New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yg sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.
New Normal adalah upaya menyelamatkan hidup warga dan menjaga agar negara tetap bisa berdaya menjalankan fungsinya.
3. New Normal adalah tahapan baru setelah kebijakan stay at home atau work from home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran massif wabah virus corona. New Normal utamanya agar warga yg memerlukan aktivitas luar rumah dapat bekerja dengan menggunakan standar kesehatan yg ditetapkan. Jadi bukan sekedar bebas bergerombol atau keluyuran.
4. New Normal diberlakukan karena tidak mungkin warga terus menerus bersembunyi di rumah tanpa kepastian. Tidak mungkin seluruh aktivitas ekonomi berhenti tanpa kepastian yang menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal dan kekacauan sosial.
5. New Normal ditujukan agar negara tetap mampu menjalankan fungsi2nya sesuai konstitusi. Harap diingat bahwa pemasukan negara berasal dari pajak dan penerimaan negara lainnya. Jika aktivitas ekonomi terus berhenti total maka negara tidak punya pemasukan, akibatnya negara juga tidak bisa mengurus rakyatnya.
6. New Normal diberlakukan dengan kesadaran penuh bahwa wabah masih ada disekitar kita. Untuk itu aktivitas ekonomi/publik diperbolehkan dengan syarat menggunakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.
7. Jika New Normal tidak dilakukan maka dampak sosial ekonominya tidak akan bisa tertahankan. Kebangkrutan korporasi selamjutnya ekonomi akan membawa efek domino kebangkrutan negara!
8. Jika anda tidak setuju dengan New Normal, silakan terap tinggal di rumah. Sebab banyak orang tetap harus keluar rumah untuk bisa menghidupi keluarganya. Tidak semua orang bisa bertahan selama berbulan2 apalagi bertahun2 dan tetap bisa menghidupi keluarganya.
9. Untuk memastikan New Normal bisa berjalan baik maka pemerintah harus melakukan upaya yg sistematis, terkordinasi dan konsisten dalam melakukan pengawasan publik dan law enforcement. Di dalamnya juga termasuk memperbesar kapasitas sektor kesehatan kita untuk mengantisipasi lonjakan penderita Covid-19.
10. Pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi utk memastikan pemeriksaan kesehatan yg massif, tersedianya sarana perawatan dan peralatan medis, melindungi mereka yg paling rentan melalui penyiapan pengamanan sosial yg tepat sasaran dan perlindungan kesehatan.
Selebihnya terserah kita apakah mau berpartisipasi atau tidak, mau melindungi diri atau tidak. Berhentilah menjadi provokator dan menyebarkan energi negatif yg tidak bermanfaat bagi siapapun serta berpotensi menimbulkan kecemasan publik. Jika anda cemas, lindungilah diri anda dan keluarga sebab itulah satu2nya cara!
Sorban Santri-Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik-bilik kecil pondok pesantren.
Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan para saudagar.
Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat kewajiban Zakat untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan Islam mengajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.
Kyai tersohor kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru Beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang mengarang ratusan kitab, dari fiqh, tashawwuf, maupun tafsir al Qur’an, Syeikh Nawai juga melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air tercinta ini.
Sebagai satu contoh, saat Kyai Hasyim Asy’ari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, Beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yaaa meskipun berbeda pandangan atau pendapat tetapi, kerukunan dan kearifan yang Beliau contohkan kepada para santri sungguh luar biasa dan menakjubkan.
Menurut Beliau, perbedaan ialah hal yang bersifat fitrah dan memang manusiawi, di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam perjuangan melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut. tak pernag kendur semangat.
Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang sangat menderita saat itu.
Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai bilik Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang sudah semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.
Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif saat mengisi kemerdekaan seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera.
Petuah KH Hasyim Asy’ari :
“Agama Dan Nasionalisme Adalah Dua Kutub Yang Tidak Berseberangan. Nasionalisme Adalah Bagian Dari Agama Dan Keduanya Saling Menguatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari)
Sorban Santri – KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tua di Dusun Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7 Penerus Pesantren ini. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan.
Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.
Kyai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan piaraan dirumahnya, spt sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang.
Meski di kenal sebagai Waliyullah, kegiatan KH Zainuddin sehari-hari tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, tapi ia terkenal sangat disiplin dan istiqamah. Jam 22.00 setelah selesai mengajar dimalam hari, sang kiai istirahat hingga jam 02.00 lalu shalat tahajjud, membaca Al Qur’an atau melakukan ibadah-ibadah lain yang bertujuan Taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah hingga menjelang datang waktu subuh.
Namun adakalanya, sembil menanti subuh, Beliu berputar-putar mengelilingi pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan, dikumpulkannya buah sawo, jambu dan buah-buahan lainnya yang berjatuhan untuk makanan ternak. Setelah itu barulah Beliu membangunkan para santri di pondok dengan menyebut nama mereka satu per satu. Begitu banyak nama santri yang beliau hafal.
Apabila musim penghujan tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi, untuk mengatasinya KH. Zainuddin tidak pernah kehabisan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet (kain lap). Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkan atau diteteskan airnya ketubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli santri atau tamu yang kebetulan sowan ke pondok.
Santri yang terkejut merasakan tetesan air itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kyai Zainuddin malah dengan sigapnya bersembunyi dibalik pintu tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Hal ini terus dilakukan sampai santri benar-benar bangun.
Untuk santri yang masih juga membandel, padahal sudah berulang kali tetesan air mengenai tubuhnya maka Kyai Zainuddin meneteskan minyak tanah dari sumbu lampu kaleng. Si santripun bisa jengkel dan bangun sampil berteriak : “wo bocah nakal !!! mbeling tenan, nganggo lengo gas” (wah nakal, keterlaluan banget, pakai minyak tanah). Dan santri itupun hanya bisa tersipu malu ketika mengetahui pelakunya adalah kiainya sendiri. Kyai Zainuddin yang terkenal nyentrik ini memang memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan Beliau.
Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap Beliau membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam. Kalau perlu, Beliau juga turut memberi makan binatang-binatang ternak piaraannya, kiai Zainuddin termasuk penyayang binatang dan rajin menjaga kebersihan lingkungan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Kiai Zainuddin bekerja keras, mengayun cangkul, menanam singkong, jagung atau pisang. Dan untuk keperluan kesehatan, juga membuat apotek hidup dihalaman ndalemnya.
Pada suatu hari, Hadlrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari banyak mendapatkan laporan dari masyarakat, tentang pertunjukan di pondok Mojosari yang dianggap tabu di kalangan “NU” saat itu, Setelah melakukan rapat dengan sejumlah Kyai, akhirnya KH. Hasyim Asy’ari memutuskan akan mengirim surat pribadi yang berisi peringatan kepada KH. Zainuddin, Mojosari, supaya melarang santri-santrinya menyelenggarakan acara-acara yang berbau munkarot.
Ketika surat itu akan dikirim, malam harinya kiai Hasyim bermimpi berjama’ah dengan banyak alim ulama di sebuah masjid. Dan yang mengherankan adalah dengan jelas dia melihat bahwa yang menjadi imamnya adalah KH Zainuddin Mojosari, sedangkan KH. Hasyim sendiri berada di shof agak belakang. maka dia mengurungkan niatnya mengirimkan surat tersebut karena segan dan sangat menghargai kiai Zainuddin.
Keluarbiasaan yang lain, demikian tingginya mata batin kiai Zainuddin, sehingga dia dapat mengetahui muridnya bakal menjadi ulama besar, itu terjadi pada diri Jazuli, anak Muhammad Utsman, seorang naib dari Desa Ploso, Kediri.
Konon, Jazuli sudah berada di Batavia untuk masuk Stovia, sekolah kedokteran tempo dulu. Ketika Kiai Zainuddin mengetahui hal itu, ia segera menemui ayah Jazuli dan minta agar Jazuli ditarik pulang. “Dia tidak cocok sekolah disana,” ujarnya mengingatkan.
Karena yang menyuruh adalah seorang kiai besar, Naib Utsman tidak berani menolak, dikirimnya surat ke Batavia dengan pesan agar Jazuli segera pulang atas saran Kiai Zainuddin. Jazuli sendiri ketika menerima surat itu dapat memahami keputusan tersebut dengan legawa (besar hati), meski ia telah bermukim disana selama beberapa bulan.
Kenyataannya memang demikian, Jazuli Utsman akhirnya dikenal sebagai ulama, pemimpin Pondok Pesantren Ploso,Kediri.
Suatu waktu Kyai Zainuddin mengatakan kepada Jazuli “Cepat kamu datang ke Mojosari”, sebab kala itu Jazuli tinggal di luar pondok karena kemampuan finansialnya tidak mengizinkan untuk tinggal di pondok. “Saya tidak punya uang, kyai” jawab Jazuli polos. “Ah Weslah, nanti kamu akan menjadi blawong” kata Kyai Zainuddin.
Jazuli tidak mengerti apa arti blawong, makanya dia diam saja. Yang terpikir di benaknya adalah posisinya yang serba sulit. Kalau masuk ke pondok, kiriman uang dari rumah tidak cukup, tapi kalau tetap di luar pondok, berarti tidak taat pada gurunya. Oleh karena itu, predikat blawong hanya melintas sekilas di benaknya. Ia tahu bahwa kiai sering memanggil para santri dengan nama julukan daripada nama sebenarnya. Dan julukan itu dibuat sang Kyai sesukanya sendiri. Namun hal itu bukan di anggap kelakar, karena di yakini dapat menembus hal-hal yang bersifat batiniyyah, termasuk masa depan bagi santrinya.
Rupanya permintaan Kyai Zainuddin agar Jazuli pindah ke pondok, bukan basa-basi. Sampai tiga kali hal itu di kemukakan, sehingga akhirnya Jazuli tinggal di pondok menanti perintah gurunya. Ia di tempatkan disebuah kamar bersama tiga santri lainnya yang merupakan murid-murid kesayangannya. Kelak, mereka ini menjadi kiai yang sukses di desanya masing-masing.
Nama Kyai Jazuli Utsman sangat terkenal, dan jauh-jauh hari telah di ketahui oleh Kiai Zainuddin bahwa ia bakal menjadi seorang ulama besar, dengan menjulukinya blawong, ternyata blawong adalah nama panggilan seekor burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu di kerajaan Majapahit, sehingga semua orang menyimak kicaunya. Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan.
Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan kecuali Alah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi-Nya segala pua dan puji.
Allah Maha Besar dan pujian bagi Allah sebanyak-banyaknya, bertasbih kepada Allah setiap pagi dan petang. Tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan ikhlas menjalankan agama walaupun orang-orang karif membenci. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Benar janji-Nya, dan menolong hamba-Nya, juga lasykar-Nya dan menghancurkan musuhNya dengan dirinya semata. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah semata segala puja dan puji.
Lalu bagaimana kedudukan hukum dari membaca takbir pada kedua hari raya tersebut, apakah ada dasar hukumnya?. Sudah pasti ada yang mana penjelasannya yaitu sesuai petunjuk aturan pembacaan takbir, terbagi dua macam takbir mursal dan takbir muqayyad. Takbir mursal adalah pembacaan takbir yang tidak terikat waktu, karena dianjurkan sepanjang malam. Seperti takbir di malam idu fitri dan idul adha. Adapun takbir muqayyad adalah takbiran yang terbatas pada waktu, seperti pembacaan takbir setiap selesai sahalat lima waktu selama hari raya idu adha dan hari tasyrik, 11.12 dan 13 dzul hijjah.
Anjuran pembacaan takbir ini berlandaskan pada surat al-Baqarah ayat 185:
ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ماهداكم ولعلكم تشكرون
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Begitu juga anjuran Rasulullah saw dalam haditsnya yang berbunyi:
زينوا اعيادكم بالتكبير
Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir
Anjuran memperbanyak takbir ini sepadan dengan imbalan yang dijanjikan karena sabda rasulullah saw:
اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما
Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa.
Dari berbagai dalil di atas para faqih menghukumi pembacaan takbir sebagai sebuah kesunnatan. Sebagaimana yang ditrangkan dalam kitab Fathul Qarib
ويكبر ندبا كل من ذكر وانثى وحاضر ومسافر فى المنازل والطرق والمساجد والاسواق من غروب ليلة العيد (اي عيد الفطر) الى ان يدخل الامام فى الصلاة
Disunnahkan membaca takbir bagi lagi-laki dan perempuan, di rumah maupun di perjalanan, di mana saja, di jalanan, di masjid juga di pasar-pasar mulai dari terbenarmnya matahari malam idul fitri hingga Imam melakukan shalat id. (lebih…)
Sorban Santri – KH Bisri Syansuri adalah salah seorang kiai pendiri NU yang dinilai menyelesaikan persoalan melalui pendekatan fiqih murni. Pandangan ini terkadang sering bertolak belakang dengan kiai pendiri NU yang lain, yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah yang ahli di bidang ilmu ushul fiqih. Meski demikian, keduanya menyandarkan pendapat pada literatur keilmuan Islam yang luas, buah kaderisasi langsung dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama pinilih lain.
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebutnya kakeknya itu sebagai kiai dalam barisan fiqih bersama teman-temannya yang lain, di antaranya Abdul Manaf dari Kediri, As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo Ahmad Baidowi dari Banyumas, Abdul Karim dari Sedayu, Nahrawi dari Malang, Maksum Ali dari Pesantren Maskumambang di Sedayu dan lain-lain. Barisan peminat fiqih dan penganut hukum agama yang tangguh ini menjadi kiai-kiai pesantren yang sekarang ini merupakan pusat pendalaman ilmu-ilmu agama di pulau Jawa.
Menurut Gus Dur yang mengutip perkataan Kiai Syukri Ghozali, mereka adalah generasi terbaik yang langsung dididik oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari.
Kecenderungannya terhadap fiqih Kiai Bisri ini akan kelihatan menonjol dalam kehidupannya baik sebagai seorang kiai maupun ketika ia memimpin Nahdlatul Ulama.
Proses Belajar Kiai Bisri dilahirkan di pada hari Rabu tanggal 28 Dzulhijjah tahun 1304 H atau 18 September 1886 di Tayu, Pati. Semasa kecil, Bisri belajar pada KH Abd Salam, seorang ahli dan hafal Al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fiqih. Atas bimbingannya ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. Gurunya itu dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan-aturan agama. Watak ini menjadi salah satu kepribadian Bisri yang melekat di kemudian hari.
Sekitar usia 15 tahun, tiap bulan Ramadhan, Bisri mulai belajar ilmu agama di luar tanah kelahirannya, pada kedua tokoh agama yang terkenal pada waktu itu yaitu KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syu’aib Sarang Lasem.
Kemudian ia melanjutkan berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren inilah ia kemudian bertemu dengan Abdul Wahab Hasbullah, seorang yang kemudian menjadi kawan dekatnya hingga akhir hayat di samping sebagai kakak iparnya.
Lalu Bisri berguru kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Di pesantren itu, ia belajar selama 6 tahun. Ia memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama mulai dari kitab fiqih Al-Zubad hingga ke kitab-kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.
Gus Dur menilai literatur keagamaan yang dikuasai Kiai Bisri terasa terlalu bersifat sepihak karena lebih ditekankan pada literatur fiqih yang lama, tapi penguasaan itu memiliki intensitas luar biasa sehingga secara keseluruhan membentuk sebuah kebulatan yang matang dalam kepribadiannya dan pandangan hidupnya.
Pada tahun 1912 sampai 1913 Kiai Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Mekah bersama Abdul Wahab Hasbullah. Di kota suci itu, mereka belajar kepada Syekh Muhammad Bakir Syekh Muhammad Said Yamani Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Al-Maliki. Juga kepada guru-guru Kiai Haji Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Haji Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Tremas.
Mendirikan Pesantren Perempuan Sepulang dari Mekkah, Kiai Bisri mendirikan pesantren di Denanyar, Jombang. Pada tahun 1919 KH Bisri Syansuri membuat percobaan yang sangat menarik yaitu dengan mendirikan kelas untuk santri perempuan di pesantrennya. Para santri putri itu adalah anak tetangga sekitar yang diajar di beranda belakang rumahnya.
Menurut Gus Dur, langkah Kiai Bisri tersebut terbilang aneh di mata ulama pesantren, namun itu tidak luput dari pengamatan gurunya yaitu Kiai Hasyim Asy’ari yang datang di kemudian hari melihat langsung perkembangan kelas perempuan tersebut.
Meskipun tidak mendapatkan izin khusus dari Kiai Hasyim, Kiai Bisri tetap melanjutkan kelas perempuan tersebut karena sang guru juga tidak memberikan larangan. Bagi Gus Dur, ini adalah hal yang menarik. Sebab, ketika sahabat-sahabat karibnya saat di Mekkah mendirikan cabang Sarekat Islam, Kiai Bisri tidak ikut karena dia menunggu izin dari Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Namun ketika mendirikan kelas khusus perempuan dia tidak menunggu mendapatkannya.
Bagi Gus Dur ini adalah sebuah proses pematangan dalam fiqih Kiai Bisri yang di kemudian hari akan kelihatan, yang akan memantapkannya mengambil keputusan sendiri berdasarkan pemahaman fiqihnya juga tanpa harus kehilangan hormat kepada guru.
Memimpin NU dan Melawan RUU Perkawinan Orde Baru Setelah Kiai Abdul Wahab Hasbullah wafat, Rais Aam NU berada di pundak KH Bisri Syansuri pada tahun 1972, era mulai menguatnya pemerintahan Orde Baru. Tantangan besar yang pertama adalah munculnya sebuah Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang secara keseluruhan berwatak begitu jauh dari ketentuan-ketentuan hukum agama, sehingga tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya. Sangat menarik untuk diikuti bahwa proses perundingan dalam upaya menyetujui RUU tersebut agar menjadi Undang-Undang (UU) berlangsung sangat alot dan ketat.
Sebagian besar peserta yang terlibat dalam proses perundingan tersebut berasal dari NU yang berhadapan dengan unsur dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Hal ini menunjukkan, begitu besarnya pengaruh para ulama di dalam dan di luar PPP pada saat itu.
“Para jenderal yang saat itu memiliki nama dan wewenang yang cukup besar, seperti Soemitro, Daryatmo dan Soedomo harus berhadapan dengan Kiai Bisri yang terkenal tidak mengenal kompromi dan penganut penerapan Masa Perjuangan dan Perpolitikan KH. Bisri Syansuri fiqih secara ketat,” demikian tulis H. Abd. Aziz Masyhuri, dalam bukunya Al-Magfurlah KH. Bisri Syansuri, Cita-cita dan Pengabdiannya.
Kemudian, Kiai Bisri bersama kiai-kiai NU lain membuat RUU tandingan, di dalam buku KH Abdus Salam menjelaskan RUU itu dengan mengutip Andrée Feillard, dalam bukunya “Nu Vis-à-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.
Isi RUU Alternatif rancangan para ulama yang dimotori KH Bisri Syansuri, yang meliputi
Pertama, Perkawinan bagi orang muslim harus dilakukan secara keagamaan dan tidak secara sipil (pasal 2: NU berhasil memenangkan pendapatnya);
Kedua, masa ‘iddah, saat istri mendapatkan nafkah setelah diceraikan harus diperpendek. Pemerintah mengusulkan satu tahun, sedangkan NU minta tiga bulan karena menuntut seorang dari Muslimat, suami berhak rujuk kembali kepada istri selama masa ‘iddah itu. Tidak ada perkecualian diberlakukan bagi wanita usia lanjut.
Ketiga, pernikahan setelah kehamilan di luar nikah tidak diizinkan. NU cukup berhasil dalam arti definisi anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.
Keempat, pertunangan dilarang karena “dapat mendorong ke arah perzinahan. NU berhasil, pasal 13 ini dihapus.
Kelima, Anak angkat tidak memiliki hak yang sama dengan anak kandung. Dalam hal ini NU berhasil; pasal 42 mengatakan bahwa anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.
Keenam, penghapusan sebuah pasal dari rancangan undang-undang yang diajukan yang menyatakan bahwa perbedaan agama bukan halangan bagi perkawinan. Pasal 11 ini dihilangkan dan tidak disinggung.
Ketujuh, batas usia yang diperkenankan untuk menikah ditetapkan adalah 16 tahun, bukan 18 tahun bagi wanita 19 tahun bagi pria dan bukan 21 tahun. Pada pasal 7 ini, NU berhasil.
Kedelapan, penghapusan pasal mengenai pembagian rata harta bersama antara wanita dan pria karena dalam Islam “hasil usaha masing-masing suami atau istri secara sendiri-sendiri menjadi milik masing-masing yang mengusahakannya”. Pada pasal ini, NU berhasil.
Kesembilan, NU menolak larangan perkawinan antara dua orang yang memiliki hubungan sebagai anak angkat dan orang tua angkat atau anak-anak dari orang tua angkat. Pasal ini disempurnakan menjadi hubungan sebagai anak angkat tidak dilarang, tetapi disinggung pula soal hubungan persusuan.
Kesepuluh, NU menolak larangan melangsungkan perkawinan lagi antara suami-istri yang telah bercerai. Dalam pasal 10 ini, NU berhasil.
Perlawanan NU dalam RUU Perkawinan di awal Orde Baru tersebut tidak terlepas dari Kiai Bisri Syansuri ahli fiqih yang telah matang, bersama kiai-kiai NU lain.
Saya mau bertanya, apakah sah kalau saya menyerahkan zakat saya kepada seorang Habaib yang sekaligus guru saya?. Karena sering dikatakan dalam kajian Fiqih Zakat, bahwa Ahlul Bait Rasulullah Saw adalah golongan yang tidak bisa menerima zakat. Apa yang mendasari rumusan tersebut?. Terimakasih.
Zuhroh U, -Surabaya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan zakat kepada Ahlul Bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Saw) yang berasal dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib.
Pendapat pertama, menyatakan bahwa Ahlul Bait tidak sah menerima zakat dengan berdasarkan hadis:
إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتَ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ
“Sesungguhnya zakat ini adalah kotoran dari manusia. Dan sesungguhnya itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad,” (HR. Muslim).
إِنَّ لَكُمْ فِيْ خُمُسِ الْخُمُسِ مَا يُغْنِيْكُمْ
“Sesungguhnya bagi kalian (Ahlul Bait) mendapatkan dari Khumusul Khumus (seperlima dari lima bagian harta rampasan perang). Bagian yang telah mencukupi kalian,” (HR. Ibnu Abi Hatim).
Pendapat kedua, menyatakan bahwa Ahlul Bait dapat menerima zakat. Pendapat ini berargumen bahwa salah satu alasan Ahlul Bait tidak bisa menerima zakat adalah karena telah tercukupi dengan seperlima dari lima bagian harta rampasan perang (Ghanimah). Sementara untuk saat ini, tidak ada sediktpun hasil rampasan perang yang diserahkan kepada Ahlul Bait. Dengan demikian, memberikan zakat kepada mereka hukumnya sah. Pendapat ini pun dinyatakan oleh beberapa ulama besar madzhab Syafi’i seperti Imam Al-Ustukhry, Imam Al-Harowi dan diamalkan oleh Al-Fakhrur Rozi.
Namun sebagai catatan, syekh Ba’asyan pernah mengatakan demikian, “Sebaiknya bagi yang menyerahkan zakat kepada Ahlul Bait menjelaskan bahwa harta yang diberikan adalah bagian zakat. Sebab mungkin saja mereka menolak karena bersikap wirai atau hati-hati”.[]waAllahu a’lam
Referensi:
Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 106-107, cet. Al-Haromain.
Dulu rakyat Indonesia pernah bersatu melawan kesewenang-wenangan atas nama Negara… Melawan kekerasan atas nama Negara…
Ketika Allah mencintai mereka , niscaya Allah akan mengindahkan akhlak mereka, menghilangkan kejahatan dari jiwa mereka….. Lihatlah buktinya…. Apa yang ditampakkan Allah dari pribadinya…..????
SORBAN SANTRI- Misteri santri yang mematikan rokok di kepala korban kasus penganiayaan yang dilakukan Bahar bin Smith mulai terkuak. Korban Cahya Abdul Jabar yang dihadirkan sebagai saksi menunjuk santri yang melakukan aksi tersebut.
Cerita soal kepala dijadikan asbak memang dibahas dalam persidangan yang digelar Pengadilan Negeri (PN) Bandung di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Jalan Seram, Kota Bandung, Kamis (28/3/2019). Cahya merupakan korban yang kepalanya dijadikan asbak.
Cahya awalnya bercerita bahwa setelah penganiayaan, rambutnya yang panjang dan berwarna kuning seperti Bahar dicukur botak oleh santri.
“Atas perintah siapa digunduli?” tanya ketua majelis hakim Edison Muhammad.
“Habib Bahar,” jawab Cahya.
“Kok bisa tahu?” kata Edison.
“Habib Bahar menyuruh ke habib Agil (Agil Yahya/terdakwa kasus sama). Saya dengar,” jawab Cahya.
Cahya dan rekannya, Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi, lantas digunduli menggunakan gunting. Setelah digunduli, Cahya mengaku kepalanya dipakai untuk mematikan rokok.
“Setelah itu ada rokok sedikit dimatiinnya ke kepala saya,” kata Cahya.
“Rokok siapa?” ucap hakim.
“Rokok santri, tapi saya tidak tahu,” ujar Cahya.
“Bagaimana rasanya?” hakim bertanya.
“Panas,” kata Cahya.
“Kaki saja kalau menginjak rokok panasnya bukan main, apalagi kulit kepala,” ucap Edison.
Proses persidangan berlanjut. Tak lama, jaksa menayangkan video. Hakim sempat meminta untuk menyetop terlebih dahulu satu buah video yang memperlihatkan ada Cahya, Zaki dan seorang pria berpeci serta sarung dan mengenakan kaus gelap. Terlihat juga tato di bagian lengan kanan pria tersebut.
“Coba setop, setop. Kamu ingat enggak yang mematikan rokok yang mana?” tutur hakim.
“Iya,” ucap Cahya.
“Yang mana?” tanya hakim lagi.
“Yang bertato,” kata Cahya.
Sekarang….. Hari ini……. apakah rakyat mau berdiam atas kekerasan yang dilakukan segelintir manusia yang merasa dirinya paling suci???? Paling berkuasa di sorga kelak???? Haruskah rakyat diam ketakutan melihat anak kecil dianiya??? (RED)
SORBAN SANTRI- Teh yang digodok panas-panas tentu enak dan bikin semangat. Tapi tidak bagi KH Syukri Zarkasyi (Gontor) saat sowan ke kos-kosan Gus Dur dan Gus Mus.
Ketika kuliah di Kairo, Mesir, Gus Dur suka memelonco pendatang baru dari Tanah Air. Partnernya dalam ‘panitia perpeloncoan’ biasanya adalah KH Mustofa Bisri dari Rembang yang kini terkenal sebagai kiai-penyair.
Pada suatu hari KH Syukri Zarkasyi yang ketika itu pasti belum Kiai Haji —dan menurut Gus Dur “pekerjaannya di Kairo hanya main band tapi pulang-pulang jadi kiai”— bertamu ke tempat kos Gus Dur dan Gus Mus. Tentu saja disambut dengan penuh keramahtamahan. Dipersilakan duduk, saling menanyakan keselamatan, di-godog-kan air untuk membuat minuman teh dan seterusnya.
Hanya saja karena namanya saja tempat kos: kamar, dapur, dan ruang belajar ya jadi satu. Maka Gus Syukri melihat segala yang dilakukan oleh tuan rumahnya. Gus Mus mempersiapkan cangkir dan lepek sambil bertanya kepada Gus Dur, “Di mana lapnya tadi?”
KH Syukri Zarkasyi (Gontor)
Gus Dur berjalan ke sisi almari, mengambil “lap” yang ternyata adalah celana dalam alias sempak. Lalu Gus Dur memberikannya kepada Gus Mus dan diterima dengan wajah dingin, kemudian langsung dipakai untuk ngelap cangkir sambil mengobrol dengan Gus Syukri.
Merah-padamlah wajah calon kiai Gontor ini, sekaligus pucat-pasi. Ketika teh sudah tersuguhkan, mau tak mau ia meminumnya, meskipun perasaan dan lidahnya bercampur-aduk.
Sekian lama kemudian baru mereka bertiga tertawa cekakakan. “Cangkir harus dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, di antara kain-kain yang ada. Dan kain itu betul-betul gress dari toko, belum pernah dipakai sebagai sempak, karena itu belum bisa disebut sempak,” kata Gus Dur membela diri.
Dalam dunia santri, ngerjain atau memelonco sudah akrab dilakukan. Bukan semata-mata karena tujuan jail atau iseng, dibalik itu agar nantinya timbul keakraban yang selalu membekas bagi mereka.
Menurut Cak Nun ternyata Cerita tadi tidak hanya sekedar Jahil semata, ada makna filosofis yang sangat dalam dibaliknya.
Menurut Cak Nun’, Cerita Gus Dur di atas kita di ajak untuk melihat esensi, fungsi dan manfaatnya dalam menilai semua hal agar tidak tertipu dengan Bentuk dan identitas. Mengenai Sempak misalnya jika dilihat Bentuk dan identitasnya memang membuat kesan bahwa itu sesuatu yang Kotor (biasa digunakan di selangkangan kaskuser) padahal secara esensi dan fungsinya itu hanya kain yang difungsikan sebagai pembersih noda pada cangkir yang sebenarnya tak ada bedanya dengan kain lap pada umumnya (kain yang difungsikan sebagai alat pembersih). Kalau Pun Mengalami Kebingungan tentang suatu hal yang konteksnya identik dengan cerita gus dur tadi, itu adalah kebingungan budaya bukan kebingungan hakiki.
Kembali Menurut Cak Nun Ternyata Cerita itu sengaja di ceritakan langsung Oleh Gusdur kepada Cak Nun Untuk Mengerjainya ,karena Cak Nun adalah santri Gontor.
Coba Anda Bayangkan Bagaimana perasaan anda kalau Guru, ulama yang anda hormati atau idol anda dikerjain seperti Gus Dur mengerjai Kiai Gontor , mungkin itu bisa menggambarkan perasaan Cak Nun waktu itu.
Gus Dur memang terkenal Jahil bahkan dari sejak masih anak-anak. Pernah suatu ketika didalam forum pengajian yang dihadiri Gus Dur dan Cak Nun, ternya Gus Dur masih sempet-sempetnya Ngerjain Orang. korbaanya Tidak lain dan tidak bukan adalah Cak Nun sendiri.
Waktu Cak Nun Jamnya Mengisi Acara, Cak Nun kebingungan karena baju yang rencananya akan dipakai pada saat mengisi acara tiba-tiba hilang. sempat dicari kemana-mana tidak ketemu, akhirnya karena sudah waktunya tampil mau tidak mau akhirnya Cak Nun terpaksa naik Kepanggung menggunakan kaos seadanya. Setibanya di panggung ternyata baju yang tiba-tiba hilang tadi telah di pakai Gus Dur, dan dengan entengnya Gus Dur tanya, Cari Apa Cak? (abi sorban)
Sorban Santri – Ilmu dalam Islam, khususnya Fikih (tata cara berkaitan melakukan ibadah) ada yang di tataran permukaan dan ada pula lapisan dalamnya. Yang di permukaan terlihat kaku dan keras. Namun di bagian terdalam terlihat lentur dan fleksibel.
Misalnya, orang yang baru belajar bab najis akan berhadapan dengan berbagai bentuk najis dan macam-macam cara mensucikannya. Namun dalam kondisi tertentu saat kesulitan dan ketidakmampuan, misalnya najis telah merata dan sulit dihilangkan, maka Fikih Islam mengenal istilah Ma’fu Anhu atau ditolerir.
Bersuci menghilangkan Hadas besar dan kecil harus menggunakan air. Namun jika tidak menemukan air, atau ada air namun tidak dapat digunakan karena orangnya sakit -yang telah diberi tahu oleh dokter bahwa jika menggunakan air maka akan tambah parah atau sembuh semakin lama-, atau air digunakan untuk diminum dan sebagainya maka ada alternatif bersuci dengan tanah, disebut Tayammum.
Shalat berdiri hukumnya wajib. Namun dalam kondisi tertentu, misalnya sakit, maka Islam memperbolehkan shalat dengan cara duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring dan seterusnya.
Shalat juga memiliki hitungan jumlah dan waktu, tidak boleh dilakukan kurang atau di luar waktu shalat. Tapi ketika dalam keadaan bepergian yang jauh, atau berada dalam rumah sedang sakit, maka Islam memberi solusi shalat Qashar dan Jamak.
Puasa hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang sehat, mampu dan tidak sedang bepergian jauh. Namun jika ada kendala tertentu maka boleh tidak puasa namun wajib diganti di lain hari. Untuk sebagian orang tertentu malah cukup membayar fidyah 6 ons beras.
Makan bangkai, darah dan babi hukumnya haram. Namun bila tidak menemukan sama sekali makanan yang halal sementara jika tidak makan makanan haram menyebabkan pada kematian atau hampir mati, maka diperbolehkan sebatas terhindar dari mati. Artinya setelah menemukan yang halal maka tidak boleh mengkonsumsi makanan haram lagi.
Kok sepertinya dalam Islam banyak keringanan? Sebab Allah berfirman:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Islam itu agama yang mudah. Tidaklah seseorang melakukan ajaran agama dengan memaksakan diri di luar kemampuannya kecuali akan kembali kepada kemudahan. Lakukanlah dengan tengah-tengah dan mendekati pada kesempurnaan. Serta berilah kabar gembira” (HR Bukhari)
Sorban Santri – Siang itu saya mampir shalat di Masjid Manarul Islam Pucang, letaknya di tengah pasar Pucang. Karena kebanyakan takmirnya adalah pengurus NU di Kec. Gubeng dan mengenal saya maka saya dibawa ke kantor Takmir, Al-Hamdulillah disuguhi kopi susu (kalau ingin bercanda soal ini di kolom komentar saja).
Tiba-tiba ada salah satu takmir bercerita bahwa ada anggota Banser yang sudah lama “numpang hidup” di masjid sebagai marbot. Dan di luar jam shalat ia berkerja jadi tukang becak, hingga akhirnya menjadi cleaning servis di sebuah kantor. Pada acara tertentu juga menjadi scurity para kyai, Banser. Sampai usia 40an tahun tidak kunjung menikah. Ia mengalami musibah terjatuh di kamar mandi masjid, kemudian beberapa hari setelahnya wafat, tidak memiliki kerabat dan Ahli waris. Dan di lantai 2 tempat dia tidur memiliki banyak kitab.
Saya mengira cuma kitab-kitab anak pondokan yang standar seperti Al-Futuh (Fathul Qarib, Fathul Mu’in dan Fathul Wahhab) gitu. Begitu saya lihat subhanallah. Ini kitab koleksi para pakar Fikih dalam Bahtsul Masail (sebagian isinya ada di gambar bersamaan dengan fotonya).
Pengakuan dari Takmir yang dekat dengan almarhum, Mas Hamid ini setelah bekerja mendapatkan uang lalu dibelikan kitab ke kawasan Ampel. Saya pun menunduk malu. Anggota Banser dengan telaten membeli satu persatu kitab besar, sementara saya yang pernah aktif di Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim selama 10 tahun hanya mengandalkan kitab listrik di laptop dan tidak memiliki koleksi sebanyak itu.
Takmir pun meminta bagaimana cara menyalurkan kitab-kitab itu supaya bermanfaat. Saya janjikan bahwa akan saya distribusikan ke pondok-pondok yang aktif di Bahtsul Masail tapi masih kesulitan koleksi perpustakaan. Kalau seperti Pondok Lirboyo, Ploso, Sidogiri, Sarang, dan lainnya sudah tidak memerlukan. Jadi koleksi Mas Banser ini hampir sama dengan Pondok-pondok besar itu.
Begitu pulang ke rumah saya gelisah, gak enak tidur. Esoknya langsung saya datangi lagi. Saya catat satu persatu. Tanpa saya sadari dalam catatan itu ternyata oleh pemiliknya sudah ditata berdasarkan disiplin ilmu kitab. Rak atas berisi kitab-kitab Tafsir, seperti Tafsir Khozin, Tafsir Baidhawi, Tafsir Tsa’labi bahkan ada Tafsir Jailani.
Di rak kedua terkumpul kitab-kitab hadis. Mulai Musnad Ahmad, kitab-kitab Sunan, Al-Ausath karya Thabrani, Syarah Muslim Imam Nawawi, Mustadrak Al-Hakim, Sunan Kubra Al-Baihaqi hingga yang paling besar dan paling saya suka adalah Majma’ Az-Zawaid.
Rupanya, Mas Banser ini lebih senang kitab Fikih. Coba, beliau memiliki kitab Majmu’ yang terdiri dari 20 jilid, Al-Hawi Kabir karya Imam Mawardi juga 20 jilid. Syarah Minhaj ada semua, Mulai Tuhfah Imam Ibnu Hajar, Nihayat Imam Ramli dan Mughni Imam Khotib Syirbini. Tak cukup disitu, masih saya jumpai kitab Raddul Mukhtar Ibnu Abidin dari Madzhab Hanafi, juga Durar Al-Hukkam masih Madzhab Hanafi. Dari madzhab Malikiyah saya temukan kitab Zarqani dan Al-Iklil. Dan dari Madzhab Hambali ada kitab Ibnu Qudamah, Al-Mughni. Di samping rak kitab fikih ada kitab-kitab Tasawuf. Yang paling mengagumkan bagi saya beliau memiliki kitab Ithaf Syarah kitab Ihya’ setebal 10 jilid.
Di masa serba sulit saat ini, para dokter sedang bergelut melawan virus Corona, orang-orang dermawan menyalurkan bantuan kepada fakir-miskin, saya pun tidak bisa diam dan harus berbuat manfaat untuk terlibat menyiapkan calon-calon Ahli Fikih Moderat di masa mendatang. Tentu tetap menerapkan standar kesehatan, keluar pakai masker, jaga jarak dan selalu cuci tangan.
•] Al-Hamdulillah beberapa kitab besar sudah saya salurkan di area Surabaya, untuk luar kota in syaa Allah menggunakan jasa pengantar barang.