Tag: nu

  • Haul Ke-9 Nyai Mahmudah di Mojokerto: Pentingnya Menyambung Ilmu dan Rasa kepada Wali Allah

    Haul Ke-9 Nyai Mahmudah di Mojokerto: Pentingnya Menyambung Ilmu dan Rasa kepada Wali Allah

    MOJOKERTO – Ratusan jamaah dari berbagai wilayah memadati lokasi haul tahunan Nyai Hj. Mahmudah binti Syarif Hidayatullah (almh) atau yang akrab disapa Nyai Arum Pandansari. Acara yang digelar di dekat kompleks makam almarhumah, tepatnya di Dusun Jogodayoh, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, berlangsung khidmat pada Kamis malam (14/5).

    Acara pengajian dan haul ini diselenggarakan oleh panitia setempat dengan harapan dapat terus berlangsung setiap tahun secara istiqomah. Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tokoh penting, di antaranya Kepala Desa Jabon, Khoirul Rozikin, Dandim Mojokerto beserta jajaran, serta perwakilan dari forum musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Mojoanyar.

    Selain itu, acara juga dihadiri oleh para ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mojoanyar dan NU Desa Jabon, tokoh masyarakat, serta kaum muslimin dan muslimat dari berbagai daerah sekitar.

    Sorotan Utama: Menyambung Ilmu dan Rasa kepada Wali Allah

    Acara inti pengajian disampaikan oleh KH. Muslikhuddin Abbas, yang merupakan anggota Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Mojokerto. Dikenal dengan sapaan akrab Abah Lik, penceramah ini dinilai oleh panitia sebagai sosok yang ahli dalam hal “pernasaban” (penelusuran garis keturunan) para ulama dan kiai.

    Sebelum memulai ceramah, MC Ali Isti’adi menyampaikan bahwa pihak panitia sengaja menghadirkan Abah Lik untuk menjelaskan secara rinci nasab Nyai Mahmudah, baik dari sisi keilmuan maupun garis keturunan.

    Dalam ceramahnya, Abah Lik lebih menyoroti pentingnya menyambung ilmu kepada para ulama, terutama kepada wali Allah. Menurutnya, cara yang utama untuk bisa “nyambung” dengan para wali Allah adalah dengan menghormati fatikhah melalui ruh mutafarriqoh.

    Lebih lanjut, Abah Lik menegaskan bahwa menyambung jiwa (nyowo) dengan ruh roso (rasa batin) jauh lebih penting daripada hal-hal lainnya. Maksudnya, para jamaah diharapkan dapat menerima rasa yang sama dengan apa yang dirasakan almarhumah Nyai Mahmudah semasa hidupnya. Sepanjang ceramah, para jamaah (sami’in) terlihat antusias dan khusyuk mengikuti setiap pesan yang disampaikan.

    Apresiasi Pemerintah Desa: Wujud Hormat kepada Ulama

    Kepala Desa Jabon, Khoirul Rozikin, yang hadir sejak awal hingga akhir acara, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat keagamaan yang tinggi di wilayah yang dipimpinnya. Beliau juga menyoroti pentingnya menjaga dan menjalin kerukunan antarwarga di Dusun Jogodayoh dan sekitarnya.

    “Kehadiran saya di sini adalah sebagai bentuk hormat dan takzim kepada para ulama NU, khususnya dalam rangka mengenang almarhumah Nyai Mahmudah,” ujar Khoirul Rozikin.

    Sementara itu, perwakilan panitia, Hendro, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar acara haul tahunan ini senantiasa dapat digelar dengan baik dan lancar setiap tahunnya.

    Doa Bersama dan Penutup

    Rangkaian acara haul ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Tanfidz Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mojoanyar. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti para jamaah yang hadir, menandakan selesainya rangkaian peringatan haul ke-9 Nyai Mahmudah dengan penuh makna.

  • KONSEP MAJLIS SYURIAH ; SYURIAH YANG LEGITIMIT INSTITUSIONAL

    KONSEP MAJLIS SYURIAH ; SYURIAH YANG LEGITIMIT INSTITUSIONAL

    *Abdus Salam Sohib

    Sejarah berdirinya NU secara isntitusional adalah sejarah keorganisasian keagamaan yang memliki kekuatan ulama sebagai simbol ketokohan yang terlegitimasi baik sikap maupun gagasan. Keutamaan dari setiap dinamika yang terjadi di tubuh NU, Syuriah sebagai tokoh ulama selalu menjadi jalan berkeputusan yang berdasarkan cara pandang jami’iyah sekaligus perpektif jama’ah.

