PURI – Sekitar 50 personil pasukan banser dikerahkan oleh Satkoryon Banser PAC GP Ansor Puri dalam tugas pengamanan kegiatan Khotmil Qur’an ke XVII TPQ Al-Mutaqin dan pengajian umum oleh KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro pada hari Selasa malam (11/02), di pelataran jalan raya Plososari depan TPQ Al-Muttaqin Dusun Tirim, Desa Plososari Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
Jumlah personil Banser yang diturunkan tergolong cukup banyak. Tentu hal ini mengacu pada skala jenis kegiatan sesuai dengan surat yang diterima oleh Kasatkoryon Banser PAC GP Ansor Puri dari Panitia kegiatan. Ketika surat diterima, maka segera mengkoordinasikan kepada jajaran pengurus untuk segera dipersiapkan bentuk pengamanannya. “Acara ini tergolong acara besar karena ada pengajian umum yang akan diisi oleh KH. Anwar Zahid. Antisipasi pengunjung yang membludak maka untuk pengamanan dibutuhkan banyak personil dan alhamdulillah personil kami bisa hadir lebih dari 50 personil.” Kata Tujin Mujianto selaku Kasatkoryon Banser Puri. “Kami siap sedia membantu pengamanan apalagi di situ ada para kiai yang hadir dan itu sudah menjadi tugas kami dalam upaya memberikan rasa nyaman, aman dan kondusif kepada orang lain khususnya kiai ataupun kelompok secara terorganisir dan sistematis” Lanjut sahabat ndan Muji, begitu ia biasa disapa.
Satkoryon Banser Puri
Dari jumlah pasukan banser yang diturunkan sudah ada ploting atau pembagian tugas sesuai pos masing-masing. “Ya, tentu dari jumlah 50 banser yang hadir itu ada tugasnya masing-masing, sudah kami atur, kami bagi dan persiapkan strategi pengamanan”. Kata Sulistiohadi (Ndan Sulis) yang bertugas sebagai Korlap Banser. “Setidaknya ada 3 ploting: (1) Penjemputan Kiai 6 personil (2) Penjagaan sekitar panggung dan area pengunjung 10 personil dan selebihnya bertugas (3) Pengawalan Kiai.” lanjut Ndan Sulis.
Tugas Banser fokus pada pengamanan dan prngawalan kiai. Turut hadir juga Corp Barisan Pelajar (CBP) IPNU PAC Puri membantu dalam pengamanan di sekitar area pengunjung. Sedangkan untuk keamanan lalu lintas sudah diperbantukan dari pihak kepolisian (Polsek Puri) dan Linmas Desa Plososari.
Acara berjalan lancar di mulai sejak pukul 18.00 WIB (selesai Maghrib) s.d. pukul 24.00 WIB. Meski pada awal acara sempat hujan namun setelah isya hujan mereda sehingga semakin banyak pengunjung yang hadir sekitar tiga ribu jamaah.
Tampak hadir di barisan tamu undangan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Kiai Ahmad Zaini, KH. Hafidz Muslih (Gus Hafidz), Forkopimca Ibu Nalurita (Camat Puri), Ibu Sri Mulyani (Kapolsek Puri), Koramil dan lain-lain.
Tokoh Agama dan Jajaran Forkopimca Puri
Pada akhir acara, saat apel banser Bu Camat berpesan kepada segenap banser Puri, “Jangan lupa ya tanggal 17 Februari, untuk bantu pengamanan”. “Siaaap”. Jawab banser kompak.
Tampaknya Bu Camat mengingatkan agenda banser Puri selanjutnya untuk bantu pengamanan kegiatan tanggal 17 Februari 2020 yaitu pada Pengajian umum oleh Habib Haidar Al Haddad dari Surabaya dan Gus Miftah Maulana dari Yogyakarta bertempat di Lapangan depan Kantor Kecamatan Puri, pukul 19.00 WIB.
Kemudian, KH. Anwar Zahid diakhir acara sebelum masuk mobil menyampaikan terimakasih kepada banser atas pelayanan pengawalan serta berpesan agar banser Puri tetap semangat. “Banser-banser semangat semangat semangat”. Pesan Kiai Anwar Zahid.
Tidak semua orang yang menjadi Kiai itu berasal dari keturunan seorang Kiai. Tetapi ada juga seseorang yang menyandang status ke-kiaiannya dari proses perjalanan riyadoh dan kealiman ilmunya. Selain kealiman dan kewibawannya, tentu pengakuan dari masyarakat juga menjadi factor penentu. Dan tentu saja itu bisa dimaknai bahwa proses seseorang menjadi Kiai karena adanya interaksi aktif dengan masyarakat. Dan masyarakat melihat kelebihan atau daya linuweh yang dimiliki seseorang itu yang kemudian pantas disebut sebagai seorang Kiai.
Kiai, dimasa dulu, juga kini, selalu menjadi rujukan terhadap berbagai hal dalam kehidupan umat. Karena masyarakat menganggap, Kiai memiliki selain ilmu tentunya, juga kedekatan dengan Tuhan. Sehingga doa-doanya mustajabah. Karenanya selain meminta nasehat, biasanya masyarakat meminta wirid atau doa-doa mustajabah yang mampu menyelesaikan permasalahan umat.
Dan tentu saja juga, penulis tidak mengingkari, apabila terjadi disrupsi terhadap penyebutan Kiai, tanpa ada prasyarat sebagai ahli riyadoh dan kealiman, misalnya pengurus structural di suatu ormas. Ini permasalahan lain. Tulisan ini akan menyuguhkan Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan alim. Dan contoh Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan kadar kealimannya yang tidak diragukan lagi itu ialah Kiai Istad Djanawi. Tulisan sederhana ini akan mengungkapkannya.
Asal Muasal Kiai Istad Djanawi
Kiai Istad Djanawi berasal dari Kertosono, tepatnya di Desa Kalianyar. Desa Kalianyar hingga sekarang dikenal dengan nama Desa Mbothe. Nama Mbothe ini mengingatkan pada sebuah tanaman yang bisa digunakan untuk makanan ringan bahkan juga bisa dipergunakan sebagai campuran untuk sayur makanan. Bisa jadi di desa ini dulu banyak tanaman Mbothenya sehingga lebih dikenal dengan nama desa Mbothe.
