Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • Tradisi Ziarah Wali di Bulan Rajab: Menguatkan Spiritualitas dan Mengenang Perjuangan Dakwah

    Tradisi Ziarah Wali di Bulan Rajab: Menguatkan Spiritualitas dan Mengenang Perjuangan Dakwah

    Pacet, Mojokerto – Bulan Rajab menjadi salah satu momen istimewa bagi umat Islam. Selain sebagai bulan mulia dalam kalender Hijriah, banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk melakukan tradisi ziarah wali, terutama di makam para penyebar agama Islam di Nusantara.

    Ziarah wali bukan hanya sebuah ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT melalui teladan kehidupan para wali. Misalnya, makam Wali Songo seperti Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Bonang di Tuban, hingga Sunan Gunung Jati di Cirebon, sering dipenuhi peziarah pada bulan ini.

    Makna Tradisi Ziarah

    Menurut para ulama, ziarah makam wali memiliki beberapa makna mendalam, di antaranya:

    1. Menghormati Perjuangan Dakwah Islam
      Para wali adalah tokoh yang berjasa dalam menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara damai, penuh hikmah, dan kebijaksanaan. Dengan ziarah, masyarakat diajak mengenang perjuangan tersebut.
    2. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan
      Melalui doa dan refleksi di makam para wali, peziarah diingatkan pada kehidupan akhirat dan pentingnya meneladani sifat-sifat baik para wali.
    3. Menguatkan Tradisi Keagamaan
      Ziarah wali telah menjadi bagian dari warisan budaya Islam di Indonesia yang memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas Muslim.

    Pusat Keramaian Peziarah

    Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi adalah Makam Sunan Ampel di Surabaya. Peziarah dari berbagai daerah datang untuk membaca tahlil, mendoakan para wali, dan memohon berkah. “Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu ingat pada perjuangan dakwah Islam dan tetap rendah hati,” ujar Siti Aisyah, salah satu peziarah asal Mojokerto.

    Pesan Ulama tentang Ziarah

    Gus Mahbub, seorang putra pengasuh pesantren Al Falah di Pacet, Mojokerto, mengingatkan bahwa tujuan utama ziarah adalah mendoakan para wali, bukan meminta sesuatu kepada mereka. “Jadikan ziarah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meneladani akhlak mulia para wali,” pesannya.

    Kesimpulan

    Tradisi ziarah wali di bulan Rajab adalah wujud penghormatan terhadap sejarah dakwah Islam sekaligus momen untuk memperkuat spiritualitas. Dengan niat yang tulus, tradisi ini tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga cara menjaga warisan keislaman di Indonesia. (AI)

    @beritasorban Tradisi ziarah wali di bulan Rajab mengingatkan kita pada perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam. Yuk, teruskan tradisi ini dengan niat yang baik! #ZiarahWali #TradisiNU #FaktaSorban #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Sejarah Tugu Pahlawan di Pacet, Mojokerto: Monumen Pengingat Perjuangan Para Pahlawan

    Sejarah Tugu Pahlawan di Pacet, Mojokerto: Monumen Pengingat Perjuangan Para Pahlawan

    BERITA VIDEO

    Mojokerto, 4 oktober – Tugu Pahlawan di Pacet, Mojokerto, merupakan simbol perjuangan para pahlawan yang mempertahankan tanah air dari penjajahan di wilayah ini. Tugu yang berada di daerah strategis ini dibangun sebagai bentuk penghormatan dan pengingat bagi generasi masa kini akan pengorbanan para pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

    Tugu ini berdiri kokoh dengan desain sederhana namun sarat makna. Pada masa penjajahan, kawasan Pacet menjadi salah satu jalur strategis yang diperebutkan oleh para pejuang kemerdekaan dan tentara penjajah. Pertempuran yang terjadi di wilayah ini sangatlah sengit, mengingat daerah Pacet yang berada di ketinggian menjadi tempat yang strategis untuk pengawasan. Banyak pahlawan yang gugur dalam upaya mempertahankan wilayah ini dari serangan pihak penjajah.

    Menurut beberapa sumber sejarah lokal, pembangunan Tugu Pahlawan di Pacet dimulai pada tahun [tahun pembangunan], diprakarsai oleh masyarakat setempat yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah saat itu. Tugu ini dibangun bukan hanya sebagai tempat ziarah atau simbol sejarah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang gugur. Seiring berjalannya waktu, Tugu Pahlawan ini sering menjadi pusat peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia dan kegiatan-kegiatan terkait perjuangan kemerdekaan di Mojokerto.

    Tugu ini juga memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat setempat yang hingga kini tetap menjaga dan merawatnya. Keberadaannya menjadi pengingat bagi generasi muda untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa, khususnya di wilayah Pacet dan sekitarnya. Di setiap tahunnya, masyarakat dan pemerintah daerah kerap mengadakan acara tabur bunga di tugu ini sebagai penghormatan kepada para pahlawan.

