Tag: santri

  • JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)

    JANGAN PERNAH TINGGALKAN MENGKAJI (MUTHOLA’AH)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rais Am Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyiah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengingatkan, jangan pernah tinggal muthalaah (mengkaji). Selain itu, seorang santri meskipun telah menjadi ulama terkenal tetaplah bersikap sebagaimana santri di depan guru-gurunya.
    Berikut tiga pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:
    1. Gemarlah Mengkaji Kitab (Muthalaah)
    “Ya, saya ingatkan agar kita jangan bosan muthalaah dan jangan bosan mengulang-ngulangnya walaupun kitabnya cuma sekali. Karena kalau rajin muthalaah dengan berkah mu’allif, insya Allah difutuh (dibuka) oleh Allah SWT,” tuturnya.
    “Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca shalawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syaikh Abi Zakariya al-Anshari tiap malam baca shalawat sebanyak 30 ribu, sampai saat disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar,” tuturnya.
    2. Meraih Khidmah Ulama
    Yang ke-2, jangan tinggal khidmah untuk guru walaupun cuma sedikit, itu yang menjadikan karena terbukanya mafahim yang luar biasa.
    Yang terakhir, jangan tinggal kirim hadiah fatihah untuk guru, saya paling tidak suka jikalau ada santri sampai melupakan gurunya, karena kunci futuh itu ada di tangan guru, walaupun si santri lebih alim dari gurunya.
    “Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, matun (menyiangi padi), derep (memanen). Seluruh itu saya kerjakan atas perintah guru,” tutur Habib Luthfi.
    3. Santri di Depan Guru, Kirim Alfatihah
    “Selama di pondok, saya tidak pernah memosisikan diriku selaku seorang Sayyid (Habib). Saya senantiasa memosisikan diriku cuma selaku seorang santri. Walau pun sesungguhnya guruku (Kiyi Muhammad Kaukab bin Muslim bin Sholeh) tahu nasabku.”
    “Pendiri Pondok Pesantren Bendakerep ialah Kiai Sholeh, itu murid buyutku (Habib Umar bin Thoha bin Yahya Indramayu). Beliau shalat berjamaah subuh dengan wudhu shalat isya selaku makmum di belakang Habib Umar selama 25 tahun.
    “Jikalau mau mencari orang-orang yang alimnya melebihi Kiai Sholeh, banyak kita temui, tapi jikalau mau mencari orang yang pangkat kewalianya tinggi seperti beliau, jarang kita temui.” (NU Bali)
    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.
  • KH. MUHAIMIN (MOJOKERTO) : SANTRI MBAH HASYIM ASY’ARI

    KH. MUHAIMIN (MOJOKERTO) : SANTRI MBAH HASYIM ASY’ARI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sosok Kyai memang menjadi panutan bagi jama’ah dan para santrinya. Karena beliau2lah pewaris para nabi. Salah ulama dan pejuang di Kota Mojokerto. KH. Muhaimin juga patut untuk dicontoh. Seorang ulama yg lahir di dusun kedung Kopek desa Surodinawan Kota Mojokerto, 13 April 1913 dari pasangan KH. Moh. Noer dan Hj. Shoimah. Di bawah bimbingan orang tua dan kakeknya, KH usman, beliau dibesarkan di lingkungan yg agamis di desa Surodinawan Kota Mojokerto. Mulai dari sini, beliau mendapatkan pendidikan agama yg sangat kental di tengah2 zaman penjajahan. KH. Muhaimin adalah salah satu sosok ulama dan pejuang kemerdekaan yg konsen dalam bidang sosial dan pendidikan, khususnya pendidikan agama.

    Pendidikannya dimulai tahun 1919 sampai 1925, beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Assholikhiyyah Kranggan Mojokerto yg diasuh oleh KH. Ilyas. Tahun 1925, beliau menuntut ilmu kembali di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah bimbingan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Baidlowi dan Kyai Mahfudz. Bersama kawannya, KH. Achyat Chalimi, KH. Yahdi Matlab dan KH Shodiq mengaji dan sekolah di Jombang Jawa Timur.