Kiai Istad Djanawi Ia lahir pada tahun 1875 dari pasangan Djanawi dan Marsiyem. Djanawi sendiri adalah seorang petani yang taat. Pun Marsiyem, adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Meskipun bukan berasal dari keluarga Kiai, tetapi Ayah Kiai Istad Djanawi merupakan petani taat, yang perhatian terhadap pendidikan putranya, khususnya pendidikan agama. Karenanya sejak kecil, Istad Djanawi sudah mengenyam pendidikan agama secara kuat. Baik pendidikan dari ayahnya langsung maupun ke Kiai Kiai dikampungnya yang alim.
Sebagaimana diketahui, bahwa desa Mbothe adalah desa yang dekat dengan banyak pesantrennya. Seperti Pesantren Mojosari, Pesantren Mangunsari, Pesantren Sekar Putih, dan Pesantren Kedunglo Bandar Lord an lain lain. Karenanya desa ini memperoleh rembesan barokah dari banyaknya pesantren disekitarnya dengan banyaknya alumni pesantren yang berkiprah berdakwah mengembangkan Islam di desa ini. Sehingga kehidupan beragama dan pendidikan agamanya sangat berakar di tengah masyarakat.
Dan saat Istad Djanawi berpamitan untuk melanjutkan pendidikan agamanya ke Pesantren, ayahnya pun mengizinkannya. Sebab, selain sudah menjadi kultur ditengah masyarakat, juga di pesantrenlah pendidikan alternative yang menjadi pilihan, ketika pendidikan Belanda yang diskriminasi, tak terjangkau oleh masyarakat kecil.
Yang menjadi pilihan Istad Djanawi adalah Pesantren Mangunsari. Pesantren yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Pengasuhnya waktu itu adalah Kiai Imam Bahri. Istad Djanawi memperdalam ilmu-ilmu alat, Fiqh, tasawuf, Aqidah Akhlak dan lain lain dalam waktu yang lama.
Namun dahaga Intelektualnya belum terpuaskan. Ia kemudian melanjutnya nyantrinya ke Kiai Kholil Bangkalan-Madura. Seorang Kiai yang menjadi punjernya Kiai waktu itu, sehingga banyak Kiai yang memanggilnya Syaikhona. Di Syaikhona Kholil ini, Istad Djanawi memperdalam ilmu alat dan juga tasawuf serta kitab kitab salaf yang menjadi rujukan dalam ilmu agama.
Meskipun sudah mumpuni ilmu agamanya, namun Istad Djanawi belum merasa puas apabila belum menemukan seorang mursyid yang akan membimbingnya menuju kepada Allah. Atas isyarat yang diterimanya, ia pun kemudian melakukan perjalanan menemui sang Mursyid. Dan di Desa Besuk Curahmalang Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang, Kiai Istad Djanawi menemukan mursyidnya. Beliau adalah Syeikh Umar Bisri, mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Pada Syeikh Umar Bisri ini, selain berbaiat pada thoriqohnya, Kiai Istad Djanawi juga belajar banyak riyadoh riyadoh taqarub ilalloh.
Sebagaimana para salik, dalam perjalanan menuju kepada Allah selalu ada godaan dan rintangan. Tetapi karena ia dibimbing oleh guru Agung yang pernah menempuh lika liku perjalanan menuju kepada Allah, ia dapat diselematkan dari halangan dan rintangan itu. Suatu kali Kiai Istad Djanawi didatangi ular besar sekali. Ular itu menawarkan berbagai kesaktian yang tidak bisa diperoleh oleh manusia biasa. Ular itu menunjukkan berbagai kesaktian yang mengagumkan. Meskipun demikian, dikarenakan bimbingan gurunya, Kiai Istad Djanawi tidak tergoda sedikitpun. Ia tetap bersiteguh dalam jalan menuju kepada Allah.
Usai memperoleh pencerahan dalam dunia spiritualnya, tidak menjadikan Kiai Istad Djanawi menyendiri bertapa menikmati keasyikan dunia spiritualnya. Namun tugas selanjutnya sesungguhnya lebih berat. Ia harus membumikan pesan-pesan langit ke bumi pertiwi.
Kiai Istad Djanawi pun memperoleh petunjuk untuk menemukan suatu tempat yang kelak akan dipergunakan untuk mendakwahkan agama Allah. Ia pun melakukan perjalanan ke Mojokerto dengan sesekali mengunjungi makam-makam aulia sepanjang perjalanan. Karena perjalanan yang panjang dengan perbekalan yang telah habis, ketika sampai di Desa Melaten Kecamatan Mojosari, Kiai Istad Djanawi tidak sadarkan diri. Ia pun kemudian ditolong oleh warga setempat. Setelah kondisinya pulih, ia pun melanjutkan perjalanan.
Sesampai di Desa Graji Kecamatan Dlanggu, Kiai Istad Djanawi singgah untuk beberapa lama. Bahkan ia pun memiliki seorang santri yang selalu melayani kebutuhannya. Namanya Karim. Di Desa ini, Kiai Istad Djanawi tak berhenti henti untuk melakukan mujahadah. Hingga pada suatu kali, ia memperoleh mimpi yang penuh makna. Ia bermimpi didatangi oleh berada di suatu mushola kecil. Di Depan Mushola kecil itu berdiri dua orang perempuan. Sedang dibelakang Mushola, terdapat makam yang diatasnya berdiri seorang laki-laki pendek memakai blangkon. Lelaki itu kemudian berbicara meminta bantuan kepada Kiai Istad Djanawi.
Isyarat dalam mimpi itu membuat Kiai Istad Djanawi penasaran. Bersama dengan santrinya, ia menelusuri jejak jejak mimpinya. Setiap kampung dicari musholanya dan dicocokkan dengan mimpinya. Tetapi tak satu pun Mushola seperti dalam mimpinya. Hingga ia sampai di sebuah desa Tawar Kecamatan Gondang, ia menemukan sebuah Mushola yang mirip dengan mimpinya. Ia pun kemudian meminta izin untuk singgah di Mushola ini. Dari keterangan warga setempat, diketahui bahwa makam dibelakang Mushola adalah makamnya Kiai Burhani. Kiai Burhani memiliki seorang istri yang bernama Nyai Watiah. Dan Nyai Watiah itu memiliki tujuh anak. Dan salah satu anaknya itu kebetulan seorang janda tanpa anak.
Kiai Burhani adalah pendakwah di desa tersebut. Hanya saja, dakwah yang dikembangkannya kurang berhasil dalam membina masyarakat. Masyarakat masih banyak yang awam dalam mengamalkan syariat syariat Islam. Namun belum banyak perubahan yang dilakukannya, Allah sudah menakdirkan ia kembali ke haribaan-Nya.
