Tag: gus baha

  • Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Islam sebagai agama tidak pernah membuat penganutnya merasakan penderitaan. Hanya orang-orang yang tidak taat saja yang merasa gelisah dan menderita. Mereka menjebak dirinya dalam kesulitan, keresahan dan penderitaan. Padahal agama sudah memberi jalan dan ruang yang penuh dengan keceriaan, kenikmatan, ketenangan, bahkan ‘kepuasan’.

    Tidak heran jika Gus Baha’ menyampaikan “Agama itu dimulai dari kesenangan, happy, farah kalau dalam bahasa Arab” Karena Agama sendiri adalah jalan dan ruang yang indah penuh kedamaian. Maka memulainya tentu dengan kesenangan, sebab orang yang beragama melangkah di jalan kemudian masuk di ruang yang terang oleh cahaya kebahagiaan.

    Lebih tegas Gus Baha menghaturkan ayat,

    قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

    “Katakanlah, Wahai Muhammad, dengan fadhal Allah, anugerah Allah dan rahmat Allah. Kemudian dengan itu kamu harus senang. Sehingga dengan senang kepada Allah dan Rasul itu nikmatnya masyaallah“.

    Siapa yang tidak menginginkan anuegrah dan berharap rahmat Allah? Siapapun pasti menunggu ini semua. Karena ketika seorang hamba mendapatkan anugerah dan merasakan rahmat Allah, dia akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi sampai larut dalam kesenangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh tidak ada apapun yang bisa menandinginya.

    Dawuh Gus Baha’ “Andaikan senang itu bisa ditakar, orang yang sedang tahajjud, menangisi dosanya. Itu senengnya jika dibandingkan dengan orang yang sedang dugem, mesti kalah, mesti senengan sedang tahajjud. Karena orang-orang maksiat itu sebenarnya orang-orang yang susah”

    Ya, sungguh senang tiada kata yang sanggup menjelaskannya, jika seseorang sudah menemukan manisnya beribadah kepada Allah. Dan tidak ada orang yang merasa, kesenangan yang didapatkan dari kemaksiatan menjadi kesenangan yang membuat dirinya bahagia, justru dia gelisah dan susah. Sungguh berbeda antara kesenangan yang dirasakan dari ketaatan dan kemaksiatan.

    Gus Baha’ menggambarkan orang yang shalat tahajjud, “Sementara orang yang tahajjud senengnya sangat terasa dan terus diingat. Semisal tadi malam bagaimana menangisi dosa, menangisi nasib. Kemudian menjadi tenang karena kembali ingat kepada Allah dan Rasul. Itu luar biasa senengnya”

    Alhasil, kunci mendapatkan kesenangan beribadah adalah dimulai dengan rasa senang. Jika sudah dimulai dengan kesenangan, ibadah pun menjadi nyaman dilaksanakan. Kemudian berbuah menjadi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dilakukan oleh para ulama kita.

    Karena para ulama sangat mengerti bahwa agama itu adalah jalan kesenangan, maka memulainya harus dengan rasa senang sehingga merasakan manisnya beribadah. Berbeda dengan orang yang melakukan ibadah karena merasa beban atau sekedar menggugurkan kewajiban. Sehingga bukan dengan rasa kesenangan untuk memulai beribadah, melainkan karena keterpaksaan. Mana bisa orang yang dalam keterpaksaan dan tak ada rasa senang akan merasakan kesenangan. Untuk merasakan senang harus diawali dengan senag juga.

    Sama juga seseorang yang menyampaikan dakwah agama. Ketika ia berdakwah dengan main klaim salah sana sini, ditambah dengan kata yang tidak pantas alias umpatan caci maki, bisa saja dia memulai dakwah agama berdasarkan kebencian bukan kesenangan. Na’udzubillah.

    Disarikan dari ngaji bareng Gus Baha pada link video https://www.youtube.com/watch?v=xj0WuVOLA10

    Semoga kita bisa meneladani orang-orang saleh! (Gus tama)

  • 25 KATA-KATA MUTIARA GUS BAHA’ YANG PENUH MAKNA DAN MENYEJUKKAN HATI

    25 KATA-KATA MUTIARA GUS BAHA’ YANG PENUH MAKNA DAN MENYEJUKKAN HATI

    101534732_565954444112264_7420087574762356736_n

    cyberaswaja.online- KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa dikenal GUS BAHA’ merupakan salah satu ulama muda yang populer di Indonesia. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Quran di Narukan, Kragan,Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang lahir pada tahun 1970 ini terkenal di kalangan anak muda lantaran ceramahnya banyak ditemui di channel Youtube.

