ููŠ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ูˆุดูŽุฑูŽูู ุจุตูุญู’ุจูŽุชูู‡ูู…ู’ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ุŒ ูˆู†ูุตู’ุฑูŽุชูู‡ูู…ู’ ู„ูŽู‡ู ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ูˆุชูŽุจู’ู„ููŠุบูู‡ูู…ู’ ู„ูู„ุฏูู‘ูŠู†ู]ุŒ ูˆ[ู…ุญุจูŽู‘ุฉู] ุงู„ุขู„ู [ุจูู…ูุฑุงุนุงุชูู‡ูู…ู’ ุฅูƒู’ุฑุงู…ู‹ุง ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ููŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆุฐูŽูˆููˆ ู‚ูŽุฑุงุจูŽุชูู‡ู]ุŒ
    ูˆ[ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู ุงู„ู…ูู‡ุงุฌูุฑููŠู†ูŽ ูˆ]ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตุงุฑู [ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู†ูŽุตูŽุฑููˆุง ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ู…ูŽูƒูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ู…ููƒูŽุฑูŽู‘ู…ูŽุฉู ูˆุงู„ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ุงู„ู…ูŽู†ูŽูˆูŽู‘ุฑูŽุฉูุŒ ูˆู„ุง ุณููŠูŽู‘ู…ุง ุงู„ุณู‘ุงุจูู‚ูŠู†ูŽ ุงู„ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ููŠู†ูŽ ู…ู†ู‡ู…]ุŒ ูˆ[ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู] ุงู„ุตู‘ุงู„ูุญููŠู†ูŽ [ุจูุชูŽุนู’ุธููŠู…ูู‡ูู…ู’ ูˆุงู„ู…ูŽูŠู’ู„ู ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆุณูู„ููˆูƒู ุทูŽุฑููŠู‚ูู‡ูู…ู’].

    UNSUR-UNSUR IMAN

    Termasuk kewajiban-kewajiban hati adalah :
    1. Iman kepada Allah .
    2. Iman kepada apa yang datang dari Allah.
    3. Iman kepada utusan Allah
    4. Iman kepada apa yang datang dari utusan Allah.
    5. Tashdiq (menerima dan tunduknya hati thd apa yang sudah diketahui dari agama secara pasti) yang bermakna iman kepada ke empat hal tsb
    6. Yakin yaitu tidak ragu terhadap apa yang wajib diimani.

    IKHLAS

    7. Ikhlash yaitu amal dalam ketaโ€™atan hanya untuk Allah saja.
    8. Menyesali kemaksiyatan karena maksiyat menyelisihi perintah sang Maha Pencipta.

    TAWAKAL

    9. Tawakkal yaitu berpegang teguh kepada Allah dalam urusan rizki, keselamatan dari bahaya dan selain hal itu, dan tidak condong kepada sebab-sebab beserta menggunakannya.

    10. Muroqobah lillah /merasa diawasi oleh Allah, yaitu melanggengkan rasa hadir bahwa sesungguhnya Allah mengawasinya, mengetahui, melihat dan mendengarnya, tujuan muroqobah adalah agar langgeng perasaan takut dari menyelisihi perintah Allah.

    11. Ridho kepada Allah, yaitu pasrah kepada Allah taโ€™ala dan tdk berpaling kepada Allah subhanah.

    CARA HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA)

    12. Husnudz dzon billah /berbaik sangka kepada Allah caranya dengan mengingat ingat apa yang Allah biasakan kepadanya dari kebaikan, jadi dia mengharap kebaikan yang serupa di waktu mendatang.

    13. Husnudz dzon kepada makhluk Allah, caranya dengan tdk berburuk sangka tanpa adanya indikasi yang mencukupi secara syarโ€™i.

    14. Mengagungkan syiโ€™ar Allah, maksud syiโ€™ar disini adalah setiap sesuatu yang dijadikan tanda atas ketaโ€™atan misalnya sholat,dan maksudnya adalah mengagungkan setiap hal yang di agungkan oleh syareโ€™at.

    CARA BERSYUKUR

    15. Bersyukur atas nikmat Allah, maksudnya adalah tdk mengunkana kenikmatan dalam bermaksiyat kepada Allah.

    SABAR

    16. Bersabar dalam menjalankan apa yang Allah wajibkan dan bersabar atas apa yang Allah hramkan , maksudnya adalah menjauh dari hal yang di larang.dan bersabar terhadap ujian Allah kepadamu dengan cara ujian tsb tidak mendorongmu kepada kemaksiyatan.

    17. Tsiqoh (percaya) dalam masalah rizki, yaitu percaya bahwa apa yang telah ditulis bagimu untuk kau manfaโ€™atkan tidak akan hilang darimu.

    MENGONTROL NAFSU DAN SETAN

    18. Mencurigai nafsu terhadap apa yang diperintahkan olehnya, khawatirnya perintah tsb adalah tipuan yang bisa menyampaikan pada hal yang dilarang,
    19. Tidak ridho kepada nafsu dengan mengingat ingat kesalahannya.
    20. Membenci syetan dengan cara condong pada menyelisihinya.
    21. Membenci dunia dengan tidak melirik pada apa yang dapat melalaikan dari ketaโ€™atan kepada Allah,
    22. Membenci ahlul maksiyat dengan menjauh darinya, lari dari kemaksiyatan dan menolak ikut dengan mereka dalam kemaksiyatan.

    CARA MENCINTAI ALLAH

    23. Cinta kepada Allah taโ€™ala dengan cara menempatkan hati untuk beribadah kepada-Nya saja, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    24. Mencintai kalam-Nya dengan cara menjaga keagungan ayat-ayatnya, menghormatinya dan beramal dengannya.

    25. Mencintai utusan-Nya yaitu Nabi shollallohu alaihi wasallma , dengan cara beriman kepadanya, menghormatinya dan condong kepada kesempurnaan mengikutinya.

    26. Mencintai Nabi-nabi Allah lainnya, dengan cara beriman kepada mereka dan menghormati mereka.

    27. Mencintai para sahabat dengan menghadirkan keutamaan mereka sebab mereka lebih dahulu masuk islam dan kemuliaan mereka sebab bersahabat dengan Nabi, dan pertolongan mereka kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam dan sebab penyampaian mereka kepada agama.

    28. Mencintai keluarganya Nabi dengan cara menjaga mereka untuk memuliakan Nabi shollallohu alaihi wasllam, mereka adalah keluarganya Nabi dan kerabatnya.

    29. Mencintai muhajirin dan anshor yaitu orang yang menolong agama dari penduduk makkah almukarromah dan madinah al munawwawroh, apalagi yang mula-mula masuk islam diantara mereka.