Kiai Istad Djanawi kemudian berusaha menghidupkan kegiatan Mushola ini. Dengan sholat jamaah dan Ngaji. Bertepatan pula pada saat itu, sudah masuk pada bulan ramadhan. Mushola kecil itu pun semarak.
Perubahan yang ada pada kehidupan religius di Mushola kecil itu setelah kedatangan Kiai Istad Djanawi sontak membuat Janda dari Kiai Burhani tertarik untuk meminangnya menjadi menantunya. Kiai Istad Djanawi dijodohkan dengan anaknya yang berstatus janda tanpa anak yang bernama Fathimah Jayun Yaumi. Gayung pun bersambut, Kiai Istad Djanawi yang sudah berumur 40 tahun pun menerima dengan lapang dada. Pernikahannya pun diberlangsungkan. Dari pernikahannya itu lahir dua belas anak yang bernama Haidlor Ali, Sulaiman Afandi, Khoirul Anam, Riyadlul Badiah, Muhajir, Zaenah, Muhayanah, Musyarofah, Baidlowi, Ahmad Syamsuddin, Isroil, dan Nur Roihanah.
#
Dalam kehidupan sehari-hari Kiai Istad Djanawi melakukan aktivitas seperti kebanyakan warga Tawar. Bahkan yang tidak umum, Kiai Istad Djanawi ba’da melakukan aktivitas ritual ibadah pagi, dari qiyamul lail, sholat subuh, dan pembacaan aurot thoriqoh yang berlangsung hingga waktu dhuha, jalan jalan ke pasar untuk sarapan dan berjualan. Kiai Istad Djanawi bahkan terkenal sebagai seorang makelar. Ia menjual padi, palawijo, bahkan juga rumah. Dari aktivitas jual beli dengan masyarakat itulah Kiai Istad Djanawi pelan pelan mengajak masyarakat untuk berkehidupan yang sesuai dengan agama tanpa menyinggung perasaan masyarakat.
Lambat laun, masyarakat pun banyak yang berguru kepada Kiai Istad Djanawi. Berbagai persoalan ditanyakan kepada Kiai Istad Djanawi. Dan Kiai Istad Djanawi melayani dengan sepenuh hati. Beliau sabar menghadapi masyarakat yang berbeda beda karakternya.
Dalam soal Aqidah, seperti karakter dakwah awal di daerah abangan, biasanya akan berhadapan dengan keyakinan suatu tempat yang diyakini akan kesakralannya. Dahulu di Desa Tawar ada puthuk, semacam tempat yang penuh pohon dengan gundukan tanah, yang disakralkan. Tempat ini juga angker. Saking angkernya, banyak orang kemudian menghubungkan semua kejadian dengan tempat ini. Bahwa sebab marabahaya juga berasal dari puthuk ini. Agar kehidupan berjalan normal, maka mereka akan memberikan sesajen. Dan disinilah masyarakat tanpa sadar tergelincir dalam kesesatan aqidah.
Maka, Kiai Istad Djanawi membongkar tempat ini. Santri santrinya dikerahkan. Sayangnya, ada satu kejadian yang membuat orang orang membenarkan keangkeran puthuk ini. Salah satu murid terkubur terkena longsoran tanah puthuk ini. Namun beruntung, dengan kekeramatan Kiai Istad Djanawi, sang murid bisa ditemukan tubuhnya yang terkubur di tanah, dalam keadaan masih hidup.
#
Pada tahun 1947, Kiai Istad Djanawi mulai membuka baiat Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Tentu saja atas izin dari guru yang pernah mengijazahinya yakni Syekh Umar Bisri Curah Malang. Banyak masyarakat yang turut berbaiat kepadanya. Tiap hari senin malam dan kamis malam diadakan khususiyah untuk murid murid thoriqoh. Karena pelaksanaan khususiyah hingga larut malam, maka para murid yang rumahnya jauh, bermalam hingga pagi hari. Dan dipagi hari, Kiai Istad Djanawi memberikan hidangan sarapan secara gratis.
Lambat laun, murid murid thoriqohnya pun semakin banyak. Tidak hanya di wilayah Mojokerto saja bahkan sampai diluar Mojokerto. Thoriqoh ini hingga saat ini masih dilanjutkan oleh putranya yakni KH. Syamsudin sepeninggal Kiai Istad Djanawi.
#
Pada tahun 1947 Kiai Istad Djanawi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Tawar. Banyak sambutan atas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah ini. Orang tua banyak yang mendaftarkan anak-anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah ini. Sehingga pembelajaran di gedung yang dididirikan tidak memuat jumlah siswanya. Pembelajaran dilakukan sampai di serambi Masjid dan di rumah Kiai Istad Djanawi sendiri.
Pada tahun 1953, Kiai Istad Djanawi mendirikan bangunan sekolah dengan biaya sendiri. Sebab tempat yang digunakan untuk pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah sudah tidak memadai lagi. Kiai Istad Djanawi mendirikan tiga bangunan lagi. Meskipun semi permanen, tetapi sudah dikatakan layak pada masanya. Di Madrasah Ibtidaiyah ini, kurikulum yang digunakan kurikulum klasik berkhas pesantren. Yakni berbasis kitab kuning. Kiai Istad Djanawi mengajarkan Kitab Talim Mutaalim dalam bentuk nadzam nadzam yang dihafal oleh santri santrinya. Juga mengajarkan kitab Safinatun Najah, kitab fiqh dasar yang memuat dasar dasar hukum Islam sehari hari. Pada tingkat lanjut, Kiai Istad Djanawi juga mengajarkan Tafsir Jalalain.
Selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah ini dikembangkan oleh putra putrinya, hingga berkembang seperti sekarang ini. Di Desa Tawar telah berdiri MI, MTS, hingga MA dan Pondok pesantren tentunya.
Tentang Pondok Pesantren, sebenarnya sejak era Kiai Istad Djanawi, sudah ada rencana membangun pesantren. Hanya saja, belum terlaksana proses pendiriannya, Kiai Istad Djanawi telah berpulang ke rahmatullah. Di tangan putra putranyalah dikemudian pesantren itu berdiri besar, hingga sekarang ini.
