Tag: HUKUM ISLAM

  • Sekeluarga pembom bunuh diri di gereja menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah

    Sekeluarga pembom bunuh diri di gereja menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah

    InfokomBanserNU-

    Selain Kokam MU dukung bendera HTI, Dahnil , Amien Rais, Hanum Rais yg dekat dengan hoax& simbol2 radikalis.

    Menteri Agama Malaysia: Tak ada Tempat bagi Salafi Wahabi di Kuala Lumpur

    agama dalam pemahaman Wahabi Salafi memang isinya harus berdasar kebencian, sehingga tak heran mereka rata2 bengis sampai mudah membunuh, hal ini tertuang dalam ajaran mereka Al Wala Wal Bara yg berdasarkan cocoklogi terjemah ayat dan hadits bukan dari ilmu yg bersanad bersambung sampai Nabi SAW . Dapat dicari di youtube pun banyak pengajaran Al Wala Wal Bara di mesjid2 wahabi dan muhammadiyah.

    Ajaran cocoklogi selain menjadi dasar wahabi, ikhwanul muslimin (PKS), khilafah HTI, khilafah ISIS, dll juga menjadi sekte2 lain seperti ini, konsep utamanya seorang awampun bisa berdalil hanya menggunakan terjemahan Al Quran dan hadits, padahal mereka tak miliki ilmu agama yg bersanad, tak heran ikhwanul muslimin bahkan ditangkapi atau dicabut kewarganegaraan dan passportnya di negri2 muslim termasuk arab karena berdasar ajaran cocoklogi ini, dibelakangnya terkandung takfiri mudah mengkafirkan muslim lainnya apalagi menghalalkan darah yg bukan seagama.

     Ajarannya berdasarkan kebencian dalam konsep al wala wal bara (bara dlm istilah wahabi berarti kebencian atau permusuhan seb inti iman, tak punya kebencian bisa dianggap kurang/tidak beriman). 

    Sikap melihat orang lain cendrung selalu seb musuh bisa dikarenakan aqidah wahabi ISIS ini, sambil membanggakan sendiri

    link RadikalismeIkhwanulmuslimin PKS

    Contoh pemikiran Wahabi dan Muhammadiyyah ttg dzikir HU :

    menurut Gus Baha

    Gusbaha

    kyaikampung

    Penyebab orang2 pintar di perusahaan2 tsb cendrung terkena radikalisme agama? Karena kesombongan intelektual ingin menguasai /berkuasa dlm agama sebagaimana mereka menguasai ilmu2 eksakta teknis, sombong tak ingin mengikuti otoritas, madzhab atau ikut ulama2 yg ilmunya bersanad bersambung sd Nabi. Seperti seorang pasien awam yg jenius dg baca buku2 kedokteran dan menganggap remeh dokter2 yg tersertifikasi dan berizin.

    Melawan aqidah teror dan kebencian Tritauhid dan Al wala wal bara, adalah ilmu aqidah bersanad dan bermadzhab, bersambung tak terputus sampai Nabi Muhammad SAW yg jg dipraktekan oleh 4 madzhab fiqih yaitu aqidah madzhab Asyariyyah maturidiyyah. aqidah ini dianut mayoritas muslimin nusantara di Indonesia, Msia, Brunai, Spore, Thailand dll jg sama2 bermadzhab fiqih syafiiyah. Bagi yg merasa awam dapat taqlid ikut ulama2 yg terbukti bersanad, sebagaimana dokter bedah pun taqlid sama dokter anestesi/ahli pembiusan.

    Dalam konsep wahabi salafi ISIS dkk seolah2 seorang awam wajib tahu semua ilmu kedokteran baik bedah maupun anestesi. Tidak boleh ada taqlid, dicemoohnya dg ikut2an atau taqlid buta. Cara berpikir ini pun menjadi pintu orang2 yg merasa pintar ke arah radikalisme mengatasnamakan agama.

