Tag: sorbansantri

  • BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    SORBANSANTRI.COM

    Kisah tentang Sjech Jumadil Kubro sebagai penyebar Islam generasi awal tidaklah banyak. Tentu tidaklah mungkin tokoh sebesar beliau tidak memiliki cerita sejenis mitos yang banyak kita jumpai ada disekitar para wali. Tetapi jejak kewaliannya malah ada di negeri China.

    Alkisah, seorang muslim mendarat di negeri China. Tokoh itu ikut kapal dagang dari negeri Gujarat di tanah India. Perahu dagang China dan India memang telah memiliki jalur laut untuk melakukan niaga, selain ada jalur darat yang dikenal sebagai jalur sutera. Para pedagang muslim memang menjadikan Gujarat sebagai pangkalan dagang ke berbagai penjuru.

    Diketahui orang muslim itu bernama Sjech Jumadil Akbar atau Jumadil Kubro. Dia telah banyak berkelana di daerah India untuk menyebarkan risalah Islam pada penduduk negeri yang belum mengenal Islam. Sebagai tokoh yang namanya sudah kondang maka Jumadil Kubro memiliki banyak relasi dari kalangan atas, baik pejabat maupun saudagar. Salah seorang saudagar kenalannya bersedia memberi tumpangan ke negeri China. Bahkan saudagar tersebut tidak berkeberatan mengenalkannya dengan penguasa negeri China.

    Seperti lazimnya, rombongan saudagar segera menghadap penguasa pelabuhan untuk mendapat ijin kapalnya bersandar. Setelah itu dia akan sowan pada penguasa guna menyerahkan upeti demi mendapatkan ijin menjual barang dan membeli komoditi untuk dibawa pulang. Saat menyerahkan upeti itulah Jumadil Kubro ikut serta.

    Singkat cerita, Jumadil Kubro menyampaikan maksudnya untuk menyampaikan tentang Agama Islam yang akan disyiarkannya ke penduduk Kota Raja. Pada akhirnya Jumadil Kubro juga mengajak agar Kaisar menjadi pemeluk Islam.

    Kaisar China terperanjat karena ada orang yang berani menyebut bila raja China adalah orang biasa seperti manusia lainnya. Kaisar China mempercayai bila dirinya adalah penguasa keturunan langsung dari para dewa. Kekuasaan yang ada di tangannya adalah kekuasaan turunan yang harus disembah seperti rakyat menyembah dewa. Dalam pikirannya akan kehilangan martabat bila dirinya ikut menjadi muslim. Agama Islam memandang semua manusia sama dengan pembeda pada nilai ketaqwaannya.

    Situasi memanas karena Kaisar seolah merasa ditantang oleh tamunya itu. Bila orang itu diijinkan berkeliaran di negaranya tentu akan menjadi api yang jika membesar akan membakar kekuasaannya. Pun demikian pula dengan Jumadil Kubro yang berpikir jika sudah tidak mungkin menjalankan dakwah saat penguasa sudah ada kecurigaan. Firasatnya, Kaisar China akan menghalangi dirinya dengan berbagai cara.

    Untuk menunjukkan siapa yang benar apakah Kaisar sebagai putra dewa ataukah Jumadil Kubro yang membawa kebenaran agama, maka Kaisar membuat uji kesaktian. Dia memiliki biji buah durian yang disebutnya sebagai buah paling nikmat di dunia. Kaisar ingin sekali memiliki tanaman durian di istananya. Tetapi biji durian itu tidak pernah bisa tumbuh karena memang habitatnya di daerah panas atau tropis.

    “Jika tuan bisa menanam biji durian ini hingga tumbuh di sini, saya akan ijinkan tuan menyebarkan Agama Islam di negeri China. Bahkan saya tidak berkeberatan ikut Agama tuan”. Tantang Kaisar China.

    “Baiklah, saya bersedia menanam biji durian itu. Saya akan berdoa pada Allah agar biji itu segera tumbuh di istana tuan Kaisar”. Balas Jumadil Kubro.

    “Ingat selama biji itu belum tumbuh tuan dilarang keluar dari wilayah pelabuhan”, ujar Kaisar mengingatkan.

    Dengan disaksikan oleh para petinggi kerajaan, Jumadil Kubro menuju alun-alun depan Istana Kaisar. Tangannya menggali tanah dan meletakkan biji durian yang dia terima dari Kaisar. Saat biji ditimbuni serta disiram air, saat itulah Jumadil Kubro memanjatkan doa agar biji durian menjadi jalan turunnya hidayah bagi rakyat negeri China.

    Sesuai kesepakatan, Jumadil Kubro hanya boleh tinggal di sekitar pelabuhan saja. Namun Jumadil Kubro tidak menunggu hingga biji durian itu tumbuh. Dia tahu jika Kaisar tidak akan pernah mau menerima ajaran Islam yang akan menurunkan derajatnya dihadapan rakyat yang bertahun-tahun memuliakan Kaisar seperti dewa. Jumadil Kubro memilih keluar dari negeri China.

    Beberapa hari kemudian, Istana Kaisar menjadi gempar. Di alun-alun ada pohon durian tumbuh. Pertumbuhan pohon baru itu juga cepat membesar. Kaisar menjadi bimbang, dalam hatinya mengakui kebenaran ajaran agama yang di dengarnya dari Jumadil Kubro. Biji durian itu menjadi bukti betapa doa Jumadil Kubro lebih didengar dari pada doanya. Walaupun pengalaman dan logika sulit biji durian itu hidup di tanah China yang memiliki iklim dingin, tetapi Kaisar kuatir bila dirinya kalah bertaruh dengan Jumadil Kubro.