Tepat diusianya yang ke 80, yakni pada tanggal 5 November 1959, Kiai Istad Djanawi menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang dari sakit paru parunya. Isak tangis dari putra putrinya mengiringi jenazahnya. Pun kerabat serta santri santrinya.
Berita kematiannya menyebar luas. Masyarakat merasakan duka yang mendalam atas wafatnya seorang ulama yang mengayomi. Berduyun duyun pentakziyah memenuhi rumah Kiai Istad Djanawi.
Pukul 10.00 WIB, jenazah diberangkatkan oleh KH. Kholil dari Simping Dlanggu. Diiringi pula oleh para Kiai yang Masyhur di Mojokerto seperti KH. Ismail Ibrahim (Pengasuh PP. Kedungmaling Sooko), KH. Ahyat Chalimi (Pengasuh PP. Sabilul Muttaqin), dan KH. Yahdi Matlab (Pengasuh PP. Mojogeneng) dan lain lain.
Tidak banyak penulis sejarah peran santri dalam perang kemerdekaan yang mengulas panjang lebar tentang kiprah KH. Muhammad Suhud. Padahal begitu besar jasanya dalam membentuk dan melatih para santri sehingga siap berperang baik dalam Laskar Hizbullah maupun Sabilillah.
KH. Muhammad Suhud lahir di Pare Kediri pada tanggal 1 Nopember 1926. Tanggal lahir ini, menurut Gus Yakub, putranya, tanggal lahirnya tidak sesuai, sebab karena urusan dengan pencalonannya menjadi anggota DPR, maka umurnya di-muda-kan. Kemungkinan juga, seperti orang dulu pada umumnya, tidak perduli dengan angka kelahiran. Sehingga ketika diera modern ditanya tentang angka kelahiran, maka akan dikira-kirakan. Apabila mengacu keterangan dari Gus Yakub, kalau umurnya KH. Muhammad Suhud itu “unda undi” dengan KH. Wahid Hasyim, berarti kelahirannya antara tahun 1915-1920. Ini setara pula dengan angka kelahiran dari sahabat sahabt Ansornya di Mojokerto seperti KH. Ahyat Chalimi, KH. Munasir Ali dan Mansur Solikhi yang lahir antara tahun 1915-1920.
KH. Muhammad Suhud memiliki nasab yang bersambung ke jalur Mataram. Hal ini bisa dilacak disilsilah yang ditulis dalam buku Taman Solaya yang sekarang dikomandani oleh KH. Habib Mastur. Ayah dari KH. Muhammad Suhud adalah KH. Hasan Besari bin KH. Raden Khabib bin KH. Raden Muhammad bin Pangeran Hadi Ningrat Kerto Noto Agomo jejuluk KH. Raden Nur Qoyidi bin Sunan Kuning bin Sunan Mas bin Adipati Anom bin Aryo Prabu Adi bin Mas Rangsang bin Mas Jolang bin Sutowijoyo bin Ki Gede Pemanahan.
KH. Muhammad Suhud kecil tinggal di Pare. Setelah tumbuh remaja, ia dibawa oleh orang tuanya tinggal di Sumobito. Di Sumobito ini, KH. Muhammad Suhud remaja belajar mengaji di Masjid Sumobito. Kemudian pada tahun 1930 ia melanjutkan nyantri di PP. Tebuireng. Di PP. Tebuireng ini, ia memperoleh pengalaman luar biasa. Ia selain dididik langsung oleh Hadratus Syeikh Hasim Asyari juga menjadi teman diskusi KH. Wahid Hasyim. Dari KH. Wahid Hasyim inilah KH. Muhammad Syuhud memperoleh ilmu organisasi dan ilmu sosial politik, yang kelak menjadi bekalnya dalam berpolitik pasca kemerdekaan.
Ilmu organisasi dan ilmu sosial politik ini, diperoleh oleh KH. Muhammad Suhud dari KH. Wahid Hasyim, karena pada saat itu, tatkala KH. Wahid Hasyim pulang dari Mekkah, ia mengusulkan reformasi pada sistem pembelajaran yang ada di PP. Tebuireng. Dari bandongan ke sistem diskusi atau musyawarah. Bahkan dalam ilmu terapan, KH. Wahid Hasyim mengusulkan untuk membuat kursus-kursus yang sistematis dan memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang dibuat. KH. Wahid Hasyim juga mengusulkan agar perpustakaan di PP. Tebuireng, tidak hanya sekadar mengoleksi kitab kitab kuning, tetapi juga buku buku berbahasa Inggris, Belanda, melayu dan bahasa bahasa pengetahuan lainnya. Dan KH. Muhammad Suhud memperoleh keberkahan dengan kemajuan yang dialami oleh PP. Tebuireng pada masa itu.
Selain di PP. Tebuireng, KH. Muhammad Suhud juga menimba ilmu diberbagai pesantren, seperti PP. Mojosari Nganjuk, PP. Siwalan-Sidoarjo, dan lain lain. Bahkan menurut Gus Yakub, KH. Muhammad Suhud juga pernah berguru kepada KH. Halim Majalengka. Di Majalengka inilah ia satu perguruan dengan Kyai Yazid, ahli bahasa dari Pare, yang kelak melahirkan seorang murid penggagas Kampung Inggris, Mr. Kalend.
Karir KH. Muhammad Suhud dimulai di MI al Muhsinun Kauman. Ia menjadi Kepala Sekolah di Madrasah milik Nahdlatul Ulama bentukan KH. Zaenal Alim ini. Ia juga dipercaya oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari untuk mendirikan dan membina MI dibeberapa daerah. Biasanya Hadratus Syekh Hasyim Asyari setelah pranata disiapkan, akan mengirim santri untuk tinggal ditempat tersebut dan kemudian dijodohkan dengan gadis daerah tersebut. Sehingga kemudian ia mampu mengembangkan dan menyebarkan Islam di daerah tersebut.
Kemampuan dalam dunia pendidikan semakin terasah, ketika pada tahun 1943, KH. Muhammad Suhud memperoleh kursus pelatihan Guru Agama di Jakarta selama tiga bulan. Dan pada tahun yang sama, KH. Muhammad Suhud juga mewakili Mojokerto ikut kursus pelatihan Kyai di Jakarta selama tiga bulan juga.