    Hadrotus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memiliki legacy institusional yang sangat bersejarah, yaitu berkeputusan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad dalam penguatan kemerdekaan yang menjadi keputusan kelembagaan NU saat itu, Kyai Wahab Hasbullah justru lebih di kenal dengan berbagai ide pembaharuan pergerakan ke-NU-an, mulai dari pelopor Komite Hijaz atas restu Kyai Hasyim, Nadhdlatut Tujjar, Taswirul Afkar, Syubbanul Wathon. Kyai Bisri Syansuri saat menjadi rois am sangat melekat sebagai ahli fiqih yang memiliki legacy perancang undang undang pernikahan yang memasukkan ketentuan fiqih sebagai dasar pernikahan di Indonesia, dan juga berkeputusan pancasila sebagai dasar negara yang legitimit berdasarkan fiqih siyasah. Kyai Ali Maksum saat menjadi Rois Am sangat kuat dengan keadaan politik tarik menarik NU dalam kancah politik saat itu, dan Kyai Ali Maksum menjadi penggerak jalan damai bagi persatuan di antara kader NU yang telah terpolarisasi dalam berbagai jalan politik masing masing hingga Kyai Ali Maksum bersama Kyai Ahmad Siddiq melakukan langkah fiqih yang mendasari pancasila sebagai asas tunggal dan kembalinya NU ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Saat Kyai Ahmad Siddiq menjadi Rois Am sangat di kenal sebagai salah satu perumus khittah 1926 sekaligus penjaga khittah 1926 yang konsisten. Dan, yang sangat di kenal dari Kyai Ahmad Siddiq hingga saat ini adalah rumusan trilogi ukhuwah, yaitu ukhuwan islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariah. Kyai Ilyas Ruhiyat saat menjadi Rois Am waktu itu sangat kuat dengan konsistensi sikap dalam menghadapi keadaan politik orde baru yang berjarak dengan NU, dengan konsistensi Kyai Ilyas Ruhiyat, Gusdur yang waktu itu sebagai sebagai Ketua Umum Tanfidziyah justru memiliki penjaga kelembagaan NU yang sangat kokoh, konsisten dan tidak goyah dengan intervensi politik. Hingga Kyai Ilyas Ruhiyat ikut menjadi deklarator berdirinya PKB supaya kelembagaan NU tetap di jalan kelembagaan keagamaan. Kyai Sahal Mahfud saat menjadi Rois Am memiliki legacy keilmuan Fiqih Sosial sebagai metodologi fiqih yang kontekstual dan transformatif, melihat syariat Islam sebagai kerangka untuk menjawab masalah sosial kontemporer seperti kemiskinan, ketidakadilan gender, dan krisis ekologi, bukan hanya hukum ritual. Dan saat Kyai Ma’ruf Amin sebagai Rois Am sangat di kenal dengan konseptor ekonomi syariah Indonesia. Perannya sangat besar dalam memajukan ekonomi syariah nasional, memimpin pengembangan industri keuangan syariah, mempromosikan sertifikasi halal, mendorong sinergi antara ulama dan akademisi, serta menggerakkan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia dengan prinsip keadilan, keumatan, dan kedaulatan. Tentu, sejarah panjang kelembagaan syuriah di NU sangat kental dengan kekuatan figur yang mampu beradaptasi dengan keadaan dan zaman yang sekaligus memiliki karakter sebagai penjaga jam’iyah.

    Saat ini, perkembangan zaman dalam pengelolaan jam’iyah NU sangat dinamis. Keterbukaan akses dan jaringan dari semua pihak menjadi tantangan yang tidak mudah bagi NU. Siapapun bisa menjadi mitra produktifnya NU, baik dari sisi sosial, politik, budaya, bahkan ekonomi. Karena itu NU menjadi kelembagaan yang sangat di incar dari berbagai keinginan untuk memperluas pergerakan semua pihak yang berkepentingan dengan dampaknya kelembagaan NU. Hingga banyak persoalan yang muncul di NU karena akibat dari situasi keterbukaan yang tidak bisa di bendung. Dan berbagai persoalan dan tantangan itu, NU butuh supremasi kelembagaan yang kuat. Maka, mengembalikan fungsi syuriah sebagai institusi yang memiliki ketangguhan konsistensi jam’iyah perlu di rumuskan. Salah satu cara pandang yang menguatkan supremasi syuriah adalah dengan menjadikan kelembagaan syuriah sebagai majlis kolektif para ulama yang secara sikap dan keilmuan memiliki konistensi penjaga jam’iyah.

    MAJLIS SYURIAH

    Istilah yang bisa digambarkan dengan mudah adalah semacam Majlis Permusyawaratan Syuriah. Majlis ini terdiri dari sejumlah ulama yang memimpin NU dalam satu periode secara kolektif dan kepemimpinannya ditunjuk bergiliran setiap tahun hinggab selesai dalam satu periode lima tahun. Majlis Syuriah dapat merumuskan kepemimpinan tanfidziyah dalam satu periode yang di putuskan dalam Muktamar NU. Kenapa ide ini menjadi cara pandang baru dalam keberlangsungan kelembagaan NU. Karena saat ini NU butuh kelembagaan kolektif supaya menjadi lembaga yang tangguh dari berbagai intervensi yang memungkinkan NU di tarik dalam pusaran kepentingan tertentu. Ada beberapa keutamaan yang dapat dijadikan pondasi kekokohan keberlangsungan kelembagaan NU dengan format majlis syuriah :

    1. Indepensi Institusi. NU akan mempunyai struktur yang mengembalikan fungsi syuriah sebagai supremasi institusi yang lebih independen, bisa memilah antara sikap individu dan sikap kelembagaan. Begitupun dengan kebutuhan keputusan syari’ah keagaamaan, akan memiliki kekuatan yang legitimit karena manjadi pendapat yang jumhur.
    2. Kontrol kelembagaan. Majlis Syuriah akan lebih memiliki obyektifitas dalam kontrol kelembagaan NU yang dijalankan oleh tanfidziyah. Tidak ada lagi persoalan individu, tidak ada lagi persoalan suka dan tidak suka kepada pribadi, tidak ada lagi individu yang dominan, tidak ada pihak pihak yang mengataskan pribadi tertentu untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
    3. Konsistensi keberlanjutan. Saat ini, perkembangan NU perlu keberlanjutan tatanan di semua sektor. Ada banyak pengembangan ekonomi di berbagai kelembagaan NU yang telah berjalan dengan sangat produktif, ada banyak rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang terus tumbuh, ada banyak lembaga pendidikan dan universitas yang semakin berkembang, ada banyak majlis keagamaan yang menjadi representasi jamaah NU. Semua ini tidak boleh menjadi ajang intervensi personal yang bisa merusak tatanan setiap ada pergantian periode kepengurusan
    4. Penjaga Otorita Institusi. Dengan adanya Majlis Syuriah tidak perlu lagi ada majlis tahkim yang menjadi lembaga pemutus masalah. Karena Majlis Syuriah melalui kepemimpinan yang kolektif bisa melakukan permusyawatan yang dapat memutuskan persoalan antar pihak di internal NU maupun pihak yang melanggar aturan secara kelembagaan maupun secara syariah.
    5. Penjaga Martabat Keilmuan. Majlis Syuriah adalah kumpulan para ulama yang legitimit kealimannya yang bisa mewakili keilmuan ahlussunah waljamaah di dalam forum intelektual islam di Indonesia maupun di berbagai negara.

    Semoga pemikian ini menjadi arah baru bagi NU yang harus tetap istiqomah an-nahdliyah baik sebagai jam’iyah maupun berkhidmat kepada jamaah, bangsa dan negara.

  • Menjaga Islah, Merawat Jam’iyah

    Menjaga Islah, Merawat Jam’iyah

    Nahdlatul Ulama kembali diuji oleh dinamika di dalam rumah besarnya sendiri. Perbedaan pandangan antara Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU menjadi pengingat bahwa jam’iyah sebesar NU pun tidak lepas dari ikhtiar mencari titik temu dalam keberagaman tafsir dan pendekatan.

    Musyawarah Kubro yang digelar para kiai sepuh dan mustasyar NU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menghadirkan suara kultural yang menyejukkan: ajakan islah. Dalam tradisi pesantren, islah bukanlah tanda kekalahan, melainkan jalan kebijaksanaan untuk menjaga ukhuwah dan marwah jam’iyah. Ia lahir dari kesadaran bahwa persatuan lebih utama daripada kemenangan satu pandangan.

    Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menegaskan bahwa keputusan organisasi telah ditempuh melalui mekanisme jam’iyah sesuai aturan yang berlaku. Penegasan ini penting untuk menjaga tertib organisasi. Namun pada saat yang sama, rekomendasi Musyawarah Kubro juga menjadi pengingat bahwa kearifan para sepuh adalah penyangga moral yang selama ini menjaga NU tetap teduh di tengah perbedaan.

    Di sisi lain, sikap Gus Yahya Cholil Staquf yang membuka ruang dialog dan menunggu jawaban para kiai sepuh patut dibaca sebagai ikhtiar menjaga persatuan. Dalam tradisi NU, perbedaan pandangan tidak harus diselesaikan dengan saling menegasikan, tetapi dengan tabayun, musyawarah, dan saling menjaga adab.

    Para santri memahami bahwa NU dibangun bukan hanya oleh struktur organisasi, melainkan oleh ketulusan niat dan kebesaran jiwa para ulama. Karena itu, setiap langkah penyelesaian persoalan perlu ditempuh dengan tenang, penuh tanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

    Islah yang diharapkan para kiai sepuh adalah upaya merawat jam’iyah agar tetap menjadi rumah bersama. Jika islah dapat terwujud, itu adalah keberkahan. Jika mekanisme muktamar harus ditempuh sebagai jalan konstitusional, semoga dijalankan dengan niat menjaga khidmah, bukan memperlebar perbedaan.

    Sebab pada akhirnya, NU bukan milik satu figur atau satu generasi. Ia adalah amanah sejarah yang diwariskan para ulama untuk dijaga bersama. Dalam keteduhan adab dan kejernihan niat, warga NU berharap jam’iyah ini senantiasa menemukan jalan terbaiknya.

  • Sorotan Publik ke LBH GP Ansor: Seharusnya Jadi Penengah, Bukan Pemantik Ketegangan

    Sorotan Publik ke LBH GP Ansor: Seharusnya Jadi Penengah, Bukan Pemantik Ketegangan

    LBH GP Ansor Dampingi Sahara

    wp.sorbansantri.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor Kota Malang menyatakan resmi mendampingi Sahara sejak pertengahan September 2025. Pendampingan itu dilakukan setelah Sahara melaporkan dugaan pencemaran nama baik dan pelecehan verbal yang disebut melibatkan Yai Mim.

    Dalam pernyataannya, LBH GP Ansor menegaskan pendampingan dilakukan murni dari aspek hukum, tanpa intervensi sosial atau politik, serta bersifat pro bono (gratis). Mereka menyebut bahwa setiap warga, termasuk perempuan, berhak mendapat perlindungan hukum tanpa memandang latar belakang pihak lain.

    “Kami berdiri pada asas keadilan hukum. Pendampingan ini bukan bentuk permusuhan, tapi bentuk perlindungan terhadap hak warga yang merasa terzalimi,” kata salah satu pengurus LBH GP Ansor dikutip dari Malang Times (7/10/2025).


    Sorotan Publik Muncul

    Namun, langkah ini justru memicu sorotan tajam dari publik dan kader muda Nahdlatul Ulama. Banyak yang menilai, GP Ansor semestinya tampil sebagai penengah dan penjaga kesejukan sosial, bukan langsung berpihak pada salah satu pihak dalam konflik yang sebenarnya bisa dimediasi secara kekeluargaan.

    Kasus ini bermula dari sengketa lahan parkir di kawasan perumahan yang dulunya merupakan tanah wakaf akses jalan milik Yai Mim. Konflik berkembang menjadi perdebatan terbuka dan viral di media sosial, hingga memunculkan narasi saling tuding dan pelaporan ke pihak kepolisian.

    “Seharusnya Ansor hadir untuk menenangkan, bukan menajamkan. Kalau ada masalah antarwarga, lebih baik jadi jembatan perdamaian, bukan corong hukum yang memperkeruh,” ujar salah satu tokoh muda NU di Mojokerto saat dimintai tanggapan oleh Sorban Santri.


    Kritik Internal dan Seruan Refleksi

    Kritik juga datang dari kalangan internal sendiri. Sejumlah kader Ansor di Jawa Timur menilai bahwa langkah LBH GP Ansor ini berpotensi menimbulkan salah tafsir publik tentang arah gerakan pemuda NU.

    “Ansor itu organisasi besar dengan akar sosial yang kuat. Jangan sampai tindakan segelintir orang di LBH membuat marwah organisasi ikut tercoreng,” ungkap anggota GP Ansor Pacet yang dimintai tanggapan.

    Ia menambahkan, seharusnya Ansor lebih fokus memperhatikan kadernya sendiri, termasuk membina moral, ekonomi, dan pendidikan hukum bagi anggota muda, daripada terseret pada konflik antarindividu yang sifatnya pribadi.


    Peran Penyejuk Diharapkan

    Banyak pihak berharap GP Ansor bisa mengambil langkah islah (perdamaian) dengan mengumpulkan kedua belah pihak untuk dialog terbuka. Pendekatan sosial, spiritual, dan kultural dianggap lebih sesuai dengan karakter Nahdliyyin ketimbang pendekatan hukum formal yang cenderung kaku.

    “Lebih baik Ansor turun tangan sebagai penengah yang menyejukkan, bukan sekadar lembaga advokasi yang membawa perkara ke ranah hukum. Sebab masyarakat menunggu peran Ansor sebagai penjaga ketenangan umat,” ujar salah satu pengamat sosial dari Malang Raya.


    Kesimpulan

    Kasus Yai Mim dan Sahara telah membuka refleksi besar bagi organisasi kepemudaan di bawah NU. Keadilan hukum memang penting, namun kesejukan sosial jauh lebih bernilai di tengah masyarakat yang mudah tersulut oleh isu media.

    GP Ansor diharapkan dapat kembali pada peran utamanya:

    • Melindungi kader dan umat dari konflik horizontal,
    • Menjadi penengah yang adil dan berempati, serta
    • Menjaga nama baik Nahdliyyin dengan sikap yang sejuk, santun, dan mendidik.

  • Pemuda NU: Menguatkan Peran di Era Digital Melalui Dakwah Positif

    Pemuda NU: Menguatkan Peran di Era Digital Melalui Dakwah Positif

    Generasi Muda NU Memanfaatkan Teknologi untuk Menyebarkan Pesan Damai dan Toleransi

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Seiring berkembangnya teknologi, pemuda Nahdlatul Ulama (NU) semakin terlihat aktif dalam dunia digital. Mereka tak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga berperan aktif dalam menyebarkan pesan-pesan keislaman yang penuh kedamaian dan toleransi melalui platform digital. Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat tentang ajaran Islam yang moderat, banyak pemuda NU yang memilih berdakwah lewat media sosial seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan Twitter.

    Wawancara dengan Tokoh Muda NU

    Salah satu contoh inspiratif adalah Kang Abi Tsani, seorang tokoh muda NU yang aktif berdakwah di media sosial. Menurutnya, media sosial adalah salah satu cara efektif untuk menyebarkan ajaran Islam yang penuh kasih sayang dan tidak ekstrem.

    “Di media sosial, kita memiliki jangkauan yang luas. Ada jutaan orang yang bisa kita jangkau, dari yang muda hingga yang tua. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyampaikan pesan yang membawa kedamaian dan persatuan, bukan sebaliknya,” ujar Kang Abi Tsani saat ditemui di kediamannya di Mojokerto.

    Tantangan di Era Digital

    Namun, perjalanan dakwah di era digital ini tidaklah mudah. Selain potensi besar untuk menyebarkan pesan positif, ada pula tantangan besar yang harus dihadapi, seperti hoaks, misinformasi, dan ujaran kebencian yang tersebar luas di dunia maya.

    “Kita harus bisa menjadi filter informasi yang beredar di dunia digital. Pesan dakwah yang kita sebarkan harus lebih unggul dibandingkan informasi yang bisa merusak kedamaian dan keharmonisan. Itu tantangannya,” tambah Kang Abi Tsani.

    Dakwah Interaktif dengan Audiens

    Selain menanggulangi tantangan tersebut, pemuda NU juga semakin cerdas dalam melakukan pendekatan dakwah yang lebih interaktif. Misalnya, mereka menggunakan fitur live streaming di media sosial untuk berbicara langsung dengan pengikut mereka, memberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman.

    Pesan Kedamaian dalam Berbagai Format
    Tidak hanya dengan video dakwah formal, banyak pemuda NU yang menyajikan pesan-pesan Islam melalui berbagai bentuk konten kreatif, seperti meme, video pendek, dan infografis. Melalui pendekatan ini, dakwah menjadi lebih menarik dan mudah diterima oleh kalangan muda.

    Digitalisasi Pendidikan NU

    Salah satu terobosan lainnya adalah digitalisasi pendidikan NU. Beberapa pondok pesantren kini mulai membuka kelas-kelas online untuk mengajarkan kajian-kajian Islam, baik yang bersifat teoritis maupun praktis, yang bertujuan untuk menambah wawasan dan memperkuat karakter santri muda di era digital.

    Pesan Toleransi dan Keadilan Sosial
    Di tengah gegap gempita dunia digital, generasi muda NU tidak hanya fokus pada dakwah agama, tetapi juga turut berperan dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi, keadilan sosial, dan perdamaian. Naufal Azmi, seorang pemuda NU yang aktif di platform TikTok, menekankan bahwa Islam yang diajarkan di NU selalu mengedepankan kedamaian dan saling menghormati antar sesama.

    “Dakwah itu bukan hanya soal ajaran agama, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menjaga hubungan dengan sesama, menghargai perbedaan, dan menjaga perdamaian di tengah keberagaman,” kata Naufal.

    Ayo Bergabung dalam Dakwah Positif!

    Melihat fenomena ini, kami mengajak pembaca untuk ikut berpartisipasi dalam menyebarkan dakwah positif. Mari bersama-sama menggunakan media sosial dengan bijak, menebarkan pesan damai dan menguatkan persatuan umat dalam bingkai Islam yang moderat dan penuh kasih sayang.

    Bagikan pengalaman kalian di media sosial menggunakan tagar #DakwahPositifNU dan tunjukkan bagaimana kalian ikut memperkuat peran pemuda NU dalam menjaga keharmonisan di dunia maya!

    Tanya Jawab Interaktif:

    Apa pendapat Anda tentang peran media sosial dalam dakwah?
    Bagikan pendapat Anda di kolom komentar atau ikut berdiskusi dengan kami melalui platform media sosial kami.

    Link ke Kelas Online:
    Jangan lewatkan kesempatan untuk ikut kelas online pendidikan Islam NU yang kini tersedia di platform kami. Daftar sekarang dan jadilah bagian dari dakwah digital yang bermanfaat!

    @beritasorban Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) semakin menguatkan perannya dalam dunia digital. Melalui media sosial, mereka tak hanya berdakwah, tetapi juga menyebarkan pesan damai dan toleransi. Seperti Kang Abi Tsani, tokoh muda NU yang aktif menyampaikan dakwah melalui platform digital, mengajak generasi muda untuk bergabung dalam dakwah positif. Di era digital ini, dakwah tidak hanya dilakukan dengan ceramah, tetapi juga dengan konten kreatif, seperti video pendek, meme, dan infografis yang mudah diterima. Ingin ikut berpartisipasi? Gunakan #DakwahPositifNU dan sebarkan kebaikan di dunia maya. Jangan lupa, dakwah bukan hanya soal agama, tetapi juga tentang menjaga perdamaian dan persatuan antar sesama. Ayo bergabung dalam gerakan dakwah digital! #DakwahPositifNU #NUOnline #GenerasiDigital #IslamDamai #DakwahInteraktif #PesanToleransi #SantriBerbagi #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Gus Dulloh Menjelma Sebagai IDOLA Bagi Kader Ansor Kab. Mojokerto

    Gus Dulloh Menjelma Sebagai IDOLA Bagi Kader Ansor Kab. Mojokerto

    Berita Video

    Mojokerto, Jawa Timur – Pada Senin, 24 Juni 2024, di ndaleman Sooko, Mojokerto, para mantan pengurus Ansor dan Banser mengadakan pertemuan penting. Acara ini dihadiri oleh Gus Dulloh, atau Sya’dulloh Syarofi, yang saat ini digadang-gadang sebagai calon Wakil Bupati Mojokerto 2024 berpasangan dengan Ikfina Fahmawati. Kehadirannya semakin memperkuat dukungan dari para kader Ansor Kabupaten Mojokerto.

    Gus Dulloh telah lama dikenal sebagai figur yang militan dan khidmat dalam Nahdlatul Ulama (NU). Dedikasinya terhadap organisasi ini menjadikan dia sosok yang di IDOLA kan oleh kader Ansor. Dalam pertemuan tersebut, Gus Dulloh memberikan pesan kuat kepada para hadirin, “Kalau sudah mempercayakan amanah kepada saya, ya harus mau bertanggung jawab juga menjaga amanah tersebut, jangan setelah terwujud malah ditinggal tidak diawasi.”

    Para mantan pengurus Ansor dan Banser yang hadir di acara tersebut mengadakan diskusi dan rembukan yang membuahkan hasil dengan nama “Ansor Banser Ngiblat Ngulon”. Inisiatif ini menegaskan arah perjuangan dan visi mereka yang didasari semangat Gus Dulloh.

    Para peserta pertemuan merasa optimis bahwa Gus Dulloh akan membawa perubahan positif. Mereka percaya bahwa pengalaman dan militansi Gus Dulloh akan menjadi modal berharga dalam memimpin dan membangun Kabupaten Mojokerto menuju masa depan yang lebih baik.

    Dengan dukungan yang kuat dari para kader Ansor, Gus Dulloh diharapkan dapat mewujudkan visi dan misinya untuk Mojokerto. Kepercayaan yang diberikan oleh para kader menunjukkan bahwa Gus Dulloh tidak hanya dilihat sebagai seorang pemimpin, tetapi juga sebagai inspirasi bagi generasi muda yang ingin melihat Mojokerto berkembang dan berprestasi. (AI Sorban)

    @beritasorban "Kalau sudah mempercayakan amanah kepada saya, ya harus mau bertanggung jawab juga menjaga amanah tersebut, jangan setelah terwujud malah ditinggal tidak diawasi," kata Gus Dulloh. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan "Ansor Mojokerto Ngiblat Kulon," yang menegaskan arah perjuangan mereka. Dukungan kuat dari kader Ansor diharapkan dapat membantu Gus Dulloh dan Ikfina Fahmawati membawa kemajuan dan keberkahan bagi Kabupaten Mojokerto. #IDOLA #GusDulloh #IkfinaDulloh #AnsorMojokerto #MojokertoBerkah #PemimpinMilitan #NU #NgiblatKulon #KaderAnsor #fyp #fypシ゚viral #fyyyyyyyyyyyyyyyy ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Sejarah mencatat bahwa awal kemerdekaan Indonesia diwarnai oleh berbagai perjuangan dan pengkhianatan. Salah satunya adalah kisah Muso Al-Musawwa Klan Balawi, seorang habib yang mengajarkan ideologi komunisme. Muso, yang terinspirasi oleh ideologi komunisme dari Yaman, terlibat dalam pembunuhan Gubernur pertama Jawa Timur, Suryo. TNI akhirnya menumpas Muso dan komplotannya, membakar mereka hidup-hidup di Alun-alun Purworejo.

    Tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa rakyat Indonesia hanya menginginkan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, ketika Muso menyebarkan komunisme, mengapa Rabithah Alawiyah (RA) tidak memperingatkannya? Pertanyaan ini kembali mengemuka ketika sejarah berulang di tahun 1965 dengan tokoh Achmad Ja’far Al-Aidid atau D.N. Aidit, serta para habaib lainnya yang memperjuangkan sistem komunisme di Indonesia. Mereka juga berakhir tragis, seperti Aidit yang ditembak mati di Boyolali.

    Tidak hanya pada masa awal kemerdekaan, propaganda radikal kembali muncul. Rizieq Shihab, misalnya, mempengaruhi umat Islam di Indonesia untuk mendukung ISIS. Namun, RA tidak mengambil tindakan tegas untuk memperingatkannya. Demikian pula pada tahun 2012, ketika keterlibatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam Front Pembela Islam (FPI) terjadi, RA dan habaib lainnya tidak melakukan pencegahan yang diperlukan.

    Laman: 1 2

  • KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    Malaikat Jibril AS:

    ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”.

    @beritasorban

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI Malaikat Jibril AS: ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”. Baca selengkapnya https://wp.sorbansantri.com/kisah-dahsyatnya-sholawat-nabi/ sorbansantri beritasorban sholawat #hikmah

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri

    Malaikat Mikail AS:

    ”Ya Rasulullah, mereka yang bersholawat keatasmu, akan aku beri mereka itu minuman dari telagamu”

    Malaikat Isrofil AS:

    ”Mereka yang bershalawat kepadamu, aku akan sujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku, sehingga Allah SWT mengampuni orang itu (yang bershalawat)”.

    Malaikat Izrail AS:

    ”Bagi mereka yang bershalawat kepadamu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh pada Nabi-nabi”.

    Allahumma Sholli ”Alla Sayyidina Muhammad Wa’Alaa Ali Sayyidina Muhammad.

    Kutipan dari kitab: Kifayatul Atqiya.

    Laman: 1 2 3

  • Menggali Hikmah dari Sidang Cerai, Teuku Ryan dan Ria Ricis: Menyuarakan Perlindungan Anak di Era Konten Digital

    Menggali Hikmah dari Sidang Cerai, Teuku Ryan dan Ria Ricis: Menyuarakan Perlindungan Anak di Era Konten Digital

    wp.sorbansantri.com – Ketegangan antara Teuku Ryan dan Ria Ricis telah memunculkan sorotan baru dalam ranah hiburan Indonesia, menyoroti isu sensitif tentang penggunaan anak dalam konten media sosial. Konflik ini, yang awalnya terjadi karena perbedaan pandangan tentang batasan penggunaan anak dalam konten, akhirnya mengakibatkan retaknya rumah tangga mereka. Namun, di balik drama perceraian ini, terselip hikmah yang mengingatkan kita akan pentingnya perlindungan anak di era digital.

    Perdebatan antara Teuku Ryan dan Ria Ricis mencerminkan dilema yang lebih besar dalam industri konten digital, di mana penggunaan anak dalam konten media sosial seringkali menjadi kontroversi. Ryan, yang dikenal sebagai advokat anak, menegaskan pentingnya menghormati hak anak untuk privasi dan perlindungan dari eksploitasi. Sementara itu, Ricis cenderung melihat anak sebagai alat untuk popularitas dan pendapatan.

    Laman: 1 2

  • Tutupnya Pabrik Sepatu Bata Memunculkan Gelombang Nostalgia di Media Sosial

    Tutupnya Pabrik Sepatu Bata Memunculkan Gelombang Nostalgia di Media Sosial

    wp.sorbansantri.com – Pabrik Sepatu Bata yang telah menjadi bagian dari pemandangan Purwakarta selama 30 tahun terakhir akhirnya ditutup. Keputusan ini, diumumkan melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEK), telah mengundang sorotan luas. Namun, yang paling mencolok adalah gelombang nostalgia yang muncul di kalangan netizen, khususnya mereka yang merasa terhubung dengan merek ini sejak masa SD.

    Berita penutupan ini menyentuh hati banyak orang, karena Sepatu Bata bukan hanya sekadar sepatu biasa. Merek ini adalah bagian tak terpisahkan dari kenangan masa kecil bagi banyak orang. Setiap pasang sepatu Bata mewakili lebih dari sekadar alas kaki; ia mengingatkan pada petualangan, persahabatan, dan belajar di masa sekolah dasar.

    Desain yang sederhana namun elegan, serta kualitas yang teruji, menjadikan sepatu Bata pilihan favorit di kalangan pelajar. Terlebih lagi, setiap awal tahun ajaran baru, sepatu Bata menjadi simbol kebanggaan bagi banyak anak-anak. Mereka tidak hanya merasa siap untuk belajar, tetapi juga merasa bangga dengan langkah mereka yang diawali dengan sepatu Bata.

    Laman: 1 2