    Biji Durian itu bukan hanya persoalan siapa yang benar, lebih jauh lagi biji durian itu menyangkut kepercayaan. Jika rakyat tahu Kaisar kalah tentu akibatnya bisa melunturkan kepercayaan pada dirinya selaku putra dewa. Kaisar China lalu melakukan ritual agar dewa tidak memberi kehidupan pada biji durian tersebut. Namun kini dia melihat sendiri ada pohon durian dekat istananya.

    Kaisar segera memerintahkan patih agar mencari Jumadil Kubro di pelabuhan. Tentu saja Patih tidak menemukannya karena orang di pelabuhan bilang jika Jumadil Kubro sudah pergi meninggalkan China. Dia ikut menumpang kapal dagang milik orang Jawa. (Red. M.Ha)

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

    R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pernah satu tanya terlintas dalam pikiran ketika menerima informasi jika Jendral AH. Nasution dulu sering ke Mojokerto. Untuk keperluan apa dia datang ke Mojokerto ?. Dan kata tanya itu terjawab saat ditemukan benang merahnya dengan seorang tokoh asal Mojokerto bernama Raden Panji Soenarjo Gondokoesoemo.

    Soenarjo Gondokoesoemo lahir di Mojokerto pada 2 Nopemer 1892. Ayahnya bernama R.P. Djayusman Gondokoesoemo yang berkedudukan sebagai Patih Kabupaten Mojokerto. Sedangkan ibunya bernama R. Ajoe Ngalipah yang masih memiki hubungan darah dengan para penguasa Surabaya. Soenarjo memiliki beberapa saudara yang salah satunya bernama R.A. Soekarsinah yang kemudian dinikah oleh R.P. Soeroso.

    Dengan status sebagai keturunan priyayi maka Soenarjo memiliki hak untuk sekolah sampai tingkat lanjutan. Menurut Suhario Padmodiwiryo atau yang dikenal dengan julukan Hario Ketjik, Soenarjo bukan hanya menuntut ilmu di Indonesia, dia juga sempat sekolah ilmu akuntansi di Negeri Belanda. Dan setelah kembali ke Indonesia, Soenarjo bekerja pada perusahaan asuransi “Blom Van Der A” di Surabaya. Data diri Soenarjo yang terdapat pada buku Orang Jang Terkemoeka di Jawa menyebutkan dia pernah menjadi pegawai dinas pengairan di Probolinggo sebelum pindah ke perusahaan kereta api SCS, SDS dan juga OJS.

    Selain itu Soenarjo juga sempat berkarir di Asuransi Boemi Poetra di Surabaya hingga kemudian dipindah ke Bandung. Selama di Surabaya dia pernah menjadi direktur Harian Soeara Oemoem yang dimiliki oleh Parindra. Serta mengurus Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Bubutan Surabaya.

    Tahun 1924 Soenarjo menikah dengan seorang perempuan Belanda bernama Hendrika Maria Rademeker, anak seorang insinyur yang pernah berdinas di Mojokerto. Pasangan itu kemudia memiliki 3 orang anak, dua laki-laki dan seorang perempuan bernama Soenarti Gondokoesoemo.

    Rupanya hubungan sebagai saudara ipar dengan R.P. Soeroso, ketua Sarekat Islam Mojokerto, ikut mempengaruhi pemikiran politik Soenarjo. Saat R.P. Soeroso keluar dari SI dan mendekat pada PBI yang didirikan oleh dr. Soetomo, maka langkah tersebut diikuti pula oleh Soenarjo. Bahkan Soenarjo kemudian dikenal sebagai orang dekat dari pendiri organisasi Budi Utomo tersebut. Kedekatan itu dapat dibuktikan dengan ditunjuknya Soenarjo sebagai ketua Studie Club’ yang dibentuk Soetomo pada bulan Juli 1928 di Surabaya.

    Pada bulan Desember 1935, Soetomo mengadakan pertemuan untuk menyatukan partai tengah, yaitu PBI dan Budi Utomo yang dipimpin oleh R. Wuryoningrat. Pada pertemuan di Solo itu disepakati peleburan keduanya dengan membentuk partai baru yang diberi Partai Indonesia Raya yang disingkat Parindra. Soetomo dipilih sebagai ketua dan Wuryoningrat sebagai wakilnya. Ternyata Parindra mendapatkan dukukngan dengan masuknya beberapa organisasi seperti, M.H. Thamrin dengan Perkumpulan Kaum Betawi, Ratulangi (Serikat Minahasa/Celebes), Latuharhary (serikat Ambon), Dahlan Abdullah (Serikat Sumatra), dan Roeslan Wongsokusumo (Serikat Madura).

    Ideologi politik Soetomo yang ada pada garis kanan tengah sangat mewarnai diri Soenarjo. Dia tidak canggung untuk bekerja sama dengan Belanda demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena itu gerakan ala Soetomo itu dapat diterima oleh pemerintah kolonial dan sekaligus memperoleh dukungan dari rakyat, terutama di Jawa Timur. Parindra kemudian mendirikan Rukun Tani, Rukun Nelayan, serta membentuk lumbung tani. Untuk memberikan pinjaman pada anggotanya yang terus berkembang juga didirikan Bank Nasional Indonesia denga menunjuk Soenarjo sebagai direkturnya.

    Dan yang paling dikenal adalah organisasi pemuda yang diberi nama Surya Wirawan. Organisasi yang beratribut seperti tentara itu dilatih disiplin. Mereka bukan hanya sebagai pandu namun juga bersikap semi militer. Sebuah foto tentang sikap militeristik terlihat saat mereka memberi penghormatan ala Nazi saat pemakaman M.H. Thamrin, Januari 1941.

    Soenarjo Gondokoesoemo kemudian pindah ke Bandung untuk memimpin Asuransi Boemi Poetra disana pada tahun 1937. Kepindahannya juga dimaksudkan guna memperkuat kepengurusan Parindra di Jawa Barat. Dia bekerja sama dengan R. Otto Iskandar Dinata yang memutuskan bergabung dengan Parindra. Duet keduanya membuat Parindra bisa berkembang di tanah Pasundan.

    Saat tentara Jepang datang, Soenarjo memiliki relasi yang cukup baik dengan penguasa yang menyebut dirinya sebagai saudara tua. Hubungan baik itu dikarenakan Soenarjo sempat menyelamatkan seorang penerbang Jepang yang pesawatnya tertembak jatuh. Penerbang yang di daerah perkebunan tersebut disembunyikan Soenarjo dari penangkapan serdadu Belanda.

    Nama Soenarjo Gondokoesoemo tidak begitu terdengar pada jaman revolusi kemerdekaan. Aktifitas politiknya mengapung kembali pada tahun 1954 dia diangkat menjadi anggota DPR Sementara (DPRS) oleh Presiden Soekarno dari Fraksi Parindra yang memiliki 7 kursi parlemen. Kedudukan itu didapat dari pergantian antar waktu (PAW) karena RP. Soeroso, ketua umum Parindra, ditunjuk sebagai menteri sosial dalam kabinet Ali Sastroamidjojo. Dalam kepengurusan Partai Parindra Soenarjo Gondokoesoemo tercatat sebagai pimpinan pusat partai pada bagian sosial dan ekonomi.

    Karir politik Soenarjo Gondokoesoemo berakhir karena perolehan suara Parindra jatuh dalam pemilu 1955. Partai dengan lambang dua tangan memegang tangkai padi dan pena itu hanya mendapatkan 2 kursi di parlemen yang salah satunya diduduki oleh R.P. Soeroso. Perjalanan panjang Soenarjo sebagai tokoh pergerakan selesai karena dia meninggal pada tahun 1963.

    Lalu apa hubungannya dengan A.H. Nasution dan Mojokerto ?. A.H. Nasution yang merupakan alumni akademi militer Belanda di Bandung dengan pangkat letnan muda pernah ditampung oleh keluarga Soenarjo. Nasution yang saat itu disersi dari kesatuannya menjadi buronan baik oleh Belanda maupun Jepang. Setelah menempuh perjalanan dari Jember hingga Bandung dan sempat mampir ke rumah RP. Soeroso di Mojokerto, kemudian bersembunyi di rumah Soenarjo. Karena hubungan baik Soenarjo dengan pihak Jepang maka Nasution tidak ditangkap.

    Nasution tinggal bersama keluarga tersebut sekitar 3 bulan. Dari sana kemudian tumbuh benih asmaranya pada Soenarti yang memang cantik jelita. Perjumpaan keduanya berlanjut ketika Soenarti melanjutkan sekolah di Jogjakarta ikut di rumah pamannya, R.P. Soeroso. Keduanya kemudian menikah pada tahun 1947.

    Kaitannya dengan Mojokerto adalah karena salah satu putra Soenarjo yang ikut kakekkya menikah dengan anak bungsu Kyai Rofi’i Pekuncen. Oleh menantu Kyai Rofi’i, yaitu Kyai Sholeh Penarip, pernikahan itu diberi syarat terlebih dahulu. Syaratnya pengantin pria harus belajar ngaji terlebih dahulu. Setelah dianggap memenuhi syarat keduanya diberi tanggung jawab mengajar ngaji di langgar Sinoman, langgar yang didirikan Kyai Sholeh. Kisah pernikahan mereka tertulis dalam buku Kyai Sholeh Pesantren Penarip karya H.A. Yazid Qohar.

    Karena ada tali persaudaraan itulah kemungkinan A.H. Nasution sempat beberapa kali datang ke Mojokerto untuk mengunjungi kakak iparnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN

    JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN

    InfokomBanserNU- Dibanding dengan jaringan ulama dan pesantren Jawa, pengetahuan kita mengenai jaringan ulama dan pesantren Sunda amat sangat sedikit. Hanya para peneliti tertentu saja yang mengetahuinya. Masyarakat umum, apalagi di luar Sunda, hampir tidak mengenalnya secara baik dan benar.

    Beberapa hari kemarin saya dan sejumlah dosen UNUSIA Jakarta berkesempatan mengunjungi makam para ulama Sunda dan pesantrennya. Kami memulai perjalanan dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik, dan berakhir di Ciamis. Banyak hal yang kami dapatkan, bahkan sebagiannya terdengar mengejutkan.

    Misalnya soal peranan KH Abdullah bin Nuh yang seringkali diklaim oleh HTI sebagai ulama yang mendukung khilafah. Setelah membaca tulisan beliau sendiri yang kami dapatkan di pesantren Al-Ghozali, Bogor, klaim tersebut ternyata menipu. Secara jelas dan tegas beliau menyatakan Pancasila adalah “jalan tengah” bagi Indonesia.

    Sementar itu, di Cianjur kami menziarahi makam KH Ahmad Syathibi yang lebih dikenal sebagai Mama Gentur. Meskipun setiap haulnya diziarahi ribuan orang, banyak orang, apalagi generasi milenial, tidak lagi mengenalnya. Padalah beliau adalah salah satu simpul utama ulama Sunda pada awal abad ke-20. Pandangan keagamaannya yang khas masih tercermin dalam aturan di sekitar pemakamannya hingga sekarang. Para peziarah tidak boleh membawa hape melewati gerbang yang gambarnya bisa dilihat di bawah.

