Tag: gus baha

  • GUS BAHA DAN KYAI PEROKOK BERAT

    GUS BAHA DAN KYAI PEROKOK BERAT

    Kenangan terbaik saya di dunia itu, ketika pernah didatangi kiai tua yang (mungkin) sudah mau meninggal, ketika waktu MUI mengharamkan rokok, dia bertanya (hukum merokok) kepada saya,” tutur Gus Baha .

    Tradisi kiai-kiai desa memang unik.

    Masyarakat atau kiai kampung ketika mendapatkan sebuah fatwa dari pusat organisasi Islam, meski berafiliasi dgn organisasi itu, mereka tak akan mengikutinya langsung.

    Mereka lebih mengikuti guru mengaji mereka ketimbang fatwa dari pusat .

    Misalnya, santri Mbah Maemun Zubair tentu akan lebih memilih fatwa Mbah Moen daripada fatwa MUI pusat.

    Begitu juga santri Habib Luthfi akan mengikuti fatwa beliau .

    “Gus, MUI itu kan mengharamkan rokok, sekali Jenengan mengatakan itu haram, saya tidak akan merokok Gus, tapi saya mau bercerita terlebih dahulu, saya itu kiai, sudah tua, ndeso lagi,” ujar kiai itu .

    “Iya Mbah, sudah terlihat kok,” timpal Gus Baha diikuti tawa jemaah .

    “Hiburan saya itu ya ketika setelah salat Isya itu ngobrol dan merokok dgn teman-teman mondok dulu di pojok musala Gus, kemudian mencocokkan nasib ketika pas mondok dahulu.

    Karena di pagi hari takut istri, pekerjaan saya ya yg sebisa yg dilakukan di siang hari.

    Hiburan saya ya hanya seperti tadi itu Gus,” ujar kiai tadi .

    “Kalau itu diharamkan Gus, saya tidak bakalan punya hiburan, harta dunia tidak punya (banyak), satu-satunya (hiburan) ya hanya itu Gus.

    Saya itu kiai (kampung) Gus, mau menonton dangdut ya tidak pantas” kata Gus Baha menirukan kyai kampung .

    “Sudah Mbah, untuk Jenengan halal,” jawab Gus Baha .

    Gus Baha menjelaskan bahwa tipe orang itu jangan sampai diberi fatwa haram merokok, karena hukum merokok sendiri memang masih menjadi ikhtilaf atau perbedaan diantara para ulama.

    Untuk kondisi kiai tadi, Gus Baha memperbolehkannya merokok daripada ia mencari hiburan nonton dangdut yg unsur mudaratnya lebih besar .

    Apa yg diceritakan Gus Baha tentu menjadi pelajaran bagi para ulama atau ustad.

    Bahwa dalam memberikan fatwa, seseorang tak boleh asal mengeluarkan fatwa di depan publik atau jemaah tanpa mengetahui kondisi si penanya karena suatu fatwa tak bisa menjadi solusi mutlak masalah orang lain. (AI Sorban)

  • Takdir Barokah: Mengungkap Pentingnya Salat dalam Perspektif Gus Baha

    Takdir Barokah: Mengungkap Pentingnya Salat dalam Perspektif Gus Baha

    sorbansantri.com – Salat, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki makna mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan tentang arti salat jika kita masih melakukan kemungkaran. Gus Baha, seorang ulama yang dikenal dengan pemahamannya yang mendalam tentang ajaran Islam, memberikan pandangan yang menggugah pemikiran terkait hal ini.

    Gus Baha menegaskan bahwa pernyataan yang menyatakan bahwa salat tidak bermakna jika masih melakukan kemungkaran adalah salah besar. Menurutnya, salat adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim. Dengan melaksanakan salat, kita sebenarnya telah mengurangi kemungkaran, karena dalam salat kita meneguhkan status kita sebagai hamba Allah SWT. Gus Baha menggunakan istilah “teken kon” untuk menyatakan bahwa dengan salat, kita mengakui diri sebagai hamba Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa.

    Dalam pandangan Gus Baha, jika ada kesalahan yang terjadi, hal itu memang merupakan suatu kesalahan, namun yang penting adalah kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah yang mengakui keesaan-Nya. Pengakuan ini memiliki barokah tersendiri, yaitu dapat mendapatkan syafa’at (pertolongan) dari Rasulullah SAW di akhirat nanti. Hal ini karena kita tidak pernah mengingkari status kehambaan kita kepada Allah.

    Dengan demikian, Gus Baha mengajarkan bahwa salat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan manifestasi dari pengakuan diri sebagai hamba Allah yang patuh dan taat kepada-Nya. Melalui salat, kita tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga meneguhkan ikatan spiritual dan kepatuhan kita sebagai umat Muslim. Dengan kesadaran ini, diharapkan kita dapat terus memperbaiki diri dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. (AI Sorban)

  • Gus Baha’: Gak Usah Lebay, Biasa Saja

    Gus Baha’: Gak Usah Lebay, Biasa Saja

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Gus Baha’ sekalipun sering guyon, beliau juga sangat sering serius. Tapi setiap kali habis ngendikan serius, beliau lalu bercanda lagi.

    “Saya ini, guyon saja ada sanadnya…” ujarnya suatu saat sambil terkekeh, dan disambut gemuruh tawa para santrinya.

    Suatu saat, beliau berkata dengan serius. “Untuk kali ini, saya serius. Karena sudah berhubungan dengan tauhid. Ini penting saya paparkan di sini. Urusan tauhid itu dijaga betul. Jangan sembrono.

    “Saya sering mendengar ada orang bilang, ‘Saya jangan mati dulu, kalau saya mati, bagaimana dengan nasib istri dan anak saya’.

    Lho itu pernyataan apa?
    Kalau kamu mati ya mati saja. Sudah kehendak Allah. Diantar beberapa orang ke kuburan, setelah dikubur lalu dilupakan orang.

    “Nasib istri dan anakmu ya itu biar diurus Allah. Kan di kehidupan sehari-hari banyak kita temui, perempuan yang dulu miskin, sengsara, begitu ditinggal mati suaminya lalu menikah lagi dengan laki-laki lain hidupnya tambah baik, tambah kaya, tambah bahagia. Anaknya juga begitu, punya bapak baru yang lebih sayang, lebih terhormat, dan lebih kaya.

    “Gak usah drama dan lebay. Biasa saja. Kalau kamu mati ya mati saja. Kok seakan-akan kematianmu menyebabkan nasib orang lain makin buruk. Ada-ada saja.

    “Demikian juga dengan Pilpres. Kalau kamu mau nyoblos ya nyoblos saja. Gak usah sok-sokan bilang kalau Capres A terpilih lalu kamu akan sejahtera. Rakyat sejahtera. Mana ada rakyat atau orang sejahtera gara-gara presiden.

    “Apalagi sampai bilang, kalau tidak Si A yang jadi Presiden bagaimana nasib agama Islam?
    Itu pernyataan yang sembrono.
    Ngawur itu.

    Islam itu pernah ditinggal meninggal dunia Kanjeng Nabi, para sahabat, orang-orang saleh, dan Islam makin baik karena sudah kehendak Allah.
    Makin banyak penganutnya.
    Itu sudah ketetapan Allah.

    (asnuter)

  • Fenomena Kopiah Hitam dan Putih

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Di Pondok Pesantren Mbah Maimun, santri dilarang memakai peci putih. Alasannya, karena orang pergi haji di desa-desa adalah dengan menjual tanah, sawah, tegal atau menabung belasan tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun. Sementara simbul yang mereka pakai setelah pulang dari haji adalah peci putih.
    “Kalau kamu memakai peci putih seharga 5.000 rupiah, apakah tidak menyakiti hati mereka?” ujar Mbah Maimun sebagaimana diceritakan oleh Gus Baha’.
    Bukan haram dalam kategori fiqh, tapi haram dalam kategori akhlaq. Begini, kata Mbah Moen, ini menurut Gus Baha ya, bahwa orang-orang yang berangkat haji itu butuh perjuangan yang hebat, bahkan dibela-belanin jual sawah segala.
    Nah, Mbah Moen tidak ingin melukai perasaan orang-orang yang telah berangkat haji dengan perjuangan yang sangat berat tersebut dengan prilaku santri yang melecehkan dengan cara memakai kopiah haji yang harganya cuma 5000 an itu. Jangan sampai, prilaku santri di pondok Mbah Moen itu mendowngrade makna haji.
    ( Fatwa itu hanya untuk Sarang, bukan santri yang lain, apalagi berlaku general ke ummat Islam seluruhnya, fatwa ini bertujuan menjaga akhlaq santri-santri Sarang saja)
    Sementara itu, di pesantren Gus Baha’ sendiri, ya kadang ada santri yang memakai peci putih. “Saya tidak melarang mereka. Cuma kadang saya panggil, saya kasih tahu:
    Cung, nek iso aja nganggo kethu putih wong kowe durung kaji…” kata Gus Baha’ sambil tertawa ngakak.
    Gus Baha’ kemudian melanjutkan bahwa menjadi orang alim itu memang repot. Bisa serba salah.
    Di Jawa Timur, asal orang sudah berhaji biasa memakai jubah dan bersorban. Tapi rata-rata di Jawa Tengah Pantura, orang berjubah itu dianggap sudah bisa dan ahli membaca kitab. Kalau sampai berani berjubah tapi tidak bisa membaca kitab dianggap aneh.
    Menurut Gus Baha’, secara hukum memang benar di Jawa Timur, karena memakai jubah dan bersorban itu sunah. Tapi dari sisi kurasi orang alim, tepat di daerah pantura Jawa Tengah. Sebab nanti tidak ada bedanya antara orang yang alim dan orang awam. Antara orang yang menguasai berbagai kitab dengan orang yang baru belajar membaca kitab.
    “Itulah sebabnya, baju saya putih tapi kopiah saya hitam. Saya memakai baju putih sebagai pengingat bahwa bagaimanapun saya sudah melakukan sunah. Sementara saya memakai kopiah hitam sebagai bagian dari menghormati guru sekaligus sudah terbiasa karena lama menjadi santri”. (abi sorban)
  • Kita Lebih Keren Daripada Malaikat, Itu Mahsyur!

    Kita Lebih Keren Daripada Malaikat, Itu Mahsyur!

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Nabi pernah bersabda, “Nanti pada zaman akhir itu orang-orangnya pada top-top. Bahkan aku rindu dengan umatku yang ada di akhir zaman.”
    Perkataan dari Nabi SAW tersebut pun mengundang tanya dari para sahabat. Para sahabat bertanya, “Bukankah itu adalah malaikat..?”
    Nabi menjawab, “Malaikat beriman itu wajar, sebab dia berada disamping Allah, kalau tidak beriman sangat keterlaluan.”
    “Kalau begitu para Nabi..?”
    Lalu Nabi pun menjawab, “Kalau Nabi sangat wajar kalau beriman, sebab mereka dapat wahyu dan pernah melihat Malaikat Jibril.”
    Dan para sahabat pun bertanya kembali yang ketiga kalinya kepada Nabi.
    “Kalau begitu para sahabat..?”
    Nabi pun kembali menjawab, “Kalian beriman itu karena saya yang mendidik.”
    “Lalu yang Anda maksud siapa..?”, tanya Sahabat
    Gus Baha’ menjelaskan bahwa Nabi begitu bangga dengan umat akhir zaman. Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada para sahabat, “Umatku yang hidup di akhir zaman. Dia itu orang yang tidak pernah melihatku, tapi tetap beriman denganku. Tidak pernah melihat surga tapi meminta surga. Tidak pernah melihat neraka tapi ternyata takut dengannya.”
    Ternyata satu hal saja yang membuat umat akhir zaman menjadi lebih hebat dari para malaikat dan Nabi itu adalah mempunyai kepercayaan pada Nabi SAW yang tidak se-zaman dengan mereka.
    “Jadi, hanya modal percaya/yakin saja. Jadi, itu malah keren sebab hanya modal percaya atau yakin saja. Ngono lho khin…” pungkas Gus Baha’
    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ والنَّاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩
    (pengajian gus baha’)
  • MENYIKAPI CORONA Do’a Gus Baha’ yang disampaikan di PP Al Hikam Depok

    MENYIKAPI CORONA Do’a Gus Baha’ yang disampaikan di PP Al Hikam Depok

    SORBAN Infokom | 15 Maret 2020

    “Yang ada adalah nasib-nasiban”
    Kalau pas Allah pakai Ghafur-Nya, ya aman.
    Kalau pas Allah pakai ………-Nya, ya tidak aman.
    *Makanya di sini pentingnya doa :

    اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

    Ya Allah,
    Saya berlindung semoga dengan ridha-Mu saya terbebas dari benci-Mu, dan semoga dengan ampunan-Mu saya berlindung dari siksa-Mu, dan saya berlindung dengan dzat-Mu dari dzat-Mu (juga). (kita hanya bisa berlindung dari Allah dengan kekuatan Allah sendiri), Saya tidak bisa menghitung pujian-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri.

    Itulah potongan pengajian yang diadakan di PP Al-Hikam Depok dalam menyikapi virus tersebut.

    (semoga kita semua dihindari dari virus tersebut… Aamiin Ya Rob’al’alamiin)

    (lebih…)

  • GUS BAHA MENERANGKAN CIRI-CIRI AHLI SUNNAH ZAMAN AKHIR

    GUS BAHA MENERANGKAN CIRI-CIRI AHLI SUNNAH ZAMAN AKHIR

    InfokomBanserNU- Dalam pengajiannya gus Baha’ ( KH. Ahmad Bahauddin bin K.H. Noer Salim) menerangkan tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah di zaman akhir.

    Ciri Ahli Sunnah di zaman akhir itu, dalam aqidah
    – Menganut Abu Hasan Al-Asyaari dan
    – Menganut Imam Abu Mansur Al Maturidi.

    Dalam fiqih mengikuti salah satu mazhab 4 yaitu:
    – Imam Abu Hanifah,
    – Imam Malik,
    – Imam Syafii atau
    – Imam Ahmad bin Hambal.

    Dan dalam tasawuf mengikuti salah satu mazhab antara
    – Abbul Qosim Al-Juanidi atau
    – Imam Ghozali.
    .
    .
    Mengapa menjadi definisi begitu?
    Karena, dulu firqoh di arab banyak yang menentang,
    “Itu pengertian apa?”
    Nabi tidak pernah menjelaskan begitu,
    Kalian jangan terjebak dengan ucapan mereka, bahwa nabi tidak pernah mengeluarkan definisi tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah seperti itu,
    Ya tentu nabi tidak akan mengatakan seperti itu, karena di zaman nabi belum ada imam Ghozali, belum ada Abbul Qosim Al Junaidi.
    Tapi kita percaya dengan definisi seperti itu. Mengapa?
    Karena kita percaya bahwa Aswaja itu, orang yang seperti di katakan Nabi:

    _“Maa ana alaihil yauma wa ashabi.”
    “Yaitu orang yang mengikuti perilaku saya dan mengikuti para sahabat saya.”

    Itu teks yang disampaikan Nabi,
    Lalu kenapa kita harus menyebut nama imam-imam kita dan sanad kita?
    Karena kalau kita tidak menyebut sanad,
    akan muncul pertanyaan,
    “Kamu ko bisa tahu sahabat melakukan itu kata siapa?”
    Jawabnya “Kata guru saya.”
    Kita kan tidak bisa langsung mengatakan “kata Nabi.”
    Kata Nabi itu yang meriwayatkan siapa?

    Contoh Imam Bukhori,
    Imam Bukhori itu siapa?
    Beliau itu muridnya Imam Syafii,
    Karena Imam Bukhori itu periodenya setelah Imam Syafii,
    Saya hafal sanadnya Imam Bukhori sampai ke Rasulullah.
    Dan saya ( gus Baha ) punya sanad sampai Imam Bukhori.

    Misalkan kalian ditanya, “kamu tahu Amerika?”
    Terus kamu jawab “Tahu.”
    “Ko bisa tahu Amerika?
    Dan kamu jawab “lihat di TV.”
    Televisi saja kamu jadikan sanad ko Imam Syafii tidak jadi sanad.

    Misalkan lagi,
    “Kamu ko tahu kalau ketua DPR tersangka?”
    “Kata TV”.
    Sanadmu dari mana?
    “Kan dari TV.”
    Dan misal kamu bilang “Tahu sendiri” itu tidak mungkin,
    kan tidak mungkin kamu tahu sendiri ketika ada sidang di KPK.

    Contoh lagi, misalkan kamu ditanya suatu hal, terus kamu jawab “Nabi itu berkata gini, jadi tak perlu ulama, harus ke Nabi saja langsung”
    Lha kamu ko tahu kalau nabi bilang seperti itu kata siapa?.
    Apa kamu mau jawab lewat mimpi?
    Akhirnya mau tidak mau kamu harus menyebutkan guru.

    Makanya ada tradisi menyebut sanad, atau disebut juga menyebut ulama,
    Tapi orang-orang sekarang juga kadang bodoh,
    Ada orang yang bilang gak usah lewat ulama, yang penting langsung ke Nabi,
    Ulama bisa salah, kalau Nabi kan tidak bisa salah,
    Lha kamu itu ko bisa bilang kalau Nabi tidak bisa salah kata siapa?
    Jawabmu pasti “kata ulama atau kata guru.”
    Padahal katanya tidak percaya ulama?

    Makanya kalau bodoh jangan kebangetan,
    Apalagi sudah bodoh ngajak-ngajak lagi,
    Dan saya juga heran dengan orang model seperti itu,
    Bodoh kok bisa seperti itu sanadnya gimana?.

    Itulah mengapa, masyhur di dalam ilmu thariqah dan ilmu hakikat pepatah yang bilang begini
    “Laula Murobbi Lamaa arofnaa Robbi,
    wa laulal ulama lamaa arofnal ambiya”

    “Andaikan tidak ada yang mendidikku,sanad,
    tentu aku tidak tahu Tuhanku itu siapa,
    Dan andaikan tidak ada ulama,
    tentu kita tidak tahu para Nabi”.

    Kita mengetahui Tuhan karena ada yang mengajari,
    Kamu tidak mungkin bisa mengetahui Tuhan secara langsung.!
    Tapi diajari guru, bahwa Allah itu wujud, qidam baqa’ dst.
    Anehnya kadang dikenalkan oleh gurunya, terus lama-lama sombong, malah mbantah gurunya,
    Tapi itu sekedar sombong saja, hakikatnya tetap saja mengetahui Allah itu lewat guru.

    Misalnya lagi kamu tahu Nabi lewat saya,
    Saya ( gus Baha ) itu muridnya Kyai Maimoen,
    Kyai Maimoen muridnya Kyai Zubair,
    Kyai Zubair muridnya Kyai Faqih Maskumambang,
    Kyai Faqih muridnya Kyai Mahfudh Tremas,
    Kyai Mahfudh itu murid Sayyid Abu Bakar Satos yang mengarang kitab I’anatut Tholibin,
    Beliau muridnya Sayyid Zaini Dahlan,
    Muridnya Syekh Ustman Addimyati terus sampai

    (red.abi)

  • Gus Baha: Muhasabah Intropeksi Buat Kita orang NU

    Gus Baha: Muhasabah Intropeksi Buat Kita orang NU

    InfokomBanserNU- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama. Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet. Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.

    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya. Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.

    Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah. Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas. Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji gus baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.

    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya. Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini. Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.

    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi. Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim. Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka.

    Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari. Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain.

    Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.

    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.

    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. – ditulis secara bebas –

    KH. Bahauddin Nur Salim (Rois Syuriah PBNU)

  • NGAJI GUS BAHA: Tips Memilih teman

    NGAJI GUS BAHA: Tips Memilih teman

    wp.sorbansantri.com – Saya selalu teringat pesan para ulama besar dari mulai Sayidina Ali sampai Imam Syafi’i, yg selalu disitir Gus Baha, tentang kawan: “Janganlah kamu berteman dengan orang yang tidak siap melihatmu berbuat salah.”
    Orang seperti itu tak layak dijadikan teman karena ia mengingkari fitrah manusia yaitu berbuat salah. Dan lebih berbahaya lagi, karena diam-diam, orang seperti itu punya rasa sombong Di mata orang seperti itu, ini salah. Itu salah. Tidak terbuka peluang bagi orang untuk memperbaiki diri. Pernah, seorang alim ditegur Tuhan karena berdoa agar dijauhkan dari kesalahan. Kata Tuhan, “Lha kalau kamu tidak berbuat salah, lalu di mana letak kehebatan sifat pengampun-Ku?”
    Sementara Nabi sendiri mensifati umatnya, dan melukiskan kebesaran Tuhan, salah satunya dalam bentuk betapa dhaifnya manusia dan betapa besarnya pengampunan Tuhan. Anak-cucu Adam itu senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baiknya mereka adalah yg lekas meminta ampunan.
    Ini berbeda sama sekali dengan orang Khawarij. Kaum ini sering mencap orang yg berbuat salah dan maksiat telah keluar dari Islam. Sementara Tuhan menyeru, sebanyak apapun kesalahan dan dosa hambaNya, jangan pernah berputus asa dari ampunan Tuhan. Aneh sekali kaum Khawarij ini yg justru ‘mengusir’ orang yg sudah masuk Islam hanya karena berbuat salah, sementara Tuhan selalu mengulurkan tangan agar orang yg berbuat salah tak berputus asa.
    Ada kisah orang alim yg selalu dijadikan contoh oleh Gus Baha dalam konteks ini. Beliau adalah Mbah Nafi’. Waktu sudah dianggap alim, oleh sesepuh dan guru-gurunya, Mbah Nafi’ diminta mengajar mengaji. Tapi beliau menolak karena takut salah.
    Akhirnya beliau diundang oleh guru-gurunya dan diberitahu: “Kamu keliru kalau tidak mau mengajar karena takut salah. Memangnya kamu itu siapa? Orang yang takut berbuat salah justru orang yang sombong. Kamu itu bukan nabi kok takut berbuat salah.” Semenjak itu Mbah Nafi’ mau mengajar. (abi sorban)
  • KH. Bahauddin Nur Salim Rais Syuriah PBNU

    KH. Bahauddin Nur Salim Rais Syuriah PBNU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com- Posisi apapun sama sekali bukan tujuan. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak kenal juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah. Tidak dihormati juga tidak masalah. Justru bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai.
    Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa aja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja.
    “Hidup Ndak usah dibuat sulit, nggak usah ruwet, asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup”. (red)