Blog

  • Mimpi Mbah Hasyim Asy’ari

    Mimpi Mbah Hasyim Asy’ari

    SEORANG pemuda dari Jombang sedang nyantri di Kademangan, Madura. Tugasnya mengurusi kuda milik sang guru, Syeikhona Khalil. Alhasil kesempatannya mengaji pun tak terlampau banyak.

    Suatu hari, Syeikhona kerawuhan tamu dari tanah Jawa; seorang kiai yang santrinya masih berjumlah puluhan. Setelah diajak duduk sambil menikmati suguhan, tamu tersebut mengutarakan keperluannya pada tuan rumah–yang mulia.

    “Mbah Kholil, niat saya yang pertama datang ke sini adalah ingin silaturahim, dan yang kedua, hendak menikahkan putri saya. Berhubung dia sudah dewasa, kiranya patut saya carikan jodoh, apalagi usia saya juga sudah di ambang pintu ajal. Tak lama lagi Allah pasti memanggil jiwa saya, Mbah. Jika ada calonnya, saya mohon petunjuk dan izin untuk mencarikan.”

    Tanpa berpikir panjang, Mbah Kholil langsung memanggil santrinya yang sedang mengurusi kuda–di belakang rumah.

    “Hasyim..!”

    Demi mendengar suara gurunya memanggil, si santri langsung lari terbirit-birit menghadap sang guru.

    “Dalem, Mbah Kholil. Panjenengan memanggil saya?”
    “Iya.”

    Tanpa banyak tanya lagi, pemuda Hasyim langsung diam merunduk. Lalu Syeikhona berkata pada tamu beliau.

    “Ini dia calon yang kamu cari itu, yang akan meneruskan perjuanganmu nanti.”

    Si tamu pun terkejut bukan kepalang. Tak sanggup berpikir sambil bergumam dalam hatinya,

    “Apa iya sih santri mblasaken seperti ini yang akan mengurusi pesantrenku? Aku tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.”

    Saat bersamaan, santri Hasyim pun terkejut pula sambil berkata dalam hatinya, “Apa iya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putri seorang ulama yang begitu mulia?”

    “Sudahlah, kamu pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. Nah, kamu Hasyim, sana kembali ke belakang!”

    Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati risau, pikiran kacau-balau, dan perasaan galau, sembari bertanya-tanya: ‘Bagaimana saya bisa menjalani ini semua? Kenapa guru tidak memberi tahu saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya terlebih dahulu?’

    Gundah gulana, bimbang, ragu, dan bingung terus berkecamuk dalam pikiran Hasyim. Pada saat seperti itulah inayah Allah ditampakkan kepadanya. Ia teringat suatu hari saat Syeikhona sedang mulang kitab dan menurunkan dawuh:

    “Sesiapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya, maka bacalah selawat Nariyah sebanyak mungkin, pada waktu ijabah yang sangat dianjurkan, yaitu setelah separuh malam hingga menjelang Subuh.”

    Tengah malam itu juga, Hasyim melaksanakan apa yang pernah diucapkan Syeikhona. Menjelang Subuh ia keboboan. Kala itulah hal ajaib terjadi dalam mimpinya. Ia bertemu Imam al-Bukhari ra yang mengajarkan padanya hadis Shahih selama empatpuluh tahun. Manakala terjaga, Hasyim tertegun atas mimpi mistikal yang ia alami.

    Pada malam kedua, hal yang sama terjadi lagi. Kali ini dalam mimpinya, Hasyim mendaras ilmu pada Imam as-Syafi’i yang kemudian mengajarkan padanya ragam kitab fikih dari empat madzhab: Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali, juga selama empatpuluh tahun.

    Pada malam ketiga, ia kembali bermimpi dan mengaos ilmu dengan Imam al-Ghazali dan Syeikh Junayd al Baghdadi, yang mengajarkan padanya puspragam kitab tasawuf selama empatpuluh tahun. Ketiga mimpi itu kemudian menyisakan pertanyaan besar dalam pikiran Hasyim: apa makna dari semua mimpi itu.