    Memahami konstelasi keagamaan di Jawa Barat, khususnya Priangan, hari ini tidak bisa dilakukan tanpa memahami jaringan ulama dan pesantrennya. Sayang banyak hal belum tergali. Keberadaan pesantren Fauzan di Garut, misalnya, jarang diekspos oleh media. Kajian-kajian akademis juga melupakannya. Padahal kita tidak akan mengerti mengapa terjadi ketegangan di Garut ketika terjadi pembakaran bendera HTI dua tahun lalu jika tidak tahu bagaimana peranan penting pesantren Fauzan di sana. Dalam amatan saya, tidak ada pesantren yang lebih gagah berani membela NU di Priangan melebihi pesantren Fauzan.

    Masih banyak hal lain yang sesungguhnya ingin saya ceritakan. Di Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, kami juga mendengarkan informasi menarik. Dalam pengakuan pengasuhnya, karena dulu almarhum KH Choer Affandi sebagai pendiri pernah bergabung dengan DI (Darul Islam), maka sekarang terdapat stigma terhadap mereka. Seolah-olah Miftahul Huda anti-NU, padahal, menurut KH Abdul Aziz Affandi, pengasuhnya sekarang, “kami ini Nahdliyyin!”

    Insya Allah saya dan teman-teman UNUSIA akan menuliskan cerita perjalanan yang sebenarnya terlalu singkat itu. Termasuk dalam hal ini temuan-temuan mengenai kesalahpahaman terhadap “Islam Nusantara” di sebagian masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Semoga ini bisa menambah pengetahuan, meski sedikit, tentang jaringan ulama dan pesantren Sunda yang terlupakan.

    Amin Mudzakkir

    (Ansor Kebunjeruk)

  • Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa

    Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa

    Dalam sebuah majelis dzikir ataupun majelis Maulid terkadang ada tradisi pembakaran dupa (bukhur). Tradisi ini bukan sesuatu yang tanpa dasar, inilah penjelasannya :
    Imam Nawawi mensyarahi hadits di atas sebagai berikut:
    ﺍﻻﺳﺘﺠﻤﺎﺭ ﻫﻨﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻻﺻﻤﻌﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﺐ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻮﺩ ﻳﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ
    Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur “berdupa” dengannya. Lafadz istijmar itu diambil dari kalimat al-majmar yang bermakna al-bukhur “dupa” adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa.
    (Syarh Nawawi ala Muslim: 15/10. )
    Di tambah pula komentar oleh Imam Nawawi tentang hadits tersebut:
    ﻭﻳﺘﺎﻛﺪ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻣﺠﺎﻟﺲ ﺃﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ
    Dan sangat kuat kesunahan memakai wewangian (termasuk istijmar) bagi laki-laki pada hari jumat dan hari raya, dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin dan majlis dzikir dan majlis ilmu.
    (Syarah Nawawi ala Muslim: 15/10)
    Membakar dupa saat majlis dzikir, atau majlis pengajian itu juga dicontohkan oleh Imam Malik RA, seperti yang dijelaskan dalam biografi Imam Malik yang ditulis di belakang kitab Tanwirul Hawalik Syarah Muwattha’ malik imam Suyuthi Juz 3 no 166, yang artinya sebagai berikut :
    “Mutrif berkata: ketika orang-orang mendatangi kediaman Imam Malik, maka mereka disambut oleh pelayan wanita beliau yang masih kecil dan berkata kepada mereka, “Imam Malik bertanya apakah anda semua mau bertanya tentang hadits atau masalah keagamaan?
    Jika mereka menjawab “masalah keagamaan” maka imam malik akan keluar kamar dan berfatwa, jika mereka menjawab “hadits” maka beliau mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian beliau mandi, memakai minyak wangi, memakai pakaian yang bagus, memakai sorban, dan beliau memakai selendang panjang di atas kepalanya. Kemudian di hadapan beliau di letakkan mimbar (dampar) dan setelah itu beliau keluar menemui mereka dengan khusu’ lalu di bakarlah dupa hingga selesai dari menyampaikan hadits Rasulullah SAW”.
    Tambahan dari kitab Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 5, halaman 160
    ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺣﻴﻦ ﻳﻤﻮﺕ ﻻﻧﻪ ﺭﺑﻤﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻪ ﺷﺊ ﻓﻴﻐﻠﺒﻪ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ
    “Sahabat-sahabat kita (dari Imam Syafi’i) berkata: “Sesungguhnya disunnahkan membakar dupa di dekat mayyit karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mengalahkan menghalanginya.”

    SenimanNU #Kemenyan #Dupa #Bukhur #Wewangian #Ikhtilafiyah #Aswaja #Ahlussunnahwaljamaah #IslamNusantara #Nahdliyin

  • SYUHADA YANG TERLUPA

    SYUHADA YANG TERLUPA

    SORBANSANTRI.COM

    Jasadnya masih segar saat dibongkar

    Pertempuran besar terjadi di sekitar jembatan Ngembeh Kecamatan Dlanggu. Pertarungan terbuka antara para perjuangan dengan serdadu Belanda itu menimbulkan korban besar dari kedua belah pihak. Diantara korban itu terdapat dua orang syuhada, Ahmad Qosim dan Madjid Asmara. Mereka gugur sebagai Kusuma Bangsa tanpa penanda.