    The books and teaching of Aqidah three tauhid and  alwala wal bara are overwhelming uncontrolled when  Muhammadiyah leader become ministry of education: 

    The teaching of Al Wala Wal Bara which based on hatred in Center /PP Muhammadiyyah   Menerapkan Al-Wala’ Wal-Bara’

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=3CCncf5sOEc[/embedyt]

     

    Al-Wala Wal Bara’ | Ust. Bachtiar Nasir, Lc

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=5FeODn7jtF0[/embedyt]

     

    Ust Ihsan Tanjung Al Wala’ Wal Bara’ DiDalam Kalimat Tauhid Kajian Dzuhur 28072016

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=T-3fGri1p4I[/embedyt]

     

    AL-WALA WA AL-BARA | Ust. Zulkifli Muhammad Ali, Lc 

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=TZTHxAiWAfQ[/embedyt]

     

    Malaysia reject University of Muhammadiyah in their country because of Muhammadiya’s Wahaby backbround 
    Source Malaysia reject University of Muhammadiya
    Indonesia and Malaysia in general have same madzhab of beliefs of Al-Asyairah and Al-Maturidiyah, and madzhab of Syafii in Fiqh. This has strong sanad of belief and religion background in Islam Nusantara including majority moslem in Malaysia, Singapore, Thailand, Brunai, Indonesia, etc. (AbiTsani)

  • PEMBAGIAN THOHAROH ATAU BERSUCI

    PEMBAGIAN THOHAROH ATAU BERSUCI

    ngaji, InfokomBanserNU- THOHAROH Secara Bahasa THOHAROH berma’na bebersih, sedangkan secara istilah memiliki banyak arti salah satunya adalah pekerjaan yang bisa menjadikan bolehnya untuk sholat.

    Sedangkan jika TH0HAROH (Tho’ dibaca dhommah) berarti sisa air yang digunakan bersuci seperti di Teko, dll bukan seperti di sumur.

    Thoharoh sendiri dibagi menjadi 2

    1. Wajib contoh : bersuci dari hadats, dll. Thoharoh yang wajib juga dibagi a. Membersihkan badan dan b.Membersihkan hati
    2. Sunnah contoh : memperbarui wudhu’

    Source : Al-Iqna’ dan Tausyeh.(mjbr)

  • 5 RUKUN QOULI UCAPAN DALAM SHOLAT

    5 RUKUN QOULI UCAPAN DALAM SHOLAT

    Rukun sholat ada 3 kategori, yaitu rukun qolbi, qouli & fi’li. Yang mana jika ditinggalkan (baik sengaja maupun tidak sengaja) maka sholatnya menjadi tidak sah. Salah satu rukun yang sering kali ditinggalkan adalah Rukun Qouli (Ucapan).

    Yang mana bacaanya tidak boleh dibaca didalam hati, harus diucapkan minimal didengar oleh telinga sendiri. Jangan terlalu keras apalagi ketika sholat berjama’ah, karena dapat mengganggu jama’ah disebelahnya.
    .
    RUKUN QOULI ADA 5, yaitu :

    ⒈ TAKBIRATUL IHRAM
    ⒉ SURAH AL FATIHAH
    ⒊ TAHIYAT AKHIR
    ⒋ SHOLAWAT PADA TAHIYAT AKHIR
    ⒌ SALAM (SALAM PERTAMA)


    Adapun syarat-syaratnya masing -masing, diantaranya :

    ☞⒈ Takbiratul Ihram (mengucapkan “Allahu Akbar”)

    • Dilakukan pada waktu berdiri pada sholat (bagi orang yang sholat berdiri)
    • Menghadap kiblat
    • Harus memakai bahasa Arab
    • Harus menggunakan lafadz “Allah” (الله) dan kalimat “Akbar” ( أكْبَر)
    • Harus tertib antara lafadz “Allah” lalu lafadz “Akbar”
    • Memakai lafadz “Allah” (tidak boleh diganti dengan nama-nama dari Asmaul Husna), contoh ar-rohman, dll.
    • Harus benar dalam pengucapan lafadznya
      diantaranya :
      • Tidak memanjangkan suara “A” pada kalimat Allah (contoh : Aaallahu …)
      • Tidak memanjangkan suara “BA” pada kalimat Akbar (contoh : … Akbaaar)
      • Tidak mentasydidkan lafadz “akbar” (contoh : … akabbar)
      • Tidak menambah suara panjang pada kalimat “HU” (allahuuu ….)
      • Tidak menambah suara “WA” diantara kalimat Allahu dengan Akbar (Allahu wakbar)
      • Tidak menambah suara “WA” sebelum kalimat Allah (wallahu Akbar)
      • Tidak boleh berhenti antara dua kalimat (allahu akbar)
    • Tidak menyembunyikan satu huruf pun dari huruf-hurufnya
    • Harus terdengar bacaan takbirnya (minimal oleh telinga sendiri)
    • Waktu membaca takbiratul ihram setelah masuknya waktu sholat (jika belum, maka tidak sah)
    • Bagi yang berjama’ah, maka takbirnya makmum setelah takbirnya imam.
    • Berusaha menyamakan tatkala mengucapkan takbir dengan bersama mengucapkan niat dalam hati

