Tag: hti

  • KHUTBAH JUM’AT: HUKUM VAKSINASI

    KHUTBAH JUM’AT: HUKUM VAKSINASI

    SORBANSANTRI.COM

    اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    Jamaah masjid Nurul Iman rahimakumullah

    Puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan nikmat yang tak terhingga. Nikmat yang dengannya kita bisa merasakan kebahagiaan, kesejahteraan, kehormatan dan kemuliaan. Marilah kita gunakan segala kenikmatan yang Allah berikan itu sebagai bekal ibadah karena hakikatnya Allah menciptakan manusia semata-mata agar menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Jangan sampai nikmat yang Allah berikan itu membuat kita lalai, takabbur atau sombong sehingga nikmat yang kita miliki menjadi fitnah bahkan musibah sehingga menjauhkan kita dari Allah hingga mendatangkan murka-Nya.

    Jamaah shalat jum’at yang kami muliakan

    Pemerintah Indonesia telah meluncurkan program vaksinasi nasional Covid-19. Ikhtiar menghadapi pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum mereda ini, secara resmi dimulai pada Rabu (13/1) 2021. Presiden RI Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang divaksin, diikuti para pejabat dan tokoh masyarakat pada peluncuran program ini di Istana Merdeka Jakarta. Salah seorang Jajaran Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomudin menjadi peserta vaksinasi tahap pertama di Istana Negara.

    Peserta dari PBNU merupakan orang keempat yang disuntik vaksin Sinovac setelah Presiden Joko Widodo, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih dan Sekretaris Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan.

    Vaksinasi merupakan ikhtiar dan upaya untuk melindungi jiwa kita. Karena tujuan diturunkannya agama adalah hifdzu nafs, menjaga jiwa kita.

    Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tanggal 23 Januari 2016 (13 Rabi’ul Akhir 1437 H) di Bogor, memutuskan/menetapkan bahwa imunisasi pada dasarnya “dibolehkan” (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

    Dalil Vaksin atau Imunisasi diantaranya:

    وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ [البقرة، 2: 195]

    “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, …” [QS. al-Baqarah (2): 195]

    عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ . [رواه أبو داوود]

    “Diriwayatkan dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat. dan menjadikan bagi setiap penyakit akan obatnya. Maka hendaklah kamu berobat, tetapi janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram.” [HR. Abu Dawud]

    Hukum Vaksin dengan Barang yang Haram dan Najis

    Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram, tidak dibolehkan kecuali pada kondisi “darurat” (keterpaksaan jika tidak dilakukan mengancam jiwa) atau “hajat” (keterdesakan, jika tidak dilakukan menyebabkan penyakit berat atau kecacatan pada seseorang), atau belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci, dan ada keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

    Al-Qur’an menyampaikan:

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ ٱللَّهِۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 173)

    Mengenai pengobatan dengan barang yang najis, khususnya yang sering disebut dalam vaksin, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab menyampaikan:

    وَأَمَّا التَّدَاوِي بِالنَّجَاسَاتِ غَيْرِ الْخَمْرِ فَهُوَ جَائِزٌ سَوَاءٌ فِيهِ جَمِيعُ النَّجَاسَاتِ غَيْرُ الْمُسْكِرِ

    “Adapun berobat dengan benda najis selain khamr itu dibolehkan, untuk seluruh jenis najis, yang tidak memabukkan.”

    Lebih lanjut, Imam an-Nawawi menyebutkan tentang pentingnya memercayai pendapat tenaga kesehatan:

    قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِنَّمَا يَجُوزُ ذَلِكَ إذَا كَانَ الْمُتَدَاوِي عَارِفًا بِالطِّبِّ يَعْرِفُ أَنَّهُ لَا يَقُومُ غَيْرُ هَذَا مَقَامَهُ أَوْ أَخْبَرَهُ بِذَلِكَ طَبِيبٌ مُسْلِمٌ عَدْلٌ

    “Para ulama menyebutkan kebolehan berobat dengan bahan najis jika sang pengobat memahami betul tentang ilmu kedokteran, dan mengetahui bahwa tidak ada pengganti dari hal najis tersebut. Atau, pengobatan tersebut disampaikan oleh dokter yang beragama Islam lagi bijaksana.”

    Dari keterangan di atas, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita garis bawahi.

    Pertama, kebolehan menggunakan bahan najis dalam substansi pengobatan, jika belum didapatkan barang yang berasal dari senyawa halal. Kedua, kebolehan berobat jika tenaga kesehatan sudah menyebutkan keamanan penggunaan obat tersebut. Informasi tentang vaksin sudah banyak disebarkan dan disosialisasikan melalui media-media terpercaya dari dinas, lembaga, atau kementerian terkait. Ilmu kedokteran dan pengobatan, sudah sangat canggih dan pesat perkembangannya. Setiap obat yang dirilis dan dilegalkan pemerintah, tentu sudah melalui pengecekan komposisi, uji klinis dan uji efek samping yang ketat.

    Hukum Vaksin Covid 19

    Vaksinasi Covid-19 termasuk fardlu ain. Menjadi kewajiban yang harus dijalankan umat Islam mengingat belum ada obat yang dapat mengendalikan Covid-19 selain vaksin dan protokol kesehatan. Tidak ada alasan menolak vaksinasi sebab vaksin Covid-19 halal dan aman digunakan.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) pun sudah memastikan, vaksin Covid-19 yang digunakan telah diuji coba tahap ketiga dan telah memenuhi standar keamanan yang disyaratkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa kehalalan vaksin dengan mempertimbangkan proses hasil audit dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Makanan (LPPOM) MUI.

    Program vaksinasi ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah sekaligus meyakinkan masyarakat tentang pentingnya vaksin bagi kesehatan dan kekebalan tubuh. Mulai awal pelaksanaan vaksinasi, masyarakat juga tidak akan dikenai biaya alias gratis dan tidak ada keharusan untuk menjadi peserta BPJS.

    Dalam Buku Saku #InfoVaksin yang diterbitkan oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dijelaskan bahwa pembentukan kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit infeksi secara aktif bisa dilakukan secara alamiah melalui penderita langsung atau secara buatan melalui imunisasi dalam hal ini vaksinasi.

    Vaksin bukanlah obat. Vaksin akan membuat tubuh seseorang mengenali bakteri atau virus penyebab penyakit tertentu sehingga bila terpapar bakteri atau virus tersebut, akan menjadi lebih kebal. Cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga dapat mencegah penularan maupun keparahan suatu penyakit.

    باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

    (Abi Sorban)

  • Bumi Arema Tolak HTI

    Bumi Arema Tolak HTI

    SORBANSANTRI.COM
    Poster dan Banner Penolakan adanya HTI di malang

    SORBAN Infokom | Jika suatu kelompok radikal ekstrimis berbahaya bagi NKRI terdengar beraktivitas di suatu daerah, tentu akan membangkitkan reaksi kontra/ penolakan dari massa yang tidak ingin daerahnya terpapar virus khilafah.

    Kesadaran dan sensitifitas Arek-arek Malang terhadap isu khilafah ISIS terus diuji berkali-kali. Untuk kesekian kalinya Arek arek Malang kompak menolak aktivitas kelompok ekstrimis khilafah berkedok kajian MIUMI (sayap lain dari HTI) di Bumi Arema.

    Setelah sempat ditolak oleh pihak UNIBRAW dan Arema Dau, acara kelompok MIUMI ini dipindah ke Hotel Radho Syariah di Jalan Simpang Kawi No. 3 Bareng Kota Malang.

    [irp posts=”2047″ name=”APA SIH HIZBUT TAHRIR INDONESIA ( HTI )”]

    Informasi tentang bahaya kelompok intoleran, radikalis dan ekstrimis khilafah HTI di media sosial menambah khazanah pengetahuan Arek arek Malang untuk bergerak membersihkan Malang dari provokasi berkedok pengajian. Arek Malang ingin agar Malang Raya kondusif tidak terprovokasi oleh aktivitas kelompok HTI yang sudah dibubarkan pemerintah.

    Bahtiar Nasir (BN), pentolan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-MUI (yang sekarang berubah nama menjadi GNPF-Ulama), adalah salah satu tokoh utama Ultra radikalis yang menggerakkan massa beringas dalam demo demo berjilid-jilid di Jakarta di era Pilkada DKI lalu.

    [irp posts=”2205″ name=”Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI – ISIS”]

    BN juga dikenal kaitannya dengan kasus penggalangan dana bantuan logistik dari Indonesian Humanitarian Relief (IHR) yang terbukti bukan ditujukan kepada warga sipil di Aleppo Suriah melainkan untuk kelompok teroris, Jaish al-Islam. Baca selengkapnya di artikel “Bachtiar Nasir akan Jelaskan Dana Yayasan dan Dugaan Pencucian Uang”, https://tirto.id/dtHJ.

    Bachtiar Nasir juga pernah resmi jadi tersangka dalam kasus yang ditangani Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri. Salah satu tokoh penggerak Aksi 212 ini diduga terlibat kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dana Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS).

    Sedangkan Arek Malang dikorlapi oleh Dersi, Rohman dan Brodin menggerakkan sekitar 50-70 arek Malang termasuk Pak RW Bareng dan arek arek parkiran Bareng Raya untuk membubarkan acara ini.
    Polisi yang menjaga acara diturunkan sekitar 30 personil setelah menerima kabar akan terjadi demo penolakan.

    Dalam acara BN ini, terlihat kelompok FPI yang diduga didatangkan dari pasuruan dan Kokam Muhammadiyah nampak berjaga-jaga di depan pintu masuk hotel. Jumlah mereka sekitar 15-20 orang saja. Diduga FPI dan kokam ini bukan asli arek Malang, dan kayaknya terlihat ketakutan menerima tantangan satu lawan 4 dari Arek Malang.

    Ya, siapapun tahu jika mencoba membekingi acara kelompok HTI teroris akan berhadapan dengan militansi Arek Malang.
    Pihak warga sekitar hotel menyayangkan tidak adanya pemberitahuan acara kepada RW dan karena itulah ijin acara ini dipertanyakan arek Malang.

    Penolakan acara provokasi MIUMI berbalut tema tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) ini pertama sedianya bertempat di kampus UNIBRAW kemudian klompok MIUMI ini memindahkan acaranya di Hotel Radho Syariah depan taman rekreasi Sengkaling. Di tempat yang baru inipun kegiatan mereka itu ditolak Arek Dau, dan akhirnya di mediasi oleh Polsek Dau dan batal digelar.

    Lalu panitia acara memindahkan di Hotel Radho Kawi, tetap didemo Arek Malang hingga acara bubar pada 20.30. BN yang ketakutan berani turun keluar dari hotel pada pukul 23.19 setelah dimediasi oleh salah satu Korlap Brodin yang menjamin keamanan BN. Sedangkan peserta yang ada sekitar 150 an orang satu demi satu keluar hotel sambil diteriaki Arek Malang.

    di poster acara tertera tanggal 9 Maret 2020 yang mengundang anak-anak muda kampus menjadi santapan empuk kelompok radikal HTI. Sehari sebelumnya salah satu arek Malang yang mengetahui acara ini akan terjadi, segera memberi peringatan di medsos FB untuk membubarkan acara ilegal ini.

    Hasilnya sekian ormas kepemudaan di Malang merespon cepat dengan koordinasi bersama aparat keamanan Polresta Malang agar demo kontra acara ini tidak berakhir ricuh. (reporter EfeR)

  • KADER ANSOR BANSER DIHARAPKAN FAHAM SIYASAH

    KADER ANSOR BANSER DIHARAPKAN FAHAM SIYASAH

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – Sejak 2013 UAS merupakan kader HTI yang sampai saat ini belum kami temukan bukti otentik bahwa dia telah “Tobat”, bahkan dalam beberapa jejak digital dia pernah mengajak jama’ahnya untuk berbaiat kepada khilafah
    Kita boleh saja terkagum dengan sowannya UAS kepada para kyai sepuh jawa timur, kita juga boleh terpana dengan beredarnya foto selfi uas dengan kyai-kyai jawa timur.
    Tapi ingat! Buaya tetaplah buaya, dan ular tetaplah ular
    Jangan dikira senyumnya kader HTI sebagai pertanda i’tikad baik, tapi harus waspada itu bagian dari “Manis di bibir lain di hati”, bisa saja UAS dijadikan umpan untuk menghipnotis warga NU dengan sowan kepada para kyai Jawa Timur.
    Namun diakar rumput bawah kader HTI lainnya disuruh bergerilya menebarkan ideologinya sebagaimana kami temukan beredarnya buletin milik pengasong khilafah di masjid jami’ bangil pasuruan
    Sekali lagi tetap WASPADA! (GMNU)
  • SURAT UNTUK ADEK KU YANG CANTIK PENDUKUNG HTI

    SURAT UNTUK ADEK KU YANG CANTIK PENDUKUNG HTI

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – 
    Adek ku yang cantik pendukung HTI..
    Dek, apa kabar..?
    Senang melihatmu begitu atraktif mendukung Hizbut Thahrir.
    Adek pasti sama dengan sekian ratus pendukung Hizbut Thahrir di seluruh dunia, bermimpi tentang indahnya negeri ini ketika berada di bawah naungan khilafah.
    Tapi coba abang ingatkan dulu sebuah peristiwa..
    Adek kenal wanita yang bernama Bibi Aisha..?
    Bibi Aisha adalah gadis muda cerdas yang tinggal di Afghanistan.
    Ia sebelumnya baik-baik saja sebelum ayahnya berhutang pada organisasi Taliban.
    Taliban ini adalah pendukung khilafah, sama seperti yang Hizbut Thahrir lakukan.
    Mereka punya keyakinan yang sama.
    Akhirnya Bibi Aisha dikawinkan paksa pada usia 14 tahun, justru saat dia sedang menikmati masa remajanya.
    Dan adek tahu apa yang terjadi pada Bibi Aisha..?
    Dia dihajar habis oleh suaminya, karena konsep khilafah yang mereka yakini tidak mengenal wanita sebagai pendamping, hanya aksesori.
    Bibi Aisha kabur dari suaminya tetapi ia tertangkap.
    Dan tahu apa yang dialami Bibi Aisha, dek..?
    Hidungnya yang mancung dipotong oleh suaminya dan Bibi Aisha ditinggal dalam kondisi koma karena kekurangan darah.
    Untunglah ia ditemukan oleh orang baik dan dilarikan ke rumah sakit.
    Wajah Bibi Aisha dengan hidungnya yang hilang kemudian menjadi cover majalah Time tahun 2010 dan ia bercerita tentang kehidupan di Afghanistan pasca penguasaan kelompok Taliban yang meyakini negara Islam.
    Penderitaan Bibi Aisha juga yang diderita para wanita di Nigeria yang diculik oleh kelompok Boko Haram yang meyakini konsep khilafah yang sama.
    Jangan tanya apa yang dilakukan ISIS kepada wanita dan para gadis yang bahkan belum matang di Irak dan Suriah.
    Mereka habis-habisan diperkosa..
    Adekku yang cantik..
    Adek harusnya bersyukur tinggal di negeri tercinta ini.
    Negeri indah yang memuliakan wanita.
    Mendorong wanita supaya bisa setara dengan pria.
    Memberikan pendidikan yang sama tanpa membedakan siapa dia.
    Banyak pahlawan wanita disini, yang terkenal salah satunya adalah RA Kartini, yang berjuang untuk mendapatkan sisi yang sama dengan para lelaki.
    Adek bisa masih cantik dan bebas bersuara karena konsep dan sistem Pancasila di negeri ini.
    Jika Indonesia menjadi negeri Islam seperti yang adek dambakan, adek sudah pasti tidak bisa turun ke jalan apalagi bersuara keras seperti sekarang yang adek lakukan.
    Adek bisa-bisa sudah dikawinkan sejak dini dan harus patuh pada suami untuk tidak boleh kemana-mana, bahkan untuk shopping keluar saja.
    Belum lagi mengalami kekerasan..
    Adekku yang cantik boleh-boleh saja bermimpi tentang negara Islam, tetapi manakah di dunia ini yang sudah menerapkan sistemnya..?
    Belum ada dek.., karena mengerikan.
    Bahkan negara sekelas Arab Saudi saja masih monarkhi, dan dari penerapan syariat mereka wanita berada di kelas dua.
    Mereka baru boleh menyetir mobil sendiri baru-baru saja.
    Bukan karena Saudi menghormati wanita, tapi karena ekonomi mereka sedang berada pada titik terendah dan penerapan supir untuk wanita membebani kas negara.
    Jadi adek seharusnya cukup bersyukur saja bahwa adek ada di tempat yang memuliakan wanita.
    Negeri Indonesia adalah surganya.
    Tidak perlu ribut menggantinya dengan sistem yang bahkan adek tidak mengerti dampaknya.
    Mungkin Bibi Aisha dan banyak wanita lain di dunia yang ditindas dengan sistem khilafah yang salah akan berseru..,
    “Hai cantik… Nikmat Tuhan manakah yang kau ingkari dengan hidup di negeri seperti Indonesia ini..?
    Lihatlah kami, diri kami ditindas setiap hari karena kearoganan sebuah sistem yang menjadikan wanita sebagai aksesori.
    Bersyukurlah, apakah tidak cukup bagimu semua ini..?”
    Adekku yang cantik, belajarlah dengan baik.
    Jadilah wanita yang bisa mengangkat derajat dan harkat sesamamu nanti.
    Tidak usah meributkan hal yang tidak kau mengerti.
    Biar kami yang menjaga negeri ini dan cukuplah dirimu mendukung perjuangan kami menjaga dirimu, kaum wanita sepertimu dan ibu pertiwi.
    Salam dari abang
    (sumber)
  • KHILAFAH PROYEK GAGAL BUZZERS HTI

