
Tag: kitab
-

Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah
Oleh : Gus Nadirsyah Hosenwp.sorbansantri.com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحقImam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:Versi pertama;Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”Versi kedua:Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i. (kang jay)Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i -

Ceramah Gus Muwafiq Tak Rendahkan Nabi
Isi tausiyah KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq di Purwodadi, Jawa Tengah beberapa waktu lalu dipermasalahkan sekelompok orang. Gus Muwafiq oleh orang-orang yang selama ini tak suka, dituduh dan dibully menghina Nabi Muhammad SAW. Padahal dalam dakwahnya Gus Muwafiq hanya cerita mengisahkan kisah kecil Rasul yang tak terurus, dan rembes (dekil, bahasa Jawa).
Hal tersebut karena semasa kecil Kanjeng Nabi saat itu diurus sang kakek. Kehidupan Nabi semasa kecil memang dalam keadaan prihatin karena baginda Nabi semasa kecil sudah sebatang kara. Namun kisah Nabi ini dianggap sekelompok orang itu sebagai penghinaan.
Kiai Muwafiq telah meminta maaf atas ucapannya. Namun banyak juga yang mendukung tausiyah Gus Muwafiq. Banyak postingan di media sosial yang tetap mendukung Gus Muwafiq dan tetap meminta ulama besar NU ini sabar dalam menghadapi cobaan. Salah satu yang mendukung dakwah Gus Muwafiq adalah Ulama besar yang juga Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Futuhiyyah Mranggen Demak KH Hanief Muslih.

Ulama kharismatik ini juga ikut urun rembug terkait ceramah KH Ahmad Muwafiq. Ia mendukung dan membenarkan apa yang diucapkan Kiai yang tinggal di Ponpes Jombor Yogyakarta ini.
Berikut pandangan tokoh besar Ulama Jawa Tengah ini :
Urun rembug, mudah-mudahan bisa menyadarkan kita, apakah Gus Muwafiq salah dalam kata-katanya yang menyebutkan Nabi Muhammad kecil pernah REMBES, atau sakit mata beliau.
Di antara temen kita ada yang membully sedemikian rupa, sepertinya dia telah menjatuhkan martabat Nabi, menghina Nabi, dan ada yang menggolongkannya boleh dibunuh Wal-Iyadhu Billah.
Terimakasih Gus Muwafiq, Antum telah banyak menyadarkan banyak orang untuk kembali ngaji kitab-kitab klasik, yang telah banyak ditinggalkan banyak orang pinter.
Berikut kutipan nash-nash kitab yang menjelaskan bahwa, Nabi Muhammad kecil ketika umur 7 tahun, beliau sempat sakit mata yang sangat amat “Romadun Syadidun”, yang dimaknai oleh Gus Muwafiq dengan REMBES. Simak baik-baik berikut ini (ma’af tidak saya terjemah) :
ومنها ما ذكره ابن الجوزي من أنه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم أصابه رمد شديد سنة سبع من مولده فعولج في مكة فلم يفد العلاج فقيل لعبد المطلب إن في ناحية عكاظ راهبًا يعالج الأعين فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه فتزلزل ديره حتى خاف أن يسقط عليه فخرج مبادرًا فقال يا عبد المطلب إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخرب على ديري فارجع به واحفظه لا يقتله بعض أهل الكتاب فعالجه وأعطاه ما يعالج به. وفي رواية أنّ الراهب
أخرج صحيفة وجعل ينظر إليها وإلى رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم ثم قال هو والله خاتم النبيين ثم قال يا عبد المطلب هذا رمد قال نعم قال إن دواءه معه خذ من ريقه وضعه على عينيه فأخذ عبد المطلب من ريقه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم ووضعه على عينيه فبرئ لوقته.
ثم قال الراهب يا عبد المطلب وتالله هذا الذي أقسم على الله به فأبرئ المرضى وأشفي الأعين من الرمد.
[الكتاب: المنهل العذب المورود شرح سنن الإمام أبي داود – المؤلف: محمود محمد خطاب السبكي/ 9: 98-99]
• وفي السنة السابعة من مولده صلى الله عليه وسلم استقل بكفالته جده عبد المطلب وفيها اصابه صلى الله عليه وسلم رمد شديد وفيها استسقى عبد المطلب وهو صلى الله عليه وسلم معه بسبب رؤيا دقيقة وفيها خرج عبد المطلب لتهنئة سيف بن ذي يزن الحميري بالملك [الكتاب : السيرة الحلبية في سيرة الأمين المأمون – المؤلف : علي بن برهان الدين الحلبي/ 3 : 487]
• الباب الرابع فيما حصل له في سنة سبع من مولده
• قال الحافظ أبو الفرج ابن الجوزي في (الوفا) في سنة سبع من مولده صلى الله عليه وسلم أصابه رمد شديد فعولج بمكة فلم يغن فقيل لعبد المطلب: إن في ناحية عكاظ راهبا يعالج الأعين فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه فتزلزل ديره حتى كاد أن يسقط عليه فخرج مبادرا فقال: يا عبد المطلب إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخر علي ديرى فارجع به
واحفظه لا يقتله بعض أهل الكتاب. ثم عالجه وأعطاه ما يعالج به. وألقي له المحبة في قلوب قومه وكل من يراه.
عكاظ: بضم العين وآخره ظاء مشالة معجمة: مكان بقرب عرفات.
[الكتاب : سبل الهدى والرشاد، في سيرة خير العباد، وذكر فضائله وأعلام نبوته وأفعاله وأحواله في المبدأ والمعاد – المؤلف : محمد بن يوسف الصالحي الشامي / 2:134]
وكذا في سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي لعبد الملك بن حسين بن عبد الملك العصامي المكي.#KamiBersamaGusMuwafiq
#HubbulWathonMinalImanDukungan bagi Gus Muwafiq tak hanya datang dari Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Futuhiyyah Mranggen Demak KH Hanief Muslih. Tapi juga datang dari Ustaz Ahmad Fauzan Rofiq, M.Pd.I.
Menurut Ustaz Ahmad Fauzan isi ceramah Gus Muwafiq yang dipermasalahkan ternyata memang ada dasarnya semua. Namun dengan hati besar Gus Muwafiq tetap berjiwa ksatria. Beliau tetap meminta maaf.
“Kita meributkan soal agama, karena kebodohan kita sendiri, ilmu kita dangkal, ngajinya baru Tarikh terjemahan, tapi berani menghakimi kyai, sebut akun Facebook Nur Rokhim.
Hasil penelusuran Ust. Ahmad Fauzan Rofiq, M.Pd.I, ada 3 narasi yang dianggap kontroversial dari ceramah Gus Muwaffiq. Namun menurut Ustaz Fauzan semua yang diucapkan Gus Muwafiq ada dasarnya dan referensi kitabnya sebagai berikut :
- “Nabi lahir biasa saja, tidak mengeluarkan sinar.”
Faktanya: dalam kitab-kitab sirah memang tidak ada keterangan bahwa Nabi lahir sembari mengeluarkan sinar, yang terjadi sebenarnya adalah keadaan langit saat kelahiran beliau sangat terang benderang penuh cahaya.
(Referensi : Kitab An-Ni’mat Al-Kubro alal Alam) - “Tubuh Nabi saat masih kanak-kanak mrembes”
Itu memang kondisi umum anak-anak pada masa itu.
(Referensi : Kitab Ar-Rohiq al-Makhtum) - “Nabi tidak begitu terurus ketika diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.”
Maksudnya: kasih sayang dan pelayanan kakek tentu tak sehebat kasih sayang dan pelayanan orang tua sendiri. Jadi, bukan lantas dipahami “terlantar”.
(Referensi : Kitab Al-Kamil fi al-Tarikh)
Nabi Muhammad saat usia tujuh tahun masih dirawat kakeknya, Mata Beliau Kena Penyakit (REMBES)
Setelah Kakeknya Wafat Dirawat Pamannya ABU THOLIB.
(Referensi : Kitab Nurul Absor نور الأبصار في مناقب أل بيت النبي المختار)KESIMPULAN :
Isi ceramah Gus Muwafiq tidak salah, apalagi menistakan Rosulullah, beliau hanya berusaha menjelasken dengan bahasa yg sederhana dan membumi di tempat ceramah saat itu di daerah Purwodadi Jawa tengah, Namun Akhlakul Karimah beliau tetap minta maaf.Semoga Gus Muwaffiq selalu dalam lindungan Allah. Swt. Amin.
Ini kutipan dari Ustaz Fauzan : LINK
- “Nabi lahir biasa saja, tidak mengeluarkan sinar.”
-

Kitab Hikam Yang Sistematis

wp.sorbansantri.com– Mungkin tidak hanya saya saja yang merasa ‘janggal’ ketika ngaji Hikam, baik saat dulu di pondok atau sesudah boyong dari pondok. Kejanggalan itu adalah karena tanpa Bab dan mengapa tiba-tiba Imam Ibnu Athaillah langsung membahas Bab “Bertumpu Pada Amal Perbuatan Sendiri”, dilanjutkan pada Kalam Hikmah kedua yang tidak ada kaitannya dengan Kalam Hikmah pertama dan seterusnya.
Tentu saya manut saja dengan penjelasan para Kiai yang mengambil penjelasan dari beberapa Syarah Hikam. Inti Hikmahnya kita dapat, namun sistematika dan alur pembahasan belum kita peroleh, sebagaimana di zaman modern ini tidak mengenyampingkan metode pembahasan, karena akan lebih mudah dalam memahami secara runtut.
Kejanggalan saya terjawab oleh seorang ulama ahli hadis dari India yang juga pengamal ilmu Tasawuf, Syekh Al-Muttaqi Al-Hindi (975 H), pemilik kitab Kanzul Ummal yang memuat lebih dari 40.000 hadis dan Atsar.
Kalam Hikmah pertama dalam Al-Hikam ditata ulang oleh beliau dan ternyata diletakkan pada Kalam Hikmah ke 82 (lihat gambar) sesuai dengan sistematika Bab. Kalam Hikmah Ibnu Athaillah sebanyak 253 itu diramu ke dalam 30 Bab, akhirnya menjadi sangat mudah untuk dipahami. Tidak heran jika Syekh Al-Muttaqi Al-Hindi ini menamakan kitabnya tersebut:
النهج الاتم في تبويب الحكم
“Metode sempurna dalam menyusun bab-bab Kitab Al-Hikam”.Pensyarah kitab tersebut adalah seorang ulama dari Nusantara yang sudah tidak asing bagi para santri, Syekh Nawawi al-Bantani yang bergelar Penghulu Ulama Syafi’iyah di Makkah. Karekteristik penulisan kitab-kitab beliau selalu ringan, tidak panjang dikali lebar dan yang pasti setiap kesulitan pemahaman selalu terjawab. Syarah tersebut bernama Misbahu Dholam.
Lebih sempurna lagi, penahqiq kitab tersebut berhasil memberi catatan kaki yang komplit, hadis-hadis dicatatkan kitab induknya, perkataan ulama dicantumkan kitab dan halamannya seperti dari Risalah Qusyairi dan sebagainya.
Rupanya dedikasi menerbitkan karya-karya ulama NUsantara ini yang selalu diprioritaskan dari yayasan yang didirikan oleh Sohib saya Gus Nanal Ainal Fauz, Turots Ulama Nusantara. Jazakumullah Khoiron katsiron Ustadzana (wa bikron).
-

IMAM JALALUDDIN AS SUYUTHI TENTANG MAULID NABI
SORBAN SANTRI- JAWABAN CERDAS SANG IMAM PENGHAFAL 100 RIBU HADITS, IMAM JALALUDDIN AS SUYUTHI TENTANG MAULID NABIPertanyaan :Apa hukum amalan maulid Nabi di bulan rabiul awal ? apakah yang demikian itu terpuji atau tercela ? yang mengamalkan dapat pahala atau tidak ?Jawaban :ﻋﻨﺪﻱ ﺃﻥ ﺃﺻﻞ ﻋﻤﻞ اﻟﻤﻮﻟﺪ اﻟﺬﻱ ﻫﻮ اﺟﺘﻤﺎﻉ اﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﺮاءﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮ ﻣﻦ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺭﻭاﻳﺔ اﻷﺧﺒﺎﺭ اﻟﻮاﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﻣﺒﺪﺃ ﺃﻣﺮ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﺎ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﻣﻦ اﻵﻳﺎﺕ، ثم ﻳﻤﺪ ﻟﻬﻢ ﺳﻤﺎﻁ ﻳﺄﻛﻠﻮﻧﻪ ﻭﻳﻨﺼﺮﻓﻮﻥ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ – ﻫﻮ ﻣﻦ اﻟﺒﺪﻉ اﻟﺤﺴﻨﺔ اﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﻗﺪﺭ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ اﻟﻔﺮﺡ ﻭاﻻﺳﺘﺒﺸﺎﺭ ﺑﻤﻮﻟﺪﻩ اﻟﺸﺮﻳﻒ،Menurutku, asal amalan maulid, yang mana yang demikian adalah berkumpulnya orang orang dan membaca surat yang mudah dari Al Qur’an dan riwayat khabar khabar yang warid di dalam permulaan sejarah Nabi Muhammad SAW dan apa apa yang terjadi di dalam hari kelahirannya dari tanda-tanda kebesaran Allah. Kemudian diberikan untuk mereka hidangan makanan, mereka memakan dan mereka pulang tanpa ada tambahan dari yang demikian adalah sebagian dari bid’ah bid’ah hasanah yang mana diberi pahala atasnya orang yang mengadakannya, karena apa apa yang di dalamnya adalah mengagungkan derajat Nabi Muhammad SAW dan menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan dengan hari kelahiran nya yang mulia.Kitab Al Hawiy Lil Fatawiy. Imam Jalaluddin As SuyuthiUstadz Abdurrachman Asy-Syafi’iyMajelis Ta’lim At Tahdzib(abi sorban) -

JENAZAH YANG HUTANGNYA DILUNASI JIBRIL

SORBAN SANTRI – Ketika Rasulullah SAW sedang duduk di gerbang kota Madinah, tiba-tiba ada jenazah yang hendak dishalati.
Kemudian beliau bertanya, “Apakah dia punya tanggungan hutang?”
“Ia mempunyai tanggungan hutang 400 dirham”, kata salah seorang Sahabat.
“Shalatilah jenazahnya! Aku tidak akan menyalati jenazah seseorang yang mempunyai tanggungan hutang 400 dirham dan belum dilunasi”, sabda Baginda Rasul SAW.
….
Selang beberapa lama kemudian, Malaikat Jibril turun dan mengatakan: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT membacakan salam kepadamu. Aku telah diutus berwujud seseorang dan melunasi hutang lelaki yang meninggal itu. Maka shalatilah jenazah lelaki itu, karena Allah telah mengampuninya!”“Bagaimana ia mendapat kekeramatan ini?”, tanya Nabi penasaran.
“Karena bacaannya. Setiap hari ia tak pernah lepas membaca surah al-Ikhlas sebanyak seratus kali. Dimana kandungan surah al-Ikhlas terdiri atas penjelasan sifat-sifat Allah dan pujian terhadap-Nya”, terang Jibril AS. (yusa Abdullah syah)
#referensi Kitâb al-‘Ushfûriyah, 16.
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
-

Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

SORBAN SANTRI – 3 Shofar 1442 H / 21 September 2020 M. Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar diadakan di Pondok Pesantren DARUL ‘ULUMISY-SYAR’ IYYAH Bo’de Plumbon Cirebon Jawa Barat. Beliau adalah pengarang kitab Tarjamah Ajrumiyah yang banyak dipakai kalangan pesantren, madrasah, dan sekolah diniyah. Kitab ini merupakan terjemah dari kitab Matan al-Ajruymiyyah yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Jawa dengan menggunakan bahar Rajaz.

