Tag: pks

  • GERAKAN POLITIK SBY-AGUS DAN PKS SOAL OMNIBUS LAW, HADAPI JOKOWI DIDUKUNG BIN

    GERAKAN POLITIK SBY-AGUS DAN PKS SOAL OMNIBUS LAW, HADAPI JOKOWI DIDUKUNG BIN

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Banyak yang tak paham. Dikira BIN, TNI/POLRI diam dan melakukan pembiaran. Jokowi dikira takut lalu kabur ke Kalteng. Padahal ada skenario kejahatan para politikus yang harus dipahami publik. Aparat keamanan sudah mencium gelagat gerakan untuk membangun kerusuhan.
    Hoaks tentang UU Cipta Kerja sudah beredar seminggu lebih sebelum demo besar. Hoaks yang gagal di-counter oleh Tim Komunikasi Jokowi. Dari Kominfo sampai kementerian terkait gagal memenangkan perang komunikasi.
    Akibatnya, SBY-Agus dan PKS memainkan opini kepentingan. Kepentingan mereka. Lewat tangan proxy yang disebut buruh. Tidak semua buruh. Bahkan perusuh bayaran.
    Sejak dua pekan lalu telah beredar luas informasi terkait para dalang dan gembong gerakan anti UU Omnibus Law, sebagai tunggangan politik. Para pembuat onar baik di medsos maupun di lingkaran politikus dan politikus gelandangan serta kaum khilafah, sudah tampak.
    Namun, Pemerintah gagal menindaklanjuti informasi intelijen – gagal menerapkan pre-emptive measures. Gagal bertindak mencegah. Baru setelah isu hoaks UU Omnibus Law berhasil menghasut rakyat, Pemerintah sudah telat bertindak.
    Uang besar, kekuasaan, alat negara, gagal dimanfaatkan secara tepat karena carut marut kemampuan komunikasi publik yang berantakan. Kalah melawan kemampuan buruh seperti KPSI dalam membangun opini. Kenapa? Tidur kenyang menikmati kue kemenangan Pilpres 2019. Lupa akan kepentingan komunikasi yang elegan cerdas dan decisive. Komunikasi yang mencerahkan rakyat.
    Tak salah maka ketika Agus-SBY dan PKS memanfaatkannya. Tentu diikuti kaum khilafah, eks HTI, dan kadrun yang ikut bermain. Tujuan sama menggoyang Jokowi. Catatan SBY dan Agus serta kaum kadal gurun selalu bersinggungan. Kolaboratif. Catatan SBY memang suka bikin onar. Kompor.
    Demonstrasi 4/11/2016 yang disebut oleh SBY sebagai gerakan seperti Arab Springs. Gagal menjungkalkan Jokowi lewat 411, hanya berhasil menjungkalkan Ahok.
    Kini bapak-anak gagal bernama SBY-Agus kembali bikin ulah.Kini SBY-Agus memainkan Omnibus Law alias UU Cipta Kerja. Sentimen dan settingan dibangun dengan SBY dan Agus menarasikan kegagalan berjuang di parlemen. Agus sebagai fotokopi SBY pun menerapkan politik culas nan kotor. Seolah mereka berjuang menolak UU Cipta Kerja.
    Dengan uang bejibun Cikeas menggerakkan demo, mendukung demo persis seperti Anies yang ikut menyurakan aspirasi. Aspirasi penggerogotan wibawa pemerintah. Sejatinya SBY-Agus, berkolaborasi dengan partai berbalut agama PKS membangun kepentingan bisnis.
    Mereka sedang melindungi kroni mereka seperti eks boss Petral Muhammad Reza Chalid dan yang sedang ngumpet Hatta Rajasa. Karena bisnis besar mereka terancam dibabat habis di bawah Jokowi. Apalagi dengan UU Cipta Kerja, dalam persaingan bebas, mereka bisa rontok.
    Kenapa? Karena Omnibus Law mengatur memangkas lebih dari 1.200 peraturan yang menjadi ajang korupsi. Peraturan yang dibuat rumit sehingga melanggengkan korupsi. Tugas sangat berat Jokowi.
    “Omnibus Law atau UU Cipta kerja salah satunya adalah untuk pemberantasan korupsi,” kata Mahfud MD di Jakarta Jumat (9/10/2020).
    Setelah Netizen membongkar konspirasi persiapan demo Cikeas, bahkan secara khusus Agus memamerkan penolakan terhadap UU Cipta Kerja lewat video, setelah demo besar gagal terlaksana pada 6 Oktober 2020. Dan, skenario kerusuhan besar pun gagal.
    Nah, lalu kenapa tampak TNI/Polri lebih persuasif dan tidak bertindak keras? Karena BIN, TNI/Polri sudah mencium gelagat skenario kerusuhan dengan biaya besar, seperti 411, sedang dipersiapkan. Para pendemo bayaran, kelompok radikal, dan perusuh telah siap untuk membakar Jakarta. Terbukti mereka membakar halte, pos polisi, kendaraan aparat.
    Terlebih lagi situasi PSBB dan Covid-19 akan menjadi titik serang media, ketika terjadi bentrokan all-out. Maka, tindakan aparat adalah menjaga jarak dengan demonstran dan perusuh. Titik-titik obyek vital dijaga dan gerakan massa dikelola di titik tertentu.
    Hasilnya? Bentrokan yang diharapkan gagal total. Dan, gagal pula SBY-Agus dan PKS menjadi pahlawan kesiangan. (Penulis: Ninoy N Karundeng).
  • Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Awal dari segalanya adalah Manhaj Takfiriyah, yang sekarang bisa berkembang di Indonesia ini menjadi Organisasi seperti HTI, menjadi Partai seperti PKS. Banyak sekarang ini mempunyai pemikiran mengkafirkan orang di luar keyakinan dia. Sedikit-sedikit kalau melakukan ini dibilang kafir, sedikit-sedikit dibilang bid’ah, sehingga yang masuk surga cuma dia saja. Kok ndak takut masuk surga sendirian? inilah bedanya Wali Songo Waliyulloh dengan wali jenggot salafy wahabi.