    Gus Baha sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Al-Quran dari ayahnya sendiri yaitu KH. Nursalim Al-Hafidz. Maka tidak heran apabila GUS BAHA’ menjadi ahli tafsir Al-Quran. Sehingga beliau sangat diidolakan anak-anak muda atau yang biasa disebut kaum millennial.

    Tidak hanya itu, metode ceramah nya yang menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan menyejukkan hati menjadikan kyai yang murah senyum ini juga dikagumi semua kalangan.

    GUS BAHA’ merupakan salah satu santri kesayangan KH. Maemun Zubair di Rembang, Jawa Tengah. Pasalnya, Gus Baha menjadi salah satu ulama muda yang dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Quran.

    Berikut ini kata-kata mutiara GUS BAHA’ yang penuh makna:

    1. Jangan pernah putus asa saat merasa dalam kesulitan, sebab Allah menyertakan kemudahan setelah kesulitan.

    2. Cinta adalah sebuah perhatian kecil yang selalu hadir setiap saat.

    3. Seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan, maka dari situlah kita akan tahu betapa besar cintanya kepadamu.

    4. Cinta ialah sebuah pupuk yang dapat menyuburkan segala rasa tandus pada hati.

    5. ALLAH akan mengganti semua luka yang pernah engkau rasakan dengan kebahagiaan yang tak pernah terduga.

    6. Terkadang, mungkin ALLAH membuat hamba-Nya merasa kecewa, namun percayalah Ia hanya ingin engkau kembali berharap hanya kepada-Nya.

    7. Untuk menjadi yang terbaik. Kamu harus mempunyai mimpi yang besar serta semangat untuk mewujudkannya.

    8. Sebuah langkah kecil merupakan sebuah awal yang begitu panjang.

    9. Harapan dan keinginan ini seharusnya sejalan. Ya sejalan dengan betapa besar usaha yang kamu lakukan dalam mewujudkannya.

    10. ALLAH tidak pernah ingkar pada hamba-Nya, meski sekecil biji Zarrah pun janji ALLAH selalu ditepati.

    11. Saat kamu merasa tidak ada orang yang berada di pihakmu, tenanglah karena ALLAH selalu bersamamu.

    12. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil, padahal dari sanalah sesuatu yang besar lahir dan tumbuh.

    13. Kebodohan itu merusak, tetapi merasa dirinya paling pintar lebih merusak.

    14. Yang abadi adalah yang kita sedekahkan.

    15. Jangan membenci orang yang sedang kafir saat ini, bisa saja suatu saat orang tersebutlah yang mensyafaati kamu. Tirulah Kanjeng Nabi MUHAMMAD SAW yang berdoa kepada ALLAH SWT untuk Sayyidina Umar Bin Khatab yang saat itu sedang kafir.

    16. Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang berhak menghalangi rasa cinta hamba pada Tuhannya, meski cara yang digunakan untuk menunjukkan rasa cinta itu terasa aneh di mata kita.

    17. Kalau malaikat datang dan memberitahu saya bahwa kelak saya akan masuk neraka selamanya, apakah saya akan berhenti menyembah Tuhan? Tidak. Saya akan terus menyembah Tuhan.

    18. Sanad ilmu itu penting! Karena teks itu terbatas ruang dan waktu. Sekarang ini banyak aliran yang memahami hanya lewat teks. Ini bahaya, karena yang bisa menerjemahkan teks itu ahwal. Ahwal itu perilaku atau karakter. Nah itulah Sanad. Makannya ada pepatah: Man ta’allama wabila syaikhin fasyaikhuhu syaithan. Barang siapa belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan.

    19. Untuk memperbaiki manusia itu butuh proses, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk menghabisi keburukan, tentu bermitra dengan Izrail jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril.

    20. Tak masalah saat ini kamu miskin. Bisa jadi itu alasan ALLAH kelak untuk membawamu ke surga-Nya.

    21. Di akhirat, kenangan yang paling indah di dunia adalah, seberapa sering kita sujud kepada ALLAH SWT.

    22. Dosa terbesar istri adalah Nggoblokno suami.

    23. Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama ALLAH untuk kepentingan dirinya, seolah-olah apa yang ada dipikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh ALLAH.