    ☞ 2. Bacaan surat Al-Fatihah

    • Tertib
      yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya
    • Muwalat
      yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus
    • Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
    • Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
    • Membaca semua ayat al-Fatihah.
    • Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
    • Tidak menggunakan lagu yang dapat merubah makna.
    • Membaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri (jika sholatnya dalam keadaan berdiri)
    • Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
    • Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.

    Apakah Makmum masih harus membaca Al Fatihah di belakang Imam pada saat Sholat Jahriyah (dikeraskan) ???
    • Dalam mazhab Syafi’i, Makmum masih berkewajiban membaca Alfatihah.
    Ada 2 cara melakukannya :
    1. cara pertama, mengikuti setiap imam selesai membaca 1 ayat
    2. Cara yang kedua, membaca Al fatihah setelah bacaan Al fatihah nya Imam selesai seluruhnya. Sehingga sebelum melanjutkan ke surah lainnya, Imam dianjurkan memberikan waktu sebentar bagi makmum untuk menyelesaikan al fatihahnya, dimaksudkan agar makmum bisa fokus dalam pembacaan surah berikutnya yang dibaca oleh imam.
    • Sedangkan Mazhab lainnya berpendapat Al fatihahnya makmum sudah ditanggung oleh Imam.

    ☞ 3. Tahiyat Akhir

    • Dalam duduk yang betul
    • mendengar bacaan yang dibaca
    • tertib
    • memlihara hurufnya
    • memelihara lafadznya
    • memelihara tasydidnya

    4. Sholawat pada tahiyat akhir

    • Memlihara hurufnya
    • memelihara tasydidnya
    • memlihara kalimatnya
    • mendengarkan bacaan yang dibaca
    • Tertib
    • Dalam duduk tahiyyat akhir
    • Minimal sholawat yang dibaca adalah “Allahumma sholli ala Muhammad”, dianjurkan dilengkapi dengan membaca sholawat Ibrahimiyah

    ☞ 5. Salam (Assalamu’alaikum wa rahmatullah)

    • Memlihara hurufnya
    • memelihara tasydidnya
    • memelihara kalimatnya
    • mendengarkan bacaan salam yang dibaca
    • Tertib
    • Dalam duduk tahiyyat akhir

    Disunnahkan menoleh ke kanan ketika salam pertama, dan ke kiri ketika salam kedua.

    Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat yang menjadi rukun hanya salam pertama, sedangkan salam kedua hukumnya sunnah. Maka jika terjadi hal yang membatalkan sholat pada saat salam kedua (misalnya : kentut dll), maka Ulama berbeda pendapat
    • pendapat pertama, sholatnya tetap sah, tetapi kehilangan sunnah mengucapkan salam yang kedua
    • pendapat kedua, sholatnya batal. Karena tetap melakukan salam yang kedua, yang berarti menjadi satu kesatuan dengan salam yang pertama.

    Maka dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian, jika dirasa tidak kuat menahan hal-hal yang membatalkan sholat (contoh : kentut dll) pada saat salam yang kedua, maka seyogyanya sholatnya ditutup hanya dengan salam yang pertama.