    Selama meneliti masa perjuangan kemerdekaan di Mojokerto, banyak tempat sudah terdatangi. Lokasi dimana pernah terjadi pertempuran mempertahankan kemerdekaan itu acap kali diberi tanda atau monumen. Tugu dan bangunan itu dimaksud untuk pengingat bahwa tempat itu memiliki riwayat yang harus tetap diingat. Sebagian besar monumen itu ada di wilayah selatan Mojokerto, tempat dimana pernah dibentuk pasukan Komando Hayam Wuruk pada akhir tahun 1948.

    Ada monumen Gumeng yang dibuat untuk mengenang gugurnya Kapten Soenarjo dari Batalyon Bambang Yuwono. Monumen Jatidukuh yang dipersembahkan bagi gugurnya Kapten Hartono. Monumen Padusan dibangun untuk mengingat keberanian Kapten Soemadi. Monumen Kepuh Arum yang dibuat untuk Batalyon Tjipto. Dan beberapa monumen lainnya.

    Dalam pasukan Komando Hayam Wuruk yang dipimpin Mayor Pamoe Rahardjo intinya ada pada 4 Batalyon. Batalyon Bambang Yuwono (BY), Batalyon Tjipto (T), Batalyon Mansyur Solikhi (M) dan Batalyon Isa Idris (I). Tiga Batalyon pertama merupakan pasukan tempur dan satu batalyon, Batalyon I, adalah pasukan teritorial. Belakangan muncul bantuan dari Batalyon Moenasir yang menggantikan posisi Batalyon I yang tidak begitu aktif di Mojokerto. Isa Idris memilih berkonsentrasi di perbatasan Mojokerto – Jombang.

    Setelah berhasil menguasai wilayah Mojokerto selatan, pasukan Hayam Wuruk mendapat tekanan dari lawan. Mereka terkepung di barat Pesanggrahan. Dari Pugeran hingga Dlanggu berjajar tank Belanda dan dari Pacet serta Mojosari pasukan infantri menjepit posisi para pejuang.

    Pada rapat tanggal 11 Malam di sebuah mushola di selatan Mojosari, Mayor Pamoe Rahardjo memutuskan pasukannya untuk mundur ke daerah pegunungan Anjasmoro di selatan atau masuk kembali ke Trowulan. Daerah itu masih dalam kontrol kekuatan pejuang. Masing-masing Batalyon diperintahkan untuk mencari jalan menerobos kepungan lawan.

    Pagi tanggal 12 Pebruari, pecah pertempuran terbuka. Pertempuran yang menjurus satu lawan satu seperti pada pertempuran Surabaya. Pertempuran yang sudah jarang terjadi setelah penerapan taktik gerilya. Seluruh Batalyon memang berhasil lolos dari kepungan itu, namun banyak anggotanya yang gugur dalam pertarungan. Tidak tercatat berapa besar korban, tetapi informasi menunjuk pada angka lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Diantara korban itu terdapat nama Mayor Madjid Asmara, kepala staf Batalyon M. Ada pula komandan kompi IV Batalyon M, Kapten Ahmad Qosim yang lebih sering dipanggil Mat Yatim. Mereka merupakan alumni pendidikan Hizbullah di Cibarusa. Kamp pelatihan yang dididik langsung oleh Kapten Yanagawa pada awal tahun 1945. Madjid Asmara mewakili Kabupaten Gresik dan Mat Yatim berangkat atas nama Mojokerto. Mat Yatim dikenal keberaniannya saat menghadapi pasukan Jangkar Merah atau pasukan Marinir Belanda dalam pertempuran Kembangsore Pacet pada tanggal 1 Januari 1949.

    Mat Yatim gugur dengan tubuh tertembus peluru di desa Sawo. Jenazahnya kemudian dimakamkan oleh rakyat desa tersebut setelah pertempuran berakhir. Madjid Asmara tertembak dan coba diselamatkan oleh kawan-kawannya. Upaya penyelamatan perwira Batalyon itu gagal karena Madjid meninggal karena kehilangan banyak darah di dekat jembatan Ngembeh.

    Tepat setahun kemudian, 12 Pebruari 1950, makam Mat Yatim dibongkar dan jenazahnya dipindahkan ke halaman kecamatan Kutorejo. Anehnya, jenazah itu masih utuh dan jelas terlihat lobang peluru di badannya. Demikian pula dengan pakaian yang dikenakan tidak rusak sama sekali, sama seperti saat dia pertama dikebumikan. Peti jenazah yang disiapkan menjadi sesak karena dikira jenazahnya akan menyusut. Ternyata jasad syuhada itu tidak mengalami perubahan sama sekali. Subhanallah.

    Makam Kapten Mat Yatim diketahui berada di TMP Gajah Mada Mojokerto. Kondisinya tidak terawat, seperti tidak pernah ada yang mengunjunginya. Hal itu mungkin dikarenakan tidak ada keluarga yang mengunjunginya sebab dia gugur sebelum berkeluarga. Sedangkan makam Madjid Asmara entah dimana. Dalam buku daftar makam di TMP tidak terdapat nama Madjid Asmara.

    Madjid Asmara dan Achmad Qosim adalah seorang syuhada yang merelakan jiwanya demi tegaknya Indonesia. Pertempuran di selatan Mojosari menjadi pertarungan sengit yang menelan banyak korban. Tentu jumlahnya lebih besar dibanding dengan peristiwa Gumeng dan penyergapan di Jatidukuh. Yang gugur juga terdapat perwira berpangkat Mayor. Entah kenapa pemerintah tidak membuatkan monumen penanda.

    Semoga catatan kecil ini menjadi pengingat bagi generasi nanti. Mengingat syuhada yang terlupa.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Makna Filosofi Logo Harlah ke-95 Nahdlatul Ulama

    Makna Filosofi Logo Harlah ke-95 Nahdlatul Ulama

    Sorbansantri.com – Jakarta, NU Online //
    Pada 31 Januari 2021 yang akan datang, Nahdlatul Ulama genap berusia 95 tahun dalam hitungan tahun Masehi. Pada tahun ini, tema yang diangkat pada Hari Lahir (Harlah) ormas keagamaan terbesar di Indonesia ini, adalah Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan.

    Visualisasi tema besar ini pun sudah terwujud dalam logo Harlah Ke-95 NU. Sang desainer logo, Dain Nur Rafita Ardani Rahmansyah menjelaskan bahwa ada makna filosofis terkandung dalam logo Harlah yang waktu pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar empat hari.

    Dalam desain tersebut terdapat dua bulatan yang menggabungkan angka sembilan dan lima di bagian tengah. Dua bulatan yang berbentuk seperti angka delapan ini dibuat dengan satu tarikan garis memiliki makna konsistensi atau keajegan.

    “Ini sesuai tema yang diusung yaitu konsistensi khidmah NU dalam menyebarkan Aswaja dan meneguhkan komitmen kebangsaan, serta konsistensi dalam membawa Islam yang Rahmatan lil alamin,” jelas Dian kepada NU Online, Ahad (17/1).

    Dalam logo Harlah yang dipadu dengan logo NU di atasnya dan tanggal serta tahun kelahiran NU di bawahnya ini, ada dua warna yang dominan yakni warna emas dan hijau. Bukan tanpa alasan dua warna ini dipadukan dengan apik sehingga mewujudkan logo yang terlihat bersinar.

    “Warna emas menggambarkan kemuliaan, hijau melambangkan kedamaian,” jelas Dian.

    Saat penggarapan, Dian mengungkapkan beberapa langkah dan kompleksitas dalam mewujudkan desain ini. Memang menurut Dian, kesulitan yang dihadapi oleh para desainer logo adalah mencari konsep dan memvisualisasikan tema. “Biasanya konsep udah nemu tapi nggak nyambung sama tema,” ungkapnya.

    Namun, dengan kesungguhan dan pengalaman dalam dunia desain, akhirnya ia bisa mewujudkan logo Harlah Ke-95 NU untuk tahun 2021. Logo ini nantinya bakal banyak terwujud dalam berbagai media seperti umbul-umbul, bendera, dan berbagai suvenir.

    Pewarta: Muhammad Faizin
    Editor: Kendi Setiawan


    Follow @nuonline_id
    Kunjungi www.nu.or.id

    #nahdlatululama #nu #nuonline #nuonline_id #harlah95nu

  • HUKUM BERBAKTI PADA KEDUA ORANG TUA YANG NON MUSLIM

    HUKUM BERBAKTI PADA KEDUA ORANG TUA YANG NON MUSLIM

    wp.sorbansantri.com – Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) hukumnya fardhu ain sekalipun keduanya non muslim.

    • Kitab Al-Mausu’ah Fiqhiyyah :

    الْبِرُّ بِالْوَالِدَيْنِ فَرْضُ عَيْنٍ كَمَا سَبَقَ بَيَانُهُ، وَلاَ يَخْتَصُّ بِكَوْنِهِمَا مُسْلِمَيْنِ، بَل حَتَّى لَوْ كَانَا كَافِرَيْنِ يَجِبُ بِرُّهُمَا وَالإِْحْسَانُ إِلَيْهِمَا مَا لَمْ يَأْمُرَا ابْنَهُمَا بِشِرْكٍ أَوِ ارْتِكَابِ مَعْصِيَةٍ. قَال تَعَالَى: {لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ}

    Birrul walidain hukumnya fardhu ain sebagaimana penjelasan sebelumnya, dan tidak khusus kedua orang tuanya muslim tetapi walaupun keduanya kafir juga wajib biruul walidain selama tidak memerintahkan kepada kemusyrikan atau melakukan kemaksiyatan. Allah ta’ala berfirman : “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah : 8).

    • Kitab Al-Fawakihud Dawani (8/126) :

    ( ومن الفرائض ) العينية على كل مكلف ( بر الوالدين ) أي الإحسان إليهما ( ولو كانا فاسقين ) بغير الشرك بل ( وإن كانا مشركين ) للآيات الدالة على العموم ، والحقوق لا تسقط بالفسق ولا بالمخالفة في الدين ، فيجب على الولد المسلم أن يوصل أباه الكافر إلى كنيسته إن طلب منه ذلك وعجز عن الوصول بنفسه لنحو عمى كما قاله ابن قاسم ، كما يجب عليه أن يدفع لهما ما ينفقانه في أعيادهما لا ما يصرفانه في نحو الكنيسة أو يدفعانه للقسيس .

    Termasuk fardhu ain atas mukallaf adalah birrul walidain, walaupun keduanya fasik maupun musyrik karena adanya ayat yang menunjukkan atas keumumannya. Dan hak-hak tidak bisa gugur sebab kefasikan, tidak pula sebab menyelisihi agama. Jadi wajib bagi anak yang islam mengantarkan orang tuanya yang kafir sampai ke gereja jika orang tuanya memerintahkannya sebab kesulitan untuk sampai kesana dengan dirinya sendiri misalnya karena buta sebagaimana penjelasan Ibnu qosim. Dan sebagaimana wajib bagi anak yang muslim memberikan kepada kedua orang tuanya, apa yang di nafkahkan untuk keduanya dalam hari raya, tidak wajib memberikan harta yang digunakan oleh orang tuanya untuk gereja atau untuk diberikan kepada pendeta.

    • Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an :

    السابعة : لا يختص بر الوالدين بأن يكونا مسلمين ، بل إن كانا كافرين يبرهما ويحسن إليهما إذا كان لهما عهد ; قال الله – تعالى – : لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم . وفي صحيح البخاري عن أسماء قالت : قدمت أمي وهي مشركة في عهد قريش ومدتهم إذ عاهدوا النبي – صلى الله عليه وسلم – مع أبيها ، فاستفتيت النبي – صلى الله عليه وسلم – فقلت : إن أمي قدمت وهي راغبة أفأصلها ؟ قال : نعم صلي أمك . وروي أيضا عن أسماء قالت : أتتني أمي راغبة في عهد النبي – صلى الله عليه وسلم – فسألت النبي – صلى الله عليه وسلم – أأصلها ؟ قال : نعم . قال ابن عيينة : فأنزل الله – عز وجل – فيها : لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين الأول معلق والثاني مسند .

    Wallohu a’lam. (abi sorban)

  • GIAT RUTINAN GP ANSOR RANTING SEDATI NGORO MOJOKERTO

    GIAT RUTINAN GP ANSOR RANTING SEDATI NGORO MOJOKERTO

    wp.sorbansantri.com – Untuk memupuk jalinan silaturrahmi antar anggota maka Gp ansor ranting sedati mengadakan agenda rutinan di tiap bulannya dengan di isi pembacaan tahlil, rotibul haddad, sholawat maqom dan menyanyikan lagu mars ansor, mars banser jg yahlal wathon, juga ada rapat anggota.

     

    Menurut sahabat Bagus selaku ketua Gp Ansor ranting sedati mengatakan, agenda ini kita laksanakan rutin setiap bulan, guna untuk memupuk jalinan tali silaturrahmi juga untuk pengkaderan para generasi muda agar tidak terjerumus ke hal hal negatif maka kita rangkul dikit demi sedikit untuk mengikuti kegiatan Gp ansor, awalnya sih agak berat tapi lama kelamaan alhamdulillah banyak pemuda yang ikut gabung menjadi anggota, kemarin sempat juga mengirimkan delegasi anggota untuk mengikuti DIKLATSAR BANSER yang di adakan PAC GP ANSOR NGORO, alhamdulillah ranting sedati bisa mengikut sertakan sebanyak 14 peserta dan yang lebih membahagiakan lagi dari 14 peserta tersebut ada 3 peserta yang menjadi peserta terbaik, peserta terbaik 123 semua di raih oleh ranting sedati (ghufron,bahrul, hasan bisri) dr total 125 peserta se kec ngoro bahkan ada yg dari kabupaten lain yang ikut serta DIKLATSAR BANSER kmrn,.

    kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para sang juara terbaik 123 yang telah mengharumkan nama baik ranting sedati di tingkat kecamatan ngoro bahkan sampai tingkat pimpinan cabang mojokerto, lanjut kata Bagus kami mengapresiasi yang setinggi tingginya kepada ke tiga peserta terbaik tersebut agar bisa menjadi motifasi kepada anggota anggota yang lain, tetapi jangan di lihat juara atau tidaknya akan tetapi yang kita harapkan loyalitas anggota kepada organisasi yang sangat penting dengan mengikuti di setiap setiap kegiatan agar kita semua mendapat barokae mbah hasyim asr’ary dengan semboyan santri pokok gelem gandol sarunge kyai insya allah hidup menjadi tentram.

     

    Kegiatan kali ini bertempat di musholla AL MUHSININ RT01 RW02 DESA SEDATI, kebetulan yang punyak musholla itu pak ketua RT setempat jd pak RT menyambut dengan tangan terbuka atas ditempatinya untuk kegiatan GP ANSOR ranting sedati, bahkan pak RT berpesan agar kegiatan ini bisa istiqomah dari musholla 1 ke musholla yang lainnya dan mudah mudahan bisa berjalan lancar ila yaumil qiyamah.. aamiin.
    (Hasan-sorbansantri)

  • SAKSI MATA PERISTIWA GUMENG KECAMATAN GONDANG

    SAKSI MATA PERISTIWA GUMENG KECAMATAN GONDANG

    Mengenang Pahlawan

    Namanya Kamil yang aku panggil Mbah Kamil karena usianya memang sudah sepuh. Dulu kerjanya bertani seperti profesi penduduk desa lainnya. Dan hanya dia yang tersisa dari peristiwa 68 tahun silam. Peristiwa gugurnya para pejuang kemerdekaan di desa tengah hutan

    Siang itu, 29 Desember 1949. Penduduk desa yang sedang bekerja di ladangnya terkejut oleh kedatangan ratusan orang. Rombongan yang sebagian besar membawa senjata api itu muncul dari hutan yang mengelilingi desa. Pakaian yang dikenakan terlihat lusuh seperti berhari-hari belum dicuci. Wajah mereka tampak lelah dengan peluh bercampur sisa air hujan yang membasahi tubuhnya. Kemunculan yang tidak diduga oleh warga desa Gumeng.

    Gumeng adalah desa di tengah hutan selatan Pohjejer Kec. Gondang Mojokerto. Ada sebuah sungai dengan air jernih membelah desa kecil itu. Jalan yang menghubungkan dengan dunia luar adalah jalan setapak yang susah dilewati pada musim penghujan. Kala itu penduduknya hanya puluhan orang saja. Rumah pun masih jarang.

    Pak Kamil mendengar bila pimpinan rombongan pejuang republik itu bernama Pak Pamoe. Para pejuang itu berangkat dari Wonosalam di daerah Jombang sekitar 4 hari sebelumnya. Perjalanan melelahkan karena harus menembus lebatnya pepohonan dan tanah licin saat diguyur hujan bulan Desember. Orang bilang Desember itu gede-gedene sumber, besar-besarnya curah hujan.

    Lurah Gumeng sempat bilang bila warganya tidak akan bisa memberi makan ratusan, mungkin jumlahnya seribuan orang pejuang. Ternak dan simpanan bahan makanan milik warga mungkin hanya cukup dikonsumsi 2-3 hari saja. Kekhawatiran Lurah yang dijawab pak Pamoe dengan kalimat tidak usah repot kami hanya singgah melepas lelah, ada bahan makanan kami bawa sendiri.

    Ada beras yang membebani kuda-kuda para pejuang itu. Bahan makanan yang bisa menghidupi lebih dari seminggu. Mereka juga masih bisa mengambil makan dari buah atau umbi-umbian di hutan. Makan memang bukan persoalan, namun sebagai tuan rumah Pak Lurah jelas tidak enak kalau tidak menyambut tamunya secara layak.

    Sore itu suasana desa menjadi berbeda. Desa kecil menjadi penuh sesak oleh senda gurau manusia. Malamnya, pendopo rumah pak lurah tidak bisa menampung orang yang numpang tidur. Begitupun rumah warga sudah penuh hingga sebagian tidur di luar rumah. Pagi esoknya sebagian besar berpencar pergi meninggalkan desa Gumeng. Pak Kamil tidak tahu kemana dua rombongan pejuang itu menuju. Di desa yang tersisa jumlahnya mungkin tiga ratusan orang. Pak Pamoe juga masih ada di Gumeng.

    Siangnya, Pak Pamoe memimpin pejuang berbaris di halaman rumah pak Lurah. Dia memerintahkan pasukan yang masih ada untuk segera berkemas. Pak Kamil mendengar bila mereka akan menuju desa Pugeran yang letaknya di utara desa Gumeng. Sebelum barisan dibubarkan, di udara terlihat pesawat terbang Belanda melintas dari arah utara.

    Pesawat itu kemudian berbelok dan dari arah timur terbang rendah. Pak Pamoe berteriak memerintahkan pasukannya bubar dan mencari perlindungan. Komandan itu tahu kalau pesawat itu akan menyerang barisan pejuang. Benar saja, seperti hujan peluru berhamburan dari senapan mesin di sayap dan badan pesawat tersebut. Serangan itu diakhiri oleh lemparan bom dari pesawat yang selanjutnya menghilang ke barat.

    “Bom meledak dengan suara keras memekakkan telinga. Suasana menjadi gelap oleh asap dan debu tanah yang berhamburan. Ada juga serpihan kain yang terkoyak berhamburan” kata Pak Kamil mengenang peristiwa yang disaksikannya.

    Serangan pesawat itu ternyata menewaskan puluhan orang pejuang. Pak Pamoe selamat karena berlindung di balik batu besar yang menahan terjangan peluru mitralyur dan guncangan ledakan bom. Mereka yang tidak sempat mencari perlindungan banyak menjadi korban. Para korban kemudian segera dimakamkan dan para pejuang bergegas meninggalkan desa. Tidak lama kemudian datang pasukan Belanda masuk Gumeng merazia mencari para pejuang yang sudah pergi masuk hutan.

    Itulah sedikit kisah dari Pak Kamil yang rumahnya ada di dekat Tugu Peringatan Pertempuran Gumeng. Cerita yang keluar dari orang tua yang matanya sudah tidak bisa dipakai melihat dan pendengarannya yang berkurang. Lima tahun yang silam aku temui di rumahnya. Apakah saat ini Pak Kamil masih sehat? entahlah…..

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • ISN = RELANTAS menandai jalan berlubang Pungging-Ngoro

    ISN = RELANTAS menandai jalan berlubang Pungging-Ngoro

    Sorbansantri.com- RELANTAS (Relawan Lalu Lintas) Kecamatan Ngoro melakukan sosial dengan menandai jalan raya yang berlubang mulai dari Ngoro ujung Barat sampai Ngoro ujung timur,pada hari Sabtu tanggal 16-Januari-2021 melakukan giat penandaan jalan yang berlubang

         Hal ini dilakukan karena saat ini banyak lubang yang membahayakan pengguna jalan raya, apalagi ketika saat hujan turun,lubang tersebut tergenang air sehingga tidak tampak.
    

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

          Menurut R (namanya tidak mau di sebutkan) warga pungging saat kami wawancarai  "kemarin ada pengendara yang jatuh kisaran 3 orang secara bergantian bahkan ada yg terluka parah akibat terbentur aspal"  lanjutnya, di sini sering mas orang yang jatuh saat bersepeda motor akibat tidak tau kalau jalan nya banyak yang bolong (berlubang).
    
          Mereka berharap agar jalan yang rusak segera di perbaiki oleh Dinas terkait agar  kecelakaan tidak lagi menghantui pengendara roda-2 khususnya
    

    Maka kami dari tim RELANTAS ISN saat mendengar dan mendapat keluhan dari masyarakat setempat maka kami (RELANTAS ) akan menyampaikan aspirasi masyarakat Dinas PU NASIONAL agar segera mendapat respon dan jalan yang rusak bisa segera di perbaiki – Hasan-Irul sorban