Tag: hti

  • APA SIH HIZBUT TAHRIR INDONESIA ( HTI )

    APA SIH HIZBUT TAHRIR INDONESIA ( HTI )

    🔥Hizbut tahrir (HT)🔥= sebuah partai politik yg berideologi Islam, bukan organisasi kerohanian, bukan pula lembaga ilmiah ataupun akademis.

    🥊👉HT didirikan 1952 M, di lebanon oleh syekh Taqiyyuddin an-Nabhani, dan masuk ke Indonesia tahun 1972. Pendiri hizbut tahrir berpindah2 dari Yordania, Syiria, dan lebanon. Namun wafatnya Sang Pendiri itu di Bairut.🤹‍♂
    Sumber
    (الموسوعة الميسرة, ج 1 ص 341)
    حِزب التحرير حزب سياسي إسلامي يدعو إلى تبني مفاهيم الإسلام وأنظمته وتثقيف الناس به والدعوة إليه والسعي جديا لإقامة دولة الخلافة الإسلامية معتمدا الفكر أداة رئيسة في التغيير.
    مدن فلسطين.
    👆👆

    HTI beranggapan bhw umat Islam jaman now hidup dalam Darul kufur yg serupa dgn kehidupan di mekkah (sebelum hijrah ke madinah)

    ⏯🤜Tahapan dakwah, HTI🤛⏪
    1.Tahap pembinaan & pengkaderan
    2.Tahapan berinteraksi dgn umat agar ikut memikul kegiatan dakwahnya
    3.Tahap pengambilan kekuasaan untuk menerapkan Islam kaffah katanya HT sih.. Pdhl Islam kaffah itupun sendiri mereka g mudeng blass😂😂🐍🐍

    ⏭Vonis: HT itu stlh agenda mereka gagal kemerdekaan Palestina, mereka mirip Bunglon yg loncat kesana kemari dg menyamar agar umat islam di dunia simpati dan mendukung mereka… 🦎🦎

    Lek.. Sakwelase lek..
    Cacingan deh lu bro wkwkwk

    🌠IDEOLOGI HT Mengadopsi Ideologi Mu’tazilah, Pada masa Bani Umayyah, lahir gerakan revivalis yg dipelopori oleh Ma’bad bin Kholid al-Juhani, penggagas ideologi Qodariyah yg berpijak pd pengingkaran qadha’ dan qadar Allah Swt. 🌠
    Ideologi ini menjadi embrio lahirnya sekte mu’tazilah. Ideologi ini lalu diikuti oleh Taqiyuddin an-Nabhani, Dalam bukunya, ia berkata:
    وهذه الأفعال أي أفعال الإنسان لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها لان الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره وعلى ذلك فإن الأفعال الإختيارية لا تدخل تحت القضاء( الشخصية الأسلامية 1 ص 71-72)
    “semua perbuatan manusia ini, tdk ada kaitannya dg ketentuan / qadha’, dan qadha’ jg tdk ada kaitannya dgnya, krn manusialah yg melakukannya dgn kemauan & ikhtiyarnya, oleh karena itu perbuatan ikhtiyari manusia tdk masuk dalam lingkup qadha’ Allah”.( al-Syakhshiyyat al-islamiyyah juz 1 hal. 71-72)

    🥊NB: HT rukun imannya HTI itu cuma 5 berbeda dg umumnya umat islam yg jumlahnya 6
    Catet tuh🥊

    Ini jelas bertentangan dgn al-Quran, sunnah dan akal sehat.
    وخلق كل شيء فقدره تقديرا [الفرقان/2]
    “dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukurannya dgn serapi²nya”. (Qs, al-Furqon, 2)

    إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ [القمر/49]
    “sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.(QS, al-Qomar, 49)

    ⚡Mudahnya⚡… HT ingkar dg lafadz
    لا حول ولا قوة الا بالله

    Yg lbh parah..Taqiyuddin jg mengatakan
    فتعليق المثوبة او العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله
    “mengkaitkan pahala & siksa dg petunjuk dan kesesatan menjadi dalil bhw hidayah dan kesesatan itu sebenarnya termasuk perbuatan manusia dan bkn datang dari Allah”. (al-Syakhshiyyat al-islamiyyah juz 1 hal 74)

    pernyataan an-Nabhani diatas merupakan penolokan terhadap teks-teks al-Quran dan Hadits.
    Dalam ayat lain
    { فمن يهدي من أضل الله} [الروم: 29]
    “maka siapakah yg akan menunjuki orang yg telah disesatkan Allah ?”.

    { إن هي إِلا فتنتك تضل بها من تشاء وتهدي من تشاء} [الأعراف: 155]
    “Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dg cobaan itu siapa yg Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kpd siapa yg Engkau kehendaki”. (QS. Al-A’rof: 155)

    Soal Ta’wil
    terhadap ayat² mutasyabihat Hizbut Tahrir anti TA’WIL, krn mereka beralasan bhw pendekatan ta’wil tidak dikenal dikalangan ulama salaf. Dalam hal ini an-Nabhani mengatakan
    كان التأويل أول مظاهر المتكلمين …. وكان التأويل عنصرا من عناصر المتكلمين وأكبر مُمَيّزٍ لهم عن السلف (الشخصية الأسلامية 1 ص 53 )
    “Ta’wil merupakan fenomena yg pertama kala dimunculkan oleh para teolog. Jadi ta’wil itu merupakan salah satu unsur dan yg paling membedakan antara mereka dg salaf”. (al-Syakhshiyyat al-islamiyyah juz 1 hal 53)

    Pernyataan an-Nabhani itu bisa mengesankan bhw dikalangan ulama salaf tidak ada ulama yg ahli dalam bidang teolog (ilmu kalam). Pdhl pakar teolog itu sdh byk dikalangan ulama misal Al-Imam Abu Manshur Abdul Qohir bin Thohir al-Tamimi al-Baghdadi menegaskan bahwa teolog pertama dari generasi sahabat adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Umar, sedangkan teolog pertama kali dari generasi tabi’in adalah Umar bin Abdul ‘Aziz, Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Hasan al-Bashri, kemudian al-Sya’bi, Ibnu Syihab al-Zuhri, ja’far bin Muhammad al-Shadiq dll

    Mikiiiiiir… Jangkrik bos… 😁😁🙈🙈

    Tentang masalah ta’wil HT persis seperti wahabi…yaitu anti TA’WIL sehingga mereka mudah terjerumus ke dalam faham tajsim (berkeyakinan Allah itu memiliki anggota tubuh seperti tangan, mata, kaki dll serta butuh tempat). 🐊🐊

    Mudahnya HT itu 11 12 dg Wahabi soal Ta’wil yakni kaum tekstual.
    Ibaratnya ada susu tp memakai kaleng yg bergambar beruang..
    Maka haram hukumnya minum susu tersebut….
    Lucu dan culun g tuh.. 😆😆

    والله اعلم بالصواب
    Semoga Bermanfaat
    Amiin..

  • TAHUN BARU TANPA FPI KEMENANGAN UMAT BERAGAMA

    TAHUN BARU TANPA FPI KEMENANGAN UMAT BERAGAMA

    Oleh : Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – Keputusan pemerintah melarang organisasi, kegiatan dan simbol-simbol Front Pembela Islam (FPI) hadiah tahun baru bagi umat beragama di Indonesia. Sudah lama FPI dirasakan mengganggu keamanan, ketertiban dan kenyaman masyarakat. Masyarakat risih, namun sungkan dan masih menghormati simbol-simbol agama yang digunakan FPI.
    FPI organisasi yang tidak jelas apa maunya. Mau Khilafah, tapi model khilafahnya tidak jelas. Ketemu ISIS, menyatakan mendukung ISIS, ketemu PKS menyatakan mendukung PKS, ketemu HTI menyatakan mendukung HTI. Sedangkan kesemuanya itu mempunyai model khilafah yang berbeda-beda.
    Ketika ditanya soal NKRI Bersyariah, konsepnya pun tidak jelas. Hanya jargon, karena kadung menolak ke-syar’i-an pemerintah NKRI, di sisi lain mau menyebut khilafah lebih tidak jelas lagi konsepnya. FPI sebenarnya terjebak dalam kejahilan mereka sendiri.
    Pelarangan FPI merupakan kemenangan bagi umat beragama di Indonesia, bukan hanya Islam. Narasi dan opini politik identitas yang mereka mainkan sangat berbahaya bagi kohesi sosial dan integrasi bangsa. Misalnya Habib versus non habib. Islam versus kafir. Pembela Islam versus komunis. Khilafah versus NKRI.
    Disengaja atau tidak, propaganda FPI telah membentuk habitus, membangun persepsi di alam bawah sadar dan menciptakan suasan batin anti pemerintah yang sah. FPI melakukan radikalisasi massa yang berujung pada aksi teror. Dibuktikan oleh tiga puluhan pelaku teror berlatar belakang FPI.
    Pelarangan FPI dalam rangka menghentikan radikalisasi masyarakat. Mengutip materi Direktur Pencegahan BNPT Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM pada Sarasehan dan Muhasabah Gugus Tugas Pemuka Agama BNPT, 28-30 Desember 2020 di Hotel Millenium Jakarta, bahwa, semua negara di dunia menghadapi ancaman terorisme yang lahir dari radikalisme berbasis suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
    Sejatinya, radikalisme dan terorisme tidak ada hubungannya dengan ajaran agama dan tidak ada kaitannya dengan kedalaman iman, ketaqwaan dan kedekatannya umat beragama kepada Tuhan. Karena kedalaman iman, ketaqwaan dan kedekatan dengan Tuhan adalah masalah hati. Bukan masalah politik, pemerintahan dan negara. Iman dan taqwa bersifat imanen (ada di dalam diri).
    Oleh karena itu, radikalisme dan terorisme atas nama agama menjadi “fitnah” bagi agama dan umatnya. Sedangkan hal tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan substansi dan tujuan agama itu sendiri. Tentu saja merugikan dan akan memecah belah umat beragama, serta merusak citra agama-agama. Radikalisme dan terorisme menjadi masalah bagi semua agama.
    Pembubaran FPI tidak melanggar prinsip kebebasan berkumpul/berserikat di era demokrasi. Pelarangan FPI, bukan pelarangan Islam. Apalagi kebencian kepada Islam. Saya islam sejak lahir. Saya bukan FPI. Saya bebas menjalankan agama saya.
    Bukan saja bebas menjalankan ibadah mahdlah (ritual), saya juga bebas menjalankan ibadah muamalah dan siyasah. Saya beribadah siyasah sebagai warga negara dengan mentaati pemerintah sepanjang bukan maksiat. Saya berbeda pendapat fiqih dengan FPI, saya mengikuti pendapat jumhur ulama bahwa NKRI dan pemerintahannya absah secara syar’i, ulil amri yang wajib ditaati.
    Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal FPI.
    Selamat datang tahun 2021. Selamat datang kemenangan umat beragama.
    #sorbansantri
  • Menag Baru yang Punya Riwayat Berseteru dengan FPI