    24. Kita harus curiga dengan otak dan pikiran kita.

    25. Cinta mungkin terkadang membuatmu rapuh, tetapi berterima kasihlah kepadanya, karena cinta darinya bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.

    Source: santrinu
    Santri GUS BAHA’
    #SantriNU

     

  • Gus Baha Itu Aset NU Yang Patut Dibanggakan

    Gus Baha Itu Aset NU Yang Patut Dibanggakan

    96372997_2936737383083581_2336329065037824_n

    Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

    cyberaswaja.online- Warga Nahdiyyin Indonesia sudah tidak asing dengan Gus Baha, yang bernama lengkap KH. Ahmad Bahauddin, putra KH. Noer Salim, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an, Narukan, Kragan, Rembang. Kiai Noer Salim sendiri adalah teman akrab Gus Miek atau KH. Hamim Jazuli, Ploso, Kediri. Mereka berdua pendiri Jantiko-Mantab atau Dzikrul Ghafilin.

    Kedekatan Kiai Noer Salim dan Gus Miek karena nasab ayahanda Gus Baha itu memang jalur ulama besar tanah Jawa. Dari garis ibunya, Gus Baha adalah bagian dari keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu. Sedangkan menurut penuturan Kiai Said Aqiel Siradj (Ketum PBNU), garis nasab Gus Baha bersambung pada raja tanah Jawa, Brawijaya V Raja terakhir Majapahit.

    Selain keturunan raja dan ulama Jawa, Gus Baha juga terkenal sangat alim di bidang fikih, hadits, dan tafsir Al-Qur’an. Pria kelahiran 1970 ini sejak kecil sudah menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan langsung ayahandanya, yang memiliki sanad kepada Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam Pati. Kefasihan dan makharijul huruf membaca Al-Qur’an menjadi titik tekan jalan sanad ini. Baru setelah menginjak remaja, Kiai Nur Salim menitipkan Gus Baha kepada Kiai Maimoen Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

    Tahun 2000 atau ketika usia mencapai 33 tahun, Gus Baha mengembara ke Yogyakarta. Beberapa mushalla di Bantul memiliki jamaah yang setia menyelenggarakan pengajian. Kota pelajar itu mengagumi Gus Baha karena keluasan ilmunya yang dibawa dari Pondok Al-Anwar.

    Kealiman Gus Baha di bidang Al-Qur’an mendapatkan apresiasi dari ulama-ulama besar di bidang Al-Qur’an seperti Professor Quraish Shihab, Professor Zaini Dahlan dan Professor Shohib. Bahkan, Professor Quraish Shihab menyebutkan, “Di Tim Dewan Tafsir Nasional, Gus Baha tidak saja dikenal sebagai mufassir tetapi juga mufassir-faqih, yang paham detail aspek hukum dalam setiap ayat Al-Qur’an.”

    Pujian tidak saja datang dari ilmuan senior melainkan juga dari ustadz-ustadz muda milenial. Ustadz Abdul Somad (UAS), misalnya, mengatakan bahwa Gus Baha sebagai Hafidzul Qur’an, ahli tafsir, dan diberikan ilham oleh Allah, banyak gagasan-gagasan baru dari beliau. Selain UAS, Ustadz Adi Hidayat juga mengapresiasi kedalaman ilmu Gus Baha dengan menyebutnya sebagai “manusia Al-Qur’an”.

    Penulis sendiri lebih cenderung melihat Gus Baha sebagai aset Nahdlatul Ulama (NU) di masa depan. Beliau adalah penjaga turats Islam. Terminologi turats mengacu kepada seluruh khazanah intelektual Islam sejak awal abad Hijriyah hingga perkembangan mutakhir yang sudah berusia 14 abad lebih ini. Tidak banyak ulama muda NU yang berjuang di wilayah turats klasik ini.

    Wacana kembali pada turats sempat dikumandangkan oleh Prof. Dr. Ahmad Thayeb, Universitas Al-Azhar, Mesir, sebagai kekuatan tunggal umat muslim. Karena mayoritas umat muslim sudah mengabaikan urgensi menjaga turats Islam ini, menurut Grand Syeikh Al-Azhar itu, banyak negara Islam dan kampus-kampus Islam di seluruh dunia tertinggal di belakang dibanding Barat. Selalu membebek buta dan terbelalak kagum pada segala pencapaian Barat.

    Di Indonesia, Gus Baha tampil sebagaimana diharapkan oleh Dr. Ahmad Thayeb. Bisa dibilang, Gus Baha adalah representasi ulama Nusantara yang patut diandalkan.