    Dengan keberadaan Tugu Pahlawan Pacet, generasi muda diharapkan dapat lebih mengenal dan memahami sejarah perjuangan daerah mereka serta melanjutkan semangat patriotisme yang diwariskan oleh para pahlawan.

    @beritasorban

    “Di balik megahnya Tugu Pahlawan di Pacet, Mojokerto, tersimpan cerita heroik para pejuang yang mempertahankan tanah air. Tugu ini dibangun sebagai simbol penghormatan bagi mereka yang telah gugur dalam pertempuran melawan penjajah di daerah strategis Pacet. Setiap tahun, masyarakat dan pemerintah daerah berkumpul di sini, mengenang jasa para pahlawan dengan tabur bunga. Tugu Pahlawan Pacet bukan hanya monumen, tapi juga pengingat untuk generasi muda agar terus menjaga semangat perjuangan. Mari bersama kita lestarikan sejarah ini dan hargai setiap pengorbanan para pahlawan kita.” TuguPahlawanPacet SejarahPacet PahlawanMojokerto WisataSejarah KebanggaanMojokerto MemoriPerjuangan PacetBerjuang PahlawanIndonesia #JanganLupakanSejarah #fyp

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri
  • Mengapa Soeharto Tidak Diculik dan Dibunuh dalam Peristiwa G30S/PKI?

    Mengapa Soeharto Tidak Diculik dan Dibunuh dalam Peristiwa G30S/PKI?

    BERITA VIDEO

    Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang terjadi pada tahun 1965 adalah salah satu episode kelam dalam sejarah Indonesia. Pada malam 30 September 1965 hingga dini hari 1 Oktober, sekelompok militer yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Namun, menariknya, Mayor Jenderal Soeharto, yang saat itu adalah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tidak menjadi salah satu target dalam peristiwa ini.

    Ada beberapa alasan mengapa Soeharto tidak menjadi korban dalam G30S/PKI:

    1. Soeharto Bukan Bagian dari “Dewan Jenderal”
      Salah satu narasi yang dikembangkan oleh kelompok G30S/PKI adalah adanya “Dewan Jenderal,” yang diduga merencanakan kudeta terhadap Presiden Sukarno. Para jenderal yang diculik dan dibunuh pada malam tersebut dianggap sebagai anggota dewan ini. Namun, Soeharto, meskipun memiliki posisi penting dalam militer, tidak dianggap sebagai bagian dari kelompok tersebut. Oleh karena itu, ia tidak dimasukkan dalam daftar target.
    2. Hubungan Soeharto dengan Presiden Sukarno
      Soeharto tidak memiliki hubungan langsung atau yang dianggap mengancam Presiden Sukarno pada saat itu. Meskipun posisinya penting dalam militer, ia tidak terlalu menonjol dalam konflik politik antara kelompok komunis dan kelompok anti-komunis. Hal ini mungkin membuatnya dianggap bukan ancaman langsung oleh PKI, yang saat itu memiliki pengaruh besar di sekitar Sukarno.
    3. Ketidakhadiran Soeharto di Rumahnya
      Pada malam terjadinya peristiwa G30S, Soeharto dilaporkan sedang berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) karena anaknya sakit. Kebetulan ini membuat Soeharto sulit dijangkau oleh pasukan G30S, yang mungkin berfokus pada penculikan jenderal-jenderal yang diketahui berada di rumah mereka masing-masing.
    4. Kurangnya Informasi Akurat
      Mungkin juga pasukan G30S/PKI tidak memiliki informasi yang cukup tentang posisi atau pergerakan Soeharto. Informasi yang mereka miliki mungkin tidak mencakup Soeharto secara detail, mengingat fokus utama mereka adalah Dewan Jenderal dan pimpinan militer lain yang dianggap lebih berpotensi melakukan kudeta.
    5. Peran Penting Soeharto Setelah G30S
      Setelah peristiwa G30S terjadi, Soeharto bergerak cepat mengambil alih komando dan memimpin operasi militer untuk menumpas gerakan tersebut. Keputusan ini kemudian mengantarkan Soeharto pada jalan menuju kekuasaan, yang berujung pada jatuhnya Presiden Sukarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden Indonesia.

    Soeharto yang tidak menjadi sasaran penculikan atau pembunuhan dalam peristiwa ini bisa jadi merupakan hasil dari kombinasi antara posisi strategisnya, kebetulan, dan perhitungan politik yang tidak memperhitungkannya sebagai ancaman serius pada saat itu. Pada akhirnya, kejadian ini membuka jalan bagi Soeharto untuk mengambil alih kendali negara dan berkuasa selama lebih dari tiga dekade.

    @beritasorban

    Pada 30 September 1965, Indonesia diguncang peristiwa G30S, yang melibatkan penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat oleh kelompok yang diduga terkait PKI. Namun, ada satu jenderal penting yang luput dari serangan tersebut: Mayor Jenderal Soeharto. Mengapa Soeharto tidak diculik? Beberapa faktor seperti posisi strategisnya sebagai Panglima Kostrad, ketidakterlibatannya dalam “Dewan Jenderal,” serta kebetulan sedang berada di rumah sakit pada malam itu, membuat Soeharto tidak masuk daftar target. Peristiwa ini justru menjadi titik balik, di mana Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan, yang berujung pada berakhirnya era Presiden Sukarno. G30SPKI SejarahIndonesia G30SPKI SejarahIndonesia Soeharto SejarahKelam Peristiwa1965 DewanJenderal PKI #MiliterIndonesia fyp

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri
  • Penemuan Puluhan Granat dan Amunisi di Halmahera Utara, Polisi Sebut Peninggalan Jepang

    Penemuan Puluhan Granat dan Amunisi di Halmahera Utara, Polisi Sebut Peninggalan Jepang

    BERITA VIDEO

    Halmahera Utara, 23 September 2024 — Warga Halmahera Utara digegerkan dengan penemuan puluhan granat dan amunisi di sebuah hutan di Kecamatan Kao, Halmahera Utara, Maluku Utara. Benda-benda berbahaya ini diduga merupakan peninggalan masa pendudukan Jepang selama Perang Dunia II.

    Penemuan ini bermula ketika sekelompok warga yang sedang mencari kayu di hutan menemukan benda-benda mencurigakan yang tertimbun di dalam tanah. Setelah diperiksa lebih lanjut, mereka menyadari bahwa yang mereka temukan adalah granat aktif dan sejumlah besar amunisi. Warga segera melaporkan hal ini ke pihak kepolisian setempat.

    Kapolres Halmahera Utara, AKBP Andi Rahmat, dalam keterangannya mengungkapkan bahwa tim penjinak bom dari Brimob Maluku Utara langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengamankan temuan tersebut. “Total ada 40 granat tangan dan lebih dari 100 butir amunisi yang ditemukan. Setelah diteliti, benda-benda ini diduga kuat merupakan peninggalan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II,” ujar Andi Rahmat.

    Tim penjinak bom memastikan bahwa granat dan amunisi yang ditemukan tersebut masih dalam kondisi berbahaya, meskipun sudah terkubur selama puluhan tahun. Oleh karena itu, proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Semua temuan ini nantinya akan dimusnahkan di lokasi yang aman untuk mencegah risiko ledakan.

    Penemuan ini mengingatkan kembali pada sejarah panjang Halmahera Utara sebagai salah satu lokasi strategis bagi tentara Jepang selama Perang Dunia II. Wilayah ini pernah menjadi basis militer penting dan lokasi pertempuran sengit antara tentara Sekutu dan Jepang.

    Sementara itu, warga setempat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan jika menemukan benda-benda serupa yang diduga peninggalan perang. “Kami meminta masyarakat tidak mendekati atau menyentuh benda-benda mencurigakan yang bisa saja merupakan sisa-sisa perang,” tambah Kapolres.

    Penemuan sisa-sisa perang seperti ini bukan pertama kalinya terjadi di wilayah Halmahera dan Maluku Utara, mengingat kawasan ini memiliki sejarah panjang sebagai medan pertempuran besar selama Perang Dunia II.

    @beritasorban

    “Warga Halmahera Utara digemparkan dengan penemuan puluhan granat dan amunisi di Kecamatan Kao, diduga peninggalan tentara Jepang saat Perang Dunia II. Sebanyak 40 granat dan lebih dari 100 amunisi ditemukan oleh warga yang sedang mencari kayu di hutan. Polisi segera mengamankan lokasi dan menurunkan tim penjinak bom untuk mengatasi ancaman ledakan. Kapolres Halmahera Utara mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika menemukan benda mencurigakan yang bisa jadi sisa-sisa perang. Temuan ini kembali mengingatkan kita pada sejarah panjang Halmahera sebagai medan pertempuran sengit. Simak informasi selengkapnya di SorbanSantri.com.” PenemuanGranat HalmaheraUtara PeninggalanJepang PerangDuniaII GranatAmunisi SejarahPerang EvakuasiAmunisi PenjinakBom #fyp

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri
  • Sejarah Kemerdekaan RI dari Sudut Pandang Santri Nahdlatul Ulama

    Sejarah Kemerdekaan RI dari Sudut Pandang Santri Nahdlatul Ulama

    Awal Gerakan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan

    Gerakan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran Nahdlatul Ulama (NU). Pada masa penjajahan Belanda, ulama-ulama terkemuka NU, seperti KH Hasyim Asy’ari, memainkan peranan penting dalam menggerakkan kaum santri untuk terlibat dalam pergerakan nasional. KH Hasyim Asy’ari, sebagai salah satu pendiri NU, menjadi sosok sentral yang tidak hanya fokus pada pendidikan agama, namun juga menyadari pentingnya kebangsaan dan perjuangan melawan penjajah. Beliau menjadi inspirasi bagi banyak santri dan masyarakat luas dalam menyuarakan semangat kemerdekaan.

    Pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, di bawah bimbingan NU, menjadi pusat pendidikan dan sekaligus pergerakan nasional. Di pesantren, santri-santri tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga dilatih untuk memiliki kesadaran nasionalisme dan patriotisme. Pendidikan di pesantren memberikan fondasi yang kuat bagi santri untuk terlibat aktif dalam upaya kemerdekaan. Metode pengajaran yang diterapkan di pesantren menekankan sikap disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air, yang kemudian diimplementasikan dalam berbagai bentuk perjuangan.

    Selain itu, pesantren berperan penting sebagai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh nasionalis yang menyusun strategi perlawanan terhadap penjajah. Para kiai dan santri sering mengadakan musyawarah untuk merancang gerakan-gerakan perlawanan yang lebih efektif. Tidak jarang, pesantren menjadi tempat penyimpanan senjata dan logistik perang bagi pejuang kemerdekaan. Komitmen NU dan santrinya dalam perjuangan tanpa pamrih ini menunjukkan betapa besar kontribusi mereka dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

    Pada masa-masa kritis, santri NU berada di garis depan perjuangan. Mereka tidak hanya berjuang di medan fisik, tetapi juga berjuang dalam medan spiritual dan moral. Semangat dan dedikasi para santri NU ini terus dikenang dan menjadi bagian integral dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

    Resolusi Jihad dan Peranannya dalam Perjuangan

    Resolusi Jihad merupakan salah satu momen bersejarah yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dari sudut pandang santri Nahdlatul Ulama. Dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad mengobarkan semangat jihad fi sabilillah di kalangan umat Islam untuk melawan penjajah. Resolusi ini lahir pada masa ketika penjajah Belanda, melalui tentara Sekutu, berusaha kembali menguasai Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

    Dalam konteks sejarah, Resolusi Jihad tidak hanya menjadi panggilan spiritual tetapi juga memobilisasi kekuatan riil umat Islam. KH Hasyim Asy’ari, sebagai ulama terkemuka dan tokoh penting Nahdlatul Ulama, menekankan pentingnya membela tanah air sebagai bagian dari jihad, yakni berjuang di jalan Allah. Resolusi ini menyerukan bahwa wajib hukumnya bagi seluruh umat Islam yang berada dalam radius 94 kilometer dari Surabaya untuk turut serta melawan penjajah.

    Dampak dari dikeluarkannya Resolusi Jihad sangat signifikan. Resolusi ini membakar semangat perlawanan yang berpuncak pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran heroik ini melibatkan ribuan pejuang, termasuk santri-santri yang tergerak oleh semangat jihad untuk membela kemerdekaan. Anti-kolonialisme yang tercermin dalam pertempuran ini menginspirasi semangat kemerdekaan di seluruh pelosok Indonesia, menegaskan bahwa perjuangan ini adalah tanggung jawab bersama rakyat Indonesia, tanpa memandang suku, agama, maupun golongan.

    Tidak hanya menggerakkan santri dan masyarakat lebih luas, Resolusi Jihad juga memberikan dukungan moral kepada para pemimpin republik yang saat itu tengah menghadapi tekanan internasional. Dengan adanya resolusi ini, pesan yang disampaikan kepada dunia adalah bahwa kemerdekaan Indonesia adalah aspirasi kolektif rakyat yang siap mempertahankan tanah air dari segala bentuk kolonialisme dan imperialisme.

    Keterlibatan Santri NU dalam Pemerintahan Pasca-Kemerdekaan

    Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Nu mulai memperlihatkan peran jelas dalam struktur pemerintahan negara yang baru merdeka. Salah satu contohnya adalah keterlibatan santri Nahdlatul Ulama (NU) dalam Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). BPUPKI, yang dibentuk pada 1 Maret 1945, memiliki tujuan merancang konstitusi untuk negara Indonesia yang berdaulat. Para santri NU diundang sebagai bagian dari kaum intelektual untuk berpartisipasi dalam proses tersebut.

    Ketika PPKI dibentuk pada 7 Agustus 1945, ada penekanan lebih dalam memasukkan tokoh-tokoh agama, termasuk para ulama NU, ke dalam panitianya untuk memastikan bahwa dasar negara yang dirumuskan nantinya tetap menggambarkan semangat kebangsaan dan keagamaan. Santri NU seperti KH Abdul Wahid Hasyim aktif berpartisipasi dalam diskusi yang berkaitan dengan dasar negara dan tahapan kelanjutan pemerintahan Indonesia.

    Kontribusi santri NU tidak hanya berhenti di tahap pembentukan dasar negara, tetapi mereka juga mempengaruhi isu-isu strategi lainnya. Pada masa awal kemerdekaan, KH Wahid Hasyim, misalnya, menjabat sebagai Menteri Agama pada Kabinet Pertama Republik Indonesia. Sejumlah ulama juga memberikan masukan signifikan dalam merumuskan undang-undang dasar yang pertama, sehingga menghasilkan UUD 1945, yang menggabungkan prinsip-prinsip demokrasi serta nilai-nilai religius.

    Keterlibatan para santri NU mencerminkan bukan hanya dedikasi mereka untuk kemerdekaan Indonesia, tetapi juga kecintaan mereka terhadap perpaduan antara nilai-nilai agama dan nasionalisme. Ini juga membuktikan bahwa kontribusi santri dan ulama NU penting untuk menstabilkan arah pemerintahan yang baru terbentuk, memberikan fondasi yang kuat terhadap pembangunan bangsa yang merdeka.

    Warisan Perjuangan Santri NU dalam Mempertahankan NKRI

    Spirit perjuangan santri Nahdlatul Ulama (NU) tidak berhenti pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Semangat mereka terus hidup dalam berbagai peristiwa bersejarah setelah kemerdekaan, yang berfokus pada mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Santri NU memainkan peranan penting dalam berbagai konflik yang terjadi di masa pasca-kemerdekaan, seperti Agresi Militer Belanda ataupun pemberontakan dalam negeri. Mereka melibatkan diri secara aktif baik dalam bidang militer maupun diplomasi untuk memastikan Indonesia tetap utuh dan berdaulat.

    Dalam berbagai konflik tersebut, santri NU tidak hanya menggunakan senjata tapi juga kekuatan moral dan spiritual yang dimilikinya. Pendidikan agama yang kokoh menjadi landasan bagi mereka untuk tidak mudah terpecah belah oleh berbagai tantangan. Misalnya, pada era pemberontakan PKI tahun 1965, banyak santri dan ulama NU yang berdiri di garis depan melawan ideologi yang mereka anggap bertentangan dengan Pancasila. Keberanian dan konsistensi dalam mempertahankan prinsip-prinsip kebangsaan dan keislaman merupakan bukti tidak tergoyahkannya semangat juang mereka.

    Tidak hanya itu, kontribusi santri NU juga terlihat dalam aspek stabilitas nasional. Mereka aktif dalam mendirikan dan mengelola berbagai lembaga pendidikan, sosial, dan dakwah yang berfungsi menjaga keseimbangan sosial dan kedamaian di Indonesia. Pondok pesantren serta madrasah-madrasah yang mereka kelola tidak hanya fokus pada pendidikan agama tetapi juga pendidikan kebangsaan sehingga menghasilkan generasi yang berintegritas dan cinta tanah air.

    Hingga saat ini, nilai-nilai keislaman dan kebangsaan terus dijaga oleh santri NU. Mereka diajarkan untuk menjadi insan yang religius sekaligus nasionalis, yang menghayati ajaran agama Islam sambil setia pada NKRI. Santri NU tetap menjadi salah satu pilar penting dalam membangun bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, menjunjung tinggi toleransi, dan terus berusaha menjamin kedamaian serta stabilitas di tengah keberagaman Indonesia.

  • Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Masa Kecil Gus Dur: Bandel tapi Cerdas

    Berita Video

    Oleh: Aros

    wp.sorbansantri.com – KH. Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, tumbuh dan berkembang di masa kecilnya dengan berpindah-pindah antara Jombang dan Jakarta. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai Menteri Agama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng. Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, yang berarti “Sang Penakluk.” Nama ini kemudian diganti menjadi “Wahid,” dan dia lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.

    Gus Dur lahir pada tanggal 4 Sya’ban tahun 1359 Hijriyah atau bertepatan dengan 7 September 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Orang tuanya adalah KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah Bisri. Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai anak yang aktif, bahkan hiperaktif, tidak bisa diam, dan sering kali bandel. Baik di Denanyar maupun Tebuireng, Gus Dur sering berbuat ulah, jail, dan merepotkan orang sekitarnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Pada tahun 1944, keluarga Gus Dur pindah ke Jakarta karena sang ayah diminta menjadi ketua pertama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, keluarga mereka kembali ke Jombang. Namun, pada tahun 1949, mereka kembali ke Jakarta karena KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama RI.

    Laman: 1 2 3 4

  • Jadi Banser Sekarang Enak, Dulu Taruh Nyawa

    Jadi Banser Sekarang Enak, Dulu Taruh Nyawa

    Berita Video

    wp.sorbansantri.com – Kemiri Timur, Subah, Batang – Satu lagi anggota Ansor Banser angkatan 60-an yang layak kita kenang adalah Mbah Musrim, seorang warga Desa Kemiri Timur, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Dalam kisahnya, Mbah Musrim menceritakan pengalamannya mengikuti pengkaderan di Ansor Banser pada masa itu yang sangat berbeda dengan sekarang.

    Menurut cerita beliau, pengkaderan Ansor Banser pada zamannya berlangsung lebih dari satu minggu. Mbah Musrim harus menempuh perjalanan ke Rembang untuk mengikuti pelatihan tersebut dengan biaya sendiri. Tidak jarang, beliau harus berjalan kaki dalam keadaan kelaparan. “Dadi Banser jaman saiki kepenak, paling ngawal Kyai ceramah lan ngaji, kyaine ceramah bisa ditinggal udud. Jaman mbiyen ngawal uripe kyai, ngadepi wong-wong sing pengin mateni Kyai NU, bisa-bisa Dewe sing mati. Kancaku akeh sing mati orang genah kuburane,” ungkap Mbah Musrim dengan nada tegas.

    (“Jadi Banser jaman sekarang itu enak, paling mengawal kyai ceramah dan ngaji, kyainya ceramah bisa ditinggal merokok. Jaman dulu mengawal hidup matinya kyai menghadapi orang-orang yang ingin membunuh kyai NU, kalau tidak hati-hati bisa mati sendiri. Banyak temanku mati tidak tahu di mana kuburnya.”)

    Kisah Mbah Musrim menggambarkan betapa beratnya tugas anggota Ansor Banser pada masa itu. Mereka tidak hanya menjaga keselamatan para kyai saat ceramah, tetapi juga menghadapi ancaman nyata dari pihak-pihak yang ingin membunuh tokoh-tokoh NU.

    Ketika ditanya mengenai sikapnya jika ada yang ingin mengganggu NU dan NKRI, Mbah Musrim menjawab dengan penuh semangat, “O….aja macem-macem, senajan wis tua, mlaku wis angel, aku tetep Melu maju, mati ya mati, ora urus sapa sing tak adepi. Saiki mati mbesuk ya mati. Luwih Mulya mati mbela kyai lan negara, timbang mati nggletak orang ngapa-ngapa!”

    (“O…jangan macam-macam, walaupun sudah tua, berjalan sudah sulit, aku tetap ikut maju. Mati ya mati, tidak peduli siapa yang aku hadapi. Sekarang mati, besok mati. Lebih baik mati membela Kyai dan Negara, daripada mati tergeletak tidak melakukan apapun.”)

    Kisah Mbah Musrim ini menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya anggota Ansor Banser generasi sekarang, untuk tetap teguh dalam menjaga dan mempertahankan nilai-nilai yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Semoga semangat perjuangan beliau selalu menjadi teladan bagi kita semua. (AI Sorban)

    @beritasorban Mengenang kisah inspiratif dari Mbah Musrim, anggota Ansor Banser angkatan 60-an dari Desa Kemiri Timur, Subah, Batang. Pada masa itu, Mbah Musrim mengikuti pengkaderan Banser di Rembang selama lebih dari satu minggu dengan biaya sendiri, seringkali berjalan kaki dalam keadaan kelaparan. Pengalaman berat ini tidak menyurutkan semangatnya. "Dadi Banser jaman saiki kepenak, paling ngawal Kyai ceramah lan ngaji, kyaine ceramah bisa ditinggal udud. Jaman mbiyen, ngawal uripe kyai, ngadepi wong-wong sing pengin mateni Kyai NU, bisa-bisa dewe sing mati," ujar Mbah Musrim. Beliau juga menyatakan, "O…aja macem-macem, senajan wis tua, mlaku wis angel, aku tetep melu maju. Luwih mulya mati mbela kyai lan negara, timbang mati nggletak ora ngapa-ngapa!" Kisah Mbah Musrim ini menjadi teladan bagi kita semua untuk terus menjaga dan mempertahankan nilai-nilai perjuangan. Tetap semangat, jaga NKRI! #AnsorBanser #MbahMusrim #PahlawanNU #SejarahBanser #NKRI #PerjuanganNU #KisahInspiratif #Banser60an #JagaKyai #SemangatPerjuangan #pyp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Mengenal 3 Ulama Nusantara Pendiri PP. Lirboyo Kediri

    Mengenal 3 Ulama Nusantara Pendiri PP. Lirboyo Kediri

    Berita Video

    KH. Abdul Karim KH. Abdul Karim merupakan putra ketiga dari pasangan Abdur Rohim dan Salamah yang tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Sejak kecil, Abdul Karim bercita-cita menjadi ulama setelah melihat kharisma ulama pengikut Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1870, bersama kakaknya, Aliman, ia berangkat ke Jawa Timur untuk belajar di berbagai pesantren. Setelah menimba ilmu di pesantren Babadan, Cempoko, Trayang, dan Kedungdoro, ia melanjutkan perjalanan ke Madura untuk belajar pada Kiai Kholil Bangkalan selama dua puluh tiga tahun. Kembali ke Jawa, ia nyantri di Tebuireng, Jombang, di bawah bimbingan KH. Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng inilah ia dijodohkan dengan Nyai Khodijah dari Banjarmlati, Kediri.

    KH. Marzuqi Dahlan KH. Marzuqi Dahlan adalah cucu dari Kiai Sholeh Banjarmlati dan lahir dari pasangan Kiai Dahlan dan Nyai Artimah. Ia belajar di Jampes dan Pesantren Lirboyo di bawah bimbingan pamannya, Kiai Abdul Karim. KH. Marzuqi dikenal piawai dalam ilmu tasawuf dan memiliki tingkat taqarrub yang tinggi kepada Allah. Beliau juga memberikan contoh pola hidup sederhana dan menjunjung tinggi tata tertib serta budaya belajar ala pondok pesantren. Sebelum wafat, beliau mewasiatkan tiga nasihat penting kepada santri dan keluarga: mematuhi peraturan pondok, tekun belajar, dan menjaga keikhlasan niat menuntut ilmu.

    KH. Mahrus Aly KH. Mahrus Aly, lahir dari pasangan KH. Aly bin Abdul Aziz dan Hashinah binti Said, merupakan ulama besar yang dikenal sejak kecil karena keberaniannya. Beliau menuntut ilmu di berbagai pesantren seperti di Tegal, Rembang, dan akhirnya di Lirboyo di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim. Di Lirboyo, beliau dijodohkan dengan putri Kiai Abdul Karim, Nyai Zaenab. Setelah wafatnya Kiai Abdul Karim pada tahun 1954, Kiai Mahrus bersama Kiai Marzuqi Dahlan meneruskan kepemimpinan pesantren Lirboyo. Kiai Mahrus menggagas pendirian lembaga pendidikan tinggi untuk santri dan aktif di masyarakat serta Nahdlatul Ulama, yang membawa kemajuan pesat bagi Pondok Pesantren Lirboyo. (AI Sorban)

    @beritasorban 3 ulama pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur! Pertama, KH. Abdul Karim, putra Magelang yang menimba ilmu dari berbagai pesantren di Jawa Timur dan Madura. Beliau belajar pada Kiai Kholil Bangkalan selama 23 tahun dan kemudian di Tebuireng bersama KH. Hasyim Asy’ari. Kedua, KH. Marzuqi Dahlan, cucu Kiai Sholeh Banjarmlati, dikenal dengan kepiawaian dalam ilmu tasawuf. Beliau mewariskan nasihat penting untuk santri: patuhi tata tertib, tekun belajar, dan jaga keikhlasan. Ketiga, KH. Mahrus Aly, ulama pemberani asal Jawa Barat, yang menimba ilmu di berbagai pesantren sebelum akhirnya dijodohkan dengan putri KH. Abdul Karim. Beliau bersama KH. Marzuqi Dahlan memajukan Pesantren Lirboyo hingga berkembang pesat. Itulah sekelumit tentang tiga ulama hebat pendiri PP. Lirboyo. Terus dukung dan jaga tradisi keilmuan pesantren kita #UlamaNusantara #PesantrenLirboyo #KHAbdulKarim #KHMarzuqiDahlan #KHMahrusAly #SorbanSantri #SejarahPesantren #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Ibnu Khaldun: Peletak Dasar Ilmu Sosial Modern

    Ibnu Khaldun: Peletak Dasar Ilmu Sosial Modern

    Berita Video

    wp.sorbansantri.com – Ibnu Khaldun, pemikir terkemuka abad ke-14, dikenal karena kontribusinya dalam sejarah, sosiologi, dan filsafat. Melalui karyanya yang paling terkenal, “Muqaddimah,” ia meletakkan dasar bagi banyak konsep modern dalam ilmu sosial. Lahir pada 27 Mei 1332 di Tunisia, Ibnu Khaldun berasal dari keluarga berpengaruh dengan sejarah panjang dalam pelayanan publik dan keilmuan. Pendidikan awalnya mencakup Al-Quran, hadis, fiqih, dan sastra Arab, yang dilanjutkan dengan studi di pusat-pusat keilmuan Afrika Utara, seperti Fez dan Granada.

    Dalam “Muqaddimah,” Ibnu Khaldun memperkenalkan konsep asabiyyah (solidaritas sosial) sebagai faktor kunci dalam kebangkitan dan kejatuhan peradaban. Ia juga membahas peran ekonomi dalam perkembangan masyarakat, menyatakan bahwa kekayaan dan kemakmuran ekonomi adalah fondasi bagi stabilitas politik dan kemajuan peradaban. Teorinya tentang siklus dinasti dan kritik terhadap penulisan sejarah yang subjektif menjadikannya salah satu pendiri ilmu sejarah kritis modern.

    Ibnu Khaldun meninggal pada 17 Maret 1406 di Kairo, Mesir, namun warisannya terus hidup hingga hari ini. Karyanya, terutama “Muqaddimah,” telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dipelajari di berbagai disiplin ilmu, termasuk sosiologi, sejarah, ekonomi, dan ilmu politik. Pemikirannya yang revolusioner dan metodologinya yang kritis membuatnya dianggap sebagai bapak sosiologi dan historiografi modern. (AI Sorban)

    @beritasorban Tahukah kalian tentang Ibnu Khaldun? Beliau adalah pemikir terkemuka abad ke-14 yang dikenal luas karena karyanya, "Muqaddimah." Ibnu Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunisia dalam keluarga berpengaruh. Melalui "Muqaddimah," ia memperkenalkan konsep asabiyyah atau solidaritas sosial sebagai kunci kebangkitan dan kejatuhan peradaban. #IbnuKhaldun #Muqaddimah #SejarahSosial #Asabiyyah #PemikirIslam #fyp ♬ suara asli Sorban Santri
  • Fenomena Kesederhanaan KH Marzuqi Dahlan: Kisah Satu Baju

    Fenomena Kesederhanaan KH Marzuqi Dahlan: Kisah Satu Baju

    Kisah VIDEO

    wp.sorbansantri.com – Kisah kesederhanaan seorang ulama besar, KH Marzuqi Dahlan, menggambarkan betapa dalamnya arti zuhud dalam kehidupan seorang pemimpin agama. Suatu hari, KH Mahrus Aly mengajak Abdul Halim Zainuddin untuk menghadiri sebuah acara dan mampir ke rumah KH Marzuqi Dahlan untuk mengajaknya bersama.

    Sesampainya di rumah KH Marzuqi, Abdul Halim menyampaikan maksud kedatangannya. KH Marzuqi yang saat itu hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada, terkejut karena lupa tentang acara tersebut. Tanpa ragu, beliau mengambil baju dari bak cucian yang belum sempat dicuci dan mengenakannya kembali dengan tenang.

    Ternyata, KH Marzuqi hanya memiliki satu baju. Ketika baju itu dicuci, otomatis beliau tidak mengenakan baju. Kesederhanaan ini menggambarkan bagaimana hal-hal duniawi begitu sederhana di mata beliau. Sambil tersenyum, beliau berkata, “Alhamdulillah, bajunya belum sempat dicuci.”

    Setelah menghadiri acara dan mengantarkan kembali KH Marzuqi ke rumahnya, Abdul Halim menceritakan kejadian tersebut kepada KH Mahrus Aly. Mendengar cerita tersebut, KH Mahrus Aly terharu dan tidak kuasa menahan tangis, merasa iba dan prihatin melihat pilihan hidup yang dijalani KH Marzuqi.

    KH Mahrus Aly kemudian menegur pengurus pondok agar lebih memperhatikan kondisi KH Marzuqi. Para pengurus baru menyadari bahwa KH Marzuqi sering hanya mengenakan kaos oblong compang-camping atau bertelanjang dada bukan karena gerah, tetapi karena satu-satunya baju beliau sedang dicuci.

    Kisah ini menggambarkan betapa sederhana dan tidak ribetnya kehidupan seorang ulama besar seperti KH Marzuqi Dahlan. Hal ini sejalan dengan nasihat KH Ihsan Jampes dalam kitab Manahijul Imdad: “Jika engkau ingin melihat keridhaan Allah kepadamu, maka lihatlah bagaimana ridha orang-orang fakir terhadapmu.”

    Kesederhanaan dan zuhud KH Marzuqi Dahlan menjadi teladan bagi kita semua, bahwa kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan sejati bukanlah dari harta benda, melainkan dari keikhlasan dan kesederhanaan dalam menjalani hidup. *Kisah Ulama Dan Sejarah Nusantara

    Wallahu A’lam.

    @beritasorban Suatu hari, KH Mahrus Aly mengajak Abdul Halim Zainuddin untuk menghadiri sebuah acara dan mengajak KH Marzuqi Dahlan yang juga diundang. Sesampainya di rumah KH Marzuqi, Abdul Halim menyampaikan maksud kedatangannya #Kesederhanaan #KHMarzuqiDahlan #InspirasiSantri #PondokPesantrenLirboyo #fyppppppppppppppppppppppp ♬ suara asli Sorban Santri