Blog

  • Nafsu Tinggi tapi Tak Sanggup Menafkahi, Poligami oh Poligami

    Nafsu Tinggi tapi Tak Sanggup Menafkahi, Poligami oh Poligami

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – Ada banyak sunnah lain yang bisa Anda kerjakan! Belum lama ini ada satu lagi kisah poligami yang lucu dan menyayat hati. Kisah ini mengenai seorang pria yang nekat menikah lagi padahal istri pertamanya sudah tidak dinafkahi selama berbulan-bulan. Coba bayangin, sang suami menghilang selama sembilan bulan meninggalkan istri dan anak, dan saat ditemukan sang suami tengah menggelar pesta pernikahan dengan wanita lain. Kurang edan apa coba?

    Di jaman ini ada banyak sekali pria yang tertarik dengan poligami. Salah satu faktor pendukungnya adalah banyaknya seminar sukses poligami yang bertebaran di luar sana dan (entah apakah mereka benar-benar ikut seminar atau tidak) pria-pria ini pun rajin mencari wanita untuk dinikahi.

    Dan… hanya dinikahi begitu saja. Tentunya pernikahan bukan hanya ijab kabul dan malam pertama doang, yang paling penting adalah apa yang terjadi setelahnya, dan apakah mereka sadar betul konsekuensi dari menjalin hubungan suami istri? Ini yang jadi pertanyaan.

  • Sejarah JATMAN, Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah

    Sejarah JATMAN, Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah merupakan organisasi keagamaan sebagai wadah pengamal ajaran at-thoriqoh al-mu’tabaroh, yang merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam ala Ahlussunah wal Jama’ah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafus shalihin, yang bersumber dari Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam, Malaikat Jibril Alaihi Salam atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanad yang muttasil.

    Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah merupakan suatu sarana bagi para mursyidin/khalifah, untuk lebih mengefektifkan pembinaan terhadap para murid yang telah berbai’at sekaligus sebagai forum untuk menjalin ukhuwah antar sesama penganut ajaran thoriqoh dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan dan keihlasan di dalam amaliyah ubudiyyah serta meningkatkan rabithah terhadap guru mursyid/khalifah.

    Thoriqoh ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah SWT melalui tahapan-tahapan/maqamat.

    Dengan demikian thoriqoh memiliki dua pengertian. Pertama, ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan.

    Kedua, thoriqoh sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath atau pondok pesantren, perguruan, atau khalaqah.

    Dinamakan thoriqoh maksudnya menjalankan agama Islam dengan lebih hati-hati dan teliti sebagaimana menjauhi perkara yang masih syubhat dan melaksanakan keutamaan-keutamaan sesudah kewajiban-kewajiban pokok, seperti mengerjakan sholat tahajjud dan sholat sunnat rowatib dan lain sebagainya. Disertai dengan kesungguhan dalam mengerjakan ibadah dan riyadloh, misalnya berpuasa pada hari Senin dan hari Kamis, rajin membaca al-Qur’an, membaca sholawat Nabi, dzikir, tasbih, istighfar dan lain sebagainya.

    Dinamakan al-Mu’tabaroh itu karena semua amalannya (thoriqohnya) bersambung (muttasil) sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW. yang mana beliau menerima dari Malaikat Jibril AS. dan Malaikat Jibril dari Allah SWT.

    Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah didirikan di Tegalrejo Magelang 20 Rojab 1377 / 10 Oktober 1957.

     

    TOKOH PENDIRI

    Tokoh pendiri Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdiyyah ini ada dua tahap. Pada mulanya Jam’iyyah ini bernama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh (tanpa an-Nahdliyyah), nama ini dipakai mulai Muktamar I yang diadakan di Tegalrejo, Magelang.

    Pemrakarsa muktamar pertama itu adalah:

    1. KH Muslih Abdurrohman, Mranggen Demak Jawa Tengah
    2. KH Nawawi, Berjan Purworejo Jawa Tengah
    3. KH Masruhan, Mranggen Demak Jawa Tengah
    4. KH Khudlori, Tegalrejo Magelang Jawa Tengah
    5. Andi Potopoi, Bupati Grobogan Jawa Tengah

     

    Nama itu digunakan mulai:

    • Muktamar I TEGALREJO MAGELANG JAWA TENGAH (12 OKT 1957 M / 18 R AWAL 1377 H)
    • Muktamar II PEKALONGAN JAWA TENGAH (9 Nopember 1959 M / 8 Jumadil Ula 1379 H)
    • Muktamar III TULUNG AGUNG JAWA TIMUR (28-30 Juli 1963 M / 26-28 Shafar 1383 H)
    • Muktamar IV SEMARANG JAWA TENGAH (28-30 Oktober 1968 M / 4-7 Sya’ban 1388 H)
    • Muktamar V MADIUN JAWA TIMUR / dengan istilah konggres V (24-27 Rajab 1395 H / 2-5 Agustus 1975 M)

    Kedua, sedang mulai Kongres VI di Kraksaan, Probolinggo sudah menggunakan nama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah. Nama inilah yang digunakan sampai sekarang, menjelang Muktamar XI.

    Adapun dasar perubahan nama itu adalah Keputusan Muktamar NU ke-26 di Semarang. Keputusan NU itu dibuat berdasarkan usulan sebagian besar tokoh ulama thoriqoh sendiri dengan alasan agar jam’iyyah ini tidak dibawa-bawa ke kancah politik praktis.

    Hasil keputusan itu berupa penetapan bahwa NU mempunyai Badan Otonom yang namanya; Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah.

    Berdasarkan keterangan ini maka disepakati bahwa Tokoh pendiri Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah adalah:

    1. KH. Abdul Wahab Hasbullah, Ro’is ‘Am PBNU
    2. KH. Bisri Syamsuri, Katib ‘Am PBNU
    3. KH. Dr. Idham Cholid, Ketua Umum PBNU
    4. KH. Masykur, Sekjen PBNU
    5. KH. Muslih Abdurrohman, Ro’is ‘Am Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh.

    Selanjutnya nama itulah yang digunakan dalam muktamar-muktamar berikutnya.

    • Muktamar VI DI KRAKSAAN PROBOLINGGO JAWA TIMUR, (KONGGRES VI) 12-14 Rabiul Awal 1405 H / 5-7 Desember 1984 M
    • Muktamar VII DI MRANGGEN DEMAK JAWA TENGAH (16 J ULA 1410 H / 15 DES 1989 M)
    • Muktamar VIII DI CABEAN PASURUHAN JAWA TIMUR (1-5 R TSANI 1416 H / 27-31 AGUSTUS 1995 M)
    • Muktamar IX DI PEKALONGAN JAWA TENGAH (26-28 pebruari 2000 M / 21-23 Dzulqo’dah 1421 H)
    • Muktamar X DI PEKALONGAN JAWA TENGAH (25-30 maret 2005 / 14-17 Shafar 1426 H)

     

    SIFAT DAN TUJUAN

    Sifat ajaran at-thoriqah al-mu’tabaroh adalah:

    1. Universal artinya: thoriqoh memiliki sifat yang mendunia melampui batas-batas wilayah dan negara karena tiap-tiap aliran thoriqoh walaupun diamalkan oleh tiap-tiap warga negara tetapi secara sanad masing-masing masih berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
    2. Sifat menyeluruh artinya pelaksanaan ajaran thoriqoh sekaligus meliputi pelaksanaan al-aqidah, asy-syariah, al-muamalah dan al-akhlaq yang bertujuan untuk wushul ila Allah.
    3. Tertib dan terbimbing, setiap pengamal thoriqoh harus didasarkan kepada kitab-kitab yang mu’tabar dengan bimbingan para mursyid.
    4. Al-Wushul ila Allah, thoriqoh adalah tidak semata-mata bentuk amalan bacaan atau dzikir untuk mencari pahala tetapi thoriqoh bertujuan membentuk manusia seutuhnya, lahiriyah bathiniyah, yang bisa mengembangkan dan merasa didengar dan dilihat oleh Allah, atas dirinya sehingga dapat memiliki beberapa sifat al-khauf, ar-roja’, ash-shidiq, al-mahabbah, al-wara’, az-zuhud, asy-syukur, ash-shabar, al-khaya’ dan al-khusyu’. Semuanya itu merupakan bagian dari syarat dalam mencapai mardhotillah.
    5. Amanah; fathonah; shidiq dan tabligh, sebagai cahaya pancaran dari Baginda Nabi yang seharusnya mewarnai setiap anggota thoriqoh, sehingga dari sifat-sifat tersebut dapat melahirkan sifat handarbeni dan menghargai segala pemberian hak individu dari lingkup yang kecil sampai yang besar baik yang diberikan oleh Allah SWT maupun pemberian oleh sebab manusia.

    Tujuan Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah adalah:

    1. Mengupayakan berlakunya syari’at Islam ala Ahlussunah wal Jama’ah secara konsisten dalam bidang syari’at, thoriqoh, hakikat dan ma’rifat di tengah masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    2. Menyebarluaskan dan mengembangkan ajaran ath-Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah melalui kegiatan-kegiatan khususiyyah thoriqiyyah/tawajjuhan.
    3. Mengembangkan, mempercepat, mempergiat dan memelihara ukhuwah thoriqiyyah an-Nahdliyyah sesama pengamal thoriqoh, meningkatkan tasamuh antar aliran–aliran thoriqoh dan meningkatkan ilmu nafi’ dan amal shalih dlohir dan bathin menurut ulama shalihin dengan bai’at yang shoheh.

     

    STRUKTUR ORGANISASI

    1. Di tingkat pusat dinamakan IDAROH ALIYYAH JAM’IYYAH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    2. Di tingkat Propinsi dinamakan IDAROH WUSTHO JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    3. Di tingkat Kabupaten/kodya dinamakan IDAROH SYU’BIYYAH JAM’IYYAH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    4. Di tingkat Kecamatan dinamakan IDAROH GHUSNIYYAH JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH
    5. Di tingkat Desa dinamakan IDAROH SA’AFIYYAH JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU’TABAROH AN-NAHDLIYYAH

    Idaroh/kepengurusan Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah mulai dari Idaroh Aliyyah, Idaroh Wustho, Idaroh Syu’biyah, Idaroh Ghusniyyah dan Idaroh Sa’afiyah masing-masing terdiri dari Majlis Ifta’, Ifadliyyah, Imdla’iyyah dan Imdadiyyah.

  • Jatman Kabupaten Mojokerto gelar Kegiatan Idaroh Syu’biyah di Kecamatan Mojosari

    Jatman Kabupaten Mojokerto gelar Kegiatan Idaroh Syu’biyah di Kecamatan Mojosari

    SORBANSANTRI.COM
    Mojosari, wp.sorbansantri.comJATMAN (Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An nahdliyah) Kabupaten Mojokerto (19/2/22) mengelar kegiatan rutinan di kecamatan Mojosari yang diberi Nama Idaroh Syu’biyah.

    Kegiatan idaroh syu’biyyah ini merupakan kegiatan rutin yang sudah terjadwal setiap hari Sabtu Legi Satu bulan sekali mengelilingi di setiap kecamatan di Kabupaten Mojokerto dan bertepatan hari ini 19 Februari 2022, di masjid al-Isyroq kelurahan sawahan-Kecamatan Mojosari menjadi tempat terselenggaranya kegiatan tersebut.

    (lebih…)

  • Biografi KH. Abdul Hamid Pasuruan

    Biografi KH. Abdul Hamid Pasuruan

    SORBANSANTRI.COM

    1        RIWAYAT HIDUP DAN KELUARGA

    1.1          LAHIR

    KH. Abdul Mu’thi atau yang biasa dipanggil dengan sapaan KH. Abdul Hamid Pasuruan lahir pada tahun 1333 H atau 1915 M di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang, di tengah kota kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

    Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya. Dul memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal.

    KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau menuturkan bahwa Dul adalah anak yang nakalnya luar biasa. Tapi kenakalan Dul tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Dul adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang.

    Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahnya, KH. Abdullah Umar tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali.

    Akhirnya, ayahnya mengirim Dul untuk mengaji kepada KH. Ma’shum dan KH. Baidhawi. Ketika mulai beranjak remaja (ABG), beliau mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian).

    Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. KH. Zaki Ubaid Pasuruan menuturkan bahwa Dul sampai bisa menangkap babi jadi-jadian.

    Meski begitu, sejak kecil beliau sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Dul bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.

    1.2        RIWAYAT KELUARGA

    Setelah 12 tahun belajar di Pondok Pesantren Tremas, KH. Abdul Hamid  dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nyai Nafisah. Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil KH. Abdul Hamid  sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut.

    KH. Abdul Hamid menikah dengan Nyai Nafisah pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H, selepas duhur pukul 1.00 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan.

    Setelah jam dan waktu sudah ditentukan, namun rombongan penganten pria tak kunjung datang hingga jam menunjuk pukul 2.00. Akhirnya, para tamu undangan dialihkan untuk acara walimah terlebih dahulu di rumah KH. Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah. Tapi sayangnya, hingga jam 3, rombongan pengantin tidak kunjung datang juga. Akhirnya satu persatu tamu undangan meninggal tempat acara.

    Setelah menunggu sangat lama, akhirnya pada waktu sore sekitar jam 4, rombongan penganten pria baru datang. Kepala romobongan, Kiai Ma’shum mengatakan “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali)”.

    Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan. Sejak itu, KH. Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian,KH. Abdul Hamid pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini KH. Abdul Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, KH. Abdul Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

    Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha. Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren.

    Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri dua orang yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

    1.3        WAFAT

    KH. Abdul Hamid, sama seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

    Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Pada Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah.

    Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un. Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam.

    Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Yogyakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.

    2        SANAD ILMU DAN PENDIDIKAN BELIAU

    2.1          MENGEMBARA MENUNTUT ILMU

    Pada usia sekitar 12-13 tahun, KH. Abdul Hamid  dikirim ayahandanya ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Di pondok tersebut Hamid hanya mengeyam pendidikannya satu setengah tahun, kemudian beliau pindah ke Pondok Tremas, Pacitan, Pondok yang di asuh oleh KH. Dimyathi.

    Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Beliau tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

    2.2         GURU-GURU BELIAU

    Guru-guru beliau ketika menuntut Ilmu pesantren adalah:

    1. KH. Ma’shum
    2. KH. Baidhawi
    3. KH Cholil Harun Kasingan
    4. KH. Dimyathi

    2.3         MENJADI PENGASUH PESANTREN

    Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.

    KH. Abdul Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.

    Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat. Hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru. Akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

    Berkat perkembangan pondok pesantren yang di asuh oleh beliau, akhirnya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar.

    3      PENERUS BELIAU

    3.1       PUTERA DAN PUTERI BELIAU

    Putera-puteri beliau yang menjadi penerus saat ini adalah:

    1. KH. Nu’man Hamid
    2. KH. Nasikh Hamid
    3. KH. Idris. Hamid

    3.2       MURID-MURID BELIAU

    Murid-murid beliau yang menjadi santri:

    1. Para santri di pesantren Salafiyah
    2. Prof. Dr. Mukti Ali

    4        KARIER BELIAU

    4.1.         PENGASUH PESANTREN

    Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Lain halnya dengan para tokoh ulama atau kyai lainnya yang terlibat dalam organisasi baik NU maupun Muhammadiyah, KH. Abdul Hamid Pasuruan adalah sosok kiai yang tidak mau terlibat dalam organisasi apapun, sehingga beliau tidak begitu dikenal di pentas nasional khususnya dalam percaturan politik.

    Inilah tokoh yang berada di belakang layar. Meski tak pernah tampil di organisasi, beliau didengar nasihatnya oleh kalangan teras NU, baik di pusat maupun di daerah. Beliau adalah sosok yang lebih mementingkan pendidikan para santri di pondoknya serta pembinaan masyarakat pada umumnya, baik di bidang ilmu maupun amal- dengan ujar-ujarnya yang lirih tapi efektif, dengan keteladanannya, dengan pancaran kesalehan pribadinya. Beliau, seperti halnya para wali lainnya, adalah tiang penyangga moral masyarakat.

    5.      TELADAN BELIAU

    5.1         KETAWADHU’AN KH. ABDUL HAMID

    KH. Abdul Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang). Ketika KH. Abdul Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi.

    Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, KH. Abdul Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat. Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu.

    Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu. Beliau memang rendah hati (tawadu). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan.

    Kiai Hasan Abdillah pernah mengatakan, “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok”. Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan.

    Mantan Menteri Agama dan juga junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas, Prof. Dr. Mukti Ali, pernah mengatakan, “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya.”

    Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekkah, bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia. Sikap tawadu itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau.

    Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadu beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadu, Allah akan mengangkatnya.”

    5.2           KESEDERHANAAN BELIAU

    Kesederhanaan K.H. Abdul Hamid Pasuruan ketika berbuka puasa hanya dengan memakan satu buah telur setengah matang, kurma, dan kopi. Beliau makan setelah shalat isya hal tersebut yang selalu diperaktikkan oleh santri beliau Kiai Ihsan Malang.

    Beliau juga dikenal ulama yang istiqomah dalam menjalankan ibadah shalat berjamaah dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap minggu. Beliau memulai membaca Al Qur’an ketika hari kamis siang mulai dan Khatam pada hari Kamis depan diceritakan oleh dzuriah beliau gus Amak. Selain itu beliau juga memiliki istiqomah amalan Al Fatihah 100 kali yang diceritakan salah satu santri Kh Abdul Hamid yang mendapatkan ijajah langsung.

    Syair K.H Abdul Hamid Pasuruan tentang amalan membaca Al Fatihah sebanyak 100 kali yang artinya:

    “Barang siapa yang melanggengkan atau istiqomah membaca Al Fatihah sebanyak 100 kali maka akan menemukan keajaiban-keajaiban yang itu tersembunyi.”

    6         KAROMAH BELIAU

    6.1            MEMBONGKAR KEWALIAN KH. ABDUL HAMID

    Sebelum menjadi kiai, semasa beliau mondok di Termas,KH. Abdul Hamid banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, beliau pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa beliau sedang berkhalwat.

    Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, KH. Abdul Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.

    Lambat laun, aktifitas suluk KH. Abdul Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, KH. Abdul Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.

    Salah satu karomah KH. Abdul Hamid yang dipercaya warga Pasuruan adalah bisa berada ditempat lain dengan wujud serupa. Hal ini terjadi saat Habib Baqir Mauladdawilah bertandang ke pesantrennya. Sang Habib yang pernah berguru dengan al-Ustadzul Imam Al-Habr al-Quthb al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih diberikan ilmu untuk bisa melihat sesuatu yang gaib.

    Pada suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui KH. Abdul Hamid. Ketika itu di tempat KH. Abdul Hamid banyak sekali orang yang datang untuk meminta doa atau keperluannya yang lain. Setelah bertemu Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti KH. Abdul Hamid sejatinya bukanlah sang Kiai . Karena yang ditemuinya adalah sesosok gaib yang menyerupai beliau. Kemudian Habib Baqir mencari dimanakah sebetulnya KH. Abdul Hamid yang asli berada.

    Setelah diselidiki dengan ilmu kanuragan Habib Baqir terkejut karena sang kiai tersebut tengah berada di Tanah Suci Mekkah. Karomah KH. Abdul Hamid juga pernah ditunjukkan terhadap seorang Habib sepuh yang datang kepadanya, karena sang Habib menanyakan kemana sang Kiai pergi ketika digantikan oleh sesosok gaib yang menyerupainya.

    KH. Abdul Hamid tidak menjawab, hanya langsung memegang Habib sepuh tersebut. Seketika itu kagetlah Habib sepuh tadi, melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan masjid yang sangat megah. Subhanallah, ternyata Habib sepuh tadi dibawa oleh KH. Abdul Hamid mendatangi Masjidil Haram.

    6.2             MERUBAH DAUN JADI UANG

    Salah satu karomah lainnya yaitu ketika Asmawi, salah seorang santrinya harus melunasi utang kepada panitia pembangunan masjid yang sudah jatuh tempo. Besarnya Rp300.000, cukup besar untuk ukuran waktu sekitar tahun 70-an.

    Dia tidak tahu dan mana uang sebanyak Itu bisa didapat dalam waktu singkat. Karenanya, dia hanya bisa menangis, malu kalau sampai ditagih. Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada KH. Abdul Hamid.

    Kemudian dengan lembut sang Kiai yang lantas menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman depan rumah Pak Kiai. Di sana ada dua pohon kelengkeng. “Kumpulkan daun-daun yang gugur itu dan bawa kemari,” kata KH. Abdul Hamid. Setelah menerima daun-daun kelengkeng itu, KH. Abdul Hamid memasukkannya ke dalam saku baju. Ketika ditarik keluar, di tangannya tergenggam uang kertas. Kemudian dia menyuruh Asmawi melakukan hal sama tapi pada pohon kelengkeng yang lainnya.

    Dengan cara yang sama pula, daun kelengkeng itu berubah menjadi uang kertas. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp225.000. Masih kurang Rp75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai Rp75.000 kepada KH. Abdul Hamid, lalu uang itu diserahkan ke Asmawi.

    6.3           MENGUJI KEWALIAN BELIAU

    Lain lagi yang dialami Said Ahmad, santri lainnya. Dia justru seolah ingin menguji kewalian KH. Abdul Hamid yang telah kesohor. Said Ahmad ingin tahu, apakah Kiai tahu bahwa dia ingin diberi makan olehnya. Ketika sampai di pesantren milik sang kiai, kebetulan saat salat lsya sudah masuk, dia pun ikut salat berjamaah.

    Usai salat, dia tidak langsung pulang, melainkan menunggu sampai jamaah pulang semua. Lampu teras rumah KH. Abdul Hamid pun sudah dipadamkan, pertanda pemilik rumah siap-siap beristirahat. Dengan demikian, dia pikir, niatnya berhasil, yaitu bahwa keinginannya untuk ditawari makan oleh Kiai tidak diketahui.

    Lalu dia pun melangkahkan kaki meninggalkan masjid. Ternyata dari rumah KH. Abdul Hamid ada yang melambaikan tangan kepadanya. Dengan langkah ragu, dia pun mendekatinya. Ternyata tuan rumah sendiri yang memanggilnya. “Makan di sini ya,” kata KH. Abdul Hamid sambil senyum. Dia pun diajak masuk ke ruang tengah. Di sana hidangan sudah tersaji. “Maaf, lauknya seadanya,” kata Kiai santai. “Sampeyan tidak bilang-bilang, sih.” Said tersindir. Dan sejak itu dia percaya, KH. Abdul Hamid adalah wali.

    6.4           MEMINTA NOMOR TOGEL

    Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke KH. Abdul Hamid. Oleh KH. Abdul Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan KH. Abdul Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian KH. Abdul Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan KH. Abdul Hamid. Oleh kiai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. KH. Abdul Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.

    7.         KARYA

    KH Abdul Hamid Pasuruan atau yang lebih dikenal (Mbah Hamid) dijiluki sebagai Abdul Juman (kitab sastra Arab atau kitab Balaghoh yang sangat sulit untuk dipahami) beliau justru sangat menguasai kitab tersebut, dibuktikan dengan beliau mengarang Kitab Nadzom  Sullam Taufiq yang mana nadzomannya ini mendapat pujian dari K.H Sahal Mahfud.

    Kitab Nadzom Sullam Taufiq karya K.H Abdul Hamid Pasuruan tersebut berisikan tiga bahasan pokok yaitu: Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf.

    8.         REFERENSI

    https://wiki.laduni.id

  • Biografi Imam as-Suyuthi

    Biografi Imam as-Suyuthi

    SORBANSANTRI.COM
    KELAHIRAN

    Imam as-Suyuthi lahir pada awal bulan Rajab tahun 849, tepatnya pada 3-10-1445 Masehi, di Mesir setelah Maghrib malam Ahad.

    Nama ayah beliau adalah Abu Bakr Muhammad ibn Abi Bakr. Seseorang yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti: fikih, hitung-menghitung, ushul, debat, nahwu, sharaf, bayan, badi’, menulis, dan seorang yang cerdas. Sejak muda ia telah meningalkan keluarganya di al-Usyuth dan merantau ke Kairo untuk menimba ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kedekatannya dengan Amir Syaikhu. Selama itu ia mendalami fiqih hingga pada tahun 1451 M wafat dalam usia 50 tahun, ketika Imam as-Suyuthi berumur enam tahun. Sedangkan Ibu Imam as-Suyuthi adalah keturunan Turki.

    NASAB

    Imam al-Hafizh Abu al-Fadhl Jalal ad-Din ‘abd ar-Rahman ibn Kamal ad-Din abi al-Manaqib abi Bakr ibn Nashir ad-Din Muhammad ibn Sabiq ad-Din abi Bakr ibn Fakhr ad-Din ‘Utsman ibn Nashir ad-Din Muhammad ibn Saif ad-Din Khadhr ibn Najm ad-Din abi al-Shalah Ayub ibn Nashir ad-Din Muhammad ibn as-Syaikh Hammam ad-Din al-Hammam al-Khudhairiy al-Usyuthiy.

    WAFAT

    Imam as-Suyuthi wafat disebabkan sakit tumor ganas di lengan kiri beliau. Ada juga yang mengatakan beliau jatuh kemudian terbaring sampai tujuh hari hingga akhirnya beliau wafat sebelum fajar malam Jumat, 19 Jumadil Ula tahun 911 H/17-10-1505 M di rumah beliau. Beliau dibacakan surat Yasin ketika sekarat, kemudian disholatkan oleh banyak orang di rumah beliau setelah shalat Jumat. Kemudian dishalatkan lagi untuk yang kedua kalinya oleh banyak orang yang jumlahnya tidak bisa dihitung karena saking banyaknya. Orang-orang di Damaskus juga melakukan shalat ghaib untuk beliau. Imam as-Suyuthi Rahimahullah dikuburkan di Kairo.

    PENDIDIKAN

    Imam as-Suyuthi memulai pendidikanya dengan belajar kepada ayahnya, beliau memberikan perhatian penuh terhadap Imam as-Suyuthi, mendidiknya untuk menghafal al-Qur’an, bahkan menemaninya belajar hadits kepada Ibnu Hajar al-Asqalani. Maka Imam as-Suyuthi kecil tumbuh dengan baik karena mendapat perhatian yang utuh dari orangtua dan para gurunya. Ia mampu menyelesaikan studinya di Masjid al-Syaikhuni setelah kematian ayahnya.

    Berkat kecerdasannya, Imam as-Suyuthi mampu menghafalkan al-Qur’an sebelum genap berusia 8 tahun. Kemudian beliau menghafal kitab ‘Umdat al-Ahkam dan al-Minhaj karangan imam an-Nawawi; Alfiyyah ibn Malik dan al-Minhaj karangan imam al-Baydhawiy.

    Setelah menghafal al-Qur’an, ia melanjutkan petualangan intelektualnya dengan mendalami fiqih mazhab Syafi’i kepada ‘Alamuddin al-Bulqaini dan diteruskan dengan putra al-Bulqaini. Ia mendalami ilmu-ilmu keagamaan dan bahasa Arab dengan Syeikh Syarafuddin al-Minawi dan Muhyiddin al-Kafiyaji (w. 889 H). Selanjutnya mendalami kitab Shahih Muslim, as-Syifa fi Ta’rif Huquq al-Musthafa, dan sebagainya bersama Syeikh Syamsuddin Muhammad Musa. Kemudian mempelajari hadits dan bahasa Arab sekitar empat tahun bersama Taqiyuddin al-Syumani al-Hanafi (w. 872 H).

    Rihlah merupakan suatu kebutuhan penting bagi penuntut ilmu, karena dengan rihlah kita bisa menyingkap tabir cakrawala demi mendapat kelebihan-kelebihan. Masing-masing daerah menyimpan ilmu-ilmu dan ulama yang berbeda, apa yang ada pada ulama di suatu daerah mungkin tidak dimiliki ulama daerah lain, maka, setelah imam as-Suyuthi banyak menuntut ilmu dari para ulama di daerahnya, beliau kemudian pergi menuntut ilmu ke berbagai daerah untuk memperoleh hadis atau sanad keilmuan.

    Maka Imam as-Suyuthi mengembara ke Syiria, Yaman, India, Maroko, Mesir dan banyak wilayah Islam lainnya. Ia pun berkali-kali mengunjungi Hijaz baik untuk menunaikan ibadah haji maupun menimba pengetahun. Beliau bertemu dan belajar dengan banyak ulama pada saat itu, dan beliau juga menuntut ilmu dari murid-murid ayahnya. Imam as-Suyuthi belajar berbagai ilmu pengetahuan dari mereka, seperti tafsir, hadis, fikih, mantiq, ilmu kalam, adab, serta ilmu tata bahasa.

    GURU-GURU

    Setelah dikumpulkan sekian banyak nama guru-guru imam as-Suyuthi, didapati bahwa jumlah guru beliau sekitar 204 orang, 42 orang dari perempuan, dan 162 orang laki-laki. Ini menunjukkan bahwasnya perempuan juga berperan penting dalam keilmuan imam as-Suyuthi. Beliau juga belajar kepada ulama dengan latar mazhab yang berbeda.

    Beberapa nama guru imam as-Suyuthi:

    1. Ibrahim ibn Ahmad ibn Yunus al-Ghaziy Tsamma al-Halbiy Burhan al-Din (ibn al-Dhu’ayyaf), lahir tahun 792 H.
    2. Ahmad ibn Ibrahim ibn Sulaiman al-Qalyubiy Abu al-‘Abbas (w. 868 H).
    3. Ibrahim ibn Muhammad ibn ‘Abdillah ibn al-Dairiy al-Hanafiy Burhan al-Din (w. 876 H).
    4. Abu Bakr ibn Ahmad ibn Ibrahim al-Makkiy Fakhru al-Din al-Mursyidiy (w. 876 H).
    5. Abu Bakr ibn Shidqah ibn ‘Aliy al-Munawiy Zakyu al-Din (w. 880).
    6. Abu Bakr ibn Muhammad ibn Syaddiy al-Hushaniy (al-Hushkafiy) al-Syafi’i Taqiyyu al-Din (w. 881 H).
    7. Abu Bakr ibn ‘Aliy ibn Musa al-Hasyimiy al-Haritsiy al-Makkiy (w. 895 H).

    Kebanyakan dari guru imam as-Suyuthi meninggal pada tahun 870-880 H. Ini artinya beliau belajar kepada guru-gurunya dalam usia kurang dari 30 tahun.

    MURID-MURID

    Murid-murid imam as-Suyuthi pun sangat banyak, dan penulis hanya akan menyebutkan beberapa diantaranya, yaitu:

    1. Ahmad ibn ‘Aliy ibn Zakaria Syihab ad-Din al-Judayyidiy (819-888)
    2. Asy-Syihab ibn Abi al-Amir al-Iyasiy al-Hanafiy asy-Syafi’i (lahir 863 H)
    3. Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn as-Siraj al-Bukhariy al-Hanafiy (883-948 H)
    4. Ibrahim ibn ‘Abd ar-Rahman ibn ‘Ali al-‘Alqamiy al-Qahiriy asy-Syafi’i (923-994 H)
    5. Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Aliy ibn Hajar al-Haitamiy asy-Syafi’i (w. 973 H)
    6. ‘Abd al-Wahhab ibn Ahmad asy-Sya’raniy (asy-Sya’rawiy) asy-Syafi’i (w. 973 H)
    7. Abu al-Khair ibn ‘Amus ar-Rasyidiy al-Hashariy

    KARYA-KARYA

    Imam as-Suyuthi menulis buku yang sangat banyak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, yang tidak dapat penulis rincikan satu persatu. Namun, beberapa diantaranya adalah :

    Bidang al-Quran dan Ulum al-Quran

    1. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran
    2. Mafatih al-Ghaib fi at-Tafsir
    3. Nawahid al-Abkar wa Syawarid al-Afkar
    4. Tafsir al-Jalalain
    5. Turjuman al-Quran

    Bidang Hadis dan Ulum al-Hadis

    1. Jami’ al-Kabir (Jam’u al-Jawami’)
    2. At-Tawsyih ‘ala al-Jami’ ash-Shahih
    3. Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim ibn al-Hajjaj
    4. Alfiyyah fi Mushtholah al-Hadis
    5. Tadrib ar-Rawi fi Syarhi Taqrib an-Nawawi
    6. Al-Luma’ fi Asbabi Wurud al-Hadis
    7. Al-Musalsalat al-Kubro

    Bidang Fikih dan Ushul Fikih

    1. Al-Hawi li al-Fatawi
    2. Taqrir al-Isnad fi Taysir al-Ijtihad
    3. Al-Asybah wa an-Nazhoir fi Qawa’id wa furu’ asy-Syafi’iyyah
    4. ‘Ulum al-‘Arabiyyah
    5. Al-Muzhir fi ‘ulum al-lughah
    6. Al-Asybah wa an-Nazhair fi ‘ilmi an-Nahwi
    7. Al-Iqtirah fi Ushuli an-Nahwi
    8. At-Tawsyih ‘ala at-Tawdhih
    9. Jam’u al-Jawami’ fi an-Nahwi
    10. Miftah at-Talkhish

    Karena sebagian besar guru beliau wafat dalam rentang waktu tertentu, pola pembelajaran intensif seperti ini juga terlihat dalam komunitas pokies online real money yang mengedepankan pengalaman di usia muda melalui bimbingan mentor berpengalaman.

  • Ketika Nabi Muhammad Menyuruh Merokok

    Ketika Nabi Muhammad Menyuruh Merokok

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh: Habib Munzir al Musawa.

    Asap rokok menggoda selera
    Pun semerbak kasturi tertandingi.
    Pahitnya, manis terasa,
    Aneh, pahit kok manis rasanya.

    wp.sorbansantri.com – Di atas adalah ungkapan seorang wali besar dan ulama ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul-Ghani al- Nabulsi ra. (wafat tahun 1143 H.) dalam kitab dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq

    Dalam kitab yang sama menceritakan: Syekh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang mufti dan pakar fiqh bermazhab hanafi yang sempat meraih julukan Syaikhul-Islam pada zamannya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi ra. tentang kebolehan merokok, yang berjudul: al-Ishlah bainal- Ikhwan fi Ibahat Syurb al- Dukhan,

    Syekh Allati Barmaq saat itu mengharamkan rokok, oleh karena itu ia sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Sidi Abdul Ghony yang akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Sidi Abdul Ghony dan lantas minta maaf,

    Lalu dengan tegas mengatakan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina.

    Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat. Ungkapan tersebut berbunyi sebagai berikut :

    Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok,
    Bak hewan yang tak punya cita rasa.
    Tak patut diharamkan,
    Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa.
    Wahai pecandu sufi, Kenapa tak kau rengkuh rokok saja.
    Andai tak ada rahasia, Baunya pun takkan lezat terasa.
    Padanya; rahasia Sang Kuasa,
    Ahli hakekat Allati Barmaq sebagai saksinya.

    Dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla’ilinnabiyyil-Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut :
    Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi Ra. menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz :

    “Syekh Abdul-Qadir Efandi seperti biasa, hadir bersama kami untuk membacakan ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca hadits yang berbunyi;

    Dari Saidina Abi Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda; “Siapa yang bertemu aku pada saat mimpi; pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku”.

    Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Tanwirul-Halak fi Imkan Ru’yat al-Nabi wal-Malak.
    Syekh Abdul-Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya).

    Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: “Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi saw. (dalam tidur maupun jaga).

    Suatu ketika ia jatuh sakit dan Rosululloh menemui beliau, kemudian ia bertanya tentang hukum merokok,

    Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok”!!!

    Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi (yang senantiasa menjumpai Rasul dan bertanya tentang rokok dan ternyata mendapat perintah untuk menghisapnya) adalah seorang pemuka kenamaan dan tokoh kepercayaan pada masanya. Seorang Wali besar dimasanya.

    Seorang Wali besar Al-Arif Billah Syeikh Ihsan Jampes Kediri, ulama bertaraf internasional yang kitabnya jadi rujukan di Timur Tengah dan Mesir, pernah menulis masalah perbedaan pendapat rokok dengan amat bagus sekali.

    Beliau sendiri adalah perokok. Apakah orang seperti Syeikh Ihsan Jampes yang menulis kitab tasawuf yang bermutu tinggi pada usia 33 thn itu dadanya tidak ditembusi cahaya Allah hanya karena asap rokok?

    KH. Abdul Hamid Pasuruan – beliau adalah Waliullah yang masyhur dihormati oleh sesepuh mursyid tarekat mu’tabarah, tidak anti rokok dan tidak pernah mengharamkan rokok. Apakah kyai sekaliber Mbah Hamid ini shalatnya tidak diterima oleh Allah hanya karena merokok?

    KH Raden As’ad Syamsul Arifin adalah seorang Waliullah di zamannya, yg juga merokok. apakah beliau ini akan masuk neraka hanya karena berpendapat merokok tidak haram?

    Siapapun tentu mengetahui kemasyhuran KH. Khamim Jazuli ( Gus Miek ) dan pasti tahu Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh Muhammad Zaini Abd. Ghani ( Tuan Guru Ijai al-aidrus martapura Kalimantan Selatan ) dikenal sebagai seorang Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan dunia, juga merokok. (abi sorban)

  • Lembaga Da’wah Nahdlatul Ulama’ (LDNU) MWCNU Kecamatan Ngoro Gelar Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Candiharjo

    Lembaga Da’wah Nahdlatul Ulama’ (LDNU) MWCNU Kecamatan Ngoro Gelar Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Candiharjo

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Majlis wakil cabang nahdlatul ulama’ (MWCNU) kecamatan ngoro pada hari jum’at (18-02-2022) mengadakan kegiatan rutin jum’at paing yakni lailatul ijtima’ yang di bawah naungan lembaga da’wah nahdlatul ulama’ (LDNU) dimasjid BAITURROHMAH dusun perjito desa candiharjo kecamatan ngoro.

    Dalam acara ini yang dihadiri oleh seluruh banom NU yang ada di kecamatan ngoro, baik di tingkatan ranting maupun ditingkatan PAC, para pejabat jajaran pemerintahan desa candiharjo, namun kali ini jajaran pengurus ranting NU candiharjo merasa kehilangan atas meninggalnya kader NU sekaligus selaku kepala dusun beliau adalah bapak anang sujiono.

    (lebih…)

  • Memperingati harlah NU ke 99 pimpinan ranting NU kunjorowesi kecamatan ngoro adakan pelatihan pemulasaran jenazah

    Memperingati harlah NU ke 99 pimpinan ranting NU kunjorowesi kecamatan ngoro adakan pelatihan pemulasaran jenazah

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com –
    Pada dasarnya semua mahluk hidup pasti akan mengalami kematian, termasuk manusia itu sendiri, namun manusia meninggal dunia berbeda dengan mahkuk lainnya, manusia meninggal dunia dengan bermacam macam sebab, ada yang karena bencana alam, kecelakaan, sakit, dan lain sebagainya.

    Maka untuk menyikapi problematika tentang tata cara untuk menangani jenazah, Pimpinan ranting nahdlatul ulama’ (PRNU) kunjorowesi pada hari minggu (20-02-2022) mengadakan pelatihan pemulasaran jenazah yang bertempat di aula TPQ AL ANWAR dusun kandangan desa kunjorowesi kecamatan ngoro, acara ini yang di gagas oleh lembaga da’wah nahdlatul ulama’ (LDNU) ranting kunjorowesi.

    Adapun maksud dan tujuan diadakannya pelatihan ini adalah agar supaya warga nahdliyin tau dan mengerti tentang hukum-hukum memandikan, mengkafani, mensholati dan mengubur jenazah, dan agar supaya warga nahdliyin mau mengerjakan atau mau merawat jenazah tidak canggung lagi, betul betul mengerti ilmu yang sebenarnya, bukan Cuma sekedar “katanya”

  • NGAJI SUNNAH YUK DARI MUSHOLLA NU PACET MOJOKERTO

    NGAJI SUNNAH YUK DARI MUSHOLLA NU PACET MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Sekilas memang tidak ada masalah dalam acara yang diadakan LIVE melalui Facebook Watch. Akan tetapi nama dan istilah dalam postingan tersebut dikhawatirkan menjadi abu-abu dikalangan masyarakat yang rata-rata di daerah Pacet Mojokerto sendiri mayoritas warganya adalah NU (Nahdlatul Ulama’).

    Seperti halnya kajian-kajian yang diadakan beberapa hari kemarin,istilah Musholla Nuansa Ubalan yang mereka singkat menjadi Musholla NU, Masjid Imam Syafi’i Mojokerto padahal mereka dalam kitabnya Wahabi karangan Bin Baz (Mafahim maFahimuna) secara terang-terangan kalo Imam Syafi’i itu kurang ajar dalam membagi Bid’ah. Dan berikutnya mereka memakai Anshor dalam media TV wahabi yaitu Al-Anshor.

    Hal seperti ini dirasakan sangat mengkhawatirkan apabila semua istilah-istilah pada NU ( Nahdlatul Ulama’ ) dipakai sarana dakwah dalam penyebaran paham wahabi di Kawasan Pacet Mojokerto.

  • Ansor Tegal Gelar Workshop Media di Enam Korwil

    SORBANSANTRI.COM

    sorban santri.com – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Tegal bakal menggelar Workshop Media dan Jurnalistik. Pelatihan akan digelar 19 Februari – 13 Maret 2022 di enam Koordinator Wilayah (Korwil) se Kabupaten Tegal.

    Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tegal Nurfanani melalui Wakil Ketua Bidang Media Abdul Muhni mengatakan, Workshop yang akan diikuti perwakilan dari Anak cabang dan Ranting GP Ansor yang ada di kabupaten Tegal itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader dalam membuat konten di media digital maupun media sosial.

    “Workshop juga dimaksudkan sebagai sarana konsolidasi Media Ansor dari level Cabang, Anak Cabang hingga ranting,” katanya.

    Selain itu, kata Muhni, Workshop bertujuan untuk menggugah semangat kader Ansor disemua tingkatan dalam meningkatkan kemampuan media dan literasi.

    “Peran media ini sangat penting bagi organisasi. Apalagi peran Gerakan Pemuda Ansor di era teknologi informasi, era medsos,” tandasnya.

    Kepala Lembaga Media dan Jurnalistik PC GP Ansor Kabupaten Tegal Nurkhasan, menambahkan, Workshop akan digelar di enam Korwil se Kabupaten Tegal. Dimana setiap Korwil akan diikuti 3 PAC dan PR diwilayah Korwil tersebut.

    “Pelatihan ini menjadi ajang evaluasi dan monitoring oleh Ansor Media Tegal terhadap masing-masing Anak cabang dan ranting dalam mengelola dan memproduksi konten di media sosial maupun platform media lainnya,” kata Hasan.

    Dalam Workshop ini juga akan diberikan sejumlah materi penting diantaranya Jurnalistik Dasar, Tehnik Fotografi, Desain Grafis, Pengenalan Website dan Pengelolaan Media Sosial.

    “Diharapkan peserta dari lembaga media anak cabang dan ranting GP Ansor bisa memanfaatkan dengan baik pelatihan ini,” harapnya. (Team Ansor Media).