Syeikh Mahmud Mukhtar Pada hari ini senin 21 September 2020 sudah sejak pagi dihadiri tamu rombongan dari berbagai wilayah, seperti Warga NU Mojokerto yang hadir sekitar 150 jamaah yang datang pada pukul 07.00 wib. Acara tersebut dimulai dengan ramah tamah yang di lanjutkan dengan khotmil quran sekaligus doa.
Acara Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar ini akan berlangsung sampai malam nanti. Untuk mengantisipasi banyaknya tamu yang hadir, kesigapan Satkoryon Banser Weru sangat diperlukan apalagi sekarang musim pandemi covid-19 jadi pemeriksaan dan pengamanan sangat diperlukan.
Alhamdulillah Sahabat Aroyan selaku kasatkoryon Ba ser Weru dapat melakukan koordinasi yang bagus dengan anggotanya, Mudah”an acara haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud berjalan dengan lancar Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi-sorban)
-

JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)
SORBAN SANTRI- Rais Am Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyiah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengingatkan, jangan pernah tinggal muthalaah (mengkaji). Selain itu, seorang santri meskipun telah menjadi ulama terkenal tetaplah bersikap sebagaimana santri di depan guru-gurunya.Berikut tiga pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:1. Gemarlah Mengkaji Kitab (Muthalaah)“Ya, saya ingatkan agar kita jangan bosan muthalaah dan jangan bosan mengulang-ngulangnya walaupun kitabnya cuma sekali. Karena kalau rajin muthalaah dengan berkah mu’allif, insya Allah difutuh (dibuka) oleh Allah SWT,” tuturnya.“Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca shalawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syaikh Abi Zakariya al-Anshari tiap malam baca shalawat sebanyak 30 ribu, sampai saat disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar,” tuturnya.2. Meraih Khidmah UlamaYang ke-2, jangan tinggal khidmah untuk guru walaupun cuma sedikit, itu yang menjadikan karena terbukanya mafahim yang luar biasa.Yang terakhir, jangan tinggal kirim hadiah fatihah untuk guru, saya paling tidak suka jikalau ada santri sampai melupakan gurunya, karena kunci futuh itu ada di tangan guru, walaupun si santri lebih alim dari gurunya.“Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, matun (menyiangi padi), derep (memanen). Seluruh itu saya kerjakan atas perintah guru,” tutur Habib Luthfi.3. Santri di Depan Guru, Kirim Alfatihah“Selama di pondok, saya tidak pernah memosisikan diriku selaku seorang Sayyid (Habib). Saya senantiasa memosisikan diriku cuma selaku seorang santri. Walau pun sesungguhnya guruku (Kiyi Muhammad Kaukab bin Muslim bin Sholeh) tahu nasabku.”“Pendiri Pondok Pesantren Bendakerep ialah Kiai Sholeh, itu murid buyutku (Habib Umar bin Thoha bin Yahya Indramayu). Beliau shalat berjamaah subuh dengan wudhu shalat isya selaku makmum di belakang Habib Umar selama 25 tahun.“Jikalau mau mencari orang-orang yang alimnya melebihi Kiai Sholeh, banyak kita temui, tapi jikalau mau mencari orang yang pangkat kewalianya tinggi seperti beliau, jarang kita temui.” (NU Bali)اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم. -

Isi Kitab Karya Mbah Hasyim Asy’ari Yang Di Temukan Di Jagalempeni Wanasari Brebes

Foto Gus Sholah dalam acara sambutan diacara LBM PCNU Brebes yang ke-2 Di Rubath Al Musyarraf Al Musyarrof Penggarutan Bumiayu SORBAN SANTRI- Yah itulah kitab beliau yang berjudul RISALAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH, diantara isinya adalah:(kitab bisa dilihat di sini [irp posts=”2133″ name=”PERPUSTAKAAN”]Di antara penyebab muncul dan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam Islam menurut KH Muhammad Hasyim Asy’ari adalah:- Tidak menguasai seluk beluk bahasa Arab yang sesuai dengan zaman turunnya wahyu dan juga tidak menguasai berbagai gaya bahasa (Asälïb) dalam bahasa Arab. Mbah Hasyim Asy^ari menegaskan bahwa sekian banyak orang tersesat dari jalan yang benar (aqidah & pemikirannya sesat) dikarenakan mengikuti pemahaman orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai gaya bahasa dalam bahasa arab. Beliau menyatakan: “Al Ashmu^i meriwayatkan dari al Khalïl dari Abü ^Amr ibn al ^Ala-‘, ia berkata: “أَكْثَرُ مَنْ تَزَنْدَقَ بِالعِرَاقِ لِجَهْلِهِمْ بِالعَرَبِـيَّةِ”. “Kebanyakan orang yang menjadi kafir zindik di Irak disebabkan kebodohan mereka tentang bahasa Arab.”
- Tidak Memiliki Perangkat Keilmuan yang Cukup Ketika menjelaskan kewajiban bermadzhab bagi orang awam, Mbah Häsyim Asy^ari menjelaskan bahwa pemahaman orang awam tidak diperhitungkan sama sekali, selama tidak sesuai dengan pemahaman para ulama yang mu’tabar (Ahlul Haqq al Akäbir al Akhyär).
[irp]
Karena sesungguhnya timbulnya masalah bukan berada pada teks-teks al Qur’an ataupun hadits-hadits yang shahih, melainkan terletak pada pemahaman yang keliru (bodoh bergaya mampu) terhadap teks-teks tersebut.Oleh karenanya, setiap ahli bid^ah dan orang yang tersesat-pun mengaku memahami ajaran-ajaran mereka yang batil dari al Kitab dan as-Sunnah.Demikian penting kaedah ini untuk diikuti dan diamalkan, sehingga Mbah Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa seseorang yang bukan mujtahid mutlak diharuskan bertaklid (mengikuti) kepada salah satu madzhab empat dan tidak boleh memahami sendiri dan beristidläl (mengambil hukum) langsung dari ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi.[irp]Oleh karenanya, mari warga NU berhati-hatilah dalam memilih guru, ketahuilah kebenaran (carilah ilmu) dari guru yang tsiqoh, mumpuni (pemahamannya sohih) dan bersanad jelas, terlebih dalam mengaji tentang aqidah.Tiadalah kegiatan yang lebih mulia dibanding dengan mengaji, mengaji dan mengaji.(KH. Muhammad Häsyim Asy^ari –rohimahuLlöh–, Risälah Ahl as-Sunnah wa al-Jamä^ah fi Hadïts al-Mawtä wa Asyräth as-Sä^ah wa Bayän Mafhüm as-Sunnah wa al-Bid^ah, hlm. 13) (pcnu brebes) -

TAFSIR AL JAILANY 800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN

SORBAN SANTRI – Penemuan karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani oleh cucu ke-25-nya sendiri, Syekh Dr. Muhammad Fadhil, membuat dunia akademik dan pengamal tarekat/tasawuf terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Naskah ini selama 800 tahun menghilang dan baru ditemukan secara utuh di Vatikan. Manuskrip yang berisis 30 Juz penuh ini tersimpan secara baik di perpustaan.
Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab tafsir Al-Quran 30 juz yang mengulas ayat-ayat Al-Quran. Kita seolah-olah mempelajari samudra tasawuf dari ayat ke ayat. Dan, alhamdulillah, Tafsir Al-Jailani, yang dalam bahasa Arab telah diterbitkan oleh Markaz Al-Jailani Turki (6 jilid), kini telah berhasil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia/Melayu menjadi 12 Jilid. Hingga hari ini, Markaz Jailani Asia Tenggara baru mencetak 2 jilid pertama.
Para salik yang berada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura yang berbahasa Melayu bisa mempelajari makna-makna penting tasawuf yang diajarkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mudah.
Kami sangat berterima kasih dengan perjuangan penelitian dan penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Dr Muhammad Fadhil dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip langka ini. Terutama yang berkaitan dengan Tafsir Al-Jailani. Kami terharu ketika mendengarkan langsung kisah pengkajian dan penelitiannya selama puluhan tahun.
Berikut adalah penuturan Syekh Fadhil dalam pembukaan kitab Tafsir Al-Jailani yang ditelitinya:
“Saya tumbuh besar di bawah pendidikan kakek saya Sayyid Syarif al-Alim al-Muqtada bih wa al-Quthb al-Kamil asy-Syaikh Muhammad Shiddiq Jalilaniy al-Hasaniy. Ayah saya bernama Sayyid Syarif al-Alim al-Allamah wa al-Bahr al-Fahhamah Syaikh Muhammad Faiq Jailaniy al-Hasaniy.
Setelah saya mendatangi Madinah Munawwarah dan tinggal di kota ini, saya pun mulai mencari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy Radhiyallahu ‘Anhu pada tahun 1977 M di Madinah al-Munawwarah dan kota-kota lainnya sampai tahun 2002 M.
Setelah tahun itu, saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk mencari kitab-kitab sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu, dan sampai hari ini saya masih terus melanjutkan pencarian itu.
Saya telah mendatangi sekitar lima puluh perpustakaan negara dan puluhan perpustakaan swasta yang terdapat di lebih dari 20 negara. Bahkan ada beberapa negara yang saya datangi sampai lebih dari dua puluh kali.
Dari proses panjang itu saya berhasil mengumpulkan tujuh belas kitab dan enam risalah yang salah satunya adalah kitab tafsir ini yang menurut saya, tidak ada bandingannya di seluruh dunia.
Dari perjalanan saya mendatangi beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan, saya pun mengetahui bahwa ada empat belas kitab karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang dianggap punah. Oleh sebab itu, saya terus melakukan pencarian kitab-kitab tersebut di pelbagai perpustakaan internasional setelah kitab tafsir ini selesai dicetak dan diterbitkan, insyaallah.
Sungguh saya sangat bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT ketika saya mengetahui bahwa jumlah lembaran tulisan karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy radhiyallâhu ‘anhu yang berhasil saya kumpulkan mencapai 9.752 lembar. Jumlah itu tidak termasuk tulisan-tulisan yang akan kami terbitkan saat ini dan beberapa judul yang hilang.
Tentu saja, semua ini membuat saya sangat gembira dan bangga tak terkira kepada kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy r.a..
Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan.
Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: “Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy.”
Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: “Filsuf Islam”, dan dalam Bahasa Arab: “Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn”.
Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: “Sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu membahas tiga belas macam ilmu.”
Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana mungkin, karya-karya monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani justru tersimpan rapi di perpustakaan di Vatikan? Kemana saja ahli-ahli sejarah kita? Mengapa karya sehebat itu “hilang” selama berabad-abad? Jangan-jangan selama ini lebih fasih orang Katolik mempelajari karya-karya Syekh Abdul Qadir Jailani daripada kita yang setiap bulan ikut Manaqib Syekh Abdul Qadir?
Saya jadi Teringat Dawuh Yai Said,dalam salah satu Sambutan dalam acara di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan .
Kalau Bukan Kita yang Menghafal (Nahdliyyin) ,Orang (Kelompok)Sebelah yang suruh Ngehafal ?




