Infokom NU Mojokerto. Semangat dan perjuangan ibu ibu Fatayat NU Kec.Pungging untuk menghadiri DIBA’ KUBRO dan PELANTIKAN PENGURUS RANTING FATAYAT NU se-Kec.Pungging pada hari Minggu pukul 08.00-selesai bertempat di Balai desa Balongmasin Kec.Pungging.patut dan harus kita acungkan 2 jempol kepada mereka.
Semangat yang luar biasa dari ibu ibu Fatayat Kec.Pungging
Dalam acara tersebut Hadir. Ibu Pungkasiadi (istri Bupati Mojokerto),Ketua Fatayat NU Kab.Mojokerto,Bapak Bambang W ( kepala desa Balongmasin) dan ribuan ibu2 Fatayat di seluruh Kec.Pungging.
Kehadiran ibu Pungkasiadi
Acara tersebut mulai awal hingga akhir berjalan dengan aman dan nyaman, dengan adanya BANSER sebagai Garda terdepan NU mengamankan daalam kegiatan tersebut.
InfokomBanserNU- Jum’at 14 Februari 2020, Kegiatan TURBA yang diadakan di TPQ An-Nur Pacet Utara Mojokerto Kasatkorcab Kab Mojokerto sangat bersyukur karena di Mojokerto sekarang sudah ada ± 2500 Banser dan 19 kali pengadaan DTD serta 1 kali Susbalan pada masa khidmad tahun 2017-2021 yang bertujuan untuk kaderisasi.
Kaderisasi itu sangat penting untuk kesinambungan antar generasi dan menghidupkan organisasi, dan beliau lebih bersyukur lagi karena di Mojokerto sekarang sudah ada 5 SATSUS yang sudah berjalan dengan sangat bagus dan insyaalloh akan ditambah lagi Satsus Balakar kata Kasatkorcab Kab. Mojokerto H. MOH YUNUS dalam kegiatan turba di PAC GP Ansor Pacet Mojokerto.
Turba 2020 PC GP Ansor Mojokerto
Peserta Turba PAC GP Ansor Pacet
Kasatkorcab Banser Mojokerto H. Moh Yunus Memberikan Penjelasan dalam TURBA 2020
H. Moh Yunus berpesan untuk masing-masing satkoryon banser agar bisa menghadirkan minimal 2 orang untuk tiap-tiap 3 satsus yang sebentar lagi akan diadakan pelatihan di Mojokerto.
Beliau juga bercerita, dengan Basada telah sowan dan Ada pesan yang sangat penting dari KH. Khusain Ilyas tersebut yang disampaikan oleh Kasatkorcab H. Moh. Yunus untuk diteruskan kepada Banser khususnya di Mojokerto bahwa, ” Agar Banser ditakuti musuh yang menentang ASWAJA, Banser Harus berwibawa “. Dari kata- tersebut seharusnya para Banser harus lebih menjaga sikap islami dan belajar menghargai perbedaan. (red. Abi Infokom)
Sorbansantri.com -Untuk meningkatkan perekonomian warga Nahdliyyin kabupaten Mojokerto,Sahabat Boom Motoris (SBM) membuka peluang bisnis baru di gedung Nusantara Mart badan usaha milik MWC NU Kecamatan Ngoro Mojokerto yang bekerjasama dengan Ansor Ritail yang dipelopori oleh ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Gus Ali Moh Nasih.
Dalam louncing kali ini Senin (15-2-21) secara resmi dibuka untuk umum dengan ditandai pelepasan balon ke udara yang dipimpin oleh ketua PCNU Kabupaten Mojokerto KH Adhim,dalam acara tersebut dihadiri oleh Rois Syuriah PCNU serta Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Ngoro (KH. Marzuki,Ketua PAC GP Ansor kecamatan Ngoro (Ahmad Saufi S.kom), seluruh ketua PAC GP Ansor se-kabupaten Mojokerto,perwakilan tokoh masyarakat NU,banom-banom NU dan hadir juga perwakilan dari PP GP Ansor (Sahabat Hasan Taufik) serta CEO Boom Motoris (Koko Shiong) beserta jajaran pengurus SBM Pusat.
Menurut keterangan dari Koko Shiong yang kami temui saat selesai acara, "<em>Maksud dan tujuan dibukanya SBM ini adalah untuk meningkatkan perekonomian kepada anggota Ansor - Banser dan untuk membuka peluang lapangan pekerjaan baru"</em> menurutnya lagi dalam sambutannya "<em>saya berharap agar warga Ansor se-kabupaten Mojokerto bisa berkontribusi dan bekerjasama untuk meningkatkan perekonomian kepada warga NU dengan cara membeli atau menyuplai barang yang ada di NUsantara mart ini</em>"
Kabupaten Mojokerto menjadi SBM Yang ke-11 sebelumnya Yang Pertama dan ke-6 dinamakan Boom Motoris (BM), baru dinamakan Sahabat Boom Motoris (SBM) setelah kolaborasi dan bekerja sama dengan Pimpinan Pusat GP Ansor yang dipelopori oleh Gus Hasan Taufik, setelah berinteraksi dan berdiskusi
baru terbentuklah SBM pertama yg ada di wilayah Magetan menempati urutan ke-7, SBM ke-8 Tulungagung, SBM 9 Jombang, SBM 10 Batang Jawa Tengah,dan rencananya akan di kembangkan lagi ke seluruh wilayah Jawa lebih lebih bisa ke seluruh Nusantara.