    Keesokan hari, ia hendak bertanya pada Syeikhona namun sudah tidak ada kesempatan lagi, kerana justru ia malah disuruh bergegas menuju rumah calon mertuanya–guna melangsungkan aqad nikah.

    Guru-murid ini pun berangkat. Setiba di tempat tujuan, aqad nikah langsung digelar. Sejak kedatangan hingga kemudian hendak pulang, Syeikhona sama sekali tak berkata apa pun, kecuali saat akan berpamitan.

    “Hasyim, kamu jangan nyelewang-nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi Saw melalui ulamanya, dan ikutilah ulama Allah agar selamat. Allah pasti bersamamu.”

    “Inggih, Mbah. Sendiko dawuh,” jawab Hasyim dalam manjura.

    Sementara kepada mertua Hasyim, Syeikhona bertitah.

    “Jangan ragu dengan Hasyim! Dia sudah mengaji 120 tahun lamanya.”

    Semua hadirin nampak kebingungan. Santri yang baru saja menikah di hadapan mereka belum lagi mencapai usia limapuluh tahun. Hasyim juga tak kalah ngungun. Bagaimana mungkin gurunya tahu perihal mimpi mistikalnya. Tak peduli dengan itu semua, Syeikhona pun kembali ke Bangkalan.

    Esok hari, Hasyim diuji sang mertua. Ia ingin membuktikan sealim apakah menantu yang dijagokan gurunya itu. Ujian membaca kitab pun dihelat di masjid pesantren. Hasyim mulai gugup. Keringatnya panas-dingin. Sementara di tempat biasa mertuanya duduk, sudah disediakan dua kitab tafsir dan hadis. Di tempat yang sama, Hasyim juga dipersilakan duduk.

    Ujian ini jadi kian menakjubkan kala Hasyim langsung membaca dengan fasih, hafal luar kepala, serta membahas laiknya para masyayikh yang sudah kenyang dengan segudang ilmu–tanpa memegang bahkan membuka dua kitab tersebut. Tanpa kesalahan sama sekali.

    Para ustadz dan santri senior yang semula tak yakin dengan kemampuan Hasyim, seketika takjub. Begitu pun mertuanya yang mengintip dari celah jendela rumahnya. Sedari hari itu hingga seterusnya, Hasyim muda beroleh tugas mulang semua kitab klasik dari pelbagai cabang ilmu tradisional Islam. Di depan namanya lantas tersematlah satu kata baru: Kiai Hasyim Asy’ari. Karomah ini pula yang kelak memunculkan gelar baru di depan nama Beliau setelah mendirikan Pesantren Tebuireng: Hadratus Syeikh (maha guru)

    Demikianlah sekelumit kisah karomah Syeikhona Kholil Bangkalan yang diterima Hadratus Syeikh, dan masih banyak lagi karomah Beliau yang dialami dan disaksikan para santrinya yang lain.

    Semoga Allah senantiasa mengalirkan tetesan berkah dan manfaat dari kehidupan beliau-beliau yang mulia, kepada kita dan anak cucu. #Aamiin #Yaa #Robbal ‘#Aalamiin . Lahumul #Faatihah …

    Copas by LTNU Turen

  • Angin puting beliung menerjang Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto

    Angin puting beliung menerjang Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto

    Infokom Banser-Mr Angin puting beliung menerjang Dua Desa di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Akibatnya puluhan rumah, warung dan kandang milik warga rusak.

    Pantau di lokasi, puluhan atap rumah di dua Desa yakni Desa Mojogebang dan Mojowiryo berterbangan. Sejumlah pohon tumbang, kandang sapi milik warga rubuh serta warung milik warga rusak akibat diterjang angin puting beliung.

    Tak hanya itu, atap kantor balai desa Mojogebang juga nampak mengalai kerusaka lumayan parah.

    https://www.youtube.com/watch?v=KJd2zOZaHXk
    Detik-detik Angin puting beliung menerjang Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto

    Menurut keterangan warga, kejadian angin puting beliung terjadi pada Rabu (27/11/19) sekitar pukul 13.00 WIB.
    Saat itu, dirinya bersama sang suami sedang berada didalam rumah. Dengan tiba tiba angin kencang datang dengan cepat disertai hujan.
    .
    . ” Anginnya tadi dari Selatan ke Utara. Tiba-tiba terdengar angin kencang, kejadiannya begitu cepat. Kami kaget dan langsung lari berhamburan keluar rumah, atap rumah sudah beterbangan,” ungkaya.

