Tag: Sorban Santri NU

  • Anak Ranting NU Sumbersuko Pacet Bagi Sembako ke Warga Kurang Mampu

    Anak Ranting NU Sumbersuko Pacet Bagi Sembako ke Warga Kurang Mampu

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Sedikitnya 41 warga kurang mampu dusun Sumbersuko desa Sumberkembar Pacet merasa terbantu karena mendapat bantuan sembako dari pengurus Anak Ranting NU Sumbersuko.

    Gerakan sosial ini diinisiasi oleh pengurus anak ranting NU Sumbersuko Sumberkembar dan elemenya untuk menyikapi kondisi perekonomian warga dusunnya dibulan Ramadhan. Apalagi di tengah wabah pandemi virus corona.
    Bantuan sembako tersebut dananya bersumber dari iuran koin NU dusun Sumbersuko dan sebagian dari zakat mal salah satu warga. 

    Dari dana koin NU dapat dibelikan 30 paket sembako. Sementara zakat mal salah satu warga dirupakan 11 paket sembako. 

    Salah satu Tim koin NU Sumbersuko, Moh Syafiil Anam mengatakan, pengurus anak ranting NU dan tim koin NU Sumbersuko  ingin ikut andil dalam membantu warga kurang mampu terutama untuk mencari keberkahan di bulan ramadhan ini dengan slogan Dari NU, oleh NU dan Untuk NU. (Agus sekr)

  • INDAHNYA BERBAGI DIMASA PANDEMI COVID 19

    INDAHNYA BERBAGI DIMASA PANDEMI COVID 19

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Masyarakat Desa Kembangbelor Kecamatan Pacet merasa terbantu karena mendapat bantuan sembako dari pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Kembangbelor, (19/05/20).

    Gerakan sosial ini dimotori oleh pengurus ranting NU, Lazisnu Kembangbelor bersama umaro / Pemerintah Desa dalam menyikapi kondisi perekonomian warganya dibulan Ramadhan.

    Bantuan yang di berikan berupa sembako dan uang tunai, dana bersumber dari para agniya dan donatur masyarakat Desa Kembangbelor. Juga tak lupa andil koin NU Desa kembangbelor yang di prakarsai Lazisnu Desa Kembangbelor. Dari para donatur dan koin NU dapat dibelikan 60 paket sembako dan uang tunai.

    Bapak Kepala Desa Kembangbelor dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih banyak atas kepeduliannya pengurus NU dan Lazisnu terhadap warganya. Harapan beliau semua program yg bagus ini bisa di lanjutkan tahun yang akan datang.

    Salah satu Tim koin NU Ibu nyai Saodah, mengatakan, pengurus ranting NU dan tim koin NU ingin ikut andil dalam membantu warga kurang mampu terutama untuk mencari keberkahan di bulan ramadhan ini dengan slogan Idahnya berbagi untuk mencari Ridho Ilahi

    Sumber : San One Ni PR NU Kembangbelor.

  • Sudah Ibadah Kok Masih Dapat Ujian Hidup?

    Sudah Ibadah Kok Masih Dapat Ujian Hidup?

    SORBANSANTRI.COM

    Pada segmen akhir dari Kajian Ahlussunah wal Jamaah di TV9 ada pemirsa yang bertanya dari Kalimantan Barat bahwa ia sudah melakukan ibadah shalat namun mengapa masih mendapat ujian, baik ringan hingga berat?

    Di pesantren dahulu kita sudah diingatkan oleh para kyai dan guru dengan sebuah ayat:

    أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-`Ankabūt: 2)

    Mengapa kita yang sudah beribadah masih diuji? Imam Al-Qurthubi menyampaikan alasannya:

    ليتبين الصادق منهم والكاذب

    Agar menjadi jelas siapa yang benar-benar beribadah dan yang berpura-pura.