Menurut Gus Hasan Taufik dalam sambutannya mengatakan "<em>Sahabat-sahabat yang mempunyai produk bisa menjual atau menitipkan ke SBM ini, nanti ketika jaringan distribusi sudah terbentuk maka produk dari sahabat akan kita distribusikan ke seluruh wilayah Mojokerto, dan bagi para sahabat yang tidak mempunyai tujuan ke rana usaha bisa menjadi karyawan marketing, nanti disana akan diajari dan di bimbing bagaimana cara pemasaran dan sebagainya</em>
Berdirinya SBM di kabupaten Mojokerto ini disambut dengan senang hati oleh semua masyarakat terutama yang hadir dalam acara tersebut,dengan harapan adanya SBM ini sebagai langkah awal menuju kebangkitan perekonomian masyarakat Mojokerto umumnya dan Masyarakat Ngoro khususnya.
Acara terahir ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH SHOLEH Selaku dewan penasehat MWC NU kec ngoro.
Mudah-mudahan dengan adanya SBM ini bisa menjadikan perekonomian usaha yang amanah, di samping harganya yang lebih murah dibawah harga pasaran juga bisa menjadikan peluang bisnis baru bagi warga Nahdliyyin di wilayah kabupaten Mojokerto. (<strong><em>hasan-sorban</em></strong>)
IPNU-IPPNU Jepara terima bantuan mobil operasional dari PCNU setempatipnu,ippnu,jateng,
wp.sorbansantri.com – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatakan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jepara menerima bantuan kendaraan mobil operasional dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara pada Sabtu (13/2) malam di SMK Hadziqiyyah Nalumsari Jepara.
Penyerahan dilakukan oleh Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq kepada ketua PC IPNU Jepara Nurus Salam dan ketua PC IPPNU Jepara Wiwik Widayati. Momen penyerahan tersebut bersamaan dengan kegiatan Latin-Latpel PC IPNU-IPPNU Jepara.
Ketua PCNU Jepara, KH Hayatun Abdullah mengucapkan selamat dan mengapresiasi perkembangan IPNU-IPPNU di Kabupaten Jepara yang dinilainya semakin maju. “Dalam lima tahun terakhir ini, IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara banyak mengalami kemajuan yang positif baik dari segi keorganisasian maupun kegiatannya,” terangnya.
Maka dari itu, kami selaku pengurus NU Jepara mengapresiasi para pelajar NU Jepara ini agar ke depannya lebih baik dan maju. “Dengan bantuan mobil ini kita harapkan laju organisasi IPNU-IPPNU di Jepara semakin maju dan dapat bermanfaat untuk organisasi,” tambahnya.
Ketua PC IPNU Jepara Nurus Salam berterima kasih kepada PCNU Jepara yang selama ini mendukung penuh segala kegiatan IPNU-IPPNU di Jepara. “Kami ucapkan banyak terima kasih kepada orang tua kami PCNU Jepara yang sudah memberikan bantuan kendaraan operasional, semoga ini menjadi spirit baru kepada kami untuk lebih cepat dan mudah dalam pergerakan organisasi,” katanya.
Hal yang sama juga dikatakan Ketua PC IPPNU Jepara Wiwik Widayati, Ia mengaku senang dan akan memanfaatkan penuh kendaraan operasional ini untuk kepentingan organisasi. “Dengan bantuan kendaraan operasional ini, kami akan lebih mudah dalam menjalankan organisasi IPNU-IPPNU. Apalagi di Jepara ini termasuk wilayah yang luas, terdapat enam belas kecamatan, puluhan komisariat, dan ratusan ranting,” tandasnya.
InfokomBanserNU– Syekh M. Arsyad Al Banjari atau masyhurnya di kenal dengan sebutan Datuk Kalampayan. Banyak sekali pencapaian beliau yang mungkin jarang sekali dapat di capai oleh generasi selanjutnya, diantaranya:
1. Akhlaqnya
Salah satu Akhlaq Mulia beliau adalah mengarang Kitab Sabilal Muhtadin atas dasar Ilmunya menghargai warga Kalimantan yang bermazhab Syafi’i. Dimana bumi dipijak disitu langit di junjung.
2. Ilmunya
Datuk Kalampayan belajar ilmu di Makkah selama 30 tahun lebih. Berguru dengan Syekh Sulaiman Al Kurdi dan Syekh Samman Al Madani yang merupakan dua Tokoh Ulama di zamannya.
3. Karyanya
Karya Datuk Kalampayan yang begitu Masyhur adalah Kitab Fiqih Sabilal Muhtadin. Kitab ini begitu terkenal di Nusantara bahkan pernah dicetak ulang di Makkah, Istambul dan Mesir.
4. Keturunannya
Keturunan Datuk Kalampayan pun begitu banyak yang Masyhur menjadi Ulama besar. Seperti Syekh Husein Kedah Al Banjari (Malaysia), Syekh Syarwani Abdan Al Banjari (Bangil, Jatim), Syekh M. Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul), Syekh Surgi Mufti (Banjarmasin), dan banyak lagi keturunan beliau yang menjadi Ulama besar.
wp.sorbansantri.com – Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kendal, Misbachul Munir atau yang akrab disapa Gus Misbach berencana kembali memberdayakan program perekonomian di PC GP Ansor Kendal, yang selama ini secara organisasi belum terstruktur dengan baik.
Rencana ini disampaikan Gus Misbach, saat diskusi santai di sebuah kedai kopi Jalan Tembus Kendal, bersama Dirut Retail Ansor, Gus Hasan Taufik, Ketua Bidang Perekonomian PC GP Ansor Kendal, Mashuri dan Ketua PAC GP Ansor Boja, Kasan As’ari.
Gus Misbach mengatakan, beberapa bisnis retail yang telah berjalan dan memiliki peluang pasar besar akan segera ditata kembali. Seperti pertanian jagung di Kaliwungu Selatan, Ansormart di Rowosari, koperasi di Boja, budi daya udang panami di Kendal, dan budi daya kambing etawa di Cepiring.
“Rencananya itu semua nanti akan kami tata, kemudian kami kelola melalui manajemen retail Ansor agar lebih tertata rapi,” ucapnya.
Penataan dan pemberdayaan usaha yang dimaksud, agar Ansor Kendal memiliki kemandirian ekonomi. Menurutnya, kemandirian ekonomi organisasi sangatlah penting untuk menggerakkan roda organisasi.
“Pemberdayaan ini sengaja kami lakukan melihat adanya sebuah peluang. Informasi dari teman di wilayah, Kementerian Perekonomian memberikan 10 kuota Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pengusaha yang usahanya sudah berjalan,” terangnya.
Gus Misbach berharap, dengan adanya KUR tersebut dapat meningkatkan usaha yang digeluti para kader Ansor dan bisa merangkul pelaku UMKM di Kabupaten Kendal.
Ditegaskan, orientasi pengurus periode 2020-2024 sesuai dengan amanah dari ketua yang lama adalah pemberdayaan ekonomi kader. Pasalnya, pada periode yang lalu orientasinya banyak bergerak dalam bidang ideologi.
“Untuk sosialisasi penataan perekonomian PC GP Ansor Kendal akan dilakukan setelah pelantikan pengurus PC GP Ansor Kendal, yang rencananya akan digelar Minggu (26/7/2020) besok,” jelas Gus Misbach.
Sementara itu, Ketua Bidang Perekonomian PC GP Ansor Kendal, Mashuri mengatakan, untuk mensukseskan upaya pemberdayaan perekonomian, dirinya akan segera berkoordinasi dengan beberapa pengurus kecamatan.
“Kami berharap progam ini dapat berjalan sukses dan didukung semua pihak termasuk pelaku UMKM, demi peningkatan kesejahteran kader dan masyarakat umum,” ucapnya.
Upaya pemberdayaan perekonomian ini mendapat support langsung dari Direktur Utama Ansor Retail, Hasan Taufik. Dikatakan, support yang diberikan lebih ke arah pembenahan sistem manajemen.
“Jadi ada tiga hal yang kita berikan, yakni penataan sistem manajemen, pelatihan dan pengembangan SDM dan pembangunan struktur modal,” ujarnya.
Dalam hal teknis, menurut Gus Hasan, ke depan akan dibuatkan aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk mencari berbagai bahan kebutuhan yang ditawarkan oleh Ansor Retail.
“Kami berharap usaha ini berjalan dengan baik, sehingga roda perekonomian khususnya pelaku UMKM di wilayah Kabupaten Kendal bisa terbantukan oleh kader GP Ansor,” pungkasnya.(HS)
wp.sorbansantri.com – Kyai dan Habib sangat mencintai Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Dari segi namanya, Barisan Ansor Serbaguna, sangat identik dengan sahabat Ansor Madinah. Karakteristik dari sahabat Ansor itu “menolong sesama tanpa pamrih”. Ansor berarti “menolong Rasulullah SAW dan sahabat yang datang dari Makkah”. Kaum Ansor sangat mencintai Rasulullah SAW, sehingga apa-pun akan dilakukan untuk baginda Rasulullah SAW.
Nah, begitulah kira-kira ulama-ulama NU ketika mendirikan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Para ulama NU, mendirikan Banser karena isyarat-isyarat langit hasil dari istikharah. Bukan gagah-gagahan, walaipun memang terlihat gagah beneran. Tentu saja konteks nya ke-Indonesiaan. Banser, satu-satunya aset penjaga NKRI yang harus tetap dirawat dan dijaga. Semua tahu, berdirinya NKRI, tidak lepas dari peran Kyai Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Siddiq Jember, KH Ahmad Dahlan dan juga para ulama lainnya.
Apalagi, saat ini salah satu tokoh terkemuka Barisan Ansor Serbaguna (Banser) adalah “Maulana Habib Lutfi Pekalongan” seorang ulama dari kalangan Durriyah Rasulullah SAW. Sang Habib tanpa sungkan-sungkan memakai busana Banser, begitu juga dengan Habib Zainal Abidin. Bahkan, Habib Saikhan yang terkenal Habib Jaddab.
Jangan pernah khawatir, jika ada yang tidak suka terhadap Banser. Itu sudah wajar. Karena memang tugasnya Banser menjaga marwah Kyai dan Habaib di Indonesia. Sebab, sampai saat ini (2020) banyak Habaib dan Kyai NU, tetap setia dan mencintai Banser. Orang yang mencibir Banser, kadang suatu saat tetap membutuhkannya.
Berdirinya Banser sudah direstuai oleh pendiri NU, Hadratusysyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari serta ratusan Kyai dan Durriyah Rasulullah. Banser berdiri mengawal Ulama dan NKRI yang ber Pancasila. Banser akan terdepan membela Ulama dan Habaib, serta NKRI dari perongrong Pancasila.
Seorang kekasih Allah Sayyid Ali Kwitang datang dari Jakarta ke meluncur menuju Banyuwangi karena melihat dengan Bashirah (mata batin) seorang ketua PCNU KH Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban Banyuwangi sedang menulis bait-bair syair memuji Rasulullah SAW dan sahabatnya karena ingin membandingi gerakan Gerwani di Banyuwangi. Kemudian bait-bait syair itu dikenal dengan “sholawat badar”. Kedatangan Habib Ali Kwitang, karena arahan dari Rasulullah SAW melalui mimpinya.
KH Siddiq, merupakan sosok ulama ahli hadis yang nasabanya nyambung dengan “Basyaiban” yang diyakini masih durriyah Rasulullah SAW. KH Siddiq Jember salah satu murid seorang pakar hadis Makkah yaitu Syekh Muhammad Mahfudz Al-Turmusi Makkah. Kemudian Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani Makkah menyebutkan nama-nama gurunya di Indonesia, salah satunya adalah “Syekh Siddiq Jember”. Hampir semua putra-putra Syekh Siddiq jember menjadi ulama besar, seperti’ KH Ahmad Siddiq, KH Abdullah Siddiq, KH Mahfudz Siddiq, dan KH Muhammad Ali Manshur yang pengubah Saolawat Badar.
Awal berdirinya Banser, yang tidak suka adalah PKI, NII, DII. Banser dengan semangat Sholawat Badar tidak pernah surut menyuarakan kebenaran. Mendatangi siapa-pun orang yang meng-ganggu dan merongrong NKRI. Bahkan, saat seorang Habaib di sakiti di Solo, Banser ikut serta menjaga. Kalau-pun ada oknum Banser yang kurang terpuji, tetap harus di berikan pembinaan. Para ulama dan Habaib adalah orang-orang yang mendidik dan membina Banser di seluruh Nusantara.
Sebuah kisah menarik dari Mbah Hamid Pasuruan. Sosok waliyullah besar. KH Maemun Zuber mengatakan “beliau menjadi wali besar antaranya karena biirul walidaian”. Suatu ketika salah satu anggota Ansor yang sudah lulus dari Latihan Kader Lanjutan (LKL). Namun, dia melakukan tindakan tidak terpuji yang bisa mencoreng nama Ansor. Maka, komandan atau ketua Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Gus Zaki Ubed akan mengeluarkan surat pemecatan kepada Anggota Ansor.
Selanjutnya, Gus Zaki sowan kepada Syekh KH Hamid, dengan harapan apa yang dilakukan itu disetujui. Ternyata, KH Hamid tidak setuju. Beliau malah mengatakan “jadi bapak itu harus bijaksana. Kemudian KH Hamid memberikan contoh. Seorang Bapak yang membawa anaknya ke resepsi. Anak itu diberi pakaian yang bagus. Tiba-tiba ketika resepsi berlangsung, sang anak buang air besar, mengotori pakaiannya sendiri dan bapaknya yang menggendong.
“Iku anak ojok kuen buwak (itu anak jangan engkau buang)”. Wong saiki akeh sing butuh anak, dipek wong anak itu” (Jaman sekarang banyak orang butuh anak, nanti kalau dibuang bisa diambil orang”. Jadi Bapak harus berani korban perasaan dam menderita demi kepentingan anak-anaknya.
Kemudian Gus Zaki bertanya “jadi bagaimana?
Mbah Hamid menjawab “Yo, cewokono maneh, (ya ceboki, lalu gendong lagi dia”. KH Hamid sangat bijaksana di dalam melihat setiap masalah yang terjadi. Begitulah cara pandang kekasih Allah SWT. Teringat Nabi Ibrahim as, walaupun banyak orang yang mengingkari nya beliau berkata “siapa yang ikut aku termasuk golonganku, siapa yang durhaka kepada Allah, maka sesungguhnya Allah maha pengampun”.
Barisan Ansor Serbaguna sudah di jalur yang benar. Menjaga eksistensi NKRI dan Pancasila. Dan setia kepada ulama dan Kyai. Wataknya seperti sahabat Ansor Madinah, menolong tidak ada pamrih. Ketika ada seorang Kyai di hina, Banser datang, ketika ada yang ingin merusak NKRI, Banser juga siap-siapa membela. Termasuk sikap terhadap HT (Hizbu Tahrir) juga sudah benar, karena HT menghina Durriyah Rasulullah SAW yaitu Habib Lutfi Pekalongan. ( Penulis: Dr Abdul Adzim Irsad, Malang )
wp.sorbansantri.com – Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi demi langkah reformasi dan demokratisasi Arab Saudi. Muhammad bin Salman atau Pangeran Salman adalah orang yang berada di balik agenda tersebut.
Terjadi lagi, pemerintah Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi. Kali ini ulama dan qori’ terkenal, Syeikh Abdullah Basfar ditangkap oleh pihak otoritas Arab Saudi. Beberapa kasus penangkapan ulama dilakukan oleh Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir ini.
Syeikh Abdullah adalah seorang profesor di departemen Sharia dan Islamic Studies di King Abdul Aziz University di Jeddah. Ia juga merupakan mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunnah Dunia. Sebelumnya, Arab Saudi dikabarkan sudah menahan Syekh Saud Al-Funaisan. Al-Funaisan sendiri adalah seorang profesor universitas dan mantan dekan fakultas Syariah di Universitas Al-Imam di Riyadh.
Langkah Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi menguatkan asumsi terkait upaya pemerintah Arab Saudi untuk mengamankan dan mereformasi Arab Saudi atas inisiasi Muhammad bin Salman (MBS).
Penangkapan Ulama dan Reformasi MBS.
Beberapa kasus penangkapan ulama yang dilakukan oleh Arab Saudi menjadi semacam “pembersihan” pahak keagamaan. Kini MBS melakukan reformasi di dalam negaranya. Ia ingin mengubah citra Arab Saudi dengan paham moderasi Islam.
Ulama-ulama yang ditangkap oleh pihak kerajaan dianggap melakukan tindakan dan ceramah-ceramahnya mengganggu stabilitas kerajaan. Oleh karena itu, pihak MBS dan para pendukungnya menindak mereka agar tidak mengganggu dan menjadi ancaman kepentingan internal kerajaan.
MBS melakukan berbagai kebijakan penting dan kontroversial. Ia tengah mereformasi Arab Saudi. Kebijakan kontroversial yang dilakukannya, diantaranya yakni memperbolehkan perempuan untuk menyetir mobil, menonton sepak bola di lapangan, dan beberapa kebijakan yang mengarah pada reformasi birokrasi Arab Saudi.
Bagi kaum muda dan perempuan Arab Saudi, MBS adalah sosok pembaruan di tubuh kerajaan Arab Saudi. Ia menjadi tumpuan mereka ditengah kungkungan kebijakan Arab Saudi yang rigid dan kaku.
Tetapi, bagi kaum ulama Wahabi Arab Saudi, MBS telah melanggar pemahaman keagamaan Arab Saudi yang sudah tumbuh subur di negara “Penjaga Dua Kota Suci”. Kondisi ini membuat otoritas kerajaan harus melakukan tindakan tersebut.
Moderasi Beragama Arab Saudi
Kebijakan MBS yang dinilai banyak pihak memiliki dua sisi yang berseberangan. Di salah satu sisi, kebijakan reformasi Arab Saudi memiliki dampak besar dan memberikan kebebasan bagi kaum muda Arab Saudi dan melonggarkan mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan selama ini.
Moderasi beragama menjadi kebijakan dan keputusan yang diinisiasi MBS. Hal ini dilakukan ditengah paham Wahabisme yang dianggap terlalu kaku dan tidak memberikan ruang bagi banyak kaum muda dan perempuan Arab Saudi.
Kebijakan Arab Saudi lainnya yang berusaha menggemakan moderasi beragama yakni melakukan diskusi intens dengan salah satu organisasi massa Islam moderat di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).
Pihak Arab Saudi dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, telah melakukan diskusi terkait moderasi beragama tersebut. Diskusi ini juga menunjukkan bahwa Arab Saudi ingin melakukan reformasi keagamaan dengan menggemakan moderasi beragama. Sikap MBS melalui pelbagai kebijakan kontroversial di Arab Saudi dianggap sebagai tindakan “out of the box”. Ia juga tengah mempersiapkan menuju visi Arab Saudi 2030. (sumber harakah. id)
InfokomBanserNU – Oleh Abu Zein Fardany Mayoritas kaum santri di Banua ini menganggap guna ilmu Mantiq untuk memahami isi kitab kuning. Bahkan seorang kenalan saya sendiri yang notabene pengasuh pesantren berpendapat demikian.
Pendapat seperti inilah yang membuat kaum santri tertinggal jauh dalam dunia pemikiran.
Ilmu Mantiq berguna untuk membangun struktur berfikir. Ibarat gedung, semua informasi atau pengetahuan yang kita dapat hanyalah bahan bangunan, tidak menjadi sebuah gedung bila tidak disusun sedemikian rupa oleh para tukang bangunan. Nah ilmu untuk menyusun bangunan ini adalah Ilmu Mantiq.
Karenanya, sebanyak apapun bacaan seseorang, bila Ia tidak pandai dalam ber-Mantiq maka pengetahuannya hanya sebatas informasi. Tidak terstruktur dan tidak bisa menjadi sebuah naungan atau tempat berteduh. Pun juga sangat mudah digiring oleh orang yang menggunakan Mantiq namun secara menyimpang.
Imam al-Ghazali, dalam salah satu bukunya, menegaskan bahwa orang yang tidak mempelajari ilmu Mantiq, kredibilitas keilmuannya patut dipertanyakan. Karena tanpa ilmu ini orang akan berpikir seenaknya, layaknya kaum sofis yang doyan membuat kerusuhan dan menyusahkan banyak orang.
Sebagai contoh sederhana, kita tentu masih ingat dengan peristiwa Aksi Bela Islam. Saya tak bermaksud untuk mengungkit-ngungkit kembali kisah masa lalu itu. Tapi mari kita bayangkan, berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk meletuskan peristiwa politis itu? Jawabannya tentu sangat banyak.
Bahkan, selain ongkos material, moralitas kita juga hampir terkuras. Dinding-dinding media sosial penuh sesak dengan ujaran kebencian. Sesama Muslim saling menghujat, saling mengafirkan, bahkan saling ancam-mengancam.
Apa sebab utama dari itu semua?
Ya, itu semua sebenarnya bukan hanya gara-gara Ahok yang diduga menista agama. Tapi itu semua adalah kesalahan kita yang terburu-buru dalam menghakimi orang. Semua itu bermula dari ketidakmampuan kita untuk mendudukkan terlebih dahulu makna atau definisi yang tepat dari istilah yang kita perdebatkan saat itu.
Ketika itu, seperti yang kita ketahui, kita semua berdebat keras seputar penistaan agama. Ahok adalah penista al-Quran, Penista Agama, musuh Islam dan sebagainya.
Tapi, jika ada yang bertanya: Apa itu definsi penista Agama? Apa yang dimaksud musuh Islam? Apa yang dimaksud al-Quran? Apa perbedaan antara al-Quran dan penafsiran atas al-Quran? Kadang kita sendiri menjawab seenaknya.
Pada akhirnya kita hanya berdebat mengenai sesuatu yang kita sendiri tidak mampu untuk memaknainya secara mendalam. Konsekuensinya, kita melihat potret kehidupan sosial yang tidak sehat. Alih-alih menampilkan wajah agama penuh rahmat, yang kita tampilkan justru adalah wajah agama yang mudah menaburkan kata-kata sesat serta laknat-melaknat.
Nah, persis pada titik inilah ilmu mantiq itu diperlukan. Ilmu ini bukan saja memiliki kaitan erat dengan ilmu-ilmu yang lain, tapi juga memiliki relevansi yang kuat dalam konteks kehidupan sehari-hari kita.
Termasuk juga, peristiwa menjelang Pilpres kemaren, di mana kita dijebak dengan istilah-istilah “Presiden Pilihan Ulama” dan semacamnya. Ini adalah bukti kegagalan kita dalam ber-Mantiq. Nalar kita lumpuh…!
Parahnya… Ini terjadi bukan hanya pada kalangan awam, tapi juga pada kelas santri dan mereka yang kepalanya berlilit serban…!!!
Apakah sudah sedemikian parah musibah yang menimpa umat Islam? Lumpuh nalar berjamaah dan dipimpin oleh imam?
Ada satu desa yang namanya sangat unik di daerah Brangkal Kab. Mojokerto. Namanya Kedungmaling. Dari cerita mulut ke mulut, nama itu diperoleh dari suatu cerita dimana daerah Brangkal dulu terdapat Kedung. Kedung itu adalah bagian dari sungai yang sangat dalam. Ia biasanya tenang, tetapi menghanyutkan. Pada suatu ketika, ada maling yang sedang lari dikejar-kejar oleh penduduk. Pada saat ia mengalami kebingungan, ia mencebur ke dalam sungai yang ada kedungnya itu tadi. Dan ia pun tenggelam ke dasar sungai itu. Peristiwa tenggelamnya maling di kedung sungai itulah yang kemudian menjadi penanda nama desa itu yang kelak kemudian diberi nama Desa Kedungmaling.
Dulu, Desa Kedungmaling lebih banyak orang awamnya daripada orang yang mengerti agama. Tetapi seketika itu berubah seiring kedatangan seorang santri dari Kediri, namanya Ismail Ibrahim. Ismail Ibrahim pernah nyantri di Pondok Mojosari-Nganjuk. Kemudian melanjutkan mondoknya dengan durasi lama, yakni di Pondok Semelo, yang sekarang lebih dikenal dengan PP. Umar Zahid yang terletak di dusun Semelo, desa Kayen, kecamatan Bandarkedungmulyo-Jombang. Di Pondok ini, Ismail Ibrahim belajar berbagai fan ilmu ke-Islaman. Dan juga melatih jiwannya dengan riyadoh dibawah asuhan KH. Umar Zahid.
Seperti pada umumnya Kyai-Kyai zaman dahulu, selain memikirkan tentang keilmuan santrinya, KH. Umar Zahid juga memikirkan masa depan santri-santrinya. Selain menikahkan, KH. Umar Zahid melalui KH. Munawir Sholeh mencarikan tempat berdakwah pada Ismail Ibrahim. Dan Ismail Ibrahim diberi alternative pilihan untuk mengabdikan ilmunya. Dan melalui sebuah istikhoroh dengan lambang surat an-Nasr, maka desa Kedungmaling-lah yang menjadi tempat pilihannya.
Di Desa Kedungmaling, Ismail Ibrahim menempati sebuah Masjid kecil hasil wakaf dari Ibu Masriah. Ibu Masriah sendiri itu adalah istri dari Kyai Anwar (Ayah dari Pendiri STIE Al Anwar). Namun pernikahannya itu unik. Masing masing suami istri itu bekerja sendiri sendiri. Kyai Anwar berdagang, Ibu Masriah juga berdagang. Dagangannya Ibu Masriah itu diambil dari Surabaya. Tiap ke Surabaya, ia selalu mampir ke Pondok Nderesmo untuk ikut ngaji mendengarkan ceramahnya Mbah Kyai Mansur. Karena seringnya ngaji ke Ndresmo inilah, menjadikan ibu Masriah memiliki kedekatan dengan Mbah Mansur. Ibu Masriah dibimbing untuk menjadi wanita sholehah. Termasuk juga mengarahkan agar tabungan kekayaannya dipergunakan untuk diwakafkan membangun Masjid.
Taqdir kemudian berkata, antara Kyai Anwar dan Ibu Masriah berpisah. Namun bukan berarti terjadi peristiwa pertengkaran yang berlarut larut. Harta gono gininya dibagi secara adil. Dan pembangunan Masjid atas suplay dari Kyai Anwar dan seorang pengusaha asal Jatirejo, Bapak Nur Kholis tetap berjalan hingga berdiri megah.
Dan kemudian Ibu Masriah ini dinikahi oleh Kyai Munawir Sholeh. Dan atas perantara Kyai Munawir Sholeh itulah Ismail Ibrahim menempati Masjid hasil wakaf Ibu Masriah ini. Siti Sofiah, cucu dari Ibu Masriah bercerita, kalau Ismail Ibrahim dulu menempati rumah Ibu Masriah, yang sekarang menjadi PP. Riyadlul Quran. Setelah usai pembangunan, maka Ismail Ibrahim menempati Masjid yang telah dibangun. Di Masjid itu, Ismail Ibrahim merawat dan memakmurkan Masjid. Dan satu persatu para santri ikut mengaji kepada Ismail Ibrahim. Tetapi kata Masrurah, putrinya, bercerita kalau KH. Ismail Ibrahim waktu itu pernah merasa putus asa menghadapi masyarakat Kedungmaling yang banyak tidak bisa mengaji. Beruntung ada satu dua santrinya yang bisa mengaji sehingga menambah semangat untuk terus mengabdi di tempat yang baru itu.
Dalam segi ekonomi, Ismail Ibrahim bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun demikian, ia tidak pernah berjodoh dengan pekerjaan itu. Hingga ia pun memutuskan untuk lebih mengkonsentrasikan “ngopeni” santri-santrinya.
Meskipun dengan tertatih-tatih, Ismail Ibrahim tetap istiqomah dalam melayani santri dan masyarakatnya. Lambat laun, orang-orang Kedungmaling dan sekitarnya mengenal Ismail Ibrahim sebagai orang yang linuweh. Orang orang pun berbondong-bondong bertamu dan mengaji kepadanya. Dan kemudian memanggilnya dengan KH. Ismail Ibrahim. Masruroh bercerita, santri-santri KH. Ismail Ibrahim tidak banyak yang bermukim, paling sekitar 25 santri. Tetapi pada saat ramadhan tiba, Masjid berjubel jubel dengan santri yang mengaji. Para santri itu juga berinisiatif membuat gubuk-gubukan di sekitar Masjid untuk tempat mukim mereka. Bahkan masyarakat, baik masyarakat sekitar atau yang jauh, ikut pula bergabung mendengarkan ngaji dari KH. Ismail Ibrahim. Yang unik, para pedagang-pedagang, ikut ngaji sambil membawa daganganya, sebelum pergi ke pasar. Biasanya, kata Masruroh, KH. Ismail Ibrahim mengaji kitab Hikam karya Ibnu Athoillah yang terkenal itu. Selebihnya, KH. Ismail Ibrahim lebih menekankan pada penguasaan pembacaan al Quran pada santri-santrinya. Penguasaan pada al-Quran itu bisa dirunut ke PP. Semelo atau KH. Umar Zahid yang ahli dibidang al-Quran. Bahkan pondok ini pulalah yang melahirkan tokoh sebesar KH. Ahmad Munawir Krapyak dan KH. Ahmad Masduki (Pengasuh Roudlotul Tahfidzil Quran Perak-Jombang).
KH. Ismail Ibrahim semakin diperhitungkan oleh masyarakat saat meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965. KH. Ismail Ibrahim-lah yang membedeng Ansor-Ansor pada masa itu untuk menghadapi PKI. Dan terbukti pemberontakan PKI di Mojokerto mampu dipadamkan oleh bahu membahunya antara tentara dan Ansor.
Tetapi dari pengakuan Masruroh, jauh sebelumnya, KH. Ismail Ibrahim, juga pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung menjadi Hizbullah. Dan ia sempat menjadi pelindung KH. Wahid Hasyim saat beliau menjadi buron tentara Belanda yang hendak menghabisinya. Dan pada tahun 1955, KH. Ismail Ibrahim juga adalah penggerak partai NU. Hingga sebelum NU berfusi menjadi PPP, KH. Ismail Ibrahim-lah yang menjadi jurkam handal dari partai NU.
Pada tahun 1968, saat putra kinasihnya KH. Basyaruddin menikah itulah, kata Ahmad Zaini, penanda mulai berkibarnya pesantren yang kemudian diberi nama Darul Hikmah. Pesantren Darul hikmah dikenal selain memperdalam ilmu agama, juga diajarkan kepada santri-santrinya untuk memperbanyak riyadoh-riyadoh. KH. Ismail Ibrahim sendiri, kenang Ahmad Zaini, adalah Kyai yang ahli riyadoh. Tiap malam KH. Ismail Ibrahim tidak pernah tidur. Bada subuh, KH. Ismail Ibrahim mengajak para santri-santrinya untuk berdzikir dan mengaji al-Quran sampai waktu dhuha. Baru setelah itu beliau istirahat.
Tetapi bukan tanpa tantangan, orang orang yang tidak suka kepada KH. Ismail Ibrahim sering mengganggunya. Saat berceramah, kadang orang orang usil sering mengganggunya. Tetapi bukan KH. Ismail Ibrahim kalau tidak berani menantang para pengganggunya.
Pernah suatu peristiwa, santri-santri Darul Hikmah disihir oleh seorang pentolan ormas di dekat desa Kedungmaling. Banyak santri santri mengalami kesurupan. KH. Ismail Ibrahim mengumpulkan para santri dan kemudian diterapi serta mengajak kepada seluruh santri untuk mengamalkan dzikir dzikir yang pernah diijazahkan oleh guru-gurunya. Dan pada akhirnya kembali pulalah sihir sihir yang ditiupkan oleh pemimpin ormas yang sekarang berkibar dalam balutan kesesatan itu.
#
Ahmad Zaini, santri KH. Ismail Ibrahim, mengenang pertemuan awalnya dengan KH. Ismail Ibrahim tatkala mendengar ceramahnya yang mempesona. Konon pula, setiap kali KH. Ismail Ibrahim berceramah, sesuatu yang ia ceramahkan itu akan terjadi ditempat itu. Ahmad Zaini akhirnya memutuskan nyantri ke KH. Ismail Ibrahim. Di hadapan KH. Ismail Ibrahim, Ahmad Zaini diajar bagaimana melayani masyarakat dengan mengisi kamar mandi dan tempat wudhu.
Pelajaran melayani itu kelak dirasakan saat ia pada tahun 1975 dinikahkan dan ditempatkan untuk berdakwah di Desa Jalinan. Dengan masyarakat yang masih awam, ia melayani dengan sabar. Dan konon Masjid yang ia tempati untuk berdakwah itu, adalah jejak pohon keramat. Ketika pohon itu ditebang dan menjadi Masjid, maka orang pun tidak menggunakan sesajian ke tempat tempat angker, tetapi berubah ke Masjid.
Menjelang usianya yang semakin sepuh, KH. Ismail Ibrahim seperti menjadi sentral bagi para Kyai-Kyai yang konon banyak orang menyebutnya sebagai wali. Mbah Ilyas dengan keanehan-keanehan yang dilakukan di pasar Brangkal, setiap kali ber-”operasi”, selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Pun dengan Mbah Ud Pagerwojo-Sidoarjo, seringsekali berkunjung ke KH. Ismail Ibrahim. Bahkan KH. Khusein Ilyas sendiri, setiap kali habis lelaku, senantiasa berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim.
Tidak hanya sekadar para Kyai, para pengusaha-pengusaha pun mendekat kepada KH. Ismail Ibrahim. Pak Jakfaril, Ayah Mustofa Kamal Pasha, Mantan Bupati Mojokerto, sering bertandang ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Ia sering memberi uang yang banyak kepada KH. Ismail Ibrahim. Katanya, ia suka dengan Kyai yang bekerja.
#
Ada satu hal dari karya KH. Ismail Ibrahim yang hingga sekarang tetap lestari. Apabila pesantren pesantren menggunakan haul sebagai sarana untuk mengirim doa kepada Kyai pendiri pesantrennya, tetapi jamiul jawami’ yang diselenggarakan oleh KH. Ismail Ibrahim diperuntukkan untuk seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Biasanya diadakan acara yang meriah selayaknya haul.
Untuk mendanai jamiul jawami tidaklah mudah. Tetapi perlu biaya besar. Disinilah ada cerita unik. KH. Ismail Ibrahim menyurati Nabi Khidir. Siti Sofiah menuturkan kalau Ayahnya pernah diajak untuk mengirim surat oleh KH. Ismail Ibrahim ke Brondong Lamongan. Ia diajak ke tengah laut. Sampai ditengah laut, surat yang ditulis panjang dengan menggunakan bahasa Arab itu, dilepaskan ditengah laut.Ayah Siti Sofiah pernah bertanya, “Apa bisa sampai surat itu ke Nabi Khidir, Yi?” Dijawab oleh KH. Ismail Ibrahim, “Bisa sampai.” “Buktinya?”tanya Ayah Siti Sofiah. “Nanti kalau pas jamiul jawami, akan banyak yang memberi bandeng. Sebab saya minta bandeng kepada Nabi Khidir” jawab KH. Ismail Ibrahim tenang. Dan memang terbukti, orang orang yang tidak kenal dari berbagai penjuru, setiap jamiul jawami selalu saja ada yang memberi. Dan pengusaha pengusaha asal Gresik, banyak yang memberi bandeng.
Pada tahun 1983, Masruroh menceritakan bagaimana meninggalnya KH. Ismail Ibrahim. Waktu itu ia masih kuliah dan kebetulan izin untuk menunggui sang Ayah yang sedang sakit. Semalaman suntuk KH. Ismail Ibrahim tidak tidur. Dan saat dicabut malaikat pun, kata Masruroh, beliau dalam kondisi sadar.
KH. Ismail Ibrahim disemayamkan di dalam Pondok Pesantren. Para alumnus banyak yang menziarahi makamnya. Pun dengan masyarakat sekitar. Setiap tahun, santri dan masyarakat cancut tali wondo meng-hauli Mbah KH. Ismail Ibrahim.