    Atas izin Allah SWT, beliau bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 1933. Sperti yg kita ketahui, perjalnan haji tidak semudah sekarang ini. Dahulu, perjalanan haji dapat memakan waktu yg cukup lama sehingga memerlukan periapan yg banyak. Dalam perjalanan panjang nya, beliau mengisinya dengan mendalami ilmu2 agama di atas kapal bersama kawan2nya. Sepulang dari tanah suci pada tahun 1939, beliau dinikahkan dgn putri Kyai Romli Trowulan Mojokerto. Namun karena belum siap untuk dijadikan mantu oleh kyai, KH. Muhaimin melarikan diri ke untuk mondok lagi di mojosari Nganjuk. Atas nasihat dari KH. Zainuddin, akhirnya beliau memutuskan untuk menikah dgn putri kyai. tiga tahun setelah menikah, beliau masih mondok di Nganjuk. Tahun 1936, beliau kembali ke Trowulan Mojokerto membantu di Pondok Pesantren bersama kakak iparnya, KH. Dimyati Romli, KH. Anwar Panji Buduran Sidoarjo, dan KH. Munasir.

    Tahun 1939, beliau pindah ke kedung mulang Kota Mojokerto dgn harapan bisa mengamalkan ilmu yg telah diperoleh kepada masyarakat sekitar. Selain rumah, beliau juga mendirikan surau (Sekarang menjadi komplek pendidikan Islam). Tahun berikutnya, dibantu oleh sang istri, beliau mengajarkan ilmu2 agama, baca tulis, bahasa Arab, dan keterampilan menyulam kerudung. Karena kegigihannya dalam pendidikan Islam, para penjajah Jepang sempat mengawasi secara ketat seluruh kegiatan keagamaannya. Untuk menyiasatinya, kegiatan keagamaan tetap berjalan di siang hari dan menjadi markaz komando untuk memba1has rencana strategi melawan penjajahan.

    Ketika gejolak G30S PKI tahun 1965, kegiatan pesantren pun terganggu. Banyak santri yang diganggu oleh orang2 PKI. Namun, ketika kondisi berubah ketika PKI dibubarkan oleh pemerintah pusat, kegiatan para santri lancar dan kondusif. Tahun 1986, yayasan sosial dan pendidikan yg didirikan berhasil mendapatkan pengakuan hukum dari negara melalui notaris., di antaranya adalah TK/MI, MTsN dan Pondok Pesantren Nurul Huda.

    Dibantu oleh ketujuh anaknya, yayasan ini berkembang pesat dalam bidang pendidikan dan sosial. Namun, pada hari Jum’at, 7 Juli 2000, beliau tertimpa musibah kebakaran hebat meluluhlantakkan bangunan rumah dan pesantren putri. Musibah ini tidak hanya menghanguskan bangunan saja, akan tepapi menghilangkan saksi sejara perjuangan kemerdekaan Indonesia dimana rumah tsb menyimpan berbagai peninggalan seperti seragam hisbullah, senjata2 rampasan tak terkecuali yg lebih menyedihkan adalah seluruh kitab2 beliau juga hangus dilalap si jago merah. Kejadian ini cukup mengagetkan, pasalnya seluruh keluarga beserta para santri sedang bersiarah ke walisongo dan menyisakan seorang anggota keluarga di rumah tsb dan beruntung beliau selamat. Namun, beliau tetap sabar dan tabah atas musibah ini.

    Di tahun itu pula, beliau pulang ke rahmatullah bertepatan pada hari senin, 7 agustus 2000 pukul 11.30 dalam usia 87 tahun dalam kecelakaan lalu lintas. Kemudian, beliau dimakamkan di makam Islam berdekatan dgn kakeknya KH. Usman surodinawan Kota Mojokerto. Tak berselang beberapa bulan, Ibu Nyai Hj. Siti Rohmah menyusul pulang ke pangkuan Ilahi pada Kamis, 1 Maret 2001 di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto karena sakit. Dan beliau dimakamkan di Makam Islam Surodinawan Kota Mojokerto berdekatan dgn suaminya, KH. Muhaimin. Untuk mengenang jasa2 beliau, setiap kamis sore, salah satu keluarga ndalem mengajak seluruh santri untuk berziarah ke makam. Harapannya, perjuangannya dapat senantiasa diteruskan oleh seluruh santri dimanapun nantinya.

    Segala apa yg diperjuangkan oleh KH. Muhaimin dan keluarga, sekarang sudah membuahkan hasil yg baik. Di antaranya adalah Yayasan sosial dan pendidikan yg semakin membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, baik itu dari Pondok Pesantren Al-Qur’ans Nurul Huda maupun sekolah-sekolah Islamnya. Salah satu putranya yakni KH. Faqih Usman, Lc memiliki peranan sangat penting dalam memajukan warisan perjuangannya.

    Semoga perjuangannya dalam Islam dan Republik Indonesia dinilai Allah SWT sebagai amal baik dan bisa memberikan manfaat untuk banyak orang. (Abi SORBAN)

    Disarikan dari file keluarga ndalem.
    http://nasrullohmaliki.blogspot.com
    Reshared by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

    أطال الله بقاءهم في صحة وعافية وسلامة وأعاد علينا من بركاتهم وأسرارهم وعلومهم في الدارين آمين يا رب العالمين بجاه سيد المرسلين محمد صلى الله عليه وآله وسلم
    Lahumul faatihah..

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. أمين

  • SOSIALISASI DAN ISOLASI 7 HARI BAGI SANTRI KEMBALI KE PONDOK PLOSO MOJO KEDIRI

    SOSIALISASI DAN ISOLASI 7 HARI BAGI SANTRI KEMBALI KE PONDOK PLOSO MOJO KEDIRI

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Kata Imam Syafi’i, kalau tidak belajar ya mengajar. begitu pentingnya menuntut ilmu khususnya bagi santri-santri baik yang akan balik kepondok atau yang akan pergi belajar ke pesantren. Dalam masa pandemi covid-19 ini berdampak juga pada lingkungan pesantren, kali ini kegiatan sosialisasi dan isolasi mandiri selama  7 hari diadakan di Pondok Pesantren Al-Falah Kec. Pacet Mojokerto, yang menampung 50 santri yang akan kembali ke pondok ploso mojo kediri.

    Kegiatan ini melibatkan kerjasama antara pondok pesantren Al Falah, PCNU Mojokerto, santri, wali santri, serta mendatangkan penyuluhan perihal standart kesehatan oleh dinas kesehatan dari upt puskesmas pacet untuk menyampaian standart kesehatan santri kembali kepondok.

    Peranan Pondok Al-Falah Pacet serta banser satkoryon pacet akan sangat dibutuhkan dalam kegiatan tersebut terutama Banser Husada (BASADA), karena harus aktif menjaga santri selama dalam masa isolasi yaitu bergiliran melakukan pengamanan selama 7 hari.
    Acara tersebut dilaksanakan dari pukul 09.00 wib Selasa, 14 Juli 2020 di PP. Al-Falah Pacet, mulai dari pemeriksaan santri dan tamu yang hadir yang dilaksanakan Banser Husada (BASADA) dan LPBI NU. (abi sorban)

  • KENAPA SANTRI SELALU CIUM TANGAN GURU?

    KENAPA SANTRI SELALU CIUM TANGAN GURU?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Seorang pemuda bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz:

    Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak balik?

    Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?

    Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama makhluk?

    Tidakkah hanya Allah saja yang layak disembah?

    Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik. Habib Umar hanya tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari seorang pemuda tersebut.

    Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya.

    Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.

    Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya kebawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata: “Jangan menunduk!, tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

    “Tidak, aku hanya ingin mengambil pena ku di bawah.”

    Lantas Habib Umar berkata: “Aku ini ibaratkan pena, seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena, Begitu juga dengan murid-muridku mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku, Aku tidak pernah memaksa, aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda; Seorang thalabul ilim tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

    Inframe : Kiai Kafabihi Mahrus mencium tangan Kiai Dimyati Rois
    Credit : Ulama Nusantara

  • DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

    DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI

    Santri : “Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!”
    Gus Dur : “Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang.”
    Santri : “Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?”
    Gus Dur : “Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya.”
    Santri : “Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?”
    Gus Dur : “Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi.”
    Santri : “Anti-aging gitu, Gus?”
    Gus Dur : “Iya. Pokoknya kekal.”
    Santri : “Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya.”
    Gus Dur : “Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam.”
    Santri : “Maksudnya senior apa, Gus?”
    Gusdur : “Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa.”
    Santri : “Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?”
    Gus Dur : “Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam.”
    Santri : “Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini.”
    Gus Dur : “Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi.”
    Santri : “Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?”
    Gus Dur : “Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
    Santri : “Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?”
    Gus Dur : “Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi.”
    Santri : “Aneh.”
    Gus Dur : “Kok aneh? Apanya yang aneh?”
    Santri : “Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan.”
    Gus Dur : “Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat.”
    Santri : “Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?”
    Gus Dur : “Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak.”
    Santri : “Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?”
    Gus Dur : “Dua-duanya.”
    Santri : “Kok dua-duanya?”
    Gus Dur : “Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan.”
    Santri : “Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus.”
    Gus Dur : “Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat.”
    Santri : “Ooh…”
    Gus Dur : “Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong.”
    Santri : “Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?”
    Gus Dur : “Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu.”
    Santri : “Masa sih, Gus?”
    Gus Dur : “Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok.”
    Santri : “Terus, kesalahan terbesar dia apa?”
    Gus Dur : “Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran.”
    Santri : “Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh.”
    Gus Dur : “Siapa? Ente?”
    Santri : “Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid’ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh.”
    Gus Dur : “Wah, persis Iblis tuh.”
    Santri : “Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya.”
    Gus Dur : “Siap mati, tapi tidak siap hidup.”
    Santri : “Bedanya apa, Gus?”
    Gus Dur : “Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama.”
    Santri : “Lho, kok begitu?”
    Gus Dur : “Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga.”
    Santri : “Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?”
    Gus Dur : “Pinter kamu, Kang!”
    Santri : “Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur.”

    Sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI)

  • Menghormati Ulama Apa Syirik?

    Menghormati Ulama Apa Syirik?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Lagi-lagi untuk yang kesekian kali mereka menghukumi Muslim yang tidak berbuat syirik dituduh syirik.

    Mari kita pelajari hadisnya lebih dalam bersama dengan analisanya, tentu analisa dari ahli hadis dan ulama Fikih:

    ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ اﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻨَّﺎ ﻳَﻠْﻘَﻰ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺃَﻭْ ﺻَﺪِﻳﻘَﻪُ ﺃﻳﻨﺤﻨﻲ ﻟَﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﻻَ»، ﻗَﺎﻝَ: ﺃَﻓَﻴَﻠْﺘَﺰِﻣُﻪُ ﻭَﻳُﻘَﺒِّﻠُﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﻻَ»، ﻗَﺎﻝَ: ﺃَﻓَﻴَﺄْﺧُﺬُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﻳُﺼَﺎﻓِﺤُﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﻧَﻌَﻢْ»

    Dari Anas bin Malik bahwa ada seseorang yang berkata: “Wahai Rasulullah, jika diantara kami bertemu dengan saudaranya atau kawannya apakah membungkuk?” Nabi menjawab: “Jangan!”. Ia bertanya: “Apakah berdiri dan mencium?” Nabi menjawab: “Jangan!”. Ia bertanya apakah bersalaman?” Nabi menjawab: “Ya” (HR Tirmidzi).

    Dari hadis ini ulama Syafi’iyah tidak ada yang menghukumi syirik. Maksimal makruh dan ada sisi dibolehkan:

    (ﻗَﻮْﻟُﻪُ: ﻭﺣﻨﻲ اﻟﻈَّﻬْﺮِ ﻣَﻜْﺮُﻭﻩٌ) ﻗَﺎﻝَ اﻟﺸَّﻴْﺦُ ﻋِﺰُّ اﻟﺪِّﻳﻦِ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﺴَّﻼَﻡِ ﺗَﻨْﻜِﻴﺲُ اﻟﺮُّءُﻭﺱِ ﺇﻥْ اﻧْﺘَﻬَﻰ ﺇﻟَﻰ ﺣَﺪِّ اﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﻓَﻼَ ﻳُﻔْﻌَﻞُ ﻛَﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻋَﻦْ ﺣَﺪِّ اﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﻟِﻤَﻦْ ﻳُﻜْﺮِﻡُ ﻣِﻦْ اﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

    Membungkukkan punggung adalah makruh. Syekh Izzuddin bin Abdussalam berkata: “Merendahkan kepala jika sampai batas ruku’ (lurus kepala, leher, pundak dan bokong) maka tidak boleh dilakukan, seperti sujud. Jika membungkuk tidak sampai batas ruku’ (seperti gambar santri di bawah) maka tidak apa-apa bagi orang yang memuliakan kalangan Muslimin” (Syekh Syaubari, Hamisy Asna Al-Mathalib, 4/186)

    •] Gambar di bawah yang diklaim Syirik adalah para sahabat kami Santri Lirboyo yang sedang menyambut KH Anwar Mansur untuk dijadikan pegangan karena usia beliau sudah sepuh (semoga Allah memberikan kesehatan dan panjang umur untuk beliau). Sebenarnya semua pesantren melakukan hal itu semua. Lihatlah apakah mereka sampai ruku’? Sekali lagi amati dengan jelas!!! Tidak sampai ruku’ karena posisi kepala lebih tinggi dari pada punggung. Anehnya pada gambar orang Saudi yang sama-sama membungkuk kepada raja-raja dan ulama mereka, kok tidak dihukumi Syirik?!(KH. Ma’ruf khozin)

  • ANDA DIBUBARKAN? UMAT YANG MINTA!

    ANDA DIBUBARKAN? UMAT YANG MINTA!

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online-

    1. Siapa yang berjuang menumpas penjajah Jepang?
      Jawabannya: NU, melalui barisan Hizbullah dan lainnya.

    2. Siapa yang membumikan nama Indonesia dan mengusulkan Ir. Soekarno sebagai pemimpin?
    Jawabannya: NU, melalui muktamar Banjarmasi sebelum kemerdekaan.

    3. Siapa yang berijtihad bahwa Indonesia adalah negara Darussalam yang harus diperjuangkan?
    Jawabannya: NU, melalui Bahtsul Masail dipenghujung tahun 1930-an.

    4. Siapa yang mengeluarkan resolusi Jihad?
    Jawabannya: NU, melalui fatwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober. Memicu kejadian bersejarah tanggal 10 November.

    5. Siapa yang menengahi perseteruan Nasionalis dan Islamis saat membuat dasar negara?
    Jawabannya: NU, melalui sosok KH. Wahid Hasyim yang saat itu mengambil lima intisari Piagam Madinah.

    6. Siapa yang meminta negara tetap mengayomi umat Islam pasca penghapusan tujuh kata dalam sila pertama Pancasila?
    Jawabannya: NU, tatkala KH. Wahid Hasyim meminta dibentuk Departemen Agama.

    7. Siapa yang dulu menetralisir kebijakan berbau komunisnya Bung Karno?
    Jawabannya: NU, saat Kyai Wahab secara gesit masuk dalam barisan Nasakom untuk menghadang PKI mempengaruhi Soekarno.

    8. Siapa yang menjaga keutuhan negara dan ikut bertempur saat Komunis melajalela?
    Jawabannya: NU, melalui santri pondok dan barisan Pagar Nusa. Sebab waktu itu sasarannya adalah Kyai pondok.

    9. Siapa yang berijtihad saat asas tunggal diberlakukan negara?
    Jawabannya: NU, dimasa Kyai Ahmad Siddiq secara gesit menerima asas tunggal Pancasila dengan dalil-dalil sharih.

    10. Siapa yang meminta pemerintah mengayomi seluruh ormas Islam di Indonesia?
    Jawabannya: NU, melalui sosok KH. Ibrahim Hosen (ayahnya Gus Nadirsyah Hosen yang dituduh syiah, liberal, anti-Islam, wa akhawatuha itu) melalui usulan dibentuknya MUI. Beliau juga yang meletakkan dasar-dasar ijtihad ijtima’i ala NU dalam tubuh MUI.

    Sekelompok orang yang organisasinya dibubarkan berteriak lantang, “negara jangan semena-mena membubarkan kami, ingat, umat Islamlah yang memperjuangkan negara ini dari masa ke masa!!”

    Jangan hanya like, kopi langsung kirim ke yang lain… Biar ngerti tentang perjuangan
    (syarif hidayatulloh)

  • Menyingkap Sejarah Kekejaman PKI Versi NU [Part 5]

    Menyingkap Sejarah Kekejaman PKI Versi NU [Part 5]

    SORBANSANTRI.COM
    (Sumber gambar: Tribunnews.com)
    PKI BURU SANTRI DAN KYAI (KEJADIAN TAHUN 1948/SEBELUM PEMILU 1955)
    Kabar mengenai tewasnya Kyai Hamid Dimyathi Pimpinan Ponpes Tremas ditangan PKI yang disampaikan Shoimun (Baca: Part 4) membuat gempar. Sholat ghaib dan tahlil pun dilakukan di mana-mana, sehingga hal itu menyatukan semangat umat Islam khususnya kaum santri untuk kembali membebaskan Madiun dan sekitarnya dari cengkeraman PKI.  Banyak kalangan terutama kalangan Pesantren di Jawa Timur dan kalangan Birokrat juga ikut terpukul kala itu. Kyai Dimyathi merupakan ketua DPC Partai Masyumi Pacitan saat itu dan merupakan Ulama cukup dikenal disana dan juga seorang Aktivis pergerakan Kemerdekaan yang juga menjadi anggota Parlemen dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Jasad Kyai Dimyathi ditemukan dalam sebuah sumur kuburan masal di daerah Tirtomoyo Wonogiri. Ditahun itu (sebelum Pemilu pertama 1955) NU belum membentuk Partai dan Partai Masyumi merupakan partai Islam yang didalamnya bergabung para cendekiawan Islam ditanah air termasuk dari NU dan Muhammadiyah.
    SORBANSANTRI.COM
    Biorama di museum lubang buaya, PKI yang menangkapi para kyai (merdeka.com)
    Masih tahun 1948, Para PKI terus memburu para Kiai ke daerah lain sampai ke Ngawi, Di Walikukun Ngawi terdapat seorang kiai sepuh yang biasa dipanggil Mbah Ngompak. Ketika Kiai sepuh ini sedang melakukan sholat tahajud di tengah malam di mesjid di Pesantren Tanjung Sari yang diasuhnya tiba-tiba ia disergap gerombolan PKI. Mbah Ngompak diseret keluar masjid dengan tangan terikat lalu diseret dengan kuda melalui jalanan sepanjang 10 KM tetapi ajaibnya Kiai sepuh itu masih bertahan hidup. Kemudian diseret lagi hingga sampai disebuah sungai yang curam, badan Mhah Ngompak yang sudah babak belur itu dilempar ke sungai hingga menemui ajalnya di sungai tersebut.
    Pembantaian lain dilakukan gerombolan PKI pada jemaah Kiai Zaenal Abidin, saat itu Kyai Zaenal Abidin yang tengah Riyadoh bersama 25 orang santrinya di masjid ditangkap oleh PKI yang datang bersenjata senapan, klewang, pedang hingga clurit. Sudah lama gerombolan PKI mengincar kiai beserta santrinya itu, tetapi ketika sudah lama ditunggi tidak mau keluar dari masjid, maka mereka diseret keluar secara paksa. Kemudian mereka disekap kedalam rumah penduduk yang sudah kosong lalu rumah itu dibakar, sehingga semuanya mati terbakar.
    BELANDA KEMBALI MASUK INDONESIA
    Tentu saja pemberontakan PKI ini sangat membahayakan terhadap keselematan Rupublik yang baru dibangun ini. Negeri hasil Proklamasi yang baru berusia 3 tahun kala itu harus menghadapi dua lawan sekaligus. Musuh dari dalam yaitu PKI dan dari luar Belanda beserta tentara Sekutu. Ternyata kedua kekuatan yang selama ini bermusuhan menyatu dalam menghadapi Republik Indonesia. PKI mendapat bantuan besar dari Belanda. Dalam penggerebekannya terhadap Markas PKI dan Pesindo, tentara Hizbullah menemukan berbagai amunisi dari Belanda dan ditemukan bendera Belanda di markas mereka.
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: republika.co.id

    Peberontakan PKI itu juga difasilitasi Belanda sebagai bentuk politik divide et impera(memecah belah) untuk melumpuhkan Indonesia dari dalam agar Belanda mudah untuk merebut kembali Republik Indonesia untuk dijajah. Pada hari Ahad 19/12/1948 ketika republik ini menghadapi pemberontakan PKI, situasi kacau ini dimanfaatkan Belanda untuk kembali melakukan Agresi Kedua menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menagkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Muhammad Hatta. Dengan didudukinya Yogyakarta, maka satu-persatu daerah stretegis di Jawa diduduki oleh Belanda. Tentara Indonesia di bawah Pimpinan Jenderal Sudirman dengan didukung pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang dipimpin KH Masykur dan KH Zainul Arifin dari NU terus melakuakan perang. Sebaliknya PKI Pesindo yang juga berambisi mengambil alih kekuasaan dengan jalan pintas, tertarik dengan agenda Belanda itu, karena itu mereka melakukan pemberontakan pada saat bangsa ini sedang melakukan revolusi nasional.

    SORBANSANTRI.COM
    KH.Masjkur (Lahir di Malang – JATI), Pemimpin Laskar Sabilillah Saat itu (kompas.com)
    SORBANSANTRI.COM
    KH. Zainul Arifin (Lahir di Tapanuli Tengah – SUMUT), Pemimpin Laskar Hisbullah saat itu (nu.or.id)

    PARA PIMPINAN PKI DIEKSEKUSI MATI, NAMUN AIDIT BERHASIL KABUR (KEJADIAN 1948)

    Setiap daerah yang dilalui oleh pasukan PKI di situ dilakukan pembantaian dan perampasan. Bila terjadi perlawanan maka terjadilah perang sasudara, yang memakan korban di kedua belah pihak, setelah itu PKI lari lagi mencari perlindungan di daerah tersembunyi menjauh dari kejaran Tentara. Walaupun keadaan sudah di kuasasi Tentara mulai dari pusatnya di Madiun sendiri maupun daerah sekitarnya yang menjadi benteng pertahanan PKI terjadi berbagai peristiwa bentrok antar PKI dan warga terus terjadi walaupun dalam skala kecil 
    Dengan kekuatan penuh Tentara dari Divisi Siliwangi dan ditopang oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah keadaaan bisa dipulihkan. Mengingat kekuatan PKI yang telah sedemikian kuat dan menyebar yang meliputi kawasan Jawa Timur dan Jawa tengah maka pasukan pemerintah harus bekerja keras dan cepat. Dengan kerja kerasnya itu maka, kesatuan Republik bisa dipertahankan persis pada 30 September 1948 Madiun dan semua daerah yangPemberontak menguasai keadaan sekitar 13 hari dengan memakan korban nyawa dan harta serta budaya yang tak terhidung jumlahnya. Para gembong PKI seperti Muso, Amir Syarifuddin, Maruto Darusman serta pimpinan lainnya diburu oleh tentara sebelum akhirnya ditembak mati diwaktu yang berbeda.
    Pada 19/12/1948 di tengah malam, atas perintah tentara para warga Desa Ngalian, sebelah timur kota Solo menggali lubang besar untuk makam Amir Sjarifoedin dkk yang tertangkap, Proses Eksekusi dilakukan secara terburu-buru mengingat Belanda akan melakukan agresi militer Kedua di Indonesia beberapa jam kemudian.
    Sambil menunggu Eksekusi, Amir sempat bertanya kepada seorang Tentara berpangkat letnan: 
    “apa yang akan terjadi?” tanya Amir. Amir bersama 10 anggota PKI yang tertangkap didakwa melakukan makar terhadap pemerintah.
    “Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?”tanya Amir.
    Namun Perwira itu bergeming dan menjawab. “Tidak usah banyak bicara,” sambil menyodorkan surat perintah eksekusi mati.
    “Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih,” tanya Amir lagi.
    Tanpa tedeng aling-aling, pasukan regu tembak mulai mengisi bedilnya dengan amunisi, sebelum ditembak mati, Amir masih sempat menyanyikan lagu Mars Komunis.
    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI yang di tembak mati pada 1948 (merdeka.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Ketika Amir Sjarifoedin Tertangkap dan Digiring oleh Tentara sebelum di tembak Mati pada 1948, Siapa Sangka Tokoh PKI Amir Syarifuddin pernah menempati posisi penting saat Indonesia baru merdeka. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, bahkan Perdama Menteri Republik Indonesia. (sumber: historia.id)

    Pasukan FDR PKI makin terdesak terus dalam pengejaran Tentara dan Laskar Hisbullah & Sabilillah. Ketika dalam Pengejaran pasukan Siliwangi beberapa tokoh seperti DN Aidit dan gembong PKI lainnya seperti Alimin, Tan Ling Djie, Njoto termasuk Soemarsono, selamat karena masuk ke wilayah pendudukan Belanda. Dan atas jasa Belanda yang selama ini menjadi sekutu FDR PKI, maka mereka dilarikan ke luar negeri untuk menyelamatkan diri, hingga pada 1965 selanjutnya merekalah yang melakukan pemberontakan PKI kembali. Bersambung,,

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 52-58). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

     

  •  Rangkuman Data Skenario Santri Kembali ke Pesantren : Memasuki Era “New Normal”

     Rangkuman Data Skenario Santri Kembali ke Pesantren : Memasuki Era “New Normal”

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Berikut Skenario yang sudah redaksi sorban santri rangkum, perihal santri kembali ke Pondok / Pesantren. Yang dimana data diambil dari Dinas Pendidikan Jatim tentang Santri Kembali ke Pesantren dan Press Release RMI PBNU (Pusat).
    Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan pdf Skenario Santri Kembali ke Pesantren. Sedianya, masa perpanjangan masa belajar dari rumah bagi santri sampai pada pertengahan Juni ini. Maka, tanggal 15 Juni 2020, pesantren sudah boleh menerima santri kembali.

    Rencana santri kembali ke pesantren ini digulirkan dengan mempertimbangkan hal berikut:

    1. Belum ada penurunan yang signifikan penyebaran covid-19 di Jawa Timur Semua Kabupaten/Kota di Jawa Timur sampai saat ini masuk Zona Merah.
    2. PSBB Surabaya Raya s/d 8 Juni 2020, PSBB Malang Raya s/d 30 Mei 2020
    3. Isolasi mandiri selama 14 hari bagi santri (santri dapat melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing ) sebelum kembali ke Pondok.
    4. Menghindari aktifitas olah raga yang melibatkan kontak fisik dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
    5. Pelaksaaan kegiatan ibadah dilaksanakan di tempat ibadah yang tersedia di pesantren dengan membawa perlengkapan ibadah sendiri.

    PROTOKOL KESEHATAN UNTUK USTADZ/USTADZAH/PENGELOLA SELAMA DI PESANTREN

    1. Selalu mengenakan masker
    2. Selalu menjaga jarak, tidak berkerumun dan tidak saling bersentuhan
    3. Membiasakan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun setelah memegang sesuatu
    4. Melaporkan kepada Pengasuh jika merasa sakit atau tidak enak badan
    5. Mengurangi aktivitas di luar kegiatan pembelajaran dan pembelajaran di luar pesantren
    6. Menghindari aktifitas olah raga yang melibatkan kontak fisik dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung
    7. Pelaksaaan kegiatan ibadah dilaksanakan di tempat ibadah yang ada di pesantren dengan membawa perlengkapan ibada sendiri
    8. Selama mengajar ustadz/ustadzah tetap menjaga jarak dari santri dan tidak mobile (tidak berkeliling kelas/mendekati santri)
    9. Tidak memberikan tugas yang bahan/kertasnya berasal dari ustadz/ustadzah, santri menggunakan bahan/kertas kerja milik sendiri.

    PROTOKOL KESEHATAN PULANG DARI PESANTREN MENUJU KE RUMAH

    1. Mengenakan Masker
    2. Jika menggunakan kendaraan umum/antar jemput roda 4, tetap menerapkan prinsip jaga jarak, dan tidak menggunakan kendaraan umum roda 2 (ojek)
    3. Jika menggunakan roda 2 milik pribadi atau keluarga dan berboncengan harus dalam satu keluarga (satu Kartu Keluarga)
    4. Sampai di rumah langsung ganti pakaian dan mandi dengan menggunakan air hangat/air mengalir dan sabun
    5. Tidak berkumpul atau melakukan kontak fisik dengan anggota keluarga sebelum mandi.

    Sekian skenario santri kembali ke pesantren, semoga bermanfaat.(abi sorban)

  • LEBIH DEKAT MENGENAL KH. MAIMOEN ZUBAIR (MBAH MOEN)

    LEBIH DEKAT MENGENAL KH. MAIMOEN ZUBAIR (MBAH MOEN)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Mbah Moen tutup usia ditanah suci Mekah al Mukaromah dalam perjalanan haji tahun ini di usia ke 91 .

    Tahukah anda mbah Moen adalah legenda dari pesantren di Indonesia .
    KH Maimun Zubair adalah Ulama besar yang lahir di Indonesia. Pemikiran dan karyanya tidak hanya dikaji di Indonesia, tapi juga dunia.
    Beliau meskipun tidak belajar di Perguruan Tinggi, tapi wawasannya yang luas dan pergaulannya yang mendunia, pemikirannya menjadi rujukan umat Islam dan dunia.

    Beliau produk asli Pesantren. Setelah dididik dengan keras dan disiplin oleh ayahnya, seorang ulama besar, KH Zubair Dahlan, yang juga guru spesial Syaikhina KH MA Sahal Mahfudh dan KH Ahmad Fayumi Munji, beliau meneruskan di Pondok Lirboyo Kediri dibawah bimbingan langsung KH Abdul Karim, santri Hadlratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.

    Setelah itu, KH Maimun Zubair meneruskan petualangan ilmunya di Timur Tengah, khususnya di Haramain, belajar dengan ulama-ulama besar di Sana. Antara lain Syaikh Yasin bin Isa Al Fadani, dan lain-lain. KH Maimun Zubair juga berguru kepada ulama-ulama besar Indonesia yang lain, seperti Syaikh Fadhol Senori Dan KH Bisri Mustafa. (abi SORBAN)