    30. Mencintai orang sholeh dengan cara mengagungkan mereka , condong kepada mereka dan menapaki jalan mereka. Wallohu aโ€™lam [alkhoirot.com]

    Nasihat dari Syaikh Abdullah bin Alawi Al-Haddad

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ู†ูŽุตููŠุญูŽุฉู ู†ูŽูููŠุณูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุนุงู„ูู…ู ุฌูŽู„ููŠู„ู

    ูˆู‚ุงู„ูŽ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ูŽูˆููŠูู‘ ุงู„ุญูŽุฏู‘ุงุฏูุŒ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนู†ู‡ ูˆู†ูŽููŽุนูŽู†ุง ุจูู‡ูุŒ ููŠ ูƒูุชุงุจูู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ุตุงุฆุญู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ููŠูŽู‘ุฉู ู…ุง ู…ูŽุนู’ู†ุงู‡ู: โ€œูˆู‡ูฐุฐู‡ ุฃูˆู’ุตุงููŒ ูŠูŽุฌูุจู ุฃู†ู’ ูŠูŽุชูŽุญูŽู„ูŽู‘ู‰ ุจูู‡ุง ูˆูŠูŽุชูŽู‘ุตูููŽ ุจูู‡ุง ูƒูู„ูู‘ ู…ูุคู’ู…ูู†ูโ€ุงู‡ู€ุŒ ูˆู‡ูŠ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ู‡ูฐุฐุง ุจูŽู‚ูŽู„ููŠู„ู: โ€œุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุฎุงุดูุนู‹ุงุŒ ู…ูุชูŽูˆุงุถูุนู‹ุงุŒ ุฎุงุฆูู‹ุงุŒ ูˆูŽุฌูู„ู‹ุงุŒ ู…ูุดู’ููู‚ู‹ุงุŒ ู…ูู†ู’ ุฎูŽุดู’ูŠูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ุฒุงู‡ูุฏู‹ุง ููŠ ุงู„ุฏูู‘ู†ูŠุงุŒ ู‚ุงู†ูุนู‹ุง ุจูุงู„ูŠูŽุณููŠุฑู ู…ู†ู‡ุงุŒ ู…ูู†ู’ููู‚ู‹ุง ู„ูู„ู’ูุงุถูู„ู ุนูŽู†ู’ ุญุงุฌูŽุชูู‡ู ู…ูู…ู‘ุง ููŠ ูŠูŽุฏูู‡ูุŒ ู†ุงุตูุญู‹ุง ู„ูุนูุจุงุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ุŒ ู…ูุดู’ููู‚ู‹ุง ุนู„ูŠู‡ู…ุŒ ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง ุจูู‡ูู…ุŒ ุขู…ูุฑู‹ุง ุจูุงู„ู…ูŽุนู’ุฑููˆููุŒ ู†ุงู‡ููŠู‹ุง ุนูŽู†ู ุงู„ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑูุŒ ู…ูุณุงุฑูุนู‹ุง ููŠ ุงู„ุฎูŽูŠู’ุฑุงุชูุŒ ู…ูู„ุงุฒูู…ู‹ุง ู„ูู„ู’ุนูุจุงุฏุงุชูุŒ ุฏุงู„ู‹ู‘ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฎูŽูŠู’ุฑูุŒ ุฏุงุนููŠู‹ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู‡ูุฏูŽู‰ุŒ ุฐุง ุณูŽู…ู’ุชู ูˆุชูุคูŽุฏูŽุฉูุŒ ูˆูˆูŽู‚ุงุฑู ูˆุณูŽูƒููŠู†ูŽุฉูุŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽ ุงู„ุฃูŽุฎู’ู„ุงู‚ูุŒ ูˆุงุณูุนูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุฏู’ุฑูุŒ ู„ูŽูŠูู‘ู†ูŽ ุงู„ุฌุงู†ูุจูุŒ ู…ูŽุฎู’ูููˆุถูŽ ุงู„ุฌูŽู†ุงุญู ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽุŒ ู„ุง ู…ูุชูŽูƒูŽุจูู‘ุฑู‹ุง ูˆู„ุง ู…ูุชูŽุฌูŽุจูู‘ุฑู‹ุงุŒ ูˆู„ุง ุทุงู…ูุนู‹ุง ููŠ ุงู„ู†ู‘ุงุณูุŒ ูˆู„ุง ุญูŽุฑููŠุตู‹ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠุงุŒ ูˆู„ุง ู…ูุคู’ุซูุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูุŒ ูˆู„ุง ุฌุงู…ูุนู‹ุง ู„ูู„ู’ู…ุงู„ูุŒ ูˆู„ุง ู…ุงู†ูุนู‹ุง ู„ู‡ ุนูŽู†ู’ ุญูŽู‚ูู‘ู‡ูุŒ ูˆู„ุง ููŽุธู‹ู‘ุง ูˆู„ุง ุบูŽู„ููŠุธู‹ุงุŒ ูˆู„ุง ู…ูู…ุงุฑููŠู‹ุง ูˆู„ุง ู…ูุฌุงุฏูู„ู‹ุง ูˆู„ุง ู…ูุฎุงุตูู…ู‹ุงุŒ ูˆู„ุง ู‚ุงุณููŠู‹ุงุŒ ูˆู„ุง ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽ ุงู„ุฃูŽุฎู’ู„ุงู‚ูุŒ ูˆู„ุง ุถูŽูŠูู‘ู‚ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุฏู’ุฑูุŒ ูˆู„ุง ู…ูุฏุงู‡ูู†ู‹ุงุŒ ูˆู„ุง ู…ูุฎุงุฏูุนู‹ุงุŒ ูˆู„ุง ุบุงุดู‹ู‘ุงุŒ ูˆู„ุง ู…ูู‚ูŽุฏูู‘ู…ู‹ุง ู„ูู„ู’ุฃูŽุบู’ู†ููŠุงุกู ุนู„ู‰ ุงู„ููู‚ูŽุฑุงุกูุŒ ูˆู„ุง ู…ูุชูŽุฑูŽุฏูู‘ุฏู‹ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงุทููŠู†ูุŒ ูˆู„ุง ุณุงูƒูุชู‹ุง ุนูŽู†ู ุงู„ุฅู†ู’ูƒุงุฑู ุนู„ูŠู‡ู… ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‚ูุฏู’ุฑูŽุฉูุŒ ูˆู„ุง ู…ูุญูุจู‹ู‘ุง ู„ูู„ู’ุฌุงู‡ู ูˆุงู„ู…ุงู„ู ูˆุงู„ูˆูู„ุงูŠุงุชูุŒ ุจูŽู„ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ู ูƒุงุฑูู‡ู‹ุง ู„ูุฐูฐู„ูƒ ูƒูู„ูู‘ู‡ูุŒ ู„ุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ู…ู†ู‡ุŒ ูˆู„ุง ูŠูู„ุงุจูุณูู‡ูุŒ ุฅู„ูŽู‘ุง ู…ูู†ู’ ุญุงุฌูŽุฉู ุฃูˆ ุถูŽุฑููˆุฑูŽุฉูโ€ ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ ูƒูŽู„ุงู…ูู‡ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนู†ู‡ ูˆู†ูŽููŽุนูŽู†ุง ุจูู‡ู.

