Tag: ansor

  • Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Lagi-lagi terjadi di Indonesia. Hak beribadah dijadikan musyawarah. Musyawarahnya pun musyawarah tanpa peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sama sekali tidak ada perwakilan dari gereja, lembaga Kristen, Bimas Kristen atau setidaknya dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Lalu setelah itu pihak desa sok bijak meminta Sumarmi memenuhi persyaratan SKB dua menteri sebelum melakukan pembangunan rumah ibadah. Sementara sebelumnya, renovasi rumah Sumarmi tiba-tiba jadi polemik setelah berhembus kabar bahwa kediaman Sumarmi akan dijadikan gereja gara-gara bentuk renovasi rumahnya menyerupai gereja lengkap dengan glassblock salib di eksterior depan bagian atas. Sumarmipun sudah mengalah menghilangkan glassblock itu sehingga tidak ada salib.

    Melihat kelakuan mereka yang seperti ini, mungkinkah ijin mendirikan gereja di rumah Sumarmi didapatkan? Sementara melihat salib doang berupa glassblock, mereka sudah ketakutan kejang-kejang begitu. Trus gaya-gaya mau mengijinkan sebuah gereja berdiri di sana? Ngga mungkin banget khan.
    Yang menyakitkan adalah saat kegiatan ibadah dan doa bersama umat Kristen dianggap sebagai kegiatan yang meresahkan warga. Sekarang mari kita bayangkan jika ada warga minoritas mengatakan ibadah dan doa bersama umat mayoritas adalah kegiatan yang meresahkan warga. Pasal penistaan pasti langsung bicara. Dari kasus inilah saya menumpahkan semua isi hati saya dalam artikel ini. Sejahat itukah kalian memperlakukan orang lain, sementara diri kalian sendiri tak suka diperlakukan seperti itu? Lalu kepada siapakah kami warga minoritas bisa mengadu tentang ketidakadilan seperti ini selain kepada Tuhan?
    Mengadu pada Presiden Jokowi sudah sering kami lakukan lewat banyak tulisan. Tapi tampaknya Jokowi terlalu sibuk dengan pembangunan berderet-deret infrastruktur yang ada. Mengadu pada Menteri Agama “Islam” RI juga sama saja. Inilah yang dinamakan salah mengadu.
    Dari sinilah saya langsung teringat pada teman-teman NU dan Banser yang selama ini sangat baik pada kami umat minoritas. Saya terkenang pada Banser Riyanto dari Mojokerto. Atas dasar inilah saya memberanikan diri minta tolong “lagi” pada teman-teman NU dan Banser Mojokerto untuk membantu menyelesaikan masalah intoleransi di sana. Semoga kali ini saya tidak salah mengadu. Amin. Terpujilah Tuhan.
    (Berikut adalah berita yang redaksi peroleh dari Group FB yang bersumber dari seword)
    (ABI SORBAN)
  • SUKSESNYA RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO

    SUKSESNYA RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rancangan Kerja suatu organisasi adalah agenda penting dalam melihat jalan dan tidaknya suatu organisasi. Dan alhamdulillah PAC GP Ansor Kecamatan Pacet sudah banyak melakukan kegiatan bahkan menjadikannya sebagai rutinitas seperti Pembacaan Manaqib dan Majlis Sholawat dan Dzikir. Meskipun masih ada juga yang belum terlaksana akibat padatnya jadwal kegiatan diluar rancangan apalagi adanya wabah covid-19 ini.

    [su_youtube url=”https://youtu.be/M2E1d1qFzls”]

    Dan yang patut dibanggakan dalam masa kepemimpinan sahabat Mujibur Rohman adalah masih optimis bisa melaksanakan agenda-agenda kegiatan yang belum tercover selama 3 bulan kedepan. Kita butuh kekompakan.. kita butuh semangat… keberanian, fokus dan cerdik apalagi saat ini dimasa musim pandemi, Kata Mujibur Rohman selaku Ketua PAC GP Ansor Pacet Mojokerto.

    Untuk mensukseskan agenda tersebut maka, disela rapat diadakannya pembagian 3 komisi dengan harapan bisa fokus untuk masing-masing rencana kegiatan yaitu Komisi A (keansoran), B (kebanseran) dan C (rijalul ansor). dan Alhamdulillah tiap-tiap komisi dapat melaksanakan rencana kerjanya dengan cepat, untuk kegiatan 3 bulan kedepan.

    Dalam kegiatan RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO, yang diadakan pada Hari Sabtu, 28 September 2020, dimulai pukul 15.00 wib, dan bertempat di Balai Desa Cepokolimo, yang kebetulan Kepala Desa Cepokolimo adalah anggota PAC GP Ansor Kec. Pacet juga yakni Sahabat Mahfudz Sulaiman. Mudah-mudahan sahabat-sahabat Ansor Banser nanti bisa menjadi Kepala Desa di Desanya masing-masing seperti Sahabat Mahfudz Sulaiman, Kata Sekretaris Umum PC GP Ansor Kab. Mojokerto sahabat Mokh Yunus.