    Belakangan, satu video ceramah Gus Baha mengajak para santri untuk memberanikan diri menjelaskan kepakaran diri mereka, sebagaimana banyak para pekerja profesional, misal dokter gigi, bidan, dan lainnya terang-terangan menjelaskan profesi dan keahlian mereka. Sementara santri, menurut Gus Baha, tidak ada yang berani membuat pengakuan tegas ahli fikih, ahli kitab Fathul Wahhab, dan lainnya.

    Candaan Gus Baha semacam itu adalah ide brilian yang serius, karena menyangkut soal mentalitas kaum santri yang harus percaya diri, bangkit, menyaingi kepercayaan diri kaum akademisi lulusan perguruan tinggi. Gagasan Gus Baha perlu direspon serius karena tidak saja menyangkut persaingan kepakaran dalam bidang ilmu, tetapi juga potensial untuk menyelamatkan publik dari belajar kepada ustadz yang tidak memiliki keahlian dalam bidang agama.

    Agama yang jatuh pada tangan orang yang tidak ahli bukan saja berdampak buruk secara personal melainkan meluas pada urusan sosial dan politik. Sering kali atas nama agama, publik jatuh pada fanatisme, dan ujung-ujungnya proyek politik kekuasaan. Agama selalu dijual setiap 5 tahun sekali, lebih-lebih mendekati pesta demokrasi seperti Pileg dan Pilpres.

    Hanya saja, segala pemikiran dan prestasi Gus Baha tersebut tidak serta merta dapat dinikmati publik yang lintas batas. Hal ini bisa dilihat dari daftar 15 Ustadz-ustadz/Gus-gus yang populer di generasi milenial; suatu generasi baru yang akrab dengan dunia digital, dan memiliki karakter yang jauh lebih sederhana, tidak mau rumit, dan mencari rujukan-rujukan agama yang jauh lebih menghibur. Salah satu buktinya, followers, subscribers, dan viewers Gus Baha kalah jauh dari ustadz-ustadz seperti Khalid Basalamah, Syafiq Riza Basalamah, Firanda Andirja, bahkan di bawah Gus Muwafiq, Gus Miftah, dan Ustadz Yusuf Mansur sebagai representasi NU.

    pandangan penulis, setidaknya ada tiga persoalan utama: Pertama, Selain kedalaman berpikir dan keluasan pengetahuan, dominasi bahasa Jawa menjadi karakter khasnya, Bahasa lokal Jawa seakan menjadi “kerangkeng” dan sekaligus bahan material mendefinisikan komunitas atau jamaah Gus Baha. Audiens yang mendengarkan via media sosial terbatas pada mereka yang berkultur Jawa, setidaknya paham bahasa Jawa, sehingga mau tidak mau terbentuk identitas yang Jawa Sentris. Ini membuat kapasitas intelektual Gus Baha tidak bisa dinikmati komunitas/audiens lintas batas di Indonesia.

    Kedua, tema-tema khazanah klasik yang berat bagi sebagian orang awam, tentu hanya cocok untuk kalangan santri yang sudah mengenyam pendidikan pesantren. Hal ini tidak perlu dipermasalahkan, karena selain jadi kekurangan tapi juga keunggulan. Perlu ada penjaga gawang wacana-wacana turats klasik sekalipun itu susah dicerna publik luas yang jauh dari tradisi pesantren.

    Ketiga, manajemen media sosial yang lemah. Dari berbagai channel yang mendokumentasikan ceramah-ceramah Gus Baha, jumlah subscribers, followers, dan viewersnya kalah bila dibanding beberapa ustadz yang disebut di atas. Hal ini adalah persoalan manajemen media, dan tidak terkait sama sekali dengan profil dan konten ceramah Gus Baha.

    Masalah dominasi Bahasa Jawa dan manajemen media sosial ini perlu segera dipecahkan. Sebagai langkah strategis untuk melebarkan sayap dakwah NU pada umumnya dan untuk meluaskan jangkauan ceramah Gus Baha pada khususnya. Wallahu a’lam bis shawab.