    Junjungan kami Abdullah bin Alawi Al-Hadad ra, berpendapat dalam kitabnya yang bctjudul โ€œNashaaihud Diniyyah โ€, bahwa semua itu adalah beberapa sifat yang wajib menghiasi setiap mukmin. Inilah sedikit pendapat darinya agar orang mukmin sebagai orang yang khusyuโ€™ dan tawaduโ€™ (rendah hati), takut dan merasa khawatir karena Allah swl, berzuhud di dunia, qanaโ€™ah dengan hal yang sedikit, dan berinfaq dengan kelebihan hartanya, memberi nasehat kepada hamba Allah swt. dengan belas kasih kepada mereka, memerintahkan dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

    Konsisten terhadap beberapa ibadah yang memberi petunjuk pada kebaikan serta mengajak kepada petunjuk yang bersifat diam, santai, belas kasih, dan bersifat tenang yang baik budi, bijaksana, merendah kepada orang mukmin, tidak sombong, tidak bertindak lalim, tidak loba terhadap manusia, tidak berambisi terhadap dunia, dan tidak mendahulukan urusan dunia, mengakhirkan urusan akhirat, tidak suka
    mengumpulkan harta, juga tidak menolak haknya harta, tidak kurang ajar, sombong kepada orang mukmin, dan tidak bicara kasar, tidak suka membantah, bercekcok, membantah kebenaran, dan tidak berhati keras, tidak buruk budi, tidak berpandangan sempit, tidak menjilat (mengambil muka), menipu memalsukan dan tidak mendahulukan orang kaya dari orang fakir, tidak terus-menerus mendatangi para Raja, tidak diam karena tidak setuju, kepada mereka padahal ia mampu, juga tidak suka kemegahan, harta, kekuasaan, akan tetapi bagi orang mukmin adalah membencinya, tidaklah ia menyandangnya melainkan adanya hajat atau karena darurat. Selesai sudah pendapat Sayid Abdullah bin Alawi Al-Haddad ra. [alkhoirot.org]

    Bab tentang Maksiat

    ุจุงุจู ุจูŽูŠุงู†ู ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ

    [ุชูŽู†ู’ุจููŠู‡ุงุชูŒ]

    [(1) ูŠูุฑุงุฏู ู…ูู†ู’ ุฅุถุงููŽุฉู ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ ุฅู„ู‰ ุฌูŽูˆุงุฑูุญู ุงู„ุจูŽุฏูŽู†ู ูˆุฃูŽุนู’ุถุงุฆูู‡ูุŒ ูƒูŽุงู„ูŠูŽุฏู ูˆุงู„ุจูŽุทู’ู†ูุŒ ููŠ ู‡ูฐุฐุง ุงู„ุจุงุจูุŒ ู…ูุฌูŽุฑูŽู‘ุฏู ุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ุณููŠู…ู ู„ูุชูŽุณู’ู‡ููŠู„ู ุงู„ุชูŽู‘ุนู’ู„ููŠู…ูุŒ ูˆุฅู„ู‘ุง ููŽูŠูŽูƒู’ูููŠ ุฃู†ู’ ูŠูŽุนู’ุฑูููŽ ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุชูŽุญู’ุฑููŠู…ูŽ ู‡ูฐุฐู‡ ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู ู„ููŠูŽุฌู’ุชูŽู†ูุจูŽู‡ุงุŒ ูˆูŠูŽุฎุงููŽ ู…ู†ู‡ุงุŒ ูˆู„ูˆ ู„ู… ูŠูŽุนู’ุฑููู’ ู…ุง ุชูุถุงูู ุฅู„ูŠู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฌูŽูˆุงุฑูุญู ูˆุงู„ุฃูŽุนู’ุถุงุกู.

    (2) ุชูŽูƒููˆู†ู ุงู„ุฅุถุงููŽุฉู ููŠ ุงู„ู„ูู‘ุบูŽุฉู ู„ูุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ู…ูู„ุงุจูŽุณูŽุฉู ุฃูˆ ุนูŽู„ุงู‚ูŽุฉูุŒ ูˆู„ูุฐูฐู„ูƒ ููŽู…ุง ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑูู‡ู ู‡ูฐุฐุง ุงู„ุจุงุจู ู…ูู†ู’ ุฅุถุงููŽุฉู ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ ุฅู„ู‰ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ุฌูŽูˆุงุฑูุญู ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุณูŽุจูŽุจูู‡ู ุญูŽู‚ููŠู‚ููŠู‹ู‘ุง ุฌูŽู„ููŠู‹ู‘ุงุŒ ูƒูŽุฅุถุงููŽุฉู ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ู†ูŽุธูŽุฑู ุงู„ุนูŽูˆู’ุฑุงุชู ุฅู„ู‰ ุงู„ุนูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽูƒููˆู†ู ู…ูŽุฌุงุฒููŠู‹ู‘ุง ุฎูŽูููŠู‹ู‘ุงุŒ ูƒูŽุฅุถุงููŽุฉู ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุฃูŽุฎู’ุฐู ุงู„ุฑูู‘ุจุง ูˆุงู„ุงู†ู’ุชููุงุนู ุจูู‡ู ุฅู„ู‰ ุงู„ุจูŽุทู’ู†ู.

    (3) ุงู„ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูƒููˆู†ู ูƒููู’ุฑู‹ุง ู…ูุฎู’ุฑูุฌู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูุŒ ูˆู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูƒููˆู†ู ุฏููˆู†ูŽ ุฐูฐู„ูƒุŒ ูˆุงู„ู…ูุคูŽู„ูู‘ูู ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ุจูŽูŠูŽู‘ู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ ุงู„ู…ูุฎู’ุฑูุฌูŽุฉูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‚ู’ูˆุงู„ู ูˆุฃูŽูู’ุนุงู„ู ูˆุงุนู’ุชูู‚ุงุฏุงุชู ููŠ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ู‡ูฐุฐุง ุงู„ูƒูุชุงุจูุŒ ู„ูฐูƒูู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ู‡ูู†ุง ููŠ ุชูŽู‚ู’ุณููŠู…ูู‡ู ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูŽูˆุงุฑูุญู ู…ุง ู‡ููˆูŽ ูƒููู’ุฑูŒ ู…ู†ู‡ุง ู…ูŽุนูŽ ู…ุง ู‡ูˆ ุฏููˆู†ูŽู‡ูุŒ ุฏููˆู†ูŽ ุฃู†ู’ ูŠูŽู„ู’ุชูŽุฒูู…ูŽ ููŽุฑู’ุฒูŽ ุงู„ูƒููู’ุฑู ุนูŽู…ู‘ุง ุฏููˆู†ูŽู‡ูุŒ ูˆู„ูุฐูฐู„ูƒ ู†ูŽุจูŽู‘ู‡ู’ุชู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ู…ูŽุนู’ู‚ููˆููŽูŠู’ู†ู ุนู„ู‰ ู…ุง ูƒุงู†ูŽ ูƒููู’ุฑู‹ุง ู…ู†ู‡ุงุ› ูˆู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ู ุฃู†ูŽู‘ ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑูŽ ุงู„ูƒูŽุจุงุฆุฑู ูˆุฃูŽุนู’ุธูŽู…ูŽ ุงู„ู…ูŽุนุงุตููŠ ูˆุฃูŽุดู’ู†ูŽุนูŽ ุงู„ุฐูู‘ู†ููˆุจู ูˆุฃูู’ุธูŽุนูŽ ุงู„ุฌูŽุฑุงุฆูู…ูุŒ ุดูŽุฑู’ุนู‹ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ูˆุงู„ุฅุทู’ู„ุงู‚ูุŒ ูƒูู„ูู‘ ู…ุง ูƒุงู†ูŽ ูƒููู’ุฑู‹ุงุŒ ู„ุฃู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ู’ ุฏููŠู†ู ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ู.

    (4) ุงู„ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูƒููˆู†ู ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู‹ุŒ ูˆู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูƒููˆู†ู ุตูŽุบููŠุฑูŽุฉู‹ุŒ ูˆุงู„ู…ูุคูŽู„ูู‘ูู ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู„ู… ูŠูŽู„ู’ุชูŽุฒูู…ู’ ุชูŽู…ู’ูŠููŠุฒูŽ ุงู„ูƒูŽุจุงุฆุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุบุงุฆูุฑูุŒ ูˆุงูƒู’ุชููŽู‰ ุจูุณูŽุฑู’ุฏูู‡ุง ุจูู„ุง ููŽุฑู’ุฒูุŒ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ูƒูู„ู‹ู‘ุง ู…ู†ู‡ุง ูŠูŽุฌูุจู ุงุฌู’ุชูู†ุงุจูู‡ู ุฏุงุฆู…ู‹ุง ูˆุงู„ุงุจู’ุชูุนุงุฏู ุนู†ู‡ ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุงุŒ ูˆู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ุนุงู‚ูู„ูŽ ู…ูŽุชูŽู‰ ุงุณู’ุชูŽุญู’ุถูŽุฑูŽ ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ู…ูุฎุงู„ูŽููŽุฉูŒ ู„ูู†ูŽู‡ู’ูŠู ุงู„ุฎุงู„ูู‚ู ุงู„ุนูŽุธููŠู…ู ุฑูŽุขู‡ุง ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู‹ุŒ ูˆุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽุชู’ ุตูŽุบููŠุฑูŽุฉู‹ ุจูุงุนู’ุชูุจุงุฑู ุนูŽุฏูŽู…ู ููุณููˆู‚ู ู…ูุฑู’ุชูŽูƒูุจูู‡ุงุŒ ูˆุบูŽูŠู’ุฑู ุฐู„ููƒูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุงุนู’ุชูุจุงุฑุงุชู.]

    1. Yang dimaksud dengan pembagian maksiat anggota badan seperti tangan dan perut di bab ini hanyalah untuk mempermudah pengajaran. Sebenarnya cukup bagi muslim mengetahui haramnya perkara-perkara ini agar dijauhi dan ditakuti walaupun dia tidak mengetahui apa itu dosa anggota badan.

    2. Menyandarkan maksiat pada sebagian anggota badan terkadang sebabnya bersifat hakiki dan jelas. Seperti menyandarkan maksiat melihat aurat ke mata. Terkadang bersifat majazi yang samar seperti menyandarkan maksiat mengambil dan memanfaatkan harta riba pada perut.

    3. Maksiat terkadang menyebabkan kufur dan mengeluarkan dari Islam. Terkadang tidak sampai tingkat itu. Pengarang menjelaskan maksiat yang mengeluarkan dari Islam berupa perkataan, perbuatan, dan aqidah (keyakinan) di awal kitab ini. Namun ia juga menyebutkan di sini pembagian maksiat pada beberapa anggota badan ada yang kufur ada yang tidak. Seperti diketahui, dosa terbesar dan maksiat tertinggi secara syariah adalah segala dosa yang kufur karena ia mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

    4. Maksiat itu terkadang besar, terkadang kecil. Pengarang tidak menetapkan perbedaan antara dosa besar dan kecil. Karena kedua jenis dosa itu wajib dijauhi selamanya secara mutlak. Juga, karena manusia berakal sehat apabila mengetahui bahwa maksiat itu berlawanan dengan larangan Allah, maka ia menganggapnya sebagai dosa besar walaupun ia dosa kecil dari segi tidak fasiknya pelakunya. [alkhoirot.com]

    Pasal: Cara Taubat

    ููŽุตู’ู„ูŒ : ููŠ ุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ุจูŽุฉู

    ุชูŽุฌูุจู ุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ุจูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฐูู‘ู†ููˆุจู [ุตูŽุบููŠุฑูู‡ุง ูˆูƒูŽุจููŠุฑูู‡ุง] ููŽูˆู’ุฑู‹ุง ุนู„ู‰ ูƒูู„ูู‘ ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ููุŒ ูˆู‡ูŠ: [1] ุงู„ู†ูŽู‘ุฏูŽู…ูุŒ [2] ูˆุงู„ุฅู‚ู’ู„ุงุนูุŒ [3] ูˆุงู„ุนูŽุฒู’ู…ู ุนู„ู‰ ุฃู†ู’ ู„ุง ูŠูŽุนููˆุฏูŽ ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ุงุŒ ูˆ[ู„ุง ูŠูุดู’ุชูŽุฑูŽุทู] ุงู„ุงุณู’ุชูุบู’ูุงุฑู [ุจูุงู„ู„ูู‘ุณุงู†ู] ุŒ ูˆุฅู†ู’ ูƒุงู†ูŽ ุงู„ุฐูŽู‘ู†ู’ุจู ุชูŽุฑู’ูƒูŽ ููŽุฑู’ุถู ู‚ูŽุถุงู‡ูุŒ ุฃูˆ ุชูŽุจูุนูŽุฉู‹ ู„ูุขุฏูŽู…ููŠูู‘ ู‚ูŽุถุงู‡ู ุฃูˆ ุงุณู’ุชูŽุฑู’ุถุงู‡ู.

    Kewajiban bagi setiap orang mukalaf (muslim yang baligh) untuk segera bertaubat dari segala dosa kecil dan besar yaitu (dengan cara): menyesal, meninggalkan dosa, dan berniat untuk tidak mengulanginya. Tidak disyaratkan istighfar atau memohon ampun secara lisan. Apabila dosa itu berupa meninggalkan kewajiban maka harus diqadha (dilunasi) atau dosa hak sesama manusia maka ia harus melunasi atau meminta kerelaannya.

    Penutup

    ุฎุงุชูู…ูŽุฉูŒ

    ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ ู…ุง ู‚ูŽุฏูŽู‘ุฑูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฌูŽู…ู’ุนูŽู‡ุŒ ูˆุฃูŽุฑู’ุฌููˆ ู…ู†ู‡ ุณูุจู’ุญุงู†ูŽู‡ู ุฃู†ู’ ูŠูุนูู…ูŽู‘ ู†ูŽูู’ุนูŽู‡ุŒ ูˆูŠููƒุซูุฑูŽ ููŠ ุงู„ู‚ูู„ููˆุจู ูˆูŽู‚ู’ุนูŽู‡ุŒ ูˆุฃูŽุทู’ู„ูุจู ู…ูู…ูŽู‘ู†ู ุงุทูŽู‘ู„ุนูŽ ุนู„ูŠู‡ ู…ูู†ู’ ุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ูˆุฑูŽุฃูŽู‰ ููŠู‡ ุฎูŽุทูŽุฃู‹ ุฃูˆ ุฒูŽู„ูŽู„ุงู‹ ุฃู†ู’ ูŠูู†ูŽุจูู‘ู‡ูŽ ุนู„ู‰ ุฐูฐู„ูƒุŒ ุจูุงู„ุฑูŽู‘ุฏูู‘ ุงู„ุตูŽู‘ุฑููŠุญูุŒ ู„ููŠูŽุญู’ุฐูŽุฑูŽ ุงู„ู†ู‘ุงุณู ู…ูู†ูŽ ุงุชูู‘ุจุงุนููŠ ุนู„ู‰ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ุตูŽู‘ูˆุงุจูุŒ ููŽุงู„ุญูŽู‚ูู‘ ุฃูŽุญูŽู‚ูู‘ ุฃู†ู’ ูŠูุชูŽู‘ุจูŽุนูŽุŒ ูˆุงู„ุฅู†ู’ุณุงู†ู ู…ูŽุญูŽู„ูู‘ ุงู„ุฎูŽุทูŽุฃู ูˆุงู„ู†ูู‘ุณู’ูŠุงู†ู.

    ๏ดฟุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู†ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ููˆู†ูŽุง ุจูุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ุบูู„ู‹ู‘ุง ู„ูู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุกุงู…ูŽู†ููˆุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุฑูŽุกููˆููŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ๏ดพุŒ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ูŽู‘ ู…ูŽุบู’ููุฑูŽุชููƒูŽ ุฃูŽูˆู’ุณูŽุนู ู…ูู†ู’ ุฐูู†ููˆุจูู†ุงุŒ ูˆุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ุฃูŽุฑู’ุฌูŽู‰ ุนูู†ู’ุฏูŽู†ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุนู’ู…ุงู„ูู†ุงุŒ ๏ดฟุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูุฒูŽู‘ุฉู ุนูŽู…ูŽู‘ุง ูŠูŽุตููููˆู†ูŽ * ูˆูŽุณูŽู„ุงู…ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู…ูุฑู’ุณูŽู„ููŠู†ูŽ * ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ู„ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ๏ดพ โ€“ ุขู…ููŠู†ูŽ.

    Usai sudah apa yang telah ditakdirkan Allah terhimpun dan aku berharap dariNya Yang Maha Suci agar memberikannya manfaat secara merata dan memperbanyak kedudukannya dalam hati juga aku berharap ada seseorang yang rela menelaahnya dari kalangan cendekiawan dan apabila ternyata melihat kesalahan atau kekeliruan yang ada di dalamnya agar mengingatkan hal itu dengan pembenaran yang jelas, supaya orang lebih berhati-hati mengikuti perkataanku pada hal yang tidak benar karena kebenaran itu lebih berhak diikuti.

    Sedangkan manusia adalah tempat kesalahan dan lupa. Wahai Allah swt ampunilah kami dan saudara kami yaitu orang-orang yang telah mendahului kami dengan membawa iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami sebagai kebencian terhadap orang-orang yang beriman.

    Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Allah swt ampunanMu yang paling luas dibanding dosa-dosa kami dan RahmatMu lah yang aku harapkan di sisi kami. Maha Suci Tuhanmu Ya Nabi Muhammad yang menguasai kemuliaan jauh dari orang banyak, juga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam.[alkhoirot.org]

    Biografi Pengarang Kitab Sullam Taufiq

    ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ู…ุคู„ู ุนุจุฏุงู„ู„ู‡ ุจู† ุญุณูŠู† ุจู† ุทุงู‡ุฑ ุจุงุนู„ูˆูŠ

    ุนุจุฏุงู„ู„ู‡ ุจู† ุญุณูŠู† ุจู† ุทุงู‡ุฑ ุจุงุนู„ูˆูŠ. (H 1191 โ€“ 1272 /M 1777 โ€“ 1855 )
    ูˆู„ุฏ ููŠ ู…ุฏูŠู†ุฉ ุชุฑูŠู… (ุญุถุฑ ู…ูˆุช โ€“ ุงู„ูŠู…ู†) ูˆุชูˆููŠ ููŠ ู…ุณูŠู„ุฉ ุขู„ ุดูŠุฎ (ุชุฑูŠู… โ€“ ุญุถุฑู…ูˆุช).
    ุนุงุด ููŠ ุงู„ูŠู…ู†ุŒ ูˆุงู„ุญุฌุงุฒ.

    ุชู„ู‚ู‰ ู…ุนุงุฑูู‡ ููŠ ู…ุนุงู‡ุฏ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุซู‚ุงูุฉ ุจู…ุฏูŠู†ุฉ ุชุฑูŠู… ูุฃุญุฑุฒ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ูˆู… ุนู„ู‰ ูŠุฏ ุนู„ู…ุงุฆู‡ุง ูˆู…ุดุงูŠุฎู‡ุงุŒ ูˆุชุฒูˆุฏ ู…ู† ุงู„ุนู„ูˆู… ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ูˆุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุฃุซู†ุงุก ู…ูƒูˆุซู‡ ุจุงู„ุญุฌุงุฒ ุงู„ุฐูŠ ุงู…ุชุฏ ุนุฏุฉ ุฃุนูˆุงู…ุŒ ุญุชู‰ ุฃุตุจุญ ุดุฎุตูŠุฉ ุนู„ู…ูŠุฉ ููŠ ุฒู…ุงู†ู‡ุŒ ูˆูƒุงู† ู„ุฃุฎูŠู‡ ุทุงู‡ุฑ ุฃุซุฑ ูƒุจูŠุฑ ููŠ ุชุฑุจูŠุชู‡ ูˆุชุฃุฏูŠุจู‡ ูˆุงุทู„ุงุนู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุนู„ูˆู….

    ุนู…ู„ ู…ุนู„ู…ู‹ุง ูˆู…ุฑุดุฏู‹ุง ุฏูŠู†ูŠู‹ุง ูˆูˆุงุนุธู‹ุง ูุงุฌุชู…ุน ู„ู‡ ุงู„ุนุฏูŠุฏ ู…ู† ุงู„ุทู„ุงุจ ูˆุงู„ู…ุฑูŠุฏูŠู† ู…ู† ุดุชู‰ ุงู„ุจู‚ุงุน ููŠ ู…ุฏูŠู†ุฉ ุญุถุฑู…ูˆุช ูˆุบูŠุฑู‡ุง.

    ูƒุงู† ููŠ ุทู„ูŠุนุฉ ุงู„ุฒุนู…ุงุก ู…ู…ู† ู…ู‡ุฏูˆุง ู„ู„ุซูˆุฑุฉ ุงู„ูˆุทู†ูŠุฉ ุนู„ู‰ ู…ุฑูˆุฌูŠ ุงู„ููˆุถู‰ ูˆุงู„ูุณุงุฏ ููŠ ู…ุฏูŠู†ุฉ ุญุถุฑู…ูˆุชุŒ ูˆูƒุงู† ู…ู† ุงู„ู…ุจุงุฏุฑูŠู† ุฅู„ู‰ ุญู…ู„ ุงู„ุณู„ุงุญ ูˆุงู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ู…ุจุงูŠุนุฉ ุฃุฎูŠู‡ ุทุงู‡ุฑ ุนู„ู‰ ุฎู„ุงูุฉ ุญุถุฑู…ูˆุช.

    Ia bernama Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi. Ia lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada 1777 M bertepatan dengan 1191 Hijriah dan wafat pada 1855 Masehi atau 1272 Hijriah. Ia hidup di Yaman dan Hijaz.

    Ia belajar di sejumlah mahad ilmu di kota Tarim di bawah para ulama dan masyayikh di sana. Ia menambah keilmuannya di Hijaz selama beberapa tahun sampai menjadi ulama di zamannya. Saudaranya, Tohir, mempunyai pengaruh besar dalam mendidik berbagai macam ilmu.

    Ia menjadi seorang pengajar, mursyid dan pendakwah sehingga memiliki banyak pelajar dan murid (tarekat) dari berbagai kawasan Hadramaut dan lainnya.

    Syarah Sullamut Taufiq

    ุดุฑุญ ุณู„ู… ุงู„ุชูˆููŠู‚

    ู…ุฑู‚ุงุฉ ุตุนูˆุฏ ุงู„ุชุตุฏูŠู‚ ููŠ ุดุฑุญ (ุณู„ู… ุงู„ุชูˆููŠู‚ ู„ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนู…ุฑ ู†ูˆูˆูŠ ุงู„ุฌุงูˆูŠ ุงู„ุจู†ุชู†ูŠ
    ุดุฑุญ ูƒุชุงุจ ุณู„ู‘ู… ุงู„ุชูˆููŠู‚ ุฅู„ู‰ ู…ุญุจุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุญู‚ูŠู‚ ู„ู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจุงุนู„ูˆูŠ ู„ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู‡ุฑุฑูŠ

    Ada dua kitab syarah sullamut taufiq yaitu:
    โ€“ Mirqat Shuโ€™ud Al-Tashdiq fi Syarhi Sullamit Taufiq karya Muhammad bin Umar Nawawi Al-Jawi Al-Bantani

    โ€“ Syarah Kitab Sullamit Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq karya Abdullah Al-Harari.

  • PERATURAN ORGANISASI BANSER

    PERATURAN ORGANISASI BANSER

    [3d-flip-book id=”15023″ ][/3d-flip-book]
  • Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Mojokerto

    Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Mojokerto

    Mojokerto, Sorbansantri.com โ€“ Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto mengadakan pelantikan dan pengukuhan pengurus MUI di tingkat kecamatan untuk masa khidmat 2025-2029. Pelantikan ini dilaksanakan secara bergilir di masing-masing kecamatan mulai tanggal 3 hingga 29 Desember 2024. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Mojokerto, Drs. KH. Cholil Arphaphy, MM, beserta jajaran pengurus harian MUI Kabupaten Mojokerto.

    Lokasi dan Kehadiran Aparat Setempat

    Pelantikan dilaksanakan di pendopo kecamatan masing-masing dengan dihadiri oleh para camat, Kapolsek, dan Dandim. Kehadiran mereka sebagai Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan menegaskan sinergi antara ulama dan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) setempat. Kegiatan ini juga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan mendapatkan sambutan yang hangat dari berbagai pihak.

    Drs. KH. Cholil Arphaphy, MM, menyampaikan pentingnya pelantikan ini sebagai langkah awal dalam memperkuat peran ulama di tingkat kecamatan. โ€œKita berharap pengurus MUI kecamatan yang baru dilantik dapat menjalankan amanahnya dengan penuh tanggung jawab, membawa manfaat bagi umat, dan terus bersinergi dengan Muspika untuk kemaslahatan masyarakat Mojokerto,โ€ ujar beliau.

    Antusiasme yang Tinggi

    Pelantikan di setiap kecamatan berlangsung dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta. Keikutsertaan ulama dan Muspika setempat menciptakan suasana kebersamaan yang harmonis. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar juga menjadi bukti dukungan terhadap program MUI.

    Agenda Selanjutnya

    Setelah prosesi pelantikan selesai, agenda berikutnya adalah rapat kerja (raker) yang akan dilaksanakan di masing-masing kecamatan. Raker ini bertujuan untuk merumuskan program kerja MUI di tingkat kecamatan guna mendukung visi dan misi organisasi selama masa khidmat 2025-2029.

    Pelantikan pengurus MUI kecamatan ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat peran ulama di Mojokerto, sekaligus mempererat sinergi antara elemen keagamaan dan pemerintahan di tingkat kecamatan. Semoga kepengurusan yang baru dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat Mojokerto yang religius, harmonis, dan sejahtera. (AI Sorban)

    @beritasorban Pelantikan dan pengukuhan pengurus MUI kecamatan se-Kabupaten Mojokerto untuk masa khidmat 2025-2029 berlangsung sukses. Acara bergilir di pendopo kecamatan sejak 3 hingga 29 Desember 2024 ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Mojokerto, Drs. KH. Cholil Arphaphy, MM. Kegiatan ini dihadiri oleh camat, Kapolsek, Dandim, serta ulama setempat, mencerminkan sinergi kuat antara ulama dan Muspika. Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, acara ini menjadi momen penting untuk memperkuat peran ulama dalam membawa Mojokerto menjadi lebih religius dan harmonis. Agenda berikutnya adalah rapat kerja di masing-masing kecamatan untuk merancang program kerja ke depan. MUI Mojokerto siap melangkah maju, bersinergi, dan berkontribusi nyata bagi umat! #PelantikanMUIMojokerto #UlamaBersinergi #MUI2025_2029 #MojokertoReligius #HarmoniUlamaMuspika #foryoupage โ™ฌ suara asli – Sorban Santri
  • Ahok dan Anies Baswedan Bertemu di Acara Bentang Harapan JakASA: Kolaborasi untuk Jakarta yang Lebih Baik

    Ahok dan Anies Baswedan Bertemu di Acara Bentang Harapan JakASA: Kolaborasi untuk Jakarta yang Lebih Baik

    Jakarta, Sorbansantri.com โ€“ Momen langka terjadi di Balai Kota Jakarta Pusat pada Selasa, 31 Desember 2024, saat dua mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan, bertemu dalam acara Bentang Harapan JakASA. Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ini menarik perhatian publik, mengingat latar belakang dan basis pendukung yang berbeda dari kedua tokoh tersebut.

    Kebersamaan yang Menginspirasi

    Dalam pantauan Tempo, Ahok dan Anies duduk berdampingan di depan Gedung Pendopo Balai Kota, lokasi utama acara. Keduanya terlihat berbicara akrab, bahkan sesekali berbagi senyuman, yang menjadi pemandangan istimewa bagi para peserta acara dan awak media.

    Ahok menggunakan kesempatan ini untuk menuliskan harapannya di sebuah papan khusus yang disediakan. Ia menulis: โ€œJakarta yang memiliki pejabat-pejabat yang suka memenuhi tuntutan keadilan sosial warganya, serta Jakarta yang memenuhi persyaratan yang standard dunia menjadi Kota Megapolitan Dunia.โ€

    Dalam pernyataannya, Ahok menekankan pentingnya kehadiran pejabat yang memprioritaskan keadilan sosial. Ia juga mengapresiasi Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi, atas inisiatif mengumpulkan seluruh mantan gubernur DKI untuk bersama-sama menyongsong masa depan Jakarta.

    โ€œKita harus berani bersama-sama menyongsong 500 tahun Jakarta. Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pak Pj, semoga niat baik ini bisa terwujud dengan baik,โ€ ujar Ahok.

    Anies Baswedan, yang juga memberikan sambutannya, menyoroti Jakarta sebagai rumah harapan bagi semua warganya. โ€œJakarta adalah tentang manusianya. Jakarta adalah milik kita,โ€ ujarnya dengan penuh semangat.

    Ia juga menekankan bahwa kota ini bukan hanya tentang gedung pencakar langit, melainkan juga tentang semangat kebersamaan dan kesetaraan. โ€œ500 tahun telah terlewati, ribuan tahun ke depan menanti. Semoga Jakarta semakin maju, setara, dan adil bagi seluruh warganya,โ€ tambah Anies.

    Obrolan Misterius Ahok dan Anies

    Ketika ditanya soal isi pembicaraan mereka, baik Ahok maupun Anies memberikan jawaban yang serupa. โ€œTunggu bulan depan tanggal mainnya,โ€ ucap Ahok dengan senyum misterius. Anies pun menguatkan pernyataan tersebut. โ€œNanti dong, kan sudah dibilang tunggu. Jadi ya harus sabar menunggu,โ€ katanya.

    Peran Pj Gubernur dan Harapan untuk Jakarta

    Pj Gubernur Teguh Setyabudi mengungkapkan bahwa acara Bentang Harapan JakASA merupakan bagian dari persiapan menjadikan Jakarta sebagai kota global, meski tidak lagi menjadi ibu kota negara. โ€œTidak lagi ibu kota negara bukan berarti kita men-downgrade Kota Jakarta, tapi kita meng-upgrade-nya menjadi kota global,โ€ jelas Teguh dalam sambutannya.

    Acara ini juga dihadiri para mantan gubernur lainnya, seperti Sutiyoso (Bang Yos), Fauzi Bowo, dan Ahmad Riza Patria. Tidak ketinggalan, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta terpilih, Pramono Anung dan Rano Karno, turut hadir bersama para kandidat Pilkada Jakarta 2024.

    Kolaborasi untuk Masa Depan

    Bentang Harapan JakASA bukan sekadar acara seremonial, melainkan simbol harapan dan kolaborasi antar generasi pemimpin Jakarta. Dengan visi bersama, para pemimpin ini diharapkan dapat membawa Jakarta menuju masa depan yang lebih cerah dan inklusif.

    @beritasorban Jakarta kembali mencatat sejarah dengan pertemuan dua mantan gubernur, Ahok dan Anies Baswedan, dalam acara Bentang Harapan JakASA di Balai Kota Jakarta. Duduk berdampingan, keduanya berbagi senyuman dan menuliskan harapan untuk Jakarta yang lebih baik. Ahok menekankan pentingnya keadilan sosial, sementara Anies menyebut Jakarta sebagai rumah harapan. Di bawah kepemimpinan Pj Gubernur Teguh Setyabudi, acara ini menjadi momen penting untuk menyongsong 500 tahun Jakarta sebagai kota global. Apa isi obrolan Ahok dan Anies? Keduanya meminta kita untuk sabar menunggu โ€˜tanggal mainnyaโ€™ bulan depan. Kolaborasi dan kebersamaan ini menjadi simbol harapan baru bagi masa depan Jakarta. #AhokAniesBersatu #Jakarta500Tahun #HarapanJakASA #KolaborasiPemimpin #JakartaUntukKita #fyp โ™ฌ suara asli – Sorban Santri
  • Sinergi Polsek, Koramil, BAZNAS Tanggap Bencana, dan Relawan Jaga Keamanan Tahun Baru 2025 di Pacet

    Sinergi Polsek, Koramil, BAZNAS Tanggap Bencana, dan Relawan Jaga Keamanan Tahun Baru 2025 di Pacet

    Pacet, Mojokerto โ€“ Menjelang malam pergantian tahun, sinergi antara Polsek Pacet, Koramil Pacet, BAZNAS Tanggap Bencana (BTB), dan berbagai elemen relawan menjadi kunci dalam menjaga keamanan dan kenyamanan di kawasan wisata Pacet dan Trawas. Kesiapsiagaan ini ditandai dengan apel pengamanan yang berlangsung pada pukul 17.00 WIB di halaman Polsek Pacet, Selasa (31/12/2024).