    SORBANSANTRI.COM

    Alhamdulillah acara RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO ini Sukses dan dilaksanakan dengan Lancar. Dan dihadiri oleh ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto, Gus Ali Muhammad Nasih dan Hampir semua anggota Ansor, Banser dan Rijalul Ansor menghadiri kegiatan tersebut. (abi SORBAN)

  • Cegah DBD, Ansor Sei Beduk Lakukan Foging

    Cegah DBD, Ansor Sei Beduk Lakukan Foging

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Puluhan anggota barisan Ansor serbaguna ( Banser) Sei Beduk, Minggu ( 20/09/2020) melakukan penyemprotan/fogging di kelurahan Tanjung Piayu. Penyemprotan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).

    Muhammad Fajri selaku Ketua Pimpinan Anak Cabang Ansor Sei Beduk mengatakan bahwa DBD merupakan salah satu jenis penyakit yang kerap terjadi dikala musim hujan seperti. Untuk itu mengantisipasi penyebaran DBD maka diadakan fogging.

    “Gerakan Pemuda Beserta kader-kader Banser Kecamatan Sei Beduk dan Ranting telah menyatakan waspada DBD pada bulan September sampai akhir tahun 2020 nanti.” Kata Fajri.

    Fajri juga menambahkan bahwa pelaksanaan Foging ini menyasar ke titik yang dinilai rawan penyebaran DBD. “Hari ini ada tiga titik yang menjadi konsentrasi kami. Pertama di RW 13 Perumahan kav. Pancur. Kedua di kavling pancur dan terahir di perumahan bukit lestari. Ada 9 RT di sana.” Ujar pria pencinta shalawat ini.

    Sementara itu, Nur Wahidin ketua RW 01 Tanjung Piayu yang ikut dalam kegiatan fogging mengatakan sangat berterimakasih kepada teman-teman Banser yang telah melakukan penyemprotan di wilayahnya.

    “Saya selalu Ketua RW 01 mengucapkan terimakasih, kawan-kawan Banser atas sudah melakukan pencegahan dini di lingkungan kami. semangatnya sungguh luar biasa. Saya juga meminta kepada warga RW 01 untuk selalu menerapkan hidup sehat.” Ucap pria yang biasa disapa pak nur ini.

    Ditemui di tempat terpisah, ustadz Aziz Elmuna penasehat Gerakan Pemuda Ansor Sei Beduk mengatakan pentingnya juga menerapkan pola 3 M dalam kehidupan sehari-hari. “3 M itu yakni menguras, menutup dan mendaur ulang.” Ujar ustadz Aziz.(m. Fajri Sei Beduk)

  • Mbah Hasan Genggong Kyai Spiritual Berdirinya NU

    Mbah Hasan Genggong Kyai Spiritual Berdirinya NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Dulu, dalam suatu majelis, Habib Ali Kwitang pernah berjumpa dengan Kyai Moh. Hasan Genggong. Sejenak Habib Ali Kwitang tertegun.
    Lalu dipeluknya Kyai Hasan sepuh dengan penuh keharuan. Air mata mengaliri pipi Habib Ali Kwitang. Saat itu ada seorang yang menemani Habib Ali Kwitang dan bertanya :
    “Bib, siapakah orang tua yang sangat sepuh ini yang engkau peluk tubuhnya..?” tanya lelaki itu.
    Sambil menyeka air mata, Habib Ali Kwitang berkata : “Ketahuilah anakku, aku sering bermimpi berjumpa dengan Rasulullah. Dan aku sering mendapati orang sepuh ini ikut mengiringi Rasulullah sambil memegangi tangan Rasulullah…” jawab Habib Ali sambil menunjuk kepada Kyai Hasan Genggong.
    Beliau Kiai Hasan Genggong adalah Seorang Sholihin Beliau Pendiri Pesantren Genggong Daerah Kraksan Probolinggo…
    Jika Kiai Hasan akan kedatangan tamu dari ahlul bait (keturunan Rasulullah), beliau langsung keluar sambil berlari dan berkata “ada rahatul Mustofa/wangi Nabi Muhammad”. Padahal cucu Rasul tadi masih belum sampai ke tempat Kiai Hasan.
    Di antara keramat Kiai Hasan Genggong adalah cerita datangnya seorang tamu yang menyewa sebuah mobil dengan seorang sopir habib. Cuma, ceritanya, tamu yang menyewa itu tidak mengetahui kalau supir tersebut adalah seorang habib.
    Kiai Hasan berkata kepada anak-anaknya, “Ayo rapikan kamar, kita mau kedatangan habib”.
    Setelah orang itu datang ke rumah Kiai Hasan, beliau bertanya, “mana sopirmu?”
    “Sopir saya tidur, Kiai,”
    “Di mana tidurnya?”
    “Di mobil, Kiai?”
    “Saya mau dekati sopir itu boleh minta izin?”
    Setelah mendapatkan izin, Kiai Hasan Genggong mendekati mobil sang tamu.
    “Habib, bangun bib!” Pinta Kiai Hasan.
    Sang sopir itu jelas kaget karena selama ini tidak ada yang memanggilnya habib.
    Bila Kiai Hasan ditanya oleh orang lain tentang bagaimana cara mengetahui kalau sopir itu adalah habib, beliau selalu menjawab begini, “Saya tahu karena bau keringatnya adalah bau keringat Kanjeng Nabi Muhammad Saw.”.
    Subhanallah…
    Beliau Kiai Hasan Genggong juga memiliki taalluq batin dengan Habib Ali bin Muhammad alHabsyi sohibul maulid.
    Diceritakan ketika zaman Alhabib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi Seiwun (Pengarang Maulid Simthud Durar). Ada seorang Auliya Allah bernama Al habib Abdul Qadir bin Quthban Assegaf. Habib Abdul Qadir bin Quthban adalah seorang ‘alim yang sangat gemar bersilaturrahim kepada para ‘alim ulama’ para waliyullah yang masih hidup di zaman tersebut. Kegemaran Beliau bersilaturrahim bukan hanya terbatas di wilayah Hadramaut Yaman saja. Tapi juga sampai ke pulau Jawa Indonesia.
    Bahkan juga sampai ke kediaman Hadratussyaikh KH. Mohammad Hasan Sepuh Genggong Probolinggo. Ketika tiba dikediaman Kiai Hasan Sepuh Genggong, Habib Abdul Qadir disambut dengan ramah. Beliau berdua pun berbincang bincang. Tentunya dengan bahasa arab.
    Sampai pada akhirnya kiai Hasan sepuh bertanya, yang kalau diterjemahkan:
    “Habib, bagaimana kabarnya Habib Ali Habsyi Seiwun (pengarang Simtudhurar)??”.
    Ditanya seperti itu, Habib Abdul Qadir terkejut dan terheran-heran. Bagaimana bisa Kiai Hasan Sepuh Genggong mengenali Habib Ali Habsyi Seiwun. Sedangkan Kiai Hasan secara dzahir tidak pernah ke Hadramaut Yaman, dan Habib Ali Habsyi Seiwun juga tidak pernah ke Indonesia.
    Seolah mengetahui apa yang ada di hati Habib Abdul Qadir, Kiai Hasan kembali berkata, “Habib Ali Al Habsyi Seiwun itu kulitnya seperti ini … (menyebutkan), wajahnya begini… (menyebutkan), kalau duduk seperti ini… (disebutkan), jalannya seperti ini… (disebutkan), di kediaman Habib Ali rumahnya seperti ini… (menyebutkan), di depannya ada masjid bernama Masjid Riyadh dan tiangnya ada… (menyebutkan)”.
    Dan bertambah kagumlah Habib Abdul Qadir bin Quthban. Takjub oleh Kiai Hasan Sepuh Genggong yang menyebutkan secara detail seolah-olah beliau sangat akrab dengan Habib Ali Al-Habsyi dan mengetahui keadaan rumahnya di kota Seiwun Hadramaut Yaman. Padahal Kiai Hasan tidak pernah sampai ke sana. Lalu setelah cukup berbincang-bincang, tak lama kemudian, Habib Abdul Qadir bin Quthban pun berpamitan pulang.
    Ketika sekembalinya dari tanah Jawa ke Yaman. Habib Abdul Qadir bin Quthban mengunjungi kota Seiwun, untuk bertemu dengan Al Imam Al ‘Arifbillah Al Habib Ali Al Habsyi Seiwun. Ketika sudah sampai di kediaman Habib Ali Habsyi dan berhadapan dengan beliau, di tengah-tengah perbincangan, Habib Ali Al Habsyi bertanya : “Wahai Sayyid Abdul Qadir, apakah di Jawa engkau bertemu dengan seorang syekh bernama Hasan Jawi (Jawa maksudnya)”.
    Habib Abdul Qadir teringat pertemuannya dengan Kiai Hasan Sepuh Genggong. Beliau mengangguk meng-iyakan. Lalu Habib Ali Al Habsyi berkata : “Syekh Hasan itu kulitnya seperti ini… (menyebutkan), wajahnya seperti ini… (menyebutkan), duduknya begini… (mencontohkan), jalannya seperti ini… (menceritakan), dan di rumahnya begini… (menjelaskan)”.
    Hingga Habib Abdul Qadir takjub dengan detailnya penjelasan beliau, padahal beliau tidak pernah ke indonesia.
    Saat proses awal pendirian NU, Kiai Hasan Genggong juga diminta pendapat dan nasihat oleh almarhum Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, KH As’ad Syamsul Arifn dan para pendiri NU lain atas rekomendasi dari Syaikhuna Kholil Bangkalan dan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari
    Kiai Hasan Genggong pernah menyatakan bahwa berjuang ikhlas di NU akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Insyaallah…
    “من اعان نهضةالعلماء، فقد سعد فى الدنيا والأخرة”
    “Barang siapa yang menolong (berjuang ikhlas) NU, Maka hidup beruntung di dunia dan di akhirat.”
  • BERSAMA BABINSA, SATKORYON BANSER KEC. GEDEG MOJOKERTO MENGAWAL LAILATUL IJTIMA’ DI MASJID NUR AL ALIM SIDOHARJO

    BERSAMA BABINSA, SATKORYON BANSER KEC. GEDEG MOJOKERTO MENGAWAL LAILATUL IJTIMA’ DI MASJID NUR AL ALIM SIDOHARJO

    SORBANSANTRI.COM
    Kegiatan Lilatul Ijtima’ dan Satkoryon Banser Kec. Gedeg Mojokerto

    SORBAN SANTRI- Jum’at, 18 September 2020, MWCNU Kec. Gedeg Mojokerto melakukan giat rutin malam lailatul ijtima’ yang sudah dilaksanakan setiap bulan sekali dengan pelaksanaan berpindah-pindah lokasi yang biasanya selalu diadakan di masjid-masjid. Dan kegiatan saat ini bertempat di Masjid Nur Al Alim Dusun Simpang Desa Sidoharjo Kec.Gedeg.

    Kegiatan tersebut dimulai dari pukul 18.00 wib – selesai yang diikuti oleh 14 Ranting dalam 1 MWCNU Kec. Gedeg Mojokerto. puluhan jama’ah warga NU se-Kecamatan Gedeg Mojokerto. Dengan harapan agar lingkungan sekitar kota mojokerto utara brantas selalu kondusiif dan alhamdulillah BABINSA turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    Kasatkoryon banser Kecamatan Gedeg Mojokerto sahabat Bin Afwan

    Kasatkoryon banser kecamatan gedeg mojokerto sahabat Bin Afwan melakukan koordinasi yang sangat bagus dengan Ketua PAC GP Ansor Kec. Gedeg Mojokerto mengenai pengawalan dan pengamanan kegiatan Lailatul Ijtima’ tersebut apalagi dengan adanya peristiwa-peristiwa penusukan terhadap Syeikh Ali Jubair baru-baru ini.

    Dalam pelaksanaan Pengawalan dan Pengamanan, semua Barisan Ansor Serbaguna ( BANSER ) mengenakan atribut lengkap ( PDL ) dan memakai masker sebagai bentuk kewajiban yang saat ini lagi marak pandemi covid-19 di Negara Indonesia ini.

    Mudah mudahan sahabat banser selalu diberikan kesehatan, kelapangan waktu dan rejeki yang barokah agar tetap semangat dalam menjalankan tugas sebagai pengawal Aqidah Annahdliyah.. Aamiin Ya Robbal’alamiin. (Azik Abdul Ghoni SORBAN).

  • TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Kalimat ini pastilah sangat familier bagi Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan para pecintanya. Digaungkan membahana menebar semangat yang luar biasa.

    Namun, belum banyak yang tahu bahwa penggalan kalimat ini bukanlah kalimat biasa. Namun, kalimat penuh karomah yang pernah diucapkan oleh perempuan mulia pada zaman Rosulullah SAW.

    Beliaulah sahabiyah mulia Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. Beliau inilah yang berhasil melobi duta Islam Sayyidina Mus’ab Bin Umair RA supaya bisa langsung bersyahadat di hadapan Rosulullah SAW.

    Maka masuklah beliau dalam rombongan Bai’at Aqobah Kedua dan masuk jajaran assabuqunal awwalun dari kalangan Anshor. Tentu saja hal ini merupakan kejadian langka pada zamannya. Peristiwa luar biasa ini sampai diabadikan Gusti Allah dalam firmannya di QS Al Mumtahanah:12.

    Bunda Nusaibah inilah yang termasuk turut mengkondisikan Madinah sehingga menjadi tempat ternyaman untuk dakwah Rosulullah, sebab penduduknya sudah banyak yang menerima ajaran Islam.

    Beliau pulalah yang tampil luar biasa dengan memberikan “bonus” bagi perempuan yang berkenan masuk Islam akan diajarkan baca tulis. Dari jasa beliau inilah kelak di kemudian hari lahir generasi-generasi jenius dari ibu-ibu yang jenius. Yang mendakwahkan Islam hingga seluruh penjuru dunia.

    Dikisahkan, suatu pagi buta, ketika penduduk Madinah masih terlelap, beliau melihat kepulan debu dari kejauhan. Ini bukan pertanda baik. Ini merupakan pertanda ada musuh dengan pasukan berkuda dalam jumlah besar hendak menyerang Madinah.

    Perempuan agung ini segera masuk rumah. Membangunkan suami tercintanya. Sayyidina Sa’id Bin ‘Ashim RA. Beliau mengambil pedang dan memberikan kepada suaminya. Meminta supaya segera memberitahu Rosulullah.

    “Jangan kembali pulang sampai kita menang…!!!”. Itulah kalimat yang beliau ucapkan kepada sang suami. Sayyidina Said melapor kepada Rosulullah.

    Kaum Muslimin segera menggalang kekuatan. Menghadang penyerang di luar kota Madinah, di sekitar Bukit Uhud. Adapun Bunda Nusaibah tidak mau ketinggalan. Beliau segera menyiapkan perbekalan dan obat-obatan bagi para pejuang.

    Tibalah perang berkecamuk. Ketika pasukan Muslimin lengah, mengira bahwa musuh telah kalah, maka pasukan pemanah yang ada di bukit turun.

    Kesempatan ini dipakai oleh pasukan kafir menyerang kembali barisan kaum Muslimin. Lalu kocar-kacirlah barisan ini. Orang-orang bubar dari sekitar Rosulullah.

    Bunda Nusaibah meminta suaminya melindungi Rosulullah. Karena semua energi musuh ditujukan untuk menghabisi Kanjeng Nabi, maka jebollah pertahanan Sayyidina Sa’id. Beberapa kali tebasan pedang musuh mengakhiri pertahannya. Menuntaskan tugas mulia sebagai talangpati Rosulullah.

    Dan yang terjadi bisa ditebak. Pasukan kafir semakin merangsek ke arah Kanjeng Nabi. Beliau hanya menangkisi serangan dari berbagai penjuru hingga pelipis beliau terserempet anak panah.

    Melihat kejadian ini membuat Bunda Nusaibah segera bertindak. Beliau mengambil pedang dan menaiki kuda seraya memecah kepungan.

    Membabat puluhan tentara yang hendak melukai Rosulullah. Para Sahabat melihat kejadian ini terpesona luar biasa. Menyaksikan seorang perempuan menjadi perisai Rosulullah SAW.

    Lalu Para Sahabat Mulia merapatkan barisan dan berhasil memukul mundur Barisan Kafir. Kejadian ini membuat Bunda Nusaibah mendapatkan luka yang sangat parah sehingga jatuh pingsan. Beliau tidak sempat melihat akhir perang Uhud ini.

    Ketika bangun, beliau tidak bertanya tentang suami dan anaknya yang turut menjemput janji syahidnya. Yang beliau tanyakan adalah, “Bagaimana keadaan Rosulullah?”

    Ketika dijawab bahwa Baginda dalam kondisi tak kurang suatu apapun, beliau tersenyum bahagia, “Asalkan Baginda Rosul baik-baik saja, apapun yang terjadi maka biarlah terjadi”.

    Semoga cerita ini menjadi teladan bagi Ansor dan para pecintanya. Kepada perempuan NU terutama.

    Jadi, semangatlah selalu. Dan ketika Mars Banser dikumandangkan, turutlah bersemangat. Ngalap berkah Bunda tercinta kita Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. (Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad…). (abi sorban)

    Sumber : Aby Fidzi

  • HIDUPKAN AGAMA, JANGAN MALAH CARI HIDUP DARI AGAMA. Sertifikasi Da’i, Aku Sih Yes.

    HIDUPKAN AGAMA, JANGAN MALAH CARI HIDUP DARI AGAMA. Sertifikasi Da’i, Aku Sih Yes.

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Saya tidak ingat betul, Tapi kira-kira seperti itulah, kalimat terahir ketika mengikuti lomba pidato di sekolah saya beberapa puluh tahun yang lalu. Itupun kalimat tersebut saya kutip dari da’i kondang Zainuddin MZ.
    Jadilah ketika saya mengatakan, ” ” Hidupkan agama, jangan malah cari hidup dari agama,” Itu persis mencontohkan gayanya Zainuddin MZ yang sedang memberikan tausiyah kepada jamaah.

    Ceritanya waktu itu, sehari sebelum mengikuti lomba pidato saya masih kelabakan mencari judul yang pas. Akhirnya atas usulan teman, saya diberikan kaset bajakan yang isinya ceramah Zainudin MZ. Setelah dengan susah payah mendengarkan seluruh isi ceramah dai kondang tersebut, saya kemudian lantas dengan seketika jatuh cinta dengan gaya penyampaian yang iya bawakan.

    Jika hari ini misalnya kembali akan diadakan lomba pidato antar alumni SD, tentu saya akan menolak untuk berpartisipasi lagi. Ya bukan apa-apa takutnya nanti model ceramah saya tidak sesuai dengan selera keinginan masyarakat. Itu bisa dimaklumi karena memang hari model ceramah-ceramah agama bukan main banyaknya. Ada yang sambil membentak-bentak, kemudian setelah itu, meneriakan kalimat takbir. Ada yang dengan santun. Ya, pokoknya macam-macam.