Selain menjadi pengajar di MI al Mushinun, KH. Muhammad Suhud juga bergabung menjadi anggota Ansor Mojokerto pimpinan KH. Ahyat Chalimi. Di Ansor, ia berinteraksi secara intens dengan anggota Ansor seperti KH. Munasir Ali, Mansur Solikhi, Mulyadi, Ahmad Yatim dan lain sebagainya. Pada saat Masyumi menyetujui untuk mengirim santri santri bergabung dengan PETA, KH. Muhammad Suhud ikut bergabung. Ia dikirim untuk berlatih militer di Jatinegara dan Jakarta. Dan kemudian mengantarkannya memperoleh kedudukan sebagai Shodancho.
Perlu diketahui, Struktur PETA terdiri atas 65 Daidan (batalyon) yang ada di Jawa dan 3 Daidan di Bali. Tiap Daidan beranggotakan 535 personil dipimpin Daidancho (komandan batalyon) pangkat setingkat mayor dibantu kepala staf berpangkat Chudancho. Setiap Daidan terdiri dari 4 Chudan yang dipimpin seorang Chudancho (komandan kompi) pangkat setingkat kapten. Tiap Chudan terdiri dari 3 shodan yang dipimpin seorang shodancho (komandan peleton) pangkat setingkat letnan. Tiap shodan terdiri dari 4 bundan yang dipimpin seorang bundancho (komandan regu) pangkat setingkat sersan.
Pada saat yang sama, KH. Muhammad Suhud juga ikut tergabung dalam latihan militer di Cibarosa yang diperuntukkan untuk pembentukan Laskar Hizbullah. KH. Muhammad Suhud mewakili Mojokerto bersama dengan Mulyadi dan Ahmad Yatim. Ada cerita menarik saat ia dilatih tentara Jepang. Pemuda-pemuda yang dilatih tentara Jepang itu, pada suatu kali diadu dengan Sumo. Siapa yang kalah, dijamin meninggal dunia. Banyak para pemuda yang mengalami retak tubuhnya. Pada gilirannya, KH. Muhammad Suhud dihadapkan dengan Sumo. KH. Muhammad Suhud merapal Hizib Nawawi dan binasalah sumo itu. Tetapi tentara Jepang, segera mengirim Sumo lagi untuk bergulat dengannya. Sampai lima Sumo terpental. Dan sebelum tenaganya sendiri kehabisan, akhirnya KH. Muhammad Suhud membuat strategi, hanya bertahan hingga waktu lama.
Selesai latihan di Cibarosa, KH. Muhammad Suhud mendapat mandat untuk melatih santri santri memiliki dasar-dasar berperang. Latihannya, kalau di Mojokerto di daerah Prajurit Kulon. Sedang kalau di Jombang, ditempatkan di Mojoagung. Dari alumni-alumni pelatihannya itulah, kemudian KH. Muhammad Suhud bersama pemimpin lainnya membentuk dan memperkuat pasukannya dalam beberapa kelompok. Yang masih muda dimasukkan ke dalam Laskar Hizbullah sedangkan yang sudah berumur dimasukkan ke dalam Sabilillah. Ada juga Laskar yang dibentuk oleh KH. Muhammad Suhud, yakni Laskar M. Laskar M ini terdiri dari para pencuri, perampok dan bandit. Mereka juga dilatih untuk melakukan aksi aksi mengacaukan. Bahkan mereka adalah spionase spionase handal yang kelak dipergunakan oleh tentara republic Indonesia untuk mendapatkan informasi selama perang revolusi.
Ketika Laskar Hizbullah masuk ke dalam TKR, KH. Muhammad Suhud juga ikut bergabung. Dan karir kemiliterannya berakhir saat Indonesia telah merdeka secara bulat pada tahun 1950. Ia mengundurkan diri. Sepertinya alasannya seperti pada umumnya para santri, resolusi jihad hanya mengamanatkan untuk mengusir penjajah. Kala penjajah sudah tidak ada maka mengangkat senjata sudah tidak diperlukan lagi.
Namun demikian, kata Gus Yakub, meskipun KH. Muhammad Suhud mulai fokus ke pesantrennya, Roudlotul Muttaqin Ngares, beliau masih tetap terus diintai oleh para militer, bahkan hendak dikaitkan dengan pemberontakan DI/TII. Dan pada akhirnya, KH. Muhammad Suhud memilih jalur politik untuk melawan berbagai upaya pelemahannya. Pada tahun 1955, ia menjadi DPRD dari jalur Partai NU. Dan kemudian saat orde baru, yang menuntut fusi partai Islam bergabung ke PPP, ia pun bergabung dengan partai yang menaungi umat Islam itu. Tetapi menjelang tahun 1980-an, berbagai intimidasi intimidasi kepada Kyai kerap dilakukan oleh pihak militer. Dan dengan ijtihad politiknya, KH. Muhammad Suhud bergabung dengan Golkar. Keputusan ini pernah mengantarkannya disidang oleh para Kyai. Tetapi dengan argumentasi strategi politiknya, maka para Kyai memahami keputusannya.
Bahkan salah satu idenya, agar kiai NU bisa ada dimana mana, terwujud pasca NU melakukan gerakan khitoh. Wallahualam.
Sorbansantri.com – Wajah wajah baru terlihat dalam kepengurusan yang baru di jajaran PAC GP Ansor kecamatan Mojoanyar dalam pelantikan yang diadakan pada hari Kamis malam (11-02-2021) di gedung Aula kantor kecamatan Mojoanyar kabupaten Mojokerto.
Ini adalah langkah baru dan langkah awal dalam kepengurusan yang dipimpin oleh Sahabat Muskhoiri sebagai ketua PAC terpilih Tahun (2020-2021),karna sudah lama sekali jajaran PAC Mojoanyar fakum.
sambutan ketua PAC Sahabat Muskhoiri
Dalam sambutannya Ketua PAC mengatakan “Ansor akan selalu bersinerji dengan Muspika,TNI dan Polri dalam menjaga serta melindungi keutuhan NKRI” lanjutnya… “Ansor akan bekerjasama dengan Banom Banom NU lainya untuk kemajuan dan keutuhan persatuan dan kesatuan di Kecamatan Mojoanyar.
Yang menarik dalam acara pelantikan pengurus PAC Mojoanyar ini selain dihadiri Bapak Camat,Kapolsek,Koramil,Fatayat, IPNU serta Sahabat2 Ansor Banser adalah dengan Kehadirannya MUHAMMAD AL BARRA atau lebih kenal di sebut Gus Barra (Wakil Bupati terpilih kabupaten Mojokerto)
Prosesi Pembaiatan oleh Sekertaris Umum PC GP Ansor Mokhammad Yunus
Sekertaris Umum PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto MOKHAMMAD YUNUS adalah yang membaiat dalam Pelantikan tersebut sebagai wakil dari ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Gus Ali Muhammad Nasih yang tidak bisa hadir dalam acara tersebut.