    Semoga bermanfaat
    والله أعلمُ بالـصـواب

  • RIJALUL ANSOR RAJA’I BADAN BANSER

    RIJALUL ANSOR RAJA’I BADAN BANSER

    Mojokerto, CyberAswaja.online – Pimpinan Anak Cabang Kecamatan Jatirejo Kab.Mojokerto Punya Gawe berupa DTD (Diklat Terpadu Dasar) Banser (Barisan Ansor Serbaguna), kader muda dan baru yang masuk menjadi BANSER sebagai Garda Terdepan Menjaga NKRI. 21/12/19
    SORBANSANTRI.COM
    Foto:tengah Ketua LMDSA RA Gus Lutfi bersama Pengurus
    Ciri khas Jas Warna Putih selaku Wakil ke-2 (dua) dari GP Ansor, bernama LMDSA (Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat) RIJALUL Ansor cabang ini melakukan Gemblengan kepada Peserta DTD Banser yang akan melaksanakan Caraka Malam, salah satu tahapan pelaksanaan DTD BANSER. “Penulisan Raja ini fungsi salah satu agar BANSER kebal secara Kanuragan, peka Kondisi dan Siap sewaktu-waktu” ujar ketua LMDSA RA, Gus Lutfi Hakim.
    SORBANSANTRI.COM
    Berserta jajaran pengurus RIJALUL ANSOR mereka pun dibagi tugas pelaksanaan yang kemudian peserta melaksanakan Caraka Malam sampai pagi. (WakGenk/Infokom)
  • BANSER Adalah Menjaga Kedamaian NKRI

    BANSER Adalah Menjaga Kedamaian NKRI

    Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda : Mata-mata yang nanti tidak menangis di hari kiamat adalah mata yang tidak tidur karena menjaga keamanan.

    Doc.PC GP Ansor Sidoarjo

    SIDOARJO — Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sedang berkumpul di Sidoarjo. Tepatnya, dengan titel acara Banser Bersholawat Bersama TNI-Polri untuk Kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di GOR Sidoarjo, Sabtu 14 Desember 2019, malam ini.

    “Mencintai Indonesia lahir batin, menyejukkan dengan Sholawat Nabi,” tulis akun resmi Banser Jawa Timur.

    Banser sebagai elemen penting dalam Gerakan Pemuda Ansor belakangan cukup banyak mendapat tantangan. Namun, dinamika eksistensi Banser di tengah masyarakat selalu mendapat perhatian.

    Bahkan, Habib Ali Al Jufri berpesan khsusu kepada Banser NU: “Kalian Sekarang Sedang Jihad di Jalan Allah”.

    Habib Ali Al-Jufri dalam ceramahnya pada acara Ramah Tamah dan Bedah Buku “‘Al-Insaniyyah Qabla Tadayun’ karya Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri, di UIN Walisongo Semarang, menyampaiakan rasa terima kasih kepada Banser NU yang telah menjaga keamamanan.

    Habib Ali Al Jufri, ulama asal Uni Emirat Arab ini, menyampaikan:

    “Terima kasih yang menjaga keamanan, yang berdiri di sini (Banser NU). Ini bukan cuma basa-basi saja. Apa yang niatnya jujur dari hati, yang kalian niatkan di dalam hati kalian, dan Allah mengetahui apa yang di hati. Di dalam pekerjaan yang kalian lagi lakukan sekarang ini, (yaitu) mengamankan manusia, menjaga bangsa dan negara, mencari ridhonya Allah, maka kalau niat seperti itu kamu sekarang sedang jihad di jalan Allah”.

    Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda : Mata-mata yang nanti tidak menangis di hari kiamat adalah mata yang tidak tidur karena menjaga keamanan.

    Maka semakin tinggi ketaqwaan, maka Allah akan mendidik kalian untuk menjaga yang lain. (Red) Sumber: https://pwnujatim.or.id/banser-bersholawat-di-gor-sidoarjo-bersama-tni-polri-untuk-kedamaian-nkri/

  • Ngaji Gus Baha’ : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW

    Ngaji Gus Baha’ : Sisi Manusiawi Nabi Muhammad SAW

    Infokom Banser NU- Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang agung nan luhur budi pekertinya. Tak ada sesiapa yang menyangkalnya. Namun, tak sedikit yang kerap lupa bahwa Nabi Muhammad juga memiliki sifat jaiz sebagaimana layaknya manusia pada umumnya.
    .
    Gus Baha dalam suatu pengajiannya pernah menceritakan Nabi Muhammad SAW pernah lupa. Hal itu terjadi saat shalat zuhur. Ketika itu, Nabi hanya melaksanakan shalat zuhur dua rakaat dan langsung menyelesaikan ibadahnya.
    .
    Para pun sahabat bertanya-tanya. Mereka segan ingin bertanya kepada sosok panutan penuh kharisma itu. “Tidak ada yang berani bilang ke Nabi,” kata Gus Baha.
    .
    Namun, tetiba Dzul Yadain mendekati Nabi dan menanyakan peristiwa langka itu. Ia bertanya apakah hal tersebut baru atau bagaimana. Nabi pun terkejut ketika hal itu disampaikan dan langsung kembali ke pengimaman.
    .
    Nabi mengonfirmasi kepada para jamaah apa hal yang disampaikan Dzul Yadain benar. Para sahabat pun mengiyakannya. “Naam ya Rasulullah. Tadi engkau shalat zuhur hanya dua rakaat,” kata para sahabat.
    .
    Lalu, Nabi pun, jelas Gus Baha, langsung bertakbir lagi dan menuntaskan shalat zuhurnya dua rakaat lagi hingga salam tahiyat akhir.
    .
    Menurut Gus Baha, lupa bagi Nabi adalah hal lumrah mengingat ia memiliki sifat jaiz sebagaimana manusia biasa pernah lupa. “Nabi tuh gak apa-apa lupa. Wong bukan Tuhan. Yang gak boleh lupa tuh Tuhan,” tegas Rais Syuriyah PBNU itu.
    .
    Gus Baha’ juga menceritakan bahwa Nabi pernah suatu pagi menanyakan makanan kepada Sayidah Aisyah. Istri Nabi itu menjawab tidak ada.
    .
    “Ya udah saya puasa saja,” kata Gus Baha menirukan respon Nabi ketika mendengar jawaban istrinya.
    .
    Saat waktu mulai beranjak siang, Nabi kembali bertanya makanan kepada Sayidah Aisyah. Kali itu, putri Sayidina Abu Bakar al-Shiddiq itu menjawab ada. “Ya sudah saya makan saja,” ujar Gus Baha menyampaikan respons Nabi kepada Aisyah.
    .
    Gus Baha juga menyampaikan bahwa kelupaan Nabi itu agar menjadi sunnah. “Saya ini tidak pernah lupa. Tapi saya diberi lupa supaya menjadi sunnah,” pungkas Gus Baha menerjemahkan pernyataan Nabi tentang kelupaannya.

    #GusBahauddin #UlamaNUsantara #NU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #GP_AnsorNU #BanserNU #PagarNusaNU
    #AswajaNU #RijalulNU #KyaiDanHabaib #HWMI_NU GusMuwafiq #GusSayyidSeif #KyaiNUsantara #HabaibNUsantara #SantriNUsantara #NUsantaraSatuJiwa
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI

    (Rijalul Ansor NU )

  • Apa sih Ijma’- Qiyas….???

    Apa sih Ijma’- Qiyas….???

    PAC GP Ansor Pacet- Alasan kitab madzhab Syafi’i menyebut ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukumBerdasarkan hadits:
    تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى
    Maka landasan hukum di dalam Islam itu hanya dua, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Mengapa di dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i ada dua masukan sebagai landasan hukum, ijma’ dan qiyas?Kalau menurut prinsip dari pendirian golongan syi’ah, memang ijma’ dan qiyas itu tidak dapat digunakan sebagai landasan Hukum. Akan tetapi bagi madzhab Syafi’i dan juga madzhab mu’tabar yang lain, menggunakan ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukum itu, tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Hadits, sebab Al-Qur’an dan Hadits sendiri juga memerintahkan supaya kita menggunakan Ijma’ dan Qiyas.

    Kami persilahkan baca Al-Qur’an ayat 115 di dalam surat An-Nisa’:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ اْلهَدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ اْلمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا. Barang siapa menentang Rasul sesudah terang petunjuk baginya dan menuruti selain jalannya ornag-orang mu’min, maka Allah membiarkan akan dia bersama apa yang dia sukai, dan Allah akan memasukkan dia di dalam neraka jahannam, sejelek-jelek tempat kembali.Hadits Shohihain:لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَتِى ظَاهِرِيْنَ عَلىَ اْلحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ خِلاَفُ مَنْ خَالَفَهُمْ. Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku, selalu terang-terangan bersama-sama membela hak (kebenaran), tidak mempengaruhi mereka tentangan orang-orang yang menentang kepadanya.

    Kami persilahkan baca ayat surat Al-Hasyr:فَاعْتَبِرُوْا يَا اُولِى اْلأَبْصَارِMaka ambil contohlah engkau, hai orang-orang yang mempunyai pengertian.Surat Amirul Mu’minin Umar bin Khottob yang ditujukan kepada Abi Musa Al-Asy’ari:َالْفَهْمَ اَلْفَهْمَ فِيْمَا اَدَّى إِلَيْكَ مِمَّا لَيْسَ فِى قُرْآنٍ وَلاَ فِى سُنَّةٍ، ثُمَّ قِسِ اْلأُمُوْرَ عِنْدَ ذَلِكَ Pahamilah! Pahamilah! Di dalam apa yang datang kepadamu, daripada yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul, kemudian kiaskanlah perkara-perkara itu ketika perkara-perkara itu tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits.(mjbr)

  • Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم  Kemudian, seorang mukalaf minimal harus meyakini tafsiran dari kata-kata “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Jika ia membenarkan Rasul saw., maka ia juga harus membenarkan beliau dalam hal sifat-sifat Allah Swt.

    Dia Zat Yang Maha hidup, Berkuasa, Mengetahui, Berbicara, dan Berkehendak Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan- Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Namun, ia tak harus meneliti hakikat sifat-sifat Allah tersebut serta tak harus mengetahui apakah kalam dan ilmu Allah bersifat qadim atau baru. Bahkan, tak jadi masalah walaupun hal RI tak pernah terlintas dalam benaknya sampai ia matt dalam keadaan mukmin. Ia tak wajib mempelajari dalil dalil yang dikemukakan oleh para ahli kalam. Selama hatinya meyakini al-Haq, walaupun dengan iman yang tak disertai dahi dan argumen, ia sudah merupakan muk mi n. Rasulullah saw. tidak membebani lebih dari itu.

    Begitulah keyakinan global yang dimiliki oleh bangsa Arab dan masyarakat awam, kecuali mereka yan berada di negeri- negeri dimana masalah-masalah tentang qadim dan barunya kalam Allah, serta istiwa dan nuzul Allah, ramai diperdebatkan. Jika hatinya tak terlibat dengan hal itu dan hanya sibuk dengan ibadah dan amal salehnya, maka tak ada beban apa pun baginya. Namun, jika ia juga memikirkan hal itu, maka minimal ia harus mengakui keyakinan orang-orang salaf yang mengatakan bahwa Alquran itu qadim, bahwa Al- quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, bahwa istiwa Allah adalah benar, bahwa menanyakan tentangnya adalah bidah, dan bahwa bagaimana cara istiwa itu tidak diketahui.

    Ia cukup beriman dengan apa yang dikatakan syariat secara global tanpa mencari-cari hakikat dan caranya. Jika hal itu masih tidak berguna juga, dimana hatinya masih bimbang dan ragu, jika memungkinkan, hendaknya keraguan tersebut dihilangkan dengan penjelasan yang mudah dipahami walaupun tidak kuat dan tidak memuaskan bagi para ahli kalam. Itu sudah cukup dan tak perlu pembuktian dalil. Namun, lebih baik lagi kalau kerisauannya itu bisa dihilangkan dengan dalil yang sebenarnya. Sebab, dalil tidak sempurna kecuali dengan memahami pertanyaan dan jawabannya. Bila sesuatu yang samar itu disebutkan, hatinya akan ingkar dan pemahamannya tak mampu menangkap jawabannya. Sebab, sementara kesamaran tersebut tampak jelas, jawabannya pelik dan membingungkan sehingga sukar dipahami akal. Oleh karena itu, orang-orang salaf tak mau mengkaji dan membahas masalah ilmu kalam. Hal itu mereka lakukan untuk kepentingan masyarakat awam yang lemah.

    Adapun orang-orang yang sibuk memahami berbagai hakikat, mereka memiliki telaga yang sangat membingungkan. Tidak membicarakan masalah ilmu kalam kepada orang awam adalah seperti melarang anak kecil mendekati pinggir sungai karena takut tenggelam. Sedangkan orang-orang tertentu diperbolehkan karena mereka mahir dalam berenang. Hanya saja, ini merupakan tempat yang bisa membuat orang lupa diri dan membuat kaki tergelincir, dimana, orang yang akalnya lemah merasa akalnya sempurna. Ia mengira dirinya bisa mengetahui segala sesuatu dan dirinya termasuk orang hebat. Bisa jadi, mereka berenang dan tenggelam dalam lautan tanpa ia sadari. Hanya segelintir orang saja dari mereka yang menempuh jalan para salaf dalam mengimani para rasul serta dalam membenarkan apa yang diturunkan Allah Swt. dan apa yang diberitakan Rasul-Nya dimana mereka tak mencari-cari dalil dan argumen. Melainkan, mereka sibuk dengan ketakwaan.

    Demikianlah, ketika Nabi saw. melihat para sahabatnya sibuk berdebat, beliau marah hingga memerah kedua pipi beliau dan berkata, “Apakah kalian diperintahkan untuk ini. Kalian mengumpamakan sebagian isi Kitabullah dengan yang lain. Perhatikan! apa yang Allah perintahkan pada kalian kerjakanlah, sedangkan yang dilarang kalian tinggalkan. ” Ini merupakan peringatan terhadap manhaj yang benar. Lengkapnya, hal itu kami jelaskan dalam kitab Qawa ’id al- Aqaa ’id.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    [pdf-embedder url=”https://wp.sorbansantri.com/wp-content/uploads/2020/01/Hujjah_Ahlissunnah_Wal_Jamaah_KH.pdf”]

  • Menasehati Diri cara Islam – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Menasehati Diri cara Islam – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya adalah mengambil nasihat atau pelajaran untuk diri sendiri.  Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan  mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya tak  mungkin dijadikan alat penerang oleh yang lain. Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok? Allah Swt.

    mewahyukan kepada Isa bin Maryam, “Nasihatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasihat, maka nasihatilah orang-orang. Jika tidak, malulah kepada-Ku.” Nabi kita saw bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.” Pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, sedangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mau mengambil nasihat. Siapa yang tak mau mengambil nasihat dan keduanya, bagaimana ia akan menasihati orang lain? Aku telah menasihati diriku dengan keduanya. Lalu aku pun membenarkan dan menerimanya dengan ucapan dan akal, tapi tidak dalam kenyataan dan perbuatan. Aku berkata pada diri ini, “Apakah engkau percaya bahwa Alquran merupakan pemberi nasihat yang berbicara dan juru nasihat yang benar, serta merupakan kalam Allah yang diturunkan tanpa ada kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya?” Ia menjawab, “Benar.” Allah Swt. berfirman, “Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan amal perbuatan mereka dii dunia dan mereka di dunia ini tak akan dirugikan. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka. Dan gugurlah semua amal perbuatan mereka serta batallah apa yang mereka kerjakan ” (Q.S. Hud: 15-16).

    Allah Swt. menjanjikan neraka bagimu karena engkau menginginkan dunia. Segala sesuatu yang tak menyertaimu setelah mati, adalah termasuk dunia. Apakah engkau telah membersihkan diri dan keinginan dan cinta pada dunia? Seandainya ada seorang dokter Nasrani yang memastikan bahwa engkau akan mati atau sakit jika memenuhi nafsu syahwat yang paling menggiurkan, niscaya engkau akan takut dan menghindarinya. Apakah dokter Nasrani itu lebih engkau percayai ketimbang Allah Swt.? Jika itu terjadi, betapa kufurnya engkau! Atau apakah menurutmu penyakit itu lebih hebat dibandingkan neraka? Jika demikian, betapa bodohnya engkau ini! Engkau membenarkan tapi tak mau mengambil pelajaran. Bahkan engkau terus saja condong kepada dunia. Lalu aku datangi diriku dan kuberikan padanya juru nasihat yang diam (kematian). Kukatakan, “Pemberi nasihat yang berbicara (Alquran) telah memberitahukan tentang pemberi nasihat yang diam (kematian), yakni ketika Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian hindari akan menjumpai kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada alam gaib. Lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan’ (Q.S. al- Jumuah: 8).” Kukatakan padanya, “Engkau telah condong pada dunia. Tidakkah engkau percaya bahwa kematian pasti akan mendatangimu? Kematian tersebut akan memutuskan semua yang kau punyai dan akan merampas semua yang kau senangi. Setiap sesuatu yang akan datang adalah sangat dekat, sedangkan yang jauh adalah yang tidak pernah datang. Allah Swt. berfirman, ‘Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kenikmatan pada mereka selama beberapa tahun? Kemudian datang pada mereka siksa yang telah dijanjikan untuk mereka? Tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka nikmati itu. ’ (Q.S. asySyuara: 205-206).”

    SORBANSANTRI.COM
    BIDAYATUL HIDAYAH

    Jiwa yang merdeka dan bijaksana akan keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya. Sementara jiwa yang lawwamah (sering mencela) akan terus memegang dunia sampai ia keluar dari dunia dalam keadaan rugi, menyesal, dan sedih. Lantas ia berkata, “Engkau benar.” Itu hanya ucapan belaka tapi tidak diwujudkan. Karena, ia tak mau berusaha sama sekali dalam membekali diri untuk akhirat sebagaimana ia merancang dunianya. Ia juga tak mau berusaha mencari rida Allah Swt. sebagaimana ia mencari rida dunia. Bahkan, tidak sebagaimana ia mencari rida manusia. Ia tak pernah malu kepada Allah sebagaimana ia malu kepada seorang manusia. Ia tak mengumpulkan persiapan untuk negeri akhirat sebagaimana ia menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musim kemarau. Ia begitu gelisah ketika berada di awal musim dingin manakala belum selesai mengumpulkan perlengkapan yang ia butuhkan untuknya, padahal kematian barangkali akan menjemputnya sebelum musim dingin itu tiba.

    Kukatakan padanya, “Bukankah engkau bersiap-siap menghadapi musim kemarau sesuai dengan lama waktunya lalu engkau membuat perleng- kapan musim kemarau sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi panas?” Ia menjawab: “Benar.” “Kalau begitu”, kataku, “Bermaksiatlah kepada Allah sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi neraka dan bersiap-siaplah untuk akhirat sesuai dengan kadar lamamu tinggal di sana.” Ia menjawab, “Ini merupakan kewajiban yang tak mungkin diabaikan kecuali oleh seorang yang dungu.” Ia terus dengan tabiatnya itu. Aku seperti yang disebutkan oleh para ahli hikmat, “Ada segolongan manusia yang separuh dirinya telah mati dan sepatuhnya lagi tak tercegah.” Aku termasuk di antara mereka. Ketika aku melihat diriku keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil manfaat dari nasihat kematian dan Alquran, maka yang paling utama harus dilakukan adalah mencari sebabnya disertai pengakuan yang tulus.

    Hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Aku terus-menerus mencari hingga aku menemukan sebabnya. Ternyata aku terlalu tenang. Oleh karena itu berhati-hatilah darinya. Itulah penyakit kronis dan sebab utama yang membuat manusia tertipu dan lupa. Yaitu, keyakinan bahwa maut masih lama. Seandainya ada orang jujur yang memberikan kabar pada seseorang di siang hari bahwa ia akan mati pada malam nanti atau ia akan mati seminggu atau sebulan lagi, niscaya ia akan istikamah berada di jalan yang lurus dan pastilah ia meninggalkan segala sesuatu yang ia anggap akan menipunya dan tidak mengarah pada Allah SWT.

    Jelaslah bahwa siapa yang memasuki waktu pagi sedang ia berharap bisa mendapati waktu sore, atau sebaliknya siapa yang berada di waktu sore lalu berharap bisa mendapati waktu pagi, maka sebenarnya ia lemah dan menunda-nunda amalnya. Ia hanya bisa berjalan dengan tidak berdaya. Karena itu, aku nasihati orang itu dan diriku juga dengan nasihat yang diberikan Rasullah saw ketika beliau bersabda, ” Salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia). ” Beliau telah diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang singkat, padat, dan tegas.

    Itulah nasihat yang berguna. Siapa yang menyadari dalam setiap salatnya bahwa salat yang ia kerjakan merupakan salat terakhir, maka hatinya akan khusyuk dan dengan mudah ia bisa mempersiapkan diri sesudahnya. Tapi, siapa yang tak bisa melakukan hal itu, ia senantiasa akan lalai, tertipu, dan selalu menunda-nunda hingga kematian tiba. Hingga, pada akhirnya ia menyesal karena waktu telah tiada.

    Aku harap ia memohonkan kepada Allah agar aku diberi kedudukan tersebut karena aku ingin meraihnyg tapi tak mampu. Aku juga mewasiatkan padanya agar hanya rida dengannya dan berhati-hati terhadap berbagai tipuan yang ada. Tipuan jiwa hanya bisa diketahui oleh mereka yang cendekia.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH