Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • Pentasyarufan (penyaluran) Koin NU oleh Banom dan lembaga NU Tamansari

    Pentasyarufan (penyaluran) Koin NU oleh Banom dan lembaga NU Tamansari

     

    cyberaswaja.online- Di tengah maraknya Pandemi COVID-19 yang semoga cepat selesai, ada Tugas yang harus diselesaikan yang bersangkutan dengan kemanusiaan. Ahad (10/05/2020 atau tepat 17 Ramadhan 1441 H) siang tadi,kami bersama Sahabat-sahabat Ansor-Banser dan Rekan-rekan IPNU saling bahu membahu,saling bersatu penuh semangat dalam menjalankan Amanat untuk Bersilaturahmi kepada Para Imam Masjid/Mushola,Para Ustadz,serta beberapa warga guna untuk mentasyarufkan hasil dari KOIN NU yang berasal dari para Donatur dan dari Sahabat-sahabat Ansor-Banser,serta Rekan-rekan IPNU berupa paket SEMBAKO.

    Alhamdulillah ada sekitar 23 Paket Sembako yang harus kami bagikan siang tadi sampai sore untuk para Imam Masjid/Mushola,Para Ustadz,dan beberapa Warga yang bisa dikatakan kurang mampu dalam hal perekonomiannya.

    Senyum bahagia dari para penerima menjadi obat lelah kami dan semangat kami dalam menjalankan Tugas Mulia ini.

    Semoga sedikit bantuan yang kami bagikan menjadi kemanfaatan dan keberkahan di bulan yang penuh barokah ini.Dan semoga para Donatur senantiasa mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan tercatat sebagai Amal Jariyah yang diberkahi dan mendapat Ridho dari Alloh SWT..Amin Ya Robbal ‘Alamiin.

    #NU
    #KoinNU
    #AnsorMajuSatuBarisan
    #BanserBanyumas
    #IPNU
    #IPPNU
    #Muslimat
    #Fatayat
    #ACMBanyumas

  • Kyai Kampung Tersingkir Di Tengah Menjamurnya Ustadz Rasa Seleb Bertarif Ratusan Juta

    Kyai Kampung Tersingkir Di Tengah Menjamurnya Ustadz Rasa Seleb Bertarif Ratusan Juta

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Beberapa waktu lalu saya sempat melihat dan membaca salah satu postingan status, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) di akun media sosial instagramnya, mengenai pengalaman mengenal banyak Kiyai dengan latar profesi dan mapan secara ekonomi. Mulai dari yang berprofesi sebagai pedagang, penulis hingga sebagai petani

    Mbah Fadlon, merupakan sosok Kiyai kampung Kecamatan Pamotang Rembang, yang keseharian diisi dengan bekerja sebagai petani menggarap sawah hingga fisik kini tidak lagi mendukung. Tapi, meski usia sudah sepuh, Kyai Fadlol masih sanggup mengajar ngaji dan membaca kitab “Ihya-u ‘Ulumiddin” karya Imam Ghazali tanpa kacamata

    Sekilas bagi masyarakat yang melihat dari tampilan sederhana dan bersahaja termasuk ketika berada di sawah, mungkin tidak akan menyangka kalau beliau seorang Kiyai. Sosok Kiyai Fadlol mungkin satu dari sekian banyak kiyai kampung di Indonesia, meski memiliki keilmuan dan pemahaman keagamaan mendalam, tapi tetap memilih hidup bersahaja dan rendah hati.

    Tampilan, sikap, prilaku dan tutur kata dalam keseharian apa adanya, tapi tetap berwibawa. Mereka, Kiyai kampung jauh dari kesan formalistik dengan atribut keagamaan melekat untuk menunjukkan diri sebagai kiyai atau ulama yang perkataan dan perbuatan patut diikuti dan diteladani, sebagaimana dilakukan kebanyakan ustad seleb ketika diundang dan tampil berdakwah melalui media televisi

    Jauh dari kesan hidup mewah dan glamor, dikawal layaknya raja, memilik pengikut dan jamaah fanatik secara berlebihan, dielu elukan setiap tampil mengisi pengajian dalam banyak kesempatan, layaknya ustad seleb. Kiyai kampung juga tidak menerima honorarium, menerima bayaran atau sponsor setiap memenuhi undangan mengsis pengajian

    Padahal dengan keilmuan dan pengaruh dimiliki sebagai Kiyai, semua itu bisa saja dilakukan dan didapatkan dari jamaah. Tapi mereka menyadari bahwa berdakwah tidak semata untuk tujuan mengejar materi, popularitas dan dikenal banyak orang. Dakwah juga tidak sekedar menceramahi jamaah dengan mengutip dalil, ayat Al-Qur’an dan hadits nabi, tapi harus dibarengi dengan contoh dan keteladanan

    Dakwah dilakukan kebanyakan Kiyai kampung sebagai bagian dari upaya menggugah kesadaran dan kesalehan spiritualitas masyarakat sebagai seorang hamba dengan sang Pencipta maupun kesalehan sosial dengan sesama manusia, membangun hubungan baik dan persaudaraan, melalui bahasa dakwah sederhana, mudah diterima dan meneduhkan. Bukan caci maki, provokasi dan permusuhan, sebagaimana dilakukan beberapa ustad seleb dan karbitan yang belakangan mulai banyak berseliweran

    Kalau berkunjung ke pesantren di daerah pedesaan atau perkampungan, dengan mudah bisa kita temukan bagaimana Kiyai kampung biasa mengisi acara pengajian, tampil bersahaja mengenakan sarung, sebagai ciri khas seorang santri dan Kiyai kampung, tanpa pengawalan, mengajar dan mengisi pengajian dari kampung ke kampung, dari masjid, satu menuju masjid lain, tanpa mengharapkan imbalan

    Dengan kedalaman ilmu keagamaan, kebijaksanaan, motode dan pendekatan dakwah diterapkan, Kiyai kampung terbukti mampu menggugah kesadaran dan menciptakan keharmonisan di tengah masyarakat, tanpa menimbulkan perselisihan dan mempermasalahkan perbedaan.

    Materi dakwah disampaikan juga dengan mudah bisa diterima masyarakat. Tidak heran meski seorang Kiyai telah meninggal. Sosok Kiyai termasuk Ilmu yang pernah diajarkan tetap melekat dan dijadikan panutan masyarakat

    Berbeda misalkan dengan sebagian penceramah dan ustad pendatang yang belakangan mulai banyak berseliweran di media televisi maupun melalui kanal jejaring media sosial seperti YouTube.

    Ceramah disampaikan tidak jarang menimbulkan kontroversi dan meresahkan masyarakat. Materi dakwah cendrung tidak sehat, provokatif, Sara dan mengandung ujaran kebencian terhadap tokoh atau kelompok lain yang tidak disukai, jauh dari ajaran dan nilai – nilai keagamaan

    Lebih parah, materi dakwah belakangan juga sudah mulai ditarik dan ditumpangi kepentingan politis meraih kekuasaan dengan mengutif potongan ayat Tuhan yang dinilai menguntungkan sebagai pembenaran dan memainkan isu Sara. Sehingga dimunculkanlah isu pemimpin anti dan pro agama Islam, kriminalisasi ulama, isu PKI dan beberapa isu lain.

    Ceramah tidak sehat dan provokatif dari ustad seleb dan karbitan tersebut kemudian seringkali menimbulkan perselisihan dan polarisasi di tengah masyarakat, terutama masyarakat yang malas membaca dan melakukan croscek atas informasi diterima dalam bentuk teks maupun vidio, sangat mudah terprovokasi dan menjadi pelaku penyebaran berita bohong, main share dan copy paste

    Pelabelan Islam radikal, komunis, pancasilais dan tidak pancasilais di antara sesama masyarakat merupakan puncak dari ceramah kontroversi dan provokatif ustad karbitan yang kalau meminjam bahasa Prof. Mahfud MD ustad macam itu sebenarnya tidak faham agama, tidak pernah ngaji. Ngajinya hanya dari majalah, media sosial YouTube, Facebook dan Twitter.

    Kondisi tersebut diperparah dengan kecendrungan sebagian masyarakat, terutama generasi milenial, lebih senang mengikuti, mengutip, mempertontonkan dan menyebarkan ceramah ustad seleb dan karbitan, dengan materi dakwah yang tidak jarang tidak sehat dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Tayangan beberapa media juga senang menghadirkan ustad, lebih karena sisi hiburan untuk dikomersilkan daripada penceramah yang memang benar – benar memahami ajaran agama secara lebih mendalam.

    Mulai bermunculannya penceramah model tersebut tidak bisa dibiarkan, selain tidak sehat juga bisa menjadi ancaman keberlangsungan kehidupan berbangsa, dengan kondisi masyarakat Indonesia yang demikian beragam dan plural.

    Organisasi moderat seperti NU dan Muhammadiyah sudah saatnya mulai semakin banyak tampil dan memainkan peran, menghadirkan dan mengetengahkan ceramah menyejukkan melalui para Kiyai atau ulama tua maupun muda terutama di media sosial, sehingga masyarakat bisa tercerahkan. (ansor watulimo)

  • ISLAM SATU TAPI DI LAPANGAN TIDAK SATU

    ISLAM SATU TAPI DI LAPANGAN TIDAK SATU

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Maping (pemetaan) Islam di dunia ini setidanya ada 3 golongan. Mapping ini berdasarkan bagaimana cara umat Islam memahami Alquran:

    1. Islam Moderat
    2. Islam Radikal
    3. Islam Liberal

    Pemetaan ini bukan berarti memecah belah Islam atau merusak ukhuwah islamiyah, tapi sekedar mempermudah mencari benang merah saat terjadi perbedaan pendapat bahkan pertentangan diantara umat Islam.

    Dalam video Gus Baha menjelaskan kesalahan Salafi/Wahabi (Islam radikal), juga Islam liberal. Dengan kata lain, karena salah paham dalam memahami Alquran inilah maka seseorang akhirnya menjadi radikal atau liberal. Dengan kata lain, jika sudah benar cara berislam seseorang, sudah pas dalam memahami Alquran dan Hadits tentu seseorang tersebut akan menjadi moderat.

    Agar terhindar dari pemahaman yang salah (radikal dan liberal) dalam memahami Alquran dan Hadits maka belajarlah pada ulama moderat sehingga akhirnya menjadi Islam moderat. Tinggalkan Islam radikal dan Islam liberal, karena Allah berfirman:

    وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ

    “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia” (al-Baqarah: 143)

    Jadi, berislam itu jangan ke kiri (liberal) dan jangan ke kanan (radikal), tapi berislamlah yang tengah-tengah (moderat) sebagaimana perintah Allah subhanahu wata’ala.

    Follow :
    Instagram HWMI :
    https://www.instagram.com/hubbul_wathon_

    Twitter HWMI :

    Subscribe Juga Youtube Channel Kami:
    https://www.youtube.com/channel/UC6VYPhQt75ogtA9vQF6b0kQ

    #HubbulWathonMinalIman

  • HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN DALAM PERJALANAN

    HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN DALAM PERJALANAN

    SORBANSANTRI.COMcyberaswaja.online – Sebagaimana ibadah lainnya, Allah SWT memberikan dispensasi puasa Ramadhan terhadap beberapa orang tertentu, salah satunya ialah orang yang berada dalam perjalanan (musafir). Untuk itu, seorang musafir boleh tidak berpuasa dan menggantinya (qadha) di lain waktu dengan beberapa syarat.Pertama, perjalanan yang ditempuh mencapai jarak minimal diperbolehkan meringkas (qashar) salat, yakni minimal 81 KM. Kedua, ia sudah keluar batas daerah tempat tinggalnya minimal sebelum subuh menurut pendapat yang kuat. Namun menurut Imam al-Muzani, ia diperbolehkan tidak puasa meskipun perjalanan baru dilakukan di siang hari. Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi:وَمَنْ أَصْبَحَ فِي الْحَضَرِ صَائِمًا ثُمَّ سَافَرَ لَمْ يَجُزْ لَهُ اَنْ يَفْطَرَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَقَالَ الْمُزَنِّي لَهُ أَنْ يَفْطَرَ كَمَا لَوْ أَصْبَحَ الصَّحِيْحُ صَائِمًا ثُمَّ مَرَضَ فَلَهُ أَنْ يَفْطَرَ .“Barang siapa yang memasuki waktu subuh masih di rumah dalam keadaan puasa, kemudian pergi, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya pada hari itu. Imam al-Muzani berpendapat, bagi orang yang pergi setelah subuh boleh membatalkan puasa sebagaimana orang yang masuk pada waktu subuh dalam keadaan sehat, kemudian mendadak sakit, boleh membatalkan puasa.” (Al-Majmu’Syarh al-Muhadzdzab, VI/260)Apabila telah memenuhi persyaratan tersebut, seseorang boleh tidak berpuasa. Namun yang lebih baik ialah melihat kondisi dirinya ketika berpuasa. Sebagaimana penjelasan Imam Jalaluddin Al-Mahalli:وَيُبَاحُ تَرْكُهُ لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيلًا مُبَاحًا فَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ وَإِلَّا فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ“Dan diperbolehkan bagi musafir untuk meninggalkan puasa dalam perjalanan jauh yang dilegalkan. Apabila ia merasa kepayahan akibat puasa, maka meninggalkan puasa lebih baik. Apabila tidak kepayahan, maka tetap puasa justru lebih baik.” (Al-Mahalli Syarh al-Minhaj, II/82)
    []waAllahu a’lam (abi SORBAN)

  • KEGIATAN SANTUNAN YATIM DAN DHUAFA OLEH MASJID NURUL IMAN PACET MOJOKERTO

    KEGIATAN SANTUNAN YATIM DAN DHUAFA OLEH MASJID NURUL IMAN PACET MOJOKERTO

    cyberaswaja.online- NUZULUL QUR’AN DI MASJID NURUL IMAN PACET MOJOKERTO kali ini sudah diadakan dari tahun 80 an dari statusnya masih musholla sampai jadi masjid dan sampai sekarang. Semua pengurus TA’MIR MASJID NURUL IMAN PACET UTARA ( PACET NGGAPUK ) beserta santri dan remas HISNURI ( Himpunan Santri Nurul Iman ) saling bersinergi dan bekerjasama dalam kegiatan tersebut.

    Acara Nuzulul Qur’an ini bertempat di Masjid Nurul Iman yang dihadiri semua jama’ah masjid, persiapan sudah dimulai sebelum datangnya bulan suci ramadhan 1441 H dan mulai terlihat aktivitasnya sejak pagi (Sabtu, 09 Mei 2020). Kegiatan ini adalah rutinan yang selalu diadakan di masjid Nurul Iman tiap tahun di bulan ramadhan.

    Dalam acara tersebut, memang lain dari tahun-tahun sebelumnya dikarenakan pandemi corona covid-19. Untuk itu panitia menghimbau kepada jama’ah utuk menjaga jarak dan mewajibkan membawa masker serta sajadah sendiri-sendiri. yang tahun-tahun kemarin bisa makan bersama, sekarang sudah dipersiapkan panitia bungkusan yang berisi snack dan nasinya.

    Tujuan dari diadakannya acara tersebut adalah syiar agama Alloh yaitu Dinnul Islam. dalam kegiatan tersebut juga selalu disisipkan kiriman do’a untuk jama’ah dan tokoh-tokoh yang sudah meninggal yang aktif berperan dalam menegakkan syiar agama di daerah pacet khususnya Jama’ah seperti KH. Abdul Muin (alm).

    Kegiatan ini diharapkan agar bisa istiqomah dan menjadi tradisi budaya syiar agama islam, untuk itu pengurus ta’mir melakukan pembinaan keagamaan terus menerus kepada generasi berikutnya apalagi kawasan tersebut adalah jantungnya tempat persinggahan dan persewaan villa. (hisnuri)

  • KARENA NU BUKAN PAHLAWAN KESIANGAN

    KARENA NU BUKAN PAHLAWAN KESIANGAN

    SORBANSANTRI.COM

    Jasa NU terhadap negeri ini tak dapat diabaikan. Mulai dari Islamisasi secara damai, memperjuangkan negeri ini dari penjajahan, turut memproklamasikan kemerdekaan hingga ikut dalam membangun bangsa. Tak salah jika NU adalah penyangga NKRI. Jika tidak ada NU maka sudah dapat dipastikan NKRI bubar. Tidak heran jika NU mati-matian membela NKRI apapun taruhannya.

    NU mengakui bahwa NKRI adalah negara kesepakatan. Diperjuangkan bukan hanya satu golongan dan didirikan bukan hanya satu kelompok agama melainkan penuh ragam kebhinekaan. Atas dasar itu, maka NU menerima Pancasila sebagai dasar negara dengan penuh suka cita. Pancasila adalah fitrah sekaligus rahmat bagi bangsa Indonesia. Tak boleh diingkari dan tak boleh dikhianati.

    Kesetiaan NU terhadap negeri ini bukan omong kosong dan sudah dibuktikan secara nyata, lahir dan batin. Banyak tokoh-tokoh NU baik yang tercatat bahkan lebih banyak yang tak tercatat dalam tinta sejarah sebagai pahlawan. Bagi NU, diabadikan atau tidak, tak menjadi persoalan karena keikhlasan tak membutuhkan tanda jasa dan gelar kehormatan.

    Yang menjadi persoalan dan menjadi musuh besar bagi NU adalah kelompok-kelompok yang mencoba merusak negeri ini. Kelompok-kelompok pendatang dan baru kenal Islam namun berupaya merusak kebhinekaan atas nama Islam. Kelompok-kelompok anti Pancasila yang menggunakan simbol-simbol agama untuk melakukan pemberontakan, pembodohan dan hinggga penyesatan.

    Kelompok inilah yang disebut sebagai pahlawan kesiangan. Mengaku sebagai pembela Islam, pembela rasulullah, pembela ulama, penegak syariah namun sikap dan karakternya tak mencerminkan sebagai pejuang Islam. Kehadirannya sedikitpun tak membawa rahmat melainkan sebagai penghujat, penebar kebohongan dan pembawa ideologi makar.

    Disebut pahlawan kesiangan karena seolah hanya kelompok mereka yang memperjuangkan Islam. Seolah hanya golongannya yang membela kepentingan Islam. Diluar golongannya, dianggap anti Islam, dituduh tak paham ajaran Islam. NKRI yang sudah lama tegak berdiri, mereka anggap belum syar’i, perlu diislamkan karena masih dalam kondisi kekafiran dan kemusyrikan.

    Pahlawan kesiangan itu bernama kaum khilafah. Pancasila bagi mereka adalah produk kafir-jahiliyah dan simbol thaghut-berhala yang wajib dibasmi. Maka sangat wajar dalam sepanjang sejarah NKRI, kaum khilafah terus berupaya merongrong kedaulatan negara untuk menancamkan ideologi khilafahnya. Mulai dari DI/TII, HTI hingga Khilafatul Muslimin.

    Bukan hanya tidak bermanfaat kehadiran mereka bagi negeri ini namun sangat membahayakan bagi masa depan bangsa. Virusnya kian tersebar dalam ruang kehidupan. Mulai dari institusi Polri, BUMN, Lembaga Pendidikan hingga PNS/ASN, walau tak semua, sudah terpapar ideologi radikal khilafah.

    Kaum khilafah adalah kaum yang buta sejarah tentang NKRI. Tidak paham bagaimana NKRI ini ditegakkan dengan susah payah oleh seluruh elemen bangsa tanpa membedakan identitas agama mereka. Pancasila adalah jalan tengah bagi persatuan bangsa. Apabila diusik dan diubah maka rusaklah persatuan bangsa ini.

    Apakah mereka tidak paham bahwa negara ini bukan negara agama melainkan negara yang penduduknya beragama. Adanya ideologi Pancasila sebagai bukti bahwa negara ini sudah sangat bersyariah dan tak perlu diubah. Jika diubah menjadi negara syariah belum menjadi jaminan akan lebih baik bahkan bisa bubrah.

    NU sebagai ormas moderat yang turut berkontribusi melahirkan NKRI tak pernah mempermasalahkan Pancasila karena Pancasila sebagai tuntunan bernegara yang tak bertentangan dengan syariat Islam bahkan lahir dari beberapa prinsip ajaran Islam. Dengan Pancasila, NU terus berupaya mensyar’ikan nusantara sesuai dengan konteks masyarakat nusantara yang heterogen. Jadi, bagi NU, untuk membentuk negara yang ideal sesuai ajaran Islam tak perlu menegakkan khilafah atau ideologi negara syariah.

    Bagi NU, menegakkan ajaran Islam dengan cara menghayati ajaran Islam setiap pemeluknya masing-masing sehingga ajarannya diamalkan dalam setiap perbuatan. Menegakkan ajaran rasulullah bagi NU tak perlu menerapkan negara daulah atau negara syariah karena rasulullah tak pernah mewajibkan umatnya untuk membentuk negara syariah melainkan kondisional sesuai dengan konteks dan kesepakatan masyarakatnya. Cukup meneladani akhlak rasulullah dengan menabar rahmat kepada seluruh manusia apapun agamanya. Justru dengan adanya Pancasila, masyarakat Indonesia telah mencontoh rasulullah dalam mendirikan negara Madinah yang terhimpun atas kemajemukan sebagaimana NKRI. Pancasila adalah perwujudan Piagam Madinahnya bangsa Indonesia.

    Jadi, hidup di NKRI tak perlu lagi menjadi pahlawan kesiangan yang berupaya memformat baru konsep negara yang sudah syar’i dan final. NU yang sudah jelas turut andil mendirikan NKRI tak pernah teriak-teriak khilafah dan ganti sistem tapi mengapa anak-anak yang baru lahir kemarin sore merasa lebih paham tentang ajaran Islam dan merasa lebih ahli dalam merumuskan negara. Aneh.

    Mudah saja hidup di NKRI. Jika memang ingin tetap hidup di NKRI maka terima saja semua sistem berbangsa dan bernegara yang sudah dibuat oleh pendiri bangsa ini. Tak perlu membuat rumusan sendiri yang tak laku dan tak disukai oleh rakyat Indonesia. Jika memang tetap kukuh ingin mendirikan negara khilafah yang auto masuk surga tanpa hisab maka silakan saja buat negara yang jauh dari NKRI. Gitu aja kok repot? Tapi anehnya, kaum khilafah tetap kerasan di NKRI dan beranak pinak, padalah kata mereka negara ini adalah thaghut. Ajib! (Suryono Zakka)

    Credit: Hubbul Wathon Minal Iman

  • Saya Tidak Mau Menggunakan Duitnya NU

    Saya Tidak Mau Menggunakan Duitnya NU

    SORBANSANTRI.COM

    Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP. Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra’is Amm PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yang lebih.

    Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yang ditempati Kyai Sahal, beliau bilang: “Ndak usah, aku jek duwe duet dewe,” (Tidak, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir. Panitia pun masih merayu Kyai sahal agar mau dibayari oleh panitia. Mbah Kyai Sahal tetap bilang “Ndak usah” sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya. Setelah itu panitia masih berkata: “Mana bon-nya yai, biar kami ganti.” Mbah Sahal dawuh: “Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU.” (Tidak, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU).

    Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra’is Amm seperti mbah sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. Al-Fatihah

  • Dia lah yg mengharumkan nama bangsa di kancah dunia yg tidak di ekspos media

    Dia lah yg mengharumkan nama bangsa di kancah dunia yg tidak di ekspos media

    cyberaswaja.online- Kenal Musa kan? Ada yg blm…?
    Iya.. Bocah dari Bangka yg berhasil meraih Juara 1 Hafidz Indonesia 2014 dan tanggal 14 april kemarin baru saja berhasil meraih juara 3 Musabaqah Hifzil Qur’an di Mesir, mengalahkan 80 peserta dari 60 Negara, Masya Allah banget kan..?

    Yah.. Namanya Musa bin Abu Hanafi., Seorang Hafidz Cilik, usianya masih 7 thn., bicaranya masih cadel, tp jangan tanya prestasinya…

    Sudah hafal Qur’an saat usianya blm genap 6 thn, dan sekarang Musa sudah hafal ‘Umdatul Ahkam, Arbain Nawawi, Arbain hadits Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat, dan telah selesai Durusul Lughoh (Nah loh.. saya aja baru tau nama2 itu sekarang, malu banget ya Allah), Juara 1 hafidz Indonesia 2014, berhasil mencatatkan namanya pada rekor MURI sebagai hafidz termuda, bahkan bukan saja terbaik seIndonesia.. tapi juga terbaik seDunia dalam kompetisi penghapal Quran, dan in syaa Allah terbaik juga di akhirat nantinya.

    Yah.. berita kemenangan nya yg mengharumkan nama bangsa kurang terekspos di media.. entahlah.. mungkin Standar definisi “Bangga” dan “Mengharumkan Nama Bangsa” kita masih belum jelas. Mungkin menurut mereka, baru layak disebut “Mengharumkan Nama Bangsa” jika memenangi kontes putri2an yg mengumbar aurat itu., sehingga mereka berlomba ramai2 memberitakan,
    atau “Mengharumkan Nama Bangsa” karena berhasil menangkap “terduga teroris”..aaah.. sudahlah.. anggap saja mereka lagi butuh aqua xixi..😬

    Meskipun begitu..
    Kami bangga padamu nak..
    Jika media2 mainstream itu tak ingin memberitakanmu..
    Biarkan kami saja yang menshare berita tentangmu dan mengabarkannya pada Indonesia!!

    Karena media2 ini tampaknya lebih tertarik sama berita politik yg penuh permainan dan acting, aksi tipu2 atau berita gosip artis2 yg tidak bermutu..

    biarlah kami yg memberitakanmu ditengah sesaknya berita2 sampah itu..

    Itulah dia Musa..
    Seorang putra terbaik bangsa Indonesia..

    Musa tak butuh trilyunan rupiah jika sekedar untuk mengharumkan nama bangsa..

    Ia pun tidak perlu bersurat ke Dubes atau KBRI agar difasilitasi selama diluar negeri, meskipun membawa nama bangsa.

    Ia juga tak perlu mengemis sponsor untuk sekedar mengharumkan nama bangsa, apalagi harus merepotkan negara ratusan milyar dan menodong kementrian agar pegawainya dipotong gajinya.. untuk sekedar mengharumkan nama bangsa..

    Iya., Kami tahu, kamu tidak butuh itu semua nak untuk sekedar membuatmu terkenal di dunia, karena terkenal pada penduduk langit lebih mulia

    Ahh.. Musa kamu lagi2 membuat kami bangga nak.. bukan saja membuat bangga orang tuamu, tapi juga membuat bangga umat islam, dan terlebih bangsa ini yg kau wakili.

    Tetesan airmata kagum dan haru, bkn saja dari penonton, dan peserta tp jg syeikh2 penguji kelas dunia yg menjadi juri diajang itu..

    Mereka berlomba berfoto dan mencium kepalamu.. sebagai tanda takzim, bahkan Presiden Mesir akan memberi penghargaan khusus buatmu sayang..

    Teruslah berkarya dan berprestasi nak, kami b’harap padamu, harapan didunia dan akhirat sebagai barisan penjaga Qur’an dan penjaga kalam Allah, Semoga Allah selalu menjaga dan merahmatimu nak

    (abi sorban)

  • TABARUKAN KITAB SAYID MUHAMMAD MALIKI

    TABARUKAN KITAB SAYID MUHAMMAD MALIKI

    SORBANSANTRI.COM

    Anda akan berubah banyak hal disebabkan teman yang mendampingi dan buku yang dibaca setiap hari. Begitu pepatah mengatakan.

    Tabarukan kitab
    karya Sayyid Muhammad bin Abbas bin Alwi Almaliki yang telah di Tahqiq oleh putranya Doktor Sayid Ahmad bin Muhammad bin Abbas AlMaliki. Keduanya merupakan Ulama besar pada zamannya dan menjadi rujukan ulama ahlussunah wal jamaah dunia.
    Beliau bermukim di Rushoifah Makkatul Mukarromah. Dan banyak pula tersebar alumninya yang alim allamah di negeri kita tercinta indonesia.
    Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping Sayyidah Khadijah al-Kubro.

    Al-‘Allamah al-Muhaddits Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani meninggalkan karya tulis yang sangat banyak. yang sudah terbit ada kisaran 77 judul dan dicetak oleh Darul Minhaj.
    Penulis niat bertabaruk karya-karya Sayid Muhammad dengan harapan mendapatkan keberkahan dalam setiap langkah hidupnya. Dan tentunya tulisan para Ulama’ berbeda dengan tulisan orang biasa dalam segi nur dan keberkahannya.
    Adapun dalam hal harga, harga kitab tidak semahal handphone keluaran terbaru.

    Tentang membeli kitab Teringat sebuah Maqolah dari Syekh Ali Jum’ah
    شراء الكتب يعود بعشر امثاله رزقا
    Membeli kitab menyebabkan rezeki kembali sepuluh kali lipat

    Maqolah dari Habib Salim As-Syatiri
    Membeli kitab dapat memudahkan datangnya rezeki.
    ‎شِراء الكُتب مع النِّية الحسنة مِن أسباب سِعَّة الرِّزِق ويُورِث صاحبه الغنى. كان الأستاذ محمد الخانجي صاحب مكتبة الخانجي شغوفا بتحصيل الكتب وشرائها.. وكان عنده شقتان ملأهما بالكتب. وكان يقول: “شراء الكتب يعود على صاحبه بعشرة أضعاف الثمن مجرب قلت: وهو كذلك مجرب
    Membeli kitab dengan niat yang baik merupakan sebab akan luasnya rizqi dan menyebabkan kekayaan bagi pemiliknya.
    Ustadz Muhammad al-Khaniji, pemilik penerbit Maktabah al-Khaniji sangat gemar mengoleksi dan membeli kitab. Ia punya dua rumah yang penuh dengan kitab. Ia sering berkata, membeli kitab akan mendatangkan uang berlipat-lipat daripada harga yang dibeli. Ini mujarab. Aku berkata, ini mujarab, alias terbukti.
    ‎شراء الكتب يورث الغنى.
    ‎Membeli buku akan menjadi investasi kekayaan.

    اذا كان عندك مال واردت ان تستري به ثوبا فاشتر به كتابا يأتيك ثوب
    Jika kamu memiliki uang lalu berkeinginan membeli pakaian, maka alihkanlah untuk membeli buku, kelak pakaian yang kamu inginkan akan datang. Syaikh Abdullah Izzuddin, Kairo.
    Raden Asnawi kudus
    Belilah kitab walau harganya mahal. Uang yang untuk membeli tidak akan hilang, sebab dengan kitab semua kebodohan hilang.

    Beberapa Kutipan dawuh Sayid Muhammad al-Maliki al-Hasani.
    أنا ما زلت طالباً ( بضمير التكلم
    Selamanya aku tetap sebagai santri

    ما زلت طالِباً ( بضمير الحطاب
    Selamanya engkau tetap sebagai santri

    لا زلت إلى الآنَ أَبحَث عَلَى مَنْ يُعَلِمُني
    Hingga sekarang, aku tetap mencari orang yang mau mengajariku ilmu agama.

    قدوة في العلم وفي الادب مع الرسول صلى الله عليه وسلم الامام مالك ابن انس

    Teladanku dalam berilmu dan beradab kepada Rasulullah saw adalah Imam Malik bin Anas.

    قدوة في الزي والمظهر والهيئة الامام مالك والامام ابو الحسن الشاذلي

    Teladanku dalam berpakaian dan berpenampilan adalah imam Malik dan Imam Abul Hasan As Syadzili

    ليس قصدي من التجمل والتزين سوى احترام العلم

    Tujuanku berpenampilan bagus dan rapi tiada lain kecuali untuk menghormat ilmu.

    استحي من الله ان يخرج ضيفي من عندي بلا شيئ في يده بلاطعام
    Aku merasa malu kepada Allah swt juka tamuku keluar dari rumahku tanpa membawa apa-apa ditangannya/ tanpa mencicipi makanan

    لست بكثير الصيام والقيام وقراءة القران وعسى الله يتقبل مني بسلامة الصدر
    Aku tidak banyak melakukan puasa sholat atau membaca al Qur’an. (Aku harap) semoga Allah swt menerimaku dengan selamatnya hati.

    ليس عندي كثير العمل والعبادة ولعل الله يتقبل مني بخدمة الناس
    Aku tidak mempunyai banyak amalan dan ibadah. (Aku berharap) semoga Allah swt menerimaku berkat membantu orang lain.

    لاتخلو شنطتي من دفتر وقلم ومسواك
    Tasku tidak pernah kosong dari buku kecil, bulpen dan siwak.

    لاتفارق المسبحة (السبحة) جيبي اوشنطتي
    Tasbih tidak pernah lepas dari saku baju atau taski.

    أحَاول أن يَكُونَ مَعي دائماً كتاب أو كُتيت في أسفاري , تَقلِيدًا بسَيْدِي الْوَلِيدِ ( السيد عَلَوي )
    Dalam perjalananku, aku selalu berusaha untuk membawa kitab demi mengikuti jejak ayahandaku.

    لاتغلب التجارة العلم
    Jangan sampai bisnis mengalahkan ilmu.

    العلامة الرابطة بين الشيخ وتلميذه نشر علومه والسير على منهجه
    Ikatan yang memperkuat hubungan antara guru dan murid adalah menyebarkan ilmunya dan mengikuti jalannya.

    قليل مع الاستمرار خير من كثير يتخلله الانقطاع
    Sedikit yang disertai keberlanjutan itu lebih baik daripada banyak yang diikiti keterputusan.

    اهل جاوة اهل الادب والكرام
    Masyarakat jawa adalah masyarakat yang berakhlak baik dan pemurah.

    Dan masih banyak lagi dawuh-dawuh beliau yang menyejukkan dan menentramkan hati.
    Selengkapnya bisa dilihat dalam kitab:
    استخراج اللآلي والالماس من بحر صاحب المعالي ابوي ابن عباس

    Semoga kecintaaan kita kepada para Habaib dan Ulama’ menjadikan hidup kita semakin terarah dan penuh berkah.

    Salam Takdzim
    Zainuddin Bad
    Pondok Pesantren An Nur 2 Al Murtadlo Bululawang Malang.

  • Setelah baca Al Qur’an Shadaqallahul Adzim Bid’ah?

    Setelah baca Al Qur’an Shadaqallahul Adzim Bid’ah?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Bisa gak sih sebulan saja Salafi ini tidak berulah di bulan Ramadhan ini? Saya tidak mau mengotori bulan suci ini dengan perdebatan. Tapi rupanya mereka tidak membedakan mana bulan suci dan tidak. Kalau pun terpaksa saya ‘meladeni’ menjawab tuduhan Bid’ah mereka maka saya lakukan malam hari.

    Bacaan “shadaqallah al-A’dzim” ini dinilai bidah oleh Syekh Bin Baz dan Syekh Utsaimin. Namun Syaikh Athiyah Shaqr, Mufti al-Azhar mengeluarkan Fatwa terkait amaliah membaca Shadaqallahul Adzim saat selesai membaca al-Quran (Fatawa al-Azhar, 8/86):

    وذكر القرطبى في مقدمة تفسيره أن الحكيم الترمذى تحدث عن آداب تلاوة القراَن الكريم وجعل منها أن يقول عند الانتهاء من القراءة : صدق الله العظيم أو أية عبارة تؤدى هذا المعنى . ونص عبارته “ج 1 ص 27 ” : ومن حرمته إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ، ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم

    Al-Qurthubi menyebutkan di Mukaddimah Tafsirnya bahwa Hakim al-Tirmidzi menyampaikan tatakrama dalam membaca al-Quran diantaranya adalah “Maha benar Allah”, atau redaksi lain yang semakna. Ia menjelaskan (1/27) bahwa diantara bentuk memuliakan al-Quran jika selesai membacanya adalah menyatakan Allah maha benar dan memberi kesaksian bahwa Rasulullah telah menyampaikan wahyu

    وجاء فى فقه المذاهب الأربعة ، نشر أوقاف مصر، أن الحنفية قالوا : لو تكلَّم المصلى بتسبيح مثل . صدق اللّه العظيم عند فراغ القارئ من القراءة لا تبطل صلاته إذا قصد مجرد الثناء والذكر أو التلاوة ، وأن الشافعية قالوا : لا تبطل مطلقا بهذا القول

    Dijelaskan dalam Fikih 4 Madzhab bahwa Ulama Hanafiyah berkata: “Jika orang yang salat membaca Tasbih, misalnya ‘Allah maha benar’ setelah imamnya selesai membaca al-Quran, maka tidak batal jika bertujuan memuji Allah, berdzikir atau membaca al-Quran”. Ulama Syafiiyah berkata: “Tidak batal mengucapkan kalimat ‘Allah maha benar’ secara mutlak”

    فكيف يجرؤ أحد فى هذه الأيام على أن يقول : إن قول : صدق الله العظيم ، بعد الانتهاء من قراءة القرآن بدعة؟ أكرر التحذير من التعجل فى إصدار أحكام فقهية قبل التأكد من صحتها ، والله سبحانه وتعالى يقول :{ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون } النخل : 116

    Maka bagaimana mungkin hari ini ada yang mengatakan bahwa mengucapkan ‘Allah maha benar’ setelah membaca al-Quran adalah bidah? Saya (Syaikh Athiyah) ulang-ulang mengingatkan supaya tidak tergesa-gesa dalam mengeluarkan hukum fikih sebelum memperkuat kesahihannya. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (al-Nahl: 116) (abi-sorban)