    Yang sekarang terjadi adalah agama dihadapkan kepada negara, maka akan memberikan suasana kalau negara akan menjadi penindas agama kemudian agama akan menjadi pemberontak dalam suatu negara.

    Dalam kondisi tersebut, dalam jangka panjang pasti akan membahayakan Kesatuan Negara Republik Indonesia.

    Seharusnya NU dan Muhammadiyah yang dimodali oleh negara, untuk mendeteksi Manhaj Takfiriyah tadi. Tapi masih banyak mereka yang tampak dalam gerakan mengkafirkan orang, membidahkan orang, itu masih dimodali oleh Pemerintah dan asing. Bahkan diberi kesempatan kebebasan menjalankan doktrin-doktrinnya yang jauh dari ajaran ASWAJA ANNAHDLIYAH NU dan PANCASILA. Lebih ironisnya lagi mereka masih diberi kedudukan di pemerintahan, seperti Gubernur, Bupati, DPR, dan lain-lain.

    Jadi kita tidak usah anti asing sementara kita menerima uang asing. yang tidak asing dan yang betul-betul asli made in Indonesia itu NU dan Muhammadiyah.

    ini kalau sudah kena Manhaj Takfiriyah tadi, Semuanya akan Bubar semua, Negara Kacau, banyak Demo menentang pemerintah, mudahnya mengkafirkan, sering tuduh menuduh dan lain-lain.

    Sehingga pengrusakan adalah bagian dari ibadah seperti demo 212, demo 411, demo bela ulama’, padahal pengertian aman itu adalah anamu wa amilus sholihat tapi bagaimana Amanu itu bisa dilakukan dengan wafasaadu??! ini semuanya menjadi renungan kita.

    tapi karena sekarang bukan ketuhanan yang maha esa tapi keuangan yang maha kuasa, Maka ini merayap dan mewabah sampai mana mana di bumi nusantara ini.Dijadikan agitasi oleh para teroris untuk terus melawan negara.

    Rata-rata rakyat minta Bagaimana cara Indonesia Aman dalam satu kesatuan NKRI, bagaimana caranya? ya dimulai dari HULUnya, dilaksanakan pelan-pelan melalui pendidikan ketegasan hukum dll. (abi sorban)

  • BERIKAN APRESIASI IJTIMA ULAMA KE-IV, PKS TERNYATA MENDUKUNG AGENDA KHILAFAH

    BERIKAN APRESIASI IJTIMA ULAMA KE-IV, PKS TERNYATA MENDUKUNG AGENDA KHILAFAH

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada dasarnya memiliki ideologi yang mirip dengan Persaudaraan Alumni (PA) 212. Mereka sama-sama setuju dengan konsep NKRI Bersyariah, yang notabene implementasi paham khilafah.

    Keyakinan bahwa PKS memiliki agenda yang sama dapat dilihat dari apresiasinya pada rekomendasi Ijtima Ulama ke-IV yang digelar oleh PA 212.

    Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Presiden PKS, Sohibul Iman. Ia menaruh hormat atas terselenggaranya Ijtima Ulama yang ke-IV berikut dengan hasilnya.

    Dengan apresiasi tersebut, PKS sebenarnya sedang mencitrakan dirinya sebagai pendukung setia agenda ‘ulama’ versi mereka. Hal ini agar mereka mendapatkan dukungan suara dari PA 212 dan para kroni-kroninya pada Pemilu mendatang.

    Dengan bergabung, mereka berada di barisan yang sama untuk membenci pemerintahan Presiden Jokowi. PKS jelas ingin merangkul dan bekerja sama dengan para penyelenggara Ijtima Ulama, seperti PA 212, FPI dan HTI.

    Tujuan mereka bergabung itu hanya satu, yaitu demi menjatuhkan pemerintah dan mendirikan agenda mereka untuk menegakkan khilafah di Indonesia.

    Di sisi lain, apresiasi PKS di atas juga merupakan wujud nyata dukungan mereka agar ditegakkannya khilafah. Karena Ijtima Ulama ke-IV lalu sepakat untuk mewujudkan NKRI Bersyariah, atau kata lain, khilafah islamiyah.

    Inilah mengapa kita semakin hilang hormat kepada PKS. Mereka kini telah mengasong agenda khilafah dengan politik menebarkan propaganda, kebencian dan fitnah. (abi sorban)

    Jangan mau tertipu!

  • Siapa Presiden Ihwanul Muslimin dan PKS

    Siapa Presiden Ihwanul Muslimin dan PKS

     

    SORBAN SANTRI- Sebelum kemunculan HRS, tak ada catatan mengenai “konflik” antara habaib dan nahdliyin kecuali kasus individual Habib Husein al-Habsyi yg menyerukan penggulingan Gus Dur dari kursi kepresidenan, pada 2001.

    Saat itu, seruan habib yang pernah mendekam di penjara selama 10 tahun dengan dakwaan terlibat peledakan candi Borobudur itu, ditentang oleh banyak habib lainnya. Di antaranya oleh sekumpulan habib yang tergabung dalam Forum Habib Jawa Timur.

    Selain dinilai menyeret kehabiban ke dalam konflik kepentingan politik, Habib Husein al-Habsyi dianggap sebagai provokator yang ingin memisahkan habaib dari para kiai.

    Terpidana Bom Candi Borobudur adalah Habib Husein Al Habsyi, ia mendirikan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) kisaran tahun 2001. Ikhwanul Muslimin versi Habib Husein Al Habsyi bukanlah IM ‘cabang’ dari Ikhwanul Muslimin yang di Mesir itu.

    Ada juga, bahkan banyak juga salah faham ketika menyebut (nama) Habib Husein Al Habsyi Presiden IMI itu. Karena namanya sama dengan pendiri YAPI Bangil (Syi’ah). Ini adalah Foto Habib Husein Al Habsyi yang mengklaim dirinya sebagai Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI).

    Sedangkan Habib Husein Al Habsyi Pendiri Pesantren YAPI Bangil yang beraliran Syiah. Ikhwanul Muslimin yang versi resmi di bawa oleh kelompok gerakan Tarbiyah yang kini mendirikan Parpol: PKS.

    Jadi PKS (dulu PK) itu sejatinya adalah kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir Ketika Habib Husein Al Habsyi mendeklarasikan ormas dengan nama Ikhwanul Muslimin. Di cibir oleh kalangan Tarbiyah (PKS). Menyikapi itu, tokoh utama Gerakan Tarbiyah Ust. Rahmat Abdullah berkata ” Ia (Hb Husein AlHabsyi) hanya mendapat Klaim saja.

    Yusuf Supendi salah satu pendiri PK (PKS) membenarkan kalau PKS adalah Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Bahkan Yusuf Supendi mengatakan saat Pemilu ’99 Partainya 90% dana kampanye Pemilu di bantu oleh Ikhwanul Muslimin.

    Yusuf Qardawi juga pernah menyebut bahwa PKS adalah kepanjangan tangan Ikhwanul Muslimin. Tapi petinggi PKS no comment. PKS tentu tutup mulut karena di negeri kita parpol di larang menerima bantuan dari asing. Apalagi kepanjangan tangan dari asing

    Tidak ada memang bukti struktural bahwa PKS di bawah naungan Ikhwanul Muslimin Mesir. Tapi ideologi tidak bisa di sembunyikan. Lihatlah sikap kader PKS melihat konflik Ikhwanul Muslimin/Mursi di mesir sekarang. Karena memang PKS adalah Ikhwanul Muslimin.

    SORBANSANTRI.COM
    Kembali ke Habib Husein Al Habsyi, saya juga heran kenapa dia mendirikan ormas bernama Ikhwanul Muslimin. Habib Husein Al Habsyi – IM Yang jelas, dia memang akrab di kalangan Islam Radikal. dengan Habib Rizieq, juga dgn Abu Bakar Ba’asyir.

    Karena dalam perjalanannya di Ikhwanul Muslimin ada 2 arus besar. Salah satunya adalah Ikhwan Quthbiyah. Yakni Ikhwan Garis Keras tokoh utamanya adalah Sayyid Quthub. Bahkan Yusuf Qardawi mengatakan Sayyid Quthub harus bertanggung jawab atas berkembangnya Islam Radikal di dunia

    SORBANSANTRI.COM
    Sayyid Quthb akhirnya di hukum mati, digantung (pada 29 Agustus 1966). Karena ideologi radikalnya. Sayyid Quthub awalnya moderat, termasuk ketika menulis kitab Tafsir fi Dzilalil Qur’an. Tapi Akhirnya Radikal,Beliau memang pujangga, kitab lainnya adalah kitab Ma’alim fi at-Thariq

    Itulah Ikhwanul muslimin dan menjelma menjadi PKS..

    Muhibbul fillah..
    Salam takdziim.

    (GusNadjb)

  • PENGAKUAN KADER PKS “CARA MENGHANCURKAN NKRI”

    PENGAKUAN KADER PKS “CARA MENGHANCURKAN NKRI”

    101675916_565592290815146_7158340933325422592_n

    cyberaswaja.online – Testimoni ini ditulis oleh seorang mantan kader PKS dari UI bernama Arbania Fitriani, sebagai “note” pribadi di facebook.

    Pertama-tama, saya menuliskan pengalaman saya ini tidak untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan salah satu partai besar di Indonesia. Saya hanya ingin berbagi pengalaman untuk menjadi bahan renungan para pembaca agar dapat lebih mengenal PKS dari dalam.

    Tulisan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal PKS secara objektif, agar rakyat Indonesia mengetahui apakah PKS benar-benar mengusung kepentingan rakyat Indonesia atau justru sedang mengkhianati masyarakat dan para kadernya sendiri dengan sentimen keagamaan serta jargon sebagai partai bersih. Sayangnya, banyak masyarakat dan orang-orang di dalam tubuh PKS ini pun tidak menyadarinya.

    Bagian tersebut akan saya jelaskan secara singkat di akhir cerita saya, dan sekarang saya ingin berbagi dulu kepada para pembaca mengenai sistem pengkaderan PKS yang sangat canggih dan sistematis sehingga dalam waktu singkat membuatnya menjadi partai besar.

    Saya waktu mahasiswa adalah kader PKS mulai dari ‘amsirriyah sampai ke ‘am jahriyah. Mulai dari saya masih sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, sampai ke fase dakwah secara terang-terangan, sejak PKS masih bernama PK sampai kemudian menjadi PKS.

    Dalam struktur pengkaderan PKS di kampus, ada beberapa lingkaran, yakni lingkaran inti yang disebut majelis syuro’ah (MS), lingkaran kedua yang disebut majelis besar (MB), dan lingkaran tiga yang menjadi corong dakwah seperti senat (BEM), BPM (MPM), lembaga kerohanian islam.

    Jenjangnya adalah mulai dari lembaga dakwah tingkat jurusan, fakultas, sampai ke universitas. Jika di universitas tersebut terdapat asrama dan punya kegiatan kemahasiswaan, maka di sana pun pasti ada struktur seperti yang telah saya terangkan.

    Universitas biasanya akan berhubungan dengan PKS terkait perkembangan politik kampus maupun perkembangan politik nasional. Dari sanalah basis PKS dalam melakukan pergerakan-pergerakan politik dalam negeri atas nama mahasiswa, baik itu yang berwujud demonstrasi maupun pergerakan lainnya. Sistem pergerakan, pengkaderan dan struktur lingkaran yang terjadi di dunia kampus sama persis dengan yang terjadi di tingkat nasional.

    Kembali ke dalam struktur lingkaran PKS di kampus, orang-orang yang duduk di MS jumlahnya biasanya tidak banyak dan orang-orangnya adalah orang-orang yang terpilih. Kebanyakan yang menjadi anggota MS adalah mahasiswa yang memang sudah dikader sejak SMU. Tapi ada juga yang berhasil masuk ke dalam MS dari orang-orang yang telah dikader pada saat kuliah. Saya termasuk orang yang masuk ke dalam lingkaran MS yang baru dikader pada saat kuliah dan menduduki posisi sebagai mas’ulah di asrama UI sehingga saya punya akses langsung untuk berdiskusi dengan mas’ulah tingkat universitas. Dari sini juga saya akhirnya banyak tahu sistem dalam PKS meskipun saya pada tingkat fakultas hanya masuk sampai tingkat MB.

    Struktur MS dan MB memiliki mas’ul (pemimpin untuk anggota ikhwan) dan mas’ulah (pemimpin untuk anggota akhwat). Masing-masing mas’ul(ah) ini membawahi MS secara keseluruhan dan ada juga mas’ul(ah) yang membawahi sayap-sayap dakwah, yakni sayap tarbiyah (mengurusi pengkaderan khusus untuk ikhwah seperti pemetaan liqoat, materi liqoat, dll), sayap syiar (mengurusi syiar Islam, khususnya dalam lembaga kerohanian formal dan menjaring kader baru), dan sayap sosial & politik (mengurusi dakwah dalam bidang lembaga formal kampus, yakni BEM dan MPM).

    Di lingkaran kedua adalah majelis besar, anggotanya adalah ikhwah yang sudah dikader juga dan tinggal menerima keputusan dari MS untuk dilaksanakan. Jadi, MS ini adalah think-tank dari seluruh kegiatan yang terjadi di kampus. Apabila kader PKS duduk sebagai ketua BEM/Senat atau MPM/BPM, maka semua kegiatannya harus mendapat izin dari MS dan memang biasanya berbagai agenda di BEM/Senat dan MPM/BPM ini dibuat oleh MS.

    Bagaimana sistem pengkaderan PKS itu sendiri? Bagaimana PKS mengubah seorang menjadi kader yang militan?

    Jalan pertama adalah menguasai Senat, BEM, BPM, dan MPM. Apabila lembaga formal ini sudah dikuasai, akan mudah untuk membuat kebijakan terutama pada masa penerimaan mahasiswa baru.

    Saat orientasi mahasiswa baru biasanya mereka akan dibentuk menjadi kelompok kecil (halaqah) dan ikhwah PKS akan berperan sebagai mentor. Kegiatan ini akan berlanjut rutin selama masa perkuliahan di mana halaqah ini akan berkumpul 1 minggu sekali. Dari sinilah biasanya akan terjaring orang-orang yang kemudian akan menjadi ikhwan militan, bahkan orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab dan sangat gaul bisa menjadi seorang akhwat yang sangat pemalu namun juga sangat militan.

    Agenda utama kami adalah membentuk Manhaj Islamiyah di Indonesia menuju Daulah Islamiyah (mirip dengan sistem Khilafah Islamiyah dari HTI). Doktrin utama dalam sistem jamaah PKS yang juga menamakan dirinya sebagai jamaah Ikhwanul Muslimin ini adalah “nahnu du’at qobla kulli sya’I” dan “sami’na wa ata’na”. Dua doktrin inilah yang membuat kami semua menjadi orang yang sangat loyal dan militan. Setiap instruksi yang diberikan dari mas’ul(ah) ataupun murabbi(ah) kami akan kami pasti patuhi meskipun kami tidak benar-benar paham tujuannya. Seperti menyumbang, mengikuti demonstrasi, meskipun harus bolos kuliah, dll.

    Selama saya aktif di pergerakan ini, saya melihat banyak sekali teman-teman saya yang berhenti menjadi Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Dulu saya merasa kasihan kepada mereka, karena yang saya tahu — diberitahu oleh murabbi kami dan juga seringkali dibahas dalam taujih atau tausiyah (semacam kultum) — bahwa dalam jalan dakwah ini selalu akan ada orang-orang yang terjatuh di jalan dakwah. Mereka adalah orang-orang futur (berbalik ke belakang).

    Orang-orang ini biasanya kami label sebagai anggota “basah” (barisan sakit hati). Saya mempercayai semuanya sampai akhirnya saya pun merasa tidak cocok lagi untuk berada di sana dan memutuskan untuk keluar dari ADK, padahal saya dulu sudah diproyeksikan sebagai ADK abadi (orang yang akan menjadi aktivis dakwah kampus selamanya dengan cara menjadi dosen atau karyawan tetap di kampus).

    Ada beberapa alasan yang membuat saya mengambil keputusan untuk keluar, antara lain: Adanya eksklusivisme antara kami para ADK dengan orang-orang di luar ADK. Kami para ADK adalah orang-orang khos (orang khusus) dan mereka adalah adalah orang ’amah (orang umum). Orang khos adalah orang yang sudah mengikuti tarbiyah dan mengikuti liqo’at (semacam halaqah tapi lebih khusus lagi) dan orang ’amah adalah orang yang belum mengenal tarbiyah. Para ikhwah, terutama para ADK, tidak akan mau menikah dengan ’amah karena mereka dapat membuat orang khos seperti kami menjadi futur, bahkan bisa membuat kami terlempar dari jalan dakwah.

    Istilah khos dan a’amah ini membuat saya merasa tidak natural dan tidak manusiawi dalam menghadapi teman saya yang ’amah. Saya diajarkan bahwa mereka adalah mad’u (objek dakwah) saya. Jika saya bisa menarik mereka ke dalam sistem kami, apalagi bisa menjadi ADK, maka kami akan mendapat pahala yang sangat besar. Saya merasa menjadi berdagang dengan teman saya yang dulunya sebelum menjadi ADK adalah sahabat saya. Saya merasa tidak memanusiakan teman saya dan lebih memandang mereka sebagai objek dakwah.

    Dalam liqo’at ataupun dauroh saya juga ada beberapa hal yang membuat saya tidak sreg, seperti bahwa saya harus lebih mengutamakan liqo’at daripada kepentingan orang tua dan keluarga saya. Bahkan saya pernah diberitahu bahwa bila sudah ada panggilan liqo’at, meski orang tua saya sakit dan harus menjaganya, saya harus tetap datang liqo (entah mengapa selama beberapa tahun saya bisa menerima konsep yang kurang manusiawi ini). Hal lain adalah saya tidak boleh mengikuti kajian di luar liqo saya, padahal setahu saya bahwa kebenaran itu tidak hanya milik liqo saya, masih banyak sekali kebenaran di luar sana.

    Bahkan buku bacaan pun diatur dimana ada banyak buku yang saya sangat berguna untuk menambah wawasan keislaman saya seperti buku yang mengajarkan tentang hakikat Islam namun oleh murabbi saya dilarang. Untuk hal ini saya membangkang karena, seandainya Islam itu memang benar rahmatan lil alamin, ilmunya pasti sangat luas dan tidak hanya monopoli orang-orang di PKS semata. Dan hal yang paling mengusik saya adalah selama saya mengaji di liqo ataupun mengikuti taujih dan taushiyah dalam syuro ataupun dauroh-dauroh (training) saya merasa lebih banyak diajarkan tentang kebencian terhadap agama atau aliran lain, seperti bagaimana kejamnya kaum Nashoro (Nasrani) yang membantai saudara kami di Poso, Yahudi yang membantai saudara kami di Palestina, JIL yang memusuhi kami, NII yang sesat, teman-teman Salafi yang mengganggu kami, dst.

    Sampai-sampai, akibat begitu terinternalisasinya hal tersebut, ketika saya mengikuti tarbiyah universitas dan sedang makan siang, saya dan teman-teman menganggap yang sedang kami makan dan telan itu adalah orang-orang Yahudi dan Nashoro. Doa-doa kami pun selalu secara khusus ketika qunut adalah untuk mujahid-mujahid di Palestina dan Afghanistan (kadang saya berpikir kapan kita berdoa untuk pahlawan perjuangan di Indonesia yang telah menghadiahkan kemerdekaan kepada kita). Sejujurnya, saya lebih tersentuh dan bisa menangis tersedu-sedu ketika dibacakan ayat-ayat seperti dalam surat Ar-Rahman yang menceritakan Cinta-Ilahi ketimbang surah seperti Al-Qiyamah yang menceritakan azab-Nya.

    Kebencian sangat bertentangan dengan hati nurani saya karena saya sangat percaya dengan ayat yang mengatakan bahwa rahmat Allah SWT lebih cepat dari murka-Nya, yang artinya cinta Allah SWT seharusnya dapat menghapus kemarahan-Nya terhadap umat manusia. Inilah sebabnya mengapa di sini hati saya merasa sangat kering saat mengikuti tausiyah dan taujih yang senantiasa bercerita tentang peperangan dan kebencian. Semua ganjalan yang saya rasakan akhirnya meledak ketika saya kemudian tahu dari sumber yang terpercaya dalam pemerintahan, juga dari petinggi PKS sendiri, tentang agenda yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan pastinya juga tidak diketahui oleh orang-orang selevel saya atau bahkan pun pengurus inti PKS.

    AGENDA UTAMA PKS

    Agenda utama PKS adalah menghancurkan budaya Indonesia melalui invasi budaya Arab Saudi.

    Banyak sekali indikasi yang saya rasakan langsung pada saat menjadi ADK, seperti upaya kami untuk menghalang-halangi acara seni, budaya, musik, dll. Hingga berbagai upaya kami agar bisa memboikot mata kuliah ilmu budaya dasar (IBD).

    Saya ingat dulu, karena saya begitu termakan doktrin bahwa mata kuliah IBD tidak berguna dan bisa melemahkan iman, saya seringkali membolos kalau ada latihan menari sampai saya sempat dibenci teman-teman saya.

    Kembali pada agenda PKS ini sebagai perpanjangan tangan dari Kerajaan Saudi, tujuan utamanya adalah agar kekuasaan Arab bisa mencapai Indonesia, mengingat satu-satunya sumber devisa Arab adalah minyak yang diperkirakan akan habis pada 2050 dan melalui jamaah haji.

    Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber daya alam dan merupakan umat muslim terbesar di dunia. Bahkan jika seluruh umat muslim di Timur Tengah disatukan, umat muslim Indonesia masih jauh lebih banyak. Untuk itu, agar dapat bertahan secara ekonomi, Arab Saudi harus bisa merebut Indonesia dan cara yang paling jitu adalah melalui invasi kebudayaan.

    Islam dibuat menjadi satu dengan kebudayaan Arab, sehingga budaya Arab akan dianggap Islam oleh masyarakat Indonesia yang relatif masih kurang terdidik dan secara emosional masih sangat fanatik terhadap agama.

    Ketika kebudayaan lokal sudah bisa dihilangkan dan kebudayaan Arab yang disamarkan sebagai Islam dapat berkuasa, maka orang-orang akan menjadi begitu fanatik buta bahkan fundamentalis dan tidak bisa lagi mengapresiasi agama lain dan budaya lokal. Lalu, bila kebudayaan Nusantara sudah sampai dianggap musyrik atau bid’ah, saat itulah NKRI akan bubar.

    Orang-orang yang pulaunya dihuni oleh mayoritas non-muslim atau yang masih memegang budaya lokal di Indonesia akan meminta merdeka. Pulau-pulau di Indonesia akan terpecah-belah dan pada saat itulah orang-orang ini akan bagi-bagi “kue”.

    Peta rencananya adalah bagian pulau di Indonesia yang mayoritas Islam akan dikuasai oleh Arab. Sedangkan daerah yang penduduknya mayoritas Kristen akan dikuasai oleh Amerika. Lalu, daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, Buddha, Animisme, dll., akan dikuasai oleh Cina.

    Tidak banyak orang PKS yang tahu soal ini, hanya segelintir saja yang memahaminya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan agar dapat lebih memudahkan agendanya. Sentimen keagamaan terus dipakai untuk meraih simpati masyarakat. Maka berbagai produk kebijakan, seperti Perda Syariat, UU APP, dll. yang rata-rata hanya sekadar mengurus masalah cara berpakaian semata akan dengan bangganya diterima oleh masyarakat muslim yang naif sebagai keberhasilan Islam.

    Masyarakat kita lupa bahwa sampai saat ini PKS belum menghasilkan produk yang dapat memajukan ekonomi, menyelesaikan permasalahan kesehatan, pendidikan, pencegahan bencana alam, korupsi, trafficking, tayangan TV yang semakin memperbodoh masyarakat, dan permasalahan lain yang lebih riil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita ketimbang sekadar mengatur cara orang dewasa berpakaian dan berperilaku.

    Jangan terburu-buru apriori dan menganggap tulisan mengenai pengalaman saya ini adalah black campaign. Renungkan dengan hati nurani yang dalam. Tidak ada kepentingan saya selain hanya menyampaikan kebenaran.

    Saya tahu risiko yang ada di hadapan saya dan siapa yang saya hadapi. Tapi saya lebih takut menjadi bagian dari orang yang zalim, karena tahu kebenaran, namun tidak bersuara. Rasa cinta saya bagi negeri yang sudah memberi saya kehidupan ini menutupi rasa takut saya. Saya yakin siapa yang berjalan dalam kebenaran maka kebenaran akan melindunginya.

    Buat rekan saya, murabbi saya, sahabat-sahabat saya dulu sesama ikhwah, saya mencintai kalian semua dan akan terus mencintai kalian.Saya berharap, persaudaraan kita tetap terjalin karena bukanlah partai atau agama yang mempersaudarakan kita, tapi karena kita satu umat manusia, anak-cucu Adam. Kalau bahasa teman saya, kita menjadi saudara karena kita menghirup udara yang sama, makanya kita disebut “sa-udara”. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi bahan renungan para jamaah “fesbukiyah” dalam menentukan pilihan pemimpin yang akan membawa kapal Indonesia menuju masyarakat yang bahagia, makmur dan sentosa, yang memiliki jati diri dan menghargai kebudayaan Nusantara. sumber(nublitar.or.id)