    Kapolsek Pacet menjelaskan bahwa kerja sama lintas sektor sangat penting dalam menghadapi keramaian wisatawan yang memadati kawasan Pacet dan Trawas, khususnya pada malam tahun baru. “Kami bersama Koramil dan BTB mengatur strategi pengamanan dan menyiagakan personel di titik-titik rawan untuk memastikan keamanan pengunjung,” ujarnya.

    SORBANSANTRI.COM
    Penjagaan keamanan di Posko Pelayanan lokasi Depan Koramil Pacet

    Titik koordinasi utama ditempatkan di depan Koramil Pacet. Di lokasi ini, tim gabungan menyusun rencana respons cepat terhadap berbagai potensi permasalahan, termasuk ancaman bencana alam. Pacet dan Trawas yang dikenal sebagai daerah rawan bencana, membutuhkan perhatian khusus, terutama dengan adanya lonjakan pengunjung.

    BAZNAS Tanggap Bencana turut menyiapkan berbagai peralatan untuk penanganan darurat, seperti gergaji mesin untuk evakuasi pohon tumbang, alat berat ringan, dan perlengkapan pendukung lainnya. “Kami fokus pada kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana seperti tanah longsor atau pohon tumbang, mengingat kondisi geografis kawasan ini,” ujar Cak Gusi, salah satu personel BTB.

    Koramil Pacet juga mendukung penuh pengamanan dengan menyiagakan anggota untuk membantu relawan dan petugas di lapangan. โ€œKoordinasi antar lembaga menjadi kunci untuk menciptakan situasi yang kondusif di tengah tingginya aktivitas masyarakat,โ€ ungkap Danramil Pacet.

    Selain itu, relawan dari berbagai komunitas turut dilibatkan untuk memantau jalur-jalur alternatif dan membantu pengaturan lalu lintas. Kehadiran mereka sangat membantu dalam memastikan arus kendaraan tetap lancar dan mengantisipasi potensi kecelakaan.

    Kerja sama yang solid antara Polsek, Koramil, BAZNAS Tanggap Bencana, dan relawan lainnya diharapkan dapat menciptakan suasana perayaan tahun baru yang aman dan nyaman. Sorban Santri akan terus memberikan laporan terkini terkait pengamanan ini. ( AI SORBAN)

  • Bantuan untuk Korban Banjir di Mojokerto: Kolaborasi BAZNAS dan Mahasiswa HMP IPA UNESA

    Bantuan untuk Korban Banjir di Mojokerto: Kolaborasi BAZNAS dan Mahasiswa HMP IPA UNESA

    Mojokerto, Selasa, 31 Desember 2024 โ€“ Dua desa di Kecamatan Sooko, yakni Desa Tempuran dan Desa Ngingasrembyong, menjadi lokasi penyaluran bantuan untuk korban banjir yang dilakukan oleh BAZNAS Kabupaten Mojokerto. Kegiatan ini melibatkan relawan dari BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) bersama perwakilan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Pendidikan (HMP) IPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

    Bantuan ini bertujuan meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir. Dalam penyaluran, para relawan membawa berbagai kebutuhan pokok, obat-obatan, serta barang lainnya yang diperlukan warga. Sebuah spanduk turut dipajang sebagai simbol kegiatan, memuat informasi penting tentang penyaluran bantuan tersebut.

    “Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas akan pentingnya peran zakat dan sinergi dalam membantu sesama, terutama saat bencana melanda,” ungkap salah satu perwakilan dari BAZNAS Kabupaten Mojokerto.

    BAZNAS Kabupaten Mojokerto juga mengajak masyarakat untuk terus berkontribusi melalui zakat, infak, dan sedekah guna mendukung berbagai aksi kemanusiaan mereka. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:

    Instagram: @baznaskab.mojokerto
    Facebook: BAZNAS Kabupaten Mojokerto
    Website: baznaskabmojokerto.or.id

  • Diskusi Hangat di Redaksi Sorban Santri: Mengapa Indonesia Sulit Maju?

    Diskusi Hangat di Redaksi Sorban Santri: Mengapa Indonesia Sulit Maju?

    SorbanSantri.com kembali menggelar diskusi interaktif dengan topik yang memancing perhatian: Apa yang Membuat Indonesia Sulit Maju? Artikel yang diunggah pada forum diskusi ini mengupas berbagai pandangan mengenai tantangan yang dihadapi Indonesia meski memiliki potensi besar sebagai negara maju.

    Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, dan SDM yang kompeten. Namun, setelah 78 tahun berdiri, cita-cita menjadi negara maju masih jauh dari kenyataan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya menjadi penghambat?

    Kejujuran dan Integritas Jadi Sorotan
    Dalam diskusi ini, salah satu penulis menyebut rendahnya kejujuran dan integritas sebagai akar dari banyak masalah di Indonesia. Pendidikan moral dinilai kalah saing dengan pendidikan formal, sehingga pemimpin dan pemangku kebijakan sering kali lebih memilih jalan pintas demi keuntungan pribadi.

    “Salah satu contohnya adalah minimnya dukungan pemerintah terhadap inovasi lokal, seperti mobil ESEMKA,” tulis penulis tersebut. “Mengapa mobil ini tidak dimanfaatkan secara luas sebagai mobil dinas? Mengapa pemerintah lebih memilih impor kendaraan dari luar negeri?”

    Ketergantungan pada Impor Teknologi
    Pandangan lain menyoroti lambatnya adopsi teknologi di berbagai sektor. Ketergantungan pada teknologi impor dianggap sebagai salah satu penyebab utama ketertinggalan Indonesia. “Di era perkembangan teknologi yang sangat cepat, keputusan untuk terus bergantung pada impor akan membuat kita semakin tertinggal,” tambahnya.

    Harapan untuk Perubahan
    Diskusi ini menjadi ruang refleksi bagi banyak pembaca untuk membahas solusi atas masalah yang dihadapi Indonesia. Sebagian besar sepakat bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri, diikuti dengan perbaikan sistem di berbagai lini kehidupan.

    Mari Ikut Berdiskusi!
    SorbanSantri.com mengundang seluruh pembaca untuk ikut memberikan pandangan dan pendapatnya. Apakah Anda setuju bahwa kejujuran dan integritas adalah penyebab utama Indonesia sulit maju? Atau ada faktor lain yang lebih mendasar?

    Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar atau kirimkan opini Anda untuk diterbitkan di SorbanSantri.com. Bersama, kita bisa mencari solusi untuk kemajuan bangsa. (Red)