Tag: santri

  • Terlanjur Puasa Hari Ini

    Terlanjur Puasa Hari Ini

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Postingan kali ini khusus menjawab internal warga NU yang puasa di hari Rabu karena mendapat kabar hari ini adalah hari pertama bulan Rajab.

    Warga NU mayoritas ikut Mazhab Syafi’i. Secara kelembagaan NU memutuskan untuk menggunakan metode rukyat hilal dalam menentukan datangnya bulan Hijriyah. Tetapi dalam Mazhab Syafi’i jugalah metode hisab (astronomi) diterima sebagai salah satu cara menentukan waktu masuknya bulan baru kalender Hijriyah.

    الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : يُعْتَبَرُ قَوْلُ الْمُنَجِّمِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَحَقِّ مَنْ صَدَّقَهُ وَلَا يَجِبُ الصَّوْمُ عَلَى عُمُوْمِ النَّاسِ بِقَوْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ (الفقه على المذاهب الأربعة – ج 1 / ص 873)

    “Syafiiyah berkata: Pendapat ahli hisab dapat diterima bagi dirinya sendiri dan orang yang percaya padanya. Orang lain tidak wajib puasa berdasarkan pendapat yang kuat” (Madzahib al-Arba’ah 1/873)

    Jadi, yang terlanjur puasa hari ini boleh ikut pendapat ahli hisab. Atau diniatkan puasa sunah mutlaqah. (KH ma’ruf Khozin)

  • TAHLIL QUBRO MUSLIMAT SE DESA PACET DI MASJID NURUL IMAN NGGAPUK

    TAHLIL QUBRO MUSLIMAT SE DESA PACET DI MASJID NURUL IMAN NGGAPUK

    InfokomBanserNU- Sabtu, 29 Februari 2020 Muslimat se Desa Pacet mengadakan Tahlil Qubro yang ke-2. Antusias Muslimat Desa Pacet tidak berkurang untuk hadir dalam acara tersebut, meskipun pada waktu itu hujan turun sangat deras bersamaan dengan dimulainya acara tersebut.

    Tampak hadir jajaran pengurus NU Desa Pacet beserta perangkat Bapak H. Yadi Mustofa.SH. selaku Kepala Desa Pacet. Beliau mengharap untuk istiqomahnya acara Tahlil Qubro yang rutin diadakan Muslimat Pacet. Diharapkan acara tersebut menjadi penyeimbang situasi Pacet yang sudah terkenal sebagai tempat maksiat.

    H. Tarmudji yang menjadi ketua ta’mir masjid Nurul Iman sekaligus mauidhotul hasanah dalam acara tersebut memberikan tausyiah syukur sekaligus kebanggaan, kita diciptakan oleh Allah SWT menjadi umat paling mulia dari semua umat dengan Nabi yang paling mulia dari semua Nabi, yaitu Muhammad SAW. 

    Pengawalan pada acara Tahlil Qubro Muslimat Pacet, yang diadakan Hari Sabtu, otomatis ramai kendaraan dari wisatawan lokal yang menuju Pemandian Air Panas. Alhamdulillah koordinasi dengan BALANTAS(Banser Lalu Lintas)Satkoryon Pacet , Remas HISNURI (Himpunan Santri Nurul Iman), serta jama’ah Masjid. yang dilakukan sebelum kegiatan tersebut,membuahkan hasil berjalannya acara dengan baik dan lancar.
    (red.abi)

  • RENUNGAN MAKHLUK PALING HINA

    RENUNGAN MAKHLUK PALING HINA

    InfokomBanserNU-Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar. Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat.

    Sebelum Santri pulang, Kyai memberikan sebuah ujian padanya. Pak Kyai berkata pada santrinya.

    “Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu.” ujar sang Kyai.

    “Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini saya bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya.” jawab Santri penuh percaya diri.

    Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seseorang ataupun makhluk itu kehadapannya. Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat, karena menganggap begitu mudah ujian itu.

    Hari itu juga si Santri berjalan menyusuri jalanan. Ditengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang. Dalam hatinya dia berkata.,

    “Pasti dia orang yang lebih buruk dariku. Setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

    Namun dalam perjalanan pulang si Santri kembali berpikir.

    “Sepertinya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dariku. Sekarang dia mabuk-mabukan, tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa khusnul khotimah? Sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku Allah justru menghendaki suúl khotimah, bagaimana? Berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dariku,” ujarnya bimbang.

    Santri itu pun kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya.

    Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan. Karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

    “Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku. Anjing ini tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan” teriak Santri dengan girang.

    Dengan menggunakan karung beras, si Santri kemudian membungkus anjing tersebut untuk dibawa ke Pesantren. Namun ditengah jalan, tiba-tiba dia kembali berpikir,

    “Anjing ini memang buruk rupa dan kudisan. Namun benarkah dia lebih buruk dari aku? Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia. Sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka.”

    Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

    Hari semakin sore. Si Santri masih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya.. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke pesantren dan menemui sang Kyai.

    “Bagaimana anakku, apakah kamu sudah menemukannya?” tanya sang Kyai.
    “Sudah, Kyai,” jawabnya seraya tertunduk.
    “Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka,” ujarnya perlahan.
    Mendengar jawaban sang murid, Kyai tersenyum lega,
    “Alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,” ujar Kyai terharu.

    Kemudian Kyai berkata,

    “Selama kita hidup di dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakanNya,”

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang dihatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi. (HR. Muslim nomor 91).

    Semoga sedikit ilmu yang di titipkan Allah SWT di hati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan. Kisah hikmah ini boleh dibagikan (di share) di Facebook masing-masing, agar teman-teman kita di Facebook juga bisa membacanya. Sehingga dengan begitu kisah hikmah ini bisa lebih bermanfaat untuk orang banyak.

    Semoga di sisa umur yang Allah berikan, kita dapat mempergunakannya sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal saleh dan bukan hanya disibukkan dengan urusan duniawi belaka. Dan semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
    Sc : Media Nu

  • KASIH SAYANG MBAH MAIMUN KEPADA SANTRI

    KASIH SAYANG MBAH MAIMUN KEPADA SANTRI

    InfokomBanserNU-
    Suatu hari – seperti yang dikisahkan Gus Muhammad Pekalongan – seorang santri akan diboyong pengurus keamanan karena berbagai kasus pelanggaran. Ketika akan diantar pengurus keamanan sam bhn bpai jalan raya untuk dicarikan bis, Santri itu lari menuju ke ndalem Yai Maimoen,
    Ia menangis dan tersungkur sesenggukan dibawah kaki beliau.

    Yai dawuh: “enten nopo”? (Ada apa ?) Kang santri itu menjawab: “kulo bade diboyong pengurus, tapi kulo taseh pengen mondok yai”(saya mau diboyong pengurus, tapi saya masih pengen mondok yai)

    Kemudian yai manggil pengurus keamanannya lantas kemudian dawuh: ” santri iki ora usah diboyong yo, mergo cah enom seng gelem ngaji saiki longko…” (santri ini jangan di boyong ya.. Karena jaman sekarang sedikit pemuda yang mau ngaji )

    Beliau lalu menoleh kepada santri itu dan berkata : ” tapi sampean kudu janji…ojo nakal maneh”..(tapi kamu harus janji.. Jangan nakal lagi )

    Gus Rojih Ubab – cucu Mbah Yai – pernah berkata : ” Mbah kung iku nek ono santri nakal, ngongkon digedekno husnudzone, Husnudzon Cah iku bakal taubat lan dadi apik suatu saat, Lan didongakno ben cepet mari nakale.. ” (mbah itu kalo ada santri nakal, menyuruh kita untuk menguatkan husnudzon, husnudzon bahwa kelak ia akan taubat dan menjadi orang baik. Dan didoakan semoga cepat selesai nakalnya)

    Sampai sekarang Saya ingat betul totalitas beliau dalam mengajar dan mendidik para santri, beliau – yang meski selelah apapun, pulang dari perjalanan sejauh apapun dan dalam usia yang sangat sepuh seperti itu – selalu meluangkan waktunya untuk mengajar santri-santrinya, tidak jarang – karena saking capeknya – beliau tertidur beberapa detik ditengah-tengah membacakan kitab untuk kami. Di bulan Ramadhan beliau bahkan bisa berjam-jam duduk tanpa henti untuk membacakan kitab, semua waktu beliau seakan-akan hanya beliau dedikasikan untuk ilmu dan para penuntutnya.. Saya juga masih ingat dawuh beliau di malam itu, waktu itu beliau baru saja pulang dari kunjungannya ke Uzbekistan. ” Ora usah mikir engko dadi opo.. Tapi Ngajio sing sergep, sinau sing sergep” (Gus Ismail)

  • KYAI CAP CATUT KUDUS, PENYELAMAT AJARAN SUNAN KUDUS

    KYAI CAP CATUT KUDUS, PENYELAMAT AJARAN SUNAN KUDUS

    InfokomBanserNU- NAMANYA dikenal dengan sebutan Syaikh Rodhi. Yah, sosok pendatang baru itu tiba-tiba dapat gelar syaikh. Tidak ada yang mengetahui asal-usulnya. Tiba-tiba saja datang ke daerah Kudus kulon sekitaran Menara Kudus di zaman Nusantara bergerak.

    Banyak sejarah tutur menyebut Syaikh Rodhi adalah misionaris wahabi yang saat itu sedang di puncak jihad menyebarkan dakwah “bid’ahnya” di daerah yang dari dulu dikenal sebagai wilayah santri; Kudus kulon.

    KH. Sya’roni Ahmadi menyebut Syaikh Rodhi hidup sezaman dengan Surkati, tokoh yang difigurkan dalam Jamiyyatul Khoir. Dulunya, Jamiyyatul Khoir dipenuhi dengan tokoh-tokoh ahlussunnah waljama’ah keturunan Arab dan Yaman (khususnya). Tapi sejak Surkati bisa masuk mempengaruhi organisasi Islam pertama tersebut (berdiri 1901), paham yang disebarluaskan menjadi semakin bercorak wahabi.

    Di zaman Surkati inilah Jamiyyatul Khoir ditambah akonim menjadi Jam’iyytul Khoir wal Irsyad dan peranakan Arab yang mendirikannya mufaraqah membuat jamiyyah sendiri bernama Rabithah Alawiyyin.

    Kiai Sya’roni Ahmadi menyebut Surkati dan Syaikh Rodhi adalah utusan misionaris wahabi. Sementara utusan lainnya ada yang dikirim ke luar Jawa, untuk memecah belah umat Islam waktu itu, yang sedang bergerak melawan Belanda.

    Di sekitar Menara Kudus abad 19 awal itu (tahun tepatnya belum diketahui sumber saya), Syaikh Rodhi bermukim dan menyebarkan ajaran-ajaran bid’ah untuk kalangan kelompok santri menara. Misalnya, dia mendakwahkan ajaran baru yang mengharamkan ziarah kubur Sunan Kudus, tahlilan serta berjanjenan. Semua itu sudah berlaku ratusan tahun di Kudus.

    Banyak kiai dan warga di sekitar Kudus yang tidak setuju atas kehadiran tokoh tiba-tiba yang menyebarkan ajaran yak nah beh itu. Ujaran dan ceramahnya sangat meresahkan warga.

    Diceritakan, Syaikh Rodhi ini pernah mengikat dirinya sendiri dengan rantai di masjid Menara Kudus. Bukan karena stres dan gila, tapi sebagai ungkapan dia tidak mau berpindah dari lokasi sekitar Menara karena diusir warga.

    Tanda buruk kehadiran Syaikh Rodhi ini nampak dari kisah tutur yang menyebut adanya anjing misterius yang tiba-tiba muncul di tengah masjid depan menara kecil yang sekarang lokasinya ada di dalam masjid. Anjing itu adalah isyarah adanya manusia hina yang dikirim tuannya untuk menjaga akidah kotor, senajis hukum anjing dalam fiqih.

    Meski “dakwah” nya ditolak oleh warga yang mayoritas santri, Syaikh Rodhi selalu berusaha dengan berbagai cara agar diterima. Sayangnya, pendapatnya yang dangkal mudah dipatahkan hanya oleh santri, belum sekelas kiai.

    Dia merasa mendapatkan kesempatan bisa menguasai Masjid Menara peninggalan Sunan Kudus saat para kiai dan tokoh ulama di sekitar menara dipenjara oleh Belanda di zaman geger pecinan tahun 1918 M. Syaikh Rodhi pun menyebar pengumuman tantang debat dengan siapa saja dengan jaminan jika kalah harus mengikuti ajaran bid’ahnya.

    Syaikh Rodhi tidak mengetahui kalau Kudus kulon adalah markas para santri, yang sudah dibangun Sunan Kudus sejak masih hidup. Ia mengira bila kiai Kudus banyak dipenjara artinya tidak akan ada lagi orang alim yang bisa melawannya. Dia tidak mengetahui peta bahwa Kudus kulon itu banyak orang alim yang kealimannya tidak nampak karena kalah dengan pamor mahabbah dan haibah Sunan Kudus.

    Tantangan Syaikh Rodhi direspon oleh seorang alim yang tidak ikut dipenjara Belanda karena dianggap bukan sebagai tokoh penting. Namanya Kiai Hamid, yang oleh Kiai Sya’roni Ahmadi disebut dengan gelar populer Kiai Hamid Cap Catut.

    Kiai Hamid siap debat dengan Syaikh Rodhi dengan satu syarat: yang kalah harus keluar dari Kudus dan tidak boleh kembali selamanya.
    Syarat itu dipenuhi. Perdebatan ini ada yang menyebut terjadi di Masjid Menara Kudus, yang disaksikan oleh banyak orang.

    Kalah dalil, Syaikh Rodhi akhirnya harus keluar dari Kudus dan pergi entah kemana karena memang tidak diketahui asalnya. Kudus pun akhirnya terselamatkan dari pengaruh wahabi yang mengharamkan amaliyah ahlussunnah wal jama’ah, hingga sekarang.

    Untuk mengenang peristiwa penting tersebut, Kiai Hambali atau Kiai Kamal (Kamal adalah nama ubahan setelah dipenjara Belanda, mukim di Damaran, belakang makam Sunan Kudus), mendokumentasikan dalam kalimat bahasa Arab,

    ماتت البدعة بقيام حجة لأهل السنية

    Artinya:

    “Bid’ah sudah mati (seiring) ditegakkannya hujjah untuk ahli sunnah”.

    Bila dijabarkan, ajaran bid’ah yang pernah disebar pertama oleh Syaih Rodhi di sekitar Menara Kudus sudah mati sejak dia kalah debat penuh dalil dengan Kiai Hamid Cap Catut yang membuktikan kebenaran ajaran ahlussunnah wal jama’ah.
    Kalimat tersebut terukir di dalam Masjid Menara Kudus.

    Dalam manuskrip yang ada, tertera angka 1344. Kiai Kamal menyusun kalimat dokumentatif tersebut bukan hanya sebagai ungkapan penuh makna, tapi juga sangkakala yang menunjuk tahun kelahiran Nahdlatul Oelama (NO) 1926 yang bertepatan dengan 1344 H. Demikian sebagaimana dituturkan oleh M. Abdullah Al Badri.

    Artinya, kelahiran NU pada tahun 1344 H adalah penanda “matinya” ajaran wahabi berkembang menjadi ideologi agama yang akan terus ditolak oleh NU, terbukti hingga sekarang.

    Semoga, seluruh jama’ah MWC NU Sungai Gelam mendapatkan limpahan berkah, bikaromati Mbah Kyai Hamid Cap Catut, Kanjeng Sunan Kudus, ugi sedoyo para Wali ing Nusantara.

    #JayalahNU
    Alfatihah..

    (Bagus Muhammad Miftahul Mujib)

  • Kisah KH Abdullah Salam Memberi Jas Mahal Pada Tamu

    Kisah KH Abdullah Salam Memberi Jas Mahal Pada Tamu

    Infokom Ansor Banser NU- Mbah Dullah punya selera yang tinggi dalam berpakaian. Koleksi jam tangan Beliau didominasi merk Mido, waktu itu sekitar tahun 90-an, sudah ada yang berbandrol 9jt, ada yang 6jt.

    Almari pakaian Beliau dipenuhi sarung merk BHS dan belbagai macam jas. Beliau memang penyuka jas, dan Beliau juga mahir bikin jas, karena di waktu muda dulu, di sela mengabdi di Pesantren, Beliau juga berprofesi sebagai seorang penjahit pakaian, bahkan jas. Sampai sepuh, Beliau masih suka menjahit baju yang bakal beliau kenakan.

    Suatu hari, seorang santri diutus Mbah Dullah mencari kain wool untuk dibikin jas. Contoh kain tersebut dibawakan agar tidak keliru dalam membeli. Santri tersebut ngubek-ubek toko kain sekota Kudus, namun belum menemukan kain yang sesuai dengan contoh yang diberikan.

    Esok harinya, Kota Semarang yang dituju. Si santri muter-muter hampir ke seluruh toko kain dan mall se-Semarang. Alhamdulilah, di salah satu mall yang megah, kain yang sesuai dengan contoh yang dibawa si santri didapatkan. Harganya? Hampir 3 juta permeter. Total pembelian untuk ukuran jas yang dikehendaki, 5 juta lebih. Lalu kain tersebut dibawa oleh si santri ke penjahit jas yang terkenal, “Eka Karya” di jalan Kyai Saleh, Semarang, sesuai arahan Sang Kiai.

    Contoh jas sebagai ukuran dan kain wool-pun diserahkan pada sang penjahit. Sang penjahit berucap “Yo, Kang. Jas pesanan akan segera kami bikin, nanti kalau jas sudah jadi tidak usah diambil ke sini, akan kami antar sendiri ke Kajen sekalian sowan”.

    Sang penjahit yang asli Wedung, Demak, memang kenal dengan Mbah Dullah. Lalu si santri-pun pulang. Lewat satu minggu, Sang Penjahit sudah datang di Kajen, mencari si santri minta diantar untuk sowan. Sang penjahit kemudian diantar si santri sowan, dalam pisowanan tersebut, sudah ada tamu lain yang menunggu, yang juga hendak bertamu pada Mbah Dullah. Setelah bertemu dengan Mbah Dullah, sang penjahit menyerahkan jas pesanan, Mbah Dullah-pun mencoba memakai jas baru tersebut. Pas! Enak dipakai dan bagus sekali..

    Sang penjahit pun pamit permisi setelah makan, ongkos pembikinan jas digratiskan untuk tabarrukan. Lalu, tamu lain yang tadi bareng sowan nyeletuk, sekedar basa-basi, “Mbah, jas-e sae sanget”. Mbah Dullah menyahut, “Jenengan remen?”. “Nggih, sae sanget”. Mbah Dullah ngendikan, “nek Jenengan remen, monggo Jenengan betho mawon, kangge Jenengan”. Jas-pun kembali dimasukkan ke pembungkusnya, diserahkan pada Sang Tamu tadi.

    Sang Tamu yang awalnya jengah menerima, akhirnya tetap membawa jas tersebut karena setengah dipaksa. Si santri melongo, memendam rasa dongkol yang tiba-tiba menggunung memenuhi hatinya, teringat perjuangannya mendapatkan kain bahan jas itu. “Kenapa tidak diberikan ke saya saja, mbah?”, jeritnya dalam hati. Begitulah, Mbah Dullah!

    Makanya tidak heran jika waktu itu banyak Santri Ndalem yang bersarung BHS dan ber-arloji Mido, hadiah dari Sang Kiai. Teruntuk Mbah Dullah, alfatihah…

    cerita ini disarikan dari tutur Sang Santri, Kang Sunhadi!

    Oleh: Mujibur Rachman Ma’mun, Pengasuh Pesantren Al Hikmah Kajen, cucu Mbah Dullah Salam Kajen

    (Kalam Para Ulama)

  • JADI BANSER ITU TIDAK MUDAH KARENA AKAN BANYAK TANTANGAN DIDALAMNYA

    JADI BANSER ITU TIDAK MUDAH KARENA AKAN BANYAK TANTANGAN DIDALAMNYA

    Infokom Banser NU – ” Memahami dan mengamalkan makna sabar, ikhlas dan tulus itu mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan karena butuh kesungguhan niat yg tinggi untuk itu

    Habib Luthfi bin Yahya merasa cinta kepada Banser sekalipun jika surga diberikan untuk beliau namun beliau tdk akan ambil bagian itu sebelum Banser dulu yang akan memasukinya

    Banser merasa tulus apa yg dia perbuat untuk ulamanya karena petuah para ulama NU kian tertanam dalam hatinya

    Habib Umar bin hafidz melihat ada banyak ulama NU yang berkelas wali namun tantangan itu sangat besar pada NU

    Habib Ali Al-Jufri melihat sosok Banser adalah manusia yg sudah mampu berjihad dijalan Allah sampai didalam rasa lelah dan harus kurang tidur demi menjaga ulama dan negara, bahkan habib Ali Al-jufri mengungkapkan bahwa tauhid itu penting tapi adalah jauh lebih penting bahwa menjaga keamanan adalah diatas tauhid itu sendiri

    Syekh Fadhil mengungkapkan bahwa hanya di Indonesia ulama itu dijaga oleh Banser, karena dinegaranya banyak bom terjadi karena tidak ada keamanan

    Banyak para habaib di Indonesia bahkan dinegara luar merasa kagum terhadap banser, terlebih terhadap NU !! “

  • Tradisi silat pesantren Berdirinya Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA

    Tradisi silat pesantren Berdirinya Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA

    Dilingkungan Pesantren NU,terdapat banyak aliran silat baik aliran silat jawa timur,jawa barat,jawa tengah,Banten,silat betawi,silek minang,silat Mandar,Silat Mataram,dan lain lain,oleh karena itulah untuk menyatukan semua aliran silat tersebut di bentuklah pagar nusa.sebagai wadah perkumpulan pencak silat yang masih dalam naungan NU.Wadah ini tetap membuka keragaman dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan untuk mengembangkan diri.artinya walaupun ada perbedaan namun tetap satu saudara.

    InfokomBanserNU-Tahun 1985, di Pesantren Tebuireng Jombang, beberapa Pengasuh Pondok Pesantren, perguruan-perguruan dan para Pendekar berkumpul berinisiatif membentuk organisasi pencak silat yang terdapat di pondok pesantren dan perguruan-perguruan. Tahun 1986, di Pesantren Lirboyo, bersama-sama Gus Maksum Jauhari membidani dan memepersiapkan lahirnya organisasi Pencak Silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “PAGAR NUSA” yang merupakan akronim dari “Pagarnya NU dan Bangsa”. Tahun 1989, Musyawarah Nasional (MUNAS) pertama Lembaga Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa diselenggarakan di Pesantren Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Dihadiri ratusan perguruan dengan segala macam kekayaan khasanah budaya, seni bela diri dan amaliahnya dari seluruh Indonesia.

    Tahun 2004, Muktamar NU ke-31 di Solo, Jawa Tengah. Pagar Nusa menjadi salah satu badan otonom NU yang membidangi pengembangan seni bela diri NU.

    Tahun 2007, Kongres pertama Ikatan Pencak Silat NU (IPS-NU) Pagar Nusa diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta timur.

    Tahun 2008, Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa menjadi anggota tetap Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

    Tahun 2010, Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan menjadi “Pagar Nusa”.

    Tahun 2012, Kongres ke-2 di Pesantren Sunan Drajad Lamongan, Jawa Timur. Menetapkan perubahan menjadi “PENCAK SILAT NU (PSNU) PAGAR NUSA” dan “Pagar Nusa” menjadi trademark-nya

    Peran besar Gus Maksum
    Sebenarnya di kalangan NU banyak sekali Pendekar Silat,Kyai atau ajeungan yang memiliki ilmu kanuragan,namun nama Gus Maksum tidak bisa di pisahkan dari sejarah Pencak Silat Pagar Nusa.Kecintaan silat dan rasa keprihatinan Gus Maksum bahwa banyak sekali aliran silat yang ada di lingkungan NU tapi belum punya wadah yang mengikat sehingga menjadi keluarga yang bersama sama mengembangkan serta mempertahankan tradisi silat yang turun temurun dari Wali songo mengalir ke tokoh tokoh pesantren

    Hal inilah yang menginpirasi beliau mendirikan sebuah perguruan silat,ide pendirian silat ini rencananya diberi nama GASMI (Gabungan Aksi Silat Muslimin Indonesia) pada tahun 1965 walaupun belum resmi berdiri,beliau sudah mulai melakukan pelatihan silat.pada waktu itu pelatihan diadakan di komplek pesantren Lirboyo Kediri,selain bertujuan mengembangkan budaya silat di pesantren juga salah satu counter atas LEKRA ( lembaga kesenian rakyat ) lembaga di bawah naungan partai komunis indonesia PKI.Sebab LEKRA adalah otak dibalik aksi provokatif,sabotase,teror dan lain lain.Menghadapi aksi LEKRA ini,beliau mengatakan “Ada aksi ada Reaksi” artinya LEKRA beraksi GASMI bereaksi,Amar ma’ruf nahi mungkar selalu ditegakan.

    Karena kesibukan beliau mengabdi pada umat,ngurusin santri dan perjuangan melawan aksi aksi PKI baru setelah sintuasi mulai kondusif pada tanggal 14 januari 1970 GASMI secara resmi didirikan dikediaman beliau,dihadiri para pendekar se eks-karisidenan Kediri dan Ponorogo.

    GASMI inilah yang menginspirasi Gus Maksum untuk menyatukan silat yang ada di NU.dimulai dengan merangkul perguruan silat tradisional lokal seperti Jiwa Suci milik pesantren Al maruf bandar lor kediri,PORTUGAL silat tradisional Blitar,Asta Dahana perguruan silat Kediri.dan beberapa perguruan silat lokal lainnya.

    Pertemuan awal para pendekar PAGAR NUSA
    Akhirnya dengan usaha dan pendekatan yang intensif kepada para pendekar dan Kyai pimpinan pondok pesantren , tokoh silat dan tokoh masyarakat membuahkan hasil berupa kesepakatan untuk mengadakan pertemuan pertama pada tahun 1986 di Tebu Ireng Jombang Jawa Timur.Di hadiri ulama sepuh dan kaum pendekar.Di antara kyai sepuh itu adalah KH.Syansuri Badawi.

    Pertemuan bersejarah ini dihadiri beberapa pendekar antara lain,Gus Maksum sendiri,KH.Abdurahman Ustman Jombang,KH.muhajir Kediri,H.Atoillah Surabaya,Drs.Lamro Ponorogo,Timbul Jaya SH pendekar Lumajang dan beberapa pendekar lainnya,tokoh tokoh inilah yang berada dibalik berdirinya pagar nusa.

    Pertemuan pertama ini menghasilkan kesepakatan yang sangat penting yaitu :
    1.Adanya Fatwa Ulama KH.Syansuri Badawi bahwa,”Mempelajari Silat Hukumnya boleh dipelajari dengan tujuan perjuangan.
    2.Di sepakati dibentuknya suatu ikatan bersama untuk mempersatukan berbagai aliran silat dibawah naungan NU.

    Pertemuan Bersejarah ke 2 Pagar Nusa
    Selanjutnya pada Tahun 1989 diadakan MUNAS Pagar Nusa yang ke1 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Zainul Hasan,Genggong,Kraksaan,Probolinggo.Di hadiri pendekar silat NU seluruh Nusantara ,Munas itu mengangkat Langsung KH.M.Abdullah Maksum Jauhari sebagai ketua umum pertama Pagar Nusa,dan Prof.Dr.H.Suharbillah sebagai ketua Harian SekJen.H.Kuncoro ( H.Masyhur )

    Sikap Jati diri Pagar Nusa
    Jati diri Pagar Nusa sama dengan jati diri NU itu sendiri (baca posting Jati diri NU ) yaitu Persaudaraan antar Pagar Nusa Artinya Persaudaraan tanpa membedakan aliran dan perguruan silat,di Pagar Nusa makanya di kenal dengan istilah “Bhineka Tunggal Ika” biarpun berbeda tapi tetap satu juga” berbeda aliran tapi tetap dalam satu ikatan pagar nusa.

    Pandangan Pagar Nusa pada aliran perguruan lain senatiasa menganggap saudara,sahabat,bahkan keluarga karena langsung atau tidak langsung semua aliran silat terutama di Nusantara masih punya pertalian ikatan yang sama,apalagi jika kita menapak tilas sejarah kerajaan di Nusantara kemudian ke Abad 14 adanya penyebar islam Wali songo yang banyak mengajarkan tuntunan hidup dengan jalan damai diantaranya melalui seni silat,jelas banyak pendekar di Nusantara adalah murid Wali Songo.

    Kini saatnya Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Menjadi wadah Ikatan Para Pendekar,Jawara,Pesilat dari berbagai aliran di bawah naungan NU.Amin

  • Selamat hari Jumat

    Selamat hari Jumat

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com- Mari tingkatkan terus manfaat umur kita untuk bisa membantu orang lain. Minimal tidak memberatkan pekerjaan orang lain. InsyaAllah dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang tidak terduga. Senyum itu ibadah, marah itu mudah. Tapi, sabar itu lebih indah.”*

    Selamat menunaikan ibadah Shalat Jum’at

    Sesuai Waktu Daerah Masing – Masing…

    Pada hari Jum’at, Allah mensyari’atkan untuk shalat Jum’at,

    Hukum shalat Jum’at adalah wajib dengan dasar Al Qur’an firman Allah,Surat Al Jum’ah ayat 9.

    • يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al Jum’ah:9)(Red)

  • Banser yg Bertemu KH. Hasyim Asy’ari

    Banser yg Bertemu KH. Hasyim Asy’ari

    SORBANSANTRI.COM
    Sumber : Muhammad aun
    Dirosatul Ula di Sulang – Rembang
    Sabtu, 16/02/2019
    wp.sorbansantri.com- Pada suatu ketika diadakannya Diklatsar Banser di suatu daerah luar Jawa
    Ada ratusan yg mengikuti kegiatan Diklatsar yg di laksanakan oleh GP Ansor yg selalu di awali di hari Jumat setelah sholat Jumatan sampai pembaiatan di Ahad malam.
    Namun yg menarik disini adalah ada salah satu calon peserta Diklatsar tsb yg datangnya telat yaitu pada sabtu paginya dia naik sepedah motor butut miliknya, dia berangkat dari rumah pada hari Jumat setelah jumatan karena jarak dari rumah kelokasi Diklatsar sangat jauh harus melintasi hutan belantara yg luas dan perjalanan yg panjang
    Waktu sudah sore setelah melaksanakan sholat ashar sebelum perjalanan memasuki hutan. Diapun melanjutkan perjalanannya dgn sepedah motor bututnya, Ditengah2 hutan belantara sepedah motornya masuk tergelincir di selokan pinggir jalan.
    Dia seorang diri tidak bisa mengangkat sepedah motornya yg masuk selokan tadi. Akhirnya diapun menunggu pengguna jalan yg lewat. Sampai fajar tiba dia menunggu orang yg lewat melintasi jalanan tersebut untuk dimintai tolong membantu mengangkat sepedah motornya.
    Namun yg aneh tiba2 ada seorang laki2 sepuh berjalan kaki dgn tongkat ditangannya datang menghampirinya
    Laki2 sepuh tadi bertanya :
    Kakek : Kamu mau pergi kemana Nak?
    Pemuda : Saya mau pergi mengikuti kegiatan Diklatsar Kek…
    Kakek : Diklatsar itu apa?
    Pemuda : Diklatsar itu pelatihan prajurit NU kek…
    Kakek : Sepedah kamu kenapa?
    Pemuda : Terperosok ke selokan kek…
    Kakek : Baik saya bantu
    Tiba2 kakek tersebut membantu mengangkat dan menarik sepedah motor pemuda itu dan akhirnya sepedah motornya sudah berada dijalanan. Lalu Kakek itu berpesan :
    Kakek : Nak, silahkan lanjutkan perjalananmu menjadi Banser NU. Dengan begitu kamu akan menjadi Santri para Ulama’ pendiri NU. Jadilah Santri yg patuh dan taat pada kyai2mu
    Pemuda : Insyallah Kek, Terima kasih sudah dibantu
    Setelah kejadian fajar itu, sampailah pemuda itu ditempat Diklatsar Banser. Dia mengikuti disetiap semua Materi yg di berikan oleh para Instruktur dan Senior2nya
    Tibalah materi Rihlah (Silaturrohmi ke rumah Kyai daerah tsb), Pemuda itu dan ratusan peserta lainnya masuk ke dalam Rumah sang kyai
    Pemuda itu melihat Photo berukuran besar di dinding ruang tamu sang kyai itu. Dia bertanya kepada salah satu Instruktur.
    Pemuda : Wajah laki2 sepuh di photo itu siapa?
    Instruktur : Dia adalah KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyyah Nahdlotul Ulama’ (NU)
    Pemuda : Masyallah…!!!
    Seketika pemuda itu bercucuran meneteskan air mata karena Haru, Bangga dan Heran
    Pemuda : Masyallah, Laki2 sepuh itulah yg menolong saya ketika Sepedah motor saya tergelincir di selokan jalanan tengah hutan belantara saat perjalanan saya mengikuti Diklatsar ini
    Instruktur : Masyallah, benarkah
    Pemuda : Benar, ternyata beliau adalah Mbah Hasyim yg menolong saya Masyaallah
    Instruktur : Alhamdulillah, kamu ternyata salah satu dari kami yg mendapatkan Karomah Beliau
    Akhirnya pemuda tersebut semakin mantab dalam mengikuti Diklatsar dan menjadi Banser yg tangguh militansinya
    Semoga kita semua tetap tangguh untuk menjadi Santri NU dan kian MANTAB menjadi BANSER .
    Kepada Beliau para Pendiri dan Ulama’ NU Alfatihah … Aamiin