    Hingga sampai saat ini warga sekitar di Dua Desa di Kecamatan Kemelagi masih berupaya membersihkan puing puing atap dan saling bergotong royong membantu rumah warga yang rusak akibat di terjang angin. (infokom banser mr)

  • RAPAT PERSIAPAN DIKLAT DIROSAH ULA PC LMDS RIJALUL ANSOR KAB. MOJOKERTO

    RAPAT PERSIAPAN DIKLAT DIROSAH ULA PC LMDS RIJALUL ANSOR KAB. MOJOKERTO

    Pada hari Selasa, 22 Nopember 2019 PC LMDS Rijalul Ansor Kab. Mojokerto di Aula Wisma NU PCNU Kab. Mojokerto, mengadakan rapat persiapan Diklat Dirosah Ula yang dihadiri oleh Pengurus Harian PC GP Ansor, PC LMDS RA & PAC LMDS RA se-Kab. Mojokerto.

    Diklat tersebut bertujuan untuk menguatkan faham ASWAJA NU di kalangan generasi-generasi Muda NU di Mojokerto.

    SORBANSANTRI.COM

  • Beda ASWAJA NU – wahabi tanggapi Maulid Nabi

    Beda ASWAJA NU – wahabi tanggapi Maulid Nabi

    Di bawah adalah dialog imajiner terkait dalil Maulid Nabi Muhammad yang diambil dari Kitab Iqtidhous Shirotal Mustaqim halaman 621, ditulis Ibnu Taimiyah.

    WAHABI: “Mengapa Anda mengerjakan Maulid. Padahal itu bid’ah.”

    ASWAJA: “Maulid itu perbuatan baik, dan setiap kebaikan diperintah oleh agama untuk dikerjakan.”

    WAHABI: “Mana dalilnya?.”

    ASWAJA: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:

    وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Kerjakanlah semua kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. al-Hajj : 77). Maulid itu termasuk kebaikan, karena isinya sedekah, mempelajari sirah Nabi SAW dan membaca shalawat. Berarti masuk dalam keumuman perintah dalam ayat tersebut.”

    WAHABI: “Itu kan dalil umum. Tolong carikan dalil khusus dalam al-Qur’an yang menganjurkan Maulid.”

    ASWAJA: “Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, tolong jelaskan dalil anda yang melarang Maulid?”

    WAHABI: “Dalil kami sangat jelas. Maulid itu termasuk bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat. Rasulullah SAW bersabda: “Kullu Bid’atin Dholalah.” Setiap bid’ah adalah sesat.”

    ASWAJA: “Ah, kalau begitu dalil anda sama dengan dalil kami, sama-sama dalil umum. Yang saya minta adalah, jelaskan ayat atau hadits yang secara khusus melarang maulid.”

    Sampai sini, ternyata si Wahabi mati kutu, dan tidak bisa menjawab. Akhirnya si Aswaja berkata: “Anda percaya kepada Syaikh Ibnu Taimiyah?”

    WAHABI: “Ya tentu. Beliau itu Syaikhul Islam, ulama besar, dan inspirator dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, panutan kami kaum Wahabi.”

    ASWAJA: “Syaikh Ibnu Taimiyah, membenarkan dan menganjurkan Maulid, dalam kitabnya Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 621.” Lalu si Aswaja menunjukkan teks asli kitab tersebut. Akhirnya si Wahabi terkejut dan terperangah. Mukanya seketika menjadi pucat. Kitab tersebut, dia bolak balik, ternyata penerbitnya juga orang Wahabi di Saudi Arabia. Akhirnya ia berkata:

    WAHABI: “Syaikh Ibnu Taimiyah itu manusia biasa. Bisa salah dan bisa benar. Masalahnya Maulid ini tidak memiliki dasar agama yang dapat dipertanggung jawabkan.”

    ASWAJA: “Menurutmu, dasar agama itu apa saja?”

    WAHABI: “Al-Qur’an dan Sunnah saja. Selain itu tidak ada lagi.”

    ASWAJA: “Sekarang saya bertanya kepada Anda. Bagaimana hukum seorang anak memukul orang tuanya?”

    WAHABI: “Jelas haram dan dosa besar.”

    ASWAJA: “Tolong jelaskan dalil Al-Qur’an atau hadits yang melarang memukul orang tua.”

    WAHABI: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an;

    فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
    “Maka janganlah kamu berkata uff kepada kedua orang tua dan jangan pula membentaknya.”
    Dalam ayat tersebut, Allah melarang seorang anak berkata uff, atau berdesis terhadap orang tua, karena jelas akan menyakiti mereka. Apabila berkata uff saja dilarang karena menyakiti, apalagi memukul. Tentu lebih berat dalam hal menyakiti, dan keharamannya lebih berat pula dari pada sekedar berkata uff.”

    ASWAJA: “Owh, ternyata di sini Anda menggunakan dalil Qiyas. Tadi Anda berkata, dalil itu hanya al-Qur’an dan Sunnah. Sekarang justru Anda menggunakan dalil Qiyas. Berarti Anda mengakui Qiyas termasuk dalil, selain al-Qur’an dan Sunnah.”

  • Ngopi Infokom

    Ngopi Infokom

    Kunjungan sahabat Infokom di Mako BanyuAdv dalam rangka mempererat tali silaturrahim antar anggota dan juga membahas pemanfaatan media sosial untuk media dakwah.

    SORBANSANTRI.COM

  • ASNUTER – Aswaja NU Center

    ASNUTER – Aswaja NU Center

    Cikal bakal Aswaja NU Center berawal dari sebuah kajian islam yang mengfokuskan materi pada bidang keaswajaan. Kajian tersebut dikenal dengan kajian  islam Ahl as-Sunnah waljama’ah atau disingkat KISWAH. kajian islam Ahl as-Sunnah waljama’ah (KISWAH) ini di prakarsai oleh para penggede NU di PWNU Jatim, mulai dari Rais Syuriah hingga katib Syuriah dan telah dibahas pada saat rapat harian di PWNU JATIM.

    Pada awalnya  kajian islam Ahl as-Sunnah waljama’ah (KISWAH) dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun 2010, dan sesuai dengan hasil rapat harian,KISWAH dilaksanakan setiap hari ahad mulai pagi hingga siang hari di bulan Ramadhan dan yang menjadi pemateri pada saat itu adalah dari dewan Syuriah PWNU Jatim. Setelah bulan Ramadhan berakhir para dewan syuriah sangat menyayangkan jika KISWAH juga ikut berakhir. Selain itu karena dianggap sangat penting di dalam menanggulangi derasnya arus faham lain maka KISWAH harus tetap dilaksanakan. Pelaksanaan KISWAH itu  sendiri dilaksanakan setiap sebulan sekali oleh Lajnah, lembaga dan Banom yang bersangkutan.

    Setelah berjalan selama kurang lebih satu tahun,tidak hanya KISWAH tetapi terdapat juga program lain seperti TOT  dan Buletin yang dilaksanakan. dan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih konprehensif, KH. Abdurrahman Nafis Lc. MHI mengusulkan kepada pengurus PWNU agar dibuat suatu wadah dimana didalamnya terdapat perangkat pelaksana program yang berisikan tentang kajian islam keaswajaan. Sehingga sesuai amanat Konperwil pada tanggal 31 Januari 2011 bertepatan dengan peringatan Harlah NU ke 85 di PWNU Jawa Timur dilaksanakan launching perangkat pelaksana program yang berisikan tentang kajian islam keaswajaan yang diberi nama ASWAJA NU CENTER JATIM  oleh wakil ketua umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama : Drs H. As’ad Said Ali.

    Aswaja  NU Center dipimpin oleh seorang direktur, untuk wilayah Jawa Timur direkturnya adalah KH. Abdurrahman Nafis, Lc MHI(saat ini menjabat sebagai wakil katib suriyah PWNU Jawa Timur). Aswaja  NU Center JATIM di mempunyai lima divisi, yakni divisi Kiswah (Kajian islam ala Ahlu as-sunnah wal jama’ah ), Dakwah (Dauroh Ahlu as-sunnah wal jama’ah), Makwah (maktabah Ahlu as-sunnah wal jama’ah), Uswah (usaha sosialisasi Ahlu as-sunnah wal jama’ah), dan Biswah (Bimbingan Ahlu as-sunnah wal jama’ah).

  • Ngaji bareng BANSER Infokom mengenai Bankom dan Sosmed

    Ngaji bareng BANSER Infokom mengenai Bankom dan Sosmed

    Biro Infokom kab. Mojokerto mengadakan acara ngaji bareng banser di gedung mwcnu puri Kabupaten Mojokerto. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan PAC dari masing-masing wilayah. Disertai pembaiatan anggota infokom Kabupaten Mojokerto yang dipimpin oleh H. Moh Yunus. Diadakannya acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan secara mendalam mengenai informasi dibidang IT khususnya sosial media dan Internet.

    SORBANSANTRI.COM
    Anggota infokom Kabupaten Mojokerto 2019
  • Sejarah Gerakan Pemuda ANSOR

    Sejarah Gerakan Pemuda ANSOR

    Sejarah lahirnya GP Ansor tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kelahiran dan gerakan NU itu sendiri. Tahun 1921 telah muncul ide untuk mendirikan organisasi pemuda secara intensif. Hal itu juga didorong oleh kondisi saat itu, di mana-mana muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan seperti, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, Jong Celebes dan masih banyak lagi yang lain.

    Dibalik ide itu, muncul perbedaan pendapat antara kaum modernis dan tradisionalis. Disebabkan oleh perdebatan sekitar tahlil, talkin, taqlid, ijtihad, mazhab dan masalah furuiyah lainnya. Tahun 1924 KH. Abdul Wahab membentuk organisasi sendiri bernama Syubbanul Wathan (pemuda tanah air). Organisasi baru itu kemudian dipimpin oleh Abdullah Ubaid (Kawatan) sebagai Ketua dan Thohir Bakri (Peraban) sebagai Wakil Ketua dan Abdurrahim (Bubutan) selaku sekretaris.

    Setelah Syubbanul Wathan dinilai mantap dan mulai banyak remaja yang ingin bergabung. Maka pengurus membuat seksi khusus mengurus mereka yang lebih mengarah kepada kepanduan dengan sebutan “ahlul wathan”. Sesuai kecendrungan pemuda saat itu pada aktivitas kepanduan sebagaimana organisasi pemuda lainnya.

    Setelah NU berdiri (31 Januari 1926), aktivitas organisasi pemuda pendukung KH. Abdul Wahab (pendukung NU) agak mundur. Karena beberapa tokoh puncaknya terlibat kegiatan NU. Meskipun demikian, tidak secara langsung Syubbanul Wathan menjadi bagian (onderbouw) dari organisasi NU.

    Atas inisiatif Abdullah Ubaid, akhirnya pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU). Kemudian tanggal 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal organisasi belum tercantum dalam struktur NU, hubungannya masih hubungan personal.

    Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) karena tuntutan kebutuhan alamiah Jam’iyyah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

    Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab,yang kemudian menjadi pendiri NU membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

    Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab (ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu), yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

    Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam (tanggal 24 April itulah yang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran Gerakan Pemuda Ansor).

    Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai salah satu jalan di kota Malang.

    Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirkannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.

    Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim – Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).

    GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

    Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

  • Kunjungan KASATKORYON Banser Kec. Pacet menindaklanjuti pengkaderan Tim CyberNU di Mojokerto

    Kepala Satkoryon Banser Kec. Pacet berkunjung ke Mako (markas komando ) AbiTsaniSOFT, menindak lanjuti perkembangan Cyber NU di Kab. Mojokerto. yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 november 2019 digedung MWC NU PURI. Dengan anggota perwakilan masing-masing PAC GP Ansor se Kabupaten Mojokerto.

    Hal tersebut, diharapkan untuk memperkuat jaringan dakwah dibidang teknologi khususnya Internet diwilayah masing-masing.

    SORBANSANTRI.COM
    Kasatkoryon Banser Pacet ( Moh. Hasan Asy’ari, M. Ha )