Tag: jawa

  • Terlanjur Puasa Hari Ini

    Terlanjur Puasa Hari Ini

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Postingan kali ini khusus menjawab internal warga NU yang puasa di hari Rabu karena mendapat kabar hari ini adalah hari pertama bulan Rajab.

    Warga NU mayoritas ikut Mazhab Syafi’i. Secara kelembagaan NU memutuskan untuk menggunakan metode rukyat hilal dalam menentukan datangnya bulan Hijriyah. Tetapi dalam Mazhab Syafi’i jugalah metode hisab (astronomi) diterima sebagai salah satu cara menentukan waktu masuknya bulan baru kalender Hijriyah.

    الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : يُعْتَبَرُ قَوْلُ الْمُنَجِّمِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَحَقِّ مَنْ صَدَّقَهُ وَلَا يَجِبُ الصَّوْمُ عَلَى عُمُوْمِ النَّاسِ بِقَوْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ (الفقه على المذاهب الأربعة – ج 1 / ص 873)

    “Syafiiyah berkata: Pendapat ahli hisab dapat diterima bagi dirinya sendiri dan orang yang percaya padanya. Orang lain tidak wajib puasa berdasarkan pendapat yang kuat” (Madzahib al-Arba’ah 1/873)

    Jadi, yang terlanjur puasa hari ini boleh ikut pendapat ahli hisab. Atau diniatkan puasa sunah mutlaqah. (KH ma’ruf Khozin)

  • KHUTBAH JUM’AT: Berpegang Teguh pada Ajaran ASWAJA

    KHUTBAH JUM’AT: Berpegang Teguh pada Ajaran ASWAJA

    SORBANSANTRI.COM

    Khutbah 1

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى
    Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah

    Alhamdulillah dengan memuji syukur kehadirat Allah SWT kita bisa merasakan nikmatnya iman dan Islam. Nikmat yang melebihi apapun dan tidak dapat ditukar dengan apapun. Dengan nikmat Iman dan Islam, kita bisa merasakan kebahagiaan dalam semua hal. Marilah kita gunakan nikmat yang telah Allah limpahkan itu dengan menjaga keimanan dan ketakwaan.

    Jamaah shalat Jum’at yang diberkahi Allah
    Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan tentang khutbah yang berjudul “Berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah”.

    Ada tiga kata yang membentuk istilah Ahlussunnah wal Jamaah yaitu:

    1. Ahl, berarti keluarga, golongan, atau pengikut. 2. Al-Sunnah, secara bahasa bermakna al-thariqah (jalan).
    2. Al-Jama’ah, berasal dari kata jama’ah artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan sebagian ke sebagian lain. Jama’ah berasal dari kata ijtima’ (perkumpulan), lawan kata dari tafarruq(perceraian), dan furqah(perpecahan). Jama’ah adalah sekelompok orang banyak dan dikatakan sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan. Menurut istilah “sunnah” adalah suatu cara untuk nama yang diridhai dalam agama, yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW atau selainnya dari kalangan orang yang mengerti tentang Islam seperti para sahabat Rasulullah. Secara istilah, aswaja atau Ahlusunnah wal jama’ah golongan yang mengikuti ajaran rasulullah dan para sahabat-sahabatnya.

    Dalam kajian akidah/ilmu kalam, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah dinisbatkan pada paham yang diusung oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, yang menentang paham Khawarij dan Jabariyah (yang cenderung tekstual atau ekstrim) dan paham Qadariyah dan Mu’tazilah (yang cenderung liberal).

    Dalam kajian fikih, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah dinisbatkan pada paham Sunni yaitu merujuk pada fikih 4 (empat) madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) yang berbeda dengan paham fikih Syi’ah.

    Kemudian, pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bidang tashawwuf, NU mengikuti Imam al-Junaidi al-Bagdadi dan Imam al-Ghazali at-Thusi.