Sambutan Gus Barra dalam acara Pelantikan
Dalam acara tersebut tetap melakukan protokol Covid-19 (Menjaga Jarak,Memakai masker,Mencuci tangan) – Anwar sorban
wp.sorbansantri.com – Ansor Semarang, – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Semarang, Muhamad Hanif, M. Hum. atau yang biasa disapa Gus Hanif, menyapa Kader Ansor dalam kegiatan Meeting Terbatas di RM. Bawang putih Jambu, Rabu (10/02/2021) Sore.
Kegiatan ini diikuti oleh Empat PAC Ansor yaitu PAC (Ambarawa, Bandungan, Sumowono,Jambu) dan Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Kab. Semarang.
Gus Hanif mengatakan kegiatan ini salah satu cara untuk tetap dapat bersilaturahmi dengan Kader Ansor di tengah pandemi Covid-19.
Lebih jauh Gus Hanif mengatakan, sengaja memilih menyapa kader secara Meeting Terbatas dengan harapan dapat terus menjaga silaturahmi sekaligus mendengar masukan terkait apa yang dapat dilakukan untuk membantu kader Ansor di tengah kesulitan di masa pandemi.
“Kedepan, kami akan lakukan Road Show ini Meeting terbatas di seluruh PAC GP Ansor Kab. Semarang dengan lebih baik lagi. Terimakasih kepada semua yang sudah bergabung,” Ucapnya
Acara ini menggunakan protokol kesehatan. (PC GP Ansor Semarang)
InfokomBanserNU- Konferensi Anak Cabang atau Konferancab yang merupakan majelis tertinggi permusyawaratan GP Ansor di tingkatan Anak Cabang digelar oleh kepengurusan GP Ansor Kecamatan Purwokerto Barat masa hidmat 2018-2020 sore ini di MI Maarif NU 02 Pasir Kidul Purwokerto Barat Kbupaten Banyumas.
Tampak saking asyiknya berkegiatan, para peserta baru istirahat makan ketika jelang sholat ashar, dengan hidangan Ayam Penyet Surabaya di armada yang hadir ke lokasi. Setelah sholat ashar, kegiatan konferancab dilanjutkan dengan sidang LPJ Kepengurusan yang disampaikan oleh Sahabat Andi Isbani selaku ketua, yang telah habis masa tugasnya.
Hujan lebat dan gemuruh petir mengiringi penyampaian LPJ yang dipandu oleh Sahabat H. Faisal Riza selaku Pimpinn Wilayah untuk korda Banyumas-Cilacap dengan didampingi oleh perwakilan pengurus cabang Sahabat M. Luqman.
Hingga berita ini ditulis, sidang masih berjalan alot, belum tampak mengerucut antara diterima atau ditolaknya laporan pertanggungjawaban pengurus yang disampaikan oleh Andi Isbani beserta jajaran pengurus hariannya kepada peserta sidang.
Kegiatan Konferancab yang dibuka oleh Sahabat Ahmad Zaenudin Masdar pada Ahad pagi ini, telah melewati beberapa sidang termasuk sidang komisi-komisi yang membahas berbagi hal terkait pergerakan Ansor di Kecamatan Purwokerto Barat kedepan.
“Dengan mengusung tema -Menyongsong Peradaban yang Lebih Maju Bersama Generasi Muda NU-, konferncab kali ini kami harapkan dapat merealisasikan mimpi dan cita-cita kita bersama, bahwa pemuda sebagai pemegang sejarah di masa mendatang dapat ikut mengawali pertumbuhan peradaban baik yang sudah ada ini menjadi lebih baik lagi, dengan menyerap hal-hal baru yang baik yang mungkin muncul di zaman ini serta tetap melestarikan perihal lama yang baik” ungkap Andi di sela-sela persiapan sidang LPJ kepada tim ACM yang hadir ke lokasi sejak pagi.
Kegiatan yang diikuti oleh 9 ranting dari 7 kelurahan di zona Kota Purwokerto Barat yang rencananya akan berlangsung hingga menjelang maghrib nanti, masih tampak hidmat diikuti oleh semua peserta. (ACM 1028 BMS)
InfokomBanserNU- Ditanggal 11 Februari Ini Ada 2 Ulama Besar Kalimantan Selatan Tanggal Lahirnya Sama Akan Tetapi Tahunnya Berbeda,Yaitu Pertama Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani/Abah Guru SekumpuL).
Dan Yang Kedua Adalah Guru Ibad(K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini).
1- Sedikit Manaqib Alhm.Guru DiSekumpuL.
11 Februari 1942 Adalah Kelahiran Ulama Besar Ditanah Banjar dan Juga Seorang Auliya Allah,Beliau Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani).
Beliau Adalah Dzurriyat Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari(Datu Kalampayan).Pangkat Beliau Sejak Kecil Sudah Diangkat Menjadi Wali Qutub.dan Beliau Mempunyai Kerajaan Tersendiri Didalam Surga.Yang Mengisi Kerajaan Beliau Adalah Orang Yang Beliau Pilih Tentunya Para Pecinta Beliau.
Beliau Dilahirkan DiKampung Tunggul Irang Sebrang Martapura. Nama Ayah Beliau Adalah H.Abdul Ghani bin H.Abdul Manaf. Nama Ibu Beliau Adalah Hj.Masliyah binti H.Mulya. Dari Segi Keturunan,Kakek Beliau(H.Abdul Manaf)Adalah Dzurriyat Datu Kalampayan(Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari).
Sedangkan Nenek Beliau(Salbiyah)Ada Garis Keturunan Dari Sunan Giri(Maulana Ainul Yaqin).
Diantara Guru Beliau Adalah Paman Beliau Sendiri Yaitu Guru Semman Mulya dan Guru Bangil(Guru Syarwani Abdan). Nama Beliau Sewaktu KeciL Adalah Qusyairi.
Beliau Mempunyai 2 Orang Putera Yang Bernama H.Muhammad Amin Badali dan H.Ahmad Hafi Badali.Mudah2an Keduanya Panjang Umur,Sehat Badan dan Dimudahkan Segala Urusan,,Aamiin.
Alhm.Guru DiSekumpuL Wafat Pada Tanggal 9 Agustus 2005 Bertepatan Tanggal 05 Rajab 1426 H.