    (Sumber: TRIBUNNEWS.COM dengan beberapa editan yang diperlukan)

    *Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

  • KETUA ANSOR SERUKAN KADER JANGAN PILIH BUPATI YANG DI USUNG DARI PARTAI PKS

    KETUA ANSOR SERUKAN KADER JANGAN PILIH BUPATI YANG DI USUNG DARI PARTAI PKS

    Mojokerto.Cyberaswaja.online – Pertarungan pilihan Bupati dan wakil bupati serentak di Indonesia sebentar lagi berlangsung. Memasuki Memasuki tahun politik 2020, memberikan sikap dan arahan tegas Ketua Ansor Cabang kepada Kadernya yang tersebar di wilayah kabupaten Mojokerto. Bertepatan pelaksanaan DTD (Diklat Terpadu Dasar) Banser (Barisan Ansor Serbaguna), dihadiri Tokoh Undangan, KH. Adzim Alwy (Ketua PC NU Kab.Mojokerto), KH.Manshur (Ketua MWC NU Jatirejo), Muspika Jatirejo, Bapak Kepala Desa Sumberagung, serta Banom NU Se Kec.Jatirejo. Dengan seksama mengikuti Pembukaan Acara terebut. 20/12/19.
    SORBANSANTRI.COM
    Doc.Ketua PC GP Ansor Pimpin Apel
    Pada sambutan sekaligus Pembukaan DTD Banser Di Kecamatan Jatirejo, Panglima Tertinggi Banser Kab.Mojokerto tersebut, menyampaikan dihadapan Puluhan Kader Kader Militan GP Ansor, BANSER, Tamu Undangan VIP serta tokoh tokoh NU, Toko Masyatakat beserta Banom Banom NU yang respon dengan tepuk tangan begitu meriah. “Salam Satu Komando Sahabatku, Pengkaderan di Ansor Banser terus menerus dilakukan, Hal ini adalah salah satunya membentengi NKRI, khususnya berkaitan menjelang tahun Politik 2020, Kader Ansor Jangan Pilih Pasangan Yang di Usung dari Partai PKS. Mereka secara ideologi berbeda dan berlawanan dengan Kita Ansor dan Nahdlatul Ulama (NU), oleh karena itu sikap harus tegas, membentengi NKRI dan NU, manut Kyai ne NU, bila perlu tahun politik 2020 kita Tengelamkan PKS. Apakah Sahabat2 siap…!! (Siap!!!/jawab PesertaApel) Salam Satu Komando”. Tegas Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto, Gus Moh. Ali Nasikh.
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: tiga dari kiri jas hijau ketua PC NU
    SORBANSANTRI.COM
    Doc. Tamu Undangan VIP
    SORBANSANTRI.COM
    Doc. DTD Banser Kec.Jatirejo
    SORBANSANTRI.COM
  • Malam Puncak Peringatan Haul Gus Dur

    Malam Puncak Peringatan Haul Gus Dur

    InfokomBanserNU-

    Ngaji bareng gus baha ,gus muwafiq

    Di pondok pesantren tebuireng Jombang
    Sabtu, 21 Desember 2019 merupakan acara puncak dalam rangka Haul Gus Dur Ke 10.
    Acara tersebut dimulai pada Hari Kamis, tanggal 19 Desember 2019 yang diawali dengan ISHARI. Dan esoknya lagi khotmil qur’an. dan acara puncak Hari sabtu, 21 Desember 2019 yang di mulai pada jam 8.00 wib dengan acara seminar disusul dengan seribu rebana.

    Setelah ba’da Isya’ baru acara inti dimulai dengan pembicara inti KH Bahauddin Nursalim ( gus baha’ ).

    #InfokomAnsorBanserNU

  • Gus Baha’ tidak bermedsos, tapi banyak beredar atasnama beliau

    Gus Baha’ tidak bermedsos, tapi banyak beredar atasnama beliau

    Gus Nur Sableng –Beliau Gus Baha tidak bermedsos ini justru peluang besar bagi kita para muhibbin sejati Gus Baha untuk mengkhidmahi / mengawal perjuangan Beliau lewat jalur medsos, Karena fitnah keji didunia medsos itu begitu kejam,

    SORBANSANTRI.COM

    Monggo para muhibbin sejati K.H. Ahmad Bahauddin bin K.H. Noer Salim Al Hafidz (Gus Baha’) Mari kita jadi team cyber army Gus Baha’, silahkan bagi para muhibbin sejati untuk gabung ke gruop telegram “Jamaah Muhibbin Gus Baha” group ini di dirikan oleh Kang Rohman beliau adalah alumni PP. Madrasatul Quran Tebuireng dan beliau adalah alumni santri LP3iA +alumni driver pribadi Gus Baha’

  • TGB : PERLU GUS BAHA’ – GUS BAHA’ BARU DI NEGERI INI

    TGB : PERLU GUS BAHA’ – GUS BAHA’ BARU DI NEGERI INI

    Oleh : Zainurrofieq

    Laziznu Tuban – Sempat sedikit agak terpana saya, ketika TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi yang sejak satu tahun terakhir ini sangat getol menarasikan wasatiyyah terutama dalam arah politik keummatan Indonesia, dalam diskusi tim kecil di WA Group alumni Al azhar, TGB menyataka :”Perlu Gus Baha – Gus Baha baru yang muncul kepermukaan yang sebenarnya banyak di pondok-pondok pesantren, yang pemikirannya cemerlang, kita harus dorong mereka untuk terjun aktif ditengah ummat. Nilai-nilai pesantren perlu direvitalisasi termasuk konsep tawadhu. Saking tawadhunya santri, akhirnya panggung dakwah diserahkan kepada yang tidak faham atau setengah faham, dan akhirnya jadilah sebuah dagelan. Kita lihat conto baik dari kehadiran viralnya Gus Baha, setelah tampil ke public, banyak ummat yang tercerahkan’.

    Sejak postingan TGB itu, saya akui hampir semua video dakwahnya Gus Baha saya buka dan ikuti narasinya, subhanalllah, Saya pun merasakan ada mutiara indah yang tersampaikan dalam viralnya tausiah-tausiah gus Baha ini.

    Gus Baha, sebutan bagi KH. Bahauddin bin Kiai Nursalim, sedang menjadi idola santri-santri dan milenial muslim, Gus Baha jadi oase di tengah maraknya ustadz-ustadz yang mencari popularitas. Di tengah meruahnya pendakwah yang mengumbar kebencian dan mengadu domba umat. Cara dakwah Gus Baha riang gembira, selow dan santai. Bikin nyaman.

    Ketertarikan terhadap Gus Baha’ didasarkan kepada metodologi yang digunakan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang tidak melepaskan diri dari paradigma fikih yang dikuasainya. Banyak yang menganggap bahwa cara penyajian Gus Baha’ tersebut terbilang langka. Karena selama ini, mereka hanya menerima penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat letterlik dan bahkan terkadang disisipi oleh lathaif siyasah (motif-motif politik yang tersembunyi).

    ————————————
    📌 #GusBaha‘ tentang Ketidakjelasan Politik
    🎥 https://youtu.be/G5vW0ICnMMc
    ————————————-

    Gus Baha’, melalui topik-topik yang diangkatnya, sepertinya telah membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan publik di luar pesantren. Beliau seperti tidak ingin memaksakan cara pandangnya di dalam memahami masalah kepada audiens yang mendengarkan. Itu bisa dicermati dari bagaimana beliau mencoba menyederhanakan deskripsi fikih yang rumit ke dalam bahasa yang mudah, melalui perumpamaan yang mudah dimengerti siapa saja.

    Mengomentari kemunculan Gus Baha ini, teringat Kiai Ahmad Baso, di dalam karyanya, ” Islam Pasca Kolonial” selalu menegaskan bahwa liberalisme pemikiran bukanlah senyawa orisinil dunia pesantren. Pesantren mempunyai khasanah dan manhaj-nya sendiri untuk berbicara tentang peradaban.

    Bisa kita nikmati betapa metode pesantren di nusantara telah menyuguhkan produk pemikir dan pemikiran yang universal dan kekinian tanpa harus memasukan metode barat yang liberal tapi focus pada literasi klasik yang digali dengan pisau analisa tanggungjawab dakwah yang solutip keumatan.

    Lebih dalam mengomentari fenomena dakwah keumatan Gus Baha ini, TGB menegaskan bahwa termasuk dalam arah wasatiyyah adalah keseimbangan antara fikrah dan harakah. Ide dan gerak, ilmu dan amal.

    Bergerak tanpa kefahaman akan melahirkan teriakan tanpa manfaat, bising tanpa maslahat. Karenanya panggung dakwah itu harus diisi oleh orang-orang berkefahaman yang dalam dan utuh, dengan semangat yang kuat.

    Kalau sekedar bersemangat, panggung dakwah bisa berubah menjadi mimbar kebencian. Semoga Allah menjadikan kita termasuk yang selalu beramal dalam ilmu dan berilmu dalam amal.

    Yaa ritt….. Syukron Tuan Guru !!!
    (Tasikmalaya, 71219)

    Source : tengah dot co