    Tentang Wajibnya kita sebagai umat Islam untuk ikut dalam kelompok mayoritas umat Islam sebagaimana Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

    ﺇِﻥَّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻟَﺎ ﺗَﺠْﺘَﻤِﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻟْﺄَﻋْﻈَﻢِ

    “Sesungguhnya Umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan. Sekiranya kamu lihat perselisihan, maka hendaklah kamu ambil ‘As-Sawad Al-‘Adzom’ yakni kelompok mayoritas” {Ibnu Majah : 3940}

    Tiga Ciri Utama Kelompok mayoritas umat Islam atau Aswaja

    1. Sebagai kelompok mayoritas pada setiap masa atau setiap zaman
    2. Mereka berpegang teguh kepada ajaran Rasul dan para sahabatnya dan ulama setelahnya
    3. Mereka tidak suka mengkafirkan sesama muslim.

    Pendapat paling jelas dalam mengidentifikasi Jamaah dan As-Sawad al-A’dzam adalah kitab Al-Yawaqit wal Jawahir karya Abdul Wahhab al-Sya’rani;

    وَاعْلَمْ يَا أَخِيْ أَنَّ الْمُرَادَ بِأَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فِيْ عُرْفِ النَّاسِ الْيَوْمَ الشَّيْخُ أَبُوْ الْحَسَنِ اْلاَشْعَرِيّ وَمَنْ سَبَقَهُ بِالزَّمَانِ كَالشَّيْخِ أَبُوْ مَنْصُوْرِ الْمَاتُوْرِيْدِيّ

    Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa yang dimaksud dengan Ahlussunnah wal Jamaah dalam pemahaman orang-orang sekarang ini adalah, Syaikh Abul Hasan Ali al-Asy’ari dan imam sebelumnya seperti Syaikh Abu Manshur al-Maturidi.

    Menurut Syekh Hasyim Asy’ari dalam Zidayat Ta’liyat, Ahlussunnah wal Jamaah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi SAW dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah). Saat ini, kelompok tersebut terhimpun dalam mazhab yang empat, yaitu mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali.

    Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah

    Ditengah maraknya berbagai aliran-aliran Islam, marilah kita semua berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Istiqamah mengamalkan ajaran Aswaja sebagai kelompok mayoritas umat Islam yang telah diamalkan oleh ulama-ulama kita, guru-guru kita sejak dulu. Jangan sekali-kali menyempal atau mengikuti kelompok minoritas yang cenderung tekstual atau ekstrim dan sebaliknya yakni liberal. Ikut dalam kelompok mayoritas adalah sebagai jalan kita dalam mengamalkan firman Allah dalam surat An-Nisa’: 59

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

    Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
    Khutbah 2

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذيْ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Oleh Suryono Zakka, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Fuadah, Sumsel

  • HUT KE-20: RADIKALISME DAN TERORISME MENGINTAI PROVINSI TIMAH

    HUT KE-20: RADIKALISME DAN TERORISME MENGINTAI PROVINSI TIMAH

    Oleh Ayik Heriansyah
    Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI

    wp.sorbansantri.com – Baru saja Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperingati hari jadinya yang ke-20 pada tanggal 21/11/2020. Provinsi muda dengan penduduk 1,4 juta jiwa yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia (Melayu, Bugis, Banjar, Cina, Jawa, Sunda, Batak, dsb) terus berlari dan melompat, melesat membangun daerahnya. Dengan sumber daya alam tambang, perikanan, kelautan, perkebunan dan pariwisata serta didukung oleh sumber daya manusia putra asli daerah yang mumpuni, Provinsi Bangka Belitung diprediksi akan menjadi provinsi muda yang terdepan.

    Namun di balik itu ada ancaman serius dan bahaya laten bagi pembangunan dan kemajuan provinsi, yakni radikalisme dan terorisme. Radikalisme dan terorisme ibarat air dan ikan. Di dalam kelompok, komunitas dan masyarakat yang radikal, tumbuh subur terorisme dan jaringannya. Kelompok radikalisme mensyaratkan sikap intoleransi dari pengikutnya. Hal ini menjadi ancaman kemajemukan masyarakat Bumi Serumpun Sebalai.

    Bibit-bibit radikalisme ada di pulau Timah sebelum provinsi terbentuk. Radikalisme mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesca pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat suasana eforia reformasi, otonomi daerah dan pembentukan provinsi baru, di saat semua orang bebas berpendapat, setiap aliran, kelompok dan organisasi dibiarkan menyebarkan paham dan ideologi, kelompok radikal mengambil kesempataan emas ini.

    Sejak tahun 2002 kelompok radikal secara struktural, sistematis, massif dan intensif melalukan radikalisasi bagi masyarakat Bumi Serumpun Sebalai dengan menggunakan media sosial, menyelenggarakan diskusi publik/seminar, mimbar-mimbar khutbah jum’at, buletin jum’at, pengajian-pengajian umum, dan acara di radio/televisi lokal, serta aksi-aksi unjuk rasa menentang pemerintah kebijakan pemerintah. Radikalisasi yang berlangsung bertahun-tahun ini terkesan dibiarkan oleh pejabat pemerintahan daerah.

    Pertumbuhan dan perkembangan radikalisme di Babel beriringan dengan pertumbuhan dan perkembangan provinsi dan kabupaten-kabupaten baru, sehingga radikalisme masuk ke dalam sendi-sendi birokrasi. Gejala-gejala radikalisasi birokrasi di Bangka Belitung terasa dari beberapa kali pemerintah daerah mengundang Ustadz-ustadz radikal mengisi acara-acara resmi. Dan terlihat mengabaikan ulama dan ustadz yang ada di Provinsi sendiri, yang dikenal moderat.

    Puncaknya ketika terjadi insiden Surat Edaran dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kep. Bangka Belitung perihal Membaca Buku Muhammad al-Fatih pada tanggal 30/09/2020 yang lalu. Mungkin Pak Kepala Dinas hilaf dan lupa, kalau pahlawan Islam yang berjuang melawan penjajah di Bangka Belitung adalah Depati Amir, Depati Bahrin, Depati Hamzah, Hamidah. Batin Tikal, Depati Rahad Belitong, Hananjoeddin Belitong, Moch Roeslly Effendy. Bukan Muhammad al-fatih. Bukan jugaa Felix Siauw. Bukan pula FPI dan HTI.

    Pak Kepala Dinas tidak tahu Felix Siauw adalah seorang propagandis HTI, yang mengerahkan segala upayanya guna berdirinya negara Khilafah Tahririyah (Khilafah versi HTI). Entah siapa yang memberi saran kepada Pak Kepala Dinas sehingga muncul ide membaca buku Felix. Surat Edaran tersebut memang dibatalkan keesokan harinya setelah mendapat protes dari masyarakat, akan tetapi kejadian tersebut mengkonfirmasi bahwa ada radikalisasi di birokrasi Bangka Belitung.

    Menurut indeks yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT, 2020), dari 32 provinsi, Provinsi Timah menduduki urutan ke-13, mengalahkan Sulawesi Tengah (urutan 15) dan Jawa Barat (urutan 19). Padahal di Sulawesi Tengah tepatnya di Poso bercokol kekompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafilsasi kepada ISIS. Sampai sekarang mereka menebar teror di tengah masyarakat. Sedangkan Jawa Barat, sudah mafhum menjadi ibu kandung tempat lahirnya kelompok-kelompok radikal dan teror di Indonesia.

    Istilah radikalisme air bagi ikan terorisme. Dimana ada kelompok, komunitas dan masyarakat radikal, di situ tumbuh subur terorisme dan jaringannya. Harus menja

    di perhatian khusus bagi pemerintahan daerah Bangka Belitung. Secara geografis, kepulauan Bangka Belitung sangat ideal menjadi tempat persembunyian dan persemaian teroris dan jaringan teror. Jangan biarkan keindahan alam dan keindahan toleransi di Bumi Serumpun Sebalai rusak gara-gara radikalisme dan terorisme.(abi-sorban)

  • Masjid Cheng Hoo Pemersatu Umat, Bergaya Cina-Jawa

    Masjid Cheng Hoo Pemersatu Umat, Bergaya Cina-Jawa

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Cheng Ho lahir di tahun 1371 di Propinsi Yunan, Tiongkok dan ia beragama Islam karena ayahnya adalah keturunan suku Hui yang udah pernah melaksanakan ibadah haji di Mekah. Waktu umur 10 tahun Cheng Ho kecil ditangkap oleh tentara kerajaan Tiongkok, lalu dikebiri dan dijadikan tentara. Selanjutnya Cheng Ho mengabdi kepada Kaisar Yongle dari Dinasti Ming dan atas perintahnya Cheng Ho berlayar ke berbagai tempat di dunia sebagai utusan Kerajaan Tiongkok.

    Ekspedisi Cheng Ho dimulai pada tahun 1405 sampai 1433 dan ia telah menyambangi beberapa negara di Asia seperti Vietnam, Taiwan, Malaka, Sri Lanka, India, Arab, dan pernah juga mendarat di Pulau Sumatra dan Jawa. Sejarah mencatat Cheng Ho telah tujuh kali berlabuh di pelabuhan Nusantara, di antaranya di Banda Aceh, Cirebon, Semarang dan Jawa Timur yang saat itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

    Saat berlabuh Cheng Ho bukan hanya memberikan berbagai hadiah kepada raja, namun juga bersosialisasi dengan penduduk setempat. Saat itulah terjadi pertukaran budaya dan komunitas Tiongkok yang sudah menetap di Nusantara pun mengenal agama Islam di bawah bimbingan Laksamana Cheng Ho.

    MELEPAS LELAH DI MASJID CHENG HO PASURUAN
    Sejarah berdirinya Masjid Cheng Ho Pasuruan ini cukup unik karena ide pendiriannya berasal dari Bupati Pasuruan, Jusbakir Aldjufri, yang ingin agar Pasuruan memiliki sebuah landmark dengan banyak fungsi dan bermanfaat bagi siapapun. Di tahun 2003 Masjid Cheng Ho Pasuruan mulai dibangun dengan dukungan dan prakarsa Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), sebuah organisasi yang mewadahi umat Muslim Tionghoa di Indonesia.

    Lokasi yang dipilih untuk pendirian Masjid Cheng Ho adalah pertigaan Jalan Raya Pasuruan-Malang-Tretes, cukup strategis dan bisa kamu lihat kalo kamu hendak pergi ke Malang dari arah Surabaya atau sebaliknya. Masjid Cheng Ho mengaplikasikan perpaduan tiga gaya arsitektur sekaligus, yaitu Jawa, Arab dan Tiongkok, dan inilah yang menjadikan Masjid Cheng Ho menarik sebagai tujuan wisata religi.

    Masjid Cheng Ho Pasuruan adalah bangunan dua lantai dengan bentuk atap bersusun seperti pagoda khas Tiongkok. Menurut para sesepuh PITI, bentuk atap bersusun ini dipilih bukan tanpa alasan. Atap bersusun Masjid Cheng Ho punya makna yang dalam banget karena melambangkan hidup manusia di dunia yang sebaiknya tak hanya mengurusi masalah duniawi namun juga mendekatkan diri kepada Yang Di Atas.

    Kamu bisa melihat sisi dalam pagoda dengan naik ke lantai dua Masjid Cheng Ho. Di sini kamu bisa melihat langit-langit Masjid Cheng Hoo menjulang tinggi ke atas sehingga udara di dalamnya terasa sejuk dan menentramkan hati. Dari jendelanya kamu akan melihat panorama sekeliling yang indah dengan kawasan Tretes mengintip di kejauhan. Tapi kamu hanya boleh mendatangi bagian Masjid Cheng Ho yang satu ini kalo kamu hendak sholat, travelers.

    Masjid Cheng Ho dicat dengan warna khas Daratan Tiongkok, yaitu merah menyala. Beberapa ornamen kaligrafi tampak menyatu dengan atap Joglo khas Jawa dan ini bisa kamu lihat di area lantai satu Masjid Cheng Ho. Bagian ini aslinya diperuntukkan sebagai ruang pertemuan yang boleh dipakai siapapun yang membutuhkan. Tapi kalo lagi kosong biasanya dipake para pengunjung Masjid Cheng Ho buat beristirahat atau tidur-tiduran.

    Sambil tiduran kamu bisa menikmati jagung rebus, kopi hangat atau kudapan khas Pasuruan lain yang banyak dijajakan di pelataran Masjid Cheng Ho. Tapi buang sampahnya jangan sembarangan ya, travelers. Sebelum kamu meninggalkan Masjid Cheng Ho, mampir dong ke Pasar Buah yang ada di sebelahnya buat membeli aneka makanan oleh-oleh, kripik atau pernak-pernik buat mengingatkanmu selalu pada Masjid Cheng Ho Pasuruan. (ABI SORBAN)
    SUMBER

  • FAKTA NASAB ABAH GURU SEKUMPUL,ULAMA KALIMANTAN DAN PARA KYAI NU JAWA

    FAKTA NASAB ABAH GURU SEKUMPUL,ULAMA KALIMANTAN DAN PARA KYAI NU JAWA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Telah berKata Habib Umar bin Hafidz bahwasanya para kyai Jawa itu 70 persen Sayyid Dzuriat Rasulullah yg mastur (tersembunyi).
    Mayoritas kyai Jawa merupakan Dzuriat Rasulullah Bani Muhajir gelombang 1 yaitu Fam adzmatkhan atau para Sayyid Walisongo.Dan mereka mayoritas mastur(menyembunyikan nasabnya) dan tidak tercantum dlm bagan nasab Rabithah Alawiyah.
    Di antara kyai Jawa al : Kyai Aqil Sirodz(ketum PBNU),Kyai Ma’ruf Amin(wapres),kyai Maimun Zubeir,Gus Dur,kyai Mustofa Bisri dan masih byk yg lainnya yg ga perlu disebutkan satu persatu disini.

    Tuan Guru Sekumpul (Syekh Muhammad Zaini)juga Dzuriat Rasulullah SAW meskipun juga tidak tercantum dlm Rabithah Alawiyah.Beliau pernah berkata saat terjadi perang Zaman Belanda dahulu banyak sekali Dzuriat Rasulullah SAW diburu utk dihabisi oleh Belanda.Sehingga Banyak para Sayyid menyembunyikan nasabnya sehingga tidak tercantum dlm bagan nasab Rabithah Alawiyah.Termasuk salahsatunya Ayah Datu Kelampayan yaitu Sayyid Abdullah Alydrus yg merubah nama anaknya yaitu Sayyid Ja’far Shodiq Alydrus menjadi Muhammad Arsyad Al-Banjari yg menurunkan ulama2 Banjar seperti Abah Guru Sekumpul,Abah Guru Zuhdi,Abah guru Banjar Indah ( KH.Syaiufuddin Zuhri),KH.M.Bakhiet dll.Mayoritas Ulama2 terkenal kalimantan sejak jaman dulu sampai skrg adl msh Dzuriat Datu Kelampayan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Sayyid Ja’far Shodiq Alaydrus).

    Begitu juga mayoritas para Kyai Jawa terutama yg di NU adl msh dzuriat para Sayyid Walisongo.Abah Guru Sekumpul pernah berkata bahwasanya walisongo itu semuanya habaib kecuali Sunan Kalijogo.Kl misal ada selebaran yg mengatakan Guru Sekumpul bukan dzuriat Rasulullah itu sdh jelas hoax dan sangat menyakiti hati masyarakat Kalimantan dan pecinta Tuan Guru Sekumpul seluruh dunia.Pihak yg bikin selebaran tidak mengerti Sejarah perjuangan para Sayyid jaman dulu yg menyembunyikan Identitasnya dgn merubah namanya menjadi orang biasa(awam), Raden,Tengku,tubagus,Datu,dll.
    Salahsatunya adl Sayyid Abdurrahman yg merubah namanya menjadi Jaka Tingkir yg merupakan nenek moyang Gus Dur(Bani Muhajir gelombang 1) dan para Kyai Jawa.

    Inilah perbedaan NU dengan Aswaja yg lain dlm menyikapi perbedaan pendapat tentang dzuriat Rasulullah .
    Hanya NU satu2nya aswaja yg secara mutlak mengakui nasab dzuriat Rasulullah Abah Guru Sekumpul meskipun tidak termaktub dlm Rabithah Alawiyah.berbeda aswaja lain yg ragu2 dan bahkan menyebarkan pernyataan Abah Guru Sekumpul dan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bukan dzuriat Rasulullah yg mana selebaran itu mengatasnamakan Rabithah Alawiyah thn 2000.

    Oleh karena itulah Abah Guru Sekumpul menceritakan fakta yg sebenarnya tentang kenapa Sayyid Abdullah Alydrus. Ayah Syekh Muhammad Albanjari menyembunyikan nasabnya.
    Seorang Ulama berkata bahwasanya hanya seorang sayyid yg bisa mencapai maqom Wali Quthubul Ghouts.Dan Abah Guru Sekumpul merupakan seorang Wali Quthubul Ghouts yg diakui para wali seluruh dunia termasuk Habib Salim Asysyatiri,Habib Anis Al Habsyi ,Habib Umar bin Hafidz dan mbah Hamid Pasuruan(beliau seorang habaib dan ulama besar yg tidak mau dipanggil habib). Kata Abah Guru Sekumpul arti Alydrus itu presidennya para wali.

    Wallaahua’lam ( Abi SORBAN)

  • MANDI KEMBANG MENURUT ISLAM DAN FILOSOFI KEJAWEN

    MANDI KEMBANG MENURUT ISLAM DAN FILOSOFI KEJAWEN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Membicarakan masalah mandi kembang tentu pikiran kita akan menuju ke suatu ritual mistis yang dilakukan seseorang untuk tujuan tertentu.

    Tapi apakah semua orang yang mandi kembang pasti melakukan suatu ritual tertentu , bagaimana jika itu hanya untuk terapi .

    Bunga tidak hanya dikenal karena kecantikannya. Bunga juga mengandung berbagai macam manfaat lain yang belum diketahui oleh khalayak ramai. Namun tak sedikit juga yang tahu bahwa mandi kembang dapat membersihkan aura tubuh, serta memperkuat energi yang terpancar dari tubuh manusia.
    Ritual mandi kembang sudah ada dari jaman dulu kala. Hanya saja, beberapa orang masih salah mengartikan makna dari ritual tersebut.
    Alangkah baiknya bila seseorang menyelami makna filosofis dari ritual mandi kembang lebih dalam supaya tidak muncul kesalahpahaman.

    Bagaimana Sebenarnya Makna Filosofis dari Ritual Mandi Kembang?

    Mandi kembang lebih dikenal sebagai ritual kejawen (adat jawa). Setelah diteliti berkali-kali, ditemukan fakta bahwa ritual mandi kembang mampu membersihkan aura manusia. Aura yang kuat dan bersih yang berasal dari kesehatan fisik dan juga mental dapat diperoleh dengan melakukan ritual tersebut. Ditambah lagi, wewangian yang berasal dari bunga-bunga terpilih itu juga dapat mempengaruhi sistem kerja saraf tubuh manusia, sehingga membuat seseorang dapat melakukan hal-hal yang lebih positif. Karena pkiran dan hatinya bersih, maka apa yang dilakukannya juga akan menjadi baik.

    Pada sastra kitab klasik, telah dijabarkan oleh Jalaludin As Suyuthi mengenai makna filosofis dari ritual mandi kembang. Selain menimbulkan energi, bunga memiliki ciri aromanya masing-masing. Aroma sedap yang tercium dari bunga, serta bentuk dan warnanya yang indah akan memberikan perasaan nyaman bagi siapapun yang melihatnya.

    Ritual mandi kembang menurut Islam bukanlah hal musrik. Mereka yang menganggap ritual mandi kembang adalah musrik, berarti mereka adalah tipe orang yang kurang bisa berpikir jernih. Ritual mandi kembang merupakan tradisi jaman dulu sebelum mengenal sabun. Jadi, supaya tubuhnya bersih dan wangi maka orang jaman dulu menggunakan bunga untuk menyeka tubuhnya. Selagi tidak ada bentuk penyembahan yang melatarbelakangi ritual tersebut, maka mandi kembang bukanlah hal musrik.
    Nah , jika disitu tidak ada unsur syirik , apa bedanya dengan mandi susu atau luluran ?
    Jadi bisa dipahami bukan ?

    Seperti yang disabdakan Allah SWT bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, seperti saat sebelum memulai sholat hendaknya seseorang membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Mandi kembang 7 rupa dalam Islam adalah mandi dengan mencampurkan 7 jenis bunga ke dalam air bersih agar supaya aura dan energi luar dan dalam tubuhnya tetap terjaga. Atau dengan kata lain, supaya kebersihan tubuh tetap terawat.

    Mandi Kembang di Malam Jumat? Ini Manfaatnya !

    Apa yang terlentas di benak kita ketika mendengar kata “malam jumat”? Pastilah hal-hal yang menakutkan dan mengerikan dan beraura mistis.
    Namun tidak demikian adanya, dalam adat kejawen, mandi kembang pada malam jumat dapat mendatangkan banyak manfaat.

    Berikut manfaat mandi kembang malam jumat menurut ritual adat Jawa.

    Membuka dan membersihkan aura.
    Mandi kembang pada malam jumat dipercaya dapat memperkuat aura seseorang. Diistilahkan sebagai mandi aura karena ritual itu bertujuan untuk mempertajam aura seseorang.

    Menetralisir berbagai penyakit.
    Dalam adat Jawa, mandi kembang juga dapat menjauhkan seseorang dari penyakit yang ditimbulkan dari aura negatifnya, seperti santet atau pelet.

    Ternyata bunga memiliki daya vibrasi. Vibrasi energi yang terkandung dalam bunga mampu membuat medan energi tubuh menjadi stabil, sehingga sistem pencernaan tubuh berfungsi dengan benar. Manfaat mandi bunga akan sangat dirasakan apabila seseorang sedang mengalami perasaan gelisah atau tertekan. Sebenarnya, tidak peduli pagi, siang, sore, atau malam, seseorang tetap bisa menyerap energi positif yang diberikan oleh bunga-bunga tersebut.

    Maka dari itu, orang-orang pada jaman dahulu sering melakukan ritual mandi kembang untuk membebaskan jiwa-jiwa yang sedang terganggu ketentramannya. Karena apabila jiwa seseorang sedang terganggu, fisiknya pasti akan terganggu juga. Berdasarkan penjelasan diatas, hendaknya makna filosofis dari ritual mandi kembang disikapi dengan bijaksana agar tidak menimbulkan prasangka buruk.

    Jadi disini bisa disimpulkan bahwa mandi kembang memang tidak dilarang dalam islam selagi tidak ada unsur kemusrikan .
    Bagaimana dengan kasus memandikan keris atau mobil baru ?

    Pertanyaan seperti ini seharusnya tidak usah dijawab , atau bisa ditanya balik kalau ada yang menanyakan pada kita ?
    Apakah keris , mobil perlu mandi kembang , apakah mereka perlu terapi seperti kita , bukankah mereka benda mati .
    Jadi bisa dipastikan itu ada unsur lain yang melatarbelakanginya , dan anda pasti tahu jawabannya.

    Semoga bermanfaat, (abi SORBAN)

  • BANCAKAN JAJAN PASAR

    BANCAKAN JAJAN PASAR

    #Sopo_Gelem_tak_Dongengi

    Bancakan adalah tradisi di masyarakat Jawa yang masa lalu sering kita jumpai, atau bahkan kita lakukan. Kegiatan bancakan merupakan jenis selamatan dengan segment khusus untuk anak-anak. Biasanya yang dijadikan menu Bancakan adalah makanan jenis jajan pasar atau makanan nasi atau bubur dengan porsi kecil. Maklum karena segmen-nya anak-anak yang porsi makannya sedikit.

