Tag: sorbansantri

  • SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    InfokomBanserNU- Snouck Hurgronje adalah mata2 imperialisme Belanda. Ia disusupkan utk menghancurkan kekuatan kaum pejuang yg mayoritas beragama Islam. Mengapa rakyat Indonesia sulit ditaklukkan?

    Snouck menemukan jawabannya. Tak lain dan tak bukan, kekuatan itu terletak pada semangat agamanya. Agama yang mengajarkan utk mencintai tanah air. Agama yg menyuntikkan dimensi jihad utk mengusir segala bentuk kolonialisme.

    Lalu Snouck mempelajar Islam. Budaya Islam. Tradisi Islam. Bahkan detail2 etos spiritualitas yg membuat bangsa Indonesia begitu gigih berjuang.

    Bukan berhenti di situ. Snouck pun mempelajari pangkal utama ajaran agama tsb. Ia hafal Al-Quran 30 juz. Ia juga mempelajari kitab2 hadits yg mu’tabarah, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kutubus sittah lainnya. Bahkan, Snouck hafal sebagian besar hadits2 tsb di luar kepala.

    Lalu apa tujuan Snouck? Tak lain adalah utk menghancurkan Islam dari dalam. Tanpa menafikan kekuatan dan perjuangan agama lain, tapi dengan menggerogoti kekuatan Islam, maka perjuangan rakyat Indonesia terhadap kolonial Belanda relatif akan lemah, dan akan mudah dihancurkan.

    Inilah yg disebut orientalisme. Mempelajari Islam bkn utk mendapatkan hidayah, melainkan utk menghancurkannya. Dengan begitu, menguasai Nusantara hanya soal waktu saja. Nusantara, akan dg mudah dikuasai.

    Zaman berubah musim pun berganti..

    Sekarang terbitlah Felix Siauw, sang muallaf yg baru sekitar th 2002 memeluk Islam. Felix tdk perlu menghafalkan Al quran dan mempelajari hadits scr detail layaknya Snouck. Itu butuh waktu lama.

    Dengan kemampuannya mengolah kata, Felix ibarat mercusuar. Ia segera mendapatkan simpati dan pengikut yg relatif banyak dari kalangan generasi muda islam berusia tanggung, anak2 muda yg blm mengenal banyak hal tentang agama. Anak remaja yg msh labil dan mencari jati diri.

    Tidak perlu waktu lama, Felix segera menjadi tokoh penting di lingkungan HTI. Ia pun segera memulai menjalankan misi propaganda pecah belah. Ia gelorakan ide khilafah yg sangat gila dan paling tdk masuk akal itu.

    Laju gerakan Felix seperti tak terbendung. Ia segera mengkampanyekan bhw nasionalisme itu tdk ada dalil dan dasarnya dlm Islam.

    Mafhum mukhalafahnya adalah, mencintai tanah air itu tdk penting. Yang penting adalah islam. Padahal negeri ini didirikan berdasarkan kesepakatan segenap komponen bangsa dan agama yg beragam. Semua bersatu dlm satu ikatan Nasional, Indonesia..!

    Sepintas gagasan itu benar. Tapi sangat menipu dan penuh kamuflase. Bagaimana dpt menegakkan Islam jika negara (state) dan bangsa (nation) hancur berantakan? Padahal Imam Al-Ghazsli pernah menyebut, pemerintahan negara dan misi kenabian ibarat saudara kembar.

    Saya yakin, Felix tahu persis, bhw jika Pancasila diganti, dan sistem khilafah berdiri di bumi Nusantara, maka sekeping tanah surga yg bernama Indonesia akan berubah menjadi neraka. Perang saudara akan terjadi. Papua, Makasar, Bali, Aceh, dst, akan segera memproklamasikan diri lepas dari Indonesia. Dan di atas pangkuan ibu pertiwi, akan menjadi ladang pembantaian. Sesama anak negeri akan saling memangsa..!

    Indonesia negeri damai, yg didirikan oleh para founding fathers dg genangan darah dan air mata, akan terkoyak dlm kepingan2 kecil. Indonesia pun, akan menjelma seperti kawasan Syiria, Irak, Afganistan, dan libiya, yg tak pernah bisa tidur dg nyenyak, dan tak sempat membangun mimpi masa depan, karena di daratan dan udara, terdengar desing peluru dan mesiu yg memekakkan telinga.

    Dengan begitu, ide2 Felix adalah mesin penghancur terhadap pemikiran para founding fathers negeri ini. Dasar2 keagamaan para ulama dan cendekiawan muslim, seperti Qurays Sihab, Gus Mus, Cak Nur, dicampakkan begitu saja.

    Sebagai seorang muallaf, Felix telah melampaui batas dan kapasitas intelektual pas-pasan yg ia miliki. Melalui medan dakwah, ia suntikkan virus perpecahan, benih2 anti nasionalisme, dst.

    Dengan congkak ia berani mengibaratkan pemerintahan Jokowi sbg rezim Firaun yg membunuh anak laki2, lantaran Jokowi menerbitkan Perppu Ormas, Felix telah memecah belah elemen bangsa, dan sesama umat.

    Pertanyaan besarnya adalah, misi apa gerangan yg dibawa Felix?

    Sama halnya misi Snouck Hurgronje yg baru diketahui 100 tahun kemudian, maka misi mendasar dari Felix tdk mudah utk diketahui saat ini. Tapi 100 tahun di kemudian hari, ketika keutuhan NKRI berhasil dicabik-cabik, ktk seluruh anak bangsa hanya bisa meratapi kekonyolannya, maka barulah sejarah akan mengetahui itu.

    Benturan antar peradaban seperti disinyalir oleh Huntington, bkn isapan jempol belaka. Itu memang nyata. Dan Indonesia, yg memiliki potensi kekuatan besar dunia setelah Cina, menjadi sasaran utama penghancuran.

    Apakah Felix adalah Snouck Hurgronje dalam wujud yg beda? Entahlah.. Yang jelas, para pemilik suara lantang ‘anti china’ sangat ditunggu teriakan lantangnya ‘anti felix’.
    Mungkinkah itu terjadi?

    Wallahu A’lam..

  • TITIP PESAN UNTUK GP ANSOR KEC. PACET KEDEPAN

    TITIP PESAN UNTUK GP ANSOR KEC. PACET KEDEPAN

    Oleh imron rosyadi
    MENJAGA KESEIMBANGAN OLAH FIKIR DAN OLAH RAGA

    sorbanpeduli.com – Di era 2000 an, awal2 saya pulang ke kampung halaman, masih ingat betul di benak saya, kala itu ada konfrensi ancab gp Ansor Pacet di balai desa Pacet, beberapa hari sebelumnya beberapa senior gp Ansor, salah satunya almarhum Cak jito biasa dipanggil begitu, mendorong saya untuk maju bursa ketua PAC. Waktu itu juga nama saya tercatat di salah satu lembaga GP Ansor PC mojokerto, pernah mengikuti beberapa kali rapat koordinasi di PC, waktu itu ber home base di RSI sakinah.

    Waktu itu ada ke sedikit keinginan juga ingin mengabdikan ke PAC, sempat datang di Acara konfrensi itu, namun tidak masuk ke arena, karena bila masuk ke arena sama juga kami meng- iyakan diri bersedia maju bursa ketua PAC.
    Sebab setelah kami pertimbangkan dan berduskusi dg teman2 dekat kami, kala itu sangat tidak tepat timing nya bila bila berada di arena strategis GP Ansor. Karena kala itu kami menjadi ketua PAC PKB, sangat tidak mendidik bila merangkap jabatan, apalagi jabatan politis, meski PKB era itu terasa sebaga “banomnya NU”. Yg kedua, era itu adalah era olah fisik, yg lebih mengedepankan ke Banser an, nama GP Ansor, seakan tenggelam menjadi banomnya Banser. Kala itu Banser Mojokerto sangat terkenal secara Nasional dari sisi kualitas apalagi kuantitasnya, yg mengantarkan kader Ansor Mojokerto cak Muhid sebagai Satkorwil di era cak Rofik lalu Satkornas di era Ansor nya Gus Ipul, semoga saya tidak salah.

    Maka bila hari ini kita masih menemui kader-kader ansor senior kadang-kadang lemah dalam menempatkan posisi Banser, kita tidak bisa menyalahkan beliau-beliau itu, seperti kejadian Tempo hari.
    Diantara kelebihan GP Ansor masa lalu yg tangguh dalam olah fisik, punya sisi ketidak tangguhan dalam olah fikir.
    Bagaimanapun juga beliau2 adalah bagian dari tali sejarah, yg menjadikan Pacet tidak pernah jeda selalu punya kader Banser (Ansor). Yang Alhamdulillah sambung sampai hari ini dengan eranya Banser muda seperti
    Sahabat Ibad, Nuril, ngateno, #menolak duduk eh tunduk dkk.

    Sejarah masa lalu menjadi pelajaran bagi kader-kader Ansor masa kini, utamanya pengurus baru PAC Pacet. Olah fisik/ olah raga dg indikator kegiatan ke”banser” an yg dinamis, yg selalu siap menjaga kyai sampai mati dan banser akan masuk syurga lebih dulu kata Gus muwafiq, idealnya harus diimbangi dg olah fikir yg dpt diukur dg kegiatan Ansor, yg sarat dg forum2 diskusi, dialog kritis, pelatihan2 resmi n rutin n wajib semacam PKD dan jenjang atasnya, entah apa namanya sekarang, maupun pelatihan ke profesian semacam Wira usaha dsb. Warnai kabinet anda kedepan dg sahabat2 dari banyak kalangab, ada pengusaha muda, PNS muda, dosen muda, ajak semua bersinergi membangun Ansor yg hebat, seimbang olah fikir dan olah fisiknya

    Akhirnya selamat bekerja sahabat2 pengurus GP Ansor Pacet yg baru. JAS MERAH.. jangan melupakan sejarah… apalagi JAS IJO jangan melupakan cari bojo. (abi sorban)

  • SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    SEBELAS DUA BELAS ANTARA FELIX DAN MATA-MATA IMPERIALISME BELANDA

    Snouck Hurgronje adalah mata2 imperialisme Belanda. Ia disusupkan utk menghancurkan kekuatan kaum pejuang yg mayoritas beragama Islam. Mengapa rakyat Indonesia sulit ditaklukkan?

    Snouck menemukan jawabannya. Tak lain dan tak bukan, kekuatan itu terletak pada semangat agamanya. Agama yang mengajarkan utk mencintai tanah air. Agama yg menyuntikkan dimensi jihad utk mengusir segala bentuk kolonialisme.

    Lalu Snouck mempelajar Islam. Budaya Islam. Tradisi Islam. Bahkan detail2 etos spiritualitas yg membuat bangsa Indonesia begitu gigih berjuang.

    Bukan berhenti di situ. Snouck pun mempelajari pangkal utama ajaran agama tsb. Ia hafal Al-Quran 30 juz. Ia juga mempelajari kitab2 hadits yg mu’tabarah, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kutubus sittah lainnya. Bahkan, Snouck hafal sebagian besar hadits2 tsb di luar kepala.

    Lalu apa tujuan Snouck? Tak lain adalah utk menghancurkan Islam dari dalam. Tanpa menafikan kekuatan dan perjuangan agama lain, tapi dengan menggerogoti kekuatan Islam, maka perjuangan rakyat Indonesia terhadap kolonial Belanda relatif akan lemah, dan akan mudah dihancurkan.

    Inilah yg disebut orientalisme. Mempelajari Islam bkn utk mendapatkan hidayah, melainkan utk menghancurkannya. Dengan begitu, menguasai Nusantara hanya soal waktu saja. Nusantara, akan dg mudah dikuasai.

    Zaman berubah musim pun berganti..

    Sekarang terbitlah Felix Siauw, sang muallaf yg baru sekitar th 2002 memeluk Islam. Felix tdk perlu menghafalkan Al quran dan mempelajari hadits scr detail layaknya Snouck. Itu butuh waktu lama.

    Dengan kemampuannya mengolah kata, Felix ibarat mercusuar. Ia segera mendapatkan simpati dan pengikut yg relatif banyak dari kalangan generasi muda islam berusia tanggung, anak2 muda yg blm mengenal banyak hal tentang agama. Anak remaja yg msh labil dan mencari jati diri.

    Tidak perlu waktu lama, Felix segera menjadi tokoh penting di lingkungan HTI. Ia pun segera memulai menjalankan misi propaganda pecah belah. Ia gelorakan ide khilafah yg sangat gila dan paling tdk masuk akal itu.

    Laju gerakan Felix seperti tak terbendung. Ia segera mengkampanyekan bhw nasionalisme itu tdk ada dalil dan dasarnya dlm Islam.

    Mafhum mukhalafahnya adalah, mencintai tanah air itu tdk penting. Yang penting adalah islam. Padahal negeri ini didirikan berdasarkan kesepakatan segenap komponen bangsa dan agama yg beragam. Semua bersatu dlm satu ikatan Nasional, Indonesia..!

    Sepintas gagasan itu benar. Tapi sangat menipu dan penuh kamuflase. Bagaimana dpt menegakkan Islam jika negara (state) dan bangsa (nation) hancur berantakan? Padahal Imam Al-Ghazsli pernah menyebut, pemerintahan negara dan misi kenabian ibarat saudara kembar.

    Saya yakin, Felix tahu persis, bhw jika Pancasila diganti, dan sistem khilafah berdiri di bumi Nusantara, maka sekeping tanah surga yg bernama Indonesia akan berubah menjadi neraka. Perang saudara akan terjadi. Papua, Makasar, Bali, Aceh, dst, akan segera memproklamasikan diri lepas dari Indonesia. Dan di atas pangkuan ibu pertiwi, akan menjadi ladang pembantaian. Sesama anak negeri akan saling memangsa..!

    Indonesia negeri damai, yg didirikan oleh para founding fathers dg genangan darah dan air mata, akan terkoyak dlm kepingan2 kecil. Indonesia pun, akan menjelma seperti kawasan Syiria, Irak, Afganistan, dan libiya, yg tak pernah bisa tidur dg nyenyak, dan tak sempat membangun mimpi masa depan, karena di daratan dan udara, terdengar desing peluru dan mesiu yg memekakkan telinga.

    Dengan begitu, ide2 Felix adalah mesin penghancur terhadap pemikiran para founding fathers negeri ini. Dasar2 keagamaan para ulama dan cendekiawan muslim, seperti Qurays Sihab, Gus Mus, Cak Nur, dicampakkan begitu saja.

    Sebagai seorang muallaf, Felix telah melampaui batas dan kapasitas intelektual pas-pasan yg ia miliki. Melalui medan dakwah, ia suntikkan virus perpecahan, benih2 anti nasionalisme, dst.

    Dengan congkak ia berani mengibaratkan pemerintahan Jokowi sbg rezim Firaun yg membunuh anak laki2, lantaran Jokowi menerbitkan Perppu Ormas, Felix telah memecah belah elemen bangsa, dan sesama umat.

    Pertanyaan besarnya adalah, misi apa gerangan yg dibawa Felix?

    Sama halnya misi Snouck Hurgronje yg baru diketahui 100 tahun kemudian, maka misi mendasar dari Felix tdk mudah utk diketahui saat ini. Tapi 100 tahun di kemudian hari, ketika keutuhan NKRI berhasil dicabik-cabik, ktk seluruh anak bangsa hanya bisa meratapi kekonyolannya, maka barulah sejarah akan mengetahui itu.

    Benturan antar peradaban seperti disinyalir oleh Huntington, bkn isapan jempol belaka. Itu memang nyata. Dan Indonesia, yg memiliki potensi kekuatan besar dunia setelah Cina, menjadi sasaran utama penghancuran.

    Apakah Felix adalah Snouck Hurgronje dalam wujud yg beda? Entahlah.. Yang jelas, para pemilik suara lantang ‘anti china’ sangat ditunggu teriakan lantangnya ‘anti felix’.
    Mungkinkah itu terjadi?

    Wallahu A’lam..

  • Mereka Yang Menyimpang dari Ahlusunnah Waljamaah

    Mereka Yang Menyimpang dari Ahlusunnah Waljamaah

    Cyberaswaja.online| Sooko, Pada seminar Nasional dengan tema mengungkap Fakta pemalsuan, penyisipan dan penyelewengan kitab kitab Ulama Ahlusunnah waljamaah yang diselenggarakan oleh Yayasan Syahama bekerjasama dengan lembaga lembaga PCNU Kab. Mojokerto, H. Muhyidin Fatah, MA menyampaikan bahwa menjadi golongan Ahlusunnah wal jamaah merupakan anugerah yang patut disyukuri. Sebab golongan ini merupakan amanat dari hadis hadis Nabi yang bertebaran dalam berbagai riwayat. Dan juga merupakan golongan yang mayoritas dan para ulama telah bersepakat dengan keyakinan dari ahlusunnah waljamaah sendiri. Ia tidak mungkin sesat, sebab ia diikuti banyak ulama. Dan tidak mungkin mayoritas ulama bersepakat dalam kesesatan.

    FOTO: KETUA PC NU KAB.MOJOKERTO BESERTA JAJARAN PADA SEMINAR NASIONAL ASWAJA
    FOTO: KETUA PC NU Kab.Mojokerto bersama Pengurus dan Pantia 

    Faham-faham yang bersebrangan dengan Ahlusunnah Waljamaah itu, kata Ustad Muhyidin Fattah “seperti penyakit anjing gila. Yang menular cepat ke otak otak manusia. Dan betapa sulitnya menyadarkan orang orang yang terkena penyakit ini”.

    Diantara golongan yang menyimpang adalah kaum mujasimah yang menyatakan Allah itu berjisim. Mereka katakan Allah itu berjarak dan berukuran. Dan betapa sesatnya keyakinan ini.

    Faham-faham yang menyimpang itu sesungguhnya dimulai ketika Islam menyerang ke berbagai wilayah. Dan banyak diantara penduduk suatu wilayah itu yang kemudian masuk Islam. Tetapi orang orang mereka masih membawa keyakinannya. Dan diperparah lagi dengan lemahnya penguasaan bahasa Arab, sehingga ajaran Islam menjadi salah dipahami.

    Banyak faham faham menyimpang ini kemudian berkembang, bahkan menjadi gerakan gerakan masif. Gerakannya pun tak sekadar mengembangkan massanya tetapi juga menyelewengkan kitab-kitab Ahlusunnah Waljamaah. Dan dalam buku yang ditulis oleh Ustad Muhyidin Fattah MA, banyak mengungkap penyelewengan-penyelewengan itu dari berbagai kitab yang diterbitkan oleh penerbit penerbit wahabi.

    Sementara itu, KH. Maruf Khozin, Direktur Aswaja Center Jawa Timur menyampaikan “meskipun ada upaya upaya penghilangan jejak sejarah peran ulama salaf dan kehidupan salaf masa lalu dengan ragam tradisinya, tetapi bukti bukti sejarah ulama di masa silam tidak dapat dihilangkan begitu saja”.

    KH. Maruf Khozin mencontohkan makam para ulama yang memiliki kubah masa lalu di baqi. Beliau mengutip dawuh Al Hafidz Adz-Dzahabi:

    ﻭَﻣَﺎﺕَ ﺳَﻨَﺔَ اﺛْﻨَﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﻭَﺩُﻓِﻦَ ﺑِﺎﻟﺒَﻘِﻴْﻊِ. ﻭَﻋﻠَﻰ ﻗَﺒْﺮِﻩِ اﻟﻴَﻮْﻡَ ﻗﺒﺔ ﻋﻈﻴﻤﺔ ﻣِﻦْ ﺑِﻨَﺎءِ ﺧُﻠَﻔَﺎءِ ﺁﻝِ اﻟﻌَﺒَّﺎﺱِ.

    Abbas bin Abdul Muthalib wafat pada 32 H. Dishalati oleh Utsman dan dimakamkan di Baqi’. Di atasnya ada Kubah besar yang dibangun oleh Para Khalifah Bani Abbasiyah (Siyar A’lam An-Nubala’ 3/401)

    Pentahqiq kitab tersebut yakni syekh Syuaib Al Arnauth menyatakan:

    هذا كان في عصر المؤلف أما الآن فلم يبق لها أثر

    “Kubah ini ada di masa Adz-Dzahabi (748 H). Sekarang sudah tidak ada bekasnya”

    Apakah makam yang dibangun dan memiliki kubah tidak sesuai dengan tuntutan Islam? KH. Khozin mengutip pendapat Syekh Sulaiman Al-Jamal:

    ﻭَﻣَﺤَﻞُّ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ اﻟْﻤَﻴِّﺖُ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ اﻟﺼَّﻼَﺡِ ﻭَﻣِﻦْ ﺛَﻢَّ ﺟَﺎﺯَﺕْ اﻟْﻮَﺻِﻴَّﺔُ ﺑِﻌِﻤَﺎﺭَﺓِ ﻗﺒﻮﺭ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻟِﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺇﺣْﻴَﺎءِ اﻟﺰِّﻳَﺎﺭَﺓِ ﻭَاﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙِ اﻩـ. ﺣ ﻟ

    “Larangan membangun kuburan itu selama mayitnya bukan ulama. Jika makam ulama maka boleh wasiat membangun kuburan ulama, sebab hal itu dapat menghidupkan ziarah kubur dan mencari berkah dari Allah -Alhalabi-“ (Hasyiah Al Jamal 2/207)

    Selanjutnya KH. Maruf Khozin menyorot makam Nabi Muhammad yang pernah pula hendak dihancurkan kaum wahabi. Tetapi beruntung atas jasa KH. Wahab Hasbullah makam Nabi Muhammad masih ada dan seluruh umat Islam bisa berziarah di makam beliau. (Isno)

    penulis : ISNO

    editor : Infokom

  • MUKTAMAR NU KE-14 DI MAGELANG

    MUKTAMAR NU KE-14 DI MAGELANG

    SORBANSANTRI.COM

    Kemandirian organisasi kaum sarungan

    Selalu ada sisi menarik dari perjalanan organisasi NU. Ketika Muktamar NU ke-13 dilaksanakan di Menes, Banten tahun 1938, diputuskan bahwa Muktamar selanjutnya akan digelar di Magelang pada tahun berikutnya. Muktamar NU pada zaman itu memang dilaksanakan setiap tahun.

    Yang menarik, pengambilan tempat di Magelang menjadi aneh karena saat diputuskan, di Magelang belum terbentuk kepengurusan NU. Terlebih lagi, Magelang dikenal pusat konsentrasi penyebaran Kristen di tanah Jawa. Setelah penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang yang menandai berakhirnya Java Oorlog (perang Jawa), diketahui banyak ulama yang pindah dari wilayah Bagelen itu. Pindahnya para ulama dan kyai dari Magelang tentu membuat api Islam meredup. Sebaliknya penyebaran agama Nasrani semakin pesat.

    Dalam buku Berangkat Dari Pesantren, KH. Saifudin Zuhri menyebutkan, usulan Magelang sebagai lokasi pertemuan akbar NU se-Hindia Belanda dilakukan oleh RH Muhtar, Konsul NU Banyumas. Saat menyampaikan usulan, beliau tidak menyebutkan bahwa di Magelang belum ada pengurus NU. Seandainya kondisi itu disampaikan, tentu ditolak muktamirin.

    Sebagai konsekwensi usulannya, Konsul NU Banyumas atau Jawa Tengah bagian Selatan, segera turun meratakan jalan menuju muktamar Magelang. Satu persatu para Ulama didatangi dengan dibantu ketua NU Cabang Purworejo dan Temanggung. Dengan mendekati para tokoh yang ternyata masih keturunan orang-orang yang pernah berjuang bersama Diponegoro, usaha itu membuahkan hasil.

    Hasilnya, organisasi NU Magelang dibentuk pada bulan Mei 1939, atau 3 bulan sebelum pelaksanaan Muktamar. Tulang punggung berdirinya NU disana adalah Kyai R Hadi Alwi dan KH Fathoni dari pesantren Tonoboyo. Ada juga nama H Kodri yang menjabat lurah Kauman Magelang dan anaknya, Abdulwahab, seorang pengusaha. Di samping itu terdapat KH Baidlowi, imam Masjid Jami’ Magelang dan Kyai Moh Siraj, guru ngaji di Wates. Mereka mendapat dukungan dari Mbah Dalhar dari pesantren Watucongol.

    Berkat perjuangan mereka, gairah umat Islam bisa dibangkitkan. Beberapa hari sebelum pelaksanaan, sumbangan berupa barang dan bahan makanan berdatangan. Rakyat memikul beras, sayuran, kayu bakar, menuntun kambing atau membawa beberapa ekor ayam mendatangi panitia muktamar di Hotel Semarang yang lokasinya ada di kampung Pacinan Magelang. Seluruh sumbangan itu kemudian dibacakan dalam pembukaan muktamar.

    Muktamar itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 1-7 Juli dengan peserta sebanyak 358 utusan syuriah, 123 tanfidziyah, dan 33 perwakilan barisan ansor NU. Pembukaan dilakukan dengan dihadiri oleh 2000 orang dari peserta, tamu undangan dan panitia. Undangan yang datang antara lain dari perwakilan Muhammadiyah, Jong Islaminten Bond (JIB), GIA, PII, Wal Fajri Jogja dan lain-lain.

    Keputusan penting yang dihasilkan adalah rekomendasi yang mendesak agar aturan guru (guru ordonansi) 1925 dicabut dan juga menghapus subsidi pemerintah Hindia Belanda kepada semua agama. Kebijakan ordonansi guru, semacam sertifikasi oleh pemerintah kolonial memang merugikan lembaga pendidikan milik NU. Karena kebanyakan gurunya lukisan pesantren yang tidak memiliki ijazah formal. Mereka yang tidak memiliki ijazah formal yang disertifikasi tidak boleh melakukan kegiatan mengajar. Sementara subsidi pendidikan juga senada, dimana yang banyak dibantu adalah lembaga pendidikan non-muslim. Keputusan bidang organisasi adalah mengesahkan Pandu NU, Muslimat, dan departeman Ma’arif yang dipimpin oleh KH Wahid Hasyim.

    Hasil keputusan lain yang ditetapkan adalah mengenai kedudukan penghulu, masalah pembacaan qunut Nazilah, soal sembahyang dalam perjalanan kereta api serta masalah hukum agama lainnya. Ikut dibahas pula persoalan pemisahan tanah makam bagi orang muslim dan non muslim.

    Masalah luar negeri juga ikut dibicarakan, yaitu soal bantuan dan penggalangan dana bagi perjuangan Palestina. Termasuk menjadi topik diskusi adalah soal import barang dari Jepang yang saat itu sedang melakukan ekspansi dagang dengan sistem dumping.

    Muktamar kemudian ditutup dalam sebuah rapat umum di Lapangan Tidar Magelang. Tercatat lebih dari 50 ribu orang hadir pada kegiatan yang dipimpin oleh Zainul Arifin, Konsul NU Jawa Barat. Beberapa orang kyai menyampaikan pidato di hadapan warga yang hadir, antara lain, KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdul Karim Pasuruan, KH. R. Asnawi Kudus, KH. Mustaqim, KH. Abdul Manap Surabaya, S. Abdullah Gathmyr, dan KH. Hasjim Asy’ari. Sementara pembacaan do’a dipimpin oleh KH. Kholil Lasem.

    Sekarang dapat kita bayangkan sebuah kepanitiaan baru dibentuk 3 bulan menjelang kegiatan. Panitia itu harus bertanggung jawab atas seluruh akomodasi selama seminggu penuh. Kemampuan panitia untuk mengorganisir semua potensi yang dimiliki merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan Muktamar. Dan itu mampu dilakukan oleh sebuah organisasi bernama NU Magelang.

    Dari kisah penyelenggaraan Muktamar tersebut dapat ditarik pelajaran tentang kemandirian organisasi NU. Warga NU dengan ikhlas memberikan bantuan harta bendanya demi suksesnya Muktamar tersebut.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • HUKUM SHALAT DHUHA BERJAMAAH

    HUKUM SHALAT DHUHA BERJAMAAH

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Admin yang terhormat, saya mau bertanya seputar fenomena yang terjadi di beberapa pesantren di sekitar tempat tinggal saya. Yaitu praktek shalat sunah Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah. Bahkan sebagian pesantren ada yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas wajib yang harus diikuti oleh seluruh santrinya. Bagaimana fiqih menanggapi hal demikian?, terima kasih atas penjelasannya.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
    Maimun Najib, Pasuruan.
    _______________________
    Admin– Wa’alaikumsalam Wr.Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada saudara Maimun Najib karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan hukum agama.
    Sebagaimana telah diketahui, bahwa shalat Dhuha merupakan kategori shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Artinya, shalat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian (munfarid). Rumusan ulama dalam hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat Dhuha sendirian. Abdurrahman Bin Abi Laila meriwayatkan:
    مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
    “Tidak ada seorangpun selain Ummi Hani’ yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha. Dialah yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah masuk rumahnya ketika masa penaklukan kota Mekah. Lalu beliau mandi dan mendirikan shalat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada itu, kecuali beliau menyempurbakan ruku’ dan sujudnya.”[1]
    Meskipun konsep awal mengatakan demikian, pelaksanaan shalat Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah tidak serta merta menimbulkan hukum makruh atas jamaah tersebut. Sebab secara umum, shalat-shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara munfarid (tidak berjamaah) tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah. Namun dalam konteks ini, praktek yang demikian tetap saja menyelisihi terhadap hal yang lebih utama (khilaful afdhol).[2]
    Bahkan, kalau praktek shalat Dhuha yang dilaksanakan secara berjamaah memiliki tujuan yang baik dan dapat dibenarkan menurut syariat justru akan menjadikan nilai pahala dari tujuan tersebut. Salah satu contoh tujuan yang baik yang dibenarkan menurut syariat adalah melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah dalam rangka mendidik dan membiasakan anak kecil atau para santri dalam masa pendidikan agar terbiasa melakukan shalat Dhuha.
    Dengan catatan, praktek tersebut dapat dibenarkan dan bernilai pahala apabila tidak menimbulkan unsur-unsur yang dilarang, misalkan meninggalkan perkara yang sudah menjadi kewajiban.
    Dalam kitab Bugyah Al-Mustarsyidin, Habib Abdur Rahman Al-Masyhur berkata:
    (مسألة : ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِيْ نَحْوِالْوِتْرِوَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ, نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنِ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِ الْإِسْرَارِ الَّذِيْ هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الِإْبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّيِّ بِالْأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ. هَذَا إِذَا لَمِ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ إِعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يُحْرَمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَاـ
    “Diperbolehkan melaksanakan semacam shalat Witir atau shalat Tasbih secara berjamaah. Maka hal tersebut tidak manjadi makruh dan tidak pula mendapatkan pahala. Namun apabila praktek demikian bertujuan untuk mengajari/mendidik orang-orang yang sholat dan bertujuan memotivasi mereka, maka akan mendapatkan pahala. Dan setiap pahala juga diberikan atas niat atau tujuan yang baik. Misalkan mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya dibaca secara pelan-pelan dengan tujuan pembelajaran, meskipun hukum asalnya adalah boleh (ibahah).
    Begitu juga perkara-perkara mubah apabila diniati dengan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah Swt maka juga mendapatkan pahala, contohnya adalah makan dengan tujuan menghasilkan kekuatan untuk mengerjakan ketaatan. Namun semua itu apabila tidak menimbulkan hal-hal yang dilarang seperti berdampak menyakiti orang lain atau menimbulkan prasangka orang awam bahwa sholat itu harus berjamaah. Apabila menimbulkan hal-hal yang demikian maka tidak mendapatkan pahala, bahkan menjadi haram.”[3]
    Kesimpulannya, sholat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian. Namun boleh dikerjakan secara berjamaah, apalagi ketika memiliki tujuan yang baik dan benar, seperti mendidik dan memotivasi. Maka hal tersebut justru bernilai pahala dan sangat dianjurkan dalam syariat.
    Sekian, waAllahu A’lam Bis Shawab.
    Refrensi:
    [1] Shahih Al-Bukhori, juz 2 hal 58.
    [2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 55.
    [3] Bugyah Al-Mustarsyidin, hal 67. Cet. Al-Hidayah.

  • KH. SYA’RONI KUDUS MINTA IJAZAH AGAR NAIK HAJI KEPADA KH. BISRI MUSTOFA

    KH. SYA’RONI KUDUS MINTA IJAZAH AGAR NAIK HAJI KEPADA KH. BISRI MUSTOFA

    wp.sorbansantri.com – Suatu hari di tahun 1960-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud .
    KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru. Singkat kata, setelah istiqamah menjalankan ijazah dari sang guru. Tak terduga, atas karunia Allah, datanglah rezeki min haitsu laa yahtasib. Lantaran itulah KH. Sya’roni akhirnya bisa menunaikan ibadah haji. KH. Sya’roni lantas mengajak kita, masyarakat muslim secara umum turut juga melaksanakan ijazah tersebut .
    Ijazahnya antara lain :
    1. Sholat Tahajud setiap malam, cukup 2 rakaat saja membaca surat Al-kaafirun dan Al-Ikhlas
    2. Setelah salam membaca wirid istighfar 70X, sholawat Nabi 100X serta lafal “Ya Syakuur” 1000X .
  • ROMBONGAN JIN BAGHDAD NGAJI DI TEBUIRENG, HADRATUSSYAIKH JADI REFERENSI ULAMA DUNIA

    ROMBONGAN JIN BAGHDAD NGAJI DI TEBUIRENG, HADRATUSSYAIKH JADI REFERENSI ULAMA DUNIA

    wp.sorbansantri.com – Hadratus Syaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah(14 Februari 1871 – 25 Juli 1947 M), pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, merupakan ulama besar yg menjadi referensi ulama internasional. Hadratussyaikh banyak mencetak ulama besar di Jawa dan Luar Jawa serta dikenal alim dan hafal ribuan hadits. Hadratussyaikh juga dikenal sbg ulama pengayom seluruh umat Islam dan tidak partisan.
    Banyak santri dari berbagai penjuru nusantara dan dunia belajar mengaji kepada Hadratussyaikh di Tebuireng. Bahkan santri Hadratussyaikh tidak hanya terdiri dari unsur manusia, tapi juga makhluk halus yaitu jin. Karena itu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari melarang santrinya di Tebuireng mengaji di bawah bedug masjid.
    “Kiai Hasyim pidato, jangan ngaji di bawah bedug. Karena di bawah bedug itu ada rombongan jin dari Baghdad ikut mengaji,” kata KH Abdul Qoyyum Mansur saat menyampaikan Mauidhoh Hasanah pada acara Wisuda Takhassus dan Bin Nadhor Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Selasa malam (30/4/2019).
    “Jadi Kiai Hasyim itu maraji’ umat Islam dan ulama dunia,” kata Gus Qoyyum, panggilan KH. Abdul Qoyyum Mansur. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah itu menegaskan bahwa jin ngaji kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu fakta. “Ya, ini beneran,” tegas Gus Qoyyum di depan para wisudawan dan wali santri yg hadir di halaman Pesantren Tebuireng pada malam itu.
    Dari mana Gus Qoyyum dapat info itu? “Dari abah saya yg dulu mondok di Tebuireng. Kamar abah saya itu dekat bedug,” kata Gus Qoyyum. Ayah Gus Qoyyum adalah KH Mansur Kholil, pendiri Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah yang kini diasuh Gus Qoyyum.
    Berita santri dari unsur jin di Tebuireng memang populer. Bahkan santri jin di Tebuireng itu tidak hanya pada era kepemimpinan Hadrassyaikh Hasyim Asy’ari. Tapi juga saat Tebuireng diasuh KH Abdul Wahid Hasyim, putra sulung Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, santri jin di Tebuireng juga banyak.
    “Tempat santri jin itu dulu ada di kamar atas yg bawahnya ada jeding (kamar mandi) itu,” ungkap KH Sueb Hasy, alumnus Pesantren Tebuireng yang dikenal banyak memelihara jin di kawasan Pucang Adi Surabaya. Kamar yg dimaksud adalah kamar di bagian belakang sebelah kanan masjid Tebuireng yg kini bagian bawahnya jadi tempat wudlu berdekatan dgn kamar tamu.
    “Kalau mereka (jin) ramai, Kiai Wahid Hasyim biasanya datang menyuruh mereka diam. Mereka langsung diam,” tambah Kiai Sueb Hasy.
    Kiai A Wahid Hasyim selain dikenal sbg salah satu pendiri Republik Indonesia juga dikenal sbg ulama alim yg pernah menjadi penerus Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam memimpin pengajian Hadits Shahihul Bukhari dan Muslim. Bahkan Kiai A Wahid Hasyim inilah yg jadi “asisten” Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. “Kalau Kiai Hasyim ada acara, Kiai Abdul Wahid Hasyim yg mengganti ngaji Shahih Bukhari dan Muslim,” tutur Gus Qoyyum.
    Menurut Gus Qoyyum, ada dua ulama Tebuireng yg selalu jadi asisten Hadratussyaikh dalam pengajian Shahihul Bukhari dan Muslim. Yaitu Kiai A Wahid Hasyim, putranya sendiri. Satunya lagi, KH Idris Kamali, santri Hadratussyaikh yg kemudian diambil menantu.
    Kiai Idris Kamali, dikenal sbg ulama alim dan zuhud. Ia banyak belajar di Makkah. Sepulang dari Makkah ia nyantri ke Hadratussyaikh di Tebuireng.
    Yang menarik, ia sangat disegani kaum jin. Bahkan di Pesantren Kempek Jawa Barat, tempat Kiai Idris Kamali berasal, jika ada ribut2 tentang jin, begitu disebut nama Kiai Idris Kamali, jinnya langsung kabur.
    Kiai Idris Kamali ini menikah dgn Nyai Azzah, salah satu putri Hadratussyaikh, dan dikarunai satu putra Gus Abdul Haq. Kiai Idris Kamali juga pernah menjadi penerus Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam mimpin pengajian Shahihul Bukhari dan Muslim di Tebuireng.
    Menurut Gus Qoyyum, abahnya yakni Kiai Mansur Kholil ngaji kitab Hadits Shahihul Buchari dan Muslim langsung kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Kiai Mansur selalu menulis secara detail apa saja yg disampaikan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Shahihul Buchari dan Muslim yg dikajinya. Bahkan mana hadist yg diajarkan Hadratussyaikh dan mana yg diajarkan asistennya, yakni Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kiai Idris Kamali, diberi catatan.
    Sehingga Gus Qoyyum bisa mengikuti semua catatan2 tentang pengajian yg diberikan langsung oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
    Menurut Gus Qoyyum, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengajar ngaji Shahihul Buchari dan Muslim secara rutin pada bulan Ramadlan. Dalam mengkaji hadits itu Hadratussyaikh selalu mutobiqotul bab. Artinya, setiap mengkaji hadits selalu dijelentrehkan dgn kontek kekinian.
    Kisah 9 Wali Nyantri Di Tebuireng
    Gus Qoyyum juga menuturkan bahwa abahnya, Kiai Mansur Kholil, saat mondok di Pesantren Tebuireng satu kamar dengan 9 orang santri dari Banten. Nah, 9 santri ini aneh. Karena saat itu usia mereka sudah jauh lebih tua dari usia Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. “Usia mereka sudah 80 tahunan,” kata Gus Qoyum mengutip penuturan abahnya.
    Yang lebih aneh lagi, tutur Gus Qoyyum, selama bulan Ramadan mereka berpuasa tapi tak pernah sahur, tak pernah berbuka dan tak pernah tidur. Kiai Mansur Kholil, abah Kiai Qoyyum, akhirnya menyadari bahwa 9 santri itu bukan santri biasa tapi 9 wali yg nyantri ke Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Karena itu Kiai Mansur Kholil dan Kiai Qoyyum pun berkesimpulan bahwa Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu seorang auliya’ullah yg dijaga para wali
    Ila Ruhi Hadrotusy Syaih Hasyim Asy’ari Wa Usulihi Wa Furu’ihi
    Lahumul Fatihah
    (sahabat imam mahdi)
  • ISLAM: AGAMA KASIH SAYANG

    ISLAM: AGAMA KASIH SAYANG

    wp.sorbansantri.com – PCNU BREBES

    Khutbah I
    اْلحَمْدُ للهِ ذِي اْلجَلاَلِ وَاْلِاكْرَامِ، اَّلذِيْ أَعَزَّنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَأَكْرَمَنَا بِاْلاِيْمَانِ، وَنَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِاْلقُرْآنِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَان، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَبِي اْلقَاسِمِ الَّذِيْ عَلاَ النُّجُوْمَ وَاْلكَوَاكِبَ الْعِظَامَ، وَعَلىَ ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ اْلكِرَامِ بُدُوْرِ التَّمَامِ، وَمَصَابِيْحِ الظَّلَامِ وَشُمُوْسِ دِيْنِ اْلاِسْلاَمِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ مَثِيْلَ لَهُ وَلاَ ضِدَّ وَلاَ نِدَّ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ.
    أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ اْلعَظِيْمِ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً, وَأُحَذِّرُكُمْ مِنْ عِصْيَانِهِ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ مَنِ اسْتَبْدَلَ بِالطَّاعَةِ اْلمَعْصِيَةَ وَءَاثَرَ اْلفَانِيَةَ عَلىَ اْلبَاقِيَةِ يَقُوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالى فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ ( وَاْلعَصْرِ، إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّلِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِاْلحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Marilah kita memperkuat keimanan kita dengan taqwa, senantiasa berusaha menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah di manapun dan kapanpun kita berada.
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Bagi kita, Islam adalah rahmat terbesar bagi manusia. Karena seseorang yang mati dalam keadaan muslim dijamin masuk surga oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
    مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ
    Maknanya: Barang siapa yang akhir perkataannya adalah “Tidak ada yang disembah dengan benar selain hanya Allah” maka dia masuk surga.
    Sebanyak apapun dosa yang pernah dilakukan oleh seorang muslim di dunia jika dia mati dalam keadaan muslim maka ia tidak akan abadi di dalam neraka, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
    يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لَاإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ
    Maknanya: “Akan keluar dari dari neraka orang yang mengatakan “Tidak ada yang disembah dengan benar selain hanya Allah” dan di dalam hatinya terdapat keimanan yang sangat kecil sebesar biji dzarroh”
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Bagi orang yang beriman, Islam juga merupakan modal utama di dalam beramal sholeh, karena hanya atas dasar iman dan Islam sekecil apapun amal kebaikan seseorang akan diterima oleh Allah dan berpahala. Allah ta’ala berfirman:
    وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
    Maknanya: Dan barang siapa yang beramal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia adalah seorang mukmin maka mereka akan masuk surga dan sedikitpun mereka tidak akan didzalimi sedikitpun.
    Al Imam al Ghazali rahimahullah mengatakan:
    لاَتَصِحُّ اْلعِبَادَةُ إِلاَّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ اْلمَعْبُوْدِ
    Tidak sah suatu ibadah kecuali setelah mengenal Tuhan yang wajib disembah (beriman)
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Sebagai agama rahmat, Islam mengajarkan manusia kebaikan, perdamaian, saling mencintai dan mengajak kepada sikap tarahum (saling menyayangi) sesama manusia. Islam menjadikan rahmat sebagai salah satu bukti kesempurnaan iman seseorang. Seorang muslim jika bertemu dengan orang maka di hatinya terpendam rasa kasih sayang dan tersimpan niat baik di relung hatinya. Dia akan berbuat baik kepada mereka, meringankan beban mereka dan mengasihi mereka. Rasa kasih sayang yang dituntut bukanlah terbatas untuk orang yang dikenal, kerabat atau teman dekat, tetapi yang dituntut adalah rahmat yang menyeluruh yang mencakup umumnya orang. Hadits-hadits Rasulullah menunjukkan keumuman ini dalam memberikan kasih sayang dan menganjurkan untuk menyebarkan rahmat (kasih sayang). Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
    لا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لا يَرْحَمُ النَّاسَ
    Maknanya: “Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi sesama manusia” (H.R. al-Bukhari)
    Dalam riwayat lain:
    مَن لا يَرْحمْ لاَ يُرْحَمْ
    Maknanya: “Orang yang tidak menyayangi (sesamanya), tidak dirahmati” (H.R. al Bukhari dan Muslim).
    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari pada kitab al Adab bab “Menyayangi Manusia dan Binatang” mengatakan: “Ibnu Baththal berkata: Dalam hadits ini terdapat anjuran agar memberikan kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk dalam hal ini; orang mukmin, orang kafir, binatang-binatang baik yang dimiliki atau yang tidak dimiliki. Juga masuk dalam pengertian rahmah (menyayangi); merawat binatang dengan memberinya makan, minum, meringankan beban barang bawaan dan tidak berlaku zhalim dengan memukulnya“.
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Di dalam al Qur’an, Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berlaku lemah lembut dan dilarang bersikap kasar kepada orang lain, kita juga diperintahkan untuk berbesar hati memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain kepada kita. Allah ta’ala berfirman:
    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّه إِنَّ اللّهَ يحيِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
    Maknanya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Q.S. Ali ‘Imran: 159)
    Rasulullah sendiri -sebagai suri tauladan bagi umat Islam- adalah pribadi yang rendah hati dan lemah lembut kepada orang lain, sehingga dakwah beliau dapat diterima dengan mudah oleh umatnya. Allah berfirman:
    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
    Maknanya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (Q.S. at-Taubah: 128)
    إِنَّ أَحْسَنَ اْلكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ اْلعَلاَّمِ .وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِىْ اْلمُهْتَدُوْنَ وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ , اَعُوذُ بِاللهِ من الشيطَان الَرجيم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
    بَاَرَك اللهُ لي ولَكُمْ فىِ اْلْقُرْأَنِ اْلْعَظِيْمِ ونَفَعِني وإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وِلَكُمْ وِلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوُ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
    Khutbah II
    اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ اْلفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ اْلحَسَنُ، وَصَلَوَاتُ اللهِ اْلبَرِّ الرَّحِيْمِ وَاْلمَلَائِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَائِرِ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ، وَأَهْلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَسَلاَمُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدَ فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَأُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ). وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ اْلكَرِيْمِ, فَقَالَ عَزَّ منْ قَائِل: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)
    اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ.
    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلِاسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَاْلمُبْتَدِعَةَ وَاْلمُنَافِقِيْنَ, اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اللّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُّهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ, اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَءَامِنْ رَوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ مَا نَتَخَوَّفُ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلغَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالشَّدَائِدَ وَاْلِمحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاطْرُدِ الشَّيْطَانَ مِنْ بَيْنِنَا وَآتِ كَلاَمَنَا مُرَادَهُ وَسُؤْلَهُ فِيْمَا يُرْضِيْكَ يَا أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
    عِبَا دَ اللهِ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.
  • Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Cyberaswaja.online | Sooko. Halaman parkir penuh dan Aula PCNU Kab Mojokerto ramai, dilangsungkan Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gusdur dengan tema “KEBUDAYAAN MELESTARIKAN KEMANUSIAAN”. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 wib tersebut, dihadiri Tokoh lintas Agama, diantaranya Walikota Mojokerto, BUPATI Mojokerto, KAPOLRES Kabupaten Mojokerto, DANDIM dan Seluruh ORMAS serta Lintas Komunitas. 25/01/2020.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade oleh Ning Alisa Wahid

    Acara tersebut sangat penting bagi bangsa dan negara mengingat dari pribadi GUS Dur yang selalu dirindukan dan menjadi marwah NU sebagai satu-satunya ormas yang sudah tidak diragukan lagi dengan Politik Kebangsaannya, sebagai pemersatu bangsa yang berbeda-beda dan merupakan elemen penting dalam berdirinya suatu bangsa.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Pengurus PC NU bersama jajaran Forkopimda Mojokerto pada Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Peserta Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    Dengan pemateri semua tokoh lintas agama se Kabupaten Mojokerto, keistimewaan acara ini turut juga dihadiri Neng Alisa Wahid, beliau menyampaikan pesan dan kesan, serta bercerita tentang kisah kehidupan almarhum Gus Dur perihal Kebangsaan dan Bernegara. (red-fio)