    Menag Baru yang Punya Riwayat Berseteru dengan FPI

    Jakarta, wp.sorbansantri.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama RI. Saat menjadi Ketum GP Anshor, Gus Yaqut pernah dikaitkan FPI dengan insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dikutip dari situs DPR, Gus Yaqut dilahirkan di Rembang, 4 Januari 1975. Dia merupakan Ketum GP Anshor–organisasi sayap Nahdlatul Ulama–Periode 2015-2020. Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Kutoharjo dan Rembang. Dia sendiri merupakan adik dari Gus Yahya Staquf yang tadinya sempat diisukan menjadi Menag. Dia pernah menjadi Wakil Bupati Rembang periode 2005-2010 melalui PKB. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua DPC PKB Bandung dan PMII Depok. Namun dia lebih dikenal sebagai Ketum GP Anshor. Gus Yaqut dilantik menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dari PKB sebagai pergantian antarwaktu (PAW) Hanif Dhakiri yang saat itu menjadi Menaker. Lalu, dia kembali menjadi anggota DPR periode 2019-2024. Kontroversi dengan FPI Gus Yaqut juga pernah dikait-kaitkan dengan insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Garut. Wakil Ketua Umum DPP FPI Jafar Shodiq dalam audiensi dengan pihak Kemenko Polhukam dalam Aksi Bela Tauhid. Pihaknya meminta Ketum GP Ansor Yahya Cholil Qoumas diadili. “Yang pasti, apa yang kita sampaikan, pertama, Yaqut harus diadili pimpinan Banser; yang kedua, pimpinan Ansor,” kata Jafar di mobil komando, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (26/10/2018). Terkait kasus pembakaran bendera ini, Yaqut telah menyatakan yang dibakar oleh oknum anggotanya di Garut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang sudah dibubarkan pemerintah. Hasil penyelidikan polisi menyimpulkan hal serupa dengan acuan pengakuan Uus Sukmana si pembawa bendera, yang menyatakan memang membawa bendera HTI. Gus Yaqut juga mempersilakan FPI untuk melaporkannya. Tak sampai di situ saja, Gus Yaqut juga sempat mengomentari kepulangan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab yang hendak pulang ke Indonesia. Dia menilai Habib Rizieq tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan revolusi. “Sama sekali nggak percaya. Dia tidak memiliki kekuatan dan prasyarat yang cukup untuk melakukan revolusi itu,” kata Ketua DPP PKB Yaqut Cholil Qoumas kepada wartawan, Rabu (14/10). Saat pengumuman pergantian posisi menteri, Jokowi membuat kejutan. Dia memilih Gus Yaqut. Padahal tadinya yang diisukan menjadi Menag ialah kakaknya, Gus Staquf. “Yang keempat, Yaqut Cholil Qoumas,” kata Presiden Jokowi dalam pengumuman menteri baru di Istana Merdeka, Selasa (22/12/2020). “Akan kita berikan tanggung jawab sebagai Menteri Agama,” imbuh Jokowi. Yaqut Cholil Qoumas saat ini berstatus anggota DPR RI. Dia menjabat Wakil Ketua Komisi II DPR. (red)
  • ANAK KORBAN DOKTRINASI TERORIS DAN PEMBODOHAN YANG LUAR BIASA.

    ANAK KORBAN DOKTRINASI TERORIS DAN PEMBODOHAN YANG LUAR BIASA.

    wp.sorbansantri.com – Teroris adalah sebuah kebodohan karena para pelaku taat dengan kejahatan manusia dan nafsunya untuk membunuh sesama, artinya tidak cerdas dalam memahami hal yang berbahaya bagi dirinya. dan pantaslah ternisbat menjadi bodoh. dan jika ini terjadi pada anak kita lalu bagaimana ajaran Islam ? resapi pernyataan kunci dibawah:

    ومن ترك ولده جاهلا كان كل ذنب عمله عليه
    “Dan barang siapa membiarkan anak dalam keadaan bodoh, maka semua perbuatan dosa yang dilakukan anak, ikut ditanggung oleh orangtuanya.’”

    Anak anak kecil yang seharusya memandang masa depannya menjadi panorama indah, ternyata hanya dihadapkan dan di doktrinasi kata darah. otaknya dibonsai menjadi kerdil dan dicekoi kata bunuh dengan pekikan takbir. seperti meneguk bir dengan suara dan urat membesar leher dan mulut bergetar serta otot leher dan mulut melebar.

    Bagaimana bisa bangsa indonesia ini menjadi nyaman, kalau teriakan teriakan generasinya seperti kelompok bar dengan slogan slogan membakar dengan tangan tangan seperti mencakar kerukunan dan mengoyak kedamaian lalu dengan sesama anak negeri membenci dan menampar dengan dalih ayat ayat suci dicemarkan.

    Anda anda sekalian tahu mengapa fenomena gelagat radikalis terorist ini terlihat mengejawantah pada aksi dan reaksi sebagian anak Indonesia? yah karena ada pendoktrin dan pengarah pembimbingan yang menyuplai nutrisi otaknya dengan sejuta doktrinasi kebencian mengajari mudah mengkafirkan melawan pemerintah pemimpin dan dengan tega membunuh walaupun sesama ummat Islam. melalui mindset jihad dan jahatnya

    Lalu siapa yang mendoktrinasi anak anak kecil akar generasi kita ini menjadi buas ? tidak lain yang menjadi pion pion yang mempengaruhi alur suci fikiran sang anak menjadi keruh kotor dan beringas, hingga terasa hawa darahnya menjadi bergolak dan panas adalah para ustad ustad liar radikal dimimbar bebas yang memang terbina dan membina dan nemoengaruhi pemahaman dan jiwa ansk kita menjadi ekstrim dsn radikal.

    Mereka adalah eksodan gelap timur tengah yang membangun konspirasi gerakan gerakan HTI ISIS Ikhwanul Muslim yang bermasalah di Negaranya. Di sisi lain sebagian sempalan Wahabi dengan paham puritanisme ekstrim kanan, salafi Wahabi dengan gerakan Islam garis keras juga mencoba mencoba menjelma menjadi ormas penggerak demo melawan Negara dan juga menjadi bagian dari menebarkan paham bunuh dan penghalalan jihad yang terinspirasi dan terimplementasi dari ayat perang maupun ayat pedang yang sering kali dipahami mereka.

    Dalam hal ini saya mengajak anda sekalian berfikir kembali memapah ke generasi menuju bimbingan dan pendidikan pemahaman Islam yang benar Islam wasatiyah moderat tentunya rahmatal lilalamin. yakni mengikuti pemahaman para Masyayih Ulama safasshalihin dengan mengedepankan dakwah bijak lemah lembut dengan konsep Tasamuh tawasuth tawazun dan itidal menghargai perbedaan pandangan membangun kebhenekaan dan menyelamatkan bangsa.

    Alhasil jika generasi kita telah berbeda pemahaman dengan kita bahkan menjadi keras berfikir ekstrim bengis, ia tidak segan segan melawan kita menggorok leher kita sendiri atas nama jihad dan kita hanya menangis kerena penyesalan yang menumpuk pada memory perasaan kita. maka mulai hari ini jauhkan mereka dari provokasi dan agitasi kebencian dari siappun dan dari pihak manapun baik dari alam maya google YouTube dan sejenisnya maupun nyata karena jika sudah terindikasi itu maka tidak mudah di renovasi kembali karena kebengisan doktrin anak kita telah mendarah mendaging dalam persada kehidupanya sulit diterapy kembali dan kita benar benar telah berdosa. Naudzu Billah.(Abdulloh Faizin)

  • KHOWARIJ JAMAN NOW

    KHOWARIJ JAMAN NOW

    Saat Sayidina Ali bin Abi Thalib ,
    mendengar kelompok Khawarij meneriakkan slogan “Tidak ada hukum kecuali dari Allah”, beliau langsung berkata, “Kalimatnya benar, tetapi tujuannya batil (buruk).”

    Bahkan, tak lama berselang
    beliau pun dibunuh oleh kaum Khawarij
    dengan mengatasnamakan slogan tersebut.

    Dari peristiwa ini setidaknya bisa
    diambil hikmah bahwa ada orang-orang
    yang tulus menghormati kalimat suci dan ada
    pula orang-orang yg hanya mempolitisasinya.

    Politisasi agama semacam ini
    juga pernah disinggung oleh Gustave
    Le Bon dalam bukunya “The Crowd” (1895).
    Ia mengungkap bahwa massa kerumunan bisa dibentuk oleh figur agamawan, di mana mereka dipersatukan oleh ide2sederhana dan dangkal Sang agamawan menganggap dirinya dewa, sedangkan para pengikutnya tunduk dalam ketaatan buta.

    Mereka laksana zombie yg dengan mudah digiring menuju intoleransi dan kekerasan.

    Hizbut Tahrir (HTI) jelas
    bukan organisasi kemarin sore.
    Mereka tahu betul bagaimana mempolitisasi simbol-simbol agama, demi menciptakan massa dan opini publik.

    Pada peristiwa Garut misalnya,
    HTI seketika menggorengnya menjadi
    isu pembakaran bendera tauhid. Umat Islam
    di negeri ini sejenak dibuat kaget oleh stigma tersebut yang semakin dikobarkan oleh kubu oposisi.

    Massa pun dikerahkan untuk berdemonstrasi dengan tajuk “Aksi Bela Tauhid” dan sekaligus menyisipkan pesan politik “Ganti Presiden”.

    Banser NU selama ini,
    Memang dianggap penghalang besar
    bagi kelompok-kelompok radikal intoleran di negeri ini dalam mewujudkan agenda khilafah mereka.

    Karena itu, cara yang paling ampuh untuk melumpuhkan Banser adalah membunuh karakternya dan membenturkannya dengan umat Islam. Oleh sebab itu, provokasi sistematis kerap dilakukan oleh HTI di acara-acara NU, seperti acara pengajian Habib Lutfi bin Yahya sebulan yang lalu dan puncaknya di momen besar Hari Santri Nasional.

    Saya rasa, Banser adalah langkah awal,
    tujuan utamanya adalah pelumpuhan NU.

    Dengan demikian, para kader
    Banser dan NU mesti bermain cantik
    dan cerdik dalam menghadapi provokasi tersebut. Jangan sampai terjerat emosi dan masuk kedalam jebakan HTI dan kroni-kroninya

    Namun demikian,
    Terlepas dari itu semua, ada
    hikmah lain di balik peristiwa Garut tersebut.

    Para pentolan dan kader HTI
    beserta kelompok-kelompok sejawatnya,
    yang selama ini aman bersembunyi, kini menjadi terbongkar identitasnya melalui aksi-aksi mereka sendiri. Foto dan video mereka telah tersebar dalam media sosial.

    Ini tentu memudahkan pihak Kepolisian
    untuk mengawasi dan menindak mereka.

    Wallahu A’lam.

  • JIKA KHILAFAH HIZBUT TAHRIR BERHASIL TEGAK MAKA KAUM SUFI TARGET PRIORITAS YANG DIBERANGUS

    JIKA KHILAFAH HIZBUT TAHRIR BERHASIL TEGAK MAKA KAUM SUFI TARGET PRIORITAS YANG DIBERANGUS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Kita tahu tahun lalu Ulama Sufi sedunia telah mendaulat Ulama Indonesia panutan kita sebagai ketua Sufi sedunia. Hizbut Tahrir menganggap bahwa Tasawuf merupakan sumber dari kemunduran bahkan kehancuran khilafah. Khususnya pada masa Khilafah Utsmaniyah (1299-1924).
    Dalam buku terbitan Lembaga Kajian Syamina pada April 2017 di halaman ke-2 tertulis bahwa sumber kemunduran umat islam dalam hal Sains dan Keagamaan adalah aliran Murji’ah dan Tasawuf. Ini jelas tuduhan dan fitnah yang keji.
    Kemudian dalam pasal 10 di RUU Daulah khilafah versi HTI, tercantum masalah tassawuf yang berbunyi:
    “Seluruh kaum Muslim memikul tanggung jawab terhadap Islam. Islam tidak mengenal rohaniawan. Dan negara mencegah segala tindakan yang dapat mengarah pada munculnya mereka dikalangan kaum Muslim.”
    Tasawuf menurut mereka bukan bagian integral Islam dan menganggap berasal dari India. Tidak murni ajaran Islam. Bahkan suatu ketika Abdul Malik Ketua DPD HTI Malang raya, pernah mengatakan pembinaan spriritual untuk aktivis HTI bukan dengan tasawuf tapi cukup dengan al-Qur’an:
    “Tasawuf itu bukan dari islam, tasawuf itu adalah perkawinan antara islam, ketika islam ke india. Berarti itu bukan murni dari islam. Sebenarnya pembinaaan spiritual untuk para kader HTI cukup apa yang ada pada hadist Rasulullah dan cukup apa yang ada pada Qur’an, selesai. Kita punya buku min muqawimat nafsiyah islamiyah (pilar-pilar pengokoh nafsiyah islamiyah). orang yang ingin bergabung dengan Hizbut Tahrir harus mengkaji kitab itu sampai selesai.” kata Abdul Malik.
    Dari sini bisa kita ketahui bila Khilafah versi HTI berdiri, maka dapat dipastikan Tarekat Tasawuf tidak bisa eksis lagi. Karena Daulah Khilafah versi mereka tidak segan untuk menindak tegas bahkan membantai aktivitas Tarekat. (HWMI JABAR)
  • SIKAP WARGA NU TERHADAP PKS HTI FPI

    SIKAP WARGA NU TERHADAP PKS HTI FPI

    SORBANSANTRI.COM
    SIKAP WARGA NU TERHADAP PKS, HTI, FPI

    SORBAN SANTRI- Kita ini kader NU dan kita tahu bahwa minhum (PKS, HTI, FPI dkk) itu ingin  Menghancurkan NU dan ingin menerapkan khilafah. Prinsip nya apapun yang datang dari mereka JANGAN PERCAYA!!

    Pegangan kita dalam hal pilihan politik: “Dawuh Habibana Luthfi bin Yahya, di mana ada mereka maka ambillah jalan seberangnya.”

    Pegang baik-baik dawuh beliau tersebut. Panduan kita dalam mencari kebenaran terkait situasi kebangsaan dan politik:

    “Jika kita ingin mengetahui kebenaran itu ada di mana? Maka lihatlah PKS ada di mana, kebenaran itu pasti ada di seberangnya (berlawanan dgn PKS).”

    Mereka sudah dikenal produsen Hoax. Sejak dr 2014 sampai sekarang mereka tidak berubah. Rentetan narasi ujaran kebencian, caci maki dan pelecehan telah sering mereka lakukan kepada Kyai-kyai NU dan NU.

    masih percaya mereka?

  • GERAKAN POLITIK SBY-AGUS DAN PKS SOAL OMNIBUS LAW, HADAPI JOKOWI DIDUKUNG BIN

    GERAKAN POLITIK SBY-AGUS DAN PKS SOAL OMNIBUS LAW, HADAPI JOKOWI DIDUKUNG BIN

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Banyak yang tak paham. Dikira BIN, TNI/POLRI diam dan melakukan pembiaran. Jokowi dikira takut lalu kabur ke Kalteng. Padahal ada skenario kejahatan para politikus yang harus dipahami publik. Aparat keamanan sudah mencium gelagat gerakan untuk membangun kerusuhan.
    Hoaks tentang UU Cipta Kerja sudah beredar seminggu lebih sebelum demo besar. Hoaks yang gagal di-counter oleh Tim Komunikasi Jokowi. Dari Kominfo sampai kementerian terkait gagal memenangkan perang komunikasi.
    Akibatnya, SBY-Agus dan PKS memainkan opini kepentingan. Kepentingan mereka. Lewat tangan proxy yang disebut buruh. Tidak semua buruh. Bahkan perusuh bayaran.
    Sejak dua pekan lalu telah beredar luas informasi terkait para dalang dan gembong gerakan anti UU Omnibus Law, sebagai tunggangan politik. Para pembuat onar baik di medsos maupun di lingkaran politikus dan politikus gelandangan serta kaum khilafah, sudah tampak.
    Namun, Pemerintah gagal menindaklanjuti informasi intelijen – gagal menerapkan pre-emptive measures. Gagal bertindak mencegah. Baru setelah isu hoaks UU Omnibus Law berhasil menghasut rakyat, Pemerintah sudah telat bertindak.
    Uang besar, kekuasaan, alat negara, gagal dimanfaatkan secara tepat karena carut marut kemampuan komunikasi publik yang berantakan. Kalah melawan kemampuan buruh seperti KPSI dalam membangun opini. Kenapa? Tidur kenyang menikmati kue kemenangan Pilpres 2019. Lupa akan kepentingan komunikasi yang elegan cerdas dan decisive. Komunikasi yang mencerahkan rakyat.
    Tak salah maka ketika Agus-SBY dan PKS memanfaatkannya. Tentu diikuti kaum khilafah, eks HTI, dan kadrun yang ikut bermain. Tujuan sama menggoyang Jokowi. Catatan SBY dan Agus serta kaum kadal gurun selalu bersinggungan. Kolaboratif. Catatan SBY memang suka bikin onar. Kompor.
    Demonstrasi 4/11/2016 yang disebut oleh SBY sebagai gerakan seperti Arab Springs. Gagal menjungkalkan Jokowi lewat 411, hanya berhasil menjungkalkan Ahok.
    Kini bapak-anak gagal bernama SBY-Agus kembali bikin ulah.Kini SBY-Agus memainkan Omnibus Law alias UU Cipta Kerja. Sentimen dan settingan dibangun dengan SBY dan Agus menarasikan kegagalan berjuang di parlemen. Agus sebagai fotokopi SBY pun menerapkan politik culas nan kotor. Seolah mereka berjuang menolak UU Cipta Kerja.
    Dengan uang bejibun Cikeas menggerakkan demo, mendukung demo persis seperti Anies yang ikut menyurakan aspirasi. Aspirasi penggerogotan wibawa pemerintah. Sejatinya SBY-Agus, berkolaborasi dengan partai berbalut agama PKS membangun kepentingan bisnis.
    Mereka sedang melindungi kroni mereka seperti eks boss Petral Muhammad Reza Chalid dan yang sedang ngumpet Hatta Rajasa. Karena bisnis besar mereka terancam dibabat habis di bawah Jokowi. Apalagi dengan UU Cipta Kerja, dalam persaingan bebas, mereka bisa rontok.
    Kenapa? Karena Omnibus Law mengatur memangkas lebih dari 1.200 peraturan yang menjadi ajang korupsi. Peraturan yang dibuat rumit sehingga melanggengkan korupsi. Tugas sangat berat Jokowi.
    “Omnibus Law atau UU Cipta kerja salah satunya adalah untuk pemberantasan korupsi,” kata Mahfud MD di Jakarta Jumat (9/10/2020).
    Setelah Netizen membongkar konspirasi persiapan demo Cikeas, bahkan secara khusus Agus memamerkan penolakan terhadap UU Cipta Kerja lewat video, setelah demo besar gagal terlaksana pada 6 Oktober 2020. Dan, skenario kerusuhan besar pun gagal.
    Nah, lalu kenapa tampak TNI/Polri lebih persuasif dan tidak bertindak keras? Karena BIN, TNI/Polri sudah mencium gelagat skenario kerusuhan dengan biaya besar, seperti 411, sedang dipersiapkan. Para pendemo bayaran, kelompok radikal, dan perusuh telah siap untuk membakar Jakarta. Terbukti mereka membakar halte, pos polisi, kendaraan aparat.
    Terlebih lagi situasi PSBB dan Covid-19 akan menjadi titik serang media, ketika terjadi bentrokan all-out. Maka, tindakan aparat adalah menjaga jarak dengan demonstran dan perusuh. Titik-titik obyek vital dijaga dan gerakan massa dikelola di titik tertentu.
    Hasilnya? Bentrokan yang diharapkan gagal total. Dan, gagal pula SBY-Agus dan PKS menjadi pahlawan kesiangan. (Penulis: Ninoy N Karundeng).
  • Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Awal dari segalanya adalah Manhaj Takfiriyah, yang sekarang bisa berkembang di Indonesia ini menjadi Organisasi seperti HTI, menjadi Partai seperti PKS. Banyak sekarang ini mempunyai pemikiran mengkafirkan orang di luar keyakinan dia. Sedikit-sedikit kalau melakukan ini dibilang kafir, sedikit-sedikit dibilang bid’ah, sehingga yang masuk surga cuma dia saja. Kok ndak takut masuk surga sendirian? inilah bedanya Wali Songo Waliyulloh dengan wali jenggot salafy wahabi.

    Yang sekarang terjadi adalah agama dihadapkan kepada negara, maka akan memberikan suasana kalau negara akan menjadi penindas agama kemudian agama akan menjadi pemberontak dalam suatu negara.

    Dalam kondisi tersebut, dalam jangka panjang pasti akan membahayakan Kesatuan Negara Republik Indonesia.

    Seharusnya NU dan Muhammadiyah yang dimodali oleh negara, untuk mendeteksi Manhaj Takfiriyah tadi. Tapi masih banyak mereka yang tampak dalam gerakan mengkafirkan orang, membidahkan orang, itu masih dimodali oleh Pemerintah dan asing. Bahkan diberi kesempatan kebebasan menjalankan doktrin-doktrinnya yang jauh dari ajaran ASWAJA ANNAHDLIYAH NU dan PANCASILA. Lebih ironisnya lagi mereka masih diberi kedudukan di pemerintahan, seperti Gubernur, Bupati, DPR, dan lain-lain.

    Jadi kita tidak usah anti asing sementara kita menerima uang asing. yang tidak asing dan yang betul-betul asli made in Indonesia itu NU dan Muhammadiyah.

    ini kalau sudah kena Manhaj Takfiriyah tadi, Semuanya akan Bubar semua, Negara Kacau, banyak Demo menentang pemerintah, mudahnya mengkafirkan, sering tuduh menuduh dan lain-lain.

    Sehingga pengrusakan adalah bagian dari ibadah seperti demo 212, demo 411, demo bela ulama’, padahal pengertian aman itu adalah anamu wa amilus sholihat tapi bagaimana Amanu itu bisa dilakukan dengan wafasaadu??! ini semuanya menjadi renungan kita.

    tapi karena sekarang bukan ketuhanan yang maha esa tapi keuangan yang maha kuasa, Maka ini merayap dan mewabah sampai mana mana di bumi nusantara ini.Dijadikan agitasi oleh para teroris untuk terus melawan negara.

    Rata-rata rakyat minta Bagaimana cara Indonesia Aman dalam satu kesatuan NKRI, bagaimana caranya? ya dimulai dari HULUnya, dilaksanakan pelan-pelan melalui pendidikan ketegasan hukum dll. (abi sorban)

  • HIDUPKAN AGAMA, JANGAN MALAH CARI HIDUP DARI AGAMA. Sertifikasi Da’i, Aku Sih Yes.

    HIDUPKAN AGAMA, JANGAN MALAH CARI HIDUP DARI AGAMA. Sertifikasi Da’i, Aku Sih Yes.

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Saya tidak ingat betul, Tapi kira-kira seperti itulah, kalimat terahir ketika mengikuti lomba pidato di sekolah saya beberapa puluh tahun yang lalu. Itupun kalimat tersebut saya kutip dari da’i kondang Zainuddin MZ.
    Jadilah ketika saya mengatakan, ” ” Hidupkan agama, jangan malah cari hidup dari agama,” Itu persis mencontohkan gayanya Zainuddin MZ yang sedang memberikan tausiyah kepada jamaah.

    Ceritanya waktu itu, sehari sebelum mengikuti lomba pidato saya masih kelabakan mencari judul yang pas. Akhirnya atas usulan teman, saya diberikan kaset bajakan yang isinya ceramah Zainudin MZ. Setelah dengan susah payah mendengarkan seluruh isi ceramah dai kondang tersebut, saya kemudian lantas dengan seketika jatuh cinta dengan gaya penyampaian yang iya bawakan.

    Jika hari ini misalnya kembali akan diadakan lomba pidato antar alumni SD, tentu saya akan menolak untuk berpartisipasi lagi. Ya bukan apa-apa takutnya nanti model ceramah saya tidak sesuai dengan selera keinginan masyarakat. Itu bisa dimaklumi karena memang hari model ceramah-ceramah agama bukan main banyaknya. Ada yang sambil membentak-bentak, kemudian setelah itu, meneriakan kalimat takbir. Ada yang dengan santun. Ya, pokoknya macam-macam.

    Selain itu juga, isi pesan dari penceramah kita hari ini kan juga beragam. Ada yang mengajak untuk poligami saja, ada banyak. Bahkan pernah berseliweran digrup-grup WhatsApp cara cepat memperoleh istri empat. Ada yang senangnya membahas soal kafir, itu juga banyak. Bahkan masih ada para penceramah yang sering mengaitkan isi ceramah dengan kebangkitan PKI.

    Inilah problem kita hari ini. Da’i atau penceramah sering kali menyampaikan hal-hal yang membuat masyarakat kebingungan. Bisa jadi dikarenakan ketidaktahuannya akan suatu persoalan atau memang sebuah setingan untuk menaikkan pamor dari da’i tersebut. Jangan dikira setingan itu hanya kehidupan artis saja.

    Pernah dalam satu tayangan live di salah satu stasiun televisi swasta, seorang da’i menyampaikan kalimat yang penuh kontroversial. Bahkan menurut saya ini keterlaluan tak pantas diucapkan seorang penceramah apalagi ini live disaksikan oleh jutaan orang di seluruh Indonesia.

    ” Salah satu kenikmatan yang ada di dalam surga adalah pesta seks. Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia. Dan kenikmatan terbesar yang diberikan oleh Allah SWT di surga adalah pesta seks.”

    Meski akhirnya sang dai meminta maaf atas kekeliruannya tapi video kontroversi tersebut telah beredar dan terus saja menjadi konsumsi publik. Begitu juga dengan para pemirsa yang terlanjur telah mendengar kalimat tersebut. Akan terus tertanam dibenaknya tentang pembenaran si da’i tersebut.

    Ada banyak lagi contoh kasus di mana sang dai lewat isi ceramah-ceramahnya menuai kontroversi di masyarakat luas. Salah satu yang cukup menyedot perhatian dan energi ialah kontroversi ialah ucapan ustadz Evi Afandi yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah sesat. Dan anda pasti bisa menebak dengan benar apa yang dilakukan ustadz tersebut. “Minta maaf.”

    Jika mau diulas satu demi satu maka tulisan ini akan penuh dengan berbagai macam kontroversi yang ditimbulkan oleh para dai. Hal semestinya tidak harus sampai terjadi jika memang para dai itu punya standar yang jelas, kompetensi ia miliki sudah tidak diragukan lagi. Dan tidak perlu lagi membuat klarifikasi permintaan maaf atas kekeliruannya dalam menyampaikan tauziah. Saya sudah sangat muak dengan pengulangan-pengulangan itu.

    Itulah kenapa ketika Kemenag ingin mensertifikasi para da’i, saya pun dengan seketika menyatakan setuju. Layaknya seperti mas Anang Hermansyah dalam program pencarian bakat ketika ditanya oleh pembawa acara dengan spontan ia menjawab. “ Aku sih yes”

    Setidaknya dengan adanya sertifikasi da’i akan mengurangi potensi-potensi ceramah agama yang dapat menimbulkan kontroversi ditengah masyarakat. Karena dengan sertifikasi akan ketahuan mana yang benar-benar ulama mana yang mengaku-ngaku sebagai ulama.

    Selama ini batasan itu belum jelas, siapa saja yang berhak memberi tausiyah. Apa kompetisinya, bagaimana penguasanya terhadap suatu persoalan dan masih banyak lagi syarat harus dimiliki. Barulah kemudian ia diberi mikrofon.

    Bayangkan saja hampir setiap hari kita itu selalu bersinggungan dengan para da’i atau mendengarkan ceramah. Mulai dari tayangan di televisi, ribuan konten ceramah di berbagai platform media sosial yang begitu mudah di share. Belum lagi kegiatan-kegiatan seremonial kita selalu menghadirkan para da’i. Mulai dari perkawinan sampai peresmian kantor bahkan sekarang ditempat kerja pun ada semacam kajian yang harus diikuti oleh setiap karyawan.

    Sertifikasi da’i sebenarnya juga menguntungkan para da’i itu sendiri. Minimal sang da’i tersebut akan bebas berceramah di mana saja selama masih di wilayah Indonesia, tanpa takut akan terjadinya persekusi.

    Kekhawatiran dengan adanya sertifikasi da’i akan menjadi kontrol bagi penguasa sebenarnya adalah hal yang tak perlu terlalu dirisaukan. Layaknya seperti jargon yang sering kita dengar, “Kalo bersih kenapa harus risih”.

    Dokter saja ketika ingin membuka praktek harus mengantongi surat izin dari pemerintah, begitu juga dengan pelatih sepakbola jika ingin melatih klub sepakbola haruslah mempunyai lisensi atau sertifikat baru kemudian bisa melatih. Itu Artinya menandakan bahwa pentingnya sebuah keahlian, nah untuk membuktikan kita ahli dalam bidang tertentu ya mestilah diuji dahulu.

    begitu pula profesi da’i memang benar-benar harus diisi oleh orang yang mumpuni, yang mengerti dengan agama. Hingga yang keluar dari tenggorokannya ajakan untuk selalu menebar kebaikan, berdakwah dengan carxa merangkul bukan memukul. Mengajak bukan membentak. (m.arfah ansor batam)