    Jajan pasar dipilih sebab menjadi kesukaan anak-anak. Jajan pasar ini seperti kelanting, klepon, Gatot dan semacamnya yang dulu banyak dijual di pasar tradisional. Namun perkembangan jaman jajanan tradisional itu kemudian sering diganti dengan makanan dalam kemasan alias chiki-chikian.

    Bancakan umumnya dilakukan pada hari weton kelahiran anak yang dibancaki. Waktu weton itu dipakai karena adanya keyakinan bila pada hari weton kelahiran anak biasa terjadi balak atau naas dalam kehidupannya. Maka untuk menghilangkan naas itulah maka dimintakan doa dalam bentuk Bancakan.

    Bagaimana awal mula Bancakan itu terjadi ?

    Tersebutlah seorang lelaki yang menikah dengan bidadari. Namanya Joko Tarup yang dengan tipu muslihatnya berhasil menyunting Dewi Nawangwulan. Dalam perkawinan mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Namun pada akhirnya Dewi Nawangwulan berhasil mendapatkan kembali selendang yang disembunyikan Joko Tarup dalam lumbung padi. Setelah itu Dewi Nawangwulan menggunakan selendang untuk balik ke habitatnya sebagai bidadari di Kayangan. Maka tinggallah Joko Tarup sendiri membesarkan buah hati mereka.

    Sebelum Dewi Nawangwulan pergi, Joko Tarup sempat merajuk pada istrinya, “Bagaimana nanti jika anak kita bertanya dan ingin menemui ibunya, Dinda ?’, ujarnya seraya berharap istrinya mengurungkan niat.

    “Nanti kalau anak kita rindu padaku ajaklah keluar halaman pada saat bulan purnama. Aku akan datang menghiburnya, Kakang”, jelas Dewi Nawangwulan.

    Pada malam bulan purnama, Joko Tarup berdiri di halaman menatap bulan yang bulat terang bersinar. Seperti yang dijanjikan Dewi Nawangwulan dia berharap dapat bertemu lagi, meski hanya semalam saja. Namun yang dinanti tidak kunjung muncul dihadapannya.

    “Yayi Dewi, dimana kau kini ?”, kata Joko Tarup yang tidak tahu pada siapa kata itu ditujukan. Tidak ada orang dihadapan yang bisa diajak berbincang.

    Tiba-tiba, terdengar suara. Suara yang dikenal Joko Tarup sebagai nada suara milik istrinya.

    “Aku disini, Kakang. Aku menjelma menjadi bulan purnama yang sejak tadi Kakang pandang”, ucap Dewi Nawangwulan.

    “Duh Yayi, aku kira Dinda akan muncul kembali untuk menjenguk anak kita yang terus menanyakan dimana ibunya’, terang Joko Tarup.

    “Maaf, Kakang. Aku tidak bisa datang karena kita berbeda alam”, balas Dewi Nawangwulan.

    “Kalau genduk rindu padaku bawalah dia ke halaman serta. Aku akan menghiburnya, bersenandung untuknya”, jelasnya.

    Pupus sudah harapan Joko Tarup untuk bisa bersanding kembali dengan istrinya. Kata rindu yang dijadikan alasan tidak diindahkan. Lalu kata apa lagi yang akan disodorkannya ?.

    “Terus bagaimana bila genduk sakit, sedangkan bulan purnama belum masanya ?”, sergah Joko Tarup.

    “Agar genduk tidak sakit maka lakukan Bancakan jajan pasar pada hari wetonnya. Dengan demikian genduk akan terhindar bukan hanya dari sakit tetapi juga terhindar dari mala petaka. Bagikan jajan pasar itu pada anak-anak di sekitar rumah kita”, kata Dewi Nawangwulan menjelaskan.

    Pesan Dewi Nawangwulan itu kemudian dijalankan oleh Jojo Tarup. Dengan Bancakan dia berharap anaknya tumbuh besar jauh dari marabahaya. Makanan yang disediakan pun membuat anak-anak yang sedang senang-senangnya mengkonsumsi jajanan menjadi gembira. Maka sejak itu Bancakan dilakukan pada masyarakat di Jawa.

    Madiun, 12 Juli 2019.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq