Tag: sorbansantri

  • PERINGATI HARLAH NU 94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU

    PERINGATI HARLAH NU 94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU

    Cyberaswaja.online|Gedeg. Memperingati HARLAH NU ke-94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU – Sesuai namanya, BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) pasukan elit Nahdlatul Ulama (NU) ini dididik untuk siap siaga dalam kondisi dan situasi apapun.

    BANSER BAKSOS HARLA NU 94
    FOTO: Kepala Banser bersama jajarannya di Makam Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto.

    Satuan Koordinasi Cabang (SATKORCAB) Banser kabupaten Mojokerto. Pada hari Jumat mereka menggelar Bhakti Sosial di kawasan makam panjang Desa Losari kecamatan Gedeg Mojokerto. Sejak pagi, ratusan anggota BANSER tersebut nampak semangat membersihkan area makam KH. Zainal Alim (Rois Syuriyah pertama PCNU kabupaten Mojokerto). 31/1/2020. 
    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: Banser membersihkan Makam KH. ZAINAL ALIM, Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto

    Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kabupaten Mojokerto, Ali Mohammad Nasih memang telah mengintruksikan kepada KASATKORCAB agar selain kegiatan pam keamanan, apel kebangsaan dan ngaji organisasi, BANSER juga bergerak aktif kegiatan social kemasyarakatan seperti ini. Terlebih ini adalah makam Kyai NU.
    “Kegiatan bersih makam ini dilakukan untuk menyambut HARLAH NU ke-94 dan sebagai bentuk bhakti santri pada Kyainya” Ungkap KASATKORCAB BANSER Mojokerto H. Moh. Yunus. 
    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: Baksos BANSER di MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM

    “BANSER itu juga santri. Jadi harus khurmat Kyai, lah. Apalagi ini kan HARLAH NU,” Tambah Abah Yunus, sapaan akrabnya, Jumat (31/1/2020).

    Kegiatan sosial ini dilaksanakan guna menumbuhkan serta menguatkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan khususnya sesama anggota BANSER, umumnya kepada masyarakat.

    “Banser jaman sekarang dituntut semangat dan kesadarannya. Selain ngalap barokah (mencari berkah) kegiatan seperti ini dilakukan juga untuk uri-uri tradisi NU. Orang NU sejak dulu kan suka gotong royong dan menjaga kebersamaan,” imbuhnya.

    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: BANSER Tabur Bunga di makam ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM

    Kegiatan Baksos di Makam ini dihadiri sekitar 110 personil BANSER dari perwakilan seluruh PAC (Pimpinan Anak Cabang) se-Kabupaten Mojokerto, yang turut serta dalam kegiatan ini. Rencananya kegiatan ini akan dijadikan agenda rutin tahunan dan akan disebar ke makam para Kyai NU di kawasan Mojokerto. (wg/infokom)

    Penulis: Ki Narto
    Editor : WG-Infokom
  • SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    Perlawanan Budaya dan Ideologi para Kyai

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.

    Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.

    Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.

    Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.

    Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.

    Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.

    Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.

    Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.

    Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.

    Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.

    Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.

    Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.

    Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.

    Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • AKIBAT CURAH HUJAN TINGGI, TANAH LONGSOR DAN POHON TUMBANG DI PACET

    AKIBAT CURAH HUJAN TINGGI, TANAH LONGSOR DAN POHON TUMBANG DI PACET

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – selasa, 2 Februari 2021. Setelah hujan yang berhari-hari mengguyur kawasan pacet mojokerto dan sekitarnya, akhirnya terjadi juga tanah longsor yang disertai pohon bambu. yang mana kejadian tersebut menutup jalan raya antara Pacet dan trawas. Peristiwa tersebut terjadi di Dsn Kambengan Ds Cempokolimo Kecamatan Pacet Kab. Mojokerto.(2/2/2021)

    Tim relawan Banser Tanggap Bencana (BAGANA) bersama relawan lainnya berhasil mengevakuasi longsoran tersebut dengan memakai alat seadanya. Kawasan Pacet pada bulan-bulan ini memang sering diguyur hujan deras dari siang sampai malam hari, terkadang disertai angin kencang yang membuat rasa was-was bagi warga, apalagi pengguna jalan raya” kata sahabat sulistiawan yang merupakan anggota ansor dan banser di PAC Pacet Mojokerto.

    Peranan masyarakat apalagi pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini.  Apabila sewaktu-waktu ada bencana lagi seperti tanah longsor, pohon tumbang yang memang sangat rawan dan memungkinkan terjadinya bencana di Kawasan Pacet ini. Namun sangat disayangkan karena Relawan dengan potensi serta tenaga seperti BAGANA yang ada di Pacet Mojokerto, belum mempunyai peralatan yang mendukung dalam setiap kegiatan terutama di bidang kebencanaan. (abi sorban)

     

  • PSNU bershalawat untuk keselamatan bangsa.

    PSNU bershalawat untuk keselamatan bangsa.

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – PSNU Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 31 Januari 2021 di mulai dr pukul 08.30 sampai 12.00 di Ponpes Nuhuyiah Pambusuang Polman menggelar HAULx ke 35 tahun dirangkaikan dgn HAUL NU ke 95 tahun, dalam acara tersebut di laksanakan dalam bentuk NU bershalawat untuk keselamatan bangsa.

    Moment ini di rangkaikan dengan mendoakan saudara2 kita yg telah tertimpa musibah gempa bumi di Sulbar, banjir di Kalimantan selatan, dab Manado dan seluruh warga negara Indonesia yang tertimpa musibah Kegiatan tersebut dihadiri pengurus PCNU POLMAN, PSNU POLMAN,PSNU SULBAR dan banom2 NU lainnya.

    Sumber:
    Panitia pelaksana Abd.Wahid, M.Pd. Alumni ISNTITUT KH.ABD.CHALIM MOJOKERTO
    Dan ketua tanfidziyah PCNU Polman ustadz Arsyad.

    PERGUNU SUL BAR.

    PSNU SUL BAR.

    PCNU POL MAN SUL BAR.

    NU SUL BAR.

  • Lailatul Ijtima’ MWC NU Jetis, Cermin Kokohnya Persatuan Jamaah

    Lailatul Ijtima’ MWC NU Jetis, Cermin Kokohnya Persatuan Jamaah

    Cyberaswaja.online|Jetis. Kekuatan sebuah jam’iyyah bisa diukur dari seberapa besar kekompakan jamaahnya dalam menjalankan amanat organisasi. Dalam NU, salah satu cara untuk memompa semangat dalam berorganisasi adalah dengan mengadakan acara Lailatu Ijtima’. Acara ini biasanya diikuti oleh semua Banom dan Lembaga NU di seluruh tingkatan.

    Inilah yang dilakukan oleh jajaran MWC NU Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos, menyatakan kebanggaannya atas terselenggaranya acara lailatul ijtima’ ini. Menurutnya, lailatul ijtima’ ini sangat besar manfaatnya bagi seluruh warga Nahdliyyin Jetis. Karena dari kegiatan ini rasa ukhuwwah semakin tertanam, seluruh masalah dalam ranting tersampaikan ke MWC dan koordinasi dari PAC sampai Pengurus Ranting bisa maksimal.

    lailatul Ijtima MWCNU Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    “Di Jetis sudah menjadi agenda rutin bulanan bergantian antar ranting. Bahkan biasanya jumlah jamaah Lailatul ijtima’nya terbanyak se kabupaten,” Ungkap Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos, Senin (27/1/2020).

    Lailatul ijtima’ yang diadakan di Masjid Al Ittihad desa Perning kecamatan Jetis ini dihadiri sekitar 3000 warga Nahdliyyin baik dari kalangan muda maupun tua. Jajaran BANSER Satkoryon Jetis juga terlihat aktif ikut mengamankan dan mengatur lalu lintas jalan raya.

    “Kegiatan ini jelas sangat penting karena selain sholat dan doa bersama, jamaah juga memahami kondisi pergerakan NU, informasi yang dihadapi, sekaligus solusi terbaik untuk jamiyyah,”  imbuhnya. Adanya pertemuan seperti ini juga menambah wawasan jamaah dan semangat organisasi dalam membuat inovasi baru dalam pergerakan.

    lailatul Ijtima MWCNU Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    “Apalagi di era milenial seperti ini. Banyak berita yang harus disikapi dengan bijak oleh warga NU. Agar tidak mudah terprofokasi dan menimbulkan perpecahan dalam tubuh NU,” Tegas Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos.

    oto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-itihad Perning Kec.Jetisoto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-itihad Perning Kec.Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    Puncak kegiatan Lailatul Ijtima’ adalah Mauidloh Hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdul jalil Umar Lamongan. Tampak hadir pada kegiatan tersebut KH. Sholihin (Rois Syuriyah), H. Usail (katib), KH. Mahrus Ali (PC LDNU Mojokerto), H. Imam Muslim (bendahara PCNU Mojokerto) dan seluruh ketua ranting NU beserta seluruh Ketua Banom dan Lembaga NU kecamatan Jetis.

    Penulis ; Ki Narto
    Editor : WG-Infokom
  • Kualitas Aspal Ataukah Cara Pengerjaan Yang Kurang Tepat

    Kualitas Aspal Ataukah Cara Pengerjaan Yang Kurang Tepat

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    -Di musim penghujan saat ini banyak keluhan oleh warga akibat rusaknya jalan raya baik jalan raya kabupaten, provinsi maupun nasional, tak banyak warga yang menjadi korban akibat jalan yang berlubang, ada yang luka ringan ada juga yang mengalami luka berat.

    Sudah beberapa kali kami menyampaikan keluhan ke dinas2 terkait atas keluhan warga ini, walaupun kami secara tidak langsung datang ke kantor dinas tersebut tapi kita sudah melaporkannya lewat medsos, betul mendapat respon dan langsung di tindak lanjuti oleh pihak terkait tetapi hasil kenyataan di lapangan tidak sesuai harapan yang kita rasakan.

    Contoh kecil kemarin kita mengajukan perbaikan jalan yang berlubang yang ada di jembatan jurangsari kecamatan ngoro kab mojokerto yang baru di tindak lanjuti oleh Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur baru dapat beberapa hari belum sampai seminggu aspal yang buat menambal sudah pada mengelupas dan terjadi lubangan lagi.

    Di tempat lain sepanjang jalan nasional yang kemarin kita ajukan mulai dari jln tunggal pager pungging sampai di jln raya wilayah kecamatan ngoro juga sudah banyak yang mengelupas lagi bahkan ada lubang yang terlewati dan tidak katut dalam penanganan oleh @dinas pu bina marga jalan nasional.

    Harapan kami agar dari dinas pu bina marga provinsi dan nasional agar menurunkan tim survey lokasi seminggu setelah penanganan guna untuk mengecek hasil dari pekerjaan yang sudah di lakukan oleh para pekerja yang ada di lapangan, bila dari hasil survey di temukan ada kejanggalan baik dari bahan aspal atau cara pengerjaan yang kurang optimal mari di kaji ulang dan di evaluasi agar ketika terjun di lapangan hasil dari pekerjaan tersebut benar benar bisa berkualitas dan tidak terkesan mindon gaweni dan dari tim survey bisa mengecek jalan jalan mana sana saja yang perlu di tangani, kami dari RELAWAN LALU LINTAS (RELANTAS ISN) juga siap bila di suruh menunjukkan titik titik lokasi mana saja yang perlu di perbaiki kususnya di sekitaran wilayah ngoro dan pungging.

    Bagi para nitizen kami mohon untuk berkomentar secara bijak yang wajar wajar saja jangan sampai ada komentar yang saling menjatuhkan atau memojokkan, karna disini kita mencari solusi bukan saling membully instansi.
    (Hasan_sorban)

  • KOK ADA WARGA NU CABANG NASRANI?

    KOK ADA WARGA NU CABANG NASRANI?

    Oleh: Shuniyya Ruhama
    Murid Mbah Wali Gus Dur

    wp.sorbansantri.com -Dapat banyak pertanyaan dan keluh kesah beberapa sahabat tentang statemen Guru Mulia KH Said Aqil Siroj yang menyatakan , ” … Bisa dikatakan Pak Kapolri ini warga NU cabang Nasrani”.

    Seperti yang sudah diduga sebelumnya, statemen ini dipotong konteksnya dan diperkarakan secara ndakik-ndakik berlebihan dan dijadikan amunisi menyerang beliau secara pribadi.

    Padahal, jika orang tersebut memang kader NU beneran di tingkat akar rumput dan paham konteks, pasti sudah mafhum bahwa ini merupakan guyonan khas orang NU sebagai penghormatan dan perangkulan atas keberagaman.

    Kecuali jika memang dapatnya cuma potongan statemen yang sudah diberi narasi kebencian yang membuncah dan mengaduk-aduk sentimen keNUan, akan beda lagi masalahnya.

    Lha orang becanda kok dibahas serius amat becandaannya, lalu digoreng sedemikian rupa. Dan seperti biasanya, beberapa orang yang mengaku NU juga ikut-ikutan terprovokasi.

    Mendadak mereka seperti kehilangan logika yang sehat. Padahal semua paham bahwa orang NU beneran yang paling awam sekalipun pasti tahu bahwa NU itu Islam Aswaja. Lha wong yang ngaku Islam saja belum tentu bisa jadi NU, apalagi yang bukan Islam.

    Dan sebenarnya, candaan ini sudah biasa sejak jaman dulu kok. Mbah Wali Gus Dur pada era tahun akhir 1990an juga suka becanda yang model begini. Tapi gak ada yang ribut waktu itu.

    Salah satunya, dulu ada tokoh bernama Pak Bingki Irawan sesepuh agama Konghucu, pernah diperkenalkan Mbah Wali:

    “Pak Bingki ini orang NU, tapi belum bersyahadat”. Semua yang mendengar jadi tertawa dan menjadi akrab dengan Pak Bingki Irawan.

    Bisa jadi Mbah Said ini juga meniru guyonnya Mbah Wali Gus Dur yang sudah ada puluhan tahun silam. Tokh memang Mbah Said Aqil adalah sahabat sekaligus santri Mbah Wali.

    Bedanya, waktu Mbah Wali guyon, pendengarnya adalah Mbah Said dan generasinya sehingga menjadi konsumsi menambah cair suasana.

    Sedangkan saat Mbah Said guyon, yang dihadapi sebagian diantaranya adalah barisan awam yang gak sinkron antara semangat dan kapasitas ilmunya, jadi ya begitu deh.. (Abi sorban)

    Salam cinta NU..
    Salam cinta Indonesia…

  • KEUTAMAAN SHOLAWAT FATIH YANG DISEBUTKAN DIKITAB-KITAB

    KEUTAMAAN SHOLAWAT FATIH YANG DISEBUTKAN DIKITAB-KITAB

    InfokomBanserNU- Membaca Sholawat Fatih 1 kali dihadiahkan kepada ahli qubur dengan niat supaya ditebus dimerdekakan dari neraka (fida’/’ataqoh), maka dimerdekakannya seketika
    (al-Yaqutah, hal.: 61).

    Membaca Sholawat Fatih 1 kali menyamai (mendapat pahala sama dengan) semua bacaan tasbih, zikir, do’a yang terjadi di alam
    (Jawahir al-Ma’ani, jilid I, hal. 114).

    Apabila semua bacaan zikir, shighot sholawat, dan do’a satu per satu masing-masing dari semuanya bila setiap harinya dibaca 100 000 kali selama 100.000 tahun, dan pahala semuanya dikumpulkan menjadi satu, maka tidak bisa menyamai pahala Sholawat Fatih 1 kali
    (Khulashoh al-Wafiyah, hal. 70).

    SORBANSANTRI.COM

    Membaca Sholawat Fatih 1 kali menyamai (mendapat pahala sama dengan) 600.000 kali lipat sholawatnya semua malaikat, manusia, dan jin sejak alam diciptakan hingga hari membacanya ditambah 400 perang Sabilillah
    (al-Yaqutah, hal. 59, dan Bughyah al-Mustafid, hal. 271, dan Jawahir al-Ma’ani, jilid I, hal. 114).

    Jika diumpamakan ada 100.000 umat, pada setiap umat terdapat 100.000 kabilah (suku), setiap kabilah 100.000 orang masing-masing hidup 100.000 tahun setiap harinya membaca sholawat kepada Nabi saw. selain Sholawat Fatih, dan semua pahalanya selama 100.000 tahun itu dikumpulkan, maka tidak akan bisa menyamai Sholawat Fatih satu kali (Jawahir al- Ma’ani, jilid I, hal. 117).

    Mendapat pahalanya semua bacaan tasbih, zikir, solawat, do’a semua makhluk, manusia, malaikat, dan jin dengan dilipatkan 6000 kali (Jawahir al-Ma’ani dan Bughyah al-Mustafid, hal. 271).

    Apabila ada wali al-‘arif billah berumur satu juta tahun yang tidak membaca Sholawat Fatih, maka orang awam membaca sholawat Fatih 10 kali lebih banyak pahalanya dari pada wali tersebut (Khulashoh al-Wafiyah, hal. 69 dan Bughyah
    al Mustafid, hal. 270).

    Wallahu a’lamu bisshowabi…

    Demikianlah, di antara keutamaan Sholawat Fatih, dan masih lebih banyak yang tidak mampu disebutkan, yang lebih tidak mampu dijangkau angan-angan karena luasnya fadhol Allah ta’aala.

    Semoga manfaat

  • UJIAN MENTAL, KEASWAJAAN DAN KEBANGSAAN MENJADI SARAT UTAMA KENAIKAN TINGKAT PSNU

    UJIAN MENTAL, KEASWAJAAN DAN KEBANGSAAN MENJADI SARAT UTAMA KENAIKAN TINGKAT PSNU

    wp.sorbansantri.com – Suasana pagi hari yang sejuk nampak gumpalan mendung menyelimuti langit sehingga menutupi cayaha matahari di pagi hari itu, tepatnya pada pukul 08.00. WIB. Tgl 31 Januari 2021.tampak para santri berpakaian Serba hitam dan di balut sabuk hijau yang terikat di pinggang (pakaian sakral PSNU Pencak Silat Nahdlatul Ulama) sedang berdatangan berkumpul di lapangan dusun sarirejo/ jalinan, Plososari, Puri, Mojokerto.untuk mengikuti acara ujian kenaikan tingkat dari sabuk strip polos ke strip putih.

    Ujian ini adalah ujian tingkat dasar sebelum Santri Pagar Nusa masuk ke jenjang berikutnya, mereka harus mengikuti ujian mental,materi ke aswajaan,materi kebangsaan,dan materi pencak silat. UKT pada tahun ini di ikuti oleh sekitar 30 peserta mulai dari usia 8 tahun sampai 12 tahun, hadir pula dalam acara tersebut dewan pengurus wilayah pagar Nusa Jawa timur yaitu H. Budi. Mbah Sumarno. Dan juga pengurus cabang kabupaten Mojokerto yaitu kang Hariadi kang Dedi dan Mbah Muslimin.tak ketinggalan para dewan pendekar dari berbagai ranting pagar nusa sebagi tim penguji juga datang di acara itu.

    Acara dimulai dengan jalan fisik keliling desa Plososari dari dusun jalinan ke makam Sayyid Mahmud Tirim Plososari, jalan fisik yang di lalui para santri PSNU cukup jauh sekitar 3 km baru sampai di makam Sayyid Mahmud tirim. Di sana mereka melakukan tawassul, istighotsah dan berdoa bersama agar mendapat ridho dari Allah Swt.

    Setelah istighotsah,mereka berjalan lagi, namun kali ini di buat beberapa kelompok untuk mengikuti tes dari tim penguji di setiap pos pos yang di laluinya.namun di tengah tengah ujian tes tiba tiba hujan lebat turun suasana makin seru karena diguyur hujan, dalam keadaan basah kuyup santri dan tim penguji tetap semangat. Jika para peserta sudah sampai pos terakhir mereka kembali berkumpul di lapangan dsn jalinan untuk mengikuti upacara dan menerima tausyiah serta penyematan sabuk oleh H Budi.

    Walaupun keadaan lapangan tergenang air karena habis di guyur hujan, H Budi tetap semangat dengan suara lantang berapi api menyampaikan pesan pesan moral tentang tujuan mengikuti pencak silat Nahdlatul Ulama.
    Bahwa mengitkuti pencak silat bukan untuk mencari musuh,bukan untuk kesombongan,bukan untuk adigang adigung,tapi harus mengedepankan akhlak mulia, rendah hati, tawadduk,taat, patuh, sopan santun baik kepada kedua orang tua,guru,dan sesama santri, sanggup menjaga ajaran Aswaja dan mengabdikan diri kepada bagsa dan agama. Setelah doa dan penutup para santri kemudian makan purakan ala santri.
    (Sorban Santri Rosyid).

  • HARLAH NU ke-94 OLEH MWCNU PACET MOJOKERTO

    HARLAH NU ke-94 OLEH MWCNU PACET MOJOKERTO

    InfokomBanserNU- Peringatan HARLAH NU ke 94 Tahun 1026-2020 H memberikan nuansa lain di Bumi Pacet Mojokerto. Dengan bertemakan “Meneguhkan Kemandirian NU untuk Perdamaian Dunia”. Deretan pengurus MWCNU Pacet Mojokerto hadir dalam peringatan Harlah NU ke-94 tersebut. 

    Acara yang diadakan Hari Jum’at 31 Januari 2020, dihadiri oleh semua jajaran pengurus MWCNU PACET MOJOKERTO serta warga dan didukung oleh banom-banom NU seperti Ansor Banser IPNU IPPNU FATAYAT MUSLIMAT Pacet, menambah semarak dengan suasana hikmat dalam tiap-tiap jalannya acara, yang dimulai dari Mars Ansor Lagu Indonesia Raya dan Gema Sholawat oleh anggota Ansor Banser Pacet.

    Hadir juga KH. ISKANDAR MUNIR sebagai Ro’is Suriah MWCNU PACET MOJOKERTO memimpin pembacaan Istighosah Dzikir yang dilanjut dengan Al Banjari dari sahabat Ansor dan Banser.

    SORBANSANTRI.COM
    RO’IS SURIAH MWCNU PACET MOJOKERTO – KH. ISKANDAR MUNIR

    Dalam acara HARLAH tersebut disisipkan perjalanan panjang sejarah NU di Pacet Mojokerto, yang dimulai dari slide foto dan video tentang NU di Pacet yang di pandu oleh Ustadz AGUS SANTOSO selaku sekretaris MWCNU PACET MOJOKERTO.

    SORBANSANTRI.COM
    SEKRETARIS MWCNU PACET MOJOKERTO – USTADZ AGUS SANTOSO

    Penyelamatan aset yang ada di Pacet harus segera diselamatkan seperti Masjid Musholla Pendidikan dan lainnya. Karena selama ini hanya memakai atasnama pribadi, tujuannya dari itu semua biar mudah mengkondisikan aset serta mengamankan waqof yang dapat dikelola penuh memakai atasnama MWCNU PACET MOJOKERTO.

    SORBANSANTRI.COM
    KETUA MWCNU PACET MOJOKERTO – H. M. YUSUF. S.Pd

    Acara tersebut berakhir sekitar pukul 23.00 wib dengan penutup Do’a oleh KH. Abdul Jamil yang dilanjutkan dengan ramah tamah berupa makan tumpeng. 

    Mengingat pentingnya acara tersebut, dalam menegakkan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, SATSUS BALANTAS ( Banser Lalu Lintas ) Pacet, mengawal jalannya lalu lintas demi keselamatan dan kelancaran Acara Harlah NU ke-94 di Gedung Graha NU Pacet Mojokerto. (red-AbiTsani)