    KHILAFAH PROYEK GAGAL BUZZERS HTI

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – 10 tahun lalu terjadi demonstrasi besar-besaran di Kairo Mesir berhasil menurunkan Husni Mubarak dari kursi kepresidenan setelah ia menjadi presiden selama 30 tahun. Demo besar-besaran di Arab kala itu menjadi fenomena yang disebut dengan Arab Spring.
    Saya menonton di televisi berita-berita demonstrasi tresebut dari pesantren At-Taqwa Tanjung Pandan Belitung. Rumor yang berkembang, demonstrasi diorganisir dan diikuti oleh kelompok kiri dan Ikhwanul Muslimin. Hizbut Tahrir tidak tampak. Hanya ada foto orang sejumlah hitungan jari tangan yang membawa bendera Hizbut Tahrir di tengah lautan manusia.
    Awal 2011 saya masih tercatat sebagai anggota Hizbut Tahrir. Dalam benak saya, seharusnya, demo-demo besar tersebut diorganisir oleh Hizbut Tahrir Mesir dan lautan manusia di sana adalah para pendukung dan anggota Hizbut Tahrir. Karena Hizbut Tahrir masuk Mesir dibawa langsung oleh pendirinya Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1950-an, sehingga massanya sudah banyak dan cukup untuk menggoyang kursi Presiden Mesir.
    Selama ini, kami diopinikan bahwa Hizbut Tahrir di Arab itu besar. Pendukung dan anggotanya banyak. Para pengurusnya sangat solid. Akan tetapi Hizbut Tahrir tidak dapat menunjukkan kebesarannya karena tekanan penguasa. Hizbut Tahrir tidak eksis di Arab bukan karena ajaran, doktrin, ide dan metode Hizbut Tahrir yang salah. Jadi, di Arab Hizbut Tahrir tidak ada masalah dengan pemikiran, tetapi politik penguasalah yang membuat mereka terlihat kecil.
    Fakta Arab Spiring membuka mata saya, bahwa sebenarnya Hizbut Tahrir di Arab memang ditolak karena pemikirannya, bukan karena tekanan penguasa. Di Arab berdiri kokoh kampus-kampus tua (yang telah melahirkan ratusan ribu ulama tersohor kelas dunia yang diakui kealiman, kejujuran dan ke-zuhud-annya. Tapi, mereka tidak menjadi pendukung dan anggota Hizbut Tahrir. Bahkan menjadi penentangnya. Sangat sulit jika mau dikatakan mereka menentang kebenaran dan penolak syariat Allah swt.
    Fakta yang sama juga terjadi di Indonesia. Di Indonesia, selama 23 tahun (1998 – 2021), Hizbut Tahrir leluasa menyebarkan paham di dunia maya dengan menggunakan berbagai macam nama website, blog dan akun media sosial. Aktivis HTI semuanya menjadi buzzers khilafah. Mereka aktif membagikan konten di media sosial yang merupakan ruang publik utama di era sekarang.
    Perilaku buzzers khilafah umumnya hanya mem-posting. Enggan menanggapi komentar, bantahan, kritik dan sanggahan netizen. Apalagi diajak adu argumen. Mereka menanggapinya dengan menyerang balik netizen, mengalihkan topik atau mem-posting konten baru, yang pada intinya mereka menghindar. Mengapa demikian? Karena konten yang disebarkan oleh buzzers khilafah bermuatan dis- dan mis-informasi.
    Ada tujuh dis- dan mis-informasi:
    1. Satire, yaitu, tidak ada niat untuk mengelabui tapi berpotensi merugikan.
    2. Konten yang menyesatkan, yaitu, penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu.
    3. Konten tiruan, yaitu, ketika sebuah sumber ditiru.
    4. Konten palsu, yaitu, ketika informasi 100% salah didesain untuk menipu.
    5. Koneksi yang salah, yaitu, ketika judul atau gambar tidak sesuai dengan konten.
    6. Konten yang salah, yaitu, ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah.
    7. Konten yang dimanipulasi, yaitu, ketika gambar atau konten yang salah dimanipulasi untuk menipu. (MY. Alimi, 2018: 82).
    Mudah sekali bagi netizen mendeteksi dis- dan mis-informasi dari konten yang disebarkan oleh buzzers khilafah. Media sosial adalah ruang publik paling demokratis, independen dan netral saat ini. One man one voice. Setiap orang boleh menyatakan dan menyampaikan tentang dirinya ke orang lain tanpa batas selain batas moral dan hukum. Tidak ada batasan bagi nalar netizen, selain nalar netizen lain yang lebih akurat. Di media sosial nalar publik menjadi “hakim” yang imparsial.
    Ide khilafah yang diviralkan oleh buzzers HTI ditolak publik karena ide tersebut tidak akurat. Hujjah-nya lemah. Nalar publik sulit menerima khilafah sebagai solusi semua problematika umat manusia. Penolakan publik atas ide khilafah, bukan karena dibayar dan atas tekanan penguasa. Penolakan itu murni dari akal sehat netizen. Tidak saja di Indonesia, tetapi juga di Arab dan seluruh dunia. (abi sorban)
  • BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR

    BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – Akhir-akhir ini kita jumpai banyak orang HTI yang dandanannya tidak mencerminkan kondisinya. Misalnya bukan alumni Al-Azhar berdandan ala Azhari. Bukan kiai berdandan ala kiai. Bukan habib berdandan ala habaib. Ada lagi dandanan tidak serasi dengan fikrah yang dianutnya. Misalnya bersarung ala kiai Aswaja Nahdliyah, tapi menyuarakan khilafah. Bersorban ala Habaib tapi membenci ulil ‘amri.
    Ada juga yang menghiasi dirinya dengan mengenakan gelar-gelar keagamaan seperti ajengan, buya, kiai, tuan guru, guru dan sebagainya tapi kualitas ilmu, adab, akhlak dan ruhiyahnya jauh dari mencerminkan gelar-gelar tersebut. Gelar-gelar keagamaan diberikan masyarakat sebagai bentuk pengakuan atas kualitas orang yang digelari. Gelar-gelar itu tidak bisa diberikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain yang satu komunitas.
    Sudah bisa ditebak, motivasi di balik dandanan dan bergelar keagamaan yang dikenakan oleh ustadz yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi itu adalah suatu bentuk penipuan. Yang jelas, yang pertama kena tipu adalah dirinya sendiri, baru kemudian ada orang-orang awam ikut tertipu.
    Keserasian dandanan dengan kondisi seseorang menunjukkan kejujurannya. Di dalam kitab Lathaiful Minan, diceritakan bahwa ada seorang ahlu shuffah yang meninggal dunia. Di sampingnya ditemukan dua keeping dinar. Melihat itu Rasulullah saw bersabda, “ini dua barang di neraka.”
    Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy mengatakan bahwa banyak orang yang meninggal dunia pada masa Rasulullah saw dalam keadaan meninggalkan harta, namun Rasulullah saw tidak berkomentar seperti komentar di atas. Sebab, mereka tidak menyembunyikan sesuatu yang berlawanan dengan penampilan lahirnya. Sementara orang itu menampakkan kemiskinan padahal memiliki dua dinar. Ketika apa yang disembunyikannya tampak, Rasulullah saw berujar, “ini dua barang dari neraka”
    Ada cerita menarik tentang kejujuran ulama waliyullah dalam berdandan. Abul Qasim al-Junaid seorang waliyullah pemuka para sufi guru al-Hallaj. Sewaktu para ulama syariat sepakat untuk menghukum al-Hallaj, al-Junaid sedang mengenakan jubah sufi. Karena itu ia tidak mau membubuhkan tanda tangan. Tapi Khalifah mengatakan mereka butuh tanda tangan al-Junaid.
    Lalu al-Junaid pulang dan ganti pakaian dengan sorban dan jubah ulama syariat. Setelah itu al-Junaid menandatangani putusan para ulama syariat tersebut. Al-Junaid menulis: “Kami memutuskan berdasarkan hal-hal yang terlihat. Sementara tentang kebenaran yang terbenam di dalam kalbu, hanya Allah yang Maha Tahu.” Kisah ini diceritakan Syaikh Fariduddin al-Attar di dalam kitab Tadzkiratul Auliya Bab al-Hallaj.
    Amal akan diterima jika dilakukan dengan benar dan jujur (shidq). Kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah: “Jika kau menghendaki pahala untuk suatu amal, kau dituntut untuk mengerjakannya dengan benar dan jujur (shidq).” Sebab, balasan tidak akan diberikan kecuali untuk amal yang sempurna dari sisi wujud amal itu sendiri dan dari sisi niatnya. Semua terkandung dalam kata shidq yang berarti benar dan jujur, jelas Syaikh Zarruq di dalam syarah al-Hikam-nya.
    Amal yang manipulatif dengan dandanan dan gelar keagamaan yang tidak sesuai, terlihat seolah-olah sedang mengerjakan ketaatan, akan tetapi belum tentu diterima. Lebih lanjut Syaikh Ibnu ‘Athaillah bertutur, “Mungkin Dia membukakan untukmu pintu taat, dan tidak membukakan untukmu pintu penerimaan.” Kata Syaikh Zarruq, “amal tanpa penerimaan adalah seperti tidak beramal.” Na’udzubillah min dzalik. (abi sorban)
  • HARUSKAH NEGARA MEMULANGKAN ISIS ?

    HARUSKAH NEGARA MEMULANGKAN ISIS ?

    InfokomBanserNU- Pasca jatuhnya ISIS di Suriah, gelombang pengungsi semakin banyak yang memasuki wilayah sekitar Suriah, seperti Turki. Perlahan keluarga yang dulunya hidup dalam naungan khilafah ISIS mencari tempat perlindungan baru.

    Tak terkecuali warga negara Indonesia yang sempat berdatangan ke Suriah dengan dalih jihad. Berdasarkan data ICSR sejak kejayaan hingga kejatuhan ISIS, mengungkapkan dari total 700-an sampai 800-an WNI simpatisan ISIS di Suriah, sekitar 113 orang adalah perempuan dan 100 orang adalah anak-anak.

    Dari angka itu, sekitar 54 perempuan dan 60 anak terdeteksi telah kembali ke Indonesia. Total yang kembali pulang ke Indonesia (returnee) antara 183 hingga 300 orang. Hampir di setiap kamp pengungsian, terdapat warga negara Indoensia, seperti wilayah pengungsian al-Hol. Di sana, sebanyak 50 WNI mengungsi menunggu nasib yang belum jelas.

    Namun keberadaan para WNI di ISIS tidak jarang membuat mereka menyesal. Ternyata system khilafah tidak seindah jualannya. Kata syair lagu dangdut, “Surga yang engkau Janjikan, Neraka yang kau berikan”.
    Betapa tidak, hidup di wilayah perang tidak ada enaknya. Tiap hari yang terdengar hanya desingan peluru dan bom. Hidup pun tidak menentu, apakah hari ini nyawa melayang atau masih bertahan.

    Makanya, penyesalan WNI yang ada di Suriah tidak terbendung lagi. Pilihan satu satunya mereka saat ini adalah bagaimana bisa kembali ke Indonesia. Tapi nampaknya Pemerintah Indoensia tidak semudah itu akan mengembalikan dan menerima eks kombatan ISIS beserta keluarga.

    Beragam suara penolakan dari masyarakat tanah air. Bagi yang menolak, kombatan ISIS yang balik ke Indonesia akan lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.
    Tidak ada jaminan mereka akan menyebarkan faham khilafah ISIS yang akan membahayakan masyarakat Indonesia. Katanya, Mereka telah memilih untuk hengkang dari NKRI artinya sudah siap untuk melepas warga negaranya dan bergabung ke ISIS sebagai system hidupnya.
    Kelompok afiliasi ISIS di Indonesia saja sudah cukup meresahkan, apatah lagi jika kombatan tersebut kembali.

    Sementara Pemerintah sendiri masih pikir-pikir untuk memulangkan mereka. Kendati ada semacam lampu hijau dari para pengambil kebijakan. Kepala BNPT, Suhardi Alius berpendapat bahwa tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua kepada anak-anak simpatisan ISIS yang ingin kembali ke Indonesia.

    Demikian juga Mantan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu menyatakan bahwa negara siap mengembalikan mereka asal berjanji untuk setia pada Pancasila dan NKRI. Salah satu alasan atau pembenaran negara dalam menerima kembali WNI yang terlunta-lunta di Suriah adalah adanya pergeseran pola pikir dari mereka. Pengalaman derita yang telah mereka dapatkan selama di Suriah cukup menjadi pembelajaran untuk sadar bahwa hidup di Indonesia sangat damai dan nyaman.

    Namun apa pun itu, kita berharap agar Pemerintah Indoensia cermat dalam mengambil keputusan. Sebab dua hal yang harus dipastikan oleh negara jika memutuskan untuk memulangkan WNI dari Suriah.
    Pertama, bagaimana memastikan ideology mereka untuk bisa kembali ke pangkuan Pancasila dan NKRI.
    Kedua, memberikan skema penerimaan dari masyarakat. Sebab, masyarakat tentu akan sulit menerima mereka. Stigma sebagai teroris akan selalu melekat.
    Yang kasihan adalah keluarga para kombatan, anak dan istri mereka yang masih punya masa depan dan cita-cita.

    KESIMPULAN

    1. ISIS adalah pecahan dari kelompok al-Qaeda, yang jauh lebih ekstrim dan sadis dalam melakukan  pembunuhan dari kelompok al-Qaeda lainnya.
    2. Mereka lebih tepat untuk disebut sebagai Khawarij kontemporer yang harus dicegah dan diantipasi perkembangannya.
    3. ISIS adalah kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam baik secara doktrin maupun prilaku.
    4. Segala sikap dan prilaku mereka tidak boleh disandarkan kepada Islam, apalagi dikatakan sebagai ajaran Islam.
    5. Setiap muslim hendaknya melakukan kewaspadaan diri dan keluarga mereka dari pengaruh doktrin dan gerakan ISIS. Wallahu mustaan

    (SANTRI NU INDONESIA)

    #GMNUCyberTeam

  • SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    InfokomBanserNU- Snouck Hurgronje adalah mata2 imperialisme Belanda. Ia disusupkan utk menghancurkan kekuatan kaum pejuang yg mayoritas beragama Islam. Mengapa rakyat Indonesia sulit ditaklukkan?

    Snouck menemukan jawabannya. Tak lain dan tak bukan, kekuatan itu terletak pada semangat agamanya. Agama yang mengajarkan utk mencintai tanah air. Agama yg menyuntikkan dimensi jihad utk mengusir segala bentuk kolonialisme.

    Lalu Snouck mempelajar Islam. Budaya Islam. Tradisi Islam. Bahkan detail2 etos spiritualitas yg membuat bangsa Indonesia begitu gigih berjuang.

    Bukan berhenti di situ. Snouck pun mempelajari pangkal utama ajaran agama tsb. Ia hafal Al-Quran 30 juz. Ia juga mempelajari kitab2 hadits yg mu’tabarah, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kutubus sittah lainnya. Bahkan, Snouck hafal sebagian besar hadits2 tsb di luar kepala.

    Lalu apa tujuan Snouck? Tak lain adalah utk menghancurkan Islam dari dalam. Tanpa menafikan kekuatan dan perjuangan agama lain, tapi dengan menggerogoti kekuatan Islam, maka perjuangan rakyat Indonesia terhadap kolonial Belanda relatif akan lemah, dan akan mudah dihancurkan.

    Inilah yg disebut orientalisme. Mempelajari Islam bkn utk mendapatkan hidayah, melainkan utk menghancurkannya. Dengan begitu, menguasai Nusantara hanya soal waktu saja. Nusantara, akan dg mudah dikuasai.

    Zaman berubah musim pun berganti..

    Sekarang terbitlah Felix Siauw, sang muallaf yg baru sekitar th 2002 memeluk Islam. Felix tdk perlu menghafalkan Al quran dan mempelajari hadits scr detail layaknya Snouck. Itu butuh waktu lama.

    Dengan kemampuannya mengolah kata, Felix ibarat mercusuar. Ia segera mendapatkan simpati dan pengikut yg relatif banyak dari kalangan generasi muda islam berusia tanggung, anak2 muda yg blm mengenal banyak hal tentang agama. Anak remaja yg msh labil dan mencari jati diri.

    Tidak perlu waktu lama, Felix segera menjadi tokoh penting di lingkungan HTI. Ia pun segera memulai menjalankan misi propaganda pecah belah. Ia gelorakan ide khilafah yg sangat gila dan paling tdk masuk akal itu.

    Laju gerakan Felix seperti tak terbendung. Ia segera mengkampanyekan bhw nasionalisme itu tdk ada dalil dan dasarnya dlm Islam.

    Mafhum mukhalafahnya adalah, mencintai tanah air itu tdk penting. Yang penting adalah islam. Padahal negeri ini didirikan berdasarkan kesepakatan segenap komponen bangsa dan agama yg beragam. Semua bersatu dlm satu ikatan Nasional, Indonesia..!

    Sepintas gagasan itu benar. Tapi sangat menipu dan penuh kamuflase. Bagaimana dpt menegakkan Islam jika negara (state) dan bangsa (nation) hancur berantakan? Padahal Imam Al-Ghazsli pernah menyebut, pemerintahan negara dan misi kenabian ibarat saudara kembar.

    Saya yakin, Felix tahu persis, bhw jika Pancasila diganti, dan sistem khilafah berdiri di bumi Nusantara, maka sekeping tanah surga yg bernama Indonesia akan berubah menjadi neraka. Perang saudara akan terjadi. Papua, Makasar, Bali, Aceh, dst, akan segera memproklamasikan diri lepas dari Indonesia. Dan di atas pangkuan ibu pertiwi, akan menjadi ladang pembantaian. Sesama anak negeri akan saling memangsa..!

    Indonesia negeri damai, yg didirikan oleh para founding fathers dg genangan darah dan air mata, akan terkoyak dlm kepingan2 kecil. Indonesia pun, akan menjelma seperti kawasan Syiria, Irak, Afganistan, dan libiya, yg tak pernah bisa tidur dg nyenyak, dan tak sempat membangun mimpi masa depan, karena di daratan dan udara, terdengar desing peluru dan mesiu yg memekakkan telinga.

    Dengan begitu, ide2 Felix adalah mesin penghancur terhadap pemikiran para founding fathers negeri ini. Dasar2 keagamaan para ulama dan cendekiawan muslim, seperti Qurays Sihab, Gus Mus, Cak Nur, dicampakkan begitu saja.

    Sebagai seorang muallaf, Felix telah melampaui batas dan kapasitas intelektual pas-pasan yg ia miliki. Melalui medan dakwah, ia suntikkan virus perpecahan, benih2 anti nasionalisme, dst.

    Dengan congkak ia berani mengibaratkan pemerintahan Jokowi sbg rezim Firaun yg membunuh anak laki2, lantaran Jokowi menerbitkan Perppu Ormas, Felix telah memecah belah elemen bangsa, dan sesama umat.

    Pertanyaan besarnya adalah, misi apa gerangan yg dibawa Felix?

    Sama halnya misi Snouck Hurgronje yg baru diketahui 100 tahun kemudian, maka misi mendasar dari Felix tdk mudah utk diketahui saat ini. Tapi 100 tahun di kemudian hari, ketika keutuhan NKRI berhasil dicabik-cabik, ktk seluruh anak bangsa hanya bisa meratapi kekonyolannya, maka barulah sejarah akan mengetahui itu.

    Benturan antar peradaban seperti disinyalir oleh Huntington, bkn isapan jempol belaka. Itu memang nyata. Dan Indonesia, yg memiliki potensi kekuatan besar dunia setelah Cina, menjadi sasaran utama penghancuran.

    Apakah Felix adalah Snouck Hurgronje dalam wujud yg beda? Entahlah.. Yang jelas, para pemilik suara lantang ‘anti china’ sangat ditunggu teriakan lantangnya ‘anti felix’.
    Mungkinkah itu terjadi?

    Wallahu A’lam..

  • SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    Snouck Hurgronje adalah mata2 imperialisme Belanda. Ia disusupkan utk menghancurkan kekuatan kaum pejuang yg mayoritas beragama Islam. Mengapa rakyat Indonesia sulit ditaklukkan?

    Snouck menemukan jawabannya. Tak lain dan tak bukan, kekuatan itu terletak pada semangat agamanya. Agama yang mengajarkan utk mencintai tanah air. Agama yg menyuntikkan dimensi jihad utk mengusir segala bentuk kolonialisme.

    Lalu Snouck mempelajar Islam. Budaya Islam. Tradisi Islam. Bahkan detail2 etos spiritualitas yg membuat bangsa Indonesia begitu gigih berjuang.

    Bukan berhenti di situ. Snouck pun mempelajari pangkal utama ajaran agama tsb. Ia hafal Al-Quran 30 juz. Ia juga mempelajari kitab2 hadits yg mu’tabarah, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kutubus sittah lainnya. Bahkan, Snouck hafal sebagian besar hadits2 tsb di luar kepala.

    Lalu apa tujuan Snouck? Tak lain adalah utk menghancurkan Islam dari dalam. Tanpa menafikan kekuatan dan perjuangan agama lain, tapi dengan menggerogoti kekuatan Islam, maka perjuangan rakyat Indonesia terhadap kolonial Belanda relatif akan lemah, dan akan mudah dihancurkan.

    Inilah yg disebut orientalisme. Mempelajari Islam bkn utk mendapatkan hidayah, melainkan utk menghancurkannya. Dengan begitu, menguasai Nusantara hanya soal waktu saja. Nusantara, akan dg mudah dikuasai.

    Zaman berubah musim pun berganti..

    Sekarang terbitlah Felix Siauw, sang muallaf yg baru sekitar th 2002 memeluk Islam. Felix tdk perlu menghafalkan Al quran dan mempelajari hadits scr detail layaknya Snouck. Itu butuh waktu lama.

    Dengan kemampuannya mengolah kata, Felix ibarat mercusuar. Ia segera mendapatkan simpati dan pengikut yg relatif banyak dari kalangan generasi muda islam berusia tanggung, anak2 muda yg blm mengenal banyak hal tentang agama. Anak remaja yg msh labil dan mencari jati diri.

    Tidak perlu waktu lama, Felix segera menjadi tokoh penting di lingkungan HTI. Ia pun segera memulai menjalankan misi propaganda pecah belah. Ia gelorakan ide khilafah yg sangat gila dan paling tdk masuk akal itu.

    Laju gerakan Felix seperti tak terbendung. Ia segera mengkampanyekan bhw nasionalisme itu tdk ada dalil dan dasarnya dlm Islam.

    Mafhum mukhalafahnya adalah, mencintai tanah air itu tdk penting. Yang penting adalah islam. Padahal negeri ini didirikan berdasarkan kesepakatan segenap komponen bangsa dan agama yg beragam. Semua bersatu dlm satu ikatan Nasional, Indonesia..!

    Sepintas gagasan itu benar. Tapi sangat menipu dan penuh kamuflase. Bagaimana dpt menegakkan Islam jika negara (state) dan bangsa (nation) hancur berantakan? Padahal Imam Al-Ghazsli pernah menyebut, pemerintahan negara dan misi kenabian ibarat saudara kembar.

    Saya yakin, Felix tahu persis, bhw jika Pancasila diganti, dan sistem khilafah berdiri di bumi Nusantara, maka sekeping tanah surga yg bernama Indonesia akan berubah menjadi neraka. Perang saudara akan terjadi. Papua, Makasar, Bali, Aceh, dst, akan segera memproklamasikan diri lepas dari Indonesia. Dan di atas pangkuan ibu pertiwi, akan menjadi ladang pembantaian. Sesama anak negeri akan saling memangsa..!

    Indonesia negeri damai, yg didirikan oleh para founding fathers dg genangan darah dan air mata, akan terkoyak dlm kepingan2 kecil. Indonesia pun, akan menjelma seperti kawasan Syiria, Irak, Afganistan, dan libiya, yg tak pernah bisa tidur dg nyenyak, dan tak sempat membangun mimpi masa depan, karena di daratan dan udara, terdengar desing peluru dan mesiu yg memekakkan telinga.

    Dengan begitu, ide2 Felix adalah mesin penghancur terhadap pemikiran para founding fathers negeri ini. Dasar2 keagamaan para ulama dan cendekiawan muslim, seperti Qurays Sihab, Gus Mus, Cak Nur, dicampakkan begitu saja.

    Sebagai seorang muallaf, Felix telah melampaui batas dan kapasitas intelektual pas-pasan yg ia miliki. Melalui medan dakwah, ia suntikkan virus perpecahan, benih2 anti nasionalisme, dst.

    Dengan congkak ia berani mengibaratkan pemerintahan Jokowi sbg rezim Firaun yg membunuh anak laki2, lantaran Jokowi menerbitkan Perppu Ormas, Felix telah memecah belah elemen bangsa, dan sesama umat.

    Pertanyaan besarnya adalah, misi apa gerangan yg dibawa Felix?

    Sama halnya misi Snouck Hurgronje yg baru diketahui 100 tahun kemudian, maka misi mendasar dari Felix tdk mudah utk diketahui saat ini. Tapi 100 tahun di kemudian hari, ketika keutuhan NKRI berhasil dicabik-cabik, ktk seluruh anak bangsa hanya bisa meratapi kekonyolannya, maka barulah sejarah akan mengetahui itu.

    Benturan antar peradaban seperti disinyalir oleh Huntington, bkn isapan jempol belaka. Itu memang nyata. Dan Indonesia, yg memiliki potensi kekuatan besar dunia setelah Cina, menjadi sasaran utama penghancuran.

    Apakah Felix adalah Snouck Hurgronje dalam wujud yg beda? Entahlah.. Yang jelas, para pemilik suara lantang ‘anti china’ sangat ditunggu teriakan lantangnya ‘anti felix’.
    Mungkinkah itu terjadi?

    Wallahu A’lam..

  • Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI – ISIS

    Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI – ISIS

    INFOKOM BANSER NU –

    ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yg mereka miliki adalah sesuai dg Liwa dan rayah-nya Rasulullah. Benarkah? enggak! Kalau klaim mereka benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya? Ayoooo

    Secara umum hadits-hadits yg menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya itu tidak berkualitas shahih. Riwayatnya pun berbeda-beda: ada yg bilang hitam saja, ada yg bilang putih saja, ada riwayat yg bilang hitam dan putih, malah ada yang bilang merah dan juga kuning. Riwayat lain bendera itu gak ada tulisan apa-apa. Jadi gak ada tulisan tauhidnya, cuma kosong saja. Riwayat lain bilang ada tulisan tauhidnya. Riwayat seputar ini banyak sekali, dan para ulama sudah memberikan penilaian. Secara umum tidak berkualitas sahih.

    Dalam sejarah Islam juga kita temukan fakta yang berbeda lagi. Ada yg bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai hitam, dan pernah juga berwarna putih. Apa mau bilang para Khalifah ini tidak mengikuti bendera Rasul? Ribet kan!

    Jadi yang mana bendera khilafah? Yah tergantung anda mau merujuk ke Khilafah Umayyah atau Abbasiyah? Gak ada hal yang baku soal bendera ini. Coba saja buka kitab Ahkamus Sulthaniyah karya Imam Mawardi: apa ada pembahasan soal bendera negara Khilafah? Enggak ada! Kenapa yang gak ada terus mau diada-adakan seolah menjadi urusan syariat? Mau bilang Imam al-Mawardi gak paham soal ini? Nah, tambah ribet kan!

    Konteks bendera dan panji dipakai Rasul itu sewaktu perang untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara. Jadi kalau ISIS dan HTI tiap saat mengibarkan liwa dan rayah, emangnya kalian mau perang terus? Kok kemana-mana mengibarkan bendera perang?

    Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera merah putih. Masak ada negara dalam negara?! Ini namanya makar! Bahkan ada tokoh HTI yang mempertanyakan apa ada haditsnya bendera RI yang berwarna merah-putih? Nah kan, kelihatan makarnya, sudah mereka tidak mau menerima Pancasila dan UID 1945, sekarang mereka juga menolak bendera merah-putih. Jadi, yang syar’i itu bendera HTI, begitu maunya mereka, padahal urusan bendera ini bukan urusan syari’at.

    Sekarang bagaimana status hadits soal bendera ini? Kita bahas singkat saja biar gak makin ribet membacanya.

    Hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yg bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih itu dhaif. Mengapa demikian? Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yg dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.

    Riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah itu dhaif karena kata Imam Bukhari rawi yg namanya Muhammad bin Abi Humaid itu munkar.

    Riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas menurut Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, sanadnya lemah sekali.

    ‎وجنح الترمذي إلى التفرقة فترجم بالألوية وأورد حديث جابر ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض ” ثم ترجم للرايات وأورد حديث البراء ” أن راية رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت سوداء مربعة من نمرة ” وحديث ابن عباس ” كانت رايته سوداء ولواؤه أبيض ” أخرجه الترمذي وابن ماجه ، وأخرج الحديث أبو داود ، والنسائي أيضا ، ومثله لابن عدي من حديث أبي هريرة ، ولأبي يعلى من حديث بريدة ، وروى أبو داود من طريق سماك عن رجل من قومه عن آخر منهم ” رأيت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم صفراء ” ويجمع بينها باختلاف الأوقات ، وروى أبو يعلى عن أنس رفعه ” أن الله أكرم أمتي بالألوية ” إسناده ضعيف ، ولأبي الشيخ من حديث ابن عباس ” كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد رسول الله ” وسنده واه

    Kalau sudah Ibn Hajar yang komentar soal hadits, HTI dan ISIS mau ngeles apa lagi? Jangan marah sama saya, saya hanya mengutip pendapat Ibn Hajar yang otoritasnya dalam ilmu Hadits sangat diakui dalam dunia Islam. Kalau ada ulama yg menyatakan hadits Abu Syeikh ini sahih, ya silakan saja. Saya lebih percaya dengan Ibn Hajar daripada dengan ulama HTI.

    Komentar Ibn Hajar di atas itu telak sekali. Semoga ini membuka mata para kader HTI, yang sudah dibubarkan pemerintah itu. Bendera HTI dan juga ISIS tidak memliki landasan yang kuat. Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita mengangkat bendera semacam itu; tidak ada kesepakatan mengenai warnanya, dan apa ada tulisan atau kosong saja, dan tidak ada kesepakatan dalam praktek khilafah jaman dulu, serta para ahli Hadits seperti Ibn Hajar menganggap riwayatnya tidak sahih.

    Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu berbeda dengan di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul, tulisan al-Qur’an belum ada titik, dan khatnya masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kenapa ayo? Kan sama2 mengklaim bendera Islam? Itu karena tulisan khat-nya rekaan mereka saja. Gak ada contoh yg otentik dan sahih bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan alias imajinasi orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yg tidak sahih

    Jadi jangan mau dibohongin yah sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS.

    Perkara ini bukan masuk kategori syari’ah yg harus ditaati. Gak usah ragu menurunkan bendera HTI dan ISIS. Itu bukan bendera Islam, bukan bendera Tauhid.

    Tapi ada tulisan tauhidnya? Masak kita alergi dengan kalimat tauhid? Itu hanya akal-akalan mereka saja. Untuk mengujinya gampang saja, kenapa HTI gak mau mengangkat bendera ISIS dan kenapa orang ISIS tidak mau mengibarkan bendera HTI padahal sama-sama ada kalimat Tauhid-nya? Itu karena sifat sebuah bendera di masa modern ini sudah merupakan ciri khas perangkat dan simbol negara. Misalnya warga Indonesia tidak mau mengangkat bendera Belanda atau lainnya. Bukan karena benci dengan pilihan warna bendera mereka, tapi karena itu bukan bendera negara kita.

    Bendera itu merupakan ciri khas sebuah negara. Apa HTI dan ISIS mau mengangkat bendera berisikan kalimat Tauhid yang khat dan layout-nya berbeda dengan ciri khas milik mereka? Atau angkat saja deh bendera Arab Saudi yang juga ada kalimat Tauhidnya. Gimana? Gak bakalan mau kan. Karena bendera sudah menjadi bagian dari gerakan mereka. Maka jelas bendera ISIS dan HTI bukan bendera Islam, bukan bendera Rasul, tapi bendera ISIS dan HTI.

    Itu sebabnya Habib Luthfi bin Yahya dengan tegas meminta bendera HTI diturunkan dalam sebuah acara. Mursyid yang juga keturunan Rasulullah ini paham benar dengan sejarah dan status hadits soal bendera ini.

    Saya ikut pendapatnya Imam Ibn Hajar dan ikut sikap Habib Luthfi.

    Tabik,

    SUMBER Nadirsyah Hosen