Tag: nu

  • Sejarah Pendirian Nahdlatul Ulama

    Sejarah Pendirian Nahdlatul Ulama

    SORBANSANTRI.COM
    peran penting pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU)

    cyberaswaja.online –  Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut: Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya. walau sebenarnya pendiri NU itu banyak, yaitu para ulama besar selain tiga kiai utama tersebut.

    Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut, masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.

    Keresahan Kiai Hasyim

    Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

    Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yang sangat berpengaruh di Jawa Timur.

    Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

    Tongkat “Musa”

    “Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.

    “Setelah memberikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

    Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.

    Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenang-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

    Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.

    Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

    Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.

    Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segera menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.

    Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, masih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat.

    Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

    Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang.

    Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

    Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.

    Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie juga meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie. (sumber)

    NU dan politik

    Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.

    NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk ‘Kembali ke Khittah 1926’ yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.

    Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR. (sumber)

    (abi sorban)

  • MENGINGAT SEJARAH MUKTAMAR PBNU DI CIPASUNG

    SORBANSANTRI.COM
    dok. muktamar

    SORBAN infokom – Momen saat acara puncak Muktamar NU ke 29 di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya bulan Desember 1994. Momentum krusial bagi kelangsungan kiprah NU di masa selanjutnya, di mana kekuatan otoriter Presiden Soeharto yang sangat-sangat kuat saat itu ingin melemahkan dan mengacaukan NU, hingga ada istilah “NU tandingan” bentukan Soeharto dengan menjadikan Abu Hasan sebagai pemimpin bonekanya. Tujuannya untuk menyingkirkan Gus Dur dari pucuk pimpinan NU periode berikutnya, karena dianggap oleh Penguasa Rezim Orde Baru sebagai ancaman bagi kenyamanan kukuasaannya. Namun dengan pertolongan ALLAH serta keberkahan do’a para wali dan orang-orang saleh lainnya, akhirnya NU tetap selamat dan Gus Dur menjadi Ketum PBNU untuk ketiga kalinya.

    SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM

    Dokumentasi foto persidangan Muktamar NU yang sangat berkesan, seru dan akan selalu dikenang dalam sejarah perjalanan NU dari masa ke masa…

    NU itu keramat, siapa yg berani mengusik NU akan kualat.

    (abi-sorban)

  • LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    InfokomBanserNU- Upaya Mewujudkan Sinkronisasi antar lembaga dan banom NU, jajaran Pengurus LTMNU PC Temanggung mengadakan rapat koordinasi dengan jajaran pengurus NU-Care Lazisnu PC Temanggung.

    Rapat ini dilaksanakan pada 16 Desember 2019 lalu, di Kantor PCNU Temanggung yang dihadiri oleh KH. Badarudin (Ketua LTMNU), KH. Masturi (WaKa LTMNU), KH. Saifurrahman(Ketua NU-Care LAZISNU), Haris (Media NU-Care LAZISNU) Beserta beberapa anggota jajaran kepengurusan LTMNU dan NU-Care LAZISNU Lainnya.

    Dalam rapat ini membahas sinkronisasi program LTMNU dengan NU-Care Lazisnu terkait alokasi dana pilar jaminan kesejahteraan Imam masjid, operasional Masjid dan Musholla, selain itu menekankan agar LTMNU selalu bergandengan erat dengan Lembaga dan Banom lain, Karena hal tersebuat adalah Satu-Satunya Cara akan terwujudnya sebuah sinergi antar lembaga dan banom yang solid yang nantinya akan dapat menghindari terjadinya miss komunikasi program kegiatan, yang kedepannya Semua program kegiatan akan berjalan lebih baik dan maksimal.

    Akhir pertemuan Rapat Ini dihangatkan dengan Beberapa pesan dari ketua, waka LTMNU, dan ketua lazisnu bahwa segala hal yang berkaitan dengan proker Semuanya harus tertata rapi dan tertarget. Untuk yang berkaitan dengan dedikasi KH. Masturi menyampaikan: “Hidmah di NU dituntut bukti bukan hanya sekedar simbul untuk gagah-gagahan.”

    Semoga Dengan adanya Rapat koordinasi ini Bisa menjadi bekal didalam mengawali pelaksanaan kinerja kepengurusan LTMNU PC Temanggung untuk menjadi yang lebih baik dan maju. Amin …

    Team media LTMNU PC Temanggung

     

  • NU Banyak Difitnah Setelah Gus Dur

    NU Banyak Difitnah Setelah Gus Dur

    cyberaswaja.online- Menurut Gus Miek, Gus Dur itu adalah paku buminya NU. Saat Gus Dur masih hidup, tidak ada yang berani ngotak-ngatik NU, kalaupun ada paling cuma satu, yakni penguasa Orde Baru. Bila Gus Dur menunjuk batang hidung seseorang dengan sebutan pengacau, maka orang itu nggak bakal berani melanjutkan aksinya,
    .
    Di masa kepemimpinan Gus Dur, NU berhasil menempatkan dakwah Islam Yang Murni Rahmatan Lil’Alamin, tanpa tindakan destruktif apalagi anarkis. Tahun 1992, ketika Gus Dur melakukan show of power NU menghadapi tekanan rezim orba saat itu, semua wajah dunia tertuju pada Gus Dur. 1 juta lebih manusia berkumpul menggetarkan Jakarta dan dunia.
    .
    Jutaan manusia yang menggetarkan Jakarta itu, dalam barisan ulama terlihat ada KH Kolil Bisri, KH Ilyas Ruhiyat, KH Muslim Rifai Imam Puro, KH Abdullah Faqih Langitan, KH Abdullah Abbas Buntet dan lainnya. Bahkan dari Pesantren Buntet Cirebon konon ikut mengirim ribuan jin ke acara itu, makanya di tengah-tengah lapangan itu terlihat dikosongkan. Di situlah jama’ah jin dari Buntet itu bersimpuh.
    .
    Setelah Gus Dur wafat, para pembenci NU makin mendapat angin segar untuk menghantam NU. Banyak ormas dan aliran yang tidak sejalan dengan khittah NU, menghembuskan fitnah kalau PBNU itu sudah melenceng dari khittah NU. Mereka menghembuskan isu dan fitnah yang memecah-belah.
    .
    Menghadapi ini semua, kita jadi kembali teringat pertemuan antara Gus Dur dan Gus Miek.
    .
    “Gus, sampean itu paku buminya NU. Kelak sepeninggal sampean NU bakal kena fitnah,” kata Gus Miek yang sedang di beranda Langgar makam wali Tambak.
    .
    “Kenapa bisa begitu Gus. Apakah sudah tidak ada lagi para masyayikh yang menjaga NU?” tanya Gus Dur.
    .
    “Bukan karena itu Gus, tapi itu disebabkan dunia sudah di atas kepala warga NU dan banyak orang bodoh yang mencabik NU,” jawab Gus Miek.
    .
    Kemudian kedua tokoh besar NU itu berdo’a dengan khusyu sambil sesekali sesegukan menahan tangis.
    .
    Selesai berdo’a wajah Gus Miek sumeringah sambil mengatakan, “Fitnah yang ditujukan pada NU hanyalah seumur jagung.” Mendengar itu Gus Dur tertawa lepas.

    Gus miek dan Gus Dur
    Al fatehah… (infokom ansor banser nu)

  • FITNAH TERHADAP NU

    FITNAH TERHADAP NU

    Infokom Banser NU – Munculnya fitnah terhadap NU bahwa NU menerima suap dari China tidaklah mengagetkan. Ingat, 2 bulan yang lalu dubes AS di Jakarta datang ke kantor PBNU untuk membujuk agar NU ‘bersuara’ terhadap ‘penindasan Muslim Uyghur oleh pemerintah China’. Tapi PBNU menolaknya. Dan bukan Amerika namanya kalau diam saja saat dikecewakan.
    Sekarang media Amerika mencoba memfitnah NU. Tentu saja atas pesanan penguasa di Washington.

    Ada tiga tujuan atas fitnah dr wall street Journal ke NU

    1. Menyerang China.
    2. Membuat kisruh Indonesia.
    3. Mendiskreditkan ormas Islam yang moderat.

    klo sekiranya 85 juta warga NU itu mau patroli di medsos . InsyaAlloh tdk ada yg berani menghina Habaib dan Kyai NU , , krn setiap mereka bikin hoax akan langsung dicounter balik dgn bertubi tubi oleh para nahdliyin . Serangan baliknya akan sprti munculnya laron melihat cahaya benderang di malam hari . . .

    HAYU TURUN GUNUNG .

    #somasiWallstreetjournal

  • RIWAYAT PENDEK PENGHANCURAN NU

    RIWAYAT PENDEK PENGHANCURAN NU

    Oleh: Kiai Dasuki As

    Laziznu Tuban – JUJUR saya senang melihat orang-orang kelojotan atas pernyataan Prof Dr KH Said Aqil Siroj. Warga NU yang “agak” normatif mungkin mengerutkan dahi merasa bahwa pernyataan “menguasai masjid-masjid, KUA- KUA dan lainnya” tidak elok untuk didengar ormas lain.

    Namun seandainya sedikit saja kita menengok ke belakang dan melihat serangan bertubi-tubi terhadap NU, kita akan sadar bahwa pemimpin NU memang sudah waktunya memberi peringatan keras.

    Tahun 2009 dilaporkan penelitian Wahid & Maarif Institute bahwa; ribuan mesjid NU dan Muhammadiyah telah berhasil dikuasai oleh kelompok “asing”. Mengambil alih mesjid, mengganti imam dan yang paling mengerikan mengatur tema ceramah. Menyalahkan bacaan dzikir yang sudah ada dan membid’ahkan semuanya. Mereka sudah masuk dalam rohis sekolah, mushola-mushola kampus, keagamaan lembaga pemerintah bahkan mensosialisasikan tahlilan sebagai bid’ah ke kampung-kampung. Masif dan terencana. Penyusupan ini sudah dilakukan sejak tahun 1980, dengan menghabiskan biaya mencapai USD 90 Milyar. Tahun 2006, masuk proposal resmi untuk melakukan ‘bantuan’ kepada pemerintah sebesar USD 500 Dollar untuk tujuan yang sama(Team, 2009). Beruntung proposal tersebut ditolak.

    Kekhawatiran itu bukan hanya milik NU, bahkan muhammadiyah PERNAH secara tegas mengeluarkan surat keputusan agar melarang INFILTRASI PKS dalam tubuh organisasi (lihat, SKPP Muhammadiyah No.149/KEP/I.0/B/2006) . Terlambat, muhammadiyah tidak memiliki akar budaya khas yang sulit dirubah seperti NU yang kokoh. Adakalanya tradisi mengalahkan Dollar. Meskipun serangan bertubi-tubi pada NU melahirkan “NU Garis Lurus” yang seperti singa di sosial media. Tentu cukup NU garis lucu untuk membuat mereka imut kembali. Jelang Buya Safii Maarif turun jabatan, Muhamaddiyah terPkskan. Namun kerugian atas infiltrasi ideologi semacam ini telah menimbulkan retakan-retakan.

    Saya tak heran kalau kemudian Din Syamsudin langsung memberi statemen atas pernyataan ketua PBNU, Kyai Said Aqil Siroj pada acara muslimat NU lalu (27/1/2019). Pekerjaan responsif terhadap NU adalah nostalgia bagi beliau. Tahun 2001 menjelang penggulingan Gusdur, Din S memiliki peran besar dalam menyuarakan isu “AJINOMOTO” mengandung babi untuk mendeligitimasi gusdur sebagai “orang islam” (Kobayashi, 2002). Kejam bukan?

    Beberapa tahun belakangan ketika NU belum memiliki media online yang mapan, sudah ada web bernama YukKenalNU. Dengan rencana yang matang dan terstruktur web tersebut khusus untuk memfitnah NU. Warna template berwarna hijau dan pada huruf NU dibuat berwarna pelangi. Dengan maksud mengasosiasikan NU sebagai pendukung LGBT. Laman tersebut memuat Semua tradisi NU: kemudian dievaluasi, dikategorikan bid’ah hingga dituduh syiah.

    Sudah cukup? Belum!

    Setelah kasus pembakaran bendera HTI di Jawa Barat, dilaporkan setelah pembakaran bendera HTI, video tentang pembakaran tersebut masuk melalui 80 akun yutube berbeda dalam jangka kurang dari 1 jam! Hebatnya, video ini disertai berbagai narasi berbeda dengan tujuan yang sama, mendeligitimasi Banser, pemimpinnya, hingga pucuk pimpinan PBNU dan kemudian menghancurkan citra NU sebagai Ormas Islam terbesar di planet bumi.

    Cukup? Belum!

    Silahkan anda ketik nama “Said Aqil Siroj” di youtube, yang muncul adalah Said aqil Syiah, Said Aqil liberal, Said Aqil Jenggot dan lainnya. Lalu anda putar secara bebas. Anda akan melihat video propaganda yang sudah dipotong, diberi nama, diberi efek dan kesan jelek. Mau contoh?

    Ketika KYAI SAID (KETUM PBNU) melontarkan pernyataan tentang “jenggot” hampir dipastikan video yang muncul teratas di youtube itu dipotong sedemikian rupa, lalu di”cut” dan diteruskan dengan video ceramah ustad-ustad jenggot yang baru saja memulai karir dengan “menggunakan” hadits.

    Anda bayangkan, penonton video ditampilkan dua rekaman berbeda seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) sedang dihakimi oleh ustad newbie tersebut. Lalu kemudian ustad anyar tersebut memaki-maki dan menjatuhkan “salah!” “Dosa!” “Bid’ah” kepada beliau. Lalu video 5 menit itu selesai, seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) berhasil dihakimi. Berani bertemu? TIDAK!

    Setelah itu tampilah ustad itu “seakan-akan berhasil mengkritik KYAI SAID (KETUM PBNU)” yang belum pernah ia temui. Maka wajar kalau dalam setiap ceramah KYAI SAID (KETUM PBNU) selalu mengatakan ia terbuka untuk kritik, kantor PBNU terbuka. Karena sangat jarang ada yang berani mendebatnya. Kecuali kalangan NU sendiri yang terbiasa tabayyun.

    Ini baru satu video, sedangkan dalam 1 isu saja tentang pernyataan KYAI SAID (KETUM PBNU), bisa menampilkan hingga 20-40 video. Pertanyaannya, jenis makhluk apakah orang-orang yang melakukan editing video seperti ini? Apa mereka mengangap fitnah terencana ini sebagai jihad? maukah mereka diuji secara terbuka dan ilmiah?

    Anda bayangkan, seorang Felix siau yang tidak pernah diuji secara ilmiah dan akademis pengetahuannya tentang Timur Tengah mengklaim sebagai orang yang paling tahu tentang Turki Utsmani cukup dengan membuat NOVEL tentang ‘Muhammad Al-Fatih’(dan liburan ke Turki beberapa kali)–mempermalukan puluhan lulusan Jurusan Timur Tengah dalam negeri yang bertahun-tahun berdarah-darah membuat skripsi-thesis-disertasi. Jangan bandingkan dengan Disertasi Kyai Said yang dipuji Gusdur karena memakai 1000 referensi teruji.

    Kita boleh jujur, bahwa kadangkala yang melakukan semua ini adalah orang Islam sendiri. Orang yang mengaku paling Islami namun mereka adalah Orang yang tidak betah hidup di negeri Pancasila. Mereka anti pada banyak hal. Sehingga akan mudah berseteru dengan kelompok sendiri. Itulah yang membuat Timur Tengah retak-retak tanpa jiwa kebangsaan yang kokoh.

    Gayung bersambut, pemerintahan Jokowi memiliki kekhawatiran bersama bahwa pihak-pihak yang menggerogoti NU dari dalam adalah sel-sel yang akan menjadi penghancur konsep negara-bangsa. Hal ini sangat mengancam ideologi Negara. Tak ada pilihan. 10 tahun pemerintahan SBY tak pernah sedikitpun mampu membubarkan HTI secara nyata dan terbuka. Padahal kampanye HTI dalam menolak ideologi Negara begitu gencar dan terbuka (deklarasi khilafah di GBK!). Hanya di pemerintahan Jokowi, mampu segera membubarkan Organsasi transnasional tersebut. Dalam hal ini pemerintah telah menunjukan komitmen yang jelas atas kelompok-kelompok anti-kebangsaan. NU melihat hal tersebut sebagai komitmen yang nyata.

    Sebenarnya NU adalah wajah Islam Indonesia sendiri, dan mencoba mempertahankan apa yang sudah diajarkan para ulama, yang ajaran tersebut bisa ditarik tanpa putus hingga pada Nabi Muhammad Saw. Sementara para veteran konflik Timur Tengah mencoba menghancurkan keharmonisan ulama Islam di Indonesia dengan wajah islami. Memang dibutuhkan kekuataan intelektual yang teruji untuk mengenali infiltrasi mereka yang rajin mengimpor konflik dan mengobral kebencian. Momentum Pilpres adalah saat yang paling tepat untuk menentukan keberpihakan antara pihak yang membela kebangsaan dan para kontraktor konflik.

    Namun, mesin hoak telah disebar merusak tatanan keluarga dan membinasakan kebudayaan negri loh jinawi. Mereka bersepakat berkumpul dikubu Prabowo. PKS, eks-HTI, FPI, dan para alumni non-universitas. Tak lupa Amin Rais, tokoh sentral ketua MPR yang menjatuhkan Gusdur melalui isu bulogate dan bruneigate, tanpa PEMBUKTIAN dan tanpa peradilan. Kubu sebelah sudah mempersiapkan kekalahan mereka dengan menebar isu KPU curang guna mempersiapkan kondisi kacau setelah Pilpres, memelihara kelompok anti-kebangsaan, memasukan Rocky Gerung kedalam masjid, semuanya halal demi ambisi politik.

    HARAPAN

    NUonline telah menyalip semua web Islam (garis keras/fundamentalis) dengan rating tertinggi. Para intelektual hijau sudah merapatkan barisan. Akademis NU diberbagai Negara menghimpun keahlian mereka melawan Hoax dengan keilmuan. Berkumpulnya kaum muslimat menghijaukan GBK adalah sinyalemen bahwa NU mulai siap muncul kepermukaan. Cukup Muslimat NU saja untuk membuat ramai suatu kawasan tanpa berebut klaim juta-jutaan.

    Kemudian, Harlah NU 31/1/2019 dibuka dengan dengan harapan masa depan. Industri 5.0 dibahas tanpa melupakan UKM lemah ditengah himpitan global (lihat pidato Kyai Said pada Harlah 31/1/2019). Keberpihakan NU cukup jelas pada rakyat jelata. Melihat beban yang di emban NU, jelas NU adalah ormas dengan wawasan Internasional dan menghadapi persoalan-persoalan global. NU Bukan ormas recehan yang memperebutkan jatah sektoral dan mencakar saudara sendiri demi ambisi.

    Statemen sudah dibunyikan. NU mulai berhitung. Ketika ambisi Politik menghancurkan hubungan keluarga, ambisi politiknya yang dihancurkan, bukan keluarganya. Komitmen NU dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan jelas merupakan keberpihakan terhadap keluarga besar Bangsa Indonesia. Semoga kita TIDAK berada pada pihak yang ingin menghancurkannya. Sebagaimana mereka mencobanya jutaan kali.

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 1)

    Jamaah sholat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian Ahyat kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan !” katanya pada teman-temannya. Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi, memanjat pohon mangga yang berada persis didepan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan oleh Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), Ahyat juga yang mengerjakan. Diantara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, Ahyat dikenal teman-temannya sebagai anak yang suka melayani teman-temannya.

    Sambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang mereka dengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa. Malam itu mereka membicarakan Perang Dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul-kumpul, berinteraksi dan makan bersama.

    Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris. Usul ini disambut dengan senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda yang lain untuk bergabung. Seluruh kegiatan ini dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 X 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Disekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris dengan lebih intensif.

    Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hisbullah pada perang Kemerdekaan tahun 1945. Pasukan Hisbullah yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Pemerintah Pendudukan Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia dibawah kepemimpinan Jepang. Dua tahun kemudian, setelah Proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hisbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.

    Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H. Abd. Halim di Desa Mentikan, tepatnya Jl. Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan, yang dimotori oleh dua bersaudara yaitu K.H. Ahyat Halimy dan kakak kandungnya K.H. Aslan. Di Surau ini pula, Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan, yaitu pada tahun 1951. Tahun 1965, surau ini menjadi pusat penumpasan G.30.S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari K.H. Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan pula Koperasi Tani yang dimotori oleh H. Husein Abd Gani ( kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI). Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan untuk kegiatan sosial berupa Khitanan Massal, yang terus berlangsung setiap bulan Dzul Hijjah sampai sekarang.

    Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, K.H. Ahyat tidak mempunyai modal sama sekali, satu-satunya modal yang dimiliki adalah “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam mimpinya, “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.

    Maka berdirilah Pondok Pesantren, sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda-pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan Iman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, Tasdiq, Ihlas. Yakin, Sabar dan Syukur, serta Tawakkal kepada Alloh SWT.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” ini telah didaftarkan sebagai Badan Hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin”, dan berkedudukan di Jl. K.H. Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) Nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini, sebenarnya tidaklah terlalu sulit, sebab semua kendaraan umum di Kota Mojokerto, tahu persis tempat ini, anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka anda akan diantar kesana. Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin ini memang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Siapa sangka dari kegemaran menikmati rujak dan makan bersama akhirnya lahir barisan perang yang disegani. Surau kecil juga mampu menjadi markas dalam membincang persoalan umat dan bangsa.Jamaah shalat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan!” katanya pada teman lainnya.

    Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi menaklukkan pohon mangga yang berada persis di depan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), ia juga yang mengerjakan. Di antara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, ia dikenal sebagai anak yang suka melayani mereka.Membincang Persoalan BangsaSambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang didengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa.

    Malam itu mereka membicarakan perang dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tidak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul, berinteraksi dan makan bersama.Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris.

    Usul ini disambut senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda lain bergabung. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 × 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto Jawa Timur. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Di sekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris lebih intensif.Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hizbullah.

    Pasukan ini yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia. Dua tahun kemudian, setelah proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hizbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H Abdul Halim di Desa Mentikan, tepatnya jalan Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan yang dimotori dua bersaudara yaitu Ahyat Halimy dan kakak kandungnya Aslan.

    Di surau ini pula, tahun 1951 Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan.. Tahun 1965, surau ini juga menjadi pusat penumpasan G30S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan Koperasi Tani yang dimotori H Husein Abdul Gani (kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI).

    Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan kegiatan sosial berupa khitanan massal yang terus berlangsung setiap bulan Dzulhijjah.Sosok PelayanTanggal 29 April 1964, KH Ahyat mulai membangun surau itu menjadi pondok pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, ia sama sekali tidak mempunyai modal. Satu-satunya yang dimiliki adalah “doa” dari almukarram Kanjeng Sunan Giri.

    Itupun diperoleh dari mimpi. “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan,” kata kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tidak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.Maka berdirilah pondok pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, tasdiq, ihlas, yakin, sabar dan syukur, serta tawakkal kepada-Nya.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” telah didaftarkan sebagai badan hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin” dan berkedudukan di Jl KH Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi, sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Sebab semua kendaraan umum di kota Mojokerto tahu persis tempat ini.

    Anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka pembaca akan diantar ke sana. Pondok ini memang lebih dikenal masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.KH Ahyat Halimi, dilahirkan pada tahun 1918 dari pasangan suami istri Hj Marfu’ah binti Ali dan H Abdul Halim dari Gedeg. Ayahnya meninggal ketika usia kandungan sang ibu baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak kandungnya, Aslan lahir pada tahun 1914.

    Kedua anak yatim ini kemudian diasuh ibundanya bersama sang paman yang bernama H Thohir. Namun sang ibu juga wafat pada tahun 1938. Sang paman pula yang membawa dua yatim bersaudara ini bersama ibunya untuk bertempat tinggal di Desa Miji (sekarang lokasi makam almarhum KH Ahyat Halimi).Masa kecil Ahyat Halimi beserta kakak kandungnya, dijalani di Kota Mojokerto.

    Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (sekarang SD Miji I). Setelah lulus melanjutkan ke Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat berguru secara langsung kepada hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dan putranya Kiai Wahid Hasyim. Bahkan karena usianya yang hampir sebaya, Kiai Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam berbagai diskusi serta dalam satu barisan perjuangan saat proklamasi kemerdekaan.Selama belajar di Tebuireng, Ahyat kecil dikenal sebagai santri disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong santri.

    Menanak nasi dan menghidangkan untuk disantap bersama merupakan pekerjaan setiap hari dengan sukarela. KH Munasir dari Pekukuhan Mojosari, sebagai teman sekamar di Tebuireng pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari Ansor dengan mengatakan; “Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi kiai. Dia tidak pernah meninggalkan shalat jamaah, tidak pernah mau menggunjing teman, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan mereka,” terangnya. “Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena tidak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan Pak Yat,” lanjutnya. Subhanallah.

    Pengakuan dan kesaksian serupa diberikan teman satu angkatan antara lain KH Abdullah Siddiq, Jember, KH Mansur Burhan (Surabaya) dan KH Zainuri dari Qudus.Tahun 1938, Ahyat Halimi beserta kakaknya Aslan, kembali ke Mojokerto. Sebagai pemuda, bersama temannya, antara lain M Thoyib, M Thohir, Sholeh Rusman, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor.

    Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto selama dua periode (1938 – 1940).Seluruh aktifitas dikerjakan dengan tanpa meninggalkan ta’lim atau belajar, baik ke Tebuireng maupun ke KH Romli di Rejoso, Peterongan. Akhirnya pada tahun 1940, KH Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri KH Mohammad Hisyam yang juga memangku pesantren.Aktifitas Ahyat yang luar biasa ini tentu mengurangi waktu rumah tangga.

    Untung istrinya sangat setia. “Permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya,” tulisnya dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap karena angin dingin menerobos celah dinding yang sudah lapuk,” tulisnya.Pada masa sulit ini, KH Ahyat Halimi sempat terpilih menjadi anggota konstituante (semacam MPR) dan bertugas di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950.

    Tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. Ia mengajukan pengunduran diri dari anggota konstituante, karena merasa bukan makom atau ahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kebutuhan rumah tangga, ia memilih mengundurkan diri hanya karena merasa tidak mampu. Padahal menjadi anggota konstituante adalah “pekerjaan” lumayan.Ketika keadaan sulit ini, mengingatkannya kepada dawuh KH Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur. ”Sopo wonge ziarah Walisongo sarono urut-urut, insya Allah oleh barokahe Walisongo.” (Barangsiapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, insya Allah akan mendapat barokah dari Walisongo).

    Ia pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, dengan bekal hasil penjualan gelang milik sang istri. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), ia mendapat isyarah bahwa _maqom-_nya ada di dalam mihrab (tempat imam shalat). Isyarah yang sama juga didapat ketika berkhalwat di makam Batuampar, Madura dengan bermimpi bertemu Rasullah SAW, yang juga menyatakan isyarah serupa.Isyarah itu kemudian digabungkan dengan berpedoman pada perilaku hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karena beliau pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya hadratus syaih berkata “Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh.” (Bersama saya mengabdi kepada ilmu, maka apapun akan terpenuhi).

    Berdasarkan pengalaman tersebut, sejak 25 Januari 1956, ia mulai bertekad mengabdikan ilmu dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan leluhurnya. Kitab yang dibaca adalah Kasyifat al Sajaa’. Hal ini sesuai dengan saran KH Romly Rejoso Jombang dengan mengatakan “Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi.” Sejak itu sampai dengan kini kuliah subuh terus diselenggarakan secara istiqamah, kecuali hari raya Idul Fitri. Di tempat yang sama yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi masjid dan komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin. (Syaifullah/Aula)

  • TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    Ada sebuah artikel yang ditulis oleh KH. Wahid Hasyim yang judulnya “Mengapa Saya Memilih NU”. Isi tulisannya tentang rasionalisasi pilihan terhadap organisasi para kyai itu. Setelah memaparkan kelemahannya dimana NU ditempatkan sebagai organ non-radikal serta tidak cukup memiliki intelektual maka beliau menyatakan bila keunggulan NU ada di faktor Ulama-nya dan ketegasannya terhadap anggota.

    Dari sisi ketegasan, Kyai Wahid menyatakan NU “streng”, terlampau “keras” didalam tuntutannya pada anggota. Keras dalam lingkup kewajiban agama. Tiap anggota NU harus “beres” sembahyangnya, jum’atannya, puasa dan lain kewajiban agamanya. NU didalam hal kehidupan “prive” anggotanya mempunyai ukuran yang berat.

    Seorang anggota NU bisa dipecat jika dinilai melanggar norma agama, melakukan perbuatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka yang dipecat akan ditarik kartu anggotanya serta diumumkan pada khalayak. Dengan demikian jika seseorang dipecat sama artinya dia mendapatkan sanksi sosial.

    Pengurus NU Mojokerto terbentuk tahun 1928 atau dua tahun setelah dideklarasikan sebagai organisasi para ulama. KH Zainal Alim Suronatan terpilih sebagai ketua syuriyah saat itu. KH Nawawi ditetapkan sebagai salah satu wakilnya. Komposisi itu mirip dengan duet Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Mbah Hasyim sebagai penjaga moral dan Mbah Wahab selaku operator lapangan. Di Mojokerto, Kyai Zainal Alim yang memang dikenal alim didampingi pekerja keras pada diri Kyai Nawawi. Dalam menjalankan organisasi, Kyai Nawawi lebih suka berprinsip “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Tidak ingin terlalu menyukai popularitas dan bekerja secara diam. Konsep itu beliau lakukan dengan turun langsung ke bawah atau kring, sebutan untuk pengurus ranting atau desa pada masa lalu. Turba itu dijalankannya sendiri untuk meninjau kondisi pengurus NU, biasanya dengan mengendarai dokar.

    Pada suatu hari, Kyai Nawawi mengunjungi Kring Modopuro Mojosari. Sesampainya di rumah ketua NU setempat kebetulan empunya rumah sedang tidak ada. Maka Kyai Nawawi memutuskan untuk menunggu. Setelah tuan rumah pulang ditanya dari mana dan dijawab baru pulang dari warung. Kyai Nawawi selanjutnya meminta buku organisasi yang dibawanya. Setelah itu beliau menyatakan jika tuan rumah dipecat sebagai anggota NU karena telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, yaitu siang hari nongkrong di warung.

    Mengapa demikan ? Untuk menjelaskan hai itu harus ditarik pada kondisi sosiokutur dan sosiopolitik yang diambil NU saat itu. NU sedang berhadapan dengan kelompok Islam modernis yang ingin menghabisi Amaliyah ala kaum Nahdliyyin. Karena itu NU wajib menjaga disiplin dan moral anggotanya agar tetap memiliki semangat “satu barisan”, Kedua. NU juga berupaya menciptakan identitasnya yang tentu berbeda dengan indentitas kelompok lainya dengan jargon “man tashabbaha bi qaumin fahua minhum”. Ketiga, NU melihat saat itu budaya “marung” merupakan bagian dari identitas kolonial yang suka menghamburkan uang di tempat makan-minum atau berfoya-foya

    Betapa kerasnya aturan organisasi ketika itu. Sementara saya setiap hari nongkrong di warung kopi.

    Sidowangun, 3 Juli 2015

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanfiq

  • MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    Infokom Banser NU-Bukan senjata musuh, tapi kebodohan umat yang ampuh digunakan alat untuk menghancurkan agama Islam.

    Mereka telah berhasil menghasut dan memprovokasi orang awam untuk membenci ulama2 NU dengan memfitnah menggunakan cara memotong dan memelintir pidato2 para kiyai NU, serta menggiring opini dari maksud awal tujuan pidato itu disampaikan. Namun sejarah telah membuktikan bahwa atas pertolongan Allah, NU hingga kini masih dilindungi dan masih dapat memberikan manfaat bagi banyak umat.

    Karena NU didirikan dengan ikhlas dan hasil tirakat para ULAMA dan HABAIB, untuk membentengi kehancuran agama Islam dari virus Wahabi. Ingat! NU berdiri tujuan utamanya adalah melawan Neo Khawarij yang berbungkus paham Wahabi. Sedangkan para pembenci NU, mereka timbul dan kemudian tenggelam. Mereka datang dan kemudian pergi terusir dari panggung kemuliaan. Sejarah kelam Neo Khawarij menghancurkan Islam dengan memelintir ajaran2 agama Islam untuk memusuhi sesama saudaranya.

    Mereka memanfaatkan kebodohan orang Awam dengan simbol2 agama dan penampilan2 Shalih. Namun faktanya, para sahabat Nabipun tidak luput dari kejahatan mereka, sehingga Umar, Ustman, dan cucu Nabi akhirnya terbunuh menggunakan dalil2 agama. Sehingga garis keturunan Nabi dari jalur laki2 musnah di muka bumi disebabkan kejahatan Neo Khawarij yang kini berbaju Wahabi. Jangan mudah tertipu simbol2 Islami dan penampilan2 keshalihan, sebab itu memang sengaja digunakan senjata mengelabui orang awam oleh Neo Khawarij untuk mengacaukan dan menghancurkan agama Islam dari dalam.

    “Akhir zaman, nantinya orang berilmu akan dibantah oleh orang yang bodoh.”
    #…………(Dawuh Gus Qoyyum)………….#

    Bedanya NU dan Salafi/Wahabi, FPI, HTI, ialah, kalau NU berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan,
    sedngkan Salafi/Wahabi, berjuang Merusak, Memberontak dan Mendemo Negara yang sudah merdeka. Terbukti Pelaku2 Terorris di Indonesia Berjenggot, Bercelana Cingkrang, Penjahat Berjubah berkedok agama sang pengasong Khilafah.

    #SantriNderekKyaiDanHabaib #SantriNU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #AswajaNU #GP_AnsorNU #PagarNusaNU
    #BanserNU #FattayatNU #IPPNU #HWMI
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI_Bersatu

    Rijalul Ansor ASWAJA NU