    Selain itu juga, isi pesan dari penceramah kita hari ini kan juga beragam. Ada yang mengajak untuk poligami saja, ada banyak. Bahkan pernah berseliweran digrup-grup WhatsApp cara cepat memperoleh istri empat. Ada yang senangnya membahas soal kafir, itu juga banyak. Bahkan masih ada para penceramah yang sering mengaitkan isi ceramah dengan kebangkitan PKI.

    Inilah problem kita hari ini. Da’i atau penceramah sering kali menyampaikan hal-hal yang membuat masyarakat kebingungan. Bisa jadi dikarenakan ketidaktahuannya akan suatu persoalan atau memang sebuah setingan untuk menaikkan pamor dari da’i tersebut. Jangan dikira setingan itu hanya kehidupan artis saja.

    Pernah dalam satu tayangan live di salah satu stasiun televisi swasta, seorang da’i menyampaikan kalimat yang penuh kontroversial. Bahkan menurut saya ini keterlaluan tak pantas diucapkan seorang penceramah apalagi ini live disaksikan oleh jutaan orang di seluruh Indonesia.

    ” Salah satu kenikmatan yang ada di dalam surga adalah pesta seks. Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia. Dan kenikmatan terbesar yang diberikan oleh Allah SWT di surga adalah pesta seks.”

    Meski akhirnya sang dai meminta maaf atas kekeliruannya tapi video kontroversi tersebut telah beredar dan terus saja menjadi konsumsi publik. Begitu juga dengan para pemirsa yang terlanjur telah mendengar kalimat tersebut. Akan terus tertanam dibenaknya tentang pembenaran si da’i tersebut.

    Ada banyak lagi contoh kasus di mana sang dai lewat isi ceramah-ceramahnya menuai kontroversi di masyarakat luas. Salah satu yang cukup menyedot perhatian dan energi ialah kontroversi ialah ucapan ustadz Evi Afandi yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah sesat. Dan anda pasti bisa menebak dengan benar apa yang dilakukan ustadz tersebut. “Minta maaf.”

    Jika mau diulas satu demi satu maka tulisan ini akan penuh dengan berbagai macam kontroversi yang ditimbulkan oleh para dai. Hal semestinya tidak harus sampai terjadi jika memang para dai itu punya standar yang jelas, kompetensi ia miliki sudah tidak diragukan lagi. Dan tidak perlu lagi membuat klarifikasi permintaan maaf atas kekeliruannya dalam menyampaikan tauziah. Saya sudah sangat muak dengan pengulangan-pengulangan itu.

    Itulah kenapa ketika Kemenag ingin mensertifikasi para da’i, saya pun dengan seketika menyatakan setuju. Layaknya seperti mas Anang Hermansyah dalam program pencarian bakat ketika ditanya oleh pembawa acara dengan spontan ia menjawab. “ Aku sih yes”

    Setidaknya dengan adanya sertifikasi da’i akan mengurangi potensi-potensi ceramah agama yang dapat menimbulkan kontroversi ditengah masyarakat. Karena dengan sertifikasi akan ketahuan mana yang benar-benar ulama mana yang mengaku-ngaku sebagai ulama.

    Selama ini batasan itu belum jelas, siapa saja yang berhak memberi tausiyah. Apa kompetisinya, bagaimana penguasanya terhadap suatu persoalan dan masih banyak lagi syarat harus dimiliki. Barulah kemudian ia diberi mikrofon.

    Bayangkan saja hampir setiap hari kita itu selalu bersinggungan dengan para da’i atau mendengarkan ceramah. Mulai dari tayangan di televisi, ribuan konten ceramah di berbagai platform media sosial yang begitu mudah di share. Belum lagi kegiatan-kegiatan seremonial kita selalu menghadirkan para da’i. Mulai dari perkawinan sampai peresmian kantor bahkan sekarang ditempat kerja pun ada semacam kajian yang harus diikuti oleh setiap karyawan.

    Sertifikasi da’i sebenarnya juga menguntungkan para da’i itu sendiri. Minimal sang da’i tersebut akan bebas berceramah di mana saja selama masih di wilayah Indonesia, tanpa takut akan terjadinya persekusi.

    Kekhawatiran dengan adanya sertifikasi da’i akan menjadi kontrol bagi penguasa sebenarnya adalah hal yang tak perlu terlalu dirisaukan. Layaknya seperti jargon yang sering kita dengar, “Kalo bersih kenapa harus risih”.

    Dokter saja ketika ingin membuka praktek harus mengantongi surat izin dari pemerintah, begitu juga dengan pelatih sepakbola jika ingin melatih klub sepakbola haruslah mempunyai lisensi atau sertifikat baru kemudian bisa melatih. Itu Artinya menandakan bahwa pentingnya sebuah keahlian, nah untuk membuktikan kita ahli dalam bidang tertentu ya mestilah diuji dahulu.

    begitu pula profesi da’i memang benar-benar harus diisi oleh orang yang mumpuni, yang mengerti dengan agama. Hingga yang keluar dari tenggorokannya ajakan untuk selalu menebar kebaikan, berdakwah dengan carxa merangkul bukan memukul. Mengajak bukan membentak. (m.arfah ansor batam)

  • MAJLIS DZIKIR DAN SHOLAWAT RIJALUL ANSOR TAMANSARI

    MAJLIS DZIKIR DAN SHOLAWAT RIJALUL ANSOR TAMANSARI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Jumpa kembali di Rutinan Malam Selasa Wage “Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor” Pimpinan Ranting GP. Ansor Desa Tamansari – Karanglewas. Merupakan acara yang di nanti – nanti para pemuda pemudi pecinta Dzikir dan Sholawat di Desa Tamansari.

    Senin (14/09/2020) tadi malam di cuaca langit yang gelap namun bukan mendung,dengan dihiasi cahaya – cahaya bintang yang gemerlap,menjadikan semangat para jama’ah untuk hadir di Majelis yang Insya Alloh penuh akan Barokah. Dibawah langit yang indah para jama’ah dengan khusu’ menundukan kepala dan mengangkat kedua tangan untuk bermunajat,mengharapkan Bumi tercinta Indonesia kembali Normal seperti dahulu kala.

    Lantunan sholawat dengan semangat dialunkan para jama’ah dengan kompak,sampai akhir acara yang di tutup dengan do’a Maulid Simthuduror acara berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.

    Kebersamaan tetap terjalin sampai titik penghabisan Nasi yang kita bikin Lengseran atau makan bersama dengan memakai nampan / tampah dan dimakan bareng – bareng dengan 4/5 orang dalam 1 wadah.

    Semoga acara Rutinan ini tetap Istiqomah sebagai salah satu Syi’ar menjaga amaliyah Ahlussunah Wal Jama’ah Annahdliyah..Amiin.(SORBAN TAMANSARI)

    #RijalulAnsor
    #AnsorBanser
    #BanserBanyumas
    #Aswaja
    #IpnuIppnu
    #Sholawat

  • Muhammad Fajri Kembali Pimpin Ansor Sei Beduk

    Muhammad Fajri Kembali Pimpin Ansor Sei Beduk

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sei Beduk kembali mengamanahkan Tapuk pimpinan kepada sahabat Muhamad Fajri

    Konferancab yang mengambil tema Mengamalkan Aswaja NU dan Menjaga NKRI Harga Mati, dibuka oleh Rahmad Budi Harto, S.E M.Si ketua Pimpinan Wilayah gerakan pemuda Ansor provinsi Kepri, Minggu ( 13/09/2020).

    Dalam sambutannya Rahmad mengajak kepada seluruh kader-kader Ansor Banser untuk tetap aktif dan eksis serta selalu menjaga silaturahmi. ” Tetap mengedepankan silaturahmi jaga kekompakan”.

    Rahmad juga menambahkan bahwa Ansor Banser harus tetap satu komando, tidak boleh melangkah sendiri-sendiri tanpa komando. Ia juga berharap Konferancab Sei Beduk ini menghasilkan pemimpin yang amanah dapat bekerja dan membesarkan Ansor Banser di Sei Beduk.

    “Iya, harapanya siapapun yang terpilih menjadi ketua untuk tetap mengedepankan etika dan silaturahmi. Rangkul semua stackholder dan kibarkan bendera Ansor Banser di Sei Beduk setinggi-tingginya.”

    Sementara itu ketua terpilih Ansor Sei Beduk Masa Khidmat 2020-2022, Muhammad Fajri mengatakan Konferancab ini harus dijadikan sebagai media untuk konsolidasi organisasi, bukan ajang untuk saling menjatuhkan. Dengan memperbanyak silaturahmi akan menumbuhkan semangat kekeluargaan.

    “KonferAncab ini harus dijadikan sebagai media untuk konsolidasi organisasi dan terus memperkuat jati diri dan akar historisnya sebagai gerakan moral kemasyarakatan yang lahir dan dibesarkan oleh Nahdalatul Ulama.” Kata Fajri.

    Untuk diketahui, Konferancab PAC Ansor Sei Beduk dilaksanakan di Mako Banser Sei Beduk, kelurahan mangsang. Selain dihadiri oleh Ketua PW Ansor Kepri terlihat juga jajaran Pengurus Cabang Ansor Batam. Selama Konferancab berlangsung, panitia menghimbau untuk tetap mengikuti protokol kesehatan dan menggunakan masker.(SORBAN Sei Beduk)

  • TOLERANSI BANSER, INSPIRASI DUNIA

    TOLERANSI BANSER, INSPIRASI DUNIA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Pasca Insiden tak manusiawi di New zealand. Saat ini Banyak Umat kristen dll, berlomba-lomba menciptakan rasa aman dalam bernegara dengan melindungi Umat Islam yg tengah beribadah dalam masjid. Seakan-akan Mereka ikut merasakan kesedihan dan kegelisahan yg merundung hati orang² muslim mereka bukan saja menyadari bahwa umat islam dinegara_nya adalah komunitas kecil [kelompok Minoritas] yg harus dilindungi. Mereka turun kelapangan [Masjid] memasang dada utk melindungi saudara_nya setanah air.
    Dan hal ini,Sikap solidaritas yg mereka tunjukan adalah sikap terpuji didalam Islam meski dilakukan oleh Saudara kita yg Non muslim apalagi kalau sikap toleransi dalam beragama diatas dilakukan oleh agama islam yg makna sebetul nya dari islam adalah selamat, pasrah, damai.
    Agama Perdamaian di indonesia,sudah jamak kita lihat seringkali dilakukan juga oleh Barisan Anshor serba guna [Banser NU].
    ﺩﺭﺀ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ
    ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ .
    Mencegah kerusakan lebih diutamakan dibandingkan dengan mendatangkan suatu kebaikan. Senada dengan Pribahasa yg sering kita dengarkan : Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bom Bunuh diri bukanlah Jihad, bukan juga mati syahid,Hal ini sudah final dalam pembahasan fiqih bahwa hal itu bukan SYAHID. tidak ada Agama yg mengajarkan Umatnya melakukan kekerasan Namun siapa kira..??? Ternyata ada kelompok yg faham_nya salah,kebablasen dalam beragama,tidak mau belajar kepada Ulama/Kyai yg tidak diragukan sanad keilmuannya Menganggap bahwa tindakan kriminal tersebut disangka perbuatan yg diridhoi oleh Allah.
    Ironis_nya, mereka meneriakan Kalimat Suci disaat mereka melakukan aksi kekerasan tersebut [Bom Bunuh diri].
    Hal itu kerap mereka lakukan,terutama dalam waktu waktu tertentu, Natal,Tahun Baru Masehi dll. Dan seringkali terjadi yg menjadi sasaran mereka adalah Gereja.Maka,Banser pasang dada. Pejuang Toleransi satu ini tak mau melihat saudara_nya setanah Air diperlakukan seperti Kafir Harbi [Golongan yg patut diperangi sebab memusuhi islam].
    Dan menyadari bahwa kelompok Minoritas juga perlu diberlakukan keadilan yg Nyata. Padahal Non Islam diNusantara, baik itu Kristen, katolik ,Budha,Hindu dan Kong hucu bukanlah kelompok yg tepat jika dilabeli sebagai kelompok yg memusuhi islam. Toh sejarah yg mengatakan bahwa mereka [Agama diluar Islam] ikut berjuang mati matian Dalam merebut Kemerdekaan Republik Indonesaia.Kita ini sama Mereka yg bukan seagama adalah saudara setanah air.
    Banser sudah memberikan contoh atas perintah gusdur betapa sangat luasnya pemikiran gusdur, bukan sekedar mengamankan gereja atas nama kemanusiaan.tapi secara langsung ingin menitipkan keselamatan umat islam minoritas diberbagai pelosok indonesia & di seluruh didunia, jelasnya menjaga gereja bukan berarti se7 atas aqidah mereka. Menjaga minoritas menjaga gereja bukan tujuan sebenarnya justru makna yg adalah yg tersirat menjaga keutuhan berbangsa & bernegara menciptakan negara yg aman untuk semua golongan.
    Namun, apa yg d lakukan oleh saudara umat nasrani di sana ternyata sudah jauh jauh hari di lakukan oleh anggota banser kita yg demi menjaga teloransi & kedamaian di negri tercintanya. Anggota banser rela meluangkan waktunya demi menjaga gereja saat suadara umat nasrani melakukan ibadahnya.
    Bahkan salah satu banser yg bernama RIYANTO gugur atas aksi heroiknya yang menyelamatkan ratusan nyawa dr bom teroris di gereja Almarhum RIYANTO benar menunjukan bahwa dirinya adalah GUSDURian sejati.
    Agama adalah Keyakinan di setiap individu masing”. Namun memberikan cinta dan kasih sayang. Maka sudah kewajiban dari semua makhluk yg bernama manusia.
    ketika umat nasrani menjaga masjid di New Zeland minhum pun berkata “subhanalloh, salut,kagum, kita teloransi 
    Namun, ketika anggota banser,melihatkan tindakan Toleransinya. eh malah para minhum berteriak “huh dasar antek kapir? Liberpul ,ngapain jaga gereja segala” . Mbelgedes ,Maha benar minhum dengan segala kentirnya. (ansor banser nogosari)
    Salam NKRI HARGA MATI…!!!