    Sehingga dijelaskan dalam beberapa hadis bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    ﺃﺷﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﺑﻼء اﻷﻧﺒﻴﺎء ﺛﻢ اﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻳُﺒْﺘَﻠﻰ اﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋﻠﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓﺈِﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﺻُﻠْﺒﺎً اﺷْﺘَﺪَّ ﺑَﻼﺅُﻩُ ﻭﺇﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﺭِﻗَّﺔٌ اﺑْﺘُﻠِﻲَ ﻋﻠﻰ ﻗَﺪْﺭِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﻤﺎ ﻳَﺒْﺮَﺡُ البلاء ﺑﺎﻟﻌَﺒْﺪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘْﺮُﻛَﻪُ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﻋﻠﻰ اﻷَﺭْﺽِ ﻭَﻣَﺎ ﻋﻠﻴﻪِ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٌ (ﺣﻢ ﺧَ ﻧ ﻫـ) ﻋﻦ ﺳﻌﺪ.

    “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang di bawahnya, kemudian di bawahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai tingkat agamanya. Jika keyakinan agamanya kuat maka berat pula ujiannya. Jika keyakinannya lemah maka sesuai dengan keyakinan agamanya. Ia akan terus diberi ujian hingga ujian sudah meninggalkan dia berjalan di atas bumi dalam keadaan tidak memiliki kesalahan” (HR Ahmad, Bukhari, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Sa’ad)

    Ibaratnya, tingkat kesulitan ujian hidup yang dialami kyai tidak sama dengan santri. Beban masalah yang dipikul konglomerat jauh lebih berat dari pada pekerja biasa. Dan seterusnya.

    Saat kita beribadah dan menemukan ujian hidup, musibah, problematika apapun jangan menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah.

    Oleh Ma’ruf Khozin

  • JANGAN SUUDZON KEPADA ULAMA YANG DEKAT PENGUASA

    JANGAN SUUDZON KEPADA ULAMA YANG DEKAT PENGUASA

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Boleh saja nyinyir kepada “ulama” yang dekat penguasa yang kedekatannya “terbukti” (bukan “terasumsi” atau “teropini”) membuatnya terjerumus kepada perbuatan nista. Memperjual beli agama. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menjadi stempel “halal” terhadap kezaliman penguasa.

    Memang, idealnya ulama merangkap sebagai umara dan sebaliknya. Akan tetapi sangat sedikit orang yang mempunyai dua kualitas itu sekaligus. Pemisahan kepemimpinan agama (ulama) dan politik (umara) disebabkan karena tidak semua ulama mempunyai kemampuan sebagai umara, dan tidak semua umara yang memiliki kualitas sebagai ulama. Pemisahan ini bukan berarti penghilangan fungsi ulama dan umara. Bukan juga penegasian satu sama lain.

    Hubungan ulama dan penguasa (umara) sangat dinamis. Namun, pada dasarnya, kepentingan ulama terhadap penguasa adalah agar ajaran agama bisa dijalankan selurus-lurusnya oleh penguasa. Mengawal umara supaya menjalani pemerintahan dengan adil dan beradab. Ulama juga berkepentingan menjaga kemaslahatan umat disampaikan oleh penguasa.

    Sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Lathaiful Minan, setiap zaman selalu ada ulama waliyullah yang dimuliakan oleh penguasa di zamannya. Para penguasa itu mentaati dan mematuhi ulama waliyullah di zamannya, Ada lagi ulama waliyullah yang hilir mudik di tempat penguasa dan pejabat untuk memenuhi kebutuhan para hamba.

    Orang-orang awam nyinyir, “seandainya dia ulama waliyullah tentu tidak hilir mudik di tempat penguasa dunia.” Tentu saja pandangan seperti itu keliru, kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah, jangan lihat hilir mudiknya di tempat penguasa, namun lihatlah bagaimana sikapnya. Jika ia datang ke tempat penguasa demi kepentingan para hamba Allah, untuk melenyapkan kesulitan mereka, menjadi penghubung bagi mereka,…serta tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kebiasaanya itu tidak menurunkan kehormatannya.

    Tentang Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy, Syaikh al-Imam Taqiyuddin Muhammad bin Ali al-Qusyairi mengatakan: “Orang-orang dan para pejabat tidak mengetahui kedudukan Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy karena ia sering hilir mudik di tempat mereka guna membantu para hamba.”

    Syaikh Ibnu ‘Athaillah menceritakan di dalam kitab Lathiful Minan. Suatu ketika Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy waktu di Iskandaria, memanggil seorang dokter Yahudi untuk mengobati seseorang. Tetapi dokter Yahudi menolak sebelum mendapat izin dari yang yang berwenang. Ada aturan dari pemerintah, dokter tidak boleh mengobati kecuali ada izin dari kepala dokter di Kairo.

    Lalu Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy berangkat ke Kairo meminta izin untuk dokter Yahudi. Setelah mendapat izin, ia langsung pulang tanpa menginap. Lalu memberi surat izin kepadanya. Dokter Yahudi terkesima dan sangat kagum dengan keluhuran akhlak Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy.

    Hilir mudik ulama waliyullah di tempat penguasa dalam rangka mengurus kebutuhan umat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berakhlah tinggi. Mereka mengorbankan dan menghinakan dirinya demi meraih ridla Allah. Mereka mengetahui luasnya rahmat Allah. Dengan rahmat Allah mereka memperlakukan hamba Allah.

    Oleh Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

  • Al-Quran Terbitan PBNU (Bagian I)

    Al-Quran Terbitan PBNU (Bagian I)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBANSANTRI.COM

    Syukur kehadirat Allah yang tak terhingga saat Lembaga Ta’lif wa Nasyr (Infokom) PBNU berhasil menerbitkan Mushaf Al-Qur’an yang diberi nama Ar-Risalah. Beberapa bulan lalu Ketua LTN PBNU Cak Hari Usmayadi Cak Usma meminta untuk dituliskan beberapa dalil Amaliah NU seputar tema-tema yang berkaitan dengan Al-Qur’an. In syaa Allah meliputi:

    1. Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
    2. Al-Qur’an Sebagai Penolong di Akhirat
    3. 1 Huruf Al-Qur’an Berpahala 10 Kebaikan
    4. Pahala Mendengarkan (Semaan) Al-Qur’an
    5. Doa Khatam Al-Qur’an
    6. Membaca Al-Qur’an di Makam
    7. Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an
    8. Pengajian Diawali Bacaan Al-Qur’an
    9. Al-Qur’an Sebagai Doa Ruqyah (Pengobatan)
    10. Keutamaan Sebagian Surat Al-Qur’an:
    • Surat Al-Kahfi
    • Surat Tabarak
    • Surat Al-Waqiah
    • Surat Al-fatihah
    • Surat Yasin di Malam Jum’at

    Sumber : Ma’ruf Khozin

  • Apa Istimewanya Al-Qur’an Terbitan PBNU? (Bagian II)

    Apa Istimewanya Al-Qur’an Terbitan PBNU? (Bagian II)

    SORBANSANTRI.COM

    Begini kawan, saya termasuk orang yang berfikiran out of the box (mboten semerap terjemahan yang pas). Intinya kalau Al-Qur’an terbitan PBNU ini sama persis dengan yang sudah ada di pasaran maka saya tidak akan repot-repot memberi rekomendasi. Sebab kepala saya masih agak pening. Tapi untuk yang 1 ini saya abaikan sementara dan semoga tidak kambuh (kebetulan stok obat migrain dan vertigo masih banyak dan saya tulis sebelum imsak).

    Keistimewaan Mushaf Ar-Risalah PBNU ini adalah:

    1. Jelas nama besar NU. Mayoritas pembaca Al-Qur’an di negeri kita adalah warga Nahdliyyin.
    2. Grafisnya itu lho. Indonesia bangets pokoknya. Ada motif batiknya. Ada unsur Serambi Makkah, Aceh. Juga batu nisan Sultan Malikussaleh (cocok bagi para pecinta ziarah kubur). Tak ketinggalan motif bunga-bunga, termasuk yang Khas Kalimantan yaitu kembang Kenanga.
    3. Ada petunjuk dalil-dalil hadis seputar mengamalkan surat-surat tertentu dalam Al-Qur’an. Sekaligus memberi bantahan kepada Salafi yang menuduh bahwa Qur’an-nya orang-orang NU cuma Yasin saja. Kata mereka: “Buktinya yang mereka baca saat Tahlilan dan ziarah kubur cuma Yasin saja”. Ternyata yang dicetak PBNU adalah 114 Surat.

    Sumber : Ma’ruf Khozin