Walaupun Beliau Sudah Meninggalkan Kita Semua Akan Tetapi Jasa2 Beliau Selalu Kita Kenang.
Dan Ditanggal Kelahiran Beliau Ini Sepatutnya Kita Bersyukur Berharap Berkat dan Syafa’at Beliau Semoga Terkumpul Diakhirat Bersama Beliau Berkat Cinta Kepada Beliau.
2-Sedikit Manaqib Guru Ibad.
Nama beliau K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini bin K.H.AbdurRahman bin H.Zainuddin bin AbdusShamad bin Abdullah aLbanjari. Orang Martapura biasa memanggil beliau Guru Ibad.
Beliau dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1937 M/29 Dzulqo’dah 1355 H didesa Tunggul Irang Martapura.
Ayah beliau bernama K.H.Ahmad Zaini,sedangkan Ibu beliau bernama Hj.Jannah.
Diantara Guru2 beliau dikalimantan adalah
K.H.Husein Qodri(Kakak Kandung Beliau)
K.H.Muhammad Sya’rani Arif
K.H.Muhammad Semman Mulya
K.H.Muhammad Salim Ma’ruf
K.H.Badruddin adalah orang yang pertama kali yang membawakan Maulid aLhabsy Simtudduror dikalimantan yang mana beliau dapat izin dari guru beliau,akan tetapi beliau menyerahkannya kepada K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani(alhm.guru disekumpul)untuk mengembangkannya kekalimantan khususnya kalimantan selatan sampai sekarang ini.
Kyai Falaq Bogor pernah menyerahkan Selempang warna coklat kepada Guru Ibad.Kyai Falaq menyuruh Guru Ibad untuk mengurusi dipemerintahan.maka dari itu K.H.Badruddin sering menjabat dipemerintahan pada masa itu.
K.H.Badruddin juga pernah memimpin pesantren darussalam martapura periode ke-7 tahun 1976-1992.
Beliau wafat pada tanggal 23 Desember 1992/28 Jumadil Akhir 1413 H
Beliau dimaqomkan dipemaqoman alkah keluarga didesa Tunggul Irang,Martapura berdampingan dengan Kakek,Ayah dan Saudara2nya.
Mudah2an Berkat Rasulullah,Para Auliya dan Orang2 Sholeh,,Segala Dosa dan Kesalahan Dzohir Bathin Seumur Hidup Diampuni Allah,Qobul Segala Hajat,Selamat Dunia Akhirat,Husnul Khatimah dan Masuk Surga Bighoiri Hisaab,,Aamiin..!!!
#K.H.Badruddin bin H.Ahmad Zaini
#K.H.Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani
Kajian Fiqh untuk pemula, Kitab Matn Ghoyah Wat Taqrib.
والذي ينقض الوضوء ستة أشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد.
Artinya:
Perkara yang membatalkan wudhu ada 6 (enam):
1. Keluar sesuatu dari dua kemaluan (depan atau belakang).
2. Tidur dalam keadaan tidak tetap.
3. Hilang akal karena mabuk atau sakit.
4. Sentuhan kulit laki-laki pada wanita bukan mahram tanpa penghalang.
5. Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan bagian dalam.
6. Menyentuh kawasan sekitar anus (dubur) menurut qaul jadid.
Penjelasan :
1. Perkara-perkara yang membatalkan wudlu’ yang disebut juga dengan “sebab-sebab hadats”.
2. Keluar sesuatu dari dua kemaluan maksudnya keluar sesuatu dari dua jalan yaitu qubul dan dubur-nya orang yang memiliki wudlu, yang hidup dan jelas -jenis kelaminnya-.
3. Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar (normal) seperti kencing dan tahi, atau jarang keluar seperti darah dan kerikil. Baik yang najis seperti contoh-contoh tersebut, ataupun yang suci seperti ulat (kermi : jawa). Kecuali sperma.
4. Sperma yang keluar sebab mimpi yang dialami oleh orang yang memiliki wudlu’ yang tidur dengan menetapkan pantatnya di lantai, maka keluarnya sperma tersebut tidak membatalkan wudlu’.
5. Seorang “khuntsa musykil” (tidak jelas jenis kelaminnya karena ganda) wudlu’nya hanya bisa batal sebab ada sesuatu yang keluar dari kedua farjinya secara keseluruhan. Tidak salah satunya saja.
6. Pembatal yang kedua adalah tidur dengan keadaan tidak menetapkan pantat. Dengan bahasa “menetapkan pantat”, maka terkecuali kalau dia tidur dalam keadaan duduk yang tidak menetapkan pantat, tidur dalam keadaan berdiri atau tidur terlentang walaupun menetapkan pantatnya, maka membatalkan wudhu.
7. Pembatal yang ketiga adalah hilangnya akal, maksudnya akalnya terkalahkan sebab mabuk, sakit, gila, epilepsi atau selainnya.
8. Pembatal yang keempat adalah persentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan lain yang bukan mahram walaupun sudah meninggal dunia.
9. Yang dikehendaki dengan laki-laki dan perempuan diatas adalah laki-laki dan perempuan yang telah mencapai batas syahwat secara ‘urf. Yaitu sudah mencapai usia yang biasanya sudah disukai oleh lawan jenis secara normal.
10. Yang dikehendaki dengan mahram adalah wanita yang haram dinikah karena ikatan nasab, radla’ (sesusuan) atau ikatan mushaharah (pernikahan).
11. Persentuhan yang membatalkan adalah persentuhan kulit tanpa penghalang. Seandainya terdapat penghalang di antara keduanya, maka tidak batal.
12. Pembatal kelima menyentuh kemaluan anak Adam (manusia) dengan bagian dalam telapak tangan, baik kemaluannya sendiri atau orang lain, laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, masih hidup ataupun sudah meninggal dunia.
13. Pembatal keenam menyentuh lingkaran dubur anak Adam. Hal ini membatalkan menurut pendapat “qaul Jadid” (pendapat Imam Syafi’i yang baru). Sementara menurut qaul qadim (pendapat Imam Syafi’i yang lama), menyentuh lingkaran dubur anak Adam tidak membatalkan wudlu’.
14. Dimaksud dengan lingkaran dubur (halqah) adalah tempat bertemunya lubang keluarnya kotoran. Dan yang dikehendaki dengan bagian dalam tangan adalah telapak tangan beserta bagian dalam jari-jari tangan.
15. Dikecualikan dari bagian dalam tangan yaitu bagian luar dan pinggir tangan, ujung jemari dan bagian di antara jemari. Maka tidak sampai membatalkan wudlu’ sebab menyentuh dengan bagian-bagian tersebut.
wp.sorbansantri.com – Sudah tidak asing bagi kita siapa M Quraish Shihab. Salah satu cendekiawan Muslim asli Indonesia. Karya spektakulernya diantara puluhan atau bahkan ratusan lainnya adalah Tafsir Al-Misbah.
(Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT).
Tapi bagi sebagian orang mengatakan bahwa beliau ini sesat, Syiah, liberal dsb bermodal potongan video YouTube dan narasi tulisan diberbagai medsos.
Siapa yang menuduh itu?
Mereka ustadz amatir. Mereka yang belajar agama otodidak. Mereka yang paling mementingkan penampilan. Atau bahkan mereka yang bergelar u-lama karena gamis dan serbannya. Mereka yang dinobatkan sebagai ustadz karena pandai ceramah. Mereka yang belajar agama dari google atau YouTube. Mereka semua yang bukan maqam-nya disitu.
Maka jika sekelas Quraish Shihab saja mereka klaim sesat dengan penilaian subjektif semata, kita tidak akan heran bila sekarang ini banyak yang berani terang-terangan menghina atau menghujat para ulama kita.
Mengkritik memang boleh saja, tapi yah… Lihat diri jugalah. Jangan sampai seorang guru bahasa Inggris mengoreksi Ahli Tafsir. Seorang alumni “pesantren kilat” berani mengatakan sesat orang yang bertahun-tahun di pesantren. (Ini permisalan saja, mohon maaf kepada guru 2 bahasa Inggris)
Bukan berarti ahli tafsir dan alumni pesantren nihil salah, bukan. Tapi saya ingin mengatakan tidak pas, tidak cocok atau tidak layak.
Jangan pula kita menuduh seseorang sesat hanya karena keluarganya tidak sesuai pemahaman kita. Misalnya Quraish Shihab dicemooh karena anaknya Najwa Shihab tidak memakai jilbab. Padahal masalah jilbab ada ikhtilaf dikalangan ulama dalam konteks kekinian.
Andaikan saja, benar-benar ada anggota keluarga dari ulama yang sesat, kan tidak boleh juga kita meng-generalisasi Ulamanya (ayahnya) juga sesat.
Apakah kita meragukan kenabian Nuh as karena anak dan istrinya ditenggelamkan Allah karena tidak mendapat hidayah??
Sebaliknya, Apakah kita meragukan kerasulan Ibrahim as hanya karena ayahnya musyrik (penyembah dan produsen patung berhala)? (abi sorban)
InfokomBanserNU- Senin 20 Januari 2020 18:00 WIB Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat memberikan pengarahan pada acara Konfercab XII PC GP Ansor Kudus. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas meminta pimpinan, pengurus, dan kader Ansor maupun Banser di Kudus memegang teguh 4 karakter pemuda. Seluruh karakter tersebut juga harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. “Keempat karakter tersebut yakni:
Pertama, karakter kepemudaan, karakter kerakyatan, karakter keislaman, dan karakter keindonesiaan. Ini semua harus dilaksanakan,” kata Gus Yaqut, sapaannya, Senin (20/1). Keterangan disampaikan saat memberi pengarahan pada acara Konferensi Cabang (Konfercab) XII Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Kudus, di Pesantren Miftahul Falah, Cendono, Kudus, Jawa Tengah. Menurut Gus Yaqut, sebagai kader Banser dan Ansor harus tetap memiliki jiwa muda. Semangat para kader Ansor dan Banser, ujarnya, harus menyala, sigap, dan penuh optimisme.
Karakter kedua, yakni karakter kerakyatan meminta kader Ansor dan Banser harus bermanfaat bagi rakyat sekitar, menolong sesama tanpa membeda-bedakan. “Kader Ansor Banser harus dekat dengan rakyat. Membela kepentingan rakyat. Suarakan kemarahan atas segala sesuatu yang merugikan rakyat. Marah kepada korupnya sistem hukum kita, marah kepada eksploitasi sumber daya alam, dan sejenisnya,” tegasnya. Gus Yaqut menjelaskan,
karakter keislaman menuntut para kader untuk menebarkan kedamaian, mendakwahkan Islam Ahlusunnah wal Jama’ah yang adem, sejuk, rahmatan lil alamin. “Dan yang penting lagi, istikamah, mengawal para ulama dan kiai NU,” ucapnya. Selanjutnya,
Ansor Banser Kudus
Ansor Banser Kudus
Ansor Banser Kudus
Ansor Banser Kudus
Ansor Banser Kudus
Ansor Banser Kudus
karakter keindonesian mengharuskan para kader Ansor Banser berada di garis terdepan terhadap semua ancaman bagi keberlangsungan tegak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gus Yaqut juga menyampaikan, selama ini Ansor dan Banser telah dikenal masyarakat luas, serta disegani oleh kawan maupun lawan dibanding organisasi lain. Ia mengatakan, dengan konsistensi kaderisasi dan konsolidasi saat ini anggota tercatat Ansor Banser telah mencapai 7 juta orang. Dengan jumlah besar itu, lanjut Gus Yaqut, para anggota dan kadernya tetap istikamah dan tunduk dalam satu komando pimpinan dan para kiai. “Sebab itulah, dalam Konfercab ini juga harus satu komando. Biasakan musyawarah. Kalau ada tiga calon, rembugan siapa yang akan menjadi ketua, sekretaris, dan Kasatkorcab Bansernya. Nggak usahlah voting-voting segala. Rembugan, jadi nanti tidak aka nada yang kecewa, sakit hati karena kalah,” ujar Gus Yaqut. Sementara itu, Konfercab Ansor Kudus pada akhirnya secara aklamasi memilih Dasa Susila sebagai Ketua PC GP Ansor Kudus masa khidmah 2020 hingga 2024 menggantikan ketua sebelumnya, Sarmanta Hasyim. Hadir dalam kesempatan itu selain Ketua Umum PP GP Ansor, Plt Bupati Kudus Hartopo, Ketua PCNU Kudus KH Asyrofi Masyito, jajaran Pimpinan Pusat GP Ansor, Ketua PW Ansor Jateng Sholahuddin Aly dan pengurus, pejabat TNI/Polri, serta undangan lainnya.