Tag: RADIKAL

  • Sosialisasi Beragama untuk Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Mojokerto

    Sosialisasi Beragama untuk Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Mojokerto

    Mojokerto, 15 November 2024 – Dalam upaya mencegah radikalisme dan terorisme, H. Ahmad Atho’illah, anggota DPRD Jawa Timur, menggelar sosialisasi bertema “Beragama dengan Moderasi untuk Mencegah Radikalisme dan Terorisme” di Aston Hotel Internasional Mojokerto, Jumat (15/11). Acara ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan organisasi keagamaan.

    Dalam sambutannya, H. Ahmad Atho’illah menekankan pentingnya memahami strategi pencegahan radikalisme dan terorisme. “Radikalisme dan terorisme tidak hanya mengancam stabilitas negara, tetapi juga memecah belah masyarakat. Oleh karena itu, moderasi beragama harus menjadi prinsip dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

    Ahmad Atho’illah menjelaskan bahwa salah satu langkah utama dalam pencegahan radikalisme adalah melalui pendidikan agama yang moderat. Menurutnya, masyarakat perlu memahami ajaran agama secara utuh dan menghindari penafsiran yang ekstrem. “Kita perlu memperkuat wawasan kebangsaan dan mempromosikan toleransi antarumat beragama agar tercipta kedamaian,” tambahnya.

    Selain itu, Ahmad Atho’illah juga mengajak peserta untuk berperan aktif dalam mendeteksi dan mencegah penyebaran paham radikal di lingkungan masing-masing. Ia menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam membentuk generasi yang cinta damai dan berwawasan kebangsaan.

    Acara ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif, di mana peserta diajak untuk berbagi pandangan dan pengalaman terkait upaya pencegahan radikalisme di komunitas mereka. Banyak peserta menyambut baik kegiatan ini, dengan harapan sosialisasi serupa dapat terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

    Dengan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat Mojokerto semakin memahami pentingnya moderasi beragama sebagai tameng untuk melawan ideologi radikal dan terorisme.(AI Sorban)

  • Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Sejarah mencatat bahwa awal kemerdekaan Indonesia diwarnai oleh berbagai perjuangan dan pengkhianatan. Salah satunya adalah kisah Muso Al-Musawwa Klan Balawi, seorang habib yang mengajarkan ideologi komunisme. Muso, yang terinspirasi oleh ideologi komunisme dari Yaman, terlibat dalam pembunuhan Gubernur pertama Jawa Timur, Suryo. TNI akhirnya menumpas Muso dan komplotannya, membakar mereka hidup-hidup di Alun-alun Purworejo.

    Tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa rakyat Indonesia hanya menginginkan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, ketika Muso menyebarkan komunisme, mengapa Rabithah Alawiyah (RA) tidak memperingatkannya? Pertanyaan ini kembali mengemuka ketika sejarah berulang di tahun 1965 dengan tokoh Achmad Ja’far Al-Aidid atau D.N. Aidit, serta para habaib lainnya yang memperjuangkan sistem komunisme di Indonesia. Mereka juga berakhir tragis, seperti Aidit yang ditembak mati di Boyolali.

    Tidak hanya pada masa awal kemerdekaan, propaganda radikal kembali muncul. Rizieq Shihab, misalnya, mempengaruhi umat Islam di Indonesia untuk mendukung ISIS. Namun, RA tidak mengambil tindakan tegas untuk memperingatkannya. Demikian pula pada tahun 2012, ketika keterlibatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam Front Pembela Islam (FPI) terjadi, RA dan habaib lainnya tidak melakukan pencegahan yang diperlukan.

    Laman: 1 2

  • Menjadi Muslim Moderat di Era Milenial

    Menjadi Muslim Moderat di Era Milenial

    wp.sorbansantri.com – Islam adalah agama moderat. Agama yang menolak paham ekstrimisme dan liberalisme. Moderat dalam istilah Arab disebut Wasathiy atau Wasathiyah. Wustha berarti tengah dan wasith berarti netral atau tidak memihak salah satunya. Konsep Wasathiyah berarti konsep moderasi beragama.

    Landasan moderasi beragama, tercatat dalam Al-Qur’an sebagaimana ayat:

    وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (Q.S Al-Baqarah: 143)

  • Anatomi Radikalisme di Indonesia

    Anatomi Radikalisme di Indonesia

    Oleh M. Kholid Syeirazi. Sekjen ISNU Pusat

    Radikalisme ada pada semua agama, tetapi dalam Islam, radikalisme atau fundamentalisme terbukti memainkan peran politik terpenting sejak abad ke-18 (Barber, 1995: 206). Radikalisme dan fundamentalisme, sebagai istilah, sering bertukar tempat karena bermuara pada satu ide: menjalankan agama sampai ke akar-akarnya, mendasarkan seluruh aspek kehidupan kepada agama.

    Kaum fundamentalis Islam umumnya menganggap Islam adalah agama sempurna yang mencakup kerangka acuan semua aspek kehidupan—duniawi dan ukhrawi—mengatur manusia sejak dari cara makan, tidur, bersuci, beribadah, berniaga, hingga bernegara. Mereka menganggap aturan bernegara sama bakunya dengan ketentuan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Ketentuan ibâdah dan siyâsah sama-sama tawqîfî (doktriner). Menjalankan rukun Islam tidak sah tanpa menegakkan kepemimpinan politik Islam. Persoalan politik dan nashbul imâmah, menurut mereka, termasuk pokok dan rukun agama
    (ركن من أركان الدين وأصل من أصوله)
    Meragukan apalagi mengabaikan nizâm Islâm berkonsekuensi membatalkan status keislaman seseorang.

    Tradisi takfir (memvonis orang lain kafir, red) bermula dari paham politik Khawarij yang memutlakkan pandangan politik-agama dan menggemakan jargon:
    لا حكم الا الله
    (tidak ada hukum selain hukum Allah).

    Dalam sejarah Islam, radikalisme bersumber dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah doktrin dan ideologi, faktor eksternal adalah imperialisme atau persepsi imperialisme dan ketidakadilan yang merundung umat Islam. Narasi ini akan menggali sumber internal radikalisme dengan melacak akar doktinernya pada paham salafi yang berkembang di Timur Tengah sejak abad ke-12 M dan mengeras menjadi ajaran salafi-jihadi pada abad ke-20 M. Pengaruh ideologi salafi dan salafi-jihadi meluas hingga ke Indonesia dan menjadi tantangan terhadap kemajemukan dan kelangsungan NKRI.

    Bahan Baku Radikalisme Secara internal, radikalisme bermuara dari doktrin kesempurnaan dan keserba-mencakupan Islam (شمولية الاسلام). Islam sempurna, karena itu tidak perlu ditambah dan dikurangi. Ajarannya mencakup semua, karena itu tidak perlu mencari tuntunan dari luar Islam. Contoh terbaik dari kesempurnaan Islam adalah praktik kehidupan generasi salafus shâlih. Mereka adalah tiga generasi terbaik dalam rentang tiga abad sejak zaman Nabi dan Sahabat, Tâbi’în, hingga Tâbiu’t Tâbi’în. Sahabat adalah mereka yang bertemu Nabi dan mengakui risalahnya. Tâbi’în adalah mereka yang tidak bertemu Nabi tetapi bertemu Sahabat. Tâbiu’t Tâbi’în adalah mereka yang tidak bertemu Nabi dan Sahabat tetapi bertemu dengan Tâbi’în. Nabi bersabda:
    خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم
    “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian masa sesudah mereka, kemudian masa sesudah mereka.” (HR Bukhari-Muslim)

    Tercakup dalam masa itu adalah para pionir mazhab-mazhab fiqih Islam seperti Imam Hanafi (80 -148 H), Imam Maliki (93-179 H), Imam Syafi’i (150-204 H), dan Imam Hanbali (164-241 H) serta pemuka aliran teologi Islam Imam Abu Hasan al-Asyari (260-324 H).

    Sebenarnya seluruh golongan Islam yang mengakui dan mengikuti mazhab adalah salafi. Namun, belakangan, salafi merujuk kepada gerakan salafisme yang dilancarkan Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M), pembela ortodoksi Islam yang paling keras. Bermazhab Hanbali dan cenderung tekstualis, Ibn Taimiyah adalah pemuka puritanisme Islam, sebuah paham absolutis yang tak kenal kompromi dalam beragama dan cenderung memandang realitas pluralis sebagai suatu bentuk kontaminasi atas kebenaran sejati (Abou El Fadl, 2007: 29). Ibn Taimiyah sangat menentang praktik keagamaan sufi dan tarekat yang dituding sarat bid’ah dan kemusyrikan.Dia juga menolak pemerintahan manusia (human rule) dan bahwa kepemimpinan politik harus berdasarkan syariah. Hidup di masa politik bergolak akibat invasi bangsa Tartar, pena Ibn Taimiyah setajam pedangnya. Fatwa-fatwa Ibn Taimiyah menjadi rujukan hampir seluruh kaum fundamentalis Muslim dan gerakan radikal jihadis kontemporer (Bonney, 2004: 111; Tibi, 1998: 38). Fatwa Ibn Taimiyah yang paling populer adalah fatwa Il-Yasiq. Fatwa Il-Yasiq (Vassa/Great Zasag Law) adalah hukum kompilasi Mongol yang dibuat Genghis Khan, diberlakukan oleh Mahmud Ghazan Khan (1271 – 1304 M), penguasa Mongol ke-7 yang telah masuk Islam di area Syam. Menurut Ibn Taimiyah, meskipun Muslim, Ghazan Khan tetap wajib diperangi karena memberlakukan selain hukum Allah. Kata Ibn Taimiyah (Ibn Katsir, 1988: 24):
    « إذا رأيتموني من ذلك الجانب وعلى رأسي مصحف فاقتلوني»
    “Jika kalian lihat aku di sisi pasukan Tartar, bunuhlah aku meskipun di atas kepalaku terdapat mushaf.”
    Fatwa Il-Yasiq ini terkenal dan menjadi rujukan kaum jihadis untuk memerangi setiap penguasa yang menolak mengadopsi hukum Islam, meskipun dia seorang Muslim. Namun, tidak seorang pun yang menerapkannya untuk menilai realitas masa kini hingga Abdus Salam Farag melakukannya (As-Siba’i, 2002: 8). Farag adalah pentolan Jama’ah Jihad Mesir yang mengotaki pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 1981.

    Ajaran Ibn Taimiyah menjadi gerakan revolusioner di tangan Muhammad ibn Abdul Wahhab (1115-1206 H/ 1701-1793 M). Beraliansi dengan Muhammad Ibn Saud(1710–1765 M), kepala suku Dir’iyah, Wahhabisme memulai aktivitas takfir berdarah untuk memurnikan tauhid dan ritual umat Islam. Pada era 1700-an, Wahhabisme melakukan serangkaian pembunuhan dan penjarahan di seluruh wilayah Arabia. Pada 1802, aliansi Saud-Wahhab menyerbu Karbala dan membunuh sebagian besar kaum Syiah serta merampas properti, senjata, baju, karpet, emas, perak, dan mushaf al-Qur’an (Algar, 2002: 23-25).


    Belasan tahun setelah wafatnya Ibn Abdul Wahhab, Wahhabisme masuk ke Tanah Air melalui tiga orang Minangkabau yang pulang haji pada 1803 M dan membawa ajaran salafi. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Mereka membentuk kaum Padri yang keras memerangi praktik bid’ah dan khurafat serta mengobarkan jihad melawan kaum Adat. Orang yang tak mau tunduk dibunuh, surau-suraunya diserang dan dibakar (Parlindungan, 2007). Perang saudara bergolak selama dua puluh tahun (1803-1823 M). Pada 1825, di bawah kepemimpinan Tunku Imam Bonjol, Kaum Padri dan Kaum Adat berkompromi dan menghasilkan semboyan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ajaran purifikasi muncul kembali dalam sejumlah ormas Islam yang dibentuk menjelang Indonesia merdeka yaitu Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), dan Persis (1923). Dakwah mereka di satu sisi adalah memerangi TBC (tahayul, bid’ah, dan churafat) dan mewujudkan “Islam murni” sehingga bisa disebut salafi. Di sisi lain, mereka ingin umat Islam maju dan mengambil aspek tertentu dari kemajuan Barat sehingga disebut kaum modernis. Kiblatnya adalah gagasan-gagasan tajdid Islam Jamaludin al-Afghani (1838 – 1897 M), Muhammad Abduh (1849 – 1905 M), dan Rashid Rida (1865 – 1935 M).

    Gerakan reformisme Islam Abduh menimbulkan gelombang sekularisasi politik dan agama. Sejumlah murid Abduh, seperti Saad Zaghlul, mendirikan Partai Wafd yang berhaluan nasionalis sekuler. Alî Abd Râziq menulis buku Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm yang mendukung langkah Ataturk menghapuskan Khilâfah dan menyatakan bahwa agama tidak berurusan dengan politik.

    Resah dengan gelombang sekulerisasi, Rashid Rida lantas “mewahabikan” kembali gerakan tajdid Abduh dan menghadirkan ulang Ahmad ibn Hanbal dan Ibn Taimiyah (Hanafi, 1989: 21). Pembelotan Rida terhadap tradisi reformatoris Abduh kelak menyiapkan jalan bagi lahirnya Al-Ikhwan al-Muslimûn(IM), induk organisasi militan yang didirikan muridnya, Hasan al-Banna, pada 1928.

    Kaum modernis Islam goncang di antara salafisme yang menuntut purifikasi dan modernisme yang mengakui segi positif kemajuan Barat. Di Indonesia, aspirasi mereka adalah formalisasi syariat Islam. Ini diperjuangkan oleh para tokohnya seperti Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir (Persis) serta KH Agus Salim, Ki Bagus Hadikusuma, dan Abdul Kahar Muzakir (Muhammadiyah) yang gigih membela konsep negara Islam sepanjang tahun 1920-an hingga 1945. Gagasan ini juga didukung oleh KH A.Wahid Hasyim (NU) dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (Partai Syarikat Islam Indonesia/PSII) yang punya latar belakang keagamaan tradisional. Perjuangan ini berhasil melalui Piagam Jakarta 22 Juni 1945, tetapi tujuh kata berbunyi “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” itu berumur pendek: didrop sehari setelah Indonesia merdeka demi menghindari perpecahan dan keberatan dari rakyat Indonesia Timur.

    _Bersambung_

    (LDNU BANJAR)

  • Abu Janda, Indonesia Membutuhkannya

    Abu Janda, Indonesia Membutuhkannya

    sorbanpeduli.com – Permadi Arya atau yang akrab disapa dengan Abu Janda adalah sosok pegiat media sosial yang telah mengabdikan dirinya untuk bangsa Indonesia ini dalam melawan dan membasmi intoleran dan radikalisme di media sosial.
    Ancaman bunuh, pemenggalan kepala, hingga bullyan sudah menjadi sarapan sehari-hari baginya. Ia yang memilih zona tak nyaman dalam kehidupannya, itu yang membuat salut saya dan semua pejuang yang menghendaki Indonesia ini tetap merah putih, tetap Pancasila dan tetap dalam kebhinekaan.
    Eksistensi Abu Janda dalam proteksinya untuk bangsa Indonesia tidak kita ragukan. Dia punya khas dalam melawan segala bentuk intoleran dan radikalisme. Tentunya ada upaya melemahkannya. Dia harus tetap ada laksana benteng penyelamat. Dari banyak pernyataannya ia telah banyak membantu bangsa Indonesia ini bangkit, mengajak untuk bersemangat menjaga NKRI hingga menetralisir akun-akun sosial yang melakukan propaganda untuk memecah belah Indonesia.
    Apa yang terjadi dalam 2 hal tentang dugaan rasisme terhadap Natalius Pigai adalah hal yang dipaksakan belaka. Kata evolusi tidaklah bermaksud pada teori Darwin, tapi evolusi yang mencakup perubahan. Adapun perubahan itu maknanya luas. Abu Janda sendiri telah menjelaskan bahwa evolusi di sini artinya perubahan pada pemikiran. Ya sebagaimana kita ketahui bahwa Natalius terkadang juga berlebihan dalam status-statusnya di media sosial.
    Kemudian masalah penyebutan Islam adalah agama arogan dalam satu statementnya bukanlah merujuk pada ajarannya atau entitas Islam itu sendiri. Tapi sejatinya adalah fokus memfilterisasikan sikap keberagamaan seorang muslim yang intoleran. Karena lanjutan dari pernyataannya adalah ada orang Islam yang mengharamkan kebaya, mengharamkan sedekah laut dll.
    Nah, apa yang disebutkan oleh Permadi Arya ini sangat bagus dan alhamdulillah viral pula. Yang ia katakan benar ada pola Islam yang dibawa itu sampai mengharamkan wayang, keris, beduk, marhabanan, maulid, Isra’ Mi’raj dsb. Bahkan mengkafirkan yang tak sepaham dengan mereka yang merasa Islamnya paling benar. Itulah sebabnya ia katakan tidak ramah jadinya.
    Di Alquran pun sendiri disebutkan misalnya dalam surat Al-Adiyat ayat 6, “Sesungguhnya manusia itu ingkar.” Ayat tersebut mengindikasikan bahwa kata manusia itu disebutkan secara umum tapi dimaknai khusus, artinya tidak semua manusia yang ingkar. Begitu pula ketika disebutkan Islam Arogan bukanlah keseluruhan Islam yang ajarannya rahmatan lil ‘alamin tapi Islam yang telah terpolarisasi di tangan muslim yang tidak menempatkan makna Islam sebagai agama damai sesuai definisi etimologinya. Seperti cara beragama wahabi dll.
    Ini merupakan kritik konstruktif sejatinya supaya jangan hiperbolik beragama sehingga membutakan nurani dan menghambat kecerdasan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat An-Nisa’ ayat 171, “Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam beragama.”
    Saya sampaikan teruslah berjuang mas Permadi Arya seperti pahlawan yang terus mempertahankan benteng NKRI ini dari kadrun, intoleran dan radikalisme. (kang salim)
  • MUSLIM PRIBUMI TAPI BUKAN WNI

    MUSLIM PRIBUMI TAPI BUKAN WNI

    Oleh Ayik Heriansyah

    wp.sorbansantri.com – Kebalikan dari materi bahtsul masa’il Munas NU 2019 di Banjar yang membahas non-Muslim bukan kafir, tapi warga negara, saya sudah mempermasalahkan status kewarganegaraan kaum Muslim radikal takfiri di beberapa tulisan saya “Dosakah Menjadi Indonesia” (dutaislam.com, 5/8/2017) dan “Golput Takfiri” (ltnnujabar.or.id, 16/1/2019). Momen di setiap forum yang saya isi tentang HTI, saya sampaikan ke audiens persoalan status syar’i kewarganegaraan anggota HTI.

    Berdasarkan pengalaman pribadi waktu menjadi pengurus HTI, saya dan teman-teman secara psikologis ruhiyan wa bathinan tidak menganggap Indonesia sebagai negara kami. Kami punya negara sendiri yaitu Khilafah yang sebentar lagi akan berdiri. Kami punya konstitusi sendiri. Kami punya pemimpin sendiri yaitu Amir Hizbut Tahrir. Yang ketaatan, kepercayaan tsiqah dan loyalitas kami berikan.

    [su_youtube url=”https://youtu.be/Bmdf6GAfbzc”]

    Suasana batin yang sama dialami juga oleh pengikut al-Qaeda, NII dan lSIS. Ketiga kelompok radikal takfiri ini juga mempunya negara dan pemimpinnya sendiri. ISIS dan NII mengklaim telah punya negara. Sedangkan al-Qaeda masih dalam tahap berjuang. Satu hal yang sama dari kelompok-kelompok radikal takfiri ini, mereka sama sekali tidak mengakui NKRI beserta seluruh perangkat pemerintahannya sebagai negara dan pemerintah mereka.

    Bahkan mereka berjuang menggulingkan pemerintah lalu mengganti NKRI menjadi negara seperti yang mereka inginkan. Mereka sama sekali tidak mau memberi loyalitas kepada NKRI. Mereka Muslim dan pribumi. Lahir, tumbuh besar, sekolah, kuliah, berkeluarga dan mencari nafkah di sini akan tetapi mereka bukan warga negara Indonesia.

    Mengapa demikian, karena status kewarganegaraan berbeda dengan status keagamaan. Status keagamaan ditentukan oleh akidah yang diyakini dan syariah yang dianut. Status keagamaan sangat pribadi dan berdimensi ruhiyah, sehingga tidak terikat ruang dan waktu. Status keagamaan berkonsekuensi pada aturan-aturan agama (ibadah, akhlak dan muamalah). Status keagamaan tidak dipengaruhi oleh negara dan pemerintahan. Murni hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

    Sedangkan status kewarganegaraan tidak berhubungan dengan agama seseorang. Ini status politik yang ditentukan oleh dua hal: tempat tinggal muqimah yang digunakan untuk menetap dan loyalitas wala’ kepada negara dan pemerintah. Status kewarganegaraan terkait hak dan kewajiban warga terhadap negaranya. Status ini banyak berhubungan dengan kehidupan seseorang di ruang publik. Memisahkan status agama dan status kewarganegaraan penting, karena dua hal ini berbeda meskipun tidak bertentangan.

    Forum bahtsul masa’il NU kembali menunjukkan kelasnya sebagai forum ilmiah yang bermutu tinggi di Munas Banjar yang baru usai. Setelah membahas status Indonesia sebagai darul Islam di Muktamar Banjarmasin 1936, 9 tahun sebelum Indonesia merdeka, di Munas Cianjur 1954 NU mengukuhkan pemimpin Indonesia sebagai waliyul amri dharuri bi syaukah di tengah polemik tentang DI/TII dan Imamul A’zham, NU di Munas 1983 menerima Pancasila sebagai asas tunggal, di Munas 2019 NU menyegarkan kembali pemikiran umat Islam dengan melontarkan ide non-Muslim bukan kafir, mereka warga negara.

    Pembahasan non-Muslim jangan disebut kafir karena mereka warga negara merupakan ide cerdas dari pemikiran jernih para kiai NU dalam memahami fakta non-Nuslim dalam sejarah NKRI, fakta fiqih siyasah klasik serta trend radikalisasi makna konsep-konsep Islam akibat maraknya gerakan radikalisme.

    Radikalisme sedikit demi sedikit berhasil menggeser makna konsep-konsep Islam dari tempat asalnya. Oleh para kiai NU, makna-makna tersebut mau dikembalikan ke tempat asalnya secara tepat, sehingga tidak menimbulkan kekacauan ilmu pengetahuan Islam mulai dari lapis epistemis sampai ke tataran praktis.

    Perlu diingat, kekacauan persepsi umat Islam terhadap konsep-konsep dasar agama mereka membawa implikasi kepada kekacauan pemikiran umat dalam merespon problematika mereka kemudian berujung kepada kekacauan amaliah mereka. Pengkategorian negara dan warga negara menurut fiqih siyasah klasik tidak akurat jika digunakan untuk fakta Indonesia. Indonesia didirikan oleh bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama.

    Indonesia bukan tanah khorojiah yang pernah ditaklukkan oleh khilafah Islam. Indonesia juga bukan lahir dari gerakan separatisme dari khilafah layak negara-negara Arab modern. Umat Islam Nusantara memeluk Islam secara sukarela, sehingga status tanah Indonesia adalah tanah ‘usyriyah tanah yang tetap dimiliki pribumi sampai hari kiamat, baik Muslim maupun non-Muslim. Status tanah ‘usyriyah yang sama seperti jazirah Arab.

    Sebab itu Indonesia darul Islam, tapi bukan daulah Islamiyah. Negara-negara lain tidak bisa disebut darul harb sepenuhnya. Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Muslim maupun non-Muslim. Indonesia terikat perjanjian damai dengan negara-negara tersebut. Jadi sangat tepat kiranya NU mencetus satu paradigma baru tentang negara dan kewarganegaraan. Sangat dimengerti jika memancing pro kontra di tengah masyarakat khususnya ulama dan tokoh umat, karena mereka masih memaknai kata kafir dalam perspektif aqidah teologi.

    Padahal NU membahasnya dalam konteks fiqih siyasah. Salah besar komentar beberapa tokoh yang mengatakan NU mau mengamandemen al-Qur’an. Yang dilakukan NU justru ingin mengembalikan makna kata ‘kafir’ ke tempat asalnya yakni akidah setelah sempat digeser oleh kaum radikal menjadi bermakna politis.

    Inti dari ide NU tersebut adalah jangan mengkafirkan warga negara bukan Muslim, karena sesama warga negara semua orang berkedudukan sama terlepas dari agama yang dianutnya. Islam memandang kewarganegaraan ditentukan oleh loyalitas wala’ seseorang kepada negara dan pemerintah bukan oleh akidah yang diyakininya.

    Piagam Madinah yang dianggap konstitusi negara Islam pertama, disebutkan Rasulullah saw menggunakan kata “Yahudi” bukan kata “kafir” untuk suku-suku Yahudi di sana.

    Di kemudian hari suku-suku Yahudi tersebut diperangi, karena mereka melepas loyalitas sebagai warga negara dengan cara berkhianat dan bersekongkol untuk menghancurkan negara Medinah. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, kaum Khawarij hilang hak-hak politik mereka sebagai warga negara setelah mereka melepas loyalitas mereka terhadap khalifah dengan cara memberontak.

    Terakhir, kita harus bersabar menghadapi nyinyiran pihak-pihak yang salah menempatkan kata ‘kafir” utamanya kaum radikal. Bagi mereka jangankan non-Muslim, Muslim pun mereka kafirkan. Harap maklum. (abi sorban)

  • Sekeluarga pembom bunuh diri di gereja menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah

    Sekeluarga pembom bunuh diri di gereja menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah

    InfokomBanserNU-

    Selain Kokam MU dukung bendera HTI, Dahnil , Amien Rais, Hanum Rais yg dekat dengan hoax& simbol2 radikalis.

    Menteri Agama Malaysia: Tak ada Tempat bagi Salafi Wahabi di Kuala Lumpur

    agama dalam pemahaman Wahabi Salafi memang isinya harus berdasar kebencian, sehingga tak heran mereka rata2 bengis sampai mudah membunuh, hal ini tertuang dalam ajaran mereka Al Wala Wal Bara yg berdasarkan cocoklogi terjemah ayat dan hadits bukan dari ilmu yg bersanad bersambung sampai Nabi SAW . Dapat dicari di youtube pun banyak pengajaran Al Wala Wal Bara di mesjid2 wahabi dan muhammadiyah.

    Ajaran cocoklogi selain menjadi dasar wahabi, ikhwanul muslimin (PKS), khilafah HTI, khilafah ISIS, dll juga menjadi sekte2 lain seperti ini, konsep utamanya seorang awampun bisa berdalil hanya menggunakan terjemahan Al Quran dan hadits, padahal mereka tak miliki ilmu agama yg bersanad, tak heran ikhwanul muslimin bahkan ditangkapi atau dicabut kewarganegaraan dan passportnya di negri2 muslim termasuk arab karena berdasar ajaran cocoklogi ini, dibelakangnya terkandung takfiri mudah mengkafirkan muslim lainnya apalagi menghalalkan darah yg bukan seagama.

     Ajarannya berdasarkan kebencian dalam konsep al wala wal bara (bara dlm istilah wahabi berarti kebencian atau permusuhan seb inti iman, tak punya kebencian bisa dianggap kurang/tidak beriman). 

    Sikap melihat orang lain cendrung selalu seb musuh bisa dikarenakan aqidah wahabi ISIS ini, sambil membanggakan sendiri

    link RadikalismeIkhwanulmuslimin PKS

    Contoh pemikiran Wahabi dan Muhammadiyyah ttg dzikir HU :

    menurut Gus Baha

    Gusbaha

    kyaikampung

    Penyebab orang2 pintar di perusahaan2 tsb cendrung terkena radikalisme agama? Karena kesombongan intelektual ingin menguasai /berkuasa dlm agama sebagaimana mereka menguasai ilmu2 eksakta teknis, sombong tak ingin mengikuti otoritas, madzhab atau ikut ulama2 yg ilmunya bersanad bersambung sd Nabi. Seperti seorang pasien awam yg jenius dg baca buku2 kedokteran dan menganggap remeh dokter2 yg tersertifikasi dan berizin.

    Melawan aqidah teror dan kebencian Tritauhid dan Al wala wal bara, adalah ilmu aqidah bersanad dan bermadzhab, bersambung tak terputus sampai Nabi Muhammad SAW yg jg dipraktekan oleh 4 madzhab fiqih yaitu aqidah madzhab Asyariyyah maturidiyyah. aqidah ini dianut mayoritas muslimin nusantara di Indonesia, Msia, Brunai, Spore, Thailand dll jg sama2 bermadzhab fiqih syafiiyah. Bagi yg merasa awam dapat taqlid ikut ulama2 yg terbukti bersanad, sebagaimana dokter bedah pun taqlid sama dokter anestesi/ahli pembiusan.

    Dalam konsep wahabi salafi ISIS dkk seolah2 seorang awam wajib tahu semua ilmu kedokteran baik bedah maupun anestesi. Tidak boleh ada taqlid, dicemoohnya dg ikut2an atau taqlid buta. Cara berpikir ini pun menjadi pintu orang2 yg merasa pintar ke arah radikalisme mengatasnamakan agama.

    The books and teaching of Aqidah three tauhid and  alwala wal bara are overwhelming uncontrolled when  Muhammadiyah leader become ministry of education: 

    The teaching of Al Wala Wal Bara which based on hatred in Center /PP Muhammadiyyah   Menerapkan Al-Wala’ Wal-Bara’

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=3CCncf5sOEc[/embedyt]

     

    Al-Wala Wal Bara’ | Ust. Bachtiar Nasir, Lc

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=5FeODn7jtF0[/embedyt]

     

    Ust Ihsan Tanjung Al Wala’ Wal Bara’ DiDalam Kalimat Tauhid Kajian Dzuhur 28072016

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=T-3fGri1p4I[/embedyt]

     

    AL-WALA WA AL-BARA | Ust. Zulkifli Muhammad Ali, Lc 

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=TZTHxAiWAfQ[/embedyt]

     

    Malaysia reject University of Muhammadiyah in their country because of Muhammadiya’s Wahaby backbround 
    Source Malaysia reject University of Muhammadiya
    Indonesia and Malaysia in general have same madzhab of beliefs of Al-Asyairah and Al-Maturidiyah, and madzhab of Syafii in Fiqh. This has strong sanad of belief and religion background in Islam Nusantara including majority moslem in Malaysia, Singapore, Thailand, Brunai, Indonesia, etc. (AbiTsani)

  • INTRUKSI SEMUA WARGA NU KUASAI INDEX MEDSOS

    INTRUKSI SEMUA WARGA NU KUASAI INDEX MEDSOS

    Viralkan

    Perintah Langsung dari KETUA
    UMUM PBNU Prof.Dr.KH Said Aqil Siradj MA.

    Generasi Muda NU mari
    bersama-sama Kita Rapatkan
    Barisan Merebut Medan Tempur Medsos.
    kalau kita tidak kuasai Medan Tempur Medsos, ” KITA KALAH”

    Sudah Saatnya NU
    Berdiri Tegak Melawan Badai..

    Sudah Saatnya NU
    Jadi Barometer Perpolitikan Nasional…

    Sudah Saatnya NU
    Bergerak Selaras Seperti alam..

    Sudah Saatnya NU
    Beranjak Dari Pertapakannya…

    →Diam Tak Selamanya Emas!

    Kalau Bukan Kita Siapa Lagi…
    Kalau Tidak Sekarang Kapan Lagi..

    Wong NU Tunjukanlah Warna Hijaumu,
    Rawe Rawe Rantas, Malang Malang Tuntas…!!!


    Banyak yang tidak paham apa itu Cyber War, sehingga ketika kita berusaha melawan upaya serangan dari kelompok Radikal yang ingin mengganti Ideologi Pancasila, dan memecah belah bangsa dengan penggiringan opini betapa buruknya kebijakan pemerintah kita, dan berusaha melawan mereka yang berusaha menggembosi NU dengan segala macam fitnahnya dan pembusukan dari dalam melalui orang yang merasa paling NU se Nusantara.

    Kita acapkali mendapat
    Nyinyiran dan sindiran dari
    kelompok yang sok bijak dengan mengatakan,
    Mana akhlaq NUmu, mana Akhlaq Aswajamu.

    Perlu kalian ketahui,
    kami tidak usah diajari bagaimana tentang Akhlaq yang baik, dan bagaimana Akhlaq yang buruk.

    Karena kami tidak sedang berkomunikasi dengan seorang Guru, Ulama dan Ustadz,

    Tapi kami sedang berhadapandengan segerombolan preman bayaranyang sengaja dibentuk untuk menyerang via Media sosial yang mempunyai visi & misi merusak dan menghancurkan Negara ini.

    SORBANSANTRI.COM

    SEBARKAN…

    Sampaikan kepadaWarga Nahdliyyin yang lainnya.

    Sumber :Abi Bilqis

    #InfokomMojokerto

  • BADAN AMAL YANG TERINDIKASI UNTUK DANA TERORIS

    BADAN AMAL YANG TERINDIKASI UNTUK DANA TERORIS

    wp.sorbansantri.com – Dalam video tersebut telah dijelaskan secara detail tentang badan amal yang terindikasi untuk radikal. Tujuannya agar rakyat Indonesia tahu kira-kira kemana mereka akan sedekahkan harta mereka, banyak ditemukan di markas para pemberontak di distrik al-Kalasa, Aleppo timur kelompok extrimis islam.

    [su_youtube url=”https://youtu.be/zFosWZ9AlsE”]

    Dibulan Desember 2016 bantuan tidak sampai ke warga, melainkan ditumpuk di gudang milik pemberontak di Aleppo. Dalam salah satu kotak logistik terlihat jelas tulisan “Indonesian Humanitarian Relief Terkait hal tersebut, Matori dari IHR yang dihubungi Beritasatu.com, Senin (26/12), mengakui pihaknya memang mengirim bantuan berupa bahan kebutuhan pokok buat warga Aleppo. “Kami tidak tahu kalau bantuan itu jatuh ke pemberontak,” katanya.

     

    Hal tersebut menjadi tanda tanya besar sebagaian warga,khususnya Indonesia ” masa tidak tau dana tersebut digunakan kesiapa dan untuk apa sih?” Salah satu tokoh yang pro terhadap kelompok radikal di Suriah adalah ustaz Bachtiar Nasir. Ustaz Bachtiar Nasir adalah sosok yang bertanggung jawab dalam aksi 4 November 2016 dengan membawa nama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-MUI. Kini lulusan Universitas Islam Madinah ini menjadi dewan pembina GNPF-Ulama.

    berikut badan amal dan bantuan yang berasal dari indonesia dalam Video tersebut.

    1. Aksi Cepat Tanggap (ACT)
    2. Indonesia Humanitarian Relief (IHR)
    3. Sinergi Foundation (SF)
    4. Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS)
    5. Sahabat Al Aqsha (SA)
    6. Rumah Zakat (RZ)
    7. IHH (Insani Yardim Vakfi)
    8. Yufid TV/Radio Rodja
    9. Peduli Muslim
    10. Misi Medis Suriah (MMS)
    11. Dana Peduli Umat Daarut Tauhid
    12. ………….

    -=== Sumber Tanggapan Berita ====
    https://youtu.be/ALy8gt22BUY
    https://youtu.be/pXc_NJAnOOM
    https://bit.ly/2QHC71G
    https://bit.ly/2NjVR9M
    https://bit.ly/35JyT1S
    https://bit.ly/3874QTN
    https://bit.ly/35OZ6wo
    https://bit.ly/36IzrGF

  • MUNARMAN AMIEN RAIS KAMI BAKALAN DICIDUK POLISI JIKA NEKAD DEMO 1812!

    MUNARMAN AMIEN RAIS KAMI BAKALAN DICIDUK POLISI JIKA NEKAD DEMO 1812!

    wp.sorbansantri.com – Benar! Amien Rais dan Munarman mendukung demo 1812. Habis rapat di Pulau Dua. Munarman dan para pentolan 212 tentu akan diciduk. Ketegasan menegakkan hukum berlaku sekarang. Now or Never. Itu komitmen Polda Metro Jaya dan Pangdam Jaya. Presiden Jokowi pun 100 persen mendukung.

    FPI dan ormas radikal lain sengaja melanggar larangan berkumpul di masa Pandemi Covid-19. PSBB. Kasihan para pengikut demo bisa terpapar Covid 19. Lalu menularkan ke keluarga di rumah. Ibu Bapak Kakek Nenek yang rentan tertular dari kerumuman.

    Munarman adalah otak semua aktivitas bisnis FPI. Bisnis mengatasnamakan agama. Untuk kemewahan seperti yang ditunjukkan Muhammad Rizieq Shihab (MRS). Munarman tinggal menunggu waktu akan ditangkap. Munarman pula yang membuat berita bohong terkait tewasnya 6 laskar FPI yang menyerang polisi.

    Demo 1812 ini bertujuan menciptakan chaos. Kerusuhan. Untuk upaya makar. Buktinya aparat menangkap perusuh FPI di Cicalengka yang membawa senjata. Untuk kerusuhan di Jakarta. Juga di Dhamawangsa ditangkap pendukung FPI membawa pisau untuk kerusuhan demo 1812.

    Tujuan demo dan FPI adalah melawan hukum. Membangkang. MRS dan tewasnya penyerang polisi hanyalah dalih untuk menciptakan kekacauan. Lalu menuntut Jokowi turun. Persis seperti rangkaian demo 411 dan 212.

    Tidak ada unsur bela agama. Agama hanya dijadikan kedok oleh ormas 37 orang anggota FPI terlibat terorisme. Membom. Membunuh. Menyembunyikan teroris Noordin M Top. Merampok toko emas untuk kepentingan terorisme.

    Kapolda Metro Jaya pun tidak mengeluarkan izin. Namun karena Munarman dan Amien Rais menginginkan ricuh, kerusuhan, dan chaos, maka mereka mendukung demo. Mereka menciptakan kerusuhan. Trigger alias alat pemicu yang dipakai adalah tewasnya penyerang polisi di Jalan Tol.

    Karena selama 10 tahun dimanjakan SBY, ditambah kekuatan dana Cikeas, Cendana, dan Chaplin, FPI sampai saat ini masih membangkang. Meskipun bohir sudah mulai mundur. Marwan Batubara dari KAMI pun ciut. Secara organisasi tidak ikut. Karena takut diciduk seperti pentolan KAMI yang lain. Pengecut.

    Namun, para pengikut ormas yang banyak terlibat aksi teroris FPI di bawah masih tidak paham. Elite mengelabuhi publik. Atas nama agama. Bahkan beli seragam pun nyicil. Lantas duit bernilai ratusan miliar dari para bohir koruptor Orba ke mana? Kantong elite.

    Maka dalam demo 1812 kali ini, yang akan muncul adalah skenario 411. Demo 1812 dijadikan alat testing the water. Tujuannya untuk meyakinkan bohir, pendana demo, bahwa untuk biaya selanjutnya ditentukan pada hari ini. Jika berhasil mendatangkan massa dan berbuat onar, chaos, maka akan ada kelanjutan pembiayaan.

    Publik awam tidak pernah tahu aksi demo bayaran 1812 ini. Padahal besar nilainya. Namun semua mengalir ke para pentolan 212, FPI, FUI dan sebagainya. Bukan untuk para pendemo. Pendemo cukup nasi bungkus. Nasbung. Plus jargon janji masuk surga bertemu 72 bidadari.

    Publik harus paham. Jangan biarkan anak-anak tewas seperti 21-22 Mei 2019. Jangan biarkan anak bangsa mati konyol karena Covid. Atau menulari orang tua, keluarga di rumah karena terpapar Covid-19. Kasihan memang orang yang tak paham. Maka menjadi sahih kalau Munarman dan pentolan KAMI selanjutnya akan ditangkap, karena terbukti berniat membuat chaos di Jakarta. Bahkan membawa senjata. Melanggar aturan PSBB. (Penulis: Ninoy Karundeng).(predator